IKU 2018
KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL
INDIKATOR KINERJA:
JUMLAH PAKET REKOMENDASI KOMITE
EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL
LAPORAN CAPAIAN INDIKATOR KINERJA UTAMA TAHUN 2018
UNIT : BIRO PERENCANAAN
SASARAN : TERSUSUNNUA PAKET REKOMENDASI KEBIJAKAN EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL
Sasaran Indikator Kinerja
Output Fisik
Kinerja (%)
Progress Capaian
(%)
Keterangan Target Realisasi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Jumlah paket rekomendasi kebijakan ekonomi dan industri Na
Paket Rekomendasi 17 5 111,6% 29,41% Dalam tahap
perencanaan
Keterangan:
*) Pengukuran Kinerja dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perjanjian Kinerja dan Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Kementrian Bidang Perekonomian. Penghitungan pada kolom “Kinerja” dilakukan sebagi berikut : Kinerja akhir tahun merupakan hasi perhitungan relasisasi dibagi dengan target dikalikan 100%, jadi akan terbaca dari target yang telah ditetapkan. Pada perhitungan triwulan I, Target dibagi 4;
pada triwulan II/ Semester I target dibagi 2; Pada Teriwulan III, Mengunakan pembanding sebesar 75% dari target tahunan
**) Perhitungan capaian progres pada kolom “Progres Capaian Output” merupakan perhitungan persentase realisasi pada triwulan berkenaan dibagi denga target di tahun berjalan.
Latar Belakang
Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No.8 Tahun 2016 tentang Komite Ekonomi dan Industri Nasional. Sesuai maksud dan tujuan pembentukannya, KEIN berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. KEIN mempunyai tugas untuk melakukan pengkajian terhadap permasalahan ekonomi dan Industri nasional, regional dan global, menyampaikan saran tindak strategis dalam menentukan kebijakan ekonomi dan industri yang diberikan Presiden, dan melaksanakan tugas lain dalam lingkup ekonomi dan industriyang diberikan Presiden.
Keluaran yang diharapkan dari pelaksanaan tugas yang diberikan kepada KEIN adalah rekomendasi kebijakan ekonomi dan industri nasional serta tersusunnya Road- Map Kebijakan Perekonomian dan Industri Nasional. Report yang disampaikan kepada Presiden terdiri atas Weekly Report yang berupa Policy Memo dan Policy Brief, Monthly Report, Quarterly Report, dan Annual Report. Keluaran lain yang diharakan adalah tersusunnya Outlook Ekonomi dan Industri serta Investor Update yang dilakukan dengan cara menyebarkan informasi positif tentang perekonomian Indonesia baik melalui website dwilingual atau tulisan dimedia.
Keluaran yang dihasilkan oleh KEIN yang berisi rekomendasi kebijakan dibidang ekonomi dan industri setelah disampaikan dan mendapatkan persetujuan oleh Presiden dapat pula dijadikan bahan masuk bagi Kementrian/Lembaga. Presiden juga menugaskan KEIN untuk membuat kerangka strategis untuk re-industrialisasi Indonesia hingga tahun 2045- bertepatan dengan 100 tahun Indonesia merdeka.
Dalam melaksanakan tugasnya KEIN akan memperhatikan masukan dari Tim Pengarah, hal ini sesuai dengan Pasal 5 ayat (1) dalam melaksanakan tugasnya. Selanjutnya, Pasal 5 ayat (2) dijelaskan bahwa Tim pengarah terdiri dari Ketua : Mentri Koordinator Bidang Perekonomian; Anggota : Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan HAM, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Meteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Menteri Sekertaris Negara, Menteri Keuangan dan Sekretaris Kabinet. Tim pengarah bertugas memberikan arahan kepada KEIN dalam rangka rekomendasi kebijakan.
Capaian Indikator Kinerja Utama Triwulan I
PAKET REKOMENDASI KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL
1. Rekomendasi Menghapus Pengenaan PPN atas Produk Petani (Pokja Pangan,Industri Pertanian dan Kehutanan)
Pada tanggal 25 Februari 2014 telah diterbitkan Putusan Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia Nomor 70P/HUM/2013 Tentang Pengenaan PPN Atas Produk Petani.
a. Dengan diterbitkannya Putusan MA tersebut terdapat implikasi perpajakannya sebagai berikut:
Barang hasil pertanian yang merupakan hasil perkebunan, tanaman hias dan obat, tanaman pangan, dan hasil hutan sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2007 yang semula dibebaskan dari pengenaan PPN berubah menjadi dikenakan PPN sehingga atas penyerahan dan impornya dikenai PPN dengan tarif 10%, sedangkan atas ekspornya dikenai PPN dengan tarif 0%.
