TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Kajian Pustaka
2.2.4 Video Klip Musik
2.2.5.2 Semiotika Roland Barthes
Kancah penelitian semiotika tidak bisa begitu saja melepaskan nama Roland Barthes (1915-1980) ahli semiotika yang mengembangkan kajian yang sebelumnya punya warna kental strukturalisme kepada semiotika teks. Pada 1960-an ia seorang strukturalis dan sekaligus salah satu penganjur semiologi Saussure. Sumbangan teorinya tersebar mulai dari semiotika teks, semiotika komunikasi visual, hingga semiotika kedokteran. Karya Barthes dapat dikelompokkan ke dalam dua fase. Pada fase pertama ia meneliti semiotika sistematis sedangkan pada fase kedua ia beralih ke tulisan-tulisannya yang bergaya esai mengenai sastra dan budaya (Nazaruddin, 2015: 51).
Barthes melontarkan konsep tentang konotasi dan denotasi kunci dari analisisnya. Mengabaikan dimensi dari bentuk dan substansi, Barthes mendefinisikan sebuah tanda (sign) sebagai sebuah sistem yang terdiri dari (E) sebuah ekspresi atau signifier dalam hubungannya dengan (R) dengan content atau signified (C): ERC (Wahjuwibowo, 2018: 21).
Sebuah sistem tanda primer (primary sign system) dapat menjadi sebuah elemen dari sebuah sistem tanda yang lebih lengkap dan memiliki makna yang berbeda ketimbang semula. Jika yang diperluas adalah elemen C, tanda primernya (E1R1C1) menjadi ekspresi dalam sistem tanda sekunder sehingga rumusnya:
E2=( E1R1C1)R2C2
Dengan begitu, tanda primer adalah denotatif sedangkan tanda sekunder adalah konotatif. Konsep konotatif inilah yang menjadi kunci penting dari model
semiotika Roland Barthes. Lewat model ini Barthes menjelaskan bahwa signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier (ekspresi) dan signified (konten) di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Itu yang disebut Barthes sebagai denotasi yaitu makna nyata dari tanda (sign). Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua.
Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya (Wahjuwibowo, 2018: 21-22).
Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca. Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara panjang lebar mengulas apa yang sering disebut sebagai sistem pemaknaan tataran kedua yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. Sistem kedua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif yang di dalam karyanya yang berjudul
“Mythologies” secara tegas ia bedakan dari denotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama. Barthes menciptakan peta tentang bagaimana tanda bekerja:
Gambar 2.1 Peta Tanda Roland Barthes Sumber: (Cobley & Jansz dalam Sobur, 2004: 69)
Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif terdiri atas penanda dan petanda. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan, tanda denotatif juga penanda konotatif. Dengan kata lain, hal tersebut merupakan unsur material: hanya jika mengenal tanda ‘singa’, barulah konotasi seperti harga diri, kegarangan, dan keberanian menjadi mungkin (Cobley dan Jansz dalam Sobur, 2004: 69).
Signifier adalah persepsi terhadap bentuk fisik tanda yang bisa terdiri dari material, akustik, visual, atau selera sedangkan signified adalah konsep mental yang dipelajari dengan mengasosiasikannya dengan objek. Hubungan tanda dengan referent-nya (objek aktual yang direpresentasikan tanda) adalah signifikasi (Ida, 2014: 76-77).
Denotasi beroperasi pada level pertama dari signifikasi. Denotasi adalah makna kamus dari sebuah kata, terminologi atau objek. Roland Barthes menyarankan bahwa tanda yang beroperasi pada level denotatif lebih mudah diartikan. Level konotasi beroperasi sebagai makna kultural yang melekat pada sebuah terminologi (Ida, 2014: 78).
Konotasi mempunyai makna intersubjektif. Dengan kata lain, denotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap sebuah objek sedangkan makna konotasi adalah bagaimana cara menggambarkannya. Konotasi bekerja dalam tingkat subjektif sehingga kehadirannya tidak sadari. Pembaca mudah sekali membaca makna konotatif sebagai fakta denotatif. Karena itu, salah satu tujuan analisis semiotika adalah untuk menyediakan metode analisis dan kerangka berpikir dan mengatasi terjadinya salah baca (misreading) atau salah dalam mengartikan makna suatu tanda (Wahjuwibowo, 2018: 22).
