• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proposal Penjualan Pupuk Kel. Tani

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Proposal Penjualan Pupuk Kel. Tani"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

OMSET PENJUALAN PUPUK DITINJAU DARI MODAL DAN OMSET PENJUALAN PUPUK DITINJAU DARI MODAL DAN PEMBERIAN KREDIT PADA KELOMPOK TANI DESA GILIREJO PEMBERIAN KREDIT PADA KELOMPOK TANI DESA GILIREJO

KECAMATAN WONOSEGORO KABUPATEN BOYOLALI KECAMATAN WONOSEGORO KABUPATEN BOYOLALI

A.

A. LaLatatar Br Belelakakanang Mg Masasalalahah

Pembangunan sering kali di artikan pada pertumbuhan dan perubahan. Pembangunan sering kali di artikan pada pertumbuhan dan perubahan. Jadi, pembangunan pertanian dapat di artikan jika terjadi pertumbuhan dalam Jadi, pembangunan pertanian dapat di artikan jika terjadi pertumbuhan dalam sektor pertanian yang tinggi dan sekaligus terjadi perubahan dalam sektor pertanian yang tinggi dan sekaligus terjadi perubahan dalam masyarakat yang pada umumnya adalah petani yang kurang baik menjadi masyarakat yang pada umumnya adalah petani yang kurang baik menjadi lebih baik. Seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi masyarakat yang lebih baik. Seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi masyarakat yang pesat,

pesat, semakin semakin besar besar pula kepula kemungkinamungkinan kebutun kebutuhan mahan manusia ynusia yang tidak ang tidak  terbatas untuk bisa terpenuhi. Khususnya bagi masyarakat pedesaan yang terbatas untuk bisa terpenuhi. Khususnya bagi masyarakat pedesaan yang masih memiliki lahan pertanian dan tidak mempunyai keahlian lain ataupun masih memiliki lahan pertanian dan tidak mempunyai keahlian lain ataupun tingkat pendidikan yang rendah maka secara tidak langsung untuk mencukupi tingkat pendidikan yang rendah maka secara tidak langsung untuk mencukupi kebutuhannya dengan cara memanfaatkan lahan pertanian yang ada.

kebutuhannya dengan cara memanfaatkan lahan pertanian yang ada.

Pertanian pada mulanya merupakan suatu yang sederhana dan sangat Pertanian pada mulanya merupakan suatu yang sederhana dan sangat alami pada pembawaannya, melihat kenyataan tersebut tidak sedikit pula alami pada pembawaannya, melihat kenyataan tersebut tidak sedikit pula masyarakat yang menggantungkan hidupnya dalam sektor pertanian kurang masyarakat yang menggantungkan hidupnya dalam sektor pertanian kurang bisa memaksimalkan hasil panen mereka. Karena sebagian dari sekian banyak  bisa memaksimalkan hasil panen mereka. Karena sebagian dari sekian banyak  petani yang ada, sudah menggunakan berbagai macam kemajuan alat petani yang ada, sudah menggunakan berbagai macam kemajuan alat pertanian yang tentunya sangat mempengaruhi tingkat produktivitas hasil pertanian yang tentunya sangat mempengaruhi tingkat produktivitas hasil pertanian masih ada yang mengunakan alat-alat tradisional. Walaupun dengan pertanian masih ada yang mengunakan alat-alat tradisional. Walaupun dengan alat tradisional tersebut dapat menghemat biaya akan tetapi kurang bisa alat tradisional tersebut dapat menghemat biaya akan tetapi kurang bisa

(2)

memanfaatkan waktu dengan baik. Dengan melihat hal yang seperti itu maka memanfaatkan waktu dengan baik. Dengan melihat hal yang seperti itu maka kelo

kelompok tampok tani juga memni juga memberberikan keikan kemudamudahan baghan bagii petapetani dengni dengan caraan cara memberikan bantuan berupa alat-alat pertanian.

memberikan bantuan berupa alat-alat pertanian.

Kelompok tani itu sendiri secara tidak langsung dapat dipergunakan Kelompok tani itu sendiri secara tidak langsung dapat dipergunakan sebagai salah satu usahauntuk meningkatkan produktivitas usaha tani melalui sebagai salah satu usahauntuk meningkatkan produktivitas usaha tani melalui pengelola

pengelolaan usaha tani secaraan usaha tani secara bersamaabersamaan. Kelompok tani juga digunakann. Kelompok tani juga digunakan sebagai media belajar organisasi dan kerjasama antar petani. Dengan adanya sebagai media belajar organisasi dan kerjasama antar petani. Dengan adanya kelompok tani, para petani dapat bersama

kelompok tani, para petani dapat bersama –  – sama memecahkan permasalahansama memecahkan permasalahan yang antara lain berupa peme

yang antara lain berupa pemenuhan sarana produknuhan sarana produksisi pertanian, teknispertanian, teknis produksi dan pemasaran hasil. Kelompok tani sebagai wadah organisasi dan produksi dan pemasaran hasil. Kelompok tani sebagai wadah organisasi dan bekerja sama antar anggota mempunyai peranan yang sangat penting dalam bekerja sama antar anggota mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat tani, sebab segala kegiatan dan permasalahan dalam kehidupan masyarakat tani, sebab segala kegiatan dan permasalahan dalam berusa

berusaha tani dilakha tani dilaksanakan sanakan oleh kelooleh kelompok secmpok secaraara bersamaabersamaan.n. Melihat pMelihat potensiotensi tersebut, maka kelompok tani perlu dibina dan diberdayakan lebih lanjut agar tersebut, maka kelompok tani perlu dibina dan diberdayakan lebih lanjut agar dapat berkembang secara optimal. Pentingnya pembinaan petani dengan dapat berkembang secara optimal. Pentingnya pembinaan petani dengan pendeka

pendekatan kelomptan kelompok tani jugok tani juga dikemuka dikemukakan oleakan oleh Mosheh Mosher (199r (1994)4) bahwabahwa salah

