• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Remaja adalah masa terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang cepat selain 1000 hari pertama kehidupan. Hampir separuh dari total pertumbuhan dan perkembangan seseorang terjadi selama masa remaja. Menurut Wahl (1999), selama masa remaja terjadi sebanyak 50% penambahan berat badan, 50%

penambahan massa otot dan tulang, dan 20% penambahan tinggi badan. Remaja identik dengan pubertas dan perubahan secara fisik, di mana perubahan tersebut berlangsung secara cepat dalam sekuen yang teratur dan berkelanjutan.

Puncak pertumbuhan tertinggi pada wanita terjadi saat usia 10-13 tahun (Wardlaw et al., 2012: 639). Pada periode remaja pertengahan, perubahan yang terjadi mulai memasuki fase stabil. Selain itu, terjadi perubahan secara seksualitas, yaitu mulai ada perhatian lebih pada penampilan, tertarik terhadap lawan jenis, memperhatikan kelompok lain, dan mulai memiliki konsep role model (Batubara, 2010). Menurut Parker (2000), citra tubuh adalah gambaran dan penilaian seseorang dipengaruhi oleh konsep diri dan penghargaan terhadap dirinya.

Perhatian remaja terhadap citra tubuh mulai tampak pada awal masa remaja (12-15 tahun), dan meningkat secara signifikan pada remaja pertengahan dan remaja akhir (Levine & Smolak, 2002: 75).

Prevalensi ketidakpuasan terhadap citra tubuh marak terjadi khususnya di negara-negara berkembang. Sebanyak 50-80% remaja di negara berkembang menginginkan dirinya terlihat kurus, dan 20-60% diantaranya melakukan diet untuk mencapai tujuan tersebut (Levine & Smolak, 2002: 74). Penelitian di Universitas Zayed Arab Saudi, terdapat 74,8% remaja putri merasa tidak puas dengan citra tubuhnya (Thomas et al., 2010). Menurut Mousa et al. (2010a), sebanyak 21,2%

remaja mengalami ketidakpuasan citra tubuh dan 40,5% diantaranya mengalami gangguan perilaku makan. Penelitian di Indonesia, di Kota Palangkaraya terdapat 59,7% remaja usia 16-18 tahun merasa tidak puas dengan citra tubuhnya (Aprilianti,

(2)

2011). Sedangkan pada siswi SMP 8 di DIY terdapat 70% siswi dengan status gizi normal dan 96,8% kurus mengalami fenomena ketidakpuasan citra tubuh dan gangguan perilaku makan (Rahayu, 2012).

Tingginya angka prevalensi ketidakpuasan citra tubuh di dunia akhir-akhir ini tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi. Menurut Dohnt & Tiggemann (2006); Chisuwa & O’Dea (2010); Mousa et al. (2010a), beberapa faktor yang mempengaruhi citra tubuh adalah faktor usia, berat badan, media, figure idola, peers group, dan keluarga. Berdasarkan data Riskesdas (2013), prevalensi gemuk di Jawa Timur pada usia 6-12 tahun, 13-15 tahun, dan 16-18 tahun berturut-turut adalah 9,2%, 10,8%, dan 7,3%. Ketidakpuasan citra tubuh seringkali dikaitkan dengan obesitas (Caccavele et al., 2012), tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi pada kelompok dengan status gizi normal dan kurang. Penelitian di China pada anak usia 3-15 tahun, sebanyak 20,9% yang berstatus gizi kurang mengalami ketidakpuasan citra tubuh.

Pondok pesantren adalah tempat pendidikan dan pengajaran yang menekankan pembelajaran Agama Islam. Murid yang biasa disebut santri menetap dalam satu tempat secara bersama, dengan jumlah orang perkamar 15-20 santri.

Lingkungan yang hampir seluruhnya remaja dengan intensitas interaksi sangat tinggi, dapat menjadi faktor timbulnya persepsi terhadap citra tubuh. Penelitian yang dilakukan Linville et al. (2011); Chisuwa & O’Dea (2009), menyatakan bahwa peers group merupakan faktor risiko terjadinya ketidakpuasan citra tubuh.

Survey Nasional yang dilakukan di Jepang pada tahun 2002 diketahui bahwa 65,8%

remaja perempuan usia 15-19 tahun merasa dirinya lebih gemuk dibandingkan dengan remaja lainnya.

Pondok pesantren identik dengan kehidupan yang sederhana dan akses terhadap dunia luar terbatas (Hidayat, 2012), baik berupa akses makanan cepat saji maupun akses media televisi. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan terjadi fenomena ketidakpuasan citra tubuh. Fitrah wanita menginginkan tampil sempurna dan lebih dibanding wanita yang lain. Menurut Suprapto (2013) adanya figure yang menjadi contoh, standar sosial tentang cantik pada wanita dan intensitas

(3)

interaksi yang tinggi menyebabkan santri rentan mengalami krisis kepercayaan diri dan ketidakpuasan terhadap citra tubuh.

