EFEKTIVITAS PEMANFAATAN DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH DALAM PENGADAAN FASILITAS SEKOLAH DI
MADRASAH TSANAWIYAH MUHAMMADIYAH KALOSI KABUPATEN ENREKANG
HERAWATI LARANG Nomor Stambuk : 105610371310
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2014
i
MADRASAH TSANAWIYAH MUHAMMADIYAH KALOSI KABUPATEN ENREKANG
Skripsi
Sebagai salah satu syarat Untuk memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Administrasi Negara
Disusun dan Diajukan Oleh HERAWATI LARANG Nomor Stambuk : 105610371310
Kepada
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2014
ii
Operasional Sekolah Dalam Pengadaan Fasilitas Sekolah di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang Nama Mahasiswa : Herawati Larang
Nomor Stambuk : 105610371310
Program Studi : Ilmu Administrasi Negara
Menyetujui :
Pembimbing I Pembimbing II
Dra. Musliha Karim, M. Si Drs. H. Muhammad Idris, M. Si
Mengetahui :
Dekan Ketua Jurusan
Fisipol Unismuh Makassar Ilmu Administrasi Negara
Dr. H. Muhlis Madani., M.SI Dr.Burhanuddin, S. Sos., M.Si
iii
Telah diterima oleh TIM Penguji Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar, berdasarkan surat keputusan/undangan menguji ujian skripsi Dekan Fisipol Universitas Muhammadiyah Makassar dengan, Nomor: 1588/FSP/A. I-VIII/X/35/2014 sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana (S1) dalam program Studi Ilmu Administrasi Negara di Makassar hari jumat tanggal 17 Oktober 2014.
TIM PENILAI
Ketua,
Dr. H Muslis Madani, M.Si
Sekretaris,
Drs. H. Muhammad Idris, M.Si Penguji
1. Dra. Hj. Djuliati Shaleh, M.Si (Ketua) (……….)
2. Drs. H Muhammad Idris, M.Si (……….)
3. Abdul Kadir Adys, SH, MM (……….)
4. Hj. Andi Nuraeni Aksa, SH, MH (……….)
iv
Nama Mahasiswa : HERAWATI LARANG Nomor Stambuk : 105610371310
Program Studi : Ilmu Administrasi Negara
Menyatakan bahwa benar karya ilmiah ini adalah penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain atau telah ditulis/dipublikasikan orang lain atau melakukan plagiat. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai aturan yang berlaku, sekalipun itu pencabutan gealar akademik.
Makassar, Juni 2014 Yang menyatakan,
Herawati Larang
v
HERAWATI LARANG. Efektivitas Pemanfaatan Dana Bantuan Operasional Sekolah Dalam Pengadaan Fasilitas Sekolah Di Sekolah Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang (dibimbing Oleh Musliha Karim dan Muhammad Idris).
Dana bantuan operasional sekolah merupakan dana bantuan yang diberikan oleh pemerintah kepada sekolah untuk meringankan beban orangtua murid agar tidak merasa terbebani dengan pembiayaan uang sekolah, sehingga menghasilkan anak didik yang berpendidikan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah dalam pengadaan fasilitas sekolah dan Kinerja kepala sekolah dalam menangani efektivitas pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah dalam pengadaan fasilitas sekolah di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dan tipe penelitian survey yang kemudian menginterpretasikan data hasil angket dari 48 responden. Data dikumpulkan dengan kuesioner, observasi, dan dokumentasi. Data tersebut dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menggunakan tabel frekuensi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1. efektivitas pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah dalam pengadaan fasilitas sekolah di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang Adalah Berkategori Sangat Baik. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata skor dari ketiga indikator dimana pada indikator pembelian buku perpustakaan dengan nilai rata-rata skor 3,21 (80,21 persen) pada kategori baik, pembiayaan alat elektronik dengan nilai rata- rata skor 3,28 (82,11 persen) pada kategori sangat baik, pembiayaan perawatan sekolah dengan nilai rata-rata skor 3,65 (91,40 persen) pada kategori sangat baik.
2. Kinerja kepala sekolah dalam menangani efektivitas pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah dalam pengadaan fasilitas sekolah di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang Berkategori Sangat Baik. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata Skor dari ketiga indikator dimana indikator perencanaan dengan nilai rata-rata skor 3,41 (85,16 persen) pada kategori sangat baik, disiplin dengan nilai rata-rata skor 3,08 (77,08 persen) pada kategori baik, dan kepemimpinan dengan nilai rata-rata skor 3,67 (91,92 persen) pada kategori sangat baik. Dengan melihat keenam indikator diatas maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah dalam pengadaan fasilitas sekolah di sekolah madrasah tsanawiyah muhammadiyah kalosi kabupaten enrekan berkategori sangat baik.
Kata kunci: Kinerja, Kepala Sekolah
vi Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu
Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Efektivitas pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah dalam pengadaan fasilitas sekolah di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang”. Skripsi in imerupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar sarjana Ilmu Administrasi Negara pada Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.
Penulis hendak menyampaikan terimah kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua tercinta dan terkasih Ayahanda Muh. Yusuf Larang dan Ibunda Nuraini yang telah melahirkan, membesarkan, mendidik, mendoakan, memelihara serta memberikan bantuan moral dan materi, nasehat serta motivasi dan pengorbanan yang sangat besar dalam melewati hari-hari dalam kehidupan ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi penelitian ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terimah kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Ibu Dra. Musliha Karim selaku pembimbing I dan Bapak Drs. H. Muhammad Idris, M.SI selaku pembimbing II yang telah berkenaan meluangkan waktu dan tenaganya dalam membimbing dan memberi petunjuk yang begitu berharga dari awal persiapan penelitian hingga selesainya penyusunan skripsi ini. Oleh karena
vii
1. Bapak Dr. H. Muhlis Madani, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. Bapak Dr.Burhanuddin, S.Sos.,M.Si selaku ketua jurusan Ilmu Administrasi Negara pada Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Para Dosen jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik yang dengan ikhlas telah memberikan ilmunya kepada penulis selama menempuh perkuliahan.
4. Buat sahabat dan teman-teman seperjuangan jurusan Ilmu Administrasi Negara, terkhusus rekan-rekan angkatan 2010 kelas D yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, penulis banyak mengucapkan terima kasih atas kebersamaan dan kekompakan kita selama ini yang penuh keceriaan, saling membantu, dan saling menerima.
5. Buat semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak sempat disebutkan satu-persatu terima kasih atas bantuannya.
6. Dan kepala sekolah, guru-guru serta murid yang ada di Sekolah Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk menjadi responden dalam mengisi kuesioner sewaktu proses penelitian.
viii
SWT, oleh karena itu saran, kritik serta umpan balik diharapkan agar skripsi ini mendekati kesempurnaan yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan.
Semoga karya skripsi penelitian ini bermanfaat dan dapat memberi sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.
Wassalamu AlaikumWr. Wb.
