• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

37

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Paradigma Penelitian

Epistemologi pada dasarnya merupakan metodologi penelitian yang secara filosofis dapat dipandang sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan yang berfokus menjelaskan prosedur kerja dalam mencari suatu kebenaran (Manzilati, 2017). Penelitian sendiri dalam bahasa Inggris didefinisikan dengan kata research yang bermakna rangkaian proses yang dilakukan individu dalam mencari suatu pemahaman baru dari suatu objek penelitian secara lebih kompleks, mendetail, dan komprehensif (Anggito & Setiawan, 2018). Berdasarkan uraian tersebut, penelitian khususnya pendekatan kualitatif erat hubungannya dengan paradigma penelitian yang memiliki dasar filsafat ilmu yang berbeda sehingga secara tidak langsung akan menuntut langkah-langkah kerja yang berbeda.

Paradigma menurut Sarantakos dalam Manzilati (2017, p. 3) merupakan pandangan mengenai bagaimana dunia dihayati, mengandung pandangan tentang dunia dan menjelaskan tentang pemecahan kompleksitasnya, menjelaskan hal penting yang memiliki legitimasi dan masuk akal. Ada empat hal yang dapat dijadikan landasan untuk memahami dan mengembangkan paradigma dalam penelitian sosial menurut Manzilati (2017, p. 3) yaitu:

(2)

38

1) Persepsi realitas, yaitu bagaimana peneliti memandang realitas

sosial yang terjadi.

2) Persepsi terhadap hakikat manusia, yaitu bagaimana seorang

individu memahami dirinya sendiri.

3) Sifat dasar ilmu pengetahuan atau epistemologi, yaitu bagaimana

individu memperoleh dan memahami ilmu pengetahuan.

4) Tujuan penelitian, yaitu bagaimana peneliti menetapkan tujuan

penelitiannya

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan paradigma post-positivistik. Paradigma post-positivistik pada dasarnya merupakan perbaikan dari paradigma positivisme yang dianggap masih memiliki banyak kelemahan. Selain itu, dari sudut padang ontologis, aliran post-positivistik cenderung dikenal dengan sifatnya yang termasuk critical realism serta menganggap bahwa memang benar ada realitas yang terjadi sesuai dengan keadaan faktual, namun realitas tersebut belum tentu dapat dilihat langsung oleh peneliti.

Asumsi dasar mengenai post-positivistik adalah bahwa suatu fakta tidak bebas nilai melainkan terdapat muatan teori di dalamnya. Lalu ada interaksi antara subjek dan objek penelitian yang membentuk sebuah jamak individual. Maka dari itu, peneliti menggunakan jenis paradigma post-positivistik karena dianggap tepat untuk menggambarkan suatu fenomena yang terjadi di dalam sekelompok orang, organisasi, atau bahkan lembaga.

(3)

39 Paradigma post-positivistik digunakan untuk mencari tahu atau mengidentifikasi dengan menggunakan proposisi yang nantinya peneliti harapkan dapat mengidentifikasi hal yang sama pada kasus lainnya.

3.2 Jenis dan Sifat Penelitian

Adapun jenis penelitian yang diadopsi penelitian ini ialah kualitatif dimana penelitian bertujuan untuk mengerti akan sebuah fenomena yang terjadi pada subjek penelitian itu sendiri, semisal perilaku, pola komunikasi, persepsi, bahasa, dan perilaku yang pada akhirnya diterjemahkan ke dalam bentuk kata-kata (Moleong, 2016) . Denzin dan Lincoln dalam Creswell (2014, p. 58) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif merupakan suatu aktivitas yang menempatkan penelitiannya di dunia serta mengubah dunia tersebut menjadi suatu rangkaian representasi yang di dalamnya terdiri dari berbagai foto, rekaman, wawancara, percakapan, catatan lapangan dan catatan pribadi.

Mengutip dari Moleong (2016, p. 6) penelitian kualitatif adalah “penelitian yang dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan hal lainnya secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah”. Sehingga hasil penelitian berupa kutipan-kutipan kata dari narasumber dan sumber para ahli untuk

(4)

40 memberi gambaran dalam penyajiannya, (Moleong, 2016).

