• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM KURIKULUM PONDOK PESANTREN AL MUKHLISIN KOTA BATU M. Imamul Muttaqin 1, Triyo Supriyatno 2, Samsul Susilawati 3, Waluyo Satrio Adji 4

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROGRAM KURIKULUM PONDOK PESANTREN AL MUKHLISIN KOTA BATU M. Imamul Muttaqin 1, Triyo Supriyatno 2, Samsul Susilawati 3, Waluyo Satrio Adji 4"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Muttaqin, Triyo, Susilawati, Waluyo | 73 THE CURRICULUM PROGRAM OF THE AL MUKHLISIN

ISLAMIC BOARDING SCHOOLS IN BATU

PROGRAM KURIKULUM PONDOK PESANTREN AL MUKHLISIN KOTA BATU

M. Imamul Muttaqin1, Triyo Supriyatno2, Samsul Susilawati3, Waluyo Satrio Adji4

1,2,3,4 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia [email protected], [email protected],

[email protected], [email protected]4

ABSTRACT

Islamic boarding schools are increasingly in demand because they have shown resilience in helping students to be ready to face an increasingly cruel future. The lodge is divided into two in its curriculum program. First, the curriculum program at Islamic boarding schools has not been properly administered. Second, the cottage curriculum program has been well administered. The purpose of this study was to reveal the curriculum program, namely; objectives, program structure, typology, implementation and evaluation of the curriculum at the Al Mukhlisin Islamic boarding school in Batu city. This mini research method uses a qualitative descriptive approach. The technique of extracting data is by interviewing the leadership, caregivers, administrators and students of the Al Mukhlisin Islamic boarding school, while observation is done through recitation activities, interviews with administrators, caregivers and leaders of the Islamic boarding school, documentation of the curriculum program, and conducting the recitation. The validity of the data in this mini-study used triangulation of data sources. The results obtained from this study are; First, the purpose of the curriculum program is the creation of students with quality in forming a generation of Muslims who believe, have knowledge and practice good deeds. Second, the curriculum program, namely the students' recitation activities, starting from TPQ Qiroati to entrepreneurship learning. Third, recitation and learning activities using bandongan, sorogan and practice in direct field work activities, namely at the catering ambassador and at CV. The main darma. Fourth, evaluation of recitation and learning through written tests, oral and implied tests in carrying out their work in these companies; fifth, the typology of the Al Falah Islamic boarding school uses the salafiyah typology.

(2)

ABSTRAK

Pondok pesantren semakin hari semakin diminati karena sudah menunjukkan ketahanan dalam membantu santri untuk siap menghadapi masa depan yang semakin kejam. Pondok terbagi menjadi dua dalam program kurikulumnya. Pertama, program kurikulum di pondok pesantren belum teradministrasi dengan baik. Kedua, program kurikulum pondok sudah teradministrasi dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap program kurikulum yaitu; tujuan, susunan program, tipologi, implementasi dan evaluasi kurikulum di lembaga pondok pesantren Al Mukhlisin kota Batu. Metode penelitian mini ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik penggalian data dengan wawancara dengan pimpinan, pengasuh, penggurus dan santri pondok pesantren Al Mukhlisin, sedangkan observasi melalui kegiatan pengajian, wawancara dengan para pengurus, para pengasuh dan pimpinan pondok pesantren, dokumentasi program kurikulum, dan pelaksanaan pengajian. Keabsahan data dalam penelitian mini ini menggunakan trianggulasi sumber data. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah; pertama, tujuan program kurikulum ialah terwujudnya santri yang berkuwalitas dalam membentuk generasi muslim yang beriman, berilmu dan beramal sholeh. Kedua, program kurikulum yaitu kegiatan pengajian santri, mulai dari TPQ Qiroati sampai pada pembelajaran kewirausahaan. Ketiga, aktivitas pengajian dan pembelajaran menggunakan bandongan, sorogan dan praktik pada aktivitas kerja dilapangan langsung yaitu di duta catering dan di CV. Darma utama. Keempat, evaluasi pengajian dan pembelajaran melalui tes tertulis, tes lisan dan tersirat dalam melaksanakan kerjanya di perusahaan-perusahaan tersebut; kelima, tipologi pondok pesantren Al Falah tersebut menggunakan tipologi salafiyah.

Kata Kunci: program kurikulum, pondok pesantren Al Mukhlisin.

