S U R A B A Y A
P U T U S A N
Nomor : 114 - K / PM.III-12 / AL / IX / 2016
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
Pengadilan Militer III-12 Surabaya yang bersidang di Sidoarjo dalam memeriksa dan mengadili perkara pidana pada tingkat pertama telah menjatuhkan putusan sebagaimana tercantum di bawah ini dalam perkara Terdakwa :
Nama lengkap : BUDI SUHARTO. Pangkat / NRP : Praka Mar / 98312. Jabatan : Anggota Dentih Opsrat. Kesatuan : Puslatpurmar-5 Baluran Tempat, tanggal lahir : Situbondo, 3 Nopember 1970. Jenis kelamin : Laki-laki.
Kewarganegaraan : Indonesia
A g a m a : Islam.
Tempat tinggal : Jl. Riau Gang Berlian No. 9 Rt/Rw. 002/001 Kel. Lateng Kec. Banyuwangi Kab. Banyuwangi.
Terdakwa tidak ditahan.
Pengadilan Militer III-12 Surabaya tersebut diatas :
Membaca : Berita Acara Pemeriksaan dalam perkara ini.
Memperhatikan : 1. Surat Keputusan Penyerahan Perkara dari Dankolatmar selaku Papera Nomor Kep/08/VIII/2016 tanggal 11 Agustus 2016. 2. Surat Dakwaan Oditur Militer Nomor Sdak/99/K/AL/VIII/2016
tanggal 30 Agustus 2016.
3. Penetapan Kepala Pengadilan Militer III-12 Surabaya Nomor : Tapkim/114-K/PM.III-12/AD/III/2016 tanggal 17 September 2016 tentang Penunjukan Hakim.
4. Penetapan Hakim Ketua pada Pengadilan Militer III-12 Surabaya Nomor : Tapsid/114-K /PM.III-12/AD/III/2016 tanggal 17 September 2016 tentang Hari Sidang.
5. Relaas penerimaan panggilan untuk menghadap sidang kepada Terdakwa dan para Saksi dan surat-surat lain yang berhubungan dengan perkara ini.
Mendengar : 1. Pembacaan Surat Dakwaan Oditur Militer Nomor Sdak/ 99/K/AL/VIII/2016 tanggal 30 Agustus 2016, didepan sidang yang dijadikan dasar pemeriksaan perkara ini.
2. Hal-hal yang diterangkan oleh Terdakwa di sidang serta keterangan-keterangan para Saksi dibawah sumpah.
Memperhatikan : 1. Tuntutan pidana Oditur Militer yang diajukan kepada Majelis Hakim, yang pada pokoknya Oditur Militer berpendapat bahwa :
a. Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah telah melakukan tindak pidana :
“Penipuan”
Sebagaimana diatur dan diancam dengan pidana dalam pasal 378 KUHP.
b. Oleh karenanya Oditur Militer mohon agar Terdakwa dijatuhi pidana :
- Pidana Pokok Penjara selama 10 (sepuluh) bulan.
- Pidana Tambahan Dipecat dari Dinas Militer.
c. Membebankan biaya perkara kepada Terdakwa sebesar Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah).
d. Menetapkan barang-barang bukti berupa :
Surat-surat :
a) 1 (satu) lembar foto copy KTA Terdakwa atas nama Praka Mar Budi Suharto NRP 98312 Jabatan Ta Dentih Opsrat Kesatuan PLP Marinir 5 Baluran Asembagus.
b) 1 (satu) lembar foto mobil Toyota Avansa warna putih Nopol P 1409 VM.
c) 1 (satu) lembar foto Suzuki X Over warna Hitam Nopol DK 1067 AQ.
d) 3 (tiga) lembar Surat Perjanjian bermaterai yang dibaut oleh Terdakwa (Praka Mar Budi Suharto dan Saksi-1 (Praka Rudi hartono).
e. 1 (satu) lembar Tanda bukti Transfer Bank BRI Cab Muncar No Rek. 095301030939533 tanggal 27 Desember 2013 a.n. Saksi-3 (Kopda Mar Kamarudin).
f. 1 (satu) lembar kwitansi pembayaran yang dilakukan oleh Terdakwa (Praka Mar Budi Suharto) tanggal 25 September 2014.
g. 1 (satu) lembar foto copy Rekening Koran BRI Unit Sukapura No Rek 651201003224539 a.n. Sdri. Dwi Septiningtyas (Saksi-2).
Tetap dilekatkan dalam berkas perkara.
2. Permohonan Terdakwa yang menyatakan bahwa ia menyesali dan menyadari akan kesalahannya, berjanji tidak akan mengulangi perberbuatannya, oleh karena itu mohon dijatuhi pidana yang seringan-ringannya.
Menimbang : Bahwa menurut Surat Dakwaan tersebut di atas, Terdakwa pada pokoknya didakwa sebagai berikut :
Pertama:
Bahwa Terdakwa pada waktu-waktu dan di tempat-tempat tersebut di bawah ini, yaitu pada bulan Desember tahun 2000 tiga belas dan bulan Januari tahun 2000 empat belas, atau setidak-tidaknya pada suatu hari dalam tahun 2000 tiga belas dan tahun 2000 empat belas di Bank SRI Cab Sukapura Probolinggo atau setidak-tidaknya di suatu tempat yang termasuk dalam wiiayah hukum Pengadiian Militer III-12 Surabaya te!ah melakukan tindak pidana :
"Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan memakai nama palsu atau martabat palsu; dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi utang maupun menghapuskan piutang".
Perbuatan tersebut diIakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
a. Bahwa Terdakwa masuk menjadi Prajurit TNI AL melaiui pendidikan Secatam FK Angk xxii pada tahun 2000 di Kobangdikal Juanda Surabaya, setelah lulus dilantik dengan pangkat Prada ditempatkan di Yonmarhanlan Lantamai V Jayapura selanjutnya setelah mengalami berbagai mutasi pangkat dan jabatan sampai dengan terjadinya perbuatan yang menjadi perkara ini Terdakwa menjabat sebagai Ta Dentih Cpsrat PLP Marinir 5 Baluran Asembagus dengan pangkat Praka NRP 98312.
b. Bahwa Praka Rudi Hartono (Saksi-1) kenal dengan Terdakwa sekira pads bulan Desember 2013 yang diperkenalkan oleh Saksi-3 (Kopda Mar Kamarudin) adik Terdakwa yang berdinas di Yonkav Perak Surabaya sewaktu sama-sama sedang bertugas di Satgas UNIFIL YONMEK XXIII G di Lebanon, setelah perkenalan tersebut Saksi-1 sering mengobrol dengan Saksi-3 dan Saksi-1 menyampaikan kepada Saksi-3 setelah selesai penugasan ingin membeli mobil. Selanjutnya Saksi-3 menawarkan Saksi-1 sebuah mobil Toyota Avansa warna putih Nopol P 1409 VM yang ditunjukan gambarnya melalui BBM, karena Saksi-1 merasa cocok terhadap mobil tersebut maka dengan kesepakatan antara Saksi-1 dengan Terdakwa harga mobil tersebut sebesar Rp. 45.000.000,- (empat puluh lima ribu rupiah), kemudian Saksi-3 menyampaikan harus dipanjer dulu karena biar tidak kedahuluan orang lain, kemudian Saksi-1 menyerahkan uang kepada Saksi-3 sebesar US $ 800 (delapan ratus dolar Amerika) yang dirupiahkan sebesar Rp. 8.000.000,- (delapan juta rupiah) untuk di Transfer ke rekening Terdakwa sebagai tanda jadi.
c. Bahwa sekira tanggal 27 Desember 2013 setelah Praka Rudi Hartono (Saksi-1) dari penugasan di Lebanon, Terdakwa meminta uang lagi kepada Saksi-1 untuk mengeluarkan mobil yang berada di Koperasi di Jember yang statusnya masih kredit macet selanjutnya Saksi-1 mentrasfer ke Bank BRI Cabang Sukapura Probolinggo atas nama Terdakwa sebesar Rp. 37.500.000,- (tiga puluh tujuh juta lima ratus ribu rupiah). Selanjutnya sekira bulan Januari 2014 Terdakwa menghubungi Saksi-1 lagi melalui telepon dan meminta ditrasfer untuk menebus BPKB dan biaya balik nama sebesar Rp.6.150.000,- (enam juta seratus lima puluh ribu rupiah) yang ditransfer oleh Saksi-1 bersama isterinya Sdri. Dwi Septiningtyas (Saksi-2) melalui ATM
Saksi-2, kemudian Terdakwa meminta uang lagi sebesar Rp. 4.000.000,- (empat juta rupiah) akan tetapi Saksi-1 tidak memberikanya.
d. Bahwa jumlah total keseluruhan uang yang sudah Praka Rudi Hartono (Saksi-1) serahkan kepada Terdakwa untuk pembelian mobil Toyota Avansa tersebut sebesar Rp. 51.650.000.000,- (lima puluh satu juta enam ratus lima puluh ribu rupiah).
e. Bahwa pada bulan Februari 2014 Terdakwa datang kerumah Saksi-1 di Desa Kotakan Situbondo untuk meminta maaf karena mobil yang dipesan Saksi-1 belum ada dengan alasan bahwa mobil tersebut masih dibawa teman Terdakwa yang bernama Sdr. Jalil yang sampai saat ini belum diketemukan, selanjutnya sebagai gantinya Terdakwa meminjamkan mobil Suzuki X Over milik Terdakwa sebagai jaminan sampai mobil Avansa yang dipesan Saksi-1 ada.
f. Bahwa sekira bulan Mei 2014 Saksi-1 membatalkan pembelian mobil Toyota Avansa karena mobil yang Terdakwa tawarkan oleh Saksi-1 juga belum ada dan Terdakwa hanya janji-janji terus, selanjutnya Saksi-1 meminta agar uang yang Saksi-1 serahkan kepada Terdakwa supaya untuk dikembalikan dan Terdakwa menerima dan menyanggupi untuk mengembalikan uang yang sudah diterimanya.
