e-ISSN 2301-7104
ARTIKEL PENELITIAN
HUBUNGAN ANTARA FEAR OF MISSING OUT DENGAN INTENSITAS PENGGUNAAN JEJARING SOSIAL PADA MAHASISWA UNIVERSITAS AIRLANGGA
INDIRA ULFA BESTARI & IWAN W. WIDAYAT
Departemen Psikologi Pendidikan dan Perkembangan, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara fear of missing out (FoMO) dengan intensitas penggunaan jejaring sosial pada mahasiswa Universitas Airlangga. FoMO adalah perasaan tidak tenang dan perasaan tertinggal yang dirasakan ketika seseorang mengetahui teman sebayanya maupun orang lain memiliki hal-hal yang lebih dibandingkan dirinya, Sedangkan intensitas penggunaan jejaring sosial adalah frekuensi dan durasi penggunaan, serta ikatan emosional pengguna terhadap jejaring sosial yang digunakan. Penelitian dilakukan pada 61 orang subjek. Skala yang digunakan yaitu skala FoMO (10 aitem), dan skala intensitas penggunaan jejaring sosial (5 aitem).
Kemudian teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi Pearson yang dilakukan dengan bantuan SPSS 22 for Windows. Diketahui koefisien korelasi yang didapatkan sebesar 0,459 dengan signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan yang positif dan siginifikan, sehingga dapat disimpulkan semakin tinggi tingkat FoMO yang dimiliki oleh seseorang maka tingkat intensitas penggunaan jejaring sosialnya akan cenderung tinggi juga.
Kata Kunci: fear of missing out, intensitas penggunaan jejaring sosial, mahasiswa ABSTRACT
Aims to determine the association between between Fear of Missing Out (FoMO) and The Intensity of Social Network (SNS) Use on College Students of Airlangga University. FoMO which is irritability, anxiety and missing out feeling when they saw/knew their peers or other people having something more than them. Meanwhile, intensity of SNS uses are frequency, duration and emotional bond toward the SNS. This research was conducted on 61 subjects. The instruments are from FoMO scale (10 items), and SNS intensity scale (5 items). Then the analysis technique is pearson correlation with the help of SPSS 22 for Windows. Based on the results, are known that the coeficent correlation is 0,459 and significancy level is 0,00 (p<0,05), which means there is a positive correlation between variables, so we can conclude if the FoMO out level is high, then the level of intensity of SNS would tend to be high as well.
Key words: college students, fear of missing out, intensity of social network use
*Alamat korespondensi: Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Kampus B Universitas Airlangga Jalan Airlangga 4-6 Surabaya 60286. Surel:[email protected]
Naskah ini merupakan naskah dengan akses terbuka dibawah ketentuan the Creative Common Attribution License (http://creativecommons.org/licenses/by/4.0), sehingga penggunaan, distribusi, reproduksi dalam media apapun atas artikel ini tidak dibatasi, selama sumber aslinya disitir dengan baik.
Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun 2018, Vol. 7, pp. 19-29
P E N D A H U L U A N
Semakin majunya perkembangan zaman, kemajuan teknologi pun tidak terasa juga semakin berkembang dengan pesatnya, tidak terlepas juga penggunaan internet yang semakin menjamur di dunia. Hal ini dapat dibuktikan melalui survei dari eMarketer pada tahun 2014, yang menyatakan penggunaan internet di dunia mencapai kurang lebih 3 milyar orang (KOMINFO, 2014), dengan Negara Cina yang menempati tempat pertama dan pengguna sebesar 643,6 juta jiwa di ikuti juga dengan US yang memiliki pengguna sebesar 252,9 juta jiwa yang kemudian menempati tempat kedua.
Indonesia sendiri masuk dalam urutan enam sebagai pengguan internet terbanyak di dunia dengan jumlah sebesar sebesar 83,7 juta jiwa, dan diperkirakan kedepannya jumlah pengguna ini akan semakin meningkat dari tahun ke tahun (KOMINFO, 2014).
