0
PENGENDALIAN INFLASI DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM
(Studi Instrumen Moneter Syari’ah di Indonesia)
Progress Report
Penelitian Dasar Peningkatan Kapasitas / Pembinaan
Peneliti :
Fitri Kurniawati, M.E.Sy.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) IAIN METRO
Tahun 1439 H / 2018 M
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Inflasi ditandai dengan kenaikan harga barang-barang, adalah peristiwa moneter yang biasa dijumpai dihampir semua negara. Inflasi dapat menimbulkan keresahan masyarakat jika hal itu terjadi secara terus-menerus (berkepanjangan). Inflasi merupakan kenaikan tingkat harga umum,
1inflasi seperti sebuah penyakit.
2Sehingga hal ini harus dikendalikan. Kenaikan harga akan menyulitkan masyarakat terutama mereka yang berpenghasilan rendah dan yang berpenghasilan tetap. Jumlah uang yang sama diperoleh jumlah barang yang lebih sedikit dibandingkan sebelumnya. Secara umum, inflasi berarti kenaikan tingkat harga secara umum dari barang komoditas yang menyeluruh dari nilai unit penghitungan moneter.
3Salah satu cara mengendalikan inflasi adalah menggunakan kebijakan moneter. Kebijakan moneter didefinisikan dengan rencana dan tindakan otoritas moneter yang terkoordinasi untuk menjaga keseimbangan moneter, kestabilan nilai uang, mendorong kelancaran produksi dan pembangunan, serta memperluas kesempatan kerja guna meningkatkan taraf hidup rakyat.
4Kebijakan moneter adalah usaha untuk mengendalikan keadaan ekonomi
1 Paul A. Samuelson, William D. Nordhaus, Economics, (New York : McGraw-Hill Inc. , 1992), h. 307
2 Ibid, h. 592
3 Douglas Greenwald, Encyclopedia of Economic, (New York : McGraw-Hill Inc. , 1982), h. 510
4Aliminsyah,Kamus Istilah Keuangan dan Perbankan, (Bandung:Yrama Widya, 2006), h.
186
2 makro agar sesuai dengan yang diinginkan melalui pengaturan jumlah uang beredar dalam perekonomian. Usaha dilakukan agar terjadi kestabilan harga dan inflasi terkendali serta peningkatan output keseimbangan.Banyak fakor yang menyebabkan terjadinya inflasi, diantara faktor tersebut ada yang bersifat ekonomi namun bisa juga disebabkan kebijakan pemerintah. Faktor- faktor yang diduga mempengaruhi inflasi antara lain:
1. Meningkatnya kegiatan ekonomi sehingga ada peningkatan permintaan agregat tidak diimbangi dengan meningkatnya penawaran agregat karena adanya kendala struktural perekonomian.
2. Melemahnya nilai tukar rupiah sehingga harga cenderung naik dan sulit untuk turun apabila nilai tukar rupiah menguat.
3. Kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan seperti kenaikan harga BBM, listrik, menaikkan upah minimum dan gaji pegawai.
4. Tingginya ekspektasi inflasi masyarakat, ada kecenderungan masyarakat yang sangat tinggi terhadap konsumsi sehingga memicu kenaikan harga.
5Inflasi yang terjadi ini biasa diukur dengan tingkat inflasi dengan menggunakan Costumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI), yang mana sebenarnya kedua alat ukur ini direvisi dari waktu ke waktu karena kurang dapat mengakomodasi.
6Oleh karena pengaruhnya cukup besar pada kehidupan ekonomi, inflasi merupakan salah satu masalah ekonomi yang menjadi perhatian ekonom, pemerintah dan masyarakat umum.
5 M. Ridwan, Ekonomi Makro dan Mikro Islam, (Jakarta : Citapustaka Media, 2013), h. 178
6 S. E. Landsburg, L. J. Feinstone Macroeconomics, (New York : McGraw-Hill Inc. , 1997), h. 32
3 Pandangan sekuler
7menyebutkan bahwa inflasi erat kaitannya dengan tingkat bunga.
8Hal ini disebabkan adanya biaya untuk mempengaruhi uang yang beredar. Padahal sebenarnya inflasi hanya membutuhkan sedikit biaya untuk dikendalikan.
9Bahkan inflasi yang rendahpun memiliki pengaruh yang besar terhadap efiseinsi ekonomi.
10Karena inflasi erat kaitannya dengan masalah nilai uang. Uang mempunyai nilai karena diterima sebagai alat tukar barang dan jasa. Oleh karena itu, nilai uang ditentukan oleh harga barang dan jasa yang dibeli dengan uang tersebut. Apabila harga-harga dalam suatu perekonomian naik, maka jumlah barang dan jasa yang dapat ditukar dengan sejumlah uang menjadi sedikit.
Dalam kasus ini dikatakan bahwa nilai uang mengalami penurunan yang berakibat kepada timbulnya inflasi. Proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus-menerus. Namun dengan persentase yang tak
7 Sekulerisme adalah pandangan dunia yang mendominasi dunia Barat. Pandangan ini memisahkan antara dunia dan akherat, agama dan negara. Dia menempatkan kekuatan akal untuk menemukan kebenaran metafisik secara final. Dia berkeyakinan bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian, tidak ada pertanggungjawaban setelah mati. Dia berkeyakinan bahwa kebahagiaan hanya akan bisa dicapai dengan materi. Ia berpandangan dari segi utilitarianisme bahwa kebenaran dan kesalahan, kebaikan dan keburukan, ditentukan oleh sensasi kesenangan dan kesakitan. Apa saja yang mendatangkan kesenangan adalah baik lagi benar dan apa saja yang mendatangkan kesusahan adalah buruk lagi salah. Inilah yang menghasilkan konsep manusia ekonomi yang menjadi motor ekonomi sekuleris/kapitalis saat ini. Kepentingan pribadi adalah sumber geraknya. Konsumsi adalah tujuan tertinggi kehidupannya, sumber utama kebagiaannya dan pembenaran tertinggi segala usahanya. Segala upaya individu untuk memenuhi kebutuhannya adalah kebenaran sehingga harus dibiarkan bebas. Kehidupan ekonomi adalah arena persaingan yang diatur oleh system pasar bebas yang menjamin hukum rimba “siapa yang kuat dia yang menang”. Padahal manusia itu tidak hanya fisik dan rasio tetapi jaga memiliki ruh/jiwa. Pandangan sekuleris/kapitalis di atas telah menempatkan manusia seperti binatang sehingga tidak perlu campur tangan Tuhan dalam kehidupannya. Implikasi dari paham ini sangat fatal. (lihat : Umer Chapra, Islam dan Pembangunan Ekonomi, (Jakarta : Gema Insani press, 1989), h. 20
8 N. Gregory Mankiw, Macro Economics, (USA : Worth Publishers, 2007), h. 89-92
9 Alan Blinder, Hard Heads, Soft Hearts : Tough Minded Economics for a Just Society, (M.
A. Edison Wesley, 2007)
10 Martin Feldstein, The Cost and Benefits of Price Stability, (Univ. Chicago Press, 1999)
4 sama.
11Namun terdapat kenaikan harga umum barang secara terus-menerus selama suatu periode tertentu. Sedangkan kenaikan yang terjadi hanya sekali (meski dengan persentase yang cukup besar) bukanlah merupakan inflasi.
12Inflasi terjadi disebabkan oleh beberapa hal diantaranya natural inflation (inflasi yang terjadi karena sebab-sebab alamiah yang manusia tidak mempunyai kekuasaan dalam mencegahnya), human error inflation (inflasi yang terjadi karena kesalahan manusia sendiri), terdapatnya unsur bunga yang dapat mempengaruhi perekonomian, demand pull inflation (inflasi yang dikibatkan oleh perubahan-perubahan yang terjadi pada sisi permintaan dari barang-barang dan jasa pada suatu perekonomian), cost push inflation (inflasi yang terjadi karena adanya perubahan-perubahan pada sisi penawaran dari barang dan jasa pada suatu perekonomian, spiralling inflation (inflasi yang diakibatkan oleh inflasi yang terjadi sebelumnya, yang mana itu terjadi sebagai akibat dari inflasi yang terjadi sebelumnya lagi dan begitu seterusnya), imported inflation (inflasi di negara lain karena ikut perdagangan internasional).
13Indikator inflasi berdasarkan international best practice:
1. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB). Harga Perdagangan Besar dari suatu komoditas ialah harga transaksi yang terjadi antara penjual/pedagang besar pertama dengan pembeli/pedagang besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar pertama atas suatu komoditas.
