SKRIPSI
RANCANG BANGUN KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM UNTUK MENINGKATKAN KINERJA PELAYANAN PENUNJANG MEDIS BERBASIS WEB DI RUMAH SAKIT
MEDIKA BSD DENGAN METODE RAD
Disusun Oleh:
ARMANDO 11140930000123
Dosen Pembimbing:
1. Yuni Sugiarti, M.Kom 2. Muhammad Nur Gunawan, MBA
PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2021
i
SKRIPSI
RANCANG BANGUN KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM UNTUK MENINGKATKAN KINERJA PELAYANAN PENUNJANG MEDIS BERBASIS WEB DI RUMAH SAKIT
MEDIKA BSD DENGAN METODE RAD
Disusun Oleh:
ARMANDO 11140930000123
Dosen Pembimbing:
1. Yuni Sugiarti, M.Kom 2. Muhammad Nur Gunawan, MBA
PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2021
i
HALAMAN JUDUL
RANCANG BANGUN KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM UNTUK MENINGKATKAN KINERJA PELAYANAN PENUNJANG MEDIS BERBASIS WEB DI RUMAH SAKIT MEDIKA BSD DENGAN METODE
RAD
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sistem Informasi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Disusun Oleh:
ARMANDO 11140930000123
PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2021
ii
LEMBAR PENGESAHAN
iii
LEMBAR PERNYATAAN
iv
PENGESAHAN UJIAN
v
ABSTRAK
Armando – 11140930000123, Rancang Bangun Knowledge Management System Untuk Meningkatkan Kinerja Pelayanan Penunjang Medis Berbasis Web di Rumah Sakit Medika BSD dengan Metode RAD. Di bawah bimbingan Yuni Sugiarti dan M. Nur Gunawan.
Saat ini, Rumah Sakit Medika BSD memiliki upaya untuk tetap memastikan bahwa tindakan petugas penunjang medis harus sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan dengan adanya perkembangan pola untuk suatu tindakan penunjang medis mengharuskan pihak Rumah Sakit untuk mengembangkan SOP tersebut. Selain itu, bagian Diklat mengalami kesulitan untuk membagikan dokumen pelatihan kepada seluruh staf penunjang medis pada suatu departemen, karena materi pelatihan hanya didapatkan oleh staf yang mengikuti pelatihan saja.
Pada prosesnya, saat ini pembagian materi dokumen pelatihan dilakukan dengan cara sharing antar petugas satu dengan yang lainnya, hal tersebut akan memakan waktu yang cukup lama karena masing-masing petugas memiliki jam kerja yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan Knowledge Management System (KMS) pada bagian pelayanan penunjang medis di Rumah Sakit Medika BSD dalam membantu meningkatkan kualitas pengetahuan yang dapat meningkatkankan pelayanan rumah sakit dengan pengetahuan yang dimiliki, serta menjadikan Knowledge Management System sebagai media untuk berbagi dan mengembangkan pengetahuan terkait bidangnya masing-masing sesama petugas penunjang medis. Adapun metode penelitian yang digunakan untuk penelitian ini menggunakan metode wawancara, observasi dan studi pustaka untuk mengumpulkan data data RAD serta UML untuk metode pengembangan sistem.
Hasil dari penelitian ini adalah terciptanya proses pendokumentasian dan pengembangan knowledge yang dimiliki oleh seluruh Departemen Penunjang Medis di Rumah Sakit Medika BSD menjadi tersimpan secara terpusat, yang berguna untuk memudahkan dan mengurangi waktu pencarian kembali knowledge yang dimiliki.
Kata Kunci: Sistem Informasi, Knowledge Management System, Analisa Perancangan, Rapid Application Development, Unified Modeling Languange.
V BAB + 222 Halaman + lv Halaman + 96 Gambar + 36 Tabel + Pustaka Acuan (51, 2003-2018)
vi
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Skripsi dengan judul “Rancang Bangun Knowledge Management System Untuk Meningkatkan Kinerja Pelayanann Penunjang Medis Berbasis Web di Rumah Sakit Medika BSD dengan Metode RAD”. Laporan ini disusun sebagai syarat mata kuliah praktek kerja lapangan dan syarat menyusun skripsi.
Dalam penyusunan laporan ini penulis telah mendapat banyak bantuan dan bimbingan serta semangat dari berbagai pihak. Tanpa bantuan dari berbagai pihak, tentunya proses penyusunan laporan ini akan sangat sulit untuk diselesaikan. Oleh karena itu, peneliti ingin menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Nashrul Hakiem, S.Si., M.T., Ph.D, selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak A’ang Subiyakto, PhD, selaku Ketua Program Studi Sistem Informasi, serta BapakNuryasin, M.Kom selaku sekretaris Program Studi Sistem Informasi.
3. Ibu Yuni Sugiarti, M.Kom., selaku Dosen Pembimbing I yang selalu memberikan bimbingan, arahan serta motivasi kepada penulis sehingga skripsi ini selesai dengan baik
4. Bapak M Nur Gunawan, MBA., selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, motivasi, dan arahan kepada penulis sehingga skripsi ini bisa selesai dengan baik.
5. Seluruh Dosen, Staf Karyawan Fakultas Sains dan Teknologi, khususnya Program Studi Sistem Informasi yang telah memberikan bantuan dan kerjasama dari awal perkuliahan.
6. Kedua Orang Tua Penulis, yaitu Ibu Suzanna dan Ayah Fahrizal yang telah memberikan segalanya untuk penulis, kesabaran yang begitu besar, kasih sayang yang tak ternilai, serta do’a yang tak pernah berhenti mengalir untuk penulis.
7. Terima kasih kepada kakak tercinta yaitu Ferraldi, yang telah men-support penulis dalam segala bidang bahkan hampir selalu ada ketika penulis
vii
membutuhkan bantuan dan motivasi sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
8. Teman-teman CCIT dan kelas SI A dan B yang memberikan motivasi kepada penulis dalam proses pengerjaan skripsi. Terkhusus kepada Hasbi, Fardhan, Anindito, Lutfan dan banyak yang lainnya, yang sudah berjuang bersama untuk menyelesaikan skripsi.
9. Seluruh pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan yang disebabkan keterbatasan pengetahuan penulis. Untuk itu kiranya, pembaca dapat memaklumi atas kekurangan dalam laporan ini.
Akhir kata penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.
