• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana untuk membunuh Yesus

14:1. Hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi akan mulai dua hari lagi. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat, 14:2 sebab mereka berkata: "Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat."

Kelihatannya para Sanhedrin sudah tidak bisa menunggu lagi untuk segera melenyapkan Sang

Pesaing. Mumpung Dia berada di Yerusalem dan tempat bermalamnyapun di tempat sunyi.

Rasanya tidak mungkin untuk menangkap Dia di siang hari. Banyak masyarakat yang membutuhkan pertolongan-Nya pasti akan melindungi dan bisa terjadi keributan besar. Jika terjadi perdebatan dan perselisihan, merekapun belum tentu bisa menang dengan kelompok massa.

Yang namanya tipu muslihat, pastilah perbuatan yang tidak bisa dibenarkan oleh siapapun. Tipu muslihat pastilah demi keuntungan sendiri atau kelompok dan akan merugikan pihak lain. Kalau hanya alasan, setiap orang pasti bisa membuat argumentasi. Yang lebih penting

bagaimana alasan tersebut bisa diterima, yang kalau perlu dengan referensi Kitab Suci agar tidak terbantahkan. Seribu satu macam cara bisa dicari dan dipilih mana yang paling baik. Tipu muslihat yang agak halus adalah mengundang Dia dengan paksa untuk bertemu dengan para tokoh agama yang berada di Yerusalem. Mengundang paksa, perlu disiapkan pengawal dengan alasan untuk melindungi, dianggap tamu terhormat yang harus didampingi. Jika memungkinkan sebelum hari perayaan orang Yahudi, semuanya sudah selesai. Para imam bisa memberikan penjelasan sewaktu kotbah, yang bersumber dari Kitab Suci yang ada.

Permufakatan jahat ditinjau dari sisi dan sudut mana saja pasti perbuatan yang tidak baik. Buah-buah permufakatan tersebut pasti akan merugikan pihak lain dan mengingkari rasa keadilan dan kebenaran. Dalam kecemburuan yang begitu dalam, yang terbersit hanyalah pikiran negatif.

Yesus diurapi

14:3 Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus.

14:4 Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: "Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini? 14:5 Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin." Lalu mereka memarahi perempuan itu. 14:6 Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah

melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. 14:7 Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. 14:8 Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku. 14:9 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia."

Mungkin kitapun sering berkomentar seperti salah seorang murid tersebut. Mengapa mesti terjadi pemborosan yang tidak perlu. Kelihatannya komentar seperti itu tidak keliru amat, namun mungkin ada satu hal yang belum kita ketahui latar belakang dibalik pemborosan. Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak bisa diperhitungkan dengan materi saja. Ada sesuatu yang bergelora di dalam diri, yang dapat membuat seseorang tidak lagi memikirkan bahwa hal tersebut bisa dianggap orang lain sebagi pemborosan. Demi orang yang dihormati, disegani atau perasaan lainnya yang sukar diungkapkan, kita mengeluarkan biaya yang relatif besar dengan begitu ikhlas, penuh suka cita. Ada perasaan puas dan bahagia apabila biaya yang kita keluarkan tersebut diterima dengan senang dan terima kasih.

Kita bisa membayangkan wajah perempuan tersebut sewaktu dikomentari, yang malah lebih condong ke teguran. Jika dibalas karena tersinggung : “ini kan narwastu milikku sendiri,

terserah saja mau aku pakai apa. Kenapa mesti ribut berkomentar?” Kemungkinan besar

salah seorang murid tersebut akan terkejut. Memang, orang sering berkomentar itu setelah menyaksikan atau mendengar suatu perbuatan. Dan umumnya yang disebut komentar, selalu menilai dan lebih mendekati pembenaran diri. Harapannya banyak yang bersepakat dan menyetujui komentar tersebut.

Tuhan Yesus nyatanya berkomentar lain dengan pikiran kita. Selama itu perbuatan baik, biar saja seseorang berbuat apa saja yang bisa memuaskan perasaannya. Selama perbuatan baik tersebut tidak merugikan siapapun, mengapa mesti dikomentari yang agak negatif? Dalam pemahaman penulis, kita diajar untuk bisa menjadi penonton dan pendengar aktif lebih dulu. Mungkin yang perlu kita korek pertama kali adalah mengapa seseorang sampai berbuat sesuatu. Ada apa di balik semua itu, agar kita bisa meraba rasakan dan kita renungkan. Akhirnya kita diajar untuk bisa memaklumi tentang perbuatan orang tersebut. Memaklumi

tidak harus selalu sepakat dan menyetujui, namun paling tidak kita menjadi tahu dan mengerti latar belakang perbuatannya.

