EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT “X” SUKOHARJO Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Rawat Inap Di Rsud Sukoharjo Tahun 2013.

11 

Teks penuh

(1)

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN

RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT “X” SUKOHARJO

TAHUN 2013

NASKAH PUBLIKASI

Oleh:

AHMAD ISLAHUDDIN K100080080

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

SURAKARTA

(2)
(3)

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT “X” SUKOHARJO TAHUN 2013

EVALUATION THE USE OF ANTIHYPERTENSIVE DRUG FOR ON WORD PATIENTS IN “X” HOSPITAL SUKOHARJO IN 2013

Ahmad Islahuddin*#, Arifah Sri Wahyuni*

*Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. A. Yani Tromol Pos I, Pabelan Kartasura Surakarta 57102

#E-mail: ahmad.islah0491@gmail.com

ABSTRAK

Penyakit dengan kondisi dimana tekanan darah meningkat di atas tekanan darah normal biasa disebut Hipertensi. Penggunaan obat perlu dievaluasi untuk menilai kerasionalitasan suatu terapi serta untuk mencapai keberhasilan pengobatan dan mengurangi efek samping yang tidak diinginkan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan obat antihipertensi di Rumah Sakit “X” Sukoharjo tahun 2013. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan metode deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dari rekam medik dan resep dokter pada pasien hipertensi rawat inap. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling yaitu sampel yang diambil memenuhi kriteria inklusi pasien hipertensi. Sampel berjumlah 100 sampel, jumlah tersebut merupakan ketersediaan dari pihak Rumah Sakit memberikan 100 sampel saja. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa jenis golongan obat antihipertensi yang paling sering digunakan ada 2 obat yaitu Captopril sebanyak 67 peresepan (20,14%) dan Furosemid sebanyak 39 peresepan (34,7%). Penggunaan obat antihipertensi tepat indikasi 100%, tepat obat 76%, tepat dosis 100%, dan tepat pasien 94%.

Kata kunci : Hipertensi , Rasionalitas, Rawat Inap

ABSTRACT

Disease with the condition in which blood pressure above normal blood pressure is commonly called hypertension. Evaluation of the use of drugs intended to ensure the rational use of medicines which finally get success in the treatment and reducing the adverse drug reaction. This study was conducted to determine the rationality of the use of antihypertensive in the hospital “X” Sukoharjo in 2013. This research was non-experimental research with descriptive method. Data were collected retrospectively from medical records and prescription in hypertensive patients hospitalized. The sampling technique used purposive sampling method that samples taken hypertensive patients met the inclusion criteria. Sampling was given from the hospital is just a sample of 100 records of patients medic. The results of this study can be concluded that the type of antihypertensive drug classes most commonly used there are two classes of drugs are as much as 67 prescription (20,14%) Captopril and Furosemid drug classes as much as 39 prescriptions (34,7%). Appropriate use of antihypertensive medication indication 100%, 76% right drug, right dose of 100%, and 94% of patients right.

(4)

PENDAHULUAN

Penyakit hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular. Selain mengakibatkan gagal jantung, hipertensi dapat berakibat terjadinya gagal ginjal maupun penyakit serebrovaskular (Depkes, 2006b). Pada kebanyakan pasien etiologi patofisiologi-nya tidak diketahui (essensial atau hipertensi primer). Hipertensi primer ini tidak dapat disembuhkan tetapi dapat di kontrol. Kelompok lain dari populasi dengan persentase rendah mempunyai penyebab yang khusus, dikenal sebagai hipertensi sekunder. Klasifikasi tekanan darah mencakup 4 kategori, dengan nilai normal pada tekanan darah sistolik (TDS) < 120 mm Hg dan tekanan darah diastolik (TDD) < 80 mm Hg. Tujuan umum pengobatan hipertensi adalah: Menurunkan mortalitas dan morbiditas yang berhubungan dengan hipertensi. Mortalitas dan morbiditas ini berhubungan dengan kerusakan organ target (misal: kejadian kardiovaskular atau serebrovaskular, gagal jantung, dan penyakit ginjal). Tujuan utama terapi hipertensi adalah mengurangi resiko. Obat-obat hipertensi dapat dibagi menjadi 7, yaitu antara lain.

1. Diuretik

Diuretik ini dibagi menjadi 3, yaitu:

a. Golongan thiazid yang bekerja pada tubulus distal dengan kerja meningkatkan ekskresi Na+ dan Cl-. Contoh: HCT dan indapamid

b. Golongan diuretik kuat yang bekerja di Ansa Henle bagian assendens dengan kerja menghambat kotranspor Na+, K+, Cl-, dan menghambat resorpsi air dan elektrolit. Contoh: furosemid, torasemid, asam etakrinat dan bumetamid.

c. Golongan diuretik hemat kalium, contohnya: triamteren, amilorid, dan spironolakton. 2. Alfa blockers

Mekanisme kerja: memblok reseptor alfa adrenergik yang ada pada otot polos pembuluh. Dibedakan menjadi :

a. Alfa blockers nonselektif, contoh : fentolamin

b. Alfa 1 blockers selektif, contoh: prazosin, terazosin, doksazosin. 3. Beta blockers

Contoh: atenolol, metoprolol, labetolol, betaxolol, bisoprolol.

