JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 16 A. PENDAHULUAN
Pasar kendaraan jenis truk di Indonesia menjadi rebutan para Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). Deretan kepulauan Nusantara yang menyimpan beragam sumber daya alam, merupakan pasar potensial kendaraan berbadan lebar. Terutama sebagai alat angkut barang antar daerah.
Truk, kendaraan pengangkut barang, berdasarkan daya angkutnya dibagi dalam tiga jenis. Pertama adalah light trucks, yaitu truk yang mampu mengangkat beban-beban- ringan. Kedua medium trucks lebih kepada beban-beban sedang. Ketiga, heavy trucks adalah truk yang biasa digunakan dalam mengangkut beban yang sangat berat.
Selain itu truk juga dibedakan berdasarkan sumbu roda yang dimiliki.
Semakin banyak sumbu roda yang dimiliki
sebuah truk maka mampu mengangkut beban semakin berat. Di Indonesia truk yang dijual mulai dari dua sumbu roda sampai dengan enam sumbu roda. Sedangkan untuk beban angkutnya mulai dari 10 ton hingga 50 ton. Produsen truk sendiri di dunia cukup banyak
diantaranya Isuzu, Daimler AG (Mercedes-Benz, Sterling Trucks, Unimog, Western Star, Fuso), Volvo Group (Volvo, Mack, Renault, UD Nissan Diesel), Hyundai, Hino Motors dan masih banyak lagi.
Tidak semua produsen truk menjual produknya ke Indonesia. Namun, produsen seperti Mitsubishi, Hino, Nissan Diesel,
ANALISIS POSITIONING TRUK KELAS 2 TON SEBAGAI DASAR PENENTUAN STRATEGI POSITIONING di Eks KARESIDENAN BESUKI
Endang NARYONO STIE PASIM SUKABUMI [email protected]
ABSTRACT
This Research aim to to analyse map of ATPM class truck positioning 2 ton pursuant to perception of consumer in Ex Besuki karesidenan. Elementary which used to position ATPM truck 2 ton is perception of consumer to determinant attribute looking like which compose product, price, salesman, discounted, availibility of spar-part, price sell again, access price, endurance, strength of machine, payload capacities, suspensi, each fuel efficiency and akselerasi of Truck class ATPM 2 ton. Technique analyse is Multidimensional Scaling ( MDS). This Research is done/conducted by taking responder counted 100 responder with method of purposive sampling. obtained data to be tested to use analysis of MDS to know and And Reliability Validity, result of map of ATPM class truck positioning 2 ton ( Mitsubishi Canter, Toyota Dyna, Hino Dutro and of Isuzu ELF)) pursuant to perception of consumer, and equality of responder attitude in giving assessment. Pursuant to result of analaisis there are difference of each position of Truck class ATPM 2 ton pursuant to perception of consumer and indicate that ATPM brand ton second class truck of Hino Dutro represent competitor closest or direct competitor (competitor direct) of brand of Toyota Dyna, especially concerning price, discounted, availibility of access, price sell again, access price, endurance, strength of machine, payload capacities, suspensi, fuel efficiency and akselerasi.
Operator of Mitsubishi Canter and of Isuzu ELF don't have direct competitor because owning biggest difference or unique and clear diferensiasi. Pursuant to its Positioning of Mitsubishi represent vehicle owning nimble akselerasi and price sell high again and have weakness at payload capacities which small relative, Toyota represent strong vehicle and big energy
Keyword : positioning, perception, attribute.
JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 17 Hyundai Truck Bus, Toyota dan Volvo
berebut menguasai pasar. Kendaraan jenis truk tampaknya memang benar-benar kendaraan komersil. Ini ditandai oleh ciri penjualan rata-rata bersifat massal. Tidak heran truk sering disebut sebagai kendaraan komersil.
Meskipun pemain di segmen truk di Indonesia tidak terlalu banyak dibandingkan mobil atau motor akan tetapi persaingan tetap berjalan ketat. Seperti yang terjadi di segmen light truck diisi oleh lima produsen.
Mitsubishi Truck Diesel menjadi penguasa untuk segmen ini dengan total penjualan sampai dengan Oktober 2009 mencapai 22.761 unit.
Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) dikelas 2 (dua) ton meskipun pangsa pasar yang besar namun hanya ada 4 ATPM yaitu Mitsubishi, Toyota, Hino dan Isuzu tidak banyaknya ATPM dikelas 2 (dua) ton dikarenakan mendominasinya merek-merek Jepang dibandingkan eropa dan Amerika sehingga persaingan menjadi sangat ketat antar ATPM tersebut memperebutkan pangsa pasar. Sehingga konsekwensi yang harus dihadapi adalah bagai mana memenangkan persaingan dan berupaya meningkatkan pangsa pasar. Cara untuk melihat posisi persaingan adalah dengan mengetahui tanggapan konsumen terhadap produk yang ditawarkan.
Eks Karesidenan Besuki telah mengalami banyak kemajuan dalam berbagai hal ekonomi, transportasi termasuk fasilitas penunjang kegiatan ekonomi yaitu banyaknya ATPM kendaraan yang masuk Eks Karesidenan Besuki yang masuk khususnya ke kabupaten Jember sebagai salah satu Kabupaten yang pertumbuhan ekonominya yang tumbuh signifikan. Masuknya hampir semua ATPM truk kelas 2 (dua Ton) menunjukan bahwa Eks Karesidenan Besuki mempunyai pasar yang baik bagi kendaraan niaga pada khususnya, hal ini membawa dampak pada persaingan yang sangat ketat.
Untuk memilih pasar sasaran dan melayaninya dengan baik perlu adanya suatu strategi yang efektif dalam memenangkan
pasar. Strategi yang dibentuk perlu mempertimbangkan pendapat dari masyarakat Eks Karesidenan Besuki yang juga menjadi konsumen kendaraan niga khususnya Truk kelas 2 (dua) ton. Pendapat masyarakat Eks Karesidenan Besuki berupa persepsi mengenai ATPM Truk kelas 2 (dua) ton yang pernah digunakan.
Persepsi konsumen memegang peranan penting dalam konsep Positioning karena menafsirkan suatu produk atau merek melalui persepsi yaitu hubungan asosiatif yang disimpan melalui proses sensasi (Kotler and Keller, 2007:228). Persepsi konsumen akan menentukan bagaimana posisi masing-masing Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) diantara pesaing-pesaingnya sehingga akan dapat diketahui apakah persepsi konsumen sudah sesuai dengan apa yang diinginkan perusahaan ataukah justru sebaliknya.
Berdasarkan fenomena bisnis yang telah diuraikan diatas, smaka penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui peta Positioning merek truk kelas 2 (dua) ton berdasarkan persepsi konsumen serta langkah-langkah apa yang dapat dilakukan perusahaan agar persepsi konsumen sesuai dengan maksud perusahaan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengetahui peta Positioning kendaraan truk kelas 2 (dua) ton berdasarkan persepsi konsumen serta untuk menentukan strategi Positioning produk truk kelas 2 (dua) ton di Eks Karesidenan Besuki
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, kontribusi bagi perusahaan / main dealer dalam menentukan strategi pemasaran khususnya positioning dan dapat digunakan sebagai informasi serta referensi teori untuk penelitian selanjutnya yang memiliki kaitan positioning kendaraan bagi akademisi
B. TINJAUAN PUSTAKA
Perilaku konsumen didefinisikan
sebagai studi tentang unit pembelian (buying
units) dan proses pertukaran yang melibatkan
perolehan, konsumsi, dan mendisposisi
barang, jasa, ide serta pengalaman (Mowen
JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 18 dan Minor, 2004:6). Studi tentang perilaku
konsumen merupakan dasar dalam manajemen pemasaran. Dimana analisis perilaku konsumen juga memainkan peranan penting dalam merancang kebijakan publik.
Dengan mengetahui perilaku konsumen diharapkan dapat bermanfaat untuk pengembangan kemampuan seorang pemasar dalam menjalankan tugasnya (Nugroho, 2003:7).
Perkembangan perusahaan kearah yang lebih maju dalam persaingan yang semakin ketat harus berusaha menciptakan dan mempertahankan pelanggan dengan cara menghasilkan dan menyampaikan produk yang diinginkan konsumen dengan harga yang kompetitif. Oleh karena itu, setiap pemasar harus berupaya memahami prilaku konsumen untuk kelangsungan hidup perusahaan.