salah satu satu syaratsyarat pelancarpelancar pembangupembangunan nan pertanian pertanian adalah adalah adanya adanya kegiatankegiatan petani ya

petani yang tergang tergabung dalabung dalamm kelompok kelompok tani. Disampintani. Disamping itu agag itu agar merekar mereka dapat bergerak secara metodis, berdayaguna, dan teroganisir. Suatu gerakan dapat bergerak secara metodis, berdayaguna, dan teroganisir. Suatu gerakan kelompok tani yang tidak ter

kelompok tani yang tidak teroganisir dan tidak mengoganisir dan tidak mengikuti kerjasamaikuti kerjasama menurutmenurut pola-pola yang maju, tidak akan memecahkan masalah-masalah yang pola-pola yang maju, tidak akan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi petani. Jika suatu kinerja yang dibentuk dapat berjalan sesuai dengan dihadapi petani. Jika suatu kinerja yang dibentuk dapat berjalan sesuai dengan

(3)

memanfaatkan waktu dengan baik. Dengan melihat hal yang seperti itu maka memanfaatkan waktu dengan baik. Dengan melihat hal yang seperti itu maka kelo

kelompok tampok tani juga memni juga memberberikan keikan kemudamudahan baghan bagii petapetani dengni dengan caraan cara memberikan bantuan berupa alat-alat pertanian.

memberikan bantuan berupa alat-alat pertanian.

Kelompok tani itu sendiri secara tidak langsung dapat dipergunakan Kelompok tani itu sendiri secara tidak langsung dapat dipergunakan sebagai salah satu usahauntuk meningkatkan produktivitas usaha tani melalui sebagai salah satu usahauntuk meningkatkan produktivitas usaha tani melalui pengelola

pengelolaan usaha tani secaraan usaha tani secara bersamaabersamaan. Kelompok tani juga digunakann. Kelompok tani juga digunakan sebagai media belajar organisasi dan kerjasama antar petani. Dengan adanya sebagai media belajar organisasi dan kerjasama antar petani. Dengan adanya kelompok tani, para petani dapat bersama

kelompok tani, para petani dapat bersama –  – sama memecahkan permasalahansama memecahkan permasalahan yang antara lain berupa peme

yang antara lain berupa pemenuhan sarana produknuhan sarana produksisi pertanian, teknispertanian, teknis produksi dan pemasaran hasil. Kelompok tani sebagai wadah organisasi dan produksi dan pemasaran hasil. Kelompok tani sebagai wadah organisasi dan bekerja sama antar anggota mempunyai peranan yang sangat penting dalam bekerja sama antar anggota mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat tani, sebab segala kegiatan dan permasalahan dalam kehidupan masyarakat tani, sebab segala kegiatan dan permasalahan dalam berusa

berusaha tani dilakha tani dilaksanakan sanakan oleh kelooleh kelompok secmpok secaraara bersamaabersamaan.n. Melihat pMelihat potensiotensi tersebut, maka kelompok tani perlu dibina dan diberdayakan lebih lanjut agar tersebut, maka kelompok tani perlu dibina dan diberdayakan lebih lanjut agar dapat berkembang secara optimal. Pentingnya pembinaan petani dengan dapat berkembang secara optimal. Pentingnya pembinaan petani dengan pendeka

pendekatan kelomptan kelompok tani jugok tani juga dikemuka dikemukakan oleakan oleh Mosheh Mosher (199r (1994)4) bahwabahwa salah

salah satu satu syaratsyarat pelancarpelancar pembangupembangunan nan pertanian pertanian adalah adalah adanya adanya kegiatankegiatan petani ya

petani yang tergang tergabung dalabung dalamm kelompok kelompok tani. Disampintani. Disamping itu agag itu agar merekar mereka dapat bergerak secara metodis, berdayaguna, dan teroganisir. Suatu gerakan dapat bergerak secara metodis, berdayaguna, dan teroganisir. Suatu gerakan kelompok tani yang tidak ter

kelompok tani yang tidak teroganisir dan tidak mengoganisir dan tidak mengikuti kerjasamaikuti kerjasama menurutmenurut pola-pola yang maju, tidak akan memecahkan masalah-masalah yang pola-pola yang maju, tidak akan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi petani. Jika suatu kinerja yang dibentuk dapat berjalan sesuai dengan dihadapi petani. Jika suatu kinerja yang dibentuk dapat berjalan sesuai dengan

(4)

apa yang telah direncanakan maka dalam proses penjualan barang atau jasa apa yang telah direncanakan maka dalam proses penjualan barang atau jasa tersebut bisa menda

tersebut bisa mendapatkan omsetpatkan omset yang memiliki potensi yang sangyang memiliki potensi yang sangat baik.at baik. Pada

Pada dasarnydasarnya omsea omset penjuat penjualan idelan identik dengntik dengan voluman volumee penjualanpenjualan.. Omset penjualan akan meningkat jika diiringi dengan kegiatan penjualan yang Omset penjualan akan meningkat jika diiringi dengan kegiatan penjualan yang efektif. Men

efektif. Menurut Sutamto (1997) penjuurut Sutamto (1997) penjualan merupakaalan merupakan usahan usaha yang dilakukyang dilakukanan manusia untuk menyampaikan barang dan jasa kebutuhan yang telah manusia untuk menyampaikan barang dan jasa kebutuhan yang telah dihasilkannya kepada mereka yang membutuhkan dengan imbalan uang dihasilkannya kepada mereka yang membutuhkan dengan imbalan uang menurut harga ya

menurut harga yang telah ditentukan sebelumng telah ditentukan sebelumnya.nya. Maka usaha yaMaka usaha yang dilakukanng dilakukan kelompok tani untuk mencapai omset penjualan yang lebih baik juga kelompok tani untuk mencapai omset penjualan yang lebih baik juga memerlukan strategi yang baik untuk dapat menarik minat petani.

memerlukan strategi yang baik untuk dapat menarik minat petani.

