• Tidak ada hasil yang ditemukan

SELF-CONCEPT IN BISEXUAL MEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SELF-CONCEPT IN BISEXUAL MEN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

SELF-CONCEPT IN BISEXUAL MEN

TUTUT DIAN VITASANDY, ANITA ZULKAIDA, S.PSI., M.SI Undergraduate Program, 2007

Gunadarma University http://www.gunadarma.ac.id Key Words: SELF CONCEPT, BISEXUAL, MEN

ABSTRACT :

Humans always live in an environment, both physical environment, psychological, or spiritual, in which there will be reciprocity and mutual influence occurs between humans and the environment. Through these interactions, one starts to build self- concept by using other people as a mirror to show who he is. Someone will start to imagine how other people's views and assessment of himself that will ultimately provide a snapshot of himself. Views and assessments of other people will be very valuable for a bisexual, either men or women, to form a positive self-concept for themselves. Factors influencing self-concept are: social factors, such as support from the people closest to the subject, as well as learn from the subject factor as a bisexual.

This study aimed to know the concept of self in bisexual men.. In this study,

researchers use interviewing techniques with general guidelines and non-participation

observation and theory triangulation, and triangulation with the source. Results showed

that generally the first subjects tended to have a positive self concept, because the first

subject was never disturbed by the situation as a bisexual can appreciate even the

subject himself, although Oran negative-minded people about the circumstances

surrounding him, so that subjects always feel confident self. Factors affecting first the

subject has a positive self-concept is the closest people to escape when the subject does

not know the sexual orientation of the subject, they always give support so that the

subject had never been depressed. Subjects were not able to appreciate iii herself well

because there is still resistance from within himself against sexual orientation, nor in a

place subject to work there are some people who underestimate the ability of subjects

to subjects such as power lifting, working speed. Factors affecting the second subject

has a negative self-concept is the subject of much ridicule and satire receives from

others and even from his own brother so that the subject makes the subject always felt

pressured by the situation.

(2)

KONSEP DIRI PADA PRIA BISEKSUAL

Tutut Dian Vitasandy 10502300 ABSTRAKSI

Manusia senantiasa hidup dalam suatu lingkungan, baik lingkungan fisik, psikis, atau spiritual, yang didalamnya terdapat hubungan timbal balik dan akan terjadi saling mempengaruhi antara manusia dan lingkungannya. Melalui interaksi tersebut, seseorang mulai membangun konsep diri dengan menggunakan orang lain sebagai cermin untuk menunjukkan siapa dirinya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep diri pada pria biseksual.

Subjek penelitian ini adalah laki — laki yang berusia antara 23 — 30 tahun, belum menikah dan memiliki kelainan orientasi seksual yaitu biseksual, dimana laki — laki tersebut memiliki ketertarikan emosional maupun seksual terhadap sesama jenis maupun lawan jenis. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik wawancara dengan pedoman umum dan observasi non partisipasi serta triangulasi teori, dan triangulasi dengan sumber.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum subjek pertama cenderung memiliki konsep diri yang positif, karena subjek pertama tidak pernah merasa terganggu dengan keadaannya sebagai seorang biseksual. Adapun pada subjek kedua cenderung memiliki konsep diri yang negatif, karena subjek selalu melihat dirinya banyak kekurangan.

Faktor — faktor yang mempengaruhi subjek pertama memiliki konsep diri positif adalah orang

— orang terdekat subjek tidak menghindar ketika mengetahui orientasi seksual subjek, mereka justru selalu memberi dukungan sehingga subjek pun tidak pernah merasa tertekan.

Faktor — faktor yang mempengaruhi subjek kedua memiliki konsep diri negatif adalah subjek banyak menerima cemoohan dan sindiran dari orang lain bahkan dari kakak subjek sendiri sehingga membuat subjek selalu merasa tertekan dengan keadaannya.

Bata kunci : Bonsep diri, pria biseksual

1. PENDAHULUAN

Konsep diri sangat berhubungan dengan pengalaman sosial, seperti misalnya identitas pribadi seorang individu tergantung pada hubungannya dengan orang lain (James dalam Wirawan, 1998).

