SARA FAJIRA
SKRIPSI
Haridzar Muslim 160904080 Jurnalistik
Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik
Universitas Sumatera Utara Medan
2021
ANALISIS SEMIOTIKA LIRIK DAN VISUAL VIDEO KLIP MUSIK “LATHI” OLEH WEIRD GENIUS FEATURING
SARA FAJIRA
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata 1 (S1) pada Program Studi Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Sumatera Utara
Haridzar Muslim 160904080 Jurnalistik
Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik
Universitas Sumatera Utara Medan
2021
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
LEMBAR PERSETUJUAN
Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan:
Nama : HARIDZAR MUSLIM NIM : 160904080
Judul Skripsi : Analisis Semiotika Lirik dan Visual Video Klip Musik “Lathi” oleh Weird Genius featuring Sara Fajira
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi ini diajukan oleh:
Nama : HARIDZAR MUSLIM NIM : 160904080
Program Studi : Ilmu Komunikasi
Judul : Analisis Semiotika Lirik dan Visual Video Klip Musik “Lathi” oleh Weird Genius featuring Sara Fajira
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika di kemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya
bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku,
KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah saya ucapkan kepada Allah Swt. Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat, izin dan rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Analisis Semiotika Lirik dan Visual Video Klip Musik “Lathi”
oleh Weird Genius featuring Sara Fajira”. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU).
Skripsi ini dapat terselesaikan dengan niat dan usaha saya serta dukungan dari berbagai pihak di sekitar saya. Ucapan terima kasih khusus saya sampaikan kepada orang tua saya, yaitu “Papa” saya Heryadi dan “Mama” saya Elfira. Saya dapat memulai hingga menyelesaikan kuliah atas dukungan mereka seperti doa, motivasi, dana dan kesabaran yang selalu diberikan kepada saya dengan harapan saya dapat menambah pengetahuan dan kemampuan. Semoga saya dapat memberikan segala kebaikan kembali kepada orang tua saya.
Saya menyadari bahwa tanpa bantuan, contoh, masukan dan kritikan dari berbagai pihak selama masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini akan sangat sulit bagi saya untuk melalui semuanya. Pengalaman menggetarkan jiwa dengan sebutan masa kuliah yang tersimpan dalam kenangan saya. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr.Muryanto Amin, S.Sos, M.Si. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Hendra Harahap, M.Si., Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si, Ph.D. selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Emilia Ramadhani, S.Sos, M.A. selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP USU dan Dosen Penasihat Akademik pengganti untuk saya dan melanjutkan kebaikan serta arahan dari Dosen Penasihat Akademik saya sebelumnya, yaitu Almarhumah Ibu Dra.Inon Beydha M.Si, Ph.D.
5. Bapak Haris Wijaya, S.Sos, M.Comm. selaku dosen pembimbing skripsi saya dengan bimbingan, pengetahuan, candaan dan kebaikan beliau selalu menjadi pertemuan yang menyenangkan di dalam ataupun di luar kelas perkuliahan.
6. Ibu Yovita Sabarina Sitepu, S.Sos, M.Si. selaku dosen pembanding skripsi saya dengan bimbingan, pengetahuan, kritik dan saran serta kebaikan beliau selalu menjadi pertemuan yang menyenangkan di dalam ataupun di luar masa perkuliahan.
7. Seluruh Dosen Ilmu Komunikasi yang telah memberikan pengetahuan dan arahan selama masa perkuliahan.
8. Kak Maya dan Kak Yanti selaku pengurus Administrasi Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP USU yang telah baik dan memberikan informasi dan bantuan tentang perkuliahan kepada saya.
9. Septy, Roby, Dicky, Iqbal, Raudha, Salsa, Miranda, Sarah, Iren, Yogi, Nur Annisa, Ritzka Intan, Tesa, Ricardo, Fikri, Michael, Suci dan Almarhumah Reekha sebagai teman-teman dekat saya yang mengisi ruang dan waktu saya selama masa perkuliahan dengan bantuan, candaan, dan kebaikan khususnya selama saya mengerjakan skripsi.
10. Dwi Harizki, Intan Sari, dan Kak Dewi Annisa yang telah menjadi teman diskusi selama saya mengerjakan skripsi.
11. Teman-teman angkatan 2016 yang belum saya sebutkan dan tidak mengurangi rasa terima kasih saya atas kehadiran kalian sehingga kita pernah dipertemukan dalam ruangan yang sama. Senang mengenal kalian semua.
Akhir kata, saya mohon maaf jika skripsi ini memiliki kekurangan dan menjadi sebuah pembelajaran bagi saya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Harapan saya adalah penelitian ini dapat berguna bagi setiap pembacanya.
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai civitas akademika Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : HARIDZAR MUSLIM
NIM : 160904080
Program Studi : Ilmu Komunikasi
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Universitas Sumatera Utara Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non Exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
Analisis Semiotika Lirik dan Visual Video Klip Musik “Lathi” oleh Weird Genius featuring Sara Fajira
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
ABSTRAK
Skripsi ini berisi penelitian mengenai pemaknaan lirik dan visual pada video klip musik “Lathi” oleh Weird Genius featuring Sara Fajira. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui keterkaitan antara pemaknaan lirik dan visual dalam video klip tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian ini menggunakan analisis semiotika Roland Barthes berupa signifikasi dua tahap, yaitu denotasi dan konotasi. Makna konotasi tersebut dikaitkan dengan aspek budaya masyarakat sehingga peneliti akan menemukan mitos-mitos dalam lirik dan visual tersebut. Berdasarkan alur kisah serta tokoh maupun objek yang ditampilkan, peneliti membagi adegan-adegan pada video klip musik “Lathi” menjadi 8 (delapan) scene sebagai unit analisis. Hasil penelitian ini menemukan video klip musik “Lathi” mengisahkan tentang seorang wanita yang menjadi korban dalam hubungan yang tidak sehat (toxic relationship) dan perlawanannya untuk terlepas dari hubungan tersebut. Lirik dan visualnya memiliki keterkaitan satu sama lain namun tidak sepenuhnya. Lirik lagu tersebut bermakna seseorang yang berbuat salah akan mendapatkan karma tanpa menjelaskan bagaimana karma tersebut. Namun, visual video klip tersebut menampilkan balas dendam dari wanita yang menjadi korban sebagai bentuk karma. Lirik dan visual video klip musik tersebut juga memiliki keterkaitan karena masing-masing memiliki unsur gabungan antara budaya dari luar Indonesia dan budaya daerah Indonesia, yaitu Jawa.
Kata Kunci: Pemaknaan, Video Klip Musik, Semiotika
ABSTRACT
This essay contains research on the meaning of the lyrics and visuals in the music video "Lathi" by Weird Genius featuring Sara Fajira. The purpose of this study is to determine the connection between the meaning of lyrics and visuals in that music video. The method used in this research is qualitative research methods. This study used Roland Barthes' semiotic analysis in the form of two-stage significance, which are denotation and connotation. The meaning of this connotation is related to the cultural aspects of society so that researchers will find myths in the lyrics and visuals. Based on the storyline as well as the characters and objects displayed, the researcher divides the scenes in the music video "Lathi" into 8 (eight) scenes as the unit of analysis. The results of this study found that the music video "Lathi" tells the story of a woman who becomes a victim in an unhealthy relationship (toxic relationship) and her resistance to being separated from that relationship. The lyrics and visuals are related to each other but not completely. The lyrics of the song mean someone who makes a mistake will get karma without explaining what kind of karma. However, the video clip visuals show the revenge of women who are victims as a form of karma. The lyrics and visuals also have a relationship because each of them has a combination of culture from outside Indonesia and the local culture of Indonesia, namely Java.
