• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan e-issn

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan e-issn"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ARTIKEL PENELITIAN

HUBUNGAN ANTARA KEBERFUNGSIAN KELUARGA DENGAN SUBJECTIVE WELL-BEING PADA REMAJA TUNANETRA DI SURABAYA

EASTER FRANSISKA ERDYANTO & VERONIKA SUPRAPTI

Departemen Psikologi Pendidikan dan Perkembangan, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

ABSTRAK

Remaja tunanetra mengalami diskriminasi serta mereka mengalami hambatan pada tugas-tugas perkembangannya, sehingga membuat subjective well-being remaja tunanetra menjadi negatif.

Penyebab utama dari subjective well-being tunanetra yang negatif adalah keberfungsian keluarga.

Keberfungsian keluarga sangat diperlukan oleh remaja tunanetra dikarenakan remaja tunanetra masih membutuhkan perhatian serta dukungan orang tua maupun keluarganya untuk dapat melewati masa-masa sulit dalam kehidupannya (Levianti, 2013). keberfungsian keluarga yang baik akan membuat subjective well-being remaja tunanetra menjadi positif. Tujuan dari penulis ingin mengetahui hubungan antara keberfungsian keluarga dengan subjective well-being pada remaja tunanetra di Surabaya. Penelitian ini melibatkan 35 subjek yang merupakan para siswa-siswi SMPdan SMA di SMPLB-A YPAB Surabaya yang berusia 12-22 tahun. Pengambilansampel dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan datadenganmenggunakan skala SWLS (Satisfaction With Life Scale) dan PANAS (Positiveand negative affect scale) untuk mengukur subjective well-being dan skala FAD (Family Assessment Device) untuk mengukur keberfungsiaan keluarga. Data penelitian ini dianalisis dengan teknik korelasi product moment pearson.Taraf signifikan 0,153. Koefisien korelasi sebesar -0,247.

Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya hubungan antarakeberfungsiaan keluarga dengan subjective well-being pada remaja tunanetra diSurabaya.

Kata kunci: Keberfungsiaan Keluarga, Subective Well-Being ABSTRACT

Blind adolescents experienced discriminations also obstacles when they do their development works, which made blind adolescents' subjective well-being to be the negative one. The main cause of this event is family functionality, which is needed by them because they still need their parents' attention and support to pass through their hard times. Good family functionality will eventually make these adolescent's subjective subjective well-being to be more positive. The aim is that the writer wants to know relationship between family functionality with subjective subjective well-being on blind adolescents in Surabaya. This research involves 35 subjects, who are Disabled Junior and Senior High School students at YPAB High School Surabaya, aged 12-22 years old. Sampling is using purposive sampling technique. Data gathering is using SWLS scale (Satisfaction With Life Scale) dan PANAS scale (Positiveand negative affect scale) to measure subjective well-beingand FAD scale (Family Assessment Device) to measure family functionality. This research data analyzed using correlation techniquePearson productmoment. Significant taraff 0,153. Correlation Coeficient -0,247. The result of this research shows that there is no relationship between family functinality and subjective well-being on blind adolescents at Surabaya.

Key words: Family Functioning, Subective-Well-Being

(2)

Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun2019, Vol. 8, pp42-52

*Alamat korespondensi: Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Kampus B Universitas Airlangga Jalan Airlangga 4-6 Surabaya 60286. Surel: [email protected]

Naskah ini merupakan naskah dengan akses terbuka dibawah ketentuan the Creative Common Attribution License (http://creativecommons.org/licenses/by/4.0), sehingga penggunaan, distribusi, reproduksi dalam media apapun atas artikel ini tidak dibatasi, selama sumber aslinya disitir dengan baik.

P E N D A H U L U A N

Indonesia saat ini tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah penyandang disabilitas terbesar di Asia. Jumlah penyandang disabilitas yang dikeluarkan Kementerian Sosial RI pada tahun 2013 tercatat sebesar 3.342.303 jiwa. Sementara jumlah penyandang disabilitas yang dikeluarkan oleh PT. Surveyor Indonesia (Persero) berjumlah 4.783.267 jiwa. Jumlah tersebut terbagi dari empat kategori disabilitas yaitu, sebanyak 1.749.981 jiwa sebagai penyandangtuna netra, 602.784 jiwa penyandang tuna wicara/rungu, 1.652.741 penyandang tuna daksa, dan 777.761 jiwa penyandang tuna grahita(Gunawan, 2016)

Para penyandang disabilitas dipandang sebelah mata oleh masyarakat, mereka mengalami diskriminasi, cemooh, dan sindiran maupun hak-haknya terabaikan. Diskriminasi yang terjadi pada penyandang disabilitas pada sektor pendidikan di Indonesia menunjukan bahwa penyandang disabilitas hingga kini 90% dari 1,5 juta anak dengan disabilitas justru tidak dapat menikmati pendidikan(Irwanto, 2010).

