CARITAS KEUSKUPAN SIBOLGA
Mengambil Resiko Dalam Pelayanan
Salam kasih,
Pembaca yang budiman, kami ingin menyapa Anda lewat sajian informasi-informasi karya pelayanan Caritas Keuskupan Sibolga selama tahun 2012 dan informasi itu tertuang dalam Buku Tahunan Caritas Keuskupan Sibolga tahun 2012.
Buku Tahunan ini kami hadirkan agar pembaca bisa merasa lebih dekat, mengenal dan akrab dengan Caritas Keuskupan Sibolga serta karya-karyanya. Bulan Oktober lalu kami baru saja memperingati HUT Caritas Keuskupan Sibolga yang ke-7, harapan ke depan bahwa kami dapat terus berkarya di tengah-tengah umat dan mampu hadir sebagai tetesan air yang penuh kasih serta lilin bercahayakan cinta pada mereka yang paling membutuhkan.
Sejak awal Gereja bersikap karitatif, berbelas kasih terhadap orang yang miskin dan menderita, mengikuti teladan Yesus. Yesus telah menegaskan bahwa kriteria untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga kelak adalah perhatian dan tindakan kasih terhadap orang-orang sakit, miskin dan menderita (bdk Mat 25:31-46). Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Pastoral “Gaudium et Spes” mengajarkan: “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga” (GS 1). Berarti orang -orang beriman mesti solider atau sepenanggungan dengan orang-orang miskin dan menderita. Para misionaris yang datang ke daerah kita telah berusaha membantu dan meringankan beban penderitaan orang-orang miskin dan sakit, dan berusaha meningkatkan ekonomi umat dan masyarakat. Jejak mereka kita lanjutkan dengan cara lebih tertata dan terorganisir.
Di keuskupan kita ada dua badan yang memberi perhatian khusus untuk orang-orang miskin dan menderita dan yang berusaha meningkatkan kesejahteraan umat dan masyarakat, yakni Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) dan Caritas Keuskupan Sibolga (CKS). PSE sudah lama ada di keuskupan kita sebagai satu Komisi. Caritas baru berdiri sesudah gempa bumi yang dahsyat di Pulau Nias pada tahun 2005, yang banyak bekerja sama dengan Caritas-Caritas Internasional. Kedua badan ini bergerak di bidang sosial kemanusiaan dengan kepengurusan sendiri-sendiri. Karena tujuan dari kedua badan ini hampir tidak ada bedanya, maka agar supaya lebih kuat dan efektif bekerja, muncul pemikiran untuk mempersatukan kedua badan ini menjadi satu badan saja. Penyatuan ini tentu tidak bermaksud menghilangkan apapun dari apa yang sudah dan sedang dilakukan oleh masing-masing badan ini, sebaliknya semakin sigap dan lincah menjawab lebih banyak lagi masalah-masalah yang dialami oleh orang-orang miskin dan menderita.
Apa yang perlu kita lakukan untuk usaha penyatuan kedua badan ini? Pertama-tama perlu satu tim untuk mempelajari apa yang menjadi lingkup kerja dari masing-masing wadah ini. Lalu dipikirkan bagaimana jenis-jenis kerja itu dapat dipersatukan atau kalau tidak dapat dipersatukan, dikoordinir oleh satu badan. Kemudian dicari struktur keorganisasian yang bagaimana dapat menjawab kebutuhan badan yang baru itu. Kalau dibutuhkan satu badan hukum untuk mengelolanya, badan hukum yang bagaimana kiranya cocok. Akan tetapi bagaimana pun juga, dalam usaha penyatuan ini hendaklah jangan dilupakan tujuan dasar dari kedua badan ini, yakni memberi perhatian pada persoalan kemanusiaan, terutama mereka yang berkekurangan, dan jangan lupa akan ciri utamanya: semangat cinta kasih (caritas).
Sepanjang tahun 2012 CKS telah menjalankan beberapa program atau proyek. Pantas kita bersyukur kepada Allah, karena selama satu tahun yang baru lalu ini CKS tetap setia menjalankan misinya. Selain itu CKS sedang
berusaha untuk memperkuat dirinya dengan mengusahakan ‘fundraising’, sehingga dapat secara berkesinambungan menolong dan memberdayakan orang-orang yang berkekurangan. Terima kasih saya haturkan kepada para donatur dan staf CKS yang telah bekerja keras atas nama Gereja dalam memperhatikan dan menolong orang-orang berkekurangan.