Demikian juga atas hasil pertanian berupa beras, gabah, jagung, sagu, kedelai, buah-buahan dan sayur-sayuran, sesuai Pasal 4A ayat (2) huruf b Undang-Undang PPN termasuk atas penyerahan, impor, yang tidak dikenakan PPN (Bukan Barang Kena Pajak) berubah menjadi dikenakan PPN 10%.
b. Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Republik tersebut, produk-produk buah-buahan dan sayur-sayuran, serta beras, gabah, jagung, sagu dan kedelai adalah merupakan barang yang tidak dikenakan PPN (Bukan Barang Kena Pajak). Sedangkan barang hasil pertanian yang merupakan hasil perkebunan, tanaman hias dan obat, tanaman pangan, yang semula dibebaskan dari pengenaan PPN berubah menjadi dikenakan PPN sehingga atas penyerahan dan impornya dikenai PPN dengan tarif 10%, sedangkan atas ekspornya dikenai PPN dengan tarif 0%.
c. Dengan putusan tersebut maka pendapatan petani akan menurun sebesar 10%. Pengenaan PPN tersebut telah berakibat negatif pada hajat hidup
puluhan juta petani miskin dengan skala usaha kecil atau gurem yang bergerak di bidang perkebunan, tanaman hias dan obat, tanaman pangan, dan hasil hutan.
d. Pada umumnya, hasil produksi petani belum diproses secara manufacturing (belum ada nilai tambahnya). Perubahan bentuk produknya terjadi karena diolah secara manual atau dengan memanfaatkan sinar matahari untuk pengeringan, dsb.
e. Di berbagai negara, sektor pertanian justru memperoleh insentif/ subsidi, bukan dikenakan pajak PPN terutama untuk melindungi para petani yang pada umumnya merupakan kelompok berpendapatan rendah dan miskin.
f. Dalam rangka mempercepat industrialisasi guna meningkatkan nilai tambah dan diversifikasi produk ekspor terutama di sektor pertanian, kehutanan, dan maritim, maka pengenaan PPN sebesar 10% justru menghambat industrialisasi karena naiknya harga bahan baku yang kemudian akan menurunkan daya saing produk Indonesia.
2. Pengelolaan lalu-lintas devisa (LLD) guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah (Pokja Fiskal)
Melemahnya nilai tukar rupiah dapat memengaruhi stabilitas sistem keuangan, seperti neraca keuangan perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang memiliki utang berdenominasi dolar akan mengalami perlambatan kinerja disebabkan semakin membengkaknya nilai utang. Hal yang sama juga dapat terjadi dengan neraca keuangan pemerintah. Nominal utang pemerintah akan membengkak akibat adanya perubahan kurs pada utang-utang yang berdenominasi asing. Tidak hanya perusahaan dan pemerintah, depresiasi nilai tukar rupiah juga akan berdampak terhadap rumah tangga, yaitu dengan meningkatknya harga-harga barang konsumsi, terutama yang berasal dari impor. Kenaikan harga-harga barang impor, terutama bahan baku industri, akan mendorong kenaikan biaya produksi industri dalam negeri yang pada akhirnya akan mendorong harga secara keseluruhan. Kenaikan harga tersebut tentunya akan menurunkan daya beli rumah tangga, terutama masyarakat berpendapatan rendah, yang kemudian berpotensi meningkatkan kemiskinan.
Imbas dari pelembahan nilai tukar rupiah juga akan memengaruhi pasar keuangan, seperti pasar modal. Adanya capital outflow akan mengoreksi kinerja bursa saham Indonesia dan semakin menekan nilai tukar rupiah. Berdasarkan latar belakang tersebut, Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) melakukan kajian mengenai pengelolaan lalu-lintas devisa (LLD) di Indonesia dan pengaruhnya terhadap stabilitas nilai tukar rupiah, terutama ditengah sentimen pasar terkait pelarian modal keluar Indonesia akibat kenaikan suku bunga the Fed. KEIN memandang bahwa sistem lalu lintas devisa bebas di Indonesia sangat penting untuk dikendalikan dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal tersebut terutama disebabkan pergerakan nilai tukar akan berdampak sangat luas, tidak saja terhadap kegiatan di bidang moneter dan sektor keuangan, tetapi juga terhadap kegiatan ekonomi riil, baik konsumsi, investasi maupun perdagangan luar negeri.
