ANALISIS FAKTOR MENINGKATNYA ANGKA PERMOHONAN DISPENSASI KAWIN DI PENGADILAN AGAMA
JAKARTA UTARA Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H.)
Oleh:
ALINDA PUSPITA SARI NIM: 11160440000008
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
J A K A R T A 1442 H/2021 M
i
ANALISIS FAKTOR MENINGKATNYA ANGKA PERMOHONAN DISPENSASI KAWIN DI PENGADILAN AGAMA
JAKARTA UTARA SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh
Gelar Sarjana Hukum (S.H.)
Oleh:
ALINDA PUSPITA SARI NIM. 11160440000008
Pembimbing
INDRA RAHMATULLAH,SH.I.,MH NIDN. 2021088601
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
J A K A R T A 1442 H/2021 M
ii
iii
LEMBAR PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya:
Nama Lengkap : ALINDA PUSPITA SARI
NIM : 11160440000008
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 22 Maret 1998 Prodi/Fakultas : Hukum Keluarga
Alamat :Jl. Turi RT014/003 No.32 Kel. Lenteng Agung Kec. Jagakarsa, Jakarta Selatan
No. Handphone : 08558789405 / 02178890788 Dengan ini menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 (S1) di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta 3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya asli saya atau merupakan hasil
jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia untuk menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 11 Januari 2021
ALINDA PUSPITA SARI NIM. 11160440000008
iv ABSTRAK
Alinda Puspita Sari NIM 11160440000008 ANALISIS FAKTOR MENINGKATNYA ANGKA PERMOHONAN DISPENSASI KAWIN DI PENGADILAN AGAMA JAKARTA UTARA Program Studi Hukum Keluarga, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Tahun 1441 H/ 2021 M, xi + 86 halaman
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi meningkatnya angka permohonan dispensasi kawin di Pengadilan Agama Jakarta Utara pada tahun 2017, 2018 dan 2019.
Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat analisis deskriptif dengan dua metode pendekatan, yakni dengan pendekatan statute approach yaitu menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan sociological approach yaitu pendekatan yang dilakukan dengan norma yang berlaku di kehidupan sosial masyarakat. Dengan metode dan pendeketan tersebut akan mendapatkan data dan gambaran yang jelas terkait hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan dengan teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa faktor yang menyebabkan selalu meningkatnya permohonan dispensasi kawin di Pengadilan Agama Jakarta Utara adalah faktor hamil, pendidikan, ekonomi dan orang tua.
Kata Kunci : Dispensasi Kawin, Faktor, Jakarta Utara Pembimbing : Indra Rahmatullah, SH., MH
Daftar Pustaka : 1994-2019
v
PEDOMAN TRANSLITERASI
Hal yang dimaksud dengan transliterasi adalah alih aksara dari tulisan asing (terutama Arab) ke dalam tulisan Latin dimana istilah Arab tersebut belum dapat diakui sebagai kata bahasa Indonesia atau lingkup penggunaannya masih terbatas.
Berikut adalah daftar aksara Arab dan padanannya dalam aksara latin:
Huruf Arab Huruf Latin Keterangan
ا tidak dilambangkan
ب B Be
ت T Te
ث Ts te dan es
ج J Je
ح H ha dengan garis bawah
خ Kh ka dan ha
د D De
ذ Dz de dan zet
ر R Er
ز Z Zet
س S Es
ش Sy es dan ye
ص S es dengan garis bawah
ض D de dengan garis bawah
ط T te dengan garis bawah
ظ Z zet dengan garis bawah
ع ‘ koma terbalik di atas hadap kanan
غ Gh ge dan ha
ف F Ef
ق Q Qo
vi
ك K Ka
ل L El
م M Em
ن N En
و W We
ه H Ha
ء ˋ Apostrop
ي Y Ya
Dalam bahasa Arab, vokal sama seperti bahasa Indonesia, memiliki vokal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Untuk vokal tunggal atau monoftong, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab
Tanda Vokal
Latin Keterangan
ﹶ A Fathah
ﹺ I Kasrah
ﹸ U Dammah
Sementara itu, untuk vokal rangkap atau diftong, ketentuan sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab
Tanda Vokal
Latin Keterangan
ي Ai a dan i
و Au a dan u
vii
Ketentuan alih aksara vokal panjang (madd), yang dalam bahasa Arab diimbangkan dengan harakat dan huruf, yaitu:
Tanda Vokal Arab
Tanda Vokal
Latin Keterangan  a dengan topi di
atas Î i dengan topi di
atas Û u dengan topi di
atas
Kata sandang, dalam bahasa Arab dilambangkan dengan alif dan lam (لا), dialihaksarakan menjadi huruf “l” (el), baik diikuti huruf syamsiyyah atau huruf qomariyyah. Misalnya:
داهتجلإا= al-ijtihâd
ةصخرلا= al-rukhsah, bukan ar-rukhsah
Dalam alih aksara, syaddah atau tasydid dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah. Tetapi, hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf- huruf syamsiyyah. Misalnya:
ةعفشلا= al-syuf’ah tidak ditulis asy-syuf’ah.
Dalam penulisan ta marbûtah terdapat pada kata yang berdiri sendiri (lihat contoh 1) atau diikuti oleh kata sifat (na’t) (lihat contoh 2), maka huruf ta marbȗtah tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “h” (ha). Jika huruf ta marbûtah tersebut diikuti dengan kata benda (ism), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “t” (te) (lihat contoh 3).
No. Kata Arab Alih Aksara
viii
1 ةعيرش syarî’ah
2 ةيملاسلإا ةعيرشلا al-syarî’ah al-islâmiyyah
3 بهاذملا ةنراقم muqâranat al-madzâhib
Untuk huruf kapital tidak dikenal dalam tulisan Arab. Tetapi dalam transliterasi huruf ini tetap digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Perlu diketahui bahwa jika nama diri didahului oleh kata sandang, maka huruf yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Contoh: يراخبلا= al-Bukhâri tidak ditulis Al-Bukhâri.
Beberapa ketentuan lain dalam EYD juga dapat diterapkan dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring atau cetak tebal. Berkaitan dengan penulisan nama, untuk nama-nama yang berasal dari dunia Nusantara sendiri, disarankan tidak dialihaksarakan meski akar kara nama tersebut berasal dari bahasa Arab, Misalnya:
Nuruddin al- Raniri, tidak ditulis Nûr al-Dîn al-Rânîrî.
Setiap kata, baik kata kerja (fi’il) kata benda (ism) atau huruf (harf), ditulis secara terpisah. Berikut adalah beberapa contoh alih akasara dengan berpedoman pada ketentuan- ketentuan diatas:
No Kata Arab Alih Aksara
1 تاروظحملا حيبت ةرورضلا al-darûrah tubîhu al-
mahzûrât
2 يملاسلإا داصتقلاا al-iqtisâd al-islâmî
3 هقفلا لوصأ usûl al-fiqh
4 ةحابلإا ءايشلأا يف لصلأا al-‘asl fî al-asyya ﹶal-ibâhah
5 ةلسرملا ةحلصملا al-maslahah al-mursalah
ix
KATA PENGANTAR ِمي ِحَّرلا ِنمْحَّرلا ِالله ِمْسِب
Alhamdulillah Rabbil ‘Alamin, Segala puji, syukur dan sujud kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang selalu melimpahkan rahmat, hidayah, serta keberkahan-Nya sehingga penulis diberikan kemudahan untuk menyelesaikan dan dengan izin-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul: Analisis Faktor Meningkatnya Angka Permohonan Dispensasi Kawin di Pengadilan Agama Jakarta Utara. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Program Studi Hukum Keluarga Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Shalawat beriring salam senantiasa kepada sebaik-baik tauladan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, semoga kelak kita mendapatkan syafa’atnya di akhirat. Amin.
Selama proses penulisan skripsi ini, banyak hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi, atas berkat pertolongan dan kasih sayang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala diberikan kemudahan dalam mengerjakannya. Serta dukungan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada para pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, kepada yang terhormat:
1. Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, Lc., M.A, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.Ag, SH., MH., MA, selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Dr. Mesraini, M.Ag, selaku ketua Program Studi Hukum Keluarga dan Ahmad Chairul Hadi, M.A, sekretaris Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu penyelesaian skripsi ini.
