• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI KINERJA ANGKUTAN TRAYEK 01, 02, DAN 06 KOTA SERANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EVALUASI KINERJA ANGKUTAN TRAYEK 01, 02, DAN 06 KOTA SERANG"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

EVALUASI KINERJA ANGKUTAN TRAYEK 01, 02, DAN 06 KOTA SERANG

Nindya Dwi Rahayu Rahmah, Septiana Hariyani, Nailah Firdausiyah Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jalan Mayjen Haryono 167 Malang 65145 -Telp (0341)567886 Email: [email protected]

ABSTRAK

Kota Serang merupakan pusat pelayanan perdagangan dan jasa, pendidikan, dan pariwisata religi di Provinsi Banten sehingga menghasilkan pergerakan dan membutuhkan transportasi yang memadai. Pengguna angkot di Kota Serang cenderung menurun salah satunya disebabkan oleh tingkat pelayanan angkot kepada pengguna atau penumpang yang belum sesuai dengan pedoman Standar Pelayanan Minimum (SPM). Kota Serang memiliki 10 trayek angkot dengan rute yang berbeda-beda. Trayek 01, 02, dan 06 merupakan trayek terpilih berdasarkan analisis MCA (Multiple Criteria Analysis) dengan kriteria kepadatan penduduk, panjang litasan, dan tata guna lahan yang lebih unggul. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja operasional dan pelayanan berdasarkan tingkat kepuasan pengguna pada angkot Kota Serang. Evaluasi kinerja angkot menggunakan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif berdasarkan standar pelayanan minimum yang mengacu pada PM 98 Tahun 2013 tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Dalam Trayek, Peraturan Menteri No. 29 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum dalam Trayek, dan Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Perkotaan Dirjen Perhubungan Darat RI tahun 2002. Kinerja pelayanan untuk menilai persepsi pengguna angkot menggunakan Importance Porformance Analysis (IPA). Hasil dari kinerja operasional menunjukkan bahwa ketiga trayek penelitian memiliki headway, waktu perjalanan, dan load factor yang masih dibawah standar yaitu 70%.

Sedangkan hasil IPA pada trayek 01, 02, dan 06 terdapat atribut yang perlu diperbaiki dan dipertahankan. Hasil dari kinerja operasional dan pelayanan angkot kemudian dievaluasi dan dijadikan sebagai pertimbangan dalam rekomendasi rute berdasarkan permintaan pergerakan angkot di Kota Serang.

Kata Kunci : Angkutan-Kota, Kinerja-Operasional, Importance-Performance-Analysis ABSTRACT

Serang City is the center of trade and services, education, and religious tourism in Banten Province so that it produces movement and requires adequate transportation. Angkot users in Serang City tend to decrease, one of which is caused by the level of public transportation services to users or passengers who do not comply with the Minimum Service Standards (SPM) guidelines. Serang city has 10 angkot routes with different routes. Routes 01, 02, and 06 are selected routes based on MCA (Multiple Criteria Analysis) analysis with superior population density, track length, and land use criteria. This study aims to evaluate operational and service performance based on the level of user satisfaction on public transportation in Serang City. The performance evaluation of angkot uses quantitative and qualitative research methods based on minimum service standards referring to PM 98 of 2013 concerning Minimum Service Standards for Transportation of People with Motorized Vehicles on Routes, Ministerial Regulation no. 29 of 2015 concerning Minimum Service Standards for the Transportation of People with Public Motorized Vehicles on Routes, and Technical Guidelines for the Implementation of Urban Passenger Transport by the Director General of Land Transportation of the Republic of Indonesia in 2002. Service performance to assess the perception of angkot users uses Importance Porformance Analysis (IPA). The results of the operational performance show that the three research routes have headway, travel time, and load factor which are still below the standard, namely 70%. While the results of the IPA on routes 01, 02, and 06 have attributes that need to be improved and maintained. The results of the operational and service performance of angkot are then evaluated and used as considerations in route recommendations based on requests for angkot movements in Serang City.

Keywords: Public-City-Vehicle, Operational-Performance, Importance-Performance-Analysis

PENDAHULUAN

Angkutan umum merupakan sarana moda transportasi yang efesien dibandingkan dengan

kendaraan pribadi. Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan jasa angkutan yaitu dengan penyediaan pelayanan angkot. Angkot memiliki peran untuk menunjang kebutuhan atau

(2)

mobilitas penduduk kota. Angkot merupakan salah satu tranpostasi murah yang dapat dijangkau oleh semua masyarakat, namun tentunya harus diiringi dengan pelayanan yang baik. Angkutan massal yang baik yaitu angkutan yang memberikan pelayanan aman, cepat, dan murah bagi pegguna (Tamin, 2000).

Kota Serang merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Serang yang terbentuk secara resmi melalui UU No. 32 Tahun 2007. Kota Serang sebagai pusat pelayanan perdagangan dan jasa, pendidikan, dan pariwisata religi di Provinsi Banten menghasilkan tarikan pergerakan dari luar kota maupun dalam kota. Pergerakan atau aktivitas ini membutuhkan transportasi yang memadai. Saat ini Kota Serang memiliki tranportasi publik salah satunya angkot Jaringan trayek angkutan umum Kota Serang ditetapkan oleh pemerintahan Kota Serang sebanyak 10 jalur trayek dengan memberikan ciri pada nomor dan warna angkot yang berbeda.

Pada penelitian ini dilakukan penelitian pendahuluan untuk menentukan angkot terpilih sebagai angkot penelitian. Berdasarkan Multiple Criteria Analysis (MCA) angkot trayek 01, 02, dan 06 merupakan 3 (tiga) trayek terpilih dari 10 trayek angkot di Kota Serang. MCA dilakukan penilaian kriteria yaitu pelayanan antar kawasan dengan perjalanan ulang alik, panjang lintasan rute, kepadatan penduduk, dan tata guna lahan.

Trayek 01, 02, dan 06 merupakan trayek yang melewati antar kawasan dengan perjalanan ulang alik. Berdasarkan BPS Kota Serang Tahun 2018, trayek 01 memiliki panjang rute 19,6 km, trayek ini melewati ruas jalan atau wilayah yang memiliki kepadatan penduduk sebesar 53.000,38 km2 dengan 8 (delapan) macam guna lahan.

