1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Minat beli terjadi ketika konsumen memiliki keinginan dalam membeli sebuah produk/jasa yang sebelumnya telah dilakukan evaluasi terhadap produk/jasa yang akan dibeli. Minat beli ulang sendiri timbul karena konsumen telah merasa puas akan kualitas produk/jasa yang ditawarkan oleh penjual. Pentingnya minat beli ulang ini menjadi tolak ukur sukses atau tidaknya suatu produk yang dipasarkan. Minat beli ulang sendiri juga dapat dilihat pada kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian.
Tingkat kepuasan yang tinggi mencerminkan minat beli ulang produk yang tinggi pula. Minat beli ulang yang tinggi pada suatau perusahaan ditandai dengan seringnya aktivitas penggunaan produk atau jasa, keinginan konsumen untuk melakukan pembelian ulang cepat, merekomendasikan kepada konsumen lain. konsumen tidak hanya datang lagi atau tidak hanya merekomendasikan bahkan mengajak orang lain dalam melakukan pembelian ulang. Hal penting yang harus diperhatikan perusahaan saat ini adalah bagaimana perusahaan harus mampu mempertahankan serta meningkatkan
minat beli ulang konsumen tetap tinggi agar perusahaan dapat terus berkembang.
Tren pemasaran yang di saat ini banyak dimanfaatkan oleh perusahaan untuk meningkatkan minat beli konsumen dengan cara memasarkan melalui social media marketing. Pemasaran sosial media merupakan bentuk
pemasaran yang dipakai untuk menciptakan kesadaran, pengakuan, ingatan dan bahkan tindakan terhadap suatu merek, produk, bisnis, individu, atau kelompok melalui web, jejaring sosial dan lainnya. Social media marketing di praktekan untuk melibatkan pelanggan pada lokasi sosial online dimana para pelanggan secara alami menghabiskan waktu mereka (David Evans, 2010).
Social media marketing semakin memudahkan para pelaku usaha
untuk berinteraksi dengan para pelanggannya secara online. Seperti yang bisa kita rasakan akibat efek pandemi Covid-19 ini, penggunaan media sosial semakin meningkat, mungkin hampir seluruh masyarakat telah memilih media sosial sebagai alat untuk mengetahui serta bertukar informasi, bahkan disaat waktu luang kebanyakan mereka akan menggunakan media sosial juga, kejadian ini mulai meningkat sejak diberlakukannya PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) di Indonesia.
Peningkatan pengunaan media sosial dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Media sosial yang paling populer di Indonesia tahun 2020-2021
posisi pertama ini diduduki oleh youtube, kebanyakan masyarakat menggunakannya sebagai media hiburan. Posisi kedua diduduki oleh whatsapp yang dinilai sangat efektif serta efisien untuk melakukan pertukaran informasi satu sama lain, juga digunakan oleh pelaku usaha sebagai alat untuk menyebarkan promosi dalam bisnisnya. Lalu posisi ketiga diduduki oleh instagram yang merupakan salah satu bagian dari media sosial yang sangat banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia.
Gambar 1.1 Penggunaan Media Sosial Paling Populer di Indonesia Sumber: https://www.beritasatu.com
Mayoritas perusahaan pada saat ini dalam memasarkan produk yang akan dijual melalui media sosial yaitu instagram. Sesuai dengan yang kita bahas bahwa dalam meningkatkan minat beli para pelaku usaha kebanyakan menggunakan instagram sebagai tempat promosinya karena dinilai cepat mendapatkan feedback dan sangat menguntungkan. Aktivitas media sosial tersebut dapat memberikan dampak baik bagi perusahaan seperti mendapatkan respon sosial dari para konsumen untuk memperluas merek, dan meyakinkan
masyarakat bahwa suatu perusahaan tersebut telah memiliki merek yang kuat dan konsumen menyadari suatu produk tersebut itu ada.
Brand Awareness (kesadaran merek) dapat diartikan sebagai
kemampuan untuk mengidentifikasi (mengakui atau mengingat) merek dalam kategori, dengan cukup rinci untuk melakukan pembelian (Kotler &Keller, 2009). Konsep kesadaran merek sendiri diikuti dengan kemampuan konsumen dalam mengenali atau mengingat suatu merek dengan cukup detail untuk selanjutnya dilakukan pembelian. Brand awareness dapat dikatakan sebagai tahap awal bagi para konsumen untuk mengetahui kualitas terhadap produk atau merek yang ditawarkan, semakin tinggi tingkat konsumen akan kesadaran merek maka akan menjadikan ekuitas merek semakin tinggi.
Apabila kesadaran itu sangat rendah maka hampir dipastikan bahwa ekuitas mereknya juga rendah (Amalia, 2014).