4. Dr. H. Moh. Ali Wafa, SH., S.Ag., M.Ag, selaku Dosen Penasehat Akademik yang memberikan nasihat dan motivasi untuk mahasiswa-mahasiswinya.
5. Indra Rahmatullah, S.H., M.H, selaku Dosen Pembimbing yang telah senantiasa meluangkan waktu untuk memberikan nasihat, motivasi, serta perbaikan-perbaikan
x
selama penyusunan skripsi ini, terimakasih banyak atas arahan, masukan dan koreksi skripsinya yang bersifat membangun, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membalas semua kebaikan bapak.
6. Seluruh Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah mendidik dan memberikan ilmu yang berharga kepada penulis selama masa perkuliahan, yang tidak bisa penulis sebut semuanya tanpa mengurangi rasa hormat penulis.
7. Pegawai dan Staf yang telah memberikan pelayanan terpadu selama kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta Pimpinan Perpustakaan, Pengelola Perpustakaan, Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan fasilitas untuk mengadakan studi kepustakaan.
8. Ketua Pengadilan Agama Jakarta Utara Ibu Dra, Hj. Sarbiati, S.H., M.H. dan Wakil Ketua Drs. Faizal Kamil, S.H., M.H. Serta seluruh jajaran pegawai di Pengadilan Agama Jakarta Utara saya ucapkan terimakasih banyak telah memberikan kesempatan untuk memberikan informasi serta telah bersedia menjadi obyek penelitian ini.
9. Orang Tua penulis yang teristimewa yaitu, Ayahanda Alm.Tri Suharyono dan Ibunda Dewi Purbasari, Adik Aufari Dermawan, serta seluruh keluarga besar yang telah mencurahkan segalanya, memberi kasih sayangnya dan doanya untuk kesuksesan penulis. Semoga mereka selalu diberi keberkahan oleh Allah. Amin.
10. Guru TK Melati Agung 2003-2004, Guru SDN 01 Lenteng Agung 2004-2010, Guru SMP Islam Yps 2010-2013, Guru Madrasah Aliyah Negeri 13 Jakarta 2013-2016, serta Guru TPA Ash-shidiqyah. Guru yang mulia saya ucapkan terimakasih telah memberikan banyak ilmu pembelajarannya sewaktu kecil hingga sampai saat ini, tetaplah menjadi pelita untuk agama dan bangsa. Amin
xi
11. Terima kasih kepada kawan kelas Hukum Keluarga angkatan 16 kelas A, B dan C serta ciwi-ciwi kelas A (dgdaw) terkhusus Mila Rosandi, yang membantu saya dalam penyusunan skripsi ini.
12. Terima kasih kepada kanda M. Zakky Mubarok, SH dan kanda Ilham Ramdani Rahmat, SH yang telah banyak memberikan nasihat, motivasi, dan ilmu kepada penulis.
13. Kepada Sahabat-Sahabat penulis, Novi Purwaning Tia, Rosita Dewi, Delfi Koswiandi, Malia Nur Andzani, Adelia Silfani, yang telah memberikan motivasi dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan studi yang penulis tempuh.
14. Seluruh Keluarga besar HMPS Hukum Keluarga 2018 serta keluarga ELKAMASY yang memberikan pengalaman dalam berorganisasi serta memberikan pendalaman materi perkuliahan/kajian dilingkungan kampus.
15. Seluruh Keluarga besar KARANG TARUNA kelurahan Lenteng Agung yang memberikan Ilmu organisasi dan sosial serta memberikan semangat kepada penulis sampai pada penyusunan skripsi ini. Semangat, Solid, Jaya.
16. Seluruh Keluarga besar HMI Komfaksy 2016 Hukum Keluarga abangda semua yang tidak bisa disebutkan namanya yang memberikan Ilmu Organisasi dan semangat kepada penulis sampai pada penyusunan skripsi ini. Yakin Usaha Sampai.
17. Seluruh Keluarga besar Jakampus UIN yang memberikan arti kebersamaan, kekompakan, dan memberikan semangat kepada penulis sampai pada penyusunan skripsi ini. We Are Family, The Jakmania.
18. Seluruh Teman-Teman KKN 169 (Dorongan Untuk Rakyat) UIN Jakarta yang sudah memberikan warna selama satu bulan bersama, dan telah memberikan semangat kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.
19. The Onsu Family, keluarga inspiratif dengan tayangannya menjadi teman hiburan bagi penulis dalam penyusunan skripsi ini. Terimakasih.
xii
Semoga Allah memberikan ampunan, rahmat, dan balasan pada setiap kebaikan yang telah diberikan untuk peneliti. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang hukum keluarga.
Jakarta, 11 Januari 2021 M 1442 H
Alinda Puspita Sari Penulis
xiii DAFTAR ISI
PERSETUJUAN PEMBIMBING ...i
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ...ii
LEMBAR PERNYATAAN ... ii
ABSTRAK ... iv
PEDOMAN TRANSLITERASI ...viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xiiiiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi, Pembahasan dan Perumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitiaan ... 7
D. Review Study Terdahulu ... 8
E. Metode Penelitian ... 9
F. Sistematika Penulisan ... 10
BAB II PERKAWINAN DAN DISPENSASI KAWIN A. Perkawinan ... 11
1. Pengertian Perkawinan ... 12
2. Dasar Hukum Perkawinan ... 15
B. Rukun dan Syarat Perkawinan ... 19
C. Dispensasi Kawin ... 22
1. Pengertian Dispensasi Kawin ... 23
2. Landasan Hukum Dispensasi Kawin ... 24
3. Prosedur Pengajuan Dispensasi Kawin ... 29
BAB III DESKRIPSI PROFIL PENGADILAN AGAMA JAKARTA UTARA A. Sejarah Pengadilan Agama Jakarta Utara ... 33
B. Visi,Misi dan Struktur Organisasi Pengadilan Agama .... 36
Jakarta Utara ... 36
C. Tugas Pokok Pengadilan Agama Jakarta Utara ... 37
xiv
D. Pengajuan Dispensasi Kawin di Pengadilan Agama ... 44
Jakarta Utara ... 44
BAB IV ANALISIS PENETAPAN DAN PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MEMBERIKAN DISPENSASI KAWIN DI PENGADILAN AGAMA JAKARTA UTARA PADA TAHUN 2017,2018, 2019 A. Faktor Perkawinan Dibawah Umur ... 48
B. Analisis Pertimbangan Hakim ... 59
C. Dampak Perkawinan Dibawah Umur ... 62
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 67
B. Saran-Saran ... 69
DAFTAR PUSTAKA ... 70
LAMPIRAN ... 71
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkawinan merupakan salah satu dari aspek penting dalam kehidupan manusia.
Perkawinan juga perihal yang menjadi kebutuhan dasar bagi setiap manusia tanpa adanya perkawinan terasa kehidupan seseorang akan menjadi tidak sempurna dan lebih dari itu, tentu menyalahi dari fitrahnya.1 Perkawinan juga bersifat umum atau universal dan tentu berlaku pada makhluk ciptaan Allah, baik itu manusia maupun hewan, perihal Itu merupakan suatu cara yang dipilih oleh Allah. Adapun penjelasan tentang Perkawinan menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 pasal 1 yang berbunyi: “Perkawinan ialah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai istri dengan tujuan membentuk keluarga, rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”2
Allah menciptakan manusia untuk berpasangan guna untuk saling mengenal agar mereka cenderung satu sama lain, saling menyayangi dan mencintai. Adapun dalam tujuan perkawinan menurut agama Islam ialah untuk memenuhi petunjuk agama dalam rangka mendirikan keluarga yang harmonis, sejahtera dan juga Bahagia.3 Karena itu perkawinan unsur yang harus dapat dipertahankan oleh kedua belah pihak agar dapat mencapai tujuan dari perkawinan tersebut. Dengan demikian perlu adanya kesiapan-kesiapan dari kedua belah pihak secara mental maupun material. Tujuan mendirikan rumah tangga yang bahagia dan harmonis sering tidak seperti yang diharapkan, atau bisa dikatakan kandas di tengah jalan. Kegagalan ini pada biasanya disebabkan oleh seseorang dengan tanggung jawab belum cukup
