• Tidak ada hasil yang ditemukan

Orang Awam Mencoba Memahami Kata-Kata Yesus Di Injil Markus - By Justinus Darmono

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Orang Awam Mencoba Memahami Kata-Kata Yesus Di Injil Markus - By Justinus Darmono"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

Orang Awam

Mencoba

Memahami

Kata-kata Yesus

(2)
(3)
(4)
(5)

Daftar Isi

Kata Pengantar ... 3

Komentar ... 4

6

7

Santo Markus, Penginjil: ... 7

Kata Pembuka ... 8

Bab 1 - Yohanes Pembaptis, Yesus mulai berkarya ... 9

Yohanes Pembaptis ... 9

Yesus dibaptis Yohanes dan Pencobaan ... 10

Yesus di Galilea ... 11

Yesus memanggil murid pertama ... 12

Yesus di Kapernaum ... 13

Yesus menyembuhkan mertua Simon Petrus ... 14

Yesus mengajar di kota lain ... 15

Yesus menyembuhkan sakit kusta ... 15

Bab 2 - Penyembuhan, Murid lainnya, hal Berpuasa ... 17

Yesus menyembuhkan orang lumpuh ... 17

Lewi mengikut Yesus ... 18

Hal berpuasa ... 19

Memetik gandum di hari Sabat ... 21

Bab 3 - Penyembuhan, duabelas murid, Beelzebul, dan Saudara-Nya ... 22

Yesus menyembuhkan di hari Sabat ... 22

Yesus menyembuhkan banyak orang ... 23

Yesus memanggil kedua belas Rasul ... 24

Yesus dan Beelzebul ... 24

Yesus dan sanak saudara-Nya ... 25

Bab 4 - Perumpamaan, Angin ribut diredakan ... 26

Perumpamaan seorang Penabur ... 26

Perumpamaan tentang Pelita dan Ukuran ... 28

Perumpamaan tentang Benih ... 31

Perumpamaan tentang Biji Sesawi ... 32

Angin ribut diredakan ... 33

Bab 5 - Mengusir Roh jahat, Membangkitkan dan Penyembuhan ... 34

Yesus mengusir Roh jahat di Gerasa ... 34

Yesus membangkitkan anak Yairus ... 35

Yesus menyembuhkan perempuan yang sakit pendarahan ... 36

Bab 6 - Ditolak di Nazaret, Pengutusan, Memberi makan, Berjalan di atas air ... 37

Yesus ditolak di Nazaret ... 37

Yesus mengutus kedua belas Rasul ... 39

Yohanes Pembaptis dibunuh ... 40

Yesus memberi makan lima ribu orang ... 41

Yesus berjalan di atas air ... 43

Yesus menyembuhkan di Genesaret ... 44

Bab 7 - Perintah Allah, Perempuan Siro, Penyembuhan ... 44

Perintah Allah dan Adat istiadat Yahudi ... 44

Perempuan Siro Fenesia yang percaya ... 48

Yesus menyembuhkan orang tuli ... 49

Bab - 8 Memberi makan, meminta tanda, Ragi orang Farisi, Pengakuan Petrus ... 50

Yesus memberi makan empat ribu orang ... 50

Orang Farisi meminta tanda ... 51

Ragi orang Farisi dan Herodes ... 51

Yesus menyembuhkan orang buta di Betsaida ... 52

Pengakuan Petrus ... 53

Pemberitahuan penderitaan Yesus dan syarat mengikut Dia ... 54

Bab 9 - Transfigurasi, Mengusir Roh jahat, Yang terbesar, Penyestan ... 55

Yesus dimuliakan di atas gunung ... 55

Yesus mengusir roh jahat yang membisukan ... 58

Pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus ... 60

Siapa yang terbesar ... 60

(6)

Penyesatan dan tentang garam ... 63

Bab 10 - Perceraian, Memberkati, Orang kaya, Upah, Penyembuhan ... 64

Perceraian ... 64

Yesus memberkati anak-anak ... 66

Orang kaya sukar masuk Kerajaan Allah ... 67

Upah mengikut Yesus ... 69

Pemberitahuan ketiga tentang penderitaan Yesus ... 70

Permintaan Yakobus dan Yohanes ... 70

Bukan memerintah melainkan melayani ... 71

Yesus menyembuhkan Bartimeus ... 72

Bab 11 - Dielu-elukan, Mengutuk, Menyucikan, Kuasa Yesus ... 73

Yesus dielu-elukan di Yerusalem ... 73

Yesus mengutuk pohon ara ... 74

Yesus mengucikan Bait Allah ... 75

Nasihat tentang Doa ... 76

Pertanyaan mengenai kuasa Yesus ... 77

Bab 12 - Perumpamaan, Pajak, orang Saduki, Hukum utama, Persembahan ... 77

Perumpamaan tentang penggarap kebun anggur ... 77

Tentang membayar pajak kepada Kaisar ... 79

Pertanyaan orang Saduki tentang kebangkitan ... 80

Hukum yang terutama ... 81

Hubungan antara Yesus dan Daud ... 82

Nasihat supaya hati-hati terhadap para ahli Taurat ... 83

Persembahan seorang janda miskin ... 83

Bab 13 - Khotbah tentang Akhir Zaman ... 84

Bait Allah akan diruntuhkan ... 84

Permulaan penderitaan ... 85

Siksaan yang berat dan Mesias palsu ... 86

Kedatangan Anak Manusia ... 87

Perumpamaan tentang pohon ara ... 88

Nasihat supaya berjaga-jaga ... 89

Bab 14 - Diurapi, Perjamuan Kudus, Ditangkap ... 89

Rencana untuk membunuh Yesus ... 89

Yesus diurapi ... 90

Yudas mengkhianati Yesus ... 91

Yesus makan Paskah dengan murid-Nya ... 92

Penetapan Perjamuan Kudus ... 93

Petrus akan menyangkal Yesus ... 94

Di taman Getsemani ... 94

Yesus ditangkap ... 97

Yesus di hadapan Mahkamah Agama ... 98

Petrus menyangkal Yesus ... 100

Bab 15 - Pilatus, Disalib, Wafat dan dimakamkan ... 100

Yesus di hadapan Pilatus ... 100

Yesus diolok-olokkan ... 102 Yesus disalibkan ... 102 Yesus wafat ... 103 Yesus dimakamkan ... 104 Bab 16 - Kebangkitan ... 105 Kebangkitan Yesus ... 105

Yesus beberapa kali menampakkan diri dan pengutusan ... 106

Yesus terangkat ke sorga ... 108

(7)

Santo Markus, Penginjil:

Nama lengkapnya, Yohanes Markus (Kisah Para Rasul 15:37). Dia adalah sepupu Santo Barnabas dan merupakan anggota komunitas Kristen yang pertama di Yerusalem. Baik Santo Yohanes Markus maupun ibunya dihormati oleh komunitas Gereja purba dan rumah ibunya sering digunakan sebagai tempat berkumpul bagi umat Kristen.

Dia mendampingi Santo Paulus dan Santo Barnabas dalam tugas-tugas misionaris mereka (Kisah Para Rasul 12:12 dan 15:35-41) melalui pulau Siprus. Lalu dia hanya mendampingi Santo Barnabas. Kemudian dia juga berada di Roma bersama Santo Paulus dan Santo Petrus (1 Petrus 5:13).

Dia menulis Kitab Injil kedua mungkin di Roma sebelum tahun 60. Dia menulis Injilnya dalam bahasa Yunani bagi kaum non-Yahudi yang menjadi Kristen. Injil karangannya adalah yang paling pendek diantara keempat kitab Injil. Menurut tradisi Santo Markus diminta oleh orang-orang Romawi untuk menuliskan ajaran-ajaran Santo Petrus. Hal ini dikuatkan oleh posisi Santo Petrus dalam Injil Markus. Injil Markus melukiskan hidup Yesus melalui pandangan mata Santo Petrus, pemimpin para rasul.

Menurut tradisi diceritakan bahwa dia mendirikan Gereja di Alexandria, Mesir, dan menjadi uskup disana, dan menjadi martir di jalanan kota tersebut. Dalam dunia seni, dia dilambangkan dengan seekor singa yang bersayap, yang melambangkan Santo Yohanes Pembaptis sebagai suara yang berseru-seru di padang gurun, seperti tertulis pada awal Kitab Injil karangan Santo Markus. Dirayakan tiap tanggal 25 April.

