1 BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan luas lautan hampir 70% dari total luas wilayahnya, memiliki keberagaman dan kekayaan sumber daya laut yang berlimpah. Pemanfaatan potensi perikanan dan kelautan tersebut dapat mengakselarasi pembangunan di kawasan pesisir, mendorong perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Saat ini potensi sumberdaya laut pada sektor perikanan tangkap Indonesia mencapai 6,4 juta ton per tahun, dan perikanan tangkap di laut sekitar 4,7 ton per tahun (Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor KEP.18/MEN/2011 Tentang Pedoman Umum Minapolitan). Potensi sumber daya laut dan pesisir tersebut sangat besar, akan tetapi belum dimanfaatkan secara optimal.
Melihat besarnya potensi perikanan dan kelautan tersebut, Indonesia menetapkan visi untuk menjadi poros maritim dunia. Untuk mewujudkan visi tersebut dibutuhkan transformasi paradigma dan tata kelola wilayah laut dan pesisir. Arah visi tersebut pun berkesinambungan dengan pergeseran peradaban Yogyakarta dengan berbaliknya paradigma among tani menjadi dagang layar. Pergeseran paradigma ini mendorong orientasi pembangunan di Yogyakarta yang mulanya berbasis daratan menjadi maritim dengan menempatkan laut selatan tidak lagi menjadi halaman belakang, akan tetapi sebagai halaman depan dalam pembangunan. Konsepsi strategis among tani dagang layar didukung dengan kebijakan ekonomi nasional dengan ditempatkannya Kabupaten Kulon Progo dalam koridor delapan pada program MP3EI.
Salah satu strategi pengembangan sektor perikanan dan kelautan sebagai perwujudan visi tersebut adalah melalui program minapolitan. Menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. Kep. 18/Men/2011 tentang Pedoman Umum Minapolitan,
2
“Minapolitan adalah konsepsi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis kawasan berdasarkan prinsip-prinsip terintegrasi, efisiensi, berkualitas dan percepatan…. Kawasan minapolitan adalah suatu bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi, pengolahan, pemasaran komoditas perikanan, pelayanan jasa, dan/atau kegiatan pendukung lainnya. Minapolitan direncanakan sebagai basis industrialisasi kelautan dan perikanan melalui integrasi hulu hilir yang dapat meningatkan nilai tambah produk kelautan dan perikanan”
Dari pengertian tersebut, minapolitan dapat disimpulkan sebagai strategi percepatan pembangunan ekonomi pada sektor kelautan dan perikanan dengan pembangunan berbasis kawasan yang terintegrasi pada masing-masing fungsi kawasannya.
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi dengan luas daerah dan sumber daya alam yang relatif kecil sehingga untuk mendukung perekonomian daerah harus memiliki inovasi dalam pemanfaatan potensi yang ada. Sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu sektor potensial dan berpeluang besar untuk ditingkatkan dari berbagai sektor dan sub-sektor yang ada. Penggalian sumberdaya perikanan dan kelautan tersebut diharapkan dapat memicu perkembangan kawasan pesisir di Yogyakarta dan menciptakan pertumbuhan pada sektor lainnya (multiplier effect).
Yogyakarta mempunyai panjang pantai Samudra Indonesia kurang lebih 110 km dan memiliki 19 titik lokasi pendaratan ikan yang lima diantaranya berlokasi di Kabupaten Kulon Progo yakni Desa Trisik, Bugel, Karangwuni, Glagah dan Congot.
Adapun panjang pantai Kabupaten Kulon Progo sebesar 22,5 % dari keseluruhan panjang pantai di Yogyakarta atau berada pada kisaran 24,8 km. Potensi lestari sumberdaya ikan dipantai DIY sebesar 3.400 ton per tahun, lepas pantai selatan Jawa sebesar 319.200 ton per tahun dan lepas pantai Samudera Indonesia sebesar 905.350 ton per tahun (AMDAL Pelabuhan Glagah-Karangwuni, 2006).