1411 Nopirin, Ekonomi Moneter, BPFE, Yogyakarta, 1987, h. 25
12Ibid, h. 26
13 Adiwarman A. Karim, Ekonomi Makro Islami, (Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2007), h. 138-139
14Penjelasan lebih detail mengenai IHPB dapat dilihat pada web site Badan Pusat Statistik www. bps. go. id
5 2. Deflator Produk Domestik Bruto (PDB) menggambarkan pengukuran
level harga barang akhir (final goods) dan jasa yang diproduksi di dalam suatu ekonomi (negeri). Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas dasar harga konstan.
15Inflasi dan kebijakan moneter merupakan kegiatan yang terkait satu sama lain. Bank Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.
16Bank Indonesia selaku otoritas moneter merumuskan suatu kebijakan moneter dengan maksud memengaruhi sasaran-sasaran makroekonomi seperti inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan moneter tersebut dapat dikatakan efektif jika berhasil atau mencapai sasaran yang dikehendaki. Namun instrument yang digunakan berbasis bunga.
Oleh karena itu, bunga sangat berperan penting sekali di dalam pengendalian inflasi menurut ekonomi konvensional. Selanjutnya tingkat inflasi yang terjadi, menjadi acuan lagi untuk menentukan bunga simpanan yang lebih tinggi. Demikian seterusnya dan seterusnya. Bagi seorang produsen yang meminjam uang di bank sebagai modal usaha, maka untuk mengurangi kerugian lebih jauh biasanya terpaksa menjual barang/jasa dengan harga di bawah pasar atau di jual rugi. Akibatnya, pedagang tersebut
15 http://www. bi. go. id/id/moneter/inflasi/pengenalan/Contents/Default. aspx
16 UU No. 3 tahun 2004 pasal 7 tentang Bank Indonesia, hal yang dimaksud dengan kestabilan nilai rupiah antara lain adalah kestabilan terhadap harga-harga barang dan jasa yang tercermin pada inflasi. Untuk mencapai tujuan tersebut, sejak tahun 2005 Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter dengan inflasi sebagai sasaran utama kebijakan moneter (Inflation Targeting Framework) dengan menganut sistem nilai tukar yang mengambang (free floating). Peran kestabilan nilai tukar sangat penting dalam mencapai stabilitas harga dan sistem keuangan. Oleh karenanya, Bank Indonesia juga menjalankan kebijakan nilai tukar untuk mengurangi volatilitas nilai tukar yang berlebihan, bukan untuk mengarahkan nilai tukar pada level tertentu.
6 tidak mampu mengembalikan pinjaman dan bunganya ke bank.
17Serta dengan alternatif lain untuk mengurangi kerugian lebih lanjut dapat dilakukan dengan penghematan dari yang paling ringan, seperti mengurangi pengeluaran untuk kerja lembur, dsb. Sampai pemutusan hubungan kerja (PHK) yang akhirnya akan menimbulkan masalah baru yaitu pengangguran.
Namun ada sesuatu yang perlu diperhatikan dalam pengendalian inflasi dengan menggunakan kebijakan moneter yang ada di Indonesia ini.
Mengingat tugas spesifik yang diemban oleh Bank Indonesia, Bank Indonesia tidak sepenuhnya dapat mengendalikan inflasi, terutama tekanan inflasi yang berasal dari sisi penawaran (cost push inflation). Bank Indonesia, melalui kebijakan moneter, dapat mempengaruhi inflasi dari sisi permintaan, seperti investasi dan konsumsi masyarakat. Misalnya, kebijakan kenaikan suku bunga dapat sedikit mengurangi pengeluaran masyarakat dan pemerintah sehingga dapat menurunkan permintaan secara keseluruhan yang pada akhirnya dapat menurunkan inflasi.
Benarkah dengan menggunakan instrument suku bunga pada kebijakan moneter, inflasi benar-benar dapat dikendalikan. Karena kenaikan suku bunga ini dapat menguatkan sekaligus melemahkan nilai tukar rupiah. Demikian juga, Bank Indonesia dapat mempengaruhi ekspektasi masyarakat melalui kebijakan yang konsisten dan kredibel.
Sistem moneter dunia kini dikuasai fiat money yang sangat rentan dengan fluktuasi (Volatile), kecuali beberapa negara yang menggunakan uang dwi-
17 Wirdyaningsih et. al, Bank dan Asuransi Islam di Indonesia, Kencana, Jakarta, 2005, h.
35-36
7 logam (dinar dan dirham).
18Implikasi dari dominannya penggunaan fiat money, perjalanan perekonomian dunia senantiasa mengalami “pasangsurut”.
Ketika masyarakat dunia menggunakan fiat money, maka konsekuensi logisnya, mereka telah memasuki tahapan ekonomi baru: regime of permanent inflation atau inflasi abadi. Utang nasional dan inflasi adalah anak dari sistem uang kertas.
19Kebijakan moneter di Indonesia merupakan sebuah kebijakan yang sentral. Bank Indonesia sebagai pemegang otoritas moneter di Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Hal yang dimaksud dengan kestabilan nilai rupiah antara lain adalah kestabilan terhadap harga-harga barang dan jasa yang tercermin pada inflasi. Untuk mencapai tujuan tersebut, sejak tahun 2005 Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter dengan inflasi sebagai sasaran utama kebijakan moneter (Inflation Targeting Framework) dengan menganut sistem nilai tukar mengambang (free floating). Peran kestabilan nilai tukar sangat penting dalam mencapai stabilitas harga dan keuangan.
Secara historis, tingkat dan volatilitas
20inflasi Indonesia lebih tinggi dibanding negara-negara berkembang lain. Sementara negara-negara berkembang lain mengalami tingkat inflasi antara 3 -5% pada periode 2005- 2014, Indonesia memiliki rata-rata tingkat inflasi tahunan sekitar 8,5% dalam
18 Negara tersebut adalah Kuwait, Yordania, Tunisia, Bahrain, Iran dan beberapa negara Timur Tengah lainnya.
19 Tarek El Diwany. The Problem with Interest (Sistem bunga dan Permasalahannya), (Jakarta: Akbar, 2003), hal. 53
20 Menurut KBBI, volatilitas adalah kecenderungan mudah berubah menjadi gas atau uap dari suatu cairan. (lihat Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2008), h. 1550).
8 periode yang sama.
21Puncak-puncak dalam volatilitas inflasi Indonesia berkolerasi dengan penyesuaian harga-harga yang ditetapkan.
Harga-harga energi (bahan bakar dan listrik) ditetapkan oleh Pemerintah dan karenanya tidak bergerak sesuai dengan kondisi pasar, berarti defisit yang dihasilkannya harus diserap oleh Pemerintah atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pertamina dan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Masyarakat Indonesia menjadi kecanduan pada subsidi Pemerintah, terutama bahan bakar yang murah. Ini berarti bahwa usaha-usaha untuk mengatur kembali subsidi energi mengimplikasikan risiko politik untuk elit berkuasa karena kegelisahan politik (demonstrasi) muncul yang disebabkan tekanan inflasi.
Seperti yang disebutkan sebelumnya untuk mengendalikan inflasi, salah satu caranya BI menggunakan kebijakan moneter. Instrument kebijakan moneter yang ada saat ini menggunakan BI rate sebagai dasar dari semua kebijakan keuangan yang diambil, mulai dari operasi pasar terbuka, penetapan tingkat diskonto, dan penetapan giro wajib minimum. Sehingga salah satu karakteristik Indonesia, sejumlah besar penduduknya termasuk dalam kelompok yang hidup sedikit di atas garis kemiskinan, yang berarti bahwa kejutan inflasi relatif kecil bisa mendorong kebawah garis kemiskinan.
1. Operasi Pasar Terbuka
Dalam kerangka kerja ini, kebijakan moneter juga ditandai oleh transparansi dan akuntabilitas kebijakan kepada publik. Secara operasional, stance kebijakan moneter dicerminkan oleh penetapan suku
21 http://www. bi. go. id/id/moneter/inflasi/data/Default. aspx (1 januari 2016)
9 bunga kebijakan (BI Rate) yang diharapkan akan memengaruhi suku bunga pasar uang dan suku bunga deposito dan suku bunga kredit perbankan. Perubahan suku bunga ini pada akhirnya akan memengaruhi output dan inflasi. Sejak berlakunya dual Banking System di Indonesia, Bank Indonesia memiliki tugas untuk menjalankan operasi moneter ganda yaitu Sertifikat Bank Indonesia (SBI) berbasis suku bunga untuk konvensional dan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) berbasis fee untuk syariah.
22Namun yang terjadi saat ini, SBIS yang berbasis fee, juga mempertimbangkan suku bunga yang digunakan pada konvensional.BI dalam mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiahmelakukan berbagai kebijakan, namun perpaduan kebijakan
23yang digunakan menimbulkan krisis bertambah parah. Inilah sebuah dilema yang sampai saat ini belum terpecahkan. Bahkan mereka mengatakan kebijakan atau solusi yang ditawarkan oleh para ahli dalam memecahkan permasalahan inflasi dan pengangguran secara bersamaan justru menyebabkan efek sampingan yang lebih buruk dari penyakitnya itu sendiri.