Konsep diri terbentuk karena adanya interaksi seseorang dengan orang — orang yang berada di sekitarnya. Apa yang dipersepsi seseorang tentang dirinya akan mempengaruhi penilaian terhadap dirinya sendiri (Ritandiyono & Retnaningsih, 1996).

Konsep diri dapat berbentuk konsep diri yang positif maupun yang negatif, tergantung dari diri individu sendiri. Pada dasarnya konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seseorang dari kecil sampai dewasa. Seperti misalnya pada seorang anak, anak akan mulai berpikir dan merasakan dirinya seperti apa yang telah ditentuk an oleh orang lain dalam

(3)

lingkungannya, misalnya orang tua, guru, ataupun teman — temannya. Sebagai contoh, seorang anak yang diidentifikasikan sebagai "anak nakal" biasanya memiliki konsep diri yang lebih negatif dibandingkan dengan sebutan "anak baik". Anak yang tergolong sebagai "anak nakal" akan melihat dirinya sebagai anak yang buruk, pemalas ataupun bodoh. Terlebih lagi adanya perbedaan perlakuan dari orang tua berdasarkan jenis kelamin anak, sebagai contoh, orang tua cenderung memperlakukan anak perempuan dengan lebih lembut dan kurang agresif apabila dibandingkan dengan perlakuan terhadap anak laki — laki (Gunarsa & Gunarsa, 2004).

Menjelang masa remaja, seseorang akan mengalami proses pencarian identitas, yaitu proses mengembangkan suatu identitas personal atau sense of self yang unik, berbeda dari orang lain dan mengalami banyak tekanan sosial dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep diri (Josselson dalam Mar'at, 2005). Dengan kata lain, setiap orang berusaha mencari identitas "siapakah" dirinya saat ini dan akan menjadi "siapakah" atau menjadi "apakah" dirinya pada masa yang akan datang.

Perkembangan identitas selama masa remaja sangat penting karena memberikan suatu landasan bagi perkembangan psikososial dan relasi interpersonal pada masa dewasa (Jones & Hartman dalam Mar'at, 2005).

Pada masa remaja, individu juga mengalami perkembangan seksual, kematangan organ seksual mulai berfungsi (Imran dalam Pratiwi, 2004). Ditambahkan pula oleh Pratiwi (2004), karena proses perkembangan inilah menimbulkan adanya dorongan seksual dan rasa ketertarikan pada lawan jenis kelamin. Menurut Gunarsa dan Gunarsa (2004) dengan adanya dorongan seksual pada diri individu akan membuat seseorang mulai mengembangkan konsep diri sejalan dengan peran jenis kelamin dan juga berdasarkan bawaan biologis.

Sehubungan dengan peran jenis kelamin dan bawaan biologis, rasa ketertarikan seksual seorang pria terhadap seorang wanita ataupun sebaliknya merupakan hal yang wajar, karena pada umumnya, manusia memiliki orientasi seksual terhadap lawan jenis atau heteroseksual (Hurlock, 1996).

Namun di dalam kehidupan bersosialisasi ada sekelompok orang yang memiliki orientasi seksual yang berbeda, yaitu homoseksual dan biseksual. Pada orientasi homoseksual, seseorang menyukai sesama jenis, apabila terjadi pada pria maka disebut homo atau gay dan pa da wanita disebut lesbian.

Sedangkan biseksual adalah orang yang menyukai lawan jenis dan sesama jenis sekaligus (Sadarjoen, 2005).

Apabila dilihat dari hubungan antara kaum gay, lesbian maupun biseksual, sangatlah penting untuk diketahui bahwa ada kecenderungan iklim sosial yang kurang berkenan untuk menerima keberadaan mereka yang dianggap sebagai kaum minoritas (Walter & Curran dalam Peplau & Spalding, 1997).

Definisi masyarakat akan apa yang normal, layak, benar dan alami memiliki pengaruh besar atas bagaimana perasaan orang biseksual tentang orientasi seksual mereka. Oleh karena pandangan negatif terhadap biseksualitas, tidak heran bila laki — laki dan perempuan dengan kecenderungan biseksual merasa terasing dari dan ditekan oleh baik komunitas heteroseksual dan homoseksual, hal inilah yang dapat menumbuhkan perasaan atau penilaian negatif dari seorang biseksual (Anonim).

