• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN SEPARATOR HASIL AKHIR PENYULINGAN MINYAK NILAM PAK AKMAL DI DESA RIMBO BINUANG KAB. PASAMAN BARAT SKRIPSI SEPTIAN DWI PUTRA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERANCANGAN SEPARATOR HASIL AKHIR PENYULINGAN MINYAK NILAM PAK AKMAL DI DESA RIMBO BINUANG KAB. PASAMAN BARAT SKRIPSI SEPTIAN DWI PUTRA"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN SEPARATOR HASIL

AKHIR PENYULINGAN MINYAK NILAM PAK AKMAL DI DESA RIMBO BINUANG KAB. PASAMAN BARAT

SKRIPSI

OLEH

SEPTIAN DWI PUTRA

YAYASAN MUHAMMAD YAMIN

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI (STTIND)PADANG

2017

(2)

PERANCANGAN SEPARATOR HASIL

AKHIR PENYULINGAN MINYAK NILAM PAK AKMAL DI DESA RIMBO BINUANG KAB. PASAMAN BARAT

SKRIPSI

Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Teknik

OLEH

SEPTIAN DWI PUTRA NPM : 1310024425021

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI

(STTIND) PADANG

2017

(3)

HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI

Perancangan Seperator Hasil Penyulingan Akhir Minyak Nilam (Studi Kasus Pak Akmal di desa rimbo binuang kab. Pasaman barat)

Nama : Septian Dwi Putra

NPM : 1310024425021

Program Studi : Teknik Industri

Padang, Desember 2017 Menyetujui :

Pembimbing I, Pembimbing II,

Ir. H. Gamindra Jauhari, MP Tri Ernita, ST, MP

NIDN. 0027115902 NIDN. 1028027801

PLT Ketua Prodi, Ketua STTIND Padang,

Tri Ernita, ST, MP Riko Ervil, MT

NIDN. 1028027801 NIDN. 1014057501

(4)

DESIGN OF END RESULTS SEPARATOR PATCHOULI OIL REFININGPAK AKMAL

IN THE VILLAGE RimboBinuang KAB. West Pasaman

Name : Septian Dwi Putra

NPM : 1310024425021

Supervisor1 : Ir. Gamindra Jauhari, MP Supervisor2 : Tri Ernita, ST, MP

ABSTRACT

Patchouli oil processing is a business that is able to take advantage of local resources and oriented to the export market. In the processing of patchouli oil is the most important thing at the end of the patchouli oil refining process, here the refining process using a separator that is not transparent, usually separator is used to separate oil and water. Separators which exist at present too difficult for artisans to carry out the separation of oil, because they require the supervision of a craftsman to see at any time in the separator so that the oil which has been separated can be taken. For that we need to do the design of the separator final result patchouli oil refining transparent and measurable and optimize the process of patchouli oil refining in the separator. From the results, a transparent and measurable separator with patchouli oil refining process is optimal.

Keywords: Separator, Factories, Patchouli Oil, Transparent, Measured

(5)

PERANCANGAN SEPARATOR HASIL AKHIR PENYULINGAN MINYAK NILAM PAK AKMAL DI DESA RIMBO BINUANG KAB. PASAMAN BARAT

Nama : Septian Dwi Putra

NPM : 1310024425021

Dosen Pembimbing 1 : Ir. Gamindra Jauhari,MP Dosen Pembimbing 2 : Tri Ernita, ST, MP

ABSTRAK

Pengolahan minyak nilam merupakan usaha yang mampu memanfaatkan sumber daya lokal dan berorientasi pada pasar ekspor. Dalam pengolahan minyak nilam hal yang paling utama adalah pada proses penyulingan minyak nilam akhir, disini proses penyulingan menggunakan separator yang tidak transparan, biasanya separator ini digunakan untuk pemisah minyak dan air. Separator yang ada pada saat ini terlalu menyulitkan pengrajin untuk melakukan pemisahan minyak, karena masih membutuhkan pengawasan dari seorang pengrajin untuk melihat setiap saat pada separator supaya minyak yang sudah terpisah bisa diambil. Untuk itu perlu dilakukannya perancangan separator hasil akhir penyulingan minyak nilam yang transparan dan terukur dan mengoptimalkan proses penyulingan minyak nilam pada separator. Dari hasil penelitian didapatkan separator yang transparan dan terukur dengan proses penyulingan minyak nilam yang optimal.

Kata kunci : Separator, Penyulingan, Minyak Nilam, Transparan, Terukur

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “Perancangan Separator Hasil Akhir Penyulingan Minyak Nilam Pak Akmal di Desa Rimbo Binuang Kab. Pasaman Barat”.

Dalam penulisan dan penyusunan penelitian ini peneliti banyak menemukan kendala-kendala atau masalah yang menjadi suatu tantangan tersendiri untuk menyelesaikan penelitian ini.

Dalam penyusunan penelitian ini peneliti merasakan bahwa hasil penelitian ini masih jauh sekali dari kesempurnaan dari segi pembahasan maupun materi maupun teknik penyajiannya.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Ir. Gamindra jauhari,MP selaku Pembimbing I yang telah memberi masukan agar penelitian ini bisa selesai.

2. Ibu Tri Ernita, ST, MP selaku pembimbing II yang telah memberikan dorongan dan masukan agar penelitian ini bisa selesai.

3. Keluarga tercinta yang telah memberikan dukungan dan semangat.

4. Bapak Riko Ervil, MT selaku Ketua STTIND Padang.

5. Ibu Tri Ernita, ST, MP selaku PLT Prodi Teknik Industri.

(7)

6. Semua rekan-rekan sesama mahasiswa yang turut memberikan dorongan semangat pada penulis untuk menyelesaikan penelitian ini.

