• Tidak ada hasil yang ditemukan

TELAAH BELAJAR PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM DAN TEORI KOGNITIF Oleh : Imam Faqih. Kata Kunci : Belajar, Kognitif, Pendidikan, Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TELAAH BELAJAR PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM DAN TEORI KOGNITIF Oleh : Imam Faqih. Kata Kunci : Belajar, Kognitif, Pendidikan, Islam"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

65

TELAAH BELAJAR PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM DAN TEORI KOGNITIF

Oleh : Imam Faqih

Abstrak

Belajar, sebagai budaya yang perlu dikembangkan pada masa sekarang, tidak bisa dipisahkan dengan pemaknaan hakekat manusia baik yang belajar maupun yang membelajarkan. Dan belajar adalah suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan dan keterampilan. Belajar dalam konteks ini akan ditelaah dari sisi perspektif pendidikan Islam dan Teori kognitif.

Dan bila dilihat dari sisi pendidikan islam belajar merupakan suatu kegiatan perubahan tingkah laku seseorang yang dilakukan oleh pendidik kepada anak didik untuk mencapai kedewasaan yang mencakup aspek kognitif (intelegensi/

pengetahuan), afektif (sikap), psikomotorik (ketrampilan) dan sosial berdasarkan prinsip-prinsip serta sumber ajaran Islam yaitu al-qur‟an dan hadits sedangkan dari sisi kognitif adalah belajar yang menekankan pada aspek kognitif saja yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.

Kata Kunci : Belajar, Kognitif, Pendidikan, Islam

PENDAHULUAN

Persoalan belajar sebagai budaya yang perlu dikembangkan pada masa sekarang, tidak bisa dipisahkan dengan pemaknaan hakekat manusia baik yang belajar maupun yang membelajarkan. Masalah belajar adalah masalah yang selalu aktual dan dihadapi oleh setiap orang.

Belajar adalah kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar yang sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya pendidikan. Karena demikian pentingnya arti belajar, bagian terbesar upaya riset dan eksperimen pun diarahkan pada tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai perubahan manusia itu.

Dalam belajar pasti ingin tercapai sesuatu, disini tujuan belajar dibagi menjadi tiga jenis yaitu, (1) untuk mendapatkan pengetahuan (2) penanaman konsep dan ketrampilan (3) pembentukan sikap. Jadi pada intinya tujuan belajar

(2)

66

itu adlah ingin mendapatkan pengetahuan, ketrampilan, dan penanaman sikap mental atau nilai-nilai, pencapaian tujuan belajar berarti akan menghasilkan hasil belajar yang maksimal.1

Jadi, dari uraian di atas belajar adalah suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Belajar memainkan peran penting dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia (bangsa) ditengah-tengah persaingan yang sangat ketat diantara bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju karena belajar.2

Di dalam pendidikan Islam tujuan pendidikan Islam itu sendiri sebagai perubahan yang diiringi yang diupayakan oleh proses pendidikan atau usaha pendidikan untuk mencapainya, baik pada tingkah laku individu, pada kehidupan pribadinya atau pada kehidupan masyarakat dan pada alam sekitar tempat individu itu hidup atau pada proses pendidikan itu sendiri dan proses pengajaran sebagai suatu aktifitas asasi dan sebagai proporsi diantara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.

Dengan mengingat pendidikan adalah proses hidup dan kehidupan umat manusia, maka tujuannya pun mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan perubahan dan perkembangan zaman. Dalam hal ini, tujuan khusus sebagai pedoman operatif praktis dituntut untuk senantiasa siap memberi hasil guna, baik bagi keperluan menciptakan dan mengembangan ilmu-ilmu baru, lapangan-lapangan kerja baru, maupun membina sikap hidup kritis dan pola tingkah laku baru serta kecenderungan-kecenderungan baru. 3

Dengan adanya tujuan pendidikan islam maka tidak terlepas dari dasar- dasar pendidikan islam yang digunakan sebagai landasan untuk berdirinya sesuatu, disini dasar pendidikan islam yaitu al qur‟an dan sunnah.

Prinsip menjadikan al qur‟an dan sunnah sebagai dasar pendidikan islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran keyakinan semata. Lebih jauh kebenaran itu juga sejalan dengan kebenaran yang dapat diterima oleh akal yang

1 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1986), 25.

2 Ahmad Mudzakir, Joko Sutrisno, Psikologi Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia, 1997), 34. 3

Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 161.

(3)

67

sehat dan bukti sejarah. Dengan demikian barangkali wajar jika kebenaran itu kita kembalikan kepada pembuktian kebenaran pernyataan alloh SWT dalam al qur‟an.4

Dari sini tidak menutup kemungkinan bahwa peran pendidikan sangat penting dalam meningkatkan atau merubah diri peserta didik dengan melalui proses pengajaran yang lebih menekankan pada proses belajar siswa yang dididiknya terdapat proses perolehan informasi baru, proses transformasi pengetahuan dan proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan tersebut bagi siswa itu.

BELAJAR, PENDIDIKAN ISLAM DAN TEORI KOGNITIF

a. Belajar (Pengertian, Ciri, Jenis, dan Tujuan)

Manusia diciptakan Allah dengan dibekali potensi yaitu potensi jasmaniah yang berkenaan dengan seluruh organ fisik manusia sedangkan potensi rohaniah meliputi kekuatan yang terdapat dalam batin manusia, yakni akal, nafsu, dan roh, untuk mengembangkan potensi tersebut manusia perlu belajar, sehingga kegiatan belajar itu sendiri tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia itu sendiri.

