• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Eksistensi wakaf dalam instrumen kehidupan Islam bisa dibilang khas dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Eksistensi wakaf dalam instrumen kehidupan Islam bisa dibilang khas dan"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Disamping zakat, infak dan sedekah (ZIS), dalam Islam juga dikenal wakaf sebagai bagian dari pranata Islam yang berdimensi kesejahteraan sosial.

Eksistensi wakaf dalam instrumen kehidupan Islam bisa dibilang khas dan strategis. Kekhasan itu tampak jika dibanding zakat. Ciri utama pembedanya adalah tugas pengelola. Amil zakat berkewajiban mendistribusikan seluruh harta zakat kepada delapan golongan. Pengelola wakaf/nazir harus menjaga harta wakaf agara tetap utuh. Yang dapat didistriubusikan adalah manfaat atau hasil pengelolaan harta yang diwakafkan (mauquf).

Nilai strategis wakaf bisa dilihat dari sisi pengelolaa. Jika zakat ditujukan untuk menjamin keberlangsungan pemenuhan kebutuhan pokok kepada delapan golongan, wakaf lebih dari itu. Hasil pengelolaan wakaf bisa dimanfaatkan bagi berbagai lapisan masyarakat, tanpa batasan golongan untuk kesejahteraan sosial dan membangun peradaban umat. Keutamaan wakaf terletak pada hartanya yang utuh dan manfaatnya yang terus berlipat dan mengalir abadi, atau biasa disebut sadaqah jariyah.

Di kalangan umat Islam, wakaf yang sangat populer adalah masih

terbatas pada persoalan tanah dan bangunan yang diperuntukkan untuk tempat

ibadah dan pendidikan. Sekarang mulai berkembang wakaf yang berbentuk tunai

(2)

atau wakaf benda bergerak, yang manfaatnya untuk kepentingan pendidikan, riset, rumah sakit, pemberdayaan ekonomi lemah dan lain-lainnya.

Di Indonesia Majelis Ulama Indonesia memberikan fatwanya pada pertengahan Mei 2002 tentang wakaf uang

1

, maka masyarakat mulai tertarik mewakafkan hartanya berupa uang. Kemudian menyusul UU No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf dan Peraturan Pemerintah RI No. 42 Tahun 2006 tentang pelaksanaan undang-undang nomer 41 tahun 2004 tentang wakaf yang didalamnya mengatur tentang wakaf benda bergerak yang telah disahkan.

2

Ditandai munculnya beberapa lembaga yang telah melaksanakan wakaf uang, minimal dalam tataran pelaksanaan wakaf dalam bentuk uang, seperti Tabungan wakaf dari dompet Dhuafa Republika, Bank Muamalat Indonesia dengan institusi barunya “Baitul Mal Muamalat”. Walaupun dalam pelaksanaannya, pengelolaan wakaf uang masih belum maksimal, sehingga sampai saat ini belum dirasakan secara nyata oleh masyarakat banyak. Tapi, paling tidak upaya untuk memberdayakan wakaf uang sudah mulai digiatkan dengan segala keterbatasannya.

Dalam pengelolaan harta produktif, pihak yang paling berperan untuk berhasil atau tidaknya pemanfaatan harta wakaf, yaitu seseorang atau sekelompok orang dan badan hukum yang diserahi tugas oleh wakif atau orang yang mewakafkan hartanya untuk mengelola wakaf. Walaupun dalam kitab-kitab Fiqih

1 Departemen AgamaRI.2005. Wakaf Tunai dalam Prespektif Hukum Islam.(Jakarta:

Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji Direktorat Jenderal Pengembangan Zakat dan Wakaf), hlm.139-148

2Departemen Agama RI.2013. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Tentang Wakaf.(Jakarta: Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji Direktorat Pemberdayaan Wakaf), hlm.1-60

(3)

Ulama tidak mencantumkan nadzir wakaf sebagai salah satu rukun, namun demikian setelah memperhatikan tujuan wakaf yang ingin melestarikan manfaat dari hasil wakaf, maka keberadaan nadzir professional sangat dibutuhkan, bahkan menempati peran sentral. Sebab dipundak nadzirlah tanggung jawab dan kewajiban memelihara, menjaga dan mengembangkan wakaf serta menyalurkan hasil atau manfaat dari wakaf kepada sasaran wakaf.

Di masa pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang cukup memprihatinkan saat ini, infaq, sedekah dan lain-lain belum dapat dirasakan manfaatnya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat khususnya didibidang ekonomi.Pengelolaan dan pengembangan wakaf yang ada di Indonesia diperlukan komitmen bersama pemerintah, ulama dan masyarakat. Ditengah problem sosial masyarakat Indonesia dan tuntutan akan kesejahteraan ekonomi akhir-akhir ini keberadaan lembaga wakaf menjadi sangat strategis. Disamping sebagai salah satu aspek ajaran islam yang berdimensi spiritual, wakaf tunai juga merupakan ajaran yang menekankan pentingnya kesejahteraan ekonomi (dimensi sosial).

