• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan institut mode muslim di Kota Malang dengan pendekatan geometri Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perancangan institut mode muslim di Kota Malang dengan pendekatan geometri Islam"

Copied!
164
0
0

Teks penuh

(1)PERANCANGAN INSTITUT MODE MUSLIM DI KOTA MALANG DENGAN PENDEKATAN GEOMETRI ISLAM. TUGAS AKHIR. ITA TUHFATUL ULA NIM. 14660030. JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG. 2019. i.

(2) PERANCANGAN INSTITUT MODE MUSLIM DI KOTA MALANG DENGAN PENDEKATAN GEOMETRI ISLAM. TUGAS AKHIR. Diajukan kepada: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Arsitektur(S.Ars). OLEH: ITA TUHFATUL ULA NIM: 14660030. JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG. 2019. ii.

(3) iii.

(4) iv.

(5) v.

(6) vi.

(7) vii.

(8) viii.

(9) ix.

(10) ABSTRAK Ula, Ita Tuhfatul, 2018, Perancangan Institut Mode Muslim Di Kota Malang. Dosen Pembimbing : A. Farid Nazaruddin, MT., Luluk Maslucha, M,Sc.. Kata Kunci : Institut Mode Muslim, Geometri Islam. Negara Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Salah satu faktor yang sangat menonjol saat ini adalah dalam hal berpakaian/berbusana yang dikenakan yaitu pemakaian busana Muslim. Berbeda halnya sebelum tahun 1980-an ketika orang masih malu dan takut menunjukan keislamannya, meningkatnya semangat keberagaman umat Islam terutama dalam berbusana membawa dampak positif bagi kerkembangan produk-produk busana Muslim. Hal ini memicu salah satu implikasi positif bagi para perancang busana Muslim sebab semakin banyak pengguna busana Muslim akan berkorelasi dengan peluang peningkatan usaha. Islam memberikan sejumlah batasan sehingga umat Islam mampu mengandalkan kreativitas mereka untuk berinovasi dan bereksplorasi untuk menciptakan kreasi busana yang sesuai dengan syariat, yakni dapat menutupi seluruh anggota tubuhnya Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 131/M-IND/PER/10/2009 tentang Peta Paduan (Road Map) Perkembangan Klaster Industri Fashion. Penyerapan tenaga kerja 5.7% dari total ekspor nasional. Subsector industry fashion memiliki kinta baik dengan menyerap 3,8 juta tenaga kerja nasional pada tahun 2013. Dalam mendorong peningkatan industri kreatif fashion dibutuhkan peran penting untuk mengedukasi menciptakan tenaga kerja yang dapat mendukung Industri fashion Muslim. Kota Malang merupakan kota pendidikan yang mampu memberikan kontribusi serta mendukung sarana edukasi fashion program, namun fasilitas tersebut belum meadahi bagi klaster fashion. Dalam menciptakan sarana edukasi dibidang fashion Muslim yang mampu menyelesaikan pergeseran busana Muslim, dan menciptakan kesatuan dari keberagaman kebutuhan fashion Muslim maka dibutuhkan integrasi keIslaman sebagai parameternya. Integrasi keIslaman yang mampu mewujudkan serta mendukung program edukasi fashion Muslim yang susai dengan syariat Islam, yang mampu mempresentasikan wawasan semesta serta media komunikasi dan pengingat kepada penciptaNya. Dengan tema perancangan geometri Islam diantaranya sebagai pengingat tauhid, kreativitas, warna, tataletak, pola dan unity. Maka perancangan Institut Mode Muslim sangat sesuai menggunakan pendekatan geometri Islam yang dapat membangun pada nilai dasarnya adalah penerapan ekspresi seni Islam dalam karya Arsitektur yang melahirkan suatu produk budaya fisik dan moral yang merupakan ekspresi bentuk.. x.

(11) ABSTRACT Ula, Ita Tuhfatul, 2018, Designing Muslim Fashion Institute in Malang City. Advisors: A. Farid Nazaruddin, MT., Luluk Maslucha, M,Sc. Keywords: Muslim Fashion Institute, Islamic Geometry. Indonesia is a country that is predominantly Muslim. One of the most prominent factors at this time is in terms of dress / clothing worn, namely the use of Muslim clothing. Unlike the case before the 1980s when people were still embarrassed and afraid to show their Islam, the increasing spirit of diversity of Muslims, especially in dress, had a positive impact on the development of Muslim fashion products. This triggered one of the positive implications for Muslim fashion designers because more and more users of Muslim clothing will correlate with opportunities for increased business. Islam provides a number of limitations so that Muslims are able to rely on their creativity to innovate and explore to create fashion creations that are in accordance with the Shari'a, which can cover all of their limbs. Minister of Industry Regulation Number 131 / M-IND / PER / 10/2009 concerning Road Map for Development of the Fashion Industry Cluster. Absorption of workforce 5.7% of total national exports. The fashion industry subsector has a good reputation by absorbing 3.8 million national workers in 2013. In encouraging the improvement of the creative fashion industry an important role is needed to educate creating a workforce that can support the Muslim fashion industry. Malang City is an education city that is able to contribute and support the fashion program education facilities, but these facilities have not yet provided a fashion cluster. In creating educational facilities in Muslim fashion that are able to complete the shift in Muslim fashion, and create a unity of the diversity of Muslim fashion needs, Islamic integration is needed as a parameter. Islamic integration that is able to realize and support Muslim fashion education programs that are in line with Islamic law, which are able to present the insights of the universe as well as communication media and reminders to His creators. With the theme of the design of Islamic geometry, including as a reminder of tawheed, creativity, color, layout, patterns and unity. So the design of the Muslim Fashion Institute is very appropriate to use the geometrical approach of Islam which can build on its basic value is the application of Islamic art expressions in architectural works that give birth to a product of physical and moral culture which is an expression of form.. xi.

(12) ‫ملخص‬ ‫أوال ‪ ,‬إتحوفول ‪ ، 2018 ،‬تصميم معهد األزياء المسلمة في ماالنج‪ .‬المشرف‪ :‬أ‪.‬‬ ‫فريد نزار الدين ‪ ،‬مونتانا ‪ ،‬لولوك ماسلوشا ‪ ،‬م‪.‬‬ ‫الكلمات المفتاحية‪ :‬معهد األزياء اإلسالمية ‪ ،‬الهندسة اإلسالمية‬ ‫دولة إندونيسيا بلد به أغلبية مسلمة‪ .‬أحد العوامل البارزة للغاية في هذا الوقت هو من حيث المالبس ‪ /‬اللباس الذي يتم ارتداؤه وهو استخدام‬ ‫المالبس اإلسالمية‪ .‬على عكس ما كان عليه الحال قبل الثمانينيات من القرن الماضي عندما كان الناس ما زالوا يخجلون ويخشون من‬ ‫إظهار إسالمهم ‪ ،‬فإن الحماس المتزايد لتنوع المسلمين ‪ ،‬وخاصة في المالبس ‪ ،‬كان له تأثير إيجابي على تطوير منتجات األزياء اإلسالمية‪.‬‬ ‫يؤدي هذا إلى تأثير إيجابي لمصممي األزياء المسلمين ألن المزيد والمزيد من مستخدمي المالبس المسلمين سوف يرتبطون بفرصة زيادة‬ ‫األعمال‪ .‬يوفر اإلسالم عددًا من القيود بحيث يمكن للمسلمين االعتماد على إبداعهم في االبتكار واالستكشاف إلنشاء إبداعات أزياء تتوافق‪.‬‬. ‫الالئحة التنفيذية لوزير رقم ‪ M-IND / PER / 10/2009 / 131‬ءايزألا ةعانص ةعومجم ريوطتل قيرطال ةطيرخ نأشب‪.‬‬ ‫بشأن خريطة السبائك (خريطة الطريق) لتطوير مجموعة صناعة األزياء‪ .‬امتصاص العمالة ‪ ٪ 5.7‬من إجمالي الصادرات ‪.‬الصناعة‬ ‫الوطنية‪ .‬يتمتع قطاع صناعة األزياء بسمعة طيبة من خالل استيعاب ‪ 3.8‬مليون عامل وطني في عام ‪ .2013‬ولتشجيع تحسين صناعة‬ ‫هي مدينة ‪Malang City‬األزياء اإلبداعية ‪ ،‬هناك حاجة إلى دور مهم لتثقيف إنشاء قوة عاملة يمكنها دعم صناعة األزياء اإلسالمية‪.‬‬ ‫تعليمية قادرة على المساهمة ودعم المرافق التعليمية لبرنامج تعليم األزياء ‪ ،‬ولكن هذه المرافق ال تستوعب مجموعة األزياء‪ .‬في إنشاء‬ ‫منشآت تعليمية في مجال األزياء اإلسالمية تكون قادرة على إكمال التحوالت في المالبس اإلسالمية ‪ ،‬وخلق وحدة تنوع احتياجات األزياء‬ ‫اإلسالمية ‪ ،‬هناك حاجة إلى التكامل اإلسالمي كمعلمة‪ .‬التكامل اإلسالمي القادر على تحقيق ودعم برامج تعليم األزياء اإلسالمية التي‬ ‫تتوافق مع الشريعة اإلسالمية ‪ ،‬والتي هي قادرة على تقديم رؤى عالمية ووسائط اتصال وتذكير لمبدعه‪ .‬مع موضوع تصميم الهندسة‬ ‫اإلسالمية ‪ ،‬من بين أمور أخ رى ‪ ،‬للتذكير بالتوحيد واإلبداع واللون والتصميم واألنماط والوحدة‪ .‬لذلك فإن تصميم معهد األزياء المسلم‬ ‫مناسب للغاية باستخدام منهج الهندسة اإلسالمية الذي يمكن أن يبني على قيمته األساسية وهو تطبيق تعبير الفن اإلسالمي في أعمال‬ ‫لكشلا نع ريبعت يه يتلا ةيقلاخلأاو ةيداملا‪.‬الهندسة المعمارية التي تولد نتاجًا للثقافة البدنية واألخالقية التي هي تعبير عن الشكل‪.‬‬. ‫‪xii‬‬.