INTRODUCTION

Pesantren dalam format tradisional memiliki kurikulum yang cenderung longgar (non-fixed curricullum) dan memiliki sistem gradasi dalam pengguasaan kitab-kitab islam klasik, istilahnya tidak dibatasi waktu dengan pasti, triwulan, persemester, atau tahun ajaran baru, dalam (Astuti, 2015) dikutip dari (Rizal, 2011). KH. Wahid Hasyim seorang tokoh NU, yang menerapkan paradigma baru dalam dunia pendidikan pesantren beliau masih terfokus hanya pendidikan agama, sedangkan pendidikan umum hanya bersifat sampingan karena tidak diajarkan pada santri secara penuh (Takdir, 2018).

(3)

Muttaqin, Triyo, Susilawati, Waluyo | 75 Seiring dengan berkembangnya zaman dalam dunia pendidikan, pembelajaran umum dan keterampilan tenaga kerja yang prfesional dibutuhkan, sehingga pondok pesantren harus bertranformasi agar bisa diterima oleh masyarakat lebih luas lagi. Tranformasi pondok pesantern terdapat pergeseran spektrum kurikulum keilmuan yang berkembang di pondok pesantren (Sulaiman, 2016). Begitulah pergeseran dimulai dalam dunia pondok pesantren.

Pondok Pesantren Al Mukhlisin berdiri pada tahun 2008 bernama Darul Falah Al Islami sekarang berganti nama menjadi pondok Pesantren Al Mukhlisin bermodelkan salafiyah, pimpinan pondok pesantren al Mukhlisin adalah H. Sulaiman Suhardjito. Secara Geografis, pondok pesantren al Mukhlisin ini terletak di Jalan Pronoyudo, Dadaprejo, Junrejo, kota Batu (Arsip dokumen pondok).

Pondok pesantren Al Mukhlisin ini dirintis oleh H. Sulaiman Suhardjito yang merasakan keresahan yang terjadi dimasyarakat, profil beliau adalah perangkat desa dan seorang pengusaha, berawal dari beliau mempertahankan tanah bengkok desa yang akan dibeli oleh developer perumahan. Beliau berhasil mempertahankannya dan mendirikan masjid, karena masjid sebelumnya dirasa sudah tidak memadai, setelah beliau mendirikan masjid beliau merasa resah dikarenakan sagat sepi pengunjung, selanjutnya beliau mendirikan madrasah tsanawiyah yang sekarang menjadi MTs Negeri kota Batu, dirasa pembangunan Madrasah Aliah juga sebuah alternatif untuk meramaikan masjid beliau mendirikan Madrasah Aliah Bilinggual yang sekarang bersebelahan dengan MTs Nageri kota Batu.

Ketika di siang hari masjid sudah bisa ramai, beliau berfikir untuk meramaikan masjid dimalam hari, karena letak masjid dipinggiran desa dan jauh dari masyarakat saat itu akhirnya beliau mendirikan podok pesantren darul falah (hasil wawancara dengan H. Sulaiman Suhardjito). Pesantren sebagai pendidikan tertua memiliki dua model yaitu model tradisional dan model modern, kalau diuraikan bahwa pendidikan model pesantren tradisional yaitu dengan suatu tempat untuk mencari ilmu agama yang ortodok, tertutup, tidak berkembang, dan tradisional. Sedangkan untuk pendidikan model pesantren modern yaitu semuanya sudah tertata rapi mulai dari kurikulumnya terbarukan, tempat yang bersih, nyaman, tentunya dengan kepengasuhan dan kepengurusan yang sistematis dan terkontrol,

(4)

bukan figur kiyai yang diikuti tetapi sistem pendidikan yang sudah matang

(Muhakamurrohman, 2014).

Said Agil Sirat berpendapat bahwa ada tiga hal yang perlu dikuatkan dalam diri pesantren, pertama; Pesantren perlu bebenah diri (tamaddun) pesantren perlu dikelola secara modern tidak hanya dikelola sendiri oleh kiyai, akan tetapi dikelola oleh tenaga profesional dalam memanajemen dan administrasi kelembagaannya. Dua; memberikan pencerahan kepada umat islam (tsaqofah) walaupun hanya seorang santri tapi harus mempunyai jiwa pembelajar yang kuat, tidak hanya keagamaan akan tetapi juga teknologi baru, ilmu komputer, dan sains modern, sehingga bisa menjadi umat yang kreatif dan produktif. Ketiga; membangun budaya (hadharah) apapun profesinya akan tetapi memiliki jiwa dan tradisi islam. Dengan ini, pesantren sebagai lembaga pendidik umat diharapkan mampu membendung arus globalisasi yang tidak menentu dengan asas-asas keislaman (Damanhuri, dkk, 2013).