Penelitian ini disebut deskriptif karena penelitian ini bertujuan untuk membuat sebuah pendeskripsian yang sistematis, faktual, dan akurat tentang objek tertentu yang dituju peneliti sendiri sudah mempunya konsep dan kerangka konseptual yang jelas (Kriyantono, 2012). Penelitian deskriptif mendeskripsikan gejala, peristiwa, atau pun kejadian yang terjadi pada masa kini. Pusat perhatian dalam penelitian deskriptif berada pada permasalahan yang aktual sebagaimana adanya sesuai ketika penelitian dilakukan. Pada penelitian ini, yang ingin dilakukan oleh peneliti adalah mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi topik perbincangan masyarakat tanpa adanya perlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut.

Kualitatif deskriptif menggunakan data berupa naskah wawancara, catatan lapangan, foto, video, dokumen pribadi, catatan, atau dokumen pendukung lainnya sebagai data kunci (Moleong, 2016). Langkah-langkah dalam penelitian deskriptif diawali oleh timbulnya masalah yang muncul, lalu mencari dan menentukan data atau fakta yang diperlukan, menentukan proses pengumpulan data, melakukan observasi dan pengamatan yang disesuaikan, pengolahan data, dan ditutup dengan penarikan kesimpulan dari seluruh rangkaian penelitian yang telah dilakukan.

3.3 Metode Penelitian

(5)

41 studi kasus yang berkaitan erat dengan penelitian ilmu-ilmu sosial merupakan suatu strategi metode penelitian yang lebih cocok dengan pokok-pokok pertanyaan yang berkaitan dengan how atau why, dimana peneliti cenderung hanya mempunyai sedikit waktu untuk melakukan pemantauan terhadap peristiwa yang sedang diselidiki serta pada fokus penelitiannya terdapat pada fenomena yang terjadi saat ini dalam kehidupan nyata (Yin, 2014). Ardianto (2011, p. 64) berpendapat bahwa studi kasus dinilai sangat membantu penelitian yang ingin mengungkapkan suatu fenomena yang terjadi secara lebih mendalam. Untuk menunjang proses penelitian ini, studi kasus peneliti pilih karena mampu menelaah kasus secara intensif, mendalam, mendetail sehingga hasil yang diharapkan lebih komprehensif.

Tujuan studi kasus adalah berusaha mencari makna dari fakta riil, menyelidik proses, lalu memperoleh pengertian mendalam dan utuh dari individu, kelompok, atau peristiwa tertentu. Data dari proses tersebut dapat didapatkan dari wawancara, observasi, ataupun berbagai dokumen yang telah dipelajari dan memiliki keterkaitan dengan topik penelitian (Sugiarto, 2015) . Penelitian dengan pendekatan studi kasus mempunyai karakteristik yang sedikit berbeda dengan pendekatan lainnya dalam penelitian kualitatif. Perbedaan yang paling signifikan dapat dilihat dari cara pandang peneliti terhadap objek yang diteliti dalam penelitian studi kasus. Secara lebih terperinci, Fitrah & Luthfiyah (2017, p. 209) mendefinisikan karakteristik penelitian studi kasus sebagai berikut;

(6)

42 1. Menempatkan objek penelitian sebagai kasus

Pada penelitian studi kasus, umumnya terdapat penekanan bahwa peneliti harus dapat memahami penempatan suatu objek ataupun target dari penelitian sebagai suatu kasus penting pada penelitian tersebut. Kasus tersebut terdiri dari krisis dan masalah yang wajib dipelajari. Krisis atau masalah tersebut dapat memberikan pemahaman mendalam mengenai sebuah peristiwa, aktivitas, kelompok, atau pun individu.

2. Memandang kasus sebagai fenomena yang bersifat kontemporer Penelitian studi kasus memiliki kecenderungan untuk memberikan perbaikan atau pembaharuan bagi sebuah teori. Kasus yang dimaksud juga merupakan kasus yang terjadi atau baru saja selesai dalam waktu dekat, dan dampak yang dirasakan masih terasa ketika penelitian dilakukan.