Wakaf yang dikelola secara baik, maka masyarakat akan sejahtera.

Oleh karenanya strategi pengelolaan yang baik, perlu diciptakan untuk mencapai tujuan diadakannya wakaf. Untuk pengelolaan yang baik maka diperlukan fungsi- fungsi manajemen yang baik. Fungsi manajemen itu antara lain : merencanakan (planning), mengorganisasikan (organizing), memimpin atau mengarahkan (leading), dan mengendalikan (controlling).

3

3 Chuck Williams.2001, Management 1 st Edition, alih bahasa M. Sabaruddin Napitupulu (Jakarta : Salemba Empat), hlm.9

(4)

Wakaf berupa uang tunai atau cash juga memiliki keunggulan tersendiri diantara wakaf harta benda yang lain. Adapun keunggulannya yang pertama yaitu, wakaf uang jumlahnya bisa bervariasi sehingga seseorang yang memiliki dana terbatas sudah bisa mulai memberikan dana wakafnya tanpa harus menunggu menjadi orang kaya atau tuan tanah terlebih dahulu, sehingga dengan program wakaf tunai akan memudahkan si pemberi wakaf atau wakif untuk melakukan ibadah wakaf. Kedua, melalui wakaf uang, aset-aset wakaf yang berupa tanah- tanah kosong bisa mulai dimanfaatkan dengan pembangunan gedung atau diolah untuk lahan pertanian. Ketiga, dana wakaf tunai juga bisa membantu sebagian lembaga-lembaga pendidikan Islam yang cash flow-nya kembang-kempis dan menggaji civitas akademika ala kadarnya. Keempat, pada gilirannya, insya Allah, umat Islam dapat lebih mandiri dalam mengembangkan dunia pendidikan tanpa harus terlalu tergantung pada anggaran pendidikan negara yang memang semakin lama semakin terbatas. Kelima, dana wakaf tunai dapat membantu perkembangan bank-bank syariah, khususnya BPR Syariah. Keunggulan dana wakaf, selain bersifat abadi atau jangka panjang, dana wakaf adalah dana termurah yang seharusnya menjadi incaran bank-bank syariah. Dengan adanya lembaga yang concern dalam mengelola wakaf tunai, maka diharapkan kontribusi dalam

mengatasi problem kemiskinan dan kebodohan yang mendera bangsa akan lebih signifikan.

4

4 Agustianto, Wakaf Tunai Dalam Hukum Positif Dan Prospek Pemberdayaan Ekonomi Syariah, dalam http://www.ekonomisyariah.net/wakaf.pdf, diakses pada 1 Februari 2016.

(5)

Untuk memajukan dan mengembangkan perwakafan di Nasional, pemerintah membentuk Badan Wakaf Indonesia, yang selanjutnya disingkat BWI.

Lembaga ini bertugas untuk memajukan dan mengembangkan pengelolaan perwakafan di Indonesia kearah yang lebih professional dan modern sehingga menghasilkan manfaaat yang dapat mensejahterakan umat.

5

Untuk mewujudkan partisipasi tersebut, maka berbagai upaya pengenalan tentang arti wakaf uang sebagai sarana mentransfer tabungan si kaya kepada para usahawan (enterpreneurs) dan anggota masyarakat dalam mendanai kegiatan - kegiatan keagamaan, pendidikan, dan sosial perlu dilakukan secara intensif. Wakaf uang dapat berperan sebagai supplemen bagi pendanaan berbagai macam proyek investasi sosial yang dikelola oleh bank-bank Islam.

6

Dalam Perundang-undangan Badan Wakaf Indonesia Nomer 1 Tahun 2009 Pasal 12 menjelaskan investasi wakaf uang dan dilakukan melalui lembaga:

7

a. Bank Syariah

b. Baitul Mal Wat Tamwil (BMT)

c. Koperasi yang menjalankan usahannya sesuai syariah.

d. Lembaga keuangan syariah lainnya.

Secara Ekonomi, wakaf uang sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia, karena dengan model wakaf ini daya jangkau mobilisasinya akan jauh lebih merata kepada sebagian anggota masyarakat dibandingkan dengan model

5 Undang-undang Republik Indonesia Nomer 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, Pasal 1 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomer 42 Tahun 2004 Tentang pelaksanaan Undang- undang Nomer 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, Pasal 1

6 M.A. Mannan,1999. Sertifikat Wakaf Tunai Sebuah Inovasi Instrumen Keuangan Islam, (Jakarta:PKTTI-UI), hal. 14

7Badan Wakaf Indonesia.2012. Himpunan Peraturan Badan Wakaf Indonesia,(Jakarta:Badan Wakaf Indonesia),hal. 73

(6)

wakaf-wakaf tradisional-konvensional yaitu dalam bentuk harta fisik yang biasanya dilakukan oleh keluarga yang terbilang relatife mampu. Munculnya bank-bank syariah dan BMT, yang dihampir pelosok tanah air memberikan angin besar dan optimisme tinggi bagi umat Islam, termasuk didalamnya pengelolaan harta atau dana wakaf secara produktif. Untuk harta wakaf yang berbentuk harta tak bergerak seperti tanah dan bangunan, pihak bank syariah biasa menjadikannya sebagai agunan atau jaminan peminjam sejumlah dana dalam rangka pengembangan harta wakaf yang lain. Sedangkan dalam bentuk tunai atau uang, pihak bank langsung bisa mengelola, mengembangkan dan menyalurkan harta wakaf yang dipercayakan kepada bank syariah.