(13) KATA PENGANTAR. Assalamualaikum Wr. Wb Segala puji bagi Allah SWT karena atas kemurahan Rahmat, Taufiq dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan pengantar penelitian ini sebagai persyaratan pengajuan tugas akhir mahasiswa. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah diutus Allah sebagai penyempurna ahklak di dunia. Penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah berpartisipasi dan bersedia mengulurkan tangan, untuk membantu dalam proses penyusunan laporan seminar tugas akhir ini. Untuk itu iringan do’a dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan, baik kepada pihak-pihak yang telah banyak membantu berupa pikiran, waktu, dukungan, motifasi dan dalam bentuk bantuan lainya demi terselesaikannya laporan ini. Adapun pihak-pihak tersebut antara lain: 1. Prof. Dr. Abd Haris M.Ag, selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. 2. Dr. Sri Harini. M.Si, selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maulana Malik Ibrahim. 3. Tarranita Kusumadewi, M.T, selaku Ketua Jurusan Teknik Arsitektur UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus pembimbing penulis terima kasih atas segala pengarahan dan kebijakan yang diberikan, terimakasih pula atas segala kasih sayang serta motivasi yang terus diberikan dengan tulus kepada panulis. 4. Farid Nazaruddin, M.T, dan Luluk Maslucha, M.Sc, selaku pembimbing 1 yang telah memberikan banyak motivasi, inovasi, bimbingan, arahan serta pengetahuan yang tak ternilai selama masa kuliah terutama dalam proses penyusunan laporan tugas akhir. 5. Seluruh praktisi, dosen dan karyawan Jurusan Teknik Arsitektur UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.. xiii.

(14) 6. Bapak dan ibu penulis , selaku kedua orang tua penulis yang selalu memberikan kasih sayang dan motivasin terbesar dalam hidup, yang senantiasa selalu menjaga dan mendoakan serta mendukung penulis dalam setiap langkah. 7. Keluarga besar baik dari keluarga bapak dan ibuk terimakasih penulis ucapkan karena telah memberikan semangat dan dukungan selalu kepada penulis. 8. Teman-teman Arsitektur angkatan 2014 dan sahabat yang sangat penulis sayangi khususnya kepada Viza Irfa, Vikka Amalia, Najia Salsabila dan Fatihatu Firda terimakasih penulis ucapkan karena selalu ada dan menemani disaat-saat perjuangan penulis, semoga Allah membalas semua kebaikan kalian. 9. Ibu Nyai Hj. Fatimah Yahya dan teman-teman pondok pesantren Salafiyah Hidayatut Tholibin yang telah menemani dan memberikan motivasi, semangat dan dorongan selalu kepada penulis. Penulis menyadari tentunya laporan pengantar penelitian ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik yang konstruktif penulis harapkan dari semua pihak. Akhirnya penulis berharap, semoga laporan pengantar penelitian ini bisa bermanfaat serta dapat menambah wawasan keilmuan, khususnya bagi penulis dan masyarakat pada umumnya.. Wassalamualaikum Wr. Wb. Malang, 19 Desember 2018. xiv.

(15) DAFTAR ISI SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN……………………………………………………………………………..iii HALAMAN PERSETUJUAN……………………………………………………………………………………………………..iv HALAMAN PENGESAHAN………………………………………………………………………………………………………v ABSTRAK.................................................................................................................................... x ABSTRACT…………………………………………………………………………………………………………………………….xi ‫ملخص‬.......................................................................................................................................xii KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………………………………….xiii DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………………………………………..xv DAFTAR GAMBAR………………………………………………………………………………………………………………xviii DAFTAR TABEL……………………………………………………………………………………………………………………..xx BAB I.......................................................................................................................................... 1 PENDAHULUAN ........................................................................................................................ 1 Latar Belakang........................................................................................................... 1 Identifikasi Masalah .................................................................................................. 4 Rumusan Masalah..................................................................................................... 5 Tujuan ....................................................................................................................... 5 Manfaat..................................................................................................................... 5 Batasan – Batasan ..................................................................................................... 6 BAB II......................................................................................................................................... 7 STUDI PUSTAKA ........................................................................................................................ 7 2.1. Definisi Judul ............................................................................................................. 7. 2.1.1. Definisi Institut ...................................................................................................... 7. 2.1.2. Definisi Mode ........................................................................................................ 7. 2.1.3. Pengertian Muslim ................................................................................................ 9. 2.1.4. Pengertian Institut Mode Muslim ......................................................................... 9. 2.2. Teori – teori yang Relevan dengan Obyek .............................................................. 10. 2.2.1. Teori Institut........................................................................................................ 10. 2.2.2. Program Studi Fashion ........................................................................................ 13. 2.3 2.3.1 2.4. Teori yang Relevan dengan Objek .......................................................................... 21 Standar ruang berdasarkan fungsi objek ............................................................ 21 Teori yang Relevan dengan Pendekatan Rancangan .............................................. 37. 2.4.1. Pengertian Geometri Islam ................................................................................. 37. 2.4.2. Penerapan Konsep Pendekatan Geometri Islam ................................................ 38. 2.5 2.6. Aplikasi Tema Pada Objek Rancangan .................................................................... 40 Hubungan Fungsi Bangunan pada Tema Geometri Islam ....................................... 41 xv.

