32 BAB III METODE
3.1. Lokasi Studi
TPA Paras ini tepatnya berada di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Tempat Pemrosesan Akhir ini menerapkan metode controlled landfill, dan telah dilengkapi dengan perangkat penangkap gas metana. Layanan TPA ini mencakup seluruh sampah yang ada di empat wilayah kecamatan Kabupaten Malang yaitu Kecamatan Pakis, Jabung, Tumpang dan Poncokusumo.
Saat ini TPA Paras memiliki luas lahan sebesar 49.200 m2. Saat ini terdapat satu sel aktif berukuran 50 x 30 meter dengan kedalaman 15 meter. Rencananya TPA Paras akan menambah sel lagi dengan ukuran yang sama dengan sel aktif saat ini. Selain itu sel lama di sebelah timur sel aktif, masih digunakan untuk pembuangan sampah hingga menggunung. TPA Paras tidak memiliki pengolahan lindi, apabila debit lindi yang dihasilkan besar akan tertampung pada kolam berupa cekungan tanah yang terletak pada selatan sel.
Gambar 3. 1 Lokasi TPA Paras
Gambar 3. 2 Lokasi TPA Paras Tampak Satelit Sumber : Google Earth
Gambar 3. 3 Kondisi TPA Paras
Gambar 3. 4 Lokasi Penampungan Lindi TPA Paras
3.2. Tahapan Studi Perencanaan
Untuk mengetahui alur pada tahapan studi perencanaan, maka dibuat diagram alir agar mempermudah pada saat pelaksanaan. Berikut diagram alir yang tersaji dibawah ini
Gambar 3. 5 Diagram Alir Perencanaan
3.2.1. Studi Literatur
Studi literatur digunakan untuk mengetahui informasi mengenai instalasi pengolahan air lindi. Hal ini dapat mendasari pelaksanaan studi. Literatur yang dapat digunakan seperti jurnal, buku, penelitian terdahulu dan lain – lain yang berkaitan dengan instalasi pengolahan air limbah lindi.
3.2.2. Pengumpulan Data
Data yang akan digunakan dalam studi perencanaan lindi pada TPA Paras ini adalah meliputi data primer dan data sekunder. Untuk penjelasan data primer dan data sekunder dapat dilihat di bawah ini.
3.2.2.1. Data Primer
Data Primer adalah data yang didapatkan secara langsung yaitu diambil oleh peneliti yang bersangkutan. Pengumpulan data ini dilakukan dengan cara melakukan survei. Data primer yang digunakan pada studi ini yaitu data umum TPA Paras meliputi: letak geografis TPA, kondisi TPA, fasilitas penunjang TPA, dan lain – lain.
3.2.2.2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai pihak lain yang terkait dengan ruang lingkup perencanaan. Data sekunder meliputi :
1) Data Volume Sampah
Pengambilan data untuk volume sampah ini yaitu volume sampah yang masuk pada TPA Paras dalam sehari berdasarkan daerah pelayanan TPA tersebut. Penentuan volume sampah yang terjadi dapat dilakukan dengan proyeksi volume sampah untuk beberapa tahun kedepan.
2) Data penduduk daerah Pelayanan TPA Paras
Data penduduk diperlukan sebagai perencanaan kebutuhan lahan pembuangan sampah pada TPA berkaitan dengan sampah yang dihasilkan penduduk terlayani TPA. Data ini meliputi Kecamatan
Poncokusumo, Kecamatan Tumpang, Kecamatan Jabung, dan Kecamatan Pakis yang merupakan daerah pelayanan TPA Paras.
3) Layout TPA Paras
Data layout TPA ini digunakan sebagai penentuan letak zona atau sel pembuangan sampah yang direncanakan dan instalasi pengolahan air limbah lindi nantinya.
Gambar 3. 6 Layout TPA Paras
4) Data Hidrologi
Data hidrologi digunakan sebagai pendukung perencanaan instalasi pengolahan lindi. Data hidrologi yang digunakan meliputi:
kondisi hidrogeologi, curah hujan, dan suhu.
5) Harga Satuan Pokok Daerah Setempat
Harga satuan pokok digunakan dalam perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Digunakan harga satuan pokok Kabupaten Malang atau Kota Malang.
3.3. Analisis Perencanaan
Menganalisis data-data yang telah dikumpulkan, dari data yang telah terkumpul tersebut dilakukan analisis perhitungan kemudian dilanjutkan dengan analisis perencanaan.
