• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gali Inspirasi dari Negeri Sakura

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Gali Inspirasi dari Negeri Sakura"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Gali Inspirasi dari Negeri Sakura

Tak salah bila banyak anggapan menyebut Jepang adalah sebuah negara yang berkarakter kuat dan memiliki ciri khas yang mencolok. Dari segi seni, cara berpakaian, dan kreatifitas bahkan jargon, Negeri Matahari Terbit memunyai sisi-sisi yang menarik nan berbeda dengan negeri-negeri lain.

Dengarkan lagu beraliran rock dari jepang. Selalu kental dengan cabikan bass yang melompat-lompat di setiap ketukan.

Musik popnya, penuh dengan irama melodik tuts keyboard dan dentingan gitar yang mendayu tajam. Siapa saja yang mendengar lagu atau nada-nada asal negeri Sakura, akan dengan mudah mengidentifikasi kelahiran lagu tanpa harus mendengar suara vokalis mendendangkan lirik lagu berlafal huruf kanji.

Di sisi lain, lihatlah para remaja jepang yang berkumpul dan bercengkrama di kawasan Harajuku, sekitar Stasiun JR Harajuku, Distrik Shibuya, Tokyo. Dandanan dan warna asal tubruk yang mungkin akan lebih terkesan norak serupa orang gila bila dipakai di negara lain, justru menjadi pusaran idola di sana.

Bahkan, karakter unik tersebut sedikit demi sedikit menjangkit ke wilayah lain di Jepang bahkan dunia.

Perkara kreatifitas, Jepang tak perlu diragukan. Entah sudah berapa ribu judul komik manga yang banyak di antaranya menjadi tren dengan cerita variatif. Sebut saja Dragon Ball yang imajinatif dan telah diterbitkan versi bahasa inggrisnya, Slam Dunk dan Doraemon yang inspiratif, Samurai X yang sarat nilai- nilai kehidupan, serta Kapten Tsubasa yang fenomenal. Konon, komik karya Yoichi Takahashi yang disebut terakhir tadi menjadi motivasi tersendiri bagi tim Samurai Biru dalam meraih sukses merebut posisi di pentas sepak bola dunia.

Bila ditanya tentang jargon, Soichiro Honda si intelektual

(2)

sangat brilian dengan ungkapan populernya: percayalah pada kekuatan mimpi (the power of dream). Pria kelahiran Iwatagun (kini Tenrryu City) tersebut telah menjadi simbol tersendiri di ranah otomotif dan bisnis level internasional.

Kekhasan

Salah satu kekhasan Jepang adalah bunga Sakura, yang memang identik dengan negeri tersebut. Pada Sakura, terkandung nilai- nilai luhur sebuah identitas dan semangat. Hal-hal itu ingin dipetik oleh Imam Robandi, penulis buku The Ethos of Sakura yang diterbitkan Penerbit Andi Yogyakarta. Melalui buku tersebut, guru besar teknik elektro ITS ini menjelaskan betapa kuatnya sakura mempengaruhi pandangan dan pemikiran orang Jepang.

Ketika musim Sakura mekar, sang pohon membiarkan daun-daun gagah berjatuhan untuk kemudian digantikan dengan bunga yang jauh lebih indah dan mempesona. Pohon sakura tidak cukup puas dengan memiliki daun gagah dan batang kukuh. Bila memang bisa melakukan yang lebih mempesona, mengapa harus bangga dengan kebiasa-biasaan? Mungkin demikianlah yang ada dalam pikiran pohon sakura di seluruh penjuru Nippon andai pohon tersebut memiliki otak.

Semua warga Jepang sangat antusias meluangkan waktu untuk menyaksikan kejadian tersebut di taman-taman atau pelataran depan rumah mereka. Seluruh penduduk berusaha menggali hikmah dari tumbuh, kuncup, dan mengembang eloknya bunga yang bernama lain Japan Cherry Blossom tersebut.

Menghargai Waktu

Hidup memang tidak begitu lama. Tak ada yang abadi. Demikian pula bunga Sakura yang hanya hidup selama musim semi sekitar bulan April tiap tahunnya. Namun dalam keterbatasan tersebut, Sakura berusaha memberikan yang terbaik dari hidupnya.

Orang Jepang tak ingin membuang waktu dengan berjalan pelahan-

(3)

lahan. Bila melangkah, mereka tampak seperti setengah berlari.