Jakarta, Januari 2021
Armando
viii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
LEMBAR PERNYATAAN ... iii
PENGESAHAN UJIAN ... iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR TABEL ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 8
1.3 Rumusan Masalah ... 9
1.4 Batasan Penelitian ... 9
1.5 Tujuan Penelitian ... 10
1.6 Manfaat Penelitian ... 11
1.7 Metode Pengumpulan Data ... 12
1.7.1 Metode Pengumpulan Data ... 12
1.7.2 Metode Pengembangan Sistem ... 13
1.8 Sistematika Penulisan ... 14
BAB II LANDASAN TEORI ... 15
2.1 Pengertian Rancang Bangun ... 15
2.2 Konsep Dasar Sistem Informasi ... 15
2.2.1 Pengertian Sistem ... 15
2.2.2 Pengertian Informasi ... 17
2.2.3 Pengertian Sistem Informasi ... 17
2.3 Metodologi Penelitian ... 19
2.4 Metode Pengumpulan Data ... 21
2.5 Metode Rapid Application Development (RAD) ... 22
2.6 Konsep Dasar Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management) ... 24
2.6.1 Pengetahuan (Knowledge) ... 24
2.6.2 Konversi Knowledge ... 27
ix
2.6.3 Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management) ... 30
2.6.4 Knowledge Management Process ... 36
2.6.5 Knowledge Management System ... 38
2.7 Kinerja Penunjang Medis Rumah Sakit ... 44
2.8 Pengujian White-Box ... 45
2.9 Pengujian Black-Box ... 46
2.10 Unified Modeling Language ... 47
2.10.1 Diagram-diagram UML ... 48
2.11 PHP ... 53
2.12 XAMPP dan PHPMyAdmin ... 54
2.13 CodeIgniter ... 55
2.14 Microsoft Visual Studio Code ... 55
2.15 Basis Data ... 56
2.16 Database MySQL ... 57
BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 59
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 59
3.2 Perangkat dan Data Penelitian ... 59
3.3 Prosedur Penelitian ... 59
3.3.1 Metode Pengumpulan Data ... 59
3.3.2 Observasi ... 60
3.3.3 Wawancara ... 60
3.3.4 Studi Pustaka ... 61
3.3.5 Research Stage Pengembangan Knowledge Management System .. 79
3.3.6 Prototype Knowledge Management System Untuk Meningkatkan Kinerja Pelayanan Penunjang Medis Berbasis Web di Rumah Sakit Medika BSD dengan Metode RAD ... 80
3.4 Metode Pengembangan Sistem ... 81
3.5 Kerangka Berpikir ... 85
BAB IV ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM ... 86
4.1 Requirements Planning ... 86
4.1.1 Gambaran Umum Rumah Sakit Medika BSD ... 86
4.1.1.1 Profil RS Medika BSD ... 86
4.1.1.2 Visi, Misi dan Nilai Inti RS Medika BSD ... 87
4.1.1.3 Logo RS Medika BSD ... 87
x
4.1.1.4 Struktur Organisasi RS Medika BSD ... 88
4.1.1.5 Tugas dan Fungsi Penunjang Medis di RS Medika BSD ... 88
4.1.2 SECI Model ... 88
4.1.2.1 Sosialisasi (Socialization) ... 88
4.1.2.2 Ekseternalisasi (Externalization) ... 89
4.1.2.3 Kombinasi (Combination) ... 89
4.1.2.4 Internalisasi (Internalization) ... 89
4.1.3 Analisis Core Process Knowledge Management (Data Primer RS Medika BSD) ... 90
4.1.3.1 Identifikasi Pengetahuan (Knowledge Identification) ... 90
4.1.3.2 Akuisisi Pengetahuan (Knowledge Acquisition) ... 91
4.1.3.3 Pengembangan Pengetahuan (Knowledge Development) ... 91
4.1.3.4 Berbagi Pengetahuan (Knowledge Sharing/Distribution) ... 92
4.1.3.5 Pemanfaatan Pengetahuan (Knowledge Utilization) ... 92
4.1.3.6 Penyimpanan Pengetahuan (Knowledge Retention) ... 92
4.1.3.7 Tujuan Pengetahuan (Knowledge Goals) ... 92
4.1.4 Analisis Manajemen Pengetahuan ... 94
4.1.4.1 Analisis SDM Knowledge Management System ... 94
4.1.4.2 Analisis Ketersediaan Pengetahuan ... 97
4.1.4.3 Analisis Proses Pemetaan Pengetahuan ... 98
4.1.4.4 Analisis Sistem Berjalan ... 99
4.1.4.5 Analisis Kebutuhan Sistem ... 103
4.1.4.6 Analisis Sistem Usulan ... 104
4.2 Desain Blueprint Knowledge Management System ... 109
4.2.1 Desain Proses ... 110
4.2.1.1 Use Case Diagram ... 110
4.2.1.2 Activity Diagram ... 138
4.2.2 Desain Database ... 149
4.2.2.1 Objek Potensial ... 149
4.2.2.2 Class Diagram ... 151
4.2.2.3 Mapping Kardinalitas ... 152
4.2.2.4 Scheme Database ... 153
4.2.2.5 Matriks CRUD ... 154
4.2.2.6 Spesifikasi Database ... 158
xi
4.2.2.7 Sequence Diagram ... 166
4.2.3 Desain Interface ... 182
4.2.3.1 Perancangan Struktur Menu ... 182
4.2.3.2 Perancangan Interface ... 183
4.3 Implementation ... 205
4.3.1 Pengkodean (Coding) ... 205
4.3.2 Pengujian (Testing) ... 206
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 226
5.1 Kesimpulan ... 226
5.2 Saran ... 227
DAFTAR PUSTAKA ... xvii
LAMPIRAN I WAWANCARA ... xxi
LAMPIRAN II USER INTERFACE ... xxiii LAMPIRAN III SOURCE CODE ... xlvi LAMPIRAN IV DOKUMEN – DOKUMEN ... l
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Siklus RAD (Kendall, 2010) ... 23
Gambar 2. 2 SECI model (Nonaka & Takeuchi, 1995) ... 30
Gambar 2. 3 Building Blocks dari Knowledge Management (Dirgantoro, 2014) . 35 Gambar 2. 4 Knowledge Management Processes (Fernandez & Sabherwal,) ... 36
Gambar 2. 5 Contoh Use Case Diagram (Sugiarti, 2013) ... 49
Gambar 2. 6 Contoh Class Diagram (Sugiarti, 2013) ... 51
Gambar 2. 7 Contoh Activity Diagram (Sugiarti, 2013) ... 52
Gambar 2. 8 Contoh Sequence Diagram (Sugiarti, 2013) ... 53
Gambar 3. 1 Research Stage Pengembangan Knowledge Management System ... 80
Gambar 3. 2 Prototype Knowledge Management System ... 81
Gambar 3. 3 Kerangka Berpikir ... 85
Gambar 4. 1 Logo RS Medika BSD (http://rs-medikabsd.co.id/) ... 87
Gambar 4. 2 Struktur Organisasi RS Medika BSD ... 88
Gambar 4. 3 Analisis Pemetaan Pengetahuan ... 99
Gambar 4. 4 Rich Picture Knowledge Management Penunjang Medis di Rumah Sakit Medika BSD ... 101
Gambar 4. 5 Rich Picture Sistem Usulan Knowledge Management Penunjang Medis di Rumah Sakit Medika BSD ... 105
Gambar 4. 6 Use Case Diagram ... 116
Gambar 4. 7 Activity Diagram Mengelola User ... 139
Gambar 4. 8 Activity Diagram Login ... 140
Gambar 4. 9 Activity Diagram Mengelola Dokumen ... 141
Gambar 4. 10 Activity Diagram Mengelola Case ... 142
Gambar 4. 11 Activity Diagram Mengelola Solusi ... 143
Gambar 4. 12 Activity Diagram Mengelola Forum ... 144
Gambar 4. 13 Activity Diagram Mengelola Komentar Forum ... 145
Gambar 4. 14 Activity Diagram Mengelola Notulensi Forum ... 146
Gambar 4. 15 Activity Diagram Mengelola Berita ... 147
Gambar 4. 16 Activity Diagram Logout ... 148
Gambar 4. 17 Class Diagram... 151
Gambar 4. 18 Mapping Kardinalitas ... 152
xiii
Gambar 4. 19 Scheme Database ... 153
Gambar 4. 20 Sequence Diagram Mengelola Akun (Registrasi) ... 166
Gambar 4. 21 Sequence Diagram Login ... 166
Gambar 4. 22 Sequence Diagram Mengelola Akun (Edit) ... 167
Gambar 4. 23 Sequence Diagram Mengelola Akun (Hapus) ... 168
Gambar 4. 24 Sequence Diagram Mengelola Dokumen (Tambah) ... 168
Gambar 4. 25 Sequence Diagram Mengelola Dokumen (Edit) ... 169
Gambar 4. 26 Sequence Diagram Mengelola Dokumen (Hapus)... 170
Gambar 4. 27 Sequence Diagram Mengelola Case (Tambah) ... 170
Gambar 4. 28 Sequence Diagram Mengelola Case (Hapus) ... 171
Gambar 4. 29 Sequence Diagram Mengelola Solusi (Tambah) ... 172
Gambar 4. 30 Sequence Diagram Mengelola Solusi (Edit) ... 173
Gambar 4. 31 Sequence Diagram Mengelola Solusi (Hapus) ... 174
Gambar 4. 32 Sequence Diagram Mengelola Forum (Tambah) ... 175
Gambar 4. 33 Sequence Diagram Mengelola Forum (Hapus) ... 175
Gambar 4. 34 Sequence Diagram Mengelola Komentar (Tambah) ... 176
Gambar 4. 35 Sequence Diagram Mengelola Komentar (Hapus) ... 177
Gambar 4. 36 Sequence Diagram Mengelola Notulensi (Tambah) ... 178
Gambar 4. 37 Sequence Diagram Mengelola Notulensi (Hapus) ... 179
Gambar 4. 38 Sequence Diagram Mengelola Berita (Tambah) ... 180
Gambar 4. 39 Sequence Diagram Mengelola Berita (Edit) ... 180
Gambar 4. 40 Sequence Diagram Logout ... 181
Gambar 4. 41 Rancangan Menu Head of Department (HoD) ... 182
Gambar 4. 42 Rancangan Menu Staf ... 182
Gambar 4. 43 Rancangan Menu Diklat ... 183
Gambar 4. 44 Interface Login ... 183