Kami berharap semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat menambah wawasan kita tentang cara penyusuan dan penulisan skripsi

Padang, Desember 2017

Peneliti

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI ABSTRACT

ABSTRAK

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 3

1.3 Batasan Masalah ... 3

1.4 Rumusan Masalah ... 4

1.5 Tujuan Penelitian ... 4

1.6 Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Landasan Teori ... 6

2.1.1. Pengertian Perancangan ... 6

2.1.2. Separator ... 6

2.1.2.1 Fungsi Utama Separator ... 7

2.1.2.1 Prinsip Pemisahan ... 8

2.1.3. Tanaman Nilam ... 9

2.1.4. Jenis Tanaman Nilam ... 10

2.1.5. Minyak Nilam ... 11

2.1.6. Penyulingan Nilam ... 14

2.2 Kerangka Konseptual ... 21

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 23

3.1 Jenis Penelitian ... 23

(9)

3.2 Lokasi Penelitian ... 23

3.3 Data, Jenis Data, dan Sumber Data ... 23

3.3.1 Data ... 23

3.3.2 Jenis Data ... 23

3.3.3 Sumber Data ... .. 24

3.4 Alat dan Bahan ... 24

3.4.1 Alat ... 24

3.4.2 Bahan ... 24

3.5 Langkah Pelaksanaan ... 24

3.6 Kerangka Metodologi ... 25

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 27

4.1 Deskripsi Data ... 27

4.1.1 Deskrisi Alat ... 27

4.2 Analisa Data ... 27

4.2.1 Analisa Pengukuran Bahan dan Material ... 27

4.2.2 Analisa Proses Permesinan ... 28

4.2.2.1 Proses Permesinan Panas ... 28

4.2.2.2 Proses Permesinan Dingin... 29

4.2.3 Analisa Waktu Pengerjaan ... 29

4.2.4 Analisa Biaya ... 29

4.2.5 Proses Pembuatan Separator yang Transparan dan Terukur . 30 4.3 Hasil Uji Coba ... 31

4.4 Hasil Akhir ... 36

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 38

5.1 Kesimpulan ... 38

5.2 Saran ... 38 DAFTAR KEPUSTAKAAN

LAMPIRAN

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Proses Pembuatan Alat ... 39 Lampiran 2 Gambar Rancangan Alat... 45

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Separator Horizontal ... 7

Gambar 2.2 Proses Pemisahan ... 9

Gambar 2.3 Tanaman Nilam ... 10

Gambar 2.4 Minyak Nilam ... 13

Gambar 2.5 Alat Penyulingan Dengan Air ... 17

Gambar 2.6 Alat Penyulingan Dengan Air dan Uap ... 18

Gambar 2.7 Alat Penyulingan Dengan Uap langsung ... 20

Gambar 2.8 Bagan Kerangka Konseptual ... 21

Gambar 3.1 Kerangka Metodologi ... 26

Gambar 4.1 Alur Proses Kerja Pembuatan Separator ... 31

Gambar 4.2 Proses Minyak Masuk dalam Separator ... 32

Gambar 4.3 Proses Penyaluran Air lewat Pipa ... 32

Gambar 4.4 Proses Pembuangan Air melalui Kran ... 33

Gambar 4.5 Proses Pembukaan Katub Minyak ... 34

Gambar 4.6 Penyaluran Minyak Akhir ... 35

Gambar 4.7 Hasil Minyak Akhir ... 36

Gambar 2.1 Separator Transparan dan Terukur ... 37

(12)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Negara Indonesia dikenal sebagai produsen minyak atsiri yang cukup potensial di mata dunia. Minyak atsiri dikenal dengan nama minyak eteris atau minyak terbang merupakan bahan yang bersifat mudah menguap (volatile), mempunyai rasa getir, dan bau mirip tanaman asalnya yang diambil dari bagian- bagian tanaman seperti daun, buah, biji, bunga, akar, rimpang, kulit kayu, bahkan seluruh bagian tanaman. Minyak atsiri selain dihasilkan oleh tanaman, dapat juga sebagai bentuk dari hasil degradasi oleh enzim atau dibuat secara sintetis.

Jenis tanaman yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan minyak atsiri sangat beragam jenisnya. Tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth) termasuk tanaman penghasil minyak atsiri yang memberikan kontribusi penting dalam dunia flavour dan fragrance terutama untuk industri parfum dan aroma terapi. Tanaman ini memiliki kadar minyak 0.5 – 1.5%. Untuk mendapatkan minyak atsiri dari tanaman nilam, diperlukan proses penyulingan.

Minyak nilam di ekspor ke berbagai negara seperti Amerika, Singapura, Jepang, Perancis, Switzerland, Inggris, Taiwan, Belanda, Jerman dan Cina dengan volue ekspor sebanyak 2.074.250 kg minyak, nilai ekspor US$ 27.136.913 pada tahun 2004 (BPS,2007). Pekiraan pemakaian dunia pada tahun 2006 sekitar 1500 ton/tahun dan Indonesia adalah produsen utama. Situasi tahun 2007 – 2008 yang

(13)

tidak kondusif ( harga berluktuatif cukup segnifikan ) berakibat turunnya produksi dan pemakaian sampai lebih dari 40% (Mulyadi, 2008).

Pengolahan minyak nilam merupakan salah satu usaha potensial untuk dikembangkan sebab Indonesia memiliki iklim tropis yang cocok untuk ditanami nilam. Pengolahan minyak nilam merupakan usaha yang mampu memanfaatkan sumber daya lokal dan berorientasi pada pasar ekspor. Pengolahan minyak nilam juga tidak hanya menguntungkan secara ekonomis, tetapi juga mampu juga menciptakan lapangan kerja, sekaligus menunjang produtivitas sektor perkebunan.

Meskipun demikian belum banyak ditemui pengusaha pengolahan minyak nilam di Indonesia.

Di Desa Rimbo Binuang Kab. Pasaman Barat berdiri usaha rumah tangga pengolahan minyak nilam. Petani nilam melakukan panen pertama saat tanaman berumur 6 bulan dan panen berikutnya saat berumur 4 bulan. Biasanya pengrajin nilam mengolah nilam dari hasil panen lahannya sendiri dan membeli nilam dari petani lainnya. Dalam pengolahan minyak nilam hal yang paling utama adalah pada proses penyulingan minyak nilam akhir, disini proses penyulingan menggunakan separator yang tidak transparan, biasanya separator ini digunakan untuk pengendapan minyak hasil pengolahan awal, ini bertujuan supaya minyak nilam yang sudah diolah dapat terpisah dengan air pada waktu proses penyulingan berlangsung.

Pengrajin yang ada di Desa Rimbo Binuang melakukan pengambilan minyak yang ada di separator menggunakan sendok stainlees yang membuat pengrajin melakukan pekerjaan menjadi tidak efisien karena harus menunggu dulu

(14)

minyak terpisah dengan air baru bisa melakukan pengambilan minyak. Ini tentu sangat membutuhkan waktu bagi pengrajin dan membuat pengerajin cepat lelah, karena panas yang dihasilkan oleh separator. Separator yang ada pada saat ini tidak terlalu membantu pengrajin untuk melakukan pemisahan minyak, karena masih membutuhkan pengawasan dari seorang pengrajin untuk melihat setiap saat pada separator supaya minyak yang sudah terpisah bisa diambil. Pengerajin berharap ada separator yang lebih efesien dalam mengambil minyak hasil penyulingan dan tidak perlu melakukan pengecekan setiap saat pada separator dan dapat mengetahui volume minyak yang ada pada Separator.

