SKRIPSI
SUSTAINABLE CITIES AND COMMUNITIES DALAM PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT
PESISIR DI PULAU LAE-LAE
CHANDRA PRATAMA MP Nomor Stambuk : 105640216815
PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2020
Skripsi
Sebagai salah satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan
Disusun dan di usulkan oleh:
CHANDRA PRATAMA MP Nomor Stambuk : 105640216815
Kepada
PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2019 ii
v
PULAU LAE-LAE (dibimbing oleh Muhammad Tahir dan Budi Setiawati).
Penelitian ini membahas tentang Sustainable Cities And Communities Dalam Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Di Pulau Lae-Lae. Lokasi penelitian ini bertempat di Kawasan Pesisir Kota Makassar yang wilayah administratifnya terfokus di Pulau Lae-lae, Kelurahan Lae-lae, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yakni memberikan gambaran secara objektif terkait bagaimana keadaan sebenarnya objek yang diteliti, dan tipe penelitian yang digunakan adalah tipe fenomenologi. Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder dengan jumlah Informan sebanyak 6 orang. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu membandingkan antara pendapat informan yang satu dengan yang lainnya dengan mengajukan pertanyaan yang sama. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukakan bahwa dari segi sosial dengan adanya pembangunan proyek reklamasi yang berlokasi dipesisir kota Makassar kondisi sosial masyarakat pulau Lae-lae tidak terlalu terganggu dengan adanya kerjasama pemerintah dan pihak CPI, meskipun belum sepenuhnya terlaksana dengan baik.
segi ekonomi masyarakat mengeluhkan kondisi ekonomi mereka yang semakin berkurang dengan adanya proyek reklamasi CPI. dari segi lingkungan telah ada perbaikan tanggul yang rusak akibat proses pembangunan yang dilakukan oleh pihak CPI tetapi masyarakat mengharapkan pemerintah dan pihak swasta agar lebih memperhatikan kondisi laut agar tetap terjaga karena laut adalah satu- satunya sumber kehidupan mereka yang tinggal di daerah pesisir.
Kata Kunci : Sustainable Cities And Communities, CPI
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan Rahmat, Taufik dan Hidayah-Nyalah, sehingga penulisan skripsi ini yang berjudul “Sustainable Cities and Communities Dalam Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Di Pulau Lae-Lae ”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana dalam Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah. Skripsi ini terdiri dari lima bab yaitu, Bab I Pendahuluan, Bab II Tinjauan Pustaka, Bab III Metode Penelitian, Bab IV Hasil Penelitisn dan Pembahasan dan V Kesimpulan dan Saran.
Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, cukup banyak hambatan dan rintangan yang penulis hadapi, terutama karena keterbatasan- keterbatasan yang penulis miliki, namun semua telah selesai sebagai upaya untuk memenuhi syarat guna memperoleh Gelar.
Dapat diatasi berkat bantuan dan bimbingan dari semua pihak. Untuk itu pada kesempatan yang sangat berbahagia ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Dr. Muhammad Tahir, M.Si selaku pembimbing I dan Ibu Dr. Hj. Budi Setiawati, M.Si selaku pembimbing II yang senantiasa memberikan bimbingan dan masukan dalam penulisan Skripsi sehingga ini dapat di selesaikan, selain itu juga tidak lupa mengucapkan kepada yang terhormat:
vii
mendoakan yang terbaik buat anaknya dan tentunya bantuan materi dalam menyelesaikan studi pada tingkat kesarjanaan (S1) sehingga ada semangat dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.
2. Bapak Dr, H. Rahman Rahim, SE, MM selaku Rektor dan seluruh jajaran Wakil Rektor di Universitas Muhammadiyah Makassar
3. Ibu Dr. Hj. Ihyani Malik S.Sos, M.Si Selaku Dekan dan seluruh jajaran Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Dr. Nuryanti Mustari, S.IP, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.
5. Kepada Dosen dan Staf Pegawai Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar
6. Kepada Dinas Bapedda kota Makassar yang telah meluangkan waktunya untuk penulis dan memberikan informasi yang akurat selama proses penelitian berlangsung
7. Kepada Dinas PSDA Provinsi kota Makassar yang telah meluangkan waktunya untuk penulis dan memberikan informasi yang akurat selama proses penelitian berlangsung
viii
8. Kepada staff dan masyarakat kelurahan Lae-Lae yang telah meluangkan waktunya untuk penulis dan memberikan informasi yang akurat selama proses penelitian berlangsung
9. Kepada teman-teman IPC Jurusan Ilmu Pemerintahan Angkatan 2015, selalu ada di saat saya membutuhkan bantuan, memberikan doa dan motivasi.
10. Pihak-pihak lain yang tidak sempat penulis sebutkan namanya satu persatu, terima kasih atas seluruh bantuannya selama ini.
Demi kesempurnaan skripsi ini, saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan, akhir kata penulis ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang terkait dalam penulisan skripsi ini, semoga karya tulis ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangsi yang berarti bagi pihak yang membutuhkan, semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayah pada hamba-Nya Aamiin.
Makassar, 28 Desember 2019 Penulis
ix
10 DAFTAR ISI
Halaman Pengajuan Skripsi ... i
Halaman Persetujuan ... ii
Halaman Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ... iii
Abstrak ... iv
Kata Pengantar ... v
Daftar Isi... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 8
C. Tujuan Masalah ... 9
D. Manfaat Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11
A. Konsep Kota Berkelanjutan... 11
B. Konsep Perubahan Sosial Ekonomi... 16
C. Kerangka Pikir ... 20
D. Fokus Penelitian ... 22
E. Deskripsi Fokus Penelitian ... 22
BAB III METODE PENELITIAN ... 24
A. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 24
B. Jenis dan Waktu Penelitian ... 24
C. Sumber Data ... 25
D. Informan Penelitian ... 25
E. Tehknik Pengumpulan Data ... 26
F. Tehknik Analisis Data ... 28
G. Pengabsahan Data ... 29
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 31
A. Deskripsi Objek Penelitian ... 31
B. Sustainable Cities and Communities Dalam Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir di Pulau Lae-Lae... 53
x
11
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 66
A. Kesimpulan………... 66
B. Saran………... 67
DAFTAR PUSTAKA... 68
xi
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan salah satu Negara yang sebagian besar wilayahnya berupa wilayah perairan. Indonesia kemudian disebut dengan istilah Negara maritim.
Indonesia juga merupakan Negara dengan jumlah pulau terbanyak di dunia, ada sekitar 17.000 pulau yang ada. Kondisi ini membawa keuntungan tersendiri bagi Indonesia. Wilayah pantai hampir selalu menjadi daya tarik tersendiri dan selalu digunakan sebagai kawasan wisata bahari. Selain itu, banyak sumber daya alam yang dihasilkan dari laut. Jika dilihat dari kaca mata ini, Indonesia adalah Negara yang sangat kaya, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir pantai.
Martono dalam (Herawati, 2016)
Pandangan ini ternyata tidak sepenuhnya benar, Masyarakat pesisir pantai sebagian besar masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sebagian besar dari mereka memilki tingkat pendidikan yang rendah. Kondisi ini turut memperparah kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir. Masyarakat pesisir juga selalu hidup dalam ketidakpastian. Kenyamanan mereka tergantung pada kondisi cuaca, iklim atau kondisi permukaan air laut, di kala air laut pasang, tidak jarang banjir menggenangi tempat tinggal mereka. Bagi mereka laut adalah sahabat sekaligus sebagai ancaman.
Masyarakat nelayan merupakan masyarakat tradisional dengan kondisi sosial ekonomi yang memperihatinkan. Hal ini telah dibuktikan oleh penelitian sebelumnya
bahwa masyarakat nelayan telah benar-benar ketinggalan jika dibandingkan dengan masyarakat luar yang bergerak di bidang lain. Upaya untuk meningkatkan taraf hidup nelayan sangatlah penting mengingat kondisi sosial ekonominya yang memperihatinkan. Mulyadi dalam (Herawati, 2016)
Wilayah pesisir menjadi arti penting dalam perekonomian pembangunan di Indonesia. Sebagai negara Kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 65%
wilayah laut, Indonesia memiliki potensi pembangunan ekonomi yang sangat besar.