Makassar, Juni 2014
Penulis,
ix
HALAMAN PENGAJUAN SKRIPSI...i
HALAMAN PERSETUJUAN...ii
PENERIMAAN TIM ...iii
KEASLIAN KARYA ILMIAH ...iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ...vi
DAFTAAR ISI ...ix
DAFTAR TABEL ...xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Efektivitas ... 9
1. Pengertian Efektivitas ... 9
2. Konsep Pengelolaan, Transparansi, dan Akuntabilitas... 18
3. Landasan Hukum ... 20
4. Kebijakan Dana Bantuan Operasional Sekolah ... 21
5. Pemanfaatan Dana Bantuan Operasional Sekolah ... 24
6. Konsep Kinerja... 27
B. Kerangka Pikir ... 30
C. Definisi Operasional... 32
BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 34
B. Tipe dan Dasar Penelitian ... 34
C. Populasi dan Sampel ... 35
x
F. Teknik Analisis Data... 36 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 40 B. Karakteristik Responden ... 41 C. Efektivitas Pemanfaatan Dana Bantuan Operasional Sekolah Dalam
Pengadaan Fasilitas Sekolah di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang... 43 D. Kinerja Kepala Sekolah Dalam Menangani Efektivitas Pemanfaatan Dana
Bantuan Operasional Sekolah dalam Pengadaan Fasilitas Sekolah Di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang ... 54 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 71 B. Saran... 72 DAFTAR PUSTKA
xi
Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur...42 Tabel 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan ...43 Tabel 4. Tanggapan Responden Tentang Penggunaan Buku Sebagai Bahan
Baca...44 Tabel 5. Tanggapan Responden Tentang Penggunaan Buku Sebagai Panduan
untuk Guru...46 Tabel 6. Rekapitulasi Tanggapan Responden Tentang Pembelian
Buku Perpustakaan Di Sekolah ...47 Tabel 7. Tanggapan Responden Tentang Penggunaan Fasilitas LCD
di Sekolah...48 Tabel 8. Tanggapan Responden Tentang Pembelian Kelengkapan Komputer di
Sekolah...49 Tabel 9. Rekapitulasi Tanggapan Responden Terhadap Pembiayaan
Alat Elektronik ...50 Tabel 10. Tanggapan Responden Tentang Pelaksanaan Pengecetan Ruang
Belajar Agar Terlihat Indah ...51 Tabel 11. Tanggapan Responden Tentang Perbaikan Ruang Belajar ...52 Tabel 12. Rekapitulasi Tanggapan Responden Tentang Pembiayaan
Perawatan Sekolah ...53 Tabel 13. Tanggapan Responden Tentang Merealisasikan
Tanggung Jawab yang diberikan...55 Tabel 14. Tanggapan Responden Tentang Pemberian Arahan dalam
Menjalankan Dana Bantuan Operasional Sekolah ...56 Tabel 15. Tanggapan Responden Tentang Pemberikan Informasi Mengenai
Dana Bantuan Operasional Sekolah...57 Tabel 16. Tanggapan Responden Tentang Dana Bantuan
Operasional Sekolah dilaksanakan Sesuai Program...59
xii
Tabel 18. Tanggapan Responden Tentang Sikap Mematuhi
Peraturan Yang Ada dalam Menjalankan Tugasnya ...61 Tabel 19. Tanggapan Responden Tentang Ketepatan Waktu
Dalam Bekerja...62 Tabel 20. Tanggapan Responden Tentang
Mensosialisasikan Pentingnya kedisiplinan...63 Tabel 21. Rekapitulasi Tanggapan Responden Tentang Kinerja Kepala Sekolah
Mengenai Disiplin
dalam Menjalankan Dana Bantuan Operasional Sekolah ...64 Tabel 22. Tanggapan Responden Tentang Kemampuan
Dalam Menjalankan Tugasnya Sebagai Pemimpin...65 Tabel 23. Tanggapan Responden Tentang Contoh Panutan yang
Baik bagi Guru dan Muridnya...66 Tabel 24. Rekapitulasi Tanggapan Responden Tentang Kinerja Kepala Sekolah
Mengenai Kepemimpinan dalam Menangani Dana Bantuan Operasional Sekolah...67 Tabel 25. Rata-rata Persentase dari Ketiga Indikator Efektivitas
Pemanfaatan Dana Bantuan Operasional Sekolah ...68 Tabel 26. Rata-rata Persentase dari Ketiga Indikator Kinerja Kepala Sekolah
Dalam Menangani Efektivitas Pemanfaatan Dana Bantuan
Operasional Sekolah...69
1 A. Latar Belakang
Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara yang berusia7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Pasal 34 ayat 2 menyebutkan bahwa pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya, sedangkan dalam ayat 3 menyebutkan bahwa wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh Lembaga pendidikan pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Konsekuensi dari amanat undang-undang tersebut adalah pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) serta satuan pendidikan lain yang sederajat.
Sejak digulirkannya kebijakan pemerintah program wajib belajar (wajar) pendidikan dasar 9 tahun merupakan upaya lanjutan dalam memenuhi amanat UUD 1945 khususnya bab XIII pasal 31 ayat satu (1) menyatakan dengan tegas bahwa setiap warga negara berhak mendapat pengajaran (Buku UUD Tahun 1945, 2010:9). Namun kenyataan di lapangan menunjukkan ada banyak hambatan dalam implementasinya. Salah satu penghambatnya adalah sebagian masyarakat tidak mampu membiayai pendidikan untuk anak-anaknya. Untuk itu pemerintah melalui kebijakan pendidikannya dengan pendidkan gratis bagi SD dan SMP, dengan dicanangkannya kebijakan bantuan operasional sekolah (BOS) sehingga masyarakat yang tidak mampu membiayai anaknya bersekolah cukup membantu.
Departemen Pendidikan Nasional sejak pertengahan 2005 meluncurkan program Dana Bantuan Operasinal sekolah (BOS). Kebijakan ini dibuat dengan arah awal menggratiskan biaya bagi setiap siawa-siswi. Sebelum Program Bantuan Operasional Sekolah digulirkan sebenarnya pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan berkaitan dengan pembiayaan program wajib belajar. Berkenaan dengan program sekolah gratis yang mengiringi program BOS sebenarnya masih belum tuntas.
Secara definitif BOS adalah program pemerintah untuk penyediaan pendanaan biaya non personalia. Pengertian biaya non personalia adalah biaya untuk bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan biaya tak langsung berupa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, , uang lembur, transportasi, konsumsi dan pajak.. lebih jauh, biaya non personalia itu juga melingkup beberapa pembiayaan operasinal sekolah yang dekat hubungannya dengan siswa, diantaranya: pembiayaan seluruh kegiatan dalam rangka penerimaan siswa baru, pembelian buku referensi untuk dikoleksi diperpustakaan sekolah, pembiayaan ulangan ( harian, umum, ujian sekolah, dan laporan hasil belajar siswa), pembelian bahan-bahan habis pakai seperti buku tulis, spidol, kertas dan lain-lain (Kemendiknas 2010).
Bantuan operasianal sekolah (BOS) ini diperuntukkan bagi seluruh siswa SD/SMP/MTS/MAM/SMA Negeri/Swasta. Selanjutnya BOS pada tahun 2009 berupaya untuk meringankan beban masyarakat dan meningkatkan mutu pendidikan sejak pertama kali digulirkan pada bulan juli 2005-2008, program BOS dinilai menghasilkan kemajuan yang signifikan, diantaranya adalah
pertama, BOS mengurangi beban orang tua untuk biaya pendidikan anaknya.
Kedua, BOS terbukti meningkatkan jumlah siswa-siawi yang terbabas dari iuran.
Ketiga, program BOS menurunkan angka putus sekolah disebabkan kemiskinan ekonomi (kemendiknas 2010).
Sumber dana BOS yang dimiliki oleh suatu sekolah, baik pemerintah maupun pihak lain. Ketika dana masyarakat atau dana pihak ketiga lainnya mengalir masuk, harus dipersiapkan sistem pengelolaan keuangan secara umum sebenarnya telah dilakukan dengan baik oleh semua sekolah, hanya kadar substansi pelaksanaannya yang beragam antara sekolah yang satu dengan yang lainnya. Adanya keragaman ini bergantung pada besar kecilnya tiap sekolah, letak sekolah, dan lainnya. Pada sekolah-sekolah biasa yang daya dukung masyarakatnya masih tergolong rendah, pengelolaan keuangannya masih sederhana. Sedangkan pada sekolah biasa yang daya dukung masyarakatnya besar, bahkan mungkin sangat besar, tentu saja pegelolaan keuangannya cenderung menjadi lebih rumit. Kelemahan yang ditimbulkan pelaksanaan program BOS adalah secara konseptual BOS diberikan kepada siswa-siswi tidak mampu atau masyarakat miskin, tetapi kenyataan di lapangan belum sepenuhnya siswa/siswi miskin/tidak mampu mendapatkan layanan pendidikan secara memadai sehingga hal ini sangat bertentangan dengan konsep BOS sehingga perlu diluruskan.
Tahun 2012 Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) mengalami perubahan mekanisme penyaluran dan pada tahun anggaran 2011 penyaluran dana BOS dilakukan melalui mekanisme transfer kedaerah kabupaten/kota dalam bentuk dana untuk sekolah termasuk melengkapi fasilitas sekolah seperti alat
telekomunikasi (komputer, LCD), alat dan bahan praktek, dan buku perpustakaan, meskipun dengan adanya penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah tetap saja fasilitas yang dibutuhkan belum memadai karena banyaknya fasilitas yang harus di lengkapi sehingga dana yang di berikan tidak sepenuhnya dapat membiayai semua fasilitas yang diperlukan sehingga fasilitas yang harusnya dicapai secara maksimal belum dapat tercapai sesuai yang diinginkan yang disalurkan dengan mekanisme yang sama tetapi melalui pemerintah provinsi.
