• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEREBUT HATI PAPUA MEREBUT HATI PAPUA. Pendekatan Humanis MEREBUT HATI PAPUA. Eko Rudi Sudarto Sukarman Dj Sumarno

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MEREBUT HATI PAPUA MEREBUT HATI PAPUA. Pendekatan Humanis MEREBUT HATI PAPUA. Eko Rudi Sudarto Sukarman Dj Sumarno"

Copied!
203
0
0

Teks penuh

(1)

MEREBUT HATI PAPUA

Pendekatan Humanis

Humaniora

MEREBUT HATI PAPUA

MEREBUT HATI PAPUA

Pendekatan Humanis Eko Rudi Sudarto

esulitan aparat kepolisian dalam menjalankan tugas dan fungsi menjaga keamanan dan

K ketertiban di Papua disebabkan oleh persepsi kebencian yang dimiliki pada institusi-institusi negara

seperti kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) oleh masyarakat Papua. Persepsi ini harus diubah dengan perangkat-perangkat strategi tindakan

tertentu yang kemudian dapat menjadi model pemolisian khusus di Papua.

Soft power berfungsi sebagai jalan untuk mengubah persepsi kebencian kepada polisi yang terjadi di Papua. Hal ini dapat diimplementasikan dengan cara-cara membangun komunikasi kepada masyarakat dan memperlihatkan poin konversi soft power menjadi hasil dengan cara menjaga tindakan dengan strategistrategi yang cenderung bergerak pada arah tindakan non fisik.

Konsep collaborative policing dapat dilaksanakan di Papua sebagai strategi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dengan cara- cara yang persuasi, pelibatan akademisi, masyarakat sipil, dan NGO di Papua dengan bantuan penguatan nilai-nilai sosial dalam masyarakat Papua. Hal ini senada dengan komitmen pemerintah untuk merevitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat Indonesia khususnya nilai persatuan dan nilai keadilan. Pendekatan ini dapat membantu untuk menyusun konsep lebih rinci dalam memerankan polisi sebagai penjaga keamanan dan ketertiban dengan fungsi sebagai 'teman masyarakat,' agen keadilan pembangunan di Papua, agen penjaga persatuan, dan penindak pelanggaran hukum melalui upayaupaya soft power, implementasi konsep community policing, konsep democratic policing, serta Binmas Pioneer.

MEREBUT HATI PAPUA

Pendekatan Humanis

MEREBUT HATI PAPUA

Pendekatan Humanis

MEREBUT HATI PAPUA

Pendekatan Humanis

Sukarman Dj Sumarno

Sukarman Dj Sumarno

(2)

MEREBUT HATI PAPUA

(3)
(4)
(5)

PENDEKATAN HUMANIS MEREBUT HATI PAPUA

EKO RUDI SUDARTO SUKARMAN Dj Sumarno

Copyright © 2022, Eko Rudi Sudarto, Sukarman Dj Sumarno Pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh PenerbitSerat Alam Media (SAM)

Jl G Arus No 8 RT 07/01, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta 12640 . Desain Sampul: Banaran

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit

xiv+216 hlm * 162 hlm.); 14 cm x 21 cm ISBN 978-623-94089-6-..

(6)

DAFTAR ISI

Catatan Pengantar Hermawan Sulistyo:

Mendekatkan Logika Peradaban di Papua xi BAB 1

PAPUA DALAM KEBIJAKAN 1

A. Astra Gatra 1

a. Konstelasi Geografi 3

b. Demografi 3

c. Pengelolaan SDA 4

d. Aspek Ideologi 6

e. Aspek Ekonomi 7

f. Aspek Sosial Budaya 8

g. Aspek Pertahanan Keamanan 9

B. Kebijakan Nasional untuk Papua 11

C. Kebijakan Pemerintah Daerah untuk Papua 16

D. Polri Dalam Dinamika Papua 20

(7)

BAB 2

PEMOLISIAN MASYARAKAT DI PAPUA 29

A. Latar Belakang 29

B. Status Ekonomi Khusus bagi Papua 34

C. Peran Kepolisian di Papua 38

D. Kekuatan Polri di Papua 40

E. Tantangan yang Dihadapi 43

1. Tantangan yang Akan Dihadapi Polda Papua 30

2. Masih Tingginya Kriminalitas 44

3. Meningkatnya Dampak Perkembangan

Teknologi Informasi 44

4. Tingginya Tingkat Ketimpangan Antarwilayah 44

5. Bonus Demografi 45

6. Eskalasi KKB di Papua 45

F. Strategi yang Bisa Dipilih Polda Papua 45

1. Strategi Kebudayaan 46

2. Soft Power 46

3. Complex Intelligence 47

4. Pendekatan Pembangunan Kesejahteraan

dan Kolaboratif 48

BAB 3

KARAKTERISTIK WILAYAH HUKUM PAPUA 51

A. Geografis 51

B. Sumber Daya Alam 52

C. Sumber Daya Manusia 53

D. Budaya 54

E. Ideologi dan Politik 55

(8)

F. Ekonomi dan Sosial 58

G. Keamanan 59

BAB 4

DINAMIKA POLRI DALAM OPS NEMANGKAWI . 63

A. Binmas Noken Dalam Kajian 63

1. Kebijakan Binmas Pioneer 64

2. Hal Ikhwal Konsep Binmas Pioneer 66

3. Model Binmas Pioneer 68

4. Filosofi Harus “Jatuh cinta” pada Papua 79 5. Hadirkan Keceriaan Senyuman Anak-Anak

Pegunungan Tengah 81

6. Binmas Noken: “Kearifan Lokal Dalam

Pemberdayaan Masyarakat Papua” 85 7. Konsep Besar Pemikiran Kapolri 87

8. Noken simbol kearifan lokal 91

9. Implementasi program Binmas Noken Polri .. 94 10. Binmas Noken dan Dinamika di Lapangan 97 11. Program Binmas Noken Maju terus ka? 100 12. Napak Tilas Boven Digoel; Membangkitkan

Kembali Jiwa Patriotisme 101

13. Bercanda dengan “Hiu Paus”

di Teluk Cenderawasih 109

14. Trans Nabire-Paniai: Jalur “Killing Zone”

yang mendebarkan 114

15. Sisi Unik Binmas Noken: Babi Berjaket

di Pagaleme 118

16. Kapolda Papua: Memahami Logika Berpikir

(9)

Orang Papua melalui MOP 122 17. Neo-colonialism di Jayawijaya, Wamena:

Sepenggal cuplikan perjalanan Bli Ambo

yang sangat sangat menarik 125

B. Catatan Khusus Kasatgas Binmas Noken 136 1. Noken Kehormatan bagi Panglima TNI

dan Kapolri 137

2. Oksibil: Pegunungan Tengah Papua yang

yang menyimpan pesona 137

3. Binmas Noken: Bercanda

dengan Anak-anak Papua di Nabire 139 4. Trauma Fealing Binmas Noken

bagi Anak-anak di Sentani 140

5. Kunjungan Ibu Tito Karnavian ke Anak-anak

korban Banjir Bandang Sentani 141 6. Berkunjung ke Rumah di AtasPohon

Suku Koeowai di Boven Digul, Tanah Merah 142 7. Kisah Anak-anak dari Banjir Bandang Sentani:

Ero Bahagia Sentani Pulih 144

8. Apresiasi Program Pi Ajar di Sekolah sebagai soft approach yang

Membanggakan Polri 147

9. Binmas Noken Membangun Taman Bacaan

hingga ke Pegunungan Terpencil 149 10. Interaksi dan Komunikasi Binmas Noken

dengan Anak-anak di Pegunungan Tengah 150 11. Membangun Asa Anak-anak di Pegunungan

Bintang 152

(10)

12. Diskusi Kebangsaan dengan Rektor Universitas

Cenderawasih (Uncen), 154

13 Binmas Noken 2018-2019L Pelayanan Insan Polri

Menjangkau 11 Kabupaten 155

14. Kecintaan Kapolri, Jenderal Tito Karnavian yang mendalam terhadap rakyat

dan tanah Papua 157

15. Kambing sebagai Simbol Pemberdayaan dan Keberagaman Ternak bagi Masyarakat

di Keerom 159

16. Nyanyian dan Canda Anak-Anak

dari Tepian Danau Sentani 160

17. FGD Binmas Noken dalam dinamika

Pem bangunan di Pegunungan Tengah 161 18. Papua Paradox: Program Respek, Serupa

Tetapi Tidak Sama dengan JPS? 163 19. Keberhasilam Peternakan Babi di Mimika 164 20. Binmas Noken dan Ancaman Kekerasan:

Duka Tragedi Kemanusiaan di Puncak Jaya 165 21. Binmas Noken Polri dalam Bidang Pertanian di

SP 4, Kabupaten Mimika 166

22. Hermawan Sulistyo, Profesor yang Benih-benih Nalar dan Nurani Kritis

bagi Generasi pembelajar Polri 167 23. Memahami Papua Melalui Ungkapan:

Sa bodok, tapi sa tahu... 168

24. Kejengkelan di Sela-Sela Binmas Noken:

Emosi Jiwa Karena Gadget 170

(11)

25. Membangun Generasi Berperadaban

bagi Papua Melalui Binmas Noken 171 26. Izakod Bekai izakod kai - Bandara Mopah,

Merauke 172

27. Menatap Masa Depan Papua dari Ketinggian

Rumah Pohon Suku Korowai 173

28. Menyapa Gurano Babintang, Sang Raksasa

Penguasa Teluk Cendrawasih, Nabire 175 29. Sosialisasi Program Binmas Noken

di Jajaran Polda Papua 177

30. Pengukir Tinta Emas Sejarah Vs Budak-budak

Politik 178

31. Memancing Refleksi Diri di Laut Arafuru:

Sabar dalam Kehidupan 180

32. Wam: Simbol Kekuasaan dan Kemakmuran 181

TENTANG PENULIS 185

(12)

CATATAN PENGANTAR HERMAWAN SULISTYO

MENDEKATKAN LOGIKA PERADABAN DI PAPUA

Strategi winning the heart and mind of the people (strategi memenangkan hati dan pikiran rakyat) pertama kali popular pada saat Perang Vietnam (1975-1978). Strategi ini digunakan oleh Vietcong (Vietnam Utara) untuk menghadapi pihak Selatan yang didukung oleh Amerika Serikat. Manakala pihak Selatan menggu- nakan persenjataan canggih, Vietcong memanfaatkan rakyat sebagai kekuatan pertahanan.

