BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Medis
1. Persalinan a. Pengertian
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir (Sofian, 2012). Persalinan dikatakan normal apabila bayi lahir spontan pada usia kehamilan cukup bulan (37- 42 minggu) dengan presentasi belakang kepala, berlangsung tidak lebih dari 18 jam dan tidak ada komplikasi pada ibu maupun janin (Kemenkes, 2013).
b. Tanda dan Gejala Menjelang Persalinan
Tanda dan gejala menjelang persalinan menurut Varney (2007) antara lain :
1) Lightening yaitu terjadi penurunan bagian terbawah janin ke dalam panggul.
2) Perubahan serviks yaitu konsistensi menjadi seperti pudding, dan mengalami sedikit penipisan (effacement) dan kemungkinan sedikit pembukaan.
3) Persalinan Palsu timbul akibat kontraksi braxton hicks yang tidak nyeri, dapat terjadi beberapa hari bahkan 3-4 minggu sebelum terjadi persalinan sebenarnya.
4) Ketuban Pecah Dini yaitu ketuban pecah sebelum proses persalinan dimulai.
5) Pengeluaran lendir bercampur darah yang disekresi oleh kelenjar lendir servik.
6) Lonjakan energi sebelum persalinan pada ibu. c. Mekanisme Persalinan
Menurut Norwitz (2007), kemampuan penyesuaian janin dengan rongga panggul bergantung pada tiga variabel, yaitu:
1) Power (kontraksi, mengejan): kekuatan ibu mengejan dan kontraksi uterus yang baik apabila kontraksi 3-5 kali dalam 10 menit.
2) Passenger (janin): dua variabel yang mempengaruhi yaitu sikap (derajat fleksi atau ekstensi kepala) serta ukuran janin. Letak, presentasi, posisi dan stase janin dapat ditentukan pada pemeriksaan klinis. Berat janin dapat diperkirakan secara klinis atau dengan Ultra Sono Grafi (USG).
3) Passage (jalan lahir): bentuk panggul yang telah diklasifikasikan normal yaitu bentuk panggul ginekoid.
d. Tahap-tahap Persalinan
Menurut Winknjosastro (2010), persalinan dibagi menjadi 4 kala, yaitu: 1) Kala I
Kala satu persalinan dinamakan kala pembukaan, serviks membuka sampai terjadi pembukaan lengkap 10 cm, dimulai bila timbul his dan keluar lendir bersemu darah. Kala I selesai apabila pembukaan servik uteri telah lengkap. Pada primigravida berlangsung kira-kira 13 jam, sedangkan pada multipara kira-kira 7 jam.
2) Kala II
Kala dua persalinan adalah kala pengeluaran janin, dengan kekuatan his ditambah kekuatan ibu mengedan sehingga janin didorong keluar sampai lahir. Pada primigravida kala II berlangsung rat-rata 1,5jam dan pada multigravida 0,5 jam.
Kala tiga persalinan adalah kala dimana plasenta terlepas dari uterus dan dilahirkan. Biasanya plasenta lepas 6-15 menit setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri.
4) Kala IV
Kala empat persalinan adalah kala pengawasan selama 1 jam setelah lahirnya plasenta untuk mengamati keadaan ibu, terutama terhadap bahaya perdarahan post partum.
Pada kala ini perlu dilakukan pemantauan perdarahan dan observasi secara cermat pada tekanan darah, nadi, suhu, kontraksi otot rahim, kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan tiap 30 menit pada 1 jam kedua (Cunningham, 2012).
e. Jenis Persalinan
Jenis-jenis persalinan menurut Sofian (2012) dinilai dari cara persalinan, yaitu:
1) Partus biasa (normal / spontan) adalah proses lahirnya bayi dengan presentasi belakang kepala dengan tenaga ibu sendiri tanpa bantuan alat-alat, tidak melukai ibu dan bayi, dan umumnya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam.
2) Persalinan luar biasa (abnormal) adalah persalinan pervaginam dengan bantuan alat-alat atau melalui dinding perut dengan operasi sectio sesarea.