g. Bahwa Terdakwa mengembalikan uang kepada Saksi-1 yang diserahkan sebanyak 2 (dua) kali yang pertama pada tanggal 3 September 2014 sebesar Rp. 10.000.000,(sepuluh juta rupiah) di serahkan di Kantor PAM PLP Mar 5 Baluran yang Terdakwa serahkan sendiri dan diterima oleh Sdr. Erwin dan Sdr. Nono yang disertai tanda terima/kwitansi, kemudian yang kedua pada tanggal 25 September 2014 sebesar Rp. 7.000.000,- (tujuh juta rupiah) di serahkan di Kantin Kantor PLP Mar 5 Baluran yang Terdakwa serahkan sendiri dan diterima oleh Sdr. Erwin dan Sdr. Nono yang disertai tanda terima/kwitansi, sehingga jumlah uang yang Terdakwa serahkan/dikembalikan kepada Saksi-1 sebesar Rp.17.000.000,- (tujuh belas juta rupiah).
h. Bahwa sisa uang yang belum Terdakwa serahkan kepada Saksi-1 sebesar Rp. 34.650.000.- (tiga puluh empat juta enam ratus lima puluh ribu rupiah) dan sampai saat inipun Terdakwa tidak pernah membayar/mencicil dan sudah 2 (dua) kali membuat surat perjanjian akan tetapi Terdakwa tidak pernah menepatinya.
i. Bahwa Saksi-1 mau menyerahkan uang kepada Terdakwa karena Saksi-1 percaya kepada janji Terdakwa yang akan menjual mobil Toyota Avansa warna putih dengan Nopol P 1409 VM, akan tetapi setelah Saksi-1 mentransfer sejumlah uang yang Terdakwa minta ternyata mobil tersebut tidak ada.
j. Bahwa Terdakwa pada tahun 2004 pernah dijatuhi hukuman disiplin Penahanan Ringan selama 7 (tujuh) hari karena mangkir dan pada tahun 2005 pernah juga dijatuhi hukuman pidana penjara selama 20 (dua puluh) hari dalam perkara Desersi.
Bahwa Terdakwa pada waktu-waktu dan di tempat-tempat tersebut di bawah ini, yaitu pada bulan Desember tahun 2000 tiga belas dan bulan Januari tahun 2000 empat belas, atau setidak-tidaknya pada suatu hari dalam tahun 2000 tiga belas dan tahun 2000 empat belas belas di Bank BRI Cab Sukapura Probolinggo dan di Surabaya atau setidak-tidaknya di suatu tempat yang termasuk dalam wilayah hukum Pengadilan Militer III-12 Surabaya telah melakukan tindak pidana :
"Barangsiapa dengan sengaja dan melawan hukum mengaku sebagai milik sendiri barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan".
Perbuatan tersebut dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
a. Bahwa Terdakwa masuk menjadi Prajurit TNI AL melalui pendidikan Secatam PK Angk XX/l pada tahun 2000 di Kobangdikal Juanda Surabaya, setelah lulus dilantik dengan pangkat Prada ditempatkan di Yonmarhanlan Lantamal V Jayapura selanjutnya setelah mengalami berbagai mutasi pangkat dan jabatan sampai dengan terjadinya perbuatan yang menjadi perkara ini Terdakwa menjabat sebagai Ta Dentih Opsrat PLP Marinir 5 Baluran Asembagus dengan pangkat Praka NRP 98312.
b. Bahwa Praka Rudi Hartono (Saksi-1) kenal dengan Terdakwa pada bulan Desember 2013 yang diperkenalkan oleh Saksi-3 (Kopda Mar Kamarudin) yang merupakan adik Terdakwa berdinas di Yonkav Perak Surabaya sewaktu sama-sama sedang bertugas di Satgas UNIFIL YONMEK XXIII G di Lebanon, setelah perkenalan tersebut Saksi-1 sering mengobrol dengan Saksi-3 dan Saksi-1 menyampaikan kepada Saksi-3 setelah selesal penugasan ingin membeli mobil. Selanjutnya Saksi-3 menawarkan Saksi-1 sebuah mobil Toyota Avansa warna putih Nopol P 1409 VM yang ditunjukan gambarnya melalui BBM, karena Saksi-1 merasa cocok terhadap mobil tersebut maka dengan kesepakatan antara Saksi-1 dengan Terdakwa harga mobil tersebut sebesar Rp. 45.000.000,- (empat puluh lima ribu rupiah), kemudian Saksi-3 menyampaikan harus dipanjer dulu karena biar tidak kedahuluan orang lain, kemudian Saksi-1 menyerahkan uang kepada Saksi-3 sebesar US $ 800 (delapan ratus dolarAmerika) yang dirupiahkan sebesar Rp. 8.000.000,- (delapan juta rupiah) untuk di Transfer ke rekening Terdakwa sebagal tanda jadi.
c. Bahwa sekira tanggal 27 Desember 2013 setelah Saksi-1 selesai dari penugasan Lebanon, Terdakwa meminta uang lagi kepada Saksi-1 untuk mengeluarkan mobil yang berada di Koperasi di Jember yang statusnya masih kredit macet selanjutnya Saksi-1 mentrasfer ke Bank BR! Cabang Sukapura Probolinggo atas nama Terdakwa sebesar Rp. 37.500.000,- (tiga puluh tujuh juta lima ratus ribu rupiah). Selanjutnya sekira bulan Januari 2014 Terdakwa menghubungi Saksi-1 lagi melalui telepon dan meminta ditrasfer untuk menebus BPKB dan biaya balik nama sebesar Rp.6.150.000,- (enam juta seratus lima puluh ribu rupiah) yang ditransfer oleh Saksi-1 bersama isterinya Sdri. Dwi Septiningtyas (Saksi-2) melalul ATM Saksi-2, kemudian Terdakwa meminta uang lagi sebesar Rp. 4.000.000,- (empat juta rupiah) akan tetapi Saksi-1 tidak memberikanya.
d. Bahwa jumlah total keseluruhan uang yang sudah Saksi-1 serahkan kepada Terdakwa untuk pembelian mobil Toyota Avansa tersebut sebesar Rp. 51.660.000.000,- (lima puluh satu juta enam ratus lima puluh ribu rupiah).
e. Bahwa pada bulan Februani 2014 Terdakwa datang kerumah Saksi-1 di Desa Kotakan Situbondo untuk meminta maaf karena mobil yang dipesan Saksi-1 belum ada dengan alasan bahwa mobil tersebut masih dibawa teman Terdakwa yang bernama Sdr. Jalil yang sampai saat ini belum diketemukan, selanjutnya sebagainya gantinya Terdakwa meminjamkan mobil Suzuki X Over milik Terdakwa sebagai jaminan sampai mobil Avansa yang dipesan Saksi-1 ada.
f. Bahwa sekira bulan Mei 2014 Saksi-1 membatalkan pembelian mobil Toyota Avansa karena mobil yang Terdakwa tawarkan oleh Saksi-1 juga belum ada dan Terdakwa hanya janji-janji terus, selanjutnya Saksi-1 meminta agar uang yang Saksi-1 serahkan kepada Terdakwa supaya untuk dikembalikan dan Terdakwa menerima dan menyanggupi untuk mengembalikan uang yang sudah diterimanya.
g. Bahwa Terdakwa telah mengembalikan uang kepada Saksi-1 yang diserahkan sebanyak 2 (dua) kali yang pertama pada tanggal 3 September 2014 sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) di serahkan di Kantor PAM PLP Mar 5 Baluran yang Terdakwa serahkan sendiri dan diterima oleh Sdr. Erwin clan Sdr. Nono yang disertai tanda terima/kwitansi, kemudian yang kedua pada tanggal 25 September 2014 sebesar Rp. 7.000.000,- (tujuh juta rupiah) di serahkan di Kantin Kantor PLP Mar 5 Baluran yang Terdakwa serahkan sendiri dan diterima oleh Sdr. Erwin dan Sdr. Nono yang disertai tanda terima/kwitansi, sehingga jumlah uang yang Terdakwa serahkan/dikembalikan kepada Saksi-1 sebesar Rp.17.000.000,- (tujuh belas juta rupiah).
h. Bahwa sisa uang yang belum Terdakwa serahkan kepada Saksi-1 sebesar Rip. 34.650.000- (tiga puluh empat juta enam ratus lima puluh ribu rupiah) dan sampai saat inipun Terdakwa tidak pernah membayar/mencicil dan sudah 2 (dua) kali membuat surat perjanjian akan tetapi Terdakwa tidak pernah menepatinya.
Bahwa perbuatan Terdakwa tersebut telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana sebagaimana dirumuskan dan diancam dengan pidana yang tercantum dalam :
Pertama : Pasal 378 KUHP. Atau
Kedua : Pasal 372 KUHP.
Menimbang : Bahwa atas Dakwaan tersebut Terdakwa menerangkan bahwa ia benar-benar mengerti atas Surat Dakwaan yang didakwakan kepadanya.
Menimbang : Bahwa atas dakwaan Oditur Militer tersebut, Terdakwa tidak mengajukan keberatan (eksepsi).
Menimbang : Bahwa dalam menghadapi persidangan Terdakwa tidak didampingi oleh Penasihat Hukum.
Menimbang : Bahwa para Saksi yang dihadapkan dipersidangan menerangkan di bawah sumpah sebagai berikut :
Saksi-1 :
Nama lengkap : Rudi Hartono.
Pangkat/NRP : Praka /31040196520382. Jabatan : Danpokpan 2 Regu 1 Ton 1. Kesatuan : Yonif 500 Raider.
Tempat, tanggal lahir : Situbondo, 6 Maret 1982. Jenis kelamin : Laki-laki.
Kewarganegaraan : Indonesia.
A g a m a : Islam.
Tempat tinggal : Sukapura Rt.02 Rw.01 Kec. Sukapura Kab. Probolinggo.
Pada pokoknya menerangkan sebagai berikut :
1. Bahwa Saksi kenal dengan Terdakwa pada tahun 2013 yang dikenalkan oleh Saki-3 (Kopda Mar Kamarudin) yang merupakan adik dari Terdakwa, antara Saksi dengan Terdakwa tidak ada hubungan keluarga/family.
