• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TERAPAN UNIVERSITAS LAMPUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN AKHIR PENELITIAN TERAPAN UNIVERSITAS LAMPUNG"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TERAPAN UNIVERSITAS LAMPUNG

PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERDESAAN: STRATEGI PEMANFAATAN ALOKASI DANA DESA DI WILAYAH

RAWAN BANJIR

(Studi di Kecamatan Negara Batin, Kab. Way Kanan)

TIM PENGUSUL

Prof. Dr. YULIANTO, M.S. NIDN. 0004076104 (Ketua) SINTA ID 6081592

Dr. ASNANI, M.A. NIDN. 0013038504 (Anggota) SINTA ID 6696774

DEWI AYU HIDAYATI, S.Sos. M.Si. NIDN. 0031018003 (Anggota) SINTA ID 6680480

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG

2021

(2)

2

(3)

3 DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN PENELITIAN TERAPAN Error! Bookmark not defined.

UNIVERSITAS LAMPUNG ... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR ISI ... 3

DAFTAR TABEL ... 4

DAFTAR GAMBAR ... 4

RINGKASAN ... 5

BAB 1. LATAR BELAKANG ... 6

A. Rumusan Masalah ... 7

B. Tujuan Penelitian ... 7

C. Urgensi Penelitian ... 8

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 9

A. Pembangunan Perdesaan ... 9

B. Dana Desa ... 10

C. Pemberdayaan Masyarakat ... 12

D. Desa Rawan Bencana ... 13

D. Studi Pendahuluan ... 13

E. Peta Jalan (Road Map) Penelitian ... 14

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 15

A. Pendekatan Penelitian ... 15

B. Lokasi dan Fokus Penelitian ... 15

B. Jenis, Sumber Data dan Informan ... 15

C. Teknik Pengumpulan Data ... 15

D. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 16

BAB 4. LUARAN DAN TARGET CAPAIAN PENELITIAN ... 21

BAB 5. JADWAL PENELITIAN ... 22

BAB 6. HASIL PENELITIAN ... 23

BAB 7 SIMPULAN DAN SARAN ... 38

DAFTAR PUSTAKA ... 39

(4)

4

DOKUMENTASI PENELITIAN ... 42

BIODATA KETUA PENELITI ... 44

BIODATA ANGGOTA PENELITI (1) ... 50

BIODATA ANGGOTA PENELITI (2) ... 58

PROFIL SINTA TIM PENELITI ... 73

DAFTAR TABEL Tabel 1 Penelitian Sebelumnya ... 13

Tabel 2 skala perbandingan berpasangan menurut Thomas L. Saaty ... 17

Tabel 3 Pembagian Tugas ... 20

Tabel 4 Rencana Target Capaian Tahunan ... 21

Tabel 5 Jadwal Penelitian ... 22

Tabel 6 Luas wilayah dan tinggi DPL menurut kecamatan di Kabupaten Way Kanan 2019 ... 24

Tabel 7 Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk menurut kecamatan di Kabupaten Way Kanan 2018, 2019, dan 2020 ... 25

Tabel 8 Nilai Eigen Vektor ... 33

Tabel 9 Nilai Eigen Vektor ... 35

Tabel 10 Tabel Nilai Eigen Vektor ... 36

Tabel 11 Consistency Ratio Analysis (K1) ... 37

DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Peta Jalan Penelitian ... 14

Gambar 2 Diagram Alir dan Output Penelitian ... 19

Gambar 3 Letak geografis daerah Kabupaten Way Kanan... 23

Gambar 4 Suasana Banjir di Kampung Srimenanti ... 30

Gambar 5 Siswa SD tetap berangkat ke sekolah walaupun dalam suana banjir 31 Gambar 6 Sungai Way Kanan saat musim kemarau di Kampung Srimenanti. . 32

Gambar 7 hirarki prioritas pemanfaatan alokasi dana desa dana desa tahun 2022 ... 33

Gambar 8 Hirarki Kriteria prioritas pemanfaatan dana desa ... 34

Gambar 9 Hirarki Kriteria prioritas pemanfaatan dana desa ... 35

Gambar 10 Hirarki Kriteria prioritas pemanfaatan dana desa ... 37

(5)

5 RINGKASAN

Kecamatan Negara Batin, Kabupaten Way Kanan merupakan salah satu kecamatan secara geografis dilintasi oleh sungai Way Kanan. Wilayah ini terkena dampak banjir tahunan dalam kategori parah karena merusak lahan pertanian masyarakat dan mengganggu perekonomian rumah tangga. Dengan kondisi tersebut, tentunya desa-desa rawan banjir yang mendapat bantuan dana desa perlu adanya strategi dan prioritas agar pembangunan yang diharapkan dapat berkelanjutan. Menjawab dilema antara peluang pengembangan pembangunan dan adanya resiko bencana, maka perlu adanya kebijakan berupa perencanaan pembangunan yang adaftif dan antisipatif terhadap resiko bencana.

Tujuan penelitian ini adalah (1) Menganalisis model pengambilan keputusan masyarakat desa rawan bencana banjir dalam menyusun rencana pengelolaan dana desa. (2) Menganalisis perspektif para masyarakat dan aparat desa menilai hasil pengelolaan dana desa tahun lalu. (3) Menganalis skenario perencanaan pembangunan desa rawan bencana banjir dimasa yang akan datang. Pendekatan penelitian ini menggunakan kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis AHP.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pengambilan keputusan penyusunan rencana pengelolaan dana desa sudah mengikuti aturan pemerintah.

Masyrakat terlibat aktif dalam proses musyawarah desa. Tidak ada yang membedakan rencana pengelolaan dana desa bagi kampung rawan banjir dan kampung yang tidak rawan banjir karena belum pernah menyusun rencana prioritas mitigasi bencana banjir. Hasil analisis hirarki prioritas pemanfatan alokasi dana desa kegiatan swakelola (67%) lebih prioritas dan penting dilaksanakan dibandingkan padat karya tunai desa (37%). Sementara pada subkriteria padat karya tunai desa, pertanian dan perkebunan menjadi kegiatan yang paling prioritas untuk didukung (29%).

Kata Kunci: Pembangunan Perdesaan, desa rawan banjir, scenario perencanaan berkelanjutan, Prospective Analisys

(6)

6 BAB 1. LATAR BELAKANG

Pembangunan berkelanjutan pertama kali diperkenalkan oleh World Commission on Environment and Development (WCED) dalam our common future yang diartikan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya (Azis, 2010). Paradigm pembangunan tertuang dalam dokumen Sustainable Development Goals (SDGs) yang disepakati oleh 193 negara PBB yang bertujuan untuk meneruskan dan memantapkan capaian-capaian MDGs agar terus berkelanjutan. Ketertinggalan pembangunan secara global dijelaskan dalam SDGs yang berisi 17 tujuan dan 169 sasaran pembangunan yang merupakan integrasi pembangunan nasional (Ermalena, 2017). SDGs bersifat inklusif yaitu secara spesifik menyasar kepada yang rentan, termasuk upaya dalam pembangunan perdesaan.

Indonesia sebagai Negara berkembang, upaya mewujudkan pembangunan perdesaan diatur dalam Undang-undang desa nomor 6 tahun 2014 dengan adanya alokasi dana desa yang diberikan secara periodik setiap tahun menggunakan APBN dengan prioritas penggunaannya untuk memenuhi kualitas hidup, mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa, penanggulangan kemiskinan, dan peningkatan pelayanan publik. Kondisi social, ekonomi, ekologi, geografis, dan tingkat kerentanan terhadap bencana setiap desa berbeda, tentu prioritas penggunaan dana desa juga akn berbeda-beda.

Kecamatan Negara Batin, Kabupaten Way Kanan merupakan salah satu kecamatan secara geografis dilintasi oleh sungai Way Kanan. Wilayah ini terkena dampak banjir tahunan dalam kategori parah karena merusak lahan pertanian masyarakat dan mengganggu perekonomian rumah tangga. Dengan kondisi tersebut, tentunya desa-desa rawan banjir yang mendapat bantuan dana desa perlu adanya strategi dan prioritas agar pembangunan yang diharapkan dapat berkelanjutan. Dilema terkait potensi pengembangan wilayah dan tantangan terhadap resiko bencana ada diberbagai tempat, salah satunya di Odisha, India yaitu antara akses energy, pembangunan perdesaan, tantangan adaptasi iklim dan manajemen bencana (Sharma, 2019).