Standar biaya operasional non personalia adalah standar biaya yang diperlukan untuk membiayai kegiatan operasi non personalia selama 1 tahun sebagai bagian dari keseluruhan dana pendidikan agar satuan pendidikan dapat melakukan kegiatan pendidikan secara teratur dan berkelanjutan sesuai standar nasional pendidikan (Kemendiknas 2010).
Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) adalah program pemerintah yang pada dasarnya adalah untuk penyediaan ;pendanaan biaya operasi non personalia bagi satuan pendidikan dasar sebagai pelaksana program wajib belajar.
Namun demikian, ada beberapa jenis pembiayaan investasi dan personalia yang diperbolehkan dibiayai dengan dana bantuan operasional sekolah.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka untuk meningkatkan keefektivan pelayanan Dana Bantuan Operasional Sekolah banyak hal yang perlu diperhatikan. Salah satu diantaranya yang dianggap mempunyai peranan yang cukup penting adalah penyelenggaraan pelayanan dana bantuan operasional sekolah secara efektivitas sesuai Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara yang
berusia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar yang merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh Lembaga pendidikan pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat, dengan demikian dana BOS merupakan bantuan dari pemerintah kepada siswa-siswi yang kurang mampu membiayai sekolahnya agar mendapatkan pendidikan yang layak karena pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang penting bagi setiap orang. Oleh karena itu, diperlukan fasilitas yang lengkap demi kelancaran proses belajar mengajar yang efektif. Bentuk pelayanan yang efektif antar masyarakat dengan pemberi pelayanan (provider) disadari sering terjadi perbedaan persepsi. Masyarakat mengartikan pelayanan yang bermutu dan efektif jika pelayanannya nyaman, menyenangkan dan petugasnya ramah yang mana secara keseluruhan memberikan kesan kepuasan terhadap masyarakat. Sedangkan provider mengartikan pelayanan yang bermutu dan efisien jika pelayanan sesuai dengan standar pemerintah.
Efektivitas merupakan kemampuan melaksanakan tugas, fungsi (operasi kegiatan program atau misi) daripada suatu organisasi atau sejenisnya yang tidak adanya tekanan atau ketegangan diantara pelaksanaannya. Dalam mengadakan perbandingan antara input (biaya), output (hasil), efektivitas dalam garis besar dapat dirumuskan sebagai derajat keberhasilan suatu organisasi (sampai seberapa jauh organisasidapat dinyatakan berhasil) dlam usaha untuk mencapai apa yang menjadi tujuan, dimana dalam melakukan pemikiran mengenai efektivitas maka perlu ditunjang oleh adanya penilaian mengenai efektivitas organisasi. Dalam melakukan penilaian terhadap eektivitas orgnisasi maka upaya yang dilakukan adalah melakukan evaluasi mengenai efektivitas yang telah dicapai. Jadi,
efektivitas adalah hubungan antara output pusat pertanggungjawaban tujuannya.
Makin besar kostribusi output terhadap tujuan maka makin efektif suatu unit tersebut. Karena tujuan maupun hasil sulit diukur secara kuat.
Efektivitas diperbaiki dengan jalan mencapai sumber daya yang tepat, pada dasarnya setiap sumber daya keorganisasian merupakan sebuah investasi dimana sistem manajemen harus mendapatkan imbalan. Organisasi tepat sumber- sumber daya tersebut memperbesar efisiensi dan efektivitas penggunaannya.
Melihat pentingnya efektivitas pelayanan Dana Bantuan Operasional Sekolah bagi murid dan orang tua murid, maka dalam hal ini pemerintah sangat perlu memeperhatikan keefektivan pelayanan kepada masyarakat. Dimana pemerintah berdasarkan tugas pokok dan fungsinya sangat berperan penting untuk pelayanan dana bantuan operasional sekolah ini. Dengan pemberian pelayanan yang efektif kepada masyarakat maka tingkat putus sekolah bagi anak-anak yang tidak mampu dapat berkurang sehingga meningkatnya jumlah murid yang mendapatkan pendidikan yang layak. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk mencapai kinerja yang baik secara kualitas maupun kuantitas. Meskipun kinerjanya masa lalu dianggap sudah cukup memuaskan, perlu ditanamkan kesadaran bahwa kinerja itu masih dapat dan masih harus ditingkatkan karena kinerja yang memuaskan di masa lalu belum tentu memuaskan dimasa mendatang. Hal ini disebabkan tuntutan masyarakat yang semakin meningkat, baik dalam arti intensitasnya maupun frekuensinya.
Wirawan (2009:5) mengemukakan bahwa kinerja adalah keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau indikator-indikator suatu pekerjaan atau suatu
profesi dalam waktu tertentu. Kinerja kepala sekolah sangat berperan penting dalam pengimplementasian pemanfaatan dana bantuan operasinal sekolah.
Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang sudah memanfaatkan dana bantuan opersional akan tetapi fasilitas yang di inginkan belum bisa tercapai atau belum bisa dikatakan fasilitas yang memadai bagi Sekolah. Untuk itu diperlukan fasilitas yang memadai bagi siswa-siswi agar proses belajar-mengajar dapat berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan yang dapat memicu proses belajar, karena dengan memadainya fasilitas sekolah siswa- siswi dapat belajar dengan baik seperti yang ada disekolah-sekolah lain seperti pembelian buku perpustakaan, pembiayaan alat elektronik, dan pembiayaan perawatan sekolah. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul penelitian: “Efektivitas Pemanfaatan Dana Bantuan Operasional Sekolah dalam Pengadaan Fasilitas Sekolah di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi”.
B. Rumusan Masalah
Sesuai uraian latar belakang masalah diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana efektivitas pemanfaatan dana bantuan opersional sekolah di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi?
2. Bagaimana kinerja kepala sekolah dalam pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui efektivitas pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi.
2. Untuk mengetahui kinerja kepala sekolah dalam pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah di Madrasah Tsanawiyah Muhamadiyah Kalosi.
D. Manfaat Penelitian a. Teoritis
Dari penelitian diharapkan berguna dan bermanfaat sebagai suatu karya ilmiah yang dapat menunjang ilmu pengetahuan, khusus mengenai Efektivitas pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah dalam pengadaan faslilitas sekolah di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi kabupaten Enrekang. Selain itu hasil penelitian ini dapat menjadi suatu bahan masukan dan perbandingann untuk penelitian selanjutnya.
b. Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan gambaran serta dapat berguna bagi pemerintah sekolah setempat, sekolah sederajat lainnya dan masyarakat pada umumnnya dan menjadi bahan masukan dan bahan perbandingan bagi sekolah di MTS. Muhammadiyah Kalosi tersebut tentang pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Efektivitas 1. Pengertian Efektivitas
Kata efektif sering diartikan sama dengan kata efisiensi walaupun artinya sesungguhnya berbeda jika efektif belum tentu efisien, menurut pendapat Markus Zahnd (Zahnd, 2006:200-201) mendefinisikan “efektivitas yaitu berfokus pada akibatnya, pengaruhnya atau efeknya sedangkan efisiensi berarti tepat atau sesuai untuk mengerjakan sesuatu dengan tidak mambuang-buang waktu, tenaga dan biaya” merupakan salah satu pencapaian yang ingin diraaih oleh sebuah organisasi. Untuk memperoleh teori efektifitas peneliti dapat menggunakan konsep-konsep dalam teori manajemen dan organisasi khususnya yang berkaitan dengan teori efektivitas.
Efektivitas tidak dapat disamakan dengan efisiensi. Karena keduanya memiliki arti yang berbeda, walaupun dalam berbagai penggunaan kata efisiensi lekat dengan kata efektivitas. Efesiensi mengandung pengertian perbandingan antara biaya dan hasil, sedangkan efektivitas secara langsung dihubungkan dengan pencapaian tujuan. Berdasarkan pendapat tersebut, bahwa efektivitas lebih memfokouskan pada akibat atau pengaruh sedangkan efisiensi menekankan pada ketepatan mengenai sumber daya, yaitu mencakup anggaran, waktu, tenaga, alat dan cara supaya dalam pelaksanaannya tepat waktu. Menurut Agung Kurniawan (Kurniawan, 2005:109) mendefinisikan efektivitas adalah kemampuan melaksanakan tugas, fungsi (operasi kegiatan program atau misi) daripada suatu
9
organisasi atau sejenisnya yang tidak adanya tekanan atau ketegangan diantara pelaksanaannya.