2. Preeklamsia a. Pengertian
1) Preeklamsia adalah kondisi yang etiologinya tidak diketahui, yang terjadi terutama pada primigravida dan muncul pada paruh kedua kehamilan. Pasien dapat dianggap menderita preeklamsia jika :
a) Memiliki tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih besar pada paruh kedua kehamilan padahal tekanan darah sebelumnya normal.
b) Menunjukkan kenaikan tekanan darah diastolik sebesar 25 mmHg di atas tekanan darah diastolik saat tidak hamil atau pada paruh pertama kehamilan (Hanretty, 2014).
2) Preeklamsia merupakan kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari trias preeklamsi (hipertensi, protein urin edema) (Sofian, 2011).
b. Klasifikasi
Tabel 2.1. Deferensial Diagnosis Preeklamsia Ringan dan Berat No Temuan Preeklamsia Ringan Preeklamsia Berat 1 . tekanan darah
diastolik
<100 mmHg 110 mmHg atau lebuh
2. Proteinuria Samar (trace) sampai + (gr/liter)
++ persisten atau lebih ( gr/liter )
3. Nyeri kepala tidak ada Ada
4. Gangguan visus tidak ada Ada
5. Nyeri abdomen
atas tidak ada Ada
6. Oliguria
(urine<500 cc/ 24jam)
tidak ada Ada
7. Kejang tidak ada ada (eklamsia)
8. Kreatinin serum Normal menigkat
9. Trombositopenia tidak ada Ada
10. Peningkatan
11. Hambatan pertumbuhan janin
tidak ada Jelas
12. Edema paru Tidak ada Ada
Sumber: Leveno (2009)
3. Preeklamsia Berat a. Pengertian
Preeklamsia berat merupakan sindrom spesifik kehamilan berupa berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivitas endotel, yang ditandai dengan tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih, terdapat protein urin lebih dari 3 gr/liter dan terdapat edema (EMS, 2012).
b. Etiologi
Menurut Cunningham (2013) sejumlah besar mekanisme telah diajukan untuk menjelaskan penyebab preeklamsia, kemungkinan meliputi sejumlah faktor pada ibu, plasenta dan janin. Faktor-faktor yang dianggap penting mencakup:
1) Implantasi plasenta disertai invasi trofoblastik abnormal pada pembuluh darah uterus.
2) Toleransi imunologis yang bersifat maladaptif di antara jaringan maternal, plasental dan fetal.
3) Maladaptasi maternal terhadap perubahan kardiovaskuler atau inflamatorik yang terjadi pada kehamilan normal.
4) Faktor-faktor genetik,termasuk gen predisposisi yang diwariskan serta pengaruh epigenetik.
Manuaba (2012) menjelaskan bahwa terjadinya preeklamsia atau eklamsia dapat terjadi akibat kegagalan migrasi endotelial trofoblas interstitial sel dan endothelial trofoblas ke dalam arterioli miometrium. Hal ini bila ditambah dengan adanya penyakit maternal berupa hipertensi, penyakit kardiovaskuler dan penyakit ginjal, keadaan imunologis akibat kebutuhan darah nutrisi dan O2 tidak terpenuhi
setelah usia kehamilan 20 mg, dan faktor trofoblas berlebihan seperti hamil ganda dan mola hidatidosa yang dapat meningkatkan terjadinya iskemia region uteroplasenter. Keadaan ini menyebabkan terjadinya aktifitas endometrium meningkat dan bersamaan juga dengan meningkatnya aktivitas endotelium.
Kondisi ini dapat menyebabkan hipertensi dan permaebilitas kapiler meningkat yang mengakibatkan terjadinya iskemia organ vital, edema dan nekrosis serta pendarahan. Selain itu juga dapat timbul gangguan fungsi khusus pada darah yaitu hemokonsentrasi dan hipovolumia yang berujung pada preeklamsia/ eklamsia.
Kegagalan migrasi trofoblas intersititia sel dan endothelial trofoblas ke dalam arterioli miometrium
Faktor imunologis
Penyakit maternal Faktor trofoblas
Iskemia region uteroplasenter
Hipertensi Aktivitas endothelium meningkat
Permeabilitas kapiler meningkat
Iskemia organ vital edema, nekrosis, perdarahan
Gambar 2.1 Pathway Patofisiologi Preeklamsia
d. Faktor Predisposisi
1) Primigravida dengan usia dibawah 20 tahun dan di atas 35 tahun memiliki insidensi hipertensi dua kali lipat.