Para penyandang disabilitas salah satunya adalah tunanetra. Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pada tunanetra dikerenakan jumlah tunanetra yang lebih banyak sebesar 1.749.981 jiwa, 602.784 jiwa penyandang tuna wicara/rungu, 1.652.741 penyandang tuna daksa, dan 777.761 jiwa penyandang tuna grahita(Gunawan, 2016).Dari data tersebut menyatahkan bahwa penyandang tunanetra lebih banyak jumlahnya dari penyandang disabilitas lainnya. Tunanetra dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berasal dari kata “tuna”yang artinya (1) luka; rusak; (2) kurang; tidak memiliki, dan kata “netra” yangartinya mata atau alat penglihatan. Jadi kata tunanetra artinya rusakpenglihatan;

tidak dapat melihat atau buta. Tunanetra dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu Buta dan Low Vision. Individu dikatakan buta atau total blind jika individu tersebut sama sekali tidak mampu menerima rangsangan cahaya dari luar. Sedangkan individu dikatakan low vision jika individu masih mampu menerima rangsangan cahaya dari luar, tetapi ketajamannya lebih dari 6/21 atau jarak individu tersebut hanya mampu membaca headline atau judul pada surat kabar (Soemantri, 2007).

Diskriminasi yang dialami oleh para remaja tunanetra ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti data yang diungakapkan oleh Bambang Basuki dari Detik Health (2015) menyatakan bahwa

“Sekolah regular memang tidak semuanya siap dengan fasilitas pendukung untuk mendampingi siswa- siswa dengan kebutuhan khusus seperti tunanetra. Pemerintah sudahmenyedianya infrastruktur seperti printer braille bagi penyandang tunanetra tapi hanya pada beberapa sekolah saja. Sedangkan pada mata pelajaran tertentu yang membutuhkan simbol khusus seperti matematika, kimia, dan fisika, bukunya masih sangat sulit untuk didapatkan, ditambah lagi pandangan lingkungan yang memberikan perlakuan berbeda terhadap tunanetra yang mengakibatkan, anak tunanetra tidak terlatih untuk mandiri di lingkungan 'awas', akhirnya masyarakat memberikan pandangan cenderung meremehkan".

Remaja tunanetra bukan hanya mendapatkan perlakukan diskriminatif pada masa sekolah saja melainkan juga ketika melanajutkan kejenjang perkuliahan terutama mengenai syarat untuk dapat mengikuti tes masuk peguruan tinggi negeri (SNPTN).

(3)

Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun2019, Vol. 8, pp42-52

Keterbatasan untuk melihat pada remaja tunanetra bukan hanya menimbulkan hambatan fisik, melainkan menghambat remaja dalam tugas-tugas perkembangan (Oktafiani, 2017). Menurut Hurlock (1996) keterbatasan fisik dapat menghambat seseorang untuk dapat mengerjakan apa yang dilakukan oleh orang lain pada usianya, sehingga menimbulkan kegagalan

dalam melaksanakan tugas perkembangan. Sedangkan menurut Havigrust apabila seseorang gagal dalam memenuhi tugas perkembangannya seseorang tersebut akan mengalami kesulitan dalam memenuhi tugas perkembangan selanjutnya dan menimbulkan ketidakbahagiaan (Oktafiani, 2017)

Penelitian yang dilakukan oleh L. Penny Rosenblum (2002 dalam Oktafiani, 2017) kehidupan remaja tunanetra dari Arizona, Minisona, Texas, dan Oregon and Wisconsin, memiliki dampak negatif pada kehidupan mereka, diantaranya mereka akan menutupi kekurangannya, mereka malu untuk bergaul dengan orang yang normal seusianya, terkucil dari keluarga dan merasa terasing bila bertemu dengan orang normal serta mendapatkan perlakuan yang tidak sepatutnya seperti mendapatkan cemooh dilingkungannya. Kondisi keterbatasan pengelihatan yang dialami remaja berpengaruh pada kehidupan yang mereka jalani.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Harimukthi & Dewi (2014) individu yang mengalami kebutaan pada usia 20 hingga 40 tahun akan mengalami perubahan penurunan kesejahteraan psikologis. Penurunan kesejahteraan psikologis cenderung mengalami permasalahn dengan dunia eksternalnya. Sedangkan menurut penelitian Linley (2004 dalam Oktafiani, 2017) yang dilakukan pada populasi tunanetra di Eropa mengungkapkan bahwa terganggunya fungsi pengelihatan membawa dampak negatif terbesar dalam menurunkan evaluasi kehidupan individu yang bisa disebut subjective well-being.