Tuhan Yesus malah memaknai perbuatan perempuan tersebut sebagai persiapan penguburan-Nya. Kita bisa membayangkan bahwa penguburan yang akan terjadi sebentar lagi akan begitu tergesa-gesa. Tidak ada waktu untuk merawat jenazah-Nya dengan rempah-rempah dan wewangian seperti pada umumnya. Mereka masih terikat oleh tradisi Yahudi yang berlaku pada waktu itu. Jumat petang yang sudah masuk hari Sabat, tidak ada seorangpun yang boleh bekerja, apapun pekerjaan itu.

Dan hanya itulah yang bisa dilakukan oleh perempuan tersebut pada waktu itu. Dalam kehidupan sehari-hari, mari kita bayangkan apa komentar kita jika ada suatu keluarga yang tidak pernah berkumpul dalam doa lingkungan. Dia hanya berkumpul dalam doa hanya sewaktu kegiatan tersebut diselenggarakan di rumahnya. Ketempatan doa mau, kehadiran dirumah warga lain selalu tidak bisa. Pasti macam-macam komentar, sesuai apa yang dirasakan oleh setiap orang. Mungkin jawaban yang paling pas, seperti yang dikatakan Tuhan Yesus. Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya pada waktu itu. Mau ketempatan doa di lingkungan saja sudah syukur. Masih banyak orang lain yang sama sekali tidak pernah berkumpul dalam doa lingkungan, namun kita malah tidak pernah berkomentar dan berbuat sesuatu. Mungkin malah lebih mendekati tidak peduli kepada mereka.

Ada satu hal yang kurang, memang kejadian ini tertulis dalam Injil Markus namun sayangnya kita tidak tahu nama perempuan tersebut. Sepertinya kita disuruh menduga-duga siapakah gerangan perempuan ini, yang kemungkinannya bisa keliru. Penulispun hanya bisa menduga bahwa perempuan ini telah menerima pencerahan dari Tuhan Yesus, yang mengubah jalan hidupnya.

Yudas mengkhianati Yesus

14:10 Lalu pergilah Yudas Iskariot, salah seorang dari kedua belas murid itu, kepada imam-imam kepala dengan maksud untuk menyerahkan Yesus kepada mereka. 14:11 Mereka sangat gembira waktu mendengarnya dan mereka berjanji akan memberikan uang kepadanya. Kemudian ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Dalam pemahaman penulis, pada waktu itu Yudas Iskariot merasa kecewa dengan Gurunya. Mungkin ada suatu harapan yang duniawi, semoga Sang Guru bisa menjadi pengkhotbah, penyembuh dan pemimpin dunia. Dalam keadaan dijajah oleh bangsa Romawi, dibutuhkan seorang pemimpin yang bisa mempengaruhi masyarakat untuk berontak. Sang Guru dianggap memenuhi segala kriteria dan bisa diangkat sebagai raja, apabila perjuangannya menang. Nubuat para nabipun kelihatannya sejalan bahwa Dialah yang akan meraja di dunia. Kalau Dia menjadi raja, maka sebagai murid pilihan mestinya akan mendapat jabatan yang lumayan. Mengapa beberapa hari belakangan ini malah Sang Guru berbicara tentang kematian-Nya? Lha kalau Dia mati, apa lagi yang bisa diharapkan? Jangan-jangan malah dimasukkan ke dalam kelompok yang harus dikejar-kejar dan dianiaya. Yang paling aman, ya mendekati para imam kepala, malahan bisa dianggap sebagai pahlawan oleh mereka. Muncullah pemikiran untuk khianat dan mencari kesempatan baik, bagaimana caranya menyerahkan Gurunya. Segala sesuatunya seperti sudah diatur; kebetulan sekali bagi para anggota Sanhedrin yang sedang berupaya menangkap Tuhan Yesus, malah sekarang seorang murid-Nya datang. Mungkin dengan bujuk rayu bahwa mereka ingin bertemu dengan Gurunya untuk berdialog tentang agama. Pasti mereka tidak berbicara kepada Yudas Iskariot bahwa ingin membunuh Sang Guru. Selama ini Dia tidak mau memenuhi undangan untuk bertemu dengan para tokoh agama, dan sibuk mengajar dan menyembuhkan orang yang membutuhkan bantuan-Nya.