Berikut penuturan para ahli tentang pengertian belajar:

a. Lyle E. Bourne, JR. Bruce R. Ekstrand, bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative tetap yang diakibatkan oleh pengalaman dan latihan.

b. Clifford T. Morgan, berpendapat bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang merupakan hasil pengalaman yang lalu.5

c. James O. Wittaker, merumuskan belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.6

d. Drs. Slameto, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang

4 Hamzah B. Uno, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran, 124.

5 Mustaqim, Psikologi Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), 33-34.

6 Saiful Bahri Djamaroh, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 13.

(4)

68

baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.7

Dari beberapa pengertian tentang belajar tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative tetap yang terjadi karena latihan dan pengalaman, dengan kata lain lebih terperinci adalah: 1) Suatu aktivitas atau usaha yang disengaja; 2) Aktivitas tersebut menghasilkan perubahan, berupa sesuatu yang baik yang segera nampak atau tersembunyi tetapi juga hanya berupa penyempurnaan terhadap sesuatu yang pernah dipelajari; 3) Perubahan itu meliputi perubahan ketrampilan jasmani, kecakapan perseptual, isi ingatan, abilitas berpikir, sikap terhadap nilai-nilai dan inhibisi serta lain-lain fungsi jiwa (perubahan yang berkenaan dengan aspek psikis dan fisik); 4) Perubahan tersebut relative bersifat konstan.8

Jadi seseorang telah dikatakan belajar apabila terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut. Misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti. Tingkah laku memiliki unsur subjektif dan unsur motoris. Unsur subjektif adalah unsur rohaniah sedangkan unsur motoris adalah unsur jasmaniah. Bahwa seseorang sedang berfikir dapat dilihat dari raut mukanya, sikapnya dalam rohaniahnya tidak bisa kita lihat.

Kalau seseorang telah melakukan perbuatan belajar maka akan terlihat terjadinya perubahan dalam salah satu aspek tingkah laku tersebut,9

Belajar merupakan suatu kegiatan untuk merubah tingkah laku yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya.

Dari beberapa pengertian tentang belajar di atas maka belajar adalah perubahan tingkah laku yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1) Perubahan secara sadar, yaitu seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu sekurang-kurangnya ia merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya. 2) Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional. 3) Perubahan

7 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), 2.

8 Mustaqim, Psikologi, 34.

9 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), 30.

(5)

69

dalam belajar bersifat positif dan aktif, perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu sendiri. 4) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, perubahan yang bersifat sementara antara temporer terjadi hanya untuk beberapa saat saja. 5) Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah, yang berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai. Perubahan belajar terarah kepada perubahan yang benar-benar disadari. 6) Perubahan mecakup seluruh aspek tingkah laku.10

Jadi dengan demikian ciri-cri belajar adalah adanya perubahan yang disadari saat belajar, belajar bersifat kontinu dan fungsional, bersifat positif dan aktif, bersifat bukan sementara, bertujuan dan terarah, mencakup aspek tingkah laku, kesemua aspek perubahan di atas antara yang satu saling berhubungan erat dengan aspek lainnya.

Sedangkan Jenis-jenis belajar diantaranya: Belajar ketrampilan, Belajar pengetahuan dan pemahaman, belajar sikap.11

Selain di atas belajar juga sebagai suatu aktvitas yang mencakup jenis- jenis belajar, yang meliputi: Belajar bagian, Belajar dengan wawasan, Belajar deskriminatif, Belajar secara global atau keseluruhan, Belajar insidental, Belajar instrumental, Belajar intensional, Belajar laten, Belajar mental, Belajar produktif, Belajar verbal.12

Dari beberapa jenis belajar di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya jenis belajar terangkum dalam aspek belajar yaitu aspek kognitif (belajar bagian, belajar secara global, belajar insidental, belajar intensional, belajar mental, belajar verbal), afektif (belajar dengan wawasan, belajar instrumental, belajar laten, belajar produktif) dan psikomotorik (belajar deskriminatif).

10 Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta, 1991) cet 2, 3-4.

11 Mustaqim, Psikologi, 41-46.

12 Abdul Hadis, Psikologi dalam Pendidikan (Bandung: alfabeta, 2006), 62.

(6)

70

Sedangakan tujuan yang dicapai setelah proses belajar antara lain: Untuk mendapatkan pengetahuan, hal ini ditandai dengan kemampuan berpikir.

Penanaman Konsep dan Ketrampilan, Pembentukan Sikap.13

Jadi pada intinya tujuan belajar itu adalah ingin mendapatkan pengetahuan, ketrampilan dan penanaman sikap mental atau nilai-nilai, pencapaian tujuan belajar berarti akan menghasilkan hasil belajar yang maksimal.

b. Pendidikan Islam

Pada hakikatnya kehidupan mengandung unsur pendidikan karena adanya interaksi dengan lingkungan, namun yang penting bagaimana peserta didik menyesuaikan diri dan menempatkan diri dengan sebaik-baiknya dalam berinteraksi dengan semua itu dan dengan siapapun.

Pendidikan itu sendiri dapat diartikan sebagai latihan mental, moral dan fisik (Jasmani) yang menghasilkan manusia berbudaya tinggi untuk melaksanakan tugas kewajiban dan tanggung jawab oleh masyarakat selaku hamba Allah, maka pendidikan berarti menumbuhkan personalitas (kepribadian) serta menanamkan rasa tanggung jawab, untuk mewujudkan itu semua manusia harus di didik melalui proses pendidiakan Islam.14

Berikut ini pendapat para ahli dalam mengartikan pengertian pendidikan Islam, adalah sebagai berikut:

a. Menurut Drs. Ahmad D. Marimba, pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.15

b. Menurut Musthafa Al-Ghulayaini, pendidikan Islam adalah menanamkan akhlak yang mulia di dalam jiwa anak pada masa pertumbuhannya dan penyiramannya dengan air petunjuk dan nasihat, sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemampuan (meresap dalam) jiwanya kemudian buahnya terwujud keutamaan, kebaikan, dan untuk bekerja untuk memanfaatkan tanah air.

c. Menurut Syaikh Muhammad Al Naquib Al-Atas, pendidikan Islam Adalah usaha yang dilakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan

13 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1986), 25.