Berdasarkan survei penggunaan media sosial dari WeAreSocial, terdapat pengguna aktif media sosial sebesar 2.206 milyar orang pengguna dari seluruh dunia, dan hal ini di perkirakan juga akan terus meningkat. Survei ini juga menyimpulkan bahwa facebook masih menempati tempat pertama jejaring sosial yang paling sering digunakan di dunia, yaitu digunakan oleh sebanyak 1.490 milyar orang (WeAreSocial, 2015). Pengguna internet di Indonesia berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2016), sendiri berjumlah 132,7 juta jiwa dari total populasi penduduk yang sebesar 256,2 juta jiwa, dan tingkat penggunaan internet paling tinggi ditempati oleh Pulau Jawa, yaitu sebesar 65% dengan total pengguna sebesar 86.339.350 jiwa.
Kemudian tempat kedua ditempati oleh Pulau Sumatera dengan presentase 15,7% atau 20.752.185 jiwa.
Penggunaan internet di Indonesia paling banyak ditempati pengguna dengan rentang usia 25- 34 tahun, yaitu sebesar 75,8 %. Kemudian pada tempat kedua oleh pengguna dengan rentang usia 10- 24 tahun, yaitu sebesar 75,5 %. Lalu bila dilihat dari segi pekerjaan pengguna internet terbanyak di tempati oleh mahasiswa, dengan jumlah persentase 89,7%. Hasil survei dari APJII, juga membuktikan penggunaan internet paling banyak digunakan untuk mengakses konten dari media sosial, yaitu sebesar 97,4% atau sebesar 192,7 juta jiwa (APJII, 2016).
Dari berbagai macam bentuk media sosial yang ada, jejaring sosial facebook menempati urutan utama sebagai jejaring sosial yang paling banyak di akses di Indonesia, yaitu sebesar 54% atau 71,6 juta jiwa. Sementara tempat kedua di tempati oleh Instagram dengan jumlah pengguna sebesar 15%
atau 19,9 juta jiwa (APJII, 2016). Selain itu, rata-rata durasi penggunaan jejaring sosial di Indonesia adalah sebesar 2 jam 51 menit (WeAreSocial, 2015). Hal ini membuktikan jejaring sosial merupakan konten media sosial yang paling banyak digemari dan pengguna internet di Indonesia paling banyak menghabiskan waktunya untuk konten ini.
Dapat dikatakan penggunaan jejaring sosial di Indonesia cukup intens dan maraknya penggunaan jejaring sosial di Indonesia juga bukanlah hal yang asing lagi. Mulai dari anak kecil hingga dewasa sudah sangat akrab dengan kemajuan teknologi ini. Akses yang mudah serta di dukung dengan hadirnya berbagai macam gadget dengan harga yang terjangkau di pasaran, semakin mendukung peningkatan penggunaan jejaring sosial di Indonesia. Jejaring sosial juga tidak hanya menghadirkan dampak positif, namun juga dapat menghadirkan dampak-dampak negatif bila digunakan secara berlebih. Khususnya bagi pelajar yang diketahui paling banyak menggunakan media sosial, yaitu dapat berpengaruh terhadap nilai dan performa seseorang dalam belajar, membuat distraksi saat belajar, dan membuat seseorang menjadi kurang produktif serta menjadi sering melakukan prokrastinasi (Wang, Chen, & Liang, 2011).
Untuk alasan mengapa seseorang menggunakan jejaring sosial adalah dikarenakan oleh alasan sosial dimana mereka membutuhkan jejaring sosial untuk tersambung dengan orang lain (Subrahmanyan, Reich, Stephanie, & Espinoza, 2008), selain itu juga diketahui bahwa terdapat lima faktor yang mendasari penggunaan jejaring sosial, dan salah satunya adalah faktor nilai fungsional, yaitu alasan seseorang menggunakan jejaring sosial dikarenakan untuk memenuhi tujuan maupun
Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun 2018, Vol. 7, pp. 19-29
kebutuhan yang ia miliki (Halikkainen, 2015), yang dimana hal tersebut dapat dihubungkan dengan fenomena fear of missing out. Pengertian fear of missing out sendiri adalah keinginan seseorang untuk terus tersambung dengan apa yang orang lain lakukan serta rasa cemas yang dirasakan apabila tertinggal dari yang lain (Przbylski, Murayama, Dehaan, & Gladwell, 2013), rasa cemas dan takut apabila tertinggal tersebut dikarenakan tidak terpenuhinya kebutuhan seseorang akan kompetensi, autonomi, dan relatedness, yang kemudian membuat seseorang ingin terus tersambung dan salah satu cara untuk memenuhinya adalah dengan menggunakan jejaring sosial.