3.3.1. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk
Perhitungan proyeksi pertumbuhan penduduk digunakan data jumlah penduduk beberapa tahun terakhir. Dalam tugas akhir ini digunakan data penduduk 10 tahun terakhir kemudian diproyeksikan untuk beberapa tahun ke depan. Menurut Direktorat Jenderal Cipta Karya, Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, (2016) proyeksi jumlah penduduk dapat dihitung dengan tiga metode, yaitu :
1. Metode Aritmatik 2. Metode Geometri 3. Metode Least Square
3.3.2. Proyeksi Volume Sampah
Menurut Direktorat Jendral Cipta Karya, Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (2016), idealnya daya tampung zona atau sel pembuangan pada suatu TPA dapat menampung hingga 5 tahun operasi dan operasional TPA secara keseluruhan dapat diperhitungkan hingga minimal 20 tahun. Dikarenakan keterbatasan lahan dalam perencanaan ini, proyeksi volume sampah yang nantinya berkaitan dengan proyeksi kebutuhan lahan diproyeksikan hanya 10 tahun kedepan mulai tahun 2022 hingga tahun 2032. Perhitungan proyeksi volume sampah digunakan untuk mengetahui berapa volume sampah yang dihasilkan 4 kecamatan yang dilayani untuk 10 tahun mendatang. Dalam proyeksi ini dapat digunakan 2 cara, yaitu dengan metode timbulan yang terjadi dimana diperlukan data penduduk daerah terlayani dan metode regresi linear dengan menggunakan data berupa histori sampah masuk TPA Paras beberapa tahun kebelakang.
3.3.3. Menentukan Kebutuhan Lahan TPA
Perhitungan kebutuhan lahan direncanakan untuk tahun 2022 hingga 2032 dikarenakan kapasitas lahan TPA yang terbatas dan belum terdapat perluasan terhadap lahan TPA tersebut.
3.3.4. Perhitungan Debit Lindi
Dalam menghitung debit lindi ini digunakan tiga metode. Metode pertama menggunakan metode neraca air dari Thorntwaite. Kedua digunakan metode infiltrasi dan limpasan. Ketiga digunakan metode lindi dan luasan terpengaruh.
Adapun data yang dibutuhkan untuk masing – masing metode perhitungan debit lindi. Untuk metode neraca air dibutuhkan data curah hujan bulanan dan suhu/temperature bulanan. Metode infiltrasi dan limpasan menggunakan data curah hujan tahunan. Untuk metode lindi dan luasan terpengaruh menggunakan data curah hujan tahunan dan suhu/temperature bulanan.
3.3.5. Perencanaan Sistem Jaringan Pipa Penangkap Lindi
Sistem jaringan pipa penangkap lindi merupakan pipa yang ditempatkan pada zona atau sel pembuangan sampah yang terletak pada dasar timbunan sampah tersebut. Dalam perencanaan ini pipa penyalur lindi akan ditempatkan pada masing – masing zona pembuangan sampah yang memungkinkan. Selain itu pemilihan pola penyaluran lindi dibutuhkan agar lindi dapat mengalir efektif.
3.3.6. Desain Kolam Lindi
Lindi yang terkumpul pada pipa penyalur primer dari masing – masing zona, akan terkumpul pada kolam pengolahan lindi. Lindi yang telah terkumpul pada kolam pengolahan selanjutnya diolah untuk mengurangi kandungan zat berbahaya yang ada pada lindi tersebut. Hal tersebut bertujuan agar lindi tidak mencemari lingkungan sekitar. Lindi yang telah melalui proses pengolahan pada kolam tersebut akan dibuang ke sungai terdekat. Selain itu pemilihan alternatif pengolahan lindi juga digunakan dalam perencanaan ini. Penggunaan alternatif ini ditujukan berdasarkan ketersediaan lahan di TPA. Perhitungan volume dari kolam
pengolahan lindi ini menggunakan pendekatan debit lindi total yang masuk dikalikan dengan waktu detensi masing – masing kolam.
3.4. Gambar Perencanaan
Hasil perencanaan dari zona pembuangan dan pengolahan lindi selanjutnya disajikan dalam bentuk gambar perencanaan. Beberapa gambar pada pengolahan lindi menggunakan gambar detail untuk mempermudah perencanaan. Gambar perencanaan tersebut meliputi :
1. Rencana landfill/sel pembuangan berdasarkan ketersediaan lahan TPA 2. Denah pipa penyalur lindi beserta detail
3. Desain kolam pengolahan lindi beserta detail
3.5. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya
Perhitungan volume pekerjaan kemudian dilanjutkan dengan perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) perencanaan instalasi pengelolaan air limbah lindi. Perhitungan RAB dalam penelitian ini hanya menghitung pipa penyalur lindi dan kolam pengolahan lindi.
3.6. Pembahasan Hasil Perencanaan dan Penarikan Kesimpulan
Tahap selanjutnya yaitu pembahasan hasil perencanaan. Dalam hal ini dipaparkan hasil perencanaan instalasi pengolahan air limbah lindi pada TPA Paras meliputi denah pipa penyalur lindi, kolam pengolahan lindi yang digunakan dan rencana anggaran biaya pengolahan lindi.
Setelah pembahasan hasil perencanaan selanjutnya yaitu penarikan kesimpulan. Penarikan kesimpulan disini berdasarkan hasil pembahasan berupa perencanaan instalasi pengolahan lindi tersebut. Hasil dari kesimpulan disini harus menjawab permasalahan yang telah dipaparkan pada rumusan masalah sebelumnya.