(16) 2.7. Tinjauan Integrasi Islam .......................................................................................... 41. 2.8. Studi banding objek ................................................................................................ 44. 2.9. Studi Banding Tema ................................................................................................ 48. BAB II ……..…………………………………………………………………………………………………………………………. 53 METODE PERANCANGAN ....................................................................................................... 53 3.1. Metode Perancangan.............................................................................................. 53. 3.2. Teknik Pengumpulan data ...................................................................................... 54. 3.3. Teknik Analisa ......................................................................................................... 55. 3.3.1. Analisis faktor Internal dan Eksternal. ................................................................ 55. 3.3.2. Analisa Bentuk..................................................................................................... 56. 3.3.3. Analisa Ruang ...................................................................................................... 57. 3.3.4. Analisis Struktur dan Utilitas ............................................................................... 57. 3.4. Metode Sintesa ....................................................................................................... 57. 3.5. Metode Sintesa ....................................................................................................... 58. BAB IV ……………………………..……………………………………………………………………………………………... 59 ANALISIS PERANCANGAN……..…………………………………………………………………………………………. 59 4.1. Tinjauan Dan Analisis Kawasan ............................................................................... 59. 4.1.1. Gambaran Umum Lokasi Perancangan ............................................................... 59. 4.1.2. Letak geografis .................................................................................................... 59. 4.1.3. Profil Lokasi Tapak .............................................................................................. 59. 4.1.4. Peruntukan Lahan ............................................................................................... 61. 4.1.5. Analisis S.W.O.T .................................................................................................. 62. 4.1.6. Data Fisik ............................................................................................................. 62. 4.1.7. Data Non Fisik ..................................................................................................... 64. 4.2 Analisis Lokasi Tapak ............................................................................................... 65 4.2.1 Kondisi Eksisting Tapak ....................................................................................... 65 4.2.2. Analisis Bentuk Dasar .......................................................................................... 66. 4.2.3. Analisis Klimatologi ............................................................................................. 69. 4.2.4 Analisis view ........................................................................................................ 72 4.2.5 Analisis Aksesbilitas dan Sirkulasi ....................................................................... 73 4.2.6 Analisis Vegetasi……………………………………………………………………………………….…….74 4.2.7 Analisis Kebisingan .............................................................................................. 75 4.3 Analisis Ruang ......................................................................................................... 76 4.3.1 Analisis Fungsi ..................................................................................................... 76 4.3.2 Analisis Aktivitas dan Kebutuhan Ruang………………………………………………………….77 4.3.3 Analisis Pengguna ............................................................................................... 78 xvi.

(17) 4.3.4. Analisis Persyaratan Ruang ................................................................................. 87. 4.3.5. Analisis Besaran Ruang ....................................................................................... 89. 4.3.6. Analisis Hubungan Antar Ruang.......................................................................... 91. 4.3.7. Analisis Zoning..................................................................................................... 96. 4.4 Analisis struktur ...................................................................................................... 97 BAB V ………………………..……………………………………………………………………………………………………..98 KONSEP PERANCANGAN …………………………………………………………………………………………………. 98 5.1 Konsep Dasar .......................................................................................................... 98 5.2. Konsep Tapak ........................................................................................................ 100. 5.3. Konsep Bentuk ...................................................................................................... 101. 5.4. Konsep Ruang........................................................................................................ 102. 5.5. Konsep Struktur……………………………………………………………………………………………….. 103. 5.6. Konsep Utilitas…………………………………………………………………………………………………. 104. BAB VI .................................................................................................................................. 106 HASIL PERANCANGAN…………………………………………………………………………………………………….. 106 6.1 Dasar Perancangan….....…………………………………………………………………………………… 106 6.2 Hasil Perancangan Kawasan…......……………………………………………………………………. 108 6.3 Pola Penataan Masa.....…………………………………………………………………………………… 108 6.3.1 Aksesbilitas dan Sirkulasi.......………………………………………………………………………….. 108 6.4 Hasil Rancangan Ruang dan Bangunan...........…………………………………………………..109 6.4.1 Bangunan Utama.... ………………………………………………………………………………………….110 6.5 Hasil Rancangan Eksterior dan Interior….........………………………………………………...119 6.5.1 Eksterior...………………………………………………………………………………………………………..119 6.5.2 Interior...…………………………………………………………………………………………………………..121 6.6 Detail..………………………………………………………………………………………………………………124 6.7 Detail Lansekap… ….………………………………………………………………………………………….125 6.8 Detail Utilitas Kawasan…... ………………………………………………………………………………126 6.8.1 Air Bersih, Air Kotor…...…………………………………………………………………………………….126 6.8.2 Listrik...……………………………………………………………………………………………………………..127 6.8.3 Limbah.…………………………………………………………………………………………………………….128 BAB VII ……………………………………………………………………………………………………………………….129 KESIMPULAN………………………………………………………………………………………………………………129 7.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………………………………...129 7.2 Saran..………………………………………………………………………………………………………………130 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………………………..131 LAMPIRAN …………………………………………………………………………………………………………….......133. xvii.

(18) DAFTAR GAMBAR Gambar 2 .1 Meja…………………………………………………………………………………………………….21 Gambar 2.2 Aktivitas Kelas Design ................................................................................. 21 Gambar 2.3 Ruang Kelas Studio ........................................................................................ 22 Gambar 2.4 : Detail meja gambar .................................................................................... 23 Gambar 2.5 : Lemari dengan meja gambar..................................................................... 23 Gambar 2.6: Tingkat rasio iluminasi kelas………………………………………………………………23 .. Gambar 2.7 : Penetapan luminer pada meja kelas........................................................ 24 Gambar 2.8 : Denah workshop………………………………………………………………………………..24 Gambar 2.9 : Aktifitas workshop ...................................................................................... 25 Gambar 2.10 : mesin jahit……………………………………………………………………………………….25 Gambar 2.11 : mesin setrika ............................................................................................. 26 Gambar 2.12 : kelas jahit…………………………………………………………………………………………26 Gambar 2.13 : Aktivitas kelas jahit .................................................................................. 26 Gambar 2.14 :kelas dengan perabot ……………………………………………………………………….27 Gambar 2.15 : kelas dengan perabot ............................................................................... 27 Gambar 2.16 : ruang makeup…………………………………………………………………………………..29 Gambar 2.17: Make up room ............................................................................................. 29 Gambar 2.18 : Studio Photography………………………………………………………………………….29 Gambar 2.19: Studio Photography .................................................................................... 29 Gambar 2.20 :Teknik Broad Lighting ................................................................................ 30 Gambar 2.21 : Teknik Short Lighting ................................................................................ 30 Gambar 2.22: teknik butterflyt lightin............................................................................. 31 Gambar 2.23 : Teknik Rembrandt lighting ...................................................................... 31 Gambar 2.24 : panggung procedium................................................................................. 32 Gambar 2.25 : panggung terbuka...................................................................................... 32 Gambar 2.26 : panggug arena Sumber ............................................................................ 33 Gambar 2.27 : Jarak pergerakan………………………………………………………………………………34 Gambar 2.28: lighting fitting room ................................................................................... 34 Gambar 2.29: fitting room……………………………………………………………………………………….34. xviii xviii xviii.

(19) Gambar 2.30 : perspektif fitting room ............................................................................ 34 Gambar 2.31 : fitting room………………………………………………………………………………………34 Gambar 2.32: Fitting room…………………………………………………………………………………….. 34 Gambar 2.33 : Showroom………………………………………………………………………………………….35 Gambar 2.35 : Jarak pandang ............................................................................................ 36 Gambar 2.36 : Tata guna lahan ......................................................................................... 48 Gambar 2.37 : Zona vertikal dan horizontal Bangunan ................................................ 49. xix.

(20) DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Program Studi Institut Mode Muslim ............................................................... 14 Tabel 2.2 Mata Kuliah Program fashion Design............................................................... 16 Tabel 2.3 Mata Kuliah Program Fashion Bussines ........................................................... 18 Tabel 2.4 : Klasifikasi Intensitas Pencahayaan ruang Pendidikan ............................... 24 Tabel 2.5 Aplikasi Tema pada Objek ................................................................................ 40 Tabel 2.6 Hubungan Fungsi Bangunan pada Tema ......................................................... 41 Tabel 2.7 Program Studi Islamic Fashion Institute......................................................... 44 Tabel 2.8 Analisis Kajian Arsitektural .............................................................................. 46 Tabel 2.9 Program Studi PS PRO Malang .......................................................................... 47 Tabel 2.10 Analisis Kajian Arsitektural ............................................................................ 47 Tabel 2.11 Komparasi anatar Kampung Seni Islam dengan Geometri Islam.............. 52. Tabel 3.1 Tipologi geometri ............................................................................................... 53 Tabel 3.2 Teknik Pengumpulan Data Primer ................................................................... 54 Tabel 3.3 Teknik Pengumpulan Data Sekunder .............................................................. 55 Tabel 3.4 Analisis Konsisi Faktor Internal ........................................................................ 56 Tabel 3.5 Analisis Faktor Eksternal................................................................................... 56 Tabel 3.6 Analisis S.W.O.T ................................................................................................. 62. Tabel 4.1 Analisis Aktivitas dan Kebutuhan Ruang......................................................... 77 Tabel 4.2 Penanggung Jawab dan Pengelola Institut Mode Muslim ............................ 79 Tabel 4.3 Analisis Pengguna ............................................................................................... 80 Tabel 4.4 Analisis Kebutuhan Ruang Makro ..................................................................... 87 Tabel 4.5 Analisis Kebutuhan Persyaratan Ruang........................................................... 87 Tabel 4.6 Analisis Besaran Ruang ...................................................................................... 89. xx.