Trayek 02 memiliki panjang rute 14,1 km, trayek ini melewati ruas jalan atau wilayah yang memiliki kepadatan penduduk sebesar 59.661,27 km2 dengan guna lahan yang terdiri dari terminal, perumahan, sarana pendidikan, sarana perdagangan dan jasa, perkantoran, RTH, sarana kesehatan, dan sarana peribadatan. Sedangkan trayek 06 memiliki panjang rute 13,6 km, melewati ruas jalan atau wilayah yang memiliki kepadatan penduduk sebesar 89.160,6 km2 dengan guna lahan yang terdiri dari terminal, perumahan, sarana pendidikan, sarana perdagangan dan jasa, perkantoran, RTH, sarana kesehatan, dan sarana peribadatan. Ketiga angkot tersebut melewati ruas jalan pada wilayah dengan bangkitan dan tarikan pergerakan tertinggi di Kota Serang yaitu Kecamatan Serang

dan Kecamatan Kotabaru. Sehingga di wilayah zona tersebut memiliki pergerakan yang tinggi dan mempengaruhi kinerja angkot.

Berdasarkan DISHUB Kota Serang tahun 2014, sebanyak 60% pengguna angkot di Kota Serang menyatakan tidak puas terhadap aspek kenyamanan dan keteraturan. Hal tersebut berpengaruh terhadap pemilihan moda di Kota Serang. Tidak berfungsinya trayek angkot yang sudah ditetapkan, sehingga supir angkutan kota melayani sesuai keinginannya ataupun sesuai banyaknya pengguna pada ruas tertentu yang dituju saja. Hal tersebut memberikan tingkat kenyamanan dan keteraturan yang minim (Pradana, 2017).

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu tahun 2017, load factor angkot pada trayek 01, 02, dan 06 masih belum sesuai standar yang ditetapkan oleh Dirjen Perhubungan Darat Tahun 2002 yaitu 70%. Selain itu, adanya tumpang tindih trayek pada beberapa rute perjalanan mengakibatkan penumpukan angkutan umum pada beberapa ruas jalan yang mempengaruhi kinerja pelayanan dan kinerja operasional pada angkutan Kota Serang. Dari adanya permasalahan yang telah dijelaskan, maka perlu adanya penelitian mengenai evaluasi rute angkutan kota di Kota Serang.

METODE PENELITIAN

Lokasi penelitian dilakukan pada angkot Kota Serang yaitu pada trayek 01, trayek 02, dan 06 Berdasarkan hasil pemilihan angkot menggunakan metode MCA. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dan kualitatif. Jenis penelitian kuantitatif pada penelitian ini dikarenakan bersifat teknis yang menggunakan standar dan rumus yang telah ditentukan yaitu pada kinerja operasional untuk menganalisis dan mengukur dengan rumus yang ditentukan. Jenis penelitian kualitatif pada penelitian ini dikarenakan penelitian berdasarkan persepsi masyarakat terhadap pelayanan jasa angkutan kota di Kota Serang.

Variabel Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah pada penelitian ini, maka didapatkan variabel-variabel penelitian berupa faktor-faktor yang mempengaruhi penelitian. Variabel yang digunakan dalam penelitian berdasarkan pedoman dan literatur yang ada. Berikut merupakan Variabel yang digunakan terkait dalam penelitian ini:

(3)

Tabel 1. Variabel Penelitian

Tujuan Variabel Sumber

Kinerja

Operasional • Load Factor

• Kecepatan perjalanan

• Headway

• Waktu perjalanan

• Waktu pelayanan

• Frekuensi

• Waktu tunggu

• Keputusan Dirjen Perhubungan Darat SK 687/AJ.206/DRJD/2002

• Azmeri dkk, 2018

• Mahasti, 2019

Kinerja Pelayanan Moda

• Keamanan

• Keselamatan

• Kenyamanan

• Keterjangkauan

• Keteraturan

• Peraturan Menteri Nomor 98 Tahun 2013

• Peraturan Menteri No.

29 Tahun 2015

• Mahasti, 2019 Evaluasi

Rute Traffic demand • Tamin, 2000

• Mahesti, 2019

Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini yaitu survei primer dan survei sekunder. Survei primer dilakukan dengan memperoleh data melalui observasi lapangan, wawancara dan penyebaran kuesioner. Survei sekunder dilakukan dengan mengumpulkan data- data informasi terkait tema pada instansi terkait seperti DISHUB Kota Serang.

Sampel Penelitian

Sampel penelitian dibagi menjadi 2 sampel yaitu sampel penumpang dan sampel angkot pada trayek 01, 02, dan 06. Pada sampel angkot dilakukan berdasarkan jumlah populasi angkot dari data DISHUB Kota Serang. Populasi jumlah angkot berdasarkan trayek adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Jumlah Angkot dan Penumpang Angkot Kota Serang

Trayek Jumlah Angkot Jumlah Penumpang Perhari

01 214 722

02 200 808

06 91 399

Total 505 Sumber: BPS, 2018

Pada penelitian ini perhitungan sampel angkot dilakukan dengan rumus slovin. Rumus slovin dapat dilihat berikut ini:

Rumus 1. Rumus Slovin

𝑛 = !

!(#)!%& ... (1) Keterangan :

n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi

d = Derajat kepercayaan 90% dengan tingkat kesalahan 10%.

Sampel dilakukan pada masing-masing trayek penelitian. Sampel pada penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut:

1. Sampel Angkot Trayek 01 𝑛 = '&(

'&(().&)!%& = 68,15 = 68 2. Sampel Angkot Trayek 02

𝑛 = '))

'))().&)!%& = 66,66 = 67 3. Sampel Angkot Trayek 06

𝑛 =+&().&)+&!%& = 47,64 = 48

Pada sampel penumpang angkot dilakukan berdasarkan jumlah populasi angkot dari data DISHUB Kota Serang. Perhitungan sampel penumpang dilakukan dengan rumus slovin sehingga didapatkan sampel sebagai berikut:

1. Jumlah responden pada Angkot trayek 01 𝑛 = ,''

,''().&)!%& = 87,83 ~ 88

2. Jumlah responden pada Angkot trayek 02 𝑛 = -)-

-)-().&)!%& = 88,98 ~ 89

3. Jumlah responden pada Angkot trayek 06 𝑛 = .++

.++().&)!%& = 80 Metode Analisis

Berdasarkan PM No.15 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Dalam Trayek, angkutan adalah perpindahan orang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan di ruang lalu lintas jalan. Metode analisis pada penelitian ini terbagi menjadi kinerja operasional, kinerja pelayanan, dan evaluasi rute.

A. Kinerja Operasional

Kinerja operasional angkutan umum diukur dengan beberapa parameter yaitu load factor, kecepatan perjalanan, headway, waktu perjalanan, waktu pelayanan, frekuensi, dan waktu tunggu. Penilaian kinerja operasional pada penelitian ini dilakukan berdasarkan Dirjen Perhubungan Darat SK 687/AJ.206/DRJD/2002.

