• Tidak ada hasil yang ditemukan

DINAMIKA POLRI DALAM OPS NEMANGKAWI

A. Binmas Noken dalam Kajian

3. Model Binmas Pioneer

Berbicara perihal model (pattern) atau pola-pola, maka hal yang terlintas di benak kita adalah bentuk-bentuk atau jenis-jenis dari Binmas Pioneer yang selama ini telah dilak-sanakan oleh Polda Papua. Prosesnya tentu bukanlah dalam waktu singkat untuk membentuk seorang personil Binmas Pioneer tersebut. Kursus dan pelatihan Binmas Pioneer sebanyak 2 (dua) kali yang dipusatkan pelaksanaan latihan-nya di wilayah pemukiman transmigrasi, yaitu di Arso, Jaya-pura. Waktu pelatihan saat itu bervariasi, ada yang seminggu atau 7 (tujuh), 5 (lima) hari maupun 3 (tiga) hari, dengan mendatangkan pelatih maupun instruktur dari berbagai departemen maupun instansi pemerintah terkait, seperti pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, dan ahli-ahli pertukangan.

Capaian keberhasilan program Binmas Pioneer bukan semata-mata keberhasilan secara fisik, seperti panen atau hasil yang melimpah dari kegiatan tersebut, namun lebih kepada bagaimana tercipta proses interaksi Polri dan masyarakat serta unsur pemerintah bisa bersama-sama memaknai kebersamaan dalam pencapaian tujuan. Tidak dipungkiri, bahwa memang pada akhirnya hasil berupa buah pekerjaan berupa panen akan memiliki nilai tersendiri, seperti hasil Panen Raya di Polsek Sota Polres Merauke pada tanggal 20 Juli 2017 lalu. Panen raya tersebut dihadiri oleh Dinas Tanam-an PTanam-angTanam-an Kabupaten Merauke, DTanam-anramil Sota, Kapolsek Sota dan Tokoh Adat, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat. Panen raya berupa pohon Kumbili (tanaman sejenis umbi rambat) yang ditanam di kebun milik Bapak Alosius Sanggra, merupakan binaan Binmas Pioneer dari Polsek Sota. Anggota Binmas Pioneer mengajar dan memberitahu cara bertani

Kumbili yang ditanam di tanah seluas kurang lebih 1, 5 (satu setengah) hektar lebih.

Dalam berbagai kesempatan diskusi dan pembahasan tentang rencana implementasi program Binmas Pioneer dengan Kompol Gusti Era (Mantan Wakapolres Mimika) dan Ipda Made Ambo, secara umum model pelatihan pertukangan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut; 1) Binmas Pioneer sebagai Penatua Kamtibmas; 2) Binmas Pioneer sebagai Guru Pengajar (Polisi Pi Ajar); 3) Binmas Pioneer dalam bidang Pertukangan; 4) Binmas Pioneer dalam bidang Peternakan dan perikanan; 5) Binmas Pioneer dalam bidang pertanian dan perkebunan (bercocok tanam); dan 6) Binmas Pioneer dalam bidang kesehatan. Serta berbagai peluang lain untuk membentuk Binmas Pioneer lainnya terus dieksplorasi sesuai tuntutan, keinginan dan harapan masyarakat Papua.

a) Binmas Pioneer sebagai Penatua Kamtibmas Provinsi Papua terdiri dari 28 Kabupaten dan 1 kotama-dya. Berdasarkan data sensus penduduk pada tahun 2010, jumlah penduduk Provinsi Papua sebesar 2.833.381 jiwa, sebagian besar berada di Kota Jayapura. Bila dianalisa, sebagi-an besar penduduk Provinsi Papua memeluk agama Kristen, yang berikutnya adalah Agama Katolik, Islam, Hindu, Budha dan terakhir Agama Khong Hu Chu. Agama Kristen menjadi mayoritas di hampir semua kabupaten dan kota, sedangkan katolik hanya di beberapa daerah saja, Agama Islam dengan populasi terbesar ada di Kota Jayapura, Kabupaten Merauke, Mimika dan Nabire. Dengan komposisi tersebut, Polri meman-dang diperlukannya Binmas Pioneer dengan kemampuan sebagai Penatua Kamtibmas untuk lebih bisa mendengar harapan dan keluhan dari kaum masyarakat wilayahnya.