Kita bisa menangkap bahwa Tuhan Yesus tidak pernah mengikat para murid-Nya untuk selalu bersama dengan Dia. Sepertinya ada kebebasan yang diberikan kepada para murid-Nya untuk sewaktu-waktu pergi, entah bertemu dengan keluarganya ataupun keperluan lain.

Yesus makan Paskah dengan murid-Nya

14:12. Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya: "Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?"

14:13 Lalu Ia menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan: "Pergilah ke kota; di sana kamu

akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia 14:14 dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Pesan Guru: di manakah ruangan yang disediakan bagi-Ku untuk makan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku? 14:15 Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!" 14:16 Maka

berangkatlah kedua murid itu dan setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.

“Ngerti sadurunge winarah” ungkapan bahasa Jawa yang berarti sudah tahu dan melihat apa

yang akan terjadi. Hal ini dialami oleh para murid untuk yang kesekian kalinya. Dua orang murid yang disuruh menyaksikan dan mengalami sendiri bahwa yang diucapkan Sang Guru tidak meleset.

Kita bisa berandai-andai bahwa yang empunya rumah sudah berbicara dengan Tuhan Yesus. Dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk perjamuan Paskah, sesuai dengan hasil pembicaraan sebelumnya. Namun bertemu dengan seseorang yang membawa kendi berisi air pasti tidak masuk dalam pembicaraan. Kedua murid-Nya dituntun agar mereka semakin percaya bahwa Gurunya menguasai segalanya, menembus batas ruang dan waktu. Yang bisa seperti itu hanyalah Allah sendiri. Sehebat-hebatnya manusia, masih ada saja kekurangan yang tidak lepas dari dirinya.

Dalam kehidupan sehari-hari dimana kita sering mendaraskan Syahadat, nyatanya percaya dan pasrah kepada Tuhan secara total masih begitu sulit. Ada saja kebimbangan dan keraguan yang menghadang dan menghambat. Sekecil apapun keraguan itu yang sering tidak kita sadari, tidak jarang membuat kita bertanya-tanya mengapa doa permohonan tidak dikabulkan. Jika kita sebagai orang tua, kitapun tidak selalu mengabulkan permintaan anak seketika itu juga. Ada banyak pertimbangan yang menurut kita baik dan benar. Padahal belum tentu pertimbangan tersebut bisa langsung diterima oleh anak kita. Hal ini hampir sama dengan kita yang memohon kepada Allah Bapa. Paling tidak kita bisa berkaca bagaimana Tuhan Yesus di Nazaret sedikit sekali menyembuhkan karena tidak percaya dan ragu-ragu.

14:17 Setelah hari malam, datanglah Yesus bersama-sama dengan kedua belas murid itu. 14:18 Ketika mereka duduk di situ dan sedang makan, Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu,

sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku, yaitu dia yang makan dengan Aku."

14:19 Maka sedihlah hati mereka dan seorang demi seorang berkata kepada-Nya: "Bukan aku, ya Tuhan?"

14:20 Ia menjawab: "Orang itu ialah salah seorang dari kamu yang dua belas ini, dia yang

mencelupkan roti ke dalam satu pinggan dengan Aku. 14:21 Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan."

Tuhan Yesus sudah tahu apa yang akan diperbuat oleh Yudas Iskariot, namun Dia tidak mengatakan dengan terang-terangan. Biarlah para murid bertanya-tanya dalam dirinya sendiri siapakah yang dimaksud dengan hal tersebut. Yudas Iskariot sendiri pasti mengerti akan ucapan Gurunya, bahwa yang dimaksud adalah dirinya. Ia tidak langsung sadar dan merubah niatnya karena berbagai alasan. “nDilalah kersaning Allah” mungkin ungkapan yang paling

pas untuk situasi yang seperti itu. Semuanya memang harus terjadi sesuai skenario Allah sendiri.