(8)

Kata Pembuka

Bunda Maria dalam penampakannya di Medjugorje memberikan pesan kepada kita, antara lain untuk membaca Kitab Suci setiap hari. Di dalam Kitab Sucilah kita bisa mengetahui firman Tuhan yang menjadi jalan hidup atau jalan terang bagi manusia yang sedang berziarah ini.

Dari pesan Bunda Kita, maka penulis mencoba untuk lebih memahami kata-kata Tuhan Yesus untuk zaman sekarang ini, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi penulis sendiri. Tulisan ini memang kelanjutan dari Injil pertama yang ditulis Matius. Yang namanya pemahaman, maka sudah selayaknya jika bisa berbeda dengan orang lain. Namun demikian, semoga perbedaan tersebut tidak membikin batu sandungan. Apa lagi semakin menjauh dari ajaran Tuhan sendiri.

Walau bagaimanapun, penulis tetap percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan Allah sendiri. Dia sudah berkenan hadir di dunia demi kita, orang-orang berdosa, agar mau kembali ke jalan yang dikehendaki-Nya. Santo Markus adalah salah seorang saksi iman dan mengalami sendiri bertemu dengan Tuhan Yesus, yang mungkin pada waktu itu masih termasuk anak muda. Penulis percaya bahwa Dia maha-memaklumi akan kelemahan dan kebodohan, walaupun dalam memahami-Nya masih ada kekeliruan bahkan agak bertentangan. Harapan penulis semoga ada orang lain yang sudi untuk meluruskan apabila terjadi kesalahan yang mendasar. Mohon maaf apabila dalam pemahaman ini sepertinya menyinggung seseorang atau kelompok, padahal tidak sedikitpun dalam benak penulis untuk melukai hati. Semoga pembaca bisa memaklumi akan kekurangan wawasan penulis, yang sering melantur karena memang tidak mempergunakan referensi apapun, kecuali Kitab Suci.

Penulis agak mengenyampingkan perbedaaan-perbedaan tulisan antara Matius, Markus maupun Lukas. Biarlah itu menjadi urusan para ahli, dan penulis hanya mencoba memahami dari apa yang tertulis saja. Kemudian mencoba merenungkan bagaimana penerapannya untuk saat ini. Penulis merasa yakin bahwa pemahaman penulis bisa berbeda dengan orang lain, karena pengalaman dan sudut pandang yang mungkin berbeda.

Justinus Darmono Jl. Jatihandap 194/72 RT 04/08 Kel. Jatihandap Kec. Mandalajati - Bandung

(9)

Bab 1 - Yohanes Pembaptis, Yesus mulai berkarya

Yohanes Pembaptis

1:1. Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah. 1:2 Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: "Lihatlah, Aku menyuruh

utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; 1:3 ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya",

1:4 demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan

mengampuni dosamu."

Sebagai pembukaan, Markus kelihatannya mengutip kitab nabi Yesaya, yang berisi nubuat tentang Yohanes Pembaptis. Kita mengenal Yohanes Pembaptis yang berkarya sebagai nabi, yang mendahului sebelum kedatangan Tuhan Yesus sendiri. Dia meratakan dan meluruskan

jalan, yang tadinya berkelok-kelok naik turun tidak karuan.

Kita bisa membayangkan bagaimana membuat jalan menjadi lurus dan rata. Gundukan tanah dicangkul, yang berlembah ditimbuni batu dan tanah. Segala macam tanaman yang menghalangi dipotong atau bahkan dicabut, dan akhirnya menjadi lurus dan rata. Untuk berkarya seperti itu diperlukan pengorbanan lahir batin, hanya demi membuat jalan lurus dan rata.

Dalam karyanya, Yohanes Pembaptis mengajak semua orang untuk bertobat. Bertobat berarti berubah dari kelakuan lama, menjadi manusia baru yang lebih baik dan benar. Simbul pertobatan tersebut adalah dengan dibaptis, disiram atau dimandikan dengan air. Air sebagai simbul untuk mencuci diri agar kelihatan menjadi bersih, tidak kotor lagi. Hal ini hampir sama dengan sewaktu kita setiap hari mandi, agar selalu bersih badannya. Baptisan lebih condong untuk bersih dalam rohaninya.

Dalam kehidupan sehari-hari, diri kita yang berkelok-kelok dengan dusta dan penuh bukit nafsu duniawi, juga harus diluruskan dan diratakan. Biarlah Tuhan bisa tersenyum dan berkenan mampir ke dalam hati kita. Alangkah bahagianya Tuhan apabila banyak orang mau bertobat dan bersedia dibaptis, kembali ke jalan rata dan lurus. Berproses untuk menuju perubahan, melaksanakan perbuatan baik dan benar penuh kasih persaudaraan.

Pengalaman penulis sewaktu dibaptis, rasanya begitu bahagia yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata. Waktu itu penulis masih kelas satu SMP negeri di Semarang, dan belum ada keluarga yang menjadi Katolik. Mungkin hanya kakak penulis yang sudah dipermandikan di Solo. Penulis dengan saudara belajar agama bersama-sama, namun karena penulis pindah ke Semarang maka pelajaran agamanya diperpanjang.

Betapa penulis sedih dan menangis karena belum kenal dengan orang Katolik yang lebih dewasa, untuk menjadi wali baptis. Beruntunglah ada mas Wagiya yang aktif di gereja dan bersedia menjadi wali baptis. Malam harinya mengikuti Misa Kudus dan menerima Tubuh Kristus. Kebetulan perayaan hari kelahiran Tuhan Yesus yang dilaksanakan pada malam hari, yang begitu syahdu dan sunyi. Nyanyian paduan suara seperti pujian malaikat karena tempatnya di balkon atas belakang. Beruntunglah orang tua tidak melarang bahkan setelah penulis berkeluarga, banyak saudara yang menjadi pengikut Kristus.

(10)

1:5 Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan. 1:6 Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. 1:7 Inilah yang diberitakannya: "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku;

membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. 1:8 Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus."

Kita bisa membayangkan apabila kita di sungai dan dibaptis. Kemungkinan besar akan basah kuyup karena dipermandikan di dalam sungai. Betul-betul mandi tanpa copot pakaian. Namun tidak usah kawatir apabila di musim panas, karena sebentar saja pakaian tersebut akan kering sendiri. Dan semuanya yang datang akan mengalami hal yang sama, dipermandikan sampai basah kuyup.

Sebagai nabi, Yohanes Pembaptis pastilah mempunyai karisma yang dapat menyadarkan orang awam, orang yang merasa berdosa, untuk melakukan pengakuan dosa. Mungkin angkatan pada waktu itu sudah lama merindukan kehadiran seorang nabi. Seorang nabi yang betul-betul berbeda dengan orang lain. Nyatanya Yohanes Pembaptis rela tinggal di padang gurun, bertapa, berpuasa dan hanya makan belalang dan madu hutan. Tidak pernah minum anggur yang bisa memabukkan.

Sewaktu penulis ke Israel, oleh pemandu diberitahu bahwa ada sejenis tanaman yang diberi nama pohon belalang. Bijinya seperti wijen yang biasa dipakai untuk membuat onde-onde. Apabila biji pohon belalang tersebut dicampur dengan madu hutan dan dimasak, maka jika didinginkan akan seperti model roti yang tahan lama disimpan. Jika ingin makan, maka cukup dicuwil atau dipotong saja dan sisanya bisa disimpan kembali. Yohanes Pembaptis berbicara dengan jujur dan apa adanya, tidak mau disebut sebagai nabi ataupun Mesias. Dari mulutnya sendiri dia mengatakan bahwa Mesias akan datang sesudahnya. Mesias yang begitu kudus dan luhur, sehingga untuk membuka tali kasutnyapun dia merasa tidak pantas. Dia mengaku hanya membaptis dengan air sungai Yordan, sedangkan Mesias akan membaptis dengan Roh yang Kudus. Roh Kudus yang bisa membersihkan sampai sebersih-bersihnya, seperti baru lagi. Inilah misteri Roh yang Kudus karena Dia Allah sendiri. Berbeda dengan air yang hanya sekadarnya saja bersih, namun masih meninggalkan noda-noda atau kotoran yang masih membekas.