2. Bahwa pada bulan Desember 2013 saat Saksi bertugas di Libanon bertemu dengan Saksi-3 (Kopda Mar Kamarudin) yang sama-sama orang Situbondo pada saat mengobrol Saksi menyampaikan kepada Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin setelah selesai penugasan dari Libanon Saksi berniat untuk membeli mobil, kemudian Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin menyampaikan bahwa kakaknya (Terdakwa) juga berjualan mobil, selanjutnya Saksi ditawari Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin mobil Toyota Avansa warna putih yang ditunjukan gambarnya melalui BBM.
3. Bahwa Saksi merasa cocok terhadap mobil tersebut lalu setelah menyampaikan ke Terdakwa Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin menyampaikan pesan Terdakwa bahwa Saksi harus memberi panjer agar tidak kedahuluan orang lain. Setelah dari Libanon Saksi menyerahkan uang kepada Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin sebesar US $ 800 (delapan ratus dolar amerika) yang dirupiahkan sebesar Rp. 8.000.000,- (delapan juta rupiah) untuk di Transfer ke Terdakwa sebagai tanda jadi.
4. Bahwa sekira tanggal 27 Desember 2013 setelah Saksi pulang dari penugasan Libanon, Saksi berhubungan melalui telepon terhadap Terdakwa dan Terdakwa meminta uang lagi untuk mengeluarkan mobil yang ditawarkan karena mobil tersebut berada di Koperasi di Jember yang statusnya kredit macet sehingga untuk mengeluarkan mobil harus ada uangnya selanjutnya Saksi mentrasfer ke rekening Bank BRI Cabang Sukapura Probolinggo atas nama Terdakwa sendiri sebesar Rp. 37.500.000,- (tiga puluh tujuh juta lima ratus ribu rupiah).
5. Bahwa sekira bulan Januari 2014 Terdakwa menghubungi Saksi melalui telepon dan meminta ditrasfer uang lagi yang katanya untuk menebus BPKB dan biaya balik nama kemudian Saksi mentrasfer bersama istri Saksi melalui ATM milik istri Saksi sebesar Rp.6.150.000,- (enam juta seratus lima puluh ribu rupiah).
6. Bahwa setelah Saksi total uang yang sudah diserahkan kepada Terdakwa untuk pembelian mobil Toyota Kijang Avansa sebesar Rp. 51.650.000,- (lima puluh satu juta enam ratus lima puluh ribu rupiah) dan pada saat itu Terdakwa meminta uang lagi sebesar Rp. 4.000.000,- (empat juta rupiah) namun Saksi tidak memberikannya.
7. Bahwa sekira bulan Januari 2014 Saksi bertemu dirumah Terdakwa di daerah Banyuwangi untuk menanyakan mobil tersebut dan dijawab oleh Terdakwa bahwa mobil tersebut masih dibawa teman Terdakwa a.n. Sdr Jalil untuk dibalik nama Plat N Probolinggo.
8. Bahwa sekira bulan Februari 2014 Terdakwa pernah datang kerumah Saksi di Desa Kotakan Situbondo untuk meminta maaf karena mobilnya masih dibawa teman Terdakwa. Karena Terdakwa mengulur-ulur waktu dan tidak juga menyerahkan mobil tersebut maka Saksi membatalkan pembelian mobil Toyota Avansa dan supaya mengembalikan semua uang yang sudah Saksi serahkan kepada Terdakwa dan Terdakwa menyanggupi untuk mengembalikan semua uang yang diterima.
9. Bahwa Terdakwa mengembalikan uang kepada Saksi sebanyak 2 (dua) kali yaitu yang pertama pada tanggal 3 September 2014 sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) dan yang kedua pada tanggal 25 September 2015 sebesar Rp. 7.000.000,- (tujuh juta rupiah) dengan jumlah seluruhnya sebesar Rp 17.000.000,- (tujuh belas juta rupiah).
10. Bahwa sisa uang sebesar 34.650.000,- (tiga puluh empat juta enam ratus lima puluh ribu rupiah) sampai dengan saat ini Terdakwa belum mengembalikan hanya janji-janji terus dan sudah beberapa kali membuat Surat pernyataan akan tetapi tidak pernah ditepati sampai akhirnya Saksi melaporkan permasalahan ini.
Atas keterangan Terdakwa tersebut, Saksi-1 tetap pada keterangannya.
Saksi-2 :
Nama lengkap : Dwi Septiningtyas.
. Pekerjaan : Pegawai Kantor Pos.
Tempat, tanggal lahir : Probolinggo, 14 September 1981. Jenis kelamin : Laki-laki.
Kewarganegaraan : Indonesia. A g a m a : Islam.
Tempat tinggal : JI Mawar No.23 Sukapura Rt 02 Rw 01 Kec Sukapura Kab Probolinggo
Pada pokoknya menerangkan sebagai berikut :
1. Bahwa Saksi kenal dengan Terdakwa pada bulan Juni 2014 saat Terdakwa datang menemui Saksi dan Saksi-1 (Praka Rudi Hartono) di Situbondo hanya hubungan sebatas teman dan tidak ada hubungan keluarga/family.
2. Bahwa sekira bulan Nopember 2013 sewaktu suami Saksi (Saksi-1 Praka Rudi Hartono) bertugas di Libanon mengirimkan foto mobil Toyota Avansa warna putih Nopol P 1409 VN tersebut kepada Saksi melalui Handphone dan mobil tersebut Terdakwa tawarkan kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono dengan harga sebesar Rp.
58.000.000,- (lima puluh delapan juta rupiah) dengan cara mentrasfer uang dulu baru mobilnya ada.
3. Bahwa dengan harga mobil Toyota Avansa tersebut Saksi dan suami Saksi (Saksi-1 Praka Rudi Hartono) menyetujui harga mobil tersebut dan Terdakwa merninta untuk mentrasfer uang yang pertama dengan sejumlah sebesar Rp. 8.000.000 (delapan juta rupiah) yang diterima oleh Terdakwa sendiri kemudian sekira bulan Januari 2014 setelah Saksi-1 Praka Rudi Hartono pulang dari Lebanon Saksi dan Saksi-1 Praka Rudi Hartono mentransfer uang lagi sebesar Rp. 37.500.000,- (tiga puluh tujuh juta lima ratus ribu rupiah) ke nomor rekening Terdakwa sendiri. Selanjutnya sekira bulan Februari 2014 Terdakwa meminta uang lagi untuk mengeluarkan BPKB sebesar Rp. 6.150.000,- (enam juta seratus lima puluh ribu rupiah).
4. Bahwa jumlah total uang yang sudah Saksi dan Saksi-1 Praka Rudi Hartono berikan kepada Terdakwa sebesar Rp. 51.650.000,- (lima puluh satu juta nam ratus lima puluh ribu rupiah). Kemudian sekira bulan April 2014 Saksi-1 Praka Rudi Hartono mendatangi Terdakwa di Banyuwangi untuk menjelaskan masalah mobil Toyota Avansa dan Terdakwa menyampaikan bahwa mobil tersebut masih dipakai oleh teman Terdakwa yang bernama Sdr. Jalil di daerah Jember untuk Travel dan setelah selesai dipakai oleh Sdr. Jalil mobil akan diantarkan Terdakwa kepada Saksi akan tetapi sampai sekarang mobil yang ditawarkan tersebut tidak dikasihkan.
5. Bahwa pada bulan Mei 2014 Terdakwa memberikan mobil Suzuki X-Over Nopol DK 1067 AQ kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono sebagai jaminan pengembalian uang yang sudah Saksi serahkan kepada Terdakwa karena Saksi-1 Praka Rudi Hartono sudah membatalkan pembelian mobil Toyota Avansa Nopol P 1409 VN.
6. Bahwa pada tanggal 3 September 2014 Terdakwa mengembalikan uang yang pertama sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) melalui kakak Saksi (Sdr.Budiono) pada saat kakak Saksi mendatangi rumah Terdakwa di Banyuwangi dan yang kedua sekira bulan Oktober 2014 diberikan uang sebesar Rp. 7.000.000,- (tujuh juta rupiah). Dari jumlah uang tersebut sisa yang belum dikembalikan oleh Terdakwa kepada Saksi sebesar Rp. 34.650.000,(tiga puluh empat juta enam ratus lima puluh ribu rupiah), Saksi bersama Saksi-1 Praka Rudi Hartono sudah berusaha untuk menagih uang tersebut dan Terdakwa sudah 2 (dua) kali membuat surat perjanjian akan tetapi hanya janji-janji terus clan tidak pernah ditepati.
7. Bahwa pada bulan Desember 2014 Saksi dan Saksi-1 Praka Rudi Hartono mendatangi rumah Terdakwa dan menjanjikan sanggup mengembalikan uang dengan cara mencicil setiap bulanya sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) dan sampai saat ini tidak mencicil sama sekali. Karena Terdakwa tidak punya itikad baik untuk mengembalikan uang tersebut maka Saksi mohon supaya Terdakwa diproses sesuai prosedur hukum yang berlaku.
Atas keterangan Saksi tersebut, Terdakwa membenarkan seluruhnya.
Nama lengkap : Kamarudin.
Pangkat/NRP : Kopda Mar / 10437. Jabatan : Pembantu Pengemudi.
Kesatuan : Yon Kapa 1 Menkav 1 Mar. Tempat, tanggal lahir : Situbondo, 13 Januari 1983. Jenis kelamin : Laki-laki.
Kewarganegaraan : Indonesia. A g a m a : Islam.
Tempat tinggal : Kel Mimbaan Rt 3 Rw 16 kec Panji Kab
Situbondo No telp 082140814754.
Pada pokoknya menerangkan sebagai berikut :
1. Bahwa Saksi kenal dengan Terdakwa sejak kecil karena hubungan antara Saksi dengan Terdakwa adalah saudara kandung.
2. Bahwa pada pertengahan tahun 2013 Saksi dan Saksi-1 Praka Rudi Hartono bertemu saat bersama-sama Satgas di Lebanon menyampaikan setelah Saksi-1 Praka Rudi Hartono pulang dari Lebanon berniat akan membeli mobil dari pernyataan tersebut Saksi menawarkan bahwa kakak kandung Saksi (Terdakwa) mempunyai usaha jual beli mobil kredit macet (mobil tarikan leasing) kemudian Saksi-1 Praka Rudi Hartono tertarik dan menyetujuinya sehingga terjadi kesepakatan Saksi-1 Praka Rudi Hartono membeli 1 (satu) unit Toyota All New Avansa tahun 2013 dengan harga di atas sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juts rupiah).