Kinerja operasional mengacu pada standar indikator kinerja operasional angkutan umum pada tabel dibawah ini:

Tabel 3. Standar Kinerja Operasional Angkutan Umum Kota Berdasarkan Nilai Bobot

Parameter Standar

Load factor jam sibuk (%) 80-100

Kecepatan Perjalanan (km/jam) 5-10

Waktu antara/headway (menit) 10-15

Waktu perjalanan (menit/km) 6-12

Waktu pelayanan (jam) 13-15

Frekuensi (kendaraan/jam) 4-6

Waktu tunggu (menit) <20

Sumber: SK. Dirjen Perhubungan Darat, 2002

(4)

• Load Factor

Load factor merupakan perbandingan antara kapasitas terjual dan kapasitas tersedia yang dinyatakan dalam persen. Kapasitas kendaraan adalah daya muat penumpang pada tiap kendaraan angkutan umum.

Rumus 2. Load Factor

𝐿𝑓 =/0

1 × 100% ... (2) keterangan :

Lf =Load Factor (%)

JP =Jumlah penumpang per kendaraan umum

C =Kapasitas penumpang per kendaraan

• Kecepatan perjalanan

Kecepatan perjalanan adalah perbandingan jarak perjalanan antara dua tempat dengan lamanya waktu kendaraan dalam menyelesaikan perjalananya. Kecepatan perjalanan dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

Rumus 3. Kecepatan Perjalanan

V = 2

3 ... (3) keterangan :

V =Kecepatan perjalanan (km/jam) J = Jarak rute/tujuan (km)

T = Waktu tempuh (jam)

• Headway

Headway adalah selisih waktu antar dua kendaraan yang beriringan melewati suatu titik tertentu dalam satu jalur. Waktu antara adalah selisih waktu saat belakang kendaraan yang berada didepan melewati suatu titik pengamatan dengan saat ujung depan kendaraan yang mengikuti dibelakangnya melewati titik pengamatan yang sama.

Rumus 4. Headway

H =4)

5 ... (4) keterangan :

H = Headway (menit)

f =Frekuensi (kendaraan/jam)

• Waktu perjalanan

Waktu perjalanan atau travel time merupakan parameter yang digunakan untuk mengukur waktu yang diperlukan untuk melewati suatu panjang jalan tertuntu. Waktu perjalanan diamati termasuk pada waktu henti untuk naik turun penumpang dan keterlambatan angkutan seperti kemacetan.

Rumus 5. Waktu Perjalanan

𝑇 =6

7 ... (5)

keterangan:

T = Travel time (s) D = Panjang trayek (m) v = Kecepatan rata-rata (m/s)

• Waktu pelayanan

Waktu pelayanan merupakan waktu beroperasinya angkot dalam memberikan pelayanan. Waktu pelayanan dinyatakan dalam satu hari dengan satuan jam.

• Frekuensi

Frekuensi adalah jumlah perjalanan kendaraa dalam waktu tertentu. Frekuensi yang tinggi berarti banyaknya perjalanan dalam periode waktu tertentu, sebaliknya jika frekuensi rendah berarti sedikitnya perjalanan selama periode waktu tertentu.

Rumus 6. Frekuensi

f =8& ... (6) keterangan :

f = Frekuensi (kendaraan/jam) H = Headway (jam/kendaraan)

• Waktu tunggu

Waktu tunggu adalah waktu yang diperlukan oleh penumpang mulai dari tempat pemberhentian hingga memperoleh angkutan. Waktu tunggu dapat ditetapkan dari besarnya ½ headway atau dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Rumus 7. Waktu Tunggu

W =9

' =4)

': ... (7) keterangan :

H = Headway (menit/kendaraan) W = Waktu tunggu penumpang B. Importance Performance Analysis (IPA)

Metode IPA pada penelitian ini digunakan untuk mengidentifikasi faktor dan menilai kinerja penting dalam memenuhi kepuasan para pengguna angkot di Kota Serang. Rumus yang digunakan dalam Importance Performance Analysis (IPA) adalah sebagai berikut:

Rumus 8. IPA

Tki = ;<=< x 100% ... (8) Keterangan :

Tki = Tingkat Kesesuaian

Xi = Skor penilaian kinerja penyedia Yi = Skor penilaian kepentingan

Rumus 9. Rata-Rata Atribut X

X1 = ∑ ?@

A ... (9)

Rumus 10. Rata-Rata Atribut Y

Y1 = ∑ B@A ... (10) Keterangan :

X1 = Rata-rata nilai kepuasan variabel i

(5)

Xi = Jumlah nilai kepuasan variabel i Y1 = Rata-rata nilai kepentingan variabel i Yi = Jumlah nilai kepentingan variabel i n = jumlah sampel

Rumus 11. Rata-rata Seluruh Atribut X

X3 = ∑ CD"#FE ... (11)

Rumus 12. Rata-rata Seluruh Atribut Y

Y3 = ∑ GD"#FE ... (12) Keterangan :

X3 = Rata-rata nilai kepuasan seluruh variabel

Y3 = Rata-rata nilai kepentingan seluruh variabel k = Banyaknya atribut yang mempengaruhi

kepentingan pelayanan jasa C. Evaluasi Rute

Analisis evaluasi rute merupakan analisis yang digunakan untuk menilai masing-masing rute trayek angkot di Kota Serang. Penilaian rute pada penelitian ini dilakukan dengan memperhatikan aspek traffic demand di tiap ruas jalan. Melalui analisis evaluasi rute, maka akan didapatkan rute alternatif atau rekomendasi rute yang lebih efektif untuk digunakan sesuai banyaknya potensi traffic demand yang dilalui.

Permodelan graf terdiri dari lingkaran dan garis. Lingkaran disebut simpul atau vertex atau node yang terhubung oleh garis yang disebut sisi atau edge. Setiap simpul diberi label dengan cara tertentu seperti huruf alfabet atau angka.

Permodelan graf dibagi menjadi graf berarah dan berbobot. Graf berarah jika setiap node dihubungkan denga garis yang memiliki arah yang menunjukan jalur yang dapat dilalui dari satu node ke node lain. Graf berbobot melambangkan beberapa konsep sesuai yang tujuan atau faktor yang dipilih misalnya jarak, waktu tempuh, atau traffic demand.

Salah satu algoritma dengan permodelan graf yang dapat melakukan pencarian jalur optimal tersebut adalah Algoritma Dijkstra.

Algoritma Dijkstra ditemukan oleh ilmuwan komputer Belanda yang bernama Edsger Dijkstra

pada tahun 1956 dan diterbitkan pada tahun 1959. Algoritma ini hanya diterapkan pada graf berbobot positif dan sering kali digunakan untuk menemukan jalur terpendek dengan biaya minimum atau traffic demand.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kinerja Operasional dan Kinerja Pelayanan

Penilaian kinerja operasional pada moda angkota trayek 01, trayek 02, dan trayek 06 berdasarkan perbandingan parameter penilaian pada data eksisiting angkot. Penilaian kinerja dilakukan berdasarkan standar pelayanan angkot dari Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Perkotaan Dirjen Perhubungan Darat RI tahun 2002.