Perkembangan pengelolaan wakaf di Indonesia dapat diklasifikasikan kepada tiga fase, yaitu :

8

1. fase tradisional

Fase tradisional harta wakaf diperuntukkan hanya untuk pembangunan fisik semata, seperti untuk makam, Masjid, Mushola, dan Madrasah. Pada fase ini ikrar wakaf umumnya hanya bersifat lisan tanpa ada bukti tertulis sama sekali.

Akibatnya setelah diurus oleh beberapa generasi banyak harta wakaf yang hilang tanpa bekas.

2. Periode Semi-Profesional

Periode Semi-Profesional merupakan pola pengelolaan wakaf yang kondisinya relative sama dengan periode tradisional, namun pada masa ini sudah

8 Kementerian Agama RI.2005,”Strategi Pengembangan Wakaf Tunai di Indonesia.

(Jakarta: Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji Direktorat Jenderal Pengembangan Zakat dan Wakaf),hal. 1-6

(7)

mulai dikembangkan pola pemberdayaan wakaf secara produktif, meskipun belum maksimal. Sebagai contoh adalah pembangunan masjid-masjid yang letaknya strategis dengan menambah bangunan gedung untuk pertemuan, pernikahan, seminar dan acara lainnya seperti masjid Sunan Kelapa, Masjid Pondok Indah, Masjid At-Taqwa Pasar Minggu(Semua terletak di Jakarta)

3. Periode Profesional

Yaitu suatu kondisi dimana daya tarik wakaf sudah mulai dilirik untuk diberdayakan secara professional-produktif. Keprofesionalan dilakukan meliputi aspek : manajemen, SDM Kenazhiran, pola kemitraan usaha, bentuk benda wakaf yang tidak hanya berupa harta tidak bergerak seperti uang, saham. Surat berharga lainnya, dukungan political will pemerintah secara penuh.

Lembaga nadzir wakaf tunai harus dikelola dengan amanah, jujur, transparan dan profesional. Untuk mencapai semua itu, diperlukan suatu manajemen yang baik yang didalamnya terdapat empat kerangka sebagai proses dan fungsi manajemen, antara lain perencanaan yaitu menetapkan tujuan organisasi. Tahap berikutnya adalah pengorganisasian, yaitu kegiatan mengkoordinir sumber daya, tugas dan otoritas diantara anggota organisasi.

Langkah selanjutnya dalah pengarahan yaitu menbuat bagaimana anggota organisasi tersebut bekerja untuk mencapai tujuan organisasi. Elemen terakhir proses manajemen adalah pengawasan atau pengendalian yang bertujuan untuk

melihat apakah kegiatan organisasi sesuai dengan rencana.

(8)

Dalam menginvestasikan harta wakaf, nazhir harus menghindari investasi pada sektor usaha yang kurang atau tidak mendatangkan keuntungan. Oleh karena itu , kegiatan investasi wakaf uang dilakukan dengan cara :

9

1. Memilih jenis usaha yang apaling aman dan tingkat resiko yang paling kecil, misalnya investasi dalam bidang properti.

2. Ada sistem penjaminan secara syariah dari pihak ketiga terhadap investai yang dilakukan.

3. Memperhatikan fiqih auwaliyat (skala prioritas), yakni mendahulukan hal yang paling penting dari yang penting.

4. Melalui perencanaan, pengawasan, dan kontrol dari auditor internal.

5. Mempercayakan kepada nadziryang profesional dan ahli dibidangnya.

Dalam pemberdayaan harta wakaf ada beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan :

10

a. Optimalisasi Edukasi dan sosialisasi Wakaf Uang.

b. Peningkatan kualitas Nadzhir dan lembaga pengelola wakaf.

c. Tindakan riil Operasional wakaf uang melalui proyek percontohan (pilot project).

d. Model Dana Abadi

Yaitu dana yang terhimpun dari berbagai sumber dengan cara yang sah dan halal. Kemudian, dana yang tehimpun diinvestasikan pada deposito nudharabah di bank syariah dengan tingkat keamanan yang tinggi melalui lembaga penjamin simpanan. Model dana abadi ini telah dilakukan

