• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISSN: JURNAL DHARMA PENDIDIKAN Volume 14, Nomor 2, Oktober 2019 STKIP PGRI NGANJUK Halaman :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ISSN: JURNAL DHARMA PENDIDIKAN Volume 14, Nomor 2, Oktober 2019 STKIP PGRI NGANJUK Halaman :"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

114

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK PADA MATERI KOLOID PADA SISWA KELAS XI MIPA 5

SMA NEGERI 1 REJOSO KABUPATEN NGANJUK TAHUN PELAJARAN 2017/2018

UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DAN BESARNYA MINAT BERWIRAUSAHA SISWA

Yetty Tinari SMA NEGERI 1 REJOSO e-mail: [email protected]

Abstrak :

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran berbasis proyek dengan produk es krim terhadap pemahaman konsep dan besarnya minat wirausaha siswa.

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa Kelas XI MIPA 5 SMA 1 Rejoso yang menerima pelajaran Kimia. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak dua putaran. yang terdiri atas empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan revisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas XI MIPA 5 SMA 1 Rejoso Kabupaten Nganjuk Tahun Pelajaran 2017/2018. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Kesimpulan dari penelitian ini adalah melalui hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa Pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) dapat meningkatkan kemampuan meningkatkan pemahaman konsep dan besarnya minat berwirausaha siswa.

Hal ini dapat dilihat dari hasil tes ketuntasan belajar siswa yang mengalami peningkatan dari siklus I, dan II yaitu masing-masing 61 % dan 89,7 %. Pada siklus II ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai sehingga tidak perlu diadakan siklus berikutnya. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kimia berbasis proyek dengan produk es krim berpengaruh terhadap pemahaman konsep siswa Kelas XI MIPA 5 materi koloid dan menumbuhkan minat wirausaha berkriteria kuat di SMA 1 Rejoso.

Kata Kunci: Es Krim, Minat Wirausaha, Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL), Pemahaman Konsep

Pendahuluan

Penelitian sebelumnya mengenai penerapan model Project Based Learning salah satunya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Larasati (2017), dari penelitiannya diperoleh hasil bahwa penerapan model Project Based Learning mampu meningkatkan penguasaan konsep dan motivasi belajar siswa. Model pembelajaran yang dipilih dalam penelitian ini yaitu model Project Based Learning (PjBL). Begitu pula penelitian telah dilakukan oleh Suryaningsih (2013) yang menyatakan bahwa model pembelajaran PJBL (Project Based Learning) dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu penggunaan tabloid berbasis

(2)

115 PjBL pada kelas eksperimen mampu meningkatkan kemampuan berfikir kreatif siswa Beberapa penelitian di atas menggambarkan bahwa Project Based Learning (PjBL) mampu meningkatkan pemahaman konsep serta kreativitas siswa.

Berdasarkan hal tersebut akan diterapkan Project Based Learning (PjBL) untuk meyelesaikan permasalahan pemahaman konsep dan memberikan keterampilan di sekolah yang dijadikan tempat penelitian untuk memberikan alternatif penyelesaian masalah proses pembelajaran dan mengetahui seberapa besar peningkatan pemahaman konsep serta kreativitas siswa yang dapat dihasilkan oleh implementasi PjBL dalam hal ini project yang disajikan berupa pembuatan es krim tradisional. Maka peneliti tertarik melakukan penelitian yang berjudul: “Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Proyek Pada Siswa Kelas XI MIPA 5 SMA Negeri 1 Rejoso Kabupaten Nganjuk Tahun Pelajaran 2017/2018 untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Besarnya Minat Berwirausaha Siswa”

Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Project Based Learning (PjBL) merupakan salah satu model pembelajaran dengan menggunakan masalah sebagai langkah awal menggunakan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam berkreatifitas secara nyata. Kemudian masalah tersebut dipecahkan secara berkelompok. Pada pembelajaran ini siswa mampu menemukan penyelesaian dari tugas atau pertanyaan yang diberikan dan menyelesaikan sebuah produk.