Subjective well-being didefinisikan oleh Diener (2000) sebagai evaluasi individu terhadap kesejahteraan psikologis yang dialaminya. Menurut Diener, (2002) bentuk evaluasi terhadap kesejahteraan individu dilakukan dengan dua cara yaitu: (1) penilaian secara kognitif, penilaian ini berupa tentang mengevaluasi kepuasan dalam menjalani kehidupan dan responemosional terhadap kejadian yang terjadi dalam hidup; (2) bahagia secara afektif evaluasi kehidupan dengan merasakan emosi yang positif dan negatif. Menurut Diener, (1997 dalam Dinner, 2009) Subjective well-being hanya dapat dievaluasi berdasarkan pada perspektif individu yang bersangkutan. Remaja dengan tingkat subjective well-being yang tinggi akan merasa percaya diri, dapat menjalin hubungan sosial dengan lebih baik serta dapat menunjukan performansi kerja yang lebih baik. Selain itu dalam keadaan yang penuh tekanan remaja dengan tingkat subjective well-being yang tinggi dapat melakukan adaptasi dan coping yang lebih efektif terhadap keadaan tersebut sehingga merasakan kehidupan yang lebih baik (Dewi, 2008).

Dari beberapa penelitianDiener (2000,2002, 1997,2009) dan Dewi (2008),dapat disimpulkan bahwa kehilangan fungsi pengelihatan atau tunanetra dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis individu tersebut. Seperti pada jurnal Subjective well-being (Dinner, 2000) bahwa kognitif dan afeksi dari individu dapat mempengaruhi evaluasi kesejahteraan yang dialami oleh individu selama hidupnya. Evaluasi ini dapat berdampak negatif maupun positif bagi individu tersebut.

Subjective well-being dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya: faktor pendidikan, agama, penghasilan, kecerdasan, dan relasi dengan individu lainnya, ditambah pula faktor yang sangat mempengaruhi subjective well-being yaitu keberfungsian keluarga (Nayana, 2013). Remaja tunanetra masih tetap membutuhkan dukungan dan perhatian orangtua untuk dapat melewati masa- masa sulit di dalam kehidupan mereka, sehingga akhirnya memiliki Subjective well-being yang positif seperti yang diungkapkan oleh Levianti (2013) bahwa khususnya bagi remaja tunanetra masih tetap membutuhkan perhatian dan dukungan orang tua dan keluarganya.

Menurut Shek, (dalam Lestari 2012) Keberfungsian keluarga merujuk pada kualitas kehidupan keluarga, baik pada level sistem maupun subsistem, dan berkenaan dengan kesejahteraan, kompetensi, kekuatan dan kelemahan keluarga. Epstein, Bishop, dan Levin (1978) menjelaskan bahwa

(4)

Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun2019, Vol. 8, pp42-52

fungsi utama setiap unit keluarga adalah untuk memelihara dan mengembangkan anggota keluarga dalam hal sosial, psikologis dan biologis, tambahan dari Eptein, Ryan, Bishop, Miller, & Keitner (2003 dalam dalam Cendra, 2012) menjelaskan keberfungsiaan keluarga sebagai sejauh mana interaksi dalam keluarga memiliki dampak terhadap kesehatan fisik dan emosional anggota keluarga

Menurut Faturohman (2001, dalam Rochaniningsih, 2014 ) Orangtua yang sibuk bekerja menyebabkan berkurangnya interaksi orang tua dengan anak. Hal ini akan berdampak pada pembentukan kepribadian anak dan kehidupan masa remaja menjadi lebih dipengaruhi oleh sekolah dan lingkungan sosialnya, bahkan peran media massa mungkin akan menggantikan peran yang lain.

Fenomena yang terjadi menunjukkan telah terjadi pergeseran peran dan fungsi keluarga(Rochaniningsih, 2014). Pada orang tua sendiri yang mempunyai anak denganhambatan atau disabilitas, merasa bahwa anak tersebut tidak berguna dan menimbulkan perasaan malu bagi keluarga(Vani, 2014). Hal ini dapat berdampak pada evaluasi hidup anak tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh Nayana (2013), tentag Kefungsian Keluarga dan Subjective well- being pada Remaja yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara keberfungsian keluarga dengan subjective well-being pada remaja hasil perhitungan korelasi product moment menunjukan bahwa semakin tinggi tingkat kefungsian keluarga maka semakin tinggi pula subjective well-being pada remaja (r=0,387; p=0,000; p<0,01). Penelitian lain dilakukan oleh Endah Puspita Sari & Wilda Dahlia (2018), menunjukan bahwa fungsi keluarga secara signifikan terkait dengan kesejahteraan subjektif dikalangan remaja dengan (r = 0,167 (p <0,05) (Sari, 2018).