Pengembangan kurikulum pesantren saat ini sangat dibutuhkan, karena adanya peruhan globalisasi yang tidak terbendung, perubahan kurikulum pesantren harus menjaga tradisi salafiahnya sebagai kekhasan sistem pendidikan pribumi (pendapat Daulay; 1991), dan memacu semangat belajar untuk menuju ke sistem khalafi dengan adanya kurikulum pesantren secara mandiri, sehingga dengan konsep perpaduan tersebut pesantren tidak lekang dimakan oleh zaman (Hidayah &

Pathollah, 2019). Berdasarkan latar belakang diatas maka penelitian ini memiliki

tujuan untuk mengungkap tujuan kurikulum, program kurikulum, proses pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran di pondok pesantren al Mukhlisin areng-areng, dadaprejo, Junrejo, kota Batu.

METHOD

Penelitian ini menggunakan jenis kualitatif deskriptif, yakni untuk menjelaskan data berupa kata-kata, tulisan, gambar dan mendeskriptifkan secara gamblang (Strauss & Corbin, 2003). Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengungkapkan suatu keadaan dan suatu objek dalam konteknya: menemukan makna (meaning) atau pemahaman tentang suatu masalah yang dihadapi, yang

(5)

Muttaqin, Triyo, Susilawati, Waluyo | 77 tampak dalam bentuk data kualitatif. Data bisa berupa gambar, kata-kata maupun kejadian serta dalam “natural setting” (Yusuf, 2016).

Penelitian ini bertempat di Pondok Pesantren Al Mukhlisin, Jalan Pronoyudo, Dusun Areng-areng, Desa Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Pemilihan lokasi ini dipilih karena lokasinya strategis. Disekitar pondok pesantren Al Mukhlisin terdapat beberapa tempat pendidikan mulai dari kampus pacasarjana UIN Maliki Kota Batu, madrasah Tsanawiyah Kota Batu, Madrasah Aliyah Bilingual, Kantor Urusan Agama junrejo, Masjid Agung Al Falah, Paud, Taman Kanak-kanan, kantor desa dadaprejo, puskesmas Junrejo dan banyak para akedemisi yang tinggal di desa dadaprejo.

Sumber data primer yang dihimpun oleh peneliti langsung diambil dari tangan pertama, diantaranya: pimpinan pondok pesantren Al Mukhlisin, Pengasuh Pondok pesantren Al Mukhlisin, para ustad dan penggurus pondok pesantren Al mukhlisin. Untuk pengambilan data sekunder diambil dari: sumber dokumen pondok pesantren Al mukhlisin, visi misi pondok pesantren Al Mukhlisin, dan tujuan pondok Pesantren Al Mukhlisin (Sidiq & Choiri, 2019).

Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena, menganalisis fenomena, aktivitas sosial, peristiwa, kepercayaan, sikap, pemikiran orang individu maupun kelompok dan persepsi orang dalam melihat fenomena. Sedangkan paradigma penelitian kualitatif yaitu menurut (Lincoln & Guba 1985) sebagai berikut: latar belakang tempat dan waktu yang alamiah, peneliti sendiri yang mengumpulkan data primer, penggunaan pengetahuan yang tidak eksplisit, pengumpulan sampel secara purposif, analisis data secara induktif, teori dari dasar yang dilandaskan secara kontinyu (Bachri, 2010).

RESULTS AND DISCUSSION Tujuan Program Kurikulum

Pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru bermuara pada komponen pembelajaran tersurat dalam kurikulum. Tujuan pembelajaran bisa juga agar santri menjadi pribadi yang mandiri dan menghadapai kehidupan masa depan (Basari,

2014). Pernyataan tersebut berdasarkan pada kenyataan bahwa aktivitas

(6)

pendididkan formal yang syarat utamanya adalah kurikulum sebagai pedoman, jadi guru dalam menyusun pembelajarannya akan selalu berpedoman dengan kurikulum

(Junaidi, 2017).

Pesantren memiliki dua tujuan, tujuan umum dan tujuan khusus. Secara umum pesantren memimbing santrinya agar menjadi manusia yang unggul (berakhlak mulia) dimasyakat dengan menguasai ilmu agama, mengamalkannya dan mempu mendakwahkan ilmu yang didapat dari pondok pesantren. Tujuan khususnya pondok pesantren menyiapkan santri agar menjadi ahli ilmu agama yang mereka pelajari dari kiyai, pimpinan pondok, para asatid di pondok pesantren sehingga bisa mengamalkan apa yang didapat dari pondok dan menyebarkannya di masyarakat (Krisdiyanto dkk. 2019.).

