KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI
KANTOR PENGAWASAN DAN PELAYANAN BEA DAN CUKAI TIPE MADYA PABEAN A
Standar Operasional Prosedur
Penerbitan Surat Perjalanan Dinas (SPD) Dalam Negeri
No. SOP:
18/TMPA/2017
Tanggal Penetapan 19 Juni 2017
Tanggal Revisi Revisi ke-
1. Deskripsi:
a. SOP ini menjelaskan tentang proses penerbitan Surat Perjalanan Dinas (SPD) dalam negeri yang dimulai sejak Surat Tugas diterima oleh Staf Pengelola Keuangan atau Pelaksana Subbagian SDM sampai dengan Pelaksana mengadministrasikan dan mendistribusikan SPD.
b. Pejabat Pembuat Komitmen yang selanjutnya disingkat PPK adalah pejabat yang diberi kewenangan oleh Pengguna Anggaran/KPA untuk mengambil keputusan dan/atau tindakan yang dapat mengakibatkan pengeluaran atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
c. Surat Perjalanan Dinas yang selanjutnya disingkat SPD adalah dokumen yang diterbitkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen dalam rangka pelaksanaan Perjalanan Dinas bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri, Pegawai Tidak Tetap, dan Pihak Lain.
d. Perjalanan Dinas Dalam Negeri yang selanjutnya disebut Perjalanan Dinas adalah perjalanan ke luar tempat kedudukan yang dilakukan dalam wilayah Republik Indonesia untuk kepentingan negara.
e. Perjalanan Dinas Jabatan adalah Perjalanan Dinas melewati batas Kota dan/atau dalam Kota dari tempat kedudukan ke tempat yang dituju, melaksanakan tugas, dan kembali ke tempat kedudukan semula di dalam negeri. Perjalanan Dinas dilakukan dalam rangka:
1) Pelaksanaan tugas dan fungsi yang melekat pada jabatan;
2) Mengikuti rapat, seminar, dan sejenisnya;
3) Pengumandahan (Detasering);
4) Menempuh ujian dinas/ujian jabatan;
5) Menghadap Majelis Penguji Kesehatan Pegawai Negeri atau menghadap seorang dokter penguji kesehatan yang ditunjuk, untuk mendapatkan surat keterangan dokter tentang kesehatannya guna kepentingan jabatan;
6) Memperoleh pengobatan berdasarkan surat keterangan dokter karena mendapat cedera pada waktu/karena melakukan tugas;
7) Mendapatkan pengobatan berdasarkan keputusan Majelis Penguji Kesehatan Pegawai Negeri;
8) Mengikuti pendidikan setara Diploma/S1/S2/S3;
9) Mengikuti pendidikan dan pelatihan;
10) Menjemput/mengantarkan ke tempat pemakaman jenazah Pejabat Negara/Pegawai Negeri yang meninggal dunia dalam melakukan Perjalanan Dinas; atau
11) Menjemput/mengantarkan ke tempat pemakaman jenazah Pejabat Negara/Pegawai Negeri yang meninggal dunia dari Tempat Kedudukan yang terakhir ke Kota tempat pemakaman.
f. Perjalanan Dinas Pindah adalah Perjalanan Dinas dari tempat kedudukan yang lama ke tempat kedudukan yang baru berdasarkan surat keputusan pindah. Perjalanan Dinas Pindah dilakukan dalam rangka :
1) pindah tugas dari Tempat Kedudukan yang lama ke Tempat Tujuan Pindah;
2) pemulangan Pejabat Negara/Pegawai Negeri yang diberhentikan dengan hormat dengan hak pensiun atau mendapat uang tunggu dari Tempat Kedudukan ke Tempat Tujuan menetap;
3) pemulangan keluarga yang sah dari Pejabat Negara/ Pegawai Negeri yang meninggal dunia dari tempat tugas terakhir ke Tempat Tujuan menetap;
4) pemulangan Pegawai Tidak Tetap yang diberhentikan karena telah berakhir masa kerjanya dari Tempat Kedudukan ke tempat tujuan menetap, sepanjang diatur dalam perjanjian kerja;
5) pemulangan keluarga yang sah dari Pegawai Tidak Tetap yang meninggal dunia dari tempat tugas yang terakhir ke tempat tujuan menetap, sepanjang diatur dalam perjanjian kerja; atau
6) pengembalian Pejabat Negara/Pegawai Negeri yang mendapat uang tunggu dari Tempat Kedudukan ke Tempat Tujuan yang ditentukan untuk dipekerjakan kembali.