14 Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam II (Bandung: Pustaka Setia, 1997), 12.

15 Achmad D Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: PT. Al- Ma‟arif, 1980), 23

(7)

71

pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang cepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian.16

d. Menurut Moh Fadil Al- Jamali, pendidikan Islam adalah proses mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan mengangkat derajat kemanusiaannya, sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarannya (pengaruh dari luar)17

Dari beberapa uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan Islam ialah bimbingan yang dilakukan seorang dewasa kepada terdidik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian muslim.18 Atau dapat diartikan juga suatu sistem pendidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah.19

Dengan demikian pendidikan Islam sebagai proses bimbingan dari pendidik terhadap perkembangan jasmani, rohani, dan akal peserta didik kearah terbentuknya pribadi muslim.

Dasar pendidikan Islam secara garis besar dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:

1) Landasan pokok a) Al-Qur‟an

Ayat al-Qur‟an yang pertama kali turun adalah berkenaan disamping masalah keimanan juga pendidikan. Allah berfirman dalam al-Qur‟an surat al-„Alaq ayat 1-5, sebagaimana berikut ini:

رَ بِّ رَ بِ قْا بِ قْ رَ قْا يبِذَّل

رَ رَ رَ . قْ بِ رَا رَ قْلإا رَ رَ رَ

قٍ رَ رَ

رَ بُّ رَ رَ قْ رَ قْا . مُ رَ قْلأا

يبِذَّل .

رَ َّ رَ

بِ رَ رَ قْل بِ

قْ رَل رَ رَا رَ قْلإا رَ َّ رَ . قْ رَ قْ رَ

.

Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.20

16 Djamaludin dan Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1999) 9-10.

17 M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), 17.

18 Djalaluddin dan Abdullah Aly, Kapita Selekta

19 Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, 13.

20 Dedag RI, AQur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur‟an, 1984), 1079.

(8)

72

Al-qur‟an sebagai sumber pokok pendidikan Islam sebagaimana firman Allah dalam surah al-Syura ayat 52:

رَنقْيرَح قْ رَ رَ بِلرَذرَلأرَ

مُا رَي ا رَ رَ رَ رَ بِ قْل رَ يبِ قْ رَ رَ قْنمُلأ رَ رَلإبِ قْ رَ قْ بِ حًح مُ رَ قْيرَلبِ

قْ بِ رَلرَ

رَ َّلإبِ رَ رَلإبِا رَ بِ قْ بِ مُا رَ َّلإ قْ رَ بِ بِ يبِ قْ َّلإ حً مُلإ مُ رَنقْ رَ رَ

قٍ يبِ رَ قْ مُ قٍا رَ بِ رَلبِ يبِ قْ رَ رَل

Artinya: “Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al-qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-kitab (al-qur’an) dan tidak mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al-qur’an itu cahaya yang kami beri petunjuk dengan dia siapa yang kami kehendaki diantara hamba- hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalannya yang benar.”21

Dengan adanya penjelasan di atas dapat disimpulakan bahwa al- qur‟an itu merupakan perbendaharaan yang besar untuk kebudayaan manusia, terutama bagi kerohanian, ia pada umumnya merupakan kitab pendidikan kemasyarakatan, moril (akhlak), spiritual (kerohanian).

b) Al-Sunnah

Sunnah dapat dijadikan dasar pendidikan Islam karena sunnah menjadi sumber utama pendidikan Islam, karena Allah SWT menjadikan Muhammad sebagai teladan bagi umatnya. Firman Allah SWT dalam surat al- Ahzab ayat 21:

يبِف قْ مُ رَل رَا رَلأ قْ رَ رَل رَ َّاللَّ مُ قْ رَ رَا رَلأ قْ رَيبِل ٌةرَنرَ رَح ٌةرَ قْامُ بِ َّاللَّ بِل مُارَ

رَ قْ رَيقْل رَ

حً يبِثرَلأ رَ َّاللَّ رَ رَلأرَذرَ رَ بِ لآ

Artinya: Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S Al-Ahzab: 21).22

Sebagaimana Nabi mengajarkan dan mempraktekkan sikap dan amal baik kepada istri dan sahabatnya, dan seterusnya, mereka mempraktekkan pula seperti yang dipraktekkan Nabi dan mengajarkan pula kepada orang lain.

21 Dedag RI, AQur’an,791.

22 Depag RI, AQur’an, 670.

(9)

73

Perkataan atau perbuatan dan ketetapan Nabi inilah yang disebut hadits atau sunnah.23

2) Dasar tambahan

a) Perkataan, perbuatan dan sikap para sahabat b) Ijtihad

3) Dasar operasional pendidikan Islam

Menurut Hasan Langgulung dasar operasional ada 6 macam yaitu:

a) Dasar historis adalah dasar yang memberikan andil kepada pendidik dari hasil pengalaman masa lalu, berupa peraturan dan budaya masyarakat.

b) Dasar sosial, yaitu dasar yang memberikan kerangka budaya dimana pendidikannya itu berkembang.

c) Dasar ekonomi adalah dasar yang memberi perspektif terhadap potensi manusia berupa materi dan persiapan yang mengatur sumber-sumbernya.

d) Dasar politik adalah dasar yang memberi bingkai dan ideologi dasar yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah dibuat.

e) Dasar psikologis adalah dasar yang memberikan informasi tentang watak pelajar, guru, cara-cara terbaik dalam pratek, pencapaian dan penilaian dan pengukuran secara bimbingan.

f) Dasar fisiologis adalah dasar yang memberikan kemampuan memilih yang terbaik, memberi arah suatu sistem dan kepada semua dasar-dasar operasional lainnya.24

Sedangkan tujuan pendidikan Islam, yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakan pendidikan Islam.

Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat ahli pendidikan, antara lain :

Menurut Drs. Ahmad D. Marimba, fungsi tujuan itu ada empat macam, yaitu:

1) Mengakhiri usaha 2) Mengarahkan usaha

3) Tujuan merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain baik merupakan tujuan baru maupun tujuan-tujuan lanjutan dari tujuan pertama.

23 Ramayulis, Ilmu Pendidikan, 123.

24 Ramayulis, Ilmu Pendidikan, 124-131.

(10)

74 4) Memberi nilai (sifat) pada usaha-usaha itu.

Sehubungan dengan itu maka tujuan mempunyai arti yang sangat penting bagi keberhasilan sasaran yang diinginkan, arah atau pedoman yang harus ditempuh, tahapan sasaran serta sifat dan mutu kegiatan yang dilakukan, karena itu kegiatan yang tanpa disertai tujuan sasarannya akan kabur, akibatnya program dan kegiatannya sendiri akan menjadi acak-acakkan.25

Menuruti Abu Ahmadi, tujuan pendidikan Islam mempunyai tahapan- tahapan meliputi:

a) Tujuan tertinggi atau terakhir, Tujuan ini bersifat mutlak, tidak mengalami perubahan dan berlaku umum, karena sesuai dengan konsep ketuhanan yang mengandung kebenaran mutlak dan universal. Tujuan tertinggi tersebut dirumuskan dalam satu istilah yang disebut “insan kamil” (manusia paripurna).

b) Tujuan umum, dikatakan umum karena berlaku bagi siapa saja tanpa dibatasi ruang dan waktu dan menyangkut diri peserta didik secara total.

c) Tujuan khusus, Tujuan khusus adalah pengkhususan atau operasional tujuan tertinggi atau terakhir dan tujuan umum (pendidikan Islam). Pengkhususan tujuan tersebut dapat didasarkan pada:

(1) kultur dan cita-cita suatu bangsa

(2) minat, bakat dan kesanggupan subyek didik

(3) tuntutan situasi, kondisi pada kurun waktu tertentu. 26

d) Tujuan sementara, tujuan sementara disini yaitu tercapainya berbagai kemampuan seperti kecakapan jasmaniyah, pengetahuan, membaca, menulis dan sebagainya.

Ada empat aspek yang menjadi tujuan pendidikan Islam, yaitu:

1. Jasmaniyah, dalam aspek ini diarahkan untuk membentuk manusia yang sehat, dan kuat jasmaninya serta berketrampilan yang tinggi.

2. Rohaniyah, aspek ini diarahkan dengan kemampuan manusia menerima agama Islam yang inti ajarannya adalah keimanan dan ketaatan kepada Allah, dengan tunduk dan patuh kepada nilai-nilai moralitas yang diajarkanNya

25 Achmad D Marimba, Pengantar Filsafat, 45-46.

26 Abu Ahmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan (Yogyakarta: Aditya Media, 1992), 65.

(11)

75

dengan mengikuti keteladanan rasulullah saw, inilah tujuan rohaniah pendidikan Islam, yang diarahkan pada pembentukan akhlaq mulia.

3. Aqliyah, aspek ini bertumpu pada pengembangan intelegensia (kecerdasan) yang berada dalam otak sehingga mampu menahan dan menganalisis fenomena-fenomena ciptaan Allah di jagad raya ini.

4. Sosial, merupakan pembentukan kepribadian yang utuh dari roh, tubuh dan akal.27

Dengan adanya dasar dan tujuan pendidikan islam maka seorang pendidik akan lebih mudah dalam memberikan suatu pengajaran kepada peserta didik.

c. Teori Kognitif

Istilah “cognitive” berasal dari kata cognition yang padanannya knowing berarti mengetahui. Dalam arti luas, cognitinion (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi popular sebagai salah satu domain atau wilayah/ ranah psikologis manusia yang meliputi setiap prilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan dan keyakinan ranah kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa.28

Teori ini juga merupakan suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respons, tetapi belajar melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks29, ataupun lebih menekankan pada proses mengetahui yaitu menemukan cara-cara ilmiah dalam mempelajari proses mental yang terlibat dalam upaya mencari dan menemukan pengetahuan.30

27 Ramayulis, 144-145.

28 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997), 66.

29 Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bandung: Remaja Rosydakarya, 2003), 170.

30 R. Ibrahim dan Nana Syaodih, Perencanaan Pengajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), 22.

(12)

76

Dalam kaitanya dengan berfikir ini, bahwa pada manusia terbentuk struktur mental atau organisasi mental. Pengetahuan terbentuk melalui proses pengorganisasian pengetahuan baru dengan struktur yang telah ada setelah pengetahuan baru tersebut diinterpretasikan oleh struktur yang ada tersebut.