2) Satus sosial ekonomi : preeklamsia dan eklamsia lebih umum di temui di kelompok sosial ekonomi rendah.
3) Predisposisi genetik : bukti adanya pewarisan secara genetik paling mungkin di sebabkan oleh faktor resesif.
4) Komplikasi obstetrik: penyakit trofoblastik (kasus molahidatidosa), kehamilan kembar dan hidrop fetalis.
5) Kondisi medis yang sudah ada sebelumnya: diabetes melitus, hipertensi kronis, penyakit ginjal, sistemik lupus erythematosus, sindrom antifosfolipid antibodi.
e. Faktor risiko
Faktor risiko preeklamsia yaitu umur ibu lebih dari 40 tahun, primigravida atau >10 tahun sejak kelahiran terakhir, kehamilan pertama dengan pasangan baru, hamil kembar, fertilisasi in vitro, diabetes melitus, hipertensi kronis, penyakit ginjal kronis, riwayat preeklamsia dalam keluarga dan adanya protein urin saat mendaftar untuk pemeriksaan (>1+ pada lebih dari satu pemeriksaan atau 0,3> g/ 24 jam) (Bothamley, 2011).
f. Tanda dan Gejala
Menurut Benson (2008) beberapa tanda dan gejala preeklamsia berat, yaitu:
1) Gejala yang dirasakan pasien adalah sakit kepala menyeluruh, berat dan menetap, gangguan visual (pandangan kabur), malaise, nyeri epigastrik, nyeri tekan hati, mual dan iritabilitas saraf .
a)Terjadi hipertensi : peningkatan tekanan darah sistolik ≥160 mmHg atau diastolik ≥110mmHg pada saat tirah baring dan pengukuran selang 6 jam.
b) Edema generalis
Edema adalah tanda yang paling tidak tepat karena edema dependen normal terjadi pada kehamilan, namun kriteria berikut dapat mempermudah diagnosis:
(1) Penumpukan cairan dalam jaringan secara generalisita yaitu pitting edema >1 setelah tirah baring 1 jam.
(2) Penambahan berat badan ≥ 2 pon/ minggu karena pengaruh kehamilan.
(3) Edema non dependen pada tangan dan muka yang timbul pada saat bangun pagi.
c) Proteinuria ≥5 gram/24 jam atau dipstick ≥+4 tanpa penyakit vascular atau renal dengan urinanalisa pada aliran tengah atau kateter secara acak.
3) Temuan laboratorium (Nugroho, 2012), berupa : a) Proteinuria ≥5 gram/24 jam atau dipstick ≥+4 b) Oliguria: produksi urin <400-500ml/24 jam)
c) Gangguan fungsi hepar: peningkatan SGOT dan SGPT d) Trombositopenia (<100.000 trombosit/ )
g. Prognosis
Bila penderita tidak terlambat dalam pemberian pengobatan, maka gejala perbaikan akan tampak jelas setelah kehamilannya diakhiri. Segera setelah persalinan berakhir, perubahan patofisiologik akan segera pula mengalami perbaikan. Diuresis terjadi 12 jam kemudian. Keadaan ini merupakan tanda prognosis yang baik karena
hal ini merupakan gejala pertama penyembuhan. Tekanan darah kembali normal dalam beberapa jam kemudian (Prawirihardjo, 2009).
h. Komplikasi
Terdapat beragam komplikasi dalam pertolongan persalinan pada preeklamsia yaitu preeklamsia bertambah berat menuju eklamsi, dekompensasi kordis, perdarahan pascapartum dan acute vascular accident (Manuaba, 2007).
i. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan preeklamsia berat yaitu:
1) Penatalaksanaan umum ( Prawirohardjo, 2009) : a)Pasien tirah baring miring ke kiri
b)Monitoring masukan (melalui infus) dan keluaran (melalui urin). Cairan yang diberikan dapat berupa 5% Ringer-Dekstrose cairan garam faali jumlah tetesan <125 cc/jam atau infuse dektrose 5% yang tiap satu liternya diselingi infuse RL 60-120 cc/jam. Pasang folley kateter untuk mengukur pengeluaran urin. Oligouria terjadi jika urin<30 cc/jam dalam 2-3 jam atau <500 cc per 24 jam. c) Diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam. d)Pantau kemungkinan oedema paru.
e) Jangan tinggalkan pasien sendirian, kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin.
a) Pemberian obat anti kejang (Cunningham, 2013).