Berdasarkan pemaparan tersebut diatas nampak bahwa subjective well-being dapat dialami oleh individu pada umumnya, tidak terkecuali remaja tunanetra. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa adanya korelasi yang menunjukan bahwa semakin tinggi tingkat keberfungsian keluarga maka semakin tinggi subjective well-being remaja, hal ini membuktikan bahwa terciptanya keberfungsian keluarga yang baik seperti terjalinnya komunikasi yang baik antara keluarga dengan remaja tunanetra maupun dukungan yang diberikan oleh keluarga pada remaja tunanetra akan memberika dampak yang baik pada subjective subjective well-being remaja tunanetra tersebut.

M E T O D E Tipe Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, Teknik pengumpulan data mendasarkan pada survey explanatory, guna mendapatkan kejelasan dari masalah yang sudah berkembang dilingkungan masyarakat. Jenis explanatory juga mencoba untuk mengungkap adanya perbedaan variabel-variabel penelitian yang bertujuan untuk menguji hipotesa yang telah dirumuskan sebelumnya (Singaribun, 2006)

Subjek Penelitian

Penelitian ini melibatkan responden remaja tunanetra berlokasikan di SMPLB-A YPAB Surabaya, dengan menerapkan teknik purposive sampling (Hadi, 2000), dan terjaring yang memenuhi syarat sebagai subjek penelitian berjumlah 35 remaja tunanetra.

Variabel dan Instrumen Penelitian

Variabel bebas (X)dalam penelitian ini adalah keberfungsian keluarga, sedangkan variabel terikat (Y) adalah subjective well-being.

Keberfungsian keluarga menurut Epstein, Ryan, Bishop, Miller, & Keitner (2003) didefinisikan sebagai sejauh mana interaksi dalam keluarga memiliki dampak terhadap kesehatan fisik dan emosional anggota keluarga(Cendra, 2012). Aspek-aspek fungsi keluarga dalam penelitian ini diambil dari Family Assessment Device (FAD). FAD menjelaskan sifat struktural dan organisasi dari anggota keluarga dan pola transaksi antara anggota keluarga yang didasarkan pada McMaster Model of Family Functioning (MMFF) (Epstein, Baldwin, & Bishop, 1983). Terdapat tujuh aspek yang terdapat dalam FAD yaitu: Pemecahan masalah (Problem-solving), Komunikasi (Communication), Peran (Roles),

(5)

Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun2019, Vol. 8, pp42-52

Respon secara afektif (Affective Responsiveness), Keterlibatan secara afektif (Affective Responsiveness), Kontrol perilaku (Behaviour Control), Fungsi umum keluarga (General Functional). Untuk mengukur keberfungsiaan keluarga peneliti menggunakan alat ukur yang bernama FAD. Semakin tinggi skor artinya keluarga ini semakin tidak berfungsi, semain rendah skor keluarga ini semakin berfungsi.

Subjective well-being diartikan sebagai evaluasi individu tentang kehidupan mereka. Evalusi pada kehidupan individu dilakukan dengan dua cara kognitif dan afektif. Evaluasi secara kognitif yaitu dalam bentuk kepuasan hidup dan evaluasi secara afektif yaitu dalam bentuk emosi dan suasana hati yang positif maupun negatif. Untuk mengukur subjective well-being peneliti menggunakan alat ukur yang bernama Satisfaction with Life Scale (SWLS) dan Positive and Negative Affect Scale (PANAS); hasil skor SWLS yangtinggi menandakan bahwakepuasan hidup subjek sangat puas. Hasil skor PANAS, terbagi menjadi dua bagian. Apabila hasil total skor positive affect lebih tinggi, maka menunjukkan bahwa positive affect yang dirasakan lebih tinggi. Apabila hasil total skor negative affect lebih rendah, maka menunjukkan bahwa negative affect yang dirasakan lebih rendah. Menurut Joshi, (2010 dalam Wulandari 2016) nilai subjective well-being pada individu dapat dilakukan dengan bantuan rumus sebagai berikut: Subjective well-being = skor SWLS (satisfaction With Life Scale) + skor Panas (singkatan dari: Positif affect – negative affect scale). Semakin tinggi hasil skornya, semakin menunjukan kesejahteraan subjektif (subjective well-being) atau kebahagiaan seorang individu.