Waktu berharga bagi mereka walau hanya beberapa detik ayunan kaki kanan dan kiri.

Imam Robandi sering menemui penundaan dan keterlambatan jam- jam penerbangan. Namun penundaan tersebut disikapinya sebagai anugerah, bukan musibah. Waktu yang molor digunakannya untuk melakukan hal yang bermanfaat. Dalam sebuah diskusi, pria yang mengambil program doctoral di Jepang ini mengatakan, buku yang berisi 75 artikel dan kisah pendek ini nyaris semua ditulis dengan cara mencuri-curi waktu dan kesempatan di balik kemelesatan jadwal bandara.

Semua artikel dan kisah merupakan sari pati dari pengalaman pria kelahiran Kebumen Jawa Tengah tersebut selama menjalani pendidikan S2 dan program doktoral di negeri Sakura. Ada juga yang murni bersumber dari penelaahan terhadap nilai-nilai kehidupan di negara itu.

Manusia yang sukses memang dia yang menghargai waktu.

Pelajaran mengenai waktu tak hanya bisa dipetik melalui bangsa Jepang. Ungkapan dalam bahasa Inggris berbunyi, Time is Money (waktu adalah uang atau waktu sangat berharga).

Maestro asal Jazirah Arab Muhammad bin Abdullah pernah berkata, jagalah sempatmu sebelum sempitmu. Maksudnya, manusia harus memanfaatkan waktu dan kesempatan, sekecil apapun itu guna melakukan hal-hal yang bermanfaat. Sebab bila masa sempit telah tiba, seseorang tidak akan bisa melakukan apapun.

Buku

Judul: The Ethos Of Sakura, Bacaan strategik pribadi sukses Penulis: Imam Robandi

Penerbit: Penerbit Andi Cetakan: 2010 Yogyakarta Tebal: 254 Halaman

(4)

Sejarah Islam dalam “Balada Pencatat Kitab”

UNAIR NEWS – Buku puisi tidak sekadar curhat. Kerap kali, mengandung pesan atau kritik sosial, pelajaran tentang prilaku, bahkan sejarah. Semua aspek yang disebutkan tadi tercermin dalam kumpulan Balada Pencatat Kitab karya Rio F.

Rachman. Penyair alumnus S2 Media dan Komunikasi UNAIR ini meluncurkan buku tersebut pada 2016 lalu.

Setidaknya, mushaf berisi 59 puisi itu sudah dibedah di Warung Mbah Tjokro Prapen oleh Masika ICMI Jatim, Surabaya (30 September) dan Kafe Pahlawan oleh Komunitas Stingghil, Sampang (20 November). Beberapa resensi tentangnya pun bisa dijumpai di media cetak maupun online.

Sajak-sajak di sana tergolong ringan. Bahasa yang digunakan lugas dan tak bertele-tele, apalagi mendayu-dayu. Tak banyak majas dan to the point. Sejumlah riwayat sejarah Islam dikemukakan. Yang pada satu titik, menjadi sekelumit keunikan di dalamnya.

Bila diperhatikan, apa yang diceritakan pada puisi “Balada Pencatat Kitab”, yang juga dijadikan judul kumpulan ini, bercerita tentang momen wafatnya Utsman bin Affan. Salah satu sahabat nabi yang sudah dijanjikan Tuhan masuk Surga.

Seperti banyak diberitakan dalam banyak literatur, lelaki yang juga menantu Rasulullah Muhammad ini meninggal akibat pemberontakan. Dia dikepung dirumahnya, diserang oleh orang- orang yang terhasut api fitnah. Utsman bisa saja menumpas mereka dari awal. Namun, dia memilih sabar. Pilihan yang sejatinya sudah diisyaratkan Nabi lebih dari dua puluh tahun sebelumnya.

(5)

Kisah Utsman tidak satu-satunya sejarah Islam yang dipaparkan di Balada Pencatat Kitab. Pada “Kecuali Dia”, kehebatan Ali bin Thalib juga disinggung. Tentang kehebatan Ali, menantu dan sahabat Nabi, dalam peperangan. Dan keberaniannya mempertaruhkan nyawa demi junjungannya itu. Cerita soal pertempuran di Padang Uhud pada masa awal perjuangan Islam tercantum di puisi “Isyarat”.

Sedangkan kisah Imam Syafi’i, pemimpin aliran yang paling populer di Asia Tenggara, diceritakan dengan menyentuh di

“Guru”. Di sana tertulis bagaimana guru dari Sang Imam sampai harus “mengusirnya” ke luar kota untuk merantau. Kenapa?