1 Andi Syamsu Alam, Usia Ideal Untuk Kawin (Jakarta: Kencana Mas Publishing House, 2006) h. 3.
2 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
3 Abd. Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat (Bogor; Kencana, 2003) h. 22
2 dewasa, baik secara fisik maupun mental.4
Secara terminologi, menurut Sayuti Thalib, kawin ialah perjanjian suci membentuk keluarga antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Sedangkan Zahry Hamid merumuskan kawin menurut menurut syara ialah akad ijab dan kabul antara wali calon dan mempelai laki-laki dengan ucapan tertentu dan memenuhi rukun serta syaratnya. Dalam pasal 1 Bab I Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dinyatakan;
"Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.5
Perceraian adalah tidak sesuai dengan tujuan perkawinan, maka atas dasar maslahah mursalah ini, pemerintah dibenarkan melarang perkawinan usia muda dan membuat batasan umur bagi calon suami istri.6sebagaimana tercantum dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 15 ayat 1 yang menyatakan “untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan hanya boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang telah ditetapkan dalam pasal 7 Undang-undang No.16 Tahun 2019 tentang perubahan atas Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yakni perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun.
Perkawinan usia dini berdampak pada kesehatan, baik pada ibu dari sejak kehamilan hingga kelahiran kemungkinan terjadinya tidak sempurna pada janin karena organ reproduksi yang belum sempurna. Belum siapnya organ reproduksi menyebabkan wanita yang mekawin usia muda resiko terhadap berbagai penyakit
4 Andi Syamsu Alam, Usia Ideal Untuk Kawin (Jakarta; Kencana Mas Publishing House, 2006) h. 10
5 Muhammad Amin Suma, Dalam pasal 2 Kompilasi Hukum Islam (INPRES No 1 Tahun 1991), perkawinan miitsaaqan ghalizhan menurut hukum Islam adalah perkawinan, yaitu akad yang sangat kuat atau ghalizhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.
Lihat Saekan dan Erniati Effendi, Sejarah Penyusunan Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, (Surabaya:
Arkola, 1977) h. 76
6 Moh Ali Wafa, Telaah Kritis Terhadap Perkawinan Usia Muda Menurut Hukum Islam, Jurnal Ahkam Vol 17, h. 408-409.
3
seperti tekanan darah tinggi, anemia, kanker serviks, kanker payudara, depresi setelah melahirkan bahkan dapat terjadi pendarahan hingga resiko keguguran pada janin.
Selain itu dampak pada bayi seperti bayi lahir prematur berat badan bayi rendah (BBLR), bayi cacat sejak dalam kandungan hingga resiko kematian pada bayi.
Adapun dampak perkawinan dini dalam segi pendidikan, anak merupakan aset penerus bangsa yang tentunya berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, akan tetapi jika anak mekawin pada usia dini maka tentu kesempatan anak untuk menempuh pendidikan lebih tinggi terhalang dikarenakan nantinya akan mengurus keluarganya. Tentu hal ini sangat berpengaruh pada cara pola berpikir anak, pendidikan yang rendah akan membentuk sebuah pola pikir yang sederhana dan tidak mampu berpikir jauh dari setiap tindakan. Maka dampak yang akan terjadi bagi anak yang mekawin dengan menempuh pendidikan rendah yaitu dapat mengakibatkan depresi, kekerasan dalam rumah tangga, kesulitan ekonomi dapat mengakibatkan anak terlantar, munculnya pekerja di bawah umur, hubungan yang rentan terhadap perceraian.7
Salah satu bentuk permasalahan yang sering muncul dalam penyelenggaraan perkawinan adalah penentuan batas usia perkawinan. Penentuan batas umur melangsungkan perkawinan sangat penting sekali. Karena suatu perkawinan bersampingan dengan menghendaki kematangan biologis juga psikologis. Oleh karena itu, dalam tafsir umum “Undang-Undang Perkawinan” disebutkan bahwa calon pasangan suami istri harus memiliki jiwa yang matang sebelum dapat mekawin, sehingga terwujud perkawinan yang bahagia dan memiliki keturunan yang baik dan sehat tanpa perceraian. Selain itu, pembatasan usia juga penting dilakukan untuk mencegah praktik perkawinan dini yang kerap terjadi dipedesaan dengan konsekuensi negatif. Adapun Islam dalam penentuan usia kawin didasarkan kepada metode maslahah mursalah, bahwa tujuan ini untuk mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan. Namun karena ini merupakan ijtihad yang kebenarannya
7 Ilham Ramdani Rahmat, Perkawinan Usia Dini dan Hak Anak (Studi di Desa Suntenjaya, Kec. Lembang, Kab. Bandung Barat), Skripsi UIN Jakarta, h. 51.
4
bersifat relatif maka ketentuan tersebut tidak bersifat kaku.8
Penentuan seseorang dikatakan sudah dewasa yang dicantumkan di dalam Undang-undang sangat beragam. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
a. Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata, pada Pasal 330 disebutkan, bahwa anak adalah seseorang yang belum dewasa, yaitu mereka yang belum mencapai umur genap 21 tahun dan tidak lebih dahulu telah kawin. Apabila perkawinan itu dibubarkan sebelum umur mereka genap 21 tahun maka mereka tidak kembali dalam kedudukan belum dewasa.
b. Menurut Undang-undang Hukum Pidana dalam Pasal 45 yaitu jika seseorang yang belum dewasa dituntut karena perbuatannya ketika umurnya belum enam belas tahun maka Hakim boleh memerintahkan supaya tersalah dikembalikan kepada orang tuanya.
c. Menurut Undang-undang No. 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan pada Pasal 81 ayat 1. Syarat usia minimal adalah berumur 17 tahun untuk SIM A, C dan D untuk SIM B I syarat minimal adalah 20 tahun, dan untuk SIM B II syarat minimal adalah 21 tahun.
d. Menurut Undang-undang No.4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan anak, pada Pasal 1 angka 2, menegaskan bahwa anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin.
e. Menurut Undang-undang No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, pada Pasal 1 angka 1, menyatakan bahwa anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 8 tahun tetapi belum mencapai umur 18 tahun dan belum pernah kawin.
f. Menurut Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 1 angka 5, menyebutkan bahwa anak adalah setiap manusia yang belum mencapai 18 Tahun dan belum mekawin, termasuk anak yang masih dalam kandungan
8Moh. Ali Wafa, Hukum perkawinan di Indonesia: sebuah kajian dalam hukum Islam dan hukum materil (Tangerang Selatan: Yayasan Asy-Syari'ah Modern Indonesia, 2018) h.167
5
apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.
g. Menurut Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pada Pasal 1 angka 1, menerangkan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 Tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
h. Menurut Undang-undang No. 16 Tahun 2019 tentang perubahan atas Undang- undang nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan Pada Pasal 7, menyatakan bahwa perkawinan hanya di izinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 Tahun.
Namun dalam Islam, tidak ditentukan secara konkrit dalam menentukan batas usia untuk melangsungkan perkawinan jika sudah ada keinginan untuk kawin dan cukup umur untuk mengurus harta, para fuqoha sepakat cukup umur dalam arti sudah baligh yaitu (tercapi atau jelas) yaitu telah mencapai usia tertentu yang menjadi jelas bagi segala urusan atau permasalahan yang dihadapi dapat mempertimbangkan mana yang baik dan buruk. Kedewasaan ini apabila bagi pria mengeluarkan air mani dan menstruasi untuk wanita.9 Perkawinan usia dini terjadi karena berbagai faktor, seperti pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, ekonomi, orang tua, budaya, pergaulan bebas, dan media massa. Oleh karena itu perlu adanya pendewasaan usia kawin dalam arti mengusahakan penundaan kawin sampai seseorang cukup dewasa agar mencapai kematangan fisik, psikis, ekonomis dan mental adalah suatu ikhtiar manusia yang patut dihargai dan dapat dipertanggung jawabkan. Hal ini telah terbukti bahwa kawin di usia muda banyak membawa penderitaan dan tidak sedikit yang mengalami perceraian, sebaliknya kawin dalam usia cukup dewasa banyak membawa manfaat dan kemaslahatan, baik bagi keluarga yang bersangkutan maupun bagi masyarakat dan negara untuk menunjang berhasilnya program kependudukan dan keluarga berencana dalam rangka memperlambat laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi.