3. Bahwa setelah terjadi deal antara Saksi-1 Praka Rudi Hartono dan Terdakwa kemudian Saksi-1 Praka Rudi Hartono menyerahkan angsuran uang pembelian mobil tersebut kepada Saksi untuk meminta menginim/mentrasfer kepada Terdakwa, yang pertama sekira tahun 2013 pada saat masih di Lebanon sebesar US $ 800 (delapan ratus dollar Amerika) selanjutnya akhir tahun 2013 setelah pulang dari Satgas Lebanon sebesar Rp. 37.000.000,- (tiga puluh tujuh juta rupiah).
4. Bahwa menurut pengakuan dari Saksi-1 Praka Rudi Hartono awalnya sudah diberikan I (satu) unit mobil Suzuki Splash namun karena mobil yang dipesan Toyota All New Avansa sehingga mobil tersebut Saksi-1 Praka Rudi Hartono kembalikan kepada Terdakwa.
5. Bahwa Saksi tidak mengetahui berapa jumlah total uang yang sudah Saksi-1 Praka Rudi Hartono serahkan kepada .Terdakwa akan tetapi setelah Saksi kroscek antara Saksi-1 Praka Rudi Hartono dengan Terdakwa, uang yang sudah diserahkan kepada Terdakwa sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dari jumlah uang tersebut sampai saat mi Saksi-1 Praka Rudi Hartono belum menerima 1 (satu) unit mobil Toyota All New Avansa dari Terdakwa sesuai kesepakatan. Saksi tidak mengetahui mengapa Terdakwa belum menyerahkan mobil yang dipesan Saksi-1 Praka Rudi Hartono, narnun menurut pengakuan Terdakwa bahwa usaha jual bell mobil Terdakwa terjadi masalah yaitu Terdakwa telah ditipu orang.
6. Bahwa Saksi pernah dihubungi oleh Saksi-1 Praka Rudi Hartono melalul telepon karena mobil yang dipesannya sampai saat ini belum diserahkan maka Saksi-1 meminta agar Terdakwa mengembalikan uang dari pembelian mobil tersebut sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dikembalikan, namun Saksi tidak
mengetahui apakah Terdakwa sudah mengembalikan uang tersebut kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono atau belum.
Atas keterangan Saksi tersebut, Terdakwa membenarkan seluruhnya.
pa bulan Saksi diberitahu Surabaya.
Menimbang : Bahwa didalam sidang Terdakwa menerangkan sebagai berikut :
1. Bahwa Terdakwa masuk menjadi Prajurit TNI AL melalui pendidikan Secatam PK Angk XXII pada tahun 2000 di Kobangdikal Juanda Surabaya, setelah lulus dengan pangkat Prada ditempatkan di Yonmarhanlan Lantamal V Jayapura selanjutnya setelah mengalami berbagai mutasi pangkat dan jabatan sampai dengan terjadinya perbuatan yang menjadi perkara ini Terdakwa menjabat sebagai Ta Dentih Opsrat PLP Marinir 5 Baluran Asembagus dengan pangkat Praka NRP 98312.
2. Bahwa Terdakwa pada tahun 2004 pernah dijatuhi hukuman disiplin Penahanan Ringan selama 7 (tujuh) hari karena mangkir dan pada tahun 2005 pernah juga dijatuhi hukuman pidana penjara selama 20 (dua puluh) hari dalam perkara Desersi.
3. Bahwa pada bulan Agustus 2013 Terdakwa mendapat BBM dari Saksi-3 (Kopda Mar Kamarudin) yang merupakan adik Terdakwa yang berdinas di Batalyon Kapa I Semarung Surabaya saat sedang melaksanakan penugasan di Lebanon bahwa ada temannya yang sama-sama satu penugasan ingin berkenalan. Setelah jarak satu bulan Saksi-1 (Praka Rudi Hartono) telepon Terdakwa untuk memperkenalkan diri dan juga menyampaikan maksudnya yaitu ingin membeli mobil kredit macet dari Finance yang harganya lebih murah ada STNK nya tetapi tidak ada BPKB tapi bisa diurus.
4. Bahwa setelah terjadi kesepakatan antara Terdakwa dengan Saksi-1 Praka Rudi Hartono yang akan membeli mobil Avansa warna putih tahin 2013 dengan harga sebesar Rp. 45.000.000,- (empat puluh Jima juta rupiah) ditambah dengan biaya administrasi untuk mengeluarkan BPKB sebesar Rp. 8.000.000,- (delapan juta rupiah) dengan jumlah total seluruhnya sebesar Rp. 53.000.000,-(lima puluh tiga juta rupiah) Saksi-1 Praka Rudi Hartono menyanggupinya dan penyerahan mobil tensebut bisa diserahkan setelah pengunusan administnasi dan BPKB keluar. Kemudian pada bulan September 2013 Saksi-1 Praka Rudi Hartono menyerahkan uang kepada Terdakwa tidak sekaligus namun secara bertahap sebanyak tiga kali melalui rekening BCA sebesan Rp. 53.000.000,- (lima puluh tiga juta rupiah).
5. Bahwa setelah uang tersebut Terdakwa terima kemudian Terdakwa ambil semuanya yang sebesar Rp. 47.000.000,- (empat puluh tujuh juta rupiah) Terdakwa serahkan kepada Sdr. Jalit yaitu onang yang menyiapkan maupun - mengurus sunat-sunat tersebut dan uang sebesar Rp. 6.000.000,- (enam juta rupiah) Terdakwa ambil sendiri sebagai upah. Kemudian pada bulan Desember 2013 setelah Saksi-1 Praka Rudi Hartono pulang dari penugasan di Lebanon menghubungi Terdakwa untuk menanyakan mobil Avansa yang dipesan apakah sudah ada atau belum dan Terdakwa menyampaikan masih dalam proses kanena Tensangka sendini tidak bisa lagi menghubungi Sdn. Jalil dan mobil Avansa yang Terdakwa pesan juga belum ada.
6. Bahwa Tensangka mengenal Sdr. Jalil sejak tahun 2009 dan sudah tiga kali termasuk dengan Saksi-1 Praka Rudi Hartono sering menghubungkan /makelar setiap ada yang membeli mobil karena Sdr. Jalil sendiri seorang Pns di Samsat bagian Kir mobil dan setiap ada pembelian mobil tidak ada permasalahan.
7. Bahwa pada bulan Januari 2014 Saksi-1 Praka Rudi Hartono kerumah Terdakwa di daerah Banyuwangi untuk menanyakan. mobil Avansa yang Saksi-1 Praka Rudi Hartono pesan tetapi oleh Terdakwa mobil tersebut belum bisa menyiapkan, kemudian pada bulan Februari 2014 Saksi-1 Praka Rudi Hartono datang lagi kerumah Terdakwa untuk menanyakan mobil yang sama dan dijawab Terdakwa masih belum ada mengetahui jawaban Terdakwa tersebut Saksi-1 Praka Rudi Hartono meminta kalau memang mobilnya tidak ada agar uang yang sudah diserahkan kepada Terdakwa supaya dikembalikan, karena Terdakwa belum mendapat mobil Avansa yang dipesan Saksi-1 Praka Rudi Hartono maka Terdakwa menyerahkan mobil Suzuki X Over milik Terdakwa sendiri sebagai jaminan selama mobil tersebut belum ada. Setelah satu bulan kemudian Terdakwa mengantar mobil Suzuki X Over kerumah kakak Saksi-1 yaitu Sdr. Nono di Jl Bondowoso Kotakan Situbondo yang lewat kakaknya mobil tersebut diserahkan kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono.
8. Bahwa setelah tiga bulan mobil Suzuki tersebut di bawa oleh Saksi-1 Praka Rudi Hartono, Terdakwa ambil lagi karena akan menjual mobil tersebut setelah terjual uang tersebut untuk dipergunakan mengganti uang yang sudah Saksi-1 Praka Rudi Hartono serahkan kepada Terdakwa.
9. Bahwa sebelum mobil Suzuki X Over tersebut terjual Terdakwa sudah berusaha dan membayar untuk mengembalikan uang kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono secara bertahap sebanyak tiga kali yaitu:
a. yang Pertama waktunya lupa pada sore hari menyerahkan uang sebesar Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah) di serahkan di rumah Terdakwa di JI Riau Gang Berlian No. 9 Rt/Rw 002/001 Kel Lateng Kee Banyuwangi yang menyerahkan isteri Terdakwa Sdri. Nurhayati dan mertua perempaun Terdakwa Sdri. Saleha dan diterima kakaknya Saksi-1 Praka Rudi Hartono (Sdr. Erwin) dan Sdr. Nono dengan tidak disertai tanda terima/ kwitansi;
b. yang kedua pada pukul 14.00 Wib harinya lupa menyerahkan uang sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) di serahkan di Kantor PAM PLP Mar 5 Baluran yang Terdakwa serahkan sendiri dan diterima oleh Sdr. Erwin dan Sdr. Nono yang disertai tanda terima/kwitansi; dan
c. yang ketiga pada pukul 11.00 Wib harinya juga lupa menyerahkan uang sebesar Rp. 7.000.000,- (tujuh juta rupiah) di serahkan di Kantin Kantor PLP Mar 5 Baluran yang Terdakwa serahkan sendiri dan diterima oleh Sdr. Erwin dan Sdr. Nono yang disertai tanda terima/kwitansi.
dari jumlah uang yang sudah Terdakwa kembalikan kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono sebesar Rp. 19.000.000,- (Sembilan belas juta rupiah).