Keywords: Signification, Music Video Clip, Semiotics
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PERSETUJUAN ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... iv
KATA PENGANTAR ... v
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vii
ABSTRAK ...viii
ABSTRACT ... ix
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR TABEL ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Konteks Masalah ... 1
1.2 Fokus Masalah ... 8
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Paradigma Penelitian ... 9
2.2 Kajian Pustaka ... 10
2.2.1 Komunikasi Massa ... 11
2.2.2 Media Baru ... 15
2.2.3 YouTube ... 17
2.2.4 Video Klip Musik ... 19
2.2.5 Semiotika ... 25
2.2.6 Bahasa ... 34
2.2.7 Sinematografi ... 38
2.3 Model Teoretis ... 45
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 46
3.1 Metode Penelitian ... 46
3.2 Objek Penelitian ... 47
3.3 Subjek Penelitian ... 47
3.4 Kerangka Analisis ... 48
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 49
3.6 Teknik Analisis Data ... 51
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 52
4.1 Hasil ... 52
4.1.1 Tentang Objek Penelitian ... 53
4.1.2 Analisis Lirik dan Visual Video Klip Musik “Lathi” ... 64
4.2 Pembahasan ...135
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ...141
5.1 Simpulan ...141
5.2 Saran ...142
DAFTAR REFERENSI ...143 LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Halaman
1.1 Jharna Bhagwani Lathi Challenge ... 4
2.1 Peta Tanda Roland Barthes ... 31
3.1 Kerangka Analisis “Two Order of Signification” Roland Barthes ... 48
4.1 Weird Genius (Eka Gustiwana, Reza Oktavian, Gerald Liu) ... 53
4.2 Sara Fajira ... 56
4.3 Sampul Lagu “Lathi” ... 60
4.4 Karakter Enchantress dalam Film Suicide Squad ... 86
4.5 Karakter Ahmanet dalam Film The Mummy ... 87
4.6 Adegan Akhir Avatar Aang Melawan Raja Api Ozai ... 119
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
4.1 Video Klip Musik “Lathi” Scene 1 ... 65
4.2 Video Klip Musik “Lathi” Scene 2 ... 73
4.3 Video Klip Musik “Lathi” Scene 3 ... 83
4.4 Video Klip Musik “Lathi” Scene 4 ... 93
4.5 Video Klip Musik “Lathi” Scene 5 ...103
4.6 Video Klip Musik “Lathi” Scene 6 ...112
4.7 Video Klip Musik “Lathi” Scene 7 ...123
4.8 Video Klip Musik “Lathi” Scene 8 ...130
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Konteks Masalah
Meyer (dalam Djohan, 2009: 113), menyatakan bahwa musik sering memiliki kekuatan dalam komunikasi emosi. Diakui bahwa musik dapat menjadi perantara untuk menyampaikan perasaan selain mengkomunikasikan dan membangkitkan serangkaian emosi. Kekuatan musik dapat dirasakan mulai dari kemampuannya untuk menyebabkan orang merasa tidak nyaman (misal dari musik hingar bingar yang terdengar campur aduk) sampai menjadi saran untuk menyentuh emosi paling lembut yang bisa dirasakan seseorang (Djohan, 2009: 114).
Johnson-Laird & Oatley (dalam Djohan, 2009: 115), menyatakan bahwa definisi komunikasi terutama adalah pengaruh yang terjadi antara komunikator di satu sisi dengan penerima di sisi yang lain (misalnya, musisi memengaruhi impresi auditori pendengar). Jika komunikasi sudah terjadi, baru akan ada analisis ekspresi dan komunikasi yang lebih mendalam. Pada akhirnya pesan yang disampaikan oleh pencipta (komponis) baru dapat dicerna dengan interpretasi yang tepat oleh pendengarnya.
Musisi harus memiliki kemampuan teknis untuk mengekspresikan emosi dalam sebuah karya musik (Djohan, 2009: 105). Misalnya, berekspresi untuk membuat sebuah lagu. Moylan (dalam Yuliarti, 2015: 190), mengungkapkan bahwa lagu merupakan musik yang memiliki unsur teks/lirik. Unsur teks/lirik mengandung pesan tertentu sehingga lagu juga bisa diklasifikasikan sebagai produk media massa. Media massa melibatkan produksi dalam skala besar yang merupakan salah satu karakteristik budaya populer.
Heryanto (dalam Yuliarti, 2015: 190) berpendapat bahwa budaya popular adalah produk dari masyarakat industri yang memiliki tiga karakteristik yaitu diproduksi secara massal, didistribusi secara luas dan diduplikasi. Semakin berkembangnya penyebaran lagu melalui beberapa media tersebut menjadikan lagu yang merupakan produk dari industri musik sebagai bagian dari produk budaya populer.
Kini musik tidak lagi harus didengarkan lewat format fisik berupa piringan hitam, cakram digital ataupun unduhan kopi digital. Layanan musik lewat jasa streaming kian marak. Terutama setelah kemunculan Spotify dan Apple Music.
Kehadiran layanan musik streaming ini telah mengubah gaya hidup dan cara orang dalam mendengarkan musik. Layanan jasa musik streaming ini memungkinkan kita mengakses puluhan juta lagu milik musikus dalam negeri dan mancanegara lewat telepon seluler atau gadget lain. Musik pun bisa didengarkan tanpa batasan tempat (Pusat Data dan Analisa Tempo, 2019).
Weird Genius merilis lagu berjudul “Lathi” di awal tahun 2020. Dalam lagu tersebut, Weird Genius berkolaborasi dengan penyanyi bernama Sara Fajira. Lagu Lathi rilis pada akhir Februari 2020 dan meraih popularitas secara perlahan. Data Spotify menunjukkan bahwa popularitasnya mulai naik sepanjang Maret dan April 2020, yakni saat lagu tersebut masuk dalam sejumlah playlist lokal populer seperti Lantai Dansa dan Top Hits Indonesia. Lagu Lathi sukses membawa Weird Genius memecahkan rekor Spotify sebagai lagu lokal yang menjuarai tangga lagu Indonesia Top 50 dengan durasi terlama. Lathi bertengger di posisi puncak Indonesia Top 50 selama total enam pekan, sejak 10 Mei sampai akhir bulan Juni.
Weird Genius mengalahkan pencapaian pemegang rekor sebelumnya, Hindia yang berkat lagu “Secukupnya” sempat berada di posisi puncak Indonesia Top 50 selama empat pekan (Vitu & Caroline, 2020).
Bukan Cuma di Indonesia, lagu Lathi juga berhasil menembus sejumlah tangga lagu di negara lain, mulai dari Singapura (nomor 1 di Singapore Viral 50 pada Juni 2020), Malaysia (nomor 1 di Malaysia Viral 50 pada Mei 2020), Hong Kong, hingga Taiwan. Lagu tersebut bahkan masuk dalam jajaran Global Viral 50 Spotify dan bisa bertahan hingga menduduki peringkat ke-2. Puncaknya, Lathi masuk di salah satu playlist global milik Spotify, yakni Teen Party, yang memiliki lebih dari 3 juta pengikut di seluruh dunia (Vitu & Caroline, 2020).
Weird Genius merupakan grup musik elektronik yang terdiri atas Eka Gustiwana, Reza ‘Arap’ Oktovian dan Gerald Liu. Dalam lagu Lathi, Weird Genius menggandeng vokalis sekaligus rapper asal Surabaya, Sara Fajira. Kolaborasi ini mengandung unsur budaya dengan mengambil judul dari Bahasa Jawa Kuno yang dibaca “Lathi” dan berarti ucapan. Lagu ini dibuka dengan permainan instrumen
tradisional yang mengiringi dinamika dentum powerful sepanjang lagu dan sedikit rasa melankolis pada bagian tertentu. Pada bagian bridge, Sara melantunkan sepenggal lirik berbahasa Jawa yang dibawakan dengan cengkok ala sinden. Sebuah track yang merangkum ciri identitas Weird Genius sebagai grup EDM (Electronic Dance Music) yang menyertakan atribut budaya lokal dalam setiap musiknya (Aditia, 2020).
Pengguna internet pasti sudah akrab dengan nama “Youtube” dan mungkin banyak yang menjadikannya sebagai situs favorit. Beragam video menarik mulai dari kategori musik, film, animasi, olahraga, hingga dokumentasi pribadi dapat disaksikan melalui situs berbagi video ini. YouTube menyediakan koleksi video musik yang tersedia dalam berbagai macam aliran musik. Para penggemar musik tidak akan mengalami kesulitan jika ingin menyaksikan video musik pop, rock, alternative, jazz ataupun hiphop. Banyaknya video musik yang dimiliki Youtube akan semakin memudahkan penggemar musik untuk memperbarui video musik yang tengah popular sekarang (Jubilee Enterprise, 2010).
Secara keseluruhan, lagu Lathi bercerita tentang seseorang yang terjebak dalam toxic relationship dan berusaha lepas darinya. Salah satu yang menarik adalah adanya lirik lagu berbahasa Inggris yang bercampur dengan lirik berbahasa Jawa. Dari lirik lagu hingga konsep lagu, Lathi juga jadi bahan konten di media sosial. Hingga bulan Juni 2020 video musik “Lathi” yang berdurasi 3 menit 7 detik sudah ditonton lebih dari 66 juta kali. Sejak video musiknya dirilis di YouTube pada 26 Maret 2020 lalu, lagu karya grup musik bergenre EDM ini menarik banyak perhatian tidak hanya di dalam negeri, tapi juga sampai luar negeri. Beberapa orang luar negeri membuat konten dari lagu Lathi yang juga diunggah di Youtube. Kurt Hugo Scheneider, seorang penyanyi asal Amerika Serikat berkolaborasi dengan Jada Facer untuk menyanyikan ulang dan memberikan aransemen unik pada lagu Lathi. Penyanyi luar negeri lain seperti Davina Michelle, Patrick Stewart, hingga Emma Haesters yang berasal dari Belanda ikut menyanyikan ulang (cover) lagu Lathi (Rahim, 2020).
