1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kota Balikpapan merupakan termasuk salah satu kota yang berkembang di Indonesia. Kota Balikpapan juga merupakan salah satu kota dengan kepadatan penduduk tinggi di Provinsi Kalimantan Timur. Kota Balikpapan tahun 2020 yang memiliki jumlah penduduk sebesar 688,318 jiwa (Badan Pusat Statistik Kota Balikpapan, 2021). Jika dilihat dari jumlah penduduk di kota Balikpapan tergolong kota yang besar dengan penduduk yang cukup padat. Namun, pada penanganan dan pengelolaan sampah yang harus tetap diperhatikan karena perkembangan kota semakin cepat dan membuat pertumbuhan penduduk yang semakin laju. Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan intensifnya aktivitas penduduk di suatu wilayah maka semakin meningkat pula kebutuhan untuk tempat tinggal dan aksesbilitas penduduk di waktu mendatang (Anitawati dkk, 2019).
Sampah adalah benda. . yang bersumber dari hasil aktivitas manusia maupun proses. alam. . yang tidak memiliki nilai yang ekonomis. Yang dimaksud yaitu sampah juga merupakan barang yang tidak. . mempunyai nilai atau tidak dapat digunakan. Masalah sampah di Indonesia khususnya di kota Balikpapan menjadi masalah yang aktual seiring dengan kegiatan ekonomi, dan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat sehingga peningkatan pada jumlah timbulan sampah. Pengelolaan sampah di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 (2008) tentang pengelolaan sampah, yang diharapkan dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat (Siagian dkk., 2019b). Dalam lingkup pemerintahan daerah khususnya kajian tata kota merupakan isu strategis yang perlu mendapat perhatian (Davies, 2007; Ganesan, 2017; Murtadho & Roziqin, 2018; Spoann et al., 2018).
Secara nasional, menurut Undang-Undang nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, daerah, termasuk kota dan kabupaten diberi kewenangan untuk melaksanakan kegiatan ini melalui peraturan daerah yang sesuai dengan kebutuhan
2
dan kondisi daerah yang ada.(Yandra dkk., 2020). Pada masa saat ini dengan berbagai permasalahan yang terkait dengan sampah tidak diselesaikan secara menyeluruh yang dimana masyarakat. . masih banyak yang suka. . membuang sampah. . sembarangan, meskipun sudah banyak upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah Kota Balikpapan. dalam menanggulangi sampah dan mengelolah sampah. Mengurangi sampah rumah tangga sulit dilakukan (Sudibyo dkk.,2017). Peningkatan sampah rumah tangga di Indonesia yang tidak lepas dari tingginya arus urbanisasi di beberapa kota (Wibisono dkk., 2020). Dari tahun ke tahun, dari isu sampah yang menjadi isu yang penting di beberapa kota besar di Indonesia. Padahal mereka sudah memiliki lembaga hukum untuk bekerja sama dengan pihak swasta dalam menangani pengelolaan sampah.
Table 1 Jumlah Timbulan Sampah di Kota Balikpapan Tahun 2017-2020
Data diatas (Tabel 1) yang menunjukkan bahwa jumlah timbulan sampah di Kota Balikpapan pada periode tahun sampai dengan tahun 2020 mengalami peningkatan.
Pada tahun 2017, jumlah timbulan sampah kota Balikpapan meningkat sebesar 353.23 ton/hari dari tahun 2016. Pada tahun 2018, timbulan sampah sebesar 348.22 ton/hari mengalami penurunan yang lumayan signifikan dari tahun 2017. Pada tahun 2019, mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari tahun 2018 dengan peningkatan sebesar 458.62 toh/hari dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2020, jumlah timbulan sampah sebesar 481.82 ton/hari mengalami peningkatan kembali dari tahun
Tahun Jumlah Timbulan Sampah
2017 353.23 Ton/Hari
2018 348.22 Ton/Hari
2019 458.62 Ton/Hari
2020 481.82 Ton/Hari
Sumber : Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) &
Data Neraca Pengelolaan Sampah
3
sebelumnya. Setiap tahun jumlah timbulan sampah kota Balikpapan yang selalu mengalami peningkatan yang berdampak pada meningkatnya volume sampah harian di kota Balikpapan.