Agar mendapat dukungan rakyat, maka Vietcong mendekati rakyat dengan cara melancarkan program-program yang memikat hati masyarakat. Konflik dan perang—sebagai salah satu puncak konflik—selalu menyengsarakan rakyat. Jika salah satu pihak yang bertikai kemudian mendapat simpati rakyat, maka pihak lawan akan sulit memenangkan peperangan.

Kasus Vietcong menjadi salah satu inspirasi bagi Jenderal Besar (bintang lima) A.H. Nasution dalam menyusun buku Pokok- Pokok Perang Gerilya yang menjadi referensi standar bagi

(13)

guerrilla warfare militer di seluruh dunia. Tetapi, pada kemudian hari melibatkan rakyat dalam peperangan—apalagi menjadikan rakyat sebagai benteng—merupakan pelanggaran HAM berat.

Implikasi dari perkembangan konteks lingkungan yang demikian adalah keniscayaan transformasi strategi winning the heart and mind of the people menjadi “sekadar” strategi memenangkan simpati dan empati rakyat, tanpa pelibatan lebih jauh sebagai “benteng” atau bahkan petempur (combatant) di dalam suatu konflik intensitas tinggi.

Namun, dalam konflik berintensitas rendah, strategi ini masih sangat efektif. Lanskap konflik Papua—jika tanpa dilatari atau dibarengi—masih berintensitas rendah (low intensity conflict).

Kesenjangan tingkat kesejahteraan dan rentang satu millennium jarak usia peradaban membutuhkan kesadaran ekademik atas masyarakat Papua. Diyakini bahwa memperpendek rentang waktu dan logika peradaban akan dapat mendorong penyelesaian konflik yang lebih beradab. “Dialog tidak membunuh,” kata Muridan Satrio Widjojo.

Basis teoretik dan konseptual tersebut melatari program Binmas Noken Polri, yang rekaman prosesnya dapat ditelusuri di dalam buku ini. Tidak penting apakah basis dan latar tersebut memang disengaja atau disadari sejak awal program Binmas Noken. Yang pasti, pendekatan program Binmas Noken untuk memikat hati masyarakat Papua dapat dikatakan sangat berhasil.

Saya menyaksikan dari dekat banyak dimensi filosofis dan pragmatis-technicalities di lapangan. Tentu saja tidak semua program aksi di lapangan sukses sepenuhnya. Sebagai contoh, demplot pertanian di kawasan Musaima di Wamena, misalnya.

Semula, ajakan tim Binmas Noken melalui pemuka gereja setempat disambut dengan sangat antusias oleh masyarakat.

(14)

Namun, dalam perkembangannya, berbagai tanaman yang tumbuh subur diganggu oleh hama; dua diantaranya yang menonjol adalah rusa—yang dipindahkan dari Merauke ke Wamena—dan belalang. Mereka tidak dibekali dengan pengetahuan teknis pembasmian hama, atau dilengkapi dengan instrumen pembasmian. Akibatnya tumbuh frustrasi yang merembet dari satu anggota komunitas petani ke yang lainnya.

Namun yang lebih serius dari itu adalah dimensi-dimensi sosial yang bersifat non-teknikal. Jenis sayuran yang paling cepat dipanen berusia 2-3 bulan. Dan mereka tidak cukup sabar untuk menunggu selama itu. Komunitas mereka adalah bagian dari masyarakat peramu (food gatherer), sementara yang dihadirkan melalui program Binmas Noken ini dari tahap masyarakat pertanian (agricultural society).

Pada masyarakat food gathering, mereka mengambil makan- an secara langsung dari alam. Mereka tidak menanam tanaman dan tidak pula beternak. Alam telah menyediakan segalanya. Tidak ada kebutuhan untuk menunggu bahan makanan. Apalagi hingga berbulan-bulan. Selain itu, mereka berharap bahwa program Binmas Noken akan memberi tunjungan rutin hingga panen.

Kelemahan-kelemahan tersebut merupakan hal yang biasa.

Peradaban bukan hanya disusun dari serangkaian kesuksesan, tetapi juga setumpuk kegagalan.

Buku ini merekam dengan cantik sekali proses-proses lompatan peradaban dari pinggiran. []

(15)
(16)

BAB 1

PAPUA DALAM KEBIJAKAN

A. Astra Gatra

Pada era globalisasi saat ini bangsa Indonesia menghadapi berbagai bentuk ancaman di segala aspek kehidupannya. Di bidang ideologi pasca reformasi, Pancasila semakin ditabukan oleh sebagian anak bangsa karena dianggap produk Orde Baru dan dianggap merupa- kan ideologi tertutup. Sementara itu paham radikalisme semakin berkembang dan dijadikan alternative way of life oleh sebagian anak bangsa. Di bidang ekonomi tekanan dari lembaga maupun korporasi ekonomi global semakin masif membatasi kedaulatan negara-bangsa dalam mengelola kehidupan ekonominya.

Di bidang politik, bangsa Indonesia melaksanakan kehidupan berdemokrasi dengan nilai-nilai kebebasan berpendapat dan berbuat yang lebih mengedepankan nilai-nilai global dan kurang atau tidak menerapkan nilai-nilai luhur bangsa yang terkandung pada Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Di bidang sosial budaya, nilai-nilai kehidupan global yang sangat hedonistik, individualistik dan materialistik semakin menjadi gaya hidup bagi sebagian besar masyarakat. Demikian pula halnya dalam aspek pertahanan dan keamanan/militer bangsa Indonesia masih

(17)

berjuang keras untuk dapat meningkatkan kemampuan sistem pertahanan dan keamanannya yang bersifat semesta karena semakin pudarnya kesadaran masyarakat untuk menyeleng- garakan bela negara sesuai amanat konstitusi.

Berdasarkan kondisi dan situasi ini, maka implementasi konsepsi Wasantara, sebagai salah satu materi hukum/landasan visional, menuntut adanya kesadaran, kemauan dan kemampuan seluruh masyarakat, terutama para pemimpin penentu kebijakan dalam berbagai proses pengambilan keputusan (kebijaksanaan) yang didasari karakter yang baik dan kuat, serta kesediaan berkorban dan kesederajatan. Kesediaan mereduksi berbagai kepentingan sendiri (pribadi/golongan/daerah) untuk lebih mengedepankan kepentingan bersama (bangsa dan negara), dan

(18)

kesediaan untuk menjamin hubungan harmonis antar kelompok masyarakat, suku bangsa dan antar bangsa, yang saling mengun- tungkan, tanpa harus mengorbankan eksistensi kultur maupun kepentingan nasional.

Implementasi konsepsi Wasantara dalam pembangunan nasional adalah suatu kesediaan dan kesadaran para pemimpin tingkat nasional bersama dengan para tokoh masyarakat, untuk selalu mengedepankan keadilan, kepentingan bersama, dan kesetiaan kepada NKRI serta menjamin terselenggaranya kepentingan nasional (national interest) yang merupakan syarat dan prasyarat utama dalam pencapaian tujuan nasional, melalui penerapannya di segala aspek kehidupan:

a. Konstelasi Geografi

Dengan menyadari posisi keberadaan geografis/ruang hidup, bangsa dan negara Indonesia yang sangat strategis, bangsa Indonesia dengan perspektif Wasantara menerapkan kebijakan geopolitik terhadap penguasaan dan pemberda- yaan ruang hidupnya (dari Sabang sampai Merauke), yang dapat menjaga tegaknya kedaulatan, keutuhan wilayah dan keselamatan segenap bangsa serta meningkatkan ketahanan politik, ekonomi, sosial budaya, dan Hankam, berperan aktif dalam mewujudkan perdamaian dunia. Bangsa Indonesia tetap menjaga dan mengupayakan kepemimpinannya di kawasan regional (ASEAN) dan eksistensinya dalam kehidupan internasional dengan selalu berupaya menjadi penjuru dalam menciptakan kawasan Asean yang aman dan sejahtera.

b. Demografi

Bangsa Indonesia berdasarkan UU Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan

(19)

Keluarga, UU Nomor 29 Tahun 2009, dan undang-undang terkait lainnya, serta peraturan perundang-undangan di bawahnya, secara konsekuen dan konsisten melaksanakan pembangunan nasionalnya di bidang kependudukan.

Sebagai negara kepulauan dengan jumlah populasi terbanyak keempat di dunia serta penyebaran penduduk dan pertambahan jumlah penduduk yang kurang proporsional maka dalam melaksanakan pembangunan nasional dengan perspektif Wasantara yang mengedepankan keadilan dan kepentingan bersama. Bangsa Indonesia merevitalisasi kembali program keluarga berencana secara konsisten, komprehensif, integral dan terpadu, serta berkesinambungan melalui peningkatan peran pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Mempercepat pembangunan di daerah dengan pemberdayaan potensi keunggulan komparatif dan kompetitif daerah serta masyarakat, agar tidak terjadi urbanisasi yang masif karena masyarakat di daerah telah dapat secara mandiri meningkatkan kesejahteraannya.