(21) BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Pakaian merupakan salah satu kebutuhan primer manusia yang paling mendasar, pada mulanya pakaian/busana hanya dikenakan sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai penutup tubuh. manusia.. Kebutuhan yang. secara. fungsional inilah. yang. membuat. fungsi. pakaian/busana hanya dikenakan sesuai dengan kebutuhannya. Pakaian/busana pada negara yang bermusim dingin akan berbeda dengan pakaian/busana yang bermusim panas, demikian pula dengan gaya berpakaian akan berubah sesuai dengan iklim, agama dan budaya. Negara Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis dan memiliki warga negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Salah satu faktor yang sangat menonjol adalah dalam hal berpakaian/berbusana yang dikenakan yaitu pemakaian busana Muslim. Busana Muslim yang kerap dibutuhkan bagi masyarakat Muslim, dalam ajaran Islam tidak ada aturan khusus tentang gaya atau model busana. Namun Islam memberikan sejumlah batasan sehingga umat Islam mampu mengandalkan kreativitas mereka untuk berinovasi dan bereksplorasi untuk menciptakan kreasi busana yang sesuai dengan syariat, yakni dapat menutupi seluruh anggota tubuhnya. Salah satu prinsip dasar misalnya, jika Muslimah mengenakan kerudung hendaknya ia menjulurkannya kedepan sehingga ujungnya dapat menutupi bagian leher(Fakhruroji 2015). Demikian dengan busana Muslim laki-laki atasan yang biasa dipakai ditambah dengan celana panjang sebagai bawahan, namun bagi perempuan haruslah menutup auratnya yakni seluruh tubuh wanita, dari rambut sampai kakinya, kecuali wajah dan telapak tangan (Siauw Felix Y., 2013) Busana Muslim tidak hanya sebagai pakaian persyaratan dan kebutuhan utama bagi manusia, namun sebagai penutup aurat juga merupakan perhiasan yang menampakkan keindahan sehingga menjadi kreativitas bagi penggunanya, inspirasi bagi para perancang busana Muslim serta yang melandasi para fashion design dalam merancang busana Muslim ialah perintah Allah dalam Q.S Al-A’raf (7) ayat 26 :‘’ Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan dan pakaian takwa [531] dan itulah yang paliing baik, yang demikian itu adalah sebagain dari tanda-tanda kekuasaan Allah’’. Dengan melihat ayat Q.S Al-A’raf ayat 26 menegaskan kembali membuat manusia semakin sadar akan perintah dalam menutup auratnya, karena dalam agama Islam menutup. 1.

(22) aurat adalah sebuah perhiasan yang indah dan perintah bagi setiap muslim. Hal inilah yang memicu salah satu implikasi positif bagi para perancang busana Muslim sebab semakin banyak pengguna busana Muslim akan berkorelasi dengan peluang peningkatan usaha mereka, terlepas dari motivasi mereka apakah untuk berwirausaha murni atau untuk syiar. ‘’Katakanlah kepada para perempuan yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah menampakkan perhisannya (auratnya), kecuali yang biasa nampak dari padanya dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung hingga batas dadanya.’’ (QS. An-Nur 24:31). Telah disebutkan dalam at-quran prinsip pakaian Muslim dalam Islam khususnya bagi perempuan menutup hijabnya samapi batas dada dan tidak berlebih-lebihan dalam berhias. Dalam Tafsir Ibn Katsir. Imam Ibn Katsir menjelaskan perihal ayat diatas : ‘’Dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka.’’ (QS. An-Nur 24:31) Orang-orang yang disebutkan dalam ayat diatas adalah mahram bagi perempuan dan dihalalkan untuk menampakkan perhiasan dihadapan mereka dengan syarat tidak bersolek (tabarruj) dan berpenampilan seronok. Menurut Prof. Muhammad Ali Al-Saays didalam kitab Tafsir Ayat Al-Ahkam menyatakan wanita Muslimah diperbolehkan menampakkan sebagian perhiasannya kepada wanita kafir sebagaimana diperbolehkan dihadapan wanita Muslimah. Hal ini merupakan salah satu dari kedua pendapat dari kalangan Mahzab Hnafi dan Mahdzab Syafi’i. Imam AlGhazali membenarkan pendapat ini dari ulama Syafi’yyah dan Imam Abu Bakar Ibn Al-Arabi (Siauw Felix Y., 2013). Faktor yang saat ini mendukung perkembangan fashion Muslim menjadi hal yang cukup populer di masyarakat, hal ini karena beberapa faktor salah satunya adalah karena adanya tekanan media informasi tentang fashion. Muslim. Maraknya media informasi. memunculkan model hijab tersendiri, (Latifah n.d., 2015). Busana Muslim menjadi trend terutama bagi perempuan yang memakai hijab mulai mencapai prestise tertentu yang mengkomunikasikan hasrat menjadi menjadi Muslim modern, sehingga gaya berpakaian seseorang menunjukkan adanya identifikasi seseorang (representasi) atas busana Muslim untuk membedakan identitas dan nilai prestisius seseorang dibentuk dan ditampilkan (Wulandari, 2013). Tanpa sadar trend/popularitas busana Muslim yang terjadi di masyarakat. 2.

(23) telah menjadikan manusia modern terjerat dan terjebak dalam budaya konsumeris, yang lebih menekankan pada fungsi dan utilitas komoditas yang dikonsumsi yang mana menuntut agama disebut komodifikasi. Seperti yang dikatakan oleh Taylor yang menjadi rujukan Asad bahwa kondisi sekuler dalam dunia modern terikat dengan agama ini setidaknya terbagi dalam tiga karakter. Karakter sekurelitas yang pertama tampak dalam wujud instusi dan prektik sosial atau jug adikenal dengan team ruang publik. kondisi sekuler kedua dicirikan dengan merosotnya keyakinan dan praktik agama. Karakter sekuler ketiga yaitu terkait dengan kondisi keyakinan masyarakat modern. Berangkat dari ketiga karakter sekularitas setidaknya telah menggambarkan sebagian persoalan yang terjadi dalam masa-masa perubahan gaya busana Muslim sekarang. Gaya busana Muslim yang terjebak dan terbelenggu diantara pemenuhan akan kebutuhan dan gaya hidup. Kemudian mereka lupa makna sebenarnya dibalik keputusan berbusana Muslim dan memakai hijab lalu terlena dalam dalam penyimpangan-penyimpangan yang tidak mereka sadari terlah tersesat didalamnya. Secara tidak langsung sebenarnya manusia sendiri yang memunculkan pergeseran-pergeseran sebagai bagian dari ketidaksiapan dalam menerima sebuah perubahan. Disinilah peran Institut Mode Muslim dibutuhkan sebagai sarana bagi para masyarakat yang ingin belajar seni desain busana Muslim, yang memberikan pelayanan edukasi sesuai dengan syariat agama Islam bagi masyarakat Muslim. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 131/M-IND/PER/10/2009 tentang Peta Paduan (Road Map) Perkembangan Klaster Industri Fashion. Penyerapan tenaga kerja 5.7% dari total ekspor nasional. Subsector industry fashion memiliki kinta baik dengan menyerap 3,8 juta tenaga kerja nasional pada tahun 2013. Dalam mendorong peningkatan industri kreatif fashion dibutuhkan peran penting untuk mengedukasi menciptakan tenaga kerja yang dapat mendukung Industri fashion Muslim. Kota Malang merupakan kota pendidikan yang mampu memberikan kontribusi serta mendukung sarana edukasi dari program Institut Mode Muslim, didukung dengan adanya 60 lebih perguruan tinggi di Kota Malang. Dari beberapa sarana pendidikan di Kota Malang yang ada hanya sebagian perguruan tinggi menyediakan jurusan tata busana dengan kapasitas terbatas. Pada tahun 2016 jumlah peminat jurusan tata busan di Universitas Negeri Malang sebanyak 563 0rang dengan daya tampung 23 orang (http://www.e-sbmptn.com) Kota Malang adalah kota terbesar setelah kota Surabaya yang angka penduduk muslimnya 2.346.25 jiwa dengan angka pendudukan muslim 165.568 jiwa (Adji k.n, 2010). Banyaknya penduduk Muslim di kota Malang membuat kebutuhan busana Muslim semakin. 3.