9 M. Abdul Mujeb, Kamus Istilah Fiqih, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994) h. 37
6
Ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang pemberian dispensasi kawin terhadap anak di bawah umur (belum mencapai batas usia minimum) berlaku sejak disahkannya Undang-undang Perkawinan dalam Peraturan Menteri Agama No. 3 Tahun 1975. Adapun ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Undang-undang maupun peraturan pelaksanaannya tidak memberi alasan-alasan terperinci dalam mengabulkan dispensasi kawin anak di bawah umur hanya didasarkan atas penilaian hakim. Karena dengan tidak disebutkan suatu alasan yang penting itu, maka dengan mudah saja setiap orang mendapatkan dispensasi kawin tersebut.
Permohonan Dispensasi kawin di Provinsi DKI Jakarta masih berada pada angka yang cukup tinggi. Berdasarkan data yang penulis dapatkan dari Laporan Tahunan Pengadilan Agama yang ada di provinsi DKI Jakarta, ditemukan bahwa Pengadilan Agama Jakarta Utara merupakan Pengadilan yang perkara Permohonan Dispensasi Kawinnya selalu mengalami peningkatan pada setiap tahunnya data menunjukkan pada Tahun 2017 sebanyak 35 perkara, pada Tahun 2018 sebanyak 38 perkara dan pada Tahun 2019 sebanyak 45 perkara.
Beranjak dari latar belakang masalah di atas, perlu dilakukan analisis faktor yang menyebabkan peningkatan permohonan tersebut melalui penelitian dalam skripsi ini dengan judul “Analisis Faktor Meningkatnya Angka Permohonan Dispensasi Kawin di Pengadilan Agama Jakarta Utara”.
B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah
a. Apa yang menyebabkan tingginya angka permohonan Dispensasi Kawin di Pengadilan Agama Jakarta Utara?
b. Bagaimana perbandingan permohonan Dispensasi Kawin di Pengadilan Agama Jakarta Utara sebelum dan sesudah revisi Undang-undang Perkawinan?
c. Bagaimana kesadaran hukum masyarakat dalam menanggapi revisi Undang- undang Perkawinan?
7
d. Apakah revisi Undang-undang Perkawinan menekan angka perkawinan usia dini?
e. Bagaimana implikasi hukum dari revisi Undang-undang Perkawinan?
f. Bagaimana implikasi sosial dari revisi Undang-undang Perkawinan?
2. Batasan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penelitian ini terbatas pada perkara permohonan penetapan Dispensasi Kawin pada Pengadilan Agama Jakarta Utara dalam kurun waktu tahun 2017,2018 dan 2019.
3. Perumusan Masalah
a. Apa faktor yang menyebabkan tingginya angka permohonan Dispensasi Kawin di Pengadilan Agama Jakarta Utara?
b. Bagaimana pertimbangan Hakim Pengadilan Agama Jakarta Utara dalam memberikan Dispensasi Kawin?
c. Bagaimana dampak pemberian Dispensasi Kawin terhadap anak di bawah umur?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui apa yang menyebabkan tingginya angka permohonan Dispensasi Kawin di Pengadilan Agama Jakarta Utara.
b. Untuk mengetahui pertimbangan Hakim Pengadilan Agama Jakarta Utara dalam memberikan Dispensasi Kawin.
c. Untuk mengetahui dampak dari adanya pemberian Dispensasi Kawin.
2. Manfaat Penelitian
a. Memberikan sumbangan pemikiran dan ilmu pengetahuan dalam perkembangan ilmu hukum perkawinan.
b. Memahami dan mengkaji tentang perkembangan hukum pasca revisi
8 Undang-undang Perkawinan.
c. Memberikan informasi tentang tingkat kesadaran masyarakat terkait perkawinan.
d. Menjadi rujukan bagi akademisi tentang bagaimana analisa secara mendalam mengenai Dispensasi Kawin.
D. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu
1. Nurmilah Sari (2011) dalam skripsi “Dispensasi Nikah di Bawah Umur (Studi Kasus di Pengadilan Agama Tangerang Tahun 2009-2010). Skripsi tersebut mengkaji mengenai permasalahan dispensasi kawin pada Pengadilan Agama Tangerang dan Pertimbangan Hukum tentang Permohonan dispensasi kawin oleh Pengadilan Agama Tangerang. Sedangkan yang membedakan dengan penelitian penulis terletak pada wilayah pengadilan yang penulis teliti yaitu Pengadilan Agama Jakarta Utara.
2. Eka Kurnia Maulida (2015) dalam Skripsi Dualisme Legalitas Pemohon Dalam Proses Pengajuan Dispensasi Perkawinan (Kajian Yuridis Terhadap Penerapan Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Peradilan Agama (Buku II)). Skripsi ini membahas mengenai pelaksanaan legalitas para pemohon dalam pengajuan dispensasi perkawinan terbatas pada orang tua calon mempelai baik pihak laki-laki maupun perempuan, wali atau keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas yang telah ditetapkan oleh Undang- Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974. Sedangkan yang membedakan dengan penelitian penulis terletak pada kajian sosiologis dan yuridis penulis terhadap Dispensasi kawin
3. Ilham Ramdani Rahmat (2019) dalam skripsi “Pernikahan Usia dini dan Hak Anak (Studi di Desa Suntenjaya Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat)” Membahas mengenai penyebab dan faktor perkawinan usia dini, serta implikasinya terhadap hak-hak anak. Sedangkan yang membedakan dengan penelitian penulis adalah terfokus kepada analisis faktor meningkatnya
9
permohonan Dispensasi Kawin yang terjadi di Pengadilan Agama Jakarta Utara.
E. Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Penelitian hukum ini menggunakan metode pendekatan Normatif-Empiris yakni penulis tidak saja berusaha mempelajari pasal-pasal perundang- undangan, pandangan pendapat para ahli dan menguraikan dalam skripsi atau karya penelitian ilmiahnya, tetapi juga menggunakan bahan-bahan yang sifatnya normatif itu dalam rangka mengolah dan menganalisis data-data dari lapangan yang disajikan sebagai pembahasan. Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif. Cara yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode analisis kualitatif, yakni data-data yang disusun dalam kata-kata atau kalimat- kalimat. Metode ini bertujuan untuk memberi gambaran secara sistematis yang berupa fakta dan karakteristik obyek dan subyek yang diteliti secara tepat.
2. Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian ini termasuk penelitian library research dan field research. Library research yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder.10 Kepustakaan dilakukan dengan menggunakan buku-buku, kitab-kitab fikih, perundang- undangan, dan yurisprudensi yang berhubungan dengan skripsi ini. Sedangkan jenis data yang digunakan adalah data kualitatif yaitu dengan melakukan field research.
10 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Cet. Ke-8, (Jakarta:
RajaGrafindo Persada 2004) h. 13
10 3. Sumber Data
a. Data Primer dalam penelitian ini adalah sumber data penetapan Pengadilan Agama Jakarta Utara pada tahun 2017 sebanyak 8 (delapan) penetapan ,2018 sebanyak 8 (delapan) penetapan dan 2019 6 (enam) penetapan, yang mengatur tentang pemeriksaan penetapan Dispensasi Kawin di Pengadilan Agama Jakarta Utara.
b. Data Sekunder, untuk melengkapi data primer yang diperoleh dari studi kepustakaan dengan mengkaji dan menelusuri literatur yang relevan baik berasal dari buku-buku, kitab fikih, majalah, jurnal-jurnal, dan lain-lain yang berkaitan dengan pembahasan yang di kaji.
