• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daftar Referensi

LIRIK LAGU “LATHI”

oleh Weird Genius featuring Sara Fajira [Verse 1]

I was born a fool Broken all the rules Seeing all null

Denying all of the truth [Pre-Chorus]

Everything has changed It all happened for a reason Down from the first stage It isn’t something we fought for Never wanted this kind of pain Turned myself so cold and heartless But one thing you should know [Chorus]

Kowe ra iso mlayu saka kesalahan Ajining diri ana ing lathi

[Verse 2]

Pushing through the countless pain

And all I know that this love’s a bless and curse [Pre-Chorus]

Everything has changed It all happened for a reason Down from the first stage It isn’t something we fought for Never wanted this kind of pain Turned myself so cold and heartless But one thing you should know [Chorus]

Kowe ra iso mlayu saka kesalahan Ajining diri ana ing lathi

Terjemahan Lirik Lagu “Lathi”

[Verse 1]

Aku terlahir sebagai orang bodoh Melanggar semua aturan

Melihat semuanya kosong Menyangkal semua kebenaran [Pre-Chorus]

Semuanya telah berubah

Itu semua terjadi karena suatu alasan Menyerah dari babak pertama

Ini bukanlah sesuatu yang kita perjuangkan Tidak pernah inginkan rasa sakit seperti ini

Mengubah diriku begitu dingin dan tidak berperasaan Tapi satu hal yang harus kau ketahui

[Chorus]

Kau tidak bisa lepas dari kesalahan Harga diri seseorang ada di lidahnya [Verse 2]

Melewati rasa sakit yang tidak terhitung jumlahnya

Dan semua yang kutahu bahwa cinta ini adalah berkah dan kutukan [Pre-Chorus]

Semuanya telah berubah

Itu semua terjadi karena suatu alasan Menyerah dari babak pertama

Ini bukanlah sesuatu yang kita perjuangkan Tidak pernah inginkan rasa sakit seperti ini

Mengubah diriku begitu dingin dan tidak berperasaan Tapi satu hal yang harus kau ketahui

[Chorus]

Kau tidak bisa lepas dari kesalahan Harga diri seseorang ada di lidahnya

Hasil Wawancara

• Wawancara melalui email antara peneliti dengan Bapak Widodo, Dosen Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

• Wawancara Ayu Gurnitha dengan Chenace, Koreografer Video Klip Musik Lathi, di channel YouTube Ayu Gurnitha

Ayu : Hai guys! Halo! Sebenarnya ini talkshow-nya tidak ada nama.

Chenace : Kembali ke channel-nya Ayu Gurnitha.

Ayu : Perkenalkan.

Chenace : Oke perkenalan dulu. Halo! Aku biasanya dipanggil Chenace.

Ayu : Oo Chen-ace? Aku selama ini memanggilnya Che-na-ce.

Chenace : Jadi bahasa Indonesia ya.

Ayu : Kita masuk ke pertanyaan ya.

Chen, bagaimana ceritanya kamu itu bisa diajak buat koreografi Lathi ini?

Chenace : Oke jadi sebenarnya aku itu awalnya berteman sama “Panda”, Creamypandaxx, itu dia director-nya. Terus, dia sudah tahu aku dance. Dulu itu sempat kayak ingin, “Eh kapan ya kita collab?”.

Kan dia videografer, aku dance. Dari dulu itu kayak iseng-iseng pengen collab pengen collab cuma kita enggak pernah punya waktu yang pas.

Ayu : I See

Chenace : Terus jadi, kan kebetulan banget Weird Genius baru bikin lagu ini. Terus maksudnya, Panda ini memang timnya Weird Genius.

Jadi dia bilang mau bikin video klipnya, jadi dia bilang sekalian saja mengajak aku karena dari dulu kita ingin collab enggak jadi-jadi kan.

Ayu : Ini bukan video klip pertama yang dia kerjakan bareng Weird Genius kan?

Chenace : Enggak. Dia sebenarnya sudah lama jadi videografernya Weird Genius.

