STRATEGI PEMASARAN JASA PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN MINAT MASYARAKAT DI MADRASAH
TSANAWIYAH DINIYAH AL-AZHAR MUARA BUNGO
TESIS
Diajukan sebagai salah satu persyaratan memperoleh Gelar magister manajemen pendidikan islam
OLEH:
MA’MUN MMP: 1622625
PASCA SARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
2018/1440H
i
ii
iii
iv
vi MOTTO
⧫
◆
⬧
▪⬧
❑◆⬧
◆
◆
▪⧫
⧫
Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (Qs. Faathir ayat : 5)1
1 Anonim Al-qurandanTerjemahannya, (Jakarta: Bumi Aksara,2009) hln. 596 ayat 1-5
vii
PERSEMBAHAN
Alhamdulillahirabbil’alamin….
Akhirnya aku sampai ke titik ini,
sepercik keberhasilan yang Engkau hadiahkan padaku ya Allah Tak henti-hentinya aku mengucap syukur pada_Mu ya Allah Serta shalawat dan salam kepadanya Baginda Rasulullah SAW dan para
sahabat yang mulia
Semoga sebuah karya sederhana ini menjadi amal shaleh bagiku dan menjadi kebanggaan
bagi keluargaku tercinta tesis ini kupersembahkan kepada:
Ayahandaku terhormat H. Mansur Ibundaku tersayang Hj. Marwah
Kakak-kakakku tercinta:
Wahdaturrahma Fauziyah
Seluruh keluarga tercinta Dan calon belahan jiwa ku,
Yang Selalu Menginspirasi Penulis Untuk Selalu Berjuang Dan Berkarya Meraih Yang Terbaik.
vii
STRATEGI PEMASARAN JASA PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN MINAT MASYARAKAT DI MADRASAH
TSANAWIYAH DINIYAH AL-AZHAR MUARA BUNGO MA’MUN
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah siswa di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo dan adanya persaingan antar lembaga pendidikan. Sehingga Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk (1) Mengetahui strategi pemasaran Jasa pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo (2) Mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam strategi pemasaran jasa pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo (3) Mengetahui implementasi strategi pemasaran jasa pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo.(4) mengetahui sejauh mana keberhasilan yang dicapai. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo. Subjek dari penelitian ini adalah Kepala Sekolah. Informan dari penelitian ini adalah Kepala TU, Bagian Humas, Bagian Kesiswaan, dan Siswa. Tekhnik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Pemeriksa keabsahan data menggunakan trianggulasi sumber dan metode. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif, yang terdiri dari reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan yang dilakukan Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo adalah:
(a). Pemasaran secara langsung, yaitu dengan pemanfaatan IT, media cetak maupun elektonik. (b). Pemasaran tidak langsung yaitu dengan mengadakan sosialisasi ke SD/MI dan kepada masyarakat. (2). faktor pendukung antara lain; guru yang mengajar sesuai bidang, letaknya yang geografis, harga murah, kepercayaan yang tinggi dari masyarakat.
Sedang, faktor penghambat meliputi sarana-prasarana yang masih kurang sehingga terpaksa banyak membuang calon siswa baru, banyaknya pesaing antar lembaga dan masih adanya siswa yang terpaksa karena orangtua (3). Hasil yang dicapai mampu bersaing dari segi produk, proses, SDM dan mempunyai ciri khas MTS DIAZ CERIA baik bidang ekstrarekuler dan intrarekuler.
Kata Kunci: Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan, meningkatkan minat masyarakat.
viii
EDUCATIONAL SERVICE MARKETING STRATEGY IN IMPROVING COMMUNITY INTEREST IN MADRASAH
TSANAWIYAH DINIYAH AL-AZHAR MUARA BUNGO
MA’MUN ABSTRACT
This study aims to increase the number of students in Muara Bungo Al- Azhar Tsanawiyah Diniyah Madrasah and the existence of competition between educational institutions. So that this research was conducted aimed at (1) Knowing the marketing strategies of Educational Services in Madrasah Diniyah Tsanawiyah Al-azhar Muara Bungo (2) Knowing the supporting and inhibiting factors in the marketing strategy of education services in Madrasah Diniyah Tsanawiyah Al-azhar Muara Bungo (3) Knowing implementation marketing strategy for education services in Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo. (4) knowing the extent to which success has been achieved. This research use desciptive qualitative approach. This research was carried out in the Madrasah of Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo. The subject of this study was the Principal. Informants from this study were the Head of the TU, the Public Relations Section, the Student Section, and Students. Techniques for collecting data using observation, interviews and documentation. Data validity checker uses source and method triangulation. Data analysis techniques use an interactive analysis model, which consists of data reduction, data presentation and conclusion drawing. The results of the study show that: The Marketing Strategy of Educational Services carried out by the Madrasa of the Diniyah Al-Azhar Muara Bungo Institute is: (a).
Direct marketing, namely by utilizing IT, print and electronic media. (b).
Indirect marketing is by conducting socialization to SD / MI and to the community. (2). supporting factors include; teachers who teach according to fields, geographical location, low prices, high trust from the community.
Meanwhile, the inhibiting factors include infrastructure that is still lacking and forced to throw away many new students, the number of competitors between institutions and the presence of students who are forced by parents (3). The results achieved are able to compete in terms of products, processes, HR and have the characteristics of MTS DIAZ CERIA both extrarecular and intrarecular fields.
Keywords: Educational Services Marketing Strategy, increasing public interest
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami hanturkan kepada Allah Swt yang telah melimpahkan rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan peneltian ini kedalam sebuah bentuk laporan berbentuk tesis yang ber judul “Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan Dalam Meningkatkan Minat Masyarakat Di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al- Azhar Muara Bungo .” namun hanya ini yang dapat penulis lakukan dalam proses penelitian sampai penulisan telah dilakukan secara maksimal.
Penulis menyadari bahawa selama ini perjalanan studi maupun penyelesaian tesis ini banyak mendapat pengalaman baru karena mendapatkan motivasi dan bimbingan dari semua pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa syukur dan terimakasih kepada :
1. Bapak Dr. H. Hadri Hasan, MA selaku Rektor Uin Sultan Thaha Saifuddin Jambi dan seluruh pembantu rektor atas segala motivasi dan layanan fasilitas yang telah diberikan selama peneliti menjalani proses penelitian hingga selesai.
2. Bapak Prof. Dr. H. Ahmad Husein Ritonga, MA selaku direktur Pascasarjana Uin Sultan Thaha Saifuddin Jambi, Seluruh Ketua Kosentrasi dan seluruh staf atas bantuan fasilitas dan kemudahan yang diberikan selama peneliti berurusan dengannya.
3. Bapak Dr.H.Kasful Anwar Us, M.Pd Dan Bapak Dr.H. M. Syahran Jailani, M.Pd selaku pembimbing yang dengan penuh kesabaran telah memberikan bimbingan yang berharga, petunjuk dan motivasi yang berkelanjutan hingga selesainya tesis.
4. Seluruh teman-teman mahasiswa pasca sarjana khusus konsentrasi manajemen pendidkan islam, atas perhatian dan kritiknya selama ini penulis merasa terbantu dalam membangun kepercayaan
5. Seluruh pihak yang telah membantu selama perencanaan, pelaksanaan dan penulisan hasil penelitian ini penulis tidak dapat memberi bantuan dalam bentuk materi, kecuali hanya memanjatkan doa semoga Allah SWT memberikan pahala yang setimpal dan amal
xi
yang sangat berguna, dimurahkan rezeki dan diangkat derajat hidupnya olehnya.
Dalam penulisan tesis ini masih banyak sekali kekeliruan dan kelemahan yang terdapat di dalam isi, metode penelitian dan sistematika penulisan sehingga kepada pembaca yang berminat kíranya dapat memberikan kritikan dan masukan yang berharga untuk kesempurnaan kemudian Semoga bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, Negara dan Agama.