Kinerja pelayanan angkutan umum di Kota Serang diukur berdasarkan persepsi pengguna jasa angkutan yang didapat dari hasil penyebaran kuisioner kepada penumpang atau pengguna angkot. Kinerja pelayanan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode IPA.

Kinerja pelayanan dilakukan dengan menilai kepentingan dan kepuasan dari pengguna.

Parameter yang digunakan dalam penilaian kepentingan dan kinerja pelayanan didasari oleh PM 98 Tahun 2013 dan PM 29 Tahun 2015.

Atribut yang digunakan yaitu keamanan, keselamatan, kenyamanan, keterjangkauan, dan keteraturan.

1. Angkot Trayek 01

Angkot trayek 01 merupakan rute perjalanan dari Terminal Pakupatan menuju Terminal Kepandean dengan perjalanan ulang alik.

Angkot trayek 01 memiliki panjang rute yaitu 19,6 km. Angkot trayek 01 memiliki ciri pada warna angkutan yang berwarna biru dan putih. Berikut merupakan penilaian pada kinerja operasional berdasarkan hasil survei yang dapat dilihat pada Tabel 4, dan kinerja pelayanan berdasarkan persepsi pengguna angkot pada trayek 01 yang dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 4. Penilaian Kinerja Operasional Angkot Taryek 01

Parameter Weekday Weekend

Hasil Analisis Kriteria Hasil Analisis Kriteria

Load factor jam sibuk (%) 24,2% Dibawah standar 13,3% Dibawah standar

Kecepatan Perjalanan (km/jam) 27,5 km/jam Sesuai 36,7 km/jam Sesuai

Waktu antara/headway (menit) 4 menit Dibawah standar 7 menit Dibawah standar

Waktu perjalanan (menit/km) 2,7 menit/km Dibawah standar 2,0 meint/km Dibawah standar

Waktu pelayanan (jam) 14 jam Sesuai 14 jam Sesuai

Frekuensi (kendaraan/jam) 15 kendaraan/jam Susuai 9 kendaraan/jam Susuai

Sumber: Hasil Analisis, 2020

(6)

Tabel 5. Pembobotan dan Tingkat Kesesuaian IPA Trayek 01

Variabel Bobot

Kepentingan (Yi)

Bobot Kepuasan

(Xi)

Tingkat Kesesuaian (%) TKi = !"#" x 100%

𝒀E

=𝑌𝑖 𝑛

𝑿E

=𝑋𝑖 𝑛 Keamanan

Identitas kendaraan (nomor dan nama rute) 357 214 59,9% 4,06 2,43

Identitas pengemudi (nama dan nomor induk

pengendara) 320 181 56,6% 3,64 2,06

Lampu penerangan didalam angkot 358 246 68,7% 4,07 2,80

Kaca film pada angkot 262 252 96,2% 2,98 2,86

Lampu tanda bahaya 341 201 58,9% 3,88 2,28

Keselamatan

Peralatan keselamatan 329 188 57,1% 3,74 2,14

Fasilitas kesehatan (P3K) 303 194 64,0% 3,44 2,20

Informasi tanggap darurat 343 205 59,8% 3,90 2,33

Kenyamanan

Daya angkut angkot tidak melebihi batas 363 230 63,4% 4,13 2,61

Pengatur suhu ruangan angkot 272 198 72,8% 3,09 2,25

Fasilitas kebersihan 324 189 58,3% 3,68 2,15

Larangan merokok didalam angkot 323 195 60,4% 3,67 2,22

Keterjangkauan

Kesesuaian tarif angkot 372 238 64,0% 4,23 2,70

Keteraturan

Informasi pelayanan angkot yang jelas 343 199 58,0% 3,90 2,26

Waktu tunggu angkot tidak lebih dari 30 menit 366 220 60,1% 4,16 2,50

Waktu perjalanan tidak lebih dari 20 menit 320 221 69,1% 3,64 2,51

Kesesuaian rute dengan nomor angkot trayek 382 187 49,0% 4,34 2,13

Kemudahan mendapatkan angkot 376 256 68,1% 4,27 2,91

𝒀O dan 𝑿O 3,86 2,41

Sumber: Hasil Analisis, 2020

Kinerja operasional angkot pada trayek 01 dapat dilihat pada Tabel 4, kinerja operasional dilakukan di hari keja (weekday) dan di hari libur (weekend). Berdasarkan hasil penelitian, terdapat parameter kinerja operasional pada trayek 01 yang masih dibawah standar pelayanan yang telah ditentukan yaitu load factor, headway, dan waktu perjalanan.

Evaluasi kinerja pelayanan trayek 01 pada Tabel 5 dilakukan dengan menyebar kuesioner kepada penumpang angkot trayek 01.

Berdasarkan hasil pembobotan dan perhitungan tingkat kesesuaian trayek 01 pada Tabel 5, kemudian dilakukan pemetaan diagram kartesius IPA. Berikut merupakan hasil diagram kartesius pada trayek 01:

Gambar 1. Diagram Kartesius IPA Trayek 01

Pada Gambar 1. dapat dilihat bahwa dari 18 atribut terbagi kedalam empat kuadran kartesius IPA. Berdasarkan responden trayek 01 hasil penilaian IPA dapat dilihat sebagai berikut:

a. Kuadran I

Atribut yang terletak pada kuadran I merupakan atribut prioritas utama. Atribut pada kuadran ini dianggap penting tetapi pada kenyataannya atribut-atribut ini belum sesuai harapan penumpang atau pengguna angkot trayek 01. Sehingga atribut pada kuadran ini harus ditingkatkan dan diperhatikan oleh pihak penyedia jasa.Berikut atribut yang terletak pada kuadran I beserta arahan penangananya adalah:

• Ketersediaan lampu tanda bahaya Penyediaan lampu tanda bahaya berupa tombol minimal 2 (dua) buah yang dipasang di ruang pengemudi dan ruang penumpang, dan lampu berpijar yang dipasang pada atap bagian tengah depan dan belakang kendaraan

• Ketersediaan informasi tanggap darurat Penyediaan informasi berupa stiker berisi nomor telepon dan/atau SMS pengaduan yang ditempel pada tempat yang strategis dan mudah dilihat

• Ketersediaan informasi pelayanan

(7)

Penyediaan informasi paling sedikit 2 (dua) stiker yang ditempatkan pada ruang penumpang di bagian depan dan belakang berupa keberangkatan, kedatangan, tarif, dan trayek yang dilayani

• Kesesuaian rute

Melintasi jalur yang telah ditetapkan sesuai dengan nomor atau ciri angkot dengan arahan berupa penertiban angkot terkait kesesuaian angkot berdasarkan rutenya

b. Kuadran II

Atribut yang terletak pada kuaran II merupakan atribut yang harus dipertahankan. Atribut pada kuadran ini dianggap penting dan sudah sesuai harapan atau memberikan kepuasan kepada penumpang angkot trayek 01.

