• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Keperawatan, Volume VIII, No. 1, April 2012 ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal Keperawatan, Volume VIII, No. 1, April 2012 ISSN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

[52]

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KINERJA PETUGAS PROGRAM TB PARU TERHADAP PENEMUAN KASUS BARU DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Ratna Dewi Husein*, Tumiur Sormin**

Penemuan kasus penderita TBC Paru (BTA positip) di Kabupaten Lampung Selatan masih dibawah target, pada hal di daerah diperkirakan bahwa kasus TBC Paru BTA positip sangat tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahui Faktor-faktor yang berhubungan gengan kinerja petugas program tuberkulosis paru terhadap penemuan kasus baru BTA positip di Puskesmas Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2011 dengan jumlah responden 38 orang. Penelitian bersifat kuantitatif dengan desain korelasi dan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa 21 orang petugas (55,3%) kinerja baik, 31 orang petugas (81,6%) perawat, 20 orang petugas (52,6%) pengetahuan baik, 20 orang petugas (52,6%) pelatihan kurang, 23 orang petugas (60,5%)

≥ 3 tahun bekerja, 20 orang petugas (52,6%) laki-laki, 22 orang petugas (57,9%) sudah kawin, 27 orang petugas 971,1%) ada alat transportasi, 22 orang petugas (57,9%) insentif ≥ Rp. 700.000, 26 orang petugas (68,4%) sering supervisi, 22 orang petugas (57,9%) kepemimpinan baik, 22 orng petugas (57,9%) sarana lengkap dan 21 orang petugas (55,3%) dekat geografis. Dengan Uji Multiple Regression Logistic ada 3 variabel yang berhubungan signifikan, yaitu pelatihan, lama kerja dan status perkawinan. Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kinerja petugas program tuberkulosis paru adalah pelatihan ( P-value 0,012 dengan OR 11,474).

Peneliti mengusulkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Lampung Selatan agar meningkatkan pelatihan kepada petugas yang masih kurang kinerjanya; petugas yang baru dan belum menikah perlu menyadari pentingnya meningkatkan kinerjanya.

Kata Kunci : Kinerja Petugas Program Tuberkulosis, Cakupan Penemuan Kasus Baru BTA Positip

LATAR BELAKANG

Hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 menunjukkan bahwa penyakit TBC merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia.

Penyakit TBC adalah merupakan penyakit yang menduduki peringkat pertama pada golongan penyakit infeksi. Tahun 1999, WHO memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru TBC dengan kematian sekitar 14.000. Secara kasar diperkirakan bahwa setiap 100.000 penduduk Indonesia, diantaranya terdapat 130 penderita TBC BTA positif (Depkes, 2002).

Penemuan kasus penderita TBC Paru (BTA positip) di Kabupaten Lampung Selatan menghadapi permasalahan, dimana masih dibawah target, yakni 45,2% (secara nasional 70%). Pada hal wilayah Kabupaten Lampung Selatan merupakan salah satu wilayah yang diperkiraan

penderita TBC Paru BTA positip sangat tinggi. Pada tahun 2007 penemuan penderita menurun dan sangat menurun tajam pada tahun 2008. Sebanyak 24 Puskesmas, namun baru 18 Puskesmas yang mencapai target sedangkan 6 puskesmas lainnya baru dapat mencapai dibawah 30%. Sehingga dapat diartikan bahwa pencapaian target belum merata dan belum menunjukkan hasil yang menggembirakan (Profil Kesehatan Lampung Selatan Tahun 2009).

Ditinjau dari segi pelaksanaan, petugas yang bekerja sebagai PMO belum optimal dalam melakukan tugasnya mengawasi penderita tuberkulosis yang minum obat. Dari segi ketenagaan, tenaga analis laboratorium masih dirasakan sangat kurang dan sebahagian tenaga pengelola TB Paru di Puskesmas belum terlatih.