Timbulan sampah di kota berdasarkan sumber sampah tertinggi adalah berasal dari Rumah tangga yang jumlah terbaru sebesar 336.66 ton (Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2020). Ditambah dengan pola hidup yang konsumtif atau berlebihan sangat berpengaruh pada permasalahan sampah yang mengakibatkan volume sampah yang tinggi dalam timbulan sampah. Sumber sampah dari berbagai aktivitas di daerah perkotaan seperti sampah rumah tangga, perkantoran, pasar, pusat peniagaan, fasilitas publik dan lainnya. Di kota Balikpapan ini yang sumber terbesar timbulan sampah yang berasal dari sampah rumah tangga, karena sampah merupakan sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang padat dan berpengaruh langsung dengan perkembangan jumlah penduduk dan aktivitas. Sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga yang sebagian besar terdiri dari sampah organik. Dengan timbulan sampah yang dimana semakin besar dari hari ke hari akan mengurangi ruang dan menggangu aktivitas manusia yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup justru membuat kualitas hidupnya menurun karena permasalahan timbulan sampah.
Permukiman yang menyumbangkan sampah sebesar 70,30% dari total sampah kota Balikpapan (Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2020). Pada Timbulan Sampah Harian menurut Sumber Sampah ini yang menyebabkan potensi timbulan sampah yang menyebabkan potensi timbulan sampah di rumah tangga yang semakin tinggi berdampak langsung pada menurunnya kualitas pada kebersihan dan kesehatan pada lingkungan hidup di sekitar masyarakat Kota Balikpapan. Banyak sampah yang ditimbulkan pada sekitar masyarakat yaitu timbunan sampah plastik yang jumlahnya masih cukup tinggi untuk di lingkungan rumah tangga.
4
Kota Balikpapan pada saat ini mempunyai permasalahan pengelolaan sampah yaitu dimana sebagian masyarakat membuang sampah tidak pada jam yang telah ditetapkan dan sampah yang dikumpulkan masyarakat di TPS sebagian diletakkan diluar TPS hal ini sangat berdampak pada kebersihan, estetika Kota dan jam pengangkutan sampah dari TPS bertambah, selain itu jumlah sampah yang dimana kian meningkat untuk tiap tahun ke tahunnya. Sampah rumah tangga meenjadi isu global yang secara mendesak untuk diselesaikan dan selalu dibutuhkan ketegasan dari pemimpin daerah untuk membuat solusinya. Dalam pengelolaan sampah yang ada di Kota Balikpapan ini kerjasama pemerintah dengan masyarakat sangatlah penting dengan menyesuaikan perencanaan yang akan dilakukan. Merubah perilaku masyarakat adalah suatu hal yang cukup sulit, namun jika memang dilakukan pembinaan secara terus-menerus maka akan mendapatkan hasil yang didapatkan walaupun perlu ada waktu sebanyak puluhan waktu lamanya.
Dengan adanya Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (UUPS) yang merupakan angin segar dalam upaya penanggulangan permasalahan sampah. Pada UUPS ini telah mengamanatkan pendekatan dari hulu ke hilir dalam pengelolaan sampah atau biasanya dikenal dengan menggunakan pendekatan
‘kumpul-angkut-buang’. Dalam pengelolaan sampah di Kota Balikpapan ini pemerintah daerah perlu adanya dukungan atau peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah ini, dikarenakan peran serta masyarakat merupakan sumber energi bagi pemerintah daerah. Masyarakat juga merupakan penghasil sampah, yang dimana semua yang layak dibebankan tanggung jawab dan partisipasi dalam pengelolaan sampah khususnya sampah rumah tangga. Pada masyarakat yang harus berperan penting dengan melalui berbagai kegiatan untuk mengurangi dan penanganan sampah, contohnya saja kegiatan melalui pemilahan, pengurangan, penggunaan kembali dan daur ulang sampah atau biasanya disingkat kegiatan 3R (Reduce, Reuse and Reycle) yang sebagaimana sudah tercantum didalam isi Undang- Undang Pengelolaan Sampah atau UUPS tersebut.
5
Table 2 Jumlah Penduduk Kota Balikpapan Tahun 2017-2020
Sumber : Data Bappeda Kota Balik papan
Pada data diatas (Tabel 2) yang menunjukkan bahwa jumlah penduduk kota Balikpapan pada periode tahun 2017 sampai dengan tahun 2020 yang mengalami peningkatan. Pada tahun 2017, jumlah penduduk Kota Balikpapan meningkat sebesar 633.196 jiwa dari tahun 2016. Pada tahun 2018, pertumbuhan penduduk sebesar 649.806 jiwa dari tahun 2017. Pada tahun 2019, jumlah penduduk kota Balikpapan yang telah mencapai 667.188 jiwa dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2020, pertumbuhan penduduk kota yang meningkat pesat mencapai 688.318 jiwa dari tahun sebelumnya. Setiap tahun jumlah penduduk kota Balikpapan selalu mengalami peningkatan yang berdampak pada meningkatnya volume timbulan sampah di kota Balikpapan. Berdasarkan data Bappeda Kota Balikpapan, volume timbulan sampah harian yang diangkut ke TPA setiap tahunnya juga pasti meningkat. Artinya, pemerintah kota Balikpapan yang telah meningkatkan pengadaan infrastruktur prasarana pada penangkutan sampah dalam guna mengatasi peningkatan volume sampah yang berakibat pertambahan penduduk yang meningkat drastis. Namun, permasalahan sampah ini yang tidak akan selesai jika tidak di atasi oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat kota Balikpapan itu sendiri.