Mendefinisikan kembali dan melaksanakan program transmigrasi lokal dan pusat yang sesuai dan terpadu dengan kondisi pemerintahan dan masyarakat saat ini serta kebutuhan pembangunan di daerah

c. Pengelolaan SDA

Terdapat kurang lebih 12 undang-undang yang terkait dengan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang kurang konsisten dalam substansinya, khususnya terkait dengan masa depan pengelolaan lingkungan. Diantaranya UU Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan Pokok Pertambangan, UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan,

(20)
(21)

UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, serta UU Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Hampir semua undang-undang mengacu pada Pasal 33 UUD, tetapi orientasinya saling berbeda. Berdasarkan undang-undang tersebut, model pengelolaan SDA cenderung bermuara pada swasta, maka kerusakan dan habisnya sumberdaya hanya soal waktu. Masing-masing sektor masih memiliki pandangan berbeda tentang istilah dan pemanfaatan SDA.

Dengan demikian, perlu adanya suatu upaya untuk mengharmonisasikan kembali undang-undang yang ada tersebut dengan perspektif Wasantara yang mengedepankan keadilan dan kepentingan bersama melalui operasionalisasi tata pemerintahan yang baik (good governance, clean goverment). Berorientasi pada kepentingan rakyat dengan tujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, serta berwawasan Iingkungan, melalui suatu undang-undang pengelolaan SDA yang dapat mengharmonisasikan dan men- jadi pijakan bagi pelaksanaan undang-undang yang telah ada.

d. Aspek Ideologi

Implementasi konsepsi Wasantara harus mewarnai dan menjiwai terselenggaranya pemerintahan dan pengelolaan negara yang sehat dan dinamis. Hal tersebut harus nampak dalam wujud pemerintahan yang kuat, aspiratif, terpercaya, dan dipatuhi, yang dibangun sebagai perwujudan dari kedau- latan rakyat. Kehidupan politik di seluruh Nusantara merupa- kan satu kesatuan politik yang selalu setia terhadap komitmen bersama dalam bingkai NKRI, dimana seluruh kepulauan Nusantara merupakan satu kesatuan implementasi konsepsi Wasantara harus mewarnai dan menjiwai terseleng-garanya pemerintahan dan pengelolaan negara yang sehat dan dinamis.

(22)

Hal tersebut harus nampak dalam wujud pemerintahan yang kuat, aspiratif, terpercaya, dan dipatuhi, yang dibangun sebagai perwujudan dari kedaulatan rakyat. Kehidupan politik di seluruh Nusantara merupakan satu kesatuan politik yang selalu setia terhadap komitmen bersama dalam bingkai NKRI, dimana seluruh kepulauan Nusantara merupakan satu kesa- tuan sistem hukum nasional yang mengabdi pada kepentingan nasional.

Terlaksananya tata laksana kepemerintahan otonomi daerah yang aspiratif dan demokratis, berkeadilan dan meng- utamakan kepentingan bersama serta semakin mantapnya hubungan dan kepercayaan timbal balik antara rakyat dan pemerintah, baik pada tingkat daerah maupun pusat (nasio- nal). Hal ini akan dapat dilaksanakan apabila di dalam semua produk rancangan perundang-undangan, Wasantara kembali dijadikan roh/jiwa bagi semua norma-norma di dalamnya.

e. Aspek Ekonomi

Implementasi konsepsi Wasantara mewarnai dan men- jiwai tatanan ekonomi nasional pusat dan daerah yang ber- tumpu pada sumber daya dan kekuatan serta kemampuan yang ada di daerah. Negara dalam hal ini pemerintah bersama masyarakat menyelenggarakan tata laksana kehidupan per- ekonomian di seluruh wilayah nusantara melalui satu kesa- tuan ekonomi yang diselenggarakan sebagai usaha bersama atas asas keadilan, kekeluargaan, kepentingan bersama dan ditujukan bagi sebesarbesar kemakmuran rakyat.

Menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi yang serasi dan seimbang di seluruh daerah, tanpa meninggalkan ciri khas yang dimiliki oleh daerah dalam pengembangan kehidupan ekonominya. Dengan demikian dapat menumbuhkan kebang-

(23)

gaan akan hasil/produk bangsanya sendiri, serta menjamin pemenuhan dan peningkatan kebutuhan hidup rakyat secara baik dan adil. Mencerminkan tanggung jawab pengelolaan sumberdaya alam dan memperhatikan kebutuhan masyarakat antar-daerah secara timbal balik disamping tanggung jawab terhadap kelestarian sumberdaya alam itu sendiri demi keberlangsungan kehidupan generasi yang akan datang. Secara keseluruhan, mengimplementasikan Konsepsi Nasional selalu menjadikan Wasantara/Tannas sebagai landasan pemikiran/konsepsional dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat, serta daya saing bangsa di era global).

f. Aspek Sosial Budaya

Implementasi Wasantara adalah masyarakat semakin menyadari, menjiwai dan mewarnai sikap batiniah dan Iahiriah yang mengakui, menerima, menghormati dan

(24)

menghargai segala bentuk perbedaan atau ke-Bhinneka-an yang memiliki ciri dan karakternya masing-masing sebagai kenyataan hidup di Iingkungan bangsa Indonesia dan merupakan karunia dari Sang Pencipta dengan mengedepan- kan toleransi kehidupan bangsa yang serasi dan harmonis.

Negara melalui pemerintahannya mewujudkan tingkat kemajuan yang sama, merata dan seimbang dari Sabang sampai Merauke baik dalam aspek pendidikan, kesehatan dan taraf kesejahteraan hidup masyarakat sehingga tercermin dalam kehidupan masyarakat yang rukun dan damai, penuh dengan toleransi, bersatu tanpa membedakan suku, agama atau kepercayaan yang dianut serta golongan ataupun status sosialnya. Di samping itu, terciptanya masyarakat/rakyat Indonesia yang bersemangat dan beretos kerja tinggi serta memiliki kemampuan dan daya saing yang tinggi. Masyarakat yang taat serta patuh terhadap hukum yang berlaku, menghor-

(25)

mati kaidah-kaidah Hak Asasi Manusia, serta menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai bahasa nasio- nal, yakni “bahasa menunjukkan bangsa.”

g. Aspek Pertahanan Keamanan

Implementasi konsepsi Wasantara harus mewarnai dan menjiwai kesadaran cinta tanah air dan bangsa, yang selanjutnya akan menumbuhkan jiwa dan semangat bela negara pada setiap individu warga negara Indonesia dalam semua aspek kehidupan nasional. Terkait dengan hal tersebut, bangsa Indonesia mengenal dan menganut paham perang dan damai, menegaskan bahwa bangsa Indonesia cinta damai, tetapi Iebih cinta kemerdekaan.

Paham tersebut memperlihatkan sikap bangsa Indonesia yang senantiasa akan nnengutamakan jalan damai dalam upaya menyelesaikan konflik. Perang, atau penggunaan kekuatan fisik bersenjata hanyalah jalan terakhir yang akan

(26)

ditempuh bila upaya lain tidak berhasil dan hanya demi mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan. Dengan demikian kesadaran, rasa cinta dan bangga serta tumbuhnya jiwa dan semangat bela negara dan kerelaan berkorban, akan menjadi modal utama dalam menghadapi dan mengatasi setiap bentuk tantangan, betapapun kecilnya dan dari manapun datangnya, yang membahayakan identitas, integritas kelangsungan hidup bangsa dan negara (national interest).

B. Kebijakan Nasional untuk Papua

Dalam RPJMN 2015-2019 tema besar pembangunan wila- yah Pulau Papua, yaitu: (1) Percepatan pengembangan industri berbasis komoditas lokal yang bernilai tambah di sektor/ sub- sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan kehutanan; (2) Percepatan pengembangan ekonomi kemaritiman melalui pengembangan industri perikanan dan pariwisata bahari; (3) Percepatan pengembangan pariwisata budaya dan alam melalui pengembangan potensi sosial budaya dan keanekaragaman hayati;

(4) Percepatan pengembangan hilirisasi industri pertambangan, minyak, gas bumi, emas, perak, dan tembaga; (5) Peningkatan kawasan konservasi dan daya dukung lingkungan untuk pemba- ngunan rendah karbon; (6) Penguatan kapasitas kelembagaan pemerintahan daerah dan masyarakat; dan (7) Pengembangan kawasan ekonomi inklusif dan berkelanjutan berbasis wilayah kampung masyarakat adat, melalui percepatan peningkatan kualitas SDM wilayah Pulau Papua yang mandiri, produktif dan berkepribadian.

