• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

11 BAB II

LANDASAN TEORI 2.1 Media Baru (New Media)

Media Baru yaitu dimaksudkan untuk mencakup kemunculan digital, komputer, atau jaringan teknologi informasi dan komunikasi di akhir abad ke-20. Teknologi yang merupakan sebagai media baru yaitu digital, dan seringkali memiliki pandangan dapat bersifat jaringan, padat, mampat, dapat dimanipulasi, tidak memihak, dan interaktif. Jika disederhanakan, media baru ialah interaksi yang terbentuk antara manusia dengan komputer dan internet secara khususnya yang di dalamnya antara lain online forum, blog, online soial network, web dan lain-lain yang menggunakan komputer sebagai medianya. Kemunculan media baru membawa perspektif baru bagi pengguna media sosial. Terdapat ciri utama yang mencirikan perbandingan antara media baru dengan media lama (konvensional) bersumber pada perspektif pengguna, yaitu: pertama, interaktivitas yang ditandai dengan rasio respons ataupun inisiatif dari pengguna terhadap tawaran dari sumber ataupun pengirim pesan. Kedua, hadirnya sosial yang dirasakan oleh pengguna dengan orang lain diiptakan melalui penggunaan sebuah medium. Ketiga, adanya kekayaan media yang berarti media baru mampu menjembatani adanya perbandingan kerangka referensi, mengurangi ambiguitas, memberikan isyarat-isyarat, lebih peka dan lebih personal. Keempat, otonomi, dimana sesorang pengguna merasa mampu mengendalikan isi serta memakainya dan bersikap independen terhadap sumber. Kelima, adanya kesenangan dimana media baru dipakai untuk hiburan serta kenikmatan. Keenam, privasi, yang di asosiasikan dengan pengunaan medium ataupun isi yang dipilih. Terakhir, personalisasi: tingkatan dimana isi dan pemakaian media bersifat personal serta unik (sumber: McQuail, 2010: 144).

Dilihat dari sudut pandang bahasa, New Media atau media baru ialah sebagai saluran untuk menyampaikan informasi atau pesan yang baru. baru (new), berbeda dengan media lama (konvensional). Media lalam (konvensional) meliputi media elektronik (penyiaran), dan media cetak (penyiaran), antara lain majalah, Koran, televisi, film, maupun radio. Sedangkan Media baru merujuk pada media disajikan secara online melalui internet. Pengaksesannya memerlukan perangkat (gadget) dan koneksi internet. Dalam pengertian umumnya media baru bisa disebut juga media sosial. istilah media baru berguna untuk menggambarkan konten yang disediakan menggunakan berbagai bentuk komunikasi elektronik memakai penggunaan teknologi seperti

(2)

12 komputer. Menurut Robert Logan dalam bukunya “Understanding New Media”, Media baru sendiri dicirikan sebagai teknologi digital yang sangat interaktif. Media baru sangat mudah diproses, disimpan, diubah, diambil, mudah dicari dan diakses atau hyper linked (sumber: Lobert Logan, 2010). Secara konseptual, New Media atau media baru mempunyai sudut pandang sebagai proses budaya yang mencerminkan transformasi ataupun nilai-nilai sosial dalam masyarakat.

Ungkapan media baru dalam kaitannya dengan bentuk media “lama”, seperti surat kabar cetak dan majalah, yang merupakan representasi statis dari teks dan grafik. Sedangkan media baru meliputi:

1. Situs Blog dan Web 2. Streaming audio dan video 3. Ruang obrolan

4. Posel/Surel (e-mail) 5. Komunitas online

6. Media sosial dan platform berbagi 7. Aplikasi seluler

8. Iklan web

9. Media CD-ROM dan DVD

10. Integrasi data digital dengan telepon, seperti telepon internet 11. Kamera berbasis digital

Ada dua pengaruh terhadap sudut pandang New Media yaitu dapat berpengaruh positif begitu juga dapat berpengaruh negatif. Pengaruh Positifnya ialah info dari media sangat cepat dan mudah, begitu juga dapat mengaksesnya dimanapun serta medapakannya sangat mudah.