Karena ilmu guru tersebut sudah tumpas disesap oleh Imam Syafi’i.

Dikisahkan pula ketika Imam Syafi’i telah sukses menjadi seorang ulama dan akhirnya pulang kampung membawa banyak oleh- oleh untuk Ibu. Namun, ibunya menolak itu semua dan bersikeras tak ingin menerimanya di rumah, bila tetap membawa semua itu.

Sehingga Imam Syafi’i akhirnya menyerahkan semua perbekalan pada warga sekitar. Dia hanya membawa sebuah kitab saat menghadap Sang Bunda.

Tentu, sejarah yang dipuisikan dalam kumpulan ini bisa jadi debatable. Karena, riwayat kisah-kisah tersebut tidak tunggal.

Namun secara esensi, ada benang merah yang muncul dan diperlihatkan pada puisi-puisi tadi.

Selain tentang sejarah Islam, Balada Pencatat Kitab juga berkisah tentang fenomena masyarakat kekinian yang serba terbuka di media sosial, kartun di televisi, problem rumah tangga wong cilik, hingga romantisme dan kerinduan. Cover buku yang simpel, membuatnya tampak manis dan sederhana.

Buku

Judul : Kumpulan Puisi Balada Pencatat Kitab

(6)

Penulis : Rio F. Rachman Penerbit : Penerbit Suroboyo Tebal : 60 halaman Cetakan : Pertama, 2016

Dari Slilit Sampai Analogi Pengelolaan Hasil Bumi

Emha Ainun Nadjib adalah budayawan multi talenta. Pria kelahiran Jombang yang akrab disapa Cak Nun ini lihai membuat cerpen, puisi, esai, naskah teater, dan kerap menggubah lirik lagu. Bersama grup musik Kiai Kanjeng, Cak Nun melanglang buana di penjuru dunia. Menyuguhkan musik memikat yang diracik dengan sholawat. Tak hanya itu, diskusi Maiyah yang turut digagasnya sejak lebih dari sedekade silam terus mengalami perkembangan.

Maiyah adalah sebuah aktifitas sarasehan yang digelar di sejumlah kota. Kegiatan ini memungkinkan semua hadirin melontarkan pendapat tentang persoalan bangsa. Baik di level mikro maupun makro. Untuk kemudian, dipikirkan bersama solusinya. Atau paling tidak, dirumuskan bagaimana seharusnya masyarakat menyikapi keadaan negeri yang dengan kondusifitas fluktuatif.

Di Surabaya, Maiyah dikenal dengan sebutan Bang-Bang Wetan. Di Jombang disebut Padhang Mbulan, di Jakarta dikenal dengan Kenduri Cinta, di Yogyakarta bernama Mocopat Syafaat, di Malang ada Obor Ilahi, dan ragam sebutan di kota-kota lain berdasar kearifan lokal masing-masing.

(7)

Adapun Slilit Sang Kiai adalah salah satu bukti kepiawaian Cak Nun berbahasa tulis. Pada kata pengantar, dituturkan bahwa Slilit Sang Kiai merupakan kumpulan kolom. Ini bukan karya yang dimaksudkan menjadi sebuah buku yang utuh. Tak heran, tema yang dibahas beraneka rupa dan terkesan melompat-lompat.

Secara umum, topik buku yang pertama kali terbit pada 1991 ini berkutat soal problem yang membelit Indonesia dan alternatif cara mengatasinya. Terdapat banyak retorika dan pengandaian.

Tak ayal, dalam beberapa artikel, pembaca mesti melakukan kontemplasi untuk memahaminya.

Artikel pembuka berjudul sama dengan buku ini: Slilit Sang Kiai. Berkisah tentang kerisauan seorang Kiai. Pemuka agama itu secara tidak sengaja mencomot potongan kecil kayu di pagar orang.

Kayu kecil seukuran tusuk gigi itu digunakannya untuk membersihkan slilit yang ada di sela-sela gigi seusai memimpin dan makan di acara kenduri salah satu warga.

Aku tak sempat minta maaf kepada yang empunya perihal tindakan mencuri itu. Apakah Allah akan mengampuniku? (hal. 18).