4. Agonis alfa 2

(5)

5. Antagonis kalsium

Mekanisme kerja: menghambat pemasukan ion Ca ke dalam sel sehingga penyaluran impuls dan kontraksi dinding pembuluh. Contoh: nifedipin, nikardipin, verapamil.

6. Penghambat RAS (Renin Angiotensin Sysem)

Mekanisme kerja: mencegah pengubahan angiotensin I menjadi angiotensin II yang berdaya vasokonstriksi kuat. Selain itu menghambat pembentukan aldosteron yang bersifat retensi garam dan air. Contoh: kaptopril, losartan, benazepril.

7. Vasodilator

Contoh: hidralazin dan monoksidil

Pemilihan obat yang tidak tepat dapat disebabkan oleh obat yang digunakan tidak efektif, alergi dengan obat yang diberikan, obat kontraindikasi, resisten dengan obat yang digunakan dan penderita menerima kombinasi produk obat yang tidak perlu atau polifarmasi (Depkes, 2006b). Menurut definisi dari WHO, pengobatan obat yang rasional berarti mensyaratkan bahwa pasien menerima obat-obatan yang sesuai pada kebutuhan klinik mereka, dalam dosis yang memenuhi kebutuhan individu mereka sendiri, untuk suatu periode waktu yang memadai, dan pada harga terendah untuk mereka dan masyarakatnya (Depkes, 2010). Kriteria penggunaan obat yang rasional:

a. Tepat indikasi yaitu pemberian obat untuk pasien yang didasarkan pada indikasi sesuai dengan gejala yang timbul.

b. Tepat obat yaitu pemberian obat yang sesuai dengan pemilihan jenis obat dengan memperhatikan diagnosa klinik, efektifitas dan keamanan obat yang bersangkutan. c. Tepat dosis yaitu pemberian obat yang meliputi :

1) Tepat takarannya yaitu pemberian obat dengan dosis yang tidak terlalu besar maupun terlalu kecil.

2) Tepat rute pemberian yaitu tergantung pada keadaan pasien misalnya per oral, suppositoria, subkutan, intramuscular atau intravena.

3) Tepat saat pemberiannya yaitu sebelum makan, sesudah makan atau sebelum tidur. 4) Tepat interval pemberian misalnya 6 jam sekali, 8 jam sekali atau 12 jam sekali. 5) Tepat lama pemberiannya misalnya sehari, 2 hari, atau 7 hari. Misalnya pasien (8

tahun) tidak mau tidur karena badannya panas oleh ibunya diberikan sanmol 1 tablet 3x sehari p.o, diberikan sesudah makan. Apakah pengobatan yang dilakukan ibu pasien sudah benar ?

(6)

d. Tepat pasien yaitu pemilihan obat yang diberikan tidak ada kontraindikasi dengan kondisi pasien.

(Depkes, 2006a) Kerasionalitasan pengobatan dapat dilihat dari banyaknya obat yang digunakan setiap pasien. Banyaknya jenis obat dapat mempengaruhi ketidakrasionalitasan peresepan, sehingga perlu dilakukan mengenai penelitian tersebut. Penelitian diharapkan dapat memberi gambaran mengenai rasionalitas penggunaan obat antihipertensi pada penyakit hipertensi pasien rawat inap dan untuk meningkatkan pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit “X” Sukoharjo. Evaluasi penggunaan obat bertujuan untuk menjamin penggunaan obat yang rasional sehingga mendapatkan keberhasilan dalam pengobatan dan mengurangi efek samping yang tidak diinginkan. Sehingga dengan adanya evaluasi pemilihan obat tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi tenaga kesehatan dalam pemberian obat kepada pasien. Maka dari itu perlu dilakukan evaluasi penggunaan obat meliputi tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat dan tepat dosis. Di Rumah Sakit “X” Sukoharjo sendiri penderita hipertensi rawat inap terdapat 723 pasien dalam tahun 2013, angka tersebut terbesar ketiga setelah demam tifoid sebanyak 940 pasien rawat inap dan gantrointeritis akut sebanyak 845 pasien. Dari hasil data pasien tersebut, diharapkan dapat memberi gambaran mengenai rasionalitas penggunaan obat antihipertensi pada penyakit hipertensi pasien rawat inap dan untuk meningkatkan pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit “X” Sukoharjo.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan metode deskriptif. Pengambil data dilakukan secara retrospektif dari rekam medik dan resep dokter pada pasien hipertensi yang dirawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit “X” Sukoharjo tahun 2013.