Yesus dibaptis Yohanes dan Pencobaan

1:9. Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. 1:10 Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. 1:11 Lalu terdengarlah suara dari sorga: "Engkaulah Anak-Ku

yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." 1:12 Segera sesudah itu

Roh memimpin Dia ke padang gurun. 1:13 Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis. Ia berada di sana di antara binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.

Setelah bercerita tentang Yohanes Pembaptis sebagai pembuka jalan, barulah Markus bercerita tentang Tuhan Yesus. Kita bisa menduga bahwa Yohanes Pembaptis sudah mengenal Tuhan Yesus sebelumnya, karena mereka masih bersaudara. Jadi kita bisa membayangkan bagaimana mereka berdua ngobrol dahulu sebelum dilakukan ritual pembaptisan. Jangan-jangan pada awalnya Yohanes Pembaptis merasa enggan, sungkan jika harus membaptis Tuhan Yesus. Apakah hal ini tidak terbalik?

Namun skenario besar memang harus terjadi seperti itu. Pokoknya Yohanes Pembaptis harus bersedia membaptis Tuhan Yesus. Biarlah semua orang yang berada di situ menyaksikan, bahwa Dia seperti manusia biasa, yang bersedia melakukan ritual pembaptisan.

(11)

Anak Manusia yang tidak mempunyai dosa, siap dan rela melakukan ritual pembaptisan seperti yang lainnya. Dia memberi contoh nyata untuk berani mengalah, merendahkan diri seperti orang biasa. Dia tidak mau menonjolkan diri-Nya, dan biarlah semua itu mengalir seperti air di sungai. Betapa akan geger dan menghebohkan jika tiba-tiba Tuhan Yesus yang membaptis Yohanes Pembaptis. Berarti jalan ceritanya tidak sesuai dengan skenario Tuhan sendiri.

Kita boleh mendramatisir ritual pembaptisan ini. Penulis mencoba membayangkan bagaimana Tuhan Yesus mulai masuk ke dalam sungai Yordan. Dia mulai menyatu dengan air sungai Yordan, yang berarti masuk ke dalam bumi. Membaur dengan segala macam isi bumi ini, dimana semua kotoran terbawa arus air sungai. Dan semuanya itu akan ditampung ke perhentian akhir di laut Garam atau laut Mati.

Begitu Dia keluar dari air sungai Yordan, terjadilah suatu proses perubahan yang begitu misteri secara rohani. Sang Manusia sejati mulai menyembulkan diri yang juga Allah sejati. Mungkin saat inilah yang menjadi babak baru, dari babak Perjanjian lama yang diwakili oleh Yohanes Pembaptis menuju babak Perjanjian Baru.

Dalam pemahaman penulis, pastilah Yohanes Pembaptis bisa melihat suasana pada waktu itu dan mungkin juga orang lain yang kebetulan berada di sana. Penulis sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana langit yang terkoyak. Namun suasana yang berbeda dan datangnya burung merpati putih bersih, paling tidak sudah merupakan keanehan tersendiri. Jika para penginjil bisa menceritakan bagaimana Allah bersuara, mestinya suara tersebut didengar juga oleh paling tidak Yohanes Pembaptis. Anak terkasih dimana Allah Bapa begitu berkenan, sepertinya memberikan pernyataan bahwa Tuhan Yesuslah yang paling sempurna. Dan kita bisa memaklumi karena Dialah yang mahakusa itu sendiri, yang mahasempurna. Kemudian Markus hanya menceritakan bahwa Tuhan Yesus ke padang gurun selama empat puluh hari dan dicobai Iblis. Dia menyatu dengan alam sekitarnya, bersahabat dengan segala macam binatang yang berkeliaran di sana. Ditekankan bahwa Dia dilayani oleh para malaikat. Hal tersebut sepertinya menggambarkan bahwa pada saat itu Dia seperti di surga, surga yang di dunia. Suasana yang penuh damai dan sejahtera, walaupun ada pencobaan dari Iblis. Kita bayangkan saja bahwa Iblis ini malaikat yang berontak, yang ingin menguasai dunia. Ujian dari Iblis mestinya begitu berat, karena dengan maksud untuk menjatuhkan, mengalahkan dan akhirnya takluk kepada kehendaknya.

Sepertinya kita diajar untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum melaksanakan suatu karya. Kita diajar untuk menerima ujian-ujian atau pencobaan, yang harus dapat diselesaikan dengan baik dan lulus. Dengan pencobaan-pencobaan, maka daya tahan akan semakin kuat yang bisa menjadikan seseorang tahan banting. Pergumulan hidup di dunia bisa begitu bermacam-macam dan setiap orang bisa mengalami hal yang berbeda. Dengan mempersiapkan diri terlebih dahulu, paling tidak sudah mempunyai pengalaman bagaimana mengatasi segala macam rintangan dan hambatan. Bisa tegar untuk tidak gampang jatuh dan menyerah kalah.

Yesus di Galilea

1:14. Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, 1:15 kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada

(12)

Dalam pemahaman penulis, sepertinya Tuhan Yesus mulai berkarya nyata di hadapan banyak orang, setelah Yohanes Pembaptis ditangkap. Dia memberitakan Injil Allah, kabar sukacita, kabar keselamatan yang datangnya dari Allah sendiri. Babak Perjanjian Lama yang diwakili oleh nabi Yohanes Pembaptis sudah berakhir dan mulai memasuki babak Perjanjian Baru. Babak awal dimana Tuhan Yesus memulai dengan karya-Nya. Waktunya sudah digenapi dan mulailah proses perubahan yang akan keluar dari kebiasaan yang berlaku selama itu.

Sepertinya Tuhan Yesus lebih senang mengatakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Dia tidak mengatakan bahwa Dialah Sang Mesias yang ditunggu-tunggu, bahwa Dialah Sang Kerajaan Allah. Dia betul-betul berperan sebagai manusia sejati yang menyampaikan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Dia mengajak semua orang untuk berproses melalui perubahan secara rohani. Dari perubahan rohani tersebut, barulah diikuti oleh perubahan yang duniawi. Biarlah yang bertelinga mau mendengar dan merenungkannya masing-masing.

Dia mengajak semua orang untuk mau bertobat, yang berarti berubah secara rohani yang diungkapkan melalui perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan Yesus sendiri memberi contoh nyata dalam kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu kita diharapkan untuk percaya kepada kabar sukacita tersebut. Kabar gembira bahwa sebenarnya Tuhan sudah berada di sekitar kita, dan sedang menantikan kita untuk berubah sesuai dengan ajaran-Nya. Mungkin dalam benak kita pernah terbersit, mengapa Tuhan Yesus tidak langsung saja memproklamirkan diri-Nya sebagai Mesias, Kristus yang ditunggu-tunggu. Mengapa Dia tidak langsung menjadi pemimpin, menguasai dunia dengan segala macam ke-mahaan-Nya. Pasti situasi dunia akan berbeda pada saat itu, yang akan berdampak sampai sekarang ini. Mungkin jawabannya hanya satu, ya itulah misteri Tuhan yang berkarya sesuai dengan kehendak-Nya. Bukan keinginan kita yang mungkin lebih banyak mempergunakan nalar dan emosi, dengan akal budi kita yang terbatas.

Yesus memanggil murid pertama

1:16 Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. 1:17 Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." 1:18 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. 1:19 Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. 1:20 Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.

Kita bisa memperkirakan bahwa sebenarnya Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes sudah mengenal siapa Tuhan Yesus. Mereka pernah bertemu yang mungkin sewaktu Tuhan Yesus melakukan pewartaan di rumah ibadat. Pada awalnya mereka tidak berpikir untuk menjadi pengikut atau murid-Nya. Pekerjaan sebagai nelayan sudah ditekuni, yang menjadi kehidupannya sehari-hari. Mereka memang keturunan nelayan yang tinggal di daerah tepi pantai danau Galilea. Mungkin mereka sudah pernah bahkan sering mendengar khotbat-Nya di sinagoga.

Ajakan atau panggilan untuk menjadi penjala manusia, adalah suatu ajakan yang baru pertama kali didengar. Pastilah ada sesuatu yang mengherankan, mencengangkan, memberi harapan baru dan lain sebagainya. Khotbah-Nya saja sudah memberikan suasana baru yang penuh daya tarik dan kuasa, apalagi kalau sudah menjadi murid-murid-Nya.