Steers (Steert, 1985:4) mengemukakan pada dasarnya cara yang terbaik untuk meneliti efektivitas ialah dengan memperhatikan secara serempak dua buah konsep yang saling berhubungan yaitu:
a. Optimasi tujuan
Optimasi tujuan adalah bagaimana kita melihat pada pencapaian target kerja, apakah sesuai yang telah direncanakan atau tidak. Kita juga melihat apakah ada keluhan yang datang dari masyarakat tentang pelayanan yang sudah diberikan pegawai atau tidak, sebab adanya keluhan berarti menunjukkan tujuan organisasi belum tercapai sepenuhnya.
b. Perspektif sistematika
Perspektif sistematika yaitu melihat pada kemampuan masing-masing pegawai dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan kedudukannya dalam organisasi tersebut, apakah pegawai mampu mengerjakan tugasnya dengan kemampuan sendiri, apakah pegawai memiliki keterampilan atau keahlian khusus.
Siagian (2004:151) berpendapat bahwa efektivitas terkait penyelesaian pekerjaan tepat waktu yang telah ditetapkan sebelumnya atau dapat dikatakan apakah pelaksanaan sesuatu tercapai sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya. Efektivitas adalah suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya sesuatu efek atau akibat yang dikehendaki. Kalau seseorang melakukan suatu perbuatan dengan maksud tertentu yang memang dikehendaki,
maka orang itu dikatakan efektivitas kalau menimbulkan akibat sebagaimana yang dikehendaki (The Liang Gie, 2000:147).
Efektivitas memiliki tiga tingkatan sebagaimana yang didasarkan oleh David J. Lawles dalam Gibson, Ivancevich dan Donnely (1997:25-26) antara lain
1. Efektifitas individu. Efektifitas individu didasarkan pada pandangan dari segi individu yang menekankan pada hasil karya karyawan atau anggota dari organisas;.
2. Efektivitas kelompok. Adanya pandangan bahwa pada kenyataannya individu saling bekerja sama dalam kelompok. Jadi efektivitas kelompok merupakan jumlah kontribusi dari semua anggota kelompoknya;
3. Efektivitas organisasi. Efektivitas organisasi terdiri dari efektifivitas individu dan kelompok. Melalui pengaruh sinergitas, organisasi mampu mendapatkan hasil karya yang lebih tinggi tingkatannya daripada jumlah hasil karya tiap-tiap bagiannya.
Semua kegiatan-kegiatan dalam organisasi baik itu organisasi pemerintah atau swasta, orientasi pemikirannya dan pelaksanaannya selalu dikaitkan dengan efisiensi dan efektifitas, artinya bagaimana agar kegiatan organisasi dalam mencapai tujuan dengan baik tanpa terjadi pemborosan. Begitu pula halnya dalam penyusunan sistem, prosedur kerja, beserta teknis pelaksanaannya hendaknya berlandaskan pada efisiensi dan efektifitas. Dalam kenyataannya, sulit sekali memperinci apa yang dimaksud dengan konsep efektivitas dalam suatu organisasi.
Pengertian efektivitas dalam suatu organisasi. Pengertian efektivitas dalam suatu
organisasi mempunyai arti yang berbeda-beda bagi setiap orang, bergantung pada kerangka acuan yang dipakainya. Bagi sejumlah ilmu sosial,efektivitas seringkali ditinjau dari sudut kualitas kehidupan pekerja.
Sharma dalam Tangkilisan (2005:64) memberikan kriteria atau ukuran efektivitas organisasi yang menyangkut faktor internal organisasi dan faktor eksternal organisasi antara lain:
1. Produktivitas organisasi atau output;
2. Efektivitas organisasi dalam bentuk keberhasilannya menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan di dalam dan diluar organisasi;
3. Tidak adanya ketegangan di dalam organisasi atau hambatan-hambatan konflik diantaranya bagian-bagian organisasi.
Steers dalam Tangkilisan (2005:64) mengemukakan lima kriteria dalam pengukuran efektivitas organisasi yaitu:
a. Produktivitas;
b. Kemampuan adaptasi atau fleksibilitas c. Kepuasan kerja;
d. Kemampuan berlaba;
e. Pencarian sumber daya
Menurut pendapat Mahmudi (Mahmudi, 2005:92) mendefinisikan bahwa
“Efektivitas merupakan hubungan antara output dengan tujuan, semakin besar kontribusi (sumbangan) otput terhadap pencapaian tujuan, maka semakin efektif organisasi, program atau kegiatan. Berdasarkan pendapat tersebut, bahwa
efektivitas mempunyai hubungan timbal balik antara output dengan tujuan.
Semakin besar kontribusi output, maka semakin efektif suatu program atau kegiatan. Efektivitas berfokus pada outcome (hasil), program, atau kegiatan yang dinilai efektif apabila output yang dihasilkan dapat memenuhi tujuan yang diharapkan atau dikatakan spending wisely.Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka efektivitas adalah menggambarkan seluruh siklus input, proses dan output yang mengacu pada hasil guna daripada suatu organisasi, program atau kegiatan yang menyatakan sejauhmana tujuan (kualitas, kuantitas, dan waktu) telah dicapai, serta ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai dan tujuannya dan mencapai target-targetnya. Berdasarkan bermacam-macam pendapat di atas terlihat bahwa efektivitas lebih menekankan pada aspek tujuan dari suatu organisasi, jadi jika suatu organisasi telah berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan, maka dapat dikatakan telah mencapai efektivitas. Dengan demikian efektivitas pada hakekatnya berorientasi pada pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Kehidupan sehari-hari manusia sangat memerlukan organisasi untuk membantu melaksanakan hal-hal atau kegiatan-kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan dengan baik sebagai individu. Alasan dibentuknya organisasai diantaranya adalah alasan sosial yaitu sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia-manusia untuk pergaulan, hal yang sama terlihat pada organisasi- organisasi yang memiliki sasaran intelektual atau ekonomi. Adakalanya kebutuhan-kebutuhan sosial seseorang demikian sempurna terpenuhi oleh perusahaan tempat ia bekerja, sehingga dapat dikatakan bahwa manusia
berorganisasi karena membutuhkan dan menikmati kepuasan-kepuasan sosial yang diberikan oleh organisasi-organisasi dan alasan material, yaitu:
a. Memperbasar kemampuannya. Maksudnya melalui organisasi-organisasi, manusia dapat melaksanakan aneka macam tugas atau pekerjaan secara lebih efisien dibandikan dengan situasi apabila hanya bekerja sendiri tanpa bantuan pihak lain.
b. Menghemat waktu. Kemampuan suatu organisasi untuk menghemat waktu yang diperlukan untuk mencapai suatu sasaran merupakan alasan material kedua untuk eksistensi organisasi tersebut.
c. Mengakumulasi pengetahuan. Alasan material ketiga untuk adanya organiasi adalah bahwa organisasi memungkinkan manusia untuk menarik manfaat dari pengetahuan yang terakumulasi. Dengan demikian mereka dapat berpijak atas landasan yang dibentuk oleh generasi sebelumnya.
Tanpa adanya organisasi, maka setiap manusia pada setiap era harus mempelajari segala sesuatu sendiri sejak awal. Jadi, alasan yang paling penting bagi adanya organisasi adalah mereka menyediakan peralatan bagi manusia untuk menarik manfaat dari pengalaman dan pemahaman kelompok-kelompok masa lalu.
Adapun beberapa definisi tentang organisasi antara lain :
Menurut james L. Gibson c.s menyatakan bahwa organisasi merupakaan entitas-entitas yang memungkinkan masyarakat mencapai hasil-hasil tertentu, yang tidak mungkin dilaksanakan oleh individu-individu yang bertindak secara sendiri. (Gibson, et.al., 1985:7). Organisasi-organisasi dicirikan oleh perilaku
yang diarahkan ke arah pencapaian tujuan. Mereka mengupayakan pencapaian tujua-tujuan dan sasaran-sasaran, yang dapat dilaksanakan secara lebih efektif dan lebih efisien.
Menurut Sangkala (2007:241) mengatakan bahwa : “hal terpenting bagi orang yaitu bagaimana anggota tim beserta aset-asetnya dapat berhubungan atau terkait satu sama lain sehingga tindakannya efektif. Oleh karena itu harus dipastikan bahwa setiap orang terlibat an membangun keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi anggota tim yang efektif diatas ruang dan waktu.