Secara teknis, ada 23 unit Puskesmas non perawatan, 1 unit Puskesmas perawatan dan 75 unit Puskesmas Pembantu yang ada di Kabupaten Lampung Selatan, dan baru

PENELITIAN

(2)

[53]

20 orang diantara 38 orang pengelola TB Paru belum memadai pelatihannya untuk penanggulangan penyakit TB Paru. Disisi lain, sistem pencatatan pelaporan register TB Paru juga belum digunakan secara optimal. Hal ini merupakan suatu masalah yang perlu mendapat perhatian agar keberhasilan pemberantasan penyakit TBC Paru di Kabupaten Lampung Selatan dapat tercapai. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan pembinaan kepada petugas program P2TB Paru. Oleh karena itu ingin meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja P2TB paru dalam penemuan kasus baru BTA positip untuk memberi masukan peningkatan kinerja petugas yang ada.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain korelasi dan pendekatan potong lintang (cross sectional). Penelitian dilakukan bulan Oktober–November 2011 di Puskesmas Kabupaten Lampung Selatan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kinerja Petugas Program Tuberkulosis Paru Terhadap Penemuan Kasus Baru BTA Positip. Populasi penelitian adalah seluruh tenaga pelaksana program tuberkulosis paru sebanyak 38 orang. Responden adalah menggunakan total populasi. Pengumpulan data melalui wawancara dengan pertanyaan yang disusun terstruktur.

Analisis data secara univariat untuk mendapatkan gambaran statistik deskriptif dari masing-masing variabel dependen dan independen, bivariat dengan Uji Chi Square untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen dengan tingkat kemaknaan 0,05 dan CI 95%, untuk mengetahui keeratan antara kedua variabel dengan melihat Odd Ratio (OR) dan analisa multivariat dengan dengan Uji Multiple Regression Logistic untuk mengetahui varibel paling dominan berhubungan.

HASIL PENELITIAN

Analisis Univariat

Berdasarkan analisis univariat diketahui bahwa berdasarkan latar belakang pendidikannya, responden terbanyak adalah berlatar belakang pendidikan perawat (31 orang, 81,6%) dan sisanya non perawat (7 orang, 28,4%).

Berdasarkan tingkat pengetahuan, responden terbanyak memiliki pengetahuan baik (20 orang, 52,6%).

Berdasarkan lama kerja, responden terbanyak dengan lama kerja ≥ 3 tahun(23 orang, 60,5%). Berdasarkan status perkawinan responden terbanyak dengan status kawin (22 orang, 57,9%).

Berdasarkan ada tidaknya transportasi responden terbanyak ada transportasi (27 orang, 71,7%), dan berdasarkan insentif yang diterima, responden mayoritas mendapat insentif ≥ Rp.700.000 (22 orang, 57,9%). Sedangkan berdasarkan supervise responden terbanyak supervise sering (26 orang, 68,4%), berdasarkan kepemimpinan maka responden terbanyak kepemimpinan baik (22 orang, 57,9%), dan berdasarkan letak geografis maka responden terbanyak geografis dekat (21 orang, 55,3%). Dan berdasarkan kinerja maka responden terbanyak dengan kinerja baik (21 orang, 55,3%).

Analisis Bivariat

Tabel 1: Hubungan Pendidikan dengan Kinerja

Pendidikan

Kinerja

Baik Kurang Total n % n % n % - Perawat

- Non Perawat 17

4 55 57

14 3

45 43

31 7

100 100 Jumlah 21 55 17 45 38 100

OR (95% CI) : 0,911 (0,174-4,769) pv 1,00

(3)

[54]