Roland Barthes menambahkan perangkat semiotik dengan definisi dan eksplorasinya tentang myths (mitos). Barthes peduli pada bagaimana tanda-tanda mengambil nilai-nilai dari sistem nilai dominan atau ideologi dari masyarakat tertentu dan membuat nilai-nilai ini seolah natural atau alamiah (Ida, 2014: 81).
Dalam esainya yang berjudul “Myth Today” (1967), Barthes menawarkan konsep mythologies. Dalam tulisannya itu, Barthes membuat formula model semiologi (ilmu tentang tanda) untuk membaca budaya popular. Barthes mengambil skema Saussure dan menambahkan dalam tingkatan signifikasi kedua (Ida, 2014: 81-82).
Barthes menjelaskan apa yang telah dilakukan Saussure bahwa signifier yang awalnya hanya merupakan makna denotatif mampu menjadi makna konotasi dengan mitos yang dibangun Barthes. Mitos milik Barthes ini adalah bagian dari sistem aturan kedua dari signifikasi atau makna, yakni makna konotasi dari tanda yang kita amati. Barthes mengartikan mitos-mitos adalah ideologi yang dipahami
sebagai tubuh ide-ide dan praktik-praktik yang secara aktif mempromosikan nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok dominan dalam masyarakat yang mempunyai struktur kekuasaan (Storey dalam Ida, 2014: 83).
Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai mitos dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu (Budiman dalam Sobur, 2004: 71). Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda dan tanda namun sebagai suatu sistem yang unik. Mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya, atau dengan kata lain, mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tahap kedua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda. Artinya dari segi jumlah, petanda lebih miskin jumlahnya daripada penanda sehingga dalam praktiknya terjadilah pemunculan sebuah konsep secara berulang-ulang dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Mitologi mempelajari bentuk-bentuk tersebut karena pengulangan konsep terjadi dalam wujud berbadai bentuk tersebut.
Barthes menempatkan ideologi dengan mitos, karena baik di dalam mitos maupun ideologi, hubungan antara penanda konotatif dan petanda konotatif terjadi secara termotivasi (Budiman dalam Sobur, 2004: 71). Ideologi ada selama kebudayaan ada dan itulah sebabnya di dalam buku “S/Z”, yang merupakan salah satu karya Barthes, ia berbicara tentang konotasi sebagai suatu ekspresi budaya.
Kebudayaan mewujudkan dirinya di dalam teks-teks. Dengan demikian ideologi mewujudkan dirinya melalui berbagai kode yang masuk ke dalam teks dalam bentuk penanda-penanda penting seperti tokoh, latar, sudut pandang dan lain-lain.
Perspektif Barthes tentang mitos ini menjadi salah satu ciri khas semiologinya yang membuka ranah baru semiologi, yakni penggalian lebih jauh dari penandaan untuk mencapai mitos yang bekerja dalam realitas keseharian masyarakat. Dalam bentuk praksisnya, Barthes mencoba membongkar mitos-mitos modern masyarakat melalui berbagai kajian kebudayaannya, seperti fotografi, fashion, musik dan sebagainya (Kurniawan, 2008: 23).
Barthes berpendapat bahwa pada saat media membagi pesan, maka pesan-pesan yang berdimensi konotatif itulah yang menciptakan mitos. Pengertian mitos di sini tidak senantiasa menunjuk pada mitologi dalam pengertian sehari-hari,
seperti halnya cerita-cerita tradisional, legenda dan sebagainya. Bagi Barthes, mitos adalah sebuah cara pemaknaan dan ia menyatakan mitos secara lebih spesifik sebagai jenis pewacanaan atau tipe wacana. Barthes menyatakan bahwa mitos merupakan sistem komunikasi juga, karena mitos ini pada akhirnya berfungsi sebagai penanda sebuah pesan tersendiri.