Ciri-ciri Pembelajaran Berbasis Proyek

Menurut Materi Pelatihan Kurikulum 2013 yang diterbitkan oleh BPSDMPK dan PMP Tahun 2013 dan Center For Youth Development and Education-Boston (Muliawati, 2010:10) adalah:

1. Adanya permasalahan atau tantangan kompleks yang diajukan ke siswa

2. Siswa mendesain proses penyelesaian permasalahan atau tantangan yang diajukan dengan menggunakan penyelidikan

3. Siswa mempelajari dan menerapkan keterampilan serta pengetahuan yang dimilikinya dalam berbagai konteks ketika mengerjakan proyek

(3)

116 4. Siswa bekerja dalam tim kooperatif demikian juga pada saat

mendiskusikannya dengan guru

5. Siswa mempraktekkan berbagai keterampilan yang dibutuhkan untuk kehidupan dewasa mereka dan karir (bagaimana mengalokasikan waktu, menjadi individu yang bertanggungjawab, keterampilan pribadi, belajar melalui pengalaman)

6. Siswa secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan 7. Produk akhir siswa dalam mengerjakan proyek dievaluasi

Tabel 1: Prinsip-Prinsip Pembelajaran Berbasis Proyek(Muliawati, 2010)

Keuntungan dan Kelemahan Pembelajaran Berbasis proyek

Menurut Moursund seperti dikutip dalam Wena (2013) beberapa keuntungan dari pembelajaran berbasis proyek, antara lain sebagai berikut:

1. Meningkatkan motivasi (Increased motivation)

2. Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah (Increased problem-solving ability)

3. Meningkatkan keterampilan mencari Informasi (Improved library research skills)

4. Meningkatkan kerjasama (Increased collaboration)

5. Meningkatkan keterampilan manajemen (Increased resource-management skills)

Wena (2017) juga menjelaskan beberapa kelemahan dari Pembelajaran Berbasis Proyek, antara lain:

1. Kurikulum yang berlaku di negara kita saat ini belum menunjang pelaksanaan metode

(4)

117 2. Organisasi bahan pelajaran, perencanaan, dan pelaksanaan metode ini sukar

dan memerlukan keahlian khusus dari guru

3. Harus dapat memilih topik unit yang tepat sesuai kebutuhan siswa, cukup fasilitas, dan memiliki sumber-sumber belajar yang diperlukan

4. Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas.

Namun saat ini, pemerintah telah menerapkan Kurikulum 2013, yang mana sangat menganjurkan proses Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL).

Tabel 2: Jenis-Jenis Koloid (Wena, 2017)

Materi Pokok Koloid

Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah).

(5)

118 Gambar 1. Bagan Kerangka Berfikir

Metode Penelitian

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 17 dan 19 April 2018 di Kelas XI MIPA 5 dengan jumlah siswa 35 siswa.

Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dipersiapkan.Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 24 dan 26 April 2018 di Kelas XI MIPA 5 dengan jumlah siswa 35 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II.

Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan kelas, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Sugiarti, 1997: 6), yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Pelaksanaan dari tiap siklus dapat diilustrasikan Gambar 2.

(6)

119 Gambar 2. Bagan Alir Penelitian (Kemmis dan Taggart, 1997)

Hasil Penelitian dan Pembahasan A. Hasil Penelitian

1. Siklus I

a. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pembelajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan pengolahan Pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Proyek.

Gambar 3. Kegiatan belajar mengajar Siklus I (Dokumentasi, 2018)

b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Rata-rata skor post test

(7)

120 siswa adalah 70,53, dari hasil tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dan persentase masih 64,00% siswa yang memperolehnilai ≥75. Angka ini masih belum mencapai target yang ditetapkan yaitu rata-rata hasil evaluasi harus mencapai ≥75 dan minimal 85% siswa yang mendapatkan nilai ≥75.Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan Pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Proyek.

Gambar 4. Penerapan PjBL Siklus I (Dokumentasi, 2018) Selain itu, pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar dan dilaksanakan oleh kolaborator di dalam kelas. Siswa dinyatakan aktif apabila 75% siswa di kelas minimal memenuhi tiga indikator. Dan siswa dinyatakan pasif dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas jika siswa memenuhi kurang dari tiga indikator. Dari tabel hasil observasi di kelas pada siklus I (terlampir) dapat direkap dalam tabel di bawah ini:

(8)

121 Tabel 3:Rekapitulasi Hasil Observasi Siklus I

No Indikator

Siklus 1 Jumlah

siswa

Persentase (%)