Tabel 2: Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja

Pengetahu- an

Kinerja

Baik Kurang Total N % n % n % - Baik

- Kurang

11 10

56 56

9 8

45 44

20 18

100 100 Jumlah 21 55 17 45 38 100

OR (95% CI) : 0,978 (0,272-3,519) pv 1,00

Tabel 3:Hubungan Bekerja dengan Kinerja

Lama kerja

Kinerja

Baik Kurang Total N % n % n % - ≥ 3 tahun

- < 3 tahun

15 6

65 40

8 9

35 60

23 15

100 100 Jumlah 21 55 17 45 38 100 OR (95% CI) : 2,813 (0,734-10,772) pv 0,232

Tabel 4: Hubungan Jenis Kelamin dengan Kinerja

Jenis kelamin

Kinerja

Baik Kurang Total N % n % n % - Laki-laki

- Perempuan 14 7 70

39 6 11 30

61 20 18 100

100 Jumlah 21 55 17 45 38 100

OR (95% CI) : 3,667 (0,954-14,092) pv 0,11

Tabel 5: Hubungan Status Perkawinan dengan Kinerja

Status Perkawinan

Kinerja

Baik Kurang Total n % n % n % - Kawin

- Belum kawin 16 5 73

31 6 11 27

69 22 16 100

100 Jumlah 21 55 17 45 38 100 OR (95% CI) : 5,867 (1,427-24,113) pv 0,027

Tabel 6: Hubungan Alat Transportasi dengan Kinerja

Alat transportasi

Kinerja

Baik Kurang Total n % n % n % - Ada

- Tidak ada 15 6 56

55 12 5 44

46 27 11 100

100 Jumlah 21 55 17 45 38 100 OR (95% CI) : 1,042 (0,255-4,262) pv 1,00

Tabel 7:Hubungan Insentif dengan Kinerja

Insentif

Kinerja

Baik Kurang Total n % n % n % - ≥ Rp.700.000

- < Rp. 700.000 15 6 68

38 7 10 32

63 22 16 100

100 Jumlah 21 55 17 45 38 100 OR (95% CI) : 3,571 (0,924-13,811) pv 0,122

Tabel 8: Hubungan Supervisi dengan Kinerja

Supervisi

Kinerja

Baik Kurang Total N % n % n % - Sering

- Jarang

18 3

69 25

8 9

31 75

26 12

100 100 Jumlah 21 55 17 45 38 100

OR (95% CI) : 6,75 (1,433-31,786) pv 0,028

Tabel 9: Hubungan Kepemimpinan dengan Kinerja

Kepemimpin- an

Kinerja

Baik Kurang Total n % n % n % - Baik

- Kurang baik 15 6 68

38 7 10 32

63 22 16 100

100

Jumlah 21 55 17 45 38 100 OR (95% CI) : 3,571 (0,924-13,811) pv 0,012

Tabel 10:Hubungan Sarana dengan Kinerja

Sarana

Kinerja

Baik Kurang Total n % n % n % - Lengkap

- Tidak lengkap 13 8 59

50 9 8 41

50 22 16 100

100 Jumlah 21 55 17 45 38 100

OR (95% CI) : 1,444 (0,395-5,285) pv 0,82

Tabel 11: Hubungan Pengetahuan dengan Kinerja

Geografis

Kinerja

Baik Kurang Total n % n % n % - Dekat

- Jauh 13 8 62

47 8 9 38

53 21 17 100

100 Jumlah 21 55 17 45 38 100

OR (95% CI) : 1,828 (0,5-6,689) pv 0,56

Berdasarkan tabel kontigensi 1-11 diatas dapat diketahui bahwa faktor pelatihan, status perkawinan dan supervisi

(4)

[55]

memiliki p-value < 0,05, sehingga disimpulkan ada hubungan dengan kinerja petugas program tuberkulosis paru dalam penemuan kasus baru BTA positip di Kabupaten Lampung Selatan. Sedangkan faktor pendidikan, pengetahuan, lama kerja, jenis kelamin, status perkawinan, alat transportasi, insentif, kepemimpinan, sarana, dan geografis memiliki p-value >

0,05, sehingga tidak ada hubungan dengan dengan kinerja petugas program tuberkulosis paru dalam penemuan kasus baru BTA positip di Kabupaten Lampung Selatan.

Analisis Multivariat

Tabel 12: Hasil Seleksi Bivariat Variabel p-value

Pendidikan 0,912 Pengetahuan 0,973 Pelatihan 0,007 Lama kerja 0,126

Jenis kelamin 0,052 Status perkawinan 0,010 Alat transportasi 0,955

Insentif 0,059 Supervisi 0,010 Kepemimpinan 0,059

Sarana 0,578 Geografis 0,360

Hasil analisis diatas menunjukkan bahwa ada tujuh variabel yang memiliki p- value < 0,25 dan dapat dimasukkan sebagai variabel kandidat ke model multi variat. Ketujuh variabel tersebut yakni pelatihan, lama kerja, jenis kelamin, status perkawinan, insentif, supervisi dan kepemimpinan.