Jarnbi, Oktober 2018 Penulis
Ma’mun NIM: 1622626
xi DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR LOGO ... ii
NOTA DINAS ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS TESIS ... iv
HALAMAN PENGESAHAN... v
HALAMAN MOTTO ... vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACK ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xi
TRANSLITERASI ... xii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Rumusan Masalah ... 10
C. Fokus Penelitian ... 10
D. Tujuan Penelitian Dan Kegunaan ... 10
BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELAVAN A. LANDASAN TEORI ... 12
1. Pengertian Strategi Pemaaran ... 12
2. Pemasaran jasa pendidikan ... 15
3. Tujuan Pemasaran Jasa Pendidikan ... 17
4. Konep Pemasaran Jasa ... 17
5. Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan. ... 21
B. Penelitian yang Relevan... 33
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian ... 35
B. Situasi Sosial dan Subjek Penelitian ... 36
C. Jenis Data dan Sumber Data ... 37
D. Teknik Pengumpulan Data ... 39
xii
E. Teknik Analisis Data ... 40
F. Uji Keterpercayaan Data ... 41
G. Rencana dan Waktu Penelitian ... 43
BAB IV DESKRIPSI LOKASI, TEMUAN PENELITIAN DAN ANALISIS HASIL A. Deskripsi Lokasi Penelitian (Situasi Sosial) ... 47
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 48
2. Sejarah Singkat MTS Diniyah Al-Azhar Muara Bungo ... 48
3. Perkembangan Diniyah Al-Azhar Muara Bungo ... 49
4. Visi Misi MTS Dinyah Al-Azhar Muara Bungo ... 50
5. Struktur Organisasi ... 53
6. Keadaan Guru dan Karyawan MTS Diniyyah Al-Azhar ... 58
7. Keadaan Siswa MTS Diniyah Al-Azhar ... 61
8. Sarana dan Prasarana ... 62
9. Ekstrakurikuler ... 64
B. Temuan Penelitian ... 65
1. strategi pemasaran pendidikan MTS DIAZ Al-azhar Muara Bungo dalam meningkatkan peminat masyarakat. ... 65
2. Implementasi strategi pemasaran pendidikan MTS DIAZ Al-azhar Muara Bungo. ... 77
3. Faktor pendukung dan penghambat. ... 98
4. Hasil yang dicapai MTS DIA Al-azhar Muara Bungo. ... 99
C. AnalisisHasilTemuan. ... 100
a. Penapsiran terhadap peningkatan jumla hsiswa. ... 101
b. Penafsiran terhadap implementasi pemasaran pendidikan MTS Diniyah Al-azhar. ... 110
c. Penafsiran terhadap daktor pendukung dan factor penghambat. .. 114
d. Penafsiran sejauh mana keberhasilan yang dicapai. ... 117
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 120
B. Implikasi ... 122
C. Rekomendasi ... 124
xiii
D. Saran... 124
DAFTAR FUTAKA. ...
INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA. ...
LAMPIRAN. ...
DAFTAR GAMBAR. ...
DAFTAR TABEL. ...
CURRUCULUM VITA...
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 1 : Jadwal Kegiatan. ... 44
Tabel 2 : Daftar Siswa Mts Diaz Al-Azhar. ... 62
Tabel 3 : Daftar Penerimaan (PPDB) Mts Diaz. ... 102
Tabel 4 : Daftar Penerimaan (PBDB) Mts Diaz. ... 105
xv
DAFTAR GAMBAR
Foto 1 : Gedung Diaz. ... 20
Foto 2 : Visi Misi Sekolah. ... 20
Foto 3 : Tujuan Sekolah. ... 20
Foto 4 : Guru Mts Diaz. ... 21
Foto 5 : Data Siswa. ... 21
Foto 6 : Akriditasi Mts Diaz. ... 21
Foto 7 : Sepanduk Mts Diaz. ... 21
Foto 8 : Brosur Mts Diaz. ... 21
Foto 9 : Siswa Baca Buku. ... 22
Foto 10 : Tropi Mts Disz. ... 22
Foto 11: Hasil Prestasi Siswa. ... 22
Foto 12 : Kegiatan Qurban. ... 22
Foto 13 : Pembagian Tas. ... 23
Foto 14 : Pelaksanaan Bakti Sosial. ... 23
Foto 15 : Keberangkatan Siswa Ppl. ... 23
Foto 16 : Kegiatan Upacara Hari Senin. ... 24
Foto 17 : Perpustakaan Diaz... 24
Foto 18 : Labor Komputer. ... 24
Foto 19 : Labot Ipa. ... 24
Foto 20 : Ruangan Kelas. ... 25
Foto 21 : Kantin Diaz. ... 25
Foto 22 : Kegiatan Belajar Menggunakan Proyektor. ... 25
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tingkat persaingan dalam dunia pendidikan menuntut setiap pemasar untuk mampu melaksanakan kegiatan strategi pemasaran yang efektif dan efisien. Kegiatan pemasaran tersebut membutuhkan sebuah konsep pemasaran yang mendasar sesuai dengan kepentingan pemasaran dan kebutuhan serta keinginan pelanggan. Dalam hal ini, strategi pemasaran jasa pendidikan memiliki posisi yang sangat penting di dunia yang telah memasuki zaman globalisasi,zaman dimana iklim kompetitif sudah masuk di semua line kehidupan.
Globalisasi merupakan kekuatan pemicu pada aspek kehidupan.
Konsep ini menciptakan paradigma bordeless world, yaitu dunia yang tidak mengenal batas-batas teritorial kedaulatan sebuah Negara atau bangsa.
Dampaknya turut menciptakan persaingan yang semakin tinggi pada semua aspek kehidupan masyarakat, termasuk di dalamnya pendidikan. Semakin banyaknya lembaga pendidikan maka semakin banyak pula persaingan di dalam lembaga pendidikan sehingga setiap lembaga pendidikan dituntut untuk menghadapi iklim kompetitif tersebut.1
Pendidikan dipercaya sebagai alat strategi untuk meningkatkan taraf hidup manusia. Melalui pendidikan, manusia menjadi cerdas, memiliki kemampuan atau skill, sikap hidup yang baik, sehingga dapat bergaul dengan baik di masyarakat. Pendidikan menjadi investasi yang memberi keuntungan sosial dan pribadi yang menjadikan bangsa bermartabat dan individunya menjadi manusia yang memiliki derajat.2 Perintah Allah dalam Surat Al-a’alq ayat 1-5:
1 Machfoedz, Mahmud. 2005. Pengantar Pemasaran Modern, Yogyakarta: UUP AMP YKPN, hlm. 14
2Engkoswra & Komariah. 2010. Administrasi Pendidikan, Bandung :Alfabeta hlm.1
2
ْأَرْقا { َقَلَخ يِذَّلا َكِّبَر ِمْساِب 1
{ ٍقَلَع ْنِم َناَسنِلإا َقَلَخ } 2
{ ُمَرْكَلأْا َكُّبَرَو ْأَرْقا } 3
}
{ ِمَلَقْلاِبا َمَّلَع يِذَّلا 4
{ ْمَلْعَي ْمَلاَم َناَسنِلإْا َمَّلَع } 5
}
Artinya :
“Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahui”. (QS: 96 :(1-5).3
Menuru Siti Murtiningsih yang dikutif dalam Nurani Suyomukti pendidikan merupakan proses tanpa akhir yang diupayakan oleh siapapun, terutama (sebagai tanggung jawab) negara. Sebagai sebuah upaya untuk meningkatkan kesadaran dan ilmu pengetahuan, pendidikan telah ada seiring dengan lahirnya peradaban manusia. Dalam hal inilah , letak pendidikan dalam masyarakat sebenarnya mengikuti perkembangan corak sejarah manusia yang menandakan bahwa pada hakikatnya pendidikan tidak mengenal akhir karena kualitas kehidupan manusia terus meningkat.4
Hidup dalam iklim kompetisi seperti saat ini, sulit bagi suatu organisasi untuk dapat hidup dengan baik, jika tidak memiliki kemampuan mengubah diri dengan cepat dan mampu berkembang seiring dengan berbagai tuntutan skateholder. Kondisi ini berlaku hampir pada setiap organisasi yang bersifat profit maupun non profit.5 Persaingan tersebut juga berlaku dalam dunia pendidikan, meskipun lembaga pendidikan tidak termasuk lembaga profit, namun pengelolaannya tidak bisa dilakukan secara tradisional akan tetapi membutuhkan kemampuan khusus sehingga output pendidikan memiliki daya saing tinggi untuk dapat bersaing ditingkat global. Saat ini paradigma dalam memandang pendidikan mulai bergeser, yang awalnya pendidikan dipandang
3Anonim Al-qurandanTerjemahannya, (Jakarta: Bumi Aksara,2009) hln 596 ayat 1-5
4Soyomukti Nurani, Teori-Teori Pendidikan( Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2016) hlm. 22
5Muhaimin. 2012. Manajemen Pendidikan (Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah),cet.4 Jakarta : Kencana prenada Media Group hlm, 23
3
dan dikaji sebagai aspek sosial, sekarang orang melihat pendidikan sebagai corporate.6
Orang awam yang belum banyak mengetahui tentang marketing, merasa kaget dengan istilah marketing pendidikan. Orang awam mengira bahwa lembaga pendidikan itu akan dikomersialkan adalah tidak sama dan sebangun antara marketing dengan komersial walaupun kedua istilah itu akrab digunakan dalam bidang bisnis. Kegiatan bisnis dapat dilakukan pada dua sektor yaitu sektor yang mencari atau mengejar laba, dan sektor yang tidak mengejar laba. Orang awam juga merasa kaget mendengar kata pemasaran (marketing) pendidikan, karena pemikiran mereka selalu tertuju kepada dunia bisnis, hal ini wajar karena kata atau istilah marketing tersebut seringkali muncul dan berkembang di kalangan bisnis, baik bisnis jasa maupun bisnis manufaktur. Sekarang ini istilah marketing sudah masuk ke dunia pendidikan dan pemasaran itu termasuk hal yang penting di dalam pendidikan guna untuk meningkatkan mutu pendidikan yang baik dan berkualitas.7
Strategi pemasaran adalah cara atau taktik dalam memasarkan sesuatu supaya tujuan yang jadi sasaran kita dapat tertarik dengan apa yang telah kita pasarkan. Strategi dalam Wikipedia adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu. Didalam strategi yang baik terdapat koordinasi tim kerja, memiliki tema, mengidentifikasi factor pendukung yang sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan gagasan secara rasional, efisien dalam pendanaan dan memiliki taktik untuk mencapai tujuan secara efektif.8 Secara histori kata strategi dipakai untuk istilah dunia militer.