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik survey yang berupa skala atau kuesoner tertulis. Kuesoner pada penelitian disampaikan secara lisan oleh peneliti dan respon dari subjek juga secara lisan. Hasil dari kuesoner ini diubah dalam bentuk angka dan dianalisis dengan menggunkan analisis statistik yang kemudian akan dihasilkan sebuah uraian serta kesimpulan dari hasil kesimpulan (Singaribun, 2006). Pada penelitian ini alat ukur yang digunakan oleh penulis meliputi tiga jenis skala yaitu satu skala untuk mengukur keberfungsian keluarga dan dua skala untuk mengukur subjective well-being pada remaja tunanetra. Alat pengukuran yang akan digunakan merupakan modifikasi bentuk respon Likert yang bersifat langsung berdasarkan laporan mengenai diri sendiri atau setidaknya berdasarkan mengetahuan dan keyakinan atas dirinya sendiri (Hadi, 2000).

Validitas pada penelitian ini menggunakan professional judgement, dan aitem mengalami perubahan pada skala keberfungsiaan keluarga dan subjective well-being setelah dilakukan rater.

Reliabilitas skala subjective well-being yang terdiri dari SWLS dan PANAS sebelumnya telah digunakan dalam penelitian Wulandari (2016), dalam penelitian tersebut didapat relibilitas sebesar 0,706 untuk SWLS dan untuk skala PANAS sebesar 0,742. Alat ukur ini kembali dipergunakan dalam penelitian ini dan diperoleh hasil reliabilitas yang berbeda. Reliabilitas pada pengukuran ini didapat hasil reliabilitas sebesar 0,398 untuk SWLS dan sebesar 0,769 untuk skala PANAS.

Reliabilitas FAD (Family Assessment Device) keberfungsian keluarga sebelumnya telah digunakan dalam penelitian Putri (2016) dalam penelitian tersebut didapat relibilitas sebesar 0,915. Alat ukur ini kembali dipergunakan dalam penelitian ini dan diperoleh hasil reliabilitas yang berbeda.

Reliabilitas pada pengukuran ini didapat hasil reliabilitas sebesar 0,852.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis hubungan dua variabel, sehingga teknik analisis yang digunakan adalah uji korelasi. Penelitian ini menguji hubungan antara keberfungsiaan keluarga (x) dengan subjective subjective well-being (y) pada remaja tunanetra di Surabaya. Data yang memenuhi asumsi normalitasdiuji hubungan menggunakan tehnik korelasi product-moment dari Pearson. Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 35 orang, dengan teknik uji normalitas dari Shapiro Wilk. Suatu hubungan dikatakan signifikan apabila p yang diperoleh lebih besar atau sama dengan angka yang ada pada tabel(Singaribun, 2006). Ketentuan interpretasi hasil uji statistik antara lain sebagai berikut: a. Apabila p< 0,05 artinya terdapat hubungan kedua variable tidak signifikan, sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. b. Apabila p > 0,05 artinya tidak terdapat hubungan pada kedua variabel, sehingga H0 diterima dan Ha ditolak.

(6)

Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun2019, Vol. 8, pp42-52

H A S I L P E N E L I T I A N

Subjek pada penelitin ini adalah remaja tunanetra yang berada di Surabaya, bertempat di SMPLB YPAB di jalan

Gebang Putih, NO. 05. Kriteria subjek pada penelitian ini adalah remaja tunanetra yang total blind dan low vision berusia 12 sampai 22 tahun.

Tabel 1. Analisis deskriptif

N Range Min Max Mea n

Std.

Deviation

Varianc e

SWB

35 25 6 31 19,66 5,562 30,938

FAD

35 57 88 145 115,8

3

13,729 188,499

Valid N (listwise)

35

Berdasarkan tabel diatas diketahui N=35 yang berarti bahwa jumlah data yang diperoleh adalah 35 dari subjek. Range merupakan selisih skor maksimal dengan skor minimal, dari tabel diatas diketahui bahwa range skor skala SWB 25 dan FAD adalah 57. Nilai minimal menunjukan angka 6 dan 88, artinya subjek yang memiliki skor total 6 pada skala SWB adalah subjek dengan skor Subjective well-being terendah dan subjek yang memperoleh skor 88 pada skala FAD adalah subjek dengan skor keberfungsiaan keluarga terendah.

Nilai maksimal adalah nilai total skor tertinggi yang diperoleh subjek dari masing- masing skala. Dari tabel diatas, subjek dengan total skor subjective well-being adalah subjekyang memiliki skor 31 dan subjek dengan total skor keberfungsian keluarga tertinggi adalah subjek yang memiliki total skor 145. Mean atau rata-rata digunakan untuk memperoleh informasi tentang skor trata-rata yang diperoleh subjek. Rata-rata subjek memiliki skor 19,66 pada skala subjective well-being dan 115,83 pada skala FAD. Untuk mengetahui keragaman dan kelompok, dapat dilihat dari skor standar deviasi dan varians.