Menurut Siswanto (2005:75), pengorganisasian adalah pembagian pekerjaan, penetapan hubungan antarapekerjaan yang efektif diantara mereka, dan pemberian lingkungan dan fasilitas pekerjaan yang wajar sehingga mereka bekerja secara efisien. Apabila orang-orang berinteraksi untuk mencapai sasaran-sasaran bersama, maka terdapatlah sebuah organisasi yang dapat distruktur berdasarkan peranan-hubungan-aktivitas dan sasaran-sasaran. Masing-masing anggota suatu organisasi memiliki dua macam konsep :
1. Konsepnya sendiri tentang sasaran-sasaran pribadinya didalam organisasi tempat ia bekerja.
2. Efektivitas keorganisasian
Menurut David H. Holt (1993: 264) Pengorganisasian secara efektif dapat menghasilkan manfaat/keuntungan (dalam Winarji,J,2011) sebagai Berikut:
1. Kejelasan tentang ekspektasi-ekspektasi kinerja individual dan tugas-tugas yang terspesialisasi.
2. Pembagian kerja yang menghindari timbulnya duplikasi, konflik, dan penyalahgunaan sumber-sumber daya, baik sumber-sumber daya material maupun sumber-sumber daya manusia.
3. Terbentuknya suatu arus aktivitas kerja yang logis, yang dapat dilaksanakan dengan baik oleh individu-individu atau sebagai kelompok- kelompok.
4. Saluran-saluran komunikasi yang mapan, yanh membantu pengambilan keputusan dan pengawasan.
5. Struktur-struktur otoritas tepat, yang memungkinkan kelancaran perencanaan dan pengawasan pada seluruh organisasi yang bersangkutan.
6. Upaya-upaya yang difokuskan yang berkaitan dengan sasaran-sasaran secara logis dan efisien.
Efektivitas diperbaiki dengan jalan mencapai sumber-sumber daya yang tepat, pada dasarnya setiap sumber daya keorganisasian merupakan sebuah investasi darimana sistem manajemen harus mendapatkan imbalan. Organisasi tepat sumber-sumber daya tersebut memperbesar efisiensi dan efektivitas penggunaannya. Kegiatan pelayanan dalam suatu organisasi memiliki peran penting dan strategi, terutama bagi organisasi yang berorientasi pada pelayanan jasa. Hal ini tercermin pada pengertian pelayanan yang dikemukakan oleh Moenir (1997:2) bahwa pelayanan adalah “Setiap kegiatan oleh pihak lain yang ditujukan untuk memenuhi kepentingan itu termasuk dalam rangka pemenuhan hak dan kebutuhan bersama yang telah diatur. Berdasarkan pengertian tersebut maka pelayanan merupakan usaha pemenuhan kebutuhan bersama antara pemberi pelayanan dengan orang dilayani.
Pengertian pelayanan yang dikemukakan oleh Sanapiah (2003:31) membagi dua pengertian pelayanan yaitu :
1. Pelayanan dalam arti luas adalah keseluruhan proses penyelenggaraan kepentingan umum/masyarakat yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk menciptakan efisiensi, efektifitas, keadilan sosial dari kesejahteraan.
2. pengertian pelayanandalam arti sempit adalah proses pelayanan tatap muka yang dilakukan oleh instansi pemerintah kepada masyarakat berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan sebelumnya..
Menurur Moenir, (1997:123-124). Suatu pelayanan akan dapat terlaksana dengan baik dan merumuskan apabila didukung oleh beberapa faktor :
a. Kesadaran para pejabat pimpinan dan pelaksana.
b. Adnya aturan yang memadai. Organisasi dengan mekanisme sistem yang dinamis.
c. Pendapatan pegawai yang cukup untuk memenuhoi kebutuhan hidup minimum.
d. Kemampuan dan keterampilan yang sesuai dengan tugas/pekerjaan yang dipertanggungjawabkan.
e. Tersedianya sarana pelayanan sesuai dengan jenis dan bentuk tugas/pekerjaan pelayanan.
Pengertian di atas tersirat bahwa suatu pelayanan pada dasarnya melibatkan dua pihak yang saling berhubungan yaitu organisasi pemberi pelayanan di satu pihak dan nasyarakat sebagai penerima pelayanandi pihak lainnya. Jika organisasi mampu memberikan pelayanan yang optimal dan
memenuhi tntutan dari masyarakat, maka dapat dikatakan organisasi tersebut telah mampu memberikan pelayanan yang memuaskan pada masyarakat.
2. Konsep Pengelolaan, Transparansi dan Akuntabilitas
Pengelolaan dapat diartikan sebagai suatu rangkaian pekerjaan atau usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk melakukan serangkaian kerja dalam mencapai tujuan tertentu. Menurut Wardoyo, pengelolaan adalah suatu rangkaian kegiatan yang berintikan perencanaan, pengorganisasian, pergerakan, dan pengawasan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya (M.
Rohman dan Sodan Amri 2012:273).
Menurut Harsoyo, pengelolaan adalah suatu istilah yang berasal dari kata”kelola” mengandung arti serangkaian usaha yang bertujuan untuk menggali dan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki secara efektif guna mencapai tujuan tertentu yang telah ditentukan (Jamal Ma’mur Asmani 2012:222). Secara umum proses pengelolaan anggaran dana bantuan operasional sekolah (BOS) meliputi: perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pelaporan dan pertanggungjawaban. Pengelolaaan merupakan inti dalam pelaksanaan proses penganggaran dana BOS. Pengelolaan merupakan suatu proses yang rasional dan sistematis dalam menetapkan anggaran kegiatan yang akan dilaksanakan dalam kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pengelolaan dalam penganggaran dana BOS bertujuan untuk mengarahkan agar kegiatan yang dilaksanakan tidak menyimpang dari arah yang ditentukan.
Yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan anggaran dana BOS antara lain menganalisis program kegiatan dan prioritasnya, menganalisis dana yang ada dari
berbagai sumber pendapatan dan dari berbagai kegiatan (Mutsyuhin Solin 2008:105). Sehingga dalam pengelolaan anggaran dana BOS, kepala sekolah beserta tim manajemen keuangan dana BOS, dewan guru dan pihak lain yang terlibat dalam menyusun prioritas anggaran dana secara cermat. Oleh karena itu, dalam pengelolaan anggaran dana BOS yang dilakukan dengan transparansi dan partisipasi dari pihak sekolah dan masyarakat, akuntabilitas dapat berjalan dengan efektif. Transparansi merupakan prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintah, yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya, serta hasil-hasil yang dicapai. Transparansi menurut Ratminto, bahwa transparansi dalam penyelenggaraan pelayanan publik adalah terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan secara memadai dan mudah dimengerti (Jamal Ma’mur Asmani 2012:228).
Transparansi dalam pengelolaan keuangan suatu lembaga pendidikan sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan dukungan orang tua, masyarakat, dan pemerintah dalam penyelenggaraan seluruh program pendidikan disekolah, disamping itu transparansi dapat menciptakan timbal balik antara pemerintah, masyarakat, orang tua siswa, dan warga sekolah melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai.
Tidak hanya transparansi, dalam pengelolaan anggaran dana bantuan operasional sekolah partisipasi jugaa mempunyai peran besar dalam medinamisasi sekolah dalam berbagai unsur, salah satunya adalah masyarakat dalam hal ini Komite Sekolah dan Wali Murid.
Partisipasi menurut Resbin L. Sihite (2007:16) adalah berbagai aktivitas yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam suatu program atau kegiatan tertentu, sehingga bermakna dalam pencapaian tujuan. Sihite menambahkan, wujud dari partisipasi yang diberikan dapat berupa, pemikiran, tindakan, sumbangan dana atau barang yang berguna bagi program ataupun pencapaian tujuan. Tidak hanya taransparansi dan partisipasi, akuntabilitas juga sangat penting dilakukan dalam pengelolaan anggaran ana BOS dalam program RKAS.
Akuntabilitas menurut Cancdler dan Plano (1988:3) adalah hubungan timbal balik dua arah yaitu check and balance dalam sistem administrasi. Oleh karena itu akuntabilitas akan sulit terlaksana tanpa pemantauan dan partisipasi publik dalam proses pengambilan keputusan, maka dari itu diperlukan transparansi agar akuntabilitas antara pengelola dengan masyarakat tercipta pengelolaan yang bersih, efektif, dan efisien.