Adanya faktor-faktor yang mempengaruhi dalam proses keputusan pembelian, mengakibatkan keputusan tersebut bukan dilalui pembeli. Prilaku konsumen atau pembeli merupakan suatu proses pengambilan keputusan yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk aktivitas fisik dalam usaha pencarian informasi mengenai suatu produk, untuk melakukan evakuasi, menerima, membeli, menggunakan ataupun menolak suatu produk yang ditawarkan.
Subyektifitas prilaku sering kali terjadi, karena pengalaman seseorang akan mempengaruhi bagaimana memandang suatu hal. Pengalaman setiap orang berbeda, sehingga pada saat tertentu diartikan secara berbeda pula oleh masing-masing orang tersebut. Dengan demikian, konsumen bertindak berdasarkan pada persepsi subyektif mereka terhadap segala sesuatu. Banyaknya jumlah variable yang berpengaruh terhadap prilaku konsumen akan sangat menentukan hasil kesimpulan yang diperoleh. Variable- variable input tersebut dapat dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu variabel internal dan variabel eksternal. Variable internal adalah faktor-faktor yang berpengaruh berasal dari indipidu, sedangkan variable eksternal adalah variable yang terdapat diluar indipidu
yang berpengaruh terhadap prilakunya.
Interaksi antar variable dapat terjadi untuk menambah, menghapus, ataupun mengalihkan pengaruh antara variable yang satu dengan yang lain, misalnya suatu pesan iklan mungkin mengalami kegagalan untuk membujuk konsumen melakukan pembelian, hanya karena pemberi pesan (annoucer) dapat diterima sebagai nara sumber yang dapat dipercaya dalam memberikan informasi, sehingga persepsi negatif terhadap diri annourcer akan menghapus dampak positif dari pesan tersebut.
Persepsi adalah suatu proses yang dilewati seseorang untuk menyeleksi, mengorganisasikan, dan menginterprestasikan informasi-informasi tertentu dalam rangka membentuk makna tertentu mengenai produk atau merek tertentu. Menurut Kotler and Keller (2007 :228), Persepsi merupakan proses yang digunakan oleh indipidu untuk memilih, mengorganisasi, dan menginterpretasi masukan informasi guna menciptakan gambaran dunia yang mempunyai arti.
Persepsi dalam pemasaran mempunyai arti yang lebih penting daripada realitas, karena persepsi yang akan mempengaruhi prilaku aktual konsumen. Persepsi tidak hanya bergantung pada rangsangan fisik, tapi juga rangsangan yang berhubungan dengan lingkungan sekitar dan keadaan indipidu yang bersangkutan. Implikasi penting dari persepsi adalah bahwa pemasar perlu memperhatikan rangsangan yang paling diperhatikan, produk dan yang bermakna, serta mengirimkan pesan yang berulang kepada konsumen. Para ahli tetap berusaha untuk memperoleh gambaran persepsi seseorang tentang suatu objek secara relative disbanding objek-objek lainnya walaupun persepsi sulit diukur secara pasti karena bersifat abstrak. Teknik yang digunakan dinamakan Multidimentional Scaling (MDS)
Positioning menjadi sebuah hal yang
sangat penting dan memegang peranan utama
dalam pemasyaran modern. Positioning
menurut Kotler and Keller (2007:357) adalah
tindakan merancang tawaran dan citra
JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 19 perusahaan sehingga menempati posisi yang
khas (dibandingkan para pesaing) didalam benak pelanggan dan sasarannya. Tujuannya adalah menempatkan merek dalam pikiran konsumen untuk memaksimalkan potensi manfaat perusahaan. Positioning dapat menjadi sebuah jembatan yang menghubungkan antara perusahaan dengan target pasanya. Oleh karena itu, Positioning menjadikan sebuah desain company`s image nyata sehingga pelanggan yang menjadi sasaran mengerti dan memahami apa arti keberadaan perusahaan dalam kaitannya dengan keberadaan para pesaingnya.
Positioning dengan kata lain adalah bagaimana sebuah produk dimata konsumen yang membedakannya dengan produk pesaing.
Kunci keberhasilan Positioning terletak pada kemampuan perusahaan dalam menciptakan persepsi yang diinginkan perusahaan, persepsi pelanggan dan persepsi pesaing itu sendiri, serta jaringan persepsi itu sendiri (perusahaan, pesaing dan pelanggan).