(1) Infus intravena kontinu
Magnesium Sulfat (MgSO4) merupakan obat untuk
menghilangkan dan mencegah agar tidak terjadi kejang berulang . Pemberian dosis awal: MgSO4 4-6 gr intra vena diencerkan dalam
100 ml cairan IV dan diberikan selama 10-15 menit. Mulai infus rumatan 2gr/jam dalam 100 ml cairan IV. Pantau toksisitas magnesium (periksa tendon, mengukur kadar magnesium serum pada jam keempat hingga keenam menyesuaikan kecepatan infus untuk mempertahankan kadar magnesium 4 dan 7 meq/L.
(2) Injeksi Intramuscular intermitten
Berikan 4 mg MgSO4 sebagai larutan 20%secara IV dengan
kecepatan tidak melebihi 1 menit, lanjutkan dengan 10 gr Magnesium 50 % , separuhnya disuntikkan dibokong kanan dan sisanya dibokong kiri secara IM menggunakan jarum ukuran 20 sepanjang 3 inci( penambahan 1 ml Lidokain 2 % meminimalkan rasa nyeri). Setelah itu tiap 4 jam, berikan 5 g magnesium sulfat 50 % yang disuntikkan dibokong kanan dan kiri secara bergantian, dilakukan setelah memastikan reflek patella positif, respirasi tidak tertekan dan keluaran urin dalam 4 jam melebihi 100 ml. Magnesium sulfat dihentikan 24 jam pascapersalinan. b) Pemberian antihipertensi
Obat anti hipertensi dapat dipilih antara lain (Tanto, 2014) : (1) Metildopa 500-2000 mg dibagi dalam 2-4 dosis sehari (2) Labetalol dosis awal 2x100 mg
(3) Nifedipine dengan dosis 30 mg sehari. Nifedipin harus hati-hati digunakan pada pasien yang mendapat MgSO4, karena berpotensi memperkuat blockade kanal kalsium pada otot . Nifedipin tidak boleh diberikan secara sublingual.
f) Diuretikum tidak diberikan secara rutin, kecuali terjadi edema paru payah jantung kongestif atau anasarka (Prawirohardjo, 2009). g)Antasida untuk menetralisir asam lambung sehingga bila mendadak kejang, dapat menghindari risiko aspirasi asam lambung (Prawirohardjo, 2009).
h)Pemberian valium dengan dosis inisial sebanyak 30-40 mg IV. Interval 3-4 jam kembali diberikan sekitar 20-30 gr IV. Total dosisnya 120 mg dalam 24 jam (Manuaba, 2007).
3) Penatalaksanaan untuk pertimbangan persalinan
Jika pasien sedang dalam proses persalinan dan terdapat kemajuan yang memadai ditinjau dari partograf dan tidak terdapat komplikasi janin atau ibu, lanjutkan percobaan persalinan pervaginam dengan pemantauan janin/ ibu yang ketat (Edwin, 2013).
Pengobatan aktif dilakukan dengan pertimbangan klinis yaitu pemecahan ketuban apabila pasien dalam proses persalinan, induksi apabila servik telah matang atau skor bishop di atas 6 dan dilakukan
seksio sesaria apabila terdapat indikasi obstetric sejak awal (Edwin, 2013).
Pengobatan konservatif dilakukan dengan pemasangan kateter, pemberian obat-obatan, observasi, pemantauan reaksi pengobatan dan konsultasi hasil laboratorium dengan dokter ahli (Manuaba, 2007).