Menurut Hurlock (1978) penerimaan sosial memegang peranan yang besar dalam perkembangan

(4)

konsep diri. Dari gambaran di atas, adanya kemungkinan seorang biseksual memiliki konsep diri yang negatif.

Namun demikian Fox dan Weinberg (dalam Greene & Croom, 1999) menyatakan bahwa sebagian besar orang biseksual memiliki keterbukaan diri mengenai orientasi seksualnya kepada teman, pasangan ataupun terapis, namun ada sebagian kecil pula yang juga bersikap terbuka kepada anggota keluarga atau orang — orang yang berada di tempat kerja atau di lingkungan sekolah. Grov, dkk (2006) menjelaskan bahwa laki — laki biseksual lebih cepat menyadari tentang perasaannya mengenai orientasi seksualnya apabila dibandingkan pada perempuan sehingga laki — laki lebih cepat membuka diri mereka ke masyarakat dibandingkan perempuan biseksual.

Menurut Gumilar (2006), persoalan homoseksual maupun biseksual dalam masyarakat modern tidak lagi menjadi persoalan yang penting untuk diutak — atik, karena prestasi seseorang dianggap lebih penting dibandingkan orientasi seksualnya. Dari pernyataan tersebut dapat diasumsikan bahwa tidak tertutup kemungkinan orang yang biseksual memiliki konsep diri yang positif.

Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut, peneliti bermaksud untuk mengangkat masalah mengenai konsep diri pada pria biseksual.

2. TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Diri

1. Pengertian Konsep Diri

Konsep diri adalah gambaran yang dimiliki seseorang tentan g dirinya, seperti karakteristik fisik maupun psikologis, sosial dan emosional, aspirasi dan prestasi (Hurlock, 1978).

Atwater (dalam Mar'at, 2005) menyebutkan bahwa konsep diri adalah keseluruhan gambaran diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang diri, perasaan, keyakinan, dan nilai — nilai yang berhubungan dengan dirinya.

Konsep diri adalah evaluasi individu mengenai diri sendiri atau penilaian mengenai diri sendiri oleh individu yang bersangkutan (Kartono, 2004).

Konsep diri adalah gambaran mental diri sendiri yang terdiri dari pengetahuan, dan penilaian terhadap diri sendiri serta pengharapan bagi diri sendiri (Calhoun & Acocella, 1990).

Dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah penilaian seseorang mengenai diri, baik kemampuannya, statusnya dan perannya di dunia luar maupun tentang pikiran dan perasaan terhadap diri sendiri yang diperoleh dari dirinya sendiri maupun dari penilaian orang lain yang diperoleh melalui interaksi sosial.

2. Macam — macam Konsep Diri

Hurlock (1978) membagi konsep diri menjadi dua macam, yaitu : a. Konsep diri sebenarnya (the real self)

Konsep diri ini merupakan konsep seseorang tentang dirinya yang sebagian besar ditentukan oleh peran dan hubungannya dengan orang lain.

b. Konsep diri ideal (the ideal self)

Konsep diri ini merupakan gambaran seseorang mengenai penampilan dan kepribadian yang diinginkannya (what I wish to become).

Sementara itu, Atwater (dalam Mar'at, 2005) mengidentifikasikan konsep diri ke dalam 3

(5)

bentuk, yaitu : a. B ody i m age

Kesadaran tentang tubuhnya, yaitu bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri.

b. I d e a l s e l f

Bagaimana cita — cita dan harapan seseorang mengenai dirinya.

c. S o c i a l s e l f

Bagaimana orang lain melihat dirinya sebagai seorang individu.

Menurut Calhoun dan Acocella (1990), ada dua jenis konsep diri, yaitu konsep diri positif dan negatif.

a. Konsep Diri Positif

1). Yakin akan kemampuannya mengatasi masalah 2). Merasa setara dengan orang lain

3). Menerima pujian tanpa rasa malu

4). Menyadari bahwa setiap orang memiliki berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat.