1 Siswa menjawab pertanyaan dari guru 27 71%

2 Siswa bertanya kepada guru 27 71%

3 Siswa mengerjakan soal yang diberikan guru 35 100%

4 Siswa mendiskusikan soal yang diberikan guru dengan teman sebangku

35 100%

Dari tabel hasil observasi di kelas (terlampir) juga dapat diketahui jumlah siswa yang aktif dalam pembelajaran di kelas yaitu;

Tabel 4: Siswa Yang Aktif di Kelas Siklus I

Siswa Yang Aktif Persentase

28 71%

Dari hasil tabel observasi di atas, diketahui bahwa indikator keaktifan siswa yang tercapai dalam proses belajar mengajar adalah;

sebanyak 27 dari 35 siswa menjawab pertanyaan guru dan 27 siswa mengajukan pertanyaan ke guru. Selain itu sebanyak 35 siswa mengerjakan soal yang diberikan guru dan Siswa mendiskusikan soal yang diberikan guru dengan teman sebangku. Sebagai hasilnya, ada 71% siswa atau 27 siswa dari 35 siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar melalui Model Pembelajaran Berbasis Proyek. Dari hal tersebut dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa siswa belum memenuhi kriteria aktif karena siswa yang aktif kurang dari 75%.

c. Refleksi

Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut:

1) Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu.

2) Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran.

(9)

122 Gambar 5. Test Formatif Siklus I (Dokumentasi, 2018)

d. Revisi

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya.

1) Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan

2) Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan.

3) Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias.

2. Siklus II

a. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 2, LKS, soal tes formatif II dan alat-alat pembelajaran yang mendukung.

b. Tahap kegiatan dan pelaksanaan

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrument yang digunakan adalah tes formatif II. Rata-rata skor post test siswa adalah 77,87, ini menunjukkan bahwa indikator ketercapaian hasil belajar yang ditetapkan sudah terpenuhi yaitu ≥75.

(10)

123 Persentase ketuntasan belajar siswa telah mencapai 88%

sehingga sudah melebihi target yang ditetapkan yaitu 85% siswa memperoleh nilai ≥75. Hasil pada siklus II ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan kemampuan pada siklus II ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan Pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Proyek sehingga siswa menjadi lebih terbiasa denganpembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan.

Gambar 6. Pembuatan Es krim dalam Siklus II (Dokumentasi, 2018) Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Dari tabel hasil observasi siklus II di kelas (terlampir) dapat direkap dalam tabel di bawah ini;

Tabel 5: Rekapitulasi Hasil Observasi Siklus II

No Indikator Siklus 1

Jumlah Siswa Persentase (%)

1 Siswa menjawab pertanyaan dari guru 31 77%

2 Siswa bertanya kepada guru 31 77%

3 Siswa mengerjakan soal yang diberikan guru

35 100%

4 Siswa mendiskusikan soal yang diberikan guru dengan teman sebangku

35 100%

(11)

124 Dari tabel hasil observasi di kelas (terlampir) juga dapat diketahui jumlah siswa yang aktif dalam pembelajaran di kelas yaitu;

Tabel 6:Siswa Yang Aktif di Kelas Siklus II

Siswa yang aktif Persentase

31 78%

Dari hasil tabel observasi di atas, diketahui bahwa indikator keaktifan siswa yang tercapai dalam proses belajar mengajar adalah:

sebanyak 31 dari 35 siswa menjawab pertanyaan guru dan 31 siswa mengajukan pertanyaan ke guru. Selain itu sebanyak 35 siswa mengerjakan soal yang diberikan guru dan Siswa mendiskusikan soal yang diberikan guru dengan teman sebangku. Sebagai hasilnya, ada 78% siswa atau 31 dari 35 siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar melalui Model Pembelajaran Berbasis Proyek. Dari hal tersebut dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa siswa telah memenuhi kriteria aktif karena lebih dari 75% siswa telah aktif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas dengan Model Pembelajaran Berbasis Proyek kelas, yaitu 78% siswa telah aktif di kelas.

c. Refleksi

Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan Pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Proyek. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing- masing aspek cukup besar.

2) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik.

3) Kemampuan siswa pada siklus II mencapai ketuntasan sehingga tidak perlu dilaksanakan siklus berikutnya.