Preeklamsia Berat Konservatif: 1. Isolasi: a.Pasang kateter 2. Obat-obatannya: a.Infus 5-10% glukosa b. Valium 120 mg/24 jam c.Antikonvulsan MgSO4 IV-IM d. Antihipertensi 3. Observasi: a.TTV (TD, N, R,S) b. DJJ c.Konvulsi-koma d. Reflek patella e.Kriteria eden f. Sindrom HELLP 4.Reaksi pengobatan a. Reaksi membaik b. Diuresis meningkat dalam 24 jam 5.Konsultasi laboratorium a.Penyakit dalam b. Penyakit mata c.Kardiovaskular d. Penyakit anak e.Anatesia Pengobatan Aktif: Pertimbangan klinis: Terminasi Kehamilan Pecahkan ketuban Induksi Seksio sesarea
Gambar 2.2 Penatalaksanaan Preeklamsia Berat (Manuaba, 2007), (Edwin,2013)
B. Teori Manajemen Kebidanan
Proses manajemen yang dipakai oleh bidan mengacu pada 7 langkah Varney yang terdiri dari:
1. Langkah I: Tahap Pengumpulan/ Penyajian Data Dasar Secara Lengkap
a. Data Subjektif
Data subjektif dapat diketahui dari anamnesa mengenai: 1) Biodata
Ibu hamil yang berusia dalam kategori resiko tinggi (<20 atau >35 tahun) mempunyai kecenderungan untuk menderita preeklamsia (Denantika, 2015). Selain itu preeklamsia lebih umum ditemui pada kelompok sosial ekonomi rendah (Edwin, 2013).
Keluhan pada preeklamsia berat seperti sakit kepala menyeluruh, berat dan menetap, pandangan kabur, malaise, nyeri epigastrik, mual dan iritabilitas saraf (Benson, 2008).
3) Riwayat Menstruasi
Usia kehamilan pada kasus preeklamsia berat diperlukan untuk menentukan indikasi terminasi kehamilan, sehingga pada riwayat menstruasi ini akan dikaji mengenai Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) untuk menentukan Hari Perkiraan Lahir (HPL) untuk mengetahui usia kehamilan ibu saat terjadi preeklamsia berat (Manuaba, 2007).
4) Riwayat kesehatan
Riwayat hipertensi, penyakit ginjal, diabetes mellitus, kehamilan ganda, dan kehamilan mola adalah kelompok yang beresiko mengalami preeklamsia berat (Hanretty, 2010).
5) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Jumlah, cara dan hasil akhir persalinan sebelumnya untuk mengetahui peningkatan tekanan darah, pengobatan antihipertensi dan komplikasi yang terkait dengan preeklamsia pada kehamilan sebelumnya (Edwin, 2013).
6) Riwayat kehamilan sekarang
Pada kasus preeklamsia berat perlu ditanyakan mengenai pemeriksaan kehamilan ibu saat ini karena kejadian preeklamsia banyak terjadi pada pasien yang melakukan pemeriksaan kehamilan kurang dari 4 kali (Djannah, 2010). Selain itu pengawasan yang
kurang pada masa antenatal menyebabkan pasien terlambat mendapat penanganan (Sofian, 2013).
b. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan umum dilakukan untuk mengetahui keadaan umum dan kesadaran. Juga dilakukan pemeriksaan fisik yang meliputi: tanda-tanda vital berupa tekanan darah, suhu, respirasi dan nadi (Robson, 2011).
a) Pemeriksaan Sistematis
1)Pemeriksaan fisik terdapat oedema pada kedua kaki ataupun wajah (Tanto, 2014).
2)Pemeriksaan reflek patella dengan mengetuk hammer patella pada kaki. Reflek patella positif sebagai syarat pemberian MgSO4
(Cunnigham, 2012). Pemberian MgSO4 pada pasien dengan reflek
patella negatif dapat menyebabkan terjadi depresi system saraf pusat ibu maupun janin (Edwin, 2013).
2. Pemeriksaan Khusus Obstetri a)Palpasi abdomen
Palpasi abdomen menggunakan manuver Leopold I-IV:
1) Leopold I untuk menentukan tinggi fundus uteri dan bagian janin yang terletak di fundus uteri.
2) Leopold II untuk menentukan bagian janin pada sisi kiri dan kanan ibu.