5). Mampu memperbaiki dirinya b. Konsep Diri Negatif

1). Peka terhadap kritik 2). Responsif terhadap pujian 3). Hiperkritis terhadap orang lain

4). Memiliki kecenderungan merasa tidak disenangi orang lain 5). Bersikap pesimis terhadap kompetisi

3. Dimensi Konsep Diri

Menurut Calhoun & Acocella (1990), konsep diri memiliki tiga dimensi, yaitu ; a. Pengetahuan Tentang Diri Sendiri

Hal ini biasanya berkaitan dengan apa yang seseorang ketahui tentang dirinya dan biasanya menyangkut hal — hal yang bersifat dasar.

b. Harapan Terhadap Diri Sendiri

Ketika seseorang berpikir tentang siapakah dirinya, pada saat yang sama orang tersebut berpikir akan menjadi apa dirinya di masa yang akan datang.

c. Evaluasi Diri Sendiri

Evaluasi terhadap diri sendiri disebut harga diri ( self esteem ), yang mana nantinya akan menentukan seberapa jauh seseorang akan menyukai dirinya.

Menurut Fitts (dalam Agustiani, 2006) membagi konsep diri dalam dua dimensi pokok, yaitu sebagai berikut :

a. Dimensi Internal

Dimensi ini terdiri dari tiga bentuk, yaitu : 1). Diri identitas (identity self)

Mengacu pada pertanyaan "siapakah saya?"

(6)

2). Diri pelaku (behavioral self)

Diri pelaku merupakan persepsi individu tentang tingkah lakunya 3). Diri penerimaan / penilai (judging self)

Diri penilai berfungsi sebagai pengamat, penentu standar, dan evaluator.

b. Dimensi Eksternal

Dimensi eksternal dibedakan atas lima bentuk, yaitu : 1). Diri fisik (physical self)

Diri fisik menyangkut persepsi seseorang terhadap keadaannya secara fisik.

2). Diri etik — moral (moral-ethical self)

Hal ini menyangkut persepsi seseorang mengenai hubungan dengan Tuhan, kepuasan seseorang akan kehidupan keagamaannya dan nilai — nilai moral yang dipegangnya, yang meliputi batasan baik dan buruk.

3). Diri pribadi (personal self)

Diri pribadi merupakan perasaan atau persepsi seseorang tentang keadaan pribadinya.

4). Diri keluarga (family self)

Diri keluarga menunjukkan perasaan dan harga diri seseorang dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga.

5). Diri sosial (social self)

Bagian ini merupakan penilaian individu terhadap interaksi dirinya dengan orang lain maupun dengan lingkungan sekitarnya.

4. Komponen Konsep Diri

Hurlock (1974) mengatakan bahwa konsep diri memiliki tiga komponen utama, yaitu : a. Komponen Perseptual

Komponen ini disebut sebagai physical self concept, yaitu image seseorang mengenai penampilan fisik dan kesan yang ditampilkan pada orang lain.

b. Komponen Konseptual

Komponen ini tersusun dari beberapa kualitas penyesuaian diri, seperti kejujuran, percaya diri, kemandirian, tanggung jawab, pendirian yang teguh dan kebalikan dari sifat — sifat tersebut.

Komponen ini disebut juga sebagai psychological self concept.

c. Komponen sikap

Komponen sikap ini adalah perasaan tentang diri sendiri, sikap terhadap statusnya sekarang dan prospeknya di masa depan, sikap terhadap harga diri dan pandangan diri yang dimiliki.

5. Proses Terbentuknya Konsep Diri

Menurut Gunarsa dan Gunarsa (2004), pada dasarnya konsep diri tersusun atas tahapan — tahapan, yaitu :

a. Konsep Diri Primer

Konsep diri ini terbentuk atas dasar pengalaman seseorang terhadap lingkungan rumahnya sendiri. . Konsep tentang bagaimana dirinya banyak bermula dari perbandingan antara dirinya dengan saudara — saudara yang lain.

(7)

b. Konsep Diri Sekunder

Terbentuknya konsep diri sekunder banyak ditentukan pula oleh bagaimana konsep diri primer.