Beberapa penelitian menyatakan bahwa fear of missing out memiliki hubungan dengan penggunaan jejaring sosial. Salah satunya menyatakan bahwa semakin besar tingkat fear of missing out seseorang maka akan semakin besar ketertarikan mereka dalam menggunakan media sosial (Al- Menayes, 2016). Kemudian penemuan lain juga mendukung adanya hubungan antara fear of missing out dengan penggunaan jejaring sosial, dari penemuantersebut dinyatakan bahwa fear of missing out berasosiasi dengan tingkat penggunaan Facebook, dan semakin tinggi tingkat fear of missing out yang dimiliki seseorang maka semakin sering ia menggunakan Facebook dalam kehidupannya sehari-hari (Przbylski, Murayama, Dehaan, & Gladwell, 2013), sementara itu diketahui juga bahwa penggunaan jejaring sosial secara signifikan berasosiasi dengan fear of missing out, selain itu juga diketahui semakin meningkatnya penggunaan Facebook maka juga dapat mengindikasikan meningkatnya level fear of missing out seseorang (Buglass, Binder, Betts, & Underwood, 2017), dari pernyataan tersebut juga dapat dikatakan bahwa penggunaan jejaring sosial juga dapat memperparah atau berhubungan dengan fear of missing out yang dimiliki oleh seseorang. Hal ini dapat dikatakan sesuai dengan penelitian dari Fuster yang menyatakan bahwa seseorang yang memiliki level fear of missing out yang tinggi akan memiliki keinginan untuk tersambung melalui jejaring sosial, dan penggunaan jejaring sosial tersebut juga dapat memicu atau meningkatkan level fear of missing outyang dimiliki, dikarenakan meningkatnya tingkat awareness seseorang yang disebabkan oleh banyaknya kemungkinan untuk berinteraksi melalui penggunaan jejaring sosial (Fuster, Chamarro, & Oberst, 2017), sehingga dapat disimpulkan fear of missing out dengan intensitas penggunaan jejaring sosial memiliki hubungan yang timbal balik. Namun, dalam penelitian ini peneliti akan lebih berfokus pada hubungan antara fear of missing out dengan intensitas penggunaan jejaring sosial.
Berdasarkan data-data diatas dapat diketahui bahwa mahasiswa merupakan pengguna jejaring sosial terbanyak, selain itu rata-rata waktu penggunaanya juga cukup intens. Penggunaan yang intens tersebut juga diketahui memiliki dampak-dampak negatif yang berarti bagi pelajar pada khususnya, seperti prokrastinasi, distraksi, menurunnya performa akademik, dll. Hal ini mendasari peneliti untuk menyambungkannya dengan fenomena fear of missing out, karena salah satu alasan seseorang menggunakan jejaring sosial adalah untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan tertentu, dan fear of missing out terjadi ketika kebutuhan seseorang akan otonomi, relatedness, dan kompetensi tidak tercapai. Kebutuhan-kebutuhan tersebut juga berhubungan dengan tugas perkembangan seorang mahasiswa yang berada pada tahap remaja akhir dan dewasa awal, yaitu kebutuhan untuk membentuk identitas dan menciptakan (intimasi) hubungan relasi yang intim (Santrock, 2013). Oleh karena itu mahasiswa yang sekiranya mengalami fear of missing out sebaiknya berusaha untuk mencapai tugas-tugas perkembangannya dengan cara yang lebih tepat, karena dengan mencoba mengatasinya dengan menggunakan jejaring sosial secara intens juga dapat berdampak negatif performa belajarnya, serta penggunaan jejaring sosial juga diketahui dapat memperparah fear of missing out yang dimiliki.
Jejaring Sosial
Jejaring sosial adalah pelayanan berbasis web yang memudahkan seseorang untuk membentuk profil publik maupun semi publik sehingga penggunanya dapat berbagi pandangan, koneksi, dan saling berhubungan melalui suatu sistem (Boyd & Ellison, 2007) Pendapat lain dari menyatakan
Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun 2018, Vol. 7, pp. 19-29
bahwa jejaring sosial adalah suatu tempat dimana orang-orang dapat saling bertukar informasi, berbagi status, dan menghibur dirinya (Clemons, 2009).
Intensitas Jejaring Sosial
intensitas penggunaan jejaring sosial adalah seberapa besar frekuensi dari penggunaan serta durasi yang dihabiskan dalam menggunakan layanan jejaring sosial dan ikatan emosional pengguna terhadap jejaring sosial yang ia gunakan (Salehan & Negahban, 2013).