Adapun tujuan dengan dibentuknya Binmas Pioneer Penatua ini adalah untuk membimbing masyarakat dalam upaya meningkatkan keimanan dan ketaqwaan masyarakat dengan mendorong peningkatan pengetahuan agama melalui program penatua Kamtibmas. Dengan demikian tugas-tugasnya adalah sebagai berikut; a) Mampu bertindak sebagai pelayan umat dalam setiap ibadah kelompok masyarakat; b) Sebagai narasumber dalam setiap kegiatan pendidikan agama bagi anak, pemuda dan masyarakat umum; c) Memfasilitasi kegiatan pemakaman bagi masyarakat yang meninggal; d) Memfasilitasi dan turun dalam pembangunan sarana ibadah masyarakat; dan e) Memfasilitasi penyelesaian masalah antar masyarakat (masyarakat lebih percaya kepada Tokoh Agama dalam penyelesaian masalah).

Adapun profil dan kompetensi latihan Binmas Pioneer Penatua atau Gembala Kamtibmas adalah anggota Polri yang

mahir dan terampil dalam melaksanakan tugas sebagai Penatua atau Gembala Kamtibmas. Secara spesifik anggota Binmas Pioneer tersebut; a) Dituntut untuk memahami konsep Kamtibmas dan perspektif agama Kristen; b) Memahami karakteristik budaya setempat; c) Terampil menerapkan metode, taktik dan teknik ceramah; d) Paham teknik dan tata cara peribadatan; e) Paham dan mampu terapkan teknik konseling; f) Mampu mempraktekan pelayanan umat dalam peribadatan; dan g) Mampu membuat laporan hasil pelak-sanaan tugas.

Untuk anggota Binmas Pioneer pada sebagai Penatua atau Gembala Kamtibmas ini, sebagai bagian dari organisasi gereja (GKI) di Papua dan juga pada umumnya personil Polri yang telah berpengalaman sebagai pembina umat Kristiani.

b) Binmas Pionner sebagai Guru Pengajar (Polisi Pi Ajar)

Dalam berbagai diskusi tentang masalah pendidikan di Papua, maka kurangnya tenaga pendidik merupakan kendala utama disamping berbagai kendala lainnya, seperti kondisi geografis yang menyulitkan warga Papua untuk mendapat-kan akses pendidimendapat-kan, terbatasnya jumlah sekolah maupun berbagai masalah lainnya. Kehadiran tenaga pendidik atau guru merupakan elemen vital dari proses pendidikan. Depar-temen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai instansi yang berwenang terus membangun kolaborasi dengan instansi pemerintah dan swasta dalam mengatasi permasalahan tersebut. Polri sebagai bagian dari struktur pemerintahan memiliki peran untuk turut serta mencerdaskan dan meng-atasi permasalahan kekurangan tenaga pengajar tersebut dengan membentuk struktur Binmas Pioneer melalui aktivitas Guru Pengajar (Polisi Pi Ajar).

Tujuan dibentuknya struktur Polisi Pi Ajar ini adalah membantu, membimbing dan meningkatkan pengetahuan dan kapasitas masyarakat dengan menambah masyarakat yang mampu baca tulis, menunjang pendidikan dasar, menengah dengan secara langsung berperan sebagai guru baik di seko-lah-sekolah maupun sanggar kegiatan belajar masyarakat.