Potensi tersebut berupa sumberdaya alami seperti terumbu karang, hutan mangrove, pantai berpasir, ataupun sumberdaya buatan seperti tambak, kawasan pariwisata, kawasan industry dan perhubungan. Meskipun demikian kontribusi sektor kelautan masih relatif kecil bagi perekonomian nasional. Wilayah pesisir dan lautan di Indonesia, memiliki sumberdaya alam melimpah yang sekaligus juga menyimpan sebagai permasalahan yang perlu ditangani secara terintegrasi dan terpadu. Wilayah pesisir beserta sumberdaya alamnya memiliki arti penting bagi pembangunan ekonomi bangsa Indonesia.
Nilai dan arti penting pesisir dan laut bagi bangsa Indonesia paling tidak dapat dilihat dari dua aspek, Pertama, secara sosial ekonomi wilayah pesisir dan laut memiliki arti penting karena sekitar 120 juta (50%) penduduk Indonesia hidup di wilayah pesisir (dengan pertumbuhan rata- rata 2% per tahun), sebagian besar kota (kota propinsi dan kabupaten) terletak di kawasan pesisir. Kedua, secara biofisik, wilayah pesisir dan laut Indonesia memiliki arti penting karena Indonesia memiliki
3
garis pantai terpanjang di dunia setelah Kanada (sekitar 81.000 km), sekitar 75% dari wilayahnya merupakan wilayah perairan (Dep. Kelautan RI, 2002)
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau sekitar 17.508 pulau dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun demikian hampir sudah menjadi pertanyaan umum tentang masyarakat nelayan yang masih dalam taraf pendapatan yang rendah. Hasil laut adalah sumber utama penghidupan masyarakat pesisir yang hidup dari hasil laut atau bahkan dapat dikatakan bahwa basis perekonomian masyarakat pesisir adalah sektor perikanan.
Tingginya unsur ketidakpastian dalam melaut, khususnya bagi masyarakat pesisir, telah menjadi persepsi umum yang berkembang menyangkut kebutuhan hidup keluarga nelayan dan umumnya masyarakat pesisir.
Tekanan situasi yang dialami masyarakat pesisir tersebut diatas memungkinkan penggunaan segala cara dalam pemanfatan sumberdaya laut, termasuk cara- cara yang tidak ramah lingkungan. Pernyatan tersebut bukanlah sebuah issue belaka, tetapi sebuah realitas yang terjadi dan berkembang saat ini di hampir semua lokasi di wilayah pesisir di Makassar. Penduduk di wilayah pesisir pantai memiliki tingkat ekonomi yang relatif rendah, dimana pada musim barat, sebagian nelayan tidak melaut dan sebagian besar dari mereka hanya mengantungkan hidupnya pada ikan di laut. Dengan melihat hal tersebut diatas, maka perlu dilakukan upaya pengembangan mata pencaharian alternatif sebagai salah satu cara yang harus diprioritaskan.
Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan di Indonesia saat ini dihadapkan pada permasalahan terjadinya degradasi lingkungan dan keterancaman terhadap kelestarian ekosistem pesisir. Secara garis besar gejala dan kerusakan lingkungan yang mengancam kelestarian sumber daya pesisir di Indonesia meliputi: pencemaran, degradasi fisik habitat, over‐eksploitasi, dan abrasi pantai (Dahuri et al, 2008).
Hal tersebut juga dialami oleh masyarakat dipesisir Pulau Lae-Lae. Mereka menggantungkan hidupnya pada laut sudah terancam akibat pembangunan di wilayah pesisir, ditambah dengan pengelolaan pembangunan tersebut tidak mempedulikan dampak dari pembangunan di wilayah pesisir kota Makassar, salah satunya adalah pulau lae-lae yang hanya berjarak 100meter dari lokasi pembangunan reklamasi (CPI) .
Peran pemerintah Kota Makassar dalam hal ini intinya memang untuk menata kembali kawasan pantai agar lebih bernilai guna bagi kesejahteraan masyarakat.
Namun sayangnya, pada tataran teknisnya yang lebih banyak diuntungkan adalah para investor. Reklamasi wilayah pantai Losari ini dilakukan pemerintah dengan menggandeng pihak swasta yang nantinya akan ada pembagian beberapa lahan untuk pengembangan masyarakat dan beberapa lahan untuk dijadikan kawasan komersil swasta. Sekilas mungkin tampak terlihat kemajuan setelah adanya reklamasi dengan beridirnya hotel-hotel mewah, pusat perbelanjaan, rumah sakit internasional dan sektor komersil lainnya. Masalah ekologi yang ditimbulkan dari reklamasi ialah
5
banyaknya biota laut yang mati dan rusak baik flora maupun fauna karena timbunan tanah urugan sehingga mempengaruhi ekosistem yang sudah ada. Berubah nya sistem hidrologi gelombang air laut yang jatuh ke pantai yang mengakibatkan daerah diluar reklamasi akan mendapat limpahan air yang banyak sehingga kemungkinan besar dapat terjadinya abrasi, rob dan banjir karena genangan air yang terlalu banyak (Supardi, dkk 2017) .
Reklamasi yang tidak memperhatikan pedoman perencanaan tata ruang kawasan reklamasi pantai dapat mengakibatkan degradasi lingkungan pesisir, hal ini sangat berpengaruh terhadap hilangnya potensi sumber daya hayati pesisir terutama beberapa biota laut yang selama ini dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, begitu juga pada aspek sosial ekonomi masyarakat, bagi mereka yang tidak memiliki keterampilan selain melaut, mereka tidak memiliki alternatif usaha lain selain menjadi buruh nelayan, dengan adanya reklamasi akan mempengaruhi hasil tangkapan dan berimbas pada penurunan pendapatan mereka. Oleh karena itu, perlu suatu perencanaan pembangunan yang terpadu, yang tidak hanya berorientasi pada aspek lingkungan saja tetapi juga aspek sosial ekonomi masyarakat, sehingga dampak sosial ekonomi masyarakat juga dapat diprediksi dan diantisipasi oleh pemerintah selaku pengampu kebijakan, salah satunya adalah pembangunan kota yang berkelanjutan. (Mustaqim, 2015).
Sebuah kajian yang dilakukan pusat pengendalian pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku sebagaimana dilaporkan dalam Status Lingkungan Hidup Ekoredion (SLHE) Mamminasata 2013, menunjukkan bahwa titik muara kanal
panampu, laut sekitar PT. IKI, muara sungai jeneberang, gusung tallang dan pantai losari, tingkat kecerahannya telah melampaui ambang baku mutu, selain itu, parameter TTS BOD5, ammonia total dan coliform di beberapa titik juga telah melewati baku mutu. (fajar, 2016)
Kota Makassar sebagai kota dunia telah melalukan pembangunan sarana dan prasarana pendukung, salah satunya adalah pembangunan kawasan Center Point of Indonesia (CPI). Namun, perhatian terhadap warga daerah sekitar kurang
diperhatikan seperti pemanfaatan lahan sebagai penghidupan warga di pulau Lae-Lae yang bekerja sebagai nelayan yang saat ini mulai beralih fungsi menjadi lahan terbangun (built up area) yang saat ini sebagai lokasi pembangunan kawasan Center Point Of Indonesia (CPI).
Dalam rangka mengurangi terjadinya kerusakan yang lebih parah terhadap potensi sumber daya alam, diupayakan sebuah strategi pembangunan lingkungan yang mengajak seluruh pihak untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab dalam perlindungan dan rehabilitasi lingkungan fisik. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan keseimbangan dan kelestarian sumber daya alam sebagai salah satu faktor terwujudnya pembangunan berkelanjutan. Peran serta masyarakat dalam mewujudkan tercapainya pembangunan yang berkelanjutan, menjadi semakin krusial dikarenakan masyarakat adalah pelaku utama dalam kegiatan pengelolaan sumber daya lingkungan. Oleh karena itu, pembangunan yang berbasis pemberdayaan masyarakat merupakan titik sentral dan salah satu syarat utama bagi keberhasilan upaya pembangunan Lingkungan hidup yang berkelanjutan.