Ayu : Setelah dengar lagunya pasti si Panda memberitahukan dia ingin direction-nya kayak apa. Boleh diceritakan enggak?

Chenace : Jujur dari pertama mendengarkan aku sudah bisa visualize kayak aku akan bikin koreonya kayak bagaimana, segala macam. Terus ya sudah, dia mulai kayak menjelaskan hal-hal teknisnya. Jadi dia menjelaskan nanti aku ingin dancer-nya cewek semua, memakai baju putih, makeup-nya bukan yang cantik, tapi kayak yang seram. Terus dia ingin semacam ritual gitu, awal-awal ritual. Dia mention itu. Dia bilang ini lebih kayak ritual dan kayak lagi menyembah sesuatu atau apa. Tapi, lagu ini memang maksudnya bukan untuk menyembah apa-apa. Dia ingin biar vibe-nya lebih merinding aja.

Ayu : Guys ini cuma vibe-nya aja

Chenace : Jadi kalau misalnya kalian baca berita ini menyembah setan atau segala macam, (mengisyaratkan tidak dengan menyilangkan tangan)

Ayu : Dari dia kasih kamu dengar lagunya terus di-briefing kamu dikasih waktu berapa lama buat koreonya ini seperti one month atau one year?

Chenace : Jangankan one month. Tidak sampai seminggu.

Ayu : Serius nih?

Chenace : Serius-serius. Awalnya dia mengasih tahu cuma kayak mention gitu. “Kira-kira bisa enggak.” Langsung briefing tapi kayak belum fix gitu. Cuma mengasih tahu ingin bikin ini dan ingin dancer-nya kamu. Lama aku tidak dibalas itu.

Ayu : Digantung ya?

Chenace : Jadi aku berpikir. Oh mungkin tidak jadi. Terus lama-lama, kalau enggak salah cuma beberapa hari buat shooting. Kan kamu diajak juga?

Ayu : Iya sebenarnya.

Kriteria apa yang dia minta untuk dancer-dancer Lathi? Karena aku banyak yang nanya, “Kok kamu bisa dipilih?”

Chenace : Sejujurnya tidak ada kriteria. Tapi, kan aku sudah cerita awalnya kan aku sudah bisa membayangkan koreonya kayak apa segala macam dan aku enggak mau ini pure modern dance karena ada beberapa gerakan yang kayak tarian daerahnya gitu. Terus aku berpikir, aku ingin dancer yang hitam manis dan punya strong figure gitu dan yang muncul di kepala aku ya tiga orang ini.

Jujur aku mengasih tahu kak Ayu 5 hari sebelum shooting atau bagaimana gitu ya.

Ayu : Waktu itu pas banget kakak aku kan lagi di rumah sakit dan PSBB baru banget mulai. Akhirnya aku sempat kayak, “Ambil enggak ya?”. Tapi, tidak tahu kenapa kayak ada yang membisikkan,

“Ambil, harus ambil”. Walaupun aku harus dari rumah sakit balik lagi latihan dan balik lagi. Untung aku tidak melewatkan kesempatan ini. Untung ada bisikan itu.

Berapa kali latihan?

Chenace : Kita cuma dua kali latihan.

Ayu : Actually, we did everything in the first day. Jadi yang hari kedua kita cuma memantapkan, latihan ekspresi, seperti itu kan.

Chenace : Dia langsung bisa guys. Cari koreonya beberapa hari, mengajarkannya cuma dua jam.

Ayu : Ada pertanyaan dari pemirsa. Apa makna gerakan-gerakan yang kamu input dalam koreografinya?

Chenace : Aku tipe orang yang memperhatikan liriknya. Jadi, pertama kali pas dengar lagu Lathi, intinya secara garis besar, penafsiran aku ini lagu tentang kayak kita itu berada di dalam lingkungan atau relationship yang toxic dan kita berusaha keluar dari situ. Intinya, kita itu menegaskan bahwa orang itu bakal menilai dari perkataannya gitu. Jadi, aku interpretasinya kayak gini. Gerakan awal itu kan bertiga baris terus di belakang ada gerakan tangan yang kayak gini (meliuk). Itu aku ingin mengasih lihat satu orang ini diikuti bayang-bayang sama orang yang membuat hidupnya tidak bahagia.