4. Teknik Pengumpulan Data
a. Studi dokumenter yaitu menelaah bahan-bahan yang diambil dari sumber data penetapan Pengadilan Agama Jakarta Utara pada tahun 2017,2018, dan 2019, yang mengatur tentang pemeriksaan penetapan Dispensasi Kawin.
b. Studi kepustakaan untuk mendapatkan teori-teori dan konsep yang berkenaan dengan metode penetapan hakim dalam memberikan izin Dispensasi Kawin melalui berbagai buku dan literatur yang dipandang mewakili dan berkaitan dengan obyek penelitian.
5. Teknik Analisis Data
Bahan yang diperoleh, lalu dianalisis secara kualitatif yang dilakukan terhadap data yang diolah dengan menggunakan uraian-uraian untuk memberi gambaran, sehingga menjadi sistematis dan menjawab permasalahan yang telah dirumuskan. Data yang ada dianalisis sehingga dapat membantu sebagai dasar aturan dan pertimbangan hukum yang berguna dalam menganalisis Dispensasi Kawin di Pengadilan Agama Jakarta Utara.
11 F. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pembahasan dalam penulisan, skripsi ini dibagi atas lima bab yang saling berkaitan satu sama lain yaitu:
Bab Pertama, Berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang yang menjadi dasar mengapa penulisan ini diperlukan, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, review studi terdahulu, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab Kedua, Berisi mengenai pengertian perkawinan, rukun dan syarat perkawinan, pengertian Dispensasi Kawin, dan dasar hukum Dispensasi Kawin.
Bab ketiga, Memaparkan Profil Pengadilan Agama Jakarta Utara beserta statistik perkara Dispensasi Kawin pada tahun 2017-2019.
Bab Keempat, Merupakan bab inti yaitu bahasan utama dalam skripsi ini. Yaitu analisis faktor penyebab meningkatnya angka permohonan Dispensasi Kawin di Pengadilan Agama Jakarta Utara.
Bab Kelima, Merupakan bab penutup pembahasan yang berupa kesimpulan hasil penelitian ini secara keseluruhan beserta saran- saran.
12 BAB II
PERKAWINAN DAN DISPENSASI KAWIN A. Perkawinan
1. Pengertian Perkawinan
Kawin menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) yaitu ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama11 kawin berarti perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri dengan resmi. Perkawinan dalam literatur hukum Arab terdiri dari dua kata yaitu kawin dan zawaj. Kedua kata ini digunakan dalam kehidupan sehari-hari orang Arab dan banyak ditemukan dalam Alquran dan Hadits Nabi.12 Hakikat untuk perkawinan itu sendiri merupakan “akad” yang memperbolehkan seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk melakukan hal yang sebelumnya tidak diperbolehkan untuk dilakukan.
Perkawinan bagi Hukum Fikih ialah adanya akad antara calon suami dengan wali kawin yang jadi halalnya bersetubuh antara istri serta suaminya dengan kalimat kawin. Perkawinan identik dengan kata Perkawinan. Kawin secara etimologis mempunyai sebagian makna, ialah berkumpul, bersetubuh, serta akad.
Arti kawin yakni persetubuhan, yang setelah itu secara majaz dimaksud akad, sebab tercantum ke dalam “karena” serta “akibat”.13 Perkawinan pula biasa dimaksud pengikatan diri pada sesuatu perjanjian dalam sesuatu ikatan perdata dengan mematuhi syarat, baik buat calon pengantin pria maupun calon pengantin wanita.14
Secara terminologi para Ulama Pakar dalam Hukum Fikih
11 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Edisi Ke- 4, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008) h. 335.
12 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia, (Jakarta:Kencana,2007) h. 37
13 Mardani, Hukum Keluarga Islam Di Indonesia, (Jakarta: Prenadamedia Group,2016) h. 24
14 Dzulkifli Umar dan Ustman Handoyo, Kamus Hukum (Dictionary of Law New Edition), (Surabaya: Quantum Media Press, 2010) h. 213
13
mendefinisikan kawin dengan redaksi yang sangat bermacam-macam. Sekaligus berbeda, tetapi intinya mereka mempunyai sesuatu rumusan yang secara Substansial sama. Pendapat para Ahli ushul fikih mengartikan pengertian kawin yaitu: Menurut Imam Syafi’i, kata Kawin secara terminologi yaitu, akad yang dengannya menjadi halal hubungan seksual sebagai suami istri antara seorang pria dan seorang wanita. Menurut Imam Hanafi Kata kawin, menurut arti sebenarnya (hakiki) berarti “bersetubuh”, dan dalam arti tidak sebenarnya (majazi) arti kawin berarti “akad” yang menghalalkan hubungan kelamin antara pria dan wanita.15 Adapun menurut Imam Hambali, bahwa kata kawin untuk dua kemungkinan tersebut yang disebutkan dalam arti sebenarnya sebagaimana yang terdapat dalam kedua pendapat di atas yang disebutkan sebelumnya yang mengandung dua unsur sekaligus yaitu kata kawin untuk akad dan bersetubuh.16 Para fukaha mengartikan kawin dengan akad yang ditetapkan oleh hukum syara’ seorang suami dapat bersenang-senang dengan kehormatan seorang istri yang semulanya dilarang.17
Sebagai Agama yang memahami fitrah manusia, Islam tentu telah mensyariatkan perkawinan bagi setiap manusia, dengan melakukan perkawinan maka seseorang dapat terpenuhi kebutuhan secara fitrahnya sebagai suami dan istri. Selain itu kawin merupakan ibadah yang mana jika mengerjakannya mendapatkan pahala. Maka seseorang yang akan melaksanakan perkawinan tentu harus dengan niat serta dengan kemauan yang baik, semata-mata hanya untuk taat kepada yang sudah disyariatkan oleh Allah. Karena dengan melaksanakannya berarti sudah berusaha menyempurnakan sebagian keimanan, ditambah dengan menyempurnakan dengan ibadah lainnya.
Banyak terjalin perbandingan pendapat dalam mendefinisikan kawin.
Perbandingan pendapat ini sesungguhnya bukan untuk memperlihatkan
15 Amir Syarifuddin, Hukum Perwakafan Di Indonesia, cet. II (Jakarta: Prenada Mulia, 2007) h.36-37
16 Chuzaimah Tahido Yanggo dan Hafiz Anshary AZ, Problematika Hukum Islam Kontemporer Buku Pertama (Jakarta: LSIK, 1994) h.53
17 Mardani, Hukum Keluarga Islam Di Indonesia,(Jakarta:Prenadamedia Group,2016) h. 25
14
pertentangan yang besar antara pendapat satu dengan yang lain. Melainkan bagaikan sesuatu anugerah sebab begitu luas serta beragam pemikiran manusia tentang kawin. Kawin adalah sunnatullah yang artinya bahwa perintah-perintah Allah SWT dan utusannya bukan hanya nafsu atau hawa nafsu manusia, karena orang yang sudah mekawin berarti telah bekerja di dalam syariat Islam.
Perkawinan dalam Islam merupakan fondasi dasar untuk membentuk sebuah keluarga. Perkawinan harus dilakukan oleh manusia untuk mencapai tujuan Islam yaitu kemaslahatan hidup.
Perkawinan bagaikan perjanjian suci antara seseorang laki-laki degan serta seseorang wanita untuk membentuk keluarga yang bahagia. Salah satu tujuan syariah Islam (maqashid asy-syariah) sekalian tujuan perkawinan merupakan hifdz an-nasl ialah terpelihara kesucian keturunan manusia. Tujuan syariah ini bisa dicapai dengan jalur perkawinan yang legal menurut agama dan diakui oleh Undang-Undang. Perkawinan tidak hanya terkait unsur hubungan dengan manusia tetapi terkait juga dengan hubungan Hukum Keperdataan. Mengenai pengertian Islam maqashid asy-syariah dapat menjelaskan makna atau pengertian yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Untuk mencapai ini melalui tasyri dan aturan, hukum dibuat oleh para mujtahid. Dengan itu sasaran utama dari maqashid syariah yaitu terciptanya kemaslahatan untuk umat manusia secara umum.