Akuntabilitas merupakan keadaan yang dinilai karena kualitas performansinya dalam menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
3. Landasan Hukum
Landasan hukum kebijakan penyaluran dan pengelolaan dana BOS tahun 2012 antara lain sebagai berikut :
1. Peraturan menteri keuangan No. 201/PMK.07/2011 tentang pedoman Umum dan Alokasi BOS Tahun Anggaran 2012
2. Peraturan Menteri pendidikan dan kebudayaan no. 51/2012 tentang petunjuk tekhnis penggunaan dana BOS dan laporan keuangan BOS tahun Anggaran 2011
3. Peraturan dalam Negeri No. 62 Tahun 2011 tentang pedoman pengelolaan BOS.
4. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
5. Undang-Undang No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan, Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.
4. Kebijakan Dana Bantuan Operasional Sekolah
Salah satu program dibidang pendidikan adalah Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang menyediakan bantuan bagi sekolah dengan tujuan membebaskan biaya pendidikan bagi siswa yang tidak mampu dan meringankan beban bagi siswa yang lain dalam rangka mendukung pencapaian program belajar pendidikan dasar 9 tahun (Anonim 2007:122). Melalui program ini , pemerintah pusat memberikan dana kepada sekolah-sekolah setingkat SD, SMP,MTS dan sekolah swasta maupun negeri lainnya untuk membantu mengurangi beban biaya pendidikan yang harus ditanggung oleh orang tua siswa. BOS diberikan kepada sekolah untuk dikelolah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan pemerintah pusat. Besarnya dana untuk tiap sekolah ditetapkan berdasarkan jumlah murid.
Menurut peraturan Mendiknes Nomor 69 tahun 2009, standar biaya operasional non personalia adalah standar biaya yang diperlukan untuk membiayai kegiatan operasi non personalia selama 1 tahun sebagai bagian dari
keseluruhan dana pendidikan agar satuan pendidikan dapat melakukan kegiatan pendidikan secara teratur dan berkelanjutan sesuai standar nasional pendidikan.
Dana BOS (Bantuan operasional sekolah) adalah program pemerintah yang pada dasarnya adalah untuk penyediaan ;pendanaan biaya operasi non personalia bagi satuan pendidikan dasar sebagai pelaksana program wajib belajar.
Namun demikian, ada beberapa jenis pembiayaan investasi dan personalia yang diperbolehkan dibiayai dengan dana bantuan operasional sekolah.
Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) menurut kemendiknas 2010 bertujuan untuk:
1. Membebaskan pungutan bagi seluruh siswa SD, SMP, SMA, negeri dan Swasta terhadap biaya operasi sekolah, kecuali pada rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan sekolah bertaraf internasional (SBI).
Sumbangan/ pungutan bagi sekolah RSBI dan SBI harus tetap mempertimbangkan fungsi pendidikan sebagai kegiatan nirlaba, sehingga sumbangan / pungutan tidak boleh berlebih.
2. Membebaskan pungutan seluruh siswa miskin dari seluruh pungutan dalam bentuk apapun, baik disekolah negeri maupun swasta.
3. Meringankan beban biaya operasional sekolah bagi siswa di sekolah swasta.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam Penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah menurut kemendiknas 2010:
1. Prioritas utama penggunaan dana bantuan operasional sekolah adalah untuk kegiatan operasional sekolah
2. Maksimum penggunaan dana sekolah untuk belanja pegawai bagi sekolah negeri sebesar 20%. Penggunaan dana untuk honorer guru disekolah agar mempertimbangkan rasio jumlah siswa dan guru sesuai dengan ketentuan pemerintah yang ada dalam peraturan Menteri Pendidikan nasional Nomor 15 Tahun 2010 tentang SPM pendidikan dasar dikabupaten/kota.
3. Bagi sekolah yang telah menerima DAK tidak diperkenankan, menggunakan dana bantuan operasi sekolah untuk peruntuhkan yang sama.
4. Pembelian barang/ jasa perbelanja tidak melebihi Rp 10 juta
5. Penggunaan dana bos untuk transportasi dan uang lelah bagi guru PNS diperbolehkan hanya dalam rangka penyelenggaraan suatu kegiatan sekolah selain kewajiban jam mengajar. Besaran / satuan biaya untuk transportasi dan uang lelah guru PNS yang bertugas diluar jam mengajar tersebut harus mengikuti batas kewajaran. Pemerintah daerah wajib mengeluarkan peraturan tentang penetapan batas kewajaran tersebut di daerah masing-masing dengan mempertimbangkan factor social ekonomi, factor geografis dan factor lainnya.
6. Jika dana bantuan operasional sekolah diterima oleh sekolah dalam triwulan tertentu lebih besar/ kurang dari jumlah yang seharusnya, misalnya akibat kesalahan data jumlah siswa, maka sekolah harus segera melapor kepada dinas pendidikan. Selanjutnya dinas pendidikan mengirim surat secara resmi pada Dirjen manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah yang berisikan daftar sekolah yang lebih/kurang untuk diperhitungkan pada penyesuain alokasi pada triwulan berikutnya.
7. Jika terdapat siswa pindah/ mutasi kesekolah lain setelah pencairan dana di triwulan berjalan, maka dana bantuan opersional sekolah siswa tersebut pada triwulan berjalan menjadi hak sekolah lama. Revisi umlah siswa pada sekolah yang ditinggalkan/ menerima siswa oindahan tersebut baru diberlakukan untuk pencairan triwulan berikutnya
8. Bunga bank/ jasa Giro akibat adanya dana di rekening sekolah menjadi milik sekolah untuk digunakan bagi sekolah.
5. Pemanfaatan Dana Bantuan Operasional Sekolah
Pemanfaatan dana BOS di sekolah umum atau madrasah harus pada kesepakatan dan keputusan antara Kepala Sekolah/ Dewan Guru dan Komite Sekolah Madrasah, yang harus didaftar sebagai salah satu sumber penerimaan dalam RAPBS, disamping dana yang diperoleh dan Pemda atau sumber lain (block grant, hasil unit produksi, sumbangan lain, dan sebagainya.
Khusus untuk Pesantren Saiflyah, penggunaan dana BOS didasarkan pada kesepakatan dan keputusan bersama antara Penanggungawab Program dengan pengasuh Pondok Pesantren dan disetujui oleh Kasi PEKA PONTREN (Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren) Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota. Bagi sekolah agama non Islam, dalam pemanfaatan dana BOS Kepala Sekolah/ Penanggungjawab Program harus meminta persetujuan dari Kasi PEMBIMAS (Pembimbing Masyarakat) Departemen Agama Kabupaten/ Kota.
Untuk selanjutnya Komite Sekolah Madrasah atau Pengasuh Pondok Pesantren
serta kasi Peka Pontren dan kasi Pembimas dalam fungsinya sebagai lembaga yang menjadi mitra Kepala sekolah Berkaitan dengan Pengelolaan dana BOS disebut sebagai Komite Sekolah.
Pemanfaaatan Dana BOS diperuntukkan untuk menurut kemendiknas 2010. Pemanfaatan dana BOS. Diakses pada hari selasa tanggal 2 april 2014 jam 20:00 WITA:
a. Pembiayaan seluruh kegiatan dalam rangka penerimaan siswa baru: biaya pendaftaran penggandaan formulir,administrasi pendaftaran, dan pendaftaran ulang.
b. Pembelian buku teks pelajaran dan buku referensi untuk dikoleksi di perpustakaan.
c. Pembelian bahan-bahan habis pakai: buku tulis, kapur tulis, pensil, bahan praktikum, buku induk siswa, buku inventaris, langganan koran, gula, kopi dan teh untuk kebutuhan sehari-hari disekolah.
d. Pembiayaan alat telekomunikasi (elektronik) seperti komputer dan LCD serta pembiayaan kegiatan kesiswaan: program remedial, program pengayaan, olahraga, kesenian, karya ilmiah remaja, pramuka, palang merah remaja dan sejenisnya.
e. Pembiayaan ulangan harian, ulangan umum,ujian sekolah dan laporan hasil belajar siswa.
f. Pengembangan profesi guru: pelatihan, KKG/MGMP dan KKKS/MKKS.
g. Pembiayaan perawatan sekolah: pengecatan, perbaikan atap bocor, perbaikan pintu dan jendela, perbaikan mebeler dan perawatan lainnya.
h. Pembiayaan langganan daya dan jasa: listrik, air, telepon, termasuk untuk pemasangan baru jika sudah ada jaringan di sekitar sekolah.
i. Pembayaran honorarium guru dan tenaga kependidikan honorer sekolah yang tidak dibiaya Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. Tambahan insentif bagi kesahjeteraan guru PNS ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Daerah.
j. Pemberian bantuan biaya transportasi bagi siswa miskin.
k. Khusus untuk pesantren salafiyah dan sekolah beragama non Islam, dana BOS dapat digunakan untuk biaya asrama/pondokan dan membeli peralatan ibadah.
l. Pembiayaan pengelolaan BOS: ATK, penggandaaan, surat menyurat dan penyusunan laporan.
m. Bila seluruh komponen di atas telah terpenuhi pendanaannya dari BOS dan masih terdapat sisa dana maka sisa dana BOS tersebut dapat digunakan untuk membeli alat peraga, media pembelajaran dan mebeler sekolah.