Standar deviasi jika dikuadratkan akan menjadi varians, semakin tinggi standar deviasi, maka

data semakin bervariasi dari tabel diatas diketahui bahwa data kelompok yang paling

bervariasi ada pada skala FAD yaitu 188,499.

(7)

Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun2019, Vol. 8, pp42-52

Kategori subjek

Peneliti menggolongkan distribusi data kedalam tiga katagori berdasarkan penormaan sesuai yang dirumuskan oleh Azwar (2013). Pengkatagorian penelitian ini dibagi menjadi katagori tinggi, sedang, dan rendah.

Tabel 2. Kategori subjective well-being

Katagori Subjective well-being F Presentase

Tinggi X ≥ 25,222 3 8,6%

Sedang 14,098 ≤ X ≤ 25,222 25 71,4%

Rendah X ≤ 14,098 7 20,0%

Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa subjek yang tergolong memiliki skor tinggi ada 3 orang atau 8,6% subjek yang tergolong memiliki skor sedang ada 25 orang atau 71,4%. Subjek yang tergolong memiliki skor rendah ada 7 orang atau 20,0%

Tabel 3. Kategori FAD

Katagori Fad F Presentase

Tinggi X ≥ 129,559 5 14,3%

Sedang 102,101 ≤ X ≤ 129,559 24 68,6%

Rendah X ≤ 102,101 6 17,1%

Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa subjek yang tergolong memiliki skor tinggi ada 5 orang atau 14,3% subjek yang tergolong memiliki skor sedang ada 24 orang atau 68,6,%. Subjek yang tergolong memiliki skor rendah ada 6 orang atau 17,1% .

Tabel 4. Hasil Uji Normalitas

Berdasarkan tabel diatas peneliti melihat signifikansi pada Shapiro-wilk karena subjek dalam penelitian ini kurang (<) 50. Berdasarkan tabel diatas, hasil uji normalitas skala

Shapiro-Wilk

Statistic df Sig.

swb .979 35 .715

fad .977 35 .657

(8)

Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun2019, Vol. 8, pp42-52

swb menunjukkan signifikansi sebesar 0,715 dan skala fad 0,657 yang memiliki nilai lebih besar dari 0,05. Hal ini dapat dikatakan bahwa data berdistribusi normal.

Tabel 5. Uji Linearitas

Sum of Squares df

Mean

Square F Sig.

SWB * fad

Between Groups

(Combined) 879,969 24 36,665 2,133 ,106 Linearity 64,122 1 64,122 3,730 ,082 Deviation from

Linearity 815,847 23 35,472 2,063 ,117

Within Groups 171,917 10 17,192

Total 1051,886 34

Berdasarkan tabel diatas, maka dapat dilihat bahwa kedua variabel, swb dan fad nilai signifikansi adalah sebesar 0,117 > 0,05 yang artinya terdapat hubungan linear secara signifikan antara keberfungsiaan keluarga dengan subjective well-being.

Tabel 6. Uji Korelasi

Correlations

swb Fad

Swb

Pearson

Correlation 1 -.247

Sig. (2-tailed) .153

N 35 35

Fad

Pearson

Correlation -.247 1 Sig. (2-tailed) .153

N 35 35

Dari tabel diatas peneliti menemukan bahwa koefisien korelasi sebesar -0,247. Angka

ini jauh dibawah 0 sampai dengan 1 dan memiliki taraf signifikansi 0,153 yang berada

(9)

Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun2019, Vol. 8, pp42-52

dibawah 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa kedua variabel tidak memiliki hubungan atau Ha ditolak dan Ho diterima.

D I S K U S I

Berdasarkan hasil uji normalitas diperoleh nilai yang signifikan dari variable SWB sebesar 0,715 > 0,05 dan FAD sebesar 0,657>0,05 artinya data berdistribusi normal. Hasil uji linearitas menunjukan nilai signifikan sebesar 0,117 > 0,05 artinya data tidak linier. Hasil uji korelasi taraf signifikansi 0,153 yang berada dibawah 0,000 < 0,05 Hal ini menunjukkan bahwa kedua variabel tidak berkorelasi. Ha pada penetitian ini ditolak dan Ho diterima.

Hasil dari penelitian ini pada dasarnya tidak mendukung hasil dari penelitian- penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa keberfungsiaan keluarga berkorelasidengan

subjective well-being. Pada penelitian Nayana (2013) dikatahkan bahwa keberfungsiaan

keluarga merupakan faktor yang paling sangat berpengaruh pada dengan subjective well- being pada remaja dan disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat kefungsian keluarga maka semakin tinggi pula subjective well-being yang didapat padaremaja.