• Ketersediaan identitas kendaraan

• Ketersediaan lampu penerangan didalam angkot

• Daya angkut angkot tidak melebihi batas maksimum

• Kesesuaian tarif angkot

• Waktu tunggu angkot

• Kemudahan dalam mendapatkan angkot

c. Kuadran III

Atribut yang terletak pada kuadran III merupakan atribut prioritas rendah. Atribut yang terletak pada kuadran III berdasarkan persepsi pengguna angkot trayek 01 adalah:

• Atribut yang terletak pada kuadran III merupakan atribut prioritas rendah.

• Ketersediaan identitas pengemudi

• Ketersediaan peralatan keselamatan

• Ketersediaan fasilitas P3K

• Ketersediaan pengaturan suhu ruangan angkot

• Ketersediaan fasilitas kebersihan

• Larangan merokok didalam angkot d. Kuadran IV

Atribut yang terletak pada kuadran IV menunjukkan bahwa atribut ini merupakan hal tidak terlalu penting dan atau tidak terlalu diharapkan. Namun pelaksanaannya memuaskan menurut pengguna atau penumpang angkot trayek 01. Atribut yang terletak pada kuadran IV adalah sebagai berikut:

• Penggunaan kaca film angkot

• Waktu perjalanan angkot 2. Angkot Trayek 02

Angkot trayek 02 merupakan rute perjalanan dari Terminal Pakupatan menuju Terminal Kepandean dengan perjalanan ulang alik. Angkot trayek 02 memiliki panjang rute yaitu 14,1 km. Angkot trayek 02 memiliki ciri pada warna angkutan yang berwarna biru dan putih.

Berikut merupakan penilaian pada kinerja operasional berdasarkan hasil survei yang dapat dilihat pada Tabel 6, dan kinerja pelayanan berdasarkan persepsi pengguna angkot pada trayek 02 yang dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 6. Penilaian Kinerja Operasional Angkot Taryek 02

Parameter Weekday Weekend

Hasil Analisis Kriteria Hasil Analisis Kriteria

Load factor jam sibuk (%) 27,9% Dibawah standar 12,1% Dibawah standar

Kecepatan Perjalanan (km/jam) 18,8 km/jam Sesuai 22,1 km/jam Sesuai

Waktu antara/headway (menit) 5,1 menit Dibawah standar 5,5 menit Dibawah standar Waktu perjalanan (menit/km) 4,7 menit/km Dibawah standar 1,4 menit/km Dibawah standar

Waktu pelayanan (jam) 14 jam Sesuai 14 jam Sesuai

Frekuensi (kendaraan/jam) 12 kendaraan/jam Sesuai 11 kendaraan/jam Sesuai

Waktu tunggu (menit) 2,5 menit Sesuai 2,8 menit Sesuai

Sumber: Hasil Analisis, 2020

Tabel 7. Pembobotan dan Tingkat Kesesuaian IPA Trayek 02

Variabel Bobot

Harapan (Yi)

Bobot Kinerja (Xi)

Tingkat Kesesuaian(%) TKi = !"#" x 100%

𝒀E

=𝑌𝑖 𝑛

𝑿E

=𝑋𝑖 𝑛 Keamanan

Identitas kendaraan (nomor dan nama rute) 332 229 68,98% 3,73 2,57

Identitas pengemudi (nama dan nomor induk

pengendara) 316 208 65,82% 3,55 2,34

Lampu penerangan didalam angkot 328 240 73,17% 3,69 2,70

Kaca film pada angkot 266 243 91,35% 2,99 2,73

Lampu tanda bahaya 344 218 63,37% 3,87 2,45

Keselamatan

Peralatan keselamatan 332 194 58,43% 3,73 2,18

Fasilitas kesehatan (P3K) 306 189 61,76% 3,44 2,12

(8)

Variabel Bobot Harapan

(Yi)

Bobot Kinerja (Xi)

Tingkat Kesesuaian(%) TKi = !"#" x 100%

𝒀E

=𝑌𝑖 𝑛

𝑿E

=𝑋𝑖 𝑛

Informasi tanggap darurat 319 194 60,82% 3,58 2,18

Kenyamanan

Daya angkut angkot tidak melebihi batas 340 233 68,53% 3,82 2,62

Pengatur suhu ruangan angkot 283 199 70,32% 3,18 2,24

Fasilitas kebersihan 321 207 64,49% 3,61 2,33

Larangan merokok didalam angkot 365 190 52,05% 4,10 2,13

Keterjangkauan

Kesesuaian tarif angkot 342 279 81,58% 3,84 3,13

Keteraturan

Informasi pelayanan angkot yang jelas 336 201 59,82% 3,78 2,26

Waktu tunggu angkot tidak lebih dari 30 menit 348 229 65,80% 3,91 2,57

Waktu perjalanan tidak lebih dari 20 menit 306 230 75,16% 3,44 2,58

Kesesuaian rute dengan nomor angkot trayek 347 208 59,94% 3,90 2,34

Kemudahan mendapatkan angkot 347 248 71,47% 3,90 2,79

𝒀O dan 𝑿O 3,68 2,46

Sumber: Hasil Analisis, 2020

Kinerja operasional angkot pada trayek 02 dapat dilihat pada Tabel 6 dilakukan di hari keja (weekday) dan di hari libur (weekend).

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat parameter kinerja operasional pada trayek 02 yang masih dibawah standar pelayanan yang telah ditentukan yaitu load factor, headway, dan waktu perjalanan.

Evaluasi kinerja pelayanan trayek 02 dilakukan dengan menyebar kuesioner kepada penumpang angkot trayek 02. Berdasarkan hasil pembobotan dan perhitungan tingkat kesesuaian trayek 02 pada tabel 8, kemudian dilakukan pemetaan diagram kartesius IPA. Berikut merupakan hasil diagram kartesius pada trayek 02:

Gambar 2. Diagram Kartesius IPA Trayek 02 Pada Gambar 2. dapat dilihat bahwa dari 18 atribut terbagi kedalam empat kuadran kartesius IPA. Berdasarkan responden trayek 02 hasil penilaian IPA dapat dilihat sebagai berikut:

a. Kuadran I

Atribut yang terletak pada kuadran I merupakan atribut prioritas utama. Atribut pada kuadran ini dianggap penting oleh

pengguna/responden angkot pada trayek 02, tetapi pada kenyataannya atribut-atribut ini belum sesuai harapan atau belum puas kinerjanya. Sehingga atribut pada kuadran ini harus ditingkatkan dan diperhatikan oleh pihak penyedia jasa.Berikut atribut yang terletak pada kuadran I beserta arahan penangananya adalah:

• Ketersediaan lampu tanda bahaya Penyediaan lampu tanda bahaya berupa tombol minimal 2 (dua) buah yang dipasang di ruang pengemudi dan ruang penumpang, dan lampu berpijar yang dipasang pada atap bagian tengah depan dan belakang kendaraan

• Ketersediaan peralatan keselamatan Penyediaan fasilitas keselamatan berupa alat pemecah kaca, alat pemadam api, dan alat penerangan yang dipasang ditempat yang mudah dicapai dan dilengkapi dengan keterangan tata cara penggunaan berupa stiker

• Ketersediaan larangan merokok di dalam angkot

Penyediaan larangan merokok berupa stiker dengan gambar dan/atau tulisan

“Dilarang Merokok” paling sedikit 2 (dua) yang ditempatkan pada ruang penumpang pada kaca samping kanan dan samping kiri kendaraan

• Ketersediaan informasi pelayanan angkot yang jelas

Penyediaan informasi paling sedikit 2 (dua) stiker yang ditempatkan pada ruang penumpang di bagian depan dan belakang berupa keberangkatan, kedatangan, tarif, dan trayek yang dilayani

(9)

• Kesesuaian rute dengan nomor angkot trayek

Melintasi jalur yang telah ditetapkan sesuai dengan nomor atau ciri angkot dengan arahan berupa penertiban angkot terkait kesesuaian angkot berdasarkan rutenya

b. Kuadran II

Atribut yang terletak pada kuaran II merupakan atribut yang harus dipertahankan. Atribut pada kuadran ini dianggap penting dan sudah sesuai harapan atau memberikan kepuasan kepada penumpang angkot trayek 02.

• Ketersediaan identitas kendaraan

• Ketersediaan lampu penerangan didalam angkot

• Daya angkut angkot tidak melebihi batas maksimal

• Kesesuaian tarif angkot

• Waktu tunggu angkot

• Kemudahan dalam mendapatkan angkot

c. Kuadran III

Atribut yang terletak pada kuadran III merupakan atribut prioritas rendah. Atribut yang terletak pada kuadran III berdasarkan persepsi pengguna angkot trayek 02 adalah:

• Ketersediaan identitas pengemudi

• Ketersediaan fasilitas kesehatan P3K

• Ketersediaan informasi tanggap darurat

• Ketersediaan pengatur suhu ruangan angkot

• Ketersediaan fasilitas kebersihan d. Kuadran IV

Atribut yang terletak pada kuadran IV dianggap tidak terlalu penting dan atau tidak terlalu diharapkan. Namun pelaksanaannya memuaskan menurut pengguna atau penumpang angkot trayek 02. Atribut yang terletak pada kuadran IV adalah sebagai berikut:

• Penggunaan kaca film angkot

• Waktu perjalanan angkot 3. Angkot trayek 06

Angkot trayek 06 merupakan rute perjalanan dari Terminal Pakupatan menuju Terminal Kepandean dengan perjalanan ulang alik. Angkot trayek 06 memiliki panjang rute yaitu 13,6 km. Angkot trayek 06 memiliki ciri pada warna angkutan yang berwarna biru dan putih.

Berikut merupakan penilaian pada kinerja operasional berdasarkan hasil survei yang dapat dilihat pada Tabel 8, dan kinerja pelayanan berdasarkan persepsi pengguna angkot pada trayek 06 yang dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 8. Penilaian Kinerja Operasional Angkot Taryek 06

Parameter Weekday Weekend

Hasil Analisis Kriteria Hasil Analisis Kriteria

Load factor jam sibuk (%) 20,9% Dibawah standar 16,9% Dibawah standar

Kecepatan Perjalanan (km/jam) 16,7 km/jam Sesuai 20,7 km/jam Susuai

Waktu antara/headway (menit) 5,3 menit Dibawah standar 5,3 menit Dibawah standar Waktu perjalanan (menit/km) 4,6 menit/km Dibawah standar 4,4 menit/km Dibawah standar

Waktu pelayanan (jam) 14 jam Sesuai 14 jam Sesuai

Frekuensi (kendaraan/jam) 13 kendaraan/jam Sesuai 12 kendaraan/jam Sesuai

Waktu tunggu (menit) 2,3 menit Sesuai 2,6 menit Sesuai

Sumber: Hasil Analisis, 2020

Tabel 9. Pembobotan dan Tingkat Kesesuaian IPA Trayek 06

Variabel Bobot

Harapan (Yi)

Bobot Kinerja (Xi)

Tingkat Kesesuaian(%) TKi = !"#" x 100%

𝒀E

=𝑌𝑖 𝑛

𝑿 E

=𝑋𝑖 𝑛 Keamanan

Identitas kendaraan (nomor dan nama rute) 328 208 63,41% 4,10 2,60

Identitas pengemudi (nama dan nomor induk

pengendara) 315 179 56,83% 3,94 2,24

Lampu penerangan didalam angkot 328 226 68,90% 4,10 2,83

Kaca film pada angkot 235 230 97,87% 2,94 2,88

Lampu tanda bahaya 313 196 62,62% 3,91 2,45

Keselamatan

Peralatan keselamatan 303 170 56,11% 3,79 2,13

Fasilitas kesehatan (P3K) 281 179 63,70% 3,51 2,24

Informasi tanggap darurat 301 174 57,81% 3,76 2,18

Kenyamanan

Daya angkut angkot tidak melebihi batas 330 197 59,70% 4,13 2,46

Pengatur suhu ruangan angkot 235 192 81,70% 2,94 2,40

Fasilitas kebersihan 276 195 70,65% 3,45 2,44

Larangan merokok didalam angkot 356 177 49,72% 4,45 2,21

(10)

Variabel Bobot Harapan

(Yi)

Bobot Kinerja (Xi)

Tingkat Kesesuaian(%) TKi = !"#" x 100%

𝒀E

=𝑌𝑖 𝑛

𝑿 E

=𝑋𝑖 𝑛 Keterjangkauan

Kesesuaian tarif angkot 331 249 75,23% 4,14 3,11

Keteraturan

Informasi pelayanan angkot yang jelas 313 166 53,04% 3,91 2,08

Waktu tunggu angkot tidak lebih dari 30 menit 318 219 68,87% 3,98 2,74

Waktu perjalanan tidak lebih dari 20 menit 286 232 81,12% 3,58 2,90

Kesesuaian rute dengan nomor angkot trayek 337 167 49,55% 4,21 2,09

Kemudahan mendapatkan angkot 337 256 75,96% 4,21 3,20

𝒀O dan 𝑿O 3,84 2,51

Sumber: Hasil Analisis, 2020

Kinerja operasional angkot pada trayek 06 dilakukan di hari keja (weekday) dan di hari libur (weekend). Berdasarkan hasil penelitian, terdapat parameter kinerja operasional pada trayek 06 yang masih dibawah standar pelayanan yang telah ditentukan yaitu load factor, headway, dan waktu perjalanan.