6Arifin, Zainal. 2011. Penelitian Pendidikan (Metode Paradigma Baru), Bandung :PT Remaja Rosdakarya. Hlm, 20
7Ara Hidayat & Imam Machali, Pengelolaan Pendidikan (Konsep, Prinsip, dan Aplikasi dalam Mengelola Sekolah dan Madrasah), (Yogyakarta: Kaukaba, 2012), Hal. 229.
8Http//Wikipedia.org/wiki/strategi//.Diunduh pada hari Jumaat tanggal 016 November 2018
4
Strategi sendiri berasal dari bahasa yunani “stratagos‟, yang berarti jendral atau komandan militer. Maksutnya adalah strategi berarti seni para jendral, yaitu cara menempatkan pasukan atau menyusun kekuatan tentara di medan perang agar musuh dapat dikalahkan. Dalam pemasaran juga menggunakan strategi,agar pemasaran bisa tercapai sesuai dengan keinginan.9
Pemasaran adalah proses sosial yang dengan proses itu individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain. Untuk definisi manajerial, pemasaran sering digambarkan sebagai “seni menjual produk”.Jadi, tujuan pemasaran jasa pendidikan adalah mengetahui dan memahami pelanggan jasa pendidikan dengan baik sehingga produk pendidikan atau jasa pendidikan itu cocok dengan pelanggan jasa pendidikan dan selanjutnya mampu menjual dirinya sendiri. Idealnya, pemasaran jasa pendidikan harus menghasilkan pelanggan jasa pendidikan yang siap membeli.Yang dibutuhkan selanjutnya adalah menyediakan produk pendidikan atau jasa pendidikan itu.10
Fungsi pemasaran pada organisasi yang berorientasi laba (perusahaan) dengan organisasi nirbala (sekolah) tentu berbeda. Perbedaan yang nyata terletak pada cara organisasi dalam memperoleh sumber dana yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas perusahaan, memperoleh modal pertamanya dari para investor atau pemegang saham dan jika perusahaan telah beroperasi, maka dana perusahaan operasional diperoleh dari hasil penjualan produk yang dihasilkan oleh perusahaan.
Sebaliknya organisasi nirbala (sekolah) memperoleh dana dari sumbangan para donator atau lembaga induk yang tidak meminta imbalan apapun dari organisasi tersebut.11
9Http// Erlan.blogspot.com/2011//. Diunduh pada hari Jumaat tanggal 016 November 2018
10 Philip Kotler, Manajemen Pemasaran, (Jakarta: PT. Intan Sejati Klaten, 2005), Jilid I,h. 10.
11Wijaya, Davis, Pemasaran Jasa Pendidikan, Jakarta: Salemba Empat 2012, hlm. 48
5
Pelaksanaan strategi pemasaran jasa pendidikan sekolah yang tepat akan memicu tumbuh kembangnya pendidikan di dalam suatu lembaga pendidikan. Pada akhirnya hasil pendidikan yang berupa sumber daya manusia akan dapat digunakan untuk kebutuhan masyarakat di luar maupun di dalam bidang pendidikan itu sendiri. Hal itu juga berlaku dalam dunia pendidikan, meskipun lembaga pendidikan tidak termasuk lembaga profit, namun pengelolaannya tidak dapat dilakukan secara tradisional akan tetapi membutuhkan kemampuan khusus sehingga output pendidikan memiliki daya saing tinggi untuk dapat bersaing di tingkat global. Apalagi saat ini paradigma dalam memandang pendidikan mulai bergeser, yang awalnya pendidikan dilihat dan dikaji dari aspek sosial, sekarang orang melihat pendidikan lebih pada sebuah corporate. Artinya, lembaga pendidikan dipahami sebagai suatu organisasi produksi yang menghasilkan jasa pendidikan yang dibeli oleh para konsumen. Apabila produsen tidak mampu memasarkan hasil produksinya, dalam hal ini jasa pendidikan disebabkan mutunya tidak dapat memuaskan konsumen, maka produksi jasa yang ditawarkan tidak laku.
Strategi tersebut diadopsi dari dunia bisnis, dimana istilah marketing terfokus pada sisi kepuasan konsumen dengan memakai dasar pemikiran yang logis: jika konsumennya tidak puas, berarti marketingnya gagal.
Dengan kata lain, jika lembaga pendidikan yang memproses jasa pendidikan tidak mampu memuaskan users educations sesuai dengan need pasar, maka lembaga pendidikan tersebut tidak akan berlaku untuk terus eksis.12 Jika logika corporate ini dipakai dalam dunia pendidikan, maka lembaga pendidikan dapat dimaknai sebagai sebuah lembaga yang bergerak dibidang layanan jasa pendidikan yang kegiatannya melayani konsumen berupa siswa, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang dikenal sebagai stake holder. Sebab, etika pemasaran dalam dunia pendidikan adalah
12 Sri Minarti, Manajemen Sekolah (Mengelola Lembaga Pendidikan Secara Mandir), (Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2011), hal. 370-371.
6
menawarkan mutu layanan intelektual dan pembentukan watak secara menyeluruh.13
Jadi, jika lembaga ingin memberikan citra yang baik dalam rangka menarik jumlah siswa, maka konsekuensi logisnya lembaga pendidikan harus mengembangkan berbagai upaya strategi pemasaran sehingga customer tertarikuntuk menggunakan jasa lembaga tersebut. Sebagai bentuk pertanggungjawaban dari pemasaran itu, sekolah harus berupaya semaksimal mungkin untuk mengelola serta meningkatkan kualitas layanannya sehingga apa yang dipromosikan biasa dipertanggung jawabkan. Hal itu dikarenakan pendekatan marketing menuntut mereka untuk menganalisis intra dan ekstrakulikuler, fasilitas pendidikan, dan suasana belajar mengajar sehingga kegiatan mereka selalu terpusat pada perbaikan mutu pelayanan.