Berdasarkan permasalahan di atas maka penulis ingin mengambil judul tentang “Perancangan Separator Hasil Akhir Penyulingan Minyak Nilam Pak Akmal Di Desa Rimbo Binuang Kab. Pasaman Barat”

1.2 Identifikasi masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang ada di atas, maka dapat diidentifikasi beberapa masalah yaitu sebagai berikut :

1. Tabung yang digunakan di tempat penyulingan masih belum transparan.

2. Pengrajin minyak nilam masih menggunakan sendok stainlees untuk mengambil minyak.

3. Sulitnya menentukan hasil minyak akhir pada separator yang ada 1.3 Batasan Masalah

Agar penelitian ini lebih terfokuskan, maka penulis beri batasan masalah, yaitu pada separator transparan dan terukur

(15)

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas maka dapat dirumuskan permasalahan :

1. Bagaimana merancang separator hasil akhir penyulingan minyak nilam yang transparan dan terukur.

2. Apakah proses pada penyulingan minyak nilam pada separator sudah optimal.

1.5 Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah :

1. Merancang separator hasil akhir penyulingan minyak nilam yang transparan dan terukur.

2. Mengoptimalkan proses penyulingan miyak nilam pada separator.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat-manfaat yang dapat kita peroleh dari penelitian ini.

Manfaatnya antara lain adalah : 1. Bagi Penulis

Sebagai pengetahuan bagi penulis maupun yang membaca laporan penelitian ini tentang merancang tabung indikator hasil akhir penyulingan .

2. Bagi Institusi

Sebagai syarat bagi penulis dalam penyelesaian studi di Prodi Teknik Industri, Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STTIND) Padang.

(16)

3. Bagi Perusahaan

Sebagai pedoman bagi Pengerajin minyak nilam yang ada di Kab. Pasaman barat dalam keberlangsungan usaha pengolahan nilam.

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

Dalam menyusun tugas akhir ini, akan membahas beberapa pokok-pokok penting yang berhubungan dengan perancangan separator penyulingan akhir minyak nilam. Berikut adalah beberapa diantaranya :

2.1.1 Pengertian Perancangan

Perancangan yaitu sebagai suatu pemikiran baru atas fundamental seni dengan tidak hanya menitik-beratkan pada nilai estetik, namun juga aspek fungsi dan latar industri secara masal. Kenyataannya pengertian desain tidak hanya digunakan dalam dunia seni rupa saja, namun dalam bidang teknnologi dan rekayasa ( Widodo,2003 ).

Perancangan merupakan suatu cara menghayati dan menciptakan gagasan baru dan kemudian mengkomunikasikan gagasan-gagasan tersebut kepada orang lain dengan cara yang mudah dipahami ( Jugianto,1991 ).

2.1.2 Separator

Separator adalah alat seperasi minyak dan gas bumi yang menggunakan prinsip separasi flash pada tekanan dan temperatur yang tepat. Terkait pemisahan gas dan minyak di lapangan, terdapat pengertian lain mengenai seperator, yaitu tabung bertekanan dan bertemperatur tertentu untuk memisahkan fasa gas dan minyak secara optimum. (http://iman-firmanoktah.blogspot.co.id/)

(18)

Umumnya seperator terdiri atas dua jenis yakni seperator horizontal dan seperator vertikal. Untuk produksi dari sumur minyak diproses dalam seperator vertikal sedangkan untuk produsi dari sumur gas sangat sesuai untuk diproses dalam seperator horizontal. Hal ini disebabkan karena seperator horizontal memiliki daerah pemisah yang lebih luas dan panjang dibanding seperator vertikal.

Gambar 2.1 Separator Horizontal 2.1.2.1 Fungsi Utama Seperator

a. Memisahkan fase pertama cairan hidrokarbon dan air bebasnya dari gas atau cairan, tergantung mana yang lebih dominan.

b. Melakukan usaha lanjutan dari pemisahan fase pertama dengan mengendapkan sebagian besar dari butiran-butiran cairan yang ikut di dalam aliran gas.

c. Mengeluarkan gas maupun cairan yang telah dipisahkan dari seperator secara terpisah dan meyakinkan bahwa tidak terjadi proses balik dari salah satu arah ke arah yang lainnya.

(19)

2.1.2.2 Prinsip Pemisahan

Terdapat dua macam proses dari pembentukan gas (vapour) dari hidrokarbon cair yang bertekanan. Proses tersebut adalah flash separation dan differential separation. flash separation terjadi apabila tekanan pada sitem

diturunkan dengan cairan dan gas tetap dalam kontak, hal mana gas tidak dipisahkan dari kontaknya dengan cairan saat penurunan tekanan yang memberikan gas keluar dari solusinya. Proses ini menghasilkan banyak gas dan cairan sedikit. differential separation terjadi bila gas dipisahkan dari kontaknya dari cairan pada penurunan tekanan dan membiarkan gas keluar dari solusinya.

Proses ini menghasilkan banyak cairan dan sedikit gas. (http://iman- firmanoktah.blogspot.co.id/)

Suatu seperator minyak / gas yang ideal, yang bertitik tolak dari pendapatan cairan yang maksimum, adalah suatu kontruksi yang dirancang sedemikian rupa, sehingga dapat menurunkan tekanan aliran tekanan fluida dari sumur pada intel separator, menjadi atau mendekati tekanan atmosphere pada saluran keluar separator. Gas dipindah / dikelurkan dari separator secara terus menerus segera setelah terpisah dari cairan, ini dikenal dengan differential separation, namun penataan seperti di atas tidak praktis.

Pemisahan tergantung dari efek gravitasi untuk memisahkan cairan, sebagai contoh hasil pemisahan minyak, gas dan air akan terpisah bila ditempatkan pada satu wadah karena mempunyai perbedaan densitas satu sama lainnya. Proses pemisahan karena adanya perbedaan densitas fluida dan efek gravitasi dapat terlihat pada gambar dibawah ini :

(20)

Gambar 2.2 Proses Pemisahan 2.1.3 Tanaman Nilam

Nilam ( PogostemoncablinBenth.) adalah suatu semak tropis penghasil sejenis minyak atsiri yang dinamakan sama ( minyak nilam ). Dalam perdagangan internasional, minyak nilam dikenal sebagai minyak patchouli (dari bahasa Tamil patchai ( hijau ) dan ellai ( daun ), karena minyaknya disuling dari daun ). Aroma

minyak nilam dikenal 'berat' dan 'kuat' dan telah berabad-abad digunakan sebagai wangi-wangian ( parfum ) dan bahan dupa atau setanggi pada tradisi timur. Harga jual minyak nilam termasuk yang tertinggi apabila dibandingkan dengan minyak atsiri lainnya.