Terdapat beberapa tantangan dan permasalahan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, terutama dalam kaitannya dengan pengelolaan lalu-lintas devisa bebas.
a. Dalam beberapa periode terakhir, tekanan terhadap nilai tukar ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fundamental. Tindakan transaksi mata uang asing yang mendadak dan dalam jumlah besar lebih dipicu oleh faktor sentimen yang semakin berpengaruh signifikan terhadap perubahan nilai tukar yang cepat. Sentimen pasar merupakan kondisi atau kejadian yang memengaruhi persepsi pasar yang memicu minat beli atau jual dari pelaku pasar. Sentimen pasar dapat dicetuskan oleh indikator ekonomi dan pasar keuangan yang mengalami perubahan, pernyataan tokoh kunci pasar keuangan, serta kondisi geopolitik, baik yang terkait secara langsung dengan Indonesia maupun tidak. Sentimen pasar semakin berpengaruh kuat pada saat isu negatif mendapat respon yang semakin besar dari pelaku pasar valas domestik.
b. Kebijakan lalu-lintas devisa Indonesia yang bersifat bebas semakin menambah kerentanan stabilitas nilai tukar rupiah dan perekonomian secara umum, terlebih apabila terjadi arus modal keluar Indonesia secara besar-besaran. Pengaturan mengenai sistem nilai tukar dan lalu lintas devisa dimuat dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar. Undang-Undang ini menegaskan
bahwa sistem devisa yang dianut di Indonesia adalah sistem devisa bebas. Sementara, Thailand melalui Exchange Control Act B.E. 2485, dan Malaysia dengan Exchange Control Act 1953 mengaplikasikan sistem lalu lintas devisa yang lebih terbatas (terlampir).
c. Rasio cadangan devisa yang dimiliki Indonesia terhadap GDP masih sangat rendah. Berdasarkan hasil perhitungan KEIN, rasio cadangan devisa Indonesia terhadap PDB pada tahun 2017 hanya sebesar 13 persen, dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia (33 persen), Filipina (25 persen), Singapura (95 persen) dan Thailand (46 persen). Hal tersebut membuat nilai tukar rupiah rentan terhadap perubahan sentimen pasar dan aksi spekulasi pelaku pasar keuangan.
3. Pengembangan Industri Komponen Elektronika di Indonesia (Pokja Elektronika) Pertumbuhan pasar elektronik konsumsi rumah tangga menunjukkan tren yang menurun terus sejak 5 tahun terakhir yaitu 14% di tahun 2013 menjadi 2,7% pada 2017. Namun demikian nilai pasar (market size) industri elektronik untuk konsumsi rumah tangga di Indonesia tumbuh rata-rata majemuk per tahun (compounded annual growth rate) sebesar 15,07% selama periode 2005-2015, yaitu dari nilai pasar Rp 12,21 triliun pada 2005 menjadi Rp 50,93 triliun pada 2015.
Pertumbuhan nilai pasar industri elektronik konsumsi rumah tangga di Indonesia yang cenderung fluktuatif pada rentang periode 2005-2015 dipengaruhi terutama daya beli konsumen dan inflasi, selera pasar, serta tren fluktuasi nilai kurs mata uang (mengingat 55% komponen masih diimpor).
Produsen elektronik nasional sangat berharap bahwa pada tahun 2019 pemerintah dapat merangsang peningkatan daya beli masyarakat terlebih pada tahun 2018 pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi menjadi lebih baik yaitu di angka 5,4%
Produsen elektronik nasional juga berharap agar pemerintah
perlu memperketat syarat masuk agar barang ilegal termasuk elektronik
tidak membunuh pasar produsen domestik. Sejauh ini menurut industri
elektronika nasional kebijakan Pemerintah RI sudah baik dalam menangkal produk impor ilegal, seperti pengetatan bea cukai dan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI). Kebijakan penerapan SNI sudah cukup bagus menahan gempuran produk impor dengan merek yang tidak jelas terutama yang berasal dari China, akan tetapi ada indikasi bahwa pengawasan di lapangan masih kurang. Sebagai contoh PT Star Cosmos (Cosmos) pada awalnya berencana menambah pabrik di Jawa Tengah untuk meningkatkan kapasitas produksi. Namun, karena kondisi pasar yang masih lesu dan maraknya produk impor ilegal terpaksa menunda.