Dala

Dalamm mengmengupayupayakanakan penpeningkingkatan atan omseomset pet penjualnjualan an kelokelompok mpok tanitani setidakny

setidaknya lebih mampa lebih mampu mengupayu mengupayakan haakan hal-l- hal yanghal yang dapat mendapat mendorong ddorong dalamalam ke

kegiagiatantan-k-kegegiatiatan peran pertantanianian itu seitu sendindiri, seri, sehinhinggagga timtimbubulah kelah kesasadardaranan papadada masy

masyaraarakat yankat yang khusg khususnyusnya petana petani kecili kecil daladalam upaym upaya menia meningkangkatkantkan produktifitas pendapatan hasil tani mereka sehingga petani dapat memenuhi produktifitas pendapatan hasil tani mereka sehingga petani dapat memenuhi ke

kebubututuhahannnnyaya.. MeMenunururutt J.J.RaRaviviananto to (1(199990:0:4) bahwa: “kesesuaian antara4) bahwa: “kesesuaian antara kebutuhan individu (pekerja) dengan kebutuhan perusahaan merupakan faktor kebutuhan individu (pekerja) dengan kebutuhan perusahaan merupakan faktor yang penting untuk menunjang produktivitas kerja”.

yang penting untuk menunjang produktivitas kerja”. Dalam usahaDalam usaha peningkatan produktivitas kerja petani memang tidak selalu dapat berjalan peningkatan produktivitas kerja petani memang tidak selalu dapat berjalan lancar

lancar.. Untuk itu pihak perusahaan harus berupaya memadukan antaraUntuk itu pihak perusahaan harus berupaya memadukan antara keb

kebutuhutuhan pean petani detani dengangan kebun kebutuhatuhan kelon kelompok tampok tani, sehni, sehingginggaa dapadapatt menunjan

(5)

Peningkatan omset penjualan dapat dicapai melalui penggunaan pupuk  yang berkualitas, pada umumnya petani khususnya petani kecil mengalami hambatan terutama dalam pengadaan dana untuk membeli berbagai input produksi, seperti pembelian pupuk yang harganya mudah dijangkau dengan tingkat kualitas yang memadai. Dalam kondisi ini petani dihadapkan pada dilema peningkatan hasil produksi usaha pertaniannya. Disatu pihak petani dituntut untuk meningkatkan produktivitas usaha tani pada luas lahan yang terbatas untuk dapat meningkatkan pendapatannya. Dilain pihak untuk  meningkatkan produktivitas, petani harus mengeluarkan tambahan biaya akibat meningkatnya jumlah dan jenis input yang harus dibeli, serta akibat meningkatnya harga input karena berkurangnya subsidi pemerintah terhadap harga pupuk, obat-obatan dan benih unggul.

Pada kenyataanya, untuk mendapatkan bahan-bahan pertanian masih banyak yang bergantung pada pengecer yang harganya lebih tinggi dibandingkan dengan harga yang ditentukan oleh kelompok tani. Selain itu adanya perbedaan kualitas produk yang ditawarkan oleh kelompok tani dengan pengecer pada umumnya. Karena dalam kelompok tani mempunyai tiga tujuan umum dalam penjualan seperti yang dirumuskan oleh Basu Swastha dalam bukunya Azas-Azas Marketing (2008:27) adalah sebagai berikut: (a) Berusaha mencapai penjualan tertentu, (b) Berusaha mendapatkan laba, dan (c) Menunjang pertumbuhan perusahaan. Usaha untuk mencapai ketiga tujuan tersebut, tidak sepenuhnya hanya dilakukan oleh pelaksana penjualan atau para ahli penjualan, dalam hal ini perlu adanya kerjasama

(6)

didalam perusahaan. Akan tetapi tujuan-tujuan tersebut dapat terlaksana jika tersedianya modal kerja.

Pada hakekatnya modal juga dapat dikatakan sebagai modal kerja yang merupakan salah satu faktor produksi usaha tani yang penting, disamping faktor lahan, tenaga kerja dan manajemen. Menurut Sofyan Safri Harahap (2007:288) Modal kerja bisa juga dianggap sebagai dana yang tersedia untuk  diinvestasikan dalam aktiva lancar atau untuk membayar utang lancar. Oleh karena itu permodalan yang lemah akan membatasi ruang gerak dan aktivitas usaha untuk menunjang keberhasilan pembangunan pertanian, terutama meningkatkan kemampuan berusaha bagi petani. Jadi untuk meningkatkan kemampuan ruang gerak dan aktivitas dalam berusaha tani khususnya pelaksanaan intensifikasi, maka petani memerlukan pinjaman modal berupa kredit usaha tani. Dari pinjaman modal tersebut diharapkan kelompok tani mampu memanfaatkannya dengan maksimal sehingga tingkat poduktivitas pendapatan petani menjadi lebih baik dan tingkat penjualan pupuk juga bisa lebih maksimal. Produktivitas yang dimaksud adalah kemampuan untuk  melakuan jual-beli barang dagangan yang khususnya pada penjualan pupuk.

Dengan pola pemberian kredit usaha tani, petani dibimbing untuk  menerapkan teknologi usaha tani sesuai dengan yang direkomendasikan, dengan bimbingan tersebut diharapkan petani dapat memanfaatkan seefektif  dan seefisien mungkin, sehingga produksi dan pendapatan petani diharapkan akan meningkat, dengan meningkatnya pendapatan para petani diharapkan pengembalian kredit usaha tani tersebut akan menjadi lancar. Akan tetapi

(7)

pada kenyataannya sering terjadi kelangkaan pupuk pada saat pupuk itu sendiri sedang dibutuhkan oleh petani.“Salah satu unsur yang selalu melekat dalam setiap pemberian kredit adalah adanya “ resiko “ sehingga pemberian kredit disebut juga sebagai penanaman dana dalam bentuk “risk assets“. Dan sebagaimana juga diketahui bahwa resiko atas suatu hal, adalah bersifat merugikan, dan sebagai sesuatu musibah atau malapetaka, resiko datangnya tidak pasti dan tidak dapat diduga dan dapat terjadi dengan tiba-tiba harus terjadi” ( Hasanudin Rahman, 2008:5).