Hurlock (1978) juga mengemukakan hal yang sama seperti Gunarsa dan Gunarsa (2004), konsep diri sifatnya hierarkis, yang paling dasar yaitu :

a . K o n s e p D i r i P r i m e r

Konsep diri ini didasarkan pada pengalaman seseorang di rumah, seperti hubungan dengan anggota keluarga dan pada saat yang sama seorang individu akan melakukan perbandingan antara dirinya dengan anggota keluarga tersebut, pada umumnya dengan saudara kandun g.

b . Konsep Diri Se kund er

Konsep ini berhubungan dengan bagaimana anak melihat dirinya melalui penilaian orang lain.

6. Faktor — faktor Yang Mempengaruhi Konsep Diri

Menurut Mead (dalam Ritandiyono & Retnaningsih, 1996) ada berbagai faktor yang dapat mempengaruhi proses pembentukan konsep diri seseorang, seperti :

a. Peran Orang Tua (mengenai pola asuh)

Ketika masih kecil, orang penting bagi seorang anak adalah keluarganya, terutama orang tua.

Merekalah yang pertama kali menanggapi perilaku anak, sehingga secara perlahan terbentuklah konsep diri anak.

b. Faktor Sosial

Konsep diri terbentuk karena adanya interaksi seseorang dengan orang — orang disekitarnya.

Struktur, peran dan status sosial merupakan gejala yang dihasilkan dari adanya interaksi antara individu yang satu dengan yang lain, antara individu dengan kelompok, ataupun kelompok dengan kelompok.

c. Belajar

Konsep diri merupakan hasil belajar, proses belajar ini terjadi setiap hari dan umumnya tidak disadari oleh individu. Belajar disini dapat diartikan sebagai perubahan psikologis yang relatif permanen yang terjadi sebagai konsekuensi pengalaman.

Hurlock (1993) mengemukakan faktor — faktor yang mempengaruhi konsep diri, yaitu sebagai berikut :

a. Usia Kematangan

Seseorang yang diperlakukan seperti orang dewasa, maka akan mengembangkan konsep diri yang menyenangkan dan juga akan menyesuaikan diri dengan baik dan sebaliknya.

b. Penampilan Diri

Penampilan diri berbeda antara seseorang dengan orang lain yang dapat membuat seseorang merasa rendah diri, misalnya cacat fisik.

c. Kepatuhan Seks

Kepatuhan seks di dalam penampilan diri, minat dan perilaku dapat membantu seseorang dalam mencapai konsep diri yang baik.

d. Nama dan Julukan

Seseorang akan merasa malu apabila teman — teman kelompoknya menilai namanya itu buruk, atau memberi nama yang bernada cemoohan.

(8)

e. Hubungan Keluarga dengan Orang Tua

Apabila seseorang memiliki hubungan keluarga yang baik dengan salah satu anggota keluarganya, maka orang tersebut akan mengidentifikasikan dirinya dengan orang tersebut dan ingin mengembangkan pola kepribadian yang sama.

f. Teman — teman Sebaya

Adanya anggapan tentang konsep teman — teman sebaya mengenai dirinya dan juga oleh karena adanya tekanan pada dirinya untuk mengembangkan ciri — ciri kepribadian yang diakui oleh kelompoknya.

g. Kreativitas

Seseorang yang didorong agar kreatif di dalam bermain dan dalam tugas — tugas akademis, mengembangkan perasaan individualitas, hal ini dapat memberi pengarahan yang baik pada konsep dirinya.

h. Cita — cita

Apabila seseorang memiliki cita — cita yang lebih realistis, maka orang tersebut akan lebih banyak memperoleh keberhasilan dibandingkan kegagalan. Hal ini dapat menimbulkan adanya kepercayaan diri dan kepuasan pada dirinya lebih besar, sehingga dapat memberikan konsep diri yang baik.

i. Pengalaman Hidup Berinteraksi dengan Orang Lain

Dalam pengalaman hidup seseorang, tercakup faktor pendidikan, teman sebaya dan pergaulan sehari — hari. Dalam hal ini, konsep diri bukan hanya dipengaruhi oleh pengalaman hidup melainkan juga mempengaruhi cara individu untuk mendekati dan memanfaatkan peng alaman hidupnya yang baru.