Permasalahan pokok:
a. Industri elektronika alat rumah tangga nasional masih tergantung pada komponen dan bahan baku impor oleh karena belum tersedia dengan cukup di dalam negeri
b. Industri komponen dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan komponen industri elektronika nasional karena keterbatasan bahan baku, teknologi, dan sumber daya manusia maupun tidak bisa bersaing dengan kompone impor c. Maraknya produk jadi untuk elektronika yang tidak jelas yang berasal dari luar negeri merupakan akibat kurangnya pengawasan di lapangan
d. Ekonomi biaya tinggi akibat kebijakan dalam hal distribusi, perpajakan dan tarif
Menurut produsen elektronika nasional, Indonesia masih dinilai
menjadi pasar potensial bagi bisnis peralatan elektronik. Dengan angka
jumlah rerata pernikahan sebanyak 2 juta per tahun dan adanya
program pembangunan sejuta rumah oleh pemerintah, membuat
kebutuhan peralatan elektronik rumah tangga meningkat. Selain itu
Indonesia juga diprediksi menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2050.
4. Rekomendasi KEIN tentang mencapai market share perbankan syariah 10% pada 2019 (Pokja Keuangan)
Industri Keuangan Syariah (perbankan, pasar modal dan Industri Keuanga Non Bank-IKNB) berkembang pesat dalam 5 tahun terakhir, baik dari jumlah pelaku maupun aset keuangan. Data OJK per Agustus 2017 mencatat total aset keuangan syariah Indonesia (tidak termasuk saham syariah) adalah Rp 1.048,8 triliun. Bila dibandingkan dengan total aset industri keuangan yang mencapai Ro 13.092 triliun, maka market share industri keuangan syariah sudah mencapai 8,01%.
Namun dari total Rp 1.048.8 triliun tersebut, aset perbankan syariah hanya Rp 389,59 triliun. Walaupun berada di atas IKNB syariah (Rp 99,15 Triliun), namun aset perbankan syariah jauh berada di bawah pasar modal syariah (Rp 559,59 triliun). Bahkan, pangsa pasar perbankan syariah hanya 5,44% dari keseluruhan perbankan nasional.
Ironisnya kondisi ini terjadi di tengah penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam (87,18% dari 262 juta oenduduk, data BPS2010).
Jumlah muslim sebanyak itu, Presiden Republik Indonesia mengungkapkan Indonesia seharusnya bisa memimpin dan menjadi pusat keuangan syariah dunia. “Dengan modal kekuatan populasi umat Islam terbesar di dunia, sudah seharusnya dan sudah sepantasnya Indonesia menjadi terdepan, menjadi pemimpin dan pusat keuangan syariah dunia. Harusnya seperti itu dan sudah sepantasnya seperti itu.”
Ujar Presiden saat peluncuran Komite Nasional Keuangan Syariah di Jakarta pada 27 Juli 2017.
Pemerintah saat ini tengah gencar mengembangkan keuangan
syariah nasional. Perbankan syariah dinilai memiliki potensi sangat
besar untuk mendukung pembangunan nasional seperti menjadi sumber pembiayaan pembangunan melalui mobilisasi dana tabungan domestik.
Pembangunan keuangan syariah yang tepat juga dapat menarik investor asing untuk menempatkan dananya di Indonesia maupu investor konvensional yang memerlukan diversifikasi terhadap portofolio investasinya.
Kekuatan perbankan syariah juga akan menyerap potensi industri syariah yang tengah berkembang di Indonesia. Seperti industri makanan halal, pariwisata halal, hotel syariah, lembaga pendidikan Islam, muslim fashion, hingga travel haji dimiliki industri syariah seperti pertumbuhan dana Zakat Infaq Sadaqah dan Wakaf (ZISWAF), besarnya kuota haji dan transaksi berbasis komunitas (seperti ormas Islam dan majelis ilmu).