Intinya, dari awal sampai bagian situ si orang ini kayak menyadari, “Oh hidupku ini penuh bayang-bayang yang tidak baik. Aku harus bisa lepas dari sini”.

Waktu di gerakan ini (kedua tangan di depan dada), dia sudah di ujung banget kayak enggak tahan mau meledak. Kalau misalnya diperhatikan, gerakan ini sebenarnya cantik, tapi kayak mereka marah. Setelah gerakan itu, langsung ke gerakan ini (tangan dan tubuh tampak bergerak lebih tegas) kayak menunjukkan, “Ini aku marah, Aku mau keluar dari sini”. Maksudnya, untuk meninggalkan bayang-bayang yang tadi. Mulai gerakan yang di reff kan gerakannya itu kayak patah terus lurus-lurus. Aku ingin kasih lihat ini kayak lagi perangnya atau lagi melawannya, kayak lagi mendorong. “Pergi kau sana!”. Dia mendorong si bayangan ini semakin jauh.

Yang terakhir (menggerakkan tangan seperti mencekik leher lalu merentangkan keduanya ke atas). Kalau kalian perhatikan di video ini ada adegan dicekik juga, gerakan ini kayak dicekik orang yang tidak baik dan akhirnya bisa bebas.

Ayu : Oh itu maksudnya.

Chenace : Iya. Cerita yang aku masukkan dari situnya. Aku enggak ambil secara per kata atau per kalimat. Secara keseluruhan aku ingin kasih lihat orang ini lepas dari bayang-bayang dia yang tidak baik itu.

Ayu : Momen apa yang paling berkesan saat shooting?

Chenace : Aduh semua momen berkesan. Oke, yang paling berkesan adalah menurut aku saat kalian marking.

Ayu : Oh waktu kita camera blocking.

Chenace : Jadi, kalau sebelum shooting kita bakal marking dulu kayak kameranya mengatur, kita posisinya pasti bakal pindah-pindah kan, jadi kameranya mengikuti. Entah kenapa pas mereka marking itu kayak feel-nya udah muncul gitu. “Oh my God, ini beneran koreo aku?”.

Ayu : Saat semua unsur itu dimasukkan kayak koreografi, lighting, venue, costume, makeup jadi satu kesatuan, “Oke, ini dapat banget vibe-nya”.

Kalau aku yang paling berkesan scene hujan. Aku itu enggak tahu kalau ada scene hujan-hujanan.

Chenace : Aku sudah kasih tahu sebelum latihan. Aku cuma bilang kayak gini, “Nanti akan ada scene nanti kalian akan kena air”. Aku cuma bilang kayak gitu dan aku enggak tahu airnya bakal sederas itu.

Ayu : Terus tiba-tiba saat kita lagi menunggu giliran, “Kok ada truk air yang datang? Ini buat apa ya? Oh itu buat scene kita nanti. Oh my God, okay.”. Pas banget aku lucky number one yang harus maju melakukan solo. “Terima kasih Chen”, padahal aku sudah ngumpet di belakang.

Ini juga baru terungkap waktu aku nonton Panda interview bareng Chandra Liow. Mereka itu, si pembawa tangki air, lupa bawa moncong yang, …

Chenace : Kayak shower buat mandi gitu, yang bolongnya kecil-kecil gitu.

Ayu : Jadi rintiknya cantik. Tapi, ini dia lupa. Jadi, efek airnya itu kalau kena kita itu kayak efek air terjun. Ini tidak pakai exaggeration ya. Ini literally kayak air terjun. Saat sudah maju, “Aku sudah siap, aku sudah siap. Wah (terkena curahan air). Aku tidak bisa melihat”. Tidak bisa buka mata. Aku berusaha buka mata, tapi enggak bisa. Semangat ingin eksplor. Habis yang lain lihat aku, mereka cantik-cantik aja. Sumpah malu banget.