(24) meningkat dengan minat yang sangat tinggi, menjadikan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi masyarakat Muslim untuk tampil dalam kesehariannya dengan busana Muslim. Meningkatnya trend busana Muslim Kota Malang terus semakin popular dikalangan masyarakat, hal ini dikarenakan maraknya populasi beberapa kalangan remaja hijabers Malang yang mulai digemari masyarakat Kota Malang. Beberapa isu busana Muslim serta potensi yang dimiliki Kota Malang, dan didukungnya dengan beberapa program masyarakat Kota Malang dibidang fashion Muslim. Maka dibutuhkan sarana edukasi perancangan busana Muslim sebagai penyeimbang budaya konsumeris masyarakat Kota Malang. Serta sebagai tempat dalam mengasah bakat seni desain busana Muslim, sehingga busana yang dirancang mampu membuat Muslim lainya menutup auratnya secara syariah. Dalam menciptakan sarana edukasi dibidang fashion Muslim yang mampu menyelesaikan pergeseran busana Muslim, dan menciptakan kesatuan dari keberagaman kebutuhan fashion Muslim maka dibutuhkan integrasi keIslaman sebagai parameternya. Integrasi keIslaman yang mampu mewujudkan serta mendukung program edukasi fashion Muslim yang susai dengan syariat Islam, yang mampu mempresentasikan wawasan semesta serta media komunikasi dan pengingat kepada penciptaNya. Mewujudkan sarana edukasi fashion Muslim yang berbasis keIslaman bukanlah tugas yang mudah, terutama dalam menggabungkan seni ekspresi Fashion dan keIslaman. Diperlukan pendekatan khusus yang mampu menggali serta menggabungkan semua potensi yang ada. Juga dalam berorientasi pada ketauhidtan, kearifan, serta kreativitas. Maka sesuai dengan prinsip geometri Islam diantaranya sebagai pengingat tauhid, kreativitas, warna, tataletak, pola dan unity. Maka perancangan Institut Mode Muslim sangat sesuai menggunakan pendekatan geometri Islam yang dapat membangun pada nilai dasarnya adalah penerapan ekspresi seni Islam dalam karya Arsitektur yang melahirkan suatu produk budaya fisik dan moral yang merupakan ekspresi bentuk.. Identifikasi Masalah 1. Adanya kebutuhan masyarakat Muslim dalam busana Muslim yang dipadukan pada kreativitas perancang busana belum sesuai dengan syariat. 2. Kurangnya pemicu implikasi positif para perancang dalam berwirausaha dan syiar. 3. Kurangnya tempat edukasi fashion Muslim yang mengajarkan sesuai dengan kaidah keIslaman. 4. Perkembangan busana Muslim memunculkan pergeseran dan penyimpangan pada makna dari berbusana Muslim. 5. Kurangnya fasilitas yang benar-benar mewadahi bagi para calon desainer yang ingin belajar seni desain mode Muslim.. 4.

(25) 6. Banyaknya penduduk Muslim di kota Malang yang membutuhkan busana Muslim dalam kesehariannya.. Rumusan Masalah 1. Bagaimana rancangan Institut Mode Muslim di kota Malang ini menjadi sarana edukatif dan entertainment yang mewujudkan rasa kecintaan dalam memahami budaya berbusana dan mode dalam keIslaman ? 2. Bagaimana rancangan Institut Mode Muslim di Malang dengan menerapkan tema geometri Islam ?. Tujuan 1. Menghasilkan rancangan Institut Mode Muslim sebagai pengembang fashion Muslim yang berorientasi pada budaya keIslaman. 2. Menghasilkan rancangan Institut Mode Muslim di kota Malang dengan penerapan tema geometri Islam.. Manfaat Institut Mode Muslim di Kota Malang memiliki fungsi : ➢. Pemerintah Institut Mode Muslim sangat memberikan manfaat bagi pemerintah kota Malang, hal. ini dikarenakan para desainer mempu mengangkat ekonomi dan profil kota Malang. Hal ini menjadikan kota Malang sebagai sorototan konsumen-konsumen besar yang melihat kota Malang sebagai produser serta pemasuk fashion terbesar dan terlengkap. ➢. Masyarakat pengguna Kota Malang menjadi pusat yang memberikan pelayanan serta wadah bagi. masyarakat. yang. ingin. menempuh. pendidikan. Instutut. Mode. Muslim,. serta. mempermudah fashion Muslim yang memberikan fasilitas serta kelengkapan sehingga Pusat Pengembangan fashion Muslim terbesar dan terlengkap yang memberikan fungsi kepada masyarakat. ➢. Masyarakat sekitar Perancangan Institut Mode Muslim Malang menjadikan edukasi fashion Muslim. terbesar yang memberikan layanan kepada semua lapisan masyarakat baik jasa perancangan maupun pemesanan dibidang sandang yang tetap menjaga nilai-nilai keIslamannya.. 5.

(26) Batasan – Batasan Perancangan Institut Mode Muslim memiliki batasan-batasan : ➢. Batasan Obyek •. Obyek bahasan adalah Institut Mode Muslim yang melatih secara edukatif bagi para peminat seni desain busana Muslim yang diperuntukkan untuk Muslim dengan pelayanan fasilitas-fasilitas yang mendukung dalam proses edukasi.. •. Penerapan konsep geometri Islam pada obyek perancangan Institut Mode Muslim baik secara fisik maupun non fisik dengan nilai-nilai keIslaman pada setiap rancangannya.. •. Fungsi obyek. Institut. Mode Muslim. mewadahi fungsi. edukasi. dan. memfokuskan pada edukasi dan entertainment. •. Obyek perancangan Institut Mode Muslim berada di kota Malang provinsi Jawa timur.. • ➢. Skala layanan swasta terbuka untuk segala kalangan Muslim.. Batasan subyek Pengembangan Institut Mode Muslim yang fungsi utamanya diperuntukkan masyarkat. Muslim baik remaja (15-21 Tahun), maupun dewasa (22-50 Tahun) yang ingin mengembangkan bakatnya dibidang seni desain. Pada fungsi penunjangnya dapat dinikmati oleh semua masyarakat yang membutuhkan jasa dibidang fashion. ➢. Pendekatan Pendekatan yang akan diterapkan adalah geometri Islam yang akan diambil dari nilai-. nilai geometri Islam yang diterapkan pada perancangan Institut Mode Muslim. Dalam perancangan objek Institut Mode Muslim ini dilakukan pendekatan perancangan yang kompleks dalam gaya arsitektur Islam, mempunyai keterkaitan khas dengan kreativitas, warna, tataletak, pola dan unity yang menjadi prinsip-prinsip dari geometri Islam. Dari prinsip-prinsip tersebut memberikan kontribusi terhadap perancangan Institut Mode Muslim yang berprinsip Islam, sehingga keseimbangan dalam pemanfaatan dan pengembalian kondisi alam dapat terjag, dan nilai dasar dari prinsip-prinsip tersebut lebih memaksimalkan pengaplikasiannya.. 6.