10. Bahwa setelah berjalan lima bulan mobil Suzuki X Over tersebut terjual dengan harga Rp. 37.000.000,- (tiga puluh tuju juta rupiah)
yang mana uang tersebut tidak Terdakwa serahkan kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono tetapi Terdakwa serahkan kepada mertua sebesar Rp. 19.000.000,(sembilan belas juta rupiah) karena uang untuk membayar Saksi-1 Praka Rudi Hartono adalah hasil pinjaman dan mertua Terdakwa, sedangkan sisanya sebesar Rp. 18.000.000,- (delapan belas juta rupiah) Terdakwa pergunakan untuk membayar hutang-hutang yang lain.
11. Bahwa Terdakwa mempunyai niat untuk mengembalikan/ membayar hutang apabila Terdakwa mempunyai uang walaupun Terdakwa baru bisa membayar hutang yang Rp. 19.000.000,- (sembilan belas juta rupiah) dan sampai saat ini Terdakwa masih berusaha untuk melunasi sisa hutang yang ada.
Menimbang : Bahwa barang bukti yang diajukan oleh Oditur Militer kepada Majelis Hakim dalam sidang berupa :
Surat-surat :
a) 1 (satu) lembar foto copy KTA Terdakwa atas nama Praka Mar Budi Suharto NRP. 98312 Jabatan Ta Dentih Opsrat Kesatuan PLP Marinir 5 Baluran Asembagus.
Setelah Majelis Hakim meneliti barang bukti berupa surat tersebut dan setelah diperlihatkan kepada Terdakwa dan para Saksi, ternyata dibenarkan oleh Terdakwa dan para Saksi serta diterangkan bahwa surat tersebut adalah bukti bahwa Terdakwa yang dalam perkara ini adalah anggota Puslatpur Marinir-5.
b) 1 (satu) lembar foto mobil Toyota Avanza warna putih Nopol P 1409 VM.
c) 1 (satu) lembar foto Suzuki X Over warna Hitam Nopol DK 1067 AQ.
Setelah Majelis Hakim meneliti barang bukti berupa surat tersebut dan setelah diperlihatkan kepada Terdakwa dan para Saksi, ternyata dibenarkan oleh Terdakwa dan para Saksi serta diterangkan bahwa surat tersebut adalah bukti untuk kelengkapan berkas perkara dalam perkara Terdakwa.
d) 3 (tiga) lembar Surat Perjanjian bermaterai yang dibuat oleh Terdakwa (Praka Mar Budi Suharto) dan Saksi-1 (Praka Rudi Hartono).
Setelah Majelis Hakim meneliti barang bukti berupa surat tersebut dan setelah diperlihatkan kepada Terdakwa dan para Saksi, ternyata dibenarkan oleh Terdakwa dan para Saksi serta diterangkan bahwa surat tersebut adalah bukti bahwa Terdakwa telah berjanji akan mengembalikan kekurangan uang milik Saksi-1 (Praka Rudi Hartono) yang dijanjikan oleh Terdakwa untuk membeli mobil Toyota Avanza warna putih Nopol P 1409 VM, namun sampai perkara ini disidangkan uang Saksi-1 (Praka Rudi Hartono) tersebut belum dikembalikan oleh Terdakwa.
e. 1 (satu) lembar Tanda bukti Transfer Bank BRI Cab Muncar No Rek. 095301030939533 tanggal 27 Desember 2013 a.n. Saksi-3 (Kopda Mar Kamarudin).
f. 1 (satu) lembar kwitansi pembayaran yang dilakukan oleh Terdakwa (Praka Mar Budi Suharto) tanggal 25 September 2014.
g. 1 (satu) lembar foto copy Rekening Koran BRI Unit Sukapura No Rek 651201003224539 a.n. Sdri. Dwi Septiningtyas (Saksi-2).
Setelah Majelis Hakim meneliti barang bukti berupa surat tersebut dan setelah diperlihatkan kepada Terdakwa dan para Saksi, ternyata dibenarkan oleh Terdakwa dan para Saksi serta diterangkan bahwa Surat-surat tersebut adalah bukti bahwa uang Saksi-1 (Praka Rudi Hartono) sebesar Rp. 51. 650.000,- (Lima Puluh Satu Enam Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) yang dibawa oleh Terdakwa yang dijanjikan untuk membeli mobil Toyota Avanza namun gagal, telah dikembalikan sebagian, dan kekurangannya sebesar Rp. Rp. 34.650.000.- (tiga puluh empat juta enam ratus lima puluh ribu rupiah).
Yang kesemuanya telah diperlihatkan dan dibacakan kepada Terdakwa dan para Saksi serta telah diterangkan sebagai barang bukti dalam perkara ini, ternyata berhubungan dan bersesuaian dengan bukti-bukti lain maka oleh karenanya dapat memperkuat pembuktian atas perbuatan-perbuatan yang didakwakan kepada Terdakwa.
Menimbang : Bahwa berdasarkan keterangan-keterangan Terdakwa dan para Saksi serta barang bukti dan setelah menghubungkan satu dengan yang lainnya, maka diperoleh fakta-fakta hukum sebagai berikut :
1. Bahwa benar, Terdakwa masuk menjadi Prajurit TNI AL melalui pendidikan Secatam PK Angk XX/l pada tahun 2000 di Kobangdikal Juanda Surabaya, setelah lulus dengan pangkat Prada ditempatkan di Yonmarhanlan Lantamal V Jayapura selanjutnya setelah mengalami berbagai mutasi pangkat dan jabatan sampai dengan terjadinya perbuatan yang menjadi perkara ini Terdakwa menjabat sebagai Ta Dentih Opsrat PLP Marinir 5 Baluran Asembagus dengan pangkat Praka NRP 98312.
2. Bahwa benar, Praka Rudi Hartono (Saksi-1) kenal dengan Terdakwa pada bulan Desember yang diperkenalkan oleh Saksi-3 (Kopda Mar Kamarudin) yang merupakan adik Terdakwa berdinas di Yonkav Perak Surabaya sewaktu sama-sama sedang bertugas di Lebanon, setelah perkenalan tersebut Saksi-1 Praka Rudi Hartono sering mengobrol dengan Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin dan Saksi-1 Praka Rudi Hartono menyampaikan kepada Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin setelah selesai penugasan ingin membeli mobil.
3. Bahwa benar, selanjutnya Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin menawarkan Saksi-1 Praka Rudi Hartono sebuah mobil Toyota Avansa warna putih Nopol P 1409 VM yang ditunjukkan gambarnya melalui BBM, karena Saksi-1 Praka Rudi Hartono merasa cocok terhadap mobil tersebut maka dengan kesepakatan antara Saksi-1 Praka Rudi Hartono dengan Terdakwa harga mobil tersebut sebesar Rp. 45.000.000,- (empat puluh lima ribu rupiah), kemudian Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin menyampaikan harus dipanjer dulu karena biar tidak kedahuluan orang lain, kemudian Saksi-1 Praka Rudi Hartono menyerahkan uang kepada Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin sebesar US $ 800 (delapan ratus dolar amerika) yang dirupiahkan sebesar Rp. 8.000.000,- (delapan juta rupiah) untuk di Transfer ke rekening Terdakwa sebagai tanda jadi.
4. Bahwa benar, sekira tanggal 27 Desember 2013 setelah Praka Rudi Hartono (Saksi-1) pulang dari penugasan Lebanon, Terdakwa meminta uang lagi kepada Saksi-1 untuk mengeluarkan mobil yang berada di Koperasi di Jember yang statusnya masih kredit macet
selanjutnya Saksi-1 Praka Rudi Hartono mentrasfer ke Bank BRI Cabang Sukapura Probolinggo atas nama Terdakwa sebesar Rp. 37.500.000,- (tiga puluh tujuh juta lima ratus ribu rupiah). Selanjutnya sekira bulan Januani 2014 Terdakwa menghubungi Saksi-I Praka Rudi Hartono lagi melalui telepon dan meminta ditrasfer untuk menebus BPKB dan biaya balik nama sebesar Rp.6.150.000,- (enam juta seratus lima puluh ribu rupiah) yang ditransfer oleh Saksi-1 Praka Rudi Hartono bersama isterinya Sdri. Dwi Septiningtyas (Saksi-2) melalui ATM Saksi-2, kemudian Terdakwa meminta uang lagi sebesar Rp. 4.000.000,- (empat juta rupiah) akan tetapi Saksi-1 Praka Rudi Hartono tidak memberikanya.
5. Bahwa benar, jumlah total keseluruhan uang yang sudah Praka Rudi Hartono (Saksi-1) serahkan kepada Terdakwa untuk pembelian mobil Toyota Avansa tersebut sebesar Rp. 51.650.000.000,- (lima puluh satu juta enam ratus lima puluh ribu rupiah).
6. Bahwa benar, pada bulan Februari 2014 Terdakwa datang kerumah Praka Rudi Hartono (Saksi-1) di Desa Kotakan Situbondo untuk meminta maaf karena mobil yang dipesan Saksi-1 belum ada dengan alasan bahwa mobil tersebut masih dibawa teman Terdakwa yang bernama Sdr. Jalil yang sampai saat ini belum diketemukan, selanjutnya sebagai gantinya Terdakwa meminjamkan mobil Suzuki X Over milik Terdakwa sebagai jaminan sampai mobil Avansa yang dipesan Saksi-1 Praka Rudi Hartono ada.
7. Bahwa benar, sekira bulan Mei 2014 Praka Rudi Hartono (Saksi-1) membatalkan pembelian mobil Toyota Avansa karena mobil yang ditawarkan oleh Saksi-1 Praka Rudi Hartono juga belum ada dan Terdakwa hanya janji-janji terus, selanjutnya Saksi-1 Praka Rudi Hartono meminta agar uang yang Saksi-1 Praka Rudi Hartono serahkan kepada Terdakwa supaya untuk dikembalikan dan Terdakwa menerima dan menyanggupi untuk mengembalikan uang yang sudah diterimanya.