24Karena yang diberikan hanya sebatas menghilangkan penyakit permukaan saja, sementara penyakit dalam nya masih belum. Penyakit dalam yang belum tersentuh adalah terkait dengan hakikat mata uang itu sendiri dan sistem
22 Peraturan Bank Indonesia nomor : 10/ 11 /PBI/2008 tentang sertifikat bank Indonesia syariah
23 Di Indonesia, sinergi kebijakan dalam rangka antisipasi inflasi ini dituangkan dalam Keputusan Menteri Keuangan yang menyatakan pengendalian inflasi akan dilakukan dalam suatu forum yang dikoordinasi oleh Menko Perekonomian, yang beranggotakan Menteri Keuangan, Gubernur BI, Menteri Perdagangan, dan menteri-menteri terkait. Pembahasan yang lebih lanjut tentang sinergi kebijakan antara pemerintah dengan otoritas moneter dapat dibaca pada Iskandar Simorangkir. Koordinasi Kebijakan Moneter dan Fiskal di Indonesia: Suatu Kajian dengan Pendekatan Game Theory. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, vol. 9, no. 3, Januari 2007.
24 Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus, Economic…., h. 322
10 yang melingkupinya, serta penyalahgunaan dari fungsi dasar uang sebagai alat tukar yang bertambah menjadi tidak hanya sebatas sebagai alat tukar, melainkan juga menjadi sebuah barang (komoditas) yang turut diperdagangkan dengan imbalan bunga (interest). Karena itu kebijakan moneter di Indonesia perlu ditinjau ulang untuk dapat memberikan hakikat dari kebijakan moneter itu sendiri. Dalam ekonomi Islam, inflasi juga bukan hal baru. Karena hal ini pernah terjadi pada masa Rasul yang dalam sejarah pengendalian yang baik dilakukan oleh Umar bin Khattab. Karena jika dilihat dari sejarah, pada awal Islam uang cukup stabil
25, namun tetap ada natural inflation. Maka tetap ada pengendalian inflasi dalam Islam dengan menggunakan kebijakan moneter. Kehadiran kebijakan moneter alternatif yang mampu mengendalikan inflasi sudah sangat mendesak dibutuhkan dan segera diaplikasikan. Namun tidak terlalu fanatisme.
26Jika yang terjadi di Indonesia saat ini menerbitkan SBIS yang masih mempertimbangkan tingkat suku bunga, maka sebaiknya ditinjau lagi penggunaan dari SBIS tersebut. Ekonomi Islam memberikan alternative bahwasannya ketika pemerintah hendak mengurangi uang yang beredar di masyarakat melalui kebijakan moneter kontraktif maupun ekspansif, maka SBIS yang diterbitkan harus bernilai investasi riil. Jadi terdapat keseimbangan antara sektor riil dan sektor moneter.
2. Penetapan Tingkat Diskonto
25 Al Sahid Sayid Mohammed Baqir al Shadr, Iqtishaduna, (Beirut : Dar al Fikr, 1389 H), h. 118-120
26 Muhammad bin Khaldun, Mukaddimah, (Beirut : Dar al Kitab, 2001), h. 256
11 Pengendalian yang selanjutnya diberikan oleh ekonomi konvensional yaitu menggunakan kebijakkan politik diskonto (menaikkan dan menurunkan suku bunga). Hal ini tetap dilakukan karena pengambilan bunga uang sangatlah logis sebagai kompensasi penurunan daya beli uang selama dipinjamkan atau yang beredar dimasyarakat untuk modal usaha. Serta uang yang dipinjaman tersebut berasal dari pihak bank yang telah diberikan kuasa oleh pemerintah. Sedangkan bunga atau interest itu sendiri adalah sejumlah uang yang dibayarkan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman;pemberi pinjaman harus diberi balas jasa atas hilangnya kesempatan konsumsi saat ini. Semakin besar tingkat bunga, hal ini diasumsikan konstan, semakin besar juga imbalan atas pemberian pinjaman uang. Jadi jumlah uang yang mau dipinjamkan akan meningkat sejalan dengan kenaikan tingkat bunga.
27Padahal ada hal lain yang dapat dilakukan selain dari yang disebutkan di atas. Dalam Islam ada solusi untuk tidak menggunakan bunga/interest dalam setiap transaksi yang dipergunakan, system moneter yang ada dapat menggunakan system tanpa bunga, misalnya bagi hasil, fee atau lainnya. Di samping itu juga bagi hasil bertujuan untuk menghindari pengunaan sistem yang menetapkan dimuka suatu hasil usaha, seperti penetapan bunga simpanan atau bunga pinjaman yang dilakukan didalam ekonomi konvensional, menghindari penggunaan sistem presentasi biaya terhadap pinjaman atau imbalan terhadap simpanan yang mengandung unsur melipatgandakan otomatis pinjaman /simpanan
27 Sigit Triandaru, Ekonomi Makro Pendekatan Kontemporer, (Jakarta : Salemba Empat, 2000, h. 138
12 tersebut hanya karena berjalannya waktu, sehingga ada ketidakmerataan pendistribusian kekayaan dan berakibat pada makin jauhnya kesejahteraan negara.
28Oleh karena itu Islam juga mempunyai cara lain didalam menanggulangi inflasi yaitu dengan adanya zakat. Zakat merupakan ibadah yang bernuansa pajak, atau pajak yang bernuansa ibadah, dimana suatu kewajiban bagi orang yang mampu dan dilaksanakan dibawah penguasaan negara dengan memiliki dua faktor (kepada Rabbnya dan kepemerintahan). Kesemua cara pengendalian inflasi menurut Islam yang telah disebutkan diatas memilki nilai return yang melebihi tingkat inflasi sehingga terbentuklah laju pertumbuhan ekonomi yang berjalan dengan baik karena uang dapat berputar dari orang kaya kepada orang miskin atau yang tidak mampu dan pada akhirnya inflasi dapat diatasi. Sebagai contoh upaya awal penerapan cara pengendalian inflasi menurut Islam ini tercatat di Pakistan dan Malaysia sekitar tahun 1940-an.
29Inflasi dikendalikan dengan tidak menggunakan bunga untuk ciptakan iklim usaha produktif.
3. Penetapan Cadangan Wajib Minimum
Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio) adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menambah jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio.Hal ini dilakukan dengan menaikkan atau menurunkan persentase cadangan wajib
28 Muhammad Syafi'i Antonio, Bank Syari‟ah….
29 M. Sholahuddin, Lembaga Ekonomi Keuangan & Keuangan Islam, Muhammadiyah University Press, Surakarta, 2006, h. 14
13 pada BI. Yang juga menstandarkan pada suku bunga BI. Padahal suku bunga merupakan instrumen yang menyebabkan ketidakseimbangan sektor riil dan moneter.Dalam sistem ekonomi syariah yang dikenal bukanlah sistem suku bunga melainkan sistem pembagian keuntungan dan kerugian (profit and loss sharing). Besar kecilnya pembagian keuntungan tergantung pada kegiatan investasi dan pembiayaan yang dilakukan di sektor riil. Hasil dari investasi dan pembiayaan yang dilakukan bank di sektor riil yang menentukan besar kecilnya pembagian keuntungan di sektor moneter. Ini berarti sektor moneter bergantung pada sektor riil.Contoh konkret instrumen kebijakan moneter Islam yang dilakukan Bank Indonesia misalnya giro wajib minimum (GWM) pada BI yang besarnya ditetapkan oleh BI berdasarkan prosentase tertentu dari dana pihak ketiga. DPK yang dimaksud yaitu dalam bentuk giro wadiah, tabungan mudharabah, deposito investasi mudharabah, dan kewajiban lain, Sertifikat investasi mudharabah antar bank syariah (Sertifikat IMA), dan sertifikat wadi‟ah Bank Indonesia (SWBI). Namun hal ini dirasakan belum berdampak secara maksimal bagi perekonomian bangsa Indonesia.
Berbeda dari tujuan ekonomi secara konvensional yang hanya bertujuan
pada keduniaan saja dan terbatas dengan instrumentnya, maka ekonomi Islam
lebih luas lagi. Tujuan pengendalian moneter dalam Islam adalah tercapainya
kondisi Full Employment yaitu kondisi seluruh faktor produksi dapat
dioptimalkan penggunannya, menjamin stabilitas nilai mata uang dan
stabilitas harga (mengendalikan inflasi) dan alat redistribusi kekayaan dimana
14 harta disinergiskan antara sektor keuangan dengan sektor riil. Indonesia sudah mengalami krisis ekonomi sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 1940an (ketika penjajahan jepang), tahun 1965 (disaat ambruknya pemerintahan Bung Karno), ketiga pada tahun 1997.