(7)

7 Menjawab dilema antara peluang pengembangan pembangunan dan adanya resiko bencana, maka perlu adanya kebijakan berupa perencanaan pembangunan yang adaftif dan antisipatif terhadap resiko bencana. Wang (2014) mengatakan bahwa perlu adanya self-insurance dan self-protection yang diberikan pada kode bangunan yang mereka buat. Hal ini merupakan bentuk jaminan agar bangunan yang mereka buat dapat meminimalkan resiko ketika bencana datang. Bentuk strategi lain dalam meminimalisir resiko bencana adalah dengan adanya scenario yang direkomendasikan tentang arah pengembangan daerah rawan bencana yang memerlukan pembatasan pembangunan sebagai salah satu upaya bantuan bencana (Saraswati, 2014).

Program dana desa saat ini sedang dalam tahap pelaksanaan, artinya masyarakat sedang melakukan pembangunan. Dana desa diberikan setiap tahun dengan perencanaan pemanfaatan dengan jelas dan tepat sasaran, oleh sebab itu penelitian ini penting sebagai dua mata pisau yaitu sebagai evaluasi pada pengelolaan dana desa tahun sebelumnya dan sebagai perencanaan pada tahun yang akan datang berupa ada peluang atau kesempatan untuk membuat scenario perencanaan pembangunan untuk tahun selanjutnya yang sesuai karakter desa rawan banjir.

A. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimanakah model pengambilan keputusan masyarakat desa rawan bencana banjir dalam menyusun rencana pengelolaan dana desa?

2. Bagaimanakah perspektif para aparat desa menilai hasil pengelolaan dana desa tahun lalu?

3. Bagaimanakah skenario perencanaan pembangunan desa rawan bencana banjir dimasa yang akan datang?

B. Tujuan Penelitian

1 Menganalisis model pengambilan keputusan masyarakat desa rawan bencana banjir dalam menyusun rencana pengelolaan dana desa.

(8)

8 2 Menganalisis perspektif para masyarakat dan aparat desa menilai hasil

pengelolaan dana desa tahun lalu.

3 Menganalis skenario perencanaan pembangunan desa rawan bencana banjir dimasa yang akan datang.

C. Urgensi Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi proses pengambilan keputusan dalam perencanaan pembangunan perdesaan melalui pengelolaan dana desa. Hal ini penting untuk melihat sejauh mana pembangunan perdesaan tersebut efektif dan efisien bagi masyarakat. Selain itu juga model skenario menggunakan Analisys Hierchi Process (AHP) berkontribusi pada pembangan pengetahuan akademik khususnya metodologi penelitian. Secara implikasi kebijakan penelitian ini juga dapat diterapkan pada desa-desa rawan bencana lainnya dalam menyusun perencanaan pembangunan dengan berbagai dukungan program dari berbagai sumber.

(9)

9 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pembangunan Perdesaan

Kawasan Perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi (Undang-undang desa no 6 tahun 2014).

Pilihan pendekatan pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi bukan saja telah mengakibatkan berbagai bentuk ketimpangan sosial tetapi juga menimbulkan berbagai persoalan lain seperti timbulnya akumulasi nilai-nilai hedonistik, ketidak pedulian social, erosi ikatan kekeluargaan dan kekerabatan, lebih dari itu pendekatan pembangunan tersebut telah menyebabkan ketergantungan masyarakat pada birokrasi-birokrasi sentralistik yang memiliki daya absorsi sumber daya yang sangat besar, namun tidak memiliki kepekaan terhadap kebutuhan-kebutuhan lokal, dan secara sistematis telah mematikan inisiatif masyarakat lokal untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi (Korten, 1987).

Indonesia memiliki wilayah administrasi setingkat desa berjumlah 83.931 pada tahun 2018 yang terdiri dari 75.436 desa (74.517 desa dan 919 nagari di Sumatera Barat), 8.444 kelurahan serta 51 Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) /Satuan Permukiman Transmigrasi (SPT) (BPS, 2018). Desa merupakan ujung tombak pembangunan suatu Negara, oleh karena itu pembangunan perdesaan masuk dalam program nasional melalui Alokasi Dana Desa yang dikelola oleh masyarakat setempat. Namun pelaksanaannya, pembangunan perdesaan tidak selalu menampakkan hasil yang memuaskan. Kegagalan program pemberdayaan masyarakat dalam membangun kemandirian disebabkan oleh prilaku dan mental fasilitator yang tidak sejalan dengan konsep, prinsip dan filosofi pemberdayaan (Susetiawan, 2016) dan tidak professional sebagai pendamping atau fasilitator (Lippit dan Westley, 1958; Mayo, 1994; Mardikanto, 2010; dan Muslim, 2012).

(10)

10 Pembangunan perdesaan dipengaruhi oleh sumber daya manusia dan berpartisipasi penuh dalam pembangunan. Oleh sebab itu tentu masyarakat desa tidak dapat mewujudkan pembangunan perdesaan tanpa ada intervensi dari berbagai pihak (NGO, swasta dan pemerintah) melalui berbagai skema pemberdayaan dan pendampingan social. Secara umum diketahui bahwa masih banyaknya bentuk permasalahan di desa seperti kesempatan meningkatkan pengetahuan yang masih terbatas, keterbatasan sarana produksi bahkan tidak memiliki produk. Keadaan ini harus didorong oleh stakeholders bersama agar masyarakat desa bisa menggunakan kesempatan dengan adanya dana desa.Undang-undang desa no 6 tahun 2014 menjelaskan bahwa pembangunan desa adalah upaya peningkatan kualitas hidup dan kehidupan untuk sebesar- besarnya kesejahteraan masyarakat desa. Oleh sebab itu sangat diperlukan perencanaan pembangunan ditingkat desa yang dilakukan oleh seluruh perangkat kelembagaan (stakeholder) yang ada di desa. Pendekatan dalam perencanaan yang umum dilakukan menurut Kelly dan Becker (2000) dalam Rustiadi (2011) berikut beberapa pendekatan perencanaan berdasarkan basis (pijakan): 1) berbasis kecendrungan (trends-driven) yaitu berdasarkan kecendrungan umum yang terjadi, namun karena kecendrungan selalu berubah-ubah sehingga pendekatan ini tidak ideal untuk kepentingan publik jangka panjang. 2) Berbasis kesempatan/peluang (opportunity-driven) sering dilakukan terutama karena alasan pragmatis pada peluang-peluang langka sehingga perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya. 3) berbasis isu (issue-driven) berdasarkan isu atau masalah- masalah yang ada. 4) berbasis tujuan (goal-driven) pendekatan perencanaan paling klasik namun prosesnya dianggap sulit karena menentukan tujuan antar lintas sektor/stakeholder. 5) berbasis visi (vision-driven) sangat menekankan nilai- nilai normatif di dalam gerakan atau aktivitasnya dan tidak ada tujuan-tujuan yang spesifik dan terukur, sangat berorientasi pada jangka panjang dan tidak memiliki target-target jangka pendek.

B. Dana Desa

Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota dan digunakan untuk mendanai

(11)

11 penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat (Undang-undang desa no 6 tahun 2014). Pemerintah Desa adalah Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa.

Perencanaan pemanfaatan dana desa merupakan hasil musyawarah desa yang melibatkan masyarakat. Menurut Undang-undang Desa No 6 tahun 2014 Musyawarah Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah musyawarah antara Badan Permusyawaratan Desa, Pemerintah Desa, dan unsur masyarakat yang diselenggarakan oleh Badan Permusyawaratan Desa untuk menyepakati hal yang bersifat strategis.

Prioritas penggunaan dana desa untuk membiayai pelaksanaan program dan kegiatan di bidang Pembangunan Desa dan Pemberdayaan Masyarakat Desa.

Prioritas penggunaan Dana Desa harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Desa berupa: a) peningkatan kualitas hidup; b) peningkatan kesejahteraan; c) penanggulangan kemiskinan; dan d. peningkatan pelayanan publik.

Peningkatan kualitas hidup masyarakat Desa diutamakan untuk membiayai pelaksanaan program dan kegiatan di bidang pelayanan sosial dasar yang berdampak langsung pada meningkatnya kualitas hidup masyarakat.

Peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa diutamakan untuk: a). membiayai pelaksanaan program yang bersifat lintas kegiatan; b). menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan; c) meningkatkan pendapatan ekonomi bagi keluarga miskin; dan d). meningkatkan pendapatan asli Desa.

Penanggulangan kemiskinan diutamakan untuk: a. membiayai program penanggulangan kemiskinan; b. melakukan pemutakhiran data kemiskinan; c.

melakukan kegiatan akselerasi ekonomi keluarga dan padat karya tunai untuk menyediakan lapangan kerja; d. menyediakan modal usaha dan pelatihan bagi masyarakat Desa yang menganggur, setengah menganggur, keluarga miskin; dan e. melakukan pencegahan kekurangan gizi kronis (stunting). Peningkatan pelayanan publik diutamakan untuk membiayai pelaksanaan program bidang kesehatan, pendidikan, dan sosial.