Penentuan komposisi kompetitor merupakan langkah penting yang digunakan dalam riset positioning untuk memahami bagaimana pelanggan tersebut membedakan perusahaan di antara kompetitornya, maka untuk memutuskan bagaimana untuk memposisikan perusahaan adalah dengan memilih konsep Positioning. Konsep Positioning adalah arti keseluruhan yang mengerti oleh konsumen dalam hal hubungannya dengan kebutuhan preferensinya.
Penelitian Purbantara (2006) yang bertujuan untuk mengetahui dan sekaligus menganalisis Positioning mie sedap yang diproduksi oleh Wings group. Hasil penelitian menunjukan daya saing suatu produk dengan pesaing yaitu menunjukan bahwa mie Sedap memiliki daya saing yang kuat dipasaran, kekuatan bersumber pada rasa dan aroma yang dapat dinikmati konsumen.
Penelitian Mahatmanto (2007) yang bertujuan untuk mengatahui posisi jasa PT.
Telkomsel Jember berdasarkan atribut yang ditawarkan dan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara pelanggan dan
calon pelanggan dalam menentukan atribut mana yang paling mempengaruhi penilaian dan paling tidak berpengaruh pada keputusan pelanggan dan calon pelanggan dalam memilih jasa komunikasi. Hasil penelitian menunjukan pelanggan dan calon pelanggan dianggap meiliki kesamaan untuk memilih atribut-atribut yang dianggap penting dalam memilih jasa komunikasi.
Penelitian Kharisma (2009) yang bertujuan untuk mengatahui peta positioning operator telapon seluler GSM sistem prabayar berdasarkan persepsi konsumen dikota Jember dan untuk memposisikan operator seluler berdasarkan persepsi konsumen terhadap kemiripan atribut determinan. Hasil penelitian menunjukan bahwa operator telepon seluler sistem prabayar merek AXIS merupakan pesaing terdekat atau pesaing langsung dari merek TELKOMSEL sedangkan Operator Indosat tidak memiliki positioning yang kuat dan jelas, karena tidak mempunyai banyak kemiripan dan juga tidak mempunyai banyak perbedaan dengan operator lain di benak konsumen. Persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu dengan peneltian ini disajikan dalam Tabel 2.1
Persamaan penelitaan ini dengan penelitaan sebelumnya adalah tentang topik penelitian yakni Positioning. Perbedaannya terletak pada jumlah atribut yang digunakan lebih banyak dan teknik sampling yang digunakan dimana penelitian sebelumnya Purbantara menggunakan metode statified random sampling dan Metode analisis data yang dilakukan Mahatmanto yaitu pada analisi data menggunakan Chi Squar.
C. METODELOGI PENELITIAN Mengacu pada tujuan penelitan,maka akan dilakukan langkah-langkah berikut 1. Untuk menjawab masalah penelitian
pertama yaitu “Bagaimana Positioning Kendaraan Truk dua (dua) ton berdasarkan persepsi konsumen di Eks Karesidenan Besuki ?”
2. Untuk menjawab masalah penelitian
kedua yaitu Strategi Positioning produk
JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 20 apa yang tepat bagi truk kelas 2 (dua) ton
di Eks Karesidenan Besuki ?”
Dalam penelitianini menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang utama dan kemudian dilakukan pengolahan dan analisis data dengan menggunakan metode kuantitatif yaitu dengan mengelompokan data dan kemudian memberikan keterangan. Selanjutnya digunakan analisis data dengan metode kualitatif untuk mengatur fenomena penelitian dengan alat bantu statistik sebagai dasar tujuan hipotesis. Lokasi penelitian terutama penyebaran kuesioner akan dilakukan di wilayah Eks. Karesidenan Besuki yang meliputi Kab. Lumajang, Kab. Jember, Kab.
Banyuwangi, Kab.Situbondo dan Kab.
Bondowoso. Dipilihnya lokasi penelitian ini karena berdasarkan pengamatan dilapangan didapatkan tingkat pengguna truck yang sangat tinggi. Kecendrungan ini kemungkinan terjadi akibat konsumen dalam lingkungan tersebut adalah para pengusaha angkutan yang membutuhkan transportasi angkutan yang terjangkau dan berkualitas untuk melakukan kegiatan usaha. Teknik pengambilan sample yang digunakan adalah Purposive sampling dengan menggunkan 100 sample. Penelitian ini menggunakan dua teknik yaitu field research (Penelitian lapangan) dan Library research (study kepustakaan).