9 Rozalinda.2015.”Manajemen Wakaf Produktif”(Jakarta:Rajawali Pres,) .Hal 367-371

10Ibid

(9)

di Liga Dunia Islam dan Dana Wakaf (Wakaf Fund) yang dikelola oleh islamic Development Banki di Saudi Arabia.

e. Pendekatan pada calon wakif, ada 2 : a. Pendekatan keagamaan

b. Pendekatan kesejahteraan sosial f. Menjalin Kemitraan

Dalam menjalin kerjasama dengan pihak ketiga tetap harus mengikuti prinsip syariah, baik dengan cara musyarakah, mudharabah, atau ijarah. Pihak-pihak ketiga tersebut adalah :

a. Lembaga investasi usaha yang berbentuk badan usaha non lembaga keuangan

b. Investasi perseorangan yang memiliki cukup modal.

c. Lembaga perbankan syariah atau lembaga keuangan syariah lainnya sebagai pihak yang memilikidana pinjaman.

d. Lembaga perbankan internasional yang konsen terhadap pengembangan tanah wakaf di Indonesia, seperti islammic Development Bank (IDB)

e. Lembaga keuangan dengan sistem pembangunan BOT )Build of Transfer).

f. Lembaga penjamin syariah sebagai pihak yang akan menjadi sandaran

nazhir apabila upaya upaya pemberdayaan tanah wakaf mengalami

kerugian.

(10)

g. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli terhadap pemberdayaan ekonomi umat, baik dalam atau luar negeri.

Melihat potensi yang ada dalam pengelolaan harta wakaf guna membantu kesejahteraan masyarakat, maka Badan Wakaf Indonesia (BWI) yang memiliki fungsi sangat penting dalam mengawasi dan mengembangkan harta wakaf, harus segera dibentuk pada masing–masing daerah. Peranan BWI agar dapat berjalan dengan baik maka diperlukan SDM yang benar–benar mempunyai kemampuan dan kemauan dalam mengelola wakaf, berdedikasi tinggi dan memiliki komitmen dalam pengembangan wakaf, memahami masalah wakaf serta hal-hal yang terkait dengan wakaf. LKS-PWU yang akan memegang amanah mengelola harta wakaf juga harus benar–benar diseleksi oleh BWI, agar pemanfaatan harta wakaf dapat tepat sasaran dan berkembang secara produktif. Sehingga upaya untuk dapat membantu meningkatkan kesejahteraan emonomi masyarakat dapat benar–benar terealisasikan.

Penulis merasa bahwa ini merupakan fenomena perkembangan baru dalam

bidang perwakafan. Oleh karena itulah penulis tertarik untuk melakukan

penelitian terkait fenomena ini. Pihak LKS yang ditunjuk oleh menteri pun harus

mempersiapkan berbagai strategi untuk menghimpun dana wakaf tunai dari

masyarakat, dan juga alternatif pemanfaatan dana wakaf yang lebih produktif,

mengingat tidak semua LKS dapat memiliki kewenangan untuk menerima dan

mengelola wakaf tunai ini. Karena ada beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh

LKS tersebut untuk dapat menerima dan mengelola wakaf tunai sebagaimana

(11)

terdapat dalam PP No. 42 tahun 2006, tentang Pelaksanaan Undang-Undang No.

41 Tahun 2004.

penulis melakukan penelitian terhadap lembaga, yang dalam operasionalnya juga bertindak sebagai lembaga yang mengelola wakaf uang.

Lembaga tersebut adalah BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal. Peneliti akan meneliti hal-hal yang terkait dengan pengelolaan dana wakaf uang pada lembaga tersebut yang meliputi mekanisme penggalangan dana wakaf uang, strategi pengelolaan dana wakaf uang, serta penyaluran hasil pengelolaan wakaf uang dalam lembaga tersebut serta faktor penghambat dalam pengelolaan wakaf uang . Dengan harapan nantinya penulis dapat mengetahui bagaimana pengelolaan dana wakaf uang, yang dari hal tersebut dapat dilihat apakah wakaf uang dapat memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat.

BMT Bina Umat Tegal Mandiri merupakan salah salah satu lembaga yang memperoleh ijin dari menteri untuk menjadi nadhzir penerima wakaf uang, nomer nadzir Wakaf yang di sahkan oleh Badan Wakaf Indonesia dengan nomer 3.300.01 yang ditetapkan pada tanggal 27 Agustus 2013 dengan rekomendasi Bank BTN Syariah No.171/S/BTN/TGL/CONS/V/2013. Dengan demikian BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal tidak hanya sebatas pada pemberitahuan bahwa lembaga ini penerima wakaf, tetapi juga memberikan tanggungjawab untuk memasyarakatkan wakaf uang kepada masyarakat secara lebih lebih luas melalui sarana dan strategi yang efektif.