(12)

12 C. Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan Masyarakat Desa adalah upaya mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya melalui penetapan kebijakan, program, kegiatan, dan pendampingan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat desa (Undang-undang Desa No 6 tahun 2014).

Menurut Hatu (2010) Pemberdayaan atau pemberkuasaan (empowerment), secara konseptual berasal dari kata “power” (kekuasaan atau keberdayaan), karenanya, ide utama pemberdayaan bersentuhan dengan konsep mengenai kekuasaan. Kemungkinan terjadinya proses pemberdayaan sangat tergantung pada dua hal: Pertama, bahwa kekuasaan dapat berubah. Jika kekuasaan tidak dapat berubah, pemberdayaan tidak mungkin terjadi dengan cara apapun; dan Kedua, bahwa kekuasaan dapat diperluas. Konsep ini menekankan pada pengertian kekuasaan yang tidak statis, melainkan dinamis.

Pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang khususnya kelompok rentan dan lemah dan tidak memiliki akses sehingga mereka memiliki kekuatan atau kemampuan dalam berbagai dimensi kehidupannya. Suharto (2006) melihat dimensi-dimensi tersebut adalah (a) memenuhi kebutuhan bukan saja bebas mengemukakan pendapat, melainkan bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, bebas dari kesakitan (b) menyangkut sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatanya dan memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang mereka perlukan, dan (c) berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka.

Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial dan ekonomi. Konsep ini yang mencerminkan paradigma baru pembangunan, yakni yang bersifat “peoplecentered, participatory, empowering, and sustainable” (Chambers, dalam Kartasasmita, 1996). Dalam konsep pemberdayaan, manusia adalah subyek dari dirinya sendiri. Proses pemberdayaan yang menekankan pada proses memberikan kemampuan kepada masyarakat agar menjadi berdaya, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan pilihan hidupnya.

(13)

13 Lebih lanjut dikatakan bahwa pemberdayaan harus ditujukan pada kelompok atau lapisan masyarakat yang tertinggal.

Menurut Sumodiningrat (1999), bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan upaya untuk memandirikan masyarakat lewat perwujudan potensi kemampuan yang mereka miliki. Mubyarto (1998) menekankan bahwa terkait erat dengan pemberdayaan ekonomi rakyat. Dalam proses pemberdayaan masyarakat diarahkan pada pengembangan sumberdaya manusia (di pedesaan), penciptaan peluang berusaha yang sesuai dengan keinginan masyarakat.

D. Desa Rawan Bencana

Banjir dapat disebabkan oleh air sungai yang meluap ke lingkungan sekitarnya dan aliran permukaan yang berlebihan dengan intensitas curah hujan yang tinggi serta dengan durasi yang lama (Wahyu, 2010). Banjir yang terjadi pada Kecamatan Negara Batin disebabkan karena luapan sungai Way Kanan yang mengakibatkan masyarakat banyak mengalami kerugian. Proses pembangunan perdesaan juga terganggu dan dapat berdampak fatal pada program yang sedang dijalankan.

Pada wilayah rawan bencana banjir sangat diperlukan pengetahuan masyarakat dalam mitigasi bencana banjir dari aspek pengetahuan mitigasi bencana banjir, aspek pengendalian banjir, aspek sistem sarana dan prasarana, dan aspek sikap partisipasi (Awaliyah, 2014). Pengetahuan dan sikap kepala keluarga memiliki pengaruh terhadap kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana banjir (Harahap, 2015).

D. Studi Pendahuluan

Penelitian terdahulu adalah sebagai berikut:

Tabel 1 Penelitian Sebelumnya

No. Artikel Konsep Hasil

1. Wang (2014) Strategi perencanaan pra bencana

Hasil penelitian ini bahwa perencanaan pembangunan dapat dilihat dari perlindungan aset desa dari resiko bencana

(14)

14 banjir. memberikan asuransi diri dan perlindungan kepada bagunan dengan menggunakan kode untuk mengatur pengembangan lahan dalam pra- bencana.

2. Sharma (2019) Strategi perencanaan pra bencana

Dilema antara hubungan penting energi dan iklim yaitu akses energi dan adaptasi iklim.

Tujuan utamanya adalah tercapainya keberlanjutan dalam memanfaatkan layanan energy dan mengatasi peristiwa bencana iklim.

E. Peta Jalan (Road Map) Penelitian

Berdasarkan konsep dan teori yang telah disampaikan pada sub bab sebelumnya, maka peneliti merumuskan peta jalan penelitian sebagai berikut:

Gambar 1 Peta Jalan Penelitian

Pembangunan Berkelanjutan

Perencanaan Pembangunan

Perdesaan Dana Desa

Rawan Bencana Analisys

Hierarchi Process Skenario

Perencanaan

(15)

15 BAB 3. METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian ini menggunakan kualitatif dan kuantitatif. Produk penelitian ini merupakan skenario perencanaan pembangunan perdesaan yang berbasis pada pngelolaan dana desa.

B. Lokasi dan Fokus Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Negara Batin, Kabupaten Way Kanan. Pada kecamatan ini terdapat desa-desa yang rawan banjir setiap tahun akibat luapan sungai Way Kanan disaat musim penghujan. Kondisi banjir termasuk dalam kategori parah karena merusak lahan pertanian, dan terganggunya aktivitas masyarakat. Hal ini juga mengancam terganggunya pelaksanaan pembangunan perdesaan yang sedang berjalan.

B. Jenis, Sumber Data dan Informan

Jenis data yang dipergunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer bersumber dari wawancara mendalam, observasi dan focus group Discussion (FGD) yang terdiri dari pendamping desa perwakilan dari kecamatan 6 orang, 6 orang, aparat desa 22 orang. Informan ditentukan secara purposive yang memahami dan terlibat dalam pengelolaan dana desa.

C. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data utama menggunakan teknik wawancara, observasi, dokumentasi, studi literatur dan FGD. Pertama, teknik wawancara bersifat terbuka dan dalam bentuk terstruktur. Teknik ini digunakan untuk memperoleh berbagai informasi sesuai dengan kebutuhan dalam tujuan penelitian. Kedua, teknik obeservasi merupakan pengamatan secara detail lokasi secara spasial, lanskap, aktivitas social ekonomi dan interaksi masyarakat. Ketiga teknik dokumentasi dimaksudkan untuk memperoleh sejumlah besar fakta dan data yang tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumen-dokumen. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, laporan, berita acara dan kliping.

(16)

16 Keempat, yaitu teknik studi literature yang berasal dari buku bacaan ilmiah, jurnl dan prosiding. Kelima FGD, adalah diskusi kelompok kecil untuk mengidentifikasi variabel dan scenario perencanaan pembangunan perdesaan.

D. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Metode AHP (Analisys Hierarchi Process) pertama kali diperkenalkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 1971. Saaty menyatakan bahwa AHP adalah suatu model yang dapat membantu memecahkan masalah melalui menentukan keputusan dan mendefinisikan persoalan dengan cara membuat asumsi-asumsi dan memperoleh pemecahan yang diinginkan, serta memungkinkan menguji kepekaan hasilnya. Dalam prosesnya, AHP memasukkan pertimbangan dan nilai- nilai pribadi secara logis yang bergantung pada imajinasi, pengalaman dan pengetahuan dari para pakar. AHP juga memberikan kesempatan bagi kelompok, dalam hal ini adalah expert dari kepala desa, pendamping desa dan ahli dari kecamatan Negara batin untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan atau pemecahan persoalan terkait prioritas penyusunan program / kegiatan alokasi dana desa. Menurut Sari (2018) ada beberapa keuntungan penggunaan metode AHP, yaitu sebagai berikut:

a. Memberi satu model tunggal, mudah dimengerti dan luwes untuk berbagai persoalan yang tidak terstruktur.

b. Mempunyai sifat kompleksitas dan saling ketergantungan, dimana dalam memecahkan persoalan dapat memadukan rancangan deduktif dan rancangan berdasarkan sistem serta menangani saling ketergantungan elemen-elemen dalamsuatu sistem.

c. Elemen-elemen suatu sistem dalam berbagai tingkat yang berlainan dan kelompok unsur yang serupa dalam setiap tingkat dapat disusun secara hirarki.

d. Dengan menetapkan berbagai prioritas dapat memberikan ukuran skala objek dan konsistensi logis dari pertimbangan-pertimbangan yang digunakan serta menuntun pada suatu taksiran menyeluruh kebaikan setiap alternatif.