Mitos tidaklah dapat digambarkan melalui obyek pesannya, melainkan melalui cara pesan tersebut disampaikan. Apa pun dapat menjadi mitos, tergantung dari caranya ditekstualisasikan. Sering dikatakan bahwa ideologi bersembunyi di balik mitos. Suatu mitos menyajikan serangkaian kepercayaan mendasar yang terpendam dalam ketidaksadaran representator (Hermawan, 2011: 253).
2.2.6 Bahasa
Bagi linguistik, yaitu ilmu yang khusus mempelajari bahasa, yang dimaksudkan dengan bahasa ialah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri. Definisi tersebut perlu dijelaskan dan diuraikan sebagai berikut (Kushartanti, Untung & Multamia, 2007: 3-6).
Pertama, bahasa adalah sebuah sistem, artinya itu bukanlah sejumlah unsur yang terkumpul secara tidak beraturan. Seperti halnya sistem-sistem lain, unsur-unsur bahasa ‘diatur’ seperti pola-pola yang berulang sehingga kalau hanya salah satu bagian saja tidak tampak, dapatlah ‘diramalkan’ atau dibayangkan keseluruhan ujarannya.
Kedua, bahasa adalah sebuah sistem tanda. Tanda adalah hal atau benda yang mewakili sesuatu atau hal yang menimbulkan reaksi yang sama bila orang menanggapi (melihat, mendengar dan sebagainya) apa yang diwakilinya itu. Bahasa itu bermakna, artinya bahasa itu berkaitan dengan segala aspek kehidupan dan alam sekitar yang memakainya.
Ketiga, adalah sistem bunyi. Pada dasarnya bahasa itu berupa bunyi. Apa yang kita kenal sebagai tulisan sifatnya sekunder karena manusia dapat berbahasa tanpa mengenal tulisan. Beberapa jenis huruf tidak lain daripada turunan belaka dari bunyi.
Keempat, supaya orang dapat bekerja sama dan berkomunikasi, bahasa digunakan berdasarkan kesepakatan. Artinya, sesuatu diberi makna di dalam bahasa tertentu karena demikianlah kesepakatan pemakai bahasa itu. Para pengguna baru tinggal mempelajarinya.
Kelima, bahasa bersifat produktif. Artinya, sebagai sistem dari unsur-unsur yang jumlahnya terbatas bahasa dapat dipakai secara tidak terbatas oleh pemakainya. Misalnya, dari sudut peraturan, bahasa Indonesia hanya mempunyai 5 tipe kalimat, yakni pernyataan, pertanyaan, perintah, keinginan dan seruan, tetapi dengan kelima tipe itu kita dapat Menyusun kalimat Indonesia yang jumlahnya ribuan, bahkan mungkin jutaan.
Keenam, bahasa bersifat unik. Artinya, tiap bahasa mempunyai sistem yang khas yang tidak harus ada dalam bahasa lain.
Ketujuh, kebalikan dari hal yang diungkapkan sebelumnya, ada pula sifat bahasa yang dipunyai bahasa lain, sehingga ada sifat universal, ada pula yang hampir universal.
Kedelapan, bahasa mempunyai variasi-variasi karena bahasa itu dipakai oleh kelompok manusia untuk bekerja sama dan berkomunikasi dan karena kelompok manusia itu ada banyak ragamnya terdiri dari laki-laki, perempuan, tua, muda, ada orang tani, ada orang kota, ada yang bersekolah, ada yang tidak pernah bersekolah, pendeknya yang berinteraksi dalam berbagai lapangan kehidupan, serta yang mempergunakan bahasa untuk berbagai keperluan.
Kesembilan, dengan bahasa suatu kelompok sosial juga mengidentifikasi dirinya. Di antara semua ciri budaya, bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena dengan bahasa tiap kelompok sosial merasa diri sebagai kesatuan yang berbeda dari kelompok lain.
Kesepuluh, karena digunakan manusia yang masing-masing mempunyai cirinya sendiri untuk berbagai keperluan, bahasa mempunyai fungsi. Fungsi itu bergantung pada faktor-faktor siapa, apa, kepada siapa, di mana, bilamana, berapa lama, untuk apa dan dengan apa bahasa itu dianjurkan.