Saya tetap menghimbau seluruh umat di Keuskupan Sibolga, sesuai dengan Visi Keuskupan Sibolga “Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan”, agar semakin merasa memiliki Caritas Keuskupan Sibolga. Semakin merasa memiliki Caritas Keuskupan Sibolga berarti seluruh umat semakin berjiwa “caritas” (cinta kasih), dan semakin bertanya pada diri: “apa yang dapat saya lakukan untuk membantu Caritas Keuskupan Sibolga?” Khususnya kaum muda Katolik, hendaklah pada masa muda ini membiasakan diri terlibat dalam karya-karya sosial dengan menjadi tenaga-tenaga relawan baik dalam kegiatan Gereja maupun dalam kegiatan-kegiatan masyarakat, khususnya yang dikoordinir oleh Caritas Keuskupan Sibolga. Demikian juga saya tetap mengingatkan agar seluruh staf Caritas semakin memiliki semangat ‘caritas’, yang bekerja karena didorong oleh cinta kasih. ΩΩΩ Ω
SAMBUTAN
dari KAMI untuk ANDA
Satu Wadah
Oleh
:
Mgr. Ludovicus Simanullang, OFMCap (Uskup Keuskupan Sibolga)Mgr. Ludovicus Simanullang, OFMCap (Uskup Keuskupan Sibolga)Mgr. Ludovicus Simanullang, OFMCap (Uskup Keuskupan Sibolga)Mgr. Ludovicus Simanullang, OFMCap (Uskup Keuskupan Sibolga)Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-7 pada tanggal 18 Oktober 2012 di Simanaere dengan tema: “Mari Mari Mari Mari bersama me mberdayakan”
bersama me mberdayakan” bersama me mberdayakan”
bersama me mberdayakan”. Perayaan yang melibatkan semua staf dilaksanakan dalam suasana meriah dan penuh persaudaraan yang akrab dan bahagia.
Pada usia ke-7 ini Caritas mencoba melihat kembali ke belakang sudah sejauh mana telah berjuang bersama dengan masyarakat mewujudkan motto: “bersama memberdayakan”.
Dalam satu sesi kilas balik tentang cikal-bakal lahirnya Caritas Keuskupan Sibolga sesudah tsunami dan gempa bumi yang ditampilkan oleh Cristian (staf pertama dari Caritas Austria untuk tanggap darurat Keuskupan Sibolga) dalam bentuk foto-foto, memperlihatkan situasi saat itu sangat memprihatinkan dan menyedihkan karena banyak kerusakan terjadi di mana-mana. Banyak orang kehilangan sanak saudara, harta benda dan kerusakan rumah. Foto-foto itu juga memperlihatkan bagaimana sikap dan reaksi
Keuskupan Sibolga dalam menghadapi bencana dashyat. Banyak kegiatan bantuan darurat dilakukan oleh pihak Keuskupan Sibolga di bawah komando P. Rantinus Manalu, Pr sebagai ketua Tim Tanggap Darurat Bencana yang kemudian diangkat menjadi direktur CKS. Kegiatan tanggap darurat dinyatakan selesai pada tahun 2009.
Sesi ini dilanjutkan dengan film dokumenter yang berisi hasil wawancara Divisi Komunikasi dengan para manager divisi CKS, tentang kegiatan pelayanan di tengah masyarakat dengan menggunakan metode pemberdayaan sesudah tahap tangggap darurat tahun 2009 sampai dengan ulang tahunnya yang ke-7. Hasil wawancara memperlihatkan suatu perubahan yang sangat signifikan baik di kalangan masyarakat penerima manfaat maupun di kalangan CKS sendiri. Para manager divisi memberikan gambaran sekaligus memperlihatkan bahwa Caritas setelah tujuh tahun berjuang di tengah masyarakat ternyata membawa banyak perubahan dan dampak positif bagi masyarakat dampingan meskipun belum maksimal.