Tabel 8: Hasil Uji Regresi Logistik Terakhir

Variabel B PWald OR 95% C.I Pelatihan 2,44 0,012 11,47 1,72 -

76,54 Lama kerja 2,08 0,041 7,99 1,09 - 58,42 Status kawin 2,16 0,019 8,64 1,42 - 52,66 -2 log likelihood = 34,520 G = 18,00 P-v 0,000

Hasil analisis pada tabel diatas memperlihatkan bahwa variabel pelatihan, lama kerja dan status kawin mempunyai p- value yang signifikan, yaitu ≤ 0,05, sehingga dapat diartikan bahwa ketiga variabel tersebut berhubungan dengan kinerja. Variabel yang paling dominan berhubungan adalah variabel dengan OR paling besar, yakni variabel pelatihan dengan OR = 11,474. Dapat disimpulkan bahwa petugas program tuberkulosis paru di Kabupaten Lampung Selatan, dengan pelatihan baik memiliki peluang 11,474 kali lebih baik kinerjanya pada penemuan kasus baru BTA positip.

PEMBAHASAN

Gambaran Kinerja Petugas

Pendapat Gibson, 1987, ada tiga variabel yang mempengaruhi perilaku dan penampilan kerja (kinerja) individu, yaitu variabel individu, variabel organisasi dan variabel psikologi. Ketiga variabel tersebut mempengaruhi perilaku kerja yang pada akhirnya akan berpengaruh pada kinerja personil. Perilaku yang berhubungan dengan kinerja adalah yang berkaitan dengan tugas-tugas yang harus diselesaikan untuk mencapai suatu pekerjaan. Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa 21 orang (55,3%) responden mempunyai kinerja baik.

Sedangkan yang mempunyai kinerja kurang baik ada sebanyak 17 orang (44,7%). Melalui kinerja juga dapat diketahui tentang kesesuaian pekerjaan terhadap pekerjaan yang telah disusun sebelumnya. Dengan hasil ini maka pihak manajemen dapat menggunakan uraian tugas kerja petugas sebagai tolak ukur.

Banyaknya petugas program tuberkulosis paru yang berkinerja baik terhadap cakupan penemuan penderita kasus baru BTA (+) di Puskesmas Kabupaten Lampung Selatan menunjukkan bahwa didapatkan efektifitas sumber daya manusia yang baik secara umum di wilayah tersebut.

(5)

[56]

Hubungan pendidikan dengan kinerja petugas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebahagian besar petugas adalah berpendidikan perawat. Sedangkan dari proporsi terlihat bahwa hampir sama antara petugas yang berpendidikan perawat dan non perawat yang memiliki kinerja baik dalam pekerjaannya. Masing-masing diperoleh proporsi 54,8% dan 57,1%.

Sedangkan hasil uji statistik tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan kinerja petugas (p value = 1,000). Hampir tidak ada perbedaan antara petugas berpendidikan keperawatan dan non keperawatan untuk berkinerja baik

Hubungan pengetahuan dengan kinerja petugas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak petugas yang pengetahuannya baik, yakni 20 orang (52,6%), diantaranya sebanyak 11 orang (55%) petugas dengan kinerja baik. Sedangkan diantara petugas yang pengetahuannya kurang ada 10 orang (55,6%) yang kinerjanya baik. Hasil analisa menunjukkan bahwa pengetahuan tidak mempunyai hubungan signifikan dengan kinerja (p value = 1,000). Hasil ini tidak sesuai dengan temuan Soerjoasmoro, 1994 yang mengatakan bahwa kinerja petugas formulir stratifikasi puskesmas berhubungan dengan pengetahuan.

Banyaknya petugas yang mempunyai pengetahuan baik dalam hal ini menunjukkan bahwa selain karena kemampuan individual yang dibawa masing-masing petugas dapat juga merupakan keberhasilan manajemen dinas kesehatan dalam menyelenggarakan pelatihan - pelatihan dan hal ini dapat meningkatkan pengetahuan dan kinerja petugas. Namun dalam penelitian ini tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kinerja petugas.