sedangkan pengaruh negatif new media terhadap manusia adalah info dari media tak terbatas sehingga masuknya budaya luar melalui media baru ini begitu cepat dan mudah, jika pengguna tidak mendasarkannya kepada ilmu pengetahuan maka akan terjadi timbulnya banyak hal negatif terhadap masyarakat. Media baru adalah suatu bentuk penggabungan media konvensional dengan media digital. Keunggulan nya yaitu mempunyai sifat yang realtime, yang dimana masyarakat dapat mengakses layanan dan informasi yang cepat, kapan dan dimana saja selama masyarakat terkoneksi dengan perangkat terkomputerisasi serta jaringan internet. (sumber McQuail, 2010:

145).

(3)

13 2.2 Instagram

Instagram ialah salah satu jejaring sosial atau aplikasi yang memiliki kegunaan untuk berbagi informasi, mengunggah, dan mempublikasikan video maupun foto yang bukan tida mungkin penggunanya mengambil foto, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial, termasuk milik Instagram kita sendiri. Aplikasi Instagram ditemukan oleh Kevin Systrom dan Mike Krieger asal Amerika Serikat. Salah satu fitur yang unik di Instagram adalah memotong gambar atau foto menjadi bentuk persegi, sehingga menghasilkan foto atau gambar yang terlihat seperti kamera kodak instamatik dan polaroid.

Hal ini berbeda dengan rasio aspek yang umum digunakan oleh kamera pada peranti bergerak.

Instagram berasal dari pengertian keseluruhan fungsi aplikasi ini yaitu, Kata "insta" berasal dari kata "instan", seperti kamera polaroid yang pada masanya lebih dikenal dengan sebutan

"foto instan". Begitu juga Instagram dapat menampilkan foto-foto secara instan, seperti polaroid di dalam tampilannya. kata "gram" berasal dari kata "telegram" yang berguna sebagai alat pengirim informasi kepada orang lain dengan cepat. Maka dari itu, sesuai dengan pengertian Instagram di atas, dapat disimpulkan bahwa instagram berfungsi untuk mengunggah foto maupun video memakai jaringan Internet, sehingga pengguna instagram dapat menerima informasi yang disampaikan dengan cepat. Dengan tampilan-tampilan menarik seperti yang tertulis di atas, tidak heran jika masyarakat banyak yang tertarik menggunakan media sosial instagram (sumber: Kevin systrom, mike Krieger. Burbn, inc).

Masyarakat yang pengguna dan pengikut media sosial ini menunjukkan berbagai aktivitasnya sehari-hari dan mengabadikannya dengan cara mengunggahnya ke media sosial Instagram. Dengan gaya foto, lokasi tempat berfoto, dan caption menarik yang nantinya dapat memperlihatkan sifat dari penggunanya dan juga bagaimana seseorang menggambarkan sosok karakter atau citra diri yang diinginkannya. seperti foto dalam berbagai situasi ketika bersama orang lain maupun sendiri, pada waktu sekarang ataupun dahulu (Sumber: Jurnal, Ester Krisnawati. 2016:181).

Lain itu, Instagram dipergunakan sebagai sumber informasi ataupun penyebar untuk kalangan-kalangan tertentu, tak heran pemasangan iklan di platform ini baik menggunakan adsense maupun menyewa jasa pendengung (influencer) yang pada akhir-akhir ini sedang marak-maraknya. Pada data yang dikemukakan oleh Napoleon Cat Januari hingga Mei 2020,

(4)

14 pengguna media sosial Instagram di Indonesia telah mencapai total 669.270.000 pengguna.

Pencapaian itu merupakan peningkatan dari bulan ke bulan atas penggunaan Instagram pada saat ini (Mustafa iman, 2020. Goodnewsindonesia.com). Dan menurut Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta dalam buku “survey penggunaan teknologi, informasi, dan komunikasi Di DKI Jakarta”, Penduduk DKI Jakarta mencapai 60,39%

pengguna Instgaram, yang artinya pengguna Instagram di DKI Jakarta memiliki presentase yang tinggi dibanding daerah lain (sumber: buku “survey penggunaan teknologi, informasi, dan komunikasi di DKI Jakarta”).