Dalam ungkapan pengalaman bekerja bersama masyarakat para manager divisi juga mengatakan bahwa keputusan Caritas Sibolga pada tahun 2009 untuk fokus pada prinsip “bersama memberdayakan” sungguh berat. Hal ini disebabkan karena sikap masyarakat yang mengalami bencana tsunami dan gempa bumi telah menerima banyak bantuan langsung berupa uang dan materi lainnya sehingga mereka tidak mau untuk menerima dukungan atau bantuan melalui proses pemberdayaan apalagi peran serta mereka harus lebih besar dalam seluruh proses. Walaupun demikian tantangan ini tidak membuat CKS ciut nyalinya untuk terus berjuang dalam memberdayakan. Para manager juga memberikan kesaksian bahwa sudah ada sebagian masyarakat dampingan yang mulai sadar akan pentingnya partisipasi dalam proses pengembangan masyarakat. Malah ada anggota kelompok dampingan yang mulai merasakan dampak dari proses pemberdayaan yang sudah dilakukan (Livelihood Alasa).
Melihat perubahan-perubahan melalui kilas balik, muncul rasa bangga dan puas. Tetapi juga muncul pertanyaan; Apakah prinsip “bersama memberdayakan” sungguh tepat? Apakah pelayanan Caritas kepada masyarakat melalui program-progamnya sudah cukup memadai? Apakah program-program Caritas masih relevan bagi masyarakat dalam situasi yang sudah normal? Apakah staf-staf Caritas sudah memiliki kemampuan yang memadai untuk bersama masyarakat memberdayakan? Sudah proporsionalkah program Caritas di seluruh Keuskupan Sibolga?
Buku Tahunan Caritas 2012 menggambarkan secara khusus tentang apa yang telah dilakukan oleh Caritas selama satu tahun ini, bagaimana hasil capaian dan dampaknya bagi masyarakat, apa tantangan yang dihadapi, apa pembelajarannya dan bagaimana rencana ke depan?
Caritas menyadari bahwa seluruh proses “bersama memberdayakan” belum maksimal. Sedangkan hasil yang menggembirakan bukanlah semata-mata usaha Caritas tetapi terutama dari masyarakat sendiri dengan dukungan dan kerja sama banyak pihak antara lain: para donatur, pemerintah, pimpinan Keuskupan Sibolga, para pastor paroki, dan stakeholder lainnya. Maka sudah sepantasnya Caritas menyampaikan limpah terima kasih atas kerja sama yang baik dan semoga kita tetap “bersama memberdayakan”. ΩΩΩΩ
Sambutan
Direktur CKS
Direktur CKS P. Mikael To, Pr
Salam... Bersama Memberdayakan !!!
Dalam menjalankan karya pelayanan kepada masyarakat yang paling membutuhkan, Caritas Keuskupan Sibolga berpegang pada visi bahwa dalam daerah yurisdiksi Keuskupan Sibolga, kemiskinan diperangi melalui dalam daerah yurisdiksi Keuskupan Sibolga, kemiskinan diperangi melalui dalam daerah yurisdiksi Keuskupan Sibolga, kemiskinan diperangi melalui dalam daerah yurisdiksi Keuskupan Sibolga, kemiskinan diperangi melalui usaha dari semua pihak dalam segala bentuk dan cara, sehingga hak
usaha dari semua pihak dalam segala bentuk dan cara, sehingga hak usaha dari semua pihak dalam segala bentuk dan cara, sehingga hak
usaha dari semua pihak dalam segala bentuk dan cara, sehingga hak----hak asasi manusia seperti hak untuk hak asasi manusia seperti hak untuk hak asasi manusia seperti hak untuk hak asasi manusia seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak untuk mendapatkan pangan, hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak untuk mendapatkan pangan, hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak untuk mendapatkan pangan, hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak untuk mendapatkan pangan, hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, bisa dijaminkan kepada setiap orang
mendapatkan pelayanan kesehatan, bisa dijaminkan kepada setiap orang mendapatkan pelayanan kesehatan, bisa dijaminkan kepada setiap orang
mendapatkan pelayanan kesehatan, bisa dijaminkan kepada setiap orang. Sedangkan misi yang diemban adalah mengentaskan kemiskinan dan membela keadilanmengentaskan kemiskinan dan membela keadilanmengentaskan kemiskinan dan membela keadilanmengentaskan kemiskinan dan membela keadilan dengan cara-cara sebagai berikut:
1.