3. Dilakukan pada kondisi kehidupan sebenarnya

Pada umumnya, penelitian studi kasus cenderung memilih objek dengan kondisi memiliki keterkaitan dengan konteks penelitian. Dengan kata lain, terdapat kehidupan atau fenomena nyata yang dapat dipandang serta dianggap sebagai suatu kasus. Kehidupan nyata yang dimaksud ialah dimana suatu peristiwa terjadi dalam lingkungan hidup manusia baik yang dialami oleh individu atau pun anggota kelompok.

(7)

43 pendekatan yang lebih mudah untuk menjabarkan lebih detail daripada studi kasus itu sendiri (Stacks, 2016). Studi kasus mampu mendeskripsikan dan menganalisis individu, kelompok, atau bahkan suatu kejadian dengan sangat mendetail. Maka dari itu, peneliti menggunakan metode studi kasus untuk meneliti fenomena yang menimpa Sour Sally Group yaitu munculnya krisis mengenai Black Sakura di media sosial secara mendalam dilihat dari akar masalah, usaha yang dilakukan perusahaan, serta implementasi Image Repair Theory dalam fenomena ini.

3.4 Partisipan dan Informan

Dalam penelitian kualitatif, narasumber merupakan aspek terpenting dimana mereka merupakan sumber informasi dan sumber data yang dapat diolah menjadi sebuah hasil penelitian. Dalam penelitian studi kasus, peneliti memerlukan informasi yang mendalam dan detail mengenai objek penelitian, sehingga peneliti dapat mempertimbangkan beberapa aspek yang dibutuhkan untuk mendapatkan informasi secara komprehensif.

Menurut Yin (2014, p. 109) partisipan menjadi kunci bagi keberhasilan studi kasus. Partisipan adalah individu yang turut ambil alih dalam objek penelitian yang mengetahui sesuatu dibalik fenomena yang terjadi. Partisipan mampu menjelaskan keterangan tentang peristiwa yang sedang terjadi dan memberikan masukan mengenai sumber bukti lain yang sekiranya mampu mendukung dan membukakan akses pada sumber lain yang bersangkutan (Yin, 2014).

(8)

44 Disisi lain, informan ialah seorang pakar atau praktisi yang memiliki perhatian khusus atau mengetahui dasar dari obyek penelitian yang dilakukan. Oleh karena itu pemilihan Partisipan dan informan dinilai sangat penting dalam menentukan proses berlangsungnya sebuah penelitian. Dalam penelitian ini, narasumber dipilih berdasarkan kompetensi, pengalaman, dan kesesuaian narasumber dengan topik yang dipilih.

Kriteria pemilihan partisipan:

1. Terlibat dalam penanganan krisis Sour Sally.

2. Memiliki pengalaman lebih dari 3 tahun di Public Relations. 3. Memiliki latar belakang komunikasi atau merupakan praktisi

komunikasi.

Kriteria pemilihan informan:

1. Merupakan pakar Public Relations.

2. Memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun di ranah Public Relations.

3. Memiliki pengalaman dalam mengatasi sebuah krisis perusahaan.

(9)

45 Tabel 3. 1 Daftar Narasumber

Jenis

Narasumber Nama Jabatan Alasan Pemilihan

Partisipan Lucas Nawawi

CEO & Founder

ARTEE Group

Lucas Nawawi merupakan lulusan Business Entrepreneurship di Universitas

Pelita Harapan dan telah memiliki pengalaman kurang lebih 7 tahun di bidang periklanan dan Public

Relation. Dengan pengalamannya

di dunia digital marketing, Lucas telah menangani berbagai perusahaan yang merupakan klien dari bisnisnya, ARTEE Group. ARTEE Group adalah sebuah agensi digital berlokasi di Jakarta dengan salah satu kliennya, Sour Sally. Sebagai CEO dan

co-founder ARTEE Group, Lucas

merupakan salah satu pihak yang berperan di balik penanganan krisis yang menimpa Sour Sally pada September 2020. Dalam

(10)

46

penelitian ini, Lucas menjelaskan tentang strategi manajemen krisis dari segi digital marketing yang dilakukan Sour Sally dalam mengatasi krisis Black Sakura di Twitter.