Kegiatan implementatif dari Polisi Pi Ajar ini di antaranya adalah; a) Secara terjadwal dan langsung menjadi guru di sekolah-sekolah, sanggar kegiatan belajar masyarakat dengan menggunakan metode yang dapat membangkitkan kese-nangan, keinginan masyarakat untuk belajar (melalui metode permainan (game), sosio drama, simulasi, media pembela-jaran film dan diskusi kelompok); b) Sebagai fasilitator dan pelatih dalam kegiatan ekstra kurikuler di sekolah maupun di masyarakat.

Profil dari Binmas Pioneer dengan kemampuan pengajar atau “Polisi Pi Ajar” adalah; a) Paham karakteristik dan latab belakang budaya setempat; b) Paham konsep perkembangan belajar peserta didik; c) Paham landasan pendidikan; d) Paham dan mampu menerapkan berbagai metodologi pembe-lajaran; e) Paham dan mampu terapkan strategi pendidikan;

f) Mampu membuat silabus dan persiapan belajar (desain pembelajaran); g) Mampu melakukan penilaian hasil belajar;

dan h) Mampu membuat laporan hasil pelaksanaan tugas sebagai sarana kontrol dan kemajuan pendidikan. Untuk pelatihan guru atau tenaga pendidik Binmas Pioneer ini akan difasilitasi dan dilatih oleh FKIP Uncen dan personil Polri yang memiliki sertifikasi pendidik dan akta mengajar.

c) Binmas Pioneer dalam bidang Pertukangan Sebagian besar masyarakat Papua masih tinggal di rumah-rumah kayu, hal ini dimungkinkan karena alam Papua kaya akan kayu hutannya. Jika mencermati bidang-bidang yang diagendakan dalam Otonomi Khusus Papua salah satu-nya adalah upaya peningkatan kapasitas SDM masyarakat Papua melalui program pelatihan pertukangan (meubel) bagi masyarakat Papua dan pelatihan anyaman. Dalam satuan kepolisian setingkat Polsek yang memiliki personil Binmas Pioneer dalam hal pertukangan harus dilengkapi dengan peralatan wajib berupa; a) 1 (satu) unit gergaji listrik; b) 1 (satu) unit mesin skap kayu; c) 1 (satu) set peralatan pertu-kangan kayu dan pertupertu-kangan batu; dan d) 1 (satu) unit genset.

Hal ini karena Binmas Pioneer dengan keahlian pertukangan ini dihadapkan pada tuntutan masyarakatnya untuk mem-bantu masyarakat dalam pembangunan (rumah, sarana ibadah, sekolah, dan lain-lain) dan juga menjadi fasilitator dalam meningkatkan keterampilan pertukangan dengan memberikan kursus singkat pertukangan.

Profil personil Binmas Pioneer yang dibentuk dalam pelatihan ini adalah; a) Paham karakteristik budaya setempat;

b) Paham dan mampu membuat, membaca desain atau rancang gambar bangunan maupun meubel; c) Mampu melakukan penghitungan bahan; d) Paham dan mampu melakukan pengukuran atau pemasangan bowpalank, pondasi menerus atau titik dan profile dinding; e) Paham dan terampil membuat konstruksi bangunan sederhana; f) Paham dan terampil membuat kosen atau daun pintu dan jendela;

dan g) Mampu membuat laporan hasil pelaksanaan tugasnya.

Untuk pelatihan pertukangan difasilitasi dari BLKI (Balai

Latihan Kerja Indonesia) dan personil yang telah memiliki pengalaman dalam bidang pertukangan.

d) Binmas Pioneer dalam bidang Peternakan dan Perikanan

Populasi ternak di Provinsi Papua secara umum masih sangat rendah dibandingkan dengan rasio luas wilayah (tata ruang wilayah). Populasi ternak yang dianggap dominan adalah komoditas ternak babi, sapi dan ayam buras, sedang-kan ternak lainnya tidak banyak dikembangsedang-kan di lokasi.