Fear of Missing Out
Fear of Missing out dapat diartikan sebagai ketakutan atau kecemasan seseorang ketika ia melihat orang lain memiliki hal yang lebih dari yang ia miliki (Przbylski, Murayama, Dehaan, &
Gladwell, 2013). Pengertian lain dari fear of Missing out adalah perasaan tidak tenang dan peraaan yang selalu terpikirkan (perasaan kompulsif) ketika seseorang mengetahui teman sebayanya maupun orang lain memiliki hal yang lebih dibandingkan dirinya, baik itu berupa pengetahuan, pengalaman, benda kepemilikan, dan hal-hal yang dilakukan. Pada dasarnya, fakta bahwa seseorang sangat memperhatikan apa yang orang lain lakukan dan pikirkan berhubungan dengan perasaan tertinggal (FoMO), yaitu takut akan apa yang orang lain pikirkan terhadap kehidupannya (JWTIntelligence, 2012). Sehingga dapat disimpulkan bahwa FoMO adalah rasa takut atau gelisah yang dirasakan seseorang ketika ia melihat atau mengetahui orang lain ataupun teman sebayanya memiliki sesuatu yang lebih dibandingkan dengan yang ia miliki. FoMO dapat dijelaskan melalui teori Self Determination yaitu ketika kebutuhan akan self seseorang tidak dapat terpenuhi maka akan berujung pada terjadinya FoMO (Przbylski, Murayama, Dehaan, & Gladwell, 2013). Pengertian Self Determination Theory adalah bagaimana seseorang dapat mengambil dan mengatur suatu tindakan. Teori ini juga dapat menjelaskan motivasi intrinsik seseorang dalam mengambil suatu keputusan.
M E T O D E
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif non-experiment dengan rancangan penelitian korelasional yaitu penelitian yang mengkaji hubungan antara variabel fear of missing out dengan intensitas penggunaan jejaring sosial pada mahasiswa. Populasi pada penelitian ini mahasiswa yang berusia 18-25 tahun. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yaitu cara memilih sampel dalam populasi yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan berdasarkan karakteristik dari seluruh subjek dalam populasi (Nursalam, 2013). Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian survei. Data diperoleh dari hasil survei yang dilakukan sebelumnya. Kemudian peneliti melakukan analisis korelasional dari data yang telah diperoleh.
Kriteria subjek yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah mahasiswa universitas Airlangga Menggunakan jejaring sosial berjenis social connection (Facebook, Twitter, Google Plus/G+, MySpace, Line, Whatsapp) atau multimedia sharing (Youtube, Flickr, Picasa, Instagram), dan menggunakan jejaring sosial tersebut selama lebih dari 2 jam dan mengeceknya lebih dari 7 kali dalam sehari.Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala fear of missing out dari Przbyslki yang terdiri dari 10 aitem dan skala intensitas jejaring sosial dari Salehan & Negahban yang terdiri dari 5 aitem. Kedua skala tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan bantuan penerjemah dengan teknik back to back translation, yaitu teknik adaptasi skala yang dilakukan dengan menerjemahkan skala dari bahasa asli ke bahasa yang ingin digunakan, dan kemudian hasil penerjemahan tersebut di terjemahkan lagi ke bahasa aslinya (Shiraev & Levy, 2004). Setelah diterjemahkan dan di uji validitasnya dengan bantuan expert judgement, skala di uji cobakan untuk mengetahui jumlah reliabilitasnya. Kemudian diketahui untuk skala fear of missing out nilai reliabilitasnya adalah sebesar 0,876 dan skala intensitas penggunaan jejaring sosial dengan reliabilitas sebesar 0,840.
Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun 2018, Vol. 7, pp. 19-29
H A S I L P E N E L I T I A N
Berdasarkan tabel dibawah dapat dijelaskan bahwa dari 61 subjek penelitian, skor minimal yang diperoleh dari skala fear of missing out adalah 13 dan skor maksimalnya adalah 44. Kemudian skor rata-rata pada skala fear of missing out adalah sebesar 28,85. Sedangkan pada skala intensitas penggunaan jejaring sosial, skor minimal yang diperoleh adalah sebesar 15 dan skor maksimal sebesar 35, serta dengan rata-rata sebesar 26,1967.