Hasil penelitian ini menunjukkan tidak adanya hubngan antara keberfungsian keluarga dan subjectibe subjective well-being remaja tunanetra. Ada beberapa faktor yang nampaknya mempengaruhi penelitian ini sehingga kedua variable tersebut tidak berhubungan:

Pertama,kuisoner tidak menggunakan huruf Braille, oleh karena itu harus dibacakan sendiri oleh peneliti, sementara itu untuk mengingat kata-kata dari kuesioner yang dibacakan penulis, membutuhkan daya ingat yang relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan membaca sendiri. Oleh karena itu, subyek membutuhkan pendampingan secara individual untuk mengerti apa yang ingin dimaksud oleh peneliti. Hal ini terungkapkan oleh Somatri (2007), terkait karakteristik kognitif remaja tunanetra, yakni remaja kognitif remaja tunanetradapat terhambat, karena keterbatasan atau bahkan ketidakmampuan dalam menerima rangsang atau informasi dari luar dirinya serta kemampuan kosa kata yang mereka pahami kurang.

Kosakata yang pada remaja tunanetra terbagi atas dua golongan, yaitu kata-kata yang berarti bagi dirinya berdasarkan pengalamannya sendiri dan kata-kata verbalis yang diperolehnya dari orang lain yang ia sendiri sering tidak memahaminya.

Kedua, remaja tunanetra yang menjadi subjek penelitian ini berdasarkan deskripsi

temuan data karakteristiknya tergolongkurang terbuka dan pemalu, sehingga memungkinkan

(10)

Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun2019, Vol. 8, pp42-52

kuranag tuntasnya respon mereka terhadap kusioner, dan pada glirannya kurang bisa menggambarkan hubungan keberfungsian keluarga dengan subjective well-being pada remaja tunanetra. Hal inirupanya juga diungkapkan oleh Somatri (2007) mengenai karakteristik Sosial dan emosinal yang menyatakan bahwa masalah lain yang biasa dihadapi oleh anak tunanetra adalah gejala emosi dengan pola negatif yang berlebihan akibat keterbatasannya dalam melakukan sesuatu seperti takut, malu, khawatir, cemas, mudah marah, iri hati dan kesedihan yang berlebihan.

Ketiga, jumlah sampel yang tercakup relatif kecil, yakni 35 remaja tunanetra saja yang memenuhi purposive sampling dalam penelitian ini,dapat berkontribusi kepada kurang cukup repersentatif untuk mendapatkan korelasi yang signifikan antara keberfungsiaan keluarga dengan subjective subjective well-being.

Keempat, kategori subjek pada penggolongan distribusi sekor dari alat ukur SWB dan FAD yang lebih banyak mengumpul pada kategori sedang, yakni responden pada penelitian ini lebih cenderung menetapkan pilihan pada angka 2 dan 3 dari skala Likert, pilihan ini paling aman bagi subyek saat merespon kuesioner.

Kelima, validitas isi yang berdasarkan professional judgement, masih lemah.

Professional judgement tidaklah cukup mememnuhi syarat validitas yang handal untuk suatu alat ukur, bagaimanapun juga umpan balik dari professional judgment dapat mempengaruhi perubahan aitem-aitem dalam alat ukur, oleh karena itu seharusnya masih diperlukan try out untuk melihat apakah terdapat konsistensi internal pada setiap aitem dengan sekor totalnya, sementra peneliti tidak melakukan tryout terlebih dahulu sehingga internal konsistensi masih diragukan.

S I M P U L A N

Berdasarkan hasil analisa data yang telah dilakukan sebelumnya dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara keberfungsian keluarga dengan subjective well-being pada remaja tunanetra.

P U S T A K A A C U A N Azwar, S. (2013). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Cendra, A. (2012). Hubungan Antara Keberfungsiaan Keluarga Dan Kesepian Pada Remaja Indonesia.

Skripsi S1 Universitas Indonesia.

(11)

Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun2019, Vol. 8, pp42-52

Dewi, P. S., & Utami, M. S. (2008). Subjective Well- Being Anak Dari Orang Tua Yang Bercerai. Jurnal Psikologi. 194-212.

Diener, E., Emmons, R. A., Larsen, R. J., & Griffin, S. (1985). The Satisfaction With Life Scale. Journal Of Personality Assessment. 71-75.

Diener, E., Oishi, S., Suh, E. (1997). Recent Findings On Subjective well-being. Jurnal Of Clinical Psychology.

Diener, E., Suh, E. M., Lucas, R. E., & Smith, H. L. (1999). Subjective Well-Being: Three Decades Of Progress. Psychological Bulletin 1999, Vo. 125, No. 2, 276-302.