Sejumlah kalangan menilai bahwa pembentukan KNKS tidak akan optimal dan berdampak signifikan selama perbankan syariah belum mencapai skala ekonomi ideal. Untuk efisiensi, perbankan syariah Indonesia setidaknya harus memiliki pangsa pasar 10%. Negara mayoritas muslim umumnya memiliki pangsa pasar minimal 10%
seperti Arab Saudi (51,1%), Malaysia (23,8%), uni emirates arab (19,6%), Qatar (26,1%), Kuwait (38,9%), Pakistan (15%) dan Brunei Darussalam (49%). Kurangnya skala ekonomi turut mengakibatkan kondisi syariah nasional saat ini masih naik turun.
5.
Percepatan Penyaluran Dana Desa
Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh KEIN, terdapat beberapa tantangan dan permasalahan terkait program Dana Desa dan program padat karya tunai.
a. Penyaluran Dana Desa terhambat
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Direktorat Pembiayaan & Transfer Non Dana Perimbangan per 5 Maret 2018, penyaluran dan pencairan Dana Desa agar masih terhambat, baik penyaluran dari Rekening Kas Umum Negara (RKUN) ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD), maupun dari RKUD ke Rekening Kas Daerah
(RKD).
Sebagai gambaran, data terakhir yang diperoleh oleh KEIN (5/3/2018) menunjukkan kondisi sebagai berikut. Untuk Dana Desa Tahap I, baru 49,3% pagu tahap satu atau sebesar Rp 5,91 Triliun yang sudah dialirkan dari RKUN ke RKUD.
Jumlah ini dialirkan ke 213 daerah yang terdiri atas 36.563 Desa. Walaupun demikian, tidak semua dana ini telah diterima oleh Pemerintah Desa.
Kenyataannya, hanya 4,81% dana yang telah diterima di RKUD, atau sebesar Rp 284,20 Miliar, yang telah disalurkan ke Pemerintah Desa. Jumlah ini setara dengan pencairan ke 20 daerah yang terdiri atas 1.680 desa. Artinya, hanya 1.680 dari total 74.958 desa penerima Dana Desa yang telah menerima anggaran untuk mendanai kegiatan pembangunan dan pemberdayaan desa.
Syarat penyaluran DD dari RKUN ke RKUD adalah Peraturan Daerah (APBD) dan Peraturan Kepala Daerah (Rincian alokasi DD). Kondisi menunjukkan bahwa masih terdapat 155 daerah yang belum layak salur terkait dengan kesiapan dokumen- dokumen persyaratan pada tingkat daerah (Perda dan/atau Perkada). Sisanya, 279 Pemda, telah dinyatakan layak salur, termasuk 213 Pemda yang telah menerima aliran Dana Desa.
Berdasarkan informasi di atas, dapat dilihat bahwa permasalahan dapat terjadi di berbagai tingkat pemerintahan yang mengakibatkan lambatnya penyaluran dari RKUN ke RKUD atau dari RKUD ke RKD. Pada level desa, misalnya, perencanaan pembangunan dan pemberdayaan desa yang tertuang dalam APB Desa dibatasi oleh berbagai peraturan dan persyaratan dokumen yang kerap kali menyulitkan perangkat desa dengan keterbatasan kapasitasnya. Di samping itu, perubahan peraturan juga dapat menghambat alur kerja di desa, terutama apabila dikeluarkan tidak lama sebelum tahun anggaran baru. Sebagai contoh, kewajiban untuk mengalokasikan 30% Dana Desa untuk upah padat karya tunai (sesuai SKB 4 Menteri yang dikeluarkan pada Desember 2017) dapat mengakibatkan perlunya penyesuaian kembali rencana pembangunan desa yang telah disiapkan sebelumnya. Hal ini tentunya dapat mengakibatkan Kendala di desa, baik yang dipengaruhi oleh kemampuan sumber daya manusia, maupun peraturan/regulasi yang berlaku, dapat memperlambat penyelesaian seluruh persyaratan pencairan
Dana Desa.
b. Perencanaan PKT kurang komprehensif
PKT merupakan penyediaan lapangan kerja baru bagi masyarakat desa melalui pembangunan infrastruktur yang bersumber dari alokasi Dana Desa pemerintah pusat, Anggaran Kementerian, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), hingga anggaran proyek yang digarap oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Mengingat lambatnya pencairan Dana Desa, hal ini akan berdampak pula pada keberlangsungan program PKT.