Menurut Alma,14 perubahan paradigma pendidikan tersebut, harus dapat menciptakan: (1) Makes regular repeat purchases yaitu pelanggan yang selalu membeli atau memakai secara teratur program yang diluncurkan oleh lembaga, misalnya siswa menyelesaikan studi sampai akhir tetap pada lembaga yang sama; (2) Purchases across product and service lines, pelanggan membeli diluar lini produk/jasa, misalnya ketika Mu‟allimin mengeluarkan program lain yaitu pelatihan Bahasa Arab maka banyak siswa sekolah lain yang mengikuti pelatihan tersebut; (3) Refers other yaitu merekomendasikan produk lain, misalnya siswa Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo merekomendasikan kepada keluarga, teman ataupun masyarakat setiap program layanan pendidikan baik merekomendasikan jurusan yang diambil maupun layanan lainnya (training, seminar, loka karya dan sebagainya); (4) Demonstrates an
13 Ara Hidayat & Imam Machali, Pengelolaan Pendidikan (Konsep, Prinsip, dan Aplikasi dalam Mengelola Sekolah dan Madrasah), (Yogyakarta: Kaukaba, 2012), Hal. 229.
14 Modul UPI, Pemasaran Pendidikan. Hal. 202.
7
immunity to the full of the competition yaitu menunjukkan kekebalan dari daya tarik produk sejenis dari pesaing, misalnya selain Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo banyak lembaga lain yang menawarkan pendidikan serupa, akan tetapi sebanyak dan semenarik apapun yang dilakukan oleh lembaga lain, siswa tetap teguh memilih Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo sebagai lembaga layanan pendidikanya.
Konsep bisnis dan pemasaran sudah saatnya diterapkan dalam lembaga pendidikan sehingga memiliki Competitive advantage. Sebuah lembaga pendidikan harus berusaha mencapai keunggulan memberikan layanan prima dengan superior customer service dan menghasilkan lulusanyang berkualitas. Karena kualitas layanan lembaga pendidikan berbanding lurus dengan kepercayaan peminat layanan jasa pendidikan.
Semakin bagus layanan pendidikan yang diberikan, maka semakin banyak pula peminat yang akan memanfaatkan jasa yang diberikan.
Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo adalah bagian dari mitra pemerintah untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Secara ringkas Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo adalah struktur organisasi atau lembaga yang berada dalam naungan kementrian Agama dan Dinas Pendidikan. Meskipun banyaknya subtansi atau sekolahan, dan munculnya sekolah-sekolah yang berbasik islam terutama di Mara Bungo, namun grafik pendaftaran siswa di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo terus meningkat setiap tahunnya, yang menjadi pesaing kuat di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo antara lain SMPN 1 Muara Bungo yang mempunyai keunggulan dalam bidang intelektual, SMPN EXPARIUS yang selalu mempunyai nilai tertinggi disetiap kelulusan, MTS Muara Bungo yang memang memiliki keunggulan dibidang keAgamaan.
8
Banyaknya persaingan antar sekolah yang ada di Muara Bungo, namun animo pendaftar di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo setiap tahunnya terus meningkat. Hal tersebut dikarekanakan meningkatnya pelayanan yang terbaik di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al- azhar Muara Bungo ini, dari pelayanan yang baik yang diberikan oleh Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo bertujuan agar para konsumen semakin puas dengan layanan yang diberikan oleh lembaga Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo ini, sehingga Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo harus mempunyai strategi atau upaya-upaya yang digunakan dalam pemasaran pendidikan, melalui bauran pemasaran seperti produk, tempat, harga dan lain sebagainya.
Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo harus mempunyai strategi-strategi pemasaran yang bagus, di dalam faktor internal terdapat masalah yang harus menjadikan Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al- azhar Muara Bungo memiliki strategi-strategi agar animo pendaftar di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo terus meningkat.
Maka dari sini Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo selain memiliki Strategi pemasaran, juga di tuntut untuk membuat inovasi-inovasi baru agar pelayanan di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo ini dapat memuaskan pelanggan atau siswa.
Berdirinya Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo ini didasari dengan adanya tujuan untuk mendidik siswa agar menguasai ilmu pengetahuan, untuk mendidik siswa agar mempunyai akhlak karimah, agar siswa mampu berjuang di jalan Allah kapan dan dimana saja, dan bisa mandiri saat sudah lulus. Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo juga mempunyai tujuan untuk menigkatkan mutu dan menghasilkan siswa yang cerdas ,mandiri, dan agamis yang biasa disebut dengan sekolahan yang agamis Paforit.
9
Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo Dilihat dari banyaknya persaingan lembaga pendidikan yang ada di Muara Bungo, maka lembaga pendidikan Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo ini harus berkompeten dengan lembaga pendidikan lainya, dengan cara meningkatkan dan menyusun strategi pemasaran yang baik. Dalam pelaksanaan pendidikan yang baik, Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo juga dituntut untuk bisa berkembang secara maksimal sehingga dapat memenuhi tuntutan stakeholder yaitu menghasilkan lulusan yang berkualitas, baik secara akademik, moralitas maupun kemandirian hidup. Terlebih dengan semakin menjamurnya lembaga pendidikan yang memiliki sistem pendidikan yang serupa atau bersaing dengan Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo, jika tidak diimbangi dengan strategi pemasaran jasa pendidikan yang matang, pengembangan kualitas yang semakin baik, serta pelayanan yang memuaskan, maka lambat laun akan tertinggal dengan lembaga baru yang menawarkan berbagai kelebihan.
Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo, berusaha memberikan layanan pendidikan sebaik mungkin, mulai dari pelayanan jasa yang prima, pelayanan tempat, mutu yang terjamin dan pembinaan akhlakul karimah. Namun demikian hal itu harus disertai deng pemasaran yang baik dan tenaga pendidikan yang cukup berkompeten dalam menyusun semua strategi yang disiapkannya. Berdasarkan hal itulah peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap strategi pemasaran jasa pendidikan dalam meningkatkan minat Masyarakat di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo.
10
A. RumusanMasalah
1. Bagaimana strategi pemasaran jasa pendidikan Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo dalam meningkatkan minat masyarakat?
2. Bagaimana implementasi strategi pemasaran jasa pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo?
3. Apa faktor pendukung dan penghambat implementasi strategi pemasaran pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo?
4. Bagaimana hasil yang dicapai?
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan pertanyaan penelitian di atas maka dalam penelitian ini difokuskan pada Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan oleh Tenaga Pendidik dan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Minat Masyarakat di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo (Studi Kasus di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo.
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui starategi pemasaran jasa pendidikan dalam meningkatkan minat Masyarakat di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al- azhar Muara Bungo.
b. Untuk mengetahui implementasi strategi pemasaran jasa pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo dalam meningkatkan minat masyarkat.
c. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam proses implementasi strategi pemasaran jasa pendidikan dalam meningkatkan
11
minat masyarkat.
d. Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang dicapai Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo.
2. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan memiliki kegunaan yang signifikan, baik secara teoritis maupun secara praktis yaitu:
a. Secara teoritis; untuk pengembangan ilmu pengetahuan; lebih jauh diharapkan dapat memberikan sumbangan akademik tentang model strategi pemasaran jasa pendidikan khususnya di Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo dalam rangka meningkatkan minat masyarkat.
b. Secara praktis; diharapkan dapat dijadikan bahan informasi dan evaluasi bagi segenap keluarga besar Madrasah Tsanawiyah Diniyah Al-azhar Muara Bungo agar selalu memperbaiki kualitas layanan pendidikannya demi kemajuan madrasah.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN
A. Landasan Teori
1. Pengertian Strategi Pemasaran
Strategi menurut kamus bahasa Indonesia berarti cara.1Arti pemimpin adalah “seseorang yang bertanggung jawab terhadap segala kegiatan pendidikan dan pengajaran di sebuah lembaga pendidikan”.2Sedangkan pemasaran pendidikan berarti proses yang diasosiasikan dengan mempromosikan barang atau jasa pendidikan.3 Strategi pemasaran pendidikan yang dimaksud adalah suatu cara yang dirancang oleh pemimpin dalam melakukan pemasaran pendidikan untuk meningkatkan minat dan jumlah santri dan santriwati lebih banyak terhadap lembaga pendidikan.
Strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan dan ekskusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu. Didalam strategi yang baik terdapat koordinasi tim kerja, memiliki tema, mengidentifikasi faktor pendukung yang sesuai dengan prinsip-perinsip pelaksanaan gagasan secara rasional, efisiensi dalam pendanaan, dan memiliki taktik untuk mencapai tujuan secara efektif.4
Menurut Bittel, strategi adalah suatu rencana yang fundamental untuk mencapai tujuan perusahaan.5Sedangkan dalam KBBI, diartikan sebagai suatu rencana cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.6Strategi dipandang sebagai sebuah program yang meliputi tujuan
1YS. Marjo, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Surabaya: Beringin Jaya Surabaya, 1997), h. 214
2Yusak Burhanudin, Administrasi Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), h. 97
3Betsy-Ann Toffler Jane Imber, Kamus Istilah Pemasaran, (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2002), h. 658.
4http://id. wikeipedia.org/wiki/strategi. Diunduh pada hari jumaat, tanggal 16 Novemver 2018
5Buchari Alma. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa.(Bandung: Alfabeta, 2011), hlm. 199
6Tim Redaksi KBBI. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).(Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hlm. 1092.
yang ingin dicapai, disertai dengan tindakan atau langkah-langkah khusus untuk mencapai tujuan tersebut sebagai usaha merespon lingkungannya.
Sesuai firman Allah dalam suroh Annisa:
َي ْنَع ًةَراَجِت َنوُكَت ْنَأ اَّلِإ ِلِطاَبْلاِب ْمُكَنْيَب ْمُكَلاَوْمَأ اوُلُكْأَت اَل اوُنَمَآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ ا
اًميِحَر ْمُكِب َناَك َهَّللا َّنِإ ْمُكَسُفْنَأ اوُلُتْقَت اَلَو ْمُكْنِم ٍضاَرَت
Artinya: “ Wahai orang-orang yang beriman, janagnlah kalian memakan harta-harta kalian di antara kalian dengan cara yang batil, kecuali dengan perdagangan yang kalian saling ridha. Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Allah itu Maha Kasih Sayang kepada kalian “.( QS. 4: 29 )7
Secara histori kata strategi dipakai untuk istilah dunia militer.Strategi sendiri berasal dari bahasa yunani “stratagos‟, yang berarti jendral atau komandan militer. Maksutnya adalah strategi berarti seni para jendral, yaitu cara menempatkan pasukan atau menyusun kekuatan tentara di medan perang agar musuh dapat dikalahkan. Dalam pemasaran juga menggunakan strategi,agar pemasaran bisa tercapai sesuai dengan keinginan.8Namun istilah ini tidak hanya digunakan dalam konteks militer saja, bisnis juga memiliki istilah strategi ini. Dalam konteks bisnis, strategi adalah rencana yang disatukan, luas, dan terintegrasi yang menghubungkan keunggulan strategi pemasaran dengan tantangan lingkungan dan yang direncanakan untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh perusahaan.
Para ahli mengemukakan pengertian secara berbeda-beda dalam penyajian dan penekanannya, namun semuanya mempunyai pengertian yang hampir sama antara satu dengan yang lain. Berikut beberapa definisi
7Anonim Al-qurandanTerjemahannya, (Jakarta: Bumi Aksara,2009) hl.83 ayat 29
8Http// Erlan.blogspot.com/2011//. Diunduh pada hari Jumaat tanggal 016 November 2018
mengenai pemasaran yang dimaksud. Menurut TheAmerican MarketingA ssociation menyebutkan: ”Marketing is the planning and executing the conception, pricing, promotion and distribution of ideas, goods and services to create exchanges that satisfiy individual and organizational goals”.9
Definisi di atas mengandung arti bahwa pemasaran adalah suatu proses perencanaan dan menjalankan konsep, harga, promosi dan distribusi sejumlah ide, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang mampu memuaskan tujuan individu dan organisasi. Sedangkan menurut Chartered Institute of Marketing, menyebutkan bahwa pemasaran adalah: “Management process of anticipating, identifying and satisfying customer requirements profitably”.10
Tersirat bahwa pemasaran adalah suatu proses manajemen yang bertanggung jawab untuk mengenali, mengantisipasi dan memuaskan keinginan atau kebutuhan pembeli demi meraih laba. Stanton dalam Swastha dan Irawan, mendefinisikan pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial. Kotler dan Keller mengartikan: “Marketing is a societal process by which individuals and groups obtain what they need and want through creating, offering, and freely exchanging products and services of value with others”.11
9Graham J Hooley, Nigel F. Piercy, Brigitte Nicoulaud. Marketing Strategy and Competitive Positioning. (London: Prentice Hall, 2008), hlm. 7
10Colin Gilligan dan Richard M.S. Wilson. Strategic Marketing Planning. (London: Elseivier, 2009), hlm. 1
11Philip Kotler dan Kevin Lane Keller.Marketing Management.(New Jersey: Prentice Hall, 2012), hlm.
5.
Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa bernilai dengan pihak lain. Dalam kaitannya dengan pemasaran, strategi didefinisikan sebagai alat fundamental yang direncanakan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan mengembangkan keunggulan bersaing yang berkesinambungan melalui pasar yang dimasuki dan program pemasaran yang digunakan untuk melayani pasar sasaran.12Dengan demikian, strategi pemasaran merupakan suatu rencana yang diformulasikan secara sistematis mengenai kegiatan pemasaran untuk dijadikan sebagai pedoman dalam kaitannya dengan implementasi variabel-variabel pemasaran seperti identifikasi pasar, segmentasi pasar, pemosisian terhadap pasar dan elemen bauran pemasaran.
2. Pemasaran Jasa Pendidikan
Mendengar kata pemasaran atau marketing, pemikiran kita selalu tertuju pada dunia bisnis. Hal ini wajar karena kata atau istilah “marketing”
sering kali muncul dan berkembang dikalangan bisnis, baik bisnis manufaktur maupun jasa.
Menurut Indradjaja dan karno, pemasaran jasa pendidikan mutlak diperlukan karena hal-hal berikut:
1. Kita perlu meyakinkan masyarakat dan pelanggan jasa pendidikan (siswa, orang tua siswa, dan pihak terkait lainnya) bahwa lembaga pendidikan yang kita kelola masih tetap eksis.
12Nyoman Sudiarta. “Strategi Pemasaran: Mengintegrasikan Konsep Pemasaran Pariwisata, Gaya Hidup Konsumen dan Manajemen Destinasi Pariwisata Menuju Kualitas Pengalaman Berkelanjutan”
dalamJurnal Ilmiah Manajemen dan Akutansi STIE Triatma Mulya, Vol. 16/No. 2/Desember 2011, hlm.
60.
2. Kita perlu meyakinkan masyarakat dan pelanggan jasa pendidikan bahwa jasa pendidikan yang kita lakuakan relevan dengan kebutuhan mereka.
3. Kita perlu melakukan pemasaran jasa pendidikan agar jenis jasa pendidikan yang kita lakukan dapat dikenal dan dipahami oleh masyarakat, terutama pelanggan jasa pendidikan.
4. Kita perlu melakukan pemasaran jasa pendidikan agar eksistensi sekolah tidak ditinggalkan oleh masyarakat dan pelanggan jasa pendidikan potensial.13
Pemasaran dapat dibedakan antara definisi pemasaran secara sosial dan secara manajerial. Definisi sosial menunjukan peran yang dimainkan oleh pemasaran dimasyarakat.Seorang pemasar mengatakan bahwa peran pemasaran adalah “menghasilkan standar hidup yang lebih tinggi.”Berikut ini adalah definisi sosial yang sesuai dengan tujuan kita. Pemasaran adalah proses sosial yang dengan proses itu individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain. Untuk definisi manajerial, pemasaran sering digambarkan sebagai
“seni menjual produk”. Jadi, tujuan pemasaran jasa pendidikan adalah mengetahui dan memahami pelanggan jasa pendidikan dengan baik sehingga produk pendidikan atau jasa pendidikan itu cocok dengan pelanggan jasa pendidikan dan selanjutnya mampu menjual dirinya sendiri.