Diener, E. (2000). Subjective Well-Being: The Science Of Happiness And A Proposal For A National Index. American Psychologist, 55(1), 34.

Diener, E. (2006). Guidelines For National Indicators Of Subjective Well-Being And Ill-Being. Journal Of Happiness Studies, 7(4), 397-404.

Dinner, E., Lucas, R., & Oishi, S. (2009). Subjective Well-Being The Science Of Happiness And Life Satisfaction. Inggris: Oxford.

Diener, Ed. (2009). The Science Of Subjective well-being: The Collected Works Of Ed Diener. Usa:

Springer.

Epstein, Baldwin, & Bishop. (1983). The Mcmaster Family Assessment Device, 9. 171-180.

Gunarsa, Singgih D & Gunarsa ,Yulia Singgih. (2010). Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja.

Jakarta : Gunung Mulia

Hadi,S. (2000). Statistik Jilid 2. Yogyakarta:Andi Offset.

Hurlock, Elizabeth., (1996). Psikologi Perkembangan: Suatu Kehidupan Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi Kelima. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Lestari, S. (2012). Psikologi Keluarga. Jakarta: Prenadamedia Group.

Levianti , M. (2013). Penerimaan Diri Ibu Yang Memiliki Anak Tunanetra. Jurnal Psikologi Volume 11 Nomor 1, 39-49.

Nayana, F. N. (2013). Kefungsian Keluarga Dan Subjectivewell-Being Pada Remaja. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan , 230-244.

Oktafiani , H., & Qodariah, S. (2017). Studi Deskriptif Mengenai Subjective well-being Pada Remaja Low Vision Di Slbn A Bandung. Prosiding Psikologi, 1-5.

Pramudiarja, Anuyung. (2015). Berawal Dari Underestimate, Lahirlah Diskriminasi Pada Tunanetra.

Diperoleh Dari https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-3046328/berawal-dari- underestimate-lahirlah-diskriminasi-pada-tunanetra. Pada 19 Agustus 2018.

Putri, Irsa Damayanti (2016). Hubungan Antara Keberfungsiaan Keluarga Dan Subjective well-being Pada Pensiunan (Skripsi S1 Universitas Surabaya)

Rochaniningsih, N. S. (2014). Dampak Pergeseran Peran Dan Fungsi Keluarga. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi Dan Aplikasi, 59-71.

Sari, E. P., & Dahlia, W. (2018). Family Functioning And Subjective Well-Being Among Adolescents.

Malaysian Online Journal Of Counseling, 43-51.

Singaribun, Masri., Effendi, Sofian (2006). Metode Penelitian Survey. Jakarta: Lp3s Soemantri, T. S. (2007). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT: Refika Aditama.

Vani, G. C., Raharjo, S. T., Hidayat, E. N., & Humaedi, S. (2014). Pengasuhan (Good Parenting) Bagi Anak Dengan Disabilitas, 1-7

Wulandari, M. S. (2016). Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Subjective Well-Being Pada Remaja Penyandang Disabilitas Tunadaksa (Skripsi S1 , Universitas Airlangga).

Gambar

Tabel 1.  Analisis deskriptif
Tabel 6. Uji Korelasi

Referensi

Dokumen terkait

Wanita lajang usia dewasa awal mengaku jika mereka juga mengetahui informasi personal orang dekat dan merasa nyaman karena orang dekat merespon kedekatannya dan

Pasangan suami istri yang tidak dapat menghadirkan anak pada kehidupan perkawinan akan mengalamibeberapa dampak negatif bagi keharmonisan rumah tangga, diantaranya

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aspek being pada school well-being memiliki korelasi paling erat dengan motivasi belajar, sehingga untuk meningkatkan

Namun kondisi psychological well-being yang tergolong cukup tinggi pada partisipan RK menunjukkan bahwa seorang pro-player dapat memiliki kondisi psychological well-being yang

Dari uji hasil korelasi antara self eficacy dengan dimensi subjective well being diperoleh hasil bahwa dimensi afeksi dari subjective well being memiliki peran yang

Tinggi rendahnya psychological well-being pada komunitas great muslimah berkaitan dengan keenam dimensi dalam psychological well-being yaitu penerimaan diri,

Hasil dari penelitian ini menggambarkan bahwa dari 11 responden terdapat 7 siswa yang memiliki school well-being rendah dan 4 orang memiliki school well-being tinggi,

Hasil yang diperoleh adalah terdapat 66,7% guru honorer yang menunjukan Subjective Well-Being yang Tinggi dan sebanyak 33,3% guru honorer yang menunjukan Subjective Well-Being yang