7
Wacana pembangunan berlanjutan bukanlah merupakan isu yang baru terdengar. Jika menelaah siklus investasi, produksi, dan konsumsi yang berlangsung dan dilakukan dalam skala besar maka jangka panjangnya akan menimbulkan pertanyaan besar bagi kelangsungan alam dan kehidupan manusia. Dalam konteks inilah, gagasan pembangunan berkelanjutan ini muncul dan menjadi pendekatan yang disarankan.
Di Indonesia sendiri telah di atur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 59 tahun 2017 tentang pelaksanaan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
Pemkot Makassar sendiri memliki peraturan daerah tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup Bab 1 pasal 1 pada point 17: kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) rangkaian yang sistemastis, menyeluruh dan partipasif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah atau kebijakan, rencana atau program.
Sejak kemunculannya, pembangunan berkelanjutan mempunyai banyak defenisi dan konsep itupun menjadi cair. Meskipun demikian, beberapa hal prinsipil mendapatkan penekanan. Pertama, komitmen pada keadilan dan fairness, dimana prioritas diberikan kepada masyarakat dunia yang paling miskin dan keputusan seharusnya mempertimbangkan hak-hak generasi yang akan datang. Kedua, sebagai suatu pandangan jauh ke depan yang menekankan prinsip-prinsip precautionary, yaitu, dimana ada ancaman serius atau sesuatu yang tidak bisa dicegah, kekurangan kepastian pengetahuan secara penuh seyogyanya tidak digunakan sebagai alasan
untuk menunda ukuran-ukuran biaya efektif guna mencegah degradasi lingkungan‖.
Ketiga, pembangunan berkelanjutan mengintegrasikan, dan memahami, sekaligus
bertindak dalam kesalinghubungan yang kompleks yang ada di antara lingkungan, ekonomi, dan masyarakat. Lingkungan, pembangunan ekonomi, dan keadilan sosial ini menjadi tiga pilar utama pembangunan berkelanjutan. Melihat hal tersebut, penulis merasa tertarik untuk mengangkat permasalahan ini dalam sebuah penelitian sebagai pemenuhan Tugas Akhir di Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan mengangkat judul : “SUSTAINABLE CITIES AND
COMMUNITIES DALAM PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI
MASYARAKAT PESISIR DI PULAU LAE-LAE”
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana pilar sosial sustainable cities and communities dalam perubahan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir di pulau lae-lae
2. Bagaimana pilar ekonomi sustainable cities and communities dalam perubahan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir di pulau lae-lae
3. Bagaimana pilar lingkungan sustainable cities and communities dalam perubahan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir di pulau lae-lae.
9
C. TUJUAN PENELITIAN
Dengan rumusan masalah penelitian yang diungkapkan, di tentukan tujuan penelitian yang ingin di capai adalah:
1. Untuk mengetahui pilar sosial sustainable cities and communities dalam perubahan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir di pulau lae-lae.
2. Untuk mengetahui pilar ekonomi sustainable cities and communities dalam perubahan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir di pulau lae-lae.
3. Untuk menegtahui pilar lingkungan sustainable cities and communities dalam perubahan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir di pulau lae-lae.
D. MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan fikiran dan manfaat yang terbagi dua manfaat, yaitu :
1. Manfaat Teoritis
a. Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan khususnya megenai kajian Ilmu Pemerintahan
b. Menambah pengetahuan dan wawasan pembaca mengenai pembangunan yang dilaksanakan pemerintah khususnya dari aspek sosial dan ekonomi, dan lingkungan.
2. Manfaat Praktis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi kebijakan- kebijakan pembangunan kota pemerintah agar lebih adil dan berorientasi pada keberlanjutan, serta memperkaya hasil penelitian tentang Sustainable Cities and
Communities Dalam Perubahan Sosial Dan Ekonomi Masyarakat Pesisir di pulau lae-lae
b. Bagi masyarakat
Masyarakat dapat memperoleh deksipsi yang jelas mengenai alasan dan tujuan pemerintah dalam mengambil kebijakan, khususnya tentang keberlanjutan kota di pesisir kota Makassar.
c. Bagi akademisi
Sebagai pembanding dalam melakukan kajian mengenai sustainable cities and
communities di wilayah pesisi
11 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Kota Berlanjutan (sustainable cities)
Konsep kota berkelanjutan menurut Hassan and Lee, 2014 (dalam Novianti, 2016) merupakan kota mandiri, yang dapat mengembalikan kita ke kondisi pertama yaitu ''memproduksi untuk dikonsumsi''. Gagasan kota berkelanjutan telah muncul sebagai inisiatif politik dalam menanggapi degradasi yang terjadi di lingkungan perkotaan sepanjang abad kedua puluh. Oleh karena itu, masalah yang berkaitan dengan perencanaan dan pengelolaan pemukiman manusia adalah prioritas utama dari konferensi PBB yang diselenggarakan di Stockholm pada tahun 1972; PBB mendirikan pusat pemukiman manusia pada tahun 1978 untuk mempromosikan dan mendukung tren berkelanjutan di masyarakat perkotaan dan pedesaan. Kini kota berkelanjutan atau kota utopis mencapai luar skala bangunan individu dan meluas ke seluruh kota di dunia.
Program kota berkelanjutan sebagai salah satu yang mampu mempertahankan pasokan sumber daya alam sementara kemajuan ekonomi dan sosial tercapai, dan sisanya aman terhadap risiko lingkungan yang dapat merusak pembangunan, Hassan and Lee, 2014 dalam (Novianti, 2016) . Dengan demikian, kota berkelanjutan menjadi konsep yang komprehensif namun sangat sulit terwujud, mengingat begitu komplekanya unsur-unsur yang harus dipenuhi. Dari beberapa definisi yang berhasil penulis eksplorasi, konsep ini memadukan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial.
Memahami dimensi kota berkelanjutan adalah masalah yang kompleks. Hal penting yang harus diperhatikan dalam konteks keberadaan kota-kota adalah latar belakang budaya dan perbedaan di tingkat nasional maupun regional. Jenks and Jones (dalam Novianti, 2016) menganalisis bahwa ada perbedaan yang signifikan di berbagai belahan dunia tentang penafsiran kota yang berkelanjutan namun ada hal umum yang mendasari dan topik yang selalu muncul dalam perdebatan tentang kota berkelanjutan serta pengakuan tentang bentuk perkotaan yang mengedepankan aspek keberlanjutan. Secara keseluruhanan, penelitian menunjukkan bahwa tidak mungkin ada solusi spasial atau fisik yang bersifat tunggal, tetapi mungkin ada banyak bentuk yang dapat muncul sebagai upaya mencapai keberlanjutan, tergantung pada konteks di mana mereka diterapkan.
Kota, menjadi tempat bagi lebih dari 70% populasi di dunia untuk mencari penghidupan yang layak sementara kapasitasnya terbatas. Dalam hal ini Lundqvist, 2007 (dlm Novianti, 2016) memandang bahwa kota memiliki sisi positif selain kepadatan manusia di suatu kawasan dengan luas yang terbatas. Dengan perencanaan dan pengelolaan yang baik kota dapat mendukung upaya mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dengan cara memberikan manfaat secara ekonomi dan kesehatan.
Keberlanjutan sendiri bukanlah konsep yang baru muncul karena ternyata ia telah dipopulerkan sejak abad ke-19 meskipun bukan merupakan isu yang muncul ketika terjadi ekspansi yang lebih berkembang pada masa selanjutnya. Perhatian kemudian terfokus pada kondisi kota-kota yang tidak berkelanjutan dan masalah-
13
masalah yang disebabkan oleh perpindahan penduduk yang sangat masif ke kota. Isu- isu inilah yang memotivasi para perencana pembangunan, geographer, dan pemerintah untuk mencari jalan keluar atas permasalahan lingkungan, ekonomi, dan sosial melalui pembangunan berkelanjutan Hassan dan Lee, 2014 (dlm Novianti, 2016)
Pembangunan berkelanjutan, sebagai sebuah konsep merupakan hasil pemikiran para sarjana Barat yang kemudian disebarluaskan melalui berbagai wacana. Konsep ini kemudian menjadi “krusial dan mendesak” karena menghubungkan antara kondisi yang dirasakan saat ini dengan masa depan, di mana generasi mendatang memiliki hak untuk menikmati sumber daya yang dirasakan semakin menipis. Oleh karena itu, muncullah pemikiran untuk menyeimbangkan kemajuan di bidang ekonomi dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan memperhatikan aspek sosial masyarakat.