Tahun Jumlah Penduduk
2017 633.196 Jiwa
2018 649.806 Jiwa
2019 667.188 Jiwa
2020 688.318 Jiwa
6
Pemerintah merupakan pembangunan pada salah satu dalam pembangunan infrastruktur. Dalam penanganan sampah pemerintah daerah kota Balikpapan mengeluarkan peraturan daerah yang terkait pentingnya pengelolaan sampah. Dengan dikeluarkannya Peraturan. . Daerah (PERDA) Nomor 13. . Tahun 2015 yang berisi tentang pengelolaan sampah rumah. . tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga.
Yang dimana dalam isi Perda tersebut adalah dalam Pasal 4 Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis Rumah Tangga yang bertujuan untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup dan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat kota Balikpapan, yang merubah sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga yang sebagai sumber daya mempunyai nilai tambah atau jual dan dapat meningkatkan peran aktif masyarakat dan pelaku usaha dalam menggelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejemis sampah rumah tangga. Didalam Pasal 9 yang bertanggung jawab dalam pengumpulan dan pengangkutan sampah yaitu masyarakat, pemerintah daerah dan pihak swasta dapat langsung membuang sampah ke sumber sampah ke TPS.
.Berdasarkan. . Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 ini, sampah yang dikelola yang terdiri dari (1) Sampah Rumah Tangga. . merupakan sampah campuran antara sampah organic dan anorganik yang dimana sampah ini berasal dari kegiatan sehari- hari dalam rumah tangga. . disebut juga dengan sampah pemukiman, (2) Sampah sejenis sampah rumah tangga, yang dimana sampah ini berasal dari kawasan komersial seperti berasal dari hotel, perkantoran, rumah sakit, restoran, Kawasan. . pariwisata dan lainnya. (3) Sampah. . spesifik, sampah yang digolongkan dengan sampah spesifik adalah sampah yang mengandung B3 (Bahan Berbahaya Beracun), Limbah B3, sampah yang ditimbulkan. akan berakibat bencana dan lainnya. Sesuai dengan isi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, Pasal 19 yang berisi tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga yang terdiri atas pengurangan sampah dan penanganan sampah.
Terdapat pula di dalam Pasal 20 yang berisi tentang pembatasan timbulan sampah,
7
dan atau pemanfaatan kembali sampah atau dikenal dengan 3R (Reduce, Reuse, dan Reycle).
Pengelolaan sampah yang masih menggunakan paradigma lama atau (pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan akhir) yang masih mengakibatkan dampak buruk. Hal ini dikarenakan dimana permasalahan sampah yang semakin kompleks, terutama kesulitan yang terdapat pada tempat pembuangan akhir serta berkembangnya jumlah dan ragam sampah di kota Balikpapan. Dengan ini pada penggelolaan sampah Pemerintah kota Balikpapan telah melakukan berbagai cara untuk mengurangi jumlah timbulan sampah, yaitu sosialisasi pemilahan dan pengelolaan sampah, pelatihan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup, sosialisasi pengurangan penggunaan kantong plastik dan pemilahan dan pengelolahan sampah di sumber inisiasi masyarkat. Dalam melakukan berbagai cara tersebut tanpa adanya kerja sama dengan swasta (Public Private Patnership).
Public-Private Partnership merupakan hasil perjalanan panjang dari paradigma dalam administrasi publik dengan fungsi melayani masyarakat. Pemerintah menerapkan kebijakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. Hal ini juga berkaitan dengan aspek manajemen, untuk melaksanakan kegiatan administrasi publik (Setiawan & Warsa, 2017). Public Private Patnership adalah suatu bentuk perjanjian atau kontrak kerja sama antara sektor publik dengan sektor private yang terdiri atas beberapa ketentuan yaitu terdapatnya pengurangan atau reduksi aktivitas atau kepemilikan pemerintah dalam suatu pelayanan dikarenakan sektor private (swasta) yang berpartisipasi dalam penyediaan layanan. Konsep Public Private Partnership (PPP) merupakan konsep yang bertujuan untuk memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. Perlunya kemitraan ini karena pemerintah memiliki keterbatasan baik dari segi sumber daya manusia dan keuangan serta aspek pendukung lainnya (Mulyani, 2017).