(12)

125 4) Revisi Pelaksanaan

Pada siklus II guru telah menerapkan Pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Proyek dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta kemampuan. pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mepertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan Pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Proyek dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Gambar 7. Test Formatif Siklus II (Dokumentasi, 2018) B. Pembahasan

1. Ketuntasan Prestasi Belajar Siswa

Melalui hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa Pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki dampak positif dalam meningkatkan Prestasi belajar siswa. hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru. Dari tes ketuntasan belajar dapat diketahui bahwa ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan dari sklus I, dan II yaitu masing-masing 61

%, dan 89.7 %. Pada siklus II ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai sehingga tidak perlu diadakan siklus berikutnya.

(13)

126 2. Keaktifan Siswa Dalam Proses Belajar

Berdasarkan analisis data observasi, diperoleh aktivitas siswa dalam proses Pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Proyek di setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap Keaktifan siswa dalam proses belajar di kelas, yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai yang didapat dari cheklist yang digunakan. Cheklist tersebut menunjukkan keaktifan siswa menunjukkan peningkatan dari tiap siklus yaitu siklus I, 71% dan siklus II, 78%.

Gambar 8. Tingkat Pemahaman Siswa

3. Tumbuhnya Minat Wirausaha Siswa dengan Pembelajaran Berbasis Proyek

Tumbuhnya minat wirausaha siswa diukur melalui angket yang diberikan kepada siswa setelah melakukan pembelajaran berbasis proyek.

Berdasarkan hasil yang angket yang telah dianalisis keseluruhan, didapatkan nilai rata-rata terendah adalah 65,83 yakni berkriteria sedang, sedangkan rata-rata tertinggi adalah 94,17 dengan kriteria sangat kuat.

Maka dari 28 siswa rata-rata nilai minat wirausaha adalah 80 dengan kriteria kuat. Hal ini mengindikasikan bahwa penelitian yang telah dilakukan berhasil menumbuhkan minat wirausaha siswa setelah lulus dari SMA Negeri 1 Rejoso. Siswa dibekali dengan contoh pembuatan koloid yang menerapkan prinsip chemo enterprenuership dalam balutan model pembelajaran berbasis proyek sederhana seperti membuat es krim sehingga proyek yang dibuat siswa menjadi lebih terstruktur dan kreatif untuk meningkatkan ketrampilan diri (LifeSkill).

0%

20%

40%

60%

80%

100%

Analisis Perencanaan Perhitungan Pengecekan

Siklus I Siklus II

(14)

127 Pembuatan Es krim

Hasil :

a. 1 tong isi 10 liter

b. 1 tong jadi 230 skop jika @ x 2000 = Rp 460.000,- Bahan dan kira-kira harganya :

a. 6 kelapa super dibuat santan 8 liter air Rp 60.000,- b. 3 kg gula dilarutkan dalam 1 liter air Rp 36.000,- c. 2,5 ons kanji dalam 1 liter air Rp 60.000,-

d. Susu 2 kaleng Rp 24.000,-

e. Garam grosok 5 kg Rp 50.000,-

f. Cup plastic 250 Rp 30.000,-

g. Es batu 8 plastik 1 kg Rp 4.000,-

Total Rp 208.000,-

Sehingga 1 tong dengan modal awal Rp 208.000,- bisa laku Rp 460.000,- bahkan lebih sehingga ada laba bersih ± Rp 200.000,-

Simpulan dan Rekomendasi

Berdasarkan pembahasan dan analisis yang telah dilakukan serta dari hasil kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam dua siklus dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

Melalui hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa Pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Proyek dapat meningkatkan pemahaman konsep dan minat berwirausaha. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes ketuntasan belajar siswa yang mengalami peningkatan dari sklus I, dan II yaitu masing-masing 61 %, dan 89.7 %. Pada siklus II ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai sehingga tidak perlu diadakan siklus berikutnya.

Selain itu, diskusi kelompok dapat meningkatkan keatifan belajar siswa di kelas. Berdasarkan analisis data observasi, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran menggunakan diskusi kelompok di setiap siklus mengalami peningkatan, yaitu siklus I 71% dan siklus II 78%. Pembelajaran berbasis proyek (PjBL) dengan produk es krim dapat menumbuhkan minat berwirausaha siswa SMA Negeri 1 Rejoso dengan kriteria kuat.

(15)

128 Daftar Pustaka

Krismanto, A., 2006. Beberapa Teknik, Model, dan Strategi dalam Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Pusat Pengembangan Penataran Guru Matematika.