30Meskipun mendapat julukan The East Asian Miracle dan macannya Asia (Asian tiger), tidak lama berselang terjadilah guncangan (shock) ekonomi yang berawal dari sisi moneter. Dari sisi nilai tukar (exchange rate), pada tanggal 18 januari 1998 rupiah mencapai puncak kejatuhannya dengan menembus angka Rp. 16. 000 per 1 dolar AS.
31Dari sisi inflasi, angka inflasi mencapai 77,60 % dan PDB -13,20 %.
32Misalnya ketika Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014) memutuskan untuk mengurangi subsidi bahan bakar secara besar-besaran di akhir 2005 (dengan menaikan harga bahan bakar bersubsidi lebih dari dua kali lipatnya) karena tingginya harga minyak internasional, tindakan ini segera menyebabkan tingkat inflasi dua angka antara 14% sampai 19% (year- on-year) sampai Oktober 2006. Lebih lanjut lagi, inflasi inti menjadi tidak stabil karena efek ronde dua dari penyesuaian harga energi yang berlanjut ke perekonomian yang lebih luas (contohnya melalui kenaikan biaya-biaya transportasi). Hal tersebut merupakan contoh inflasi yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang kemudian pada awal tahun 2015, Presiden Joko Widodo memiliki keuntungan karena harga minyak mentah global telah turun drastis sejak pertengahan 2014 karena lambatnya permintaan global sedang-
30 Lihat Wawancara Prof. Sumitro Djojohadikusumo, dalam http://www. tempo. co.
id/har/ti/juni10-1. htm. Lihat juga Sejarah BI; Moneter, http://www. bi. go. id
31 Ismail Yusanto. Mencari Solusi Krisis Ekonomi. Dalam buku Dinar Emas Solusi Krisis Moneter, cet. I (Jakarta: PIRAC, SEM Institute, Infid, 2001), hal. 3
32 http://www. bi. go. id/id/moneter/inflasi/pengenalan/Contents/Default. aspx
15 kan suplai kuat karena angka produksi minyak yang terus tinggi di negara OPEC dan revolusi gas shale AS. Pemerintah Indonesia tetap menentukan harga bensin (disesuaikan setiap kuartalnya) namun harga berfluktuasi sejalan harga internasional. Meski begitu, karena harga minyak mentah dunia agak pulih pertengahan 2015, inflasi Indonesia tetap tinggi di pertengahan 2015 dan menurun di akhir 2014. BI tetap memprediksi inflasi 2015 sekitar 4%.
33Dari data tabel yang terdapat dalam footnote 33 ini, dapat dilihat bahwa dari tahun 2013 hingga 2017, inflasi yang terjadi terkadang jauh dari target(ITF).
Tentu saja hal ini terjadi karena sebab yang bisa dan tidak diprediksikan.
Hampir semua instrumen moneter pelaksanaan kebijakan moneter konvensional underlying-nya mengandung unsur bunga. Oleh karena itu instrumen konvensional yang mengandung unsur bunga dengan sekuritas bunga yang ditetapkan di depan) dirasakan tidak maksimal. Adapun penyebaran inflasi terdapat dalam gambar berikut ini :
33Inflasi di Indonesia 2013-2017:
20
13
20 14
2 015
2 016
2 017 Inflasi
(perubahan % tahunan)
4.5 +1%
4.5 +1%
4 +1%
4 +1%
4 +1%
Target Bank Indonesia (perubahan % tahunan)
8,3 8%
8,3 6%
3 ,35%
3 ,02%
3 ,61%
Sumber: Bank Dunia dan Bank Indonesia
16 Gambar 1. Peta Inflasi Regional 2017 (Sumber : BPS)
Pada gambar 1 di atas terlihat bahwasannya penyebaran inflasi yang terjadi di Indonesia tidaklah merata. Daerah yang paling rendah mengalami inflasi berdekatan dengan daerah yang inflasinya cukup tinggi. Tentu saja ini tidak bisa disamakan penanganannya, karena sebabnya bisa jadi berbeda.
Dalam ekonomi Islam, inflasi dikendalikan dengan tidak menggunakan unsur bunga sama sekali. Tetapi sejumlah instrument kebijakan moneter konvensional menurut sejumlah pakar ekonomi Islam masih dapat digunakan untuk mengontrol uang dan kredit, seperti Reserve Requirement, overall and selecting credit ceiling, moral suasion and change in monetary base.
Di Indonesia kesatabilan ekonomi terus memburuk yang direfleksikan
dalam pasar komoditi, saham dan pertukaran nilai mata uang. Inflasi terus
naik dan kesenjangan social ekonomi makin lebar. Pemerintah juga makin
sibuk melayani golongan kaya yang jumlahnya angat kecil dibandingkan
golongan kecil yang jumlahnya jauh lebih banyak. Konsep yang sampai
sekarang paling menyengsarakan adalah bunga/interest yang diberlakukan
17 dalam seluruh transaksi ekonomi/perbankan konvensional. Keburukan dan kebiadaban sistem ekonomi dan perbankan konvensional terefleksikan dengan system berbasis bunga ini. Karena terlalu kuat tembok penghalang ini hampir-hampir tidak ada yang mampu merobohkannya. Ini adalah bom waktu, yang satu saat akan meledak dan hancur. Lalu muncullah orde ekonomi yang menjamin kesejahteraan dan keadilan bagi semua.
34Bila tidak memperhitungkan penyesuaian harga yang ditetapkan pemerintah, ada dua puncak inflasi tahunan yang biasanya terjadi di Indonesia. Periode Desember-Januari selalu menjadi waktu kenaikan harga- harga karena perayaan-perayaan Natal dan Tahun Baru. Selain itu, banjir yang sering terjadi di bulan Januari (karena puncak musim hujan) menyebabkan gangguan jalur-jalur distribusi di beberapa daerah dan kota, dan karenanya menyebabkan biaya logistik yang lebih tinggi. Puncak inflasi kedua terjadi di periode Juli-Agustus. Tekanan-tekanan inflasi di kedua bulan ini terjadi sebagai dampak dari masa liburan, bulan suci puasa umat Muslim (Ramadhan), perayaan-perayaan Idul Fitri dan awal tahun ajaran baru.
Peningkatan yang signifikan bisa dideteksi dalam belanja makanan dan barang-barang konsumen lain (seperti baju, tas dan sepatu), diikuti dengan tindakan para retailer yang menaikkan harga. Kurangnya kuantitas dan kualitas infrastruktur di Indonesia juga mengakibatkan biaya-biaya ekonomi yang tinggi. Hal ini menghambat konektivitas di negara kepulauan ini dan karenanya meningkatkan biaya transportasi untuk jasa dan produk (sehingga
34 Umer Chapra, Sistem Moneter Islam, (Jakarta :Gema Insani Press, 2000), h. 66
18 membuat biaya logistik tinggi dan membuat iklim investasi negara ini menjadi kurang menarik). Gangguan distribusi karena isu-isu yang berkaitan dengan infrastruktur sering dilaporkan dan membuat Pemerintah menyadari pentingnya berinvestasi untuk infrastruktur negara ini.
Harga-harga bahan pangan sangat tidak stabil di Indonesia (rentan terhadap kondisi cuaca) dan kemudian meletakkan beban yang besar kepada rumah tangga-rumah tangga yang berada di bawah atau sedikit di atas garis kemiskinan. Rumah tangga-rumah tangga ini menghabiskan lebih dari setengah dari pendapatan yang bisa dibelanjakan mereka untuk makanan, terutama beras. Oleh karena itu, harga-harga makanan yang lebih tinggi menyebabkan inflasi keranjang kemiskinan yang serius yang mungkin meningkatkan persentase penduduk miskin. Panen-panen yang gagal dikombinasikan dengan reaksi lambat dari Pemerintah untuk menggantikan produk-produk makanan lokal dengan impor adalah penyebab tekanan inflasi.
Dalam sistem perekonomian modern peranan suatu lembaga pemegang
otoritas meneter sangat vital karena memiliki nilai penting dalam mengendali-
kan nilai tukar uang, mengendalikan arah trend/tingkat harga dan jumlah
output dalam perekonomian bangsa. Al-Ghazali memandang perlu adanya
instrument lembaga tersebut hal ini disebabkan untuk memaksimalkan
sumber daya yang ada agar dapat dialokasikan pada kegiatan ekonomi
produktif. Karena itu instrumen kebijakan moneter dalam Islam ditujukan
terutama untuk mempengaruhi besar kecilnya permintaan uang agar dapat
dialokasikan pada peningkatan produktifitas ekonomi secara keseluruhan.