Melihat hal tersebut maka dalam sebuah bentuk kelompok tani berusaha memberikan kemudahan bagi petani untuk memperoleh modal yang dapat menunjang dalam pertanian. Kemudahan tersebut diberikan oleh kelompok  tani dengan sistem pinjaman kredit yang sama-sama mendapatkan keuntungan. Keuntungan tersebut dapat terbukti dengan sistem pinjaman kredit tersebut maka kelompok tani memperoleh omset penjualan pupuk yang sudah di targetkan dan bagi petani dapat memperoleh pupuk dengan mudah tanpa harus memiliki uang untuk membeli pupuk langsung pada pengecer. Dalam sistem pinjaman ini juga memberikan keamanan dan kemudahan tanpa adanya resiko yang sekiranya dapat merugikan para petani.

Kelompok tani sangatlah membantu dalam usaha yang dilakukan petani untuk meningkatkan hasil pertanian menjadi lebih baik. Dalam meningkatkan omset penjualan pupuk itu sendiri, kelompok tani bekerja keras untuk bisa merangkul masyarakat untuk bisa memilih pupuk yang berkualitas dan mampu memanfaatkan sesuai dengan kebutuhannya.

(8)

Dari latar belakang masalah tersebut maka penulis dapat menentukan  judul “OMSET PENJUALAN PUPUK DITINJAU DARI MODAL DAN PEMBERIAN KREDIT PADA KELOMPOK TANI DESA GILIREJO KECAMATAN WONOSEGORO KABUPATEN BOYOLALI”.

B. Pembatasan Masalah

Untuk memfokuskan penelitian ini sehingga didapatkan hasil penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan, penelitian ini dibatasi hal-hal sebagai berikut:

1. Omset penjualan pupuk pada kelompok tani Desa Gilirejo Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali pada tahun 2009-2011.

2. Modal (modal kerja) yang digunakan pada Kelompok Tani Desa Gilirejo Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali.

3. Harga penjualan pupuk secara kredit pada kelompok tani Desa Gilirejo Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali.

C. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas agar dapat secara jelas, maka yang menjadi perumusan masalah adalah:

1. Apakah modal (modal kerja) dapat menentukan omset penjualan pupuk pada kelompok tani Desa Gilirejo Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali?

(9)

2. Apakah pemberian kredit dapat menentukan omset penjualan pupuk pada kelompok tani Desa Gilirejo Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali?

3. Apakah modal (modal kerja) dan pemberian kredit dapat menentukan omset penjualan pupuk pada kelompok tani Desa Gilirejo Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui peningkatan omset penjualan pupuk tahun

2010-2011 pada kelompok tani Desa Gilirejo Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali.

2. Untuk mengetahui omset penjualan dilihat dari modal (modal kerja) pada Kelompok Tani Desa Gilirejo Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali.

3. Untuk mengetahui perbandingan omset penjualan secara kredit dengan penjualan secara tunai tahun 2010-2011 pada kelompok  tani Desa Gilirejo Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali. E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Dari segi ilmiah penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan tentang omset penjualan pupuk ditinjau dari modal dan pemberian kredit pada kelompok tani desa Gilirejo Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali.

(10)

2. Tujuan Praktis

a. Bagi Perusahaan / Instansi

Sebagai pedoman dalam menentukan kebijakan dan mengatasi masalah yang dihadapi perusahaan / instansi.

b. Bagi Peneliti, Untuk menambah wawasan pengetahuan dan dapat mengembangkan untuk penelitian selanjutnya.

c. Bagi Pihak lain, penelitian diharapkan berguna untuk menambah pengetahuan, informasi sekaligus sebagai bahan acuan untuk  perbandingan dalam penelitian serupa.

F. Landasan Teori

1. Omset penjualan

Kata omset berarti jumlah, sedang penjualan berarti kegiatan menjual barang yang bertujuan mencari laba/pendapatan. Jadi omset penjualan berarti Jumlah penghasilan/laba yang diperoleh dari hasil menjual barang/jasa. Menurut Sutamto (1997:10) tentang pengertian penjualan: "Penjualan adalah usaha yang dilakukan manusia untuk  menyampaikan barang dan jasa kebutuhan yang telah dihasilkannya kepada mereka yang membutuhkan dengan imbalan uang menurut harga yang dimana si penjual atai produsen memastikan mengaktifkan dan memuaskan kebutuhan atau keinginan pembeli/konsumen agar dicapai mufakat dan manfaat baik bagi si penjual maupun sipembeli yang berkelanjutan dan menguntungkan kedua belah pihak. Dari pendapat

(11)

tersebut maka penjualan itu merupakan kegiatan menawarkan/memasarkan barang dan jasa kepada pembeli yang berminat yang nantinya akan dibayar  jika telah terjadi kesepakatan mengenai harga barang/jasa itu. A. Arifinal

Chaniago (1995:14) memberikan pendapat tentang omzet penjualan adalah: "Keseluruhan jumlah pendapatan yang didapat dari hasil penjulan suatu barang/jasa dalam kurun waktu tertentu". Basu Swastha (1983:14) memberikan pengertian omset penjualan adalah: "Akumulasi dari kegiatan penjualan suatu produk barang barang dan jasa yang dihitung secara keseluruhan selama kurun waktu tertentu secara terus menerus atau dalam satu proses akuntansi”.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa omset penjualan adalah keseluruhan jumlah penjualan barang/jasa dalam kurun waktu tertentu, yang dihitung berdasarkan jumlah uang yang diperoleh. Seorang pengelola usaha dituntut untuk selalu meningkatkan omzet penjualan dari hari kehari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan dan dar tahun ke tahun. Hal ini diperlukan kemampuan dalam memanajemen modal terutama modal kerja agar kegiatan operasional perusahaan dapat terjamin kelangsungannya.