Gambar 4. 45 Interface Registrasi ... 184
Gambar 4. 46 Head of Department – Interface Home ... 184
Gambar 4. 47 Head of Department – Interface Manajemen User ... 185
Gambar 4. 48 Head of Department – Interface Hapus User... 185
Gambar 4. 49 Head of Department – Interface Tambah Dokumen ... 186
Gambar 4. 50 Head of Department – Interface Manajemen Dokumen ... 186
xiv
Gambar 4. 51 Head of Department – Interface Validasi Dokumen ... 187
Gambar 4. 52 Head of Department – Interface Hapus Dokumen... 187
Gambar 4. 53 Head of Department – Interface List Dokumen ... 188
Gambar 4. 54 Head of Department – Interface Tambah Case ... 188
Gambar 4. 55 Head of Department – Interface Manajemen Case ... 189
Gambar 4. 56 Head of Department – Interface Hapus Case ... 189
Gambar 4. 57 Head of Department – Interface List Case ... 190
Gambar 4. 58 Head of Department – Interface List Solusi ... 190
Gambar 4. 59 Head of Department – Interface Manajemen Solusi ... 191
Gambar 4. 60 Head of Department – Interface Validasi Solusi ... 191
Gambar 4. 61 Head of Department – Interface Hapus Solusi ... 192
Gambar 4. 62 Head of Department – Interface Tambah Forum ... 192
Gambar 4. 63 Head of Department – Interface Manajemen Forum ... 193
Gambar 4. 64 Head of Department – Interface Hapus Forum ... 193
Gambar 4. 65 Head of Department – Interface List Forum ... 194
Gambar 4. 66 Head of Department – Interface Forum ... 194
Gambar 4. 67 Head of Department – Interface Hapus Komentar ... 195
Gambar 4. 68 Head of Department – Interface Tambah Notulensi ... 195
Gambar 4. 69 Head of Department – Interface Manajemen Notulensi ... 196
Gambar 4. 70 Head of Department – Interface Hapus Notulensi ... 196
Gambar 4. 71 Head of Department – Interface Profil ... 197
Gambar 4. 72 Staf – Interface Home ... 197
Gambar 4. 73 Staf – Interface Tambah Dokumen ... 198
Gambar 4. 74 Staf – Interface List Dokumen ... 198
Gambar 4. 75 Staf – Interface Tambah Case ... 199
Gambar 4. 76 Staf – Interface List Case ... 199
Gambar 4. 77 Staf – Interface List Solusi ... 200
Gambar 4. 78 Staf – Interface List Forum ... 200
Gambar 4. 79 Staf – Interface Forum ... 201
Gambar 4. 80 Staf – Interface Profil ... 201
Gambar 4. 81 Diklat – Interface Home ... 202
Gambar 4. 82 Diklat – Interface Tambah Berita... 202
xv
Gambar 4. 83 Diklat – Interface Manajemen Berita ... 203
Gambar 4. 84 Diklat – Interface Validasi Berita ... 203
Gambar 4. 85 Diklat – Interface List Dokumen ... 204
Gambar 4. 86 Diklat – Interface List Case ... 204
Gambar 4. 87 Diklat – Interface List Solusi ... 205
Gambar 4. 88 Diklat – Interface Profil ... 205
xvi
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Perbedaan antara Tacit Knowledge dan Explicit Knowledge (Ayudhana,
Andrawina, & Musnansyah, 2015) ... 27
Tabel 3. 1 Penelitian Sejenis ... 61
Tabel 3. 2 Tabel Analisis SDM Knowledge Management System ... 94
Tabel 3. 3 Tabel Ketersediaan Pengetahuan ... 97
Tabel 4. 1 Aktor ...110
Tabel 4. 2 Aktivitas User ... 111
Tabel 4. 3 Use Case Scenario Mengelola User ... 117
Tabel 4. 4 Use Case Scenario Login ... 119
Tabel 4. 5 Use Case Scenario Mengelola Dokumen ... 121
Tabel 4. 6 Use Case Scenario Mengelola Case ... 123
Tabel 4. 7 Use Case Scenario Mengelola Solusi ... 125
Tabel 4. 8 Use Case Scenario Mengelola Forum ... 128
Tabel 4. 9 Use Case Scenario Mengelola Komentar Forum ... 130
Tabel 4. 10 Use Case Scenario Mengelola Notulensi Forum ... 132
Tabel 4. 11 Use Case Scenario Mengelola Berita ... 135
Tabel 4. 12 Use Case Scenario Logout ... 137
Tabel 4. 13 Identifikasi Objek Potensial ... 149
Tabel 4. 14 Objek yang Diusulkan ... 150
Tabel 4. 15 Matriks CRUD KMS Penunjang Medis... 154
Tabel 4. 16 Spesifikasi Tabel User ... 158
Tabel 4. 17 Spesifikasi Tabel Departemen ... 159
Tabel 4. 18 Spesifikasi Tabel Jabatan ... 159
Tabel 4. 19 Spesifikasi Tabel Dokumen ... 160
Tabel 4. 20 Spesifikasi Tabel Case ... 161
Tabel 4. 21 Spesifikasi Tabel Solusi ... 162
Tabel 4. 22 Spesifikasi Tabel Forum ... 163
Tabel 4. 23 Spesifikasi Tabel Komentar ... 163
Tabel 4. 24 Spesifikasi Tabel Notulensi ... 164
Tabel 4. 25 Spesifikasi Tabel Berita ... 165
Tabel 4. 26 Pengujian Menu Register ... 206
xvii
Tabel 4. 27 Pengujian Menu Login ... 207
Tabel 4. 28 Pengujian Menu Manajemen User ... 209
Tabel 4. 29 Pengujian Menu Dokumen ... 210
Tabel 4. 30 Pengujian Menu Case ... 212
Tabel 4. 31 Pengujian Menu Forum ... 217
Tabel 4. 32 Pengujian Menu Berita ... 222
Tabel 4. 33 Pengujian Menu Profil ... 224
Tabel 4. 34 Pengujian Menu Logout ... 224
xviii
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini dalam upaya memenangkan persaingan dalam dunia bisnis, penerapan teknologi informasi dan komunikasi sangat diperlukan sebagai alat bantu agar organisasi tersebut dapat lebih maju dan berkembang. Pembangunan teknologi informasi dan komunikasi pada suatu perusahaan dilakukan secara bertahap, hal tersebut disesuaikan berdasarkan kekuatan dari sumber daya yang dimiliki oleh organisasi tersebut (Dewi Kansa Putri, N. M, dkk 2018).
Selain menerapkan teknologi informasi, salah satu cara untuk meningkatkan tingkat pelayanan dan kinerja dari suatu organisasi adalah dengan memanfaatkan Knowledge Management (KM). Agar mampu bertahan di lingkungan bisnis, organisasi melakukan berbagai cara seperti inovasi produk, memperluas pasar, meningkatkan kualitas layanan, memperbaiki proses produksinya, perbaikan sistem organisasi, dan melakukan penghematan biaya. Strategi-strategi organisasi dibuat dan diciptakan agar bertahan di derasnya perubahan lingkungan. Strategi organisasi haruslah mampu menciptakan keunggulan kompetitif. Terdapat dua sumber keunggulan kompetitif yang bisa digali oleh organisasi yaitu dari dalam organisasi dan dari luar organisasi. Sumber-sumber dari luar terdiri dari tersedianya sumber daya alam, teknologi, pasar tenaga kerja baik kasar maupun profesional dan lain- lain. Sedangkan sumber-sumber dari dalam organisasi misalnya kemampuan karyawan, struktur organisasi, sistem kerja organisasi, kreatifitas untuk menciptakan proyek-proyek yang menguntungkan organisasi, dan Knowledge Management (Elnath Aldi, 2005). Kebanyakan sistem warisan hanya menyimpan
2 teks dan angka, namun gambar saat ini juga merupakan bagian yang penting dari sistem informasi. Manajemen pengetahuan dibutuhkan untuk mengorganisasikan, mengakses dan mengungkit data dan informasi perusahaan untuk pengambilan keputusan (Arif Wibowo, 2014).
Perusahaan harus menyediakan knowledge yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Sebaik apa pun sebuah pengetahuan (knowledge), jika kontennya tidak dibutuhkan atau diperuntukan bagi orang yang tidak tepat, informasi yang didapat sia-sia. Yang tidak kalah penting adalah waktu, informasi tidak menjadi knowledge jika waktunya tidak tepat. Tujuan Knowledge Management tidak hanya untuk meningkatkan kinerja, tetapi juga mendapatkan pengetahuan bersama. Dengan tersedianya pengetahuan bersama, karyawan memiliki wawasan yang lebih luas dan perspektif yang didapat tidak hanya sebatas tuang lingkup pekerjaannya saja, tetapi lebih menyeluruh mengenai permasalah- permasalahan yang ada di skala korporasi (Bobby Andhara, dkk 2018)
Pembahasan tentang pentingnya penerapan Knowledge Management juga telah dibahas oleh beberapa karya ilmiah sebelumnya. Menurut Ratih Triani Srikandi (2016) Knowledge Management System merupakan suatu management pengetahuan yang menggunakan teknologi informasi untuk meningkatkan pengetahuan yang berguna dalam organisasi, memberikan kesempatan untuk belajar, dan saling berbagi knowledge. Dimana usaha ini akan menciptakan dan mempertahankan peningkatan nilai dari inti kompetensi bisnis dengan memanfaatkan teknologi informasi yang ada.
