1
1.1 Latar Belakang
Kemajuan teknologi informasi yang serba digital saat ini tak lantas membuat industri yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan menjadi kalah bersaing, minat dari konsumen atau pembaca terlihat masih ada dan eksistensinya masih terus terjaga. Hal tersebut justru menjadikan perusahaan lebih tinggi dalam berkreasi menciptakan produk dan meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Kecanggihan teknologi dapat berdampak optimal dengan didukung adanya sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia berkualitas tinggi didefinisikan sebagai sumber daya manusia yang mampu menciptakan bukan saja nilai komparatif tetapi juga nilai kompetitif, generatif, inovatif dengan menggunakan energi tertinggi seperti intelligence, creativity, dan imagination, tidak lagi semata-mata menggunakan energi kasar, seperti
bahan mentah, lahan, air, tenaga otot, dan sebagainya (Ndraha 1999).
Matindas (1997) mengemukakan pengertian kualitas sumber daya manusia sebagai sumber daya manusia yang bukan hanya memiliki kesanggupan untuk menyelesaikan pekerjaannya, melainkan juga untuk mengembangkan dirinya serta mendorong pengembangan diri rekan- rekannya. Pendapat lain juga mengemukakan bahwa kualitas sumber daya manusia adalah sumber daya yang memenuhi kriteria kualitas fisik dan
kesehatan, kualitas intelektual (pengetahuan dan ketrampilan), dan kualitas mental spiritual atau kejuangan (Danim 1996).
Pegawai yang kompeten merupakan sumber utama keunggulan sebuah organisasi dalam menjalankan aktivitas penyediaan barang yang berkualitas tinggi dan dapat menjaga kelangsungan hidup suatu perusahaan. Namun sebaliknya, jika sebuah perusahaan tidak dapat mengelola sumber daya manusia dengan baik, maka aktivitas suatu perusahaan juga tidak dapat berjalan sesuai harapan. Seperti yang dikatakan Marwansyah (2012) bahwa Organisasi yang efektif harus mampu menemukan, mendayagunakan, mempertahankan dan mengembangkan manusia untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Di Indonesia sudah terdapat banyak perusahaan baik nasional maupun multinasional yang beroperasi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bali dan Surabaya, bahkan banyak perusahaan yang mulai mendirikan cabang di suatu daerah. Untuk perusahaan yang beroperasi di suatu daerah banyak mengalami kesulitan akibat kurangnya ketersediaan sumber daya manusia yang memadai. Seperti halnya penelitian yang telah dilakukan oleh Hutama dkk (2015) mengenai sebuah perusahaan di Surabaya yang mengembangkan bisnis di daerah Trawas yang termasuk kawasan gunung dan belum terjamah. Kendala yang sering kali dihadapi adalah aspek sumber daya manusia. Dimana perusahaan jasa konstruksi dituntut untuk menghasilkan bangunan yang berkualitas dan sesuai dengan keinginan konsumen, untuk itu sangat diperlukan karyawan yang ahli dan handal di
bidangnya, sehingga perusahaan melakukan langkah recruitment, seleksi dan penempatan karyawan di tingkatan menejerial.
Dengan adanya keterbatasan sumber daya manusia yang kurang memadai mengakibatkan perusahaan melaksanakan aktivitas perkantoran dengan mengandalkan pegawai yang terbatas, akibat dari kurangnya ketersediaan sumber daya manusia dapat menjadikan sebuah perusahaan menerapkan sistem rangkap jabatan kepada pegawai.
Roda perusahaan dapat bergerak secara efektif dan efisien jika terdapat struktur organisasi yang jelas dan komponen dalam perusahaan dapat berfungsi secara optimal. Oleh karena itu pimpinan perusahaan harus berupaya membagi tugas dan menempatkan semua sumber daya perusahaan dalam posisi yang tepat sesuai keahlian bidang masing- masing, jika tidak maka yang terjadi adalah ketidakjelasan tugas dan tanggung jawab dari masing-masing karyawan, muncul timbulnya masalah terhadap pengelolaan waktu dan kendala pada hasil kerja karyawan. Hal ini seperti yang terjadi di PT Bawen Mediatama yang mengalami permasalahan pada pengelolaan waktu dalam penyelesaikan target pekerjaan.
PT Bawen Mediatama pada penelitian pendahuluan, diketahui terdapat struktur organisasi yang menjelaskan bahwa disana terdapat rangkap jabatan terhadap tugas dan tanggung jawab karyawaan, sehingga pegawai mengalami kelebihan beban kerja yang berakibat pada penggunaan waktu saat bekerja menjadi tidak teratur. Dalam hal ini
kemampuan dalam mengatur waktu sangat dibutuhkan oleh pegawai yang memiliki rangkap jabatan, dikarenakan pegawai tersebut memiliki tugas dan tanggung jawab lebih dari satu pekerjaan.