Konsep diri seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut (Fitts dalam Agustiani, 2006) :

a. Pengalaman, terutaman pengalaman interpersonal, yang memunculkan perasaan positif dan perasaan berharga.

b. Kompetensi dalam area yang dihargai oleh individu dan orang lain.

c. Aktualisasi Diri, atau implementasi dan realisasi dari potensi pribadi sebenarnya.

B. Biseksual

1. Pengertian Biseksual

Ellis (dalam Greene & Crom, 1999) menyatakan bahwa biseksual merupakan ketertarikan seseorang, baik laki — laki maupun perempuan, terhadap kedua jenis kelamin secara bersamaan.

Biseksual adalah orang yang dapat mencapai kepuasan erotis secara optimal baik dengan sesama jenis dan lawan jenis (Sadarjoen, 2006).

Bisexuality (biseksualitas, seksualitas ganda) merupakan keadaan merasa tertarik sama kuatnya pada kedua jenis kelamin; perempuan maupun laki — laki dan memiliki ciri — ciri karakteristik anatomis dan psikologis dari kedua jenis kelamin (Kartono, 2004).

Dapat disimpulkan bahwa biseksual adalah kecenderungan untuk tertarik secara fisik dan seksual terhadap sesama jenis maupun lawan jenis.

(9)

2. Faktor Penyebab Seseorang Menjadi Biseksual

Pada fase falik, secara seksual, anak akan menyadari bahwa organ seksual merupakan sumber kenikmatan yang dapat ia hayati. Oedipus complex pada anak laki — laki dan Electra complex pada anak perempuan merupakan drama relasi segitiga antara ayah dan ibu, yang menentukan identitas seksual anak di kemudian hari. Dalam hal ini, anak harus menerima kenyataan akan ketidakmampuan untuk memiliki ayah atau ibu, baik secara emosional maupun seksual. A pabila pada saat tersebut lingkungan keluarga tidak bersikap hangat, maka anak akan berpeluang untuk mengambil alih ciri hakikat identitas gender (gender identity) dari ayah ataupun ibu, yaitu anak laki — laki akan mengambil alih ciri hakikat kewanitaan dari ibu, sedangkan anak perempuan akan mengambil alih ciri hakikat kelaki — lakian dari ayah. Anak laki — laki akan mengembangkan kepribadian homoseksual, sedangkan anak perempuan akan mengembangkan kepribadian lesbian (Sadarjoen, 2005).

Sementara Kinsey (dalam Nugraha, 2002) mengemukakan ada tiga hal yang dapat mendorong seseorang menjadi biseksual, yaitu :

1. Pengalaman seksual yang didapatkan dari suatu hubungan persahabatan antara laki — laki dan perempuan yang sangat dekat.

Misalnya pada persahabatan antara dua laki — laki yang salah satunya memiliki kecenderungan perilaku homoseksual, meskipun nantinya ada kemungkinan kedua laki — laki tersebut mencari pasangan seorang perempuan.

2. Kelompok — kelompok yang membentuk pergaulan biseksual.

Kelompok tersebut berusaha memperkenalkan filosofi tentang biseksual, 3. Lingkungan

Lingkungan yang dimaksud biasanya lebih bersifat memaksa, seperti di sebuah penjara, para narapidana yang sebelumnya laki — laki normal, tetapi karena tinggal dalam jangka waktu yang lama di dalam penjara dimana hanya terdapat para laki — laki saja, maka penyalurannya hanya kepada sesama laki — laki. Hal seperti ini juga dapat terjadi pada tentara (prajurit) yang berperang di hutan — hutan, dimana sulit bertemu dengan perempuan.

3. METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini, digunakan metode studi kasus yang dimana pendekatan ini lebih ditentukan oleh ketertarikan pada kasus — kasus yang bersifat individual. Penekanan studi kasus adalah memaksimalkan pemahaman tentang kasus yang dipelajari dan bukan untuk mendapatkan generalisasi karena memfokuskan apa yang dapat dipelajari secara khusus pada kasus tunggal (Stake dalam Heru Basuki, 2006).

Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi dan wawancara mendalam. Subjek dalam penelitian ini adalah dua laki — laki yang berusia antara 23 — 30 tahun, belum menikah dan memiliki kelainan orientasi seksual yaitu biseksual.