2. Modal (modal kerja) a. Pengertian modal kerja

Perusahaan selalu membutuhkan modal kerja yang cukup untuk  membiayai kegiatan operaionalnya sehari-hari, misalnya : gaji, upah buruh, uang muka pembelian bahan mentah, dan sebagainya. Modal

(12)

kerja yang telah dikeluarkan tersebut diharapkan akan kembali ke perusahaan dalam waktu relatif singkat melalui hasil penjualan yang telah diberikan. Dengan demikian dana tersebut akan berputar setiap saat selama hidup perusahaan. Perusahaan yang tidak memiliki modal kerja yang cukup, tidak dapat membayar kewajiban jangka pendek  tepat pula pada waktunya dan perusahaan akan mengalami masalah likuiditas.

Pengertian modal kerja menurut beberapa ahli yaitu :″Modal kerja adalah sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan yaitu yang merupakan kelebihan aktiva lancar di atas utang lancarnya″Menurut Bambang Riyanto (2001:58).

″Modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap hutang  jangka pendek, yaitu jumlah aktiva lancar yang berasal dari pinjaman  jangka panjang maupun dari para pemilik perusahaan″ Menurut S.

Munawir (2002:115).

Menurut Kamaruddin (1989:410) “Modal adalah investasi perusahaan pada aktiva jangka pendek, kas, sekuritas yang mudah dipasarkan, persediaan, dan piutang usaha”. Jadi modal kerja merupakan investasi dalam bentuk uang tunai, kas, surat berharga, piutang, dan persediaan yang dapat digunakan untuk membiayai aktiva lancar.

(13)

″Modal kerja adalah aktiva lancar dikurangi utang lancar. Modal kerja bisa juga dianggap sebagai dana yang tersedia untuk  diinvestasikan dalam aktiva lancar atau untuk membayar utang lancar″. Menurut Sofyan Safri Harahap (2007:288)

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tentang pengertian modal kerja, maka dapat disimpulkan bahwa modal kerja merupakan kelebihan dari aktiva lancar diatas hutang lancarnya yang benar-benar digunakan untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan sehari-hari. seperti membiayai pembelian bahan mentah, membayar upah buruh, gaji pegawai, dimana uang yang telah dikeluarkan itu diharapkan akan dapat kembali lagi masuk dalam perusahaan dalam waktu jangka pendek.

b. Jenis-jenis modal kerja

Jenis-jenis modal kerja menurut Bambang Riyanto (2001:61) dapat digolongkan sebagai berikut:

1) Modal kerja permanen (Permanent Working Capital)

Modal kerja permanen adalah modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya, atau dengan kata lain modal kerja yang secara terus menerus diperlukkan untuk  kelancaran usaha. Permanent working capital ini dapat dibedakan menjadi:

(14)

Modal kerja primer adalah jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.

b) Modal Kerja Normal ( Normal Working Capital)

Modal kerja normal adalah jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal. Pengertian “normal” disini adalah dalam artian yang dinamis.

2) Modal Kerja Variabel (Variable Working Capital)

Modal kerja variabel adalah modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan, dan modal kerja ini dibedakan antara lain :

a) Modal Kerja Musiman (Seasonal Working Capital)

Modal kerja musiman adalah modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim.

b) Modal Kerja Siklis (Cyclical Working Capital)

Modal kerja siklis adalah modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi konjungtur.

(15)

Modal kerja darurat adalah modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak  diketahui sebelumnya.

Setiap badan usaha selalu membutuhkan modal kerja untuk  membiayai kegiatan operasionalnya baik dalam perusahaan yang bergerak dalam bidang industri maupun jasa. Modal kerja harus selalu dalam keadaan berputar selama masih melakukan kegiatan usaha.

3. Pemberian kredit

Istilah kredit bukan hal yang asing dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, sering dijumpai ada anggota masyarakat yang jual beli dengan kreditan. Jual beli tersebut tidak dilakukan secara tunai (kontan), tetapi dengan cara mengangsur. Selain itu banyak anggota yang banyak menerima kredit dari koperasi maupun bank untuk  kebutuhannya. Mereka pada umumnya mengartikan kredit sama dengan utang, karena dalam jangka waktu tertentu yang sudah ditentukan makamereka harus membayar lunas.

Sebenernya kata “kredit” itu berasal dari bahasa Romawi yaitu credere yang artinya “percaya”. Bila dihubungkan dengan bank, maka terkandung pengertian bahwa bank selaku kreditur percaya meminjamkan sejumlah uang kepada nasabah / debitur karena debitur dapat dipercaya kemampuannya untuk membayar lunas pinjamannya setelah jangka waktu yang ditentukan.Dalam undang-undang No.7

(16)

tahun 1992 Pasal 1 butir 12 pengertian kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan atu pembagian hasil keuntungan.

Dari rumusan tersebut dapat diketahui bahwa kredit itu merupakan perjanjian pinjam-meminjam antara kreditur kepada debitur. Dalam perjanjian ini kelompok tani sebagai pemberi kredit percaya petani dalam jangka waktu yang ditentukan dan disepakati bersama antara kelompok tani dengan petani akan membayar pinjaman tersebut tepat waktu.