Menurut Ansye Tuhumuri (2012) hal yang esensial dalam KM adalah terbentuknya lingkungan belajar (learning environment) yang kondusif, sehingga
3 pekerja termotivasi untuk belajar, memanfaatkan informasi atau pengetahuan yang disediakan organisasi, dan menumbuhkembangkan pengetahuan individualnya, dan pada akhirnya mau berbagi pengetahuan baru yang didapatnya untuk menjadi pengetahuan organisasi.
Menurut Yales Kurnia (2012) tentang Knowledge Management di RSHS yaitu banyaknya potensi sumber pengetahuan di RSHS, pengelolaan pengetahuan (Knowledge Management) menjadi sangat penting dan perlu dilakukan untuk menjaga eksistensi pengetahuan dan kemajuan perusahaan. Dalam mengatasi masalah dalam penempatan pegawai pada Direktorat Umum dan Operasional di RSHS, diperlukan sebuah pengelolaan pengetahuan tentang informasi yang tepat mengenai pegawai dalam hal pengalaman pekerjaan, pendidikan dan keahlian khusus.
Adapun menurut Theresia Puspa Wijayanti (2016) adalah pemanfaatan teknologi dan Knowledge Management yang baik membuat pertukaran/transfer pengetahuan dan pengalaman dari satu individu ke individu yang lain menjadi lebih mudah. Individu tidak harus bertatap muka secara langsung untuk menyebarkan pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki. Pengetahuan tersebut disimpan ke dalam sistem sehingga dapat dipergunakan kembali oleh individu yang lain.
Individu lain juga dapat melakukan verifikasi atas pengetahuan yang telah diberikan sehingga dapat menjadi pembelajaran baru bagi individu yang memberikan dan individu lain yang menggunakan. Hal ini membuat perputaran informasi dan pengetahuan dapat meningkatkan kualitas kinerja.
Adapun penelitian internasional yang berjudul “The Relationship Between Knowledge Management and Nursing Care PerFormance“ membahas tentang
4 Peran manajemen pengetahuan dalam mengatasi kualitas perawatan yang diberikan oleh perawat terdaftar telah menerima sedikit perhatian di rumah sakit pendidikan di Nigeria. Study ini menyelidiki hubungan antara manajemen pengetahuan dan kinerja perawat di rumah sakit pendidikan yang dipilih. Temuan mengungkapkan bahwa teknologi informasi, struktur organisasi dan budaya organisasi dalam infrastruktur manajemen pengetahuan ditemukan secara positif dan secara signifikan mempengaruhi proses manajemen pengetahuan (akuisisi pengetahuan, aplikasi dan perlindungan) di rumah sakit pendidikan yang dipilih. Penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa hubungan antara dimensi pengetahuan, manajemen infrastruktur dan proses manajemen pengetahuan begitu kuat dan secara signifikan mempengaruhi kinerja perawat di rumah sakit pendidikan. Infrastruktur dan proses manajemen pengetahuan dapat memberikan kontribusi pada kinerja keseluruhan keperawatan dan sekaligus meningkatkan kinerja rumah sakit pendidikan (Olateju, and Stephen, 2018).
Berdasarkan penelitian terkait mengenai pentingnya penerapan Knowledge Management System pada suatu organisasi atau perusahaan maka dapat terlihat jelas bahwa penerapan KMS sangatlah memberikan dampak positif bagi perusahaan. Terlebih lagi bagi perusahaan penyedia jasa seperti Rumah Sakit yang dituntut untuk memberikan layanan terbaik bagi pasiennya. Oleh karena itu, peneliti memiliki perbedaan dan inovasi pada penelitian ini yaitu
1. Penelitian tidak hanya sampai pada tahap perancangan saja, tetapi juga dilanjutkan sampai tahap berikutnya yaitu pembangunan aplikasi yang dimana menggunakan bahasa pemrograman PHP dan CodeIgniter sebagai framework serta MySQL sebagai Database.
5 2. Aplikasi memiliki berbagai fungsi yang dapat mendukung dan meningkatkan kinerja Penunjang Medis dengan pengelompokan knowledge sehingga akan lebih mudah untuk menemukan knowledge yang dibutuhkan.
Menurut World Health Organization, Pengertian Rumah Sakit adalah suatu bagian dari organisasi medis dan sosial yang mempunyai fungsi untuk memberikan pelayanan kesehatan lengkap kepada masyarakat, baik kuratif maupun preventif.
Rumah sakit juga merupakan pusat untuk latihan tenaga kesehatan dan penelitian biologi, psikologi, sosial ekonomi dan budaya. Sedangkan pengertian Rumah Sakit menurutUU No. 44/2009 yaitu Rumah sakit adalah instutusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah Sakit memiliki tujuan untuk menghasilkan produk, jasa atau pelayanan kesehatan yang benar-benar menyentuh kebutuhan dan harapan pasien dari berbagai aspek, yang menyangkut medis dan non medis, jenis pelayanan, prosedur pelayanan, harga dan informasi yang dibutuhkan (S. Supriyanto dan Ernawati, 2010). Berdasarkan SK menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 983/MENKES/SK/XI/1992 tentang pedoman organisasi rumah sakit umum, maka rumah sakit umum harus menjalankan beberapa fungsi, satu diantaranya adalah fungsi menyelenggarakan pelayanan penunjang medik dan non medik. Bidang penunjang medis merupakan bidang yang sangat diperlukan oleh rumah sakit dalam menjalankan proses bisnisnya karena penunjang medis pada rumah sakit memiliki peran untuk memberikan pelayanan terbaik untuk mencapai dan mempertahankan nilai 0 pada setiap indikator akrEditasi.
6 Penunjang medis dijelaskan kembali dalam Keputusan Menteri Kesehetan Republik Indonesiea No. 560/MENKES/SK/IV/2003 yaitu Pelayanan Penunjang Medik adalah pelayanan kepada pasien untuk membantu penegakan diagnosis dan terapi. Jhon R. Griffith juga menjelaskan terkait fungsi dari penunjang medis yaitu harus menghasilkan produk yang dapat memberikan kepuasan kepada pasien dan juga kepuasan kepada dokter yang meminta tindakan tersebut dilakukan kepada pasiennya.
Perangkat penunjang sumber daya manusia yang profesional serta teknologi yang tepat juga diperlukan agar rumah sakit mampu melaksanakan tugas dan fungsinya (Theresia Puspa Wijayanti, 2015). Salah satu cara yang tepat untuk mendapatkan sumber daya manusia yang profesional bagi Rumah Sakit adalah dengan cara memperkaya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh setiap sumber daya manusia yang bekerja di Rumah Sakit dan mengelolanya dengan baik. Termasuk juga pada Rumah Sakit Medika BSD.
Rumah Sakit Medika BSD menawarkan pelayanan kesehatan yang beragam dan terpadu, meliputi jasa perawatan yang komprehensif melalui pelayanan diagnostik, kuratif, terapi, rehabilitasi, Radiologi serta berbagai layanan medis dan bedah lainnya. Dilengkapi dengan berbagai peralatan kesehatan dengan teknologi terkini. Rumah Sakit Medika BSD mempunyai visi yaitu menjadi pilihan utama untuk pelayanan kesehatan dan misi agar memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada pasien. Serta Rumah Sakit Medika BSD memiliki regulasi atau tujuan bagi pelayanan Penunjang Medis yaitu:
7 1. Pelayanan penunjang medik yang bertujuan untuk mendukung pelayanan rutin dan pelayanan gawat darurat sesuai fasilitas yang tersedia di Instalasi RS Medika BSD.
2. Memberikan pelayanan penunjang medis bagi pasien-pasien rawat jalan dan pasien-pasien rawat inap di RS Medika BSD dengan cepat, mengutamakan keselamatan pasien, tepat dan berkualitas yang bertujuan menegakkan diagnosa dokter.