19 Untuk itu pemerintah perlu menerapkan strategi dues idle fund (pajak terhadap dana menganggur).
35Dalam pemerintahan Islam, kebijakan mengatur keuangan telah dikenal sejak zaman Rasulullah SAW hingga zaman pertengahan yaitu berdirinya Baitul Maal sebagai lembaga pengelolaan negara. Kebijakan memberikan dampak positif pada investasi, penawaran agregat, dan secara tidak langsung memberikan dampak pada tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
36Jika tujuan normatif telah ditentukan, tidak bisa ada kebebasan tak terbatas untuk mendefinisikan rasionalitas sebagaimana dalam ekonomi konvensional.
Dengan demikian, perilaku rasional secara otomatik akan teridentifikasi dengan perilaku yang kondusif bagi realiasasi tujuan normatif tersebut.
37Sebenarnya dapat saja memenuhi kepentingan diri sendiri dalam berbagai cara, baik ekonomi maupun nonekonomi, yang didasarkan kepada perhitungan uang atau selain uang. Namun, untuk menyelaraskan dengan orientasi materinya, ilmu ekonomi mengesampingkan semua aspek kepentingan diri nonekonomi itu, sementara itu ia hanya menyamakan rasionaliti dengan aspek ekonomi saja. Bahkan pengertian ekonomi di sini, disederhanakan lagi hanya dikaitkan dengan hitungan uang.
Kebijakan moneter BI ditujukan untuk mengelola tekanan harga yang berasal dari sisi permintaan aggregat (demand management) relatif terhadap kondisi sisi penawaran. Kebijakan moneter tidak ditujukan untuk merespon
35 Ahmad Dimyati. Teori Keuangan Islam Rekonstruksi Metodologis Terhadap Teori Keuangan Al-Ghazali. (Yogyakarta: UII Press, 2008), h. 115
36 Adiwarman Karim. Ekonomi Makro …. h. 247
37 Umer Chapra, Sistem ….. , h. 19
20 kenaikan inflasi yang disebabkan oleh faktor yang bersifat kejutan yang bersifat sementara (temporer) yang akan hilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Sementara inflasi juga dapat dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari sisi penawaran ataupun yang bersifat kejutan (shocks) seperti kenaikan harga minyak dunia dan adanya gangguan panen atau banjir Dari bobot dalam keranjang IHK, bobot inflasi dipengaruhi faktor kejutan diwakili kelompok volatile food dan administered prices(mencakup +40%).
Dengan demikian, kemampuan Bank Indonesia untuk mengendalikan inflasi sangat terbatas apabila terdapat kejutan (shocks) yang besar seperti ketika terjadi kenaikan harga BBM tahun 2005 dan 2008 sehingga menyebab- kan adanya lonjakan inflasi. Karakteristik inflasi Indonesia yang cukup rentan terhadap kejutan-kejutan (shocks) dari sisi penawaran memerlukan kebijakan khusus untuk permasalahan tersebut.
Gambar 2. Data Inflasi Indonesia tahun 2001-2015
21 Indonesia sebenarnya mendapat keuntungan besar dari keterbukaannya pada perekonomian dunia. Indonesia menikmati hubungan yang sangat dekat dengan bantuan komunitas internasional, baik donor bilateral maupun organisasi multinasional.
38Perkembangan perbankan syari‟ah dengan cepat, bisa dilihat dari jumlah cabang bank syari‟ah baik dari bank umum yang berdasarkan syari‟ah maupun divisi syari‟ah dari bank umum konvensional.
Hal ini mengharuskan BI sebagai otoritas moneter menaruh perhatian dan lebih berhati-hati untuk memacu pertumbuhan keuangan syari‟ah ini.
Menurut al-Maqrizi inflasi terjadi ketika harga-harga secara umum mengalami kenaikan dan berlangsung terus-menerus.
39Dalam hal ini inflasi disebabkan oleh beberapa hal diantaranya natural inflation (inflasi yang diakibatkan oleh sebab-sebab alamiah, dimana orang tidak mempunyai kendali atasnya atau dalam hal mencegahnya, seperti paceklik, perang, dan bencana alam), human error inflation (inflasi yang disebabkan oleh kesalahan dari manusia itu sendiri, diantaranya korupsi dan administrasi yang buruk, pajak yang berlebihan, pencetakkan uang dengan maksud menarik keuntungan yang berlebihan).
40Sehingga timbullah suatu permasalahan dimana barang dan jasa mengalami kelangkaan karena para produsen enggan untuk memproduksi barang yang disebabkan kenaikan harga-harga barang pendukung untuk menghasilkan barang dan jasa tersebut. Sementara konsumen atau masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk
38 Aulia pohan, Kerangka Kebijakan Moneter dan Implementasinya di Indonesia, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2008), h. 100-101
39 Al Maqrizi, Ighatsah al Ummah bi Kasyf al Ghummah, (Kairo : Maktabah al Tsafaqah al Diniyah, 1986), h. 30
40 Ibid
22 sejumlah barang dan jasa yang sama karena sangat membutuhkannya.
41Dengan kata lain uang yang beredar dimasyarakat meningkat, sedangkan kemampuan mata uang itu sendiri untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa mengalami penurunan atau decreasing purchasing power of money.
42Berdasarkan problema tersebut, sistem ekonomi konvensional maupun Islam memberikan pengendalian yang berbeda.
Para ekonom Islam menyatakan adanya keterkaitan antara manusia, Allah dan tujuan utama. Jika ketiga unsur itu sudah ada maka yang akan didapatkan yaitu keberkahan. Dari situ maka kesejahteraan yang diidamkan masyarakat akan terwujud. Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa inflasi merupakan kenaikan harga secara umum dari barang/ komoditas dan jasa selama periode waktu tertentu. Muncul sebagai akibat diberlakukannaya mata uang yang nilai intrinsiknya lebih rendah dari nilai nominalnya. Selain itu inflasi juga memberikan dampak-dampak bagi masyarakat dan negara, adapun dampak-dampaknya antara lain adalah :
1. Dampak Negatif
a. Bila harga secara umum naik terus-menerus maka masyarakat panik, sehingga perekonomian tidak normal, karena ada masyarakat yang berlebihan uang memborong sementara yang kekurangan tidak bisa membeli, akibatnya negara rentan pada kekacauan yang akan ada.
41 Euis Amalia, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam dari Masa Klasik Hingga Kontemporer, (Jakarta : Pustaka Asatrus, 2005), h. 224
42 Muhammad Syafi'i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktek, (Jakarta : Gema Insani, 2004), h. 75-76
23 b. Produsen cenderung memanfaatkan kesempatan kenaikan harga untuk
memperbesar keuntungan dengan mempermainkan harga di pasaran.
c. Sebagai akibat dari kepanikan maka masyarakat cenderung menarik tabungan guna membeli dan menumpuk barang, sehingga bank di rush, akibatnya bank kekurangan dana sehingga dana investasi rendah.
d. Bila inflasi berkepanjanagn produsen banyak yang bangkrut karena produknya relatif semakin mahal sehingga tak ada daya beli.
e. Distribusi barang relative tidak adil karena adanya penumpukan dan konsentrasi produk pada daerah yang masyarakatnya dekat dengan sumber produksi dan yang masyarakatnya memiliki banyak uang.
f. Jurang antara kemiskinan dan kekayaan masyarakat semakin nyata yang mengarah pada sentimen dan kecemburuan ekonomi yang dapat berakhir pada penjarahan dan perampasan.
2. Dampak Positif
a. Masyarakat akan semakin selektif dalam mengkonsumsi, produksi akan diusahakan seefisien mungkin dan konsumtifme dapat ditekan.
b. Inflasi yang berkepanjangan dapat menumbuhkan industri kecil dalam negeri menjadi semakin dipercaya dan tangguh.
c. Tingkat pengangguran cenderung akan menurun karena masyarakat tergerak melakukan produksi dengan mendirikan/membuka usaha.
Dalam konsepsi Islam, orientasi ekonomi haruslah memperjuangkan
nasib rakyat kecil serta kesejahteraan rakyat banyak, yang dalam teori ushul
fiqh dinamakan al maslahah al ammah. Sedangkan mekanisme yang
24 digunakan untuk mencapai kesejahteraan itu tidaklah ditentukan format dan bentuknya. Bahkan al Ghazali menyatakan bahwa semua bidang (terutama pasar) harus berfungsi berdasarkan etika dan moral pelakunta.
43Karena itu, sistem kapitalisme yang tidaklah bertentangan dengan Islam, dapat dijadikan rujukan pengambilan kebijakan dalam pengendalian inflasi. Inflasi dapat menguntungkan golongan masyarakat tertentu tetapi merugikan lainnya.
Maka setiap negara berusaha menghindari inflasi dengan berbagai kebijakan.