8
Dalam pengelolaan. . sampah yang tidak tepat juga dapat mempengaruhi kondisi sosial dan. . ekonomi di lingkungan masyarakat, pengelolaan sampah yang tidak. . memadai menyebabkan rendahnya. . tingkat kesehatan masyarakat yang tidak kalah penting dengan. . meningkatnya jumlah timbulan sampah dan jumlah penduduk tersebut dikarenakan masih kurang disipllin dan kepedulian dalam membuang sampah tepat waktu. Tata kelola pemerintahan yang baik adalah. . suatu penyelenggaraan manajemen. . pembangunan yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien. Definisi pemerintah adalah sekelompok orang yang menetapkan kebijakan dan mengambil keputusan didalam pembangunan masyarakat di wilayah pemerintahan (Ahira, 2011).
Pada pasal 5 KSNP-SPP pengelolaan. . persampahan memang bagian dari pelayanan. publik yang harus di sediakan oleh pemerintah untuk 6 (enam) mensejahterakan masyarakat namun demikian pengelolaan persampahan merupakan tanggung jawab. . masyarakat juga untuk menjaga keberlanjutannya sharing dari masyarakat sangat di perlukan untuk. . menjaga agar pelayanan pengelolaan persampahan dapat berlangsung dengan baik dan memenuhi kebutuhan. . masyarakat salah satu bentuk. . sharing dari masyarakat adalah melalui retrubusi kebersihan selain itu institusi pengelola persampahan perlu meningkatkan diri. . secara terus menerus dengan melakukan evaluasi kinerja pengelolaan sehingga dapat di identifikasi berbagai kelemahan yang ada dan melakukan upaya peningkatan yang terarah dan juga rencana yang di perlukan adalah penyusunan. . pedoman atau. . aturan untuk memudahkan pemerintah daerah melaksanakan upaya pemulihan biaya pengelolaan persampahan pedoman dan aturan. . tersebut akan. . meliputi pedoman. . penyusunan. . rencana biaya dan sampah adalah barang yang sudah. . tidak terpakai. . dan di buang oleh pemiliknya tetapi bagi sebagian orang masih bisa di pakai jika di kelola dengan prosedur yang benar dan pengelolaan sampah di antaranya dapat di manfaatkan menjadi kompos organik di dalamnya terkandung unsur hara yang di butukan tanaman dan sisa dalam tanaman akan aman.
9
Pada peraturan tertulis yang terdapat di Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 berisi Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Sesuai pula dengan Kebijakan pengelolaan sampah yang sesuai dengan Peraturan Walikota (Perwali) No. 38 Tahun 2018 yang berisi tentang Kebijakan dan Strategi Daerah Dalam Penggelolaan Sampah Rumah Tangga Menjadi Sampah Sejenis. Yang dimana isi di dalam Perwali tersebut memiliki stategi untuk menggurangi dan strategi dalam penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sejenis yang terdapat pada Pasal 2 ayat (1) Huruf a dan b, yang dimana salah satu strategi untuk menggurangi sampah rumah tangga dan sampah sejenis adalah penguatan komitmen pada Lembaga eksekutif dan lengislatif di daerah.
Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan untuk menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. Secara garis besar, kegiatan pengelolaan sampah meliputi: pengendalian timbulan sampah, pengumpulan sampah, pengangkutan, pengolahan dan pembuangan akhir. Pengelolaan sampah adalah usaha untuk mengatur atau mengelola sampah dari proses pewadahan, pengumpulan, pemindahan, pengangkutan, pengolahan, hingga pembuangan akhir (Suryani, 2014). Hal ini juga dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah sejenis Sampah Rumah tangga. Pengelolaan sampah adalah proses yang bertujuan untuk mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis dan menjadi ramah lingkungan (Martinawati, 2016). Pengelolaan sampah sebenarnya dilakukan dengan tujuan utamanya yaitu untuk memulihkan sumber daya alam.
Kegiatan mengelola sampah bisa dilakukan sendiri berdasarkan inisiatif warga sendiri sehingga tidak hanya menunggu campur tangan pemerintah. Pengelolaan sampah dapat dilakukan pada rumah tangga sendiri dengan cara memilah sampah organik dan sampah non-organik.
Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan untuk menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. Secara garis besar,
10
kegiatan pengelolaan sampah meliputi: pengendalian timbulan sampah, pengumpulan sampah, pengangkutan, pengolahan dan pembuangan akhir (Sejati, 2004). .Menurut Prajudi (1980) dalam. . Solehati (2005: 12) menyatakan bahwa pengelolaan merupakan. . pengendalian dan pemanfaatan semua faktor dan sumberdaya. . dimana diperlukan. . suatu perencanaan untuk. . mencapai tujuan yang dimaksud. Sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Pengelolaan. . Sampah Rumah. . Tangga dan Sampah Sejenis. . Sampah Rumah Tangga di Kota Balikpapan. . pada Pasal 1 ayat 11 yaitu penggelolaan sampah adalah kegiatan yang. . sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi. . pengurangan dan penanganan. . sampah. Yang berarti, dalam bentuk kegiatan. . pada penanganan. . sampah yang. . bermulai dari. . sumber atau timbulnya sampah sampai. . pada sampah tersebut. . akan musnah atau habis, termasuk pula kegiatan ikutan lainnya seperti. . mengikuti kegiatan 3R (Reduce, Reuse and Reycle). Reduce (Pengurangan volume/ jumlahnya), Reuse (Penggunaan kembali), dan Reycle (Daur ulang atau mengubah wujud dan bentuknya untuk dimanfaatkan lainnya).
Kota Balikpapan pada saat ini mempunyai permasalahan pengelolaan sampah yaitu dimana sebagian masyarakat membuang sampah tidak pada jam yang telah ditetapkan dan sampah yang dikumpulkan masyarakat di TPS sebagian diletakkan diluar TPS hal ini sangat berdampak pada kebersihan, estetika Kota dan jam pengangkutan sampah dari TPS bertambah, selain itu jumlah sampah yang dimana kian meningkat untuk tiap tahun ke tahunnya. Sampah rumah tangga meenjadi isu global yang secara mendesak untuk diselesaikan dan selalu dibutuhkan ketegasan dari pemimpin daerah untuk membuat solusinya. Dalam pengelolaan sampah yang ada di Kota Balikpapan ini kerjasama pemerintah dengan masyarakat sangatlah penting dengan menyesuaikan perencanaan yang akan dilakukan. Merubah perilaku masyarakat adalah suatu hal yang cukup sulit, namun jika memang dilakukan pembinaan secara terus-menerus maka akan mendapatkan hasil yang didapatkan walaupun perlu ada waktu sebanyak puluhan waktu lamanya.
11
Namun demikian, beberapa temuan penelitian yang menunjukkan bahwa peraturan-peraturan yang diterbitkan tersebut ternyata tidak serta merta untuk mengetahui tata kelola sampah di kota itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari temuan terdahulu yang menunjukkan bahwa tata kelola sampah di Pekanbaru yang masih belum terlaksana. Dengan masih belum terlaksananya tata kelola sampah tersebut pemerintah Pekanbaru pembentukan program Bank sampah di tahun 2016, pembentukan Bank Sampah tersebut yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap sampah dengan memanfaatkan kembali sampah yang telah di buang. Membedakan dengan penelitian. . ini adalah tata kelola pemerintah dalam membentuk Tempat Pengelolaan. . Sampah Terpadu (TPST) yang bertujuan untuk mengelola sampah (Pratama, 2018).
Selanjutnya, terdapat penelitian yang berisi tentang Solid waste management of local governments in the Western Province of Sri Lanka: An implementation analysis.
Penelitian ini membahas mengenai pengelolaan sampah padat (SMW) di Sri Lanka yang sebagian besar masih belum berhasil. Hasil dari penelitian yang dimana pemerintah daerah dengan kontibusi masyarakat yang berpengaruh tersebut terdapat keberhasilan dalam pelaksanaan program pengelolaan sampah berkelanjutan dan terdapat pula kurang berhasilnya pengelolaan sampah berkelanjutan terhadap pelaksanaannya dikarenakan masih ada beberapa masalah administratif di Sri Lanka (Fernando, 2019).
Berdasarkan apa yang telah dijelaskan diatas, Tata. . Kelola pemerintah daerah dalam pengelolaan. . sampah rumah tangga di Kota Balikpapan yang dimana dalam menerapkan strategi tersebut tentu saja akan berpengaruh terhadap penerapan langsung kepada masyarakat Kota Balikpapan. Sehubungan. . dengan hal tersebut peneliti tertarik untuk. . melakukan penelitian dengan judul “Public Private Patnership Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Di Kota Balikpapan”.
12 B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka terdapat rumusan masalahnya yaitu
1. Bagaimana Public Private Patnership Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Di Kota Balikpapan?
2. Apa Saja Faktor Penghambat Yang Mempengaruhinya?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk. . Mengetahui Penerapan Tata. . Kelola Pemerintah Daerah Dalam Pengelolaan Sampah Di Kota Balikpapan.