Salah satu wilayah yang memiliki potensi geostrategis karena berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia di bagian selatan adalah Kabupaten Kulon Progo. Lokasi strategis ini dapat menjadi keunggulan kompetitif karena memiliki
3 potensi sumber daya laut yang besar. Potensi perairan laut Kabupaten Kulonprogo meliputi wilayah teritorial dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). Akan tetapi sistem penangkapan ikan oleh nelayan di Kabupaten Yogyakarta belum menjangkau lepas pantai ZEEI. Keterbatasan sarana prasarana yang menyebabkan tidak optimalnya pemanfaatan sumber daya laut berdampak pada pertumbuhan dan pendapatan ekonomi di sektor perikanan yang sangat kecil, yaitu 0,065% terhadap PDRB Kabupaten Kulon Progo. Upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan di sektor perikanan dan kelautan adalah dengan dibangunnya pelabuhan sebagai ruang pendaratan hasil perikanan bagi armada dalam skala yang lebih besar, yaitu melalui pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarta. Pelabuhan Tanjung Adikarta telah selesai dibangun pada tahun 2013, namun karena hingga saat ini belum dapat beroperasi, sehingga dilakukan re-desain dan penyempurnaan pembangunan.
Pembangunan pelabuhan yang hingga saat ini masih berjalan harus didukung melalui perencanaan pengembangan kawasan secara terintegrasi dan berkelanjutan dengan elemen kegiatan lain yaitu kegiatan produksi perikanan, industri pengolahan serta kegiatan distribusi dan pemasaran. Pelabuhan Perikanan Tanjung Adikarta dapat menjadi sentra produksi dan perdagangan perikanan tangkap sebagai penggerak utama ekonomi di kawasan perencanaan minapolitan. Tiap-tiap simpul kegiatan ekonomi tersebut akan meningkatkan nilai tambah (value added), membuka peluang kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan baik bagi masyarakat kawasan tersebut maupun kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Perencanaan pengembangan kawasan pelabuhan ini memiliki rentang proyeksi ke masa depan yang sifatnya berkelanjutan, sehingga mampu mengantisipasi pertumbuhan perekonomian di masa mendatang. Konsep perencanaan pada kawasan ini menggunakan konsep sustainable minapolitan melalui integrasi fungsi dan kegiatan yang terdiri dari proses produksi, pengolahan dan pemasaran. Integrasi kawasan diwujudkan melalui perencanaan hulu ke hilir yang diharapkan dapat menjadi
4 penggerak percepatan pembangunan Kabupaten Kulonprogo melalui sektor kelautan dan perikanan.
Berlatar belakang hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya, rencana pengembangan ini dapat menjadi salah satu strategi dalam mewujudkan visi Indonesia dan Provinsi DIY. Master Plan Pelabuhan Tanjung Adikarta yang telah ada sebelumnya, belum disertai dengan rencana detail pengembangan pada kawasan di sekitarnya. Oleh karena itu, rencana pengembangan kawasan pelabuhan perlu disusun untuk mendorong beroperasi nya pelabuhan perikanan dan mewadahi kegiatan serta pertumbuhan sektor-sektor lainnya sebagai multiplier effect dari adanya kegiatan pelabuhan. Melalui rencana pengembangan sustainable minapolitan diharapkan kawasan pelabuhan mampu menjadi trigger perkembangan sektor lain di kawasan di sekitarnya, penguat perekonomian masyarakat pesisir di Kabupaten Kulon Progo dan peluang investasi berbasis sektor unggulan.
1.2 Permasalahan
Rumusan inti permasalahan yang terdapat dalam perencanaan ini yaitu terhambatnya pengembangan kawasan Pelabuhan Tanjung Adikarta. Terdapat beberapa faktor permasalahan yang mempengaruhi terhambatnya pengembangan kawasan pelabuhan, yaitu pertama belum beroperasinya Pelabuhan Perikanan Tanjung Adikarta, kedua keterbatasan infrastruktur, ketiga rendahnya skala produksi dan pasca produksi, keempat kurangnya fasilitas pendukung dan ragam kegiatan serta terakhir ancaman bencana dan kerusakan lingkungan. Apabila dalam rentang waktu kedepan tidak dilakukan rencana pengembangan pada kawasan pelabuhan, maka akan berakibat pada kuantitas produksi yang rendah sehingga tidak mampu memenuhi permintaan domestik terhadap hasil perikanan, kemudian tidak ada nya nilai tambah (value added) bagi masyarakat sekitar dari produksi perikanan, serta tidak terciptanya konektivitas di dalam dan luar kawasan.
5 Beroperasinya kegiatan pelabuhan perikanan Tanjung Adikarta akan mempengaruhi perkembangan wilayah sekitarnya. Apabila tidak diantisipasi dengan penyusunan perencanaan yang matang, maka perkembangan kawasan menjadi tidak terarah dan tidak mampu mencapai hasil yang optimal. Oleh karena itu, penyusunan rencana pengembangan diperlukan sebagai wadah bagi kegiatan dan pembangunan baik sektor di sektor perikanan maupun sektor-sektor lain yang muncul sebagai multiplier effect dari kegiatan pelabuhan perikanan Tanjung Adikarta.