3) Leopold III untuk menentukan bagian janin yang terletak di bagian bawah uterus.
4) Leopold IV untuk menentukan berapa jauh masuknya janin ke pintu atas panggul (Kemenkes, 2013).
Dalam kasus preeklamsia berat, palpasi abdomen digunakan untuk mengetahui letak janin sehingga dapat di gunakan untuk monitoring denyut jantung janin menggunakan doppler (Prawirohardjo, 2009).
b)Pemeriksaan dalam atau vaginal toucher (VT)
Kemajuan persalinan dapat di pantau dengan pemeriksaan dalam untuk menentukan pembukaan. Pada kala I fase laten pembukaan serviks terjadi sangat lambat sampai mencapai ukuran diameter 3 cm selama 8 jam dan pada fase aktif terdapat 2 fase yaitu fase akselerasi (dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm) dan fase dilatasi maksimal (dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm) (Varney, 2007). B. Data Penunjang
Dalam kasus preeklamsia di lakukan kolaborasi dengan petugas laboratorium untuk mengetahui adanya proteinurin kadar asam urat plasma pemeriksaan jumlah trombosit dan kadar enzim hati. Penilaiaan pertumbuhan, kesejahteraan dan perkiraan berat janin menggunakan pemeriksaan USG (Hanretty, 2014).
2. Langkah II: Interpretasi Data Dasar a. Diagnosis Kebidanan
Ny. E, umur 29 tahun, G2P1A0, umur kehamilan 38+4 minggu, janin
tunggal hidup intrauterine, letak memanjang, presentasi kepala, punggung kiri, penurunan kepala 4/5 bagian, inpartu kala I fase laten dengan preeklamsia berat.
Dasar dari diagnosis: 1) Dasar subjektif
Penyataan tentang keadaan pasien yaitu pada kasus bersalin dengan preeklampsia, ibu mengeluh tanda dan gejala menjelang persalinan seperti: ketuban pecah, keluarnya lendir bercampur darah dari jalan lahir (Varney, 2007). Disertai keluhan yang mengarah pada preeklamsia berat seperti sakit kepala menyeluruh, berat dan menetap, pandangan kabur, malaise, nyeri epigastrik, mual dan iritabilitas saraf (Benson, 2008).
2) Data Obyektif
Dari hasil pemeriksaan teraba kontraksi uterus dan terjadi penipisan serta pembukaan pada servik (Varney, 2007). Tekanan darah sistolik > 160 mmHg, tekanan darah diastolic > 110 mmHg, oliguria < 400 ml/24 jam dan terdapat proteinuria > 3gr/liter (Rukiyah, 2010).
b. Masalah
Masalah yang mungkin timbul pada ibu bersalin dengan preeklamsia berat adalah kekhawatiran ibu mengenai kondisinya (Norma, 2013)
c. Kebutuhan
Dukungan moril kepada pasien agar rasa khawatirnya berkurang dan memberikan penjelasan dan informasi mengenai kondisi ibu (Bothamley, 2012).
3. Langkah III: Identifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial/ Diagnosa Potensial dan Antisipasi Penanganan.
Diagnosis potensial yang mungkin terjadi pada kasus preeklamsia berat adalah
a. Eklamsi (kejang)
b. Diagnosa potensial pada janin yaitu terjadi gawat janin (Norma, 2013) Antisipasi yang dilakukan bidan yaitu observasi tekanan darah, kesejahteraan janin berupa denyut jantung janin dan gerakan janin serta pemantauan keseimbangan cairan (Fraser, 2009).