Program yang telah dilakukan oleh BMT Bina Umat Mandiri (BUM)

Tegal yaitu pemberdayaan ekonomi dhuafa, santunan anak yatim dan dhuafa,

(12)

program kesehatan dan kemashalatan ummat. Berdasarkan data yang diperoleh dari tanggal 27 Agustus 2013 sampai September 2016 total wakaf uang yang terkumpul yaitu Rp 28.588.452.-

11

. Berkaitan dengan Latar Belakang Masalah diatas, penulis tertarik menulis skripsi dengan judul “STRATEGI PENGELOLAAN WAKAF UANG SECARA PRODUKTIF PADA BMT BUM (BINA UMAT MANDIRI)

TEGAL”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana strategi penerimaan dan pengelolaan wakaf uang secara produktif pada BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal ?

2. Faktor – faktor apa saja yang menjadi hambatan di dalam pengelolaan wakaf uang pada BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal ?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui strategi penerimaan dan pengelolaan wakaf uang secara produktif pada BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal.

2. Untuk Faktor – faktor pemghambat di dalam pengelolaan wakaf uang pada BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal.

11 Aslamadin,Ibnun wawancara.2016.”Wawancara tentang Wakaf Uang”.Jl. Perintitis Kemerdekaan Tegal

(13)

D. Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Kegunaan Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran sebagai titik awal dalam melakukan penelitian ilmiah dan penelitian lebih lanjut dalam menambah khazanah intelektual akademis di bidang perwakafan.

2. Kegunaan Praktis a. Bagi pihak BMT

Diharapkan dari hasil penelitian yang dilakukan dapat dijadikan sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal dan sebagai solusi alternatif dalam strategi pengelolaan wakaf uang.

b. Bagi Nasabah

Sebagai bahan informasi bagi nasabah mengenai wakaf uang dan peran BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal didalam pengelolaannya sehingga nasabah tidak ragu-ragu untuk berwakaf dengan uang.

c. Bagi Pembaca

Hasil penelitian ini semoga dapat memberikan kejelasan mengenai

peran BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal sebagai Lembaga

Keuangan syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU) dalam strategi

pengelolaan wakaf uang dalam upaya meningkatkan ekonomi umat.

(14)

E. Tinjauan Pustaka

Adapun tinjauan pustaka yang digunakan dalam penelitian terdahulu adalah :

Penelitian Daryanto mengenai Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang Wakaf Uang. Jenis Penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library Research), sedangkankan analisis datanya menggunakan model analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), wakaf uang hukumnya jawaz (boleh) selama terjamin nilai pokoknya yaitu dengan cara diinvestasikan dalam bentuk modal usaha dan hasilnya disalurkan dan digunakan untuk wakaf.

12

Nuzula Yustiana dalam skripsinya yang berjudul Studi Tentang Pengelolaan Wakaf Tunai Pada Lembaga Amil Zakat di Kota Yogyakarta. Jenis penelitiannya ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan model analisis eskriptif menyimpulkan bahwa pengelolaan wakaf tunai pada lembaga Amil Zakat Masjid Syuhada dan Bina Umat Peduli tetap terjaga nilai pokok wakaf dan termasuk katagori wakaf produktif karena dapat mensejahterakan umat dan telah melaksanakan fungsi manajemen dengan baik.

Penerimaan wakaf tunai pada LAZ di kota Yogyakarta belum sesuai dengan

12 Daryanto,2008”Studi Analisis terhadap Wakaf Uang (Cash Waqf/waqf al-Nuqud) menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)”, (Pekalongan: Skripsi Perpustakaan STAIN)

(15)

konsep peneriman wakaf tunai pada Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU).

13

Skripsi Ruhana Kumalasri dengan judul “Pengelolaan Dana Wakaf Produktif pada Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Buaran Pekalongan” dengan metode anlisis deskripsi. Dalam penelitiannya disampaikan secara umum management pengelolaan wakaf produktif pada Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Buara Pekalongan sudah cukup baik. Sedangkan dalam segi pengelolaan masih memerlukan banyak modal, sementara dari segi keuangan masih mengalami kerugian di usahannya.

14

Skripsi Kardino dengan judul “ Manajemen Wakaf Produktif (Study Pengelolaan Wakaf pada Yayasan Muslim Kota Pekalongan) dengan metode analisis deskriptif, dalam penelitiannya disampaikan dalam pengelolaan unit-unit usaha Islamic Business Center, dipantau oleh Pengawas dan Pembina, pengurus mengangkat sejumlah eksekutif termasuk manajer untuk melaksanakan operasional unit – unit usaha tersebut. Di dalam perjalannannya mengalami berbagai macam hambatan seperti kekurangan modal, penangannya yang belum optimal sepeti pada saat waktu libur.