Did you expect Lathi to be such a phenomenon?

Chenace : Maksudnya, awalnya aku sudah expect ini semua orang bakal suka, tapi itu cuma bayang-bayang saja ini bakal booming dan itu cuma ada di kepala aku doang. Waktu kejadian kayak gini dan semua orang bakal mendengarkan, masih tetap kaget juga.

Ayu : Senang aja. Bukan hanya cuma dari musiknya, even makeup-nya, konsepnya, dancer-nya, itu semua ter-highlight. Which is berarti secara keseluruhannya itu everybody do their best dan semua aspeknya itu ter-notice.

Jadi salah satu reason kenapa kita mau melakukan wawancara ini karena aku itu ingin voice out appreciation kita terhadap masyarakat luas yang memang meng-embrace seni tarinya juga di video ini.

Chenace : Sama penyanyi dan sama musisi kita juga sama-sama pekerja seni gitu jadi enggak ada levelnya lebih tinggi siapa gitu.

Ayu : Yes. Setuju. Terima kasih guys buat yang sudah komen di video-video kita atau nge-tag. Thank you so much.

Setelah ngomongi Lathi, kira-kira ada projek apa lagi ini untuk Chen mungkin setelah ini ada video projek lainnya?

Chenace : By the time video ini diambil, sebenarnya beberapa hari yang lalu aku itu ada shooting lagi sama Weird Genius. Ditunggu saja.

Siapa tahu pas video ini di-upload video itu juga di-upload.

Ayu : Terima kasih buat kalian yang sudah nonton interview ini, terutama koreografer tercinta kita.

• Wawancara Chandra Liow, Dere Rizkita, dan Bani Adil dengan Creamypandaxx (Vicky Firdaus) di channel Youtube Tim2One – ChandraLiow

Chandra Liow : Kembali lagi bersama kita di Reaksi Editor Indonesia.

Seperti biasa ada Derder Jeder (Dere Rizkita), ada Bani Adil, dan kali ini spesial Creamypandaxx (Vicky Firdaus).

Jadi kalian sudah tahu kan kita akan reaksi apa kali ini.

Kalian semua sudah request kita turuti. Hari ini benar-benar sangat-sangat spesial dan justru sebuah kebanggaan buat gue dan buat teman-teman semua di sini karena kita akan mereaksi video klip Weird Genius, Lathi, yang di mana director-nya ada di sini Creamypandaxx dan YB. Kalau di credit-nya seperti itu. Enggak perlu lama-lama lagi sebenarnya, kita akan langsung me-react aja ya.

Vicky Firdaus : Aduh malu gue.

Chandra Liow : Langsung saja kita mulai ya. Semuanya lihat ke layer siap-siap kita akan mereaksi Video Klip Lathi.

Vicky Firdaus : Salah video. Itu zaman saya masih pakai Vegas.

Chandra Liow : Barusan itu kalian lihat video pertama Creamypandaxx di Youtube tahun?

Vicky Firdaus : 2014

Chandra Liow : Oke glimpse-nya doang, opening-nya doang. Kalian bis acari sendiri di Youtube dan tujuannya itu bukan nge-prank doang.

Prank kit aitu selalu pintar. Kenapa? Karena gue sendiri ingin kasih lihat ini video yang dia bikin dulu. Yang dia bikin sekarang apa? Gue ingin banget ada comparison dan bukti perkembangan dari seorang Creamypandaxx.

Chandra Liow : Oke. Itu sudah jadi bagian favorit gue pertama. Kenapa? Gue suka banget dengan kesimetrisan sebuah shoot. Ini adalah salah satu contohnya. Dia meletak objeknya di tengah dan yang paling favorit adalah lighting cue karena yang dilakukan Creamy di sini adalah dia pakai lighting cue.

Kenapa? Karena kita sendiri sering banget pakai lighting cue.

Kalau dari lu kenapa ambil decision untuk pakai lighting cue di opening?