Pada dasarnya aktivitas usaha lembaga kredit seperti Bank  Umum, Bank Perkreditan Rakyat dan Koperasi Simpan Pinjam menyalurkan atau meminjamkan dananya kepada masyarakat atau pihak-pihak yang membutuhkan bantuan dana. Apa tujuan pemberian kredit itu? Tujuan pemberian kredit adalah untuk memperoleh suatu keuntungan, oleh karena itu lembaga kredit hanya boleh meneruskan simpanan masyarakat kepada nasabahnya, dalam bentuk kredit, jika ia benar-benar merasa yakin bahwa nasabah yang akan menerima kredit itu mampu dan mau mengembalikan kredit yang telah diterimanya. Dari faktor kemampuan dan kemauan tersebut, tersimpul unsur keamanan (safety), dan sekaligus juga unsur keuntungan ( profitability)

(17)

dari suatu kredit. Keamanan atau safety yang dimaksud adalah prestasi yang diberikan dalam bentuk uang, barang, atau jasa itu betul-betul terjamin pengemba1iannya, sehingga keuntungan atau profitability yang diharapkan itu menjadi kenyataan. Keuntungan atau profitability merupakan tujuan dari pemberian kredit yang terjelma dalam bentuk  bunga yang diterima, dan karena Pancasila adalah sebagai dasar dan falsafah negara kita, maka tujuan kredit tidak semata-mata untuk  mencari keuntungan, melainkan disesuaikan dengan tujuan negara yaitu mencapai masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Melihat hal tersebut maka pemberian kredit dapat disimpulkan suatu perjanjian jual beli barang atau jasa yang berbentuk pinjaman dan berdasarkan kesepakatan bersama antara kreditur dan debitur sanggup melunasi pinjaman tersebut dalam jangka waktu yang ditentukan.

G. Kerangka Berfikir

Untuk memperjelas proses penelitian ini dan penganalisaan masalah yang diharapkan,maka sangat penting untuk dibuat sebuah gambaran yang  jelas mengenai arah penelitian ini dalam bentuk sebuah kerangka teoritis

(18)

Gambar 1 Kerangka Pemikiran

(variabel Independent) (variabel Dependent) H. Hipotesis

Menurut Sugiyono (2008:93). ”Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah”.karena sifatnya masih sementara maka perlu dibuktikan kebenarannya melalui data empirik yang terkumpul. Dengan demikian hipotesis yang diajukan oleh penulis adalah sebagai berikut:

1. Diduga modal (modal kerja) dapat menentukan omset penjualan pupuk  pada kelompok tani Desa Gilirejo Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali.

2. Diduga adanya pemberian kredit dapat menentukan omset penjualan pupuk pada kelompok tani Desa Gilirejo Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali. Modal (x1) Pemberian Kredit (x2) Omset Penjualan (Y)

(19)

3. Diduga adanya modal (modal kerja) dan pemberian kredit dapat bersama-sama menentukan omset penjualan pupuk pada kelompok tani Desa Gilirejo Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali.

I. Jenis Penelitian 1. Jenis penelitian

Menurut Sugiyono (2008:13-14).”Jenis-jenis penelitian dapat dibedakan menjadi penelitian kuantitatif dan kualitatif”.

a. Penelitian Kuantitatif 

Penelitian kuantitatif adalah penelitian dalam pengumpulan data menggunakan instrument penelitian,analisis bersifat kuantitatif  statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. b. Penelitian kualitatif 

Penelitian kualitatif adalah penelitian dalam pengumpulan data trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat kualitatif dan hasil penelitian lebih menekankan akan generalisasi.

J. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian atau objek penelitian merupakan hal penting dalam penelitian, sebagai sumber informasi mengenai data-data yang akan diambil di dalam penelitian. Penelitian ini difokuskan pada Kelompok Tani Desa Gilirejo Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali.

K. Populasi, Sampel, dan Sampling 1. Populasi

(20)

Menurut Sugiyono (2009:72)”Populasi adalah wilayah

generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk 

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan”.

2. Sampel

Menurut Sugiyono (2009:72) ”Sampel adalah bagian atau

 jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Jumlah sampel yang 100% mewakili populasi adlah sama dengan jumlah populasi itu sendiri, makin besar jumlah sampel mendekati populasi maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil dan sebaliknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, maka semakin besar kesalahan generalisasi.

3. Sampling

Menurut Hadi Sutrisno (2007:74) “sampling adalah cara untuk   pengambilan sampel”. Sampling merupakan cara yang digunakan

seseorang peneliti dalam pengambilan sampel dari keseluruhan subjek  dan objek yang diteliti guna memperoleh data yang akurat, sehingga penelitiannya tepat pada tujuan.

Dengan cara lain pengambilan sampel yang representatif  adalah secara acak atau random. Pengambilan sampel secara acak  berarti setiap individu dalam populasi mempunyai peluang yang sama untuk dijadikan sampel (Sukmadinata, 2006:253). Sampel yang representatif, cara pengambilan sampel menggunakan  proporsional

(21)

random dengan cara diundi. Penghitungannya menggunakan rumus proporsi random sampling dengan cara diundi (Sugiyono, 2007: 68).

L. Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini diidentifikasikan sebagai berikut: 1. Variabel bebas

Variabel bebas adalah variabel yang dipilih untuk dicari pengaruhnya terhadap variabel tergantung. Dalam penelitian ini sebagai variabel bebasnya adalah modal (modal kerja) dan pemberian kredit.

Variabel bebas adalah variabel yang memberi pengaruh pada variabel terikat, variabel bebas yang terdiri dari:

a) Modal (X1) adalah kelebihan dari aktiva lancar diatas hutang

lancarnya yang benar-benar digunakan untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan sehari-hari.

b) Pemberian kredit (X2) adalah suatu perjanjian jual beli barang

atau jasa yang berbentuk pinjaman dan berdasarkan kesepakatan bersama antara kreditur dan debitur sanggup melunasi pinjaman tersebut dalam jangka waktu yang ditentukan.

2. Variabel terikat

Variabel terikat aadalah variabel yang kehadirannya dipengaruhi oleh variabel lain. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikatnya adalah omset penjualan. Yang dimaksud dengan omset penjualan adalah

(22)

keseluruhan jumlah penjualan barang/jasa dalam kurun waktu tertentu, yang dihitung berdasarkan jumlah uang yang diperoleh.

M. Sumber data

1. Data Primer yaitu data yang dikumpulkan melalui penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber informasi yang memberikan  jawaban terhadap peneliti. Data ini diperoleh dari responden yang berasal

dari kuesioner yang dibuat oleh peneliti.

2. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari pengelola Kelompok Tani Desa Gilirejo Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali. Data tersebut berupa catatan yang ada di Kelompok Tani Desa Gilirejo Kecamatan Wonosegoro Kabupaten Boyolali.

N. Tehnik Pengumpulan Data 1. Metode Dokumentasi

Menurut Margono (2005:181), “Metode dokumentasi adalah cara pengumpulan data melalui peninggalan tertulis, seperti arsip-arsip termasuk juga buku tentang pendapat, teori, dalil, dan lainnya yang  berhubungan dengan masalah penelitian”. Dapat disimpulkan bahwa metode dokumentasi adalah cara pengumpulan data penelitian melalui data-data yang telah ada yang berbentuk tertulis.

Pengertian dokumentasi menurut Arikunto (2006:158) “Dokumentasi adalah mencari dan mengumpulkan data mengenai suatu hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, agenda, notulen rapat, jurnal jadwal dan sebagainya”.

(23)

2. Metode angket

Menurut Arikunto (2006:128) berpendapat bahwa “Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui”. Sedangkan menurut Sugiyono (2008 : 199) “Angket atau kuisioner merupakan teknik atau pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab”.

Angket dalam penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara tidak langsung melalui daftar bertanya yang harus dijawab oleh orang yang menjadi sasaran angket. Melalui angket, data yang dibutuhkan akan mudah terkumpul dengan waktu yang efisien..

Dalam menentukan skor angket, penilaian angket mengacu pada skala likert 1 sampai 4, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik  tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan. (Sugiyono, 2004:74). Skoring masing-masing ítem adalah:

Sangat Setuju (SS) : 4 Setuju (S) : 3 Tidak Setuju (TS) : 2 Sangat tidak Setuju (STS) : 1

(24)

Tabel 1

Variabel Indikator No. Item pertanyaan Jumlah Modal (modal kerja) (X1) 1. Sumber keuangan 1, 2, 3, 4, 5 5 Pemberian kredit (X2) 1. Berdasarkan biaya 2. Potongan harga 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 5 4 Omset penjualan (Y) 1. Kualitas produk  2. Kualitas pelayanan 15, 16, 17, 18, 19,20 3 3

O. Tehnik Pengujian Instrumen 1. Uji Validitas

Menurut Arikunto (2006:151) “Uji validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat  – tingkat kevalidan tertentu atau kesahihan suatu instrumen atau suatu test”. Instrumen yang valid mempunyai validitas tinggi, sebaliknya instrument yang kurang valid berarti mempunyai validitas yang rendah. Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur data dari variabel yang diteliti. Dalam

(25)

penelitian ini, untuk mengetahui validitas angket dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

  

2 2 2 2  x n  y  y  x n  y  x  xy n r  xy Keterangan:

r  xy = koefisien korelasi antara variabel  x dan variabel y serta variabel yang di korelasikan.

x = skor masing-masing item

y = total

n = jumlah pasien rawat inap

2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas adalah uji yang digunakan untuk menguji ketepatan suatu tes apabila diuji cobakan terhadap subyek yang sama.Uji reliabilitas angket omset penjualan, modal, dan pemberian kredit dilakukan menggunakan rumus alpha. Alasannya menurut Arikunto (2007) “untuk instrumen yang dapat diberikan skor dan skornya bukan 1 dan 0, ujicoba dapat dilakukan dengan teknik “sekali tembak” yaitu diberikan satu kali saja kemudian hasilnya dianalisis dengan rumus alpha”.

(26)

Selain itu jumlah butir pertanyaan setiap indikator angket ada yang ganjil dan ada yang genap. Dengan demikian jika dibelah tidak  bisa seimbang antara belahan satu dengan belahan lainnya, sehingga syarat pemakaian rumus reliabilitas teknik belah dua tidak terpenuhi. Menurut Suharsimi Arikunto, persyaratan yang harus dipenuhi apabila hendak menggunakan teknik belah dua adalah:

1) Jumlah butir yang ada pada instrumen harus genap agar dapat dibelah menjadi dua.

2) Butir-butir yang ada di dalam instrumen hendaknya memenuhi persyaratan untuk dibelah. Teknik manakah yang akan diambil disesuaikan dengan penyebaran atau pasangan butir-butirnya. Untuk teknik undian misalnya maka butir-butir tes harus homogin (sama rata di segala tempat) sehingga apabila dibelah akan menghasilkan belahan yang seimbang.

Adapun rumus reliabilitasalphaadalah:

r11 :

 

2 2 σt σb 1 1 k  k  Keterangan:

r11 = Indeks reliabilitas alat ukur

k = Banyaknya butir pernyataan

b2

  

= Jumlah varian butir

2

(27)

Kriteria besarnya koefisien reliabilitas dalam Suharsimi Arikunto (2006: 276) adalah:

0,80 < r11 ≤ 1,00 reliabilitas sangat tinggi

0,60 < r11 ≤ 0,80 reliabilitas tinggi

0,40 < r11 ≤ 0,60 reliabilitas cukup

0,20 < r11 ≤ 0,40 reliabilitas rendah

0,00 < r11 ≤ 0,20 reliabilitas sangat rendah

Perhitungan uji reliabilitas butir soal dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS for windows 15.

P. Uji Prasarat Analisis

1. Uji Normalitas

Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah data yang dianalisis berbentuk sebaran normal atau tidak normal. Menurut Hadi (2004:1) “Uji normalitas bertujuan utuk mengetahui apakah data

berdistribusi normal atau tidak sebaran data yang digunakan dalam

 penelitian.” Untuk menggunakan uji normalitas langkah –  langkah yang harus dilakukan adalah:

a. Mencari nilai terbesar selisih F (Z1)-(S)-(Z1) dan dijadikan L

hitung. b. Kesimpulan

(28)

1) Jika Lhitung < Ltabel maka terima hipotesis statistik berarti

distribusi sebenarnya tidak normal.

2) Jika Lhitung > Ltabel maka terima hipotesis statistik berarti

distribusi sebenarnya normal.