Selanjutnya, tujuan pengembangan wilayah Pulau Papua adalah dalam rangka mendorong percepatan dan perluasan pembangunan di wilayah Pulau Papua untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya dengan menekankan kepada

(27)

keunggulan dan potensi daerah yang berbasis kesatuan adat melalui: (1) pemenuhan kebutuhan dasar dan ketahanan hidup yang berkelanjutan, serta pemerataan pelayanan pendidikan, kesehatan, dan perumahan rakyat yang terjangkau, berkualitas, dan layak; (2) pengembangan kemandirian ekonomi berkelanjutan berbasis wilayah adat melalui: (a) pengembangan industri kecil dan menengah di bidang pertanian berbasis komoditas lokal, yaitu:

kakao, kopi, buah merah, karet, sagu, kelapa dalam, kacang tanah, ubi, sayur, dan buah-buahan; serta komoditas non lokal yaitu: padi, jagung, kedelai, dan tebu; (b) pengembangan perkebunan dan pertanian tanaman nonpangan, seperti: tebu, karet, dan kelapa sawit; (c) pengembangan peternakan, yaitu: sapi dan babi; (d) pengembangan kemaritiman yaitu industri perikanan dan pariwisata bahari; (e) pengembangan potensi budaya dan ling- kungan hidup, yaitu pariwisata budaya, cagar alam, dan taman nasional; dan (f) pengembangan hilirisasi komoditas minyak, gas bumi, dan tembaga; (3) penyediaan infrastruktur yang berorientasi pelayanan dasar masyarakat maupun peningkatan infrastruktur yang berorientasi pada pengembangan investasi dan pengem- bangan komoditas; dan (4) peningkatan SDM, Iptek secara terus- menerus.

Kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) wilayah Pulau Papua terhadap perekonomian nasional pada tahun 2015 tercatat 1,83 persen, kemudian tahun 2016 dan 2017 meningkat menjadi 1,91 persen.

Kontribusi PDRB menurut lapangan usaha terbesar di wilayah Pulau Papua disokong oleh pertambangan dan penggalian dengan pangsa 28,46 persen pada tahun 2015, kemudian tahun 2016 meningkat menjadi 30,59 persen, dan tahun 2017 meningkat kembali menjadi 31,14 persen. Selanjutnya sektor lain yang juga menjadi penopang perekonomian wilayah Pulau Papua adalah

(28)

sektor konstruksi, kemudian diikuti oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Pertumbuhan ekonomi wilayah Pulau Papua pada tahun 2015 tercatat 6,41 persen, kemudian tahun 2016 meningkat menjadi 7,81 persen, dan tahun 2017 mengalami perlambatan yang sangat signifikan menjadi 4,47 persen. Perlambatan pertumbuhan ekonomi ini lebih disebabkan oleh melemahnya perekonomian nasional dan internasional yang berdampak kepada melemahnya perekonomian regional secara keseluruhan.

Jumlah penduduk miskin di wilayah Pulau Papua pada tahun 2015 tercatat sebanyak 1.124 ribu jiwa dengan tingkat kemiskinan 27,82 persen, kemudian tahun 2016 jumlah penduduk miskin bertambah menjadi 1.138 ribu jiwa dengan tingkat kemiskinan turun menjadi 27,63 persen, dan tahun 2017 jumlah penduduk miskin berkurang menjadi 1.123 ribu jiwa dengan tingkat kemiskinan yang juga turun menjadi 26,74 persen.

(29)

Jumlah pengangguran di wilayah Pulau Papua pada tahun 2015 tercatat sebanyak 103 ribu jiwa dengan Tingkat Pengang- guran Terbuka (TPT) 4,77 persen, kemudian tahun 2016 jumlah pengangguran berkurang menjadi 90 ribu jiwa dengan TPT turun menjadi 4,18 persen, dan tahun 2017 jumlah pengangguran kembali bertambah menjadi 92 ribu jiwa dengan TPT yang sama dengan periode sebelumnya yaitu 4,18 persen.

Pada tahun 2019 kontribusi wilayah Pulau Papua terhadap perekonomian nasional diperkirakan mencapai 1,94 persen, dengan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 6,92 persen. Sementara itu untuk tingkat kemiskinan, diperkirakan 24,39 persen, dengan tingkat pengangguran terbuka 4,51 persen.

Arah pengembangan wilayah Pulau Papua pada tahun 2019 difokuskan pada pemenuhan pelayanan dasar dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah Pulau Papua yang inklusif dan berkelanjutan berbasis wilayah kampung masyarakat adat, melalui percepatan peningkatan kualitas SDM yang mandiri, produktif dan berkepribadian. Sementara itu pengembangan infrastruktur dalam

(30)

RKP 2019 diarahkan pada upaya penurunan kesenjangan intrawilayah di Pulau Papua dan dengan wilayah lainnya. Wilayah Pulau Papua berpotensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi Indonesia bagian timur melalui kelimpahan SDA di berbagai sektor baik pertanian, perikanan, perternakan, perkebunan, industri agro dan pangan, pariwisata bahari dan alam, maupun pertambangan.

Selanjutnya pengembangan KEK Sorong sebagai KEK pertama di Papua diharapkan mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di KTI dan diharapkan akan beroperasi tahun 2019. KEK Sorong yang akan dikembangkan di Papua berbasis kegiatan industri galangan kapal, agro industri, industri pertambangan dan logistik. Pengembangan sektor-sektor ini diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi Papua secara keseluruhan.

Pengembangan KEK Sorong ke depan akan menitikberatkan pada penguatan pembangunan infrastruktur wilayah dan pemenuhan kelengkapan kelembagaan yang akan mendukung beroperasinya KEK Sorong.

Dalam rangka mendorong peningkatan kualitas SDM dan pengembangan potensi daerah di wilayah Pulau Papua, beberapa kegiatan prioritas yang akan dilakukan pada tahun 2019, yaitu:

(1) Peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan, diantaranya melalui penyediaan flying healthcare, dan juga penyediaan pelayanan kesehatan jarak jauh berbasis TIK (telemedicine); (2) Peningkatan akses dan kualitas pelayanan pendidikan kontekstual Papua, diantaranya melalui pemenuhan kebutuhan guru di masing-masing sekolah; (3) Pengembangan komoditas unggulan dan pariwisata hulu-hilir, diantaranya melalui:

pembangunan unit pengolahan komoditas sagu dan buah merah, meningkatkan produksi komoditas perkebunan ubi jalar, kopi, kakao dan pala, serta mengembangkan daerah pariwisata; dan (4) Peningkatan infrastruktur dasar, TIK, dan konektivitas

(31)

antarprovinsi, kabupaten/kota, distrik, dan kampung, diantaranya melalui pembangunan jaringan telekomuniksi dan internet untuk mendukung telemedicine, internet goes to school, dan mendukung pendidikan jarak jauh (e-learning).

Pengembangan perkotaan di wilayah Pulau Papua dilakukan melalui optimalisasi Pusat Kegiatan Nasional (PKN) Sorong dan PKN Jayapura sebagai PKN penyangga urbanisasi di luar Jawa.

Pengembangan dua kota tersebut dilakukan dalam rangka percepatan perannya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, pusat pelayanan primer dan hub untuk Pulau Papua dan Kepulauan Malu- ku dalam bentuk PKN serta sebagai pendukung pengembangan Kawasan Perbatasan Negara. Pada tahun 2019, perencanaan kota baru dilaksanakan di kedua lokasi tersebut.

C. Kebijakan Pemerintah Daerah untuk Papua

Sesuai dengan amanat UUD 1945, Negara Republik Indonesia sebagai negara kesatuan, menganut asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dengan memberikan kesempatan keleluasaan pada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah. Pemerintah daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.

Undang-Undang tentang pemerintahan daerah yang pertama di era reformasi (UU Nomor 22 Tahun 1999) mengamanatkan bahwa prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi luas. Prinsip otonomi luas ini ditegaskan kembali dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 yang merupakan pengganti UU Nomor 22 Tahun 1999, bahwa prinsip otonomi daerah yang digunakan adalah otonomi seluas-luasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan di luar yang menjadi urusan pemerintah pusat. Pemberian otonomi daerah yang

(32)

luas atau seluas-luasnya kepada daerah adalah untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat daerah melalui pening- katan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta untuk meningkatkan daya saing dengan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan dan keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketentuan mengenai otonomi daerah yang luas atau seluas- luasnya yang diatur dalam peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah tersebut berlaku bagi semua daerah di Indonesia termasuk bagi daerah yang memiliki status istimewa dan diberikan otonomi khusus sepanjang tidak diatur secara khusus dalam undang-undang tersendiri. Seperti dinyatakan dalam pasal 225 dalam UU Nomor 32 Tahun 2004, bahwa daerah-daerah yang memiliki status istimewa dan diberikan otonomi khusus selain diatur dengan undang-undang ini diberlakukan pula ketentuan khusus yang diatur dalam undang-undang lain.

Sebagaimana diketahui bahwa Provinsi Papua merupakan daerah yang diberikan status otonomi khusus, yang pengaturannya ditetapkan dengan UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. Selanjutnya dengan adanya pemekaran Provinsi Papua menjadi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, maka dilakukan perubahan terhadap UU Nomor 21 Tahun 2001 yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas UU Nomor 21 Tahun 2001.

Menurut amanat UU Nomor 21 Tahun 2001 tersebut, Otonomi Khusus adalah kewenangan khusus yang diakui dan diberikan kepada Provinsi Papua untuk mengatur dan mengurus kepentingan rakyat/masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan hak-hak masyarakat Papua.

(33)

Kewenangan Provinsi Papua mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan kecuali bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, moneter dan fiskal, agama, dan peradilan, serta kewenangan tertentu di bidang lain yang ditetapkan dengan paraturan perundang-undangan. Selain kewenangan tersebut, Provinsi Papua diberi kewenangan khusus, antara lain adalah:

pengaturan kewenangan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Provinsi Papua serta penerapan kewenangan tersebut di Provinsi Papua yang dilakukan dengan kekhususan; serta pengakuan dan penghormatan hak-hak dasar orang asli Papua serta pemberdayaannya secara strategis dan mendasar. Selain itu, sebagai perwujudan dari status otonomi khusus ini, Provinsi Papua mendapatkan kucuran dana otonomi khusus yang besar dari pemerintah yang ditetapkan dalam APBN pada setiap tahun.