Evaluasi kinerja pelayanan trayek 06 dilakukan dengan menyebar kuesioner kepada penumpang angkot trayek 06. Berdasarkan hasil pembobotan dan perhitungan tingkat kesesuaian trayek 06 pada tabel 9, kemudian dilakukan pemetaan diagram kartesius IPA. Berikut merupakan hasil diagram kartesius pada trayek 06:

Gambar 3. Diagram Kartesius IPA Trayek 06 Pada Gambar 3. dapat dilihat bahwa dari 18 atribut terbagi kedalam empat kuadran kartesius IPA. Berdasarkan responden trayek 06 hasil penilaian IPA dapat dilihat sebagai berikut:

a. Kuadran I

Atribut yang terletak pada kuadran I merupakan atribut prioritas utama. Atribut pada kuadran ini dianggap penting oleh pengguna/responden angkot pada trayek 06, tetapi pada kenyataannya atribut-atribut ini belum sesuai harapan atau belum puas kinerjanya. Sehingga atribut pada kuadran ini harus ditingkatkan dan diperhatikan oleh

pihak penyedia jasa. Berikut atribut yang terletak pada kuadran I beserta arahan penanganannya adalah:

• Ketersediaan identitas pengemudi Penyediaan identitas berupa nama pengemudi, dan nomor induk pengemudi di ruang pengemudi, dan menggunakan pakaian seragam yang dilengkapi dengan identitas pengemudi

• Ketersediaan lampu tanda bahaya Penyediaan lampu tanda bahaya berupa tombol minimal 2 (dua) buah yang dipasang di ruang pengemudi dan ruang penumpang, dan lampu berpijar yang dipasang pada atap bagian tengah depan dan belakang kendaraan

• Ketersediaan larangan Merokok di dalam angkot

Penyediaan larangan merokok berupa stiker dengan gambar dan/atau tulisan

“Dilarang Merokok” paling sedikit 2 (dua) yang ditempatkan pada ruang penumpang pada kaca samping kanan dan samping kiri kendaraan

• Ketersediaan informasi pelayanan angkot yang jelas

Penyediaan informasi paling sedikit 2 (dua) stiker yang ditempatkan pada ruang penumpang di bagian depan dan belakang berupa keberangkatan, kedatangan, tarif, dan trayek yang dilayani

• Kesesuaian rute dengan nomor angkot trayek

Melintasi jalur yang telah ditetapkan sesuai dengan nomor atau ciri angkot dengan arahan berupa penertiban angkot terkait kesesuaian angkot berdasarkan rutenya

b. Kuadran II

Atribut yang terletak pada kuaran II merupakan atribut yang harus dipertahankan. Atribut pada kuadran ini

(11)

dianggap penting dan sudah sesuai harapan atau memberikan kepuasan kepada penumpang angkot trayek 06.

• Ketersediaan identitas kendaraan

• Ketersediaan lampu penerangan didalam angkot

• Kesesuaian tarif angkot

• Waktu tunggu angkot

• Kemudahan dalam mendapatkan angkot

• Daya angkut angkot tidak melebihi batas maksimal

c. Kuadran III

Atribut yang terletak pada kuadran III merupakan atribut prioritas rendah. Atribut yang terletak pada kuadran III berdasarkan persepsi pengguna angkot trayek 06 adalah:

• Ketersediaan peralatan keselamatan

• Ketersediaan fasilitas kesehatan P3K

• Ketersediaan informasi tanggap darurat

• Ketersediaan pengatur suhu ruangan angkot

• Ketersediaan fasilitas kebersihan d. Kuadran IV

Atribut yang terletak pada kuadran IV dianggap tidak terlalu penting dan atau tidak terlalu diharapkan. Namun pelaksanaannya memuaskan menurut pengguna atau penumpang angkot trayek 06. Atribut yang terletak pada kuadran IV adalah sebagai berikut:

• Penggunaan kaca film angkot

• Waktu perjalanan angkot B. Evaluasi Rute Trayek

1. Trayek 01

Angkot trayek 01 eksisting memiliki total pergerakan angkot sebesar 1.858 smp/hari.

Trayek 01 memiliki panjang lintasan 19,6 km.

Tabel 10. Perbandingan Rute Eksisting dan Rekomendasi Rute Trayek 01

Rute Eksisting Rekomendasi Rute Nama Jalan Permintaan

Pergerakan

(smp/hari) Nama Jalan Permintaan Pergerakan (smp/hari)

Jalan Abdul

Hadi 395

Jalan Ciwaru

Raya 329

Jalan Ki

Ajurum 227

Jalan Raya

Pandeglang 395 Sumber: Hasil penelitian, 2021

Potensi permintaan pergerakan pada rekomendasi trayek 01 yaitu 2.414 smp/hari.

Total panjang lintasan rekomendasi rute trayek

01 adalah 20,4 km dengan penambahan panjang rute sebesar 0,8 km. Berikut merupakan rekomendasi rute pada angkot trayek 01:

a. Rute Pergi

Jalan Raya Jakarta – Jalan Jendral Sudirman – Jalan Fatah Hasan – Jalan Ciwaru Raya – Jalan Ki Ajurum – Jalan Raya Pandeglang – Jalan TB Suwandi – Jalan Letnan Jidun – Terminal Kepandean

b. Rute Pulang

Terminal Kepandean – Jalan Letnan Jidun – Jalan Tb Suwandi – Jalan Raya Pandeglan – Jalan Ki Ajurum – Jalan Ciwaru Raya – Jalan Fatah Hasan – Jalan Jendral Sudirman – Jalan Raya Jakarta – Terminal Pakupatan

2. Trayek 02

Angkot eksistng pada trayek 02 memiliki panjang lintasan 14,1 Km dengan total pembebanan jalan yang dilewati sebanyak 34.633 smp/hari. Analisis evaluasi rute berdasarkan permintaan pergerakan pada rute ini tidak dilakukan karena rute ini melewati jalur dengan permintaan pergerakan paling tinggi dibandingkan dengan jalur atau jalan lain sekitar jalur pada taryek ini. Pada angkot trayek 02 dianggap telah efektif dalam menjangkau kebutuhan pergerakan masyarakat di Kota Serang.

3. Trayek 06

Angkot trayek 06 eksisting memiliki total pergerakan angkot sebesar 3.228 smp/hari.

Trayek 06 memiliki panjang lintasan 13,6 km.