(17)

17 e. Memungkinkan orang memilih alternatif terbaik berdasarkan tujuantujuan mereka dan tidak memaksakan konsensus, tetapi mensintesis suatu hasil yang representatif dari berbagai penilaian yang berbeda-beda.

f. Memungkinkan orang memperhalus definisi pada suatu persoalan dan Tahapan analisis data adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi permasalahan dengan penyusunan secara hierarki dari permasalahan yang dihadapi dengan tiga level tujuan, kriteria dan sub kriteria program / kegiatan prioritas pengelolaam alokasi dana desa di Kecamatan Negara Batin

2. Menilai kriteria dan sub kritria dengan menghitung perbandingan berpasangan. Skala terbaik dalam pengekspresian pendapat adalah skala 1 sampai 9 (Saaty, 2008).

Tabel 2 skala perbandingan berpasangan menurut Thomas L. Saaty

3. Menentukan prioritas 4. Uji konsistensi

Berikut langkah-langkah untuk menghitung konsistensi logis : a) Mengkalikan matriks dengan prioritas yang sesuai.

b) Menjumlahkan hasil perkalian setiap baris Intensitas

Kepentingan

Keterangan

1 Kedua elemen sama pentingnya

3 Elemen yang satu sedikit lebih penting elemen yang lainnya 5 Elemen yang satu lebih penting dari pada lainnya

7 Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen lainnya 9 Satu elemen mutlak penting daripada elemen lainnya

2,4,6,8 Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan-pertimbangan yang berdekatan

kebaikan Jika aktivitas I mendapat satu angka dibandingkan dengan aktivitas j, maka j memiliki nilai kebalikannya dibandingkan dengan i

(18)

18 c) Menghitung hasil penjumlahan setiap baris dibagi dengan prioritas

yang bersangkutan lalu hasil pembagian dijumlah

d) Untuk λ max didapat dengan mengalikan hasil c dengan elemen e) Consistensi Indexs

(CI) = (λmaks-n) / (n-1) ……….……….. ……….. (1)

f) Consistensy Ratio = CR / RI, di mana RI adalah indeks random consistensi. Jika rasio consistensi ≤ 0.1, maka hasil perhitungan dapat dibenarkan.

g) Menghitung nilai lambda (λ) dan Consistency Index (CI) dan Consistency Ratio (CR) , rumus:

λ = ƩCV / Ʃn………..………..………. (2)

λ CI = λ - n / n - 1………..………..……..………….(3)

λ CR = CI / RI………..………..………(4) keterangan :

λ = Nilai rata-rata vector consistency CV = Consistency Vector

n = Jumlah faktor yang sedang dibandingkan CI = Consistency Index RI =Random Index Random Index(RI) merupakan indeks rerata konsistensi yang diambil secara acak dari skala perbandingan AHP untuk bilangan numeric (konstanta)

CR = Consistency Ratio

Analisis data dilakukan sejak sebelum memasuki/terjun ke lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan. Sugiyono (2010); Moleong (2000) menyatakan bahwa “Analisis telah mulai dilakukan sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian”. Dalam penelitian ini, analisis data lebih difokuskan selama proses di lapangan bersamaan dengan pengumpulan, proses data dan

(19)

19 setelah di lapangan. Tahapan analisis data mengikuti proses reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi.

Gambar 2 Diagram Alir dan Output Penelitian

Identifikasi informasi

penelitian Pengumpulan data

Analisis deskriptif dan Analisis AHP PRODUK:

Skenario Perencanaan Pembangunan

DRAFT ARTIKEL

PUBLIKASI (JURNAL&

PROSIDING)

(20)

20 Tabel 3 Pembagian Tugas

N o

Nama Instansi Asal

Bidang Ilmu

Alokasi

Waktu Uraian Tugas 1 Prof. Dr.

Yulianto, M.S.

Universitas Lampung

Administrasi Negara

20 jam / minggu

1) Top leader (penanggung- jawab)

2) Pengarah orientasi penelitian

3) Memanajemeni dan mengkoordinasikan semua kegiatan penelitian 4) Penyusunan luaran-luaran

penelitian 2 Dr. Asnani, M.A Universitas

Lampung

Sosiologi 15 jam / minggu

1) Tenaga ahli pendamping membantu ketua

2) Mengkoordinasikan kegiatan riset lapang 3) Mengelola dan

merumuskan temuan riset 4) Mempresentasikan dan

mempublikasikan hasil temuan serta penyusunan jurnal dan prosiding 3 Dewi Ayu

Hidayati, S.Sos., M.A

Universitas Lampung

Sosiologi 15 jam / minggu

1) Tenaga ahli pendamping membantu ketua

2) Mengkoordinasikan kegiatan riset lapang 3) Mengelola dan

merumuskan temuan riset

4) Mempresentasikan dan mempublikasikan hasil temuan serta penyusunan jurnal dan prosiding 4 Riski Staf dan

Teknisi Peneliti

Sosiologi 10 jam / minggu

1) Menyiapkan, mencatat dan mendokumentasikan semua kegiatan riset 2) Koordinator teknis di

lapangan 5 Yulia Irma Mahasiswa Sosiologi 10 jam /

minggu

Membantu kegiatan

pengumpulan data dan pendokumentasian

6 Jessica Vanelia Amanda

Mahasiswa Sosiologi 10 jam / minggu

Membantu kegiatan

pengumpulan data dan pendokumentasian

(21)

21 BAB 4. LUARAN DAN TARGET CAPAIAN PENELITIAN

Output Penelitian:

Penelitian ini diharapkan menghasilkan temuan dan luaran inovasi berupa:

1. Evaluasi pelaksanaan dana desa tahun sebelumnya 2. Penggunaan analisis AHP

3. Target luaran produk penelitian ini akan dikirimkan ke Jurnal Internasional terindeks scopus (rencana publikasi jurnal pada tahun 2022)

4. Produk Iptek berupa kebijakan skenario perencanaan pembangunan dalam pengelolaan dana desa

5. Makalah yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah internasional pada koferensi internasional yang diselenggarakan oleh IPB 2021

6. Makalah yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah internasional pada koferensi internasional “ICANARD International Conference, Bogor 27-28 Juli 2021”.

Keenam luaran penelitian diharapkan berkontribusi pada pembangunan perdesaan sebagai salah satu skema penelitian terapan Unila. Rekayasa social- berupa model scenario perencanaan pembangunan dalam mengelola dana desa yang berbasis berkelanjutan pada desa rawan bencana banjir. Penelitian ini dapat diterap di daerah lain dengan resiko rawan bencana yang berbeda.

Penelitian ini direncanakan dilaksanakan selama enam bulan. Adapun rencana target capaian sebagai berikut:

Tabel 4 Rencana Target Capaian Tahunan

No. Jenis Luaran Indikator Capaian

1 Publikasi Ilmiah Jurnal Internasional terindeks scopus

“Sustainability” (Q2) Submit

2 Pemakalah dalam Temu Ilmiah

“The ICANARD International Conference, Bogor 27-28 Juli 2021”.

Submit/

Oral presentation Proceeding

(22)

22 BAB 5. JADWAL PENELITIAN

Waktu yang digunakan untuk melaksanakan penelitian ini adalah selama 6 bulan, terhitung sejak ditandatangani kontrak penelitian, dengan rincian jadwal sebagai berikut:

Tabel 5 Jadwal Penelitian

No Kegiatan Bulan ke-

April Mei Jun Jul Agust Sep Okt 1 Pembuatan instrumen x

2 Uji coba Instrumen x 3 Evaluasi dan revisi

instrumen

x

4 Penelitian lapangan x x

5 Pengolahan dan analisis data

x 6 Penyusunan laporan

penelitian

x x 7 Penggandaan laporan

penelitian

x 9 Diseminasi hasil

penelitian “The

ICANARD International Conference, Bogor 27- 28 Juli 2021”.

x

10 Submit jurnal terindeks Scopus Sustainability (Q2)

x

(23)

23 BAB 6. HASIL PENELITIAN

A. Profil Lokasi Penelitian

Kabupaten Way Kanan terletak antara 4° 12’- 4° 58’ Lintang Selatan dan antara 104° 17’-105° 04’ Bujur Timur Berdasarkan posisi geografisnya. Batas wilayah sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan; sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Lampung Utara; sebeah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lampung Barat; dan sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Kabupaten Way Kanan terdiri dari 14 kecamatan, yaitu: Banjit, Baradatu, Gunung Labuhan, Kasui, Rebang Tangkas, Blambangan Umpu, Way Tuba, Negeri Agung, Bahuga, Buay Bahuga, Bumi Agung, Pakuan Ratu, Negara Batin, dan Negeri Besar.

Gambar 3 Letak geografis daerah Kabupaten Way Kanan Sumber: Kabupaten Way Kanan dalam Angka 2020

Secara topografi, Kabupaten Way Kanan dapat dibagi menjadi 2 (dua) unit topografis, yaitu: daerah topografis berbukit sampai bergunung dan daerah River Basin. Daerah Kabupaten Way Kanan memilki iklim tropis dengan 2 (dua) musim yang selalu berganti sepanjang tahun, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Temperatur rata-rata di daerah ini pada 300 C.