g. Tempat tujuan menetap sebagaimana dimaksud di atas adalah:
1) Kota tempat pengangkatan pertama sebagai Pegawai Negeri/Pegawai Tidak Tetap; atau
2) Kota tempat kelahiran Pegawai Negeri/Pegawai Tidak Tetap yang dibuktikan dengan akta kelahiran.
h. Prinsip Perjalanan Dinas:
1) Selektif, yaitu hanya untuk kepentingan yang sangat tinggi dan prioritas yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan;
2) Ketersediaan anggaran dan kesesuaian dengan pencapaian kinerja Kementerian Negara/Lembaga;
3) Efisiensi penggunaan belanja negara; dan
4) Akuntabilitas pemberian perintah pelaksanaan Perjalanan Dinas dan pembebanan biaya Perjalanan Dinas.
i. Perjalanan Dinas Jabatan digolongkan menjadi:
1) Perjalanan Dinas Jabatan yang melewati batas Kota; dan
2) Perjalanan Dinas Jabatan yang dilaksanakan di dalam Kota. terdiri atas:
Perjalanan Dinas Jabatan yang dilaksanakan lebih dari 8 (delapan) jam;
dan Perjalanan Dinas Jabatan yang dilaksanakan sampai dengan 8 (delapan) jam.
j. Perjalanan Dinas Jabatan terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut:
1) uang harian terdiri atas uang makan, uang transpor lokal, dan uang saku;
2) biaya transport adalah biaya perjalanan dinas dari Tempat Kedudukan sampai Tempat Tujuan keberangkatan dan kepulangan termasuk biaya ke terminal bus/stasiun/bandara/pelabuhan keberangkatan dan retribusi yang dipungut di terminal bus/stasiun/ bandara/pelabuhan keberangkatan dan kepulangan;
3) biaya penginapan di hotel atau tempat menginap lainnya. Apabila tidak menginap di hotel atau tempat penginapan lainnya, pelaksana SPD dapat diberikan 30% dari tarif hotel di tempat tujuan sesuai standar biaya umum;
4) uang representasi;
5) sewa kendaraan dalam Kota; dan/atau 6) biaya menjemput/mengantar jenazah.
k. Biaya Perjalanan Dinas tersebut dibebankan pada anggaran yang tersedia dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Satker atau Kantor Pusat DJBC (sesuai dengan Surat Tugas) selama tidak ada penugasan lain.
l. Pejabat yang menandatangani SPD halaman II adalah Kepala Satuan Kerja atau Pejabat yang ditunjuk pada instansi Pelaksana SPD atau Atasan Pelaksana SPD
m. Unit pelaksana SOP ini adalah Pejabat Pembuat Komitmen.
2. Dasar Hukum:
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara.
b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara.
c. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.05/2012 tentang Perjalanan Dinas Dalam Negeri Bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap.
d. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 tentang Tata Cara Pembayaran Dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
e. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-22/PB/2013 tentang Ketentuan Lebih Lanjut Pelaksanaan Perjalanan Dinas Dalam Negeri Bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri dan Pegawai Tidak Tetap.
f. Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor SE-13/BC/2015 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Dinas.
3. Ketertautan:
SOP ini memiliki ketertautan dengan prosedur pelaksanaan perjalanan dinas dalam negeri.
4. Pihak-Pihak yang Terlibat:
a. Pelaksana SPD.
b. Kepala Kantor atau Pejabat yang ditunjuk atau Atasan Pelaksana SPD.
c. Pejabat Pembuat Komitmen.
d. Staf Pengelola Keuangan.
5. Persyaratan dan Perlengkapan:
Surat Tugas atau Surat Keputusan Pindah atau Surat Keputusan Pensiun atau Surat Keputusan Pengumandahan.