(13)

Kita bisa membayangkan bagaimana kuasa Tuhan Yesus memberikan daya magnit yang luar biasa. Daya tarik yang sedemikian rupa, sehingga mereka berani melepaskan pekerjaan yang selama ini ditekuni. Berani meninggalkan keluarga, orang tua dan sanak saudaranya demi harapan baru. Harapan yang belum jelas masa depannya pada waktu itu, namun paling tidak nanti siapa tahu bisa menjadi pengkhotbah seperti para ahli Taurat. Apabila Gurunya sampai diangkat oleh rakyat banyak untuk menjadi pemimpin bangsa Israel, sedikit banyak pasti akan kecipratan kedudukan.

Penulis mencoba membayangkan apabila sedang menjala ikan. Sewaktu jala kita tebarkan di sungai atau di laut, harapan yang muncul adalah mendapat tangkapan ikan yang banyak. Kita tidak pernah berpikir bahwa hanya ada satu jenis ikan saja yang akan kita tangkap. Segala macam jenis ikan dipersilahkan masuk ke dalam pukat. Dengan penuh kesabaran, si penjala menunggu beberapa saat dan pada waktunya jala akan diangkat dengan penuh harap. Mungkin segala macam jenis ikan akan terjaring, termasuk sampah, potongan kayu bahkan sandal bekaspun terbawa. Begitu sampai di perahu atau di darat, barulah semuanya dipisah-pisahkan. Yang tidak dibutuhkan dibuang atau dikembalikan ke air. Hanya ikan-ikan tertentu yang mempunyai nilai yang dikumpulkan dan dikelompokkan sesuai jenisnya.

Dalam pemahaman penulis, jala adalah simbul kasih yang penuh dengan kesabaran dan kita tebarkan kemana-mana, dimana kita tinggal. Jala yang tidak pernah membeda-bedakan siapa yang akan terjaring oleh kasih tersebut. Kasih yang memikat orang-orang yang berkehendak baik. Hal tersebut akan berbeda kalau kita memancing dengan memakai umpan. Jenis umpan disesuaikan dengan jenis ikan yang akan kita pancing. Umpan kita pasang karena sebagai daya tarik untuk memikat ikan yang kita harapkan. Malah sering umpan yang dipasang hanya tipuan, bukan umpan makanan beneran. Yang namanya memancing, umumnya mendapatkan ikan ya satu persatu

Zaman sekarangpun kita diharapkan bisa menjadi penjala manusia, walaupun seringkali kita merasa tidak siap dan tidak bisa. Kalau tidak bisa, ya paling tidak menjadi pemancing manusia, daripada sama sekali tidak mau berkarya. Ajaran Tuhan Yesus berlaku selamanya, yang mungkin saja pukatnya dimodifikasi sedemikian rupa, disesuaikan dengan zaman sekarang.

Yesus di Kapernaum

1:21 Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. 1:22 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. 1:23. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak: 1:24 "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang

Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." 1:25 Tetapi Yesus

menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" 1:26 Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya. 1:27 Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: "Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya." 1:28 Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea.

Jika kita perhatikan, pada awalnya Tuhan Yesus sepertinya setiap hari Sabat masuk ke sinagoga dan mengajar. Pengajaran-Nya sangat berbeda dengan para ahli Taurat. Dia memberikan model

(14)

baru dalam pengajaran, tidak seperti pada umumnya. Ada suatu kuasa yang tidak terlihat kasat mata, namun dapat dirasakan oleh para pendengarnya.

Kita juga bisa mengerti bahwa roh jahat yang merasuki seseorang nyatanya bisa memasuki rumah ibadat. Roh jahat tersebut tidak takut untuk berkeliaran di tempat-tempat yang kita anggap sakral atau suci. Jadi jangan kaget apabila ada roh jahat yang berkeliaran, padahal Tubuh Kristus sedang terpenjara di tabernakel. Pada kenyataannya masih saja ada pencuri yang memanfaatkan situasi sewaktu misa kudus sedang berjalan.

Roh jahat lebih mengenal dan tahu siapakah sebenarnya Kristus Yesus, Yang Kudus dari Allah sendiri. Mereka sebenanya malah ketakutan apabila bertemu Tuhan Yesus, jangan-jangan hendak dibinasakan dan dilempar ke neraka. Mau tidak mau roh jahat tersebut akan menuruti kehendak Tuhan Yesus, karena memang Dia mahakuasa terhadap apapun. Mestinya hal tersebut mengajarkan kepada kita, untuk tidak perlu takut dengan apapun, selama kita selalu bersama Dia.

Perbuatan ajaib memang selalu menjadi buah bibir dan menjadi bahan perbincangan yang menarik. Kemudian berita tersebut berkembang dari mulut ke mulut dan menyebar kemana-mana. Pastilah banyak orang tertarik, khususnya yang membutuhkan pertolongan akan meluangkan waktu untuk bertemu dengan Dia.

Yesus menyembuhkan mertua Simon Petrus

1:29. Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. 1:30 Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. 1:31 Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. 1:32 Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. 1:33 Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. 1:34 Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Selesai dari upacara ibadat di sinagoga, Tuhan Yesus bersama kedua rasul mengunjungi keluarga Simon. Mungkin Tuhan Yesus sudah tahu bahwa ibu mertua Simon sedang sakit demam dan tidak bisa bangun. Dengan memegang tangannya, maka daya kuasa mengalir ke dalam tubuh ibu mertua Simon dan sembuhlan ia. Kita bisa membayangkan bagaimana perasaan seorang yang sedang sakit dikunjungi dan disembuhkan. Ucapan syukur dan terima kasih ditumpahkan dengan segala cara, dengan penuh sukacita. Pastilah ibu mertua Simon melayani Tuhan Yesus dengan penuh kegembiraan. Jikalau berkenan, menginap saja di rumahnya dan pasti disediakan kamar untuk sang Tabib.

Kabar kesembuhan orang yang dirasuki roh jahat, begitu cepat menyebar. Maka kesempatan tersebut betul-betul dimanfaatkan oleh semua orang yang mempunyai saudara yang sedang sakit. Mereka tahu dimana Tuhan Yesus berada, maka berbondong-bondonglah orang berdatangan. Tanpa mengenal lelah Tuhan Yesus bersedia menyembuhkan yang sakit maupun yang kerasukan setan. Perasaan berbelas kasih lebih dominan dan diutamakan dari pada untuk beristirahat.

Dengan kuasa-Nya, Tuhan Yesus melarang semua setan untuk berbicara di hadapan-Nya. Dia tidak mau dikenal dan diketahui bahwa Dialah Allah yang mahakuasa. Biarlah segalanya berjalan wajar begitu saja, dan mengalir seperti sungai. Biarlah semua orang melihat dan mendengar dan merenungkan masing-masing, siapakah Dia sebenarnya.

Penulis agak heran bahwa banyak orang di Galilea pada waktu itu yang kerasukan roh jahat. Mungkin kita hanya bisa membayangkan bahwa zaman itu betul-betul zaman edan, dimana

(15)

roh jahat meraja lela menguasai manusia. Jangan-jangan di Indonesia pada saat inipun sama dengan zaman pada waktu itu. Banyak media mewartakan tentang kerasukan masal di mana-mana. Pada tahun-tahun yang penuh rahmat ini, roh jahat sangat marah dan berupaya mengganggu dengan segala cara.

Yesus mengajar di kota lain

1:35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. 1:36 Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; 1:37 waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau." 1:38 Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota

yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang."

1:39 Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.

Penulis tidak tahu mengapa Tuhan Yesus hampir selalu berdoa sendirian di tempat sunyi.Dia selalu menyempatkan waktu di tempat sunyi untuk berbicara dengan Allah Bapa. Jika tidak pagi-pagi sekali, diluangkan waktu pada malam hari dimana semua orang sedang beristirahat tidur. Secara tidak langsung kita diajar dan diberi contoh oleh Tuhan Yesus sendiri untuk selalu berdoa. Tempat sunyi yang jelas bisa membuat lebih konsentrasi dan khusuk dalam doa. Segala macam gangguan yang masuk melalui panca indera bisa diminimalkan, yang mestinya bisa lebih bebas untuk ngobrol dengan yang kudus.

Kemudian Tuhan Yesus mengajak para murid untuk berkeliling ke kota-kota lain yang masih berdekatan. Sepertinya Tuhan Yesus lebih menekankan untuk memberitakan kabar gembira dan mengajak orang untuk bertobat. Secara rohani pertobatan lebih penting dari pada untuk penyembuhan jasmani. Harapannya, rohani dahulu yang sembuh kemudian baru diikuti jasmani yang sembuh.