Studi ini menggunakan variable Faktor umum yang diteliti dalam penelitian ini terdiri dari Produk, Harga, Wiraniaga, Diskon, Ketersediaan Suku Cadang, Harga Jual Kembali; dan Harga Suku Cadang. Faktor produk adalah faktor yang teknis yang tidak semua masyarakat mengerti dari arti faktor tersebut sehingga pendefinisiannya perlu pembelajaran kepada orang yang ahli dibidangnya atau membaca dari pustaka tentang otomotif. Faktor produk yang diteliti dalam penelitian ini terdiri dari Daya Tahan, Kapasitas Muatan, Akselerasi, Suspensi; dan Efisiensi Bahan Bakar.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
(Supranto, 2004:190) : Ketepatan suatu pemecahan analisis MDS dinilai dengan
ukuran stress. Stress adalah ukuran untuk menunjukan kekurangtepatan (lack of fit) besar nilai stess semakin tidak tepat bagi peta persepsi mewakili input data. Berdasarkan rusmus stress dari Kruskal, rekomendasi penggunaan nilai stress sebagai berikut.
Indek ketepatan R
2(R squqre) juga harus dikaji. Angka R
2menunjukan ketepatan penskalaan (goodness of fit measure) untuk mewakili data input. Nilai R
2yang tinggi (1 atau 100 %) model akan mewakili dengan sempurna, akan tetapi R
2≥ 0.6 (60% atau lebih) sudah bisa diterima atau bisa mewakili data input dengan cukup baik.
Penentuan posisi (positioning) adalah tindakan untuk merancang citra perusahaan serta nilai yang ditawarkan sehingga pelanggan dalam suatu segmen memahami dan menghargai kedudukan perusahaan dalam kaitannya dengan pesaing. Tugas penentuan posisi terdiri dari tiga langkah: mengenali keunggulan bersaing yang mungkin untuk dimanfaatkan, memilih yang paling tepat dan secara efectif mengisyaratkan kepada pasar tentang posisi yang dipilih perusahaan.
Strategi penentuan posisi produk perusahaan kemudian akan memungkinkan perusahaan beranjak ke langkah berikutnya, yaitu merencanakan alternatif strategi pemasaran bersaingnya. Penentuan posisi dapat dikelompokkan menjadi penentuan posisi menurut nilai, menurut pesaing, menurut manfaat, menurut penggunaan, menurut pemakai, meurut kategori produk, dan menurut atribut.
Tabel 4.5
Nilai Stress Atribut ATPM Truk Kelas 2 Ton
No Atibut Stess
(%) Goodnes s of Fit
1 Produk 3,94 Exellent
2 Harga 3,07 Exellent
3 Wiraniaga 3,89 Exellent
4 Diskon 5,68 Good
5 Ketersediaan Suku Cadang 3,61 Exellent 6 Harga Jual Kembali 3,50 Exellent 7 Harga Suku Cadang 3,04 Exellent
8 Daya Tahan 5,24 Good
9 Kekuatan Mesin 2,84 Exellent
JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 21 10 Kapasitas Muatan 3,02 Exellent
11 Suspensi 3,54 Exellent
12 Akselerasi 2,50 Exellent
13 Efisiensi Bahan Bakar 2,52 Exellent
Nilai RSQ atribut ATPM truk kelas 2 (dua) ton disajikan pada Tabel 4.6 pada Tabel 4.6 terlihat bahwa model dua dimensi yang dihasilkan sudah mewakili data input dengan cukup dengan baik.