(27) BAB II STUDI PUSTAKA 2.1. Definisi Judul. Pada perancangan arsitektur yang berjudul “Perancangan Institut Mode Muslim di Kota Malang Pendekatan Arsitektur Geometri Islam ”, dari judul yang didefinisikan setiap kata yakni :. 2.1.1 Definisi Institut Institut merupakan kelembagaan perguruan tinggi yang mempunyai program studi dengan keilmuan sejenis. misalnya institut pertanian memiliki program studi pertanian, institut teknologi mengajarkan berbagai ilmu yang berhubungan dengan teknik. Institut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik atau vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi, (KBBI, 2010).. 2.1.2 Definisi Mode Secara etimologi mode merupakan bentuk nomina yang bermakna ragam cara atau bentuk terbaru pada suatu waktu tertentu (tata pakaian, potongan rambut, corak hiasan, dan sebagainya. Gaya yang dapat berubah dengan cepat, (Ebta Setiawan, 2012). Mode merupakan suatu penanda dari perubahan gaya hidup pada suatu periode, yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan sejarah kehidupan, budaya manusia, dan kemajuan teknologi yang semakin cepat. Mode adalah salah satu yang menjadi perubahan sekaligus menentang keberadaan yang lalu dan menuju kepeloporan buan pengikut, (Serviewrght, 2017:160). Dengan demikian mode mengedepankan pemahaman tentang suatu yang baru dengan semangat besar secara terus menerus. Fenomena ini menampilan berbagai ungkapan semangat, menyuguhan pola perubahan tanpa henti suatu penampilan siluet. Mode secara terus menerus mencari pembaruan arena fokus pada perubahan. Kecepatan dari perubahan ini menurut desainer untuk selalu kreatif dan mampu bertahan pada tekanan situasi tertentu. Pholmeus dan Procter juga menunjukkan bahwa dalam masyarakat kontemporer barat, istilah fashion kerap digunankan sinonim dari istilah dandanan gaya dan busana sedangan Malcom Barnard melihat fashion sebagai komunikasi. Penulusuran dalam kata dalam kata busana sebagai kata kerja dirumuskan dalam arti,membusanai diri, tetapi juga berdandan. 7.

(28) dan mengenakan perhiasan. Jadi meski semua pakaian disebut busana, tidak semua dandanan disebut fashionable oleh karena itu mode dan pakaian merupakan cara yang paling signifikan yang dapat dipakai dalam mengkonstruksi, mengalami dan memahami relasasi sosial. Selain itu terdapat pemahaman mengenai arti mode fashion menurut asal kata dan penelusuran perubahan maknanya, antara lain : Mode berasal dari bahasa latin, ‘’modus’’ berarti gaya yang berlaku secara umum dalam hal berpakaian atau berperilaku. Istilah tersebut juga diserap oleh bahasa Belanda ‘’modus’’ yang mengacu pada benda produk. Fashion yang merupakan istilah bahasa Inggris dapat berarti busana atau pakaian (Peter,1987) dan berbicara tentang pakaian adalah berbicara mengenai sesuatu yang sangat dekat dengan diri manusia, seperti yang dikutp Idhi Subandhi (peneliti media dan kebudayaan pop dalam pengantar buku Malcolm Barnard, fashion dan komunikasi, 2007). Fashion adalah kombinasi atau perpaduan dari gaya yang diciptakan untuk menuju pada keindahan sehingga menciptakan kenyamanan yang digemari oleh pengguna. Dalam perpaduan gaya berarti menciptakan sebuah karakter pada penampilan baik pada pemilihan bahan atau desain yang bisa menjadi simbolis ciri khasa dan keunikan. (Mulyana, 2001:28) Menurut Solomon dalam bukunya ‘Cosumer Behaviour’: Eroupean perspective’, Fashion adalah suatu gaya baru dengan proses penyebaran sosial yang dianut oleh suatu kelompok. Atau gaya yang mengacu pada proses kombinasi yang telah dievaluasi secara positif. Menurut Jean Baudrillard fashion adalah dalam satu pengertian, tahapan dari komoditas ‘’dengan percepatan dan perkembangan pesan, informasi, tanda dan model, maka fashion sebagai lingkaran total dan dunia komoditas linier akan selesai’’. (Ritzer,2006) Malcom Barnard dalam bukunya Fashion sebagai komunikasi, mengacu pada Oxford English Dictionary (OED) ‘’ Etimologi kata ini menganut pada Bahasa latin, Fatio yang artinya membuat ‘’. Karena itu fashion adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang yang dipakai atau dikenakan. Menurut Troxell dan Stone dalam bukunya Fashion Merchandising, fashion didefinisikan sebagai gaya yang diterima dan di gunakan oleh mayoritas anggota kelompok dalam satu waktu tertentu. Dari definisi tersebut dapat terlihat bahwa fashion erat kaitannya dengan gaya yang di gemari, kepribadian seseorang, dan rentang waktu. Maka bisa dimengerti mengapa sebuah gaya yang di gemari bulan ini bissa dikatakan ketinggalan jaman beberapa bulan kemudian.. 8.

(29) Dalam perkembangannya, istilah fashion di Indonesia diubah menjadi fesyen. Namun berdasarkan kesepakatan antara para praktisi, akademisi dan pemerhati subsektor ini, penggunaan istilah istilah fesyen diganti menjadi mode. Istilah mode ini tidak hanya berarti pakaian dan perlengkapannya, tetapi juga berpakaian atau berperilaku. Mode merupakan salah satu subsektor dalam ekonomi kreatif dan merupaka salah satu industri kreatif yang memberikan kontribusi ekonomi yang besar bagi Indonesia. Istilah mode mengacu pada aktivitas industri.. 2.1.3 Pengertian Muslim Muslim secara etimologi merupakan bentuk fa’il (subyek / pelaku) dari kata kerja aslama-yuslimu-Islaman. Karena hanya sebagai subyek dari perbuatan Islam maka pengertiannya tergantung pada pengertian Islam itu sendiri. Apabila kata Islam secara bahasa berarti damai, menyerah, patuh, selamat, sejahterah dansebagainya. Muslimpun secara bahasa berarti orang yang damai, orang yang menyerah, orang yang oatuh, orang yang selamat, orang yang sejahterah dan sebagainya (Djambani, 1992) Dalam istilah Islam memiliki dua arti, arti luas dan arti sempit. Dalam arti luas, Islam adalah agama wahyu yang diturunan untuk seluruh nabi sejak adam sampai Muhammad. Sedangkan dalam arti sempit, Islam adalah agama yang diturunan untu seluruh umat manusia sampai hari kiamat melalui nabi Muhammad. Dengan demkian, pengertian muslim secara bahasa mempunya arti luas dan sempit. Dalam arti luas muslim adalah orang yang memeluk agama yang diturunan kepada seluruh nabi. Dan dalam arti sempit muslim adalah orang yang memeluk agama yang diturunan epada nabi Muhammad.. 2.1.4 Pengertian Institut Mode Muslim Berdasarkan definisi dari tiap-tiap kata judul diatas, maka dapat disimpulkan ‘’Perancangan Institut Mode Muslim di Kota Malang Pendekatan Arsitektur Geometri Islam’’ adalah sebuah tempat sarana edukasi yang memfokuskan sebagai tempat belajar seni desain busana Muslim. Dengan strategi dan metode pembelajaran secara khusus yang memudahkan memahamkan pelajar dalam proses belajar. Suatu masalah yang sedang dihadapi oleh pendidikan Islam masa kini adalah tentang persoalan dikotomi ilmu umum yang menekuni suatu bidang tertentu, Institut Mode Muslim memberikan pengajaran ilmu dibidang mode Muslim yang melihat pada aspek akhlaq dan teknisnya. Perancangan Institut Mode Muslim di rancang di Kota Malang dengan faktor kebutuhan masyarakat Muslim Malang sebagai tempat belajar seni desain busana Muslim, yang memiliki. 9.