Sesuai dengan amanat UU Nomor 21 Tahun 2001, pada inti- nya ada dua tujuan utama yang ingin dicapai melalui penerapan Undang-Undang Otonomi Khusus Provinsi Papua tersebut. Per- tama, undang-undang tersebut diharapkan menjadi alat legislasi yang ampuh untuk menyelesaikan persoalan-persoalan mendasar di Papua yang mengancam secara serius integritas NKRI. Secara kategoris masalah-maslah tersebut dapat dikelompokan menjadi:

(1) pelanggaran HAM, termasuk di dalamnya pelanggaran terhadap hak-hak ekonomi, sosial dan budaya orang-orang asli Papua; (2) ketimpangan pembangunan antara Papua dan luar Papua; dan (3) kemiskinan yang akut dan meluas, khususnya di kalangan orang- orang asli Papua. Kedua, dengan menyelesaikan tiga masalah tersebut di atas secara benar, tuntas dan bermartabat, integritas NKRI di Papua dapat dipertahankan dan diperkukuh. Selain itu, undang-undang otonomi khusus Provinsi Papua juga memiliki semangat rekonsiliasi dan penyelesaian masalah yang ada di Provinsi Papua secara menye-luruh, serta pemberian pengakuan

(34)

dan penghormatan atas hak-hak dasar orang asli Papua serta pemberdayaan secara strategis dan mendasar.

Dengan status otonomi khusus yang ditetapkan dalam UU Nomor 21 tahun 2001, maka secara de facto dan de jure membuat pemerintah dan rakyat Papua memiliki kekuasaan dan kewenangan hampir mencapai kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki oleh suatu negara merdeka. Artinya, apabila peluang politik ini digunakan secara cerdas dan benar, maka status otonomi khusus Provinsi Papua (UU Nomor 21 tahun 2001) sesungguhnya merupakan alat yang ampuh untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat Papua sesuai dengan inisiatif dan kondisi setempat.

Beberapa hal berkenaan dengan otonomi khusus Provinsi Papua yang dikemukakan di atas dapat menunjukkan bahwa secara teoritis kebijakan pemberian status otonomi khusus bagi Provinsi di Papua akan efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua. Karena dengan otonomi khusus pemerintah dan masyarakat Papua mempunyai kewenangan lebih luas untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri, termasuk mengatur pemanfaatan kekayaan alam Papua bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Papua.

Hingga sekarang ini sudah lebih 10 tahun status otonomi khusus Provinsi di Papua berjalan. Akan tetapi kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat Papua terutama penduduk asli Papua yang tingkat kesejahteraan mereka masih rendah baik dilihat dari kesejahteraan ekonomi (tingkat pendapatan atau kemampuan daya beli) maupun kesejahteraan sosial (pendidikan, kesehatan dan gizi, dan lain-lain). Sebagian masyarakat asli Papua masih punya pendapatan yang rendah, tidak memiliki pendidikan yang memadai, dan derajat kesehatan dan gizi rendah. Kondisi seperti ini terdapat tidak hanya di wilayah

(35)

pedesaan atau daerah pedalaman Papua akan tetapi juga di daerah perkotaan seperti di Kota Jayapura.

D. Polri dalam Dinamika Papua

Masih banyak persoalan di Papua, terutama terkait dengan situasi sosial politik dan ekonomi di Papua. Lingkaran kekerasan di Papua terus terjadi sehingga menyulitkan proses pembangunan sosial. Selain itu lingkaran kekerasan yang terjadi juga dapat menimbulkan pengaruh ketidakstabilan daerah lainnya di Indonesia dengan mendorong kekerasan etnis, agama dan tindakan separatisme di wilayah Papua. Penerapan Undang-Undang Oto- nomi Khusus sejak 2001 di Papua akan merefleksikan kemenangan bagi semua pihak terutama masyarakat Papua dari perasaan terjajah dan keinginan untuk melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tujuannya adalah agar terwujudnya visi Otonomi Khusus sebagai sebuah upaya demokratisasi dan mengembangkan kese- jahteraan masyarakat Papua, bukan sebagai mekanisme untuk menghalangi konsep Papua merdeka. Namun setelah diterap- kannya Otonomi Khusus, pada tahun 2013 hingga 2017 persoalan- persoalan sosial, politik, maupun ekonomi tidak terselesaikan dengan baik. Salah satu indikasinya adalah dengan banyaknya gangguan sosial dan gangguan keamanan di wilayah Papua dan laporan-laporan internasional yang menyebutkan bentuk-bentuk keadaan negatif yang terjadi secara terus menerus di Papua.

Salah satu kasus yang menarik adalah banyak operasi pene- gakan hukum di Papua yang terjadi secara massif sejak tahun 2013 hingga 2017 lalu. Gangguan keamanan dan ketertiban yang terjadi dapat dicontohkan dengan bentuk penyerangan pada anggota TNI dan Polri, penyerangan pada masyarakat umum, aset negara seperti helikopter, dan penyanderaan warga desa yang terjadi pada

(36)

akhir 2017 lalu oleh kelompok-kelompok tertentu yang meng- atasnamakan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Masalah tersebut sudah lama dicerna dan dianjurkan solusinya melalui beragam studi dan tawaran-tawaran kebijakan seperti menyelesaikan persoalan kemiskinan, akses terhadap sumberdaya alam, pembangunan, dan sebagainya yang datang baik melalui Non-Governmental Organi- zation (NGO) lokal dan internasional, maupun inisiatif pemerintah sendiri.

Penyanderaan warga sipil oleh sekelompok yang mengatas- namakan diri kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) menun- jukkan indikasi bahwa ada persoalan yang massif yang tidak dapat dilihat secara kasat mata terkait dengan masalah yang ada di Papua.

Dengan demikian, untuk melihat persoalan tersebut perlu sebuah langkah yang mendalam terkait dengan kondisi dan tantangan yang terdapat di Papua, terutama untuk menyelesaikan misi menjadikan Papua sebagai wilayah yang damai, aman, berkembang, dan tertib sehingga dapat menunjang upaya penyejahteraan masyarakat di Papua.

Secara khusus solusi penyelesaian konflik dan masalah penegakan hukum di Papua harus dilaksanakan oleh Polri karena sesuai dengan amanat UU Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Polri adalah salah satu perangkat institusi yang memiliki kemampuan dan kekuatan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut sebagaimanan diamanahkan dalam UUD 1945. Kepolisian sebagai sebuah institusi harus dapat mengukur dan menata ulang tata laksana usaha penegakan hukum, pelaksanaan fungsi menjaga keamanan dan menjaga ketertiban. Dengan penerapan langkah yang mendalam diharapkan akan dapat disusun suatu perangkat modul yang dapat memberikan gambaran model pelaksanaan tugas dan fungsi kepolisian di Papua secara efektif dan efisien.

(37)

Persoalan di Papua dari sisi soal kewargaan yang sangat dekat dengan persoalan identitas sosial, identitas ekonomi, dan identitas politik. Papua merupakan suatu wilayah yang unik dengan tingkat keberagaman yang cukup tinggi dari aspek etnis, agama, hingga tingkatan ekonomi penduduknya. Papua adalah daerah yang memiliki tingkat persoalan yang tinggi sehingga membutuhkan seperangkat pengetahuan yang lengkap, strategi yang mumpuni, dan kekuatan yang kuat.

Kesulitan aparat kepolisian dalam menjalankan tugas dan fungsi menjaga keamanan dan ketertiban di Papua disebabkan oleh persepsi kebencian yang dimiliki pada institusi-institusi negara seperti kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) oleh masyarakat Papua. Persepsi ini harus diubah dengan perangkat- perangkat strategi tindakan tertentu yang kemudian dapat menjadi model pemolisian khusus di Papua.

Konsep collaborative policing dapat dilaksanakan di Papua sebagai strategi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dengan cara-cara yang persuasi, pelibatan akademisi, masyarakat sipil, dan NGO di Papua dengan bantuan penguatan nilai-nilai sosial dalam masyarakat Papua. Hal ini senada dengan komitmen peme- rintah untuk merevitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat Indonesia khususnya nilai persatuan dan nilai keadilan.

Pendekatan ini dapat membantu untuk menyusun konsep lebih rinci dalam memerankan polisi sebagai penjaga keamanan dan ketertiban dengan fungsi sebagai ‘teman masyarakat,’ agen keadilan pembangunan di Papua, agen penjaga persatuan, dan penindak pelanggaran hukum melalui upayaupaya soft power, implementasi konsep community policing, konsep democratic policing, serta Binmas Pioneer.

Soft power berfungsi sebagai jalan untuk mengubah persepsi kebencian kepada polisi yang terjadi di Papua. Hal ini dapat

(38)

diimplementasikan dengan cara-cara membangun komunikasi kepada masyarakat dan memperlihatkan poin konversi soft power menjadi hasil dengan cara menjaga tindakan dengan strategistrategi yang cenderung bergerak pada arah tindakan non fisik.