Tabel 4.6
Nilai RSQ Atribut ATPM Truk Kelas 2 Ton
No Atibut Stess
(%) Goodness of Fit
1 Produk 77,2 Dapat Diterima
2 Harga 77,3 Dapat Diterima
3 Wiraniaga 87,9 Dapat Diterima
4 Diskon 83,3 Dapat Diterima
5 Ketersediaan Suku Cadang
82,1 Dapat Diterima 6 Harga Jual Kembali 83,6 Dapat Diterima 7 Harga Suku Cadang 78,4 Dapat Diterima 8 Daya Tahan 70,0 Dapat Diterima 9 Kekuatan Mesin 81,0 Dapat Diterima 10 Kapasitas Muatan 78,9 Dapat Diterima 11 Suspensi 83,3 Dapat Diterima 12 Akselerasi 82.7 Dapat Diterima 13 Efisiensi Bahan Bakar 78,5 Dapat Diterima
Positioning Berbasis Produk Persepsi konsumen di bawah ini adalah berdasarkan atribut produk yang meliputi fasilitas garansi mesin, service dan bengkel resmi. Jawaban yang disajikan dalam
Tabel 4.8
Koordinat ATPM Truk Kelas 2 (dua) Ton
No ATPM
Absis (Dimensi
I)
Absis Dimensi II) 1 Mitsubishi 0.823 -0.0507
2 Toyota 0.9398 -0.7188
3 Hino -1.5489 -0.8771
4 Isuzu -0.2115 1.6466
Secara keseluruhan jawaban responden tentang penilaian kemiripan masing-masing ATPM truk kelas 2 (dua) ton berdasarkan atribut produk mencerminkan persepsi konsumen. Posisi ATPM truk kelas 2 (dua)
ton menurut persepsi konsumen dapat dilihat pada koordinat seperti pada Tabel 4.8.
Berdasarkan koordinat pada Tabel 4.8 dapat diketahui positioning dari masing- masing ATPM truk kelas 2 (dua) ton dengan konfigurasi seperti Gambar 4.1
Gambar 4.1
Peta Positioning 2 Dimensi Atribut Produk
Gambar 4.1 adalah hasil proses INDSCAL (Indipidual Differences (weighted) Eucliedean Model) untuk menampilkan peta MDS dari empat ATPM yaitu Mitsubishi Canter, Toyota Dyna, Hino Dutro dan Isuzu Elf. Gambar peta tersebut menunjukan bahwa Toyota Dyna dan Hino Duto letaknya berdekatan. Jarak posisi yang berdekatan dari pasangan ini adalah sebuah hasil persepsi konsumen bahwa ATPM truk kelas 2 (dua) ton yang meliputi fasilitas garansi mesin, service dan bengkel resmi yang mengandung makna bahwa Toyota dan Mitsubishi menurut persepsi konsumen memiliki banyak kemiripan pada atribut produk sedangkan Izusu dan Hino letaknya berjauhan menunjukan bahwa menurut persepsi konsumen Isuzu dan Hino tidak mempunyai banyak kemiripan atau berbeda memiliki ciri khas sendiri (pembeda) dengan ATPM lain, sehingga mudah membedakan karena memiliki ciri khas sendiri-sendiri . Gambar peta menunjukan bahwa Mitsubishi Canter dan Toyota Dyna letaknya berdekatan, sehingga kedua ATPM tersebut memiliki kemiripan satu sama lain pada atribut produk.
Uji Konsitensi Responden Kemiripan
Atribut Produk
JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 22 Gambar 4.2 menunjukan bahwa posisi 100
responden tidak membentuk sebuah garis lurus yang menuju kekanan bawah. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada konsistensi jawaban antar responden dalam menilai kemiripan ATPM truk kelas 2 ton berdasarkan atribut produk.
Gambar 4.2
Peta 2 Dimensi Konsistensi Responden Kemiripan Atribut Produk
Uji Kesamaan Sikap Kemiripan Atribut Produk Gambar 4.3 berisi kumpulan koordinat dari 100 x 13 isi kuesioner, terlihat titik koordinat membentuk berbagai kelompok koordinat sendiri, hal ini membuktikan bahwa responden tidak memiliki kesamaan sikap dalam menilai kemiripan ATPM truk kelas 2 (dua) ton berdasarkan atribut produ
Gambar 4.3 Positioning 2 Dimensi Kesamaan Sikap Kemiripan Atribut Produk
Uji dilakukan ke tiga belas variable baik atribut umum maupun atribut produk
digunakan sebagai gambaranuntuk melakukan strategi produk melalui Positioning
Tabel 4.33
Rekapitulasi Positioning Truk kelas 2 (dua) ton
Atribut Peta Position
ing
Kemiri pan
Skala Terting gi Dimens
i I
Skala Terting gi Dimens
i II Produk Gambar
4.1
Toyota dan Mitsubi shi
Toyota Isuzu
Harga Gambar 4.2
Toyota dan Hino
Mitsubi shi
Hino
Wiraniag a
Gambar 4.3
Tidak ada kemirip an
Mitsubi shi
Hino
Diskon Gambar 4.4
Toyota dan Hino
Isuzu Mitsubi shi Ketersedi
aan suku cadang
Gambar 4.5
Toyota dan Hino
Hino Toyota
Harga jual kembali
Gambar 4.6
Toyota dan Hino
Hino Toyota
Harga suku cadang
Gambar 4.7
Toyota dan Hino
Isuzu Mitsubi shi Daya
Tahan
Gambar 4.8
Toyota dan Hino
Hino Toyota
Kekuatan Mesin
Gambar 4.9
Toyota dan Hino
Isuzu Mitsubi shi Kapasitas
Muatan
Gambar 4.10
Toyota dan Hino
Isuzu Mitsubi shi Suspensi Gambar
4.11
Toyota dan Hino
Hino Toyota
Akseleras i
Gambar 4.12
Toyota dan Hino
Hino Toyota
Efisiensi bahan bakar
Gambar 4.13
Toyota dan Hino
Hino Toyota
Beberapa hal penting tentang
positioning ATPM truk kelas 2 (dua) ton yang
JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 23 dapat dijelaskan dari rekapitulasi hasil Tabel
4.33 adalah tentang kemiripan dan perbedaan pada dimensi 1 dan dimensi 2.