Kecaman Tuhan Yesus sepertinya begitu mengerikan karena orang tersebut dikatakan akan celaka. Akan lebih baik apa bila orang tersebut tidak dilahirkan. Sudah dilahirkan hanya untuk mengalami celaka, apa gunanya. Penulis hanya bertanya ke dalam diri sendiri, apa bila tidak ada Yudas Iskariot, terus siapakah yang akan menjadi aktor penggantinya agar nubuat terjadi. Penulis tidak tahu apakah celaka tersebut hanya berlaku sewaktu di dunia ataukah malahan celaka dunia akhirat. Padahal dia diperlukan untuk penggenapan nubuat yang memang harus terjadi. Aktor pengkhianat harus ada agar jalannya cerita sesuai dengan skenario. Semua terserah kepada Tuhan, yang empunya langit dan bumi dan segala isinya ini. Yang jelas perbuatan menjadi pengkhianat itu bukanlah hal yang baik. Dengan alasan apapun, pengkhianat selalu dikutuk dan dikecam oleh banyak orang. Lebih baik jika dia tidak dilahirkan dari pada menjadi manusia pengkhianat dan akhirnya celaka. Jangan-jangan secara tidak sadar kitapun pernah atau bahkan sering menjadi pengkhianat di dalam kelompok kita. Kita merasa tidak puas namun segan untuk bercerita di dalam kelompok. Yang kita lakukan malahan berbicara di luar kelompok kita atau menggerutu di belakang. Secara tidak sadar kita malah curhat ke pihak lain yang kita anggap mau mendengarkan. Yang tadinya tertutup malahan sekarang menjadi terbuka, yang belum tentu menjadi lebih baik.

Penetapan Perjamuan Kudus

14:22 Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Ambillah, inilah

tubuh-Ku."

14:23 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu. 14:24 Dan Ia berkata kepada mereka: "Inilah darah-Ku,

darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. 14:25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah." 14:26 Sesudah mereka

menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun.

Inilah cikal bakal Pejamuan Kudus yang kita alami sampai saat ini dan selama-lamanya. Kita sudah biasa memakan Tubuh-Nya sewaktu kita mengikuti Misa Kudus. Penulispun merasa rindu untuk mencicipi Darah-Nya yang selama ini dinikmati para imam. Namun bila mencoba merenungkan bahwa Darah-Nya adalah darah perjanjian, rasanya yang pantas minum ya hanya para imam. Penulis membayangkan suatu perjanjian darah yang seharusnya disepakati oleh kedua belah pihak. Tuhan Yesus menumpahkan Darah-Nya bagi banyak orang, sedangkan apa yang telah penulis lakukan? Melakukan perbuatan baik dan benar dengan penuh sportif dan konsekuen saja belum bisa. Hal ini hampir sama artinya bahwa belum bisa memegang perjanjian. Apalagi harus siap dan bersedia berdarah-darah karena menjadi murid-Nya. Mungkin yang disebut pantas dan layak minum Darah-Nya, sewaktu melaksanakan sakramen baptis dan sakramen pernikahan. Disitu ada janji yang kita ikrarkan, yang sudah semestinya dan seharusnya kita taati. Kesetiaan dari janji yang sudah kita ucapkan saja masih belum bisa kita laksanakan, apalagi perjanjian darah.

Kemudian penulis mulai bingung untuk memahami ucapan-Nya yang terakhir. Dia tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai saatnya dalam Kerajaan Allah. Pikiran penulis sendiri merenung bahwa Dialah Sang pokok anggur dan kita menjadi cabang dan ranting-rantingnya. Tidak ada pohon anggur yang memakan atau meminum buahnya sendiri. Buah-buahnya malah diberikan kepada semua orang yang mau menikmatinya. Buahnya menjadi berkat bagi banyak orang. Jika tidak ada yang memetiknya maka masih ada binatang yang mau

menikmatinya. Jika tidak ada sama sekali maka buah itu akan jatuh, menyatu dengan tanah menjadi pupuk. Berkat tersebut kembali kepada sang pokok anggur. Ada sesuatu yang misteri di dalam Kerajaan Allah dimana ada anggur baru yang bisa dinikmati bersama-sama.

Petrus akan menyangkal Yesus

14:27 Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Kamu semua akan tergoncang imanmu. Sebab ada

tertulis: Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai. 14:28 Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea." 14:29 Kata Petrus

kepada-Nya: "Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak." 14:30 Lalu kata Yesus kepadanya:

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali."