Community Policing dan Democratic Policing secara garis besar berfungsi untuk intensi institusi kepolisian pada masa ini adalah untuk mereformasi diri mengikuti semangat perubahan zaman yang makin mengarah pada penguatan prinsip dan nilai demokrasi, menjunjung tinggi HAM, serta mengarahkan diri menjadi institusi yang profesional. Hal ini dapat dinilai dengan melihat kemunculan-kemunculan konsep-konsep dalam ilmu kepolisian seperti konsep democratic policing dan konsep pemo- lisian masyarakat. Konsep-konsep tersebut muncul karena kebutuhan untuk menempatkan polisi sebagai sebuah institusi yang mampu menempatkan posisi dan fungsinya dalam masyara- kat yang demokratis.

(39)

Reformasi polisi menjadi polisi yang memiliki sifat sosial digambarkan dalam pandangan Brigjen. Pol. Dr. Chrysnanda Dwilaksana yang menyatakan bahwa community policing jika diimplementasikan oleh institusi kepolisian akan menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, institusi kepolisian harus dapat memberikan perasaan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat yang dapat diukur dalam indikator seperti; perasaan bebas dari gangguan fisik maupun psikis, adanya rasa kepastian dan rasa bebas dari kekhawatiran, keraguraguan dan ketakutan, perasaan dilindungi dari segala macam bahaya, dan perasaan keamanan lahiriah dan batiniah.

Keadaan tersebut harus dapat dijamin oleh keberadaan institusi kepolisian dengan mengevaluasi kembali fungsi dan peranan polisi serta gaya pemolisiannya. Fungsi dan peranan polisi harus diarahkan pada fungsi pemeliharaan keamanan dan keter- tiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Secara khusus fungsi dan peranan kepolisian dapat direformasi melalui tata aturan hukum seperti undang-undang melalui UU Nomor 2 Tahun 2002. Gaya pemolisian melatarbelakangi tindakan atau aktivitas kepolisian dalam mengatasi berbagai masalah sosial dalam masyarakat yang berkaitan dengan keamanan dan ketertiban.

Untuk mewujudkan reformasi polisi menjadi polisi masyara- kat, gaya pemolisian yang sesuai adalah dengan menjadikan Polres sebagai Komando Operasional Dasar (KOD). Dengan adanya KOD pada tingkat Polres, maka ada kewenangan atau otonomi yang diberikan untuk memberikan pelayanan prima kepada masyara- kat, serta dapat mengembangkan berbagai kreativitas dan inovasi baru dalam menyelesaikan berbagai masalah sosial ataupun bekerja sama dengan masyarakat dalam menciptakan keamanan dan ketertiban (Dwilaksana, tanpa tahun)

(40)

Konsep yang ditawarkan oleh Chrysnanda dalam usaha untuk menjadikan institusi polisi menjadi suatu institusi yang berbasis masyarakat berjalan secara paralel dengan semangat soft power.

Usaha yang diniatkan dalam soft power sebagai usaha untuk mencapai tujuan tanpa usaha-usaha yang berpotensi destruktif juga dimiliki dalam intensi democratic policing dan community policing. Usaha untuk mengubah paradigma dalam memandang peran kepolisian tersebut secara telah dilaksanakan dengan beragam usaha yang dilakukan secara vertikal maupun horisontal.

Reformasi secara vertikal artinya reformasi dilakukan melalui instruksi-instruksi yang menggunakan asas hirarki dalam kepo- lisian seperti pangkat dan jabatan.

Tito Karnavian sebagai Kapolri dalam pernyataannya menya- takan bahwa perubahan citra dan cara kerja menjadi citra dan cara kerja yang profesional. Hal ini harus dilakukan sebagai bentuk perlawanan atas citra kepolisian dalam masyarakat yang saat ini cenderung dapat dilihat sebagai institusi yang terkenal sebagai agen keamanan yang jahat, penuh dengan kekerasan, citra suap pada manajemen lalu lintas, korupsi dan suap yang melibatkan petinggi Polri. Citra ini harus dapat diubah dengan mempromosikan democratic policing sebagai instrumen utama reformasi Polri dengan membentuk relasi yang baik dan terbangun antara polisi dan masyarakat. Kapolri juga menyatakan bahwa komitmen Polri untuk sistem demokrasi bangsa harus diperkuat dengan mencari keseimbangan antara ketertiban publik dengan HAM.

Dengan penerapan konsep tersebut maka diharapkan dapat mengubah persepsi masyarakat terhadap kepolisian dengan menjadi polisi yang ideal bagi masyarakat Papua. Penerapan konsep ini juga selain memberikan kontribusi pada efektifitas dan efisiensi pelaksanaan tugas kepolisian juga menjadi jalan untuk

(41)

menjawab keraguan publik terhadap persepsi pelanggaran HAM yang terjadi di Papua oleh kepolisian di Papua.

Binmas Pioneer dapat diimplementasikan sebagai resolusi sekaligus intervensi bagi masalah yang dominan yaitu masalah sosial ekonomi, yang selalu menjadi pemicu konflik di Papua. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Eko Sudarto dengan menyata- kan bahwa:

“Pada tahun 1993, Polda Papua (Irian Jaya saat itu) dipimpin oleh Brigjen Pol. Muharsipin menggulirkan kebijakan Binmas Pioneer yang dipandang sangat menyentuh masyarakat karena memang tingkat kriminalitas di Papua yang rendah. Sehingga dinamika Polri harus memberikan kontribusi pemikiran dan karya nyata melalui pendekatan Binmas Pioneer. Maka, agensi dan struktur yang berfungsi sebagai fasilitator dan eksekutor dari konsep tersebut adalah Direktur Binmas Polda Papua, yang pada saat itu dijabat oleh Kolonel Polisi Frans Krey.” (Eko Sudarto)

Hal ini menunjukkan bahwa implementasi Binmas Pioneer di Papua telah cukup lama diaksanakan dan berkontribusi dalam mencegah dan mengurangi persoalan sosial di Papua. Secara lebih mendalam Binmas Pioneer sebagai merupakan tindakan Polri melalui “soft hand in society approach” bukan “hard hand in society approach” yaitu suatu pola tindakan kepolisian dengan melakukan fungsi bimbingan dan pendampingan dalam masyarakat Papua.

Secara khusus Binmas Pioneer diimplementasikan lebih lanjut oleh Polri dalam bentuk Model Binmas Noken. Model ini dapat dijadikan model dalam pembangunan masyarakat oleh kepolisian secara inklusif sekaligus sebagai upaya untuk mentransformasikan persepsi kebencian masyarakat Papua terhadap polisi menjadi persepsi yang baik dan menunjang terciptanya keamanan, ketertiban, serta pembangunan berkeadilan di Papua. Hal ini juga

(42)

didorong oleh penggunaan konsep Binmas Noken yang memiliki intensi membangun masyarakat Papua dalam beragam kegiatan sosial-ekonomi seperti pembinaan petani, pembinaan peternakan, pelayanan kesehatan yang bersandar pada dukungan atas kesejahteraan sosial masyakarat Papua. []

(43)
(44)

BAB 2

PEMOLISIAN MASYARAKAT DI PAPUA

A. Latar Belakang

Papua merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki dinamika gangguan keamanan yang signifikan. Secara kuantitas, besaran gangguan keamanan di wilayah Papua lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya jika diukur dengan rasio jumlah penduduk di wilayah lain di Indonesia. Secara Kualitas, persoalan keamanan di Papua juga mendapatkan tantangan spesifik berupa keberadaan Kelompok Kekerasan Bersenjata (KKB) yang mengancam stabilitas keamanan dan ketertiban di Papua. Dalam beberapa kasus, KKB mengancam keselamatan masyarakat dalam bentuk penyanderaan warga, perampokan, Ambush (penyergapan), dan sebagainya. Dalam sisi yang lain KKB juga mengancam stabilitas pembangunan yang telah dijalankan oleh Pemerintah Indonesia di Papua. Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh KKB di Nduga pada tahun 2019 lalu terhadap pekerja pembangunan infrastruktur di Nduga menyebabkan upaya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah seringkali terhambat.

(45)

Karakteristik masyarakat Papua juga menjadi tantangan bagi pemerintah Indonesia khususnya Polri dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban di Papua. Karakteristik masyarakat pegunungan Papua yang cenderung resisten terhadap perubahan menyebabkan akses kepolisian untuk bermitra dengan masyarakat semakin sulit. Karakter masyarakat Papua Pantai atau pesisir lebih cenderung mudah berbaur dengan kehidupan publik menyebabkan masyarakat Papua Pantai lebih mudah memiliki engagement dengan pemerintah dan kepolisian serta memiliki tingkat kepatuhan hukum yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat Papua di Pegunungan.

Pada sisi lain, tantangan penguatan keamanan dan ketertiban di Papua juga terhambat oleh beragam bentuk kesenjangan yang dapat dilihat secara nasional. Papua merupakan Provinsi paling Timur di Indonesia. Jarak antara Jakarta sebagai Ibukota Negara dengan Jayapura sebagai ibukota Provinsi Papua adalah 4.387 Km yang dapat ditempuh dengan transportasi Udara atau Laut. Pada sisi yang lain jarak antara Jakarta dengan Manokwari sebagai ibukota Provinsi Papua Barat adalah 3.568 Km yang juga dapat ditempuh dengan transportasi Udara ataupun Laut. Perbedaan waktu antara Jakarta dan Papua adalah 2 jam, dimana Jakarta masuk dalam wilayah waktu WIB (GMT +7) dan Papua masuk dalam wilayah waktu WIT (GMT +9). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat jarak yang signifikan antara ibukota negara dan pulau Papua secara geografis. Jarak ini secara signifikan mempengaruhi jarak pembangunan, jarak politik, dan jarak sosial antara masyarakat Indonesia secara umum dengan masyarakat Papua.