(30) fungsi edutaiment yaitu edukasi dan entertaiment sebagai fungsi sekunder. Sehingga pelajar dapat secara mudah belajar dengan nyaman.. 2.2 Teori – teori yang Relevan dengan Obyek 2.2.1 Teori Institut Pada teori Institut Mode Muslim memiliki beberapa persyaratan pendirian serta metode dalam proses belajar mengajar. Institut adalah Perguruan tinggi yang menyelenggarakan jenis pendidikan akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi atau profesi dalam jumlah rumpun ilmu pengetahuan teknologi tertentu, melalui :. ➢. -. Program sarjana. -. Program magister. -. Program doctor. -. Program diploma. -. Program diploma empat tau sarjana terapan. -. Program magister terapan. -. Program doctor terapan. -. Program profesi. Persyaratan pendirian Institut berdasarkan RISTEKDIKTI : a. Surat usul pendirian yang disusun oleh badan penyelenggara dari Institut yang akan didirkan dialamatkan kepada Direktur Jendral Kelembagaan Iptek dan Dikti . b. Akta Notaris Pendirian Badan Penyelenggaraan dari yang akan didirikan beserta semua perubahan yang telah dilakuan. c. Surat Keputusan dari pihak yang berwenang tentang pengesahan badan Penyelenggara sebagai badan hukum dari Institut yang akan didirikan. d. Memenuhi syarat minimum akreditasi prodi dan perguruan tinggi sesuai standar nasional pendidikan tinggi. e.. Program diploma yang akan dibuka di Institut menyelenggarakan prodi sebidang dengan institut yang berdomisili di dalam kota atau kabupaten.. f.. Kurikulum disusun berdasarkan kompetensi lulusan standar nasional.. g. Dosen (pengajar) paling sedikit berjumlah 6 (enam) orang untuk setiap program studi pada program diploma. Kecuali ditentukan oleh perundangundangan, dengan kualifikasi : -. Paling rendah beijazah megister atau megister terapan atau spesialis I. -. Berusia paling tinggi 58 (lima puluh delapan) tahun pada saat diterima.. 10.

(31) -. Bersedia bekerja penuh waktu sebagai dosesn tetap selama 40 jam/minggu.. -. Belum memiliki nomor Induk Dosen Nasional atau Nomnor Induk Dose Khusus.. -. Buikan guru yang telah memiliki nomor urut pendidik dan tenaga kependidikan/pegawai tetap pada satuan administrasi pangkal instansi lain. -. Bukan pegawai negeri sipil/aparatur sipil negara.. h. Organisasi dan tatakerja memiliki tiga unsur : -. Penyususn kebijakan. -. Pelaksana akademik. -. Pengawas dan penjaminan mutu. -. Penunjang akademik. -. Pelaksana administrasi atau tata usaha DIREKTUR. WAKIL DIREKTUR. SEKERTARIS KEPALA MANAGER. BIDANG AKADEMIK BID. KEAHLIAN. KEPALA LAB. BIDANG SUMBERDAY ADMINISTRASI. CO. PERPUS. SAFETY OFFICER. STUDENT. i.. Sertifikasi stastus lahan atas nama badan penyelenggara Institut yang akan didirikan atau perjanjian sewa menyewa lahan. Lahan untuk Institut yang akan didirikan berada dalam sati lokasi memiliki luas paling sedikit 8.000 m 2.. j.. Menyediakan sarana prasarana terdiri atas : - Ruang kuliah paling sedikit 0,5 m2/ mahasiswa - Ruang dosen tetap paling sedikit 4 m2/ orang - Ruang administrasi dan kantor paling sedikit 4 m2/ orang - Ruang perpustakaan pamling sedikit 200 m 2 termasuk ruang baca yang harus dikembangkan dan dipertimbangkan sesuai jumlah mahasiswa - memiliki koleksi ruang dan sarana praktikum sesuai program studi.. 11.

(32) ➢. Prosedur Pendirian Institut a. Badan penyelenggara yang akan mendirikan Institut meminta rekomendasi L2 Dikti di wilayah akan didirikan. Dalam hal L2 Dikti belum terbentuk di wilayah dimana Institut akan didirikan, maka tugas dan fungsinya masih dijalankan oleh Kopertis wilayah tersebut. b. Badan Penyelenggara yang akan mendirikan Institut menyiapkan dan menyusun dokumen sesuai persyaratan. c. Direktur Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti menugaskan Tim Evaluator untuk melakukan evaluasi dan verifikasi dokumen secara digital. d. Tim. Evaluator. pendirian. dapat. Inatitut. memberikan. oleh. pengusul. rekomendasi pada. waktu. untuk presentasi usul yang. diberitahukan. secara online oleh Direktorat Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti. Presentasi usul pendirian Institut lakukan oleh Ketua Pengurus Badan Penyelenggara (tidak dapat diwakilkan) didampingi oleh para anggota Pengurus lainnya di hadapan Tim Evaluator, dengan susunan acara sebagai berikut: -. Pembukaan oleh Tim Evaluator. -. Presentasi ringkasan Studi. Kelayakan. oleh Ketua. Pengurus. Badan. Penyelenggara disajikan dalam bentuk slide presentasi ➢. Diskusi dan tanya jawab dengan Tim Evaluator.. Struktur Pembelajaran Berbasis Produksi Melalui Media Sumber Belajar dan Kontekstual. Program pembelajaran yang disusun dari komponen sumber belajar, pengembangan. sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua yaitu, yang pertama sumber belajar yang dirancang atau secara sengaja dibuat atau dipergunakan untuk membantu belajar/mengajar (by design), yang kedua sumber belajar yang tergelar di lingkungan sekitar yaitu sumber yang dapat dimanfaatkan, dipakai tanpa dirancang untk kegiatan instruksional tertentu. Tujuan yang diharapkan dari struktur pembelajaran berbasis produksi melalui media sumber belajar dan kontekstual adalah dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam mengembangkan dan menemukan sumber-sumber yang relevan dan kontestual yang dapat merangsang ide dalam pembelajaran dan latihan desain busana dan memberikan pelatihan kepada siswa untuk mengoptimalkan dalam memperoleh pengetahuan dalam pencapaian kompetensi yang diharapkan. Mempersiapkan lulusan kreatif yang dapat memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar efektif.. 12.

(33) ➢. Metode Pembelajaran a. Demonstrasi Metode pembelajaran dengan komunikasi langsung dan memberikan informasi dari. pengajar kepada siswa. Demonstrasi melibatkan pendekatan visual untuk menguji proses, informasi, ide-ide. Salah satu cara dengan mendemonstrasi kegiatan tertentu atau kegiatan awal yang meminta pelajar melakukan secara individual. Demonstrasi dapat digunakan untuk menampilkan ilustrasi atau prosedur dengan efisien, mendorong minat pelajar dalam topik tertentu, menyiapkan contoh untuk mengajar keterampilan-keterampilan khusus. Dan menyiapkan perubahan-perubahan langkah. Untuk mencapai demonstrasi efektif, guru harus merencanakan demonstrasi dengan cermat, mempraktikkan. demonstrasi,. mengembangkan. suatu. panduan. untuk. membimbing. demonstrasi, meyakinkan pelajar. b. Diskusi Diskusi merupakan suatu percakapan dengan beberapa orang dengan tujuan tertentu. Diskusi kelas ini memerlukan banyak keterampilan-keterampilan dan praktik. Apabila pengajar menyelenggarakan diskusi kelas, maka pengajar haruslah memusatkan secara jelas arah diskusi tersebut secara cermat. Dalam proses diskusi kelas perlu dipastikan pelajar memiliki tujuan kognitif maupun efektif. Pada domain kognitif, diskusi dapat meningkatkan pelajar untuk menganalisa ideide dan fakta-fakta dari suatu materi yang dikaji. Pada domainn efektif, diskusi dapat meningkatkan kemampuan pelajar menguji pendapatnya, berinteraksi dengan teman dan mengevaluasi ide-ide teman lain, serta untuk mengembangkan keterampilan mendengarkan dengan baik.. 2.2.2 Program Studi Fashion Rencana program studi adalah rencana yang berisi tentang rencana kegiatan penerapan kurikulum yang mendukung perkembangan dan belajar siswa secara holistik-integratif secara Iangsung maupun tidak langsung. program kerja dalam kurikulum berhubungan dengan kegiatan pembelajaran dan kegiatan penunjang pembelajaran yang sudah ditentukan dalam kalender akademik. program yang ditentukan lembaga untuk pengembangan dan penguatan kelembagaan misalnya peningkatan kapasitas pengajar, pembangunan gedung sekolah dan pengadaan alat peraga edukasi. Kurikulum program sarjana desain mode disusun agar siswa dapat mengekspresikan sisi kreatif mereka dalam semua aspek desain mode, termasuk membuat sketsa, mengeksplorasi ide dan menuangkannya dalam bentuk desain yang komersial, mengerti tekhnik dan metode konstruksi garmen yang benar, aplikasi computer desain, pengembangan dan penyajian. 13.