Kutipan tersebut dihaturkan pemuka agama yang baru meninggal dalam mimpi para santri. Cerita itu memberi pelajaran dan bahan renungan bagi murid-murid. Mereka membayangkan, betapa tambah sedihnya sang Kiai bila kayu yang dicuri sebesar batang gelondongan di hutan Kalimantan.

Apa yang disampaikan dalam artikel tersebut menyentuh aspek spiritual yang sifatnya ketuhanan. Poin serupa tampak pada banyak tulisan lain. Misalnya, dalam Berniaga dengan dan dalam Allah (hal. 21), Allah Maha Menepati Janji (hal. 148), Bumi Tuhan (hal. 303), dan lain sebagainya.

Tak hanya soal spiritual ketuhanan yang bisa dibilang berada pada ranah hablumminallah (hubungan manusia dengan Allah atau Tuhan). Pandangan Cak Nun di ranah hablumminannas (hubungan

(8)

manusia dengan manusia) juga terlihat dalam sejumlah artikel.

Misalnya, yang tertuang di Watak Dialog (hal. 47).

Di artikel tersebut, Cak Nun mengutip garis besar pemikiran buku berjudul Dialog Sunnah Syiah. Lelaki yang lahir pada 27 Mei 1953 tersebut menyampaikan, terdapat makna yang dapat dipetik dari dialog antara ulama Syiah As-Sayyid Syarafuddin Al-Musawi Al-‘Amili dan ulama jumhur Syaikh Bisri Al Maliki.

Betapa perbincangan mereka tidak didasari dengan upaya gesekan dan usaha menjatuhkan lawan berbicara.

Sebaliknya, yang ada adalah semangat mencari kebenaran, kesiapan untuk menyaksikan kekeliruan diri, rileksitas untuk menerima perbedaan, serta keikhlasan menginsyafi kekurangan pribadi. Faktor-faktor positif semacam itu seperti menguap dalam fenomena masa kini. Di mana perdebatan hanya menjadi konstelasi saling hujat dan menghina satu sama lain. Perbedaan bukan diposisikan sebagai anugerah, melainkan didaulat sebagai jurang pemisah.

Sementara itu, salah satu dari 69 kolom di buku ini mencerminkan kondisi pengelolaan hasil bumi di Indonesia.

Kebetulan, saat ini sedang gonjang-ganjing isu freeport, salah satu perusahaan Amerika Serikat yang aktif mengeruk hasil bumi di Papua.

Dalam artikel berjudul Tamu Entah Siapa (hal. 97), Cak Nun membuat fragmen singkat. Dikemukakan, ada seorang tamu yang digdaya, meminta izin pada tuan rumah, untuk menggali tanah di bawah rumahnya.

Di bawah tanah rumahmu ini terdapat barang yang amat berharga.

Tetapi, karena kau tak mampu dan tak punya biaya untuk menggalinya sendiri, sebaiknya akulah yang mengerjakannya (hal. 97).

Dijelaskan, si tuan rumah, sempat diingatkan oleh salah satu anggota keluarganya tentang risiko jangka panjang. Namun, dia mengabaikan saran tersebut. Hingga pada suatu waktu, seseorang

(9)

menyindirnya:

Engkau tertidur dalam bangunanmu, engkau membangun dunia yang akan menjadi semu dalam kurun waktu (hal. 99).

Apa yang disampaikan dalam artikel itu mengesankan, dalam melakukan pengelolaan hasil bumi di Indonesia, terdapat banyak aspek yang mesti diperhatikan. Termasuk, soal masa depan bangsa dan kondisi multi sektor lain di masa datang yang harus dipertimbangkan.

Buku

Judul: Slilit Sang Kiai Penulis: Emha Ainun Nadjib Penerbit: Mizan Pustaka Tahun: Edisi baru, 2015 Tebal: 312 halaman

Belajar Menapak Jalan Kesederhanaan

Orang Maiyah adalah mereka yang tahan selama lima sampai tujuh jam, mulai sekitar pukul 20.00 hingga 03.00, duduk bareng berbagi ilmu di forum Maiyah. Tanpa ada yang mengundang, mengajak, atau mewajibkan. Forum yang dalam terjemahan bebas berarti kebersamaan, dilaksanakan satu bulan sekali di sejumlah kota.

Namanya berbeda-beda sesuai kearifan lokal. Misalnya, di Surabaya disebut Bang-Bang Wetan, di Jombang disebut Padhang Mbulan, di Yogyakarta disebut Mocopat Syafaat, di Jakarta disebut Kenduri Cinta, di Malang disebut Obor Ilahi, di Makassar disebut Paparandeng Ate, dan sebagainya.