Jarak sosial, jarak pembangunan, dan jarak politik secara signifikan mempengaruhi jarak emosional antara masyarakat Papua dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dengan demikian terjadi ketimpangan yang kompleks antara masyarakat Indonesia

(46)

pada umumnya dan masyarakat Papua. Hal ini kemudian ditambah dengan adanya perbedaan yang signifikan terkait ras antara dominasi masyarakat Indonesia pada umumnya yang mongoloid dan ras masyarakat Papua yang Austroloid. Perbedaan-perbedaan ini secara signifikan memberikan rasa ‘berbeda’ antara masyarakat nusantara dan orang asli Papua.1 Seringkali orang Papua melihat konteks kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kacamata keterpaksaan terutama bagi orang-orang asli Papua yang berasal dari wilayah pegunungan.

Secara sosial, jarak (Gap) antara masyarakat Papua dan mayoritas masyarakat Indonesia terletak pada perbedaan kultur yang signifikan. Kultur masyarakat Papua yang bersifat Tribe (kesukuan-tribal) menjadi diferensiasi sosial paling mencolok bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Dengan demikian secara sosial, masyarakat Papua terutama di wilayah pegunungan selalu merasa terdapat diskriminasi sosial bagi mereka dari masyarakat Indonesia pada umumnya.2

Secara ekonomi, masyarakat di Papua dan Papua Barat memiliki tingkat kemiskinan tertinggi secara nasional. Hal ini seperti yang digambarkan pada bagan berikut ini:

1 Cahyo Pamungkas, “Sejarah Lisan Integrasi Papua ke Indonesia:

Pengalaman Orang Kaimana Pada masa Trikora dan Pepera,” Paramita, Vol. 25, No. 1– Januari 2015.

2 Yulia Sugandi, Analisis Konflik dan Rekomendasi Kebijakan Mengenai Papua, Jakarta: Friedrich Ebert Stiftung Foundation, 2008.

(47)

Kondisi ekonomi tersebut menyebabkan adanya gejolak sosial di tengah masyarakat Papua dan Papua Barat. Kemiskinan secara signifikan mendorong kemunculan sense of identity di

Bagan Presentase Kemiskinan Menurut Provinsi per Maret 2019

(48)

tengah masyarakat Papua dan Papua Barat. Identitas ini kemudian dipertajam dengan kesangsian sosial akan adanya realitas bahwa masyrakat pendatang yang berusaha di Papua jauh lebih maju dari mereka dan secara kontras menyebabkan adanya kesenjangan sosial dominan berbasis suku dan ras.3

Selain faktor sosial dan ekonomi, faktor politik secara signifi- kan telah menyebabkan adanya kekerasan, konflik, dan insurgensi di Papua. Intimidasi politik dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Papua terkooptasi oleh pemerintah daerah sejak diberlakukannya Otonomi Khusus. Ternyata pelaksanaan Otonomi Khusus di Papua tidak secara signifikan meningkatkan status ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat Papua. Tingginya angka korupsi yang dilakukan oleh pemerintah Daerah di Papua menjadi akar masalah di Papua. Hal ini secara dominan menjadi penyebab tidak efektifnya pembangunan di Papua serta kondisi ketertinggalan yang dialami oleh masyarakat di Provinsi Papua dan Papua Barat dibandingkan dengan Provinsi lainnya.

Ketidakpuasaan dan keputusasaan masyarakat Papua atas kondisi yang dihadapi menyebabkan reaksi resitensi. Persoal- annya adalah resistensi tersebut diarahkan pada isu pembebasan Papua dari pemerintahan Indonesia. Isu ini secara signifikan ketat dengan persoalan politik identitas dan pengangkatan isu-isu yang signifikan dalam dunia internasional seperti HAM, kekerasan, dan Konflik. Pemerintah Indonesia secara lugas melaksanakan berbagai trajektori kebijakan yang berbasis perspektif develop- mentalis dan humanis terutama pada masa-masa pemerintahan di Era Reformasi. Pelaksanaan kebijakan ini ternyata tidak secara

3 Saratri Wilonoyudho, “Kesenjangan dalam Pembangunan Kewilayahan,” Forum Geografi, Vol. 23, No. 2, Desember 2009: 167-180.

(49)

signifikan meniadakan resistensi masyarakat Papua terhadap keinginan untuk memisahkan diri dari Indonesia.4

Resistensi ini secara berulang selalu termanifestasi dalam 3 bentuk yaitu: 1) Kekerasan dan Konflik, 2) Diplomasi Luar Negeri, dan 3) ketidakpatuhan sipil (Civil Disobedience) di tengah masyarakat. Ketiga bentuk resitensi ini selalu mengorbankan 3 objek diantaranya adalah: 1) masyarakat sipil, 2) Upaya penegakan hukum, dan 3) pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Korban dan kerugian tersebut selalu menghentikan laju pertumbuhan dan pembangunan sosial, politik, dan ekonomi di Papua.

B. Status Otonomi Khusus bagi Papua

Sebagaimana diketahui bahwa Provinsi Papua merupakan daerah yang diberikan status “otonomi khusus”, yang pengaturan- nya ditetapkan dengan Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2021 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. Selanjutnya dengan adanya pemekaran Provinsi Papua menjadi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, maka dilakukan perubahan terhadap UU No.21 Tahun 2001 yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001.

Menurut amanat UU. No. 2 Tahun 2021 tersebut, Otonomi Khusus adalah kewenangan khusus yang diakui dan diberikan kepada Provinsi Papua untuk mengatur dan mengurus kepen- tingan rakyat / masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan hak-hak masyarakat Papua. Kewenangan Provinsi Papua mencakup kewenangan dalam seluruh bidang

4 Jason McLeod, “The Struggle for Self Determination in West Papua (1969-present), International Center on Nonviolent Con-flict, 2011.

(50)

pemerintahan kecuali bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, moneter dan fisikal, agama, dan peradilan, serta kewenangan tertentu di bidang lain yang ditetapkan dengan paraturan perundang- undangan. Selain kewenangan tersebut, Provinsi Papua diberi kewenangan khusus, antara lain adalah:

pengaturan kewenangan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Provinsi Papua serta penerapan kewenangan tersebut di Provinsi Papua yang dilakukan dengan kekhususan; serta pengakuan dan penghormatan hak- hak dasar orang asli Papua serta pemberdayaannya secara strategis dan mendasar. Selain itu, sebagai perwujudandari status otonomi khusus ini, Provinsi Papua mendapatkan kucuran dana otonomi khusus yang besar dari pemerintah yang ditetapkan dalam APBN pada setiap tahun.

Sesuai dengan amanat UU No.2 Tahun 2021 tersebut maka pada intinya ada dua tujuan utama yang ingin dicapai melalui penerapan Undang-Undang Otonomi Khusus di Provinsi Papua tersebut. Pertama, undang-undang tersebut diharapkan menjadi alat legislasi yang ampuh untuk menyelesaikan persoalan- persoalan mendasar di Papua yang mengacam secara serius integritas NKRI. Secara kategoris masalah-maslah tersebut dapat dikelompokan menjadi: (1) pelanggaran HAM, termasuk di dalannya pelanggaran terhadap hak-hak ekonomi, sosial dan budaya orang-orang asli Papua; (2) ketimpangan pembangunan antara Papua dan luar Papua; dan (3) kemiskinan yang akut dan meluas, khususnya di kalangan orang-orang asli Papua. Kedua, dengan menyelesaikan tiga masalah tersebut di atas secara benar, tuntas dan bermartabat, integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia di Papua dapat dipertahankan dan diperkukuh. Selain itu, Undang-undang otonomi khusus provinsi Papua juga memiliki semangat rekonsiliasi dan penyelesaian masalah yang ada di Provinsi Papua secara menyeluruh, serta pemberian pengakuan

(51)

dan penghormatan atas hak-hak dasar orang asli Papua serta pemberdayaan secara strategis dan mendasar.

Dengan status otonomi khusus yang ditetapkan dalam UU No. 2 tahun 2021, maka secara de facto dan de jure membuat pemerintah dan rakyat Papua memiliki kekuasaan dan kewe- nangan hampir mencapai kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki oleh suatu negara merdeka. Artinya, apabila peluang politik ini digunakan secara cerdas dan benar, maka status otonomi khusus di sesungguhnya merupakan alat yang ampuh untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat Papua sesuai dengan inisiatif dan kondisi setempat. Beberapa hal berkenaan dengan otonomi khusus Provinsi Papua yang dikemukakan di atas dapat menunjukkan bahwa secara teoritis kebijakan pemberian status otonomi khusus bagi Papua akan efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua oleh karena dengan otonomi khusus peme- rintah dan masyarakat Papua mempunyai kewenangan lebih luas untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri, termasuk mengatur pemanfaatan kekayaan alam Papua bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Papua.

Hingga sekarang ini sudah lebih dari 20 tahun status otonomi khusus di Papua berjalan. Akan tetapi kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat Papua terutama penduduk asli Papua yang tingkat kesejahteraan mereka masih rendah baik dilihat dari kesejahteraan ekonomi (tingkat pendapatan atau kemampuan daya beli) maupun kesejahteraan sosial (pendidik- an, kesehatan dan gizi, dan lain-lain). Sebagian masyarakat asli Papua masih punya pendapatan yang rendah, tidak memiliki pendidikan yang memadai, dan derajat kesehatan dan gizi rendah.

Kondisi seperti ini terdapat tidak hanya di wilayah pedesaan atau

(52)

daerah pedalaman Papua akan tetapi juga di daerah perkotaan seperti di Kota Timika dan Jayapura.