Hubungan pelatihan dengan kinerja petugas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak petugas yang pelatihannya kurang di bidang program TB , yakni 20 orang (52,6%). Tetapi petugas dengan pelatihan baik lebih banyak dengan kinerja baik, yaitu sebanyak 14 orang (77,8%).

Sedangkan diantara petugas yang pelatihannya kurang hanya ada 7 orang (35%) saja yang kinerjanya baik. Hasil analisa menunjukkan bahwa ada hubungan pelatihan dengan kinerja petugas program TB (p value = 0,020). Hal ini sesuai dengan pendapat Ambar dan Rosidah, 2003 bahwa pelatihan dan pengembangan penting karena keduanya merupakan cara yang digunakan oleh organisasi untuk mempertahankan, menjaga, memelihara pegawai public dalam organisasi dan sekaligus meningkatkan keahlian para pegawai.

Hubungan lama kerja dengan kinerja petugas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petugas mempunyai masa kerja ≥ 3 tahun. Sedangkan dari proporsi lama kerja terlihat bahwa diantara petugas yang mempunyai masa kerja ≥ 3 tahun terdapat 15 orang (65,2 %) yang mempunyai kinerja baik. Sedangkan petugas yang masa kerja < 3 tahun yang mempunyai kinerja baik ada 6 orang (40

%). Hasil uji statistik tidak ada hubungan antara lama kerja dengan kinerja petugas (p value = 0,232). Hal ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Eltya, 1994 dan Marjuki 1999 yang mengatakan adanya hubungan masa kerja efektif dengan tingkat penampilan kerja bidan. Demikian mereka mempunyai kinerja lebih baik, dalam hal ini kemungkinan mereka menunjukkan contoh sebagai seorang petugas kepada yang lebih baru bertugas serta adanya perasaan ingin mempertahankan prestasi dalam setiap menjalankan pekerjaannya.

(6)

[57]

Hubungan jenis kelamin dengan kinerja petugas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petugas berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan menurut proporsi hubungan jenis kelamin dengan kinerja didapat petugas yang berjenis kelamin laki-laki yang mempunyai kinerja baik sebanyak 14 orang (70%) dan pada petugas yang berjenis kelamin perempuan yang mempunyai kinerja baik sebanyak 7 orang (38,9%). Hasil uji statistik didapatkan tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kinerja petugas (ρ value = 0,110). Hal ini menunjukkan bahwa baik petugas laki-laki lebih baik kinerjanya dibandingkan petugas perempuan yang mempunyai kinerja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi suatu persaingan yang sehat antara petugas laki-laki maupun petugas perempuan.

Hubungan status perkawinan dengan kinerja petugas

Pendapat Siagian (1997) bahwa status perkawinan berpengaruh terhadap perilaku karyawan dalam kehidupan organisasinya baik secara positif maupun negatif. Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar petugas berstatus menikah.

Sedangkan dari proporsi status perkawinan terlihat bahwa petugas yang telah kawin terdapat 16 orang (72,7%) yang mempunyai kinerja baik sedangkan dari petugas yang belum kawin terdapat 5 orang (31,3%) yang mempunyai kinerja baik. Hasil uji statistik antara status perkawinan dengan kinerja didapatkan bahwa ada hubungan yang bermakna anatara status perkawinan dengan kinerja petugas (ρ value=0,027).

Hubungan alat transportasi dengan kinerja petugas

Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar petugas memiliki alat transportasi untuk bekerja. Sedangkan dari proporsi ketersediaan alat didapatkan bahwa petugas yang menyatakan ada alat

transportasi tidak jauh beda bila dibandingkan dengan petugas yang tidak ada alat transportasi untuk berkinerja baik dalam bekerja. Hasil uji statistik antara ketersediaan alat transportasi dengan kinerja petugas secara statistik didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara alat transportasi dengan kinerja petugas (p-value = 1,000).