Vicky Firdaus : Sebenarnya kan dari awal itu bikin siluet gitu kan. Ini ada cewek yang kesepian. Ada suatu masalah. Cue-nya buat menandakan munculnya dia.

Chandra Liow : Konsep atau idea dari daun-daun ini apa?

Vicky Firdaus : Sebenarnya ini buat menandakan kalau dia hatinya sudah kosong lama.

Dere Rizkita : Sudah gugur. Ibarat rumah kalau ditinggal jadi kayak gitu.

Vicky Firdaus : Rumah yang sudah lama tidak dirawat kan gitu.

Chandra Liow : Oke, gue mau nanya. Gue suka banget dengan close up ini, di luar dari color grading-nya, lu set up lighting-nya bagaimana?

Vicky Firdaus : Kalau enggak salah yang key-nya itu pakai Arri. Di atasnya itu pakai kino flo. Kita memasangnya itu harus pakai stager yang 4 meteran gitu untuk digantung di atas buat backlight.

Chandra Liow : Dari lu meaning tiga dancer dengan pakaian putih ini apa?

Vicky Firdaus : Sebenarnya bukan pakaiannya, tapi lebih ke makeup-nya. Itu kan makeup-nya kayak warrior gitu. Sebenarnya itu gue mau menunjukkan si cewek itu punya sosok yang kuat. “Kita itu sebenarnya kuat asal lu sudah bisa reveal itu”.

Bani Adil : Oke. Ini kan dance-nya dance kontemporer. Kenapa memilih dance kontemporer?

Vicky Firdaus : Kalau gue pribadi, gue memang suka dance itu dan cita-cita gue ingin mem-video-kan dance kontemporer.

Chandra Liow : Itu poin yang menarik barusan. Inilah fenomena. Banyak editor yang suka dengan tarian ataupun suka nari karena ada hubungannya dengan beat pasti, dengan rhythm, itu yang editor bisa relate.

Dari segi dancer-nya sendiri, bagaimana cara lu untuk menyampaikan message video klip Lathi ini ke dalam gerakan mereka?

Vicky Firdaus : Pertama, gue ceritakan ke koreografernya, gue mau bikin videonya kayak apa, terus lirik dibedah juga, Reza Arap juga menjelaskan dia inginnya bagaimana, dan dengan deadline satu hari langsung jadi koreonya. Mereka juga sudah professional, gue akui, langsung paham lansung oke.

Chandra Liow : Dari lu, meaning dari laki-laki megang-megang perempuan, perempuan menikmati, terus berubah jadi terikat, terus berubah, dan tone pun berubah jadi blueish gini apa?

Vicky Firdaus : Kalau ini sih gue sering lihat dari kejadian nyata di Indonesia ini ya, apalagi buat ABG. Awalnya, yang pas dia meluk-meluk itu kayak si cewek itu awalnya nyaman dan itu terlihat dari ekspresinya. Tapi, setelah dia (laki-laki) ngomong “I love you”, tiba-tiba (wanita) dirantai begitu sebagai kesan kekangan dari kata-kata itu.

Chandra Liow : Yang paling gue suka dari sequence ini adalah penggunaan ekspresi di mana video klip itu memang identik dengan musiknya saja yang representatif dan visualnya itu yang men-support. Jadi, enggak perlu acting banyak untuk menunjukkan terkesan saying dengan gerakan berlebihan, tapi dengan tangan masuk dia senyum, dia nyaman.

Vicky Firdaus : Sebenarnya scene darah ini gue ingin kayak Billie Eilish yang turun mengalir (di video klip musik When The Party’s Over). Sebenarnya di rambutnya (wanita) ada selang gitu.

Namanya shooting kita enggak tahu ada hal-hal. Tiba-tiba darahnya enggak mau keluar dan bajunya yang dipakai itu enggak tembus. Jadi, di saat shooting ada yang gue suruh,

“Udah siram aja”, akhirnya disiram. Kalau play pelan-pelan itu dia dari cemberut tiba-tiba langsung senyum gitu kayak

dia sudah tahu sakit, tapi kayak masih enjoy. Kadang orang gitu kan.