Ekonom Islam Taqiuddin Ahmad bin Ali Al Maqrizi (1364-1441 M), yang merupakan salah satu murid Ibnu Khaldun, menggolongkan inflasi menjadi dua: inflasi karena berkurangnya persediaan barang dibandingkan (meningkatnya) kebutuhan barang (natural inflation) dan inflasi karena kesalahan manusia (human error inflation).
44Analisa terhadap natural inflation ini dapat menggunakan persamaan Irving Fisher: MV = PT Di mana, M : jumlah uang beredar, V : kecepatan peredaran uang, P : tingkat harga dan T : jumlah barang dan jasa yang diperdagangkan. Natural inflation ini dapat diartikan sebagai berikut:
gangguan terhadap jumlah barang dan jasa yang diproduksi (T terganggu), sedang M dan V tetap; naiknya daya beli masyarakat secara riil, sehingga meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa, sehingga meningkatkan peredaran uang (V meningkat), sedang M dan T tetap. Human Error Inflation menurut Al-Maqrizi disebabkan tiga hal: korupsi dan administrasi yang
43 Abu Hamid al Ghazali, Kimya-e-Sa‟adat, (Lahore : Naashraan-e-Quran Ltd, 1973), h.
351
44 Al Maqrizi, Ighatsah al Ummah bi Kasyf al Ghummah, (Kairo : Maktabah al Tsafaqah al Diniyah, 1986), h. 30
25 buruk, pajak yang berlebihan (excessive tax), Pencetakan uang dengan maksud menarik keuntungan yang berlebihan (excessive seignorage).
Kebijakan moneter sebenarnya bukan hanya mengutamakan suku bunga.
Bahkan sejak zaman Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin, kebijakan moneter dilaksanakan tanpa menggunakan instrumen bunga sama sekali.
Perekonomian Jazirah Arabia ketika itu adalah perekonomian dagang, bukan ekonomi yang berbasis sumber daya alam; Minyak bumi belum ditemukan dan sumber daya alam lainnya terbatas. Transaksi tidak tunai diterima luas dikalangan pedagang. Cek dan promissory notes lazim digunakan.
Sistem moneter mengunakan bimetallic standar, dengan emas dan perak (dalam bentuk uang dirham dan dinar) sebagai alat pembayaran yang syah.
Nilai tukar emas dan perak pada masa ini relatif stabil dengan nilai kurs dinar – dirham 1 : 10. Permintaan akan uang dilandasi hanya oleh dua motif, yaitu untuk transaksi dan berjaga-jaga.
45Namun dapatkah hal ini diimplementasikan di Indonesia, yang mana kebijakan moneternya menggunakan instrument bunga sebagai hal utama, meskipun sudah ada beberapa instrument yang tidak menggunakan namun tetap berstandar pada BI rate. Secara prinsip, tujuan kebijakan moneter Islam tidak berbeda dengan tujuankebijakan moneter konvensional yaitu menjaga stabilitas dari mata uang (baik secara internal maupun eksternal) sehingga pertumbuhan ekonomi yang merata yang diharapkan dapat tercapai. Stabilitas nilai uang tak terlepas dari tujuan ketulusan dan keterbukaan dalam berhubungan dengan manusia.
45 Adiwarman A. Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada : 2006)
26 Dalam sebuah perekonomian Islam, permintaan terhadap uang akan lahir terutama dari motif transaksi dan tindakan berjaga-jaga yang ditentukan pada umumnya oleh tingkatan pendapatan uang dan distribusinya. Permintaan terhadap uang karena motif spekulatif pada dasarnya didorong oleh fluktuasi suku bunga pada perekonomian kapitalis. Suatu penurunan dalam suku bunga dibarengi dengan harapan tentang kenaikannya akan mendorong individu dan perusahaan untuk meningkatkan jumlah uang yang dipegang. Karena suku bunga seringkali berfluktuasi pada perekonomian kapitalis, terjadilah perubahan terus-menerus dalam jumlah uang yang dipegang oleh publik.
Penghapusan bunga dan kewajiban bayar zakat dengan laju 2,5% / tahun tidak saja akan meminimalkan permintaan spekulatif terhadap uang dan mengurangi efek suku bunga, tapi juga memberikan stabilitas bagi permintaan total terhadap uang. Hal ini diperkuat sejumlah faktor yaitu
46: 1. Aset pembawa bunga tidak akan tersedia dalam sebuah perekonomian
Islam, sehingga orang yang hanya memegang dana likuid menghadapi pilihan apakah tidak mau terlibat dengan resiko dan tetap memegang uangnya dalam bentuk cash tanpa memperolah keuntungan, atau turut berbagi resiko dan menginvestasikan uangnya pada aset bagi hasil untung.
2. Peluang investasi jangka pendek dan panjang dengan berbagai tingkatan resiko akan tersedia bagi para investor tanpa memandang apakah mereka adalah pengambil resiko tinggi atau rendah, sejauh mana resiko yang dapat diperkirakan akan diganti dengan laju keuntungan yang diharapkan.
46 Umer Chapra. Sistem ... h. 98.
27 3. Barangkali dapat diasumsikan bahwa tak akan ada pemegang dana yang cukup irasional untuk menyimpan sisa uang setelah dikurangi keperluan transaksi dan berjaga-jaga selama ia dapat menggunakansisanya melakukan investasi pada aset bagi hasil untuk menggantikan sebagian efek erosif zakat dan inflasi, sejauh dimungkinkan perekonomianIslam.
4. Laju keuntungan (bebeda dari laju suku bunga) tidak akan ditentukan di depan. Satu-satunya yang akan ditentukan di depan adalah rasio bagi hasil, ini tidak akan mengalami fluktuasi, seperti halnya suku bunga karena ia akan didasarkan pada konvensi ekonomi dan sosial, dan setiap ada perubahan didalamnya akan terjadi lewat tekanan kekuatan-kekuatan pasar sesudah terjadi negosiasi yang cukup lama. Jika prospek ekonomi cerah, keuntungan secara otomatis akan meningkat. Karena itu, tidak ada apa pun yang didapat dengan menunggu.
Secara teori, kebijakan moneter ketat yang diambil seharusnya dapat mengurangi/menekan laju inflasi dengan cukup baik. Sebagaimana yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada tahun 2014. Bank Indonesia menempuh kebijakan moneter ketat dengan mempertahankan BI Rate sebesar 7,5%
sampai dengan November 2014 untuk membawa inflasi ke kisaran sasarannya dan menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat.
Menyikapi kenaikan ekspektasi inflasi pascakebijakan kenaikan harga BBM
bersubsidi dan peningkatan tekanan rupiah, Bank Indonesia menaikkan BI
Rate menjadi 7,75%. Bank Indonesia juga menempuh kebijakan nilai tukar
yang sesuai dengan fundamentalnya, melanjutkan upaya pendalaman pasar
28 keuangan, memperkuat operasi moneter, kebijakan lalu lintas devisa, dan jarring pengaman keuangan internasional. Namun hal ini dirasa tidak optimal karena laju inflasi dengan tingkat BI rate yang cukup tinggi tersebut belum juga bisa mengendalikan inflasi secara maksimal.
Terlihat bahwa ini sebenarnya bisa diatasi dengan instrument moneter yang ada dalam ekonomi Islam, yaitu dengan adanya zakat. ketika uang yang ada di masyarakat cukup banyak, pemerintah tinggal menghitung seberapa banyak yang dimiliki masyarakat yang tentunya akan menguranginya dengan memungut zakat. Dana zakat yang terkumpul akan mengurangi jub yang kemudian pemerintah dapat memberdayakannya menjadi sesuatu yang produktif untuk para mustahik zakat.
Sistem ekonomi yang ada saat ini sudah dikuasai oleh kaum kapitalis dan
liberalis. Maka permasalahan ekonomi belum mampu teratasi hingga ke akar-
akarnya. Banyak permasalahan ekonomi yang kelihatannya „klasik‟ namun
jika dibiarkan justru sangat mengganggu jalannya roda perekonomian yang
akibatnya berimbas pula pada tatanan hidup bernegara. Misalnya mengenai
inflasi, yang merupakan masalah klasik yang pengendaliannya bisa dikatakan
butuh bukan hanya sekedar solusi yang sudah ada.Ini membuktikan bahwa
sistem ekonomi yang ada saat ini bisa dikatakan gagal dijadikan solusi
mengenai permasalahan kehidupan perekonomian bangsa. Maka ekonomi
Islam sebuah solusi bukan hanya sekedar ekonomi yang semu. Di Indonesia
misalnya dari sisi nilai tukar (exchange rate), pada tahun 1998 rupiah
mencapai puncak kejatuhannya dengan menembus angka Rp. 16.800 per 1
29 dolar AS, dan dari sisi inflasi, angka inflasi mencapai 77,60 % dan pertumbuhan ekonomi -13,20 %.Antara tahun 1965 sampai 1997 perekonomian Indonesia tumbuh dengan persentase rata-rata per tahunnya hampir tujuh persen. Pencapaian ini memampukan perekonomian Indonesia bertumbuh dari peringkat „negara berpendapatan rendah‟ menjadi „negara berpendapatan menengah ke bawah‟. Kendati begitu, Krisis Finansial Asia yang meletus pada akhir tahun 1990-an mengakibatkan dampak sangat negatif untuk perekonomian Indonesia, menyebabkan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 1998 dan pertumbuhan yang terbatas pada 0,3% di 1999. Antara periode 2000-2004, pemulihan ekonomi terjadi dengan rata-rata pertumbuhan PDB pada 4,6% setiap tahunnya dan memuncak pada 6,5% di 2011. Kendati begitu, setelah 2011 ekspansi perekonomian Indonesia mulai sangat melambat.