2. Untuk. . Mengetahui Faktor Penghambat Dengan Tata. . Kelola Pemerintah Dalam Mengelola Sampah Rumah Tangga Di Kota Balikpapan.
D. Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis
a. Memberikan kontribusi terutama pada bidang lingkungan hidup khususnya dalam penerapan Public Private Patnership dalam pengelolaan sampah rumah tangga di Kota Balikpapan.
b. Memberikan pengetahuan mengenai faktor penghambat apa saja dalam Public Private Patnership dalam penggelolaan sampah rumah tangga di Kota Balikpapan.
2. Secara Praktis
Adapun manfaat praktis dari penelitian ini adalah dapat memberikan saran atau rekomendasi kepada Pemerintah Kota Balikpapan (Dinas Lingkungan Hidup) yang terkait dengan Public Private Patnership dalam menggelola sampah rumah tangga di Kota Balikpapan.
3. Secara Akademis
13
a. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana strata satu (S1) Program Studi Ilmu Pemerintahan
b. Menjadi referensi bahan bacaan bagi penelitian selanjutnya terutama penelitian tentang kebijakan publik.
E. Definisi Konseptual
Definisi konseptual merupakan unsur penelitian yang menjelaskan sesuatu masalah yang hendak diteliti. Berdasarkan pada judul yang diangkat “Public Private Patnership Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Di Kota Balikpapan” dapat diambil dari beberapa konsep yang digunakan untuk dasar atau pedoman dalam menganalisa penelitian yang dilakukan. Konsep-konsep yang digunakan diantaranya sebagai berikut.
1. Konsep Public Private Patnership
Konsep Public Private Partnership (PPP) merupakan konsep yang bertujuan untuk memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. Dengan perlunya kemitraan ini karena pemerintah memiliki keterbatasan baik dari segi sumber daya manusia dan keuangan serta aspek pendukung lainnya (Mulyani, 2017) . Konsep kemitraan antara pemerintah dan swasta tidak dapat dihindari sebagai bagian dari pemecahan masalah. Dengan demikian, kerjasama dalam bentuk kemitraan dianggap sebagai langkah yang signifikan bagi para pemangku kepentingan. Perubahan pemerintahan menjadi lebih terbuka, menghasilkan konsep kemitraan yang melibatkan sektor swasta dalam program pembangunan (Murtadho & Rozqin, 2018). Public-Private Partnership merupakan hasil perjalanan panjang dari paradigma dalam administrasi publik dengan fungsi melayani masyarakat. Pemerintah menerapkan kebijakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. Hal ini juga berkaitan dengan aspek manajemen, untuk melaksanakan kegiatan administrasi publik (Setiawan & Warsa, 2018).
Dalam pendekatan kemitraan atau patnership yang telah menerima dukungan
14
luas dari seluruh spektrum poltik, dalam pembuat kebijakan, pejabat dan msayarakat lokal (Osborne: 2002).
Public Private Patnership adalah suatu perjanjian atau kontrak antara pemerintah dengan sektor swasta yang antara lain : a) Sektor swasta mengambil alih fungsi pemerintah selama periode waktu yang ditentukan, b) Sektor swasta yang menerima kompensasi dari pelaksanaan fungsi tersebut baik langsung maupun tidak langsung, c) Sektor swasta yang dibebani timbulnya resiko dari pelaksanaan fungsi tersebut, d) Adapun fasilitas publik, sumber-sumber daya yang lain dapat dialihkan sektor swasta atau dapat digunakan oleh sektor swasta atau dapat digunakan oleh sektor swasta.
1. Pengelolaan Sampah
Pengelolaan merupakan suatu proses atau cara mengolah, sedangkan sampah merupakan benda yang padat dari bahan basah (organik) maupun kering (anorganik) yang sudah tidak terpakai lagi. Pengelolaan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang mengemukakan tentang sebuah pelaksanaan, perencanaan serta pengawasan agar mencapai tujuan yang ditetapkan (Adisasmita, 2011: 22).
.Sebuah sistem pengelolaan . sampah terpadu yang efektif harus mempertimbangkan . bagaimana. . mencegah, mendaur ulang, dan mengelola limbah padat. . dengan cara. . yang paling efektif demi melindungi kesehatan manusia dan lingkungan. .Pengelolaan sampah terpadu tergantung kepada kebutuhan dan . kondisi . setempat, kemudian memilih dan menggabungkan aktivitas pengelolaan limbah yang . paling . tepat untuk kondisi tersebut. .Kegiatan pengelolaan sampah . terpadu yang utama adalah pencegahan sampah, daur ulang, dan . pengomposan.
.Sistem . pembuangan sampah harus dirancang dengan baik, dibangun, dan . dikelola dengan cara landfill.