Negeri Besar

9% Negara Batin 9%

Pakuan Ratu 15%

Bumi Agung 3%

Buay Bahuga 3%

Bahuga 4%

Negeri Agung 14%

Way Tuba 5%

Blambangan Umpu

14%

Rebang Tangkas 5%

Kasui 4%

Gunung Labuhan

3%

Baradatu 4%

Banjit 8%

(24)

24 Kabupaten Way Kanan memiliki potensi yang tinggi untuk pengembangan di sektor pertanian. Sebagian besar sungai-sungainya mengalir dari arah barat yang berbukit-bukit menuju ke arah Timur yang landai, hal ini sangat potensial untuk pengembangan irigasi. Luas wilayah dan tinggi dari permukaan air laut (DPL) dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Luas wilayah dan tinggi DPL menurut kecamatan di Kabupaten Way Kanan 2019

Kecamatan Luas (km2) Persentase Tinggi DPL (m)

Banjit 331,600 8,46 274

Baradatu 152,030 3,88 158

Gunung Labuhan 115,220 2,94 131

Kasui 150,270 3,83 181

Rebang Tangkas 207,180 5,28 123

Blambangan Umpu 532,990 13,59 110

Way Tuba 206,250 5,26 78

Negeri Agung 562,980 14,36 72

Bahuga 138,220 3,52 74

Buay Bahuga 102,035 2,60 75

Bumi Agung 131,745 3,36 72

Pakuan Ratu 580,340 14,80 36

Negara Batin 348,400 8,88 27

Negeri Besar 362,370 9,24 22

Way Kanan 3 921,630 100,00

Sumber: Kabupaten Way Kanan dalam Angka 2020

Kabupaten Way Kanan adalah salah satu dari 15 kabupaten/kota di Provinsi Lampung, yang memiliki luas wilayah seluas 3.921,63 km2 atau sebesar 11,11% dari luas Provinsi Lampung. Ibukota kabupaten adalah Blambangan Umpu yang menjadi salah satu kampung tua yang ada di Kabupaten Way Kanan.

Tabel 6 menunjukkan bahwa kecamatan terluas adalah Pakuan Ratu yang merupakan salah satu lokasi penelitian. Kecamatan Pakuan Ratu merupakan pusat pabrik gula berproduksi. Kecamatan yang memiliki wilayah paling sempit adalah Kecamatan Buay Bahuga. Tiga kecamatan yang menjadi lokasi penelitian tergolong memiliki wilayah yang luas.

Kecamatan yang berada pada posisi paling tinggi dari permukaan laut adalah Kecamatan Banjit karena topgrafinya yang berbukit dan pegunungan.

Kecamatan Bahuga, Pakuan Ratu dan Negara Batin berada pada ketinggian antara

(25)

25 74-27 m dari permukaan laut yang dilewati oleh aliran sungai besar yang ada di Kabupaten Way Kanan. Beberapa kampung tua yang berada di pinggiran sungai ketiga kecamatan lokasi penelitian tersebut sering terkena banjir musiman/tahunan. Banjir yang dimaksud berasal dari luapan air sungai.

Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk berdasarkan kecamatan di Kabupaten Way Kanan ditunjukkan oleh Tabel 7. Kecamatan yang memiliki jumlah penduudk terbanyak pada tahun 2010 adalah Belambangan Umpu yang merupakan ibu kota kabupaten. Kecamatan Belambangan Umpu merupakan pusat pemerintahan, perekonomian dan pendidikan di Kabupaten Way Kanan.

Kecamatan yang memiliki jumlah penduduk paling sedikit berdasarkan hasil sensus adalah Kecamatan Bahuga yang merupakan salah satu lokasi penelitian.

Data prediksi secara umum jumlah penduduk pada tahun 2010-2015 dan 2015- 2016 menunjukkan peningkatan dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,43 dan 1,13 per tahun.

Tabel 7 Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk menurut kecamatan di Kabupaten Way Kanan 2018, 2019, dan 2020

Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk (ribu) Laju PP/Th*

2018 2019 2020 %

2018

2018- 2020

2018- 2019

Banjit 42 408 44 593 44 971 10,28 1.18 0.91

Baradatu 37 865 38 744 38 860 8,88 0.52 0.36 Gunung Labuhan 27 001 28 742 29 057 6,64 1.48 1.16

Kasui 29 868 31 026 31 213 7,13 0.88 0.67

Rebang Tangkas 19 790 21 189 21 445 4,90 1.62 1.28 Blambangan Umpu 54 936 61 516 62 821 14,36 2.72 2.19 Way Tuba 20 477 22 201 22 526 5,15 1.93 1.53 Negeri Agung 32 700 35 765 36 353 8,31 2.14 1.71 Bahuga 9 657 9 761 9 766 2,23 0.22 0.11 Buay Bahuga 19 059 19 309 19 329 4,42 0.28 0.16 Bumi Agung 24 520 25 436 25 582 5,85 0.85 0.64 Pakuan Ratu 37 311 39 338 39 691 9,07 1.24 0.97 Negara Batin 33 751 37 123 37 776 8,63 2.28 1.82 Negeri Besar 18 182 18 171 18 140 4,15 -0.05 -0.11 Way Kanan 407 525 432 914 437 530 100 1,43 1,13

* Laju Pertumbuhan Penduduk per Tahun

Sumber: Kabupaten Way Kanan dalam Angka 2020

Kecamatan Negeri Besar menjadi satu-satunya wilayah yang mengalami penurunan jumlah penduduk dengan laju pertumbuhan sebesar -0,05 pada tahun

(26)

26 2018-2020 dan terus menurun -0,11 pada tahun 2020. Kenyataan ini disebabkan karena banyaknya penduduk di kecamatan tersebut bermigrasi ke kota-kota besar dan tidak kembali lagi ke kampung halaman.

Jumlah penduduk Kabupaten Way Kanan berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2015 sebanyak 432.914 jiwa yang terdiri atas 223.116 jiwa penduduk laki- laki dan 209.798 jiwa penduduk perempuan. Dibandingkan dengan proyeksi jumlah penduduk tahun 2014, penduduk Way Kanan mengalami pertumbuhan sebesar 1,12%. Sementara itu besarnya angka rasio jenis kelamin tahun 2015 penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan sebesar 106.

Kabupaten Way Kanan memiliki 47% jumlah penduduk baik laki-laki maupun perempuan berumur 15 tahun keatas yang bekerja selama seminggu (lihat Tabel 10). Berbagai status pekerjaan mereka diantaranya adalah berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap, berusaha dibantu buruh tetap, karyawan/pegawai, pekerja bebas dan pekerja keluarga. Status pekerjaan yang paling banyak adalah sebagai pekerja keluarga / tak dibayar berjumlah 54.597 orang. Tradisi dalam keluarga bila memiliki usaha keluarga, maka pekerja yang paling utama adalah anggota keluarga namun gaji tidak dibayar dengan professional karena dianggap miliki bersama.

B. Model Pengambilan Keputusan Masyarakat Desa Rawan Bencana Banjir Dalam Menyusun Rencana Pengelolaan Dana Desa.

Banjir yang terjadi di Kecamatan Negara Batin terjadi setiap tahun, akan tetapi sejauh ini belum ada mitigasi bencana yang dialokasikan dari dana desa.

Dampak dari perubahan iklim dan cuaca yantidak menentu prediksi banjir yang terjadi tidak dapat diketahui sebagaimana pada ahun-tahun yang lalu.

Dana Desa adalah dana yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara yang diperuntukan bagi Desa yang ditransfer melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat (Permen PDTT no 13/2020).

Berdasarkan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2020 tentang prioritas

(27)

27 penggunaan dana desa tahun 2021 bahwa desa harus mengikuti peraturan yang sudah ditentukan dalam mengambil keputusan menyusun rencana pengelolaan dana desa.

Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah menimbulkan korban jiwa, dan kerugian material yang semakin besar, sehingga berimplikasi pada aspek sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Penggunaan Dana Desa Tahun 2020 telah diprioritaskan untuk penanganan COVID-19. Kegiatannya berupa Desa tanggap Covid 19, Padat Karya Tunai Desa, dan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa. Selanjutnya, untuk memperkuat adaptasi kebiasaan baru dan pemulihan ekonomi di Desa, penggunaan Dana Desa Tahun 2020 juga difokuskan untuk membiayai Desa Aman COVID-19 dan Padat Karya Tunai Desa (PKTD) untuk pemberdayaan ekonomi Desa melalui badan usaha milik desa.