Fenomena viral merupakan objek atau pola yang dapat menggandakan diri atau mengubah objek lain menjadi salinan dirinya sendiri saat objek lain terpapar dengan objek tersebut. Fenomena ini mendapatkan nama dari bagaimana virus dapat menyebarkan dirinya sendiri. Cara ini menjadi cara yang umum bagaimana pikiran, informasi dan tren bergerak menuju dan melalui suatu populasi manusia. Media viral merupakan istilah umum yang mendapatkan kepopuleran saat kebangkitan cepat jejaring sosial bersamaan dengan kemunduran periklanan dan pemirsa media siar. Berbeda dengan media penyebaran, media viral menggunakan metafora penularan dan pencemaran, dalam artian pemirsa berperan sebagai pembawa pasif ketimbang sebagai pemeran aktif untuk menyebarkan isi (Jenkins, Henry & Joshua, 2013: 17).
Gambar 1.1 Jharna Bhagwani Lathi Challenge Sumber: https://www.instagram.com/p/CAUv-H4p5ac/
Lathi kembali mencuat dan banyak dibahas netizen. Hal itu lantaran sebuah konten unggahan Jharna Bhagwani, seorang beauty influencer berusia 17 tahun.
Jharna membuat konten makeup dengan tagar #LathiChallenge yang membuat ribuan pengguna internet berdecak kagum. Konten tersebut diunggah pada tanggal 18 Mei 2020 di media sosial Instagram. Ia menampilkan dua riasan sebagai interpretasi dari lagu Lathi karya Weird Genius. Riasan pertama bertema kontemporer yang punya kesan misterius dan abstrak. Sementara tampilan kedua memiliki nuansa tradisional khas Jawa. Diiringi lagu Lathi sebagai background music, videonya viral dan mendapat banyak pujian (Zulmi, 2020).
Tagar #LathiChallenge juga ramai di platform TikTok. Setelah itu orang- orang di Indonesia mengikuti jejaknya dengan membuat kreasi makeup dengan pakaian tradisional. Ada juga yang hanya menggunakan aplikasi di smartphone.
Psikolog Klinis, Adityana Kasandra Putranto, mengatakan menurutnya ada beberapa alasan mengapa #LathiChallenge ramai di Indonesia (Shalihah, 2020).
“Banyak perempuan merasa memiliki koneksi dengan lagu ini, lalu ditambah kreativitas para MUA (Make Up Artist) yang menyajikan unsur keindahan tambahan sehingga lengkap menjadi sebuah Music Beauty Fashion yang artistik,” ujar dia.
Selain itu dari segi lagu, menurutnya itu adalah lagu yang bagus, digarap dengan indah dan kaya akan alunan musik. Ditambah lagi musiknya merupakan perpaduan hi-tech dan tradisional. Banyaknya orang yang meng-cover lagu itu dengan berbagai versi daerahnya juga menambah minat orang-orang Indonesia untuk menikmatinya. Menurut Kasandra, challenge itu juga mewakili sebagian masyarakat Indonesia karena visualisasinya kreatif. Menampilkan sisi kegelapan dan unsur mistik yang nyata. Dia juga menyinggung tentang makna lagu tersebut yang memiliki kedekatan dengan orang-orang Indonesia. Menurutnya, lagu itu mengandung makna yang dalam tentang dampak kekerasan terhadap perempuan.
Kekerasan itu dapat berupa penderitaan, sakit fisik, sakit hati, ketidakberdayaan, dan amarah maupun dendam. Kekerasan terhadap perempuan sulit dihentikan menurutnya karena berbagai faktor, mulai dari pernikahan dini, toxic relationship, kekerasan seksual, perdagangan manusia, dan lain-lain (Shalihah, 2020).
Tidak hanya di Indonesia, Lathi Challenge juga menghebohkan netizen Malaysia. Namun di Malaysia, Lathi Challenge rupanya menuai kontroversi hingga dianggap bertentangan dengan agama. Kritik terhadap Lathi Challenge salah satunya datang dari ustaz atau pemuka agama Islam asal Malaysia bernama Wan Dazrin. Ia bahkan meminta agar Lathi Challenge segera dihentikan karena dianggap menyesatkan.
Ia menyampaikan pendapatnya di akun media sosial Twitter miliknya, pada 6 Juni 2020 (Febriastuti, 2020).
“Hentikan ‘#LathiChallenge‘ sekarang juga. Sesungguhnya tarian- tarian yang kalian lakukan itu sangat berbahaya untuk dijadikan hiburan. Ketahuilah kalian tarian itu wujud dari setengah budaya Jawa yang syirik & khurafat. Seperti memanggil Kuntilanak serta Roh Kuda Kepang. Tolong hentikannya!”
“Hanya Allah SWT sahaja tahu apa yang terlintas dalam hati saya tadi bila saya di tontonkan dengan video #LathiChallenge. Sungguh ia memang menakutkan,”
Banyak netizen Indonesia yang menuntut pembuktian sang da’i. Namun, tantangan tersebut dibalas permohonan maaf dari sang da’i. Ia beralasan kalau pernyataan tersebut hanya untuk menasihati umat Muslim di Malaysia. Wan Dazrin tidak berniat menyudutkan budaya Jawa. Pedakwah itu lantas menarik ulang pernyataannya yang menyebabkan kemarahan. Ia juga menegaskan kalau dirinya tidak pernah mengatakan kalau Lathi Challenge adalah haram (Febriastuti, 2020).
Pernyataan Da’i Wan juga dikomentari oleh Mufti Wilayah Persekutuan atau MUI di Malaysia. Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan, Luqman Abdullah mengatakan bahwa tindakan umat Islam yang turut membuat video Lathi Challenge mereka telah berdosa dan tidak diperbolehkan mengulangnya lagi. Lebih lanjut, Luqman menjelaskan dalam video yang dipopulerkan oleh Weird Genius berduet dengan Sara Fajira, terdapat unsur tarian yang menjadi bagian dari ritual mistis.
Selain itu, dalam beberapa lirik lagunya terdapat kalimat yang diduga mengandung pujian kepada roh dan hal-hal yang berbau supranatural. Dengan begitu, Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia menyimpulkan bahwa melakukan Lathi Challenge adalah perbuatan yang dilarang.
Weird Genius memberikan tanggapan terhadap komentar tentang karya mereka. Dengan santai ketiga anggota Weird Genius membantah tudingan itu dan menyebut penilaian atau asumsi pecinta musik terhadap lagunya adalah keputusan pendengar, karena seni bersifat tidak mutlak. Untuk itu, mereka tidak akan marah (Wayan, 2020).
Dunia makna sangat luas untuk dipahami karena ia adalah persoalan filsafat yang sejak dulu kala hingga kini terus-menerus dicari oleh manusia. Phenix (dalam
Jaeni, 2014: 77), mengidentifikasi dunia makna dalam studi filsafatnya dengan menunjukkan 6 pola dasar makna yang ada dalam kehidupan sebagai pengalaman manusia. Keenam makna tersebut dalam sebuah dunia kehidupan meliputi dunia simbolik, empirik, estetik, synoetics, etik dan synoptics. Makna pada dunia simbolik berkaitan dengan bahasa, matematik, dan bentuk-bentuk simbok nondiskrusif seperti gerak tubuh, pola-pola ritmik, dan ritual. Makna pada dunia empirik meliputi hal-hal dalam pengetahuan manusia secara fisik seperti hal-hal dalam kehidupan manusia. Makna pada dunia estetik meliputi berbagai macam seni seperti musik, seni-seni visual, gerak dan literatur (sastra). Makna pada dunia synoetics yang merupakan kesadaran langsung dari hubungan pengetahuan personal. Makna pada dunia etik berkaitan dengan moral, bahwa kewajiban lebih dari sekadar fakta, termasuk juga di dalamnya bentuk persepsi dan kesadaran tentang hubungan.
Makna pada dunia synoptics merupakan makna yang komprehensif-integratif yang di dalamnya meliputi historis, agama dan filsafat.
Gambaran dunia makna yang dipaparkan oleh Phenix menandakan bagaimana makna itu meliputi semua ranah. Persoalan makna tidak pernah kering hingga ia dikaji oleh berbagai disiplin ilmu termasuk ilmu komunikasi. Tubbs dan Moss (dalam Jaeni, 2014: 78), menyatakan bahwa komunikasi adalah proses pembentukan makna di antara dua orang atau lebih.