Idealnya, pemasaran jasa pendidikan harus menghasilkan pelanggan jasa pendidikan yang siap membeli.Yang dibutuhkan selanjutnya adalah menyediakan produk pendidikan atau jasa pendidikan itu.14
13David wijaya, Pemasaran Jasa Pendidikan, (Jakarta: Salemba Empat, 2012), h. 2
14 Philip Kotler, Manajemen Pemasaran, (Jakarta: PT. Intan Sejati Klaten, 2005), Jilid I, h. 10.
3. Tujuan Pemasaran Jasa Pendidikan
Kotler dan Fox mendefinisikan tujuan utama pemasaran pendidikan untuk:
1) Memenuhi misi sekolah dengan tingkat keberhasilan yang besar;
2) Meningkatkan kepuasan pelanggan jasa pendidikan;
3) Meningkatkan ketertarikan terhadap sumber daya pendidikan;
4) Meningkatkan efisiensi pada aktivitas pemasaran jasa pendidikan.15
Berdasarkan tujuan pemasaran jasa pendidikan, aktivitas pemasaran jasa pendidikan lebih dari aktivitas penjualan jasa pendidikan, periklanan dan promosi, untuk menciptakan permintaan jasa pendidikan.Pemasaran jasa pendidikan adalah keterampilan perencanaan dan pengelolaan hubungan pertukaran antara lembaga pendidikan dengan kelompok masyarakat.
4. Konsep Dasar Pemasaran Jasa
Konsep ini dapat membantu seseorang menajer apakah permintaan itu elastic atau tidak. Diantaranya:
1) Kebutuhan (Needs)
Dalam konteks pemasaran, kebutuhan adalah sebuah kondisi dimana kita merasa kekurangan atas satu barang tertentu dan ada sebuah dorongan untuk memenuhinya. Hal ini biasanya dikaitkan dengan barang-barang kebutuhan pokok, misalnya kebutuhan kita akan makan, minum, dan pakaian. Jika dikaitkan dengan pemasaran jasa pendidikan, maka kebutuhan adalah sebuah kondisi dimana kita merasa perlu terhadap sebuah lembaga pendidikan dan harus segera memenuhi kebutuhan tersebut.
15Ibid.,h. 16-17.
2) Keinginan (Want)
Keinginan adalah kebutuhan manusia yang sudah dibentuk oleh budaya dan kepribadian individu. Artinya individu mungkin memiliki kebutuhan yang sama, seperti pakaian dan minuman, namun individu bisa memiliki keinginan yang berbeda kerena sudah ada peranan kepribadian dan budaya. Jika dikaitkan dengan pendidikan, maka setiap individu memiliki keinginan untuk memilih lembaga pendidikan yang mereka sukai baik berdasarkan tuntutan pribadi maupun budaya, misalnya pilihan antara lembaga pendidikan umum maupun lembaga pendidikan agama, baik negeri maupun swasta.
3).Permintaan
Permintaan, dalam konteks ilmu pemasaran jasa pendidikan, adalah keinginan pelanggan jasa pendidikan yang didukung oleh daya beli terhadap lembaga pendidikan. Pelanggan jasa pendidikan memiliki keinginan, namun ia belum tentu merupakan demand atas produk jasa pendidikan tertentu bila ia tidak memiliki daya atau kemauan untuk menjadi pelanggan jasa pendidikan. Oleh sebab itu, sebuah lembaga pendidikan yang kreatif akan bertindak lebih jauh lagi dengan
“menciptakan” permintaan-permintaan baru sehingga pelanggan jasa pendidikan merasa perlu dan harus untuk menjadi siswa atau siawi di lembaga pendidikan tersebut.
4). Produk jasa pendidikan
Produk jasa pendidikan adalah apa saja yang dapat ditawarkan kepada pelanggan jasa pendidikan agar dapat diambil manfaatnya dan digunakan, sehingga dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan jasa pendidikan. Kata produk dalam pemasaran jasa pendidikan bukan hanya untuk “barang” (objek fisik) saja, tetapi juga berarti pelayanan, orang, tempat, organisasi dan ide-ide.
5). Ide-ide
Lembaga pendidikan menawarkan lulusan (out put) yang hafal Al- qur’an diluar kurikulum yang telah disajikan kepada masyarakat.
6). Tempat
Tempat atau lokasi yang bisa ditawarkan kepada pelanggan pendidikan.Misalnya, bangunan lembaga pendidikan/sekolah yang megah dan tempat tinggal atau asrama bagi peserta didik.
8). Orang
Orang yang dimaksud disini adalah figur-figur tertentu yang dapat
“ditawarkan” karena talenta dan kemampuan yang dimiliki. Misalnya, tenaga pendidik yang profesional.\
9). Organisasi
Sebuah lembaga pendidikan “didandani” hingga tampil memikat.
Laporan keuangan, data-data keuangan, kegiatan yang menyangkut sistem administrasi, digambarkan prospeknya untuk ditawarkan kepada pelanggan jasa pendidikan, bisa lewat iklan, atau roadshow dengan melakukan presentasi-presentasi.Hal ini dilakukan untuk meningkatkan citra sebuah lembaga pendidikan yang dilakukan dengan berbagai program kampanye atau public relation (kehumasan).
10). Pelayanan
Pelayanan adalah aktivitas atau manfaat yang ditawarkan oleh satu pihak, yang tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apapun.
11). Pengalaman (Experience)
Lembaga pendidikan akan memberikan pengalaman-pengalaman yang “jarang” ditemui oleh pelanggan pendidikan (siswa). Seperti, pengalaman yang didapat oleh siswa disebuah lembaga pendidikan tertentu.
12). Nilai Pelanggan Jasa Pendidikan (Customer Value)
Nilai pelanggan jasa pendidikan adalah sebuah konsep penting. Orang tua siswa dan siswa itu sendiri dapat memberikan sebuah penilaian terhadap produk jasa pendidikan yang ditawarkan, penilaian tersebut dapat berupa rasa nyaman, bahagia, bangga, dan percaya diri.Untuk mendapatkan hal demikian tentunya ada biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua siswa. Perbandingan antara nilai yang didapatkan dengan biaya total inilah yang disebut dengan nilai pelanggan jasa pendidikan.
13).Kepuansan Pelanggan Jasa Pendidikan
Kepuasan pelanggan jasa pendidikan tergantung sejauh mana manfaat sebuah produk jasa pendidikan yang dapat dirasakan (perceived) sesuai dengan apa yang diharapkan pelanggan jasa pendidikan.
14). Relationship Marketing
Relationship marketing merupakan istilah yang erat kaitannya dengan meraih dan menjaga kepuasan pelanggan jasa pendidikan. Kita perlu terus-menerus menciptakan, menjaga dan memperkuat hubungan dengan pelanggan jasa pendidikan. Inilah yang disebut proses hubungan pemasaran (relationship marketing).
15) Pasar Jasa Pendidikan
Pasar jasa pendidikan adalah pelanggan pendidikan atau calon pelanggan jasa pendidikan yang mempunyai kebutuhan dan keinginan tertentu terhadap sebuah lembaga pendidikan dan mempunyai keinginan untuk memuaskan kebutuhannya dengan cara bergabung pada lembaga pendidikan tersebut. Oleh sebab itu, lembaga pendidikan harus semakin kreatif menciptakan permintaan (creating demand) yang artinya lembaga pendidikan harus dapat menciptakan
pelanggan jasa pendidikan yang baru dan tidak hanya mengandalkan pelanggan jasa pendidikan yang sudah ada.16
5. Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan
Suksesnya pemasaran pendidikan Islam, tergantung pola pikir pemimpin yang mempunyai pandangan kedepan dan kebelakang dalam kaitannya dengan pemasaran pendidikan, sehingga dapat mempersiapkan karyawan lembaga pendidikan dan siswa untuk menyongsong masa depan lembaga yang dipimpinnya. Seorang pemimpin harus selalu berusaha agar lembaga pendidikan yang dipimpinnya tetap hidup, berkembang, dan mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lain, untuk itu pemimpin perlu menentukan dan menerapkan strategi, serta melakukan aktivitas pemasaran jasa pendidikan. Strategi menurut kamus bahasa Indonesia berarti cara17.Arti pemimpin adalah “ seseorang yang bertanggung jawab terhadap segala kegiatan pendidikan dan pengajaran di sebuah lembaga pendidikan”.18 Sedangkan pemasaran pendidikan berarti proses yang diasosiasikan dengan mempromosikan barang atau jasa pendidikan.19 Strategi pemasaran pendidikan yang dimaksud adalah suatu cara yang dirancang oleh pemimpin dalam melakukan pemasaran pendidikan untuk meningkatkan minat dan jumlah santri dan santriwati lebih banyak terhadap lembaga pendidikan.