(10)

Maiyahan digelorakan oleh budayawan Emha Ainun Nadjib. Namun, pria yang akrab disapa Cak Nun itu menegaskan, Maiyah tidak bergantung pada sosok. Maiyah tidak berkiblat pada ketokohan tertentu. Tidak ada takzim berlebihan dan tidak proporsional pada manusia. Karena sejatinya, seluruh insan sedang meniti rentang usia untuk memburu kebenaran. Yang kata Nurcholish Madjid, tak pernah absolut di tangan makhluk.

Orang-orang Maiyah bukan kelompok yang di permulaan berkedok organisasi kemasyarakatan atau keagamaan, ujung-ujungnya berkoalisi dengan kutub politik tertentu. Menjadi gaduh dan loba tiap ada hajatan KPU. Selebihnya, hanya cermin nafsu tak terbendung.

Dalam perjalanan yang sudah lebih dari satu dekade, Maiyah tidak bertendensi kekuasaan apalagi kapital. Tidak ada keinginan untuk menjadi unggul dari yang lain. Justru, di sinilah tempat berbaur. Siapapun boleh bergabung untuk mendengar pencerahan multi disiplin. Siapapun boleh bicara.

Dalam Kafir Liberal (Progress, 2005) Cak Nun mencatat tentang seseorang yang mengaku berasal dari Jaringan Kafir Liberal.

Pria itu diberikan kesempatan melontarkan pendapat tentang kebenaran dan ketuhanan di Kenduri Cinta. Fakta itu menjadi bukti, meski mayoritas hadirin beragama Islam, bukan berarti non-Islam terpinggirkan. Pluralisme dengan analogi: biarkan kambing mengembik dan biarkan ayam berkokok dalam satu kandang, dipegang dengan seksama.

Bukankah perbedaan adalah sunatullah dan hukum alam yang mutlak? Bukankah tidak ada yang bisa menjamin seorang manusia akan tetap memegang teguh suatu agama, ideologi, pandangan, hingga dia mati kelak? Semua bisa berubah, bahkan menjadi sesuatu yang awalnya sangat dibenci. Kemerdekaan berpikir yang menyasar pada perdamaian adalah keniscayaan. Manusia sangat mungkin berbeda pandangan dan keyakinan tak bisa dipaksakan.

Namun, semua manusia ingin merdeka dan berdamai, bukan?

(11)

Menjadi Jelata Seperti Nabi

Buku yang pernah terbit pada 2007 ini diramu dengan bahasa sehari-hari. Namun, dibutuhkan kedalaman perenenungan untuk memahaminya. Secara umum, Cak Nun seperti merangkum cerita pribadi para penikmat Maiyahan. Dalam pengantar, pria kelahiran Jombang itu mengklaim dirinya sekadar “editor” dalam kumpulan artikel inspiratif ini.

Secara prinsip, gagasan yang ingin disampaikan adalah bagaimana menjadi manusia yang baik dan sederhana. Tidak rakus dan sombong. Karena secara hakikat, sehebat apapun hidup, berkalang tanah jua akhirnya. Dengan kesederhanaan, manusia tidak akan bingung di saat sedih dan tidak akan heboh kala bahagia.

Nabi Muhammad pun memilih jelata dan sederhana. Meskipun sebenarnya, bisa saja hidup berlimpah harta.

Orang Maiyah mengerti persis Nabi Muhammad Saw. justru memilih menjadi orang miskin. Ia ditawari Allah Swt. apakah akan menjadi “mulkannabiyya”, nabi yang juga raja nan kaya raya?

Allah Swt. sudah menyediakan harta berupa gunung emas. Tetapi, Kanjeng Nabi memilih “abdannabiyya”, nabi yang rakyat jelata.

Rakyat jelata bukanlah orang kaya. (hal. 86).

Dari waktu ke waktu, gelombang gerakan Maiyah semakin tinggi.