1.3 Tujuan Perencanaan
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan diatas, maka perencanaan ini bertujuan untuk mendorong arah pengembangan kawasan pelabuhan perikanan melalui konsep sustainable minapolitan. Adapun perencanaan ini akan menghasilkan produk usulan berupa master plan pengembangan kawasan yang akan menjawab permasalahan sekaligus menggali potensi yang ada di Kawasan Pelabuhan Tanjung Adikarta. Untuk mewujudkan tujuan perencanaan, maka di dalam master plan dilakukan dua tahap perencanaan, yaitu :
1. Mengidentifikasi potensi penerapan konsep minapolitan pada Kawasan Pelabuhan Tanjung Adikarta, agar rencana yang disusun sesuai dengan karakteristik wilayah perencanaan.
2. Merencanakan Pengembangan Kawasan Pelabuhan Tanjung Adikarta sebagai kawasan sustainable minapolitan. Melalui konsep sustainable minapolitan, kawasan Pelabuhan Tanjung Adikarta dan hinterland nya direncanakan menjadi kota pelabuhan sebagai trigger pengembangan sektor kelautan sehingga menciptakan multiplier effect bagi sektor lainnya.
1.4 Manfaat Perencanaan
Berdasarkan tujuan perencanaan diatas maka adanya konsep minapolitan terintegrasi bagi kawasan Pelabuhan Tanjung Adikarta merupakan strategi pemecahan permasalahan yang ada di kawasan perencanaan. Hasil perencanaan ini diharapkan
6 dapat dijadikan bahan masukan dan pertimbangan bagi pemerintah, khususnya bagi Pemerintah Kabupaten Kulonprogo.
Kecamatan Wates khususnya Kawasan Pelabuhan Tanjung Adikarta telah ditetapkan dalam RTRW Kabupaten Kulonprogo sebagai kawasan minapolitan meliputi kawasan peruntukan penangkapan ikan, kawasan peruntukan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan, sarana dan prasarana penunjang kegiatan perikanan.
Namun dalam pelaksanaannya, kawasan ini belum memenuhi prinsip-prinsip dari kawasan minapolitan. Kunci dari pembangunan kawasan minapolitan adalah integrasi antar kegiatan di sektor kelautan dan perikanan melalui sistem hulu hilir. Dengan demikian, hasil perencanaan ini diharapkan dapat memperkuat konsep minapolitan sehinnga mampu mencapai tujuan dari program minapolitan itu sendiri.
1.5 Keluaran Produk Perencanaan
Produk keluaran dalam rencana pengembangan kawasan Pelabuhan Tanjung Adikarta sebagai sustainable minapolitan adalah Master Plan beserta produk rencana dengan bentuk peta, potongan maupun ilustrasi. Jenis keluaran dan rincian produk keluaran dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1.1 Keluaran Produk Perencanaan
Produk Rencana Peta Potongan Ilustrasi
Peta Rencana Guna Lahan 1 :10.000
Peta Rencana Zonasi 1 :10.000
Peta Rencana Perdagangan (Business
& Trade Center) 1 :10.000
Peta Rencana Wisata 1 :10.000
Peta Rencana Industri Pengolahan
Perikanan 1 :10.000
Peta Rencana Fasilitas Pendidikan 1 :10.000 Rencana Pola Lingkungan Hijau
(Green Pattern) 1 :10.000
7
Produk Rencana Peta Potongan Ilustrasi
Rencana Penampang Jalan Rencana Jalur Pejalan Kaki
Rencana Jalur Transportasi 1 :10.000 Rencana Jalur Evakuasi 1 :10.000 Rencana Sempadan Pantai
Rencana Zona Penangkapan Ikan
Rencana Jaringan Persampahan 1 :10.000 Rencana Jaringan Air Bersih 1 :10.000
Rencana Penahapan 1 :10.000
Sumber : Analisis Penulis, 2016
1.6 Ruang Lingkup Perencanaan 1.6.1 Fokus Perencanaan
Perencanaan kawasan menggunakan konsep minapolitan dengan Kawasan Pelabuhan Tanjung Adikarta sebagai pusat kegiatan perikanan, dan kota pelabuhan yang merupakan kawasan hinterland dijadikan sebagai trigger pengembangan wilayah yang lebih luas di sektor perikanan dan maritim.