Lirik lagu dan visual pada video musik Lathi dapat diartikan sebagai tanda- tanda yang memiliki makna tertentu. Studi yang tepat untuk untuk menganalisis tanda-tanda tersebut adalah semiotika. Semiotika, atau dalam istilah Barthes, semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan memaknai hal-hal (Barthes dalam Sobur, 2004: 15). Cristomy dan Yuwono (dalam Lantowa, Nila & Khairussibyan, 2017: 3) berpendapat bahwa semiotika adalah studi tentang tanda-tanda (sign), fungsi tanda, dan produksi makna. Tanda adalah sesuatu yang berarti sesuatu untuk orang lain. Studi semiotik tanda-tanda, penggunaan tanda dan segala sesuatu yang berkaitan dengan tanda. Dengan kata lain, ide semiotik (tanda, makna, denotatum dan interpretan) dapat diterapkan untuk semua bidang kehidupan selama tidak ada prasyarat terpenuhi, yaitu ada artinya diberikan, ada makna dan interpretasi. Oleh karena itu, peneliti merasa tertarik untuk meneliti tentang pemaknaan dalam lirik dan visual video klip musik “Lathi”.
1.2 Fokus Masalah
Berdasarkan konteks masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka fokus masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pemaknaan lirik dan visual video klip musik “Lathi” oleh Weird Genius dan Sara Fajira?”
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui bagaimana pemaknaan lirik dan visual video klip musik “Lathi”
oleh Weird Genius featuring Sara Fajira.
2. Mengetahui keterkaitan antara lirik dan visual dalam video klip musik “Lathi”
oleh Weird Genius featuring Sara Fajira.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan mampu menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman serta memperluas penelitian komunikasi mengenai analisis semiotika lirik dan visual video klip musik khususnya bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP USU.
2. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan mengenai penelitian komunikasi lebih lanjut khususnya analisis semiotika yang menggunakan teori Semiotika Roland Barthes mengenai pemaknaan lirik dan visual dalam video klip musik.
3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi ilmiah mengenai pemaknaan lirik dan visual video klip musik kepada pihak- pihak yang bersangkutan seperti industri yang memproduksinya serta penikmat video klip musik khususnya yang menjadi subjek penelitian ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Paradigma Penelitian
Paradigma ibarat sebuah jendela tempat orang bertolak menjelajahi dunia dengan wawasannya. Sebagian orang menyatakan paradigma sebagai intelektual komitmen, yaitu suatu citra fundamental dari pokok permasalahan dari suatu ilmu.
Secara umum paradigma dapat diartikan sebagai seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menuntun seseorang dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari (Agus dalam Endra, 2017: 22).
Paradigma adalah basis kepercayaan utama dari sistem berpikir, basis dari ontologi, epistemologi dan metodologi. Dalam pandangan filosof, paradigma merupakan pandangan awal yang membedakan, memperjelas dan mempertajam orientasi berpikir seseorang, Hal ini membawa konsekuensi praktis terhadap perilaku, cara berpikir, interpretasi dan kebijakan dalam pemilihan masalah.
Paradigma memberi representasi dasar yang sederhana dari informasi pandangan yang kompleks sehingga orang dapat memilih untuk bersikap atau mengambil keputusan (Agus dalam Endra, 2017: 23).
Paradigma penelitian adalah pandangan yang digunakan peneliti yang berisi bagaimana peneliti melihat realita, bagaimana mempelajari fenomena, cara-cara yang digunakan dalam penelitian dan cara-cara yang digunakan dalam menginterpretasikan temuan. Paradigma penelitian adalah pola pikir atau cara pandang (aliran/mazhab) mengenai keseluruhan proses, format dan hasil penelitian.
Ragamnya di antaranya adalah: (1) Positivis; (2) Interpretif dan (3) Kritis. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan paradigma interpretif.
Interpretif melihat fakta sebagai sesuatu yang unik dan memiliki konteks dan makna yang khusus sebagai esensi dalam memahami makna sosial. Interpretif melihat fakta sebagai hal yang cair (tidak kaku) yang melekat pada sistem makna dalam pendekatan interpretatif. Fakta-fakta tidaklah imparsial, objektif dan netral.
Fakta merupakan tindakan yang spesifik dan kontekstual yang bergantung pada pemaknaan sebagian orang dalam situasi sosial. Interpretif menyatakan situasi sosial mengandung ambiguitas yang besar. Perilaku dan pernyataan dapat memiliki
makna yang banyak dan dapat diinterpretasikan dengan berbagai cara (Newman dalam Muslim, 2015: 79).
Paradigma interpretif adalah salah satu dari paradigma dalam penelitian sosial yang menekankan aksi sosial yang bermakna, makna yang dibentuk secara sosial dan relativisme nilai. Paradigma interpretif selalu melihat semua sudut pandang dari sisi-sisi yang berbeda, pandangan ini cenderung melihat persoalan dengan berbagai aspek kebutuhan dari sisi subjek (Newman dalam Rorong, 2020: 69-70).
Paradigma interpretatif memfokuskan pada sifat subjektif dari dunia sosial.
Tujuan dari pendekatan interpretatif adalah menganalisis realita sosial dan bagaimana realita sosial tersebut terbentuk. Peneliti harus menyelami pengalaman subjektif para pelakunya untuk memahami lingkungan sosial yang spesifik.
Penelitian interpretatif tidak mendapatkan objektivitas sebagai hal yang terpenting, tetapi untuk memperoleh pemahaman yang mendalam, maka subjektivitas pelakunya harus digali lebih dalam sehingga memungkinkan terjadinya trade off antara objektivitas dan kedalaman temuan penelitian (Efferin dalam Endra, 2017:
22-23).
Paradigma ini menekankan pada ilmu bukanlah didasarkan pada hukum dan prosedur yang baku. Setiap gejala atau peristiwa bisa jadi memiliki makna yang berbeda. Ilmu bersifat induktif, berjalan dari yang spesifik menuju ke yang umum dan abstrak. Ilmu bersifat ideografis, artinya ilmu mengungkap realitas melalui simbol-simbol dalam bentuk deskriptif. Pendekatan interpretif pada akhirnya melahirkan pendekatan kualitatif (Muslim, 2015: 79).
2.2 Kajian Pustaka
Kajian pustaka adalah kegiatan mendalami, mencermati, menelaah dan mengidentifikasi pengetahuan. Kajian pustaka lebih akan mengarahkan pada pandangan kritis terhadap penelitian-penelitian yang telah dilakukan yang signifikan dengan penelitian yang sedang atau akan dilakukan. Proses umum yang dilakukan peneliti dalam upaya menemukan teori ada pada kajian pustaka (Chamidy dalam Fitrah dan Lutfiyah, 2017: 138).
Tinjauan pustaka berisi uraian tentang penelitian-penelitian sebelumnya, tentang permasalahan yang sama atau yang serupa. Tinjauan Pustaka adalah bahan
tertulis berupa buku, jurnal yang membahas tentang topik yang hendak diteliti.
Tinjauan Pustaka membantu peneliti untuk melihat ide-ide, pendapat dan kritik tentang topik tersebut yang sebelumnya.
Metode kualitatif beranggapan bahwa manusia selalu dalam proses menjadi dan berkembang, dan hal ini berlaku juga setiap ilmu kemanusiaan yang selalu berada dalam proses berkembang. Itu berarti bahwa dapat terjadi teori yang pernah ada diperjelas atau dibatalkan oleh teori yang baru. Teori dalam tradisi kualitatif berarti mencari gagasan, ide atau pendapat yang ditulis oleh para ahli yang ada dalam buku, jurnal dan lain-lain. Jadi teori dalam tradisi kualitatif dipakai sebagai konfirmasi awal bahwa terdapat bukti tertulis ilmiah bahwa topik ini pernah dipelajari dan diteliti, tetapi pada tempat dan waktu yang berbeda, orang-orang yang berbeda, situasi berbeda dan konteks berbeda.
Tujuan pembahasan teori di awalnya adalah untuk memberikan peneguhan atas pentingnya masalah atau topik penelitian tersebut dibahas. Dengan kata lain, hendak memberikan penegasan tentang pentingnya penelitian tersebut (Raco, 2010:
104-106).