(21)

. Gambar 2.3 Tanaman Nilam

Tumbuhan nilam berupa semak yang bias mencapai satu meter. Tumbuhan ini menyukai suasana teduh, hangat, dan lembap. Mudah layu jika terkena sinar matahari langsung atau kekurangan air. Bunganya menyebarkan bau wangi yang kuat, Bijinya kecil. Perbanyakan biasanya dilakukan secara vegetatif.

Nilam ( Pogostemon cablin Benth ) termasuk dalam keluarga Labiatea merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang penting bagi Indonesia, karena minyak yang dihasilkan merupakan komoditas ekspor yang cukup mendatangkan devisa negara.

2.1.4 Jenis Tanaman Nilam

Nilam dalam bahasa latin adalah Pogostemon Sp. Tanaman Nilam di Indonesia dari segi karakter marfologi, kualitas PA ( patchouli alcohol ), dan ketahanan terhadap cekaman biotic dan abiotik, terdiri dari Nilam Aceh dikenal dengan nama latin Pogostemon cablin Benth, Nilam Jawa dikenal dengan sebutan dilem wangi ( Pogostemon heyneanus Benth ), dan Nilam Sabun ( Pogostemon hortensis Backer ). Diantara ketiga jenis nilam tersebut, nilam Aceh dan nilam sabun yang tidak berbunga.

(22)

Nilam Aceh paling luas daerah penyebarannya dan banyak dibudidayakan karena memiliki kadar minyak dan kualitas minyak lebih tinggi dibandingkan dengan kedua jenis nilam lainnya. Ciri spesifik yang dapat membedakan antara Nilam Aceh dan Nilam Jawa secara visual terdapat pada daunnya. Pada Nilam Aceh permukaan daunnya halus, bergerigi tumpul, ujung daunnya runcing sedangkan pada Nilam Jawa permukaan daunnya kasar, tepi daun bergerigi runcing dan ujung daunnya meruncing.

Nilam Aceh merupakan tanaman introduksi diperkirakan berasal dari Filipina atau semenanjung Malaysia, dan masuk ke Indonesia lebih dari seabad yang lalu. Tiga varietas Nilam Aceh yang dikenal unggul dengan kadar dan mutu minyak tinggi, yaitu varietas Lhokseumawe ( NAD), varietas Tapak Tuan (NAD), dan varietas Sidikalang (Sumut). Nilam Aceh mengandung sekitar 2,5-5 % minyak, sehingga banyak diminati oleh petani maupun pasar.

Untuk Nilam Jawa lebih dikenal sebagai nilam hutan yang asalnya diperkirakan dari India, tumbuh lebih besar dan rimbun serta berbunga, namun kurang diminati karena hasil minyaknya lebih rendah 2-3 kali dibanding Nilam Aceh, meski tanaman ini sebenarnya lebih tahan terhadap penyakit.

Jenis Nilam Sabun hanya terdapat di Banten. Kandungan minyaknya juga rendah, berkisar antara 0,5-1,5%. Mutu minyaknya juga kurang baik Sehingga kurang diminati oleh pasar.

2.1.5 Minyak Nilam

Minyak nilam tergolong dalam minyak atsiri dengan komponen utamanya adalah patchoulol. Daun dan bunga nilam mengandung minyak ini, tetapi orang

(23)

biasanya mendapatkan minyak nilam dari penyulingan uap terhadap da un keringnya (seperti pada minyak cengkeh). Di Indonesia minyak nilam juga disuling dari kerabat dekat nilam yang asli dari Indonesia, nilam Jawa (Pogostemonheyneani), yang memiliki kualitas lebih rendah.

Minyak nilam yang baik umumnya memiliki kadar PA di atas 30%, berwarna kuning jernih, dan memiliki wangi yang khas dan sulit dihilangkan.

Minyak nilam jenis ini didapat dengan menggunakan teknik penyulingan uap kering yang dihasilkan mesin penghasil uap (boiler) yang diteruskan kedalam tangki reaksi (autoklaf) selanjutnya uap akan menembus bahan baku nilam kering dan uap yang ditimbulkan diteruskan kebagian pemisahan untuk dilakukan pemisahan uap air dengan uap minyak nilam dengan system penyulingan. Minyak nilam yang baik dihasilkan dari tabung reaksi dan peralatan penyulingan yang terbuat dari baja tahan karat (stainless steel) dan peralatan tersebut hanya digunakan untuk menyuling nilam saja (tidak boleh berganti-ganti dengan bahan baku lain).

Karena sifat aromanya yang kuat, minyak ini banyak digunakan dalam industri parfum. Sepertiga dari produk parfum dunia memakai minyak ini, termasuk lebih dari separuh parfum untuk pria. Minyak ini juga digunakan sebagai pewangi kertas tisu, campuran deterjen pencuci pakaian, dan pewangi ruangan. Fungsi yang lebih tradisional adalah sebagai bahan utama setanggi dan pengusir serangga perusak pakaian.

Aroma minyak nilam dianggap 'mewah' menurut persepsi orang Eropa, tetapi orang sepakat bahwa aromanya bersifat menenangkan.

(24)

Gambar 2.4 Minyak Nilam

Minyak nilam mengandung beberapa senyawa, antara lain benzaldehid (2,34%), kariofilen (17,29%), a-patchoulien (28,28%), buenesen (11,76%), dan patchouli alkohol (40,04%). Sementaraitu, kandungan minyak dalam batang, cabang, atau ranting jauh lebih kecil (0,4-0,5%) dari pada bagian daun (5-6%).

Standar mutu minyak nilam belum seragam untuk seluruh dunia. Setiap Negara menentukan sendiri standar minyak nilamnya. Indonesia menetapkan standar mutu minyak nilam untuk ekspor dengan berat jenis 0,943-0,983, indeks bias 1,504-1,514, bilangan ester maksimum 10,0, bilangan asam 5,0, warna kuning muda sampai cokelat, dan tidak tercampur dengan bahan lain.

Berdasarkan hasil laporan dari Marlet Study Essential Oils and Oleoresin (ITC), bahwa produk siminyak nilam dunia mencapai 500-550 ton per tahun.

Indonesia adalah salah satu Negara pengekspor minyak nilam terbesar sekira 450 ton per tahun. Dibandingkan dengan Cina yang hanya sekira 50-80 ton per tahun.

Produk atsiri dunia yang didominasi Indonesia meliputi nilam serai wangi, minyak daun cengkeh, dan kenanga. Itu merupakan komoditi non migas yang sangat digemari oleh mancanegara.