Sesuai dengan amanat UUD 1945, Negara Republik Indonesia sebagai Negara kesatuan menganut asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dengan memberikan kesempatan keleluasaan pada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah. Pemerintah daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.

Undang-Undang tentang pemerintahan daerah yang pertama di era reformasi (UU No.22 Tahun 1999) mengamanatkan bahwa prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi luas.

Prinsip otonomi luas ini ditegaskan kembali dalam UU No. 32 Tahun 2004 yang merupakan pengganti UU No. 22 Tahun 1999, bahwa prinsip otonomi daerah yang digunakan adalah otonomi seluas-luasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan diluar yang menjadi urusan pemerintah pusat. Pemberian otonomi daerah yang luas atau seluas-luasnya kepada daerah adalah untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat daerah melalui pening- katan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta untuk meningkatkan daya saing dengan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan dan keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sesuai dengan amanat UU No.2 Tahun 2021 tersebut maka pada intinya ada dua tujuan utama yang ingin dicapai melalui penerapan Undang-Undang Otonomi Khusus bagi Papua tersebut.

Pertama, undang-undang tersebut diharapkan menjadi alat legislasi yang ampuh untuk menyelesaikan persoalan- persoalan mendasar di Papua yang mengacam secara serius integritas NKRI. Secara

(53)

kategoris masalah-maslah tersebut dapat dikelompokan menjadi:

(1) pelanggaran HAM, termasuk di dalannya pelanggaran terhadap hak-hak ekonomi, sosial dan budaya orang-orang asli Papua; (2) ketimpangan pembangunan antara Papua dan luar Papua; dan (3) kemiskinan yang akut dan meluas, khususnya di kalangan orang- orang asli Papua. Kedua, dengan menyelesaikan tiga masalah tersebut di atas secara benar, tuntas dan bermartabat, integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia di Papua dapat dipertahankan dan diperkukuh. Selain itu, Undang-undang otonomi khusus provinsi Papua juga memiliki semangat rekonsiliasi dan penye- lesaian masalah yang ada di Papua secara menyeluruh, serta pemberian pengakuan dan penghormatan atas hak-hak dasar orang asli Papua serta pemberdayaan secara strategis dan men- dasar.

C. Peran Kepolisian di Papua

Kepolisian memiliki role (peran) yang signifikan di Papua.

Kritik dari penggunaan kekuatan yang militeristik yang dilakukan oleh aparat ABRI (kini TNI AD, AL, dan AU) di Papua dalam melakukan fungsi polisional di Papua pada masa Orde Baru adalah munculnya tingkat resistensi masyarakat yang dinamis dan terus berkembang menjadi kekuatan baru yang sering disebut dengan OPM (Organisasi Papua Merdeka) atau KKSB (Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata). Kekuatan ini secara signifikan menjadi gangguan utama dalam upaya pembangunan di era Reformasi dan demokrasi. Melihat kondisi penanganan masalah Papua pada masa Orde Baru tersebut, maka pemerintahan Indonesia pada era Reformasi melaksanakan opsi pemeranan Kepolisian dalam menjaga dan menjamin situasi dan kondisi keamanan yang kompleks di Papua.

(54)

Peran polisional yang diamanahkan kepada Kepolisian untuk menangani situasi keamanan di Papua dapat dikategorikan ‘sangat berat’. Kategori ‘sangat berat’ tersebut disusun berdasarkan pertimbangan sebagai berikut:

· Situasi keamanan di Papua harus dihadapkan pada kon- disi insurgensi yang dapat dilihat dari keberadaan KKB/

KKSB yang dapat mengancam keselamatan anggota Polri dan operasi kepolisian di Papua.

· Tingkat kemiskinan, pendidikan, dan kualitas Sumber Daya Manusia di Papua merupakan yang terendah di Indonesia (BPS, 2018) sehingga fungsi pembinaan akan sulit dilaksanakan kepada masyarakat Papua.

· Wilayah geografis Papua yang luas dan tidak aksesibel menyebabkan Kepolisian sulit melaksanakan peran Polisional. Kompleksitas kesulitan tersebut selama ini berpengaruh pada kinerja Kepolisian dalam menjaga sekaligus menjamin situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Papua. Polri melalui Satwil Polda Papua dan Papua Berat dibebankan pada persoalan insurgensi yang kompleks. Dengan demikian penting untuk melihat potensi kekhususan dalam penanganan persoalan Insur- gensi di Papua oleh Kepolisian. Kondisi Satwil Polda Papua dan Papua Barat secara signifikan berbeda dengan satwil lainnya karena tingkat relativitas keamanan di beberapa Provinsi di Indonesia selain Papua dan Papua Barat tidak menghadapi persoalan yang kompleks seperti di Papua.

Polri secara tidak langsung harus menjamin keamanan dan ketertiban di Papua melalui kemampuan menyelesaikan akar persoalan-persoalan di Papua dan menghentikan putaran masalah

(55)

yang diawali dari soal politik, kekerasan, dan konflik. Persoalan tersebut mempengaruhi kemunculan kemiskinan, ketimpangan sosial, serta perkembangan politik identitas yang kemudian menyebabkan kondisi insurgensi di Papua. Merespon hal tersebut, pemerintah Indonesia (pemerintah pusat) menerapkan tiga kebi- jakan utama dalam mencegah perkembangan situasi insurgensi.

Tiga kebijakan tersebut adalah Otonomi Khusus, Pembangunan Nasional (Infrastruktur), serta pemeranan TNI dan POLRI dalam proses pembangunan di Papua. Namun hal ini direspon oleh masyarakat Papua terutama periode-periode akhir 2018 hingga tahun 2019 dengan bentuk kemunculan resistensi masyarakat Papua dan gangguan keamanan dan ketertiban.5

D. Kekuatan Polri di Papua

Buku ini disusun untuk menetapkan Menciptakan pedoman pelaksanaan pengembangan pemolisian di wilayah Papua yang khas dengan karakteristik sosial dan budaya Papua. Kemudian Buku ini disusun untuk dapat dijadikan sebagai pedoman pelak- sanaan pengembangan pemolisian di wilayah Papua yang dapat mengoptimalkan segala jenis resources Polda Papua yang tersedia.

Dengan adanya buku ini, maka diharapkan buku ini ber- kontribusi untuk meningkatkan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat Papua. Kemudian buku ini juga diharapkan mampu meningkatkan efektifitas pelaksanaan pemolisian yang dilakukan oleh Polda Papua, serta meningkatkan efisiensi penggunaan sarana prasarana, anggaran, serta sumberdaya manusia yang terdapat dalam lingkungan Polda Papua.

5 Jason McLeod, West Papua and the Changing Nature of Self Determination, Comprehending Papua, Sydney: University of Sydney, 2011.

(56)

Polda Papua saat ini memiliki 11.467 personil yang tersebar di Mapolda Papua dan Satwil-satwil lain di bawah Mapolda Papua.

Polda Papua memiliki beberapa kesatuan yang terbagi sesuai dengan Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Papua. Beberapa kesatuan wilayah tersebut diantaranya adalah:

· Res Jayapura Kota

· Res Jayawijaya

· Res Biak Numfor

· Res Merauke

· Res Nabire

· Res Kep. Yapen

· Res Mimika

· Res Jayapura

· Res Keerom

· Res Sarmi

· Res P. Bintang

· Res Yahukimo

· Res Tolikara

· Res Supiori

· Res Boven Digoel

· Res Mappi

· Res Asmat

· Res Puncak Jaya

· Res Lanny Jaya

· Res Membrano Raya

· Res Paniai

· Res Waropen

· Res Membrano Tengah

(57)

Masing-masing kesatuan wilayah melaksanakan tugas dan fungsinya dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di Wilayahnya. Namun berbeda dengan situasi yang terjadi di Provinsi lain, tipologi masyarakat di Papua merupakan masya- rakat yang cenderung tinggal di wilayah perkampungan dan memi- liki populasi yang tersebar dengan jumlah sedikit. Dengan demikian kebutuhan sarana-prasarana yang dimiliki oleh Polda Papua menentukan efektifitas pelaksanaan fungsi polisional kepolisian Polda Papua. Desain geografis Papua yang sulit untuk dicapai serta minimnya infrastruktur yang tersedia menyebabkan kebutuhan sarana prasarana Polda Papua menentukan keberhasilan fungsi polisional Polda Papua.

Pendekatan khusus juga perlu dilakukan oleh Polda Papua dalam mengefektifkan peranan kepolisian dalam menjaga kea- manan dan keselamatan masyarakat dari segala bentuk ancaman.

Selain itu pendekatan khusus juga diperlukan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi di Papua seperti kemiskinan, tingkat literasi yang rendah, serta akses terhadap fasilitas sosial seperti kesehatan. Dengan demikian Polda Papua melakukan berbagai pendekatan khusus yang dirangkum dalam bentuk Binmas. Fungsi Binmas di Papua sejak tahun 2018 telah dilak- sanakan secara bersama dengan Satgas Memangkawi dengan nama Binmas Noken. Strategi Binmas Noken tersebut adalah winning the heart atau memangkan hati masyarakat Papua terhadap kepolisian sehingga diharapkan nantinya akan memberikan dampak pada meningkatnya tingkat kepercayaan dan kemitraan antara masyarakat Papua terhadap Kepolisian di Papua.

Namun sejak tahun 2019 khususnya pada saat parade demon- strasi Agustus 2019 (Manokwari – Jayapura) telah menyebabkan munculnya kesadaran bahwa konflik dan gangguan keamanan di

Referensi

Dokumen terkait