2.2.1 Komunikasi Massa
Konteks komunikasi massa adalah yang menyasar khalayak dalam jumlah besar. Sebelumnya, media massa adalah saluran-saluran atau cara pengiriman bagi pesan-pesan massa. Media massa dapat berupa surat kabar, video CD-ROM, komputer, TV, radio dan sebagainya. Komunikasi massa adalah komunikasi kepada khalayak luas dengan menggunakan saluran-saluran komunikasi. Walaupun komunikasi massa merujuk pada surat kabar, video, CD-ROM, dan radio, pembahasan melebar hingga media baru (new media) yang terdiri atas teknologi berbasis komputer. Teknologi komunikasi ini termasuk e-mail, internet, televisi kabel digital, teknologi video sepeti DVD, pesan instan (instant messaging/IM) dan telepon genggam.
Konteks komunikasi massa juga unik. Konteks ini memberikan kemampuan baik pada pengirim maupun pada penerima untuk melakukan kontrol. Sumber- sumber seperti editor surat kabar atau penyiar televisi membuat keputusan mengenai informasi apa yang akan dikirim, sedangkan penerima memiliki kendali
terhadap apa yang mereka baca, dengarkan, tonton dan bahas (West & Lynn, 2008:
41).
2.2.2.1 Ciri-Ciri Komunikasi Massa
Ciri komunikasi massa adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik media audio visual maupun media cetak. Komunikasi massa selalu melibatkan lembaga dan komunikatornya bergerak dalam organisasi yang kompleks. Adapun beberapa ciri-ciri komunikasi massa sebagai berikut (Romli, 2016: 4-6):
1. Pesan Bersifat Umum
Komunikasi massa bersifat terbuka, artinya komunikasi massa itu ditunjukkan untuk semua orang dan tidak ditujukan untuk sekelompok orang tertentu. Oleh karena itu, komunikasi bersifat umum. Pesan komunikasi massa dapat berupa fakta, peristiwa atau opini. Pesan komunikasi massa yang dikemas dalam bentuk apa pun harus memenuhi kriteria penting atau kriteria yang menarik.
2. Komunikasi Anonim dan Heterogen
Pada komunikasi antar personal, komunikator mengenal komunikannya dan mengetahui identitasnya. Sedangkan dalam komunikasi massa, komunikator tidak mengenal komunikan (anonim), karena komunikasinya menggunakan media dan tidak tatap muka secara langsung. Di samping anonim, komunikan komunikasi massa adalah heterogen, karena terdiri dari lapisan masyarakat yang berbeda berdasarkan faktor usia, faktor jenis kelamin, Pendidikan, pekerjaan, latar belakang budaya, agama dan tingkat ekonomi.
3. Media Massa Menimbulkan Keserempakan
Effendi (dalam Romli, 2016: 5) mengartikan keserempakan media massa itu sebagai keserempakan kontak dengan sejumlah besar penduduk dari jarak yang jauh dari komunikator dan penduduk tersebut satu sama lainnya berada dalam keadaan terpisah.
4. Komunikasi Massa Lebih Mengutamakan Isi Daripada Hubungan
Salah satu prinsip komunikasi mempunyai dimensi isi dan dimensi hubungan (Mulyana dalam Romli, 2016: 5). Dimensi isi menunjukkan
muatan atau isi komunikasi, yaitu apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakannya, yaitu yang mengisyaratkan bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu.
5. Komunikasi Massa Bersifat Satu Arah
Selain ada ciri yang merupakan keunggulan komunikasi massa, ada juga ciri komunikasi massa yang merupakan kelemahannya. Komunikasi melalui media massa bersifat satu arah. Komunikator dan komunikannya tidak dapat melakukan kontak secara langsung.
6. Stimulasi Alat Indra Yang Terbatas
Ciri komunikasi massa lainnya yang dapat dianggap kelemahannya adalah stimulasi alat indra yang terbatas. Dalam komunikasi massa, stimulasi alat indra bergantung pada jenis media massa. Pada surat kabar dan majalah pembaca hanya melihat, pada radio siaran dan rekaman audio khalayak hanya mendengar, sedangkan pada media televisi dan film khalayak hanya menggunakan indra penglihatan dan pendengar.
7. Umpan Balik Tertunda dan Tidak Langsung
Umpan balik sebagai respons mempunyai volume yang tidak terbatas.
Artinya, komunikator komunikasi massa tidak dapat segera mengetahui reaksi khalayak terhadap pesan yang disampaikannya.
2.2.2.2 Fungsi Komunikasi Massa
Laswell (dalam Wahyuni, 2014: 5) mencatat 3 fungsi media massa, yaitu pengawasan lingkungan, korelasi bagian-bagian dalam masyarakat untuk merespons lingkungan, dan penyampaian warisan masyarakat dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Selain ketiga fungsi itu, Wright (dalam Wahyuni, 2014: 5) menambahkan fungsi keempat yaitu hiburan. Selain fungsi, media juga mempunyai banyak disfungsi yakni konsekuensi yang tidak diinginkan masyarakat atau anggota masyarakat.
1. Pengawasan (Surveillance)
Pengawasan atau surveillance artinya memberi informasi dan menyediakan berita. Dalam membentuk fungsi ini, media sering kali memperingatkan kita akan bahaya yang mungkin terjadi. Namun pengawasan
juga bisa menyebabkan disfungsi. Kepanikan dapat terjadi karena ada penekanan yang berlebihan terhadap bahaya atau ancaman terhadap masyarakat.
2. Korelasi (Correlation)
Korelasi adalah seleksi dan interpretasi informasi tentang lingkungan.
Fungsi korelasi bertujuan untuk menjalankan norma sosial dan menjaga konsensus dengan mengekspos penyimpangan, memberikan status dengan cara menyoroti individu terpilih dan dapat berfungsi untuk mengawasi pemerintah. Fungsi korelasi dapat menjadi disfungsi ketika media terus- menerus melanggengkan stereotype dan menumbuhkan kesamaan, menghalangi perubahan sosial dan inovasi, mengurangi kritik dan melindungi serta memperluas kekuasaan yang mungkin perlu diawasi.
3. Penyampaian Warisan Sosial (Transmission)
Penyampaian warisan sosial merupakan suatu fungsi di mana media menyampaikan informasi, nilai dan norma dari satu generasi ke generasi berikutnya atau dari anggota masyarakat ke kaum pendatang. Media membantu integrasi individu ke masyarakat, melanjutkan sosialisasi dan mengurangi rasa terasing. Namun komunikasi massa bisa juga menimbulkan disfungsi yang berupa depersonalisasi masyarakat dan mengurangi keanekaragaman kebudayaan dan meningkatkan masyarakat massa.
4. Hiburan (Entertainment)
Media massa sebagai sarana istirahat dari masalah dan mengisi waktu luang, menciptakan budaya massa, dan meningkatkan rasa atau selera.
Namun dapat berdampak pula mendorong orang melarikan diri dari kenyataan, merusak kesenian dan menurunkan selera.
2.2.2 Media Baru
Teknologi pada dasarnya memiliki kontribusi dalam menciptakan keberagaman media. Inilah salah satu ciri dalam lingkungan media baru menurut McNamus (dalam Nasrullah, 2014: 1), bahwa ada pergeseran dari ketersediaan media yang dahulu langka dengan akses yang juga terbatas menuju media yang melimpah. Proses penyampaian pesan melalui media pun mengalami pergeseran
penting. Jika selama ini merupakan pusat informasi, dan informasi itu diberikan atau dipublikasikan satu arah, kini media menjadi lebih interaktif. Khalayak tidak lagi sekadar objek yang terpapar oleh informasi, tetapi khalayak telah dilibatkan lebih aktif karena teknologi menyebabkan interaksi di media bisa terjadi.
Penanda dari ciri media baru itu bisa dilihat dari munculnya media dalam jaringan. Koneksi antarjaringan melalui komputer atau lebih popular dengan internet memberikan pilihan bagi khalayak tidak hanya dalam mencari dan mengonsumsi informasi semata, tetapi khalayak juga bisa memproduksi informasi itu. Internet juga mentransformasikan dirinya sebagai tempat penyimpanan virtual, sehingga khalayak bisa mengakses informasi yang dibutuhkan kapan pun dan tentu saja melalui perangkat apa pun (Nasrullah, 2014: 2).
Media baru adalah istilah yang dimaksudkan untuk mencakup kemunculan era digital, komputer, atau jaringan teknologi informasi dan komunikasi di akhir abad ke-20. Sebagian besar teknologi yang digambarkan sebagai media baru adalah digital yang biasanya memiliki karakteristik dapat dimanipulasi, bersifat jaringan, padat, mampat, interaktif, dan tidak memihak, Beberapa contoh produk media baru, seperti internet, website, komputer multimedia, permainan komputer, CD-ROM, dan DVD. Media baru bukanlah televisi, film, majalah, buku, atau publikasi berbasis kertas, tetapi penggabungan antara teknologi telekomunikasi, teknologi komputer, dan teknologi media massa merupakan konvergensi media adalah ruang lingkup new media (Djamal dan Andi, 2011: 37).