Menurut Jawarowska & Bazylak (2009); Thomas et al. (2010), ketidakpuasan citra tubuh berhubungan secara signifikan dengan perilaku makan yang salah.

Remaja yang mengalami ketidakpuasan citra tubuh berisiko 3,6 kali lebih besar mengalami gangguan perilaku makan (Mousa et al., 2010a). Pengetahuan mempengaruhi seseorang dalam berperilaku dan memilih makanan. Menurut Salmiati (2012), santri cenderung memenuhi asupan makanan dengan jenis makanan yang disukai tanpa memperhitungkan kebutuhan zat gizi yang dibutuhkan. Dalam penelitiannya yang dilakukan di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang, sebanyak 15,4% santri memiliki tingkat pengetahuan gizi dasar yang kurang, 60% sedang, dan 24,6% baik. Jika tidak didukung dengan pengetahuan tentang gizi yang cukup, maka seseorang yang mengalami ketidakpuasan citra tubuh akan melakukan praktek pola makan yang salah untuk meningkatkan atau menurunkan berat badan dan berpengaruh terhadap status gizi.

Pemenuhan kebutuhan gizi penting bagi remaja untuk menunjang masa petumbuhan dan perkembangan. Adanya fenomena citra tubuh dan pengaruhnya terhadap perilaku makan santri akan berpengaruh juga terhadap status gizi. Hal ini menjadi dasar penelitian yang akan dilakukan dengan tujuan membuktikan apakah angka prevalensi ketidakpuasan citra tubuh di pondok pesantren dengan minimnya beberapa akses terhadap faktor risiko tetap tinggi. Selain itu, untuk mengetahui apakah ada hubungan ketidakpuasan citra tubuh dan perilaku makan dengan status gizi santri putri.

(4)

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka masalah yang ada dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah ada hubungan ketidakpuasan citra tubuh dengan perilaku makan santri putri di Pondok Pesantren Mubtadi aat Lirboyo, Kediri.

2. Apakah ada hubungan antara perilaku makan dengan status gizi santri putri di Pondok Pesantren Mubtadi aat Lirboyo, Kediri.

3. Apakah ada hubungan antara ketidakpuasan citra tubuh dengan status gizi santri putri di Pondok Pesantren Mubtadi aat Lirboyo, Kediri.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan ketidakpuasan citra tubuh dan perilaku makan dengan status gizi santri putri di Pondok Pesantren Mubtadi aat Lirboyo, Kediri.

2. Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui prevalensi ketidakpuasan citra tubuh, perilaku makan, dan status gizi santri putri di Pondok Pesantren Mubtadi aat Lirboyo, Kediri.

b. Untuk mengetahui proporsi ketidakpuasan citra tubuh berdasarkan golongan usia santri putri di Pondok Pesantren Mubtadi aat Lirboyo, Kediri.

c. Menganalisis hubungan ketidakpuasan citra tubuh dengan perilaku makan santri putri di Pondok Pesantren Mubtadi aat Lirboyo, Kediri.

d. Menganalisis hubungan perilaku makan dengan status gizi santri putri di Pondok Pesantren Mubtadi aat Lirboyo, Kediri.

e. Menganalisis hubungan ketidakpuasan citra tubuh dengan status gizi santri putri di Pondok Pesantren Mubtadi aat Lirboyo, Kediri.

(5)

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi remaja putri khususnya di Pondok Pesantren Mubtadi aat Lirboyo, diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang ketidakpuasan citra tubuh dan pengaruh yang dapat ditimbulkan pada perubahan perilaku makan dan status gizi.

2. Bagi Ditjen Pendidikan Islam Kementrian Agama, dan dinas kesehatan Kota Kediri diharapkan hasil penelitian ini dapat sebagai sumber informasi dan masukan dalam perencanaan program terkait perkembangan remaja, citra tubuh, dan gizi.

3. Bagi penelitian selanjutnya, diharapkan dapat sebagai sumber informasi dan dapat menggali lebih dalam tentang citra tubuh, ketidakpuasan citra tubuh, dan hubungannya dengan perilaku makan pada remaja putri.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian terkait citra tubuh dan perilaku makan pada remaja telah banyak dilakukan, tetapi perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yang paling mendasar adalah populasi subyek penelitian dan lokasi. Penelitian dilakukan pada remaja di dalam pondok pesantren, di mana pondok identik dengan kesederhanaan dan keterbatasan. Sedangkan beberapa persamaan dengan penelitian sebelumnya adalah variabel penelitian yaitu ketidakpuasan citra tubuh, perilaku makan, dan status gizi. Perbedaan dan persamaan dengan penelitian-penelitian sebelumnya dapat dilihat pada Tabel 1.