8. Bahwa benar, Terdakwa mengembalikan uang dari Praka Rudi Hartono (Saksi-1) yang diserahkan sebanyak 2 (dua) kali yang pertama pada tanggal 3 September 2014 sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) di serahkan di Kantor PAM PLP Mar 5 Baluran yang Terdakwa serahkan sendiri dan diterima oleh Sdr. Erwin can Sdr. Nono yang disertai tanda terima/kwitansi, kemudian yang kedua pada tanggal 25 September 2014 sebesar Rp. 7.000.000,- (tujuh juta rupiah) di serahkan di Kantin Kantor PLP Mar 5 Baluran yang Terdakwa serahkan sendiri dan diterima oleh Sdr. Erwin dan Sdr. Nono yang disertai tanda terima/kwitansi, sehingga jumlah uang Terdakwa serahkan kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono
sebesar Rp.1 7.000.000,- (tujuh belasjuta rupiah).
9. Bahwa benar, sisa uang yang belum Terdakwa serahkan kepada Praka Rudi Hartono (Saksi-1) sebesar Rp. 34.650.000.- (tiga puluh empatjuta enam ratus lima puluh ribu rupiah) clan sampai saat inipun Terdakwa tidak pernah membayar/mencicil dan sudah 2 (dua) kali membuat surat perjanjian akan tetapi Terdakwa tidak pernah menepatinya.
10. Bahwa benar, Terdakwa pada tahun 2004 pernah dijatuhi hukuman disiplin Penahanan Ringan selama 7 (tujuh) hari karena mangkir clan pada tahun 2005 pernah juga dijatuhi hukuman pidana penjara selama 20 (dua puluh) hari dalam penkana Desersi.
Menimbang : Bahwa lebih dahulu Majelis Hakim akan menanggapi beberapa hal yang dikemukakan oleh Oditur Militer dalam Tuntutannya dengan mengemukakan pendapatnya sebagai berikut :
1. Bahwa terhadap Tuntutan Oditur Militer mengenai pidana yang dijatuhkan terhadap diri Terdakwa, Majelis Hakim akan mempertimbangkan sendiri pada bagian akhir putusan ini.
2. Bahwa mengenai keterbuktian unsur-unsur tindak pidana yang telah dibuktikan oleh Oditur Militer sebagaimana tertuang dalam Tuntutannya, Majelis Hakim akan membuktikannya sendiri dalam putusannya dibawah ini.
Menimbang : Bahwa tindak pidana yang didakwakan oleh Oditur Militer disusun secara Alternatif, yaitu:
Pertama : Pasal 378 KUHP.
Atau
Kedua : Pasal 372 KUHP.
Menimbang : Bahwa karena dakwaan Oditur Militer disusun secara Alternatif maka ada kebolehan bagi Majelis Hakim untuk memilih Alternatif mana yang sesuai dengan fakta-fakta hukum yang terungkap di persidangan, dalam hal ini Majelis Hakim akan membuktikan Dakwaan Alternatif Pertama, yaitu pasal 378 KUHP.
Menimbang : Bahwa dakwaan alternatif pertama yaitu pasal 378 KUHP, mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
- Unsur ke-1 : Barang siapa.
- Unsur ke-2 : Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum.
- Unsur ke-3 : Dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang.
Menimbang : Bahwa mengenai unsur ke-1 dakwaan Alternatif pertama yaitu Barang siapa, Majelis Hakim mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:
Bahwa pada dasarnya kata “Barang siapa” menunjukkan kepada siapa orangnya yang harus bertanggung-jawab atas perbuatan/kejadian yang didakwakan itu atau setidak-tidaknya mengenai siapa orangnya yang harus dijadikan Terdakwa dalam perkara ini. Tegasnya, kata “Barang siapa” menurut Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas Dan Administrasi Buku II, Edisi Revisi tahun 2004, Halaman 208 dari MAHKAMAH AGUNG RI dan PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG RI Nomor : 1398 K / Pid / 1994 tanggal 30 Juni 1995 terminologi kata “Barang siapa” atau “HIJ” sebagai siapa saja yang harus dijadikan Terdakwa/dader atau setiap orang sebagai
subyek hukum (pendukung hak dan kewajiban) yang dapat diminta pertanggungjawaban dalam segala tindakannya.
Bahwa selanjutnya dengan mengacu pada ketentuan pasal 2 sampai dengan pasal 9 KUHP yang dimaksud dengan pengertian “Barangsiapa“ sebagai pendukung hak atau subyek hukum adalah orang/manusia pribadi (Naturlijk Persoon) atau badan hukum (Recht Persoon). Oleh karenanya dari rumusan pasal tersebut maka semua warga negara Indonesia dan warga negara asing yang memenuhi persyaratan yang diatur dalam pasal 2 sampai dengan pasal 9 KUHP yang dalam hal ini termasuk anggota angkatan perang (Anggota Tentara Nasional Indonesia).
Bahwa berdasarkan keterangan para Saksi di bawah sumpah, keterangan Terdakwa serta alat bukti dan setelah menghubungkan yang satu dengan lainnya terungkap fakta-fakta sebagai berikut :
1. Bahwa benar, Terdakwa masuk menjadi Prajurit TNI AL melalui pendidikan Secatam PK Angk XX/l pada tahun 2000 di Kobangdikal Juanda Surabaya, setelah lulus dengan pangkat Prada ditempatkan di Yonmarhanlan Lantamal V Jayapura.
2. Bahwa benar, selanjutnya setelah mengalami berbagai mutasi pangkat dan jabatan sampai dengan terjadinya perbuatan yang menjadi perkara ini Terdakwa menjabat sebagai Ta Dentih Opsrat PLP Marinir 5 Baluran Asembagus dengan pangkat Praka NRP 98312.
3. Bahwa benar, selain anggota TNI Terdakwa juga sebagai warga negara yang tunduk kepada peraturan perundang-undangan di Indonesia atau hukum Negara Indonesia.
4. Bahwa benar, Terdakwa dalam persidangan dapat menjawab pertanyaan - pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan lancar dalam bahasa Indonesia yang mudah dimengerti.
Dari uraian tersebut diatas, Majelis Hakim berpendapat bahwa unsur ke-1 dalam dakwaan Alternatif pertama, yaitu, Barang siapa, telah terpenuhi secara sah dan menyakinkan.
Menimbang : Bahwa mengenai unsur ke-2 dakwaan Alternatif pertama yaitu Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum. Majelis Hakim mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:
Perkataan “dengan maksud” merupakan istilah lain dari pada perkataan “dengan sengaja “ dan sebagai pernyataan setuju, yang berarti pelaku menghendaki dan menyadari terjadinya suatu perbuatan beserta akibatnya.
Penempatan unsur dengan maksud didepan unsur-unsur tindak pidana yang kini berarti sama unsur tindak pidana yang bernada dibelakangnya diliputi dengan unsur maksud. Sebagai unsur sengaja pelaku menyadari dan menghendaki suatu keuntungan untuk dirinya sendiri atau orang lain, dan menyadari pula ketidak berhasilannya suatu keuntungan tersebut, serta tindakannya yang berupa penggerakan dengan sarana kebohongan atau tipu muslihat.
Menurut MvT yang dimaksud dengan sengaja (kesengajaan) adalah menghendaki dan menginsyafi terjadinya suatu tindakan beserta akibatnya.
Bahwa oleh karena unsur dari perbuatan yang dilarang dalam rumusan delik ini bersifat alternatif, maka terdapat keleluasaan untuk membuktikan tindakan mana yang bersesuaian dengan fakta yang terungkap dipersidangan, yaitu:
Bahwa yang dimaksud “melawan hukum” sama juga dengan pengertian dengan sengaja, tidak ada penjelasan atau penafsiran dalam KUHP, karena itu pengertian melawan hukum (Woderichtclijk) seperti juga pengertian “Dengan sengaja” (dolus) diperoleh dari pendapat-pendapat pakar hukum pidana dan Yurisprudensi. Menurut Arres HR 31 Desember 1919 tentang pasal 1365 yaitu tindakan yang tidak sesuai dengan hukum (Anrechmatiqedaad) yaitu:
a. Merusak hak Subyektif seseorang.
b. Melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku.
c. Melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kepatutan.
Menurut Pompe tindakan yang tidak sesuai dengan hukum tersebut sama dengan “Melawan hukum”. Menurut Simon melawan hukum adalah bertentangan dengan hukum pada umumnya, sedangkan menurut Moelyatno dan Ruslan Saleh berpendapat melawan hukum berarti “Bertentangan dengan hukum”.
Dari pendapat-pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa “Melawan hukum” itu berarti :
a. Melawan hak atau tanpa hak, tidak berhak. b. Merusak hak orang lain.
c. Bertentangan dengan hukum. d. Tidak sesuai dengan hukum. e. Bertentangan dengan kepatutan.
Selanjutnya yang dimaksud dengan dibawah kekuasaan sendiri adalah perbuatan yang merupakan suatu tindakan penguasaan terhadap orang yang dilarikan atau dibawa :
a. Atas perintah yang ditaati atau b. Atas paksaan secara fisik atau
c. Mengikuti belaka hingga orang tersebut didalam penguasaan pelaku , dalam hal mana korban terpedaya sebagai akibat tipu muslihat, dan ia tidak akan mengikutinya, apabila diketahui maksud yang sebenarnya.
Yang dimaksud keuntungan disini adalah keuntungan yang diperoleh secara tanpa hak, yang dengan sesuatu yang mempunyai nilai ekonomi.
Keuntungan dalam pasal ini fungsinya adalah sebagai tujuan berarti tidak harus selalu menjadi kenyataan keuntungan yang diharapkan, yang penting adakah pada waktu itu mengharapkan suatu keuntungan.
Dalam unsur ini tujuan tindakan yang dilakukan adalah untuk diri pelaku sendiri atau orang lain, sehingga yang disyaratkan adalah
untuk salah satu dari kedua alternatif tersebut yaitu untuk pelaku sendiri atau orang lain atau dapat juga untuk keduanya.
Berdasarkan keterangan Terdakwa yang dikuatkan dengan keterangan para Saksi dibawah sumpah dipersidangan dan alat bukti lain yang diajukan dipersidangan diperoleh fakta-fakta sebagai berikut:
1. Bahwa benar, Praka Rudi Hartono (Saksi-1) kenal dengan Terdakwa pada bulan Desember yang diperkenalkan oleh Saksi-3 (Kopda Mar Kamarudin) yang merupakan adik Terdakwa.