Tabel 1. Statistika Deskriptif
Berdasarkan data tersebut peneliti mengkategorikan subjek berdasarkan skor yang dimiliki. Penormaan yang dilakukan pada tiap-tiap variabel dilakukan dengan cara membuat
kategori skor fear of missing out dan intensitas penggunaan jejaring sosial ke dalam 5 standar penilaian, dan dikelompokkan dalam kategori yaitu, ‘sangat tinggi’, ‘tinggi’, ‘sedang’, ‘sangat rendah’, dan, ‘rendah’ (Azwar, 2007). Berdasarkan penormaan diatas didapatkan kategori- kategori responden sebagi berikut:
Statistik Deskriptif
N Min Max Std. Dev
Total FoMO 61 13.00 44.00 28.8525
Total Ins
61 15.00 35.00 26.1967
Valid N (List) 61
Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun 2018, Vol. 7, pp. 19-29
Tabel 2. Kategori Subjek Berdasarkan Penormaan pada Skala Fear of Missing Out dan Jenis Kelamin
Berdasarkan tabel 2, dapat dilihat bahwa subjek dengan jenis kelamin laki-laki tidak ada yang berada dalam kategori rendah ataupun sangat tinggi pada skala fear of missing out ini, namun kebanyakan subjek laki-laki berada di kategori tinggi. Sedangkan pada subjek perempuan paling banyak berada di kategori sedang dan tinggi, namun masih ada yang berada di kategori rendah dalam skala fear of missing out.
Tabel 3. Kategori Skor Subjek Berdasarkan Penormaan pada Skala Intensitas Penggunaan Jejaring Sosial dan Jenis Kelamin
S. R R S T S. T Total
Laki-Laki 0 2 4 1 2 9
Perempuan 5 10 18 5 14 52
Total 5 12 22 6 16 61
Kemudian pada tabel 3, dapat dilihat bahwa subjek dengan jenis kelamin laki-laki tidak ada yang berada di kategori sangat rendah pada skala intensitas penggunaan jejaring sosial, dan hanya dua orang yang berada di kategori rendah, sedangkan pada subjek perempuan terdapat 15 orang yang berada di kategori rendah dan sangat rendah.
S. R R S T S. T Total
Laki-Laki 0 1 2 6 0 9
Perempuan 6 12 20 11 3 52
Total 6 13 22 17 3 61
Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun 2018, Vol. 7, pp. 19-29
Selanjutnya adalah uji normalitas, uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah nilai residual berdistribusi normal atau tidak. Jika nilai signifikansi > 0,05 maka data dapat dikatakan berdistribusi normal (Santoso, 2002). Berdasarkan uji normalitas dengan kolmogorov-smirnov didapatkan signifikansi sebesar 0,069. Sehingga dapat dikatakan data berdistribusi normal. Lalu uji linieritas, yaitu uji yang bertujuan untuk mengetahui bentuk hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Suatu data dapat dikatakan bersifat linier apabila memiliki nilai signifikansi sebesar < 0,05 (Santoso, 2002), melalui hasil uji linearitas didapatkan signifikansi sebesar 0,001 yang dimana jumlahnya lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat dikatakan data ini termasuk ke dalam data yang linier.
Berdasarkan uji korelasi dengan menggunakan teknik korelasi Pearson yang dilakukan dengan bantuan SPSS 22, didapatkan signifikansi sebesar 0,00, yang dimana lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat dikatakan variabel independen dan dependen dalam penelitian ini memiliki korelasi. Kemudian nilai Pearson correlation yang didapatkan adalah sebesar 0,459 yang yang berarti hubungan derajat korelasi antar variabel termasuk dalam korelasi yang bersifat cukup kuat dan termasuk ke dalam jenis korelasi yang positif (Pallant, 2005).
D I S K U S I
Apabila didasarkan pada alasan yang mendasari seseorang dalam menggunakan jejaring sosial dapat dikatakan banyak alasan yang dapat mendasari hal tersebut, ada yang menggunakan jejaring sosial dikarenakan fungsinya sebagai media hiburan, untuk berbagi berita maupun informasi, untuk terus tersambung dengan orang lain, dan masih banyak lagi.