Tabel 4.34
Rekapitulasi Strategi Positioning Mitsubishi Canter
ATPM
TOYOTA DYNA
HINO DUTRO
ISUZU ELF Produk Berdekatan Berjauhan Berjauhan Harga Berjauhan Berjauhan Berjauhan Wiraniaga Berjauhan Berjauhan Berjauhan Diskon Berjauhan Berjauhan Berjauhan Ketersediaa
n suku cadang
Berjauhan Berjauhan Berjauhan
Harga jual kembali
Berjauhan Berjauhan Berjauhan Harga suku
cadang
Berjauhan Berjauhan Berjauhan Daya Tahan Berjauhan Berjauhan Berjauhan Kekuatan
Mesi
Berjauhan Berjauhan Berjauhan Kapasitas
Muatan
Berjauhan Berjauhan Berjauhan Suspensi Berjauhan Berjauhan Berjauhan Akselerasi Berjauhan Berjauhan Berjauhan Efisiensi
Bahan Bakar
Berjauhan Berjauhan Berjauhan
Tabel 4.34 menunjukan bahwa secara umum Mitsubishi Canter tidak mempunyai pesaing langsung hal dikerenakan menurut persepsi konsumen mempunyai karakteristik yang berbeda atau mempunyai ciri khas tertentu dari Toyota Dyna, Hino Dutro dan Isuzu Elf sehingga konsumen bisa membedakan antara produk Mutsubishi dengan yang lain. Persaingan hanya terjadi dengan Toyota Dyna pada atribut Produk yang meliputi fasilitas garansi mesin, service, dan bengkel resmi hal ini dikerenakan Toyota merupakan ATMP resmi yang memiliki standar pelayanan seperti yang dimiliki Mitsubishi sedangkan untuk Hino dan Isuzu belum memiliki standar pelayanan yang dimiliki Mitsubishi dan Toyota.
Tabel 4.38
Rekapitulasi Strategi dan Taktik Positioning Truk Kelas 2 (dua) Ton di Eks Karesidenan
Besuki
Atribut Mitsubish
i Toyota Hino Isuzu
Produk Bersaing Bersaing Tidak bersaing
Tidak Bersaing
Harga Tidak
bersaing
Bersaing Bersaing Tidak bersaing Wiraniaga Bersaing Bersaing Bersaing Bersaing Diskon Bersaing Bersaing Bersaing Bersaing Ketersediaa
n Suku Cadang
Tidak bersaing
Bersaing Bersaing Tidak bersaing Harga Jual
Kembali
Bersaing Tidak bersaing
Tidak bersaing
Bersaing Harga Suku
Cadang
Bersaing Tidak bersaing
Tidak bersaing
Bersaing Daya Tahan diperbaiki Bersaing Bersaing Tidak
bersaing Kekuatan
Mesin
Bersaing Bersaing Bersaing Bersaing Kapasitas
Muatan
diperbaiki Bersaing Bersaing Tidak bersaing Suspensi Bersaing Tidak
bersaing
Tidak bersaing
Bersaing Akselerasi Bersaing Tidak
bersaing
Tidak bersaing
Bersaing Efisiensi
Bahan Bakar
Bersaing Tidak bersaing
Tidak bersaing
Bersaing