Mungkin kita pernah mendengar cerita orang kudus yang menerima karunia mengalami sakit seumur hidup, agar bisa berdoa bagi keselamatan orang banyak. Sakitnya diterima dengan sukacita walaupun dijauhi orang lain. Dia malah mempunyai banyak waktu untuk berdoa, berdialog dengan Tuhan dengan topik segala macam. Ia malah bisa tekun memohon untuk kedamaian dunia ataupun permohonan lainnya.

Kita bisa memaklumi yang namanya sakit, apalagi sakit yang cukup berat. Segala upaya dicoba dan diusahakan, kalau perlu diburu sampai dimanapun, demi kesembuhan. Dalam segala upaya ini yang mestinya perlu hati-hati, apakah caranya wajar atau malahan meminta bantuan yang tidak semestinya. Anggap saja ekstrimnya meminta bantuan roh jahat agar bisa sembuh. Jangan-jangan jasmaninya kelihatan semakin sehat, namun rohaninya semakin rapuh. Dimana ada Tuhan Yesus, segala macam penyakit maupun roh jahat pergi menjauh. Itulah kabar yang menggembirakan yang memberikan keselamatan. Bagi manusia pada umumnya, keselamatan jasmani didahulukan baru kemudian keselamatan rohani

Yesus menyembuhkan sakit kusta

1:40. Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." 1:41 Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." 1:42 Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. 1:43 Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: 1:44 "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini

kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi

(16)

mereka." 1:45 Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya

kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

Kejadian ini kemungkinan besar berada di tempat sepi, di luar kota. Kalau tidak salah orang-orang yang menderita sakit kusta dikucilkan dari sanak keluarga dan tetangganya. Mereka dipisahkan di tempat tersendiri agar tidak menular kepada orang lain yang masih sehat. Betapa orang kusta tersebut dengan keyakinannya berani mendekat, tidak peduli dengan orang lain yang mengikuti Tuhan Yesus. Biar saja mereka menggerutu dan mengomel, yang penting harus bertemu dengan Sang Mahatabib dan memohon.

Orang kusta tersebut merendahkan dirinya dan berlutut di hadapan Tuhan Yesus. Dia memohon bantuan namun cara bicaranya begitu merendah yang tidak memaksa, “Kalau

Engkau mau.” Dia begitu percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Sang Mahapenyembuh. Dan

kenyataannya Tuhan Yesus begitu berbelas kasih kepada semua orang yang mengharapkan bantuan-Nya, “Aku mau.” Tanpa rasa sungkan dan jijik Dia mau menjamah orang kusta tersebut.

Pada dasarnya Tuhan Yesus tidak mau menyombongkan diri bahkan lebih senang dengan kerendahan hati. Dia tidak mau berpromosi , karena dibalik promosi pasti ada pamrih tertentu yang umumnya menguntungkan diri. Tuhan Yesus berkarya menyembuhkan hanya berdasar belas kasih tanpa embel-embel apapun, apalagi menarik keuntungan.

Dia melarang orang tersebut untuk bercerita, tetapi hanya disuruh melakukan pekerjaan ritual yang diperintahkan Musa. Tuhan Yesuspun tidak menolak tradisi baik yang berlaku pada saat itu. Ungkapan puji syukur kepada Allah seseuai dengan ketentuan yang berlaku, hendaklah dilaksanakan agar semua orang mengetahui bahwa ia telah bebas dari penyakit kusta.

Dampak dari cerita getok tular dan kesaksian, maka akan banyak orang yang mendambakan kesembuhan mencari dimanapun Dia berada. Tuhan Yesus tidak bisa bersembunyi walaupun Dia tinggal di luar kota, di tempat yang sepi.

Kita bisa merasakan sendiri bagaimana berat meredam keinginan untuk tidak bercerita tentang pengalaman disembuhkan dengan penuh mukjizat. Pengalaman indah penuh sukacita rasanya perlu diceritakan kepada orang banyak. Biarlah mereka yang mendengar bisa ikut merasakan kegembiraan tersebut. Biarlah orang lain yang juga sedang menderita dapat ikut disembuhkan oleh Tuhan Yesus.

Mungkin sekali bahwa zaman sekarang ini kita diajar untuk menjadi saksi Kristus. Kesaksian mengalami disentuh Tuhan perlu disampaikan kepada siapapun. Menyampaikan kesaksian bukanlah menyombongkan diri, namun berbagi pengalaman bagaimana Tuhan telah menolong dan menyembuhkan kita. Kelihatannya orang Katolik lebih terbiasa dengan doa-doa pakem dalam sembahyangan, dari pada berbagi pengalaman rohani yang sering disebut sebagai kesaksian. Mungkin hanya kelompok Karismatik dan sejenisnya yang sering melakukan kesaksian.

Mungkin pada intinya di dalam suatu kesaksian adalah hanya ingin membagi pengalaman bahwa Allah itu maha baik. Dia penuh belas kasihan kepada semua orang yang mengharapkan sentuhan-Nya. Sentuhan-Nya akan bekerja apabila kita juga mau bereaksi dengan membuka diri dan menerima-Nya. Jangan-jangan sebenarnya Tuhan selalu menyentuh kita, namun kitalah yang tidak peka sehingga tidak merasakan sapaan-Nya. Atau malahan kita yang tidak peduli dan hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri.

(17)

Bab 2 - Penyembuhan, Murid lainnya, hal Berpuasa

Yesus menyembuhkan orang lumpuh

2:1. Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. 2:2 Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, 2:3 ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. 2:4 Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. 2:5 Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu:

"Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!"

Mungkin kita bisa membayangkan kepercayaan sekelompok orang yang membawa orang lumpuh tersebut. Pada awalnya mungkin kaget bahwa begitu banyak orang yang berbondong-bondong ingin bertemu dengan Tuhan Yesus. Bagaimana mungkin bisa bertemu dalam keadaan membawa orang yang sakit lumpuh. Tanpa ketemu sendiri dan menyampaikan permohonan, agaknya tidak mungkin bisa terjadi kesembuhan. Saking percayanya, mereka berusaha dengan segala macam cara, agar bisa bertemu langsung, sampai di hadapan Tuhan Yesus.

Cara yang paling aneh namun pasti akan sampai di hadapan-Nya, adalah membuka atap. Biarlah dimarahi oleh yang punya rumah, nanti kan masih bisa diperbaiki dan diganti biayanya. Karena iman, maka cara yang tidak lumrahpun bisa dipergunakan, yang penting bisa bertemu dengan Sang Maha Tabib. Dan terjadilah mukjizat kesembuhan bagi si lumpuh sehingga ia bisa berjalan sendiri.

Sepertinya Tuhan Yesus lebih menekankan perlunya pertobatan, sehingga Dia berkata

:”Dosamu sudah diampuni.” Dia tidak mengatakan kepada si lumpuh bahwa sakitnya sudah

disembuhkan. Ataukah sebenarnya segala macam penyakit yang diderita setelah lahir, disebabkan oleh pola hidup kita yang tidak baik. Kita terlalu mengumbar hawa nafsu dan keserakahan yang dampaknya merugikan orang lain. Pada awalnya, rohani kitalah yang sedang sakit, namun tidak dipedulikan. Lama kelamaan penyakit tersebut menyerang jasmani yang bisa merasakan. Maka diperlukan pertobatan lebih dahulu, keinginan untuk berubah ke yang lebih baik. Karena bertobat, maka segala macam sakit penyakit bisa disembuhkan dengan cara yang mengherankan. Dan itu menjadi bahan kritikan oleh para ahli Taurat.

2:6 Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: 2:7 "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?"

2:8 Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? 2:9 Manakah lebih

mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? 2:10 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" --berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu--: 2:11 "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"

2:12 Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."

Pasti para ahli Taurat tidak mengerti dan tidak bisa melihat tanda-tanda ajaib yang terjadi, sesuatu hal yang perlu direnungkan terlebih dahulu. Mereka hanya melihat dengan badan kasar dan akal budi, bahwa hanya Allah yang tidak kelihatan saja yang bisa mengampuni. Yang berani mengampuni kalau bukan Allah, pasti menghujat Allah.