Pada penelitian ini membahas tentang Penunjang Medis di Rumah Sakit Medika BSD yang diantaranya adalah bagian Radiologi, Lab, Fisioterapi, Farmasi, Rekam Medis dan Gizi yang di mana dari masing-masing dari Departemen Penunjang Medis tersebut dipimpin oleh Head of Departement (HOD) dimana tugas dari HOD tersebut adalah memantau dan mengurus kegiatan operasional dari masing-masing departermen. Saat ini, Rumah Sakit Medika BSD memiliki upaya untuk tetap memastikan bahwa tindakan petugas penunjang medis harus sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ada di Rumah Sakit Medika BSD dan dengan adanya perkembangan pola untuk suatu tindakan penunjang medis mengharuskan pihak Rumah Sakit untuk mengembangkan SOP tersebut sehingga mengakibatkan banyak petugas penunjang medis belum terbiasa dengan pola tindakan tersebut. Selain itu, bagian Diklat mengalami kesulitan untuk membagikan dokumen pelatihan kepada seluruh staf penunjang medis pada suatu departemen, karena materi pelatihan hanya didapatkan oleh staf yang mengikuti pelatihan saja.
Pada prosesnya, saat ini pembagian materi dokumen pelatihan dilakukan dengan cara sharing antar petugas satu dengan yang lainnya, hal tersebut akan memakan
8 waktu yang cukup lama karena masing-masing petugas memiliki jam kerja yang berbeda-beda.
Untuk mengatasi kendala tersebut, dengan menerapkan Knowledge Management System (KMS) pada Rumah Sakit Medika BSD juga dapat digunakan oleh petugas penunjang medis untuk melakukan sharing dan pengembangan knowledge petugas penunjang medis guna memberikan pelayanan.
Berdasarkan permasalahan diatas, peneliti tertarik untuk menerapkan Knowledge Management System pada bagian pelayanan penunjang medis di Rumah Sakit Medika BSD dalam membantu meningkatkan kualitas pengetahuan yang dapat meningkatkankan pelayanan rumah sakit dengan pengetahuan yang dimiliki, serta menjadikan Knowledge Management System sebagai media untuk berbagi dan mengembangkan pengetahuan terkait bidangnya masing-masing sesama petugas penunjang medis. Untuk itu, maka dibuatlah “Rancang Bangun Knowledge Management System Untuk Meningkatkan Kinerja Pelayanann Penunjang Medis Berbasis Web di Rumah Sakit Medika BSD dengan Metode RAD”.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuaraikan di atas, maka dapat diidentifikasi permasalahannya sebagai berikut:
1. Head of Departement (HoD) dan bagian Diklat yang tidak berada di Rumah Sakit setiap waktu mengalami kesulitan dalam mengelola pengetahuan yang dimiliki oleh sumber daya manusia pada departemen itu sendiri.
Mengakibatkan adanya kemungkinan tindakan staf penunjang medis yang
9 kurang sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) pada Rumah Sakit.
2. Dokumentasi knowledge pada satu bidang penunjang medis tidak tersimpan terpusat dan seringkali pendokumentasian knowledge hanya dilakukan dengan cara menyimpan hardcopy. Sehingga untuk melakukan pencarian knowledge yang dibutuhkan oleh penunjang medis membutuhkan waktu yang cukup lama.
3. Pembagian materi dari suatu pelatihan yang diikuti oleh beberapa staf penunjang medis hanya dilakukan dengan sharing atau tatap muka secara langsung dengan staf lainnya, sedangkan para staf penunjang medis memiliki waktu bertugas yang berbeda-beda. Sehingga pembagian pengetahuan dari petugas yang mengikuti pelatihan tersebut tidak berjalan dengan cepat dan terhambat.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka didapatkan rumusan masalah pada penelitian ini, yaitu:
1. Bagaimana merancang dan membangun Knowledge Management System Untuk Meningkatkan Kinerja Penunjang Medis di Rumah Sakit Medika BSD?
1.4 Batasan Penelitian
Untuk menjadikan penelitian menjadi lebih terarah, maka dibuat batasan penelitian sebagai berikut:
10 1. Ruang lingkup dari penelitian ini adalah knowledge di seluruh departemen penunjang medis yang ada di Rumah Sakit Medika BSD yaitu Radiologi, Lab, Rehab, Farmasi, MR dan Gizi.
2. Pengembangan sistem menggunakan metodologi Rapid Application Development (RAD).
3. Pengujian sistem menggunakan metode blackbox testing.
4. Dalam melakukan analisa, penulis menggunakan metode SDLC (System Life Development Cycle) dan UML (Unified Modeling Language) diantaranya Class Diagram, Use Case Diagram, Activity Diagram dan Sequence Diagram.
5. Menggunakan PHP sebagai alat pengkodean.
6. Menggunakan MySQL sebagai Database dan PHPMyAdmin untuk mengelola Database.
1.5 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dijelaskan, maka dapat disimpulkan tujuan umum dari penelitian ini adalah Merancang dan Membangun Knowledge Management System Petugas Penunjang Medis Berbasis Web di Rumah Sakit Medika BSD. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
1. Membantu Head of Departement (HoD) dan bagian Diklat dalam melakukan pengelolaan pengetahuan yaitu membuat, memperbaharui, mengembangkan dan membagikan knowledge dalam bentuk dokumen, dan dokumen Standar Operasional Prosedur (SOP) Rumah Sakit.
2. Membantu pendokumentasian data agar lebih terpusat dan tersimpan dengan baik, sehingga dapat meningkatkan efisiensi waktu dari staf
11 penunjang medis untuk melakukan pencarian serta pengelolaan knowledge yang dimiliki oleh para staf penunjang medis lain di bidangnya masing- masing.
3. Membantu staf dalam mengembangkan pengetahuan terkait ilmu penunjang medis dalam melakukan suatu tindakan atau penatalaksanaan, sehingga pelayanan dapat berjalan dengan lebih maksimal.
1.6 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diambil dari adanya penelitian ini yaitu:
A. Bagi Peneliti
1. Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang proses perancangan aplikasi Knowledge Management System Untuk Meningkatkan Kinerja Pelayanan Penunjang Medis Berbasis Web di Rumah Sakit Medika BSD dengan Metode RAD.
2. Memahami konsep perancangan dan pentingnya penerapan dari pengelolaan pengetahuan.
B. Bagi Universitas
1. Sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya mengenai Knowledge Management System berbasis web.
2. Sebagai bahan evaluasi dalam mengembangkan keilmuan mengenai Knowledge Management System.
C. Bagi Perusahaan
1. Mempermudah bagian penunjang medis untuk membagikan pengetahuan tentang suatu bidang penunjang medis kepada bagiannya masing-masing.
12 2. Membantu untuk menyimpan dokumentasi dari knowledge yang dimiliki sehingga akan meningkatkan efisiensi waktu untuk mencari kembali serta pengelolalaan dari knowledge tersebut.
3. Memberikan kemudahan untuk mengumpulkan kembali knowledge yang telah ada sebelumnya.
1.7 Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa metode. Adapun metode yang digunakan oleh penulis adalah sebagai berikut.
1.7.1 Metode Pengumpulan Data
Berikut adalah beberapa metode yang digunakan oleh penulis dalam mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian:
1. Wawancara
Agar penelitian yang dilakukan sesuai dengan permasalahan yang terjadi maka penulis mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan secara langsung kepada orang-orang yang berkaitan dengan penelitian.
2. Observasi
Penulis melakukan pengamatan secara langsung dan mengkaji cara kerja perusahaan serta mencatat data-data apa saja yang diperlukan dan berhubungan dengan penelitian.
3. Studi Pustaka
Penulis melakukan pencarian dan pengumpulan data dengan mempelajari literatur melalui berbagai media untuk membantu proses pengumpulan data dan bahan acuan yang berkaitan dengan penelitian.
13 Studi pustaka juga dilakukan dengan mepelajari penelitian sejenis yang terdahulu untuk membandingkan permasalahan dan hasil yang didapat.
1.7.2 Metode Pengembangan Sistem
Metode pengembangan yang digunakan dalam Merancang dan Membangun Knowledge Management System Petugas Penunjang Medis Berbasis Web di Rumah Sakit Medika BSD adalah menggunakan metode Rapid Application Development (RAD) dan Unified Modelling Language (UML), bahasa pemrograman PHP dan dengan databse MySQL.
Sesuai dengan metodologi RAD menurut Kendall (2010), berikut ini adalah tahap-tahap pengembangan aplikasi dari tiap-tiap fase pengembangan aplikasi.