Berdasarkan data tahunan sekunder dari IFS dan IMF, diduga nilai tukar dan PDB memiliki pengaruh positif dan negatif terhadap inflasi. Produk Domestik Bruto (PDB) adalah nilai seluruh barang dan jasa yang diproduksi suatu Negara dalam suatu periode tertentu. Hasil dari penelitian ini adalah nilai tukar mempengaruhi inflasi dengan hubungan positif, nilai tukar mempengaruhi inflasi dalam jangka panjang dan PDB mempengaruhi inflasi dalam jangka panjang, serta secara bersama-sama mempengaruhi inflasi dalam jangka panjang.
Jika digambarkan dalam grafik, kaitan antara inflasi dan PDB adalah
sebagai berikut :
30 Gambar 3. Kaitan antara PDB dan inflasi
Dari grafik tersebut dapat terlihat bahwa produk domestic bruto memiliki hubungan yang positif dengan inflasi. Hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan sosial, berupa Jumlah penduduk miskin masih cukup tinggi (+/-30 juta jiwa-12,6% dari total penduduk), angka pengangguran terbuka masih sekitar +/-15, juta orang (6,5% dari total penduduk), distribusi pendapatan yang belum merata, 40 juta orang Indonesia belum terlayani oleh perbankan, dan 27 juta usaha mikro dari 54 juta UMKM belum mendapatkan kredit perbankan. Berikut ini data mengenai kinerja perekonomian di Indonesia :
Kinerja Perekonomian 2008 2009 2010 2011 2012 2013 1) Pertumbuhan PDB 6.0% 4.5% 6.1% 6.5% 6.2% 6.5%
2) Inflasi (akhir tahun) 11.1% 2.8% 7.0% 3.8% 4.3% 5.5%
3) Inflasi (rata-rata) 9.8% 4.9% 5.1% 5.4% 4.3% 4.6%
4) USD/IDR (akhir tahun) 11,12 9,404 8,996 9,069 9,793 9,500
0,00%2,00%
4,00%
6,00%
8,00%
10,00%
12,00%
2008 2009 2010 2011 2012 -2013
pdb inflasi
31 5) USD/IDR (rata-rata) 9,778 10,359 9,078 8,768 9,410 9,829 6) BI rate (akhir tahun) 9.25% 6.50% 6.50% 6.00% 5.75% 5.75%
7)
Neraca perdagangan (USD milyar)22.9 30.9 30.6 35.3 8.4 17.0 8)
Neraca transaksi berjalan (USD milyar)0.1 10.6 5.7 2.1 -24.2 -14.0 9) Cadangan devisa
(USD milyar)51.6 66.1 96.4 110.1 112.8 125.0
Sumber: Badan Pusat Statistik, Bloomberg, Standard Chartered Research Tabel 1. Kinerja Perekonomian Indonesia
Jika PDB naik, maka jumlah uang beredar akan meningkat dan akan menyebabkan kenaikan harga (inflasi), salah satu faktor yang menyebabkan kenaikan harga adalah permintaan agregat > penawaran agregat (inflationary gap). Jika PDB naik maka secara tidak langsung memperkuat perekonomian suatu negara, dengan berkembangnya sektor perekonomian, maka para produsen akan memperbanyak produksinya guna meningkatkan supply barang dan jasa ke masyarakat. Jika penawaran agregat > permintaan agregat akan menyebabkan menurunnya harga. Peran perbankan syariah terhadap perekonomian dapat dilihat dari berbagai macam indikator dan sudut pandang, salah satunya adalah dari peran perbankan syariah dalam transmisi kebijakan moneter.
Mengenai masalah kenaikan harga barang-barang yang terjadi di
Indonesia. Pemerintah merapatkan, merumuskan, serta memutuskan arah
kebijakan apa yang tepat untuk mengatasi hal ini. Padahal jika dikaji, Islam
dengan sistem ekonominya yang mumpuni yaitu ekonomi Islam sudah lebih
dulu menjelaskan langkah tepat dalam mengambil kebijakan mengenai
32 permasalahan tersebut. Sehingga kebijakan moneter yang ada saat ini tidak semuanya perlu digantikan dengan yang baru, hanya hal yang tidak sesuai dengan syariah Islam yang perlu dicarikan solusi agar lebih dapat mengendalikan inflasi. Yaitu tidak menstandarkan pada BI rate, dengan begitu instrument bebas bunga dapat lebih dimaksimalkan lagi, kemudian memaksimalkan instrument ekonomi Islam seperti zakat, infak dan sedekah untuk dapat menjaga kestabilan nilai rupiah itu sendiri. Yang pada akhirnya pergerakan pada sektor riil akan lebih maksimal lagi.
Hampir semua instrumen moneter pelaksanaan kebijakan moneter konvensional, misalnya surat berharga, yang menjadi underlying-nya mengandung unsur bunga. Oleh karena itu instrumen-instrumen konvensional yang mengandung unsur bunga (bank rates, discount rate, open market operation dengan sekuritas bunga yang ditetapkan didepan) tidak dapat digunakan pada pelaksanaan kebijakan moneter berbasis Islam. Namun instrumen moneter syari‟ah seperti SBIS (sertifikat Bank Indonesia syari‟ah), SBSN dan FASBIS (fasilitas simpanan Bank Indonesia syariah ) belum begitu berpengaruh pada kebijaksanaan moneter di Indonesia.
Hal ini bisa terlihat dari persentase pada tabel pengumuman hasil lelang SBI dan SBIS. Selain itu, dilihat dari laporan keuangan Bank Indonesia 2014, beban operasi moneter 2014 terdiri dari beban operasi moneter konvensional sebesar Rp21.691.645 juta dan beban operasi moneter syariah sebesar Rp 1.054.449 juta.
47Beban operasi moneter konvensional adalah beban yang
47 Annual Financial Statements of Bank Indonesia 2014, h. 3
33 berbasis bunga, sedangkan beban operasi moneter Syariah adalah pembayaran imbalan SBIS. Kedua pembayaran ini akan memicu inflasi apabila sumber dana untuk pembayarannya bukan berasal dari sektor riil.
BI selaku otoritas moneter melakukan kebijakan moneter untuk
mengendalikannya dengan menggunakan instrumen moneter. Di Indonesia
telah digunakan instrumen moneter syari‟ah. Dalam operasi pasar terbuka,
Walaupun pencapaian tujuan akhirnya tidak berbeda, namun dalam
pelaksanaannya secara prinsip, moneter syari‟ah berbeda dengan yang
konvensional terutama dalam pemilihan target dan instrumennya. Namun
instrumen moneter syari‟ah yang digunakan saat ini (SBIS) dirasakan belum
efektif, terlihat dari data berikut. Padahal seharusnya ini dapat berjalan
dengan baik untuk mengendalikan inflasi. karena peran dari instrumen
moneter syari‟ah baru sebatas mengatur jumlah uang beredar dan belum
menggerakkan sektor riil.
34 Tabel 2. Pengumuman Hasil Lelang SBI dan SBIS
48Sertifikat Bank Indonesia Syariah hadir sebagai instrumen kebijakan alternatif dalam pengendalian moneter. Penggunaan akad Ju‟alah dalam SBIS telah memiliki dasar hukum yang jelas. Akan tetapi, sebetulnya bukan hanya kesesuaian akad saja yang dilihat, tetapi lebih harus diihat apakah instrumen SBIS ini telah benar-benar dapat mendatangkan manfaat atau malah berpotensi mendatangkan mafsadat. Sistem Ju‟alah yang cukup menggiurkan dengan tingkat imbalan yang dipersamakan dengan diskonto SBI (terlihat
48 Sumber : http://www.bi.go.id/id/moneter/lelang-sbi/Default.aspx
35 dalam tabel baris ke lima) menjadi hal yang menarik minat perbankan untuk menyimpan dananya dalam bentuk SBIS. Hal ini tentu saja akan menyebabkan berkurangnya aliran uang untuk sektor produksi. Ekonomi Syariah tidak hanya fokus kepada sektor moneter tetapi juga menghendaki perkembangan di sektor riil, SBIS dengan akad ju‟alah perlu untuk ditinjau kembali agar keseimbangan perkembangan sektor riil dan moneter tercapai.