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) (dalam Sujoko, Muchtar
& La Ode, 2020: 60), merumuskan bahwa karakteristik new media atau media baru yang berbasis internet memiliki setidaknya sembilan hal, yaitu:
1. Audience Control (kontrol audiens), yaitu melalui penggunaan teknologi terkini pengembangan situs, pembaca dapat leluasa dan mudah memilih informasi.
2. Nonlinearity (tidak linear), yaitu guna memahami konteks informasi, di dalam segmen informasi yang disampaikan tidak perlu harus disertakan segmen sebelumnya.
3. Duplication (duplikasi), yaitu informasi dapat dengan mudah diduplikasi atau digandakan sehingga proses penyebaran dan distribusi informasi dapat lebih luas.
4. Retrievability (pengambilan kembali), yaitu dikarenakan adanya dukungan basis data yang memadai, proses pencarian informasi masa lampau dapat dilakukan dengan mudah.
5. Quantity (kuantitas), yaitu jumlah informasi yang disampaikan dapat sangat besar atau sangat banyak jumlahnya, tidak ada lagi jumlah batas panjang teks atau halaman maupun durasi on-air.
6. Flexibility (fleksibilitas), yaitu informasi dapat disampaikan melalui berbagai bentuk, dari sekadar teks biasa hingga multimedia.
7. Capacity (kapasitas), yaitu jumlah informasi yang dapat disimpan (arsip) bisa jauh lebih besar dan leluasa, karena digitalisasi seakan membuat tidak adanya batasan ruang penyimpanan data secara permanen, lebih awet dan berkualitas lebih baik daripada teknologi sebelumnya, misalnya pita gulungan, piringan atau kaset.
8. Interactivity (interaktivitas), yaitu umpan balik atas suatu informasi lebih interaktif, lebih dari sekadar dialogis formasi sehingga partisipasi audiens semakin bermakna dan berpengaruh selama interaksi menggunakan media baru tersebut.
9. Mobile (cepat), yaitu melalui penggunaan format teknis yang sederhana, informasi dapat disampaikan di mana saja dana kapan saja melalui piranti bergerak.
Dalam perkembangan new media atau media baru tersebut, media sosial menjadi salah satu media yang paling populer digunakan oleh para pengguna atau user. Secara terminologi, istilah media sosial merujuk kepada penggunaan teknologi mobile dan berdasarkan web untuk mengubah komunikasi ke dalam bentuk dialog interaktif (Baruah dalam Sujoko, Muchtar & La Ode, 2020: 64).
Kaplan dan Haenlein (dalam Sujoko, Muchtar & La Ode, 2020: 65), mengungkapkan bahwa setidaknya hingga saat ini media sosial dapat dibedakan ke dalam enam jenis, yaitu proyek kolaboratif seperti Wikipedia, blog dan microblogging seperti Twitter, content communities seperti YouTube, situs jaringan
sosial seperti Facebook, dunia permainan virtual seperti World of Warcraft dan dunia sosial virtual seperti Second Life. Tidak jauh berbeda, Mayfield (dalam Sujoko, Muchtar & La Ode, 2020: 66) juga berpendapat dengan membedakan media sosial menjadi enam jenis, yaitu social networks seperti Facebook, blogs seperti Wordpress, wikis seperti Wikipedia, podcasts seperti iTunes, forums seperti mailing list dan website, content communities seperti Youtube dan microblogging seperti Twitter.
2.2.3 Youtube
Di Amerika Serikat garasi adalah tempat yang mengawali kesuksesan perusahaan-perusahaan besar. Saat Steve Jobs dan Wozniak mendirikan Apple berawal dari garasi, begitu juga Microsoft dan eBay. Meski bukan jaminan tetapi usaha sederhana yang dimulai di garasi di lingkungan yang kondusif dan mendukung dapat berkembang menjadi perusahaan besar yang sukses. Langkah tersebut diikuti oleh tiga anak media yang kemudian menamai perusahaan mereka YouTube (Wardhana & Nuraksa, 2010: 165).
Steve Chen, Chad Hurley, dan Jawed Karim adalah tiga pemuda brilian yang menciptakan situs YouTube. Ketiganya bertemu saat masih menjadi karyawan PayPal. Pertemuan ketiganya terjadi ketika mereka frustrasi saat berusaha mengirim e-mail yang berisi video klip. Mereka kemudian menyempurnakan infrastruktur platform video sharing mereka selama beberapa jam. Inilah awal terbentuknya situs YouTube berawal dari ketiga pemuda tersebut berhasil mengubah kesulitan teknis menjadi sesuatu yang bernilai komersial (Wardhana &
Nuraksa, 2010: 168-169).
YouTube didaftarkan pertama kali dengan domain YouTube.com pada 15 Februari 2005. Situsnya sendiri baru mulai dibangun beberapa bulan kemudian.
Sebagai tempat sementara, dipilih garasi di Menlo Park milik satu di antara ketiga pemuda itu. Tiga bulan kemudian, pada Mei 2005, YouTube akhirnya diluncurkan ke publik. Awalnya hanya sekadar situs preview saja. Enam bulan kemudian barulah YouTube memulai debut resminya (Heriwibowo, 2008: 3)
Selama musim panas 2006, YouTube telah menjadi website dengan pertumbuhan tercepat dan menempati posisi website terpopuler kelima melebihi
pertumbuhan website MySpace. Oleh karena itu, tidak perlu waktu lama jika kemudian pada 9 Oktober 2006, diumumkan bahwa saham perusahaan ini telah dibeli oleh Google senilai 15,67 triliun rupiah (Heriwibowo, 2008: 4-5).
Dijalankan oleh Google, YouTube adalah situs berbagi video berbasis online dan layanan streaming secara gratis, tidak terbatas dan mudah diakses bagi komunitas pembuat konten video terbesar di dunia. Layanan ini memiliki lebih dari 1 miliar pengguna dan terus bertambah, perpustakaan konten video sesuai permintaan bagi masyarakat untuk menonton, belajar dan menikmati.
Sebagai komunitas online, YouTube memperbolehkan siapa pun untuk memproduksi dan mengunggah konten video dan kemudian menyebarkannya pada dunia dalam forum publik. Setiap penyedia konten, seperti seorang anak berumur 16 tahun, sebuah perusahaan yang memasarkan produknya, sebuah televisi atau studio film, seorang pembuat film tunggal, seorang musisi profesional atau amatir, seorang penyair, seorang penampil atau publik figur, bisa membuat kanal YouTube yang unik dan membangun sejumlah pengikut online dari penonton setia (Rich, 2016: Chapter 6).
Ada beragam cara yang bisa dilakukan untuk mendengarkan musik yang sedang menjadi hits, baik lewat televisi, radio maupun internet. Beberapa tahun lalu, untuk dapat selalu mendengarkan lagu dan video musik kesayangan, harus membeli kaset dan CD. Namun, sekarang dengan mudah dapat mengunduh secara gratis maupun berbayar melalui situs-situs penyedia lagu di internet.
Sekarang telah bermunculan berbagai situs yang berlomba-lomba menyediakan layanan musik sebagai alat untuk menarik perhatian dari para pengguna internet, karena mereka menyadari bahwa sebagian dari pengguna internet sangat menyukai dunia musik. Pentingnya makna musik bagi kehidupan setiap orang memunculkan beragam layanan yang bisa memudahkan penikmat musik untuk mengakses dan memperoleh musik-musik favoritnya.
Pengguna internet pasti sudah akrab dengan nama Youtube dan mungkin banyak yang menjadikannya sebagai situs favorit. Beragam video menarik mulai dari kategori musik, film, animasi, olahraga, hingga dokumentasi pribadi dapat disaksikan melalui situs berbagi video ini. YouTube menyediakan koleksi video musik yang tersedia dalam berbagai macam aliran musik. Para penggemar musik
tidak akan mengalami kesulitan jika ingin menyaksikan video musik pop, rock, alternative, jazz ataupun hiphop. Banyaknya video musik yang dimiliki Youtube akan semakin memudahkan penggemar musik untuk memperbarui video musik yang tengah popular sekarang (Jubilee Enterprise, 2010).