2. Bahwa benar, Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin berdinas di Yonkav Perak Surabaya, kenal dengan Saksi-1 Praka Rudi Hartono sewaktu sama-sama bertugas di Lebanon, ketika berada di Libanon Saksi-1 Praka Rudi Hartono sering mengobrol dengan Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin dan Saksi-1 Praka Rudi Hartono menyampaikan kepada Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin setelah selesai penugasan ingin membeli mobil. Selanjutnya Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin menyampaikan hal tersebut kepada Terdakwa dan Terdakwa menawarkan mobil Toyota Avansa warna putih Nopol P 1409 VM kepada Selanjutnya 3 Kopda Mar Kamarudin, kemudian Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin menunjukan foto mobil Toyota Avansa warna putih Nopol P 1409 VM kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono melalui BBM.
3. Bahwa benar, setelah ditunjukan fotonya Saksi-1 Praka Rudi Hartono merasa cocok terhadap mobil tersebut maka Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin langsung memperkenalkan Saksi-1 Praka Rudi Hartono dengan Terdakwa. Selanjutnya terjadi kesepakatan harga mobil tersebut antara Saksi-1 dengan Terdakwa sebesar Rp. 45.000.000,- (empat puluh lima ribu rupiah) kemudian Terdakwa menyampaikan harus dipanjer dulu karena biar tidak kedahuluan orang lain, kemudian Saksi-1 Praka Rudi Hartono menyerahkan uang kepada Terdakwa melalui Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin sebesar US $ 800 (delapan ratus dolar amerika) yang dirupiahkan sebesar Rp. 8.000.000,- (delapan juta rupiah) untuk di Transfer ke rekening Terdakwa sebagai tanda jadi.
4. Bahwa benar, sekira tanggal 27 Desember 2013 setelah Saksi-1 Praka Rudi Hartono pulang dari penugasan Lebanon, Terdakwa meminta uang lagi kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono untuk mengeluarkan mobil yang berada di Koperasi kota Jember yang statusnya masih kredit macet, atas permintaan Terdakwa tersebut selanjutnya Saksi-1 Praka Rudi Hartono mentrasfer uang ke Bank BRI Cabang Sukapura Probolinggo atas nama Terdakwa sebesar Rp. 37.500.000,- (tiga puluh tujuh juta lima ratus ribu rupiah).
5. Bahwa benar, selanjutnya sekira bulan Januari 2014 Terdakwa menghubungi Saksi-1 Praka Rudi Hartono lagi melalui telepon dan meminta ditrasfer untuk menebus BPKB dan biaya balik nama sebesar Rp.6.150.000,- (enam juta seratus lima puluh ribu rupiah), atas permintaan Terdakwa tersebut Saksi-1 Praka Rudi Hartono bersama isterinya Sdri. Dwi Septiningtyas (Saksi-2) mentransfer uang melalui ATM, kemudian Terdakwa meminta uang lagi sebesar Rp. 4.000.000,- (empat juta rupiah) akan tetapi Saksi-1 Praka Rudi Hartono tidak memberikanya.
6. Bahwa benar, jumlah total keseluruhan uang yang sudah Saksi-1 Praka Rudi Hartono serahkan kepada Terdakwa untuk pembelian mobil Toyota Avanza tersebut sebesar Rp. 51.650.000,- (lima puluh satu juta enam ratus lima puluh ribu rupiah).
7. Bahwa benar, uang yang diterima oleh Terdakwa dari Saksi-1 Praka Rudi Hartono sejak tanggal 27 Desember 2013 tersebut ternyata tidak dipakai untuk menebus mobil sebagaimana keterangan Terdakwa kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono melainkan dipakai Terdakwa sendiri untuk main perempuan.
8. Bahwa benar, sejak semula Terdakwa menyadari mobil Avanza yang ditawarkannya kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono tidak pernah ada dan uang yang diserahkan Saksi-1 Praka Rudi Hartono dipakai Terdakwa sendiri untuk main perempuan bukan untuk menebus mobil Avanza yang dijanjikan Terdakwa kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono.
Dari uraian tersebut diatas, Majelis Hakim berpendapat bahwa dengan demikian sejak semula tujuan Terdakwa menawarkan mobil Avanza warna putih Nopol P 1409 VM kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono melalui BBM adalah untuk mendapatkan keuntungan dalam hal ini berupa uang dari Saksi-1 Praka Rudi Hartono dan perbuatan Terdakwa untuk mendapatkan keuntungan dari Saksi-1 Praka Rudi Hartono tersebut telah membuat Saksi-1 Praka Rudi Hartono mengalami kerugian sehingga perbuatan Terdakwa tersebut telah bertentangan atau menyerang kepentingan orang lain yang dilindungi oleh hukum (dhi. Hukum positif Indonesia) atau dengan peraturan yang berlaku.
Oleh karenanya, Majelis Hakim berpendapat bahwa unsur ke-2 dalam dakwaan Alternatif pertama, yaitu “Dengan maksud untuk menguntungkan diri secara melawan hukum”, telah terpenuhi secara sah dan menyakinkan.
Menimbang : Bahwa mengenai unsur ke-2 dakwaan Alternatif pertama yaitu Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum. Majelis Hakim mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:
Martabat adalah tingkatan atau kedudukan, pangkat, derajat, yang sebenarnya tidak di milikinya atau tidak ada pada dirinya.
Tipu adalah perbuatan atau perkataan yang tidak jujur/bohong/ palsu (dengan maksud menyesatkan, mengakali atau mencari keuntungan, mengecoh).
Muslihat adalah daya upaya atau dengan kata lain “tipu muslihat” adalah suatu tindakan baik di sertai dengan ucapan maupun tidak, dengan maksud untuk memperdayakan, mengecoh, mengakali orang lain sehingga tindakan itu menimbulkan pengaharapan bagi orang lain, padahal pelaku menyadari bahwa hal itu tidak ada / tidak benar.
Rangkaian kebohongan adalah beberapa keterangan yang saling mengisi yang seolah-olah isi keterangan itu benar, padahal kebohongan belaka. Masing-masing keterangan tersebut tidak harus seluruhnya berisi kebohongan, tetapi cukup orang lain berkesimpulan bahwa keterkaitan satu dengan lainnya (keterangan-keterangan) sebagai sesuatu yang benar. Terdapat suatu rangkaian kebohongan, jika antara pelbagai kebohongan itu terdapat suatu hubungan yang
demikian rupa dan kebohongan yang satu melengkapi kebohongan yang lain, sehingga kebohongan-kebohongan itu secara timbal balik menimbulkan suatu gambaran palsu seolah-olah merupakan suatu kebenaran (vide H.R. 8 Maret 1926).
Menggerakkan (bewegen) adalah membuat orang lain tergerak hatinya sehingga mau melakukan suatu tindakan/perbuatan (menyerahkan/memberi/menghapuskan).
Menyerahkan adalah memberikan, menyampaikan (kepada siapa yang ada hubungan kepentingan). Dengan pengertian “penyerahan” termasuk juga “menyuruh serahkan” antara lain penyerahan oleh orang yang dirugikan (korban) kepada seorang perantara dengan perintah menyampaikan barang itu kepada orang yang diperintah oleh si pelaku/Terdakwa (vide H.R. 27 Maret 1933).
Yang diartikan dengan “hutang”, adalah suatu perikatan antara dua/lebih pihak, atau sesuatu (umumnya berupa uang) yang dipinjam dari orang lain, atau kewajiban membayar kembali apa yang sudah di terima. Tidak menjadi persoalan apakah hutang yang dibuat itu mempunyai sebab (causa) yang sah. Untuk diterapkan pasal 378 KUHP tidak menjadi masalah hutang itu sah menurut hukum perdata atau tidak (vide H.R. 14 Januari 1918).
Yang dimaksud dengan “barang”, adalah benda umum (segala sesuatu yang berwujud atau berjasad misal, cair, keras), atau yang mempunyai nilai ekonomi (dhi. Termasuk juga uang) setidak-tidaknya bagi pemiliknya.
Bahwa unsur ketiga ini mengandung/memiliki alternatif perbuatan yang dilakukan oleh Terdakwa, sehingga tidak perlu membuktikan seluruh alternatif perbuatan tetapi cukuplah suatu perbuatan yang sesuai dengan fakta yang terungkap di persidangan.
Bahwa berdasarkan keterangan Terdakwa yang diperkuat dengan keterangan para Saksi di bawah sumpah yang telah bersesuaian antara satu dengan lainnya dan dengan adanya alat bukti lain di persidangan diperoleh fakta-fakta sebagai berikut :
1. Bahwa benar, pada saat berkenalan dengan Saksi-1 Praka Rudi Hartono, Terdakwa telah menawarkan mobil Avanza warna putih Nopol P-1409-VM kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono.
2. Bahwa benar, dari perkenalan tersebut Saksi-1 Praka Rudi Hartono tertarik untuk membeli mobil yang ditawarkan oleh Terdakwa.
3. Bahwa benar, setelah Saksi-1 Praka Rudi Hartono tertarik pada penawaran Terdakwa, Saksi-1 Praka Rudi Hartono meminta uang muka sebesar Rp. 45.000.000,- (empat puluh lima ribu rupiah) sebagai uang muka dengan alasan agar mobil yang ditawarkan Terdakwa tersebut tidak kedahuluan orang lain, kemudian Saksi-1 Praka Rudi Hartono menyerahkan uang kepada Terdakwa melalui Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin sebesar US $ 800 (delapan ratus dolar amerika) yang dirupiahkan sebesar Rp. 8.000.000,- (delapan juta rupiah) untuk di Transfer ke rekening Terdakwa sebagai tanda jadi.
4. Bahwa benar, selanjutnya Terdakwa terus meminta uang kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono dengan alasan untuk menebus mobil Avanza tersebut yang berada di Koperasi kota Jember, sampai tahun 2014 uang yang diminta Terdakwa kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono, sebesar Rp. 51.650.000,- (lima puluh satu juta enam ratus lima puluh ribu rupiah).