Gie (1995) menyatakan bahwa manajemen waktu adalah keterampilan mengelola waktu dan menggunakan waktu secara efisien yang merupakan hal terpenting dalam kehidupan seseorang. Sedangkan pendapat lain mengatakan manajemen waktu yang efektif harus dapat menggantikan suatu tugas lain yang kurang penting dengan sesuatu yang lebih penting. Secara keseluruhan manajemen waktu merupakan pencapaian dari sasaran-sasaran utama kehidupan sebagai hasil dari menyisihkan kegiatan-kegiatan tidak berarti yang seringkali justu banyak memakan waktu (Taylor 1990). Mengelola waktu sangat diperlukan agar dapat menyeimbangkan semua kegiatan ataupun pekerjaan sehingga dapat bermanfaat. Dengan adanya manajemen waktu yang baik, maka pengawai yang memiliki pekerjaan lebih dari satu tanggung jawab akan dapat terorganisir dengan baik pula, sehingga produktivitas kerja dari pegawai yang memiliki kelebihan beban kerja akan tercapai.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan peneliti menemukan bahwa rangkap jabatan yang terjadi pada pegawai PT Bawen Mediatama menyebabkan timbulnya masalah pada pengelolaan waktu dan ketidakjelasan alokasi jam kerja bagi pegawai. Beberapa pegawai yang berstatus karyawan tetap harus menyelesaikan lebih dari dua pekerjaan yang berbeda. Hal ini mengakibatkan manajemen waktu yang digunakan
oleh pegawai menjadi tidak terkendali. Beberapa masalah yang terlihat seperti pegawai selalu datang tepat waktu dan langsung melakukan aktivitas pekerjaan, namun terlihat pada jam pulang kerja tidak pernah sesuai dengan jadwal, selalu melebihi batasan waktu dan pegawai terlihat selalu sibuk dikejar deadline pekerjaan.
Berdasarkan uraian diatas peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Kelebihan Beban Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Di PT. Bawen Mediatama”.
1.2 Definisi Operasional
1. Manajemen Waktu menurut Macan (1994) didefinisikan sebagai pengaturan diri dalam menggunakan waktu secara efektif dan efisien dengan melakukan perencanaan, penjadwalan, mempunyai kontrol atas waktu, selalu membuat prioritas dan tidak menunda pekerjaan yang harus diselesaikan.
Dalam penelitian ini, secara operasional manajemen waktu didefinisikan sebagai strategi dalam mengatur waktu untuk melaksanakan suatu aktivitas dengan melakukan perencanaan, penjadwalan dan membuat prioritas pekerjaan agar mencapai hasil yang diharapkan. Adapun dimensi dari manajemen waktu ialah:
1. Menetapkan Tujuan dan Prioritas 2. Mekanisme Dari Manajemen Waktu 3. Pengorganisasian Tugas
4. Proporsi Alokasi Waktu
2. Pengertian Kinerja menurut Marwansyah (2012) didefinisikan sebagai pencapaian atau prestasi seseorang berkenaan dengan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian kinerja pegawai pada penelitian ini secara operasional didefinisikan sebagai suatu hasil pencapaian kerja seorang pegawai secara kualitas dan kuantitas dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Adapun dimensi dari kinerja meliputi :
1. Kualitas Pekerjaan 2. Kuantitas Pekerjaan
3. Penggunaan waktu dalam bekerja
4. Kerjasama dengan orang lain dalam bekerja
1.3 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana pengaruh kelebihan beban kerja terhadap kinerja pegawai PT Bawen Mediatama?
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh kelebihan beban kerja terhadap kinerja pegawai PT Bawen Mediatama.
1.5 Metode Penelitian
Dalam penulisan Tugas Akhir ini, penulis membutuhkan data secara lengkap dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, metode yang digunakan untuk mendapatkan informasi dalam penelitian ini adalah metode kualitatif berupa wawancara dan observasi.
a. Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh data atau fakta serta informasi untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab dan tertatap muka secara lisan antara pewawancara dengan informan.
b. Observasi
Observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan langsung dimana peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden.
1.6 Manfaat Penelitian
a. Bagi Pihak Lain
Dengan penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya yang tertarik terhadap judul yang penulis teliti, terlebih agar dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mengenai pentingnya memenejemen waktu guna mencapai efektivitas kerja.
b. Bagi Perusahaan
Dengan penelitian ini diharapkan dapat membantu memecahkan masalah mengenai kinerja pegawai pada PT. Bawen Mediatama
yang belum optimal akibat dari kurangnya kemampuan karyawan untuk memenejemen waktu dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya.
c. Bagi Universitas
Dapat menjadi pertimbangan dalam mengambil kebijakan yang lebih baik di masa yang akan datang. Terutama untuk memberikan masukan dan tambahan informasi serta menyampaikan saran yang bermanfaat bagi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW mengenai masalah yang dihadapi dibidang kesekretariatan.