1. Requirements Planning (Perencanaan Syarat-Syarat)
Dalam fase ini, pengguna dan penganalisis bertemu untuk mengidentifikasikan tujuan-tujuan aplikasi atau sistem serta untuk megidentifikasikan syarat-syarat informasi yang ditimbulkan dari tujuan-tujuan tersebut.
2. RAD Design Workshop (Workshop Desain RAD)
Fase ini adalah fase untuk merancang dan memperbaiki yang bisa digambarkan sebagai workshop. Penganalisis dan dan pemrogram dapat bekerja membangun dan menunjukkan representasi visual desain dan pola kerja kepada pengguna.
3. Implementation (Implementasi)
Setelah aspek-aspek bisnis dan nonteknis perusahaan disetujui serta sistem yang dibangun selesai baik sebagian maupun secara
14 keseluruhan, kemudian dilakukan uji coba sistem dan selanjutnya diperkenalkan dan diaplikasikan kepada organisasi.
1.8 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan yang digunakan oleh penulis dalam penulisan skripsi ini seperti yang akan dijabarkan dibawah ini:
BAB I PENDAHULUAN
BAB ini berisi tentang latar belakang, masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah, metodologi penelitian, sistematika penulisan dan keaslian penelitian.
BAB II LANDASAN TEORI
BAB ini menjelaskan tentang berbagai teori dan konsep yang berhubungan dengan materi yang dilakukan sebagai bahan penelitian.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB ini menjelaskan medote-metode yang digunakan penulis dalam melakukan pengumpulan data, penelitian, dan penulisan laporan.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB ini membahas tentang profil dari perusahaan secara singkat dan membahas hasil yang diperoleh dari penelitian.
BAB V PENUTUP
BAB ini merupakan penutup yang berisi kesimpulan dari penelitian dan saran yang membangun untuk kesempurnaan penelitian berikutnya.
15
15
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Rancang Bangun
Menurut (Subhan, 2012) Perancangan adalah proses pengembangan spesifikasi baru berdasarkan rekomendasi hasil analisis sistem. Sedangkan menurut pendapat (Satzinger, Jackson, & Burd, 2012) Perancangan Sistem adalah kumpulan aktifitas yang menggambarkan secara rinci bagaimana sistem akan berjalan.
Perancangan adalah mendefinisikan struktur data, arsitektur perangkat lunak yang mendefinisikan relasi diantara komponen-komponen struktur program dan suatu prosedur yang bertujuan untuk per-numberan data (Sugiarti, 2013).
Pembangunan atau bangun sistem adalah kegiatan menciptakan sistem baru maupun mengganti atau memperbaiki sistem yang telah ada baik secara keseluruhan maupun sebagian (Pressman, 2015).
Rancang bangun merupakan serangkaian prosedur untuk menerjemahkan hasil analisa dari sebuah sistem ke dalam bahasa pemrograman untuk mendeskripsikan dengan detail bagaimana komponen-komponen sistem diimplementasikan (Pressman, 2015).
2.2 Konsep Dasar Sistem Informasi
2.2.1 Pengertian Sistem
Secara sederhana, suatu sistem dapat diartikan sebagai suatu kumpulan atau himpunan dari unsur, komponen, atau variabel yang terorganisir, saling berinteraksi, saling tergantung satu sama lain, dan terpadu (Sutabri, 2012). Teori sistem secara umum yang pertama kali diuraikan oleh Kenneth Boulding,
16 terutama menekankan pentingnya perhatian terhadap setiap bagian yang membentuk sebuah sistem. Kecendrungan manusia yang mendapat tugas memimpin suatu organisasi adalah terlalu memusatkan perhatian pada salah satu komponen saja dari sistem organisasi.
Konsep lain yang terkandungdi dalam definisi tentang sistem adalah konsep sinergi. Konsep ini mengandaikan bahwa di dalam suatu sistem, output dari suatu organisasi diharapkan lebih besar dari dari pada output individual atau output masing-masing bagian. Kegiatan bersama dari bagian yang terpisah, tetapi saling berhubungan secara bersama-sama akan menghasilkan efek total yang lebih besar dari pada jumlah bagian secara individu dan terpisah. Ini berarti bahwa 2 ditambah 2 tidak sama dengan 4, tetapi memungkinkan sama dengan 5 atau lebih. Karena itu, sistem organisasi mengutamakan pekerjaan-pekerjaan di dalam tim (Sutabri, 2012).
Berikut ini juga adalah pengertian sistem menurut para ahli:
1. Menurut Jogianto di dalam buku (Ramdhadi, 2014), mengemukakan bahwa sistem adalah kumpulan dari elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sistem ini menggambarkan suatu kejadian dan kesatuan yang nyata, seperti tempat, benda, serta orang- orang yang ada dan terjadi.
2. Sistem adalah kumpulan/grup dari subsistem/bagian/komponen apapun, baik fisik ataupun nonfisik yang saling berhubungan satu sama lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai satu tujuan tertentu. (Djahir & Pratita, 2014)
17 2.2.2 Pengertian Informasi
Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya. Sumber informasi adalah data. Data kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan nyata.
Kejadian-kejadian (event) adalah kejadian yang terjadi pada saat tertentu (Hutahaean, 2015).
Menurut Gordon B. Davis, Informasi adalah data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang penting bagi si penerima dan mempunyai nilai nyata atau yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang sekarang atau keputusan-keputusan yang akan datang.
2.2.3 Pengertian Sistem Informasi
Sistem informasi adalah suatu sistem didalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengelolaan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial, dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang dibutuhkan (Sutabri, 2012).
Sistem informasi terdiri dari komponen-komponen yang disebut dengan istilah blok bangunan (building block) yaitu (Yakub, 2012) :
1. Blok masukkan (input block) Input mewakili data yang masuk ke dalam sistem informasi. Input disini termasuk metode-metode dan media yang digunakan untuk menangkap data yang akan dimasukkan, yang dapat berupa dokumen dasar.
2. Blok model (model block) Blok ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika dan metode matematik yang akan memanipulasi data input dan
18 data yang tersimpan di basis data dengan cara yang sudah tertentu untuk menghasilkan keluaran yang sudah diinginkan.
1. Blok keluaran (output block). Produk dari sistem informasi adalah keluaran yang merupakan informasi yang berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk semua tingkatan manajemen serta semua pemakai sistem.
3. Blok teknologi (technology block). Teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model, menyimpan dan mengakses data, menghasilkan dan mengirimkan keluaran dan membantu pengendalian diri secara keseluruhan. Teknologi terdiri dari unsur utama :
a. Teknisi (human ware atau brain ware) b. Perangkat lunak (software)
c. Perangkat keras (hardware)
4. Blok basis data (data base block). Merupakan kumpulan dari data yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya, tersimpan diperangkat keras komputer dan digunakan perangkat lunak untuk memanipulasinya.
5. Blok kendali (control block). Banyak faktor yang dapat merusak sistem informasi, misalnya bencana alam, api, temperatur tinggi, air, debu, kecurangan-kecurangan, kejanggalan sistem itu sendiri, kesalahan- kesalahan ketidakefisienan, sabotase dan sebagainya. Beberapa pengendalian perlu dirancang dan diterapkan untuk meyakinkan bahwa hal-hal yang dapat merusak sistem dapat dicegah atau bila terlanjur terjadi kesalahan dapat langsung diatasi.
19 2.3 Metodologi Penelitian
Penelitian sebagai suatu kegiatan ilmiah merupakan aspek penting bagi kehidupan suatu manusia. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa alasan sebagai berikut (Suryana, 2010):
1. Tutunan kebutuhan manusia sebagai mahluk sosial terus berkembang sejalan dengan perkembangan kehidupan.
2. Penemuan dibidang teknologi dan inovasi telah mendorong para ilmuan untuk terus meneliti, mengembangkan penemuan-penemuannya.
3. Selain didorong oleh rasa ingin tahu, para peneliti juga didorong oleh adanya tuntutan praktis dilapangan.
Metode penelitian atau metode ilmiah adalah prosedur atau langkah-langkah dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah atau ilmu. Jadi metode penelitian adalah cara sistematis untuk menyusun ilmu pengetahuan (Suryana, 2010).
Metode penelitian perlu diuraikan dan dijelaskan secara detail dan ringkas.
Penjelasan dimulai dengan metode yang digunakan. Metode penelitian sangat beragam. Tiap metode memiliki karakteristik yang berbeda. Sering kali kita bingung menentukan metode yang tepat. Pemilihan metode biasanya ditentukan oleh: pertanyaan penelitian (research questions), tujuan penelitian (research goals), keyakinan dan nilai yang dipegang peneliti, kemampuan peneliti (researcher skills) dalam menggunakan metode, serta pertimbangan waktu dan dana (time and funds) yang diperlukan untuk penelitian tersebut (Anwas & Sugiarti, 2020).
Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan untuk peneliti menentukan langkah konkret dalam memilih metode yang digunakan (Anwas & Sugiarti, 2020).
1. Menjelaskan Variabel dan Indikatornya
20 Setelah ditentukan metode penelitian, selanjutnya jelaskan variabel atau perubahan yang diteliti. Kemudian jelaskan definisi operasional dan indikator pengukuran dari masing-masing variabel. Pengukuran untuk setiap variabel didasarkan pada definisi operasional yang diturunkan berdasarkan kajian teori dan definisi konsep yang melandasinya. Selanjutnya dirumuskan indikator dan parameter masing-masing variabel sebagai dasar dalam pengukuran variabel tersebut.
2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian perlu dijelaskan di mana penulis melakukan penelitian.
Unit analisisnya juga perlu dijelaskan, apakah individu, atau organisasi/lembaga, atau wilayah jelaskan sesuai yang diteliti. Waktu pengumpulan data perlu dijelaskan kapan dilaksanakannya penelitian tersebut.
3. Populasi dan Teknik Sampling
Populasi dan sampel penelitian terutama dalam penelitian kuantitatif sangat perlu dijelaskan. Jumlah populasi dan sampel perlu dijelaskan. Teknik sampling yang digunakan perlu cermat sebagai representasi dalam menarik kesimpulan.
4. Teknik Pengumpulan data
Secara umum ada dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang dikumpulkan langsung peneliti dari sumber utama saat penelitian dilakukan. Sebaliknya, data sekunder merupakan data yang sumbernya dari penelitian/kajian orang lain yang dibuat untuk tujuan berbeda.
21 5. Teknik Analisis Data
Data yang telah diperoleh perlu diolah dan dianalisis. Analisis data ini sangat penting untuk dapat dimaknai dan ditafsirkan secara benar. Secara umum ada dua bentuk analisa data yaitu analisis data deskriptif dan analisis data inferensial.
2.4 Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan peneliti dalam proses pengumpulan data untuk dilakukan analasis dalam penelitian ini, yaitu wawancara, observasi dan studi pustaka (Sugiarti, 2010).
1. Wawancara
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data dengan melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil (Sugiarti, 2010).
2. Observasi
Observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan, para ilmuan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi, data itu dikumpulkan dan sering dengan bantuan berbagai alat yang sangat canggih, sehingga benda-benda yang sangat kecil (proton dan elektron) maupun yang sangat jauh dapat diobervasi dengan jelas (Sugiarti, 2010).
3. Studi Pustaka
Studi pustaka berkaitan dengan kajian teoritis dan referensi lain yang berkaitan dengan nilai, budaya dan norma yang berkembang pada situasi
22 sosial yang diteliti, selain itu studi pustaka sangat penting dalam melakukan penelitian, hal ini dikarenakan penelitian tidak akan lepas dari literatur ilmiah (Sugiarti, 2010).
2.5 Metode Rapid Application Development (RAD)
Metode dalam pengembangan sistem yang digunakan peneliti adalah metode Rapid Aplication Development (RAD). Rapid Aplication Development (RAD) adalah suatu metodologi pengembangan perangkat lunak yang melibatkan pengembangan aplikasi secara berulang dan prototipe perangkat lunak. RAD merupakan penggabungan metodologi pengembangan perangkat lunak dengan menggunakan berbagai macam teknik terstruktur, dengan teknik prototyping untuk mempercepat pengembangan sistem perangkat lunak (Musawarman, 2011).
Rapid Application Development (RAD) adalah salah satu metode pengembangan suatu sistem informasi dengan waktu yang relatif singkat. Untuk pengembangan suatu sistem informasi yang normal membutuhkan waktu minimal 180 hari, akan tetapi dengan menggunakan metode RAD suatu sistem dapat diselesaikan hanya dalam waktu 30-90 hari. RAD merupakan alat yang digunakan untuk menghasilkan layar dan menunjukkan aliran keseluruhan aplikasi, pengguna menyetujui rancangan dan menandatangani model visual, serta implementasi kurang karena pengguna membantu untuk merancang aspek bisnis dari sistem (Ramadi, 2016).
RAD bertujuan mempersingkat waktu yang biasanya diperlukan dalam siklus hidup pengembangan sistem tRADisional antara perancangan dan penerapan suatu sistem informasi. Pada akhirnya, RAD sama-sama berusaha memenuhi syarat- syarat bisnis yang berubah secara cepat (Kendall, 2010).
23 Gambar 2. 1 Siklus RAD (Kendall, 2010)
Terdapat tiga fase dalam RAD yang melibatkan penganalisis dan pengguna dalam tahap penilaian, perancangan, dan penerapan. Adapun ketiga fase tersebut adalah requirements planning (perencanaan syarat-syarat), RAD design workshop (workshop desain RAD), dan implementation (implementasi) (Kendall, 2010).
Berikut ini adalah tahap-tahap pengembangan aplikasi dari tiap-tiap fase pengembangan aplikasi, yaitu:
1. Requirements Planning (Perencanaan Syarat-Syarat)
Dalam fase ini, pengguna dan penganalisis bertemu untuk mengidentifikasikan tujuan-tujuan aplikasi atau sistem serta untuk megidentifikasikan syarat-syarat informasi yang ditimbulkan dari tujuan- tujuan tersebut. Orientasi dalam fase ini adalah menyelesaikan masalah- masalah perusahaan. Meskipun teknologi informasi dan sistem bisa mengarahkan sebagian dari sistem yang diajukan, fokusnya akan selalu tetap pada upaya pencapaian tujuan-tujuan perusahaan (Kendall, 2010).
2. RAD Design Workshop (Workshop Desain RAD)
Fase ini adalah fase untuk merancang dan memperbaiki yang bisa digambarkan sebagai workshop. Penganalisis dan pemrogram dapat bekerja membangun dan menunjukkan representasi visual desain dan pola
24 kerja kepada pengguna. Workshop desain ini dapat dilakukan selama beberapa hari tergantung dari ukuran aplikasi yang akan dikembangkan.
Selama workshop desain RAD, pengguna merespon prototipe yang ada dan penganalisis memperbaiki modul-modul yang dirancang berdasarkan respon pengguna. Apabila seorang pengembangnya merupakan pengembang atau pengguna yang berpengalaman, Kendall menilai bahwa usaha kreatif ini dapat mendorong pengembangan sampai pada tingkat terakselerasi (Kendall, 2010).
3. Implementation (Implementasi)
Pada fase implementasi ini, penganalisis bekerja dengan para pengguna secara intens selama workshop dan merancang aspek-aspek bisnis dan nonteknis perusahaan. Segera setelah aspek-aspek ini disetujui dan sistem- sistem dibangun dan disaring, sistem-sistem baru atau bagian dari sistem di ujicoba dan kemudian diperkenalkan kepada organisasi (Kendall, 2010).
2.6 Konsep Dasar Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management) Adapun konsep dasar manajemen pengetahuan (Knowledge Management) akan dijelaskan dengan beberapa pengertian mulai dari pengetahuan (knowledge), konversi knowledge, manajemen pengetahuan (Knowledge Management), proses Knowledge Management dan Knowledge Management System.
2.6.1 Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan adalah fakta, informasi, dan keterampilan yang didapat dari seseorang melalui pengalaman atau pendidikan, pengertian teoritis atau praktis dari sebuah subjek. Untuk menjadi pengetahuan, informasi harus
25 bertransFormasi melalui aplikasi personal, nilai, dan keyakinan (Andhara, Umaro, & Lubis, 2018).
Knowledge merupakan kumpulan informasi yang dimiliki oleh individu dan dijadikan sebagai keahlian mereka serta digunakan untuk menyelesaikan masalah atau mengambil tindakan yang lebih efektif (Nissa, & Jambak, 2016).
Pengetahuan (knowledge) adalah penggunaan informasi dan data secara penuh yang dilengkapi dengan potensi keterampilan, kompetensi, ide, intuisi, komitmen, dan motivasi orang-orang yang terlibat. Pandangan holistic menganggap pengetahuan terdapat di dalam berbagai ide, keputusan, talenta, akar penyebab, hubungan, perspektif, dan konsep. Pengetahuan disimpan di dalam otak individu atau di-encode (diubah dalam bentuk kode) di dalam proses, dokumen, produk, fasilitas, dan sistem organisasi. Pengetahuan adalah tindakan, inovasi terfokus, keahlian-keahlian yang dikumpulkan menjadi satu, hubungan, dan aliansi khusus (Kusumadmo, 2013).