Starbucks merupakan salah satu kedai kopi yang memliki kesadaran merek sangat kuat, meskipun telah banyak pesaing yang bermunculan namun Starbucks tetap dikenal oleh para masyarakat dan tetap diminati. Starbucks merupakan kedai kopi yang mengutamakan kepuasan pelanggan serta menerapkan strategi pemasaran integrated marketing actives untuk memenuhi keinginan konsumennya. Strategi tersebut dapat menjadikan konsumen loyal serta memperoleh merek yang kuat.Starbucks juga memasarkan produknya dengan social media marketing yaitu melalui instagram, bisa dilihat bahwa
aktivitas yang dilakukan pada instagram lebih interaktif dibandingkan dengan para pesaing sejenis lainnya.Covid-19 yang melanda di hampir seluruh dunia ini menjadikan hampir dari semua kalangan juga menggunakannya. Aktivitas penggunaan instagram bisa kita lihat di dibawah ini :
Gambar 1.2 Peningkatan Pengguna Instagram di Indonesia Tahun 2020
Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id
Perkembangan era digital saat adanya covid-19 ini membuat para pelaku usaha untuk berfikir kreatif dalam memanfaatkan hal tersebut, seperti Starbucks untuk meningkatkan minat beli ulang konsumen ia memasarkan produknya melalui instagram dengan mengupload berbagai promosi mulai dari menu baru bahkan diskon. Starbucks akan tetap meningkatkan kinerjanya di tengah kompetisi yang semakin sulit ini untuk mempertahankan merek yang telah dibangunnya sejak dahulu, untuk melihat seberapa tingginya merek yang dimiliki oleh Starbucks biasanya dilakukan pemeringkatan oleh Top Brand Award untuk mengurutkan kedai kopi di Indonesia yang paling populer.
Pada tabel dibawah ini menunjukkan bahwa Starbucks telah menduduki peringkat pertama di tahun 2020, ini menandakan bahwa Starbucks telah sukses dalam menjalankan bisnisnya dan memiliki merek yang kuat sehingga para konsumen tetap loyal akan produknya.
Tabel 1.1 Peringkat Kedai Kopi Tahun 2020 Oleh Top BrandAward
Sumber:https://www.topbrand-award.com
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kristiani et al., (2017) menyatakan bahwa social media marketing berpengaruh terhadap minat beli ulang. Peneltian selanjutnya yang dilakukan oleh Mahendra &
Nugrahani (2020) menyatakan bahwa social media marketing berpengaruh terhadap brand awareness. Haryadi et al., (2021) menyatakan bahwa brand awareness berpengaruh secara signifikan terhadap minat beli ulang. Selain itu
penelitian yang dilakukan oleh Fahmi et al., (2020) yang menyatakan bahwa social media marketing dan brand awareness berpengaruh secara positif dan
signifikan terhadap minat beli ulang.
Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan variabel social media marketing, brand awareness terhadap minat beli ulang konsumen. Judul yang ingin diangkat peneliti adalah
“Pengaruh Social Media Marketing terhadap Minat Beli Ulang Melalui Brand PERINGKAT COFFEE SHOP 2020
NO BRAND TBI 2020
1 Starbucks 43.9% TOP
2 The Coffee Bean & Tea Leaf 11.7% TOP
3 Ngopi Doeloe 8.2%
Awareness Sebagai Variabel Mediator (Studi Pada Konsumen Starbucks di
Kota Malang).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang terjadi, maka rumusan masalah tersebut sebagai berikut :
a. Bagaimana social media marketing, minat beli ulang, dan brand awareness pada konsumen Starbucks di Kota Malang
b. Apakah social media marketing berpengaruh terhadap minat beli ulang pada konsumen Starbucks di Kota Malang?
c. Apakah social media marketing berpengaruh terhadap brand awareness pada konsumen Starbucks di Kota Malang?
d. Apakah brand awareness berpengaruh terhadap minat beli ulang pada konsumen Starbucks di Kota Malang?
e. Apakah brand awareness memediasi pengaruh antara social media marketing terhadap minat beli ulang pada konsumen Starbucks di
Kota Malang?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan, maka tujuan penelitian tersebut sebagai berikut :
a. Untuk mendiskripsikan tentang social media marketing, minat beli ulang, dan brand awareness pada konsumen Starbucks di Kota Malang.
b. Untuk mengetahui social media marketing berpengaruh terhadap minat beli ulang pada konsumen Starbucks di Kota Malang.
c. Untuk mengetahui social media marketing berpengaruh terhadap brand awareness pada konsumen Starbucks di Kota Malang.
d. Untuk mengetahui brand awareness berpengaruh terhadap minat beli ulang pada konsumen Starbucks di Kota Malang.
e. Untuk mengetahui brand awareness yang memediasi pengaruh antara social media marketing terhadap minat beli ulang pada konsumen
Starbucks di Kota Malang.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang telah dijelaskan, maka manfaat penelitian tersebut sebagai berikut :
a. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan perencanaan perusahaan untuk mengetahui minat beli ulang para konsumen, khususnya dari social media marketing dan brand awareness.
Sehingga dapat dijadikan pertimbangan dalam pengembangan strategi di masa yang akan datang.
b. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dukungan pengetahuan serta pemahaman terhadap kajian teoritis lebih khusus dalam bidang yang terkait dengan social media marketing dan brand awareness pada minat beli ulang serta dapat dijadikan sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti tentang variabel tersebut