Tuhan Yesus tahu apa yang dipikirkan para ahli Taurat, dan Dia mengatakan bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa. Dalam hati para ahli Taurat sepertinya tetap tidak bisa menangkap, siapakah sebenarnya Anak Manusia. Mereka seperti dibutakan oleh akal budinya

(18)

yang selama ini sudah mendarah daging, bahwa merekalah yang selalu menjadi panutan. Dogmanya selalu ditaati banyak orang, walaupun mungkin di dalam hati bertanya-tanya karena dianggap aneh atau tidak umum.

Kita tahu dan mengerti bahwa Tuhan Yesus adalah Allah sendiri karena diajar oleh kesaksian para murid-Nya. Jangan-jangan kalau kita hidup di zaman itu, kitapun sependapat dengan para ahli Taurat. Silahkan membuat mukjizat penyembuhan, namun jangan sekali-kali menyamakan diri dengan Allah. Itu namanya menghujat Allah.

Dalam pemahaman penulis, kita diajar untuk lebih menekankan kepada pertobatan karena dosa, dari pada kesembuhan karena penyakit. Sembuh rohani lebih penting dari pada sembuh jasmani. Namanya juga manusia, maka kalau boleh meminta, ya sembuh jasmani ya sembuh rohani. Pada umumnya yang kita pentingkan pertama kali adalah sembuh jasmani dari segala penyakit. Masalah rohani, itu soal lain lagi.

Tuhan Yesus sangat memaklumi akan pikiran kita manusia karena kedagingan kita. Dengan belas kasih-Nya Dia tetap menyembuhkan, namun dengan menekankan bahwa kesembuhan itu sebagai dampak karena percaya dan dosanya diampuni. Dia tidak berkata sembuhlah, tetapi bangunlah dan angkatlah tempat tidurmu.

Para pemuka agama pada waktu itu seperti dibutakan dan ditulikan hatinya. Mereka tidak bisa memahami bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di dunia ini. Sepertinya mereka tidak bisa menangkap dan memecahkan rahasia nubuat para nabi tentang Mesias. Mungkin seperti orang yang sedang mata gelap, semuanya terlihat buram sehingga pikiran sehat tidak berjalan. Secercah cahaya yang diterima malah terasa membutakan akal budi.

Lewi mengikut Yesus

2:13. Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. 2:14 Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia. 2:15 Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia.

Penulis tidak bisa membayangkan, bagaimana Lewi bin Alfeus begitu gampang mengikut Tuhan Yesus. Pekerjaan sebagai pemungut cukai pada waktu itu pastilah memberikan penghasilan yang mencukupi. Namun begitu bertemu dengan Tuhan Yesus yang mengajak untuk ikut, Lewi bisa berubah berbalik arah dan bersedia. Dalam pemahaman penulis, Lewi adalah Matius yang menulis Injil pertama.

Lewi pasti menyadari bahwa dia termasuk orang yang tidak disukai karena pekerjaannya. Dia pasti sadar bahwa dianggap sebagai orang-orang berdosa dan tidak layak berkumpul dengan kelompok yang mengaku baik-baik. Tuhan Yesuspun pastilah dimasukkan ke dalam kelompok orang yang baik, karena sering berkotbah di sinagoga.

Pada kenyataannya Tuhan Yesus berkenan mengajak dia untuk ikut sebagai murid-Nya. Hal ini suatu hal yang luar biasa bagi lewi, dan sudah menjadi daya tarik tersendiri. Lewi merasa

dimanusiakan oleh Tuhan Yesus, yang memberikan rasa sukacita yang bukan main. Sukacita

yang melegakan bisa membuat orang melakukan sesuatu dengan keikhlasan tanpa pamrih. Maka rasa kegembiraan yang dialami tersebut diungkapkan melalui mengajak makan bersama dengan banyak orang.

Hal tersebut sepertinya secara tidak langsung Tuhan Yesus mengajar kita untuk berani seperti Dia. Berani mengajak orang lain yang kita anggap sebagai kelompok orang berdosa untuk

(19)

kembali ke jalan yang benar. Selama ini seringkali kita membuat garis pemisah dan berusaha menghindar dari kelompok semacam itu. Maksudnya jangan sampai ketularan atau jangan-jangan takut dianggap orang lain bahwa kita seperti mereka. Ada peribahasa yang mengatakan bahwa emas tetaplah emas, walaupun bercampur dengan lumpur.

Pada dasarnya tidak ada seorangpun yang ingin menjadi atau berbuat yang tidak baik. Semua orang menginginkan disebut sebagai orang yang baik. Karena situasi dan kondisi serta nafsu kedagingan, maka muncullah keterpaksaan untuk berbuat tidak baik. Pasti ada seribu satu macam alasan yang dapat disampaikan untuk pembelaan diri. Jangan-jangan, langsung atau tidak langsung yang mengaku baik ini malah ikut andil munculnya orang-orang yang dianggap tidak baik tersebut. Yang menjadi masalah adalah apabila terlena kepada kenikmatan dari hasil perbuatan tidak baik tersebut. Jangan-jangan malah ketagihan karena memberikan kenikmatan duniawi.

2:16 Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: "Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" 2:17 Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku

datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Tuhan Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai seorang tabib, dimana sangat diperlukan oleh orang-orang yang sedang sakit. Mereka mencari tabib karena ada keinginan untuk sembuh, sembuh dari sakit yang jasmani maupun yang rohani. Dia datang memang untuk orang yang berdosa, bukan orang yang hidupnya sudah merasa benar.

Beruntunglah kita yang mengenal Dia Sang Tabib, karena kita masih termasuk orang-orang yang berdosa. Kita masih membutuhkan kesembuhan dari segala macam kesakitan kita. Ya sakit rohani maupun sakit jasmani. Jika kita sudah merasa berada dalam jalur orang benar, jangan-jangan Sang Tabib malah tidak mau menghampiri kita. Jadi sebenarnya kita tidak ada bedanya dengan kelompok yang sering kita sebut berdosa, sampah masyarakat, yang dijauhi dan disingkirkan. Yang membedakan mungkin hanya jenis penyakitnya saja, entah itu sakit ringan atau sakit berat. Repotnya, dalam kesakitan tersebut kita membanggakan diri bahwa kita sehat.

Kadang-kadang kita merasa bahwa sakit kita tidak begitu berat, padahal jangan-jangan di mata Sang Tabib, malahan sakit kita begitu parah yang perlu pengobatan khusus. Jangan-jangan yang kita sebut parah bagi orang lain, di mata Tuhan malah lebih mudah disembuhkan. Kita mungkin sudah terbiasa tidak begitu menghiraukan penyakit ringan, kita anggap biasa-biasa saja seperti orang lain. Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit, kata peribahasa. Pada saatnya kita akan kaget bahwa begitu parahnya penyakit kita.

Beruntunglah kita, bahwa Tuhan begitu berbelas kasih, dengan tidak bosan-bosannya menawarkan kesembuhan kepada kita. Selama kita masih hidup di dunia ini, Tuhan selalu buka praktek dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu. Dia tidak pernah pandang bulu dan pilih kasih untuk menyembuhkan pasien-Nya. Semuanya mendapatkan pelayanan yang sama.

Tuhan, ajarilah aku untuk selalu mawas diri dari kedosaanku. Biarkan aku mencari-Mu untuk menyembuhkan aku.

Hal berpuasa

2:18. Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: "Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" 2:19 Jawab Yesus kepada

(20)

mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama

mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. 2:20 Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. 2:21 Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. 2:22 Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula."

Penulis tidak tahu kapan dan bagaimana para murid Yohanes Pembaptis dan orang Farisi berpuasa. Kalau tidak salah memang ada ajaran untuk berpuasa seminggu dua kali. Bunda Maria dalam penampakannya di Medjugorje memberikan pesan untuk berpuasa pada hari

Rabu dan Jumat demi kedamaian dunia yang tidak ada damai ini.

Dalam pemahaman penulis, Tuhan Yesus adalah mempelai kita secara rohani. Dalam istilah Jawa ada sebutan “garwa” sigarane nyawa, atau belahan jiwa. Mestinya Tuhan Yesus menjadi garwa kita, menjadi belahan jiwa kita. Biarkanlah Dia menyatu dengan kita, seperti ucapan imam “Tuhan beserta kita.” Pada saat-saat dan suasana seperti itu, keadaan penuh sukacita mestinya kita tidak berpuasa. Dalam keadaan merasa bahwa Tuhan begitu jauh, mestinya kita sedih, nelangsa, maka kita berpuasa. Pemikiran ini mungkin keliru, jangan-jangan Tuhan selalu mendekati kita, ingin masuk ke dalam diri kita dan menyatu dengan kita. Kitalah yang menyingkirkan atau menolak kedatangan Tuhan, karena merasa terganggu. Kita merasa tidak bebas mengumbar segala macam hawa nafsu kedagingan kita, selama Tuhan beserta kita.