Aktifitas itu berlangsung secara konsisten, signifikan, penuh keikhlasan, tanpa banyak perhatian dari media massa mainstream. Tak hanya dapat dilihat dari peningkatan jumlah hadirin di masing-masing lokasi. Juga, dari makin menjalarnya cakupan di banyak wilayah tanah air. Maiyahan jauh dari sikap tertutup atau eksklusif. Inilah yang membuatnya selalu dinantikan saban bulan. Forum ini secara tegas menempatkan manusia sebagaimana seharusnya manusia: sekadar makhluk Tuhan di muka bumi.(*)

Resensi Buku

(12)

Judul : Orang Maiyah

Penulis : Emha Ainun Nadjib Penerbit : Bentang, Yogyakarta Cetakan : Pertama, November 2015 Tebal : viii + 100 halaman

Menanti “Edisi Revisi” Buku Menyikapi Perang Informasi

Dalam sebuah obrolan ringan di Radio UNAIR, Rio F. Rachman menuturkan keinginannya untuk menerbitkan/mencetak kembali buku Menyikapi Perang Informasi. Karya yang dipublikasikan melalui penerbit Sarbikita Publishing pada 2015 itu, kata Rio, memerlukan penambahan artikel sebagai pendalaman dari tulisan- tulisan yang sudah ada. Pendalaman, bukan pengulangan. Tapi artikel yang sudah ada, tentu tetap dpertahankan.

Sejatinya, buku tersebut memiliki 27 esai ringkas (140 halaman) yang sudah dimuat di media massa: cetak maupun online. Pemikiran di dalamnya, dipartisi menjadi tiga topik besar: Media Komunikasi, Sosio-Kultural, dan Keindonesiaan. Di edisi revisi nantinya, ujar Rio, selain penambahan tulisan, tidak menutup kemungkinan akan diperluas pula poin pembagian topik. Bisa saja, akan ada lebih dari tiga bagian.

Menyikapi Perang Informasi adalah deskripsi solutif dari sejumlah permasalahan di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini. Banjir informasi membuat manusia berada dalam dua posisi: hanyut atau selektif. Bila tidak selektif dan asal percaya pada bahan “share” dari internet atau media massa lain, bersiaplah tenggelam dalam kabar negatif yang menjebak.

Pelbagai problem atau perspektif tentang media dan strategi

(13)

komunikasi dipaparkan di satu topik besar. Sementara di topik lain, Sosio-Kultural, Alumnus S2 Media dan Komunikasi UNAIR ini memaparkan banyak kritik sosial pada lingkungan sekitar yang makin egois, materialistik, dan gampang berkiblat pada hedonisme. Sementara di topik Keindonesiaan, terdapat banyak esai yang menuturkan soal pentingnya mengobarkan optimisme.

Mengapa? Karena sejatinya, Indonesia adalah negara kaya yang potensial menjadi terdepan di muka bumi.

Yang menarik, buku ini juga menjelaskan sejumlah pandangan mengenai kesusastraan. Disiplin yang digeluti penulisnya saat masih mengenyam S1 di Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya.

Edisi revisi yang diidamkan Rio, tidak akan lepas dari tema- tema tersebut di atas. Meski memang, pasti akan pembenahan di sana-sini. Awalnya, buku baru tersebut ingin diterbitkannya pada tahun lalu melalui Penerbit Suroboyo. Namun, dia beranggapan, perlu persiapan konten yang lebih lama, agar hasil dari revisi bisa maksimal. (*)

Referensi

Dokumen terkait

Banyaknya angka kematian dan kesakitan pada ibu hamil disebabkan karena pengetahuan mereka yang rendah cenderung pemeliharaan kesehatan secara tradisional dan belum siap

Fenomena Koebner (juga dikenal sebagai respon isomorfik) adalah induksi traumatik pada psoriasis pada kulit yang tidak terdapat lesi, yang terjadi lebih sering selama

bentuk sikap kerja yang tidak alamiah, misalnya badan selalu membungkuk, kepala lebih banyak menoleh kesamping daripada ke depan. 2) Mencegah tangan atau lengan terlalu

Fungsi CMC dalam pembuatan pasta ini adalah sebagai bahan penstabil yang dapat menjadikan pasta tetap bertekstur kental sehingga pasta tidak mudah mencair pada

Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) No. 5 Tahun 2009 tentang Keselamatan Radiasi dalam Penggunaan Zat Radioaktif untuk Well Logging, menyatakan bahwa

dalam suatu lingkungan sub unit kerja.. b) Surat kuasa adalah surat yang memuat pelimpahan wewenang atau penugasan dari pejabat yang mempunyai kewenangan menandatangani surat

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) latar sosiohistoris Pramoedya Ananta Toer yaitu ia lahir di Blora 6 Februari 1925,