15

Tesis Nila Saodati,Lc 2014 dengan judul “Pengelolaan Wakaf Tunai dalam Mekanisme Pemberdayaan Ekonomi (study pondok pesantren At-Tauhid Al Islami). Dengan metode penelitiannya yaitu yuridis empiris yang sifatnya

13 Yustisia,Nuzula.2008. Studi Tentang Pengelolaan Wakaf Tunai Pada Lembaga Amil Zakat di Kota Yogyakarta. (Yogyakarta:Skripsi, UIN Sunan Kalijaga)

14 Kumalasari, Ruhana.2009 Pengelolaan Dana Wakaf Produktif pada Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Buaran Pekalongani(Pekalongan:Skripsi Perpustakaan Stain)

15 Kardino”Manajemen Wakaf Produktif (Study Pengelolaan Wakaf pada Yayasan Muslim kota Pekalongan)”, Skripsi(Pekalongan: perpustakaan Stain)t.d.

(16)

induksi analitis deskripstif. Dasil penelitianya disimpulkan bahwa pengelolaan wakaf tunai sudah dilaksanakan secara produktif dan tepat sasaran yaitu untuk kesejahteraan pesantren. Tetapi yang mesti diperhatikan dalam pelaporan pembukuan secara rinci darimana dan kemana wakaf uang dan hasil dari wakaf uang tersebut digunakan atau di manfaatkan.

16

Skripsi Barozatun Ni’mah dengan judul “ Analisis Peranan BNI Syariah Pekalongan sebagai Lembaga Keuangan Syariah (LKS-PWU) dalam Pengeloalan Wakaf Uang.”metode yang digunakan analisis deskriptif yang menyimpulkan bahwa BNI Syariah bukanlah nadzir atau pengelola, namun ia hanya sebagai penerima wakaf uang. Didalam proses penerimaan ini belum begitu maksimal karena ada beberapa kendala diantaranya kurangnya sosialisasi dan bentuk proyek nyata dari wakaf tunai.

17

Setelah mencermati beberapa penelitian yang ada, penelitian yang akan dilakukan peneliti mengenai strategi pengelolaan wakaf uang secara produktif untuk pemberdayaan ekonomi umat beserta hambatan dan kendalanya. Jadi disini hukum wakaf uang tidak menjadi masalah lagi. Dan objek dalam penelitian ini adalah BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal. di tetapakan sebagai lembaga penerima wakaf uang berdasarkan Kepetusan menteri pada tanggal 27 Agustus 2013.

16 Nila Saodati,2014Pengelolaan Wakaf Tunai dalam Mekanisme Pemberdayaan Ekonomi Pesantren(Study pada Pesantren AT-Tauhid Al Islami Magelang), (Yogyakarta:Tesis Pascasajnana UIN Sunan Kalijaga )

17Barozatun Ni’mah,2013”Analisis Peranan BNI Syariah Pekalongan sebagai Lembaga Keuangan Syariah)LKS-PWU) dalam Pengelolaan Wakaf Uang.” (Pekalongan:Skripsi Perpustakaan Stain )

(17)

F. Metode Penelitian

Dalam sebuah penelitian ilmiah, metode penelitian merupakan sistem kerja yang harus dilaksanakan. Hal ini karena metode penelitian merupakan hal yang sangat penting untuk menentukan langkah-langkah kerja guna tercapainya tujuan penelitian. Oleh karena itulah peneliti harus memilih dan menentukan metode yang tepat guna mencapai hasil yang maksimal dalam penelitiannya.

Metode Penelitian adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti dalam mendekati obyek yang diteliti, cara-cara tersebut merupakan pedoman bagi seorang peneliti dalam melaksanakan penelitian sehingga dapat dikumpulkan nsecara efektif dan efisien guna dianalisis sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Suatu rancangan penelitian atau pendekatan penelitian dipengaruhi oleh banyaknya jenis variabel. Selain itu dipengaruhi oleh tujuan penelitian, waktu dan dana yang tersedia, subyek penelitian dan minat atau selera peneliti.

18

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku yang dapat diamati dari orang (subyek) itu sendiri.

19

Dengan pendekatan penelitian kualitatif ini, peneliti akan membuat deskripsi tentang gambaran objek yag diteliti secara sistematis, baik itu mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta berbagai hal yang terkait dengan tema penelitian.

Pendekatan kualitatif ini digunakan karena data yang dibutuhkan berupa sebaran-sebaran informasi yang tidak perlu dikuantifikasikan. Dimana dalam

18 Suharsimi Arikunto,1998, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta:

Rineka Cipta), hal.3

19 Arif Furchan,1992. Pengantar Metodologi Penelitian Kualitatif, (Surabaya: Usaha Nasional), hal. 21

(18)

penelitian ini peneliti akan menghimpun informasi terkait dengan berbagai strategi pengelolaan wakaf uang, prosedur dan perkembangan wakaf uanng dari masyarakat yang telah dilakukan oleh BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal.