14:31 Tetapi dengan lebih bersungguh-sungguh Petrus berkata: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua yang lainpun berkata demikian juga.

Sewaktu mereka berangkat ke Bukit Zaitun, sepertinya Yudas Iskariot dengan alasan tertentu meninggalkan rombongan tersebut. Yang harus terjadi terjadilah dan Tuhan Yesus membiarkannya untuk pergi. Saat dalam perjalanan itulah Tuhan Yesus memberitahu secara samar-samar. Iman para murid akan tergoncang, perasaan ketakutan dan menyebabkan lari menyelamatkan diri. Tuhan Yesus sudah memberitahu bahwa setelah bangkit dari kematian, Dia akan mendahului ke Galilea.

Dengan spontan dan mungkin juga dengan agak sombong, Petrus merasa yakin bahwa ia tidak akan goncang. Entah dengan pandangan serius atau malahan sedikit tersenyum, Tuhan Yesus mengingatkan bahwa ia akan menyangkal pada malam itu juga. Mungkin karena belum bisa membayangkan apa yang akan terjadi, semua murid sepertinya sepakat bahwa mereka akan tabah dan tegar. Ungkapan Tuhan Yesus untuk sesuatu yang belum terjadi masih membuat bingung untuk dipahami secara jelas. Sebagai manusia biasa dan masih berkumpul dengan Sang Guru, yang penting pada saat itu tidak perlu takut. Selama masih bersama-sama, segala pencobaan, gangguan, bencanapasti bisa diselesaikan oleh Sang Guru.

Dalam kehidupan sehari-hari kitapun sama seperti para murid pada waktu itu. Selama masih di dalam kelompok sendiri kita masih bisa bersuara lantang, seakan-akan dalam situasi apapun kita akan tetap tegar. Namun begitu dihadapkan pada situasi yang cukup ekstrim dalam kesendirian, nyali yang tadinya berkobar, tiba-tiba kehabisan minyak dan meredup. Untuk sesaat lupa kepada Tuhan dan otak kita berputar sendiri mencari jalan keluar. Rasanya sangat sulit untuk berpasrah kepada Roh Kudus, biarlah Dia yang menuntun kita.

.

Di taman Getsemani

14:32. Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini,

sementara Aku berdoa." 14:33 Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes

serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar, 14:34 lalu kata-Nya kepada mereka:

"Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah."

Penulis mencoba membayangkan ketika rombongan tersebut berjalan di gelap malam. Begitu sampai di taman Getsemani, para murid disuruh berhenti istirahat dan menunggu dahulu karena Dia akan berdoa. Kemudian Dia memanggil Petrus, Yakobus dan Yohanes untuk ikut bersamanya. Ketiga murid tersebut langsung berdiri, berjalan mengikuti dari belakang.

Setelah sampai di suatu tempat yang dirasa cocok, mungkin banyak pembicaraan atau pesan yang disampaikan. Kemudian Dia mengungkapkan kemanusiaan-Nya, bahwa Dia betul-betul manusia sejati. Manusia yang mempunyai perasaan takut dan ngeri apabila membayangkan penganiayaan yang akan terjadi. Peran sebagai manusia sejati tetap dipegang teguh, seperti

layaknya manusia. Penganiayaan, penderitaan yang hebat tak terbayangkan tinggal menunggu waktu. Rasanya lebih baik mati segera dari pada mengalami penderitaan yang mengerikan. Perasaan sedih mengapa masih banyak orang yang tetap tegar tengkuk dan tidak bisa percaya, walaupun telah mendengar dan melihat segala macam mukjizat yang mengherankan.

Kemudian ketiga murid disuruhnya untuk berjaga-jaga, bukan untuk tidur. Menjaga Sang Guru yang akan berdoa sendiri kepada Allah Bapa. Berjaga yang semestinya harus bisa mengalahkan segala macam hambatan ataupun pencobaan. Bertahan dengan suatu usaha melawan rasa kantuk. Bukan memanjakan diri karena buaian malam yang membuat terlena. Mungkin kita bisa memaklumi bahwa dari perjalanan dan berkarya seharian, kemudian dilanjutkan dengan perjamuan malam yang tidak seperti hari-hari biasa. Hari-hari sebelumnya diisi dengan pengajaran rohani yang mungkin sampai larut malam. Kelelahan dan