Untuk hasil capaian program kurikulum dan kegiatan pengajian yang efektif, kiyai dan asatid perlu menjelaskan isi kurikulum secara jelas, agar kegiatan pengajian berjalan sesuai dengan apa yang ditetapkan. Tahap pelaksanaan program kurikulum dipondok pesantren harus diperhatikan, yaitu dengan melalui empat tahapan, perencanaan, pengorganisasian dan kordinasi, pelaksanaan, evaluasi dan pengendalian (Sulfemi, 2019).

Pesantren sebagai lembaga yang berbasis kejian keislaman, selama ini tidak memliki tujuan yang tersurat, tidak tertulis disuatu papan atau buku. Akan tetapi pesantren sebenarnya tetap memiliki tujuan, seperti layaknya lembaga-lembaga pendidikan secara umum. Perbedaannya lembaga formal yang pada umumnya tertulis dalam suatu buku dokumen dan bahkan di dalam papan visi-misi yang ada disuatu lembaga tersebut, sedangkan pondok pesantren salaf secara umum tersirat dalam diri pempimpin atau kiyai pondok pesantren. Sehingga pondok pesantren sampai saat ini masih memiliki stigma yang kurang baik dan terbelakang, akan tetapi peminatnya semakin hari semakin meninggkat (Fauzi, 2013).

Program Kurikulum Pesantren

Program kurukulum harus berupaya agar menjadi siswa (santri) menjadi manusia yang baik, menurut undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas menguraikan bahwa manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cerdas, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk itu, proses dan

(7)

Muttaqin, Triyo, Susilawati, Waluyo | 79 penilaian pembelajaran harus dituangkan dalam kurikulum yang disusun (Sulton,

2015).

Pondok pesantren Al Mukhlisin memiliki bentuk pondok pesantren bermodelkan salafiyah, dimana pengajarannya adalah pengajaran kitab kuning. Pondok pesantren al Mukhlisin berawal didirikan untuk memfasilitasi siswa MTs negeri kota Batu, MA Bilingual dan masyarakat sekitar pondok. Kurikulum di pondok pesantren ini ditentukan dan diarahkan oleh pengasuh dan pimpinan pondok pesantren. Program kurikulum pondok pesantren Al Mukhlisin memiliki dua jejang pendidikan kelas diniah, yang pertama; kelas satu sampai dengan tiga untuk santri yang belum mampu mengaji dan faham kitab dan ini di isi oleh anak siswa MTs sampai dengan MA, kedua; kelas takhassus untuk santri yang sudah memiliki pengalaman mondok dan kebanyakan di isi oleh siswa SLTA dan mahasiswa Perguruan tinggi baik Strata 1 sampai dengan Magister.

Kurikulum pondok pesantren Al Mukhlisin adalah lembaga berbasis non formal yaitu mempelajari kitab-kitab klasik diantaranya; tafsir, tauhid, al Qur’an, Hadits, fiqih, ushul fiqih, bahasa arab (sharaf, nahwu, balagah dan tajwid) dan ditambakan pula pendidikan berwira usaha (pertukangan, catering, pembuatan cat, pembuatan bata ringan, peternakan dan pertanian). Pelaksanaan kurikulum di pondok pesantren al Mukhlisin diperuntukkan kajian-kajian yang memiliki hubungan akitivitas keseharian, diantaranya berwudlu, sholat, hukum-hukum halal dan haram. Dua tinggakatan tadi kelas diniyah reguler diperuntukkan bagi kitab-kitab yang mudah dan mendasar selanjutnya untuk kelas takhassus diperuntukkan untuk kitab-kitab yang bervariasi sesuai dengan rapat pengasuh dengan keinginan santri.

Proses Pembelajaran

Dalam teori pembelajaran bihavioristik menekankan bahwa porses pembelajaran menekankan terbentuknya prilaku dari hasil berlajar. Teori ini menekankan pada hubungan dan respon menekankan individu yang pasif, sedangkan proses pembentukannya yaitu mengajak siswa untuk mencapai target tertentu, sehingga menjadikan siswa tidak bebas dalam berkreasi dan berimajinasi

(8)

Pesantren adalah lembaga yang memenuhi kebutuhan bagi masyarakat yang membutuhkan akan ilmu pengetahuan Islam, dengan itu maka pesantren semakin hari akan semakin tumbuh. Karena kiyai selalu memperhatikan perkembangan santri dan mendorongnya dalam belajar dengan berbagai metode terutama metode sorogan dan bandongan, pendidikan moral juga diasah. Sehingga pesantren sebagai lembaga pendidikan yang komplek tidak hanya keilmuan saja akan tetapi santri juga diajarkan berakhlakul karimah (Fuadah & Sanusi, 2017).).