Perlu dicatat bahwa hukum Syariah tidak membuat hukumnya secara kebetulan, tetapi menggunakannya untuk mencapai tujuan umum. Kecuali jika kita memahami arti syara saat membuatnya, kita tidak akan dapat memahami teks-teks dasar ini. Terkadang menerima sebagian arti yang di tarjihkan yang salah satu maknanya adalah mengetahui maksud syara, karena kaidah pembentukan hukum Islam berdasarkan penelitian terhadap hukum-hukum syara. Sebagaimana prinsip dasar penerapan hukum harus dipertahankan dari teks, prinsip dasar juga harus dipertahankan tanpa teks, maka wajib pula memelihara dasar-dasar dan pokok- pokok itu dalam hal yang tidak ada nash nya, supaya pembentukan hukum itu dapat merealisasikan apa yang menjadi tujuan pembentukan hukum itu, dan dapat
15
mengantarkan kepada merealisasikan kemaslahatan manusia.
2. Dasar Hukum Perkawinan
Dalam perspektif fikih, kawin disyariatkan dalam Islam berdasarkan Alquran dan Hadis Nabi. Adapun Ayat yang menunjukkan kawin disyariatkan adalah firman Allah dalam QS. Ar-Rum ayat 21 yang berbunyi:
ِهِتََٰياَء ْنِم َو ًةَّد َوَّم مُكَنْيَب َلَعَج َو اَهْيَلِإ ۟ا وُنُكْسَتِ ل اًج ََٰو ْزَأ ْمُكِسُفنَأ ْنِ م مُكَل َقَلَخ ْنَأ ۦ
َنوُرَّكَفَتَي ٍم ْوَقِ ل ٍتََٰياَءَل َكِلََٰذ ىِف َّنِإ ۚ ًةَمْحَر َو
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Ar- Rum:21)
Adapun dari hadis Nabi SAW yang menerangkan tentang anjuran untuk mekawin yaitu terdapat dalam hadis riwayat Abdullah bin Mas’ud ra berbunyi:
ُنَص ْحَأ َو رَصَبْلِل ُّضَغَأ ُهَّنإَف ،ْج َّو َز َتَيلَفةَءاَبْلا ْمُكْنِم َعاَطَتْسا ِن َم ِباَبَّشلا َرَش ْعَم ا َي ءاَجو ُهَل ُهَّنإ َف ِم ْوَّصلااب ِهْيَلَعَف ْعِطَتْسَي ْمَل ْنَم َو ،ِج ْرَفْلِل
Artinya: “Wahai para pemuda, barang siapa yang mampu untuk mekawin maka mekawinlah, karena sesungguhnya mekawin itu dapat menundukan pandangan dan menjaga kemaluan (dari perbuatan Zina) dan barang siapa yang tidak mampu maka hendaknya ia berpuasa, karena puasa itu adalah sebuah penawar.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Mengenai hukum kawin sendiri para ulama sepakat mengatakan kawin itu disyariatkan. Ulama pakar fikih berbeda pendapat dalam menentukan kedudukan hukumnya. Secara umum ada pendapat tentang hukum kawin seperti sunah menurut kelompok jumhur dan wajib menurut golongan Zahiriyah. Kelompok pengikut mazhab Maliki yang belakangan merinci kedudukan hukum kawin
16
berdasarkan kondisi, yaitu hukum wajib untuk sebagian orang dan sunah untuk sebagian lainnya dan dapat juga memiliki hukum mubah bahkan haram, tergantung pada keadaan masing-masing sesuai kemampuan menghindarkan diri dari perbuatan tercela.
a. Wajib hukumnya menurut jumhur ulama bagi orang yang mampu untuk mekawin dan kuatir akan melakukan perbuatan zina. Alasannya, dia wajib menjaga dirinya agar terhindar dari perbuatan haram.
b. Haram hukumnya bagi orang yang yakin akan menzalimi dan membawa kemudaratan kepada istrinya karena ketidakmampuan dalam memberi nafkah lahir dan batin.
c. Sunah hukumnya menurut jumhur ulama bagi yang apabila tidak mekawin, sanggup menjaga diri untuk tidak melakukan perbuatan haram dan, apabila ia mekawin ia yakin tidak akan menzalimi dan membawa kemudaratan kepada istrinya.
d. Makruh hukumnya bagi orang yang khawatir akan berbuat nista dan membawa kemudaratan kepada istrinya dan tidak merasa yakin dapat menghindari hal itu jika ia mekawin, misalnya merasa tidak yakin dapat menghindari hal itu jika ia mekawin, memberi perlakuan tidak baik kepada istri serta merasa tidak terlalu berminat terhadap perempuan.
Dari uraian di atas menggambarkan bahwa dasar perkawinan menurut Islam, pada dasarnya bisa menjadi wajib, haram, sunah, dan mubah tergantung dengan keadaan maslahat atau mafsadatnya. Bersumber pada ijma para ulama setuju kalau kawin merupakan perbuatan yang mulia serta banyak membagikan kemanfaatan, apalagi dengan kawin dapat kurangi jumlah pelanggaran pada permasalahan zina yang hendak menyebabkan kehancuran, bukan saja pada dirinya sebagai penzina namun pada masyarakat bahkan bangsa.18
18 Dewani Romli, Fiqih Munahat, (Lampung, 2009) h.21
17
Selain dari hukum Islam Alquran dan Sunah Nabi mengenai perkawinan.
Hukum positif juga sudah mengatur tentang perkawinan yaitu terdapat dalam Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam. Perkawinan yang sudah diatur sebagaimana yang tertera dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 pada pasal 1 yaitu19: “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Bagaikan negeri yang berlandaskan Pancasila di mana sila awal yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, hingga perkawinan memiliki ikatan erat sekali dengan agama, sehingga perkawinan bukan cuma mempunyai faktor batin/
rohani pula memiliki peranan berarti buat membentuk keluarga yang bahagia serta kekal. Oleh karena itu maka perkawinan sebagai ikatan lahir dan batin antara seorang istri dengan seorang suami sehingga mengandung makna bahwa perkawinan adalah persoalan antara pihak yang satu dengan yang akan melangsungkan perkawinan adalah persoalan kedua belah pihak dan akan menjadi seorang suami istri.20
Adapun pengertian yang dimaksud dalam pasal ini sangat baik seperti yang dijelaskan oleh Wirjono Prodjodikoro ia menjelaskan bahwa perkawinan merupakan kebutuhan hidup yang ada di masyarakat, maka untuk perkawinan dibutuhkan ketentuan yang jelas mengenai syarat, pelaksanaan, kelanjutan dan pemutusan perkawinan.21 Oleh sebab itu suami istri butuh saling menolong serta memenuhi guna bisa meningkatkan kepribadiannya menolong serta menggapai kesejahteraan spiritual serta materiil.22
Istilah perkawinan juga sering disebut dengan sebutan perkawinan.
Dalam bahasa Indonesia perkawinan berasal dari kata kawin, yang menurut bahasa, artinya membentuk keluarga dengan lawan jenis; melakukan hubungan
19 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Pasal 1
20 Prof H. Hilman Hadikusuma, hukum perkawinan, (Bandung: Mandar Maju, 2007) h.10
21 Umar Haris Sanjata, Hukum Perkawinan Islam, (Yogyakarta:Gama Media,2017) h.10
22 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana,2007) h.25
18
kelamin atau bersetubuh Kata kawin digunakan secara umum, untuk tumbuhan, Hewan dan manusia, serta menunjukkan proses kelahiran yang wajar.23 sebaliknya istilah perkawinan hanya digunakan pada manusia, karena mempunyai legalitas menurut hukum dan adat istiadat nasional, terutama menurut agama.