Bidang peternakan yang sangat mungkin untuk dikembang-kan di Papua yaitu membudidayadikembang-kan ternak, menjual ternak, bekerja pada peternakan, dan mengolah hasil ternak. Semen-tara pada bidang perikanan, yaitu penangkapan ikan, budi-daya ikan, dan budibudi-daya rumput laut yang tergelar di sepan-jang pantai dan laut di Papua.

Kekayaan alam Papua berupa geografi, flora dan fauna, sangat memungkinkan untuk dikelola melalui peternakan dan perikanan, serta mampu menghasilkan secara ekonomi.

Dengan kondisi peluang seperti ini Polri perlu membentuk Binmas Pioneer yang mampu memiliki kemampuan sebagai peternak. Di antara kemampuan tersebut, secara spesifik adalah memberikan pemahaman tentang peternakan dan perikanan; Turut menjadi konsultan dalam usaha peternakan maupun perikanan bagi masyarakat, baik dalam proses pembibitan maupun pemeliharaan dan perawatan kesehatan ternak maupun perikanan. Selain itu, memfasilitasi pendis-tribusian hewan ternak maupun perikanan (pendayagunaan ataupun pemasaran).

Sedangkan profil anggota Binmas Pioneer yang memiliki kemampuan dalam hal peternakan dan perikanan adalah

sebagai berikut; a) Paham karakteristik budaya setempat; b) Paham dan terampil menerapkan teknologi budidaya ternak ayam ras dan buras; c) Paham dan trampil menerapkan teknologi budidaya ternak babi atau rusa; d) Paham dan trampil menerapkan teknologi bidudaya lebah madu; e) Paham dan terampil menerapkan teknologi budidaya ikan air tawar; f) Paham dan terampil menerapkan teknologi budidaya udang air tawar; g) Memahami manajemen kesehatan ternak; h) Mampu menjadi petugas penyuluh atau pendamping dalam perencanaan kelompok; dan i) Mampu membuat laporan pelaksanaan tugas. Untuk pelatihan bagi personil Binmas Pioneer di bidang peternakan dan perikanan ini harus difasilitasi oleh Dinas Peternakan dan Perikanan serta tenaga profesional, khususnya di bidang budidaya ternak, ikan dan udang maupun pengelolaannya.

e) Binmas Pioneer dalam bidang pertanian dan per-kebunan (bercocok tanam)

Sektor lain yang sangat penting di Papua adalah sektor pertanian. Hal ini karena pertanian merupakan kebutuhan primer menyangkut kebutuhan pangan penduduk di wilayah ini. Secara umum, dari kondisi sumber daya lahan pertanian, sektor pertanian mampu dan cukup menyumbang dalam roda perekonomian penduduk, namun apakah sudah cukup dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduk Papua? Dari sektor pertanian cukup berkontribusi di Provinsi Papua, namun untuk subsektor pertanian penghasil kalori utama (jenis padi-padian, umbi-umbian, dan kecang-kacangan) belum cukup untuk meme-nuhi kebutuhan penduduk untuk sebagian besar kabupaten di Pulau Papua.

Secara sederhana, pada bidang pertanian, yaitu menanam tanaman pangan, menggarap lahan, menjual hasil panen dan

mengolah hasil panen, dan bidang perkebunan, yaitu meng-garap lahan perkebunan, memetik hasil panen, mengolah hasil panen, dan bekerja di perkebunan. Dengan demikian kemam-puan Binmas Pioneer pada bidang bercocok tanam ini adalah;

a) Memberikan pemahaman tentang perkebunan/bercocok tanam yang hemat dan efisien (hydrophonic dan sejenisnya);

b) Turut menjadi konsultan dalam usaha perkebunan masya-rakat baik dalam proses pembibitan maupun pemeliharaan dan perawatan kesehatan tanaman; c) Memfasilitasi pendistribusian hasil kebun (pendayagunaan ataupun pemasaran).