Adapun ciri-ciri dari penelitian kualitatif adalah sebagai berikut:

a. Bersifat alamiah, penelitian kualitatif dilakukan pada latar alamiah atau konteks dari suatu keutuhan. Hal ini dilakukan karena sifat alamiah menghendaki adanya kenyataan-kenyataan sebagai keutuhan yang tidak dapat dipahami jika dipisahkan dari konteksnya.

b. Manusia sebagai alat (instrument), dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan salah satu sarana pengumpul data yang utama.

c. Metode kualitatif, metode yang digunakan yaitu pengamatan, wawancara, atau penelaahan dokumen.

d. Lebih mementingkan proses daripada hasil, hal ini disebabkan oleh adanya hubungan bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses.

20

20 Lexy J. Moleong,2006. Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT.Remaja Rosda Karya), hal 8-11

(19)

1. Sumber Data

Data adalah sekumpulan bukti atau fakta yang dikumpulkan dan disajikan untuk tujuan tertentu.

21

Data juga dapat diartikan sebagai semua keterangan yang diperoleh dari orang yang dijadikan informan maupun yang berasal dari dokumen- dokumen baik dalam bentuk statistik atau dalam bentuk lainnya guna keperluan penelitian.

Adapun sumber data yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Sumber Data Primer

Sumber data primer adalah Data yang diperoleh secara langsung dari subjek penelitian yang menggunakan alat pengukur atau pengambilan data langsung subjek sebagai sumber informasi yang dicari.

22

Jadi data primer dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh langsung dari sumber pertama berupa hasil wawancara dengan informan yang dianggap relevan untuk diambil data darinya. Dalam hal ini informan yang dimaksud adalah orang-orang yang berada dalam struktur kepengurusan BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal, yang dianggap paling mengetahui mekanisme kerja lembaga serta pendistribusian dana wakaf tunai dari lembaga tersebut, selain itu dari mereka pula peneliti akan memperoleh segala informasi dan petunjuk mengenai pengelolaan wakaf tunai di lembaga tersebut.

21 Moh. Pabundu Tika.2006, Metodologi Riset Bisnis, (Jakarta: PT Bumi Aksara), hal.57

22 Syaefuddin Anwar.1998, Metode Penelitian,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar),hal.91

(20)

b. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitinya.

23

Adapun data yang termasuk data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang berasal dari dokumen-dokumen yang berkenaan dengan BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal seperti data tentang aset wakaf tunai dan data wakif yang ada, buku-buku yang relevan dengan pembahasan wakaf uang serta sumber lain berupa hasil laporan penelitian yang masih mempunyai relevansi dengan tema yang dibahas. Dalam hal ini data sekunder digunakan untuk mendapatkan data-data yang lebih valid tentang pengelolaan dana wakaf tunai yang dikelola oleh BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal.

2. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data tidak lain dari suatu proses pengadaan data primer untuk keperluan penelitian. Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting dalam metode ilmiah, karena pada umumnya data yang dikumpulkan digunakan. Agar dalam penelitian ini dapat diperoleh data-data yang relevan, peneliti menggunakan beberapa metode pengumpulan data yaitu:

a. Observasi

Observasi adalah metode pengumpulan data dengan pengamatan langsung di lapangan .

24

Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data-data secara jelas dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan yang sistematis. Dalam hal ini

23Syaefuddin Anwar.1998, Metode Penelitian,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar),hal.91

24 Soedjono Trimo,1981. Pengentar ilmu Dokumentasi, (Bandung: Remaja Karya. Cet.

Ke-1),hal,17

(21)

penulis melakukan obsevasi ke tempat obyek yang merupakan salah satu cara untuk mendapatkan data primer.

Dalam hal ini yang dilakukan peneliti adalah terjun langsung ke lapangan, mendatangi lokasi pengelolaan serta pemanfaatan dana wakaf tunai yang dikelola oleh BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk mendapatkan data secara konkret mengenai aset wakaf yang diperoleh melalui penggalangan dana wakaf tunai. Dengan ini diharapkan dapat diketahui secara langsung lebih jauh dan lebih jelas bagaimana pengelolaan wakaf tunai oleh BMT Biana Umat Mandiri Tegal yang meliputi strategi pengelolan wakaf uang, prosedur penyetoran wakaf uang dan perkembangan wakaf uang pada BMT Bina Umat Mandiri) Tegal.

b. Wawancara

Wawancara adalah perkataan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua belah pihak, yaitu wawancara (interviewer)yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewer) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

25

Metode ini digunakan untuk mendapatkan berbagai hal yang berhubungan dengan pengelolaan dana wakaf tunai oleh BMT Bina Umat Mandiri (BUM) Tegal Tegal. Berbagai hal yang ingin diketahui peneliti meliputi tentang proses penggalangan dana wakaf, pengelolaan serta pendistribusian dari hasil penglolaan dana wakaf. Adapun yang menjadi informan dalam wawancara pada penelitian ini adalah jajaran pengurus BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal yang meliputi

25Soedjono Trimo,1981. Pengentar ilmu Dokumentasi, (Bandung: Remaja Karya. Cet.