(10)

4. HASIL PENELITIAN

Berdasarkan hasil analisis wawancara dari dua orang subjek dan tiga orang significant others, maka dalam bab ini dapat dilihat adanya perbedaan konsep diri pada pria biseksual dan faktor — faktor yang mempengaruhi konsep diri pada kedua subjek.

1. Konsep Diri Pada Pria Biseksual

Subjek pertama cenderung memiliki konsep diri positif, meskipun subjek selalu melihat keadaan biseksual sebagai suatu kekurangan, subjek tidak pernah merasa terganggu dalam kehidupan sehari — hari terutama saat bekerja, karena kemampuan kerja subjek tidak pernah dianggap remeh oleh teman — temannya, karena itulah subjek juga menjadi percaya diri.. Subjek juga bisa menghargai dirinya sendiri walaupun orang — orang di sekitar subjek berpandangan negatif terhadap kaum biseksual. Untuk penampilan, subjek cukup memperhatikan penampilannya sehingga dari hari ke hari subjek selalu berusaha untuk merubah penampilannya agar terlihat lebih macho, misalnya dengan mengikuti kegiatan fitness.

Adapun subjek kedua cenderung memiliki konsep diri negatif, sebagai seorang biseksual, subjek selalu melihat dirinya banyak kekurangan, sehingga untuk berinteraksi dengan masyarakat menjadi sempit, tetapi terkadang subjek melihat keadaan biseksual sebagai kelebihan, karena pada saat yang sama dirinya bisa menyukai lawan jenis dan sesama jenis pada saat yang sama. Saat ini pun subjek merasa gagal menjadi manusia yang baik untuk keluarganya maupun dirinya sendiri. Subjek juga belum bisa menghargai dirinya sendiri karena dari dalam dirinya masih ada penolakan, subjek pun merasa tidak percaya diri sehingga membuat subjek menjadi minder saat ingin berkenalan dengan perempuan. Begitu pula di tempat subjek bekerja, ada beberapa orang yang meremehkan kemampuan kerja subjek seperti tenaga subjek untuk mengangkat barang, kecepatan kerja, tetapi subjek berusaha untuk membantahnya dan membuktikannya bahwa dirinya mampu dan sama seperti laki — laki yang normal. Subjek cukup menjaga image dalam berpenampilan seperti laki — laki pada umumnya seperti mengenakan celana jeans dan atasan kaos.

2. Faktor — Faktor Yang Mempengaruhi Konsep Diri

a). Faktor - faktor yang mempengaruhi subjek pertama memiliki konsep diri positif :

(1). Orang — orang terdekat subjek tidak berusaha menghindar ketika mengetahui orientasi seksual subjek, mereka justru memberi dukungan kepada subjek sehingga membuat hubungan mereka bertambah akrab.

(2). Subjek tidak pernah merasa tertekan, bahkan selama ini yang membuat dirinya tetap kuat adalah dirinya sendiri.

(3). Subjek tidak pernah mendapat cemoohan dari orang lain.

b). Faktor — faktor yang mempengaruhi subjek kedua memiliki konsep diri negatif :

(1). Subjek selalu merasa tertekan dengan keadaannya karena subjek belum bisa menemukan solusi agar subjek bisa menerima kenyataan bahwa dirinya adalah seorang biseksual

(2). Subjek juga banyak menerima cemoohan dan sindiran dari orang lain bahkan dari kakak subjek sendiri.

(11)

5. SARAN

Dari hasil penelitian tentang gambaran konsep diri pada pria biseksual, maka saran yang diajukan peneliti terhadap penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk subjek pertama, diharapkan selalu terus berusaha untuk mewujudkan keinginannya agar bisa menjadi laki — laki heteroseksual dan dapat memberikan pengalaman hidupnya sekaligus dukungan bagi sesama kaum biseksual yang belum bisa menerima keadaan dirinya .

2. Untuk subjek kedua, diharapkan dapat lebih memahami bahwa setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga bisa menerima keadaan dirinya yang sekarang dengan berpikir positif dan selalu optimis bahwa kehidupan seseorang bisa menjadi lebih baik jika tekun berusaha dan selalu diiringi dengan do'a.