Mendukung program-program pembangunan berkelanjutan.2.
Menanggapi keadaan darurat dengan komitmen untuk membaharui kecakapan serta struktur setempat.3.
Menyebarkan informasi serta menantang umat Keuskupan Sibolga tentang tanggung jawab mereka untuk bekerja bagi keadilan serta menggalang dukungan dan solidaritas mereka bagi kegiatan-kegiatan Caritas.4.
Menjadi pembela keadilan yang efektif.5.
Meningkatkan pemahaman tentang hal-hal yang menyebabkan kemiskinan dan ketidakadilan.6. Menarik perhatian dari pemerintah pusat dan daerah serta badan-badan internasional untuk mengadopsi
kebijakan yang mendukung keadilan sosial serta mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Hal ini dilaksanakan baik secara langsung maupun melalui penggalangan komunitas Katolik.
TENTANG
CARITAS KEUSKUPAN SIBOLGA
Banyak orang enggan menolong orang lain sebab takut dengan resiko yang terkait dengan tindakannya. Bila orang menolong maka dia akan kehilangan entah harta, tenaga, waktu dan sebagainya.
Banyak orang enggan kehilangan apa yang dimilik inya maka mereka tidak peduli pada o rang yang menderita. Ada pula orang menjadi enggan menolong sesama sebab perbuatannya dipandang tidak baik oleh orang lain. Orang membantu sesamanya dikatakan ingin menjadikan orang lain beriman sama, dikatakan sok suci dan sebagainya. Belum lagi bila yang dito long tidak berterima kasih bahkan sebaliknya menjadi pengkhianat. Orang ingin hidup aman. Tidak mau ambil resiko.
Orang Samaria adalah orang yang berani mengambil resiko. Dia sedang dalam perjalanan ke luar kota. Mungkin dia sedang dalam perjalanan bisnis. Namun dia beran i meninggalkan segala kep entingan dirinya demi orang lain. Segala perhatiannya hanya terarah pada keselamatan orang yang sedang menderita. Maka dia berani merawat, menaikkan ke keledainya, membawanya ke rumah penginapan, memberi ongkos pada pemilik rumah penginapan dan berjanji ak an melunasi bila uang yang dititipkannya ternyata kurang ketika dia k embali. Orang Samaria berani mengurbankan waktunya, uangnya, bahkan mungkin keselamatannya sebab ada kemungkinan para perampok itu akan datang lagi dan merampoknya.
Pada jaman ini sangat dibutuhkan orang yang berani mengurbankan segalanya demi orang lain. Pengurbanan yang terbesar adalah pemberian dirinya. Orang Samaria itu merawat o rang yang menderita. D ia terlibat dalam penderitaan o rang. Dia berempati. Banyak orang hanya memiliki simpati.
Orang yang berempati pada sesamanya yang menderita bukan hanya melihat dari jauh atau berkotbah mengenai kasih. Namun dia harus terlibat. M erawat orang yang menderita, menyentuh dan disentuh serta mengusahakan keselamatannya. Yesus datang ke dunia untuk mengajarkan empati Allah akan penderitaan manusia. Dia tidak menangis dari surga sambil mendengarkan atau melihat penderitaan manusia. Dia datang dan terlibat dalam penderitaan manusia bahkan Dia memberikan d iriNya untuk keselamatan manusia. Rasa inilah yang saat ini sudah menipis.
Orang sudah merasa puas bila mampu berkotbah tentang kasih, memberikan harapan pada orang yang menderita dan menampakkan wajah sedih bila melihat orang menderita. Maka saat ini sangat dibutuhkan orang Samaria yang baik hati. Orang yang berani menanggung resiko demi keselamatan orang lain. Orang yang menomor duakan kepentinganya sendiri d emi nyawa seseorang. Orang yang berani dengan tangannya sendiri menyentuh dan merawat orang yang sangat menderita.
Bagaimana dengan Caritas Keuskupan Sibolga dalam menjalankan visi dan misi lembaga bagi orang kecil, sederhana dan terpencil?