Lalu apabila dilihat berdasarkan faktor-faktor yang mendasari intensnya penggunaan jejaring sosial, juga terdapat banyak faktor yang mempengaruhi penggunaan jejaring sosial seseorang, salah satunya adalah faktor nilai fungsional yang berarti penggunaan jejaring soisal dikarenakan adanya tujuan yang ingin dicapai dari penggunaan jejaring sosial tersebut, dan hal tersebut dapat dikatakan cukup berhubungan dengan fear of missing out yang dikarakterisasikan dengan keinginan untuk terus tersambung.
Pengkarakterisasian seseorang yang mengalami fear of missing out dengan keinginan
terus tersambung dikarenakanrasa cemas dan takut yang mereka rasakan ketika tertinggal
Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun 2018, Vol. 7, pp. 19-29
dari yang lain (FoMO), perasaan FoMO tersebut dikarenakan tidak terpenuhinya kebutuhan seseorang akan kompetensi, otonomi, dan relatedness (tiga kebutuhan dasar yang diambil dari teori self determinasi), (Przbylski, Murayama, Dehaan, & Gladwell, 2013) Tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebutkemudian dapat memotivasi seseorang untuk mengambil suatu tindakan, salah satunya adalah menggunakan jejaring sosial untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tadi.
Penelitian ini sendiri bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara fear of missing out dengan intensitas penggunaan jejaring sosial khususnya pada mahasiswa Universitas Airlangga. Berdasarkan hasil yang didapatkan dari analisis deskriptif, diketahui subjek paling banyak berjenis kelamin perempuan, selain itu jenis jejaring sosial yang paling banyak digunakan dalam penelitian ini adalah jejaring sosial Line, yang kemudian diikuti oleh Instagram pada tempat kedua. Untuk pengkategorian subjek berdasarkan skor penormaan, pada variabel fear of missingout kebanyakan subjek termasuk ke dalam kategori sedang, begitu juga pada variabel intensitas penggunaan jejaring sosial, dan walaupun dalam menyaring subjek peneliti menentukan subjek yang termasuk dalam kategori pengguna jejaring sosial berat, masih ada subjek yang termasuk ke dalam kategori sangat rendah dan rendah dalam pengisian skala intensitas yaitu sejumlah 17 orang, hal ini bisa jadi dikarenakan rendahnya skor mereka dalam dimensi ikatan emosional terhadap situs jejaring sosial, sedangkan kriteria pengguna jejaring sosial berat hanya didasarkan kepada frekuensi dan durasi penggunaan jejaring sosial. Sehingga dapat dikatakan pada penelitian ini tidak semua subjek yang termasuk dalam kategori pengguna berat jejaring sosial, memiliki ikatan emosional yang tinggi terhadap situs jejaring sosial yang mereka gunakan.
Lalu peneliti juga menganalisis secara deksriptif skor pengkategorian berdasarkan
penormaan stanfive dengan jenis kelamin untuk mengetahui persebaran skor berdasarkan
jenis kelamin, hal ini dikarenakan peneliti menemukan bahwa seluruh subjek dengan jenis
kelamin laki-laki pada penelitian ini tidak ada yang berada dalam kategori sangat rendah
dalam skala FoMO, sedangkan subjek dengan jenis kelamin perempuan masih ada beberapa
yang berada dikategori sangat rendah.Namun dikarenakan lebih banyaknya subjek
Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun 2018, Vol. 7, pp. 19-29
perempuan dibandingkan laki-laki pada penelitian ini peneliti merasa hasil yang didapat tersebut belum tentu berhubungan.
Kemudian melalui hasil analisis data yang dilakukan dengan teknik korelasi Pearson diketahui bahwa terdapat hubungan antara fear of missing out dengan intensitas penggunaan jejaring sosial, hal tersebut ditunjukkan melalui hasil signifikansi sebesar 0,00 yang berarti lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat dikatakan variabel independen dan dependen dalam penelitian ini memiiliki korelasi. Selanjutnya, hubungan antara variabel fear of missing out dengan intensitas penggunaan jejaring sosial termasuk ke dalam hubungan yang cukup kuat, dibuktikan melalui hasil Pearson Correlation yang sebesar 0,459. Sehingga dapat dikatakan hubungan yang dimiliki variabel dalam penelitian ini termasuk ke dalam hubungan yang positif dan memiliki sifat yang cukup kuat, yang berarti semakin tinggi level fear of missing out seseorang maka intensitas penggunaan jejaring sosial jugaakan cenderung tinggi.