Penggunaan Dana Desa Tahun 2021 tetap diarahkan pada jaring pengaman sosial, Desa Aman COVID-19 dan pemulihan ekonomi nasional yang mencakup sektor strategis nasional. Sektor strategis nasional meliputi:

1. sarana/prasarana energi;

2. sarana/prasarana komunikasi;

3. sarana/prasarana pariwisata;

4. pencegahan stunting; dan 5. pengembangan Desa inklusif.

Prioritas penggunaan dana desa dilihat dari aspek SDGs Desa, pemulihan ekonomi nasional yang sesuai kewenangan desa, program prioritas nasional sesuai kewenangan desa, adaptasi kebiasaan baru desa. Penentuan Prioritas Penggunaan Dana Desa dilakukan melalui penilaian terhadap daftar program/kegiatan pembangunan Desa untuk difokuskan pada upaya pemulihan ekonomi nasional, program prioritas nasional, dan adaptasi kebiasaan baru Desa yang mendukung SDGs Desa. Hal-hal yang diperhatikan dalam penentuan Prioritas Penggunaan Dana Desa adalah sebagai berikut:

1. Berdasarkan permasalahan dan potensi penyelesaian masalah yang ada di Desa dipilih program/kegiatan yang paling dibutuhkan masyarakat Desa dan yang paling besar kemanfaatannya untuk masyarakat Desa, sehingga Dana Desa dilarang untuk dibagi rata;

(28)

28 2. Program dan/atau kegiatan yang direncanakan harus lebih banyak melibatkan masyarakat Desa khususnya Padat Karya Tunai Desa (PKTD)

3. Program dan/atau kegiatan yang direncanakan harus dilaksanakan secara swakelola dengan menggunakan sumberdaya yang ada di Desa;

4. Program dan/atau kegiatan yang direncanakan harus dipastikan adanya keberlanjutan manfaat bagi generasi mendatang; dan

5. Program dan/atau kegiatan yang direncanakan harus dikelola secara partisipatif, transparan dan akuntabel.

Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa dilaksanakan melalui aplikasi digital yang disediakan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.

Tahapan Perencanaan Penggunaan Dana Desa:

1. Keterbukaan informasi pembangunan Desa

Desa menginformasikan secara terbuka kepada masyarakat Desa hal-hal sebagai berikut:

a. data Desa serta peta potensi dan sumber daya pembangunan Desa;

b. dokumen RPJMDesa;

c. program/proyek masuk Desa;

d. besaran anggaran Desa dan sumber pembiayaan pembangunan Desa;

dan

e. kebijakan Prioritas Penggunaan Dana Desa untuk pemulihan ekonomi nasional, program prioritas nasional, dan adaptasi kebiasaan baru Desa yang mendukung SDGs Desa.

2. Musyawarah dusun/kelompok

a. warga Desa mendiskusikan rencana Prioritas Penggunaan Dana Desa berdasarkan data dan informasi yang diberikan oleh Desa melalui berbagai forum diskusi.

(29)

29 b. tim penyusunan RPJMDesa atau tim penyusunan RKP Desa menyelenggarakan musyawarah dusun/kelompok untuk mendiskusikan rencana Prioritas Penggunaan Dana.

c. masyarakat Desa merumuskan usulan program dan kegiatan yang diprioritaskan untuk didanai dengan Dana Desa; dan

d. hasil Musyawarah dusun/kelompok menjadi usulan warga dalam Musyawarah Desa.

3. Musyawarah Desa

Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa dibahas dan disepakati dalam Musyawarah Desa. Masyarakat Desa wajib mengawal usulan Prioritas Penggunaan Dana Desa agar dibahas dan disepakati dalam Musyawarah Desa.

Berita acara Musyawarah Desa menjadi pedoman dalam penyusunan dokumen RPJMDesa, RKP Desa, dan APB Desa.

C. Perspektif Aparat Desa Menilai Hasil Pengelolaan Dana Desa Tahun Lalu.

Terdapat 3 kampung di Kecamatan Negara Batin yang terdampak Banjir tahunan akibat luapan dari sungai Way Kanan yaitu Kampung Srimenanti, Kampung Kartajaya dan Kampung Negara Batin. Penentuan prioritas rencana alokasi anggran dana desa dibuat sedemikin rupa oleh pemerintah pusat memiliki kelemahan karena tidak mengatur karakteristik desa yang beragam. Contohnya saja di Kecamatan Negara Batin ini ada desa yang terdampak banjir tahunan dan ada yang tidak. Aturan yang dibuat oleh pemerintah pusat bersifat general, berlaku untuk semua desa yang ada di Indonesia.

Bagi desa-desa yang terdampak banjir harusnya menyediakan anggaran yang lebih dibandingkan desa-desa yang tidak terdampak banjir. Hal ini disebabkan karena adanya biaya untuk mitigasi bencana. Sehingga perlu adanya anggran yang sifatnya darurat dan ada punya yang perlu direncanakan untuk jangka panjang, misalnya membangun infrastruktur yang sesuai dan dibutuhkan dalam mitigasi bencana.

(30)

30 Gambar 4 Suasana Banjir di Kampung Srimenanti

Sumber: Dokumentasi saat pra survey, 2021

Luapan suangai Way Kanan ini setiap tahun berdampak pada Kecamatan Negara Batin. Skema kolaborasi dan multistakeholders dari dari pemerintah daerah, CSR perusahaan dan desa perlu merencakan proyek mengatasi bencana banjir tahunan. Hal ini penting mengingat mayoritas masyarakat sangat menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian dan perkebunan. Masyarakat tidak dapat mendapatkan hasil / panen dari lahannya yang terendam banjir. Sawah mengalami kegagalan panen, karena padi rusak direndam air. Ini menyangkut ketersediaan pangan masyarakat lokal dan keberlangsungan hidup masyarakatnya.

Isu ketahanan pangan menjadi penting, karena ancaman dari banjir tahunan yang terjadi.

Pada sisi kesehatan masyarakat juga dihantui oleh berbagai penyakit pasca banjir, seperti penyakit kulit, diare, dan gangguan kesehatan lainnya karena sumur sumber air bersih masyarakat tertutup oleh banjir dan buang air besar tidak di toilet karena toiletnya tergenang air. Kebutuhan dasar masyarakat terganggu setiap tahun karena banjir.

(31)

31 Gambar 5 Siswa SD tetap berangkat ke sekolah walaupun dalam suana banjir

Sumber: Dokumentasi saat prasurvey, 2021

Banjir yang menggenangi kampung sampai berhari-hari bahkan berminggu-minggu juga mengganggu konsentrasi sekolah anak-anak. Walaupun sekolah sudah dipindahkan di dataran yang lebih tinggi akan tetapi rumah-rumah siswa dan guru terkena banjir sehingga harus menggunakan perahu atau membawa salinan saat pakaian basah. Bahkan disuasana banjir besar, terpaksa sekolah diliburkan sementara.

Pada saat banjir, hampir semua pemukiman dan sebagian lahan pertanian / perkebunan terampak. Oleh sebab itu pula arsitektur rumah di Kampung Srimenanti model panggung. Dana desa yang diterima dirasa tidak cukup jika digunakan untuk menangani banjir tahunan di Kampung kami. Jika dana desa digunakan untuk kepentingan mitigasi bencana maka akan kurang, padahal alokasi dana desa diperuntukkan beberapa hal. Jika digunakan untuk menangani banjir, maka rasanya mubazir karena tidak bisa diselesaikan sekaligus dalam satu waktu. Keadaan berbeda saat musim kemarau, karena sungai Way Kanan justru surut dan bahkan bibir sungai terseperti pantai. Tidak sedikit masyarakat setempet memanfaatkannya untuk menanam sayuran di tempat tersebut.

(32)

32 Gambar 6 Sungai Way Kanan saat musim kemarau di Kampung Srimenanti.

Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2021

Sudah pernah ada pengukuran di Kampung Srimenanti dalam upaya mengatasi bencana banjir tahunan, namun setelah itu tidak ada progress lagi. Oleh sebab itu perlu ada strategi advokasi bagi berbagai multistakeholders untuk memperjuangkan solusi agar beberapa Kampung yang ada di Kecamatan Negara Batin dapat mengatasi persoalan banjir tahunan.

D. Skenario Perencanaan Pembangunan Desa

Desain hirarki dari penelitian ini terdiri dari tiga level yaitu level 1 adalah goal, level 2 adalah kriteria, dan level 3 adalah sub kriteria. Tujuan yang ingin dicapai adalah menentukan prioritas pemanfaatan alokasi dana desa secara universal di Kecamatan Negara Batin. Level kriteria terdiri dari 2 elemen dan sub kriteria terdiri 2 tabel perbandingan berpasangan (pair wise comparison). Tahapan selanjutnya ialah melakukan penilaian dari tiap kriteria dan sub kriteria.