Pengujian normalitas dalam penelitian ini mengunakan bantuan SPSS V 15.0.

2. Uji Linieritas

Uji linieritas ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah model persamaan linier yang kita peroleh cocok atau tidak. Menurut Sudjana (2003:330 – 337) langkah – langkah yang digunakan adalah sebagai berikut : a. Fhitung =   E  TC   RK   RK ( ) b. Ftabel = (1-α) (k-2; n;k) c. Kesimpulan:

1) Jika Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak berarti persamaannya tidak 

linier.

2) Jika Fhitung < Ftabel, maka Ho diterima berarti persamaannya

linier.

Pengujian linieritas dalam penelitian ini menggunakan bantuan SPSS for windowversi 15.0.

(29)

Q. Teknik Analisis Data

Untuk mencapai hasil analisis yang menuju sasaran, maka dalam menganalisis data digunakan serangkaian analisis sebagai berikut:

1. Analisis Regresi Linear Berganda

Dalam Sugiyono (2004 : 211) dijelaskan analisis regresi ganda dua prediktor menggunakan rumus sebagai berukut:

Y = a + b1X1 + b2X2+ e

Dimana :

Y = Omset penjualan

a = Konstanta

X1 = modal (modal kerja)

X2 = pemberian kredit

B1,b2,b3 = Koefisien regresi

e = Error

Pengujian analisis regresi berganda ini menggunakan bantuan program SPSS V 15.0.

2. Uji t

Digunakan untuk menguji signifikasi dari pengaruh variabel independen secara individual terhadap variabel dependen. Langkah-langkah yang digunakan adalah:

(30)

H0 : B1 = 0 (bahwa tidak ada hubungan antara modal dan

pemberian kredit terhadap omset penjualan pupuk). H0 : B1

0 (bahwa ada pengaruh antara modal dan pemberian

kredit terhadap omset penjualan pupuk). b. Level of significant ( 

5

%

)

c. Kriteria pengujian

H0 diterima , jika - thitung

thitung

 

ttabel.

H0 ditolak, jika thitung> ttabel atau thitung < ttabel.

d. Nilai

sebi b t hitung

 

i

Keterangan:

bi = koefisien regresi variabel independen I

sebi = standar eror variabel independen ke-I e. Kesimpulan

Jika thitung > ttabel atau thitung < -ttabel maka H0 ditolak dan

menerima Hi.

Jika -ttabel hitung ttabel maka menerima H0 dan menolak Hi.

Gambar 3

Daerah diterima

Daerah ditolak Daerah ditolak 

-t tabel

(31)

3. Uji F

Digunakan untuk mengetahui pengaruh antara variabel bebas dan terikat secara bersama-sama. Langkah-langkah pengujiannya adalah:

a. H0: B = B2= 0 (tidak ada pengaruh antara X dengan Y)

H0: B = B2

0 (ada pengaruh antara X dengan Y)

b. Level of significant ( 

5

%

)

c. Kriteria pegujian

H0 diterima maka Fhitung

Ftabel

H0ditolak maka Fhitung > Ftabel

d. Perhitungan F

 

k   R k  n  R F  2 2 1 1    Keterangan: R2 = Koefisien determinasi

n = Banyaknya data yang diteliti e. Kesimpulan

Jika Fhitung > Ftabel maka dapat dikatakan bahwa terdapat

pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependen. Sebaliknya, jika Fhitung < Ftabel maka variabel independen dengan

(32)

Gambar 2

4. Koefisien Determinasi

Analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar sumbangan yang diberikan variabel bebas terhadap variabel terikat yang ditunjukan dalam presentase. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

  2 2 2 1 1 2  y  y  x b  y  x b  R Dimana: 2  R = Koefisien determinasi b = Koefisien regresi y = omset penjualan 1

 x = Modal (modal kerja)

2

 x = Pemberian kredit

5. Sumbangan Relatif dan Sumbangan Efektif.

Hadi (2000 : 40) mengatakan bahwa peneliti dapat menghitung besar sumbangan relatif masing-masing prediktor terhadap prediksi. Hal ini membantu untuk melihat signifikansi suatu garis regresi antara kriterium dengan prediktor-prediktornya yang ditunjukkan melalui

Daerah diterima

Gambar

Gambar 1 Kerangka Pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

Selanjutnya penyaluran pupuk bersubsidi di penyalur Lini IV ke petani atau kelompok tani dilakukan berdasarkan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) sesuai

Kelompok tani merupakan suatu wadah bagi petani untuk menyalurkan gagasan, opini dan ide serta sarana bagi petani untuk memperoleh informasi tentang inovasi

Pupuk Bersubsidi adalah barang dalam pengawasan yang pengadaan dan penyalurannya mendapat subsidi dari Pemerintah untuk kebutuhan kelompok tani dan/atau petani

Responden pada penelitian adalah Kelompok Tani penerima bantuan program Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO) pada tahun anggaran 2017 yaitu Kelompok Tani Hulu Gawan,

Dari hasil penelitian diperoleh yaitu Pengetahuan anggota kelompok tani mengenai Undang-Undang penyaluran pupuk bersubsidi 33,3 % yang mengetahui, 20 % ragu-ragu dan 46,7

Sasaran Kegiatan Sasaran pengadaan Bantuan Pupuk NPK untuk Tembakau VO – Kasturi pada tahun 2023 adalah Kelompok tani TANI MAKMUR Dusun Krajan Desa Sumberlesung Kecamatan Ledokombo

Sasaran Kegiatan Sasaran pengadaan Bantuan Pupuk NPK untuk Tembakau VO – Kasturi pada tahun 2023 adalah Kelompok tani TANI MAKMUR Dusun Krajan Desa Sumberlesung Kecamatan Ledokombo

Sasaran Kegiatan Sasaran pengadaan Bantuan Pupuk NPK untuk Tembakau VO – Kasturi pada tahun 2023 adalah Kelompok tani TANI MAKMUR Dusun Krajan Desa Sumberlesung Kecamatan Ledokombo