Penulis merasa sulit untuk memahami perumpamaan kain cabik dan kantong anggur ini. Kain tua tidak bisa dipersatukan dengan kain baru, karena yang baru akan mengoyakkan yang lama. Demikian juga kantong kulit yang tua tidak akan dipakai untuk menampung anggur yang baru. Kantong lama akan terkoyak dan dua-duanya terbuang percuma.

Paling tidak pandangan baru akan sangat sulit diterima oleh pandangan lama. Tuhan Yesus sendiri sepertinya membawa perubahan dalam memandang Allah Bapa. Pandangan baru yang diwartakan Tuhan Yesus mau tidak mau akan sulit dimengerti oleh bangsa sezamannya. Apalagi bagi para ahli Taurat maupun kaum Farisi yang ahli dengan ajaran budaya yang dianutnya. Adat kebiasaan, dogma, ajaran yang sudah mendarah daging, akan sangat sulit untuk disambungkan dengan pengajaran baru, walaupun yang baru itu benar adanya. Mungkin diperlukan usaha keras membersihkan memori yang menempel, menjadi seperti belum pernah belajar dulu. Baru kemudian diisi dengan pemahaman baru yang betul-betul berbeda dari pemahaman lama.

Mungkin kita pernah mendengar orang tua kita yang mengeluh bahwa anak-anak sekarang lebih sulit diatur, menurut selera orang tua kita. Pada waktu kita menjadi orang tua, kita juga mengatakan bahwa anak zaman sekarang sangat berbeda dengan selera kita. Kita sering lupa bahwa setiap angkatan akan mempunyai selera yang menjurus kepada budaya yang berbeda. Kebiasaan orang tua kita pasti agak berbeda dengan angkatan kita, demikian juga dengan anak-anak kita. Yang tua ini sering kali tidak bisa menerima bahwa zaman sudah berubah dan merasa sudah makan asam garam dunia. Mungkin kita tidak menyangka bahwa yang muda jangan-jangan malah sudah makan asam, garam, gula, kina maupun campuran segala rasa. Mereka bisa belajar sejarah perkembangan manusia yang lebih dahulu ada, sedangkan yang tua pasti belum pernah belajar apa yang akan terjadi di kemudian hari. Jikalau toch belajar, mungkin baru setingkat teori kira-kira, teori kemungkinan, karena memang belum terjadi. Untuk bisa beradaptasi dengan perubahan, diperlukan keberanian merenung mengapa terjadi perubahan. Mungkin kita harus sadar bahwa yang kekal di dunia ini adalah perubahan. Setiap

(21)

saat selalu berubah dan berubah. Yang Tidak berubah mungkin hanya Allah yang dari dahulu, sekarang dan yang akan datang tetap kekal.

Apabila penulis mengatakan bahwa Santo Yusup itu masih muda sewaktu bertunangan dengan Bunda Maria, mungkin banyak orang yang geger dan heboh. Apalagi mengatakan bahwa Santo Yusup meninggal setelah Tuhan Yesus naik ke sorga, jangan-jangan akan semakin ramai. Padahal kita semua tidak mengalami dan tidak tahu persis kejadian pada waktu itu. Yang sudah diajarkan dan menempel dalam benak kita, Santo Yusup sudah tua. Mungkin sama halnya apabila penulis mengatakan bahwa Bunda Maria itu turun dari langit. Tidak ada seorangpun perawan di dunia ini yang pantas menjadi ibunya Tuhan Yesus. Keluarga kudus Nazaret itu datang dari surga dengan cara yang penuh misteri. Tidak ada seorangpun yang tahu persis bagaimana mereka datang atau lahir didunia. Semuanya masih katanya dan katanya, tidak ada tinggalan bukti tentang kelahiran Bunda Maria dan Santo Yusup. Penulis merasa yakin bahwa hampir semua orang tidak akan percaya dan menganggap penulis ngayawara. Semua kain tua dan kantong anggur tua akan berantakan apabila langsung mempercayai kabar ini.

Memetik gandum di hari Sabat

2:23 Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. 2:24 Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?" 2:25 Jawab-Nya kepada mereka:

"Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, 2:26 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu--yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam--dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya. “

2:27 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia

untuk hari Sabat, 2:28 jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat."

Penulis hanya memperkirakan bahwa pada hari Sabat setiap orang Yahudi tidak bekerja. Hari Sabat adalah harinya Tuhan yang hanya dimanfaatkan untuk keluhuran Tuhan. Mungkin banyak aturan yang dikembangkan khusus untuk hari Sabat. Hari Sabat berlaku sejak petang hari matahari tenggelam di hari Jumat sore, sampai hari Sabtu petang hari. Hampir sama dengan sebutan hari bagi orang Jawa yang masih menjunjung adat istiadat tinggalan nenek moyang.

Penulis juga heran sewaktu ziarah ke Yerusalem dan menginap di sebuah hotel. Hari Jumat pagi penulis dengan rombongan pergi berziarah dan pulang ke hotel sudah sore. Untuk makan malam, kami diajak ke sebuah rumah makan yang dikelola oleh orang-orang non Yahudi, karena hampir seluruh rumah makan pada malam itu tutup dan jalan-jalan menjadi sepi. Sewaktu kembali ke hotel dan akan ke kamar, penulis mencoba menekan tombol lift sesuai lantai kamar menginap. Nyatanya tombol tersebut sudah diprogram sedemikian rupa, khusus untuk hari Sabat. Lift akan membuka dan menutup secara otomatis di setiap lantai selama dua puluh empat jam. Bisa kita bayangkan bagaimana menunggu pintu lift akan membuka lagi, apabila dia sudah menutup; apa lagi kalau kamar kita di lantai paling atas. Menekan tombol lift saja sudah dianggap sebagai bekerja! Bagi orang yang beragama Yahudi, hal itu tidak diperbolehkan.

Tuhan Yesus sepertinya membela apa yang dilakukan para murid. Komentar orang Farisi itu dibalikkan agar direnungkan. Mengapa pada hari Sabat Daud boleh melakukan perbuatan

(22)

memakan roti sajian kudus yang ada di Bait Allah dan membagikan kepada para pengikutnya. Padahal Daud bukan golongan imam, malahan sedang dikejar-kejar oleh raja Saul (1Sam 21). Hal ini salah satu pandangan baru yang diwartakan oleh Tuhan Yesus, yang menjadikan batu sandungan. Tuhan Yesus lebih berpihak kepada orang-orang yang kelaparan dan membutuhkan makan, walaupun pada hari Sabat. Kehidupan manusia itu sendiri lebih penting dari segala macam adat istiadat yang ada. Semua hari diadakan demi kepentingan manusia, bukan sebaliknya.

Mungkin kita bisa memahami bahwa pada awalnya segala adat kebiasaan itu dibuat atau diadakan oleh manusia, demi kepentingan manusia itu sendiri. Lama kelamaan terjadilah perubahan sedikit demi sedikit tanpa disadari dan terjadilah salah kaprah atau kebablasan. Manusia untuk adat istiadat, demikian juga manusia untuk hari Sabat. Adat dan Sabat malah dinomor satukan dari pada kehidupan manusia itu sendiri. Karena adat istiadat, bisa terjadi hak azasi manusia malah dikalahkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kitapun sering dibuat bingung karena adat istiadat yang seperti aturan tidak tertulis. Mungkin setiap suku mempunyai kebiasaannya masing-masing, dan bisa terjadi bahwa kebiasaan tersebut malah kebalikan dari kebiasaan suku lain. Yang susah jika ditekankan “pokoknya begitu” dan harus dilaksanakan. Melanggar adat akan kualat atau celaka. Penulis merasa yakin bahwa kebiasaan tersebut pasti ada latar belakangnya, yang kemudian disepakati oleh para tua-tua untuk menjadi adat istiadat.