(34) koleksi serta kemampuan presentasi dan promosi. Siswa akan memahami pentingnya komunikasi dan kemampuan berpikir kritis dan praktis dalam peran sertanya di industri global yang makin beragam. Siswa akan dibekali oleh kemampuan Praktis, Teori dan Pengelolaan perusahaan dengan pendekatan realistis dalam menghadapi segala kemungkinan dan permasalahan yang akan dihadapinya . Adapun program studi pada Institut Mode Muslim adalah : ➢. Adapun program studi pada Institut Mode Muslim adalah : Tabel 2.1 Program Studi Institut Mode Muslim. PROGRAM DIPLOMA. PROGRAM LANJUTAN. PROGRAM SERTIFIKAT. (One year Program). (Bachelor Lavel (D4). (Short Class). Fashion Design. Fashion Design. Fashion Bussines. Fashion. Bussines. Fashion Design &. Fashion Bussines. Merchandising Artistic Make up Handycraft (Sumber: Analisis, 2018). a. Fashion Design Jurusan Fashion Desain merupakan jalur terbaik untuk menghadapi industri global yang sangat kompetitif dan berubah-ubah. Program ini akan menyiapkan kamu untuk industri fashion dan menyiapkan kamu dengan keahlian profesional yang dibutuhkan seorang desainer. dan/atau. pattern. maker.. Kurikulum. yang. disediakan. menunjukkan. keanekaragaman dunia fashion, dan akan mengenalkanmu dengan semua perspektif yang bersangkutan. Sarjana diploma Fashion Design dapat diselesaikan dalam waktu 9 bulan penuh-waktu atau 11 bulan studi paruh waktu. ➢. Tujuan Program •. Studi anatomi gambar dan teknik ilustrasi fashion modern.. •. Evaluasi gaya dengan cara mengompres.. •. Teknik jahit dan metode aplikasi dekoratif dan konstruktif lainnya.. •. Studi warna dan komposisi.. •. Kajian gambar dan terminologi teknik garmen.. •. Prediksi tren masa depan dan komposisi koleksi garmen.. •. Studi warna dan komposisi.. 14.

(35) •. Kajian gambar dan terminologi teknik garmen.. •. Prediksi tren masa depan dan komposisi koleksi garmen.. •. Pelajari target strategi marketing market dan target.. •. Partisipasi dalam kontes desain fashion internasional.. •. Teknik pembuatan pola dan teknik menggambar komputer.. •. Organisasi peragaan busana dan partisipasi dalam kegiatan promosi dan hubungan masyarakat.. ➢. •. Kajian busana dalam agama Islam.. •. Teknik pembuatan busana sesuai dengan kaidah keislaman dalam berbusana.. •. Pengembangan portofolio. Faslitas •. Kamar jahit, ruang pengatur, ruang perancangan, pembuatan pola meja dan ruang produksi busana, kelas rajutan. •. Fasilitas komputer untuk pembuatan pola dan ilustrasi fashion. •. Satu mesin jahit per siswa, menekan dan mengukus peralatan. •. Tabel Ilustrasi dan Gambar. •. Mannequin berkualitas tinggi. •. Laboratorium komputer untuk Program CAD dan Plotter. •. Perpustakaan desain busana komprehensif, bisnis fashion dan buku desain lainnya serta terbitan berkala dan majalah. ➢. ➢. •. Perpustakaan tekstil dan kain. •. Area tampilan jendela garmen. •. Multi Fungsi untuk seminar dan ceramah. Kesempatan Bekerja •. Perancang busana di Pakaian atau Couture. •. Kepala Tim Desain. •. Pembuat pola kepala. •. Gaya Busana. •. Fashion Illustrator. •. Konsultan Fashion & Spesialis. •. Perancang Kostum untuk Video Musik, TV, Film & Teater. •. Jurnalis Fashion dan Blogger. Gelar Program. 15.

(36) Sarjana Fashion Design Tabel 2.2 Mata Kuliah Program fashion Design. No. Semester. 1. Semester 1. Uraian Kegiatan Komposisi Pakaian Sederhana Merakit Prinsip Garments Sederhana Aplikasi Proses Grafis dan Presentasi Visual Studi dan Pemanfaatan Bahan Baku. 2. Semester 2. Bahasa Inggris I Komposisi Berbagai Pakaian Merakit Prinsip Berbagai Pakaian Konsep Fashion Fenomena Fashion Penelitian Bahan Baku untuk Produksi Garmen Bahasa Inggris II. 3. Semester 3. Komposisi Pakaian yang Dirinci Kelayakan Garment Gaya Penelitian oleh Draping Penelitian Konsep Fashion Berbeda Fashion dan Masyarakat Bahasa indonesia. 4. Semester 4. Perencanaan dan Prototipe Terperinci Elaborasi Teknis File Evaluasi Gaya dengan Draping Mendefinisikan Karakteristik Koleksi A Analisis dan Presentasi Trend Agama Islam. 5. Semester 5. Kumpulan Elaborasi dan Prototipe Evaluasi Garments Memproduksi Rencana Pengumpulan Produksi Pakaian. 16.

Gambar

Gambar 2 .1 Meja Gambar                          Gambar 2.2 Aktivitas Kelas Design  Sumber (neufret 1)                             Sumber (fashionistaindonesia.com)
Gambar 2.3 Ruang Kelas Studio  Sumber : Ernest dan Neufert, 2007
Gambar 2.5 : Lemari dengan meja gambar  Sumber : ( Neufret 1: 270 )
Gambar 2.14 :kelas dengan perabot                     Gambar 2.15 : kelas dengan perabot  Sumber (neufret : 258 )                                 Sumber (neufert : 258)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Melalui pengembangan modul pembelajaran fisika berbasis literasi Islam dengan pendekatan saintifik pada materi optik geometri dan alat-alat optik kelas XI SMA/MA,

Menghasilkan penerapan prinsip pendekatan arsitektur Islam dengan konsep seni Islam Al-faruqi pada rancangan pusat pengembangan olahraga dan kesenian Islam di Jombang Jawa Timur

BAB VIII PENUTUP 8.1 Kesimpulan Perancangan Pusat Edukasi Seni Akulturasi dengan Pendekatan Extending Tradition mewadahi sebuah seni akulturasi budaya Islam dan Hindu di Bali

Kata Kunci : Perancangan Bangunan Ekshibisi Fotografi di Kota Malang, Pendekatan Pencahayaan Kota Malang, sebuah kota dengan jumlah penduduk tertinggi kedua di provinsi Jawa

Zenita Nur Safitri 13660097 Perancangan Pusat Kesehatan Kulit dengan Pendekatan Arsitektur Biofilik di Kota Malang... menyelenggarakan pelayanan kesehatan terdepan dan terdekat

Tidak adanya bangunan pendidikan khususnya dalam bidang desain yang ada di Medan serta kurangnya fasilitas yang memadai, hal ini menjadikan latar belakang perancangan

Tesis dengan judul “ Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan Pendekatan Kontekstual Dalam Membentuk Kepribadian Muslim Peserta Didik (Studi Multisitus Di SMAN 1

PERANCANGAN MUSEUM AL-QUR’AN DENGAN PENDEKATAN SEMIOTIKA DI KOTA MALANG MELALUI TEMA QOLB QUR’AN Seiring berkembangnya waktu, agama islam menyebar hingga ke Nusantara,