Sistem pembelajaran di pondok pesantren al Mukhlisin adalah sorogan dan bandongan, sedangkan sifatnya bersifat tradisional dalam pembelajaran ilmu-ilmu agamanya. metode seorang santri dalam belajar adalah seorang pengasuh atau para ustadz menyampaikan secara sorogan bandongan (Syafe'i, 2017). Dalam menguji kemampuan awal santri umumnya menggunakan metode sorogan yaitu satu-persatu santri langsung menghadap ust atau pengurus yang mengguji, menilai dan merapatkan untuk menyesuaikan santri kemampuan sesuai di kelas 1,2, 3, atau kelas takhassus, sehingga santri mampu dan mapan dalam menerima pengajian yang diajarkan pada masing-masing kelas diniyah.

Metode bandongan, yaitu metode pengajian yang dilakukan oleh pengasuh, ustadz dan santri dengan cara pengasuh atau ustadz membacakan kitab, menerjemahkan kitab, menjelaskan kitab, dan menafsirkan kitab. Sedangkan santri mendengarkan dan mencatat sesuai kemampuan pemahaman santri baik arti kitab yang dibacakan ataupun keterangan yang disampaikan oleh pengasuh ataupun sutadz.

Evaluasi Program pembelajaran

Evaluasi dalam undang-undang No. 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional dan dalam sistem evaluasi dijabarkan bahwa evaluasi pendidikan adalah pengendalian penjaminan dan penetapan mutu pendidikan terhadap seluruh komponen pendidikan. Pasal 58 ayat I: evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan dalam hasil belajar siswa secara berkesinambungan (Sary, 2018).

Evaluasi adalah proses merencanakan, memperoleh, melaporkan, dan menggunakan informasi deskriptif dan mempertimbangkan beberapa manfaat objek, nilai signifikansi dan kejujuran dalam rangka memandu pengambilan

(9)

Muttaqin, Triyo, Susilawati, Waluyo | 81 keputusan, akuntabilitas, dukungan, menyebarkan praktek-praktek yang efektif serta meningkatkan pemahaman tentang fenomena-fenomena yang terlibat(Ananda, Rafida, & Wijaya, 2017).

Evaluasi hasil belajar lazim menggunakan dua model tes, tes formatif dan tes sumatif. Tes formatif dilakukan ketika akhir satuan pelajaran, karena tujuannya untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam memahami apa yang diajarkan oleh guru. Sedangkan tes sumatif dilaksanakan diakhir program pembelajaran, misalnya ketika akhir semester, kenaikan kelas atau menjelang kelulusan (Wulan & Rusdiana 2015).

Evaluasi program pembelajaran dilakukan tidak hanya di akhir semester tapi juga awal semester, terutama untuk santri yang baru masuk seberapa jauh kemampuannya dalam memahami kitab-kitab yang akan diajarkan (Muryadi,

2017). ketika akhir semester atau ketika jadwal dari salah satu ust, biasanya evaluasi

dilakukan dengan model hafalan, ujian tulis dan praktik. Dalam kegiatan pembelajaran, definisi evaluasi adalah suatu proses yang tersistem untuk menentukan tingkat capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.

Evaluasi di pondok pesantren al Mukhlisin terdapat berbagai macam model, yakni evaluasi hasil belajar dan evaluasi proses pembelajaran dan diantaranya dengan hafalan, tes tulis, tes praktik. Adanya program remedi, refleksi dari ust untuk santri mengetahui dimana kurangnya dalam belajar, buku cacatan untuk pelaporan sampai dimana kemapuan santri (Ma’ruf, 2017).