Hingga saat ini, kebanyakan PKT yang telah ditinjau langsung oleh presiden menggunakan anggaran dari Kementerian PUPR.
Tidak seperti pada Dana Desa dimana program direncanakan dan dianggarkan oleh masing- masing desa, kegiatan-kegiatan PKT yang tidak dianggarkan dalam Dana Desa cenderung tidak tersinkronisasi dengan perencanaan pembangunan desa itu sendiri. Pembangunan kerap kali bersifat mendadak. Dalam hal ini, belum ada perencanaan yang terstruktur yang dapat dijadikan acuan, baik bagi pemerintah maupun bagi masyarakat, untuk menjamin dan memantau keberlanjutan proyek PKT.
Berdasarkan kondisi dan permasalahan di atas, terdapat beberapa implikasi, di antaranya:
a. Keterlambatan penyaluran Dana Desa dapat mengganggu rencana pembangunan dan pemberdayaan desa.
b. Dampak langsung dari keterlambatan Dana Desa dan ketidaksinambungan program padat karya tunai adalah semakin lambatnya penciptaan lapangan kerja bagi penduduk desa yang tidak mampu.
b. Ketidakberlanjutan program padat karya tunai dapat melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap itikad baik pemerintah dalam membangun desa.
IKU 2018
KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL
INDIKATOR KINERJA:
JUMLAH PAKET REKOMENDASI KOMITE
EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL
LAPORAN CAPAIAN INDIKATOR KINERJA UTAMA TAHUN 2018
UNIT : BIRO PERENCANAAN
SASARAN : TERSUSUNNUA PAKET REKOMENDASI KEBIJAKAN EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL
Sasaran Indikator Kinerja
Output Fisik
Kinerja (%)
Progress Capaian
(%)
Keterangan Target Realisasi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Jumlah paket rekomendasi kebijakan ekonomi dan industri Na
Paket Rekomendasi 17 8 94,1% 47,05% Dalam tahap
Pelaksanaan
Keterangan:
*) Pengukuran Kinerja dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perjanjian Kinerja dan Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Kementrian Bidang Perekonomian. Penghitungan pada kolom “Kinerja” dilakukan sebagi berikut : Kinerja akhir tahun merupakan hasi perhitungan relasisasi dibagi dengan target dikalikan 100%, jadi akan terbaca dari target yang telah ditetapkan. Pada perhitungan triwulan I, Target dibagi 4;
pada triwulan II/ Semester I target dibagi 2; Pada Teriwulan III, Mengunakan pembanding sebesar 75% dari target tahunan
**) Perhitungan capaian progres pada kolom “Progres Capaian Output” merupakan perhitungan persentase realisasi pada triwulan berkenaan dibagi denga target di tahun berjalan.
Latar Belakang
Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No.8 Tahun 2016 tentang Komite Ekonomi dan Industri Nasional. Sesuai maksud dan tujuan pembentukannya, KEIN berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. KEIN mempunyai tugas untuk melakukan pengkajian terhadap permasalahan ekonomi dan Industri nasional, regional dan global, menyampaikan saran tindak strategis dalam menentukan kebijakan ekonomi dan industri yang diberikan Presiden, dan melaksanakan tugas lain dalam lingkup ekonomi dan industriyang diberikan Presiden.
Keluaran yang diharapkan dari pelaksanaan tugas yang diberikan kepada KEIN adalah rekomendasi kebijakan ekonomi dan industri nasional serta tersusunnya Road- Map Kebijakan Perekonomian dan Industri Nasional. Report yang disampaikan kepada Presiden terdiri atas Weekly Report yang berupa Policy Memo dan Policy Brief, Monthly Report, Quarterly Report, dan Annual Report. Keluaran lain yang diharakan adalah tersusunnya Outlook Ekonomi dan Industri serta Investor Update yang dilakukan dengan cara menyebarkan informasi positif tentang perekonomian Indonesia baik melalui website dwilingual atau tulisan dimedia.
Keluaran yang dihasilkan oleh KEIN yang berisi rekomendasi kebijakan dibidang ekonomi dan industri setelah disampaikan dan mendapatkan persetujuan oleh Presiden dapat pula dijadikan bahan masuk bagi Kementrian/Lembaga. Presiden juga menugaskan KEIN untuk membuat kerangka strategis untuk re-industrialisasi Indonesia hingga tahun 2045- bertepatan dengan 100 tahun Indonesia merdeka.