Berdasarkan hasil tersebut dapat dikatakan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak yaitu terdapat hubungan antara variabel fear of missing out dengan intensitas penggunaan jejaring sosial, dimana hasil tersebut cukup serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Wortham yang menyatakan FoMO adalah gabungan dari perasan terganggu, cemas, dan perasaan kekurangan akan dirinya sendiri yang bila dialami oleh seseorang dan dampak dari hal tersebut kedepannya akan semakin meningkatnya penggunaan media sosial (Abel, Buff, &
Burr, 2016). Penelitian lain dari Przbylski juga dapat dikatakan mendukung hal ini, dimana dalam penelitian tersebut dinyatakan bahwa terdapat hubungan antara FoMO dengan penggunaan jejaring sosial, dan diketahui juga bahwa FoMO berasosiasi dengan tingkat penggunaan Facebook, dan semakin tinggi tingkat FoMO yang dimiliki seseorang maka semakin sering ia menggunakan Facebook dalam kehidupannya sehari-hari (Przbylski, Murayama, Dehaan, & Gladwell, 2013).
S I M P U L A N
Berdasarkan pembahasan yang sudah dijabarkan sebelumnya dapat disimpulkan
bahwa, terdapat hubungan yang signifikan antara variabel fear of missing out dengan
intensitas penggunaan jejaring sosial, dan hubungan yang dimiliki oleh kedua variabel
Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun 2018, Vol. 7, pp. 19-29
tersebut dapat dikatakan cukup kuat dan termasuk kedalam hubungaan yang positif, sehingga dapat dikatakan bahwa dalam penelitian ini Ha diterima dan Ho ditolak, yang dimana hal ini berarti semakin tinggi tingkat fear of missing out yang dimiliki seseorang maka tingkat intensitas penggunaan jejaring sosial yang dimiliki akan cenderung tinggi juga.
P U S T A K A A C U A N
Abel, J., Buff, L., & Burr, S. (2016). Social Media and the Fear of Missing Out: Scale Development and Assesment. Journal of Business & Economic Research , 33-44.
Al-Menayes, J. (2016). The Fear of Missing Out Scale : Validation of The Arabic Version and Correlation With Social Media Addiction . International Journal of Applied Psychology , 41-46.
APJII. (2016). Survei Internet Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.
Azwar, S. (2007). Metode Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Belajar.
Boyd, D., & Ellison, N. B. (2007). ‘Social Network Sites: Definition, History, and Scholarship.
Journal of Computer-Mediated Communication , 210–230.
Buglass, S. L., Binder, J. F., Betts, L. R., & Underwood, J. D. (2017). Motivators of online vulnerability: The impact of social network site use and FOMO. Computers in Human Behavior , 248-255.
Clemons, E. (2009). The complex problem of monetizing virtual electronic social networks . Decision Support Systems , 46–56.
Fuster, H., Chamarro, A., & Oberst, U. (2017). Fear of Missing Out, online social networking and mobile phone addiction: A latent profile approach. Revista de Psicologia. Ciències de l’Educació i de l’Esport , 23-30.
Halikkainen, P. (2015). Why People Use Social Media Platforms: Exploring the Motivations and Consequences of Use. From Information to Smart Society , 9-17.
JWTIntelligence. (2012). Fear of Missing Out: March Update.
KOMINFO. (2014). Pengguna Internet Indonesia Nomor Enam Dunia. Retrieved April 24, 2017, from https://kominfo.go.id: https://kominfo.go.id/content/detail/4268/pengguna- internet-indonesia-nomor-enam-dunia/0/sorotan_media
Nursalam. (2013). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan (3th ed.). Jakarta: Salemba Medika.
Pallant, J. (2005). SPSS Survival manual : a step by step guide to data analysis using SPSS for Windows. Australia: Allen & Unwin.
Przbylski, A., Murayama, K., Dehaan, C., & Gladwell, V. (2013). Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out. Computers in Human Behavior , 1841- 1848.
Salehan, M., & Negahban, A. (2013). Social networking on smartphones: When mobile phones become addictive. Computers in Human Behavior , 2632–2639.
Santoso, S. (2002). Statistik Multivariat. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Santrock, J. (2013). Life-span Development 14th ed. New York. New York: McGraw-Hill
Companies, Inc.
Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Tahun 2018, Vol. 7, pp. 19-29