(25)

2.1.6 Penyulingan Nilam

Penyulingan didefinisikan sebagai pemisahan komponen-komponen suatu campuran dari dua jenis cairan atau lebih berdasarkan perbedaan tekanan uap dari masing-masing zat tersebut ( Guenther, 1987 ).

Penyulingan menggunakan air atau menggunakan uap air, merupakan tipe penyulingan dari campuran cairan yang saling tidak melarut dan selanjutnya membentuk dua fase. Penyulingan tersebut dilakukan untuk memurnikan dan pemisahan minyak nilam dengan cara penguapan, dan proses penguapan tersebut juga dimaksud untuk mengekstraksi minyak nilam dari tanaman penghasil minyak nilam dengan bantuan uap air ( Guenther, 1987 ).

Titik didih adalah nilai suhu pada tekanan atmosfir atau pada tekanan tertentu lainnya, dimana cairan akan berubah menjai uap, atau suhu pada saat tekanan uap dari cairan tersebut sama dengan tekanan gas atau uap yang berada disekitarnya ( Hackh cit Guenther, 1987 ). Cairan heterogen (tidak salng campur) memiliki titik didih yang berbeda. Dengan penguapan komponen yang bertitik didih rendah, maka titik didih cairan yang tinggal akan meningkat secara bertahap dan akhirnya mendekati komponen yang bertitik didih tinggi (Guenther, 1987).

Proses penyulingan cairan heterogen berlaku menurut Hukum Dalton, yaitu :

Dimana adalah tekanan uap murni senyawa A dan tekanan uap murni senyawa B.

(26)

Campuran air dan minyak nilam membentuk cairan dua fase. Cairan dua fase dalam kadaan seimbang, jumlah molekul yang terdapat dalam fase uap lebih besar dari pada jumlah molekul uap cairan murni pada suhu yang sama. Oleh karena itu, tekanan yang dihasilkan oleh campuran uap akan lebih besar dari pada tekanan yang dihasilkan oleh uap murni itu sendiri. Maka, apabila minyak nilam bersama-sama dengan air didalam alat penyulingan, tekanan dalam ruang uap akan lebih besar dari 1 atmosfir. Tetapi karena ruang uap berhubungan dengan udara luar, maka tekanan akan turun kembali mencapai tekanan atmosfir. Keadaan ini dapat berlangsung jika suhu turun secara otomatis. Dengan demikian titik didih dari setiap cairan dua fase akan selalu lebih rendah dari titik didih masing-masing cairan murni pada tekanan yang sama ( Guenther, 1987 ).

Penyulingan dapat dilakukan dengan cara :

a) Penyulingan dengan air (Water distillation).

Pada metode ini, bahan yang akan di suling kontak langsung dengan air mendidih. Pada metode penyulingan air, seluruh ruang antar simplisia daun yang terisi oleh air, dapat dipenetrasi secara kontinyu. Proses pengisian simplisia daun tidak boleh terlalu penuh (harus ada ruang kosong), untuk menghindari simplisia jangan sampai meluap dan masuk ke dalam kondesor. Proses pemanasan yang digunakan jangan terlalu panas. Karena akibat penguapan air dan minyak, sebagai dari tumpukan bahan tidak terendam lagi dalam air, sehingga bahan tidak dapat terlindungi dari panas yang terlalu tinggi (Guenther, 1987).

Dalam penyulingan dengan air, kecepatan penyulingan perlu dipertahankan, karena dengan mengatur kecepatan penyulingan perlu

(27)

dipertahankan, karena dengan mengatur kecepatan penyulingan, maka tumpukan simplasia daun dalam ketel dapat dipertahankan dalam keadaan cukup longgar, sehingga menjamin kelangsungan penetrasi uap ke dalam bahan dan dapat menguapkan minyak nilam.

Pada metode penyulingan air, seluruh bagian tumpukan simplisia daun digerakkan oleh air mendidih. Simplisia yang diisi longgar dan terendam dalam air mendidih, sehingga partikel uap dapat kontak dengan semua partikel bahan dan menguapkan minyak nilam. Minyak nilam akan berdifusi menuju epidermis.

Penyulingan dengan air memiliki beberapa kelemahan, ekstraksi tidak dapat berlangsung dengan sempurna walaupun simplisia dirajang, selain itu beberapa jenis ester, misalnya linalil asetat akan terhidrolisis; persenyawaan yang peka seperti aldehida, mengalami polimerisasi karena pengaruh air mendidih selain itu, komponen minyak yang bertitik didih tinggi (misalnya sinnamil alkohol, benzil alkohol) dan senyawa yang bersifat larut dalam air tidak dapat menguap secara sempurna, sehingga minyak yang tersuling mengandung komponen tidak lengkap sehingga mengakibatkan kehilangan sejumlah minyak nilam (Guenther, 1987).

(28)

Gambar 2.5 Alat Penyulingan Dengan Air

b) Penyulingan dengan air dan uap (water and steam distillation).

Pada metode penyulingan ini, simplisia daun diletakka di atas rak-rak atau saringan berlubang. Ketel suling diisi air sampai permungkaan air berada tidak jauh dibawah saringan. Ciri khas dari metode ini adalah uap selalu dalam keadaan basah, jenuh dan tidak panas, serta simplisia yang disuling hanya berhubungan dengan uap dan tidak dengan air panas (Guenther, 1987).

Keuntungan penyulingan air dan uap dibandingkan dengan penyulingan air adalah karena simplisia yang disuling tidak dapat menjadi gosong. Timbulnya gosong dapat dicegah karena suhu tidak akan berlebih suhu uap jenuh pada tekanan 1 atmosfir, hal ini karena penyulingan dengan air dan uap merupakan metode penyulingan dengan tekanan uap jenuh yang rendah, sehingga kerusakan minyak kecil.

Pada metode penyulingan dengan air dan uap perlu diusahankan agar proses penetrasi uap merata di dalam simplisia, sehingga rendemen minyak yang dihasilkan dapat menjadi lebih tinggi. Proses penataan simplisia sangat

(29)

menentukan dalam perolehan rendemen minyak yang dihasilkan misalnya apabila simplisia daun hanya menumpuk pada satu tempat tertentu saja dan jarak antara simplisia dalam ketel menjadi renggang, hal tersebut menyebabkan terbentuknya jalur uap sehingga uap akan langsung lolos tanpa menimbulkan pengaruh pada simplisia tersebut dan sebagian besar simplisia tidak pernah kontak dengan uap.

Masalah lain yang timbul, pada awal penyulingan bahan olah keadaanny masih dingin, sehingga uap yang mula-mula berbentuk akan mengembun dan mambasahi simplisia yang disuling. Pembasahan ini akan berlangsung terus menerus sampai suhu pada seluruh bahan sam dengan titik didih air pada tekanan tertentu (Guenther, 1987).