Hal lain yang juga sangat penting dalam teori kognitif adalah bahwa individu itu aktif, konstruktif, dan berencana, bukan pasif menerima stimulus dari lingkungan. Menurut ahli kognitif individu merupakan partisipan aktif dalam proses memperoleh dan menggunakan pengetahuan. Individu berfikir secara aktif dalam membentuk wawasannya tentang kenyataan memilih aspek-aspek penting dari pengalaman untuk disimpan dalam ingatan, atau digunakan dalam pemecahan masalah.31

Adapun yang menjadi tokoh dalam teori kognitif adalah sebagai berikut:

a. Piaget

Menurut Jean Piaget, salah seorang penganut aliran kognitif yang kuat bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yakni: (1) asimilasi (2) akomodasi (3) equilibrasi (penyeimbangan). Proses asimilasi adalah proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Equilibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.

b. Ausubel

Menurut Ausubel, siswa akan belajar dengan baik jika apa yang disebut

“pengatur kemajuan (belajar)” (advance organizers) didefinisikan dan dipresentasikan dengan baik dan cepat kepada siswa. Pengaturan kemajuan adalah konsep atau informasi umum yang memadai (mencakup) siswa isi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa.

Ausubel percaya bahwa “advance organizers” dapat memberikan tiga macam manfaat, yakni:

1) Dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi belajar yang akan dipelajari oleh siswa.

31 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), 26.

(13)

77

2) Dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang dipelajari siswa “saat ini” dengan apa yang “akan” dipelajari siswa.

3) Mampu membentuk siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah.

Oleh karena itu pengetahuan terhadap isi mata pelajaran harus sangat baik maka seorang guru akan mampu menemukan informasi pelajaran yang menurut Ausubel “sangat abstrak, umum, dan insklusif”, yang memadai apa yang akan diajarkan. Selain itu logika berpikir guru juga dituntut sebaik mungkin tanpa memiliki logika berpikir yang baik, maka guru akan kesulitan memilah-milah materi pelajaran.

c. Bruner

Bruner mengusulkan teorinya yang disebut free discovery learning, menurut teori ini proses belajar akan dapat berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, definisi, dan sebagainya) melalui contoh-contoh yang menggambarkan aturan yang menjadi sumbernya. Dengan kata lain, siswa dibimbing secara induktif untuk memahami suatu kebenaran umum untuk memahami konsep kejujuran.

Lawan pendekatan ini adalah “belajar ekspositori” (belajar dengan cara menjelaskan). Dalam hal ini siswa disodori sebuah informasi umum dan diminta untuk menjelaskan informasi ini melalui contoh-contoh khusus dan konkrit.

Proses belajar ini jelas berjalan dengan deduktif. Di samping itu Bruner mengemukakan perlu ada teori pembelajaran yang akan menjelaskan asas-asas untuk merancang pembelajaran yang efektif di kelas. Teori belajar ini bersifat deskriptif, sedangkan teori pembelajaran ini bersifat preskriptif.32

Di dalam belajar ranah kognitif dibagi menjadi enam:

a. pengetahuan: mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan.

b. pemahaman: mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari.

32 Hamzah B Uno, Orientas, 10.

(14)

78

c. penerapan: mencakup kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah/ metode bekerja pada suatu kasus/ problem yang konkret dan baru.

d. Analisis: mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan/ organisasinya dapat dipahami dengan baik.

e. sintesis: mencakup kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan/ pola baru f. Evaluasi: mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai

sesuatu/ beberapa hal, bersama dengan pertanggung jawaban pendapat itu, yang berdasarkan kriteria tertentu.33

Jadi teori kognitif lebih mementingkan proses belajar atau proses berfikir dari pada hasil belajar itu sendiri.

2. Tahapan Perkembangan Kognitif

Menurut Jeans Piaget mengidentifikasi empat faktor yang mempengaruhi transisi tahap perkembangan anak yaitu:

a. Kematangan

b. Pengalaman fisik atau lingkungan c. Transmisi social

d. Equilibrium atau self regulation34

Kemudian selanjutnya Piaget membagi lagi menjadi beberapa tingkatan yaitu:

1) Sensori motor (0-2 tahun)

Selama perkembangan dalam tahap ini yang berlangsung sejak anak lahir sampai usia 2 tahun, intelegensi yang dimiliki anak tersebut masih berbentuk primitif dalam arti masih didasarkan pada prilaku terbuka. Intelegensi sensori motor dipandang sebagai intelegensi praktis yang berfaedah bagi anak usia 0-2 tahun untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum ia mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. Anak pada periode ini belajar bagaimana mengikuti dunia kebendaan secara praktis dan belajar menimbulkan efek tertentu

33 W. S. Winkel, Psikologi Pengajaran (Yogyakarta: Media Abadi, 2004), 274.

34 Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan cet. III (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), 125.

(15)

79

tanpa memahami apa yang sedang ia perbuat kecuali hanya mencari cara melakukan perbuatan tersebut.35

2) Pra operasional (2-7 tahun)

Pada tahap perkembangan ini bermula pada saat anak telah memiliki penguasaan sempurna mengenai object permanence, artinya anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tatap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada, walupun benda tersebut sudah ia tinggalkan, atau sudah tak terlihat atau tak didengar lagi. Jadi pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dari pandangan pada periode sensori motor, yaitu tidak lagi bergantung pada pengamatan belaka, selain itu juga dalam periode ini anak juga memperoleh kemampuan berbahasa yang mulai mampu menggunakan kata-kata yang benar dan mampu pula mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif.

3) Konkret- operasional (7-11 tahun)

Dalam periode konkret-operasional yang berangsung hingga usia menjelang remaja, anak memperoleh tambahan kemampuan yang disebut system of operations (satuan langkah berfikir). Kemampuan langkah berfikir ini berfaedah bagi anak untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu kedalam system pemikirannya sendiri.

Satuan langkah berpikir anak kelak akan menjadi dasar terbentuknya intelegensi intuitif (kecerdsan ilhami), yang dalam hal ini berupa tahapan langkah operasional tertentu yang mendasari suatu pemikiran dan pengetahuan manusia, disamping merupakan proses pembentukan pemahaman.