Partisipan X Marketing & Public

Relations Sour Sally

X merupakan lulusan Marketing dari Universitas Trisakti dan telah memiliki pengalaman belasan tahun di bidang pemasaran. X pernah menjabat sebagai Head of

Digital Marketing di sebuah

perusahaan F&B internasional dimana beliau mengeksekusi dan mengelola berbagai kampanye Multi-saluran (multi-channel), kesadaran merek dan kinerja, serta mengelola jaringan mitra pemasaran, agensi, dan jaringan afiliasi di perusahaan tersebut. Dalam penelitian ini, X menjelaskan mengenai strategi manajemen krisis yang dilakukan Sour Sally dalam mengatasi krisis

(11)

47

Black Sakura yang terjadi pada September 2020 di Twitter.

Informan Kiki Soewarso

Praktisi Public Relations

Kiki merupakan praktisi Public

Relations dan merupakan dosen

paruh waktu di LSPR (London School of Public Relations). Selain itu, Kiki merupakan praktisi komunikasi yang aktif di organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang kesehatan masyarakat (Public Health). Kiki merupakan lulusan Mass

Communication Universitas

Indonesia namun kemudian memiliki pengalaman kerja yang cukup lama di bidang Marketing

Communication dan Public

Relations. Dengan puluhan tahun

pengalaman di bidang Public

Relations, Kiki merupakan

praktisi Public Relations dan aktivis yang mengamati perkembangan Public Relations di Indonesia, termasuk dalam

(12)

48

industri F&B. Dalam penelitian ini, Kiki berperan dalam memberikan pandangannya terhadap krisis yang menimpa Sour Sally di Twitter dari segi profesional.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Dalam proses pengumpulan data, peneliti menjadi instrumen utama dalam penelitian karena peran yang diambil sangat penting. Menurut Anggito & Setiawan (2018, p. 75) peneliti bertindak sebagai instrumen penelitian sekaligus pengumpul data. Disisi lain, berdasarkan sumbernya, Sugiyono (2011, p. 192) mengungkapkan dua jenis sumber data, yaitu data primer dan data sekunder. Kedua data tersebut merupakan dua jenis data yang didapatkan secara langsung dari sumber tertentu. Data primer merupakan data yang langsung didapatkan dari sumber tertentu yang telah disesuaikan. Sedangkan data sumber tidak didapatkan langsung dari sumber data melainkan dari media-media pendukung. Dalam proses penelitian ini proses penelitian pengumpulan dijabarkan seperti berikut:

(13)

49

3.5.1 Data Primer

Wawancara dalam jenis penelitian ini dilakukan dengan jenis wawancara semi- terstruktur. Dalam jenis wawancara ini, pewawancara tidak melulu mengajukan pertanyaan berdasarkan daftar pertanyaan yang telah dibuat sebelumnya. Topik dan krisis menjadi penentu arah pembicaraan dalam wawancara (Anggito & Setiawan, 2018). Moleong dalam Anggito dan Setiawan (2018, p. 88) menyebutkan bahwa teknik wawancara ini didasari oleh petunjuk umum yang formatnya tidak terlalu lentur namun juga tidak kaku sehingga bisa dibilang cukup efisien secara waktu untuk mengumpulkan data. Wawancara juga dilakukan dengan teknik focused interview yang dijelaskan oleh Yin (2014, p. 90) merupakan wawancara bersama responden dalam waktu yang singkat. Wawancara tersebut dilakukan dengan mengikuti serangkaian pertanyaan yang telah dipersiapkan, namun terbuka.

Peneliti juga melakukan sebuah observasi non partisipan yang juga dilakukan untuk memperoleh data primer. Observasi menurut Kriyantono (2012, p. 108) kegiatan mengamati objek-objek sekitar yang didukung oleh pancaindra. Observasi dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung untuk membuktikan fakta atau kenyataan secara langsung. Observasi ini dapat mengumpulkan data yang dihasilkan dari pengamatan atas interaksi dan percakapan baik verbal maupun non verbal.