Menurut ESD (Education sustainable development) ada tiga pilar yang menjadi landasan pembangunan berkelanjutan dan saling berkaitan satu sama lain, yaitu: pilar sosial, pilar ekonomi, dan pilar lingkungan.
Pembangunan berkelanjutan dimaknai sebagai „„perkembangan atau pertumbuhan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri‟‟. Definisi lain tentang pembangunan berkelanjutan yaitu proses dinamis yang menghubungkan keprihatinan lokal dan global, serta menghubungkan isu-isu sosial, ekonomi, dan
ekologi lokal, untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang dan masa depan (Hassan and Lee, 2014: 3).
Keberlanjutan dan pembangunan berkelanjutan bukanlah konsep-konsep yang statis atau merupakan proses yang terbatas melainkan selalu berubah dan bersifat multi-interpretasi, serta melibatkan proses yang terus berjalan dan mengalami perubahan-perubahan dalam bentuk proses-proses produksi dan sistem ekologi. Kini sebagian proses yang terjadi dalam kehidupan di kota mungkin terhubung dengan keberlanjutan. Kerumitan konsep keberlanjutan mendesak pemerintah UK untuk menggunakan definisi Brundtland secara resmi tentang “pembangunan berkelanjutan”
sebagai upaya mencapai “kehidupan yang lebih baik” (Choi and Ahn, 2013 dikutip dari Hassan and Lee, 2014: 3).
Selain itu, Budihardjo dan Sujarto (2013) mendefinisikan kota berkelanjutan sebagai suatu daerah perkotaan yang mampu berkompetensi secara sukses dalam pertarungan ekonomi global dan mampu mempertahankan vitalitas budaya dan keserasian lingkungan. Kota yang berlanjutan memiliki ekonomi yang kuat, lingkungan yang serasi, tingkat sosial yang relatif setara penuh keadilan, peran serta masyarakat yang tinggi, dan koservasi energy yang terkendali dengan baik.
Sementara, Kuswartojo (2005), United Nation Development Programme (UNDP) Indonesia melakukan lokakarya untuk merumuskan asas kota berkelanjutan Indonesia. Hasilnya adalah bahwa kota yang berkelanjutan adalah kota yang:
1. Memiliki visi, misi dan strategi jangka panjang yang diupayakan keterwujudannya secara terus menerus dan konsisten melalui rencana, anggaran, program dan
15
pelaksanaan yang bersifat jangka pendek dan menengah disertai mekanisme insentif-disentif
2. Mengintegrasi upaya pertumbuhan ekonomi dengan upaya perwujudan keadilan sosial, kelestarian lingkungan, partisipasi masyarakat serta keberagaman budaya.
3. Mengembangkan dan mempererat kerjasama (dan komunitas) antara pemangku kepentingan, antar sector dan antar daerah
4. Memelihara, mengembangkan dan menggunakan secara bijak sumberdaya lokal serta mengurangi secara bertahap ketergantungan akan sumberdaya dari luar maupun sumberdaya yang tak-tergantikan
5. Meminimalkan “tapak ekologi” yang ditimbulkan oleh kota dan kegiatan/kehidupan di dalamnya serta memelihara dan bahkan meningkatkan
“daya dukung ekologis” lokal.
6. Menerapkan manajemen kependudukan yang berkeadilan sosial disertai dengan pengembangan kesadaran masyarakat akan pola konsumsi/gaya hidup yang ramah lingkungan serta memperhatikan kepentingam generasi yang akan datang.
7. Memberi rasa aman bagi warganya sekaligus member perlindungan terhadap hak- hak publik.
8. Penataan hokum yang berkeadilan dan didukung oleh komitmen dan konsistensi dari aparat penegak hokum.
9. Mendorong terciptanya lingkungan yang kondusif bagi terciptanya masyarakat belajar yang dicirikan dengan adanya perbaikan yang menerus.
B. Konsep Perubahan Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi setiap orang itu berbeda-beda dan bertingkat, ada yang keadaan sosial ekonominya tinggi, sedang, dan rendah. Sosial ekonomi menurut Abdulsyani (dalam Sadam, 2017) adalah kedudukan atau posisi sesorang dalam kelompok manusia yang ditentukan oleh jenis aktivitas ekonomi, pendapatan, tingkat pendidikan, usia, jenis rumah tinggal, dan kekayaan yang dimiliki.
Menurut Soerjono Soekanto (dalam herawati, 2016) sosial ekonomi adalah posisi seseorang dalam masyarakat berkaitan dengan orang lain dalam arti lingkungan pergaulan, prestasinya, dan hak-hak serta kewajibannya dalam hubunganya dengan sumber daya.
Dalam reklamasi yang dilakukan oleh pemerintah Makassar tentu secara tidak langsung reklamasi ini merubah perilaku social ekonomi masyarakat yang berada di pulau lae-lae, hal ini terjadi karena dengan berdirinya bangunan konstruksi di kawasan reklamasi, komunitas nelayan di daerah tersebut terpaksa pindah ke tempat lain karena 2 alasan penting, yaitu:
Pertama, masyarakat pesisir mau tidak mau harus menjual tanah milik mereka karena tidak memungkinkan lagi untuk bertahan dengan profesi yang sama dengan kondisi baru. Kedua, mereka tidak dapat berinteraksi dengan orang baru yang menempati kawasanreklamasi yang modern dan yang pasti ada jurangperbedaan yang dalam di antara masyarakat komunitas nelayan tradisional dengan para pendatang baru akibat orientasi sosial yang berbeda. Pindah ke pemukiman baru akan selalu membawa dampak bagi kehidupan sosial terutama anak-anak yang perlu membangun suatu
17
kehidupan sosial yang baru dan masih asing bagi mereka. Belum lagi jika tidak tersedianya fasilitas pelayanan sosial di pemukiman yang baru, seperti sekolah, tempat ibadah, kesehatan, listrik, telepon dan berbagai hal yang diperlukan bagi kehidupan sosial yang minimal.
Perubahan sosial menurut Selo Soemardjan adalah perubahan pada lembaga- lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi system sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Soekanto (dalam herawati, 2016)
Perubahan sosial dapat dikatakan sebagai suatu perubahan dari gejala-gejala sosial yang ada pada masyarakat, dari yang bersifat individual sampai yang lebih kompleks. Perubahan sosial dapat dilihat dari segi terganggunya kesinambungan di antara kesatuan sosial walaupun keadaannya relatif kecil.
Perubahan ini meliputi struktur, fungsi, nilai, norma, pranata, dan semua aspek yang dihasilkan dari interaksi antar manusia, organisasi atau komunitas, termasuk perubahan dalam hal budaya. Perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat terjadi karena masyarakat tersebut menginginkan perubahan. Perubahan juga dapat terjadi karena adanya dorongan dari luar sehingga masyarakat secara sadar ataupun tidak akan mengikuti perubahan. Perubahan yang menyangkut kehidupan manusia atau terkait dengan lingkungan fisik, alam, dan sosial disebut perubahan sosial. Perubahan sosial cepat atau lambat senantiasa terjadi dan tidak dapat dihindari oleh siapapun.
Suatu perubahan bergantung dan ditentukan oleh masyarakat itu sendiri. Perubahan dapat berarti suatu perkembangan yang sesuai dengan tujuan atau dapat juga tidak
sesuai dengan yang hendak dicapai. Oleh karena itu, orang perlu mengetahui mengapa perubahan dapat terjadi dan mengapa masyarakat perlu menanggapi atau menyesuaikan dengan perubahan.
Bentuk-bentuk perubahan sosial antara lain:
1. Perubahan yang cepat (revolusi) dan perubahan yang lambat (evolusi)
Perubahan sosial yang lambat dinamakan evolusi. Evolusi merupakan perubahan sosial yang memerlukan waktu yang lama dan rentetan-rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat. Perubahan-perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.