Di tengah zaman yang dikuasai oleh semangat egoisme yang tinggi, kerelaan berkorban yang kian menipis,
Refleksi
Biblis
kehidupan sosial yang semakin melemah, dan semangat rela berko rban yang hampir punah, Staf Caritas Keuskupan Sibolga dipanggil untuk tampil sebagai orang-orang Samaria masa k ini. Staf Caritas Sibolga dipanggil untuk membuka mata hati dan melihat serta menyelamatkan mereka yang sedang d irampok oleh nafsu kuasa dan pembiaran; menyelamatkan mereka yang dibiarkan tinggal dalam kegelapan malam hari tanpa penerangan listrik. Menyelamatkan mereka yang dib iarkan tinggal di pelosok-pelosok tanpa ada akses jalan. Menyelamatkan mereka yang ditindas oleh tengkulak-tengkulak karet dan coklat yang dengan sesukanya menentukan harga. Menyelamatkan ibu-ibu hamil yang kurang mendapat perawatan dan pasrah pada nasib antara mati dan hidup. Menyelamatkan anak-anak yang merintih kelaparan karena kekurangan makanan.
Menjadi orang-orang Samaria masa k ini bukanlah perkara yang mudah. Tantangan semakin berat dan resiko semakin tinggi. Apakah k ita harus takut? Apakah k ita berhenti saja sebagai pelayan-pelayan masyarakat kecil dan terpencil?
Semangat orang Samaria dalam Injil Lukas: 10:25-37 harus menjadi semangat staf CKS; berani menantang arus keganasan zaman, berani berkorban wak tu, tenaga bahkan materi, berani berjalan menyusuri sungai dan rawa, mendaki gunung dan menuruni lembah untuk mencari dan menemukan orang kecil di tengah hutan karet lalu duduk bersama dan mengerti persoalan hidup mereka k emudian mengajak mereka untuk berpikir, berencana dan akhirnya berbuat bersama mereka demi hidup yang lebih baik dan manusiawi. Itulah tugas mulia setiap staf CKS.
Mari kita belajar...dan belajar...dari orang Samaria yang murah hati...!
Beranikah Kita Mengambil Resiko Dalam Pelayanan?
Lukas 10:25 Lukas 10:25Lukas 10:25 Lukas 10:25----37373737
CMDRR
DEKANAT NIAS
Kec. Lahewa Ke c. L ahew a Tim ur Kec. Afulu Kec. Alasa Kec. Tu gala O yo Kec. M oro’o Kec. Man dreh e Barat Kec . Siro mbu Kec. Lahomi Ke c. Lo low a’uKec. Lolomatua Kec. Gomo
Kec. Lahusa Kec. Amandraya Kec. Telukdalam Kec. Bawolato Kec. Idanogawo Kec. Gido Kec. Gunungsitoli Idanoi Kec. Gunungsitoli Selatan Kec. Gunungsitoli
Kec. Gunungsitoli Utara Kec. Tuhemberua
Kec. Sawo
Kec. Sitölu Ori Kec. Lotu
Kec. Namohalu Esiwa
Kec. Alasa Talumuzoi Kec. Hiliduho
Kec. Ma’u Kec. Lolofitu Moi
Kec. Sa molo-molo
Kec. Ulu Gawo Kec. Mandrehe
Kec. Mandrehe Utara Kec. Boto Muzoi
Kec. Hili Serangkai
Paroki Lahewa Paroki Alasa SOSIAL Paroki Laverna SOSIAL Paroki St. Maria BPB LIVELIHOOD
Paroki Nias Barat
CMDRR
KESEHATAN CMDRR
Paroki Amandraya
SOSIAL
Paroki Telukdalam (Kota)
Paroki Telukdalam (Luar Kota)
SOSIAL Paroki Togizita GENDER Kabupaten Nias GENDER Kota Gunungsitoli LIVELIHOOD Paroki Lahusa-Gomo SOSIAL Paroki Gido SOSIAL Paroki Tuhemberua SOSIAL LIVELIHOOD SOSIAL SAMAERI CMDRR SOSIAL Paroki Idanogawo CMDRR KESEHATAN SOSIAL Paroki KGB
DEKANAT TAPANULI
Paroki Padangsidempuan
Paroki Tarutung Bolak
Paroki Sibolga
Paroki Pangaribuan
Paroki Pandan
Paroki Tumbajae
Provinsi Sumatera Utara
Provinsi Sumatera Utara
Provinsi Sumatera Utara
Provinsi Sumatera Utara
CMDRR
Paroki Pinangsori
SOSIAL
Wilayah
Pelayanan CKS
Apakah bencana dari waktu ke waktu semakin bertambah atau semakin berkurang? Apakah bencana belakangan ini semakin sering terjadi jika dibandingkan beberapa abad yang lalu? Adakah satu tempat di muka bumi ini yang steril dari fenomena bencana alam? Apakah perubahan iklim dan pemanasan global itu sungguh terjadi? Siapa yang paling rentan dengan peristiwa bencana dan perubahan iklim? Apakah masyarakat khususnya di pedesaan sungguh menyadari hal ini? Seberapa jauh masyarakat dari kelompok rentan/ marjinal siap dengan fenomena bencana? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang terus menyedot perhatian masyarakat global terutama para pegiat kebencanaan. Diskusi kritis tentang membangun kelentingan (resiliency) atau keberdayatahanan masyarakat terus digulirkan.