2.3 Manajemen Privasi Komunikasi (Communication Privacy Management)

Teori ini adalah teori yang dikembangkan oleh Sandra Petronio, ia memandang bahwa pembukaan yang terjalin pada teori ini lebih sebagai pembukaan pribadi dibandingkan dengan pembukaan diri. Teori ini dapat juga diaplikasikan pada kelompok, bukan hanya individu saja. Pembukaan dalam suatu hubungan memerlukan pengelolaan batasan publik maupun privat. Batasan yang diartikan merujuk kepada perasaan ingin mengungkapkan suatu pesan kepada seseorang atau bahkan ingin menyimpannya. Pada proses keputusan ingin menyimpan atau mengungkapkan pesan tersebut membutuhkan negosiasi serta koordinasi (West dan Turner, terj., Brian Marswendy, 2008:255), West dan Turner memaparkan proses pembukaan pribadi memiliki 5 asumsi dasar yaitu antara lain:

2.3.1 Informasi Privat (Private Information)

Asumsi ini merujuk kepada pesan dari proses pembukaan pribadi.

Pembukaan pribadi berfokus pada pesan yang diungkapkan dari proses koordinasi dan negosiasi pada diri sendiri maupun kelompok, baik itu dengan menyimpan pesan maupun membagikan pesan dengan cara meneritakannya. Proses pembukaan ini dapat diungkapkan secara tulisan ataupun lisan. Proses pembukaan pribadi yang dimaksud oleh Sandra Petronio berbeda dengan keintiman, keintiman merupakan pembukaan yang infomasinya tidak hanya didapat dengan bercerita namun juga menyertakan kegiatan fisik, psikologi, emosi serta perilaku. Sementara pembukaan pribadi yang disinggung oleh Sandra Petronio tidak m elibatkan adanya kontak fisik, psikologi, emosi dan perilaku (Sandra Petronio, 2004:255).

(5)

15 2.3.2 Batasan Privat (Private Booundaries)

Asumsi ini adalah acuan untuk garis antara informasi yang bersifat pribadi dan publik. Informasi privat dinyatakan telah dibagikan apabila seseorang memilih untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak diungkapkannya di dunia nyata ke sosial media. Batasan yang mengelilingi informasi privat ini adalah batasan kolektif yang artinya informasi yang dibagikan telah menjadi milik publik.

Sedangkan ketika orang memilih untuk tidak membagikan pesan maka informasi tersebut menjadi milik pribadi dan batasan ini disebut sebagai batasan personal (West dan Turner, terj., Brian Marswendy, 2008:257).

2.3.3 Kontrol dan Kepemilikan

Asumsi ini menyatakan bahwa setiap orang meyakini bahwa segala informasi privat yang mereka miliki adalah milik mereka sendiri. Atas dasar inilah mereka mempunyai hak untuk mengontrol apakah informasi dibagikanan kepada oaring lain atau disimpan. Sandra Petronio (Petronio,2005:338) memandang bahwa ada dua aturan privasi berdasarakan kriteria yang kita miliki yaitu core dan catalyst. Core bersifat lebih tahan lama, karena berdasarkan pada budaya yang dipegang oleh pemilik privasi itu sendiri (bukan budaya saja tetapi juga lingkungan sosial dan keluarga) menjadi faktor yang melatarbelakangi pemilik privasi dalam mengontrol informasi yang dimilikinya. Catalyst bersifat mudah berubah sesuai dengan situasi yang terjadi keterbukaan wanita lebih fokus kepada orang yang mereka percayai sedangkan keterbukaan pria lebih fokus pada situasi yang sedang terjadi.