Ke-1),hal,17

(22)

Kepala bagian wakaf uang, bagian Marketing & Fundraising, serta bagian Administrasi.

c. Dokumentasi

Dokumentasi adalah segala aktivitas yang berhubungan dengan pengumpulan , pengadaan, pengelolaan dokumen-dokumen secara sistematis dan ilmiah serta pendistribusian informasi kepada informan.

26

Metode dokumentasi pada penelitian ini digunakan peneliti untuk mendokumentasikan tentang kegiatan pengelolaan dana wakaf tunai yang meliputi proses penggalangan dana wakaf, pengelolaannya serta penyaluran hasil dari pengelolaan dana wakaf tunai. Dalam hal ini dokumentasi dilakukan terhadap berbagai sumber data baik yang berasal arsip-arsip tentang profil BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal , dokumen tentang daftar wakif, dan lain sebagainya

3. Metode Analisis Data

Data yang diperoleh, baik dari studi lapangan maupun studi pustaka pada dasarnya merupakan data tataran yang dianalisis secara deskriptif kualitatif, yaitu data yang terkumpul dituangkan dalam bentuk uraian logis dan sistematis kemudian ditarik kesimpulan secara dekduktif, yaitu dari hasil yang bersifat umum menuju ke hal yang bersifat khusus.

27

Sifat analisis dalam penelitian kualitatif adalah penguraian apa adanya fenomena yang terjadi (deskriptif) disertai penafsiran terhadap arti yang

26Ibid.

27Soetrisno Hadi,1985. “Metodolog Research Jilid II,” (Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Hukum Psikolog UGM). Hlm 26.

(23)

terkandung dibalik yang tampak (interpretif).

28

Dalam penelitian ini peneliti melakukan analisis interpretif dengan mengandalkan daya imajinasi, intuisi, dan daya kreasi peneliti dalam proses yang disebut reflektif dalam menangkap makna dari objek penelitian. Tujuan analisis tersebut adalah untuk menemukan makna peristiwa yang ada pada objek penelitian dan menginterpretasikan makna dari hal yang diteliti. Data-data yang nantinya diperoleh dari penelitian tentang pengelolan dana wakaf tunai di BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal, akan dianalisis dan ditafsirkan kedalam kata-kata atau penjelasan yang bisa dipahami dengan jelas oleh orang lain, untuk kemudian disajikan secara tertulis dalam bentuk laporan penelitian.

G. Sistematika Penulisan

Untuk memperoleh hasil penelitian yang sistematis, maka peneliti menguraikan secara runtut berdasarkan sistematika sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan keguanaan penelitian, tinjauan pustaka dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Bersisi tentang pengertian wakaf, dasar hukum wakaf, macam-macam wakaf, perundang-undangan wakaf, pengertian wakaf uang, sejarah wakaf uang, strategi penggalangan dan pengelolaan wakaf uang

28 Andi Mappiare AT.2009, Dasar-dasar Metodologi Riset Kualitatif Untuk Ilmu Sosial dan Profesi, (Malang: Jenggala Pustaka Utama), hal. 80

(24)

BAB III : GAMBARAN TEMPAT PENELITIAN

Bab ini meliputi profile BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal, visi dan misi BMT Bina Umat Mandiri Tegal, strategi penghimpunan dan strategi pengelolaan wakaf uang secara produktif di BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal.

BAB IV : ANALISIS PEMBAHASAN

Berisi tentang analisis strategi penghimpunan dan strategi pengelolaan wakaf uang secara produktif, analisis Faktor - faktor penghambat perkembangan wakaf uang di BMT BUM (Bina Umat Mandiri) Tegal.

BAB V : PENUTUP

Berisi uraian tentang kesimpulan dan saran.

Referensi

Dokumen terkait

dalam mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran tarakib bahasa Arab di MTs Darul Amin Palangka Raya. Penelitian ini meggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dan

Sebelum pengambilan data untuk nilai posstes dalam penelitian ini terlebih dahulu dilakukan uji instrument untuk mengetahui kevalidan instrument dala penelitian

Pelatihan sepuluh faktor carative pada seluruh perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Islam Surabaya dengan metode ceramah, diskusi, simulasi dan role

Terdapat perbedaan yang bermakna antara riwayat imuniasi dasar dan frekuensi ISPA pada balita yang datang ke Puskesmas Sekip Palembang tahun 2014 dengan nilai p value

Perbandingan Persentase Penduduk Bekerja dengan Pekerjaan Utama Menurut Tingkat Pendidikan dan Daerah Tempat Tinggal Secara Nasional (Semua Sektor) dan di

Guru dapat menyusun strategi dan metode pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan ketangguhan dalam belajar, percaya diri dan motivasi berprestasi siswa pada saat

Metode LZW lebih efektif dalam pengkompresian audio dan video karena data hasil kompresinya menghasilkan ukuran file yang lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis penataan ulang dari proses bisnis platform ekspor dibidang subsektor kuliner dengan menggunakan pendekatan model Sistem Inovasi yang