Dari penjelasan tersebut, maka profil personil Binmas Pioneer dengan kemampuan bercocok tanam, maka yang dituntut adalah: a) Paham karakteristik budaya setempat; b) Paham dan terampil menerapkan teknologi budidaya ubi jalar; c) Paham dan terampil menerapkan teknologi budidaya buah- buahan dataran tinggi; d) Paham dan terampil

menerapkan teknologi budidaya sayur-sayuran dataran tinggi; e) Mampu mempraktekan tugas penyuluh pertanian;

f) Mampu memahami manajemen kelompok (pendamping dalam perencanaan kelompok); dan g) Mampu membuat laporan pelaksanaan tugas. Untuk pelatihan program bercocok tanam atau pertanian ini harus difasilitasi oleh Dinas Pertanian dan beberapa tenaga profesional yang memiliki pengalaman dalam bidang pertanian.

f) Binmas Pioneer dalam bidang kesehatan

Kewajiban memberikan pelayanaan kesehatan bagi penduduk belum dilaksanakan secara memadai, masyarakat masih mengalami kesulitan mengakses pelayanan kesehatan.

Terdapat berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit-penyakit endemis dan atau penyakit-penyakit yang membahayakan kelangsungan hidup penduduk, namun masih belum optimal. Demikian halnya dengan program-program perbaikan dan peningkatan gizi penduduk, meski ada indikasi penurunan secara makro, namun angka penderita gizi buruk masih signifikan di Papua.

Walaupun Polri memiliki struktur kesehatan seperti dokter polisi maupun medis, namun kehadiran dari personil Binmas Pioneer di bidang kesehatan bukan hanya sangat diperlukan namun juga akan sangat bermanfaat bagi masya-rakat Papua. Pengetahuan dan pemahaman dari personil Binmas Pioneer dalam bidang kesehatan ini akan memberi-kan: a) Pemahaman tentang pentingnya kesehatan perorang-an dperorang-an lingkungperorang-an; b) Turut menjadi konsultperorang-an dalam usaha menjaga kesehatan perorangan maupun lingkungan; c) Memfasilitasi pendirian sarana kesehatan umum masyarakat;

dan d) Mempelopori kegiatan kebersihan lingkungan di masyarakat.

g) Konsep Binmas Pioneer Masdarwis (Masyarakat Sadar Wisata)

Konsep Masyarakat Sadar Wisata (MASDARIS) sebagai-mana sering dilontarkan Brigjen Pol. Dr. Chrysnanda Dwi Laksana dalam berbagai kesempatan diskusi, merupakan konsep penting yang perlu dipahami dan didesain, bukan hanya oleh Binmas Pioneer namun juga untuk semua kalangan, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas.

Konsep MASDARWIS secara sederhana merupakan upa-ya dinamisasi akan kesadaran mengelola wilaupa-yah upa-yang kaupa-ya potensi wisatanya. Bidang pariwisata di Indonesia menyim-pan sejuta haramenyim-pan dan hingga kini dirasakan belum dikelola secara optimal dan baik. Pengelolaan secara profesional, ter-integrasi, bersih dan ramah lingkungan masih jauh dari mimpi.

Demikian halnya pariwisata di tanah Papua. Selain alam-nya yang luar biasa, asri dan perawan, tanah Papua menyim-pan banyak eksotisme flora dan fauna. Kewajiban pemerintah perlu secara serius dan sungguh-sungguh untuk mengelola dan menjaganya. Misalnya masalah pengelolaan lokasi wisata di Raja Ampat yang begitu terkenal, seperti; menyewakan penginapan (hotel, motel atau rumah sewa), membuat dan menjual kerajinan, menyewakan perahu, perlengkapan selan-car, dan alat selam.

Belum lagi potensi sosial budaya berupa kemampuan yang dapat dikembangkan dari pola kehidupan yang terdapat pada suatu masyarakat di suatu daerah di seluruh Papua, seperti pakaian daerah, tari-tarian daerah, pertunjukkan adat, lagu daerah, alat musik Tifa, kerajinan seni patung Papua, cerita daerah maupun kuliner makanan Papua serta adat istiadat setempat.