Berdasarkan permasalahan yang telah disebutkan sebelumnya, maka fokus perencanaan bertumpu pada konsentrasi objek sebagai penyelesaian permasalahan yang ada di lokasi perencanaan, antara lain:
a. Tata Guna Lahan b. Sistem Pergerakan c. Jangkauan Pelayanan d. Sarana Prasarana e. Sistem Transportasi f. Konservasi
g. Potensi Perikanan
h. Perekonomian dan Sosial
8 1.6.2 Lokasi Perencanaan
Kawasan Pelabuhan Tanjung Adikarta sebagai kawasan inti (minapolis).
Penetapan lokasi perencanaan berdasarkan pada potensi geostrategis dan sumber daya laut, kesesuaian lahan, kelayakan lingkungan, potensi bencana serta sumber daya manusia yang dimiliki. Delineasi kawasan dilakukan menggunakan batasan fungsional, karena tidak semua wilayah yang ditentukan oleh kesesuaian guna lahan, economic of scale dan economic of scope, serta kesesuaian dengan Kawasan Strategis dalam RTRW Kabupaten Kulon Progo.
Muatan analisis yang dilakukan pada kawasan perencanaan terdiri dari 2 (dua) skala yaitu skala makro 1:100.000 meliputi Kabupaten Kulon Progo seluas 58.627 Ha dan skala mikro 1:25.000 yaitu Desa Karangwuni seluas 722,35 Ha, akan tetapi pada muatan rencana menggunakan batas kawasan fungsional seluas 160 Ha dengan skala 1:10.000, sehingga tidak meliputi seluruh batas administratif desa.
Gambar 1.1 Batas Kawasan Perencanaan
Sumber : Analisis Penulis, 2016
9 1.6.3 Periode Perencanaan
Perencanaan menggunakan basis data dengan kecenderungan 5 tahun terakhir yaitu 2010-2015. Implementasi perencanaan menggunakan jangka panjang dengan kurun waktu 20 tahun dengan mempertimbangkan proyeksi jangka pendek (5 tahun).
Pada periode lima (5) tahun pertama diasumsikan telah dilalui dengan terselesaikannya pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarta dan pembebasan lahan, sehingga periode pada pengembangan pada rencana ini memiliki kurun waktu 15 tahun.
1.7 Perencanaan terkait
Pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarta saat ini dilakukan oleh kerjasama lintas sektoral antara Pemerintah Provinsi Yogyakarta dan Kabupaten Kulon Progo.
Pada saat penulisan ini dilakukan, pembangunan pelabuhan perikanan telah mencapai 90%, namun secara keseluruhan belum mampu beroperasi karena belum terseleseaikannya pembangunan pemecah gelombang (breakwater). Sedangkan proses studi kelayakan mengenai lokasi pembangunan pelabuhan Tanjung Adikarta dilakukan oleh Pusat Studi Sumberdaya & Teknologi Kelautan Universitas Gadjah Mada.
Adapaun perencanaan dan penelitian yang berkaitan dengan perencanaan ini adalah sebagai berikut:
1. Potensi Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman,
Penelitian ini merupakan penelitian di Institut Teknologi Bandung yang dilakukan oleh Rukmono Marhamdan Dewi Sawitri Tjokropandojo pada tahun 2015 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pengembangan kawasan minapolitan berdasarkan persyaratan teknis maupun non teknis agar dapat menggerakkan perekonomian lokal. Lokasi penelitian terletak di Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman yang dinilai lambat berkembang. Metode yang digunakan adalah metode gabungan kualitatif dan kuantitatif dengan sifat penelitian deskriptif.
10 Berdasarkan hasil penelitian terdapat beberapa dukungan dasar keberadaan Kawasan Minapolitan yaitu: sumberdaya alam, sumberdaya manusia budidaya, dan dukungan pasar di Kawasan Minapolitan Kecamatan Berbah telah cukup mendukung.
Akan tetapi dalam beberapa dukungan yaitu dukungan sumberdaya manusia wirausahadan dukungan kelembagaan internal pembudidaya ikan terdapat beberapa komponen yang belum mendukung. Kelemahan dari beberapa dukungan tersebut berakibat tidak berjalannya sistem Minapolitan sesuai dengan konsep Minapolitan yang seharusnya.