Dalam melaksanakan tugasnya KEIN akan memperhatikan masukan dari Tim Pengarah, hal ini sesuai dengan Pasal 5 ayat (1) dalam melaksanakan tugasnya. Selanjutnya, Pasal 5 ayat (2) dijelaskan bahwa Tim pengarah terdiri dari Ketua : Mentri Koordinator Bidang Perekonomian; Anggota : Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan HAM, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Meteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Menteri Sekertaris Negara, Menteri Keuangan dan Sekretaris Kabinet. Tim pengarah bertugas memberikan arahan kepada KEIN dalam rangka rekomendasi kebijakan.
Capaian Indikator Kinerja Utama Triwulan II
PAKET REKOMENDASI KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL 1. Lampung Sebagai Lumbung Udang Nasional Untuk Peningkatan Ekspor
Produk Perikanan Indonesia (Pokja Perikanan, Maritim, dan Peternakan)
Menindaklanjuti instruksi Presiden RI untuk meningkatkan ekspor khususnya produk perikanan, Pokja Industri Perikanan, Maritim dan Peternakan (IPMP ) Komite Ekonomi- Industri Nasional (KEIN) merekomendasikan bahwa, komoditas udang sangat potensial untuk meningkatkan ekspor dalam waktu cepat dengan volume dan nilai yang signifikan. Mengingat potensi pasar udang ekspor sangat terbuka, komoditas udang Indonesia sangat kompetitif di pasar global dan kondisi tambak rakyat Bumi Dipasena memungkinkan dengan cepat untuk cepat untuk dilakukan revitalisasi. Revitalisasi tambak udang rakyat di Bumi Dipasena sekitar 16.250 hektar dan tambak udang rakyat lainya di Provinsi Lampung seluas 10 ribu hektar, diperkirakan dapat meningkatkan ekspor komoditas udang senilai sekitar USD 500 juta per tahun setara dengan 6,75 trilyun rupiah.
Persoalan dasar dalam upaya revitalisasi tambak udang rakyat meliputi:
a.
Infrastruktur : Pra sarana jalan menuju dan di sekitar kawasan pertambakan sangat tidak layak
Kondisi jalan menuju kawasan tambak rakyat Bumi Dipasena sepanjang 35 km tidak layak sehingga transportasi darat memakan waktu yang lama, kondisi benur banyak yang stress dan mati, udang hasil panen kesegarannya menurun dan biaya transportasi menjadi lebih mahal.
Sarana irigasi sangat tidak mendukung usaha budidaya tambak udang
Kondisi irigasi sudah cukup lama tidak dilakukan pemeliharaan dan perbaikan mengingat minimnya dana dan perhatian dari stakeholder. Dengan adanya irigasi yang baik akan berdampak langsung terhadap keberhasilan budidaya udang seperti minimnya penyakit, pertumbuhan udang lebih cepat, tingkat survival rate yang tinggi dan sebagainya.
Dukungan listrik dari PLN tidak menjangkau wilayah usaha tambak rakyat
Listrik merupakan salah satu kebutuhan utama dimana budidaya tambak udang dapat dilakukan dengan sistem budidaya semi intensif atau intensif agar produktivitas dan efisiensi budidaya bisa meningkat serta budidaya dilakukan dengan pola industri. Sementara ini sebagian besar budidaya udang dilakukan dengan sistem budidaya tradisional dan sebagian kecil dengan sistem budidaya semi intensif yang mengandalkan pembangkit listrik genset dengan biaya produksi yang relatif mahal dan produktifitas rendah.
b.