15
Pada Peraturan Daerah Kota Balikpapan . Nomor . 13 Tahun . 2015 tentang Penggelolaan . Sampah . Rumah . Tangga dan Sejenis Sampah Rumah Tangga. Pada Pasal 1 Ayat 11, Pengelolaan sampah adalah suatu kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan berkesinambungan . yang meliputi pengurangan dan penanganan . sampah. .Yang . berarti bentuk kegiatan penanganan sampah yang mulai dari sumber atau . timbulnya sampah hingga sampai pada sampah tersebut musnah (habis) dan termasuk kedalam kegiatan lainnya seperti kegiatan 3R (Reduce, Reuse, dan Reycle).
2. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
.Pengelolaan . sampah . bersasis . masyarakat dengan . pelaksanaan prinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle). Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang dapat digunakan . kembali dengan . fungsi yang sama ataupun fungsi . lainnya.
Reduce berarti . meminimalisi atau mengurangi barang atau material serta dapat menimbulkan sampah. Recycle berarti mendaur ulang barang atau benda yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang berguna atau barang baru yang bermanfaat (Dwiyanto, 2011).
Pengelolaan . sampah . masyarakat juga diartikan . sebagai . suatu . pendekatan pengelolaan sampah . yang berdasarkan pada partisipasi masyarakat. Pemerintah dan . beserta lembaga . pemerintah lainnya hanya sebagi fasilitator dan motivator dalam mendukung pengelolaan sampah di masyarakat (Kastaman, 2004). Pada . rangkaian . pelaksanaan . . kegiatan yang meliputi fungsi-fungsi manajemen . pengelolaan seperti perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan dalam . mencapai . tujuan . tertentu (Adisasmita, 2011).
F. Definisi Operasional
Definisi Operasional merupakan suatu petunjuk atau turunan yang berasal dari rumusan masalah dengan menjawab pertanyaan secara keseluruhan, sehingga mengambil indikator sebagai penilaian yang akan dibahas pada di pembahasan.
Definisi operasional yang berupa langkah penting di dalam penerlitian dikarenakan
16
berperan sebagai alat untuk mengukur variabel dan dapat dilihat melalui indikator- indikator yang ada atau yang terjadi. Pada penelitian yang terkait tentang tata . . kelola pemerintahan daerah . dalam mengelolah sampah . . rumah tangga di Kota Balikpapan indikator- indikatornya yaitu:
1. Kebijakan Pengelolaan Sampah
2. Bentuk kerjasama Public Private Patnership
3. Pelaksanaan Public Private Patnership dalam Pengelolaan sampah.
4. Faktor Penghambat Public Private Patnership dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga.
G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini yang menggunakan metode kualitatif. Menurut (John W. Creswell, 2010) . dalam . penelitian kualitatif . ini yang berguna untuk membantu . menganalisa data . maupun . menganalisa keadaan sosial . dan kemanusiaan. Selain . itu, penelitian ini . juga sangat tergantung pada informasi dari objek (partisipan) yang meliputi ruang lingkup yang yang luas, pertanyaan yang bersifat umum, pengumpulan data yang sebagian besar terdiri dari kata (teks) yang bersumber dari partisipan, menjelaskan dan melakukan suatu proses analisis yang mendalam.
2. Sumber . Data
Sumber . data . yang . digunakan . didalam . penelitian . ini ada 2 yaitu data primer dan . data sekunder:
a. Data . primer adalah data . yang diperoleh . langsung dari objek dan subjek yang . dibahas . melalui wawancara dengan berbagai pihak yang terlibat serta melalui . berbagai kegiatan observasi.
b. Data . Sekunder adalah yang didapatkan . dari sumber . data . yang diperoleh dari jurnal, buku, laporan dan arsip-arsip .yang ditemukan dari
17
lembaga/instansi . terkait, maupun . dari dokumen . atau naskah kebijakan seperti dari Undang-Undang, Peraturan Pemerintah dan data-data lainnya yang. . relevan dengan kajian penelitian.
3. Subjek . Penelitian
Subjek . penelitian . ini adalah . informan yang dapat memberikan informasi secara . lengkap dan mendalam . kepada . peneliti yang berkaitan dengan tema yang telah . ditentukan. Adapun . subyek dalam penelitian ini adalah:
a. Kepada Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan.
b. Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan.
c. Kepala Bidang Penetaan Hukum dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan.
d. Kepala UPTD TPA Manggar.
e. Masyarakat Kota Balikpapan.