Penggunaan dana BOS untuk transportasi dan uang lelah bagi guru PNS diperbolehkan hanya dalam rangka penyelenggaraan suatu kegiatan besaran/satuan biaya untuk keperluan di atas harus mengikuti batas kewajaran.
n. Penggunaan dana BOS untuk transportasi dan uang lelah bagi guru PNS diperbolehkan hanya dalam rangka penyelenggara suatu kegiatan sekolah selaian kewajiban jam mengajar. Besaran atau satuan biaya untuk keperluan di atas harus mengikuti batas kewajaran.
Sasaran program BOS adalah semua MI, MTS Negeri dan Swasta termasuk MI-MTS diseluruh provinsi di indonesia yang telah memiliki izin operasional. . Program Kejar paket A, paket B, dan SMP terbuka tidak termasuk sasaran dan PKPS-BBM Bidang Pendidikan, karena hampir semua komponen dan ketiga program tersebut telah dibiayai oleh pemerintah. Selain daripada itu, Madrasah Diniyah juga tidak berhak memperoleh BOS, karena siswanya telah terdaftar di sekolah regular yang telah menerima BOS.
Dana BOS untuk 2008 ini menurut kemendiknas 2010 senilai total Rp11,2 triliun, meliputi siswa SD, SMP, SMP Terbuka dan juga dana BOS yang dikucurkan melalui Departemen Agama. Untuk siswa SD besarnya, yakni Rp252 ribu/siswa/tahun, dan untuk siswa SMP dan SMP Terbuka sebesar Rp 352 ribu/siswa/tahun.
6. Konsep Kinerja
Teori kinerja yang dijadikan landasan dalam penelitian ini adalah teori Gibson. Menurut teori ini ada tiga kelompok variabel yang mempengaruhi perilaku kerja dan kinerja yaitu: variabel individu, variabel organisasi, dan variabel psikologis (Gibson et. Al., 1985:51-53). Kinerja adalah keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau indikator-indikator suatu pekerjaan atau suatu profesi dalam waktu tertentu (Wirawan 2009:5).
Kinerja menurut Mc Clelland (1967:40) menentukan beberapa karakteristik kinerja yaitu bertanggungjawab dalam pemecahan masalah, menetapkan tujuan, ada umpan balik dan dapat diandalkan. Kinerja (performance) adalah kuantitas dan kualitas hasil kerja individu atau sekelompok didalam
organisasi dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi yang berpedoman pada norma, standar operasional prosedur, kriteria dan ukuran yang telah ditetapkan atau yang berlaku dalam organisasi dan manajemen. Kinerja merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk melaksanakan, menyelesaikan tugas dan tanggungjawab sesuai dengan harapan dan tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kamus bahasa indonesia oleh tim penyusun kamus (1977:503) dinyatakan kata kinerja adalah sepadan kata performance, yang diartikan sesuatu yang dicapai prestasi yang diperlihatkan dalam kemampuan kerja.
LAN dalam pedoman penyusunan laporan akuntabilitas memberi pengertian kinerja sebagai ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sarana atau tujuan yang ditetapkan dengan memperhitungkan indikator masukan, keluaran, hasil, manfaat, dan dampak (LAN, 1999:26) Maier (dalam Asa’ad, 1995:15), kinerja adalah kesuksesan seseorang dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Menurut Suyadi (1999:1) bahwa kinerja atau performance adalah hasil kerja yang dicapai seseorang atau sekelompok orang dalam melaksanakan tugas-tugas atau pekerjaan sesuai dengan standar, kriteria, dan ukuran yang ditetapkan untuk pekerjaan itu.
Kinerja yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah proses yang dilakukan secara sistematis oleh pegawai dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan untuk mencapai hasil yang efektif. Sasaran kerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan mencakup indikator masukan (input), keluaran
(output), hasil (result), manfaat (benefits) dan dampak (impact) (Muljani A.
Hurhadi, 1998:7).
Penilaian kinerja adalah suatu proses menetapkan nilai, penampilan, kualitas atau status dari beberapa objek, orang atau benda. Menurut Barry Cushway (2002:1998) bagian penting dalam penilaian kinerja adalah menilai bagaimana seseorang telah bekerja dibandingkan dengan target yang telah ditentukan. Beberapa prinsip pokok pada saat melakukan penilaian kinerja:
a. Kinerja dinilai atas dasar tujuan secara keseluruhan b. Tujuan dapat dihitung secara kuantitas
c. Penilaian kinerja harus dipertimbangkan aspek pekerjaan sebagai suatu kesatuan
d. Bertindak objektif terhadap individu
e. Tekanan harus diberikan pada apa yang dianggap sebagai tujuan utama f. Mempertimbangkan situasi eksternal, terutama kondisi hukum, pasar,
kebijakan pemerintah, serta kondisi ekonomi.
Penilaian kinerja adalah evaluasi yang sistematis terhadap pekerjaan yang telah ditentukan olek pegawai dan ditujukan untuk pengembangan. Penilaian kinerja tersebut mengacu pada suatu sistem formal dan terstruktur yang mengukur, menilai dan mempengaruhi sifat-sifat yang berkaitan dengan pekerjaan. Fokusnya adalah untuk mengetahui seberapa produktif seorang karyawan dan apakah bisa berkinerja sama atau lebih efektif pada masa yang akan
datang sehingga karyawan, organisasi dan masyarakat semuanya memperoleh manfaat (Schuler dan Jackson, 1999:3).
Pengukuran kinerja pada umumnya dalam bidang manajemen, telah menetapkan beberapa indikator, seperti Marico dalam (As’ad, 1998) mengemukakan bahwa untuk mengukur kinerja tergantung pula dengan pekerjaan dan tujuan yang ingin dicapai. Penilaian kinerja tersebut dapat diukur dengan menggunakan beberapa indikator yaitu perencanaan, disiplin, dan kepemimpinan.
Kinerja pegawai dapat dilihat dari seberapa baik kualitas pekerjaan yang dihasilkan, tingkat kejujuran dalam berbagai situasi, inisiatif dan prakarsa memunculkan ide-ide baru dalam melaksanakan tugas, sikap karyawan terhadap pekerjaan dalam (suka atau tidak suka, menerima atau menolak), kerjasama dan keandalan, pengetahuan dn keterampilan tentang pekerjaan, pelaksanaan tanggungjawab, pemanfaatan waktu serta pemenfaatan waktu secara efektif.
B. Kerangka Fikir
Dana BOS merupakan dana bantuan bagi siswa-siswi untuk meringankan beban orang tua murid, sehingga tidak merasa terlalu terbebani dengan biaya pendidikan anak-anaknya. Bagi orang tua murid yang mendapatkan dana Bantuan Operasional Sekolah harus lebih memperhatikan anak-anakya agar dapat meningkatkan belajarnya sehingga tercipta murid yang dapat berprestasi dan berguna bagi bangsa dan negara.
Penelitian ini, dikaji tentang efektivitas pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah dalam pengadaan fasilitas sekolah di Madrasah Tsanawiyah
Muhammadiyah Kalosi dengan beberapa indikator pemanfaatannya antara lain pembelian buku perpustakaan, pembiayaan alat elektronik dan pembiayaan perawatan sekolah. Adapun indikator kinerja kepala sekolah dapat diukur dengan perencanaan, disiplin, dan kepemimpinan.Ringkasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Bagan Kerangka Pikir
C.