Evaluasi tidak hanya dilakukan dengan cara pembelajaran, akan tetapi juga evaluasi pelanggaran, yaitu tarhib (hukuman) dengan hukuman ini santri diharapkan memiliki kemauan memperbaiki diri dari sikapnya yang menyimpang dari aturan-aturan yang ditetapkan oleh lembaga pondok pesantren Al Mukhlisin

(Ma’arif, 2017). Beberapa contoh pelanggaran yang dilakukan oleh santi yaitu:

mencuri, main PS, keluar pondok tampa izin, tidak mengikuti kegiatan pondok. Dengan beragam pelanggaran yang dilakukan santri diatas maka hukumannya membersihkan kamar mandi, shalat berjama’ah di shaf awal dibelakang imam selama beberapa hari, membaca Al Qur’an sambil berdiri di depan ndalem pengasuh, shalat sampai puluhan kali, sampai juga dikeluarkan dari pondok pesantren Al Mukhlisin jika pelanggarannya sangat berat.

(10)

Kurikulum dan Tipologi Pesantren

Perkembangan pesantren di Indonesia mengalami perkeebangan yang sangat pesat, sehingga pesantren di Indonesia memiliki beberapa tipe, yaitu pesantren tradisional, pesantren modern, pesantren konvergensi dan pesantren mahasiswa (Fahmi, 2015). Dengan adanya beberapa tipologi pesantren tersebut, bisa dikatakan perkembangan kurikulum juga berkembang dengan pesan mulai dari kurikulum pesantren tradisional sampai dengan kurikulum pesantren mahasiswa. Maka dalam pembelajaran kepada santri, pesantren menggunakan mahaj (kurikulum) dengan jenis kitab-kitab tertentu. Dan kitab-kitab yang diajarkan harus dipelajari santri sampai tuntas, sebelum naik ke kitab yang lebih sulit tingkat kesukarannya (Rouf, 2016).

Dalam suatu lembaga kurikulum adalah suatu yang pokok dan menunjukkan adanya tujuan-tujuan yang akan dicapai. Dalam teori-teori kurikulum bahwa kurikulum adalah suatu yang penting yang ada di lembaga baik lembaga formal atau lembaga non formal (Duludu, 2017). Dalam penelitian ini peneliti menemukan bahwa pondok pesantren al Mukhlisin memiliki kurikulum yang tersirat belum tersurat karena masih berproses pengurusan kelegalan kelembagaannya. Sedangkan kegiatan pondok pesantren al mukhlisin disini sudah tersetruktur dengan dua jejang kelas madrasah diniyah reguler terdiri dari tiga kelas 1,2 dan 3 diperuntukkan anak santri jejang formalnya dari tinggat dasar sampai tingkat menengah atas. sedangkan kelas takhassus diisi oleh santri dari jejang pendidikan formalnya sarjana sampai dengan doktoral.

Pesantren sebagai lembaga non formal umumnya memiliki program sendiri dan bebas dari ketentuan formal pada umumnya. Ketika zaman orde baru, dicanangkan bahwa kurikulum memiliki arti sebuah perangkat rencana pengaturan mengenai isi dan bahan ajar serta metode sebagai pendoman belajar dan pembelajran (Saifuddin, 2015).. Kurikulum adalah salah satu alat lembaga pendidikan yang sangat penting, sehingga setiap lembaga pendidikan berdiri, maka yang wajib dipikirkan pertama kali adalah kurikulum. Karena dengan kurikulum bisa dilihat tujuan berdirinya labaga tersebut, visi-misinya, sampai dimana capaian lebaga tersebut saat ini. Sehingga bisa dilihat seberapa bagus atau jeleknya pengelolaan lembaganya.

(11)

Muttaqin, Triyo, Susilawati, Waluyo | 83 Nur Cholis Madjid mengungkapkan bahwa kurikulum pesantren tidak populer di zaman kemerdekaan (masa pra kemerdekaan), pengajaran di dunia pesantren sudah ada baik bimbingan ruhani maupun keterampilan hidup untuk menghadapi masa depan, seperti itulah kurikulum pesantren zaman dahulu sudah penuh dengan materi pengajaran bahkah materi untuk menyiapkan keterampilan

hidup di masa depan (Junaidi, 2017).

Tranformasi kurikulum pesantren saat sudah banyak variasinya, lembaga-lembaga pondok pesantren saat ini berkompetisi dalam memajukan lembaga-lembaganya dengan berbagai kurikulum yang inovatif dan sesuai dengan zaman dan lingkungannya. Kurikulum yang berkembang tersebut menunjukkan adanya perubahan tipologi pesantren, misalnya; pesantren bertipologi salafiah yaitu mengajarkan kitab-kitab klasik diantaranya: tafsir, hadits, fiqih, tasawuf, ushul fiqih, bahasa Arab (tajwid, sharab, balagah, dan sharaf) akhlak dan mantiq. Terlaksananya kurikulum diatas adalah untuk mencari kemudahan dalam pelaksanaan kurikulum di pondok pesantren.