2.2.4 Video Klip Musik
Produksi audio video atau video klip adalah salah satu media penyampaian informasi yang sangat ideal dalam menyampaikan sebuah ide, pesan dan citra sebuah lagu kepada para penontonnya. Video klip adalah kumpulan potongan- potongan visual yang dirangkai dengan atau tanpa efek-efek tertentu dan disesuaikan berdasarkan ketukan-ketukan pada irama lagu, nada, lirik, instrumennya dan penampilan band, kelompok musik untuk mengenalkan dan memasarkan produk (lagu) agar masyarakat dapat mengenal yang selanjutnya membeli kaset, CD, DVD (Margareta, 2014).
Pada paruh era 1970-an, TVRI bereksperimen dengan menampilkan lagu yang ber-setting outdoor agar terlihat lebih natural. Boleh jadi, ini merupakan cikal bakal munculnya era video klip yang marak era 1980-an hingga 1990-an di Indonesia. Budi Schwarzjrone (dalam Sakrie, 2015), yang saat itu menjabat sebagai pengarah acara di TVRI, mengungkapkan bahwa video klip pertama muncul di TVRI adalah lewat penampilan penyanyi Ernie Djohan pada 1972 dengan menggunakan kamera Éclair 16mm. Namun, yang bisa dianggap video klip utuh dengan memakai playback atau lipsynch adalah video klip kelompok Panbers tahun 1974 dengan memakai kamera Arriflex 16 BL. Para pembuat video klip, kemudian lebih memperlihatkan kreativitas yang lebih modern pada 1990-an seperti karya- karya Rizal Mantovani, Jay Subiakto, Dimas Djajadiningrat, Garin Nugroho, Ria Irawan dan beberapa nama lainnya (Sakrie, 2015).
Pada bulan Juni 1981 USA Network, sebuah perusahaan TV kabel, memperkenalkan program Night Flight, sebuah program akhir pekan yang berisi video-video musik. Enam bulan kemudian lahirlah revolusi baru di dunia hiburan dengan introduksi MTV (Music Television) oleh perusahaan Warner Amex Satellite Entertainment. Sebagai kanal pertama yang menayangkan acaranya selama 24 jam nonstop, pada dasarnya MTV memakai pola yang sama dengan acara-acara musik
Top-40 di radio-radio Amerika. Cirinya, ia mengutamakan format ‘penggalan- adegan’ untuk merangsang para remaja dan orang dewasa muda untuk masuk ke dalam sebuah dunia yang sama sekali baru. MTV bukan saja lahir sebagai upaya memenuhi kebutuhan masyarakat industri maju akan hiburan melainkan juga telah menjadi medium melalui apa pesan-pesan budaya popular dikelola dengan beberapa pendekatan yang sama sekali baru dalam dunia bisnis televisi. Pengelola siarannya secara profesional dipersiapkan untuk membuat gugatan kultural paling tidak dalam dua langkah.
Pertama, dengan memilih para pembawa acara, di MTV biasa disebut dengan lafal ‘Vejey’ atau disingkat ‘VJ’ (Video Jockeys), berusia sangat muda dari bermacam-macam bangsa dan ras manusia yang berlainan. Para Vejeys berkomunikasi dengan penontonnya tidak hanya dalam Bahasa Inggris, melainkan juga bahasa-bahasa dari mana mereka berasal dalam acara-acara yang khusus menyajikan video-video klip musik dari negara yang bersangkutan. Indonesia misalnya, diwakili oleh Sarah Sechan, Jamie Aditya dan (semula) Nadya Hutagalung, dengan acara-acara seperti Getar Cinta atau MTV Ampuh (Budiman, 2002: 70).
Kedua, melalui format siarannya yang inkonvensional mereka terus berusaha merangsang orang pada cara berpikir yang tidak linear, tidak ajek melainkan terputus-putus, tumpang-tindih, dan sangat cepat. Kalau dalam program-program tradisional setiap pertunjukan terikat ketat pada jam siar acara, MTV sebaliknya semula justru nyaris tanpa jadwal acara yang tetap. Seluruh acara MTV pada dasarnya adalah sebuah aliran konstan musik dan citra. MTV adalah siaran dua puluh empat jam setiap hari, sehingga dengan menontonnya seperti diyakinkan akan hidup muda selamanya, timeless and eternal youth (Budiman, 2002: 71).
Pat Aufderheide, kritikus media dan editor budaya surat kabar In These Times, menunjuk perbedaan kategoris antara video-video musik MTV dengan siaran-siaran televisi tradisional. Salah satu ciri pembeda video musik sebagai satu ekspresi sosial menurutnya adalah kualitasnya yang terbuka yang terutama ditujukan untuk merangsang emosi penonton dalam komunikasi mereka dengan dirinya sendiri dan bujukannya pada sebuah alternatif dunia yang baru tempat citra merupakan realitas. Hal tersebut adalah penghapusan batas-batas tradisional antara
masa lalu dan masa kini, antara karakter dan penampakan seni tata krama dengan kehidupan yang distilisasikan (Ruskhoff dalam Budiman, 2002: 71-72).
Goodwin (dalam Dodig, 2014: 26), menyatakan bahwa video musik yang baik adalah klip yang merespon kenikmatan musik, dan menekankan keberadaan hubungan visual. Pete Fraser (dalam Dodig, 2014: 26) menunjukkan bahwa suara (sound) adalah dasar dari proses visualisasi yang berfungsi untuk meningkatkan, bukan membatasi, efek suara musik pop asli. Dengan pemikiran ini, ia menunjukkan terdapat lima aspek utama yang khalayak harus sadari ketika menonton video musik.
Pertama adalah ide ketukan atau sinestesia yang meliputi proses psikologis yang membayangkan suara dalam pikiran, atau dikenal sebagai kemampuan melihat suara. Musik memiliki kekuatan untuk menciptakan hubungan visual dalam rangka untuk menghubungkan dengan penonton dan memberikan kesenangan.
Dalam penciptaan satu video musik adalah penting untuk memulai dengan musik dan suara; tidak ada kebutuhan untuk analisis rinci dari lirik. Puisi yang dipilih agak dipertimbangkan dalam perasaan umum atau suasana hati, menciptakan rasa materi subjek. Ini melibatkan struktur lagu seperti refrein (chorus) dan sajak (verses) misalnya, di mana kita benar-benar melihat musik itu sendiri untuk memulai.
Dengan kata lain kita bisa ‘melihat’ suara menyanyi dari awal, dan sebuah band yang bermain di latar belakang. Suara artis disajikan secara unik dan ini memungkinkan lagu untuk membentuk identifikasi atau merek dagang (trademarks). Butir suara (grain of voice) dari seorang seniman benar-benar unik, diibaratkan sebuah sidik jari. Misalnya dengkingan Michael Jackson telah menjadi menonjol dan menetapkan dia berbeda dari seniman lain. Pelabelan seperti ini bekerja dalam mendukung gambar bintang individu, dan membantu kita untuk mengingat artis. Lagu dapat dilihat sebagai cerita dan artis sebagai pendongeng, membuat video musik sebagai perangkat komunikasi dengan target audiens mendengarkan cerita. Jika lirik lagu adalah narasi, video musik akan menjadi narasi untuk lirik. Hal ini membuat video menonjol dengan artis yang tampil sebagai narasi orang pertama. Oleh karena itu, Goodwin membandingkan penyanyi pop dengan stand-up komedi, sebagai ciri pribadi yang mendominasi perfoma. Itu dimungkinkan karena musik biasanya bekerja dengan lirik dan butir suara. Sebagai
manusia kita menyambungkan gambar dari memori kita ke semua indra.
Intertekstualitas membantu kita untuk mengumpulkan gambar tersebut ke sebuah bank memori di mana kita semua mengasosiasikan hal yang sama dengan indra kita.
Dari bank memori ini, musik dapat menarik keluar ingatan berulang kali, orang, tempat, perasaan, situasi yang semua mengarah ke narasi kecil.
Kedua adalah narasi dan performa. Kita terbiasa untuk melihat musik sebagai bagian dari dunia perfilman dan kita mengharapkan perkembangan narasi dari representasi lagu. Sebaliknya, lagu sering gagal untuk memberikan narasi lengkap.
Bahkan, lagu hanya menginformasikan audiens target dari sejumlah kecil apa artinya lagu, dan itulah alasan mengapa video menciptakan cerita untuk menekankan makna. Ada alasan penting lain mengapa video musik harus menghindari narasi umum dan membuat lebih, dan itu adalah peran video musik dalam iklan. Video musik harus dapat diulang untuk menciptakan penonton yang akan dapat menonton video secara berulang-ulang tanpa kehilangan minat mereka.