(14)

50

3.5.2 Data Sekunder

Pemanfaatan data sekunder yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penggunaan dokumen pendukung seperti studi kepustakaan, gambar, artikel, dan sumber yang dapat menunjang penelitian. Penggunaan dokumen merupakan data pendukung yang memberikan bukti tambahan dari sumber-sumber lain. Peran dokumen pendukung sangat penting dalam pengumpulan data studi kasus karena dokumen tersebut membantu verifikasi ejaan dan judul atau bahkan nama benar dari organisasi, menambah rincian spesifik untuk mendukung informasi, dan juga menjadi pertanyaan baru (Yin, 2014). Dengan adanya dokumen pendukung, peneliti dimudahkan dalam pencarian data-data khusus, informasi, dan hal pendukung lainnya.

3.6 Keabsahan Data

Pada dasarnya, dalam suatu penelitian, ketika suatu data telah diambil dan dikumpulkan, perlu adanya suatu uji untuk menilai keabsahan dari data tersebut. Dalam menguji keabsahan data, Yin (2014, p. 38) memaparkan bahwa suatu penelitian diharapkan dapat mengetengahkan serangkaian pertanyaan logis dengan uji logika tertentu. Terdapat 4 (empat) uji yang relevan dalam studi kasus, di antaranya Validitas Konstruk, Validitas Internal, Validitas Eksternal, dan Reliabilitas. Dari keempat jenis Validitas tersebut, peneliti mengadopsi jenis Validitas Konstruk serta Validitas

(15)

51 Internal.

Validitas Konstruk sendiri menetapkan ukuran operasional yang benar untuk konsep dan teori yang diteliti, melalui penyusunan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan erat dengan konsep maupun teori yang diadopsi dalam penelitian ini, yaitu Image Repair Theory oleh William L. Benoit. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, akan muncul jawaban-jawaban yang kemudian akan dianalisis maupun dicocokkan dengan konsep-konsep yang digunakan. Berbeda dengan itu, validitas internal hanya berkaitan dengan penelitian-penelitian kausal maupun eksplanatori yang membantu ini peneliti dapat memutuskan apakah suatu peristiwa X dapat hanya berkenaan dengan penelitian kausal atau eksplanatori, dalam hal ini peneliti mencoba untuk menentukan apakah peristiwa X menyebabkan peristiwa (Yin, 2014). Peneliti akan menginferensi peristiwa tertentu diakibatkan oleh kejadian sebelumnya berdasarkan hasil wawancara yang dikumpulkan sebagai bagian dari studi kasus (Yin, 2014)

Selain itu, proses keabsahan ini juga dapat dibuktikan dengan teknik triangulasi data. Menurut Kriyantono (2012, p. 197), konsep triangulasi memiliki tujuan untuk menganalisis kebenaran data yang telah didapatkan dengan data yang didapatkan dari sumber lain.

Dalam penelitian ini, triangulasi sumber dianggap pendekatan yang paling sesuai untuk menguji keabsahan data. Triangulasi sumber Melakukan pembandingan dan pengecekan ulang terhadap kredibilitas informasi yang telah diperoleh dari berbagai sumber.

(16)

52 Menurut Moleong (2016, p. 331), konsep triangulasi sumber berarti melakukan pembandingan dan pengecekan tingkat kredibilitas dari suatu informasi. Informasi tersebut didapatkan dari waktu serta tools yang berbeda, dan dapat didapatkan dengan cara:

1. Melakukan perbandingan data antara hasil suatu pengamatan dengan hasil suatu wawancara.

2. Melakukan perbandingan kata-kata yang dikemukakan seorang individu di muka umum dengan yang dikemukakan secara pribadi.

3. Melakukan perbandingan opini seseorang mengenai situasi penelitian dengan kondisi faktual.

4. Melakukan perbandingan suatu kondisi dan suatu perspektif seseorang dengan suatu opini, baik pribadi maupun orang lain.