Ilustrasi kelentingan ini ibarat pegas atau per yang ditekan akan mengeper kembali. Atau bola pimpong yang dipukulkan ke lantai namun akan melenting kembali. Keberdayatahanan manusia terhadap bencana adalah satu proses mengadaptasikan dan memulihkan diri saat terjadi bencana. Salah satu elemen dalam keberdayatahanan masyarakat terhadap bencana adalah terciptanya ketahanan pangan masyarakat. Pangan menjadi satu komoditas yang sangat penting saat terjadi bencana. Oleh karena itu sangat penting mendorong masyarakat untuk membangun sistem ketahanan pangan baik di tingkat keluarga maupun secara kolektif di tingkat masyarakat.
Upaya membangun kebertahanan masyarakat dalam ketahanan pangan menjadi satu isu penting yang terus dikampanyekan oleh proyek CMDRR sejak dari awal hingga sekarang. Salah satu caranya dengan
menghidupkan kembali kebiasaan masyarakat
pedesaan untuk menyiapkan lumbung pangan di tiap rumah. Kebiasaan ini dalam konteks Nias dikenal dengan istilah “mangöhöna”. Secara harafiah istilah
mangöhöna mungkin kurang lebih berarti
mempersiapkan segala keperluan termasuk di dalamnya makanan, kayu bakar, pakan ternak, dll. Biasanya kebiasaan mangöhöna dilakukan pada hari Sabtu atau menjelang hari-hari besar agama Kristen karena ada kebiasaan masyarakat untuk tidak melakukan pekerjaan berat pada hari-hari tersebut. Oleh
:
Aktivitas Sarumaha (Manajer Proyek CMDRR III)Aktivitas Sarumaha (Manajer Proyek CMDRR III)Aktivitas Sarumaha (Manajer Proyek CMDRR III)Aktivitas Sarumaha (Manajer Proyek CMDRR III)Pengurangan
Resiko Bencana
relevan terhadap keberdayatahanan keluarga jika bencana sewaktu waktu terjadi. Kebiasaan Kebiasaan mangöhöna menjadi salah satu kearifan lokal untuk ketahanan pangan yang modelnya sangat mangöhönakemungkinan besar masih dapat ditemukan dan dipraktikan oleh masyarakat pedesaan. Akan sangat menarik jika ada satu pengamatan mendalam menilik trend kebiasaan mangöhöna dari waktu ke waktu di masyarakat.
Model lain dari ketahanan pangan adalah terciptanya keberagaman pangan di masyarakat. Keberagaman pangan maksudnya adalah adanya pilihan-pilihan pangan lainnya selain pangan “mainstreaming”. Pangan
mainstreaming adalah pangan yang bertumpu pada komoditas beras. Masih segar di ingatan saya, saat berkunjung ke desa-desa dampingan di Nias, ketika tuan rumah menyuguhkan makanan, pantang bagi mereka menyajikan makanan selain nasi bagi tamu mereka. Nasi dipandang sebagai jenis makanan prestisius.