4) Formal- Operasional (11-15 tahun)

Pada tahap ini anak sudah menginjak masa remaja yakni usia 11- 15 tahun, akan dapat mengatasi masalah keterbatasan pemikiran konkret operasional. Tahap perkembangan kognitif terakhir yang menghapus keterbatasan-keterbatasan tersebut sesungguhnya tidak hanya berlaku bagi remaja hingga usia 15 tahun, tetapi juga bagi remaja dan bahkan orang dewasa yang berusia lebih tua.

Dalam perkembangan kognitif tahap akhir ini, seorang remaja telah memilik kemampuan mengoordinasikan baik secara simultan (serentak) maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif, yaitu 1) kapasitas menggunakan

35 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, 70-74.

(16)

80

hipotesis; 2) kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Dengan kapasitas menggunakan hipotesis (anggapan dasar), seorang remaja akan mampu berfikir hipotesis yakni berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia respons. Selanjutnya, dengan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak, remaja tersebut akan mampu mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak.36

Secara umum, semakin tinggi tingkat kognitif seseorang semakin teratur (dan juga semakin abstrak) cara berfikirnya. Dalam kaitan ini seorang guru seyogyanya memahami tahap-tahap perkembangan anak didiknya ini, serta memberikan materi belajar dalam jumlah dan jenisnya sesuai dengan tahapan- tahapan tersebut. Guru yang mengajar, tetapi tidak menghiraukan tahapan – tahapan ini akan cenderung menyulitkan para siswanya.37

Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Pendidik hendaknya banyak memberi rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.

3. Gaya Kognitif dalam Pembelajaran

Gaya kognitif merupakan cara siswa yang khas dalam belajar, baik yang berkaitan dengan cara penerimaan dan pengolahan informasi, sikap terhadap informasi, maupun kebiasaan yang berhubungan dengan lingkungan belajar.

Gaya kognitif merupakan salah satu variabel yang menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam merancang pembelajaran. Pengetahuan tentang gaya kognitif dibutuhkan untuk merancang atau memodifikasi materi pembelajaran, tujuan pembelajaran, serta metode pembelajaran agar hasil belajar siswa dapat dicapai semaksimal mungkin.

Gaya kognitif dapat dikonsepsikan sebagai sikap, pilihan atau strategi yang secara stabil menentukan cara-cara seseorang yang khas dalam menerima, mengingat, berfikir dan memecahkan masalah. Pengaruhnya meliputi hampir

36 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, 70-74.

37 Hamzah, Orientasi Baru, 11.

(17)

81

seluruh kegiatan manusiawi yang bertalian dengan pengertian, termasuk fungsi sosial dan fungsi antar manusia. Salah satu gaya yang dipelajari secara luasa dalah apa yang disebut dengan “field independent” (FDP) dan “field dependent” (FD).

a. Seseorang dengan FDP cenderung menyatakan suatu gambaran lepasa dari latar belakang gambaran tersebut, serta mampu membedakan obyek-obyek dari konteks sekitarnya dengan lebih mudah.

b. Seseorang dengan FD menerima sesuatu lebih secara global dan mengalami kesulitan dalam memisahkan diri dari keadaan sekitarnya, mereka cenderung mengenal dirinya sebagai bagian dari suatu kelompok, dalam orientasi sosial mereka cenderung untuk lebih perseptif dan peka.38

Gaya kognitif siswa merupakan variabel penting yang mempengaruhi cara pendekatan terhadap situasi belajar. Gaya kognitif memainkan peranan penting di dalam cara siswa menentukan pilihan-pilihan akademik, kelanjutan perkembangan akademik , bagaimana siswa belajar serta bagaimana interaksi siswa dan berlangsung. Baik siswa maupun guru, menunjukkan cara-cara pendekatan yang berbeda dalam menerima atau memberikan pengajaran sesuai gaya kognitif yang dimiliki.

Marc. C. Mahlios pernah mengadakan penelitian untuk melihat peran gaya kognitif siswa di dalam belajar serta gaya kognitif guru di dalam memberikan pengajaran, menunjukkan:

1) Tingkah laku guru

a) Guru dengan FD (field dependent), menunjukkan pengajaran dan belajar yang lebih baik melalui diskusi-diskusi kelas. Dalam pendekatan diskusi, tidak hanya interaksi sosial yang ditekankan tetapi juga memberikan siswa lebih banyak peran di dalam mengatur situasi kelas.

b) Guru dengan FDP (field independent), di dalam memperkenalkan topik- topik serta mengikuti jawaban-jawaban siswa cenderung untuk memberikan pertanyaan yang terarah.

c) Guru dengan FDP dalam melakukan kontak dengan siswa lebih banyak menggunakan teknik-teknik pertanyaan langsung kepada siswa, lebih kritis terhadap jawaban-jawaban siswa dibandingkan mereka yang FD.

38 Slameto, Belajar dan Faktor-faktornya, 161.

(18)

82 2) Tingkah laku siswa:

a) Siswa dengan FDP cenderung bekerja secara independent.

b) Gaya kognitif siswa mempengaruhi belajar tergantung pula pada penguatan yang diberikan oleh guru. Siswa-siswa dengan FD, di dalam memberikan jawaban-jawabannya banyak tergantung pada pujian yang diberikan olah guru. Melalui interaksi dengan FD, guru memiliki banyak kesempatan untuk mempengaruhi (secara kuat) belajar dan tingkah laku siswa.

c) Umpan balik yang diberikan di dalam kelas oleh guru lebih banyak diterima oleh siswa FDP, kecuali dalam hubungan-hubungan yang bersifat pribadi, siswa dengan FD menerima lebih banyak umpan balik dibandingkan dengan siswa FDP.