2. Perencanaan Pengembangan Wilayah Kawasan Minapolitan Budidaya di Gandusari Kabupaten Blitar
Penelitian ini dilakukan oleh Wirastika Adhihapsari Bambang Semedi, Mohammad Mahmudi dengan tujuan mendapatkan rekomendasi rencana strategis pengembangan wilayah kawasan minapolitan di wilayah tersebut. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis deskriptif yang dibantu dengan metode analisis Sistem Informasi dan kombinasi metode analisis Strength, Weakness, Opportunities, Threats (SWOT) dan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan rencana strategi pengembangannya. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa pada urutan pertama rencana strategi pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Blitar adalah peningkatan perhatian dan komitmen pemerintah, pendayagunaan pemuda desa dan masyarakat dalam kegiatan pengembangan usaha bidang perikanan. Perbedaan pada perencanaan ini adalah terletak pada tujuan perencanaan, fokus dan metode analisis yang digunakan. Tujuan penelitian ini untuk menentukan rencana strategi pengembangan wilayah penelitian menggunakan metode analisis Sistem Informasi dan kombinasi metode analisis Strength, Weakness, Opportunities, Threats (SWOT) dan Analytical Hierarchy Process (AHP), sedangkan perencanaan penulis bertujuan untuk merencanakan kawasan dan manajemen integrasi dengan konsep minapolitan berbasis perikanan tangkap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis daya dukung dan
11 daya tampung, analisis kesesuaian lahan, analisis SWOT dan analisis kebutuhan sarana prasarana.
3. Model Pengembangan Kawasan Minapolitan Sebagai Upaya dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Lokal Kabupaten Pacitan
Penelitian ini dilakukan oleh Muhammad Musiyam MTP, Dr Muhtadi, Drs Suharjo, Drs. Wijianto yang dilaksanakan di wilayah pesisir dan lautan pada zona inti PPP Tamperan dan sekitarnya di Kabupaten Pacitan. Penelitian ini bersifat deskriptif yang bertujuan untuk mendukung pencapaian sasaran dan program pembangunan daerah yang tercantum dalam RPJMD Kabupaten Pacitan tahun 2006-2011. Penelitian ini memiliki output berupa rekomendasi model dan strategi pengembangan kawasan minapolitan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal di Kabupaten Pacitan.
1.8 Kerangka Penulisan
Perencanaan ini terdiri dari beberapa bab dalam penulisannya dengan sistematika penulisan sebagai berikut :
1. BAB I PENDAHULUAN
Bab ini memaparkan latar belakang dan urgensi perencanaan ini serta permasalahan yang ingin diselesaikan dalam perencanaan ini. Selain itu terdapat penelitian dan atau perencanaan yang berkaitan dengan perencanaan ini.
2. BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini menjelaskan kajian teori mengenai kawasan minapolitan, perkembangan sektor perikanan dan kelautan serta elemen perencanaan yang akan menjadi elemen perencanaan. Kajian teori dan contoh penerapan kawasan minapolitan tersebut akan membentuk kerangka konseptual yang akan dijelaskan dalam bab ini.
3. BAB III METODE PERENCANAAN
12 Bab ini menjelaskan mengenai metode analisis yang digunakan dalam perencanaan ini. Selain itu pemaparan langkah-langkah dalam proses perencanaan.
4. BAB IV DESKRIPSI WILAYAH PERENCANAAN
Bab ini berupa penggambaran wilayah perencanaan yang terbagi menjadi dua kedalaman skup yaitu wilayah makro dan mikro. Wilayah makro merupakan Kabupaten Kulon Progo dan wilayah mikro adalah Desa Karangwuni, Kecamatan Wates. Gambaran umum ini mencakup deskripsi fisik geografis, sosial dan ekonomi.
5. BAB V ANALISIS WILAYAH PERENCANAAN
Pada bab ini dijelaskan analisis yang merupakan dasar dalam perencanaan ini.
Analisis dilakukan dengan mengaitkan prinsip-prinsip kawasan minapolitan dengan kondisi di wilayah perencanaan. Selain itu, terdapat indikator dan variabel perencanaan yang harus dipenuhi dalam perencanaan ini.
6. BAB VI KONSEP DAN ALTERNATIF RENCANA
Pada bab ini terdapat penjabaran grand concept dari perencanaan dan pilihan alternatif perencanaan. Selanjutnya ditentukan alternatif terpilih dan arah pengembangan bagi wilayah perencanaan.
7. BAB VII RENCANA
Pada bab ini merupakan detail rencana tata ruang pada wilayah perencanaan berdasarkan konsep dan alternatif perencanaan yang terpilih.
8. BAB VIII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Bab terakhir pada dokumen perencanaan ini berisi kesimpulan dan rekomendasi bagi wilayah perencanaan. Kesimpulan merupakan pernyataan akhir berdasarkan temuan analisis dan observasi lapangan. Adapun rekomendasi ditujukan pada pemangku kepentingan terkait mengenai usulan perencanaan di masa mendatang.