Definisi Operasional Penelitian

1. Evaluasi penggunaan obat antihipertensi adalah kajian rasionalitas penggunaan obat antihipertensi meliputi tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat dan tepat dosis.

2. Rasionalitas adalah pemberian obat-obatan kepada pasien yang memenuhi beberapa kriteria tertentu. Kriteria penggunaan obat secara rasional yaitu tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, dan tepat dosis.

3. Tepat indikasi yaitu pemberian obat untuk pasien yang sesuai dengan diagnosis yang ditetapkan.

4. Tepat obat yaitu pemberian obat yang dipilih harus memiliki efek terapi sesuai dengan penyakit.

(7)

6. Tepat pasien yaitu pemilihan obat yang diberikan tidak ada kontraindikasi dengan kondisi pasien.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Lembar pengumpulan data di Rumah Sakit di Sukoharjo, Buku Pharmaceutical Care Penyakit Hipertensi tahun 2006 dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia, The Seventh Joint National Committee On Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC7). Bahan penelitian yang digunakan adalah menggunakan data-data pada catatan rekam medis dan resep dokter pada pasien hipertensi di Instalasi Rawat Inap di Rumah Sakit “X” Sukoharjo.

Populasi Sampel

Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit “X” Sukoharjo tahun 2013. Populasi dan Sampel penelitian yang digunakan harus memenuhi kriteria inklusi sebagai berikut : Pasien yang didiagnosa hipertensi dengan atau tanpa penyakit penyerta, Umur pasien hipertensi

≥18 - < 65 tahun, mendapatkan terapi antihipertensi, pasien tercatat dalam rekam medik yang lengkap, data laboratorium dari pasien.

Jalannya Penelitian

Penelitian dilakukan di Rumah Sakit “X” Sukoharjo. Tahap – tahap penelitian sebagai berikut :

1. Mengurus surat izin penelitian dari fakultas Farmasi UMS untuk dibawa ke Diklat Rumah Sakit “X” Sukoharjo untuk mendapatkan izin melakukan penelitian, dari Diklat memerlukan surat izin dari Kepala BAPPEDA, tembusan ke Kapolres Sukoharjo dan Kepala Kantor Kesatuan dan Politik Kabupaten Sukoharjo, kemudian peneliti baru boleh melakukan penelitian.

2. Pengumpulan data dilihat pada daftar pasien hipertensi yang di rawat inap, kemudian dicatat data dari rekam medik pasien dan dikelompokkan pasien dengan diagnosa hipertensi.

3. Pencatatan data meliputi identitas pasien, diagnosa utama, jenis obat data-data laboratoruim.

4. Menganalisis data pasien dan penggunaan obat antihipertensi berdasarkan lama perawatan pada pasien rawat inap di Rumah Sakit “X” Sukoharjo.

5. Mengurus surat selesai penelitian di Diklat Rumah Sakit “X” Sukoharjo.

Analisis Data

(8)

diagnosa serta dievaluasi ketepatan pemilihan obat antihipertensi berdasarkan tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, dan tepat dosis. Dari data tersebut maka dapat diperoleh dengan rumus :

1. Angka Kejadian Hipertensi

Angka kejadian penyakit hipertensi rawat inap di Rumah Sakit “X” Sukoharjo pada tahun 2013 adalah sebesar 723 pasien dan diambil 100 pasien yang memenuhi kriteria inklusi.

2. Demografi Pasien Hipertensi

Tabel 1. Persentase Gambaran obat Antihipertensi pada pengobatan Hipertensi Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit “X” Sukoharjo Tahun 2013

Keterangan Jumlah Persentase (%)

Usia

• HT stage II+ISK+CKD

• HT stage II+HD+Anoreksia

(9)

diagnosis hipertensi frekuensi terbanyak pada kelompok usia 19-45 tahun sebanyak 30 kasus (30%), kemudian kelompok usia 46-65 tahun sebanyak 54 kasus (54%), dan pada kelompok usia >65 tahun sebanyak 16 kasus (16%). Hasil menunjukkan bahwa jenis kelamin terbanyak yaitu perempuan sebanyak 52 pasien (52%), selanjutnya laki-laki sebanyak 48 pasien (48%).

Hipertensi dibagi menjadi 3 derajat yaitu prehipertensi, hipertensi stage 1, dan hipertensi stage 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang tergolong hipertensi stage 1 sebanyak 13 pasien (13%), hipertensi stage 2 sebanyak 87 pasien (87%).