5. Melakukan perbandingan suatu hasil wawancara dengan suatu dokumen terkait.

Triangulasi sumber pada sarnya bertujuan untuk mencari tahu sekaligus menguji kebenaran suatu data lewat perbandingan data yang didapat dari narasumber hasil penelitian di lapangan dengan metode yang berlainan. Disisi lain, Triangulasi sumber juga dapat dipraktikkan dengan memberikan pertanyaan kepada narasumber lainnya demi menggali keakuratan data yang hendak didapatkan (Creswell, 2014). Triangulasi dipilih peneliti untuk melihat dan mengukur penilaian yang diberikan oleh

(17)

53 praktisi Public Relations tentang manajemen krisis yang dilakukan oleh Sour Sally dalam menghadapi krisis di era digital.

3.7 Teknik Analisis Data

Ardianto (2011, p. 2015) mengungkapkan bahwa analisis data merupakan proses penafsiran data dengan menyusun data yang telah didapatkan sebelumnya. Menyusun dalam artian menggolongkan data sesuai dengan pola, tema, atau kategori tertentu untuk membentuk sebuah keteraturan. Yin mengungkapkan pada dasarnya pendekatan studi kasus terbagi atas 5 (lima) teknik, yaitu Pattern Matching, Explanation Building, Time-Series Analysis, Logic Model, dan, Cross-case Synthesis (Yin, 2014). Adapun dari kelima teknik yang ada, peneliti mengadopsi teknik pattern matching untuk menganalisis data-data yang ada.

Pattern Matching merupakan teknik analisis data dengan penjodohan pola. Adapun logika yang digunakan diperuntukkan sebagai bahan perbandingan pola sesuai data empiris dengan pola yang telah diprediksikan dengan beberapa alternatif. Jika ada kesesuaian antara dua pola yang dibandingkan, maka dapat dipastikan bahwa studi kasus yang dijabarkan valid. Inti dari teknik ini adalah bertujuan untuk mengidentifikasi semua ancaman yang logis untuk validitas dan untuk melakukan perbandingan secara berulang.

Dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk memberikan data mengenai krisis Black Sakura Sour Sally. Peneliti memulainya dengan

(18)

54 mengumpulkan dan menggabungkan data-data yang dijadikan sebagai bahan atau materi suatu penelitian. Data-data tersebut yang kemudian akan dikaitkan dan disandingkan dengan teori-teori yang dipaparkan dengan tujuan menyesuaikan hasil penelitian dengan teori yang ada.

Referensi

Dokumen terkait

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Bakrie, Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty-Free Right) atas

Anas Sudijono (2013:75) menyatakan bahawa test merukan suatu cara atau prosedur yang digunakan dalam rangka mengukur dan menilai di bidang pendidikan, bentuknya

Perhitungan Beban Angin Pada Kondisi Unloaded Gaya angin yang bekerja pada rangka atas tak terbebani Gaya batang yang bekerja pada rangka bawah tak terbebani. Gaya angin yang

Jarak antara terminal penumpang dan landasan parkir dari garis landasan pacu untuk berbagai variasi tinggi bangunan, 1 : 7 = permukaan imajinatif yang sebaiknya tidak tertutup

Analisa Data Setelah data diperoleh selanjutnya menganalisa data dengan cara mengolah data yang sudah terkumpul data dari hasil pengujian dimasukan kedalam persamaan-p ersamaan

Pedoman observasi dalam penelitian “Makna Tradisi Sedekah Bumi dan Laut (Studi Kasus di Desa Betahwalang Kecamatan Bonang Kabupaten Demak) adalah sebagai berikut

Southwick dan Cadigan (1972) dalam Pamungkas (2001) dari hasil penelitiannya menemukan bahwa beruk di Malaya sering dijumpai di hutan sekunder dalam populasi yang

Untuk itu ketika isi dokumen dengan bukti fisik tidak sesuai, maka penahanan barang di Balai Besar karantina Pertanian akan dilakukan.dalam hal tertahannya barang