Selain dari Undang-Undang No. 1 Tahun 1974. Perkawinan menurut Islam juga terdapat dalam bab Perkawinan pasal 2 KHI Kompilasi Hukum Islam yaitu: “perkawinan menurut hukum Islam adalah perkawinan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitsaqon ghalidzon untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah”. Hal ini lebih menjelaskan bahwa perkawinan bagi umat Islam merupakan peristiwa yang penting dan oleh karena itu orang yang melaksanakannya telah melakukan ibadah24. Dan pada pasal 3 mengenai tujuan dari perkawinan yaitu untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warahmah.25
Dapat dilihat dari rumusan kedua pasal dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam). Yaitu pengertian dari perkawinan itu sendiri pada prinsipnya merupakan ungkapan dari ikatan lahir dan batin, tidak hanya sekedar hubungan Hukum keperdataan saja melainkan juga perjanjian yang lebih sampai kepada ketuhanan Yang Maha Esa. Dari penjelasan tersebut mengenai pengertian dari perkawinan yang terdapat pada Pasal 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dan Pasal 2 serta Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam dapat diketahui bahwa perkawinan yaitu subyek dan objek yang sudah diatur jelas dalam Agama yang tentunya memiliki efek yang luas untuk dirinya dan juga bagi Agamanya. Oleh karena itu adanya KHI dalam memahami lebih dalam tentang dasar hukum perkawinan merupakan salah satu aspek ajaran Islam yang menempati posisi penting dalam pandangan umat
23 Tihami, Sohari Sahrani, Fikih Munakahat: Kajian Fikih Kawin Lengkap, (Jakarta: Rajawali Press, 2009) h.7
24 Syarifudin Amir, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia: Antara Fiqih Munakahat dan UU Perkawinan, (Jakarta: Kencana, 2007) h. 40.
25 Kompilasi Hukum Islam buku 1 Tentang Perkawinan pasal 2 dan pasal 3
19
Islam dan menjadi mustahil memahami Islam tanpa memahami hukum Islam.
B. Rukun dan Syarat Perkawinan
Menurut Hukum Islam bahwa setiap perbuatan hukum harus memenuhi dua unsur yaitu adanya rukun dan syarat. Dalam Kamus bahasa Indonesia secara etimologis rukun adalah hal yang harus dipenuhi untuk sah nya suatu pekerjaan.26 Pada hakikatnya Rukun adalah sesuatu yang mesti ada untuk menentukan sah atau tidaknya suatu ibadah seperti dalam perkawinan perlu adanya calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan dalam melangsungkan perkawinan.27 Adapun syarat yakni segala sesuatu yang perlu atau harus ada.28 Secara terminologi, syarat adalah segala sesuatu yang tergantung adanya hukum yang dimaksud yaitu keberadaan hukum syara’ yang menimbulkan adanya efek.
Adapun Menurut Imam Syafi’i yang dimaksud dengan rukun perkawinan adalah keseluruhan yang secara langsung berkaitan dengan perkawinan beserta segala unsurnya. Sehingga rukun perkawinan adalah segala hal yang harus terwujud dalam suatu perkawinan. Adapun rukun akad perkawinan ada 5 yaitu:
1. Pertama, calon suami. Syarat-syaratnya adalah:
a. Beragama Islam b. Jelas laki-laki
c. Tidak sedang melaksanakan ihram haji/umrah d. Tidak mempunyai istri empat
e. Tidak dipaksa
f. Bukan mahram calon istri29
2. Kedua, calon istri. Syarat-syaratnya adalah:
a. Beragama Islam b. Jelas Perempuan
26 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, h.1114
27 Abd Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat, (Bogor:Kecana,2003) h. 45
28 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, h.1402
29 M. Zaenal Arifin, Fiqh Munakahat, (Madiun:CV.Jaya Star Nine,2019) h.8
20 c. Dapat dimintai persetujuan diri
d. Tidak sedang melaksanakan ihram haji/umrah e. Tidak terdapat halangan perkawinan
3. Ketiga, wali kawin. Syarat-syaratnya adalah:
a. Laki-laki b. Dewasa
c. Mempunyai hak perwalian
d. Tidak terdapat halangan perwalian30
4. Keempat, saksi kawin. Syarat-syaratnya adalah:
a. Beragama Islam b. Baligh (dewasa) c. Berakal
d. Dua orang saksi e. Laki-laki
f. Bisa mendengar, melihat dan dapat berbicara g. Sehat jasmani dan rohani
h. Bisa mengerti bahasa kedua belah pihak
5. Kelima, ijab dan qobul. Syarat-syaratnya adalah:
a. Satu majelis
b. Saling mendengar dan mengerti
c. Jelas ijab dari wali dan qobul dari calon mempelai d. Memakai kalimat kawin
e. Kalimat ijab dan qobul bersambungan.31
Rukun dan syarat perkawinan wajib dipenuhi, jika tidak terpenuhi maka tidaklah sah. Dalam kitab al-figh ‘ala al mazhib al-araba’ah menjelaskan bahwa kawin fasid yaitu kawin yang tidak terpenuhi syarat-syaratnya, sedangkan kawin batil adalah kawin yang tidak terpenuhi rukun-rukun nya dan hukum kawin fasid
30 Mardani, Hukum Perkawinan Islam Di Dunia Modern, (Yogyakarta:Graha Ilmu,2011) h.10
31 Ahmad Sarwat, Seri Fiqh Kehidupan Kawin,(Jakarta:DU Publishing,2011) h.140
21
dan kawin batil adalah sama yaitu tidaklah sah. Syarat dan rukun perkawinan merupakan hasil pemikiran para ulama dengan hasil ijtihad kebutuhan akan adanya rumusan syarat atau rukun yaitu untuk memberikan pemahaman antara apa yang disebutkan dalam nash Alquran dan sunah Nabi Muhammad saw yang bersifat prinsip dasar supaya dapat mengimplementasikan dalam kehidupan.
Adapun syarat-syarat perkawinan menurut Kompilasi hukum Islam yaitu, harus ada calon suami dan istri, calon mempelai harus seagama seagama atau seiman, bagi calon suami dapat memberikan persetujuan diri nya dan istri dapat diminta persetujuan nya, harus adanya wali yang mempunyai hak perwalian terhadap calon istri. Harus adanya saksi minimal dua orang, dan ijab dan qobul untuk mengesahkan perkawinan tersebut. Syarat tersebut sangat erat kaitannya dengan sah atau tidaknya perkawinan menurut Kompilasi hukum Islam, semua syarat-syarat tersebut harus dipenuhi jika ingin melaksanakan perkawinan atau perkawinan, jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi maka perkawinan. atau perkawinan tersebut dapat dibatalkan.32
Dari penjelasan berikut dalam perkawinan ada lima rukun yang harus dipenuhi yaitu adanya Calon suami, Calon istri, Wali kawin, Saksi kawin, Ijab qobul, hal ini tentu berkaitan dengan sah atau tidaknya suatu perkawinan. Rukun dan syarat dalam sebuah perkawinan tentunya harus dilaksanakan sesuai dengan yang sudah ditentukan. Di Indonesia terkait tentang perkawinan yang sudah diatur jelas dalam peraturan perundang-undangan dan tentunya secara syara’. Pada peraturan perundang-undangan syarat sah nya perkawinan yaitu mengenai batas usia bagi seseorang yang ingin melangsungkan perkawinan.33 Untuk itu bagi setiap warga negara Indonesia wajib mematuhi aturan yang dibuat untuk kemaslahatan warga negara Indonesia teruntuk dengan ketentuan mengenai aturan batas usia dalam syarat sah nya perkawinan.
32 Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta:
Prenada, 2004) h.63
33 Nabiela Naily, Nurul Asiya Nadhifa, Holilur Rohman, Mahir Amin, Hukum Perkawinan Islam Indonesia,(Jakarta:Prenadamedia,2019) h.152
22 C. Dispensasi Kawin
1. Pengertian Dispensasi Kawin
Penafsiran Dispensasi menurut kamus besar bahasa indonesia (KBBI) ialah terdapatnya pengecualian dari peraturan universal dalam perihal maupun sesuatu kondisi yang spesial, pembebasan dari sesuatu kewajiban maupun larangan. Dalam dispensasi kawin membenarkan suatu tindakan yang pada awalnya dilarang oleh pemerintah pembuat Undang-Undang.34 Dengan kata lain Dispensasi merupakan suatu penetapan yang membuat suatu ketentuan Undang- Undang yang diajukan oleh seorang pemohon. Adapun pendapat disampaikan oleh C.S.T. Kansil, Chistine S.T Kansil dalam bukunya yaitu makna dispensasi merupakan penetapan yang menyatakan bahwa suatu ketentuan peraturan memang tidak berlaku bagi kasus yang diajukan oleh seorang Pemohon.35
Terkait dengan perkawinan atau perkawinan dapat dilangsungkan apabila telah terpenuhi syaratnya yang tentu sudah ditentukan dalam regulasi. Salah satu syaratnya mengenai usia calon pasangan suami istri yang akan melangsungkan perkawinan. Tujuannya untuk menjaga keutuhan rumah tangga dan untuk mencegah terjadinya perkawinan anak, karena anak dianggap belum cakap hukum, layaknya anak yang seharusnya masih bermain dan belum bisa berpikir dewasa dalam menghadapi permasalahan dalam keluarga nanti.
