• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMOLISIAN MASYARAKAT DI PAPUA

A. Latar Belakang

Papua merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki dinamika gangguan keamanan yang signifikan. Secara kuantitas, besaran gangguan keamanan di wilayah Papua lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya jika diukur dengan rasio jumlah penduduk di wilayah lain di Indonesia. Secara Kualitas, persoalan keamanan di Papua juga mendapatkan tantangan spesifik berupa keberadaan Kelompok Kekerasan Bersenjata (KKB) yang mengancam stabilitas keamanan dan ketertiban di Papua. Dalam beberapa kasus, KKB mengancam keselamatan masyarakat dalam bentuk penyanderaan warga, perampokan, Ambush (penyergapan), dan sebagainya. Dalam sisi yang lain KKB juga mengancam stabilitas pembangunan yang telah dijalankan oleh Pemerintah Indonesia di Papua. Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh KKB di Nduga pada tahun 2019 lalu terhadap pekerja pembangunan infrastruktur di Nduga menyebabkan upaya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah seringkali terhambat.

Karakteristik masyarakat Papua juga menjadi tantangan bagi pemerintah Indonesia khususnya Polri dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban di Papua. Karakteristik masyarakat pegunungan Papua yang cenderung resisten terhadap perubahan menyebabkan akses kepolisian untuk bermitra dengan masyarakat semakin sulit. Karakter masyarakat Papua Pantai atau pesisir lebih cenderung mudah berbaur dengan kehidupan publik menyebabkan masyarakat Papua Pantai lebih mudah memiliki engagement dengan pemerintah dan kepolisian serta memiliki tingkat kepatuhan hukum yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat Papua di Pegunungan.

Pada sisi lain, tantangan penguatan keamanan dan ketertiban di Papua juga terhambat oleh beragam bentuk kesenjangan yang dapat dilihat secara nasional. Papua merupakan Provinsi paling Timur di Indonesia. Jarak antara Jakarta sebagai Ibukota Negara dengan Jayapura sebagai ibukota Provinsi Papua adalah 4.387 Km yang dapat ditempuh dengan transportasi Udara atau Laut. Pada sisi yang lain jarak antara Jakarta dengan Manokwari sebagai ibukota Provinsi Papua Barat adalah 3.568 Km yang juga dapat ditempuh dengan transportasi Udara ataupun Laut. Perbedaan waktu antara Jakarta dan Papua adalah 2 jam, dimana Jakarta masuk dalam wilayah waktu WIB (GMT +7) dan Papua masuk dalam wilayah waktu WIT (GMT +9). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat jarak yang signifikan antara ibukota negara dan pulau Papua secara geografis. Jarak ini secara signifikan mempengaruhi jarak pembangunan, jarak politik, dan jarak sosial antara masyarakat Indonesia secara umum dengan masyarakat Papua.

Jarak sosial, jarak pembangunan, dan jarak politik secara signifikan mempengaruhi jarak emosional antara masyarakat Papua dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dengan demikian terjadi ketimpangan yang kompleks antara masyarakat Indonesia

pada umumnya dan masyarakat Papua. Hal ini kemudian ditambah dengan adanya perbedaan yang signifikan terkait ras antara dominasi masyarakat Indonesia pada umumnya yang mongoloid dan ras masyarakat Papua yang Austroloid. Perbedaan-perbedaan ini secara signifikan memberikan rasa ‘berbeda’ antara masyarakat nusantara dan orang asli Papua.1 Seringkali orang Papua melihat konteks kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kacamata keterpaksaan terutama bagi orang-orang asli Papua yang berasal dari wilayah pegunungan.