Berikut merupakan hasil evaluasi rute traek 06:

Tabel 11. Perbandingan Rute Eksisting dan Rekomendasi Rute Trayek 06

Rute Eksisting Rekomendasi Rute Nama Jalan Permintaan

Pergerakan

(smp/hari) Nama Jalan Permintaan Pergerakan (smp/hari)

Jalan Lingkar

Rau 86

Jalan Trip

Jamaksari 160 Jala

Cinanggung 197 Sumber: Hasil penelitian, 2021

Potensi permintaan pergerakan pada rekomendasi trayek 06 yaitu 3.499 smp/hari.

Total panjang lintasan rekomendasi rute trayek 06 adalah 14,2 km dengan penambahan panjang rute sebesar 0,6 km. Berikut merupakan rekomendasi rute pada angkot trayek 06:

a. Rute Pergi

Terminal Cipocok – Jalan Ki Ajurum – Jalan Ciwaru Raya – Jalan Abdul Hadi – Jalan Yusuf Martadilaga – Jalan KH Khatib – Jalan Maulana Yusuf – Jalan Sultan Ageng

(12)

Tirtayasa – Jalan Maulana Hasanudin – Jalan Samaun Bakri – Jalan Tb Sueb.

b. Rute Pulang

Jalan Tb Sueb – Jalan Trip Jamaksari – Jalan Ahmad Cinanggung – Jalan Abdul Latif – Jalan Ahmad Yani – Jalan Kh Khatib – Jalan Yusuf Martadilaga – Jalan Abdul Hadi – Jalan Ciwaru Raya – Jalan Ki Ajurum – Terminal Cipocok.

KESIMPULAN

1. Kinerja operasional pada angkot trayek 01, trayek 02, dan trayek 06 berdasarkan parameter penilaian pada data eksisting dengan standar standar pelayanan angkot dari Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Perkotaan Dirjen Perhubungan Darat RI tahun 2002 parameter yang masih dibawah standar adalah load factor, headway, dan waktu perjalanan.

2. Atribut pelayanan yang perlu diperbaiki yaitu atribut yang dianggap penting tetapi belum memberikan kepuasan terhadap penumpang angkot 01 yaitu atribut yang berada di kuadran I. Atribut yang perlu diperbaiki pada angkot ini adalah ketersediaan lampu tanda bahaya, ketersediaan informasi tanggap darurat, informasi pelayanan angkot yang jelas, dan kesesuaian rute dengan nomor angkot trayek.

3. Atribut pelayanan yang perlu diperbaiki yaitu atribut yang dianggap penting tetapi belum memberikan kepuasan terhadap penumpang angkot 02 yaitu atribut yang berada di kuadran I. Atribut yang perlu diperbaiki pada angkot ini adalah ketersediaan lampu tanda bahaya, ketersediaan peralatan keselamatan, larangan merokok didalam angkot, informasi pelayanan angkot yang jelas, kesesuaian rute dengan nomor angkot trayek.

4. Atribut pelayanan yang perlu diperbaiki yaitu atribut yang dianggap penting tetapi belum memberikan kepuasan terhadap penumpang angkot 06 yaitu atribut yang berada di kuadran I. Atribut yang perlu diperbaiki pada angkot ini adalah ketersediaan identitas pengemudi, ketersediaan lampu tanda bahaya, larangan merokok didalam angkot, informasi

pelayanan angkot yang jelas, kesesuaian rute dengan nomor angkot trayek.

5. Evaluasi rute dilakukan berdasarkan permintaan pergerakan masyarakat di Kota Serang. Total permintaan angkot sebanyak 2.414 smp/hari dengan pemindahan rute perjalanan dari Jalan Abdul Hadi menjadi Jalan Ciwaru, Jalan Ki Ajurum, dan Jalan Raya Pandeglang.

6. Evaluasi rute dilakukan berdasarkan permintaan pergerakan masyarakat di Kota Serang. Total permintaan angkot sebnyak 3.499 smp/hari dengan pemindahan rute perjalanan dari Jalan Lingkar Rau menjadi jalan Trip Jamaksari dan Jalan Cinanggung.

DAFTAR PUSTAKA

Adityasari, Mahasti. 2019. Evaluasi Rute Angkutan Kota Berbasis Kebutuhan Pergerakan Masyarakat Dengan Metode (GIS) Di Kota Malang. Media Teknik Sipil. Vo.13 No.1

Azmeri dkk. 2018. Kinerja Pelayanan Nagkutan Umum Jalan Raya. Yogyakarta. Cv Budi Utama

Badan P. 2018. Kota Serang Dalam Angka.

Serang. BPS.

Direktorat Jendral Perhubungan Darat. 2002.

Pedoman Teknis Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Umum di Wilayah Perkotaan Dalam Trayek Tetap dan Teratur. Jakarta.

Departemen Perhubungan RI.

Pradana, M. 2017. Urung Rembug Memperbaiki Angkutan Kota di Kota Serang. Serang.

UNTIRTA

Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum dalam Trayek

Peraturan Menteri No. 29 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum dalam Trayek

Peraturan Menteri No. 98 Tahun 2013 tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Dalam Trayek

Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan

Tamin, O. 2000. Perencanaan dan Permodelan Transportasi. Bandung. ITB

Referensi

Dokumen terkait

Kajian Kinerja Pelayanan Angkutan Perkotaan Studi Kasus Rute Angkot 01 Simpang-Sadang PP berangkat dari asusmsi awal bahwa pelayanan transportasi umum di Kabupaten Purwakata

Dari hasil analisa, pembahasan dan melihat kondisi operasional pelayanan angkutan umum pada trayek Terminal Oebobo-Terminal Kupang PP dan trayek Terminal Kupang-Terminal Noelbaki

Evaluasi kinerja terbagi atas 2 yaitu berdasarkan standar pela- yanan minimum yaitu PM Nomor 98 Tahun 2013 ten- tang Standar Pelayanan minimal angkutan orang dengan

Melakukan analisis terhadap kinerja teknis, operasional serta kinerja layanan angkutan perkotaan (load factor, headway, circulation time, travel speed, analisis kelambatan,

Sejalan dengan hasil penelitian Yohanes [12] bahwa , evaluasi standar pelayanan angkutan umum menurut Dirjen Perhubungan Darat, kinerja pelayanan angkutan umum pada trayek

Evaluasi kinerja terbagi atas 2 yaitu berdasarkan standar pela- yanan minimum yaitu PM Nomor 98 Tahun 2013 ten- tang Standar Pelayanan minimal angkutan orang dengan

Penilaian masyarakat terhadap tiap-tiap variabel kinerja pelayanan angkutan bus antar provinsi trayek Lhokseumawe-Medan dalam penelitian ini digunakan metode

Dari hasil analisa, pembahasan dan melihat kondisi operasional pelayanan angkutan umum pada trayek Terminal Oebobo-Terminal Kupang PP dan trayek Terminal Kupang-Terminal Noelbaki