Senada dengan tipologi pesantren Al Mukhlisin ini masih bertipologi salafiyah. Dengan model pembelajarannya yaitu dengan cara tradsional yang didominasi ilmu agama dngan metode bandongan dan sorogan. Metode bandongan yaitu pengajian yang diikuti banyak santri mulai dari 5 sampai dengan 500 orang lebih, sedangkan santri hanya mendengarkan penjelasan ustad, penerjemahan dari ustad, dan penafsiran kitab yang dikaji saat itu. Sami’na wa atha’na sesuai dengan perintah gurunya sebagai pengajar.

Kemudian yaitu metode sorogan, metode sorogan ini bahwa santri ketika mengaji harus membaca kitabnya di depan ustad secara lansung baik itu satu orang dua orang secara bergantian, sehingga bisa dikatakan memiliki efiktivitas yang lebih. Atau untuk mengetahui sebatas mana kemampuan para santri, yaitu dengan cara membacanya, menerjemahkannya dan menjelaskannya. Seperti layaknya metode bandongan yang ustad dan pengasuh pondok pesantren Al Mukhlisin ajarkan.

(12)

CONCLUSIONS

Ternyata bahwa program kurikulum di pondok pesantren Al Mukhlisin walaupun tidak tersurat dalam papan stuktur seperti pondok posantren modern pada umumnya, serta kelembagaannya belum legal dan belum berbadan hukum sudah bisa menjalankan program kurikulum yang baik dan berjalan dengan lancar.

Sedangkan batasan penelitian ini adalah, peneliti hanya mampu meneliti program kurikulum secara umum dan masih banyak yang bisa diteliti pada lembaga pondok pesantren Al Mukhlisin dusun areng-areng, desa dapaprejo, kecamatan junrejo, kota Batu. Diantaranya hiden kurikulum yang diajarkan pimpinan pondok dan pengasuh pondok, pendidikan kewirausahaan, efektivitas kurikulum pesantren, efektivitas pengajian bagi karyawan duta catering, pengajian pancasil yang diasuh oleh pengasuh pondok, upaya pondok Al Mukhlisin dalam pembentukan karakter santri.

REFERENCES

Ananda, R., Rafida, T., & Wijaya, C. (2017). pengantar evaluasi program Pendidikan.

Astuti, P. (2015). Pesantren Tradisional, Demokratisasi Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat. Lembaran Masyarakat: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, 1(1).

Bachri, B. S. (2010). Meyakinkan validitas data melalui triangulasi pada penelitian kualitatif. Jurnal Teknologi Pendidikan, 10 (1).

Basari, A. (2014). Penguatan Kurikulum Muatan Lokal dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar. In Seminar Nasional Ilmu Pendidikan UNS 2014. Sebelas Maret University

Damanhuri, A., Mujahidin, E., & Hafidhuddin, D. (2013). Inovasi pengelolaan pesantren dalam menghadapi persaingan di era globalisasi. Ta'dibuna: Jurnal Pendidikan Islam, 2 (1).

Duludu, U. A. (2017). Buku ajar kurikulum bahan dan media pembelajaran pls. Penerbit Deepublish.

Elis Ratna Wulan, E., & Rusdiana, A. (2015). Evaluasi pembelajaran. Bandung, Penerbit Pustaka Setia.

(13)

Muttaqin, Triyo, Susilawati, Waluyo | 85

Fahmi, M. (2015). Mengenal Tipologi dan Kehidupan Pesantren. Syaikhuna: Jurnal Pendidikan dan Pranata Islam, 6(1)

Fauzi, F. T. (2013). Manajemen Organisasi Pondok Pesantren. Edukasi Volume 01, Nomor 01, Juni.

Fuadah, F. S., & Sanusi, H. P. (2017). Manajemen Pembelajaran di Pondok Pesantren. Jurnal Isema: Islamic Educational Management, 2(2).

Hidayah, T., & Pathollah, A. G. (2019). Manajemen Kurikulum

Pesantren. Salwatuna, 2 (1).

Junaidi, K. (2017). Sistem Pendidikan Pondok Pesantren di Indonesia (Suatu Kajian Sistem Kurikulum di Pondok Pesantren Lirboyo). Istawa: Jurnal Pendidikan Islam, 2 (1).