Adapun negara lain yang telah mengimplementasikan instrument moneter syari‟ah ini antara lain : Bangladesh (bank-bank Islam diizinkan untuk memperbaiki rasio pembagian laba dan mark-up secara independen sepadan dengan kebijakan mereka sendiri dan lingkungan perbankan.Kebebasan dalam memperbaiki PLS rasio dan mark-up tarif memberikan ruang bagi bank-bank Islam untuk mengikuti prinsip-prinsip Syari'ah independensi pendently untuk mewujudkan tujuan dari Syariah Islam),
49Mesir (menggunakan prinsip syari‟ah dalam pola keuangan bahkan bisa memberikan efek positif pada keuangan negara dari dana wakaf al Azhar), Malaysia, Kuwait, Sudan, Uzbekistan (empat negara ini menggunakan instrument moneter syari‟ah dalam perekonomian negaranya dengan dipadukan instrument moneter konvensional, namun yang syari‟ah cukup efektif juga karena aqad yang digunakannya berbasis pada share base investment lebih pada mudharabah dan musyarakah, sehingga selain sektor keuangannya bergerak positif, sektor riil produksinya pun ikut positif).
49AwwalSarker, Moneter Policy and Islamic Bank in Bangladesh, International Journal of Islamic Financial Services Vol. 2 No.1
36 Bank Indonesia sebagai otoritas moneter tertinggi di Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Tujuan ini sebagaimana tercantum dalam UU No. 3 tahun 2004 pasal 7 tentang Bank Indonesia. Koordinasi juga dilakukan oleh Bank Indonesia dan Pemerintah untuk mengendalikan inflasi.
Hal tersebut dapat dilihat pada gambar (Bank Indonesia, 2015) berikut ini:
Gambar 4. Koordinasi Pengendalian Inflasi di Indonesia
50Dari gambar 4 di atas dapat dilihat bahwasannya pemerintah harus bisa mengendalikan inflasi dengan menggunakan intrumen moneter yang ada.
Secara operasional, pengendalian sasaran-sasaran moneter tersebut menggunakan instrumen-instrumen, antara lain operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun valuta asing, penetapan tingkat diskonto, penetapan cadangan wajib minimum, dan pengaturan kredit atau pembiayaan. Bank Indonesia juga dapat melakukan cara-cara pengendalian moneter berdasarkan Prinsip Syariah.
Penelitian ini penting untuk dilakukan untuk melihat seberapa efektif pengendalian inflasi dengan menggunakan instrumen moneter syari‟ah.
50 Bank Indonesia tahun 2015
37 Karena inflasi yang dikendalikan dengan menggunakan instrumen konvensional dirasa belum berhasil. Hal ini bisa dilihat dari data inflasi di Indonesia dari tahun 2013-2017 di mana inflation targeting framework (ITF) selalu tidak sesuai dengan yang terjadi. Berdasarkan uraian diatas penelitian ini sangat penting untuk dilakukan sehingga nantinya akan mengetahui bagaimana sesungguhnya pengendalian inflasi yang sesuai dengan syari'at Islam dan pandangannya pada kebijakan moneter yang ada di Indonesia selama ini serta apa yang dapat diimplementasikan pada kebijakan moneter di Indonesia yang dapat dilihat dalam perspektif ekonomi Islam. Maka dari itu, judul penelitian ini pengendalian inflasi dalam perspektif ekonomi Islam studi kritis implikasi penerapan instrumen moneter syari‟ah di Indonesia.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah, maka berikut adalah rumusan masalah dalam penelitian ini :
1. Bagaimanakah pengendalian inflasi dengan menggunakan instrumen moneter syariah di Indonesia?
2. Bagaimanakah indeks keefektifan instrumen moneter syariah terhadap pengendalian inflasi diIndonesia?
C. BATASAN ISTILAH 1. Pengendalian Inflasi
Dalam kamus besar bahasa Indonesia pengendalian adalah "proses, perbuatan, cara mengendalikan sesuatu"
51dan inflasi adalah "kemerosotan nilai uang (kertas) karena banyaknya uang (kertas) beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang-barang oleh karena itu dibutuhkan
51 WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : PT Balai Pustaka, 1983), h. 668
38 peran dari pemerintah untuk mengendalikan dan menciptakan iklim ekonomi yang relatif mantap. "
52Menurut al-Maqrizi, sebagaimana yang dikutip oleh Euis Amalia "inflasi adalah sebuah fenomena alam yang terjadi pada kehidupan masyarakat di seluruh dunia sejak zaman dahulu hingga sekarang serta terjadi ketika harga-harga secara umum mengalami kenaikan dan berlangsung secara terus-menerus. "
53Sedangkan menurut Pigou, sebagaimana yang dikutip oleh M. Abdul Mannan "inflasi dapat terjadi bila pendapatan uang lebih banyak bertambah, daripada proporsi kegiatan yang menghasilkan pendapatan, sehingga mengakibatkan kenaikan harga. Jika harga naik karena bertambahnya suplai emas, hal ini sering disebut dengan inflasi emas, tetapi jika karena uang kertas yg beredar, disebut inflasi peredaran uang kertas. Inflasi hanya mengandung arti suatu kenaikan umum dari harga yang disebabkan oleh beberapa hal, baik dari salah satunya atau dari semua sebab yang disebutkan di atas."
54Dari pengertian tentang pengendalian inflasi di atas dapat disimpulkan bahwa pengendalian inflasi adalah suatu proses perbuatan, serta cara dari pemerintah didalam menanggulangi kemerosotan nilai uang karena banyaknya uang beredar sehingga menyebabkan naik harga barang.
2. Ekonomi Islam
Menurut M. Abdul Mannan “ekonomi Islam adalah sesuatu kegiatan yang tidak hanya mempelajari individu sosial melainkan juga manusia dengan bakat religius manusia, hal ini disebabkan karena banyaknya kebutuhan yang tidak terbatas dan kurangnya sarana, maka timbullah masalah ekonomi yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi.
Yang kesemuanya harus dipecahkan dengan nilai-nilai dasar Islam yang sesuai dengan Al-Qur'an dan Hadis.
55Sedangkan menurut Yusuf Qordhawi "ekonomi Islam adalah ekonomi yang berlandaskan ketuhanan.
52 Ibid, h. 534
53 Euis Amalia, Sejarah … h. 225
54 M. Abdul Mannan, Ekonomi Islam:Teori dan Praktek, (Jakarta : PT. Intermasa, 1992), h.
263
55Ibid, h. 20-21
39 Sistem ini bertitik tolak dari Allah, bertujuan akhir kepada Allah dan menggunakan sarana yang tidak terlepas dari syari'at Allah".
56Namun menurut Iqbal, sebagaimana yang dikutip oleh Heri Sudarsono "ekonomi Islam adalah sebuah disiplin ilmu yang mempunyai akar dalam syari'at Islam. Islam memandang wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan yang paling utama. Serta prinsip-prinsip dasar yang dicantumkan dalam Al- Qur'an dan Hadis merupakan batu ujian untuk menilai sesuatu. "
57Dari pengertian tentang ekonomi Islam di atas dapat disimpulkan bahwa ekonomi Islam adalah sesuatu kegiatan yang tidak hanya mempelajari individu sosial melainkan juga manusia dengan bakat religius, serta dengan banyaknya kebutuhan yang tidak terbatas dan kurangnya sarana, maka timbullah masalah ekonomi yang berkaitan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi. Yang kesemuanya harus dipecahkan dengan nilai Islam sesuai dengan Al-Qur'an dan Hadis, bertujuan akhir kepada Allah.
D. TUJUAN PENELITIAN
Sutrisno Hadi dalam hal ini mengemukakan bahwa tujuan suatu penelitian adalah untuk menemukan, mengembangkan atau mengkaji dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.
58Maka tujuan penelitian ini adalah
1. Untuk menganalisis pengendalian inflasi dengan menggunakan instrumen moneter syariah di Indonesia.
2. Untuk mengetahui indeks keefektifan instrumen moneter syariah terhadap pengendalian inflasi diIndonesia.
56 Yusuf Qordhawi, Daurul Qiyam Wal Akhlaq Fil Iqtishadil Islami, Terjemah oleh Zainal Arifin dan Dahlia, Norma dan Etika Ekonomi Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), h. 201
57 Heri Sudarsono, Konsep Ekonomi Islam Suatu Pengantar, (Yogyakarta : Ekonissia, 2002), h. 16
58 Sutrisno Hadi, Metodologi Research I, (Yogyakarta : Fakultas Psikologi UGM, 1976), h.
3