Dalam sistem penyulingan dengan air dan uap proses dekomposisi minyak lebih kecil (hidrolisa ester, polimerisasi, dll). Metode penyulingan dengan air dan uap lebih efisiien dari pada metode penyulinga dengan air karena jumlah bahan bakar yang dibutuhkan lebih kecil dan rendemen minyak yang dihasilkan lebih besar (Guenther, 1987).

Gambar 2.6 Alat Penyulingan Dengan Air dan Uap

(30)

c) Penyulingan dengan uap langsung (steam distillation).

Pada penyulingan ini, air tidak diisikan dalam ketel bersama simplisia daun. Uap yang digunakan adalah uap jenuh atau uap kelewat panas pada tekanan lebih dari 1 atmosfir, dihasilkan dari ketel uap yang letaknya terpisah dan kemudian dialirkan ke dalam tumpukan bahan di dalam ketel (Guenther,1987).

Pada peyulingan dengan uap, dengan penurunan tekanan uap di dalam ketel (dari tekanan tinggi ke tekanan rendah), maka uap tersebut cenderung berubah menjadi uap kelewat panas. Dalam hal ini terdapat dua faktor penting yaitu 1) suhu simplisia tidak tetap pada titik didih air, tetapi meningkat hingga mencapai suhu uap kelewatan panas, 2) uap kelewatan panas cenderung mengeringkan simplisia dan mengurangi kecepatan penguapan minyak nilam.

Minyak nilam hanya akan menguap setelah terjadi difusi cairan minyak dan akan berhenti sama sekali atau menurun aktifitasnya jika simplisia tersebut menjadi kering. Dalam khasus penyulingan uap langsung jika keluar minyak nilam berhenti sebelum waktunya maka penyulingan uap langsung dengan uap jenuh atau uap basah, sehingga keluarnya minyak nilam berlangsung kembali. Setelah minyak keluar maka uap kelewat panas dapat digunakan kembali (Guenther, 1987).

Karena tekanan uap yang tinggi dapat menyebabkan dekomposisi, maka penyulingan lebih baik dimulai pada tekanan rendah kemudian tekanan meningkat secara bertahap sampai pada akhir proses yaitu ketika minyak yang tertinggal dalam bahan relatif kecil dan hanya komponen minyak yang bertitik didih tinggi saja masih tertinggal didalam bahan (Guenther, 1987).

(31)

Pada penyulingan minyak nilam dari tanaman uap berfungsi untuk dapat mentransmisikan panas. Berbeda dengan cairan simplisia tanaman tidak mampu untuk meneruskan panas ke seluruh bagian tanaman. Energi panas ditrensmisikan melalui air mendidih kedalam simplisia dengan cara perendaman simplisia atau dengan mengalirkan uap air panas diantara simplisia tanaman tersebut (Guenther, 1987).

Gambar 2.7 Alat Penyulingan Dengan Uap Langsung

(32)

2.2 Kerangka Konseptual

Langkah-langkah yang dilakukan penulis dalam melakukan penelitian ini dapat dilihat pada bagan kerangka konseptual di bawah ini :

Gambar 2.8 Bagan Kerangka Konseptual

Adapun kerangka konseptual di atas terdiri dari hal-hal sebagai berikut : 1. Input, merupakan dasar permasalahan yang di butuhkan untuk dilakukan

tindak lanjutnya. Pada penelitian ini peneliti menemukan beberapa hal yang menjadi landasan penelitian ini yakni :

a. Gambaran kondisi separator yang ada.

b. Bahan dan alat untuk pembuatan separator yang transparan.

1. Tabung transparan 1. Gambaran

kondisi

separator yang ada.

2. Bahan dan alat untuk

pembuatan separator yang transparan.

a) Tabung transparan b) Sambungan

lurus c) Pipa

stainless d) Kran air

Membuat separator yang transparan dan terukur.

1. Mengukur bahan 2. Pemotongan 3. Pengelasan 4. Penggerindaan 5. Finishing

1. Separator penyulingan minyak nilam yang

transparan dan terukur.

2. Optimalisasi proses penyulingan miyak nilam pada

separator.

INPUT PROSES OUTPUT

(33)

2. Sambungan Lurus 3. Pipa stainless 4. Kran air

2. Proses, merupakan langkah yang akan dilakukan sehingga menghasilkan output dari penelitian ini. Adapun proses langkah-langkah yang dilakukan tersebut adalah Membuat separator yang transparan dan terukur, Seperti :

1. Mengukur bahan 2. Pemotongan 3. Pengelasan 4. Penggerindaan 5. Finishing

3. Output, yakni hasil dari proses yang telah dilakukan. Output yang diharapkan dalam penelitian ini adalah separator penyulingan minyak nilam yang transparan dan terukur.

(34)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan penulis adalah penelitian eksperimen (experiment research). Penelitian eksperimen menggunakan suatu percobaan yang dirancang secara khusus guna membangkitkan data yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian (Margono, 2005). Dalam melakukan eksperimen peneliti memanipulasikan suatu stimulan, treatment atau kondisi–kondisi eksperimental, kemudian mengobservasi pengaruh yang diakibatkan oleh adanya perlakuan atau manipulasi tersebut.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di penyulingan minyak nilam Pak Akmal di Desa Rimbo Binuang Kab. Pasaman Barat, sedangkan waktu penelitian akan dilaksanakan pada Bulan Juni 2017 sampai dengan Oktober 2017.

3.3 Data, Jenis Data, dan Sumber Data 3.3.1 Data

Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah 1. Dimensi separator yang lama

2. Sistem pengambilan minyak 3.3.2 Jenis Data

Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer.

Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari objek penelitian dengan

(35)

mengadakan pengamatan langsung atau wawancara. Data-data primer yang dibutuhkan seperti separator lama dan data volume minyak.

3.3.3 Sumber Data

Data yang penulis peroleh bersumber dari hasil penelitian yang penulis lakukan di Penyulingan Nilam Pak Akmal.