3. Untuk penelitian selanjutnya, agar dapat mengembangkan penelitian mengenai biseksual, misalnya melakukan perbandingan konsep diri pada pria biseksual yang belum menikah dengan yang telah menikah, atau konsep diri pada perempuan biseksual, maupun mengenai konsep diri pada seseorang yang pernah menjadi biseksual namun kini telah menjadi seorang heteroseksual.

6. DAFTAR PUSTAKA

Basuki, Heru. AM. (2006). Penelitian Kualitatif untuk Ilmu — ilmu Kemanusiaan dan Budaya. Depok : Universitas Gunadarma

Calhoun, J. F & Acocella, J. R. (1990). Psikologi Tentang Penyesuaian Dan Hubungan Kemanusiaan. Alih Bahasa : Satmoko, R.S. Semarang : IKIP Semarang Press

Gumilar. R. S (2006). Homoseksual Di Sekitar Kita. Majalah Femina No.28/XXII. Jakarta : PT Gaya Favorit Press

Greene, B. & Croom, G. L. (1999). Psychological Perspectives on Lesbian and Gay Issues Vol. 5.

Thousand Oaks, London, New Delhi : Sage Publications, Inc

Gunarsa, S. D, & Gunarsa, Y.S. D. (2004). Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. Jakarta : Gunung Mulia

Hurlock, E. B. (1974) . Psikologi Perkembangan. Alih bahasa : Tjandrasa, Med. Meitasari. Jakarta : Penerbit Erlangga

Hurlock, E. B. (1978). Child Development 6t h edition. Tokyo : McGraw-Hill International Book Company

Kartono, K. (2004). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Mar'at, S. (2005). DESMITA Psikologi Perkembangan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

(12)

Pratiwi. (2004). Pendidikan Seks Untuk Remaja. Yogyakarta : Publisher

Ritandiyono & Retnaningsih. (1996). Aktualisasi Diri. Depok : Universitas Gunadarma

Sadarjoen, S. S. (2005). Bunga Rampai Kasus Gangguan Psikoseksual. Editor : Herlina, Rose.

Bandung : Refika Aditama

Wirawan, H. E. (1998). Psikologi Sosial 1. Jakarta : Universitas Tarumanegara

_____ . (2006). Ketika Kaum Homoseksual Tak Bisa Lagi Andalkan Simbol, Kode dan Bahasa.

Koran Jawa Pos tgl 30 Oktober 2006. Surabaya : Jawa Pos

Referensi

Dokumen terkait

Continous Double Auction (CDA) adalah mekanisme untuk mencocokkan para pembeli dan para penjual suatu barang dan menentukan berapa harga yang akan dilaksanakan

Adapun upaya dalam mengatasi kendala dam penggunaan SAP yaitu: (1) pengguna harus yang professional dan lebih teliti dalam mengelola arsip yang akan di entry pada SAP

17 Demikian dapat dikaitkan dengan faktor-faktor penyebab masih digunakan hukum adat dalam pelaksanaan perjanjian bagi hasil tanah pertanian (tanah kering) di

disebabkan oleh turunnya rata-rata penjualan diikuti dengan lebih besarnya rata- rata total asset. Turunnya penjualan diduga karena produksi yang dilakukan terlalu.. rendah

saksi yang berbeda antara di depan penyidik dengan di depan persidangan. Setelah melihat adanya keterangan saksi yang berbeda antara di BAP dan di depan persidangan, maka

Sebagian besar guru Luar biasa telah mengenali teknik- teknik pembelajaran yang khusus untuk diaplikasikan pada siswa Tuna Grahita di SLB-C, tetapi setelah anak

Hasil penghitungan koloni menunjukkan bahwa jumlah koloni Escherichia coli terbanyak ada pada kelompok kontrol yaitu sebanyak 85,7 ± 10,81 diikuti kelompok perlakuan

11 2006 menyatakan bahwa: “Sebelum Qanun Aceh tentang hukum acara pada ayat (1) dibentuk: “(a) hukum acara yang berlaku pada Mahkamah Syariah sepanjang mengenai ahwal