Chandra Liow : Itulah yang disebut dengan toxic relationship.

Perubahannya ini lu ada ide dari mana?

Vicky Firdaus : Kalau referensi sudah pasti yang sudah banyak orang kira.

Chandra Liow : Jujur yang gue lihat dari sini cara transformasinya dan transisinya dari Enchantress.

Vicky Firdaus : Iya referensinya itu.

Chandra Liow : Kalau kalian perhatikan, yang dikelilingi di badannya itu adalah aura.

Vicky Firdaus : Iya aura hitam. Banyak orang mengira kalau itu adalah aura jahat. Kalau gue bikinnya ingin kayak aura pembalasan dia gitu, aura buat melawan untuk keluar dari hubungan yang sudah toxic banget.

Chandra Liow : Emang ada elemen dark side-nya tapi elemen revenge gue lebih suka.

Dari segi visual effects-nya, kalau gue perhatikan. Gue enggak terlalu paham visual effects as in technic, lumayanlah. Yang gue bisa telaah adalah, ketika lighting ini muncul, harusnya di asapnya juga ada terkena pantulan dari cahaya. Sebenarnya ini yang dibutuhkan satu hari untuk menambah volume dari lighting itu.

Bani Adil : Di sini juga menurut gue. Asapnya kan di belakang ceweknya, kalau asapnya ada di objeknya berarti kan dekat.

Ini, objeknya fokus banget, tapi asapnya blur banget. Itu permasalahnnya soalnya kan enggak jauh.

Chandra Liow : Tapi gue paham, ini caranya dia untuk bikin visual effects yang cepat. Ini visual effects dibikin berapa hari?

Vicky Firdaus : Dua hari karena memang deadline gitu.

Chandra Liow : Gue merasa ini bisa lebih lagi, tapi gue juga paham dengan deadline. Jadi, kita mesti tolerir itu.

Vicky Firdaus : Dua hari itu sudah termasuk oper-operan file karena dia di Bandung. Upload ke Google Drive, itukan file bergiga-giga yang 4K. Lempar lagi ke gue buat gue yang menyatukan gitu.

Sebenarnya gue mau shooting awal bulan sebelum pandemi ini dan sekarang benar-benar PSBB dan segala macam, tapi Arap bilang katanya, “Kita harus shooting ni tiga hari lagi”.

Jadi, yang tadinya gue masih ada tiga minggu buat preparation akhirnya gue tiga hari prepare menghubungi segala macam. Benar saja, sehari setelah kita shooting orang sudah enggak boleh beraktivitas.

Chandra Liow : Creamypandaxx adalah director yang bisa mengubah proses pembuatan video klip jadi pembuatan video Youtube, waktu dua minggu jadi tiga hari, tapi tetap jadi sebuah video klip.

VFX-er nya Namanya siapa?

Vicky Firdaus : Nama di Instagramnya yaanaako atau dikenal Idam Abdul.

Dere Rizkita : Gue tertarik dengan makeup-nya justru disini. Kan tadi lu bilang terinspirasi dari Enchantress. Setau gue makeup-nya tidak seperti ini

Vicky Firdaus : Lu kalau nonton The Mummy (2017) dia referensinya.

Chandra Liow : Oh Ahmanet ya.

Vicky Firdaus : Tapi gue sebenarnya enggak nonton filmnya. Saat gue lihat ternyata story-nya sama. Dia juga disakiti, akhirnya dia berubah.

Chandra Liow : Ini poin juga penting di mana lu bisa sebenarnya bukan copy paste saja. Lu ambil referensi, tapi bukan cuma visual saja, ada back story-nya. Kenapa makeup-nya The Mummy?

Gara-gara dia sosok yang disakiti juga di film itu. Kalau dibilang, “Jadi mengikuti The Mummy”. Enggak salah juga

Gara-gara dia sosok yang disakiti juga di film itu. Kalau dibilang, “Jadi mengikuti The Mummy”. Enggak salah juga