Perubahan sosial yang cepat dinamakan Revolusi. Revolusi merupakan perubahan sosial yang berlangsung dengan cepat dan menyangkut dasar-dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat (yaitu lembaga-lembaga kemasyarakatan).
2. Perubahan yang kecil dan perubahan yang besar
Perubahan Sosial yang Kecil merupakan perubahan sosial yangterjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat. Contoh perubahan sosial ini yaitu perubahan mode pakaian. Meskipun perubahan mode pakaian ini berlangsung, namun tidak akan membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat.
Perubahan Sosial yang besar merupakan perubahan sosial yang akan membawa pengaruh besar pada masyarakat, dimana berbagai lembaga-lembaga kemasyarakatan
19
akan ikut terpengaruh. Contoh perubahan sosial ini yaitu hubungan kerja, sistem tanah, hubungan keluarga, stratifikasi masyarakat dan lain sebagainya.
3. Perubahan sosial yang direncanakan dan yang tidak direncanakan
Perubahan yang direncanakan adalah perubahan-perubahan yang diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam masyarakat. Pihak-pihak yang menghendaki perubahan dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga- lembaga kemasyarakatan. Agent of change memimpin masyarakat dalam mengubah system social. Dalam melaksanakannya, agen of change langsung tersangkut dalam tekanan-tekanan untuk mengadakan perubahan. Bahkan mungkin menyiapkan pula perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarkatan lainnya.
Perubahan yang terjadi pada wilayah pesisir dan laut tidak hanya sekedar gejala alam semata, tetapi kondisi ini sangat besar dipengaruhi oleh aktivitas manusia yang ada di sekitarnya. Wilayah pesisir merupakan wilayah pintu gerbang bagi berbagai aktivitas pembangunan manusia dan sekaligus menjadi pintu gerbang dari berbagai dampak dari aktifitas tersebut. Dengan kata lain wilayah pesisir merupakan wilayah yang pertama kali dan paling banyak menerima tekanan dibandingkan dengan wilayah lain. Tekanan tersebut muncul dari aktivitas pembangunan seperti pembangunan permukiman dan aktivitas perdagangan karena wilayah pesisir paling rentan terhadap perubahan baik secara alami ataupun fisik sehingga terjadi penurunan kualitas lingkungan. Pembangunan tersebut kemudian diarahkan pada peningkatan
kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial. Dalam penelitian ini peneliti lebih menekankan terhadap pemanfaatan lahan pesisir yang kerap menjadi pembicaraan pada saat ini di Kota Makassar. Dengan itu program Kota yang berkelanjutan dapat diterapkan pada wilayah pesisir sehingga berperan dalam perubahan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir.
Adapun juga pengaruh ekonomi yang di timbulkan dari reklamasi, terutama terjadi pada tingkat pendapatan keluarga. Perubahan daerah pemukiman, pasti tidak selalu menjamin kelangsungan profesinya sebagai nelayan karena mungkin kawasan pemukiman yang baru itu jauh dari pantai. Kalau hal ini terjadi, pasti sulit melangsungkan profesi nelayan dimana laut seakan sudah menjadi satu dengan kehidupan nelayan. Hal ini membawa kekacauan dalam kehidupan ekonomi keluarga, akibat bertempat tinggal di kawasan pemukiman yang kurang kondusif bagi kehidupan sebagai nelayan. Mengubah profesi tentu memerlukan waktu yang lama.
Di kota ini, sebagai kota yang kondisi geografinya terletak di tepi pantai, banyak nelayan tradisional yang sehari-hari menggantungkan hidup dari pantai dan laut.
Berarti secara garis besar akan ada actor actor baru yang teerlibat dalam perekonomian di area pantai losari baik itu investor, maupun pedagang (Sadam,2017)
C. Kerangka Pikir
Berdasarkan berbagai konsep dan teori yang telah ditemukan sebelumnya maka dapat disusun kerangka pikir yang merupakan penjelasan terhadap gejala yang menjadi objek permasalahan kita. Kerangka pikir disusun berdasarkan tinjauan
21
pustaka yang ada. Agar apa yang di uraikan dalam penelitian ini dapat di pahami dengan jelas maka penulis membuat kerangka berpikir seperti berikut:
Bagan Kerangka Pikir
Gambar 1. Kerangka Pikir
Pilar Lingkungan
Menjaga
Memperbaiki
Memulihkan Pilar sosial
Keadilan
Pengurangan kemiskinan
Pilar Ekonomi
Menguntungk an
Keseimbangan
Sustainable Cities and Communities
Menjadikan Kota dan Pemukiman Masyarakat Pesisir yang Inklusif, Aman, dan Berkelanjutan Di Pulau Lae-Lae
D. Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian dari kerangka pikir di atas, maka fokus penelitian adalah Sustainable cities and communities dalam perubahan sosial dan ekonomi masyarakat
pesisir di kota Makassar dengan beberapa indikator sustainable cities, pilar sosial, pilar ekonomi, pilar lingkungan.
E. Deskripsi Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian kerangka pikir di atas maka yang menjadi deskripsi fokus penelitian dalam penelitian ini yaitu:
1. Sustainable cities and communities dalam perubahan sosial ekonomi masyarakat pesisir adalah tujuan utama untuk mengetahui seberapa jauh program ini berjalan atau diterapkan dalam pembangunan kota yang berkelanjutan khususnya di wilayah masyarakat pesisir.
2. Pilar sosial adalah upaya mengurangi ketidaksetaraan antara masyarakat agar stakeholder ataupun masyarakat lain tidak menutup mata terhadap kondisi sosial.
Bila hasil pembangunan hanya bisa dinikmati sebagian orang maka akan timbul masalah sosial seperti pengangguran, kemiskinan, dan kriminalitas yang mengancam keberlanjutan pembangunan. Pilar ini mendukung inisiatif seperti keadilan sosial dan pengurangan kemiskinan
3. Pilar ekonomi adalah upaya agar pembangunan bisa berlanjutan, pembangunan tetap harus bisa menguntungkan. Dengan demikian orang akan tertarik untuk ikut melestarikan lingkungan karena pembangunan dapat menjamin kebutuhan hidup mereka. Pilar ini memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi menjaga
23
keseimbangan yang sehat antara keuntungan dari pembangunan dengan ekosistem.
4. Pilar lingkungan adalah upaya agar pembangunan selayaknya menjaga, memperbaiki, dan memulihkan sumberdaya alam yang di miliki karena sumberdaya alam itu terbatas, lingkungan harus dilindungi dari eksploitasi dan pemanfaatan sumberdaya, baik pada daerah-daerah yang dimanfaatkan maupun pada daerah-daerah marginal. Pilar ini mendukung inisiatif seperti energi terbarukan, daur ulang, dan pengelolaan limbah yang lebih baik.
24 BAB III
METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian bertempat di Kawasan Pesisir Kota Makassar yang wilayah administratifnya terfokus di Pulau Lae-lae, Kelurahan Lae-lae, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar dengan waktu penelitian kurang lebih 2 bulan. Lokasi ini dipilih secara sengaja (Purposive) dengan pertimbangan lokasi ini merupakan salah satu kawasan pesisir Kota Makassar yang berdampak langsung pada kegiatan pembangunan reklamasi yang mempengaruhi keberlanjutan kota di wilayah pesisir Kota Makassar.
B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif karena bertujuan untuk menjelaskan hasil pengamatan dan wawancara yang telah penulis lakukan dan dokumentasi yang penulis dapatkan mengenai sustainable cities and communities dalam perubahan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir di kota Makassar. Penulis akan mencoba menjelaskan terlebih dahulu akar masalah yang terjadi, kemudian menggunakan beberapa alat analisis masalah sebagai penjelasan yang lebih dalam. Penjelasan itu menggunakan argument yang untuk memudahkan pembaca dalam menyimaknya. Data yang diperoleh coba digabungkan dengan argument penulis, sehingga saling menguatkan hasil penelitian.
25
2. Tipe penelitian
Tipe penelitian ini adalah fenomenologi yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara jelas mengenai masalah mengenai yang diteliti berdasarkan pengalaman yang telah dialami informan. Masalah yang akan diteliti terkait sustainable cities and communities dalam perubahan sosial ekonomi masyarakat
pesisir pulau lae-lae.