4. Langkah IV: Kebutuhan terhadap Tindakan Segera.
Tindakan segera yang dibutuhkan adalah membutuhkan konsultasi dan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antikonvulsan untuk mencegah terjadinya kejang, antihipertensi untuk menurunkan tekanan darah, dan penatalaksanaan persalinan. Serta kolaborasi dengan pihak laboratorium untuk pemeriksaan protein urin dan darah (Varney, 2007). 5. Langkah V: Perencanaan Asuhan Secara Menyeluruh
Perencanaan asuhan kebidanan yang perlu dilakukan pada pasien dengan preeklamsia berat adalah:
a. Penjelasan perkembangan persalinan dan hasil pemeriksaan kepada pasien dan keluarga (Marmi, 2012).
b. Melakukan pemantauan keadaan umum, nadi, kontraksi, dan DJJ tiap 30 menit. Tekanan darah, suhu, dan kemajuan persalinan tiap 4 jam selama persalinan berlangsung (Saifuddin, 2006)
c. Membimbing ibu untuk rileks sewaktu ada his (Marmi, 2012). d. Tirah baring miring kiri (Prawirohardjo, 2009).
e. Memotivasi ibu untuk tidak meneran sebelum pembukaan lengkap karena meneran sebelum pembukaan lengkap dapat mengakibatkan edema hingga robekan serviks (Saifuddin, 2006).
f. Pemantauan kesejahteraan janin beupa djj dan gerakan janin (Frasher, 2009). Pemantauan dilakukan setiap 15 menit pada kala I dan 5 menit pada kala II (Varney, 2007).
g. Penilaian keseimbangan cairan berupa input dan output cairan menggunakan folley kateter (Frasher, 2009).
h. Persingkat kala II dengan ekstraksi vakum agar tidak terjadi hipoksia (Kusumawati, 2006).
6. Langkah VI: Pelaksanaan Asuhan dengan Efisien dan Aman
Pada kasus ini bidan melakukan asuhan secara menyeluruh yang telah direncanakan pada langkah kelima dengan berkolaborasi dengan dokter dan tim medis lainnya.
7. Langkah VII: Evaluasi
Evaluasi yang diharapkan dari pelaksanaan asuhan kebidanan ibu bersalin dengan preeklamsia berat adalah tidak terjadi kejang dan melahirkan bayi sehat (Prawirohardjo, 2009). Tekanan darah menurun dan produksi urin makin meningkat (Manuaba, 2007).
C. Follow Up Catatan Perkembangan Kondisi Klien
Tujuh langkah Varney dapat disarikan menjadi 4 langkah yaitu Subjektif, Objektif, Assesment dan Plan (SOAP). Disarikan dari proses pemikiran penatalaksanaan kebidanan dipakai untuk mendokumentasikan asuhan pasien dalam rekam medis pasien sebagai catatan kemajuan atau
perkembangan keadaan pasien. KepMenKes RI No: 938/MenKes/SK/VII/2007 menjelaskan sebagai berikut:
S = Subjektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa sebagai langkah 1 Varney. Anamnesa yang perlu dikaji ulang dalam perkembangan pasien adalah mengenai reaksi pengobatan apakah pasien masih mengalami keluhan seperti sebelumnya atau tidak (Manuaba, 2007). Dan menanyakan apakah pasien mempunyai keinginan meneran atau belum (Saifudin, 2009).
O = Objektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan tes diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung asuhan sebagai langkah I Varney berupa tekanan darah, keseimbangan cairan, pemeriksaan laboratorium dan hasil pemantauan respirasi, nadi serta reflek patella yang berkaitan dengan pemberian MgSO4 (Robson, 2011). Selain itu dikaji apakah pasien sudah memasuki tahap persalinan selanjutnya dengan memastikan tanda persalinan kala II berupa tekanan anus, perineum menonjol dan vulva vagina membuka (Saifudin, 2009).
A = Assesment
Menggambambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi dan masalah kebidanan serta kebutuhan sebagai langkah II Varney.
Mencatat seluruh perencanaan dan penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan antisipatif, tindakan segera, tindakan secara komprehensif, penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi atau follow up dari rujukan sebagai langkah III, IV, V, VI, dan VII Varney.
Jika terjadi gawat janin dan persalinan tidak terjadi dalam 24 jam maka dilakukan seksio Caesar dengan memastikan tidak terjadi koagulopati dan tersedia anastesi yang aman. Jika tidak tersedia maka diberikan induksi oksitosin 2-5 IU dalam 500 ml dektrose 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin (Saifudin, 2006).
Pada saat kala III, pemberian methergin postpartum tidak dianjurkan, kecuali bila terjadi perdarahan yang disebabkan oleh atonia uteri (Rukiyah, 2010).