Hubungan insentif dengan kinerja petugas

Hasil penelitian terhadap insentif didapatkan bahwa sebagian besar petugas mendapat insentif yang tinggi. Dari seluruh petugas yang mendapat insentif ≥ Rp.

700.000 terdapat 15 orang (68,2%) yang mempunyai kinerja baik sedangkan dari petugas yang mendapat insentif < Rp.

700.000, yang kinerjanya baik ada 6 orang (37,5%) yang mempunyai kinerja baik.

Hasil uji statistik antara imbalan dengan kinerja petugas secara statistik didapatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara imbalan dengan kinerja petugas (ρ value=0,122).Adanya petugas yang mendapat insentif yang diberikan kurang sesuai menyebabkan kinerja mereka tidak maksimal. Sehingga dengan demikian sebagian dari petugas merasa kurang puas dengan kebijakan insentif yang mereka dapatkan sehingga tidak satupun mereka berkinerja baik.

Hubungan supervisi dengan kinerja petugas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar dari petugas menyatakan sering ada supervisi dalam bekerja. Secara proporsi terlihat bahwa petugas yang menilai sering ada supervisi mempunyai proporsi berkinerja baik lebih banyak dibandingkan petugas yang menyatakan jarang supervisi dalam bekerja. Hasil uji statistik didapatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara supervisi dengan kinerja petugas (p-value = 0,028). Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa petugas yang menyatakan jarang supervisi

(7)

[58]

cenderung berkinerja kurang baik. Namun demikian hasil penelitian ini masih multi- interperatif karena bisa saja pihak dinas kesehatan sudah melakukan kegiatan supervisi kepada petugas namun tidak diketahui secara langsung oleh petugas tersebut sehingga petugas menyatakan tidak ada supervisi. Dapat juga petugas menilai bahwa supervisi yang dilakukan selama ini tidak banyak memberikan manfaat atau perbaikan petugas dalam melakukan penemuan kasus TB. Oleh sebab itu dengan adanya supervisi memberikan juga manfaat kepada petugas sehingga juga dijelaskan apa dan manfaat supervisi kepada petugas tersebut.

Hubungan kepemimpinan dengan kinerja petugas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak petugas menyatakan kepemimpinan baik. Dari pekerja yang menilai kepemimpinan baik terdapat 15 orang (68,2%) yang mempunyai kinerja baik. Sedangkan dari petugas yang menilai kepemimpinan kurang baik terdapat 6 orang (37,5%) yang mempunyai kinerja baik. Hasil uji statistik antara kepemimpinan dengan kinerja petugas secara statistik didapatkan tidak ada hubungan yang bermakna antara kepemimpinan dengan kinerja petugas (ρ value=0,122). Responden penelitian ini hampir seluruh petugas sudah menilai kepemimpinan baik, hanya saja sedikit perbedaan jumlah dari petugas yag menilai kepemimpinan kurang baik sehingga kemungkinan menyebabkan tidak terlihatnya hubungan bermakna pada petugas yang menilai kepemimpinan baik atau kurang baik terhadap kinerja.

Hubungan sarana dengan kinerja petugas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak petugas menilai sarana telah lengkap.dari petugas yang menilai sarana tidak lengkap tetapi tidak jauh beda bila dibandingkan petugas yang menilai sarana

tidak lengkap untuk mempunyai kinerja baik. Hasil uji statistik anatara sarana dengan kinerja petugas secara statistik didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana kinerja petugas. Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak adanya beda proporsi petugas yang menilai sarana lengkap maupun yang menilai tidak lengkap dalam memiliki kinerja baik, dalam hal ini dikarenakan walaupun terdapat petugas yang menyatakan sarana tidak lengkap namun ketidaklengkapan tidak menjadi kendala berarti bagi petugas sehingga petugas tersebut tetap dapat melakukan penemuan kasus TB walaupun dengan keterbatasan sarana.