C. Sumber Data
Sumber data yang di gunakan ada dua, yaitu:
1. Data Primer, melalui wawancara langsung dengan informan yang berhubungan dengan fokus penelitian. Pada penelitian ini, data primer diperoleh dengan teknik wawancara mendalam yang dilakukan dengan informan yang berkaitan dengan masalah perubahan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir kota Makassar.
2. Data Sekunder, sebagai pelengkap dan pendukung data primer, diperoleh melalui tulisan-tulisan yang relevan dengan penelitian. Data sekunder merupakan data yang sudah diolah dalam bentuk naskah tertulis atau dokumen.
D. Informan Penelitian
Adapun teknik penentuan informan dalam penelitian ini berdasarkan purposive sampling atau sengaja memilih orang-orang yang di anggap dapat memeberikan
informasi yang akurat sesuai dengan penelitian yaitu tentang sustainable cities and communities dalam perubahan sosial ekonomi masyarakat pesisir di pulau Lae-lae.
Adapun yang akan dijadikan informan dalam penelitian ini adalah:
Tabel 1.Informan Penelitian
No NAMA JABATAN INISIAL KETERANGAN
1. H.Mansur Gessa ST.MSI
Kepala seksi pengendalian dan pemanfaatan sumber
daya air dan tata ruang
MG 1 orang
2. Imbang Muryanto Kabid Infrastruktur dan pengembangan
wilayah
IM 1 orang
3. Risma Dewi Staff Lurah Lae-lae RD 1 orang
4. H. Yusuf Nelayan HY 1 orang
5. Rahman Nelayan RM 1 orang
6. Rusli Nelayan RS 1 orang
Total informan 6 orang
E. Teknik Pengumpulan Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan para informan sebagai data primer dan tulisan atau dokumen yang mendukung pernyataan informan dan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain, adapun tehnik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :
27
1. Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencacatan sistematik tentang gejala-gejala yang di amati. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara observasi langsung (direct observation) dan sebagai peneliti yang menempatkan diri sebagai pengamat (rocegnized outsider) sehingga interaksi peneliti dengan subjek penelitian bersifat terbatas. Dengan melakukan observasi , peneliti mencatat apa saja yang dilihat dan mengganti dari dokumen tertulis untuk memberikan gambaran secara utuh tentang objek yang akan diteliti. Lebih rincinya observasi ini terkait dengan peran pemerintah dalam memjalankan program keberlanjutan kota di Kota Makassar.
2. Wawancara
Penelitian ini dilakukan dengan cara mengadakan wawancara secara langsung (Tanya jawab dalam bentuk komunikasi verbal) kepada semua informan yang ada.
Teknik wawancara yang digunakan adalah teknik wawancara terstruktur dengan menyiapkan bentuk-bentuk pertanyaan yang sama antar informan satu dengan informan yang lainnya.
3. Dokumentasi
Dokumentasi, yaitu pencatatan dokumen dan data yang berhubungan dengan penelitian ini. Data ini berfungsi sebagai bukti dari hasil wawancara di atas. Kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh data yang diperlukan dengan menelusuri dan mempelajari dokumen-dokumen yang sudah ada. Hal ini dimaksud untuk mendapat data dan informasi yang berhubungan dengan materi penelitian. Studi dokumentasi
dilakukan dengan mepelajari tulisan-tulisan dan hasil laporan lain yang ada kaitannya dengan objek penelitian.
F. Tehnik Analisis Data
Adapun teknik analisis data yang di gunakan pada penelitian ini dikemukakan oleh Miles dan Human (dalam Aswad, 2018) memiliki langkah sebagai berikut:
1. Reduksi data (Data reduction)
Reduksi data berarti merangkum, memilih hal yang pokok dan memfokuskan pada hal yang penting. Reduksi data juga berarti komponen pertama dalam analisis data yang memperpendek, mempertegas, dan membuang hal yang dirasa penting ataupun tidak berkaitan dengan fokus penelitian sehingga penarikan kesimpulan dapat dilakukan.
2. Penyajian data (Display data)
Penyajian data adalah bentuk rakitan data dalam uraian singkat. Menyajikan data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif yaitu bersifat naratif. Hal ini dimaksudkan untuk memahami apa yang terjadi secara mudah.
3. Penarikan kesimpulan (conclusion drawing)
Langkah terakhur dari model ini adalah penarikan kesimpulan. Kesimpulan dalam penelitian ini mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal namun juga tidak karena masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan berkembang setelah penelitian ada
29
dilapangan. Kesimpulan penelitian kualitatif merupakan temuan baru yang sebelumnya ada berypa eskripsi atau gambaran yang sebelumnya belum jelas menjadi jelas.
G. Pengabsahan Data
Triangulasi bermakna yakni mengadakan pengecekan kebenaran data yang akan dikumpulkan dari berbagai sumber data, dengan menggunakan tehnik pengumpulan data yang lain, serta pengecekan pada waktu yang berbeda. Menurut William (dalam Sugiono, 2010:2003) menjelaskan triangulasi didalam kredibilitas di artikan sebagai pengecekan data dari sumber berbagai cara dan waktu. Dengan itu terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data serta waktu.
1. Triangulasi sumber
Triangulasi sumber dilakukan dengan bentuk pengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Dalam hal ini peneliti melakukan pengumpulan data yang sudah diperoleh melalui pengamatan, wawancara dan dokumen-dokumen yang ada. Kemudian peneliti membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.
2. Triangulasi teknik
Triangulasi teknik dilakukan dalam bentuk pengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda, dalam hal ini data diperoleh dengan wawancara lalu di cek dengan observasi dan dokumen. Apabila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut, menghasilkan data yang tidak sama maka, peneliti
melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau lainnya untuk menghasilkan data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya benar karena sudut pandang yang berbeda-beda.
3. Triangulasi waktu
Triangulasi waktu yaitu untuk menguji kredibilitas data yang di lakukan dengan mengecek data dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, dan pada sore hari saat narasumber sudah merasa jenuh dan dipenuhi oleh banyak masalah. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda maka, di lakukan cara berulang-ulang hingga ditemukan kepastian datanya.
31 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian
Pada sub bab ini menyajikan tentang gambaran umum lokasi penelitian dan bagaimana Sustainable Cities and Communities Dalam Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Di Pulau Lae-Lae, serta menjelaskan tentang proses Sustainable Cities and Communities Dalam Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Di
Pulau Lae-Lae.
Gambaran umum lokasi penelitian meliputi gambaran umum wilayah Kota Makassar dan gambaran umum objek penelitian yaitu Dinas Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Kota Makassar, Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya dan Tata Ruang (PSDA) Provinsi Sulawesi Selatan dan Kelurahan Lae-Lae, Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar. Gambaran umum Kota Makassar Mencakup kondisi fisik dan wilayah, kependudukan dan visi misi Kota Makassar. Gambaran umum Dinas Bappeda Kota Makassar, Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Selatanterdiri dari visi dan misi organisasi; kedudukan, tugas dan fungsi; struktur organisasi, dan kepegawaian dari dinas dan kelurahan tersebut.
1. Gambaran Umum Kota Makassar
Kota Makassar merupakan kota terbesar di kawasan timur Indonesia. Sejak abad ke-16 kota ini sudah dikenal sebagai pusat pemerintahan khususnya daerah
Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Secara administratif kota makassaradalah Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan, sekaligus sebagai pusat pemerintahan Kota Makassar.
Kota Makassar memiliki luas 175,77 km persegi yang meliputi 15 kecamatan, 153 kelurahan, 996 RW dan 4.964 RT. Kota Makassar terletak di pantai barat semenanjung Selatan pulau Sulawesi berbatasan dengan:
1. Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep),
2. Sebelah Selatan dengan wilayah Kabupaten Gowa, 3. Sebelah Timur dengan wilayah Kabupaten Maros, dan 4. Sebelah Barat dengan pesisir pantai Selat Makassar.
Kondisi geografis Kota Makassar yang terketak di tengah-tengah Wilayah Kepulauan Nusantara, menjadikan kota ini sebagai pusat perlintasan dari Wilayah Barat ke Wilayah Timur maupun dari Wilayah Utara ke Wilayah Selatan Indonesia.