2.3.4 Sistem Manajemen Berdasarkan Aturan Karakteristik Aturan Privasi

Menurut buku Richard West dan Lynn H. Turner yang mengacu pada penelitian Sandra Petronio ialah mengelompokkan karakteristik aturan privasi berdasarkan gender, budaya, motivasional, kontekstual dan risiko maupun keuntungan. Budaya dalam hal ini berperan sebagai pandangan manusia dalam memandang apakah sesuatu bersifat privasi atau tidak. Gender juga menjadi bagian dari kriteria mengenai aturan privasi, wanita cenderung lebih terbuka dibandingkan pria (seperti yang sudah dijelaskan pada kriteria core & catalyst). Motivasi juga

(6)

16 merupakan dasar dari aturan privasi dimana pembukaan -pembukaan yang terjadi dilakukan untuk mendapatkan suatu timbal balik atau mencapai aktualisasi diri.

Aturan selanjutnya adalah kontekstual, kontekstual adalah ketika seseorang dihadapkan oleh situasi tertentu yang menuntutnya untuk terbuka maka ia bisa memutuskan untuk membagikan informasi yang dimilikinya. Kriteria aturan privasi yang terakhir adalah risiko maupun keuntungan, ketika seseorang mengambil keputusan untuk membagikan informasinya maka ada pertimbangan-pertimbangan terkait resiko dan keuntungan yang sebelumnya sudah dipikirkan, dnn bahkan pembukaan informasi privat bisa terjadi ketika rasio keuntungan lebih besar dibandingkan rasio risiko (West dan Turner, terj., Brian Marswendy, 2008:258).

1) Koordinasi Batasan

Menurut Richard West dan Lynn H. Turner Koordinasi batasan merujuk pada bagaimana cara orang mengelola informasi miliknya. Sebelum seseorang memutuskan untuk membagikan informasinya, ada yang namanya koordinasi. Ketika seseorang mengkoordinasikan batasan tersebut, maka ia akan menggunakan aturan yang mendasari keputusan mereka antara membuka atau menyimpan informasi (West dan Turner, terj., Brian Marswendy, 2008:263).

2.3.5 Manajemen Dialektika

Asumsi ini merujuk pada ketegangan yang dialami pemilik privasi, antara perasaan ingin menyimpan atau membagikan informasi yang dimilikinya. Ketegangan itu terjadi dalam diri pemilik informasi. pada saat melakukan pertimbangan antara mau menyimpan atau mau membagikan informasi yang dimiliki, jika informasi dapat dengan mudah diungkapkan tanpa ada ketegangan didalam dirnya, maka informasi itu bukanlah privasi.

Sehingga dialektika ini merupakan suatu tesis dalam penelitian ini (West dan Turner, terj., Brian Marswendy, 2008:263).

2.4 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu ini sebagai salah satu acuan peneliti dalam melakukan penelitian sehingga peneliti dapat memperkaya teori yang peneliti gunakan guna mengkaji penelitian yang dilakukan. Dari penelitian-penelitian terdahulu tersebut tidak ada kesamaan

(7)

17 judul seperti penelitian yang dibuat peneliti, akan tetapi peneliti hanya menjadikan penelitian terdahulu atau penelitian sebelumnya sebagai bahan referensi dalam memperbanyak bahan kajian pada penelitian. Berikut adalah penelitian-penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan peneliti.

Nama Peneliti Judul Penelitian Tujuan Penelitian Hasil penelitian Ester krisnawati

S.sos., M.I.Kom.

(Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi

Universitas Kristen Satya

Wacana)

Mempertanyakan privasi di era selebgram: masih ada kah?

Untuk mengetahui manajemen privasi di era selebgram (studi kasus selebgram cilik)

Jurnal ini bertuliskan tentang selebgram cilik yang dimana ranah privasi seseorang semakin melemah karena untuk maksud dan tujuan tertentu.

Dian Kartika Putri, Maya Diyah Nirwana,

dan Wawan Sobari. (Fakultas

Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik-

Universitas Brawijaya)

Analisis Manajemen Privasi Komunikasi Korban

Cyberstalking Dalam Facebook

Untuk mengetahui bagaimana

Manajemen Privasi yang menjadi korban Cyberstalking di media sosial Facebook

Penelitian ini meneliti tentang korban

Cyberstalking dalam facebook yang mengalami

penyalahgunaan akun facebook mereka akibat tindakan stalking atau penurian UID (user indentity)

Eri Eka Pratiwi (Mahasiswa

Ilmu Komunikasi

Universitas Pendidikan Indonesia)

MANAJEMEN PRIVASI KOMUNIKASI ORIENTASI

SEKSUAL LESBIAN (Studi Kasus pada Sepasang Lesbian di Kota Bandung)

Untuk

mendeskripsikan proses lesbian mengelola privasi komunikasi dalam menegosiasikan identitas orientasi seksual pada lingkup interaksi sosial.