Disini dimensi gaya kognitif dalam menerima informasi dibagi menjadi empat, yaitu:

(1) perceptual modality prefence, yaitu gaya kognitif yang berkaitan dengan kebiasaan dan kekuasaan seseorang dalam menggunakan alat indranya.

(2) field dependent-field independent, yaitu gaya kognitif yang mencerminkan cara analisis seseoran dalam berinteraksi dengan lingkungan.

(3) scanning, yang menggambarkan kecenderungan seseorang dalam menitik beratkan perhatiannya pada suatu informasi.

(4) strong and weaknees automatization, yang merupakan gambaran kapasitas seseorang untuk menampilkan tugas (teks) secara berulang-ulang.

Gaya kognitif dapat dipandang sebagai satu variabel dalam pembelajaran. Dalam hal ini kedudukannya merupakan variabel karakteristik siswa, dan keberadaannya bersifat internal. Artinya gaya kognitif merupakan kapabilitas seseorang yang berkembang seiring dengan perkembangan kecerdasannya. Bagi siswa, gaya kognitif tersebut sifatnya given dan dapat berpengaruh pada hasil belajar mereka. Dalam hal ini, siswa yang memiliki gaya kognitif tertentu memerlukan strategi pembelajaran tertentu pula untuk memperoleh hasil belajar yang baik.39

39 Hamzah B. uno, Orientasi Baru, 185.

(19)

83

Disini ada cara-cara untuk mempengaruhi gaya kognitif siswa Jadi seorang guru harus senantiasa melakukan strategi pembelajaran yang sesuai dengan gaya kognitif siswa agar memperoleh hasil belajar yang maksimal.

ANALISIS BELAJAR DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM DAN TEORI KOGNITIF

a. Analisis Belajar Dalam Perspektif Pendidikan Islam

Sebagaimana telah diulas pada bagian II bahwa belajar adalah merupakan perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang terjadi karena latihan dan pengalaman yang mana perubahan atau belajar tersebut mencakup tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya.40

Selain itu juga ada beberapa tujuan belajar diantaranya ingin mendapatkan pengetahuan, ketrampilan, dan penanaman sikap mental atau nilai-nilai pencapaian tujuan belajar berarti akan menghasilkan hasil belajar yang maksimal.41

Adapun pendidikan Islam adalah bimbingan yang dilakukan oleh orang yang telah dewasa agar menjadi pribadi muslim, pendidikan Islam ini mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah.42

Dari kedua pengertian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar ataupun juga pendidikan Islam ini mengarah pada aspek kehidupan manusia. Dalam pendidikan Islam disebutkan seluruh aspek kehidupan, hal ini jika dispesifikkan lagi maka aspek ini terdiri dari aspek jasmani dan rohani, yang mana di dalamnya terdapat aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, serta kesemua aspek tersebut diarahkan berdasarkan prinsip-prinsip Islam yaitu al qur‟an dan al hadits, sehingga akan terbentuk pribadi yang sempurna.

Dalam bukunya Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam disebutkan bahwa ada empat aspek yang menjadi tujuan pendidikan Islam, yaitu:

1. Jasmaniyah, dalam aspek ini diarahkan untuk membentuk manusia yang sehat, dan kuat jasmaninya serta memiliki ketrampilan yang tinggi.

40 Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 13.

41 Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam II (Bandung: Pustaka Setia, 1997), 22.

42 Ibid.,12.

(20)

84

2. Rohaniyah, aspek ini diarahkan pada pembentukan akhlaq yang mulia.

3. Aqliyah, mengarah pada proses intelegensia (kecerdasan) yang berada dalam otak sehingga mampu memahami dan menganalisis fenomena-fenomena ciptaan Alloh.

4. Sosial, diarahkan pada pembentukan kepribadian yang utuh dari roh, tubuh dan akal. Dimana identitas individu disini tercermin sebagai manusia yang hidup pada masyarakat yang plural ( plural ).

Jadi berdasarkan aspek-aspek tersebut maka aspek belajar yakni kognitif, afektif dan psikomotorik sudah termasuk di dalam aspek pendidikan Islam.

Dengan demikian belajar dalam perspektif pendidikan Islam adalah suatu kegiatan perubahan tingkah laku seseorang yang dilakukan oleh pendidik kepada anak didik untuk mencapai kedewasaan yang memiliki kepribadian muslim yang mencakup aspek kognitif (intelegensi/ pengetahuan), afektif (sikap), psikomotorik (ketrampilan) dan social berdasarkan prinsip-prinsip serta sumber ajaran Islam yaitu al-qur‟an dan hadits.

b. Analisis Belajar Dalam Perspektif Teori Kognitif

Teori kognitif merupakan suatu teori belajar yang lebih memntingkan tentang proses dari pada hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, tetapi melibatkan proses berfikir yang komplek.43 Ataupun lebih menekankan pada proses mengetahui yaitu menemukan cara-cara ilmiah dalam mempelajari proses mental yang terlibat dalam upaya mencari dan menemukan pengetahuan. 44Adapun aspek yang tergolong dalam ranah kognitif ini meliputi pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.45

Bila dicermati dari pengertian tersebut maka seseorang dapat dikatakan belajar bila aspek-aspek yang masuk di dalam ranah kognitif tersebut dapat terpenuhi. Dapat dipahami juga bahwa perkembangan kognitif dari setiap individu berbeda-berbeda baik dari segi pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, ataupun evaluasi, hal ini disebabkan karena berbagai faktor. Ada empat faktor yang mempengaruhi transisi tahap perkembangan anak yaitu:

43 Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, 170.