Indikator Efektivitas Pemanfaatannya diukur melalui : 1. Pembelian buku perpustakaan 2. Pembiayaan alat elektronik 3. Pembiayaan perawatan
sekolah
Efektivitas
pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah
Indikator Kinerja kepala sekolah diukur melalui:
1. Perencanaan 2. Disiplin
3. Kepemimpinan Efektivitas Pemanfaatan Dana
Bantuan Operasional Sekolah dalam Pengadaan Fasilitas Sekolah
C. Definisi Operasional
1. Efektivitas pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah merupakan fasilitas dari dana bantuan operasional sekolah dimanfaatkan dan dioptimalkan dengan baik untuk kelancaran sekolah agar tercapainya peningkatan kualitas fasilitas yang ada dilingkungan sekolah tersebut.
Efektivitas adalah kemampuan melaksanakan tugas atau penyelesaian pekerjaan tepat waktu agar tercapainya sesuatu yang diinginkan sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya.
2. Pembelian buku perpustakaan dinilai dari biaya yang diberikan oleh pemerintah digunakan: a). untuk penggunaan buku sebagai bahan baca dan b). penggunaan buku sebagai panduan untuk guru.
3. Pembiayaan alat elektronik dinilai dari perlengkapan belajar siswa agar lebih dapat meningkatkan kemampuannya di bidang IPTEK seperti:a).
penggunaan fasilitas LCD, dan b). pembelian kelengkapan komputer.
4. Pembiayaan perawatan sekolah, dinilai dari seperti: a). pelaksanaan pengecetan ruang belajar agar terlihat indah, b). perbaikan ruang belajar.
5. Perencanaan dinilai dari: a). merealisasikan tanggung jawab yang diberikan, b). selalu memberikan arahan, c) selalu memberikan informasi/mengkoordinasikan, dan d). dilaksanakan sesuai program.
6. Disiplin, dinilai dari: a). sikap mematuhi aturan yang ada dalam menjalankan tugasnya,b). ketepatan waktu dalam bekerja, dan c). mensosialisasikan tentang pentingnya disiplin.
7. Kepemimpinan, dinilai dari: a). kemampuan dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin, dan b). sebagai contoh panutan yang baik.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di sekolah Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang dan waktu penelitian 2 bulan setelah seminar.
Adapun alasan memilih lokasi tersebut yaitu karena kurangnya fasilitas di sekolah tersebut belum memadai karena sekolah ini mendapatkan dana bantuan operasional sekolah maka peneliti ingin melihat efektifnya penggunaannya.
B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah jenis deskriptif kuantitatif sebagai variabel penelitian berdasarkan data yang diolah yang berkaitan dengan efektivitas pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah dalam pengadaan fasilitas sekolah di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi.
2. Tipe Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan adalah survey langsung ke lapangan sebagai lokasi penelitian dengan mengumpulkan dan menganalisi suatu peristiwa atau proses tertentu dengan memilih data atau menemukan ruang lingkup tertentu dengan sebagai sampel yang dianggap representatif.
34
C. Populasi dan Sampel a. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai guru dan murid yang ada di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang.
b. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlahdan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Adapun teknik sampel yang digunakan yaitu metode sampling proposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
Responden:
Kepala sekolah = 1 orang
Bendahara = 1 orang
Komite Sekolah = 1 orang
Pegawai = 7 orang
Guru = 14 orang
Murid = 24 orang
Jumlah responden = 48 orang
D. Teknik Pengumpulan Data
Kepentingan pengumpulan data akan dipergunakan beberapa teknik yaitu :
a. Kuesioner : teknik ini berfungsi sebagai teknik utama, karena dengan menggunakan kuesioner diharapkan mampu memperoleh sebagian besar data yang dibutuhkan dari sejumlah pertanyaan secara tertulis yang diajukan kepada responden.
b. Observasi : teknik ini digunakan untuk mengambil gejala-gejala yang terjadi dalam masyarakat sehubungan dengan permasalahan yang akan diteliti. Teknik ini merupakan langkah awal sebelum pelaksanaan penelitian, karena observasi tersebut penulis dapat mengetahui fenomena yang berkembang dan menarik untuk diteliti.
c. Dokumentasi : teknik ini berarti usaha memperoleh sejumlah data melalui pencatatan dari sejumlah dokumen atau bukti-bukti tertulis dilapangan.
E. Sumber Data Penelitian
Sumber data yang mendukung jawaban permasalahan dalam penelitian sebagai berikut:
a. Data Primer adalah data yang didapat langsung dari lapangan atau tempat penelitian. Data yang dikumpulkan ini merupakan data utama yang mana didalamnnya akan ditarik kesimpulan-kesimpulan.
b. Data Sekunder adalah data merupakan data yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti, tulisan serta hasil penelitian yang dilakukan.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dalam bentuk reduksi data, sajian data serta penarikan kesimpulan dengan menggunakan proses siklus serta pengambilan kesimpulan akhir dengan
menggunakan penalaran sistematik dan tabel distributif frekuensi. Kemudian peneliti menginterpretasikan menjadi seperangkat informasi yang menjabarkan mengenai efektivitas pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah dalam pengadaan fasilitas sekolah di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi kabupaten enrekang. Dari data tersebut, dilakukan analisis deskriptif melalui perhitungan persentase dan sistem skor untuk mengetahui komposisi jawaban responden. Adapun menurut Singararibum dan Effendy dalam Hindar jaya (2013:42) analisis persentase dan rumus perhitungan skor untuk setiap item pernyataan, yaitu:
F
P = x 100%
N
Keterangan:
P = Presentase
N = Jumlah Responden F = Frekuensi
Selain tabel frekuensi, analisa data juga dilakukan dengan menggunakan Skala Likert. Skala Likert dikembangkan oleh Rasis Likert (1932) yang paling sering digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, presepsi responden terhadap suatu objek, Husain Usman & Purnomo Setiady (dalam Hindar Jaya 2013:43).
∑(x) X = N Keterangan:
X = Rata-rata Skor
∑ = Jumlah X = Skor F = Frekuensi
N = Jumlah Responden
RATA-RATASKOR
RATA PERSEN = X 100%
BANYAKNYA KLASIFIKASI
Untuk mengetahui, baik atau tidaknya efektivitas pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah dalam pengadaan fasilitas sekolah Di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kalosi Kabupaten Enrekang, maka digunakan suatu ukuran sebagai berikut:
Rumus Inteval
Jarak Pengukuran Interval Kategori =
Jumlah interval
Skor Tertinggi- Skor Terendah =
Kriteria 4-1
= = 0,75 4
Oleh kerenanya kategori dari data yag dihasilkan akan diuraikan sebagai berikut:
Kategorisasi Tanggapan Responden
Nilai Skor
Interval Rata-Rata Skor
Interval Rata-Rata Persentase
Sangat Baik 4 3, 26 - 4,00 81, 50% - 100, 00%
Baik 3 2, 51 - 3, 25 62, 75 % - 81, 25%
Kurang Baik 2 1, 76 - 2, 50 44, 00% - 62, 50%
Tidak Baik 1 1, 00 - 1, 75 25, 00% - 43, 75%
Berdasarkan dengan pemberian skor yang dinilai dari nilai tertinggi skor 4 dan yang terendah skor 1 maka dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Klasifikasi Skor
Sangat tepat waktu / sangat mengawasi / selalu menggunakan / sangat konsisten / selalu memberikan / sangat jelas / sangat sesuai / sangat menguasai / sangat baik / sangat menarik / sangat berperan / sangat bersemangat / sangat bekerjasama / sangat objektif / sangat efektif / sangat terealisasi / sangat mendukung.
4
Tepat waktu / mengawasi / sering menggunakan / konsisten / sering memberikan / jelas / sesuai / menguasai / baik / menarik / berperan / bersemangat/ bekerjasama / objektif / efektif / terealisasi / mendukung.
3
Kurang tepat waktu / kurang mengawasi / kadang-kadang menggunakan / kurang konsisten / kadang-kadang memberikan / kurang jelas / kurang sesuai / kurang menguasai / kurang baik / kurang menarik / kurang berperan / kurang bersemangat / kurang bekerjasama / kurang objektif / kurang efektif / kurang terealisasi/
kurang mendukung.
2
Tidak tepat waktu / tidak menguasai / tidak pernah menggunakan / tidak konsisten / tidak pernah memberikan / tidak jelas / tidak sesuai / tidak menguasai / tidak baik / tidak menarik / tidak berperan / tidak bersemangat / tidak bekerjasama / tidak objektif / tidak efektif / tidak terealisasi / tidak mendukung.
1