Penelitian ini iala penelitian komunikasi antarbudaya, dimana peneliti berpendapat begitu juga memaparkan tentang bagaimana negosiasi identitas sepasang pelaku lesbian di kota Bandung dan bagaimana subjek Mencitrakannya.

Tabel 1.

Penelitian terdahulu

Perbedaan penelitian ini dengan tiga penelitian terdahulu di atas, yaitu:

(8)

18 1. penelitian ini menjelaskan Bagaimana Manajemen Privasi kalangan muda dalam

mempergunakan media sosial Instagram

2. penelitian ini tidak meneliti komunikasi antar budaya seperti pada penelitian ketiga, peneliti hanya melihat bagaimana penerapan Manajemen Privasi Komunikasi

3. Dalam penelitian ini tidak meneliti korban Cyberstalking seperti pada penelitian terdahulu kedua

4. Penelitian ini tidak meneliti manajemen privasi di era selebgram 2.5 Kerangka Pikir

Kerangka Pemikiran Penelitian Media Baru Media Baru

Manajemen Privasi Komunikasi di media sosial Instagram kalangan anak muda DKI

Jakarta

• Informasi Privat

• Batasan Privat

• Kontrol dan kepemilikan

• System manajemen berdasarkan aturan

• Manajemen dialektika Penggunaan Media sosial Instagram dikalangan muda

(9)

19 Yang menjadi fokus utama pada penelitian ini adalah akun -akun Instagram kalangan muda DKI Jakarta yang setiap harinya mengunggah secara berlebihan di media sosial Instagram sehingga tidak menjaga ranah privasi berdasarkan Manajemen privasi komunikasi. Dalam hal ini peneliti melihat dan memetakan bagaimana privasi kalangan muda di DKI Jakarta dalam menggunakan media sosial Instagram melalui teori manajemen privasi komunikasi yang dimana akan dilihat asumsi -asumsi manajemen privasi pada pemilik-pemilik akun Instagram kalangan muda DKI Jakarta, yaitu informasi privat kalangan muda DKI Jakarta, bagaimana batasan privat kalangan muda DKI Jakarta, bagaimana kontrol kepemilikannya, bagaimana sistem manajemennya berdasarkan aturan, dan bagaimana manajemen dialektikanya dalam menggunakan media sosial Instagram.

Referensi

Dokumen terkait

menunjukkan bahwa agresi pada anak dapat terbentuk karena setiap hari anak sering melihat dan menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga baik secara langsung atau

Bandara internasional juanda surabaya mempunyai landasan pacu sebagai tempat landing maupun take off pesawat terbang, di landasan pacu Bandara Internasional Juanda

Unsur N dan P merupakan unsur Makronutrien yang dibutuhkan dalam jumlah yang banyak, ketersediaan unsur N dan P sangat mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan

(Bacakan Matius 11:28 kepada mereka) Yesus mahu anda membawa beban dan kesusahan anda kepada-Nya agar anda tidak perlu menanggungnya seorang diri.. Dia mahu membawa

NO Nama NIM Program Studi L/P

II Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur 2,185,835,000 12 Penyediaan Peralatan dan Perlengkapan Kantor 376,549,000 13 Pengadaan Sovenir Dinas Pendidikan Provinsi

Hasil observasi awal menunjukkan tidak berjalannya proses interaksi sosial yakni melalui kontak dan komunikasi secara langsung akan mempengaruhi pelaksanaan dan penyelenggaraan

Dalam penelitian ini peneliti akan meneliti motif dan kepuasan media sosial yaitu Instagram oleh para kaum generasi Z menggunakan teori uses and gratification, dimana teori