44 R. Ibrahim, Nana Syaodikh, Perencanaan Pengajaran, 22.

45 W. S. Winkel, Psikologi Pengajaran (Yogyakarta: Media Abadi, 2004), 274.

(21)

85 a. Kematangan

b. Pengalaman fisik atau lingkungan c. Transmisi social

d. Equilibrium atau self regulation46

Adapun juga faktor yang mempengaruhi dalam belajar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Sebagai misal tingkat usia, minat, intelegensi, cara belajar ataupun lingkungan sangat berpengaruh, hal ini menyebabkan antara anak didik yang satu dengan yang lain akan berbeda dalam pencapaian hasil belajarnya, begitu juga dalam perkembangan kognitifnya.

Anak didik yang usianya semakin tinggi, maka semakin tinggi pula tingkat kognitif seseorang semakin teratur (dan juga semakin abstrak) cara berfikirnya. Jadi seorang pendidik hendaknya memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungannya.

Hal ini berarti belajar akan lebih efektif atau lebih berhasil apabila guru atau pendidik dapat memahami tingkat dan tahap perkembangan anak didik, sehingga pengajaran dapat disesuaikan dengan gaya kognitif siswa karena setiap individu mempunyai gaya kognitif yang berbeda-beda.

Jadi belajar dalam perspektif kognitif adalah belajar yang menekankan pada aspek kognitif saja yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.

c. Kelebihan dan Kekurangan Belajar Dalam Perspektif Pendidikan Islam dan Teori Kognitif

1. Kelebihan Belajar Dalam Perspektif Pendidikan Islam Dan Teori Kognitif.

Berdasarkan uraian analisis tersebut di atas maka dapat diketahui bahwa kelebihan belajar dalam perspektif pendidikan Islam dan teori kognitif adalah:

a. Keduanya sama-sama mementingkan proses b. Sama-sama di dalamnya terdapat ranah kognitif

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dalam perspektif Islam juga berpengaruh dalam teori kognitif.

2. Kekurangan belajar dalam perspektif pendidikan Islam dan teori kognitif

46 Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan cet. III (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), 125.

(22)

86

Belajar dalam perspektif pendidikan Islam: didalam pendidikan islam pendidikannya lebih mengacu pada al qur‟an dan al hadist tidak secara universal.

Belajar dalam perspektif kognitif: teori kognitif hanya mementingkan proses dan tidak mementingkan hasil belajar siswa. Ranah yang dicapai hanya yang mencakup aspek kognitif (pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi) saja.

KESIMPULAN

1. Belajar dalam perspektif pendidikan Islam adalah suatu kegiatan perubahan tingkah laku seseorang yang dilakukan oleh pendidik kepada anak didik untuk mencapai kedewasaan yang mencakup aspek kognitif (intelegensi/

pengetahuan), afektif (sikap), psikomotorik (ketrampilan) dan sosial berdasarkan prinsip-prinsip serta sumber ajaran Islam yaitu al-qur‟an dan hadits.

2. Belajar dalam perspektif kognitif adalah belajar yang menekankan pada aspek kognitif saja yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.

3. Kelebihan dan kekurangan belajar dalam perspektif pendidikan Islam dan teori kognitif adalah:

Sisi Kelebihan:

a. Keduanya sama-sama mementingkan proses b. Sama-sama didalamnya terdapat ranah kognitif

c. Faktor yang mempengaruhi belajar dalam perspektif Islam juga berpengaruh dalam kognitif.

Sisi Kekurangan:

a. Belajar dalam perspektif pendidikan Islam: di dalam pendidikan islam pendidikannya lebih mengacu kepada al qur‟an dan al hadits tidak secara universal.

(23)

87

b. Belajar dalam perspektif kognitif: teori kognitif hanya mementingkan proses dan tidak mementingkan hasil belajar siswa. Ranah yang dicapai hanya yang mencakup aspek kognitif (pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi) saja.

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Armai. Pengantar Ilmu Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers, 2002.

Arifin, M. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1994.

Dalyono, M. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2001.

Darajat, Zakariah. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, cet 2, 1992.

Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2003.

Ibrahim, R dan Nana Syaodih. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta, 1996.

Sardiman. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1986.

Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya, Jakarta: PT. Rineka Cipta, cet. 2, 1991.

Sukmadinata, Nana Syaodih. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung:

Remaja Rosydakarya, 2003.

Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung:

Remaja Rosdakarya, 1997.

Uno ,Hamzah. B. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: PT.

Bumi Aksara, 2006.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam proses pembuatan konsep memeperhatikan beberapa aspek yaitu (1) Conserving Energy (Hemat Energi), (2) Water Conservation & Quality , (3) Sustainable Site

Agar gagasan yang diajukan dapat terealisasi secara maksimal, diperlukan dukungan dari pemerintah melalui BUMN-nya dengan membantu menyediakan bahan baku aluminium berkualitas

Hasil ini menjadi petunjuk bahwa untuk memperbaiki kualitas air buangan dapat dilakukan dengan memberi pasokan air berkualitas baik pada petakan sawah, seperti pasang besar pada

Dengan mengetahui sifat mekanis bahan, maka dapat diketahui bahan tersebut mampu menerima beban yang sesuai dengan fungsi dari masing-masing komponen pada konstruksi yang akan di

Fungsi komando sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf b merupakan fungsi komando Unsur Pelaksana BPBD pada saat tanggap darurat yang dilaksanakan melalui pengerahan

Aplikasi pendekatan konseling realitas dalam proses konseling lansia adalah kenyataan atau realitas bahwa kondisi lansia yang sudah memasuki usia enam puluh tahun ke atas,

SIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menerapkan pendekatan pembelajaran jigsaw , maka dapat disimpulkan bahwa: (a) model

Penelitian yang dilakukan dengan satu tahap yakni pembuatan tepung ubi jalar ungupengeringan kabinet, tepung ubi jalar ungu penjemuran, pure ubi