Legalitas lahan untuk pembangunan infrastruktur seperti prasarana listrik, irigasi dan fasilitas umum lainnya terkendala oleh status hukum lahan. Hal ini diperlukan koordinasi kerja yang baik antara BPN, Perusahaan inti, Pemda Tingkat 1 Lampung dan Instansi terkait (PLN, Bina Marga, PU dan sebagainya)2. Rekomendasi Optimalisasi Dana Bagi Hasil untuk Sebesar-besarnya Kemakmuran Rakyat dalam Kerangka NKRI
Sesuai dengan arahan Bapak Presiden pada pidato kenegaraan 16 Agustus 2017, untuk rencana Belanja Negara di RAPBN 2018 yang sebesar Rp2.204,4 triliun, terdiri atas Belanja Pemerintah Pusat senilai Rp1.443,3 triliun. Sisanya, untuk Transfer ke Daerah dan Dana Desa sebesar Rp761,1 triliun. Arahan Bapak Presiden adalah melakukan penguatan kualitas belanja
negara melalui peningkatan kualitas belanja modal yang produktif, efisiensi belanja non prioritas seperti belanja barang dan subsidi yang harus tepat sasaran, sinergi antara program perlindungan sosial, menjaga dan refocusing anggaran prioritas seperti infrastruktur, pendidikan, kesehatan, serta penguatan kualitas desentralisasi fiskal untuk pengurangan kesenjangan dan perbaikan pelayanan publik.
Berikut yang menjadi latar belakang perlunya optimalisasi Dana Bagi Hasil:
1. Belanja transfer ke daerah dan dana desa fokus untuk meningkatkan pemerataan keuangan antar daerah, meningkatkan kualitas dan mengurangi ketimpangan layanan publik daerah, menciptakan lapangan kerja dan mengentaskan kemiskinan. Namun dalam penyalurannya, belanja transfer ke daerah dan dana desa belum menggunakan basis kinerja.
2. Penelitian menunjukkan setelah dwi windu desentralisasi fiskal, kemakmuran daerah terbawah tumbuh, tapi tidak secepat tumbuhnya wilayah yang telah maju. Hal ini menunjukkan kesenjangan antar daerah makin melebar dan implikasinya konvergensi makin lama terjadi.
3. Rata-rata kesejahteraan rakyat di daerah yang memiliki SDA ternyata lebih kecil dibandingkan daerah yang tidak memiliki SDA namun memiliki pelabuhan atau lebih dekat ke pusat.
4. Hasil penelitian menunjukkan SiLPA yang relatif tinggi secara konsisten terjadi pada Pemprov dengan karakteristik PAD sangat tinggi (> 60%), serta Pemprov yang memberikan kontribusi DBH SDA cukup tinggi (> 40%). Sedangkan pada tingkat Pemkab/Pemkot, SiLPA yang tinggi umumnya terjadi pada daerah dengan DBH SDA sangat tinggi (>50%) dan beberapa Pemkab/Pemkot dengan PAD relatif tinggi (>
25%).
5. Optimalisasi dana transfer termasuk DBH sangat penting mengingat porsi dana ketimpangan antar wilayah dan membangun dari pinggiran.
Memo ini berfokus pada bagaimana melakukan optimalisasi Dana Bagi Hasil untuk sebesar- besarnya kemakmuran rakyat, namun tetap dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3. Rekomendasi KEIN tentang Percepatan Investasi dan Pembangunan
Industri Pariwisata tentang Kawasan Ekonomi Khusus
Dalam implementasi KEK untuk sektor Pariwisata, terdapat beberapa permasalahan yang kurang bersesuaian antara aturan dasar KEK dengan kebutuhan sektor pariwisata.
Ketidakfleksibelan PP 142 Kawasan Industri untuk sektor pariwisata. Hal ini dikarenakan PP 142 hanya mengatur kawasan industri secara umum, yang mengabaikan kebutuhan tertentu dari sektor pariwisata atau tidak compatible untuk sektor pariwisata. PP 142 Kawasan Industri tidak megakomodasi kepentingan sektor pariwisata, yang notabene kawasannya tidak selalu berupa hamparan. Selain itu, kesulitan Pemerintah Daerah untuk mengadakan dan membebaskan lahan (hamparan) untuk kawasan KEK Pariwisata. Ketepatan pemilihan kawasan.juga diperlukan kualifikasi yang lebih tajam lagi dalam menetapkan KEK Pariwisata. Ada kawasan yang telah lama ditetapkan sebagai kawasan KEK Pariwisata tapi tak mengalami kemajuan yang signifikan karena secara substantif bukan kawasan yang berpotensi untuk dijadikan kawasan KEK Pariwisata.
Sehingga pemerintah daerah dan pusat serta instansi terkait perlu mendengar suara dari para calon investor terkait daerah mana saja yang paling pas dijadikan kawasan KEK Pariwisata.
Contohnya adalah kawasan Mandalika, Kabutapetn Lombok Tengah, NTB.