(6)

6 Tabel 1. Keaslian Penelitian

No Nama/Tahun Judul penelitian Hasil Persamaan penelitian Perbedaan penelitian

1. Mousa T. et al.

(2010a)

Body Image

Dissatisfaction Among Adolescent Schoolgirls in Jordan

1. 21,2% mengalami ketidakpuasan citra tubuh dan 53% diantaranya mengalami gangguan perilaku makan.

2. Remaja yang memiliki ketidakpuasan terhadap citra tubuhnya berisiko 3,6 kali lebih besar mengalami gangguan perilaku makan.

3. Terdapat hubungan antara gangguan perilaku makan dan BMI dengan ketidakpuasan citra tubuh.

1. Menggunakan metode cross sectional

2. Variabel ketidakpuasan citra tubuh dan gangguan perilaku makan

3. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu BSQ-34 dan EAT-26.

1. Tujuannya untuk mengetahui faktor risiko yang mempengaruhi citra tubuh

2. Usia sampel penelitian yaitu 10-16 tahun

3. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah status gizi, sedangkan dalam jurnal ini adalah ketidakpuasan citra tubuh

2. Thomas J. et al. (2010)

Eating attitudes and Body Image Concerns Among Female

University Student in the United Arab Emirates

1. Sebanyak 74,8% merasa tidak puas dengan citra tubuhnya 2. Sebanyak 24,6% mahasiswi

mengalami gangguan perilaku makan

3. Terdapat hubungan antara mahasiswi yang tidak puas terhadap citra tubuhnya dengan gangguan perilaku makan (r = 0,27)

1. Menggunakan metode cross sectional

2. Variabel dan tujuan penelitian yaitu mengetahui hubungan antara gangguan perilaku

makan dengan

ketidakpuasan citra tubuh 3. Instrumen gangguan

perilaku makan

menggunakan EAT-26

1. Dilakukan pada 228 mahasiswi undergraduate dengan rataa-rata usia 19,84 tahun

2. Instrumen penilaian citra tubuh menggunakan FRS

3. You Z. et al.

(2013)

Body Dissatisfaction And Restrained Eating:

Terdapat hubungan antara citra tubuh dan pembatasan makanan (r = 0,543)

1. Metode yang digunakan yaitu cross sectional

1. Dilakukan pada 376 mahasiswi undergraduate

(7)

7

No Nama/Tahun Judul penelitian Hasil Persamaan penelitian Perbedaan penelitian

Mediating Effects of Self Esteem

2. Tujuan dan variabel penelitian

dengan rata-rata usia 19 tahun

3. Instrumen penilaian yaitu TFEQ-R18 (pembatasan makanan) dan NPSS-F (citra tubuh)

4 Wilson R.E. et al. (2013)

More Than Just Body Weight: The role of Body Image in Psychological and Physical Functioning

Terdapat hubungan antara status gizi dengan ketidakpuasan citra tubuh (r = 0,33 pada wanita dan r = 0,35 pada laki-laki)

1. Instrumen penilaian citra tubuh menggunakan BSQ 2. Variabel citra tubuh dan

status gizi (BMI)

Usia responden yaitu mahasiswi universitas dengan rata-rata usia 21 tahun

Referensi

Dokumen terkait

warga pondok pesantren baik pengurus maupun para santri yang ada di. pondok pesantren tersebut sehingga mereka lebih menjaga

Untuk mengetahui apakah ada pengaruh Shalat Dhuha terhadap ketenangan jiwa santri di Pondok Pesantren Tahaffudzul Qur’an Ngaliyan Semarang.. Manfaat yang diharapkan dari

Dengan disusunnya program bimbingan dan konseling pribadi sosial untuk meningkatkan citra tubuh positif pada remaja diharapkan bahwa peserta didik tidak akan mengalami

Pondok Pesantren sekarang bukan hanya mempelajari kitab-kitab kuning saja, akan tetapi sudah mulai banyak juga pondok yang terfokus ke pendidikan Alquran, di pondok yang berbasis

Berdasarkan hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa ada beberapa remaja santriwati penghafal Qur‟an di Pondok Pesantren BUQ Demak yang memiliki masalah dengan

Penelitian Sry Nurrohmah dengan judul “Manajemen Kurikulum di Pesantren” yang penelitiannya dilakukan di Pondok Pesantren Uswat un Hasanah Purwakarta menjelaskan

Kehidupan santri di pondok pesantren dalam bimbingan asatidz dan pengawasan pengasuh pondok pesantren mendukung pernyataan-pernyataan di atas bahwa perubahan

Hal ini sesuai dengan judul penelitian saya tentang “Gambaran Variasi Menu, Daya Terima dan Tingkat Kecukupan Zat Gizi Santri Putri Di Pondok Pesantren HM Lirboyo Papar Kabupaten