5. Bahwa benar, pada bulan Februari 2014 Terdakwa datang kerumah Saksi-1 Praka Rudi Hartono di Desa Kotakan Situbondo untuk meminta maaf karena mobil yang dipesan Saksi-1 Praka Rudi Hartono belum ada dengan alasan bahwa mobil tersebut masih dibawa teman Terdakwa yang bernama Sdr. Jalil yang sampai saat ini belum diketemukan, selanjutnya sebagai gantinya Terdakwa meminjamkan mobil Suzuki X Over milik Terdakwa sebagai jaminan sampai mobil Avanza yang dipesan Saksi-1 Praka Rudi Hartono ada.
6. Bahwa benar, sekira bulan Mei 2014 Saksi-1 Praka Rudi Hartono membatalkan pembelian mobil Toyota Avanza karena mobil yang ditawarkan oleh Saksi-1 Praka Rudi Hartono tidak pernah ada dan Terdakwa hanya janji-janji terus, selanjutnya Saksi-1 Praka Rudi Hartono meminta agar uang yang Saksi-1 Praka Rudi Hartono serahkan kepada Terdakwa untuk dikembalikan dan Terdakwa menyanggupi untuk mengembalikan uang yang sudah diterimanya.
7. Bahwa Terdakwa mengembalikan uang dari Praka Rudi Hartono (Saksi-1) yang diserahkan sebanyak 2 (dua) kali yang pertama pada tanggal 3 September 2014 sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) di serahkan di Kantor PAM PLP Mar 5 Baluran yang Terdakwa serahkan sendiri dan diterima oleh Sdr. Erwin can Sdr. Nono yang disertai tanda terima/kwitansi, kemudian yang kedua pada tanggal 25 September 2014 sebesar Rp. 7.000.000,- (tujuh juta rupiah) di serahkan di Kantin Kantor PLP Mar 5 Baluran yang Terdakwa serahkan sendiri dan diterima oleh Sdr. Erwin dan Sdr. Nono yang disertai tanda terima/kwitansi, sehingga jumlah uang Terdakwa serahkan kepada Saksi-1 Praka Rudi Hartono sebesar Rp.1 7.000.000,- (tujuh belasjuta rupiah).
8. Bahwa sisa uang yang belum Terdakwa serahkan kepada Praka Rudi Hartono (Saksi-1) sebesar Rp. 34.650.000.- (tiga puluh empatjuta enam ratus lima puluh ribu rupiah) clan sampai saat inipun Terdakwa tidak pernah membayar/mencicil dan sudah 2 (dua) kali membuat surat perjanjian akan tetapi Terdakwa tidak pernah menepatinya.
9. Bahwa benar, Saksi-1 Praka Rudi Hartono tergerak hatinya dan mau menyerahkan sejumlah uang kepada Terdakwa karena adanya kata-kata dan janji Terdakwa bahwa uang-uang tersebut akan dipergunakan Terdakwa untuk menebus mobil Toyota Avanza warna putih Nopol P-1409-VM, padahal mobil tersebut tidak pernah ada. Selain itu karena Terdakwa adalah seorang anggota TNI yang nota bene adalah kakak kandung dari Saksi-3 Kopda Mar Kamarudin (teman Saksi-1 Praka Rudi Hartono saat bertugas di Libanon.
Dari uraian tersebut diatas, Majelis Hakim berpendapat dengan demikian rangkaian tindakan Terdakwa mulai dari penawaran mobil Toyota Avanza warna putih Nopol P-1409-VM sampai Saksi-1 Praka Rudi Hartono mau menyerahkan uang kepada Terdakwa merupakan rangkaian kebohongan dan cara-cara Terdakwa untuk mengakali dan memperdaya Saksi-1 Praka Rudi Hartono sehingga dengan kata-kata
dan tindakan Terdakwa itu menimbulkan pengaharapan bagi Saksi-1 Praka Rudi Hartono, padahal Terdakwa menyadari bahwa hal itu tidak ada / tidak benar.
Oleh karenanya, Majelis Hakim berpendapat bahwa unsur ke-3 dalam dakwaan Alternatif Pertama, yaitu “Dengan tipu muslihat dan rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya”, telah terpenuhi secara sah dan menyakinkan.
Menimbang : Bahwa berdasarkan hal-hal yang diuraikan di atas merupakan pembuktian yang diperoleh dalam sidang, Majelis Hakim berpendapat bahwa terdapat cukup bukti yang sah dan meyakinkan bahwa Terdakwa telah bersalah melakukan tindak pidana :
Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum, dengan tipu muslihat dan rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya.
Menimbang : Bahwa oleh karena Terdakwa telah terbukti bersalah dan selama pemeriksaan dipersidangan Majelis tidak menemukan alasan pemaaf maupun alasan pembenar pada diri Terdakwa maka sudah selayak dan seadilnya apabila dipidana setimpal dengan perbuatannya.
Menimbang : Bahwa sebelum sampai pada pertimbangan terakhir dalam mengadili perkara ini, Majelis Hakim akan menilai sifat, hakekat dan akibat dari perbuatan Terdakwa serta hal-hal yang mempengaruhi sebagai berikut :
Bahwa sifat dari perbuatan Terdakwa yang mendapatkan keuntungan berupa materi dari Saksi-1 Praka Rudi Hartono yang nota bene adalah teman adik kandung Terdakwa ketika bertuga di Libanon, dengan cara menipu adalah sikap Terdakwa yang tidak memperdulikan hak orang lain dan tidak peduli dengan aturan hukum yang berlaku, hal ini menunjukkan bahwa Terdakwa cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan Terdakwa.
Bahwa perbuatan-perbuatan Terdakwa tersebut di atas, seharusnya tidak perlu terjadi apalagi Terdakwa seorang prajurit TNI, tentunya harus bisa mengambil suatu kebijaksanaan untuk menjunjung tinggi sikap dan menjaga kehormatan prajurit sebagaimana dalam Sapta Marga, marga ke-5 sehingga tidak melakukan perbuatan yang melanggar hak orang lain dan tidak melakukan perbuatan yang dapat merugikan orang lain serta dapat menjadi panutan.
Bahwa akibat dari perbuatan Terdakwa tersebut menimbulkan kerugian bagi Saksi-1 Praka Rudi Hartono meskipun sudah dikembalikan namun sampai saat ini kekurangan sebesara Rp. 34.650.000,- (Tiga Puluh Empat Juta Enam Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) belum dikembalikan.
Menimbang : Bahwa oleh karena Oditur Militer dalam tuntutannya telah berkesimpulan Terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana Penipuan, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 KUHP, oleh karena itu Oditur Militer menuntut Terdakwa dengan Pidana Pokok Penjara selama 10 (sepuluh) bulan, dan pidana tambahan dipecat dari dinas militer.
Sedangkan Terdakwa memohon agar diberikan hukuman yang seringan-ringannya berserta alasan-alasannya maka Majelis Hakim akan mempertimbangkan terlebih dahulu mengenai berapa lamanya hukuman (sentencing atau staftoemeting) pidana penjara yang tepat yang kira-kira sepadan untuk dijatuhkan kepada Terdakwa sesuai tindak pidana dan kadar kesalahan yang dilakukannya, apakah permintaan Oditur Militer dan Terdakwa tersebut telah cukup memadai ataukah dipandang terlalu berat, ataukah masih kurang sepadan dengan kesalahan Terdakwa, maka untuk menjawab pertanyaan tersebut di sini merupakan kewajiban Majelis Hakim untuk mempertimbangkan segala sesuatunya selain dari aspek yuridis yang telah dikemukakan di atas, yaitu aspek kejiwaan/psikologis Terdakwa, aspek lingkungan dan aspek edukatif, kepentingan masyarakat dalam memutus perkara ini, dimana pertimbangan-pertimbangan tersebut Majelis Hakim perlu uraikan dan jelaskan dalam rangka sebagai pertanggungjawaban Majelis Hakim kepada masyarakat, ilmu hukum itu sendiri, rasa keadilan dan kepastian hukum, negara dan bangsa serta Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai berikut:
1. Bahwa dikaji dari aspek kejiwaan/psikologis Terdakwa ternyata pada saat Terdakwa melakukan tindak pidana Penipuan, saat itu Terdakwa tidak berada dalam situasi tertekan tetapi semata-mata karena Terdakwa ingin mendapatkan keuntungan secara cepat dan mudah dan ternyata selama menjalani pemeriksaan persidangan ini Terdakwa juga sedang menjalani pemeriksaan persidangan dalam perkara lain di Pengadilan Militer III-12 Surabaya. Hal ini menunjukan bahwa Terdakwa memang ada kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang melanggar hukum.
2. Bahwa dilihat dari latar belakang pendidikan yang dimiliki Terdakwa baik pendidikan umum dan pendidikan militer seharusnya tidak menjadikan diri Terdakwa untuk tidak mengindahkan peraturan hukum/peraturan perundang-undangan yang berlaku, namun dalam kenyataannya Terdakwa justru melakukan perbuatan yang menjadi perkara ini.
3. Bahwa dilihat dari lingkungan tempat dimana Terdakwa ditugaskan, ternyata pada saat Terdakwa melakukan tindak pidana yang menjadi perkara ini, Terdakwa berdinas di PUSLATPUMAR-5, yang merupakan tempat pendidikan bagi para prajurit Marinir, dengan keadaan demikian seharusnya tidaklah membentuk diri Terdakwa untuk bertingkah laku negatif, namun dalam kenyataannya Terdakwa justru melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar aturan hukum.
4. Bahwa dilihat dari kepentingan masyarakat ternyata masyarakat pada umumnya memandang bahwa perbuatan Terdakwa melakukan Penipuan dipandang sebagai perbuatan tercela dan bertentangan dengan undang-undang, karena hal tersebut tidak akan memberikan rasa aman kepada masyarakat disekeliling Terdakwa.
Namun demikian Majelis Hakim juga mempertimbangkan keadaan Terdakwa setelah tindak pidana yang dilakukannya dimana Terdakwa mempunyai itikad baik untuk mengakui kesalahannya, adanya rasa penyesalan yang dalam dari diri Terdakwa, telah membayar sebagian dari kerugian yang diserita oleh Saksi-1 dan adanya janji untuk tidak mengulanginya, sehingga Majelis Hakim berpendapat tuntutan pidana