Berikut ini adalah bagan hirarki prioritas pemanfaatan alokasi dana desa dana desa tahun 2022:

(33)

33 Gambar 7 hirarki prioritas pemanfaatan alokasi dana desa dana desa tahun

2022

1. Penilaian Kriteria

a. Penilaian kriteria dari prioritas pemanfaatan alokasi dana desa Kriteria ini terdiri dari 2 elemen yaitu:

K1 : Swakelola

K2 : Padat Karya Tunai Desa

Tabel 8 Nilai Eigen Vektor

Criteria K1 K2 Jumlah Rata-Rata Persentase

K1 0.667 0.667 1.333 0.667 67

K2 0.333 0.333 0.667 0.333 33

Jumlah 1 1 2 1 100.00

Sumber: Olahan data primer, 2021

Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai rata-rata terbesar adalah elemen pengadaan barang dan jasa. Elemen ini paling prioritas dalam penyusunan rencana pada sub kriteria pemanfataan alokasi dana desa. Selanjutnya ditentukan nilai

(34)

34 Consistency Ratio Analysis dari tabel perbandingan kriteria di atas. Nilai konsistensi rasio pada perhitungan sub kriteria ini yaitu 0 dimana lebih kecil dari 0.1 yang berarti ketidakkonsistenan responden dalam menjawab masih dalam batas toleransi.

Gambar 8 Hirarki Kriteria prioritas pemanfaatan dana desa

Sumber: Olahan data primer, 2021

Hasil penilaian kriteria kriteria prioritas pemanfaatan alokasi dana desa menunjukkan bahwa elemen swakelola (67%) lebih prioritas dan penting untuk dilaksanakan dalam menyusun rencana pemanfaatan alokasi dana desa selanjutnya dengan mempertimbangkan aturan dan kebutuhan masyrakat. Adapun elemen Padat Karya Tunai Desa hanya berkisar 33%.

b. Penilaian Subkriteria kriteria dari Swakelola Kriteria ini terdiri dari 2 elemen yaitu:

K1 : Pengadaan Barang dan jasa

K2 : Pengembangan kapasitas masyarakat

(35)

35 Tabel 9 Nilai Eigen Vektor

Criteria K1 K2 Jumlah Rata-Rata Persentase

K1 0.667 0.667 1.333 0.667 45

K2 0.333 0.333 0.667 0.333 55

Jumlah 1 1 2 1 100.00

Sumber: Olahan data primer, 2021

Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai rata-rata terbesar adalah elemen pengadaan barang dan jasa. Elemen ini paling prioritas dalam penyusunan rencana pada sub kriteria pemanfataan alokasi dana desa. Selanjutnya ditentukan nilai Consistency Ratio Analysis dari tabel perbandingan kriteria di atas. Nilai konsistensi rasio pada perhitungan sub kriteria ini yaitu 0 dimana lebih kecil dari 0.1 yang berarti ketidakkonsistenan responden dalam menjawab masih dalam batas toleransi.

Gambar 9 Hirarki Kriteria prioritas pemanfaatan dana desa

Sumber: Olahan data primer, 2021

Hasil penilaian kriteria kriteria prioritas pemanfaatan alokasi dana desa menunjukkan bahwa elemen pengembangan kapasitas masyarakat (55%) lebih prioritas dan penting untuk dilaksanakan dalam menyusun rencana pemanfaatan

(36)

36 alokasi dana desa selanjutnya dengan mempertimbangkan aturan dan kebutuhan masyrakat. Adapun elemen pengadaan barang dan jasa hanya berkisar 45%.

b. Penilaian Subkriteria Padat Karya Tunai Desa Kriteria ini terdiri dari 2 elemen yaitu:

K1 : Pertanian dan Perkebunan K2 : Restoran dan wisata desa K3 : Perdagangan

K4 : Perikanan K5 : Peternakan

Tabel 10 Tabel Nilai Eigen Vektor

Criteria K1 K2 K3 K4 K5 Jumlah Rata-

Rata Persentase K1 0.275 0.571 0.273 0.222 0.125 1.466 0.293 29.32 K2 0.039 0.143 0.273 0.222 0.25 0.927 0.185 18.54 K3 0.275 0.143 0.273 0.333 0.375 1.398 0.280 27.97 K4 0.137 0.071 0.091 0.111 0.125 0.536 0.107 10.71 K5 0.275 0.071 0.091 0.111 0.125 0.673 0.135 13.46

Jumlah 1 1 1 1 1 5 1 100.00

Sumber: Olahan data primer, 2021

Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai rata-rata terbesar adalah elemen pertanian dan perkebunan. Elemen ini paling prioritas dalam penyusunan rencana pada sub kriteria padat karya tunai desa. Selanjutnya ditentukan nilai Consistency Ratio Analysis dari tabel perbandingan kriteria di atas. Nilai konsistensi rasio pada perhitungan sub kriteria ini yaitu 0.097 dimana lebih kecil dari 0.1 yang berarti ketidakkonsistenan responden dalam menjawab masih dalam batas toleransi.

(37)

37 Tabel 11 Consistency Ratio Analysis (K1)

Lamda Max 5.432

CI = (Landa Max-n)/(n-1) 0.108

IR= Ketetapan (Constanta) 1.12

CR= CI/IR 0.097

Sumber: Olahan data primer, 2021

Nilai konsistensi rasio yaitu 0.097 lebih kecil dari 0.1 yang berarti ketidakkonsistenan responden dalam menjawab masih dalam batas toleransi.

Gambar 10 Hirarki Kriteria prioritas pemanfaatan dana desa

Sumber: Olahan data primer, 2021

Hasil penilaian kriteria kriteria prioritas pemanfaatan alokasi dana desa menunjukkan bahwa elemen pengembangan kapasitas masyarakat (55%) lebih prioritas dan penting untuk dilaksanakan dalam menyusun rencana pemanfaatan alokasi dana desa selanjutnya dengan mempertimbangkan aturan dan kebutuhan masyrakat. Adapun elemen pengadaan barang dan jasa hanya berkisar 45%.

0.29 0.19

0.28 0.11

0.13

0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 pertanian dan perkebunan

restoran dan wisata desa perdagangan perikanan peternakan

Rata-rata nilai Eigen

Kriteria program / kegiatan

(38)

38 BAB 7 SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Model pengambilan keputusan masyarakat desa dalam menyusun prioritas pemanfaatan dana desa sudah mengimplementasikan model yang diatur pemerintah dalam Permendes No 13 Tahun 2020 dengan melibatkan masyarakat, akan tetapi belum memunculkan partisipasi penuh masyarakat karena prioritas pemanfaatan dana desa juga menyesuaikan dengan aturan nasional dan daerah.

Analisis perspektif masyarakat terhadap pemanfaatan dana desa belum mampu megedepankan kebutuhan karakter desa rawan banjir, masih mengutamakan pembangunan jangka pendek dan belum bisa menciptakan pembangunan yang berkelanjutan. Berdasarkan shasil sintesa scenario perencanaan pemanfaatan dana desa kegiatan swakelola menjadi lebih prioritas dibandingkan kegiatan Padat Karya Tunai Desa. Dimana subkriteria pengembangan kapasistas masyarakat adalah menjadi lebih prioritas pada kegiatan Swakelola dan sub kriteria pertanian dan perkebunan menjadi lebih prioritas dalam kegiatan Padat Karya Tunai Desa.

Saran

Pemanfaatan dana desa menjadi lebih tepat sasaran, mendukung pembangunan jangka panjang dan berkelanjutan jika desa mampu mengatasi sumber permasalahannya, khususnya desa rawab banjir. Perlu treatment anggaran bagi desa-desa dalam kategori desa rawan bencana.

(39)

39 DAFTAR PUSTAKA

Awaliyah, N., Sarjanti, E., & Suwarno, S. (2014). Pengetahuan Masyarakat Dalam Mitigasi Bencana Banjir di Desa Penolih Kecamatan Kaligondang Kabupaten Purbalingga. Geo Edukasi, 3(2).

Azis, I. J. (2010). Pembangunan berkelanjutan: peran dan kontribusi Emil Salim.

Kepustakaan Populer Gramedia.

Ermalena, M. H. S. (2017). Indikator Kesehatan SDGs di Indonesia. The 4th ICTOH, Jakarta.