3.4 Alat dan Bahan 3.4.1 Alat

Alat yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Gergaji besi

2. Meteran 3. Gerindra 4. Las listrik 3.4.2 Bahan

Bahan yang digunakan untuk membuat separator yang transparan dan terukur adalah sebagai berikut :

1. Tabung pertmina 2. Pipa stainless 3/8 3. Sambungan Lurus 3/8 4. Sambungan lurus ¾ 5. Kran ¾

3.5 Langkah Pelaksanaan

Untuk melakukan perancangan tabung indikator, perlu dilakukan beberapa tahapan agar proses pembuatan tabung indikator yang transparan lebih mudah

(36)

dipahami dan dimengerti. Adapun tahapan-tahapan dari perancangan tabung indikator adalah sebagai berikut :

1. Memotong pipa ¾ dengan ukuran 7 cm + 8 cm.

2. Memotong pipa 3/8 dengan ukuran 5 cm + 8 cm + 4 cm + 6cm + 27 cm.

3. Kran ¾ yang ada pada tabung pertamini dimanfaatkan untuk penstabil air.

4. Pengelasan pipa ¾ + kran untuk mengeluarkan minyak, lalu dilakukan pengelasan pipa 3/8 untuk saluran air

5. Melakukan pengerindaan pada bahan yang sudah dilakukan pengelasa.

6. Pengeboran pada tutup pertamini untuk minyak masuk dari tempat penyulingan.

7. Finishing.

3.6 Kerangka Metodologi

Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Survey Lapangan 1. Interview

2. Observasi

Studi Literatur

Mempelajari buku jurnal, diktat, yang berkaitan dengan Metodologi Penelitian dan Perancangan alat penyulingan.

Mulai

A

(37)

Gambar 3.1 Kerangka Metodologi Rumusan Masalah

1. Bagaimana merancang separator hasil akhir proses penyulingan minyak nilam yang transparan dan terukur.

2. Mengoptimalkan proses penyulingan miyak nilam pada separator.

Pengumpulan Data

a. Gambaran kondisi tabung indikator yang ada.

b. Bahan dan alat untuk pembuatan tabung indikator yang transparan.

1. Tabung transparan 2. Sambungan lurus 3. Pipa stainliess 4. Kran air

Hasil Penelitian 1. Membuat gambar rancangan.

2. Membuat tabung indikator yang transparan dan terukur.

Kesimpulan dan Saran

Selesai

Identifikasi Masalah

1. Sulitnya menentukan hasil minyak akhir pada tabung indikator.

2. Pekerja mengambil minyak masih menggunakan gayung.

3. Tabung yang digunakan di tempat pengolahan masih belum transparan.

A

(38)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Deskripsi Data

Dalam melakukan perancangan suatu alat perlu dilakukan beberapa tahapan, agar proses dalam pembuatan suatu alat tersebut lebih mudah dipahami.

Adapun tahapan dalam perancangan separator penyulingan minyak nilam ini adalah sebagai berikut :

4.1.1 Deskripsi Alat

Separator yang baru berdiameter 17 cm , tinggi 34 cm dan terbuat dari kaca, stenlis dan bahan coran dan separator yang lama hanya digunakan sebagai panduan untuk pembuatan separator.

4.2 Analisa Data

4.2.1 Analisa Pengukuran Bahan dan Material

Bahan baku yang diperlukan dalam pembuatan separator adalah :

1. Tabung transparan yang digunakan adalah tabung pertamini yang terbuat dari kaca dan bisa menahan panas suhu dan data ukuran diameter 17 cm dan ukuran tingginya adalah 30 cm dimana pemilihan bahan ini disesuaikan dengan tujuan awal penelitian yang ingin mendapatkan separator yang transparan dan terukur agar pengrajin lebih mudah mengetahui minyak akhir pada separator yang dihasilkan dari penyulingan dan agar bisa menampung minyak hasil akhir yang masih tercampur

(39)

dengan air sebanyak 5 liter yang nantinya akan mendapatkan minyak setelah pemisahan sebanyak 2 liter.

2. Pipa Stainless yang digunakan adalah pipa dengan ukuran 5/8, pipa ukuran ini dipilih agar sesuai dengan ukuran yang ada di tabung kaca dan lebih minimalis dengan alat, apabila memakai ukuran pipa yang lebih besar otomatis tidak akan sesuai dengan lubang yang ada pada tabung transparan.

3. Kran air yang dipakai adalah kran dengan ukuran 3/4 sesuai dengan kebutuhan alat.

4. Bahan bantu pengerjaan proses a. Las listrik

b. Gerinda c. meteran d. Bor

4.2.2 Analisa Proses Permesinan 4.2.2.1 Proses Pengerjaan Panas

Proses pengerjaan panas yang digunakan dalam proses pembuatan separator adalah pengelasan dan pemotongan. Dimana untuk proses pengerjaan panas yaitu suatu pekerjaan yang berhubungan atau harus dikerjakan dengan bantuan mesin dan didukung oleh keterampilan individu.

4.2.2.2 Proses Pengerjaan Dingin

(40)

Proses pengerjaan dingin yang digunakan dalam pembuatan separator ini adalah penghalusan (dengan gerinda tangan), perakitan antar komponen dan finishing. Dimana untuk proses pengerjaan dingin yaitu suatu pekerjaan yang

tidak membutuhkan bantuan mesin dalam pengerjaannya, hanya membutuhkan keterampilan dan kecermatan individu yang dibantu dengan beberapa alat bantu.

4.2.3 Analisa Waktu Pengerjaan

Waktu pengerjaan dalam pembuatan separator transparan dan terukur ini dimulai dari proses pengukuran dan pemotongan bahan, penggerindaan, pengelasan, perakitan/assembling, hingga finishing diperkirakan lebih kurang sekitar 120 menit jam kerja untuk menyelesaikan separator yang transparan dan terukur ini, berikut penjelasannya :

1. Untuk pengukuran dan pemotongan 2. Proses pengeboran

3. Untuk penggerindaan 4. Proses pengelasan

5. Untuk proses perakitan/assembling 6. Untuk proses finishing

4.2.4 Analisa Biaya

Pada pembuatan alat ini terdapat beberapa biaya yang harus dikeluarkan agar alat bisa dibuat. Berikut adalah biaya yang dikeluarkan untuk alat yang baru :

a) Tabung pertamini 1 bh = Rp. 1.050.000 b) Pipa 3/8 Stainless 40 cm = Rp. 10.000 c) Sambungan lurus 3/8 1 bh = Rp. 20.000

(41)

d) Sambungan lurus ¾ 1 bh = Rp. 35.000

e) Kran ¾ 1 bh = Rp. 20.000

f) Upah kerja = Rp. 200.000

Jadi total biaya keseluruhan untuk pembuatan seperator hasil akhir penyulingan minyak nilam Rp. 1.335.000 lebih mahal dari separator yang lama.