Hubungan geografis dengan kinerja petugas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak petugas menyatakan jarak geografis yang ditempuh untuk menemukan kasus TB dekat. Petugas yang mengatakan jarak geografis dekat lebih banyak yang kinerjanya baik, yakni 13 orang (61,9%). Sedangkan petugas yang mengatakan jarak geografis jauh, hanya 8 orang (47,1%) yang mempunyai kinerja baik. Hasil uji statistik didapatkan tidak ada hubungan yang bermakna antara geografis dengan kinerja petugas (p-value

= 0,557). Namun dalam hal ini kinerja petugas lebih banyak yang baik untuk tingkat penemuan kasusnya. Terlihat bahwa petugas yang jarak geografisnya lebih jauh lebih sedikit yang kinerjanya baik. Hal ini kemungkinan dikarenakan bahwa dengan akses yang jauh terhadap pelayanan kesehatan sehingga kemauan dan kemampuan penderita tuberkulosis paru lebih sedikit untuk datang ke pelayanan kesehatan atau menyebabkan orang yang sakit tersebut tidak berobat.

KESIMPULAN

Penelitian ini menyimpulkan bahwa.

Kinerja petugas program tuberkulosis paru di Kabupaten Lampung Selatan yang

(8)

[59]

terbanyak adalah dengan kinerja baik, ada variabel yang berhubungan signifikan dengan kinerja petugas program tuberkulosis paru, yaitu pelatihan, lama kerja dan status perkawinan dan ada variabel yang tidak berhubungan dengan kinerja petugas program tuberkulosis paru, yaitu pendidikan, pengetahuan, jenis kelamin, alat transportasi, insentif, supervisi, kepemimpinan, sarana dan geografi, dan pelatihan merupakan variabel yang paling dominan berhubungan dengan kinerja petugas program tuberkulosis paru.

Berdasarkan kesimpulan tersebut penulis menyarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan agar memberi kesempatan pelatihan kepada petugas, melakukan motivasi dan bimbingan kepada petugas program tuberkulosis paru pentingnya meningkatkan, dan untuk penelitian selanjutnya hendaknya dilakukan penelitian secara kualitatif.

* Dosen pada Prodi Keperawatan Tanjungkarang Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang

** Dosen pada Prodi Keperawatan Tanjungkarang Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang

DAFTAR PUSTAKA

Dinas Kesehatan, Kabupaten Lampung Selatan,.(2009). Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2009

Depkes RI,.(2002). Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-8, Jakarta

Gibson,James, L, et.al,.(1987). Organisasi dan Manajemen : Perilaku, Struktur, Proses, Terjemahan Djarkasih, Jilid I, Penerbit Erlangga, Jakarta

Marzuki,. (1999). Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pelayanan Ibu Hamil (ANC) oleh Bidan di Kabupaten Aceh Besar Tahun 1998, Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat

Naipospos, Nila,. (2001). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kinerja Puskesmas dalam Pemberantasan TB Paru di Kota Bogor tahun 2001, Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat

Referensi

Dokumen terkait

an wakil dar kan kebahag suatu (dedi sifat tantang itkan ketena tumbuhan d nuh kehang im gugur, k y (tokoh bo ering dinam g pada 1876 warna karena warna mbang t atau aktif ri

Rataan produksi susu real dan produksi susu yang telah distandardisasi ke dalam lama laktasi 305 hari dan umur setara dewasa dari sapi Friesian Holstein betina

Diharapkan dapat meningkatkan motivasi para guru, untuk menggunakan media pembelajaran yang bervariasi salah satunya dengan menggunakan media pembelajaran permainan halma yang

Faktor Eksternal Observasi, Wawancara Dokumentasi 3 Strategi yang dilakukan untuk mengoptimalkan pemenuhan hak kesejahteraan sosial masyarakat miskin.. Mengurangi

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Pada sistem peringatan dini tanah longsor menggunakan 2 buah mikrokontroler, karena sistem ini membutuhkan 4 buah timer yaitu timer untuk sensor tanah longsor, timer untuk

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa civil society merupakan suatu ruang yang terletak antara negara di satu pihak, dan masyarakat di pihak lain, dalam ruang

Bahaya adalah sifat dari suatu bahan, cara kerja suatu alat, cara melakukan suatu pekerjaan dan lingkungan kerja yang dapat menimbulkan kerusakan harta benda, penyakit akibat