Perkawinan untuk manusia ialah perihal yang sangat berarti sebab dengan suatu perkawinan seseorang hendak mendapatkan penyeimbang hidup baik secara sosial, biologis maupun psikologis. Seorang dengan melakukan suatu perkawinan hingga kebutuhan biologis nya hendak terpenuhi dengan sendirinya, sehingga ia hendak dapat menyalurkan kebutuhannya dengan pendamping hidupnya.
Sedangkan itu secara mental serta rohani, mereka yang sudah mekawin lebih
34 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Edisi Ke- 4,
(Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008) h. 335
35 C.S.T Kansil dan Chistine S.T Kansil, Kamus Istilah Aneka Ilmu, (Jakarta: Surya Multi Grafika, 2001) h. 52
23
sanggup mengatur emosi serta hawa nafsunya. Perkawinan orang-orang yang belum dewasa tidak akan menghasilkan keturunan yang baik. Apabila perkawinan dilaksanakan oleh orang-orang yang belum dewasa, maka perkawinan itu tidak akan mencapai tujuannya, yakni keturunan yang baik.
Perkawinan pada biasanya dilakukan oleh orang berusia atau cukup umur dengan tidak memandang pada profesi, agama, suku, bangsa, harta serta yang lain.
Perkawinan bukanlah suatu perbuatan yang bersifat sementara melainkan untuk seumur hidup. Sayang tidak seluruh orang menguasai hakikat serta tujuan dari perkawinan yang seutuhnya ialah memperoleh kebahagiaan yang sejati dalam rumah tangga. Dari adanya dispensasi Selain mengantisipasi perkawinan anak, dan batas usia perkawinan juga bertujuan untuk menekan angka perceraian, mendapatkan keturunan yang sehat dan berkualitas, menurunkan resiko kematian ibu dan anak, serta guna memenuhi hak-hak anak berupa hak tumbuh kembang yang baik, mendapatkan pendampingan dari orang tua, serta pendidikan yang tinggi.
Dispensasi Kawin merupakan Salah satu upaya yang dilakukan oleh Undang-undang perkawinan untuk merealisasikan kekekalan perkawinan adalah dengan penetapan batas usia mekawin bagi seseorang.36 Dispensasi Kawin artinya perkawinan ini terjadi pada pasangan atau salah satu calon pasangannya mempunyai usia dibawah standar ketentuan batas usia kawin37 Dispensasi usia minimal perkawinan adalah pemberian kelonggaran kepada calon mempelai yang belum memenuhi syarat usia minimal untuk melangsungkan perkawinan.
Bilamana usianya belum mencapai usia minimal perkawinan dapat memohon dispensasi kawin ke Pengadilan Agama berdasarkan daerah hukum tempat tinggalnya.
36 Undang-undang No. 16 Tahun 2019 Tentang Perkawinan Pasal 7 Ayat (1)
37Abdul Manan, Etika Hakim dalam penyelenggaraan Peradilan, (Jakara:Kencana, 2007) h.
135-137
24 2. Landasan Hukum Dispensasi Kawin
Peraturan mengenai dispensasi kawin telah mengalami perubahan dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, perubahan akan undang-undang ini dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 dan diberlakukan sejak tanggal 15 Oktober 2019 yang substansi perubahannya terletak pada usia perkawinan. Dari adanya Undang-Undang perkawinan yang baru ini ditentukannya batas usia yang sebelumnya wanita 16 tahun sekarang berubah menjadi 19 tahun. bunyi pasal menurut Undang-Undang No 16 Tahun 2019 pasal 7 ayat (1) yaitu “Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun.”38 Peraturan tentang pelaksanaan perkawinan telah mengatur dalam undang-undang nomor 1 tahun 1974. Termasuk aturan tentang syarat-syarat perkawinan, salah satu syaratnya adalah didalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 98 ayat 1 menyebutkan bahwa batas usia anak yang mampu berdiri sendiri atau dewasa adalah 21 tahun sepanjang anak tersebut tidak bercacat fisik maupun mental atau belum pernah melangsungkan perkawinan.39
Perihal terkait dengan dispensasi perkawinan yang merupakan kewenangan absolut bagi Pengadilan Agama, sebagaimana tertuang dalam Undang-undang No. 3 tahun 2006 pasal 49, yaitu: Bahwa Pengadilan bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang: perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shadaqah, dan ekonomi syariah. Pengadilan Agama memiliki kewenangan untuk menerima, memeriksa dan memutuskan perkara yang termuat dalam isi pasal tersebut termasuk dengan permohonan Dispensasi Kawin yang dalam penyelesaiannya tentu tidak terlepas dari pertimbangan aspek yaitu aspek sosiologis, yuridis, filosofis maupun historis. Hal penting yang dapat dipahami dari adanya perkawinan di bawah umur yaitu harus
38 Undang-undang No. 16 Tahun 2019 Tentang][ Perkawinan Pasal 7 Ayat (1)
39 Pustaka Widyatama Kompilasi Hukum Islam, (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2004) h.48
25
dilakukan dengan proses hukum melalui penetapan pengadilan.40 Sebagaimana Ketentuan yang sama juga dijelaskan dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 1975 mengenai ketentuan batas usia perkawinan, jika usianya belum mencapai usia minimal perkawinan dapat memohon dispensasi kawin ke Pengadilan Agama berdasarkan daerah hukum tempat tinggalnya. Dalam hal ini bahwa Pengadilan Agama merupakan salah satu dari beberapa badan peradilan yang sah dan bersifat khusus yang hanya berwenang dalam menyelesaikan perkara perdata tertentu, tidak untuk perkara pidana melainkan hanya untuk orang-orang yang beragama Islam saja.
Ulama fikih menyatakan bahwa yang jadi ukuran dalam memastikan seorang sudah mempunyai kecakapan berperan hukum yaitu merupakan setelah Aqil Baligh (Mukallaf) serta pintar dan cerdas. Menurut Murtadha Murthahari (Ulama asal Iran) sebagaimana dilansir M. Quraish Shihab menerangkan bahwa masa baligh maupun berusia merupakan saat bulu rambut wajah (cambang) serta dagu (jenggot) dan bulu dada pemuda mulai berkembang. Sebaliknya, pada masa itu jari-jari wanita terasa mendapatkan kelembutan, pinggulnya mulai membengkak. Demikian pula timbul tonjolan yang jelas pada dadanya bagaikan persiapan melakukan guna persiapan fungsi penyusuan anak.41 Majelis Ulama Indonesia membagikan fatwa bahwa umur kelayakan perkawinan merupakan umur kecakapan berbuat serta menerima hak (ahliyatul ada’ serta ahliyatul wujub).42 Tidak ada ayat Alquran yang secara khusus jelas dan terarah mengatakan batasan umur perkawinan dan tidak pula ada hadis yang secara langsung menyebutkan batas usia, bahkan Nabi sendiri memperistri Siti Aisyah pada dikala usianya 9 tahun dan menggaulinya sehabis usia 12 tahun.43
40 Mardi candra, aspek perlindungan anak indonesia,(Jakarta:kencana,2018) h.7
41 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2005) h. 14-15.
42 Majelis Ulama Indonesia, Ijma’ Ulama (Keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se- Indonesia III Tahun 2009), (Jakarta: Majelis Ulama Indonesia, 2009) h. 78
43 Peunoh Daly, Hukum Perkawinan Islam Suatu Studi Perbandingan Dalam Kalangan Ahlusunnah dan Negara-negara Islam, (Universitas Michigan: Bulan Bintang, 1988), Digital 10 Juli 2006, h.66