4.2.5 Proses Pembuatan Separator Transparan dan Terukur

Dalam proses pembuatan separator yang transparan dan terukur ini ada berbagai proses operasi dan proses perakitan yang harus dilakukan. Supaya lebih jelas bisa dilihat pada kerangka alur proses kerja pembuatan alat berikut ini :

8. Pengkuran pipa ¾ dengan ukuran 7 cm + 8 cm dan pipa 3/8 dengan ukuran 5 cm + 8 cm + 4 cm + 6cm + 27 cm.

9. Memotong pipa ¾ dengan ukuran 7 cm + 8 cm dan pipa 3/8 dengan ukuran 5 cm + 8 cm + 4 cm + 6cm + 27 cm.

10. Pengeboran tutup tabung pertamini untuk minyak masuk.

11. Pengelasan pipa ¾ dengan ukuran 7 cm + 8 cm dan pipa 3/8 dengan ukuran 5 cm + 8 cm + 4 cm + 6cm + 27 cm.

12. Pengerindaan pipa yang telah di las.

13. Perakitan alat.

14. Finising.

(42)

Gambar 4.1 Alur Proses Kerja Pembuatan Separator 4.3 Hasil Uji Coba

Proses pengambilan minyak akhir nilam oleh pengrajin sudah lebih mudah dan dibantu dengan kran untuk proses pengambilan minyak, terlebih lagi pengrajin tidak perlu melihat setiap saat karena sudah terlihat pada separator yang transparan. Berikut adalah gambar proses uji coba pada separator yang transparan dan terukur :

Pengukuran Material

Pemotongan Material

Pengelasan

Assembling / Perakitan

Finishing Penggerindaan

Pengeboran

(43)

Gambar 4.2 Proses Minyak Masuk Dalam Separator

Pada proses ini, minyak yang telah melalui proses produksi masuk kedalam separator yang nantinya akan terjadi proses pemisahan antara minyak dan air.

Gambar 4.3 Proses Penyaluran Air Lewat Pipa

(44)

Pada proses ini, minyak yang masuk dalam separator otomatis akan terpisah dengan air karena berat masa yang berbeda. Pada separator ini diberikan pipa pembuangan air yang apabila saat separator terisi penuh otomatis air akan langsung terbuang.

Gambar 4.4 Proses Pembuangan Air melalui Kran

(45)

Pada gambar di atas air yang telah terpisah dengan minyak dibuang sebagian, bertujuan untuk minyak berada pada titik pembuangan minyak di katup pembuang.

Gambar 4.5 Proses Pembukaan Katub Minyak

(46)

Pada proses ini, pembukaan katub bertujuan supaya minyak yang sudah terpisah bisa mengalir kedalam kran tempat pembuangan minyak akhir tanpa bercampur dengan air.

Gambar 4.6 Penyaluran Minyak Akhir

Pada proses ini minyak yang telah berada pada batas katup pembuangan disalurkan melalui kran tempat pengambilan minyak akhir.

(47)

Gambar 4.7 Hasil Minyak Akhir

4.4 Hasil Akhir

Dimana hasil akhir dari perancangan dan pembuatan separator transparan ini adalah berupa barang jadi yang dapat dilihat pada gambar berikut :

(48)

Gambar 4.8 Separator Transparan dan Terukur

(49)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Setelah melakukan penelitian, membuat alat serta melakukan uji coba, maka dapat disimpulkan bahwa perancangan dan pembuatan separator ini adalah sebagai berikut :

1. Diperoleh rancangan hasil akhir penyulingan minyak nilam yang trasparan dan terukur

2. Proses penyulingan sudah optimal karena separator sudah transparan dan terukur.

5.2 SARAN

Adapun saran yang akan diberikan adalah sebagai berikut :

1. Biaya pembuatan separator ini masih terlalu mahal karena menggunakan tabung pertamini.

2. Alat ini masih belum sempurna dan peneliti menyarankan agar penelitian ini bisa lebih disempurnakan lagi.

(50)

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta Dalam Angka 2007, Jakarta, 2007

Dkk, Ervil Riko, Buku Panduan Penulisan Dan Ujian Skripsi, STTIND Padang, Padang, 2014.

Guenther, E, The Essential Oil, diterjemahkan oleh S. Ketaren, Jilid I, UI Press, Jakarta, 1987.

Jugianto,Mh, Analisis dan Desain Sistem, Bumi Aksara, Jakarta,1991.

Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta,2005.

Mulyadi, Sistem Akuntansi, Salemba Empat, Jakarta, 2008.

Negoro. M Andika, Penentuan Metode Terbaik Proses Penyulingan Minyak Atsiri Daun Sirih (Piper Betle LINN) Antara Penyulingan Dengan Air Dan Penyulingan Dengan Air Dan Uap, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2007.

Wendarsyil, Perancangan dan Pembuatan Alat Kunci Tracker Magnet Multi Fungsi, STTIND Padang, Padang, 2012.

Widodo, Imam Djati, Perencanaan dan Pengembangan Produk, UII Press Indonesia, Yogyakarta, 2003.

Firmanokta, Iman, Alat Separasi Minyak Bumi Atau Separator, 2011 (http://iman-firmanoktah.blogspot.co.id/)

(51)

LAMPIRAN 1

Foto- foto Proses Pembuatan Separator Transparan

Pengukuran pipa saluran keluar minyak

(52)

Pengukuran pipa saluran keluar minyak

Pengukuran pipa saluran keluar minyak

(53)

Pengukuran pipa saluran air keluar

Tinggi tabung

(54)

Foto Proses Pengukuran Alat alat

Foto Proses Penggerindaan

(55)

Foto Proses Pengeboran

(56)
(57)

Foto Proses Pengelasan

Foto Tampak Bawah Separator

(58)

Foto Separator yang telah dirakit

(59)

BIODATA WISUDAWAN

No. Urut : -

Nama : Septian Dwi Putra

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tempat / Tgl Lahir : Painan, 20 september 1989

NPM : 1310024425021

Program Studi : Teknik Industri Tanggal Lulus : 16 Nopember 2017

IPK : 2,87

Predikat Lulus : Memuaskan

Judul Skripsi : Perancangan Separator Hasil Akhir Penyulingan Minyak Nilam Pak Akmal Di Desa Rimbo Binuang Kab. Pasaman Barat.

Dosen Pembimbing : 1. Ir Gamindra Jauhari, MP 2. Tri Ernita, ST, MP

Asal SMA : SMK Al-Anhar Bayang

Nama Orang Tua : Alm. Ruslan Idris

Alamat / Tlp / Hp : Kmpng Bukit Siayah Desa Lumpo Kec. IV Jurai.

081360558006

Gambar

Gambar 2.1 Separator Horizontal  2.1.2.1 Fungsi Utama Seperator
Gambar 2.2 Proses Pemisahan  2.1.3 Tanaman Nilam
Gambar 2.4 Minyak Nilam
Gambar 2.5 Alat Penyulingan Dengan Air
+7

Referensi

Dokumen terkait