Larasati, K.Y., 2011. Penerapan Model Project Based Learning (PjBL) dalam upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada materi keanekaragaman tumbuhan. Jurnal Pendidikan FPMIPA UPI, 2(1): 23-34. 246

Muliastawan, I.K., Suharsono, N. & Kirna, I.M., 2014. Pengaruh pembelajaran berbasis proyek terhadap pemahaman konsep dan keterampilan memperbaiki sistem tranmisi di SMK. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha, 4(1): 111-25.

Musa, F., 2011. Project-Based Learning (PjBL): inculcating soft skills in 21st century workplace. Selangor

Nurohman, S., 2007. Pendekatan project based learning sebagai upaya internalisasi scientific method bagi mahasiswa calon guru fisika. Yogyakarta

Permendikbud, 2014. No 104 Tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah.

Rais, M., 2010. Project Based Learning: Inovasi Pembelajaran yang Berorientasi Soft skills. In Seminar Nasional Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya. Surabaya

Sastrika, I.A.K., 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek Terhadap Pemahaman Konsep Kimia dan Keterampilan Berpikir Kritis. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha, 3(2): 20-32.

Sudjana, N., 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Sugiyono, 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Sukanti, 2011. Penilaian afektif dalam pembelajaran akuntansi. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, 9(1): 74-82.

Susilowati, I., 2013. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Proyek Terhadap Hasil Belajar Siswa Materi Sistem Pencernaan Manusia. Unnes Journal of Biology Education, 2(1): 82-90.

Trost, S.G., 2007. Active education: physical education, phisical activity and academic perfomance. Journal Active Living Research.

Widyaningsih, S.Y., Haryono & Saputro, S., 2012. Model MFI dan POGIL ditinjau dari aktifitas belajar dan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar. Jurnal Inquiri Pasca UNS, 1(3): 266-75.

(16)

129 Wiyarsi, A. & Partana, C.F., 2009. Penerapan pembelajaran berbasis projek pada perkuliahan workshop pendidikan kimia untuk meningkatkan kemandirian dan prestasi belajar mahasiswa. Paedagogia, 1(12): 32-41.

Yasin, R.M. & Rahman, S., 2011. Problem Oriented Project Based Learning (POPBL) in Promoting Education for Sustainable Development. In Procedia Social and Behavioral Sciences. Selangor

Gambar

Tabel 1: Prinsip-Prinsip Pembelajaran Berbasis Proyek(Muliawati, 2010)
Tabel 2: Jenis-Jenis Koloid (Wena, 2017)
Gambar 3. Kegiatan belajar mengajar Siklus I (Dokumentasi, 2018)
Gambar 4. Penerapan PjBL Siklus I (Dokumentasi, 2018)  Selain  itu,  pengamatan  (observasi)  dilaksanakan  bersamaan  dengan pelaksaaan belajar mengajar dan dilaksanakan oleh kolaborator  di  dalam  kelas
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan: (1) Dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam mengemukakan pendapat, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, dan mengerjakan soal di

d) Connecting: Guru memberi instruksi agar siswa menghubungkan informasi lama dan informasi baru yang dimiliki. e) Organizing: Guru memberikan contoh soal kepada siswa

Hal ini dibuktikan ketika proses pembelajaran hampir seluruh siswa aktif dalam mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, mengerjakan soal latihan di LKS (soal pada

Setiap subjek penelitian ini menyelesaikan soal tipe HOTS pada materi statistika yang terdiri atas 1 soal level menganalisis (C4), 1 soal level mengevaluasi (C5) dan 1 soal

Hal ini dibuktikan ketika proses pembelajaran hampir seluruh siswa aktif dalam mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, mengerjakan soal latihan di LKS (soal pada

Evaluasi proses berkaitan dengan partisipasi peserta pelatihan dalam diskusi (mengajukan atau menjawab pertanyaan), semangat mengikuti kegiatan, dan kerjasama. Evaluasi

Dari wawancara dan hasil tes diatas dapat dilihat bahwa siswa dapat menjawab pertanyaan yang diberikan dengan baik, siswa juga sudah dapat menentukan apa yang ditanyakan tetapi siswa

Pada tahap ini, siswa melakukan kegiatan menanya dengan disajikan gambar dan pertanyaan-pertanyaan yang memangcing siswa untuk bertanya, pada aktivitas ini siswa diberikan empat gambar