Cara tersebut dapat dirancang dalam bentuk strategi seperti:
segmentasi pasar jasa pendidikan, strategi penentuan pasar sasaran jasa pendidikan, strategi penentuan posisi pasar jasa pendidikan dan strategi bauran pemasaran jasa pendidikan (marketing mix). Melalui strategi tersebut
16Taufiq Amir, Dinamika Pemasaran: Jelajahi dan Rasakan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2005), h. 6-17
17YS. Marjo, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Surabaya: Beringin Jaya Surabaya, 1997), h. 214
18Yusak Burhanudin, Administrasi Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), h. 97
19Betsy-Ann Toffler Jane Imber, Kamus Istilah Pemasaran, (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2002), h. 658.
diharapkan pemasaran pendidikan dapat meningkatkan minat dan jumlah siswa lebih banyak, serta meningkatkan keloyalan masyarakat terhadap lembaga pendidikan.
Untuk lebih jelasnya mengenai keempat macam strategi tersebut dapat dilihat pada uraian berikut ini:
1) Segmentasi Pasar Jasa Pendidikan
Pada dasarnya, di setiap kalangan masyarakat selalu ada kelompok-kelompok yang mempunyai kebutuhan dan keinginan yang relatif serupa terhadap sebuah lembaga pendidikan. Memuaskan keseluruhan kalangan masyarakat sekaligus dengan sebuah produk jasa pendidikan adalah usaha yang sia-sia atau hampir tidak mungkin, sebab tidak semua orang mempunyai minat terhadap produk jasa pendidikan yang kita tawarkan. Misalnya,
Sebagian orang berminat untuk masuk pada sebuah lembaga pendidikan pondok pesantren dan sebagian lagi menginginkan untuk masuk ke sebuah lembaga pendidikan umum. Hal demikian disebabkan perbedaan latar belakang kelompok tersebut, baik dari segi status ekonomi, tingkat pendidikan, kebudayaan, status sosial, jumlah anak dan agama. Oleh karena itu pemimpin jasa pendidikan perlu mengidentifikasi kebutuhan, keinginan, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan dan keinginan pelanggan jasa pendidikan.20 Segmentasi pasar jasa pendidikan mempunyai tiga macam pendekatan strategi pemasaran jasa pendidikan dan pemimpin pendidikan dapat memilih salah satu dari tiga pendekatan pemasaran jasa pendidikan. Berikut adalah tiga alternatif tersebut:
a) Undifferentiated Marketing (pendekatan pemasaran jasa pendidikantanpa pembedaan/tanpa diferensiasi). Dalam strategi ini,
20M. Taufiq Amir, Op. Cit. h. 95
pemimpin pendidikan mencoba mengembangkan produk jasa pendidikan tunggal yang dapat memenuhi keinginan semua atau banyak orang. Jadi, sebuah lembaga pendidikan dipasarkan kepada semua kalangan masyarakat, yang artinya tidak hanya terfokus pada satu atau beberapa kelompok kalangan saja. Dalam strategi ini pemasaran jasa pendidikan bersifat massal, maka teknik pemasarannya juga bersifat massal, misalnya dengan menggunkan periklanan massal seperti, surat kabar, radio, televisi, dan lain-lain.
Differentiated Marketing (pendekatan pemasaran jasa pendidikan dengan pembedaan/deferensiasi). Dalam strategi ini, pemimpin pendidikan mencoba untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok pelanggan jasa pendidikan dengan membagi kalangan masyarakat kedalam dua kelompok atau lebih. Pada kelompok pembeli dapat ditawarkan jenis produk jasa pendidikan yang berbeda dengan kelompok lain. Sehingga lembaga pendidikan dapat menjual dua atau beberapa macam produk jasa pendidikan, misalnya lembaga pendidikan menawarkan pendidikan umum berbasis pondok pesantren. Jadi, dalam strategi ini pemimpin berusaha untuk:
1) Memilih sub-grouf/kelompok-kelompok yang akan dilayani.
2) Merencanakan produk jasa pendidikan yang dapat memberikan kepuasan kepada kelompok-kelompok tersebut.
b) Concentrated Marketing (pendekatan pemasaran jasa pendidikan terkonsentrasi). Dalam strategi ini, pemimpin hanya memusatkan usaha pemasaran jasa pendidikannya pada satu atau beberapa kelompok pelanggan jasa pendidikan saja, karena disebabkan ketidak berhasilan dalam melayani kelompok pelanggan jasa pendidikan. Oleh sebab itu, usaha pemasaran jasa pendidikannya hanya dipusatkan pada kelompok pelanggan jasa pendidikan yang paling banyak berminat terhadap lembaga pendidikan yang
bersangkutan,sehingga lembaga pendidikan dapat mengembangkan produk jasa pendidikan yang paling ideal untuk kelompok pelanggan jasa pendidikan tersebut.21
Pemimpin dapat menentukan dasar alternatif segmentasi pasar jasapendidikan berdasarkan dua pendekatan, sebagai berikut:
a. Karakteristik konsumen, yaitu segmentasi pasar jasa pendidikan berdasarkan berbagai asfek berikut:
1) Segmentasi geografi, membagi pasar jasa pendidikan menjadi unit- unit geografis yang berbeda, seperti negara, negara bagian, wilayah, provinsi, kota atau RT. Dalam hal ini, pemimpin dapat memutuskan untuk beroperasi pada satu atau beberapa wilayah geografis atau beroperasi diseluruh wilayah tetapi memberikan perhatian pada variasi lokal dalam hal kebutuhan dan preferensi geografi.
2) Segmentasi demografi, pemimpin membagi pasar jasa pendidikan menjadi kelompok-kelompok dengan dasar variabel-variabel demografi, seperti usia, jenis kelamin, ukuran keluarga, jenis keluarga, siklus hidup keluarga, penghasilan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras, dan kewarganegaraan. Segmentasi perilaku, pemimpin membagi pelanggan jasa pendidikan berdasarkan pengetahuan, sikap, pemakaian, atau tanggapan mereka terhadap suatu produk jasa pendidikan.22
b. Tanggapan konsumen (pelanggan jasa pendidikan), yaitu segmentasi pasar jasa pendidikan berdasarkan asfek-asfek berikut:
1) Manfaat, dengan asumsi bahwa manfaat yang dicari pelanggan jasa pendidikan dari produk jasa pendidikan adalah alasan mengapa
21Ibid., h. 52
22Philip Kotler, dkk., Manajemen Pemasaran Perspektif Asia, (Yogyakarta: Penerbit Andi and Pearson Education Asia Pte. Ltd., 2000), Ed. I, h. 358-362
pelanggan jasa pendidikan membeli produk jasa pendidikan yang bersangkutan.
2) Penggunaan, yang berfokus pada jenis-jenis dan batasan penggunaan, seperti pengguna berat, pengguna menengah, pengguna ringan/sesekali, atau bukan pengguna jasa pendidikan.
3) Promosi, yang berfokus pada cara pelanggan jasa pendidikan, menanggapi aktivitas promosi lembaga pendidikan, termasuk tanggapan terhadap periklanan dan pameran pendidikan.
4) Loyalitas, yang berfokus pada batasan loyalitas, seperti pelanggan jasa pendidikan yang setia terhadap satu merek pendidikan, setia terhadap dua atau tiga merek pendidikan, menggilir merek pendidikan atau sekolah yang disukai, serta tidak loyal atau tidak terpaku kepada merek pendidikan tertentu.