3.Teknik . Pengumpulan . Data
Teknik pengumpulan data dari . penelitian ini yang . dilakukan untuk menghimpun data . yang dibutuhkan . serta dapat memberikan suatu gambaran dari aspek . yang akan diteliti. Berdasarkan . hal tersebut peneliti menggunakan observasi, . wawancara, dokumentasi . yang . akan diuraikan . sebagai berikut:
a. Observasi. .
Observasi . merupakan . cara atau proses dalam . pengumpulan data melalui pengamatan . yang dilakukan secara sistematis terhadap suatu obyek yang ingin diteliti (Sugiyono, 2010). Observasi ini juga dapat digambarkan seperti dengan kegiatan . pengamatan . secara langsung dengan harapan peneliti mampu
. memahami . dengan baik obyek penelitian tersebut.
b. Wawancara. .
Wawancara adalah . teknik . pengumpulan data . dengan melakukan pengajuan beberapa . pertanyaan melalui proses Tanya jawab kepada
18
narasumber yang beguna . untuk melengkapi kebutuhan data yang dibutuhkan . terhadap . permasalahan . yang ingin diangkat.
c. Dokumentasi. . .
Dokumentasi merupakan . suatu aktivitas atau teknik dalam pengumpulan data . yang melalui . pencatatan baik dari dokumentasi atau arsip . terhadap suatu . dokumen . yang ada di lapangan yang dapat berfungsi sebagai data . pelengkap dan data pendukung dalam teknis yang masih berhubungan . dengan masalah- masalah yang . diteliti seperti arsip-arsip, catatan-catatan, buku . laporan, monografi, . statistic dan sebagainya.
4. Lokasi Penelitian. .
Penelitian ini . bertempat di salah satu Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan yang berlokasi di Jalan Ruhui Rahayu 1, Kecamatan Balikpapan Selatan, Kalimantan Timur. Dimana . lokasi . penelitian tersebut dengan harapan dapat . membantu peneliti dalam mendapatkan . informasi yang dibutuhkan . berkaitan . langsung dengan . permasalahan yang di angkat.
5. Teknik . Analisa . Data
Peneliti . menggunakan menggunakan . metode . kualitatif yang berfungsi untuk mendeskripsikan data . yang . telah dikumpulkan . baik dalam bentuk kata- kata maupun gambar, data . yang . berasal dari isi naskah, wawancara, catatan lapangan, dokumen dan data yang menunjang lainnya. (John W. Creswell, 2010).
Beberapa langkah-langkah . dalam . menganalisis . data . secara mendetail, sebagai berikut:
a. Pengumpulan Data (Data Collection)
Data . yang diperoleh melalu . hasil observasi, wawancara dan dokumentasi dicatat kedalam catatan . lapangan, terdiri dari deskripsi. Catatan deskripsi adalah data alami yang berisi tentang apa yang peneliti lihat, dengar, rasakan dan dialami sendiri. Lalu memasukkan catatan yang memuat kesan, komentar peneliti tentang apa temuan yang dijumpai sebagai bahan rencana pengumpulan data untuk tahap berikutnya.
19 b. Reduksi . Data . (Data Reduction)
.Reduksi . data adalah proses seleksi, penyederhanaan dan abstraksi. Cara mereduksi . data adalah . dengan membuat . ringkasan atau urutan singkat, melakukan seleksi, menggolongkan . pola-pola melalui transkip, membuat fokus . bagian yang . tidak penting agar bisa ditarik kesimpulan. Berdasarkan . data yang . berasal dari wawancara . dengan subjek penelitian dan dokumentasi yang . didapat peneliti. Kumpulan data akan dipilih apakah relevan dan . sesuai . dengan . rumusan . masalah . dan . tujuan . penelitian akan disiapkan . untuk proses penyajian data.
c. Penyajian . Data . (Data Display)
.Penyajian . data berisi . sekumpulan informasi . yang tersusun sehingga memberikan kemungkinan penarikan kesimpulan . dan pengambilan tindakan.
Agar . sajian data . tidak . menyimpang dari pokok permasalahan maka sajian . data dapat diwujudkan . dalam bentuk . matrik, grafis, jaringan atau bagan sebagai . wadah panduan informasi . tentang apa yang terjadi. Data disajikan sesuai dengan apa . yang . diteliti.
.
d. Penarikan . Kesimpulan . (Conclusion)
.Penarikan . kesimpulan . merupakan usaha . untuk mencari atau memahami . makna, mengenai . alur sebab . akibat . dari penelitian tersebut. Kesimpulan yang bisa ditarik segera diperiksan tentang kebeneran penelitian dengan . cara melihat dan mempertanyakan kembali sambil melihat catatan lapangan agar memperoleh pemahaman yang lebih tepat. Selain itu juga . dapat .. dilakukan dengan . mendiskusikan.