Tuhan Yesus malah lebih menekankan bahwa Dia juga Tuhan atas hari Sabat. Tuhan dari segala macam adat istiadat. Dia tidak mau menyebut diri-Nya sebagai Tuhan, namun cukup sebagai Anak Manusia. Dia menjadi bagian dari kita manusia, namun tetaplah bahwa Dia Allah sejati. Dia sebagai Allah, sepertinya tidak ingin bahwa manusia menjadi kebablasan yang tidak bermakna. Hari Sabat sebagai harinya Tuhan adalah baik, namun jangan sampai demi Sabat orang tidak boleh melakukan perbuatan baik dan benar.

Bab 3 - Penyembuhan, duabelas murid, Beelzebul, dan Saudara-Nya

Yesus menyembuhkan di hari Sabat

3:1. Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. 3:2 Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. 3:3 Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!" 3:4 Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah

yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja. 3:5 Ia berdukacita karena kedegilan

mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. 3:6 Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.

Kembali Tuhan Yesus ingin menekankan paradigma baru yang lebih baik dan benar. Dia bertanya singkat, mana yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat. Tetapi nyatanya semua orang diam. Berbuat baik mestinya menjadi bagian dalam perjalanan hidup ini, kapanpun dan dimanapun. Berbuat jahat sudah selayaknya tidak dilakukan, walaupun bukan hari Sabat. Orang awam yang tidak tahu persis dengan segala macam aturan, pasti akan setuju bahwa berbuat baik harus dilakukan kapan saja dan dimana saja. Apa lagi bagi yang sedang menderita dan membutuhkan pertolongan, pasti tidak akan melihat hari. Semakin cepat bisa ditolong akan semakin baik. Namun bagi orang yang sudah dicekoki sejak lahir akan segala macam dogma sampai mendarah daging, akan sangat sulit untuk menerima perubahan paradigma tersebut. Pokoknya hari Sabat tidak boleh begini dan begitu, titik.

(23)

Tuhan Yesus berani melawan arus demi kebaikan dan kebenaran yang diharapkan oleh Allah sendiri. Dan Dia siap menerima segala macam akibat dari apa yang dikatakan-Nya. Berbelas kasih melalui perbuatan nyata agaknya sejalan dengan ajaran mengasihi sesama, seperti mengasihi diri sendiri. Sepuluh Perintah Allah tidak ada embel-embel kecuali hari Sabat. Kita bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila seseorang mengalami musibah hampir meregang nyawa kehabisan darah dan pas jatuh hari Sabat.

Sampai sekarangpun penulis yang awam ini masih merasa bingung dengan sebagian perintah Gereja, “jangan melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari Minggu atau hari raya yang

diwajibkan.” Apa yang dimaksud dengan pekerjaan yang dilarang tersebut? Banyak jawaban

yang masih belum memuaskan, apalagi jika dilihat dengan situasi pada zaman sekarang ini.

Yesus menyembuhkan banyak orang

3:7 Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea, 3:8 dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya. 3:9 Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-bagi-Nya. 3:10 Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya. 3:11 Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: "Engkaulah Anak Allah." 3:12 Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.

Kita bisa membayangkan bagaimana Tuhan Yesus berperan sebagai Tabib, yang dengan suka rela penuh belas kasih menyembuhkan banyak orang. Berita getok tular begitu cepatnya menyebar ke segala penjuru. Yang namanya manusia, pasti mengharapkan kesembuhan dari segala macam penyakit yang diderita. Walaupun jauh, tetap saja upaya mencari Sang Tabib didahulukan agar cepat sembuh.

Di zaman sekarang, jangan-jangan hal tersebut dianggap sebagai suatu kesempatan untuk mendapatkan uang. Dengan berbagai macam alasan, dibuatlah kotak untuk menerima sumbangan bagi yang telah disembuhkan. Pasti banyak uang akan terkumpul. Yang lebih menomor satukan bisnis, malahan bisa dikenakan tarif tertentu. Yang disembuhkan pasti mau membayar. Beruntunglah Tuhan Yesus datang bukan untuk mencari uang, namun malah ditekankan perlunya pertobatan, maka dosanya akan diampuni. Tuhan Yesus yang mahakaya tidak membutuhkan segala macam isi duniawi ini.

Sepertinya ada suatu hal yang tidak disadari oleh banyak orang yang mencari Dia pada waktu itu. Omongan orang yang kerasukan roh jahat :”Engkaulah Anak Allah.” Mungkin saking inginnya untuk segera disembuhkan, mereka tidak begitu menghiraukan ucapan orang sinting yang aneh. Jika mereka menyadari akan teriakan orang yang kerasukan, mestinya mereka menyembah Tuhan Yesus atau penghormatan sesuai dengan cara mereka masing-masing. Nyatanya Tuhan Yesus tidak mau dikenal bahwa Dialah Putera Allah, dan melarang keras para roh jahat bicara seperti itu. Mungkin para roh jahat tersebut senang juga karena tidak memperkenalkan Tuhan Yesus sebagai Allah. Biarlah banyak orang tetap tidak mengerti bahwa Dia adalah Allah, dan masih bisa mengganggu mereka.

Kuasa penyembuhan yang keluar dari diri Tuhan Yesus tidak ada habisnya. Ada yang dijamah, diludahi, diusir roh jahatnya ataupun yang hanya menjamah jubahnya saja bisa sembuh. Iman kepercayaan dan usaha untuk bertemu dengan Dia yang akan menyembuhkan, karena Dia berbelas kasihan kepada umat-Nya. Tenaga-Nya seperti tidak mengenal lelah demi menyelamatkan orang yang membutuhkan-Nya.

(24)

Yesus memanggil kedua belas Rasul

3:13. Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya. 3:14 Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil 3:15 dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. 3:16 Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, 3:17 Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, 3:18 selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas,

Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, 3:19 dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati

Dia.

Dalam tulisan ini kita bisa memperkirakan bahwa tiga nama pertama, yaitu Simon Petrus, Yakobus dan Yohanes memang agak dibedakan dengan yang lainnya. Andreas sebagai saudara Simon Petrus disebutkan belakangan, baru murid-murid lainnya. Demikian juga dengan Yudas Iskariot yang dituliskan paling belakang.

Kita pasti pernah mendengar atau membaca, bagaimana ketiga murid pertama mendapat pengajaran lebih dalam beberapa hal. Mungkin merekalah para rasul yang penuh dengan pengetahuan dan pengalaman rohani yang agak berbeda. Mereka yang diajak menemui anak Yairus, yang diajak naik ke gunung sewaktu Tuhan Yesus berubah rupa. Demikian juga sewaktu berdoa di taman Getsemani.

Yesus dan Beelzebul

3:20 Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat. 3:21 Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi. 3:22. Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: "Ia kerasukan Beelzebul," dan: "Dengan penghulu setan Ia mengusir setan." 3:23 Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: "Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? 3:24 Kalau suatu kerajaan

terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, 3:25 dan jika suatu rumah tangga terpecah-terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. 3:26 Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. 3:27 Tetapi tidak seorangpun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. 3:28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. 3:29 Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal." 3:30 Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia

kerasukan roh jahat.

Tuhan Yesus yang datang membawa perubahan, sudah pasti ada kelompok yang merasa tidak senang. Orang-orang yang tidak siap dengan perubahan dengan gampangnya menyebut Dia sebagai orang gila. Mungkin karena telah berani melawan adat kebiasaan yang selama ini sudah dijalankan beratus-ratus tahun. Dalam pemikiran mereka, hanya orang yang bersekutu dengan roh jahat saja yang berbuat begitu.

Jangan-jangan banyak orang yang mau percaya kepada Tuhan Yesus menjadi bimbang karena

hasutan para tokoh agama. Para tokoh agama yang selama ini mereka jadikan panutan dalam

hal rohani bukannya berpihak kepada Tuhan Yesus, melainkan malah menjadi sandungan. Tuhan Yesus memanggil mereka dan memberikan pengajaran dengan perumpamaan. Mungkin hampir sama dengan ungkapan “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Hanya orang-orang yang kuat saja yang bisa mengalahkan roh jahat yang membelenggu dirinya. Kekuatan rohani ini yang sering diabaikan, sehingga kita terlena dan dikalahkan oleh kekuatan jahat. Sering tanpa kita sadari bahwa kekuatan doa mempunyai misteri kuasa yang mengherankan. Namun dalam kenyataannya kita tetap malas untuk berdoa. Kita terlalu mengharapkan hal-hal yang instan, sak deg sak nyet, kalau bisa ya sekarang dikabulkan.

Referensi

Dokumen terkait