Krisdiyanto, G., Muflikha, M., Sahara, E. E., & Mahfud, C. (2019). Sistem Pendidikan Pesantren dan Tantangan Modernitas. Tarbawi: Jurnal Ilmu Pendidikan, 15 (1).

Muhakamurrohman, A. (2014). Pesantren: Santri, kiai, dan tradisi. IBDA: Jurnal Kajian Islam Dan Budaya, 12 (2).

Muryadi, A. D. (2017). Model Evaluasi Program Dalam Penelitian Evaluasi. Jurnal Ilmiah Penjas (Penelitian, Pendidikan dan Pengajaran), 3 (1). Ma’ruf, A. (2017). Pengembangan Metode dan Sistem Evaluasi Tahfidzul Qur’an

di Pondok Pesantren Nurul Huda Singosari Malang. Al-Ghazwah, 1 (2). Ma’arif, M. A. (2017). Hukuman (Punishment) Dalam Perspektif Pendidikan Di

Pesantren. Ta'allum: Jurnal Pendidikan Islam, 5 (1).

Nahar, N. I. (2016). Penerapan teori belajar behavioristik dalam proses pembelajaran. NUSANTARA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 1(1).

Rohmah, A., & Muklas, M. (2018). Aplikasi Metode Penerjemahan dalam Pembelajaran Kitab Kuning. Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences, 10 (2).

Rouf, M. (2016). Memahami Tipologi Pesantren dan Madrasah sebagai Lembaga Pendidikan Islam Indonesia. TADARUS, 5(1)

(14)

Saifuddin, A. (2015). Eksistensi Kurikulum Pesantren dan Kebijakan Pendidikan. Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies), 3(1),

Sary, Y. N. E. (2018). Buku Mata Ajar Evaluasi Pendidikan. Deepublish.

Sulaiman, R. (2016). Pendidikan Pondok Pesantren: Institusionalisasi Kelembagaan Pendidikan Pesantren. 'Anil Islam: Jurnal Kebudayaan dan Ilmu Keislaman. 9(1).

Strauss, A., & Corbin, J. (2003). Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sidiq, U., & Choiri, M. M. (2019). Metode Penelitian Kualitatif di Bidang

Pendidikan. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9).

Sulfemi, W. B. (2019). Modul Manajemen Kurikulum di Sekolah. Bogor, Penerbit Visi Nusantara Maju.

Syafe'i, I. (2017). Pondok pesantren: Lembaga pendidikan pembentukan karakter. Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, 8 (1).

Sulton, A. (2015). KURIKULUM PESANTREN MULTIKULTURAL (Melacak Muatan Nilai-Nilai Multikultural Dalam Kurikulum Pondok Pesantren Sunan Drajat Banjarwati Paciran Lamongan). ULUL ALBAB Jurnal Studi Islam, 16(1).

Takdir, M. (2018). Modernisasi Kurikulum Pesantren. IRCiSoD.

Yusuf, A. M. (2016). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif & penelitian gabungan. Prenada Media

Referensi

Dokumen terkait

Puncaknya, dua tahun sebelum usai, yakni kelas 6 (enam) dan kelas 7 (tujuh) santri harus bersama bapak al Imam dan bapak al Ustaz dalam proser belajar mengajar dan untuk

Berdasarkan rumusan masalah, maka dapat disimpulkan sebagai berikut Pertama Konsep Kurikulum terpadu pada mata pelajaran Agama Islam Tingkat Madrasah Aliyah di Pondok pesantren

Mukmin Ngruki ini masih tetap eksis sampai sekarang, (2) Karena dirasa pondok pesantren ini mampu meluluskan santri yang memiliki militansi yang kuat, hal ini memberikan poin

Setelah adanya pembangunan bangunan baru tersebut santri semakin bertambah, bukan hanya dari kalangan masyarakat sekitar saja melainkan juga dari dua pondok pesantren

Qur’a>n yang baik pada Pondok pesantren Al-Ma’ruf. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana manajemen kurikulum tah}fi>z}ul Qur’a>n di

Kendala yang dihadapi guru asrama dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an santri kelas VIII di Pondok Pesantren Thawalib Kota Padang adalah kurangnya minat

Hasil yang diperoleh menunjukkan keadaan pada saat penelitian ini dilakukan, kegiatan ziarah kubur santri kelas XII Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Al- Anwar

Pondok Pesantren Nurul Hidayah pada tahun ajaran 2010/2011 memiliki santri pada tingkat Paket C sebanyak 82 santri-santriwati, yang terbagi kedalam tiga kelas.