Dari sudut pandang itu, yang lebih penting dari narasi adalah perfoma dalam video musik. Dengan demikian, artis meningkatkan keaslian video ketika ia menggabungkan narasi dan sisi perfoma video. Goodwin (dalam Dodig, 2014: 27) mengatakan bahwa musik pop adalah seni romantis, semua tentang kebenaran, bakat, dan gaya tarik, jadi kita perlu percaya pada keaslian perfoma pertama dan terutama. Oleh karena itu dalam melakukan performa, meniru, lip-syncing dari artis ini masih sangat penting dalam video musik dan itu membuat kita percaya, bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah nyata.
Ketiga adalah gambar sang bintang. Ini menyangkut bagaimana artis muncul ke hadapan penonton. Industri musik dan label rekaman mengandalkan artis mereka yang dapat menghasilkan pendapatan yang cukup untuk industri ini. Artis atau band cenderung untuk menarik khalayak tertentu melalui pakaian yang mereka kenakan dan sikap mereka selama gaya musik mereka ciptakan. Sekarang ini, para bintang memainkan peranan penting dalam video musik, karena merupakan salah satu cara utama mengembangkan merek/label sang artis. Mereka tampil di acara televisi musik tertentu, sehingga mereka harus berpakaian dengan cara yang sesuai dengan gaya mereka. Goodwin menunjukkan beberapa fakta menarik di industri musik.
Bahkan, ada banyak yang gagal dalam “membuat bintang” dalam bisnis musik.
Hanya sekitar satu dari sepuluh yang dihasilkan oleh industri yang benar-benar membuat uang. Meta-narasi adalah istilah yang menggambarkan perkembangan gambar bintang dari waktu ke waktu. Dalam contoh Michael Jackson kita bisa melihat langkah sukses pertama dari salah satu kelompok (The Jackson 5), untuk menjadi artis solo. Setelah ia menjadi mega-bintang dengan musik hits-nya seperti Triller dan Beat, meta-narasi nya mengambil perubahan yang salah dan ‘gambar bintang’ yang uniknya menjadi ‘aneh’ dan memanjakan diri sendiri. Namun, setelah kematiannya, ia masih menjadi objek daya tarik media massa. Dia membuat merek dirinya dalam membentuk citranya dari seorang seniman dan itulah penonton akan menyulap dalam pikiran mereka setelah mendengar lagu-lagu Michael Jackson.
Oleh karena itu, gambar bintang membangun dan perubahan berulang akan mampu menarik lebih banyak konsumen.
Keempat adalah video musik menghubungkan visual untuk lagu. Musik menggambarkan cara video menggunakan gambar untuk menunjukkan arti dari lirik. Ada hubungan antara apa yang kita lihat di layar dan lirik yang terdengar. Ini hanyalah tentang cara bahwa video yang difilmkan dan diedit dan efek apa yang dihasilkan kepada penonton dalam kaitannya dengan lagu. Makna dan efek dimanipulasi dan ditampilkan di seluruh video dengan cara bahwa itu tercetak di pikiran kita, visi dan memori. Namun, video dapat memperkuat makna dari lagu tersebut atau sama sekali mengabaikan arti dari lagu tersebut sama sekali. Video musik bisa menjadi ilustrasi dari sebuah lagu oleh interpretasi lirik, meskipun sering bisa ada penjajaran yang kuat antara sifat lagu dan sifat video. Akhirnya, itu tergantung bagaimana video musik ditafsirkan, apa yang penonton dapat lihat dan mengiklankan artis. Ada tiga cara di mana video musik berhubungan visual untuk lagu tersebut. Pertama adalah ilustrasi. Video musik dapat menggambarkan arti dari lirik dan aliran (genre) musik yang menyediakan beberapa dari letak literal gambar.
Ini adalah teknik yang paling sederhana dan contoh klasik dari visualisasi. Kedua adalah amplifikasi yang dipandang sebagai tanda dari sutradara video musik yang benar dan cara yang semakin umum untuk melihat video musik dengan cara yang kreatif. Apa yang membedakan amplifikasi dari disjungsi atau terputus adalah kenyataan bahwa mempertahankan hubungan dengan lagu dan bekerja untuk meningkatkan video musik atau mengembangkan ide-ide daripada secara
fundamental mengubah mereka. Ketiga adalah disjungsi atau terputus yang merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan video musik yang bekerja pada dasar untuk mengabaikan lagu asli dan menciptakan satu letak baru dari makna. Ini adalah teknik yang cukup radikal dan digunakan oleh seniman untuk mempromosikan perbedaan dan orisinalitas mereka. Biasanya, jenis video terputus ini tidak banyak masuk akal dan mungkin didasarkan pada citra abstrak.
Kelima adalah aspek teknis video musik. Aspek-aspek berikut menahan video secara bersama melalui penggunaan kerja kamera, gerakan, sudut, ‘mise en scene’, editing, sound dan efek khusus yang digunakan. Hal-hal yang penonton akan perhatikan adalah panggung, alat peraga dan kostum karena itu merupakan dampak visual langsung. Ada beberapa konvensi teknis seperti kecepatan, ketukan, pencahayaan dan warna dan mise enscene.
• Kecepatan tergantung pada pergerakan kamera, editing cepat (montage) dan efek visual. Penggunaan kamera adalah semua gerakan kamera, editing, pemotongan dan pascaproduksi keseluruhan. Gerakan kamera termotivasi dengan menjalankan, menari atau artis yang berjalan, sedangkan pemotongan cepat dan editing montage menciptakan pengalaman visual yang diperlukan untuk konsumsi video musik. Tidak semua gerakan kamera adalah cepat, beberapa menggunakan gerakan lambat melalui gerakan larut atau tembakan statis. Pemotongan cepat dan editing montage menciptakan kebutuhan pengalaman visual yang tidak terpusat untuk konsumsi musik video. Ketika gambar bergerak cepat tidak mungkin untuk memahami makna pada penglihatan pertama dan dengan demikian perlu dilihat beberapa kali produksi efek digital. Dalam pascaproduksi gambar dapat menjadi berwarna, dibagi dalam layar lebih, memberikan intrik dan hiburan.
• Ketukan dalam video musik merepresentasikan potongan yang berbeda dalam musik sesuai dengan kunci irama.
• Pencahayaan dan warna membantu menetapkan suasana hati dan menekankan saat-saat penting di dalam video musik untuk menambah efek dramatis. Warna dapat digunakan untuk menunjukkan perkembangan dalam lagu, bergerak dari warna hitam dan putih atau sebaliknya ketika refrain
(chorus) datang. Sama dengan perubahan dalam mise-en-scene atau pemotretan bisa menandakan tipe jenis yang sama.
• Mise-en-scene (meletakkan satu subjek dalam adegan) menyajikan pengaturan (setting) untuk video musik dan menjamin keaslian klip. Mise-en- scene membantu mengatur semua pakaian dengan pengaturan latar belakang.
Misalnya, video pop akan menampilkan perempuan berpakaian minim di ruangan yang cukup terang dengan beberapa balon berwarna cerah atau sesuatu bahagia dan bunga apium, sedangkan video musik metal akan kemungkinan besar berada seperti di gudang dengan para personil band mengenakan celana jeans dan dikelilingi oleh sesuatu yang tajam. Pete Fraser (dalam Dodig, 2014: 28), menyatakan bahwa video musik sendiri dapat menjadi ekstensi indah dari lagu, menambahkan ide dan kesenangan di atas keajaiban utama musik populer. Bersama dengan Goodwin, Fraser yakin bahwa suara tetap menjadi sumber dan fokus yang tepat dari industri dengan perlunya gambar iringan namun lebih rendah daya tariknya.
2.2.5 Semiotika
Kata semiotik berasal dari kata Yunani semeion yang berarti “tanda”. Maka semiotika berarti ilmu tanda. Semiotika adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda (Zoest, dalam Lantowa, Nila
& Khairussibyan, 2017: 1). Semiotika memiliki dua tokoh, yakni Ferdinand de Saussare (1857-1913) dan Charles Sanders Peirce (1839-1914). Kedua tokoh tersebut mengembangkan ilmu semiotika secara terpisah dan tidak mengenal satu sama lain. Saussare di Eropa dan Peirce di Amerika Serikat. Latar belakang Saussure adalah linguistik sedangkan Peirce adalah filsafat. Saussure menyebut ilmu yang dikembangkannya semiologi sedangkan Peirce menyebutnya semiotika.
Baik istilah semiotika maupun semiologi dapat digunakan untuk merujuk kepada ilmu tentang tanda-tanda (the science of signs) tanpa adanya perbedaan pengertian yang terlalu tajam (Budiman dalam Lantowa Nila & Khairussibyan, 2017: 1). Hal tersebut seperti yang dikemukakan Zoest (dalam Lantowa Nila & Khairussibyan, 2017: 1) bahwa Saussure menampilkan semiotik dengan membawa latar belakang