Posisi ini menyebabkan kota Makassar mempunyai daya tarik yang cukup kuat bagi para migran sebagai cikal bakal pelaku sektor informal pedagang kaki lima, baik dari wilayah Sulawesi Selatan sendiri maupun dari propinsi-propinsi lain di kawasan timur Indonesia dan di luar Sulawesi, untuk datang dan mencari peluang kerja di kota ini.
Penduduk Kota Makassar berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2016 sebanyak 1.469.601 jiwa yang terdiri atas 727.314 jiwa penduduk laki-laki dan 742.287 jiwa penduduk perempuan. Dibandingkan dengan proyeksi jumlah penduduk tahun 2015, penduduk Kota Makassar mengalami pertumbuhan sebesar 1,39 persen dengan
33
masing-masing persentase pertumbuhan penduduk laki-laki sebesar 1,43 persen dan penduduk perempuan sebesar 1,36 persen.
Secara Administratif, Kota Makassar terdiri dari 15 kecamatan, yaitu:
Kecamatan Mariso, Mamajang, Tamalate, Rappocini, Makassar, Ujung Pandang, Wajo, Bontoala, ujung Tanah, Tallo, Panakukkang, Manggala, Biringkanaya dan Tamalanrea, Kep, Sangkarrang. Kecamatan Panakkukang merupakan salah satu dari 15 kecamatan di kota Makassar yang berbatasan dengan kecamatan Tallo di sebelah utara, kecamatan Tamalanrea di sebelah timur, kecamatan Rappocini di sebelah selatan dan kecamatan Makassar di sebelah barat.
Pemerintah Kota Makassar terdiri dari walikota, wakil walikota, sekretariat kota, dinasdinas, dan beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).Kota Makassar pada tanggal 1 September 1971 berubah namanya menjadi Kota Ujung Pandang setelah diadakan perluasan kota dari 21 km² menjadi 175,77 km². Namun kemudian, pada tanggal 13 Oktober 1999 berubah kembali namanya menjadi Kota Makassar. Kota Makassar merupakan kota internasional serta terbesar di Kawasan Indonesia Timur dan pada masa lalu pernah menjadi ibu kota. Negara Indonesia Timur Provinsi Sulawesi.Sumber utama data kependudukan adalah sensus penduduk yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali. Sensus penduduk telah dilaksanakan sebanyak enam kali sejak Indonesia merdeka, yaitu tahun 1961, 1971, 1980, 1990, 2000, dan 2010.
2. Gambaran Khusus lokasi Konsentrasi Penelitian
Gambaran Khusus lokasi Konsentrasi Penelitian kawasan pesisir kota Makassar yang terfokus di Pulau Lae-Lae, Kelurahan Lae-Lae, Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar.
Kecamatan Ujung Pandang terdiri dari 10 kelurahan dengan luas wilayah 2,63 km2 dan sebanyak 4 kelurahan di kecamatan Ujung Pandang merupakan daerah pantai termasuk pulau lae-lae yang terletak beberapa mil dari pantai losari dan 6 kelurahan lainnya merupakan daerah bukan pantai.
Kecamatan Ujung Pandang berbatasan dengan:
1. Sebelah Utara dengan kecamatan Wajo, 2. Sebelah Selatan dengan kecamatan Mariso,
3. Sebelah Timur dengan kecamatan Makassar dan Gowa, dan 4. Sebelah Barat dengan Selat Makassar.
3. Dinas Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Makassar a. Sejarah singkat Dinas Bappeda Kota Makassar
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, disingkat Bappeda, adalah lembaga teknis daerah dibidang penelitian dan perencanaan pembangunan daerah yang dipimpin oleh seorang kepala badan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur/Bupati/Wali kota melalui Sekretaris Daerah. Badan ini mempunyai tugas pokok membantu Gubernur/Bupati/Wali kota dalam
35
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dibidang penelitian dan perencanaan pembangunan daerah.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah di bentuk berdasarkan pertimbangan:
1. Bahwa dalam rangka usaha peningkatan keserasian pembangunan di daerah diperlukan adanya peningkatan keselarasan antara pembangunan sektoral dan pembangunan daerah.
2. Bahwa dalam rangka usaha menjamin laju perkembangan, keseimbangan dan kesinambungan pembangunan didaerah, diperlukan perencanaan yang lebih menyeluruh, terarah dan terpadu
Perencanaan pembangunan bukanlah hal yang baru di Indonesia, karena sistem ini sudah dimulai sejak kemerdekaan diproklamirkan. Hal ini dilandasi oleh pemikiran para ahli ekonomi dan politik nasional waktu itu bahwa pembangunan ekonomi dan sosial tidak dapat hanya diserahkan kepada mekanisme pasar saja sebagaimana banyak dilakukan oleh negara-negara yang menganut paham ekonomi liberal. Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945, pemerintah mempunyai peranan penting dalam pengendalian ekonomi dan proses pembangunan nasional daerah.
Namun demikian, peranan pemerintah tersebut perlu dilakukan secara sistematis melalui pelaksanaan sistem perencanaan pembangunan.
Penerapan sistem perencanaan pembangunan di Indonesia dimulai pada tanggal 12 April 1947 dengan dibentuknya oleh Presiden Republik Indonesia Panitia Pemikir Siasat Ekonomi yang disebut juga sebagai “Brain Trust”. Kemudian, panitia ini berhasil menyusun landasan perencanaan pembangunan pertama di Indonesia yang di beri judul: Dasar Pokok Daripada Plan Mengatur Ekonomi Indonesia yang merupakan landasan dasar untuk penyusunan perencanaan pembangunan yang lebih rinci. Panitia ini diketuai oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta dengan tiga orang wakil ketua yaitu A.K, Gani, Mohammad Roem, dan Sjafruddin Perwiranegara.
Berpedoman pada dasar pokok kebijakan ekonomi tersebut, pada bulan Juli tahun 1947 itu juga, disusunlah dokumen perencanaan pembangunan yang lebih rinci untuk beberapa sektor ekonomi oleh I.J. Kasino dengan judul Plan Produksi Tiga Tahun Republik Indonesia 1948 1950. Ruang lingkup perencanaan ini masih masih terbatas pada sektorsektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perindustrian.
Namun demikian, karena Indonesia pada waktu itu masih dalam perjuangan fisik menghadapi agresi belanda yang berkuasa kembali di Indonesia, maka pelaksanaan perencanaan pembangunan ini tidak dapat berjalan dengan baik. Kemudian, Dr.
Sumitro Djojohadikusumo seorang ekonom yang baru kembali belajar di negeri belanda diberi tugas pula oleh pemerintah untuk menyusun Rencana Urgensi Untuk Perkembangan Industri 1951-1952. Sasaran utama perencenaan pembangunan ini adalah untuk mengembangkan kegiatan industri berbagai skala dan memberikan peranan pemerintah yang cukup besar dan jelas dalam pengembangan pembangunan
37
tersebut. Karena perencanaan ini bersifat parsial untuk sektor industri saja, maka hasilnya pun ternyata tidak optimal.
Pada tahun 1952 mulai dirasakan perlunya suatu pBadan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) untuk tingkat provinsi pada tahun 1974 yang dilanjutkan untuk kabupaten dan kota pada tahun 1984. erencanaan pembangunan komprehensif yang bersifat menyeluruh untuk semua sektor ekonomi.
b. Visi Dan Misi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Makassar
Visi:Terwujudnya Perencanaan Yang Inovatif, Berorientasi Global DanBerkelanjutan.
Misi:1. Mewujudkan koordinasi perencanaan yang partisipatif, efektif, inovatif dan sinergi.
2. Meningkatkan kapasitas dan integritas perencana.
3. Melaksanakan pengendalian dan perencanaan pelaksanaan pembangunan serta menyediakan data dan informasi yang akurat dan terkini berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.