Pengetahuan (knowledge) ialah informasi relevan yang didapat dari pengalaman, pemahaman, dan pembelajaran yang telah diyakini kebenarannya dan telah dianalisis sehingga dapat digunakan dan diakses oleh siapapun sebagai dasar untuk bertindak, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan (Theresia, 2015).
Jika ditinjau lebih lanjut, umumnya para pakar membagi knowledge kedalam 2 jenis, yaitu (Ayudhana, Andrawina, & Musnansyah, 2015):
1. Tacit Knowledge merupakan pengetahuan yang subyektif, kognitif dan pembelajaran yang berasal dari pengalaman, sebagai pengetahuan yang tertanam (embedded knowledge), yang relatif sulit
26 untuk dikeluarkan dari sumbernya (sticky knowledge) (Ayudhana, Andrawina, & Musnansyah, 2015). Tacit Knowledge adalah knowledge dari para pakar, baik individu maupun masyarakat, serta pengalaman mereka, bersifat sangat personal dan sulit dirumuskan sehingga membuatnya sangat sulit untuk dikomunikasikan atau disampaikan kepada orang lain. Perasaan pribadi, intuisi, bahasa tubuh, pengaman fisik serta petunjuk praktis (rule-ofthumb) termasuk dalam jenis Tacit Knowledge (Wijaya, 2014). Hal ini menyebabkan pengetahuan tacit sulit untuk ditransfer atau dibagikan kepada orang lain. Dalam melakukan kodefikasi, pengetahuan tacit memerlukan expert judgement dari pakar ahli yang mengerti di bidang tersebut (Theresia, 2015).
2. Explicit Knowledge merupakan pengetahuan yang bersifat objektif, rasional dan teknis sebagai leaky knowledge karena sifatnya yang mudah untuk ditinggalkan dari seseorang, dokumen atau organisasi setelah semuanya didokumentasikan (Ayudhana, Andrawina, &
Musnansyah, 2015). Explicit Knowledge adalah sesuatu yang dapat diekspresikan dengan kata-kata dan angka, serta dapat disampaikan dalam bentuk ilmiah, spesifikasi, manual dan sebagainya.
Knowledge jenis ini dapat segera diteruskan dari satu individu ke individu lainnya secara formal dan sistematis. Explicit Knowledge juga dapat dijelaskan sebagai suatu proses, metoda, cara, pola bisnis dan pengalaman desain dari suatu produksi (Wijaya, 2014). Bentuk dokumentasi pengetahuan ini sangat beragam dengan adanya proses
27 eksternalisasi yang dinyatakan dalam kata-kata, kalimat, angka atau Formula.
Tabel 2. 1 Perbedaan antara Tacit Knowledge dan Explicit Knowledge (Ayudhana, Andrawina, & Musnansyah, 2015)
Tacit Knowledge Explicit Knowledge Knowledge of experience (body) Knowledge of rationality (mind) Simultaneous knowledge (here and
now)
Sequential knowledge (there and then)
Analog knowledge (practice) Digital knowledge (theory)
2.6.2 Konversi Knowledge
SECI model diciptakan pertama kali oleh Ikojiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi pada tahun 1995. Nonaka mengatakan bahwa model ini menggambarkan bagaimana “tacit knowledge” berubah menjadi “explicit knowledge” sehingga dituangkan ke dalam pengetahuan perusahaan. SECI sendiri diambil dari empat nama depan dimensi pengetahuan, yaitu;
socialization, externalization, combination, dan internalization. Karena keempat dimensi tersebut bergerak secara spiral, tidak jarang model SECI sering disebut sebagai spiral of knowledge.
1. Sosialization: From Tacit to Tacit
Sosialisasi merupakan proses berbagi pengetahuan dari individu pemilik pengetahuan kepada individu lain yang bertindak sebagai penerima.
Proses konversi tidak selalu berjalan mulus. Salah satu masalah klasik tidak semua individu mau membagi pengetahuannya kepada yang lain.
Memiliki pengetahuan yang strategis bagi perusahaan tetapi ekslusif bagi individu, sering dianggap sebagai nilai kompetitif yang membuat posisi seorang pegawai “aman”. Pada saat pegawai tersebut tidak lagi
28 menempati posisinya karena penugasan di bidang yang baru, pindah ke perusahaan lain, pensiun, atau meninggal dunia, perusahaan kewalahan mencari pengganti karena sulit menemukan pegawai lain yang memiliki pengetahuan sama. Saat itulah, pengetahuan sebagai aset berharga, meninggalkan perusahaan. Masalah lainnya, Pegawai yang memiliki pengetahuan atau mau membaginya seringkali tidak mengetahui cara yang tepat untuk menularkan pengetahuannya. Di samping itu, dengan konversi alamiah, pengetahuan tidak akan tersebar secara cepat dan merata di dalam perusahaan. Seorang pegawai, tidak mungkin membagi pengetahuannya secara langsung kepada seluruh pegawai lain yang ada di perusahaan, terlebih untuk perusahaan perusahaan besar yang tersebar luas.
2. Externalization: From Tacit to Explicit
Eksternalisasi adalah proses mengartikulasikan Tacit Knowledge menjadi sebuah konsep yang eksplisit. Misalnya menuangkan pengetahuan individu ke dalam tulisan atau gambar sehingga menjadi jelas untuk ditangkap oleh individu lain. Pada proses ini berupaya mendokumentasikan pengetahuan. Fungsi ini terutama sekali terkait proses transFormasi dari Tacit Knowledge individu menjadi Explicit Knowledge.
3. Combination: From Explicit to Explicit
Kombinasi adalah proses mentransFormasi konsep-konsep keilmuan yang ada ke dalam suatu sistem pengetahuan. Model konversi kombinasi melibatkan berbagai bentuk Explicit Knowledge seperti pertukaran
29 dokumen, pengelompokan informasi, penambahan data, rekonfigurasi data manual menjadi Database dan sebagainya. Konversi dengan model kombinasi ini dapat berupa bulletin bulanan perusahaan, focus group discussion, community of practice, fasilitas e-learning, workshop accounting, dan banyak lagi.
4. Internalization: From Explicit to Tacit
Konversi internalisasi merupakan proses setiap individu dalam mengakuisisi Explicit Knowledge menjadi Tacit Knowledge. Ketika pengalaman yang diperoleh individu dari proses sosialisasi, eksternalisasi dan kombinasi pengetahuan diinternalisasikan ke dalam Tacit Knowledge individu tersebut, membentuk sebuah sikap mental dan pemahaman praktis dalam melakukan pekerjaan sehari-hari, saat itulah pengetahuan menjadi aset yang sangat berharga. Selanjutnya dibutuhkan suatu rancangan sistem untuk melakukan evaluasi, seperti: “Apakah suatu pengetahuan masih relevan untuk menunjang perForma perusahaan atau perlu diperbaharui?”, “Sejauh mana proses internalisasi pengetahuan yang telah didistribusikan terjadi pada setiap individu?”,
“Apakah media distribusi yang digunakan sudah cukup efektif untuk berbagi pengetahuan?”, dan sebagainya.
30 Gambar 2. 2 SECI model (Nonaka & Takeuchi, 1995)
Sebuah tacit knowledge yang melekat di kepala seseorang dapat diterjemahkan menjadi pengetahuan yang dapat digunakan oleh sebuah perusahaan. Secara umum, proses tersebut dapat dibuat dalam empat tahap, yaitu tacit ke tacit (sosialisasi), tacit ke explicit (eksternalisasi), explicit ke explicit (kombinasi) dan explicit ke tacit (internalisasi) (Andhara et al., 2018).
2.6.3 Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management)
Menurut Alan Frost dalam buku Knowledge Management: Strategi Mengelola Pengetahuan agar Unggul di Era Disrupsi (Andhara et al., 2018) menjelaskan bahwa Knowledge Management (KM) sebagai manajemen aset pengetahuan yang bertujuan untuk menciptakan nilai dan memenuhi kebutuhan taktis dan strategis perusahaan yang terdiri dari inisiatif, proses, strategi, dan sistem. Sistem inilah yang menjaga peningkatan kualitas penyimpanan, pengukuran, pembagian, perbaikan dan penciptaan sebuah pengetahuan.
Knowledge Management (KM) adalah salah satu proses yang dapat membantu organisasi untuk mengidentifikasi, memilih, mengelola, menyebarkan, mentransfer informasi dan keahlian penting yang merupakan