3. Gambaran Pengobatan Hipertensi

Berdasarkan tabel 1, gambaran pengobatan yang dijalani di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit d Rumah Sakit “X” Sukoharjo Tahun 2013 dengan diagnosa hipertensi menunjukkan bahwa gambaran pemberian obat dengan diagnosa hipertensi pasien rawat inap di Rumah Sakit “X” Sukoharjo, yaitu obat golongan diuretik, obat golongan agonis alfa 2, obat golongan ACE Inhibitor, ARB, Beta blocker, dan CCB. Penggunaan obat golongan diuretic dapat menghambat absorbsi garam dan air sehingga volume darah dapat menurun akibatnya tekanan darah ikut turun (Depkes, 2006b).

4. Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi

Penggunaan obat yang rasional, mensyaratkan setiap pasien menerima obat yang sesuai pada kebutuhan klinik mereka. Kriteria penggunaan obat yang rasional antara lain tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis dan tepat pasien.

a. Tepat Indikasi dan Tepat Obat

Berdasarkan tabel 1 di atas, menunjukkan bahwa penggunaan obat antihipertensi pada semua pasien hipertensi di Instalasi rawat inap Rumah Sakit “X” Sukoharjo Tahun 2013 mendapatkan obat antihipertensi, sehingga persentase ketepatan indikasi adalah sebesar 100 % (n=100 Pemilihan obat yang diresepkan ditemukan 5 pasien mendapatkan obat Klonidin dan Bisoprolol, obat ini bukan drug of choice nya dan ada 19 mendapatkan kombinasi obat yang tidak efektif, karena mempunyai mekanisme kerja yang sama sehingga menimbulkan polifarmasi, sehingga persentase ketepatan obat pada pasien hipertensi di Instalasi rawat inap RSUD Sukoharjo Tahun 2013 dinyatakan sebesar 76%.

b. Tepat Dosis dan Tepat Pasien

(10)

pasien (6%) tidak tepat pasien dikarenakan ada kontraindikasi terhadap pasien tersebut, sehingga persentase ketepatan pasien 94 pasien (94%).

Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini bersifat retrospektif sehingga tidak bisa mengungkapkan kenyataan yang terjadi dilapangan secara lengkap. Oleh karena itu, dalam pembahasan peneliti hanya mampu melakukan asumsi-asumsi jika data yang diperoleh benar sesuai dengan kenyataan, dan dilakukan dengan cara pengambilan data yang sudah tersedia dalam data rekam medik pasien. Peneliti membaca rekam medik sesuai yang tertulis, tetapi kadang ada kendala dalam membaca data karena penulisan yang tidak jelas, sehingga peneliti harus meminta bantuan dari pihak rekam medis untuk membantu membaca rekan medik.

KESIMPULAN

Dari data hasil penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal mengenai gambaran penggunaan obat antihipertensi dan evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi di rawat inap yang dilakukan di Rumah Sakit “X” Sukoharjo tahun 2013

1. Jenis golongan obat antihipertensi yang paling sering digunakan ada 2 golongan obat yaitu golongan ACEI sebanyak 71 peresepan dan golongan obat CCB sebanyak 44 peresepan.

2. Evaluasi terhadap penggunaan obat antihipertensi pada 100 responden di dapatkan hasil: a. Tepat Indikasi : 100%

b. Tepat Obat : 76% c. Tepat Dosis : 100% d. Tepat Pasien : 94%

Saran

1. Perlu dilakukan penelitian tentang rasionalitas penggunaan obat antihipertensi secara lengkap dengan menggunakan metode prospektif.

(11)

DAFTAR ACUAN

Chobanian AV, Bakris GL, Black HR, et al. 2003. Seventh report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. Hypertension, 42(6):1206–1252.

Depkes, 2006a, Penggunaan Obat Rasional, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta

Depkes, 2006b, Pharmaceutical Care untuk Hipertensi, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta

Depkes, 2010, Implementasi Kebijakan Penggunaan Obat Rasional (POR) Di Indonesia, Direktur Bina Penggunaan Obat Rasional, Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta

Kelly, H.W., and Sorkness., 2008, Hypertension, in Dipiro, J.T., Matzke, G.R., Posey, L.M., Talbert, R.I., Wells, B.G., Yee, G.C., (eds), Pharmacotherpy: A Phatophysiologi Approach, 7th Ed., Mc Graw Hiil Companies Inc, New York.

Figur

Tabel 1. Persentase Gambaran obat Antihipertensi pada pengobatan Hipertensi Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit “X” Sukoharjo Tahun 2013
Tabel 1 Persentase Gambaran obat Antihipertensi pada pengobatan Hipertensi Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit X Sukoharjo Tahun 2013 . View in document p.8

Referensi

Memperbarui...