6. Keluaran (Output):
Surat Perjalanan Dinas (SPD) Dalam Negeri.
7. Jangka Waktu Penyelesaian:
Jangka Waktu Penyelesaian SOP ini adalah paling lama 2 (dua) hari kerja sejak Surat Tugas atau Surat Keputusan Mutasi atau Surat Keputusan Pensiun atau Surat Keputusan Pengumandahan diterima.
8. Perhatian:
Dalam rangka pelaksanaan SOP ini, harus memperhatikan:
a. Kertersediaan DIPA.
b. Pembebanan Biaya Perjalanan Dinas berkaitan dengan Unit penerbit Surat Tugas atau Surat Keputusan Pindah atau Surat Keputusan Pensiun atau Surat Keputusan Pengumandahan.
c. Efisiensi dan efektifitas perjalanan dinas.
9. Matriks RASCI
Penerbitan Surat Perjalanan Dinas (SPD)
Dalam Negeri
Pelaksana SPD
Kepala Kantor/Pejabat
yang Ditunjuk
Pejabat Pembuat Komitmen
Staf Pengelola Keuangan
Penelitian berkas permohonan S R
Penerbitan Surat Perjalanan Dinas - ST, KEP Mutasi, KEP Pensiun, KEP
Kumandah diterbitkan oleh unit lain
- ST, KEP Kah diterbitkan oleh Kepala Kantor
R/A
R
R/A
S
S Pengadministrasian dan Penyampaian
Surat Perjalan Dinas I R
10. Prosedur Kerja
a. Staf Pengelola Keuangan menerima Surat Tugas atau Surat Keputusan Pindah atau Surat Keputusan Pensiun atau Surat Keputusan Pengumandahan dari Pelaksana SPD.
b. Staf Pengelola Keuangan menerima dan meneliti Surat Tugas atau Surat Keputusan Pindah atau Surat Keputusan Pensiun atau Surat Keputusan Pengumandahan, kemudian membuat konsep SPD sebanyak dua rangkap:
- Dalam hal Surat Tugas atau Surat Keputusan Pindah atau Surat Keputusan Pensiun atau Surat Keputusan Pengumandahan diterbitkan oleh unit lain, maka menyampaikan konsep SPD kepada Kepala Kantor atau Pejabat yang ditunjuk atau Atasan Pelaksana SPD.
- Dalam Surat Tugas atau Surat Keputusan Pengumandahan diterbitkan oleh Kepala Kantor, memberi Nomor dan Tanggal Pembukuan, kemudian menyampaikan secara berjenjang kepada Pejabat Pembuat Komitmen dan Kepala Kantor atau Pejabat yang ditunjuk atau Atasan Pelaksana SPD untuk ditandatangani sesuai peruntukannya.
c. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) menerima, meneliti dan menandatangani SPD halaman I.
d. Kepala Kantor atau Pejabat yang ditunjuk atau Atasan Pelaksana SPD menerima, meneliti, dan menandatangani SPD halaman II.
e. Staf Pengelola Keuangan mengadministrasikan dan menyampaikan SPD yang sudah ditandatangani kepada Pelaksana SPD.
11. Bagan Alir (flowchart)
SOP Penerbitan Surat Perjalanan Dinas Dalam Negeri
KEPALA KANTOR/
PEJABAT YANG DITUNJUK
PELAKSANA SPD PEJABAT
PEMBUAT KOMITMEN
STAF PENGELOLA KEUANGAN
MULAI
SURAT TUGAS SK MUTASI/
PENSIUN/
KUMANDAH
MENERIMA, MENELITI, DAN
MEMBUAT KONSEP SPD KONSEP SPD
MENELITI DAN MENANDA-
TANGANI
MENELITI DAN SPD MENANDA-
TANGANI SPD
MENGADMINIS- TRASI DAN MENDISTRIBU-
SIKAN SPD
N
SELESAI SPD
DITERBITKAN UNIT LAIN?
T Y
Disahkan oleh:
Sekretaris Direktorat Jenderal ttd
Kushari Suprianto
NIP 19661002 199103 1 001