Jadi pelayanan yang terfokus pada apakah dengan mengelompokkan produk jasa pendidikan akan menyebabkan pelanggan jasa pendidikan dilayani dengan layanan pendidikan yang sama, pemimpin harus bisa membedakan penawaran jasa pendidikan, serta apakah produk jasa pendidikan memiliki tingkat yang sama dengan layanan pendidikan.23
2). Strategi Penentuan Pasar Sasaran Jasa Pendidikan
Setelah mengevaluasi segmen-segmen yang berbeda, dalam hal ini pemimpin harus memutuskan segmen mana dan berapa banyak segmen yang akan dilayani. Hal tersebut merupakan tahap mengenai pemilihan pasar sasaran jasa pendidikan. Pemimpin dapat mempertimbangkan lima pola pemilihan pasar sasaran jasa pendidikan. Lima pola pasar sasaran tersebut sebagai berikut:
23David Wijaya, Op. Cit., h. 58
a) Konsentrasi pada segmen pasar tunggal (single segment concentration), yaitu lembaga pendidikan memilih berkonsentrasi pada satu segmen pasar jasa pendidikan karena lembaga pendidikan memiliki dana yang terbatas dan hanya mampu beroperasi pada satu segmen pasar jasa pendidikan. Dalam hal ini, pemimpin memperoleh posisi pasar jasa pendidikan yang kuat karena memiliki pengetahuan yang lebih luas mengenai kebutuhan segmen pasar jasa pendidikan dan reputasi istimewa yang diperolehnya.
b) Spesialisasi yang selektif (selective specialization), yaitu pemimpin memilih sejumlah segmen pasar jasa pendidikan yang menarik, sehingga sesuai dengan tujuan dan sumber daya pendidikan.
c) Spesialisasi produk jasa pendidikan (product specialization), yaitu pemimpin berkonsentrasi dalam membuat produk jasa pendidikan tertentu, sehingga produk jasa pendidikan yang dibuatnya dapat ditawarkan pada sejumlah kelompok pelanggan jasa pendidikan.
Spesialisasi pasar jasa pendidikan (market specialization), yaitu pemimpin berkonsentrasi dalam melayani banyak kebutuhan dari suatu kelompok pelanggan pendidikan.
d) Cakupan seluruh pasar jasa pendidikan (full market coverage), yaitu pemimpin berusaha melayani seluruh pelanggan pendidikan dengan semua produk jasa pendidikan yang mungkin mereka butuhkan.24
c). Strategi Penentuan Posisi Pasar Jasa Pendidikan
Menurut Kotler dalam buku yang ditulis oleh Taufik Amir, penentuan posisi jasa pendidikan (positioning) adalah “bagaimana sebuah produk jasa pendidikan dapat dirumuskan secara berbeda oleh pelanggan jasa pendidikan atas atribut-atribut yang dianggapnya penting, relatif
24M. Taufiq Amir, Op. Cit., h. 125
dibandingkan dengan produk jasa pendidikan lain”.25Jadi, penentuan posisi pasar jasa pendidikan merupakan cara bagi lembaga pendidikan untuk menciptakan anggapan atau kesan tertentu diingatan pelanggan jasa pendidikan, sehingga pelanggan jasa pendidikan dapatmemahami dan menghargai hal yang dilakukan organisasi dalam kaitannya dengan kompetitor.
1. Langkah-langkah dalam Positioning
Pemimpin harus mengidentifikasi keunggulan bersaing yang mungkin untuk ditonjolkan merupakan tahap awal dalam positioning.Keunggulan bersaing ini bisa ditemukan melalui analisis internal terhadap lembaga pendidikan dan produk-produk jasa pendidikan lainnya. Pemimpin hendaknya mendaftar sebanyak mungkin hal-hal dan nilai-nilai apa saja yang dapat ditonjolkan. Dengan demikian, hal yang dianggap beda oleh pelanggan jasa pendidikan dapat dibandingkan dengan pesaing.
Unsur pembeda dapat ditemukan dalam banyak hal. Adapun unsur- unsur pembeda tersebut adalah:
1) Produk jasa pendidikan, yaitu asfek perbedaan yang dapat ditemukan dalam sebuah produk jasa pendidikan bisa berupa bentuk, fitur, kinerja, kesesuaian (kurikulum: kesenian, teknologi dan olah raga), daya tahan dan lain-lain.
2) Pelayanan, yaitu perbedaan dalam hal melayani pelanggan jasa pendidikan. Artinya, kesiap-siagaan dalam hal memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada pelanggan jasa pendidikan. Pelayanan dapat berupa tawaran, bantuan terhadap keamanan dan kenyamanan pelanggan jasa pendidikan yang mempunyai keluhan.
25Philip Kotler, dkk., Op. Cit.,h. 375-377
3) Saluran, yaitu kemudahan dalam mengakses informasi mengenai hal- hal yang berkaitan dengan produk jasa pendidikan dan organisasi, misalnya keamanan dan kenyaman dalam akses menuju lokasi.
4) Citra (Image), yaitu cara masyarakat mempersepsi (memikirkan) produk jasa pendidikan yang ditawarkan. Untuk membangun suatu citra diperlukannya pembangunan simbol-simbol legenda atau bangunan-bangunan lain sehingga memberikan perbedaan yang sesuai dengan harapan pelanggan. Misalnya, pembangunan patung Sphynx di gerbang pintu masuk, sehingga ada nuansa Mesir sekaligus legendaris, dan mengadakan majelis ta’lim pada pendidikan pondok pesantren dan lain-lain.
5) Karyawan, yaitu lebih mengedepankan asfek kompetensi karyawannya, misalnya pada sebuah lembaga pendidikan lebih mengedepankan staff pengajar yang memiliki kualifikasi minimal tingkat S2.
2. Syarat Positioning yang Baik
1) Menguntungkan lembaga pendidikan 2) Penting bagi pelanggan jasa pendidikan
3) Dapat dikomunikasikan tidak mudah untuk ditiru.26
d). Strategi Bauran Pemasaran Jasa Pendidikan (Marketing Mix)
Pemimpin harus mengetahui cara untuk mencapai dan mempertahankan keunggulan kompetitif adalah melalui pemanfaatan unsur-unsur bauran pemasaran jasa pendidikan yang disebut dengan marketing mix.Unsur-unsur utama dalam strategi pemasaran jasa pendidikan dikenal dengan sebutan “4P”, yaitu product (produk jasa pendidikan), place (tempat/metode penyampaian), price (harga jasa
26M. Taufiq Amir, Op. Cit., h. 125-131
pendidikan), dan promotion (promosi jasa pendidikan). Namun demikian, pendekatan bauran pemasaran 4P tradisional hanya dapat diterapkan untuk produk.
Bagi sektor jasa, 4P terlalu terbatas untuk menyediakan kerangka pemikiran pemimpin dalam pemasaran jasa pendidikan dan perencanaan strategi pemasaran jasa pendidikan. Oleh karena itu, James dan Phillips menyarankan 3P tambahan dalam pemasaran jasa pendidikan, yaitu people (orang/tenaga pendidik dan kependidikan), physical evidence (bukti fisik jasa pendidikan), dan process (proses jasa pendidikan).27
Unsur-unsurbauranpemasaranjasapendidikan, dirincikan sebagai berikut:
1) Produk jasa pendidikan (product), merupakan unsur yang paling penting dalam program pemasaran jasa pendidikan.28Produk merupakan hal mendasar yang akan menjadi pertimbangan pilihan bagi masyarakat. Produk pendidikan merupakan segala sesuatu yang ditawarkan, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya.
Produk yang dihasilkan dan ditawarkan harus berkualitas. Sebab, konsumen tidak senang pada produk kurang bermutu, apalagi harganya mahal.29 Misal, disamping produk bidang akademik, produsen harus bisa membuat produk layanan pendidikan lebih bervariasi seperti kegiatan olahraga, kesenian, dan keagamaan,untuk menambah kualitas pendidikan. Suatu komoditi yang hendak diproduksi haruslah mempertimbangkan alasan sosial kemanusiaan, yakni selain dibutuhkan oleh masyarakat juga manfaat positifnya yang akan di dapat produksinya suatu komoditas tersebut. Dalam lingkungan pendidikan,produk jasa yang dapat ditawarkan adalah jasa
27David wijaya, Op.Cit., h. 75
28Warren J. Keegan, Manajemen Pemasaran Global, (Jakarta: PT. Prenhallindo, 1997), Jilid II, Ed. V, h. 95
29 Buchari Alma. Pemasaran Stratejik, hlm. 37.