Secara sosial, jarak (Gap) antara masyarakat Papua dan mayoritas masyarakat Indonesia terletak pada perbedaan kultur yang signifikan. Kultur masyarakat Papua yang bersifat Tribe (kesukuan-tribal) menjadi diferensiasi sosial paling mencolok bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Dengan demikian secara sosial, masyarakat Papua terutama di wilayah pegunungan selalu merasa terdapat diskriminasi sosial bagi mereka dari masyarakat Indonesia pada umumnya.2

Secara ekonomi, masyarakat di Papua dan Papua Barat memiliki tingkat kemiskinan tertinggi secara nasional. Hal ini seperti yang digambarkan pada bagan berikut ini:

1 Cahyo Pamungkas, “Sejarah Lisan Integrasi Papua ke Indonesia:

Pengalaman Orang Kaimana Pada masa Trikora dan Pepera,” Paramita, Vol. 25, No. 1– Januari 2015.

2 Yulia Sugandi, Analisis Konflik dan Rekomendasi Kebijakan Mengenai Papua, Jakarta: Friedrich Ebert Stiftung Foundation, 2008.

Kondisi ekonomi tersebut menyebabkan adanya gejolak sosial di tengah masyarakat Papua dan Papua Barat. Kemiskinan secara signifikan mendorong kemunculan sense of identity di

Bagan Presentase Kemiskinan Menurut Provinsi per Maret 2019

tengah masyarakat Papua dan Papua Barat. Identitas ini kemudian dipertajam dengan kesangsian sosial akan adanya realitas bahwa masyrakat pendatang yang berusaha di Papua jauh lebih maju dari mereka dan secara kontras menyebabkan adanya kesenjangan sosial dominan berbasis suku dan ras.3

Selain faktor sosial dan ekonomi, faktor politik secara signifi-kan telah menyebabsignifi-kan adanya kekerasan, konflik, dan insurgensi di Papua. Intimidasi politik dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Papua terkooptasi oleh pemerintah daerah sejak diberlakukannya Otonomi Khusus. Ternyata pelaksanaan Otonomi Khusus di Papua tidak secara signifikan meningkatkan status ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat Papua. Tingginya angka korupsi yang dilakukan oleh pemerintah Daerah di Papua menjadi akar masalah di Papua. Hal ini secara dominan menjadi penyebab tidak efektifnya pembangunan di Papua serta kondisi ketertinggalan yang dialami oleh masyarakat di Provinsi Papua dan Papua Barat dibandingkan dengan Provinsi lainnya.

Ketidakpuasaan dan keputusasaan masyarakat Papua atas kondisi yang dihadapi menyebabkan reaksi resitensi. Persoal-annya adalah resistensi tersebut diarahkan pada isu pembebasan Papua dari pemerintahan Indonesia. Isu ini secara signifikan ketat dengan persoalan politik identitas dan pengangkatan isu-isu yang signifikan dalam dunia internasional seperti HAM, kekerasan, dan Konflik. Pemerintah Indonesia secara lugas melaksanakan berbagai trajektori kebijakan yang berbasis perspektif develop-mentalis dan humanis terutama pada masa-masa pemerintahan di Era Reformasi. Pelaksanaan kebijakan ini ternyata tidak secara

3 Saratri Wilonoyudho, “Kesenjangan dalam Pembangunan Kewilayahan,” Forum Geografi, Vol. 23, No. 2, Desember 2009: 167-180.

signifikan meniadakan resistensi masyarakat Papua terhadap keinginan untuk memisahkan diri dari Indonesia.4

Resistensi ini secara berulang selalu termanifestasi dalam 3 bentuk yaitu: 1) Kekerasan dan Konflik, 2) Diplomasi Luar Negeri, dan 3) ketidakpatuhan sipil (Civil Disobedience) di tengah masyarakat. Ketiga bentuk resitensi ini selalu mengorbankan 3 objek diantaranya adalah: 1) masyarakat sipil, 2) Upaya penegakan hukum, dan 3) pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Korban dan kerugian tersebut selalu menghentikan laju pertumbuhan dan pembangunan sosial, politik, dan ekonomi di Papua.