Sementara ubi, pisang, talas, sagu ataupun jagung masih cenderung dipandang sebagai pangan kelas dua. Cara pandang masyarakat dalam mengkotak-kotakkan pangan berpotensi menciptakan ketergantungan pada satu jenis pangan saja dan mendiskriminasikan pangan lainnya.
Diskriminasi pangan tidak hanya terjadi pada jenis pangan ubi, pisang, talas dan sagu tapi juga terjadi pada pangan dari sayur-sayuran. Sayur kol adalah jenis sayur primadona yang dipandang layak untuk diberikan kepada tamu. Saya kurang tahu sejak kapan jenis sayur kol menjadi sayur kelas satu di desa-desa di Nias namun yang pastinya di hampir banyak acara, sayur kol seolah menjadi sayur wajib. Sayur daun singkong, kangkung dan pakis adalah pilihan terakhir.
Kampanye keragaman pangan adalah hal penting untuk penyadaran masyarakat terhadap isu ketahanan pangan. Secara sederhana upaya ini terintegrasi dalam kegiatan pendampingan proyek CMDRR di komunitas dampingan melalui kegiatan latihan masak memasak yang diorganisir oleh kelompok perempuan. Dalam latihan masak memasak tersebut, rasa percaya diri masyarakat dibangun untuk menggunakan jenis-jenis pangan lainnya dengan cara pengolahan yang bervariasi sehingga didapat makanan yang menarik dan bergizi.
Semoga dengan mengembangkan sistem kesiagaan pangan melalui melalui lumbung pangan dan bibit serta kampanye keanakaragaman pangan, diharapkan berkontribusi besar dalam menciptakan ketahanan pangan untuk keberdayatahanan masyarakat terhadap bencana. ΩΩΩΩ
Judul Proyek : Community Managed Disaster Risk Red uction 3rd Phase (CMDRR III) Periode Proyek : Januari 2012 - Juli 2014
Lokasi Proyek : 11 komunitas di 6 paroki di Keuskupan Sibolga Sumber Dana : SCCF, Caritas Italiana, Caritas Bozen
SOCIAL
Activity
Genap sudah dua tahun Caritas Centre berkarya di wilayah Keuskupan Sibolga, akhirnya pada bulan Juni 2012 Caritas Centre tahap II menyelesaikan tugas dan tanggungjawab yang diembannya. Caritas Centre pun melakukan proses evaluasi terhadap proyek secara internal, pada awalnya ada keraguan dari Divisi Sosial apakah Caritas Centre ini memberikan dampak yang positif bagi para pesertanya, sehingga untuk mengatasi keraguan tersebut Divisi Sosial terjun kembali ke lapangan melakukan wawancara langsung dan melalui telepon, kunjungan rumah, pengisian kuesioner kepada para penerima manfaat Caritas Centre tentang situasi mereka setelah menyelesaikan kegiatan Caritas Centre.
Adapun pembelajaran yang dapat dipetik adalah perlu intervensi proyek terhadap penerima manfaat setelah selesai kursus sehingga dampak positif proyek lebih maksimal, seperti menghubungkan alumni kursus dengan lembaga pembiayaan dan lapangan kerja yang memungkinkan dengan cara memberikan pengetahuan tentang dasar-dasar kewirausahaan, pembukuan sederhana dan pengembangan organisasi jaringan alumni. Dari tahap II ini juga diambil pembelajaran bahwa biasanya kursus keterampilan hidup seperti tataboga, bengkel, salon, menjahit dan sablon lebih memiliki dampak langsung dibandingkan dengan kursus seperti : komputer, musik dan bahasa Inggris.
Selain menciptakan manusia yang terampil secara ilmu pengetahuan, para peserta Caritas Centre tahap II dibentuk menjadi manusia yang memiliki nilai-nilai kehidupan seperti penghargaan, cinta, kebahagiaan, kebebasan, tanggungjawab, kejujuran, kerendahan hati, toleransi, kesederhanaan, kerjasama. Penanaman nilai ini dimulai dari sosialisasi penerimaan peserta kursus dan
diwujudkan melalui kegiatan sosial. Sehingga
menciptakan Caritas