C. Struktur Organisasi
a. Kepala Dinas
b. Sekretariat, terdiri atas :
1. Sub bagian Perencanaan dan Pelaporan;
2. Sub bagian Keuangan;
3. Sub bagian Umum dan Kepegawaian.
c. Bidang Perencanaan dan Pengendalian, terdiri atas:
1. Subbidang Perencanaan Makro;
2. Subbidang Pengendalian;
3. Subbidang Pelaporan.
d. Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam, terdiri atas :
1. Subbidang Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi;
2. Subbidang Keuangan, Penanaman Modal dan Pariwisata;
3. Subbidang Pangan, Perikanan dan Pertanian.
39
e. Bidang Sosial, Budaya dan Pemerintahan Umum, terdiri atas :
1. Subbidang Kesejahteraan Rakyat;
2. Subbidang Pemerintahan dan Aparatur;
3. Subbidang Pendidikan, Kesehatan dan Kebudayaan.
f. Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, terdiri atas :
1. Subbidang Infrastruktur;
2. Subbidang Perhubungan dan Komunikasi;
3. Subbidang Pengembangan Wilayah.
g. Kelompok Jabatan Fungsional.
h. Unit Pelaksana Teknis (UPT).
d. Tugas Pokok Dan Fungsinya
Dalam menjalankan tugas dan fungsi suatu lembaga pemerintahan maka diuraikan tugas dan fungsi masing-masing anggota organisasi secara struktural pada kantor Bappeda Kota Makassar.
1. Kepala Dinas
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah mempunyai tugas membantu Walikota melaksanakan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan bidang perencanaan yang menjadi kewenangan Daerah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), menyelenggarakan fungsi a. Kebijakan teknis penyelenggaraan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan bidang
perencanaan;
b. Pelaksanaan dukungan teknis penyelenggaran fungsi penunjang Urusan Pemerintahan bidang perencanaan;
c. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas dukungan teknis penyelenggaran fungsi penunjang Urusan Pemerintahan bidang perencanaan;
d. Pembinaan teknis penyelenggaraan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan bidang perencanaan; dan
e. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh walikota sesuai dengan tugas dan fungsinya
2. Sekretariat
Sekretariat mempunyai tugas melaksanakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan dan pelayanan administrasi kepada semua unit organisasi di lingkungan badan.
Sekretariat dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), menyelenggarakan fungsi :
a. perencanaan operasional urusan perencanaan dan pelaporan, keuangan, umum dan kepegawaian;
41
b. pelaksanaan urusan perencanaan dan pelaporan, keuangan, umum dan kepegawaian;
c. pengoordinasian urusan perencanaan dan pelaporan, keuangan, umum dan kepegawaian;
d. pengendalian, evaluasi dan pelaporan urusan perencanaan dan pelaporan, keuangan, umum dan kepegawaian;
e. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh atasan terkait tugas dan fungsinya 3. Bidang Perencanaan dan Pengendalian
Bidang Perencanaan dan Pengendalian mempunyai tugas menyusun perencanaan meliputi perencanaan pembangunan kota jangka panjang, menengah dan pendek, Musyawarah Perencanaan Pembangunan, Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) serta Sistem Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah (SIPPD), pengendalian meliputi monitoring Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah, Dana Alokasi Khusus, Tim pemonitor dan evaluasi, Sistem Informasi Monitoring dan Evaluasi, pelaporan meliputi Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban, Perjanjian Kinerja, Refleksi Akhir Tahun, Sistem Informasi Pembangunan Daerah, Geografhic Information System (GIS).
4. Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Manusia
Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Manusia mempunyai tugas menyusun rencana dan mengkoordinasikan penyusunan perencanaan di bidang ekonomi dan sumber daya alam meliputi bidang perindustrian, perdagangan, koperasi, usaha kecil
dan menengah, tenaga kerja, keuangan, pendapatan, penanaman modal, pariwisata, pertanian, peternakan dan perikanan.
5. Bidang Sosial, Budaya dan Pemerintahan Umum
Bidang Sosial, Budaya dan Pemerintahan Umum yang mempunyai tugas menyusun rencana kerja dan mengoordinasikan penyusunan perencanaan di bidang sosial budaya dan pemerintahan umum meliputi bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, pengendalian penduduk dan keluarga berencana, pemberdayaan masyarakat, penanggulangan bencana, sosial, administrasi kependudukan dan pencatatan sipil, ketentraman dan ketertiban umum, kesatuan bangsa dan politik, sekretariat Dewan perwakilan Rakyat Daerah, sekretariat Daerah, pengawasan, kepegawaian, kebudayaan, kesehatan, pendidikan, pemuda dan olahraga, perpustakaan, dan kearsipan.
6. Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah
Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah mempunyai tugas menyusun rencana kerja dan mengoordinasikan penyusunan perencanaan di bidang infrastruktur dan pengembangan wilayah meliputi bidang pekerjaan umum, pemukiman dan perumahan, pemadam kebakaran, komunikasi dan informatika, penelitian dan pengembangan, statistik, persandian dan perhubungan, penataan ruang, pertanahan, lingkungan hidup, dan kecamatan.
43
4. Dinas Sumber Daya AIR, Cipta Karya dan Tata Ruang Provisi Sulawesi Selatan
a. Sejarah singkatDinas Cipta Sumber Daya Air, Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Selatan
Aktifitas dan Produk perencanaan dalam pembangunan Sumber Daya Air (SDA) khususnya adalah merupakan kunci keberhasilan dalam pencapaian tujuan- tujuan pembangunan di Sulawesi Selatan. Perencanaan hendaknya mampu menjamin tuntutan internal dan external, ditunjang oleh potensi sumber daya air yang tersedia.
Setelah kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 Negara Indonesia memacu diri untuk menjadi Negara berkembang dengan membangun di segala bidang ekonomi, Politik dan sosial budaya. Untuk dapat berkembang dan mejadi Negara maju, Indonesia memanfaatkan segala Sumber Daya Air maupun Sumber Daya Manusia.
Pada dasarnya Indonesia yang dijajah oleh Belanda selama 350 Tahun dan kemudian dijajah oleh Jepang selama 3,5 Tahun, yang mana pada saat itu Negara Republik Indonesia telah dikembangkan oleh para penjajah. Yang telah membangun segala sarana baik jalan, bangunan, pengairan, maupun perkebunan. Apabila ditimbang lebih jauh Indonesia telah mempunyai landasan untuk bertindak dan berpikir apa yang akan dilakukan untuk meneruskan peninggalan dari penjajah.Pada zaman penjajahan Instansi Pengairan telah ada yang dibentuk oleh Belanda yang dibangun untuk memenuhi dan memperkuat segala kebutuhan mereka. Sehingga
segala sumber-sumber kekayaan yang dimiliki oleh bumi Indonesia dapat direkrut dengan mudahnya, karena didukung oleh infrastruktur yang telah mereka bangun.
Namun pada saat para pemuda pemberani Indonesia menyadari maksud dan tujuan mereka, para pemuda menginginkan kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia dari tangan penjajah, hal ini dibuktikan dengan munculnya perlawanan baik itu secara fisik maupun secara diplomatis, sehingga pada tahun 1945 Tanggal 17 bulan Agustus Negara republik Indonesia mendapat kemerdekaannya. Setelah kemerdekaan berada ditangan rakyat Indonesia, Presiden pertama Republik Indonesia yaitu Presiden Soekarno merebut beberapa infrastruktur yang dibangun oleh penjajah, salah satunya Instansi Pengairan yang menjadi Pusat Pengembangan Sumber Daya Air yang sangat diperlukan oleh Indonesia untuk meraih cita-citanya.
Pada tahun 1946 Dinas Pengairan diganti langsung oleh orang Indonesia dan dibawahi oleh salah satu menteri dalam kabinet yang dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia membutuhkan berbagai cabang untuk meratakan pembangunan dan juga karena Republik Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terbentang dari sabang sampai Marauke dengan demikian dibangunlah beberapa kantor wilayah yang menjadi cikal bakal Dinas Pengairan disetiap Provinsi dan salah satunya berada di Makassar yang sekarang berkantor di JL. A.P.Pettarani No. 88-90
Dinas Pengairan dibagi menjadi beberapa bagian yaitu Tata usaha, Sub Dinas dan UPTD (Unit Pelayanan Tekhnis Daerah) semua itu akan membantu dinas untuk mencapai apa yang diprogramkan oleh Pemerintah. Dinas Pengelolaan Sumber Daya