Guirado C, Valldeperas N, Tulla AF, Sendra L, Badia A, Evard C, Cebollada A, Espluga J, Pallares I, Vera A. 2017. Social farming in Catalonia: Rural local development, employment opportunities and empowerment for people at risk of social exclusion. Journal of Rural Studies 56, 180-197 Hatu, RA. 2010. Pemberdayaan dan pendampingan social dalam masyarakat

(Suatu Kajian Teortis). Inovasi, Vol 7, no 4. ISSN 1693-9034.

https://doi.org/10.1016/j.jrurstud.2017.09.015

Harahap, M. E., Lufti, M. L., & Muthalib, A. (2015). Pengaruh Pengetahuan dan Sikap Terhadap Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Menghadapi Bencana Banjir di Desa Perkebunan Bukit Lawang Kecamatan Bahorok Tahun 2011. Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA, 1(1), 22-31.

Kartasasmita Ginanjar, 1996. Pembangunan Untuk Rakyat. Pustaka Gramedia Jakarta.

Korten, David C. 1987. Community managemen, connectitut. Kumarian Press, Westaharford.

Lippit, RJW, Westley B. 1958. The Dynamics of planned Change. New York:

Harcourt, Brace and World, Inc.

Mayo, V. 1994. Community Worker, in practicing social work. Editor Christopher Hanvey and Terry Philpot, London (UK): Routledge.

Mardikanto, T. 2010. Konsep-konsep pemberdayaan Masyarakat: Acuan bagi aparat birokrasi, akademisi, praktisi, dan peminat/pemerhati pemberdayaan masyarakat. Surakarta (ID): Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.

Moleong, JL. 2000. Metode Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya; Bandung.

Mubyarto, 1998. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat dan Peranan Ilmu-Ilmu Sosial,. Yayasan Argo-Ekonomika. Jakarta.

Muslim, A. 2012. Dasar-dasar pengembangan Masyarakat. Yogyakarta: Samudra Biru.

Praharsi, Y. 2006. Pemodelan data kualitatif dengan program nvivo (studi kasus:

kegiatan menulis dalam pengajaran dan pembelajaran matematika diskret). Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI 2006).

ISSN: 1907-5022, Yogyakarta.

Rustiadi E, Saefulhakim S, Panuju DR. 2011. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Jakarta: Crestpent Press dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia Saaty, T. L. (2004). Decision making—the analytic hierarchy and network

processes (AHP/ANP). Journal of systems science and systems engineering, 13(1), 1-35.

(40)

40 Saaty, T. L. (2008). Decision making with the analytic hierarchy process.

International journal of services sciences, 1(1), 83-98.

Sari, A. (2018). Analisis Kebijakan Penanganan Kemacetan Lalulintas Di Jalan By Pass Ketaping-Kuranji, Padangdengan Metode Analisis Hirarki Proses (AHP). Rang Teknik Journal, 1(1).

Setiawan, JL. 2006. Analisis Data Kualitatif - Alat Bantu. Anima: Indonesian Psychological Journal Fakultas Psikologi. Universitas Surabaya, No 4, Vol 21

Sidik, A., Mulya, BW. 2011. Pendekatan Analisis Data Menggunakan NVivo- software untuk Penelitian Desain Logo Museum Nasional Jakarta. Jurnal Desain Komunikasi Visual Nirmana. Vol. 13, No. 1, 1-4.

Sharma, V. (2019). Access for adaptation? Reviewing the linkages between energy, disasters, and development in India. Energy Research & Social Science, 52, 10–19. doi:10.1016/j.erss.2019.01.025

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta

Sumodiningrat, G. 1999. Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat. Bina Rena Pariwara. Jakarta.

Susetiawan. 2016.Peningkatan kualitas masyarakat melalui cara pemberdayaan:

dalam perspektif pembnagunan social. Makalah disampaiakan pada Seminar Nasional di fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Neger Syarf Hidayatullah Jakarta pada tanggal 26 Mei 2016.

Wahyu Nugraha Wicaksono. 2010. Analisis Debit Banjir DAS Tajum Menggunakan Program HEC-HMS. Skripsi. Fakultas Teknik:Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Wang, C. (2014). Regulating land development in a natural disaster-prone area:

The roles of building codes. Resource and Energy Economics, 36(1), 209–

228. doi:10.1016/j.reseneeco.2012.10.002.

(41)

41

LAMPIRAN

(42)

DOKUMENTASI PENELITIAN

Kegiatan Pengumpulan Data Melalui FGD, 2021

Kegiatan Pengumpulan Data Melalui FGD, 2021

(43)

Kegiatan Pengumpulan Data Melalui FGD, 2021

(44)

BIODATA KETUA PENELITI

Data Identitas Diri

1 Nama Lengkap : Prof. Dr. Yulianto, M.S.

2 Jabatan Fungsional : Guru Besar (Ilmu Administrasi Negara) 3 Jabatan Struktural : Pembina Utama Muda

4 NIP : 19610704 198803 1 005

5 NIDN : 0004076104

6 Program Studi : Ilmu Administrasi Negara 7 Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 8 Tempat & Tanggal Lahir : Metro, 4 Juli 1961

9 Alamat Rumah : Jl. Krakatau No.33B Teluk Betung BDL

11 Handphone : 0823 7374 3000

12 Alamat Kantor : Jl. Prof. Dr. Soemantri Brojonegoro No.

1, BDL

13 Alamat e-mail : [email protected] 14 Mata Kuliah yang Diampu : Metode Penelitian Sosial

Kepemimpinan Organisasi Publik Administrasi Keuangan Negara Statistik Penelitian Sosial Pajak & Retribusi

Riwayat Pendidikan

S-1 S-2 S-3

Nama PT UNPAD IPB UNPAD

(45)

Bidang Ilmu Administrasi Negara Penyuluhan

Pembangunan Ilmu Administrasi Thn. Masuk - Lulus 1982-1986 1991-1993 2004-2008

Judul Skripsi/Thesis Pengaruh

Implementasi Kebijakan Self Assesment terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi di Provinsi

Lampung

Pengalaman Penelitian

Nama Kegiatan Keterangan

Pemantauan dan Evaluasi Program Kompensasi Pengurangan

Subsidi BBM di Propinsi Lampung DIPA Unila Transformasi Birokrasi Publik di Era Otonomi Daerah DIPA Unila

KPU, Pemilu dan Demokratisasi DIPA Unila

Pola Kepemimpinan Camat dalam Pelayanan Publik di

Bandar Lampung DIPA Unila

Penglolaan Keuangan Daerah DIPA FISIP

Evaluasi Pemekaran Wilayah Kabupaten Lampung Barat &

Kabupaten Tanggamus DIPA FISIP

Penyusunan Pedoman Analisis jabatan Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Lampung Utara

DIPA Unila

Penyusunan Sistem Penghargaan dan Sanksi Pegawai

Kabupaten Lampung Utara DIPA FISIP

Implementasi Prinsip Pemberdayaan Dalam Perumusan Peraturan Desa Sebagai Wujud Reponsibilitas Pemerintahan Desa (Studi Desa Kesumadadi, Kecamatan Bekri, Kabupaten Lampung Tengah)

DIPA FISIP

Reformasi Birokrasi Berbasis Kearifan Lokal: Model Budaya Birokrasi Pemerintah Daerah Yang Mengadopsi Nilai Lokal Di Provinsi Lampung

DRPM

Kemenristetkdikti

Gambar

Tabel 1 Penelitian Sebelumnya
Gambar  1 Peta Jalan Penelitian
Tabel 2 skala perbandingan berpasangan menurut Thomas L. Saaty
Gambar  2 Diagram Alir dan Output Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

(1) Kepala Dinas mempunyai tugas merumuskan, menyelenggarakan, membina dan mengevaluasi penyusunan dan pelaksanaan urusan pemerintahan daerah serta tugas pembantuan

Hal yang sebaliknya terjadi para era reformasi, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang memberikan ruang gerak pada dunia pers, dan SIUPP dihapuskan.Tapi pada

Target pada tahun ini, setiap kuartal BBTN akan menyelesaikan kredit macet sebesar Rp1.5 – 1.9 tn dari kredit bermasalah untuk konsumer dan komersial dengan total Rp7 tn.. Kenaikan

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Untuk meningkatkan pemahaman konsep sains anak sebelum dan sesudah diberikannya kegiatan yang berhubungan dengan sains melalui model

Berdasarkan data, sebesar 75% kabupaten di Indonesia pada tahun 2005 memiliki nilai jumlah penduduk miskin dibawah 114200.. Namun di tahun 2011, 75% kabupaten di Indonesia

Diamati dari prosesnya, kebiasaan belajar memang lebih dominan pada tindakan siswa atau tingkah laku setiap kali melakukan proses pembelajaran secara konsisten, maksudnya

Nije proveravao zavoje samo zbog toga što je to bilo neophodno, već i zato što nije bio u stanju da naĊe reĉi za nešto. Posmatram ga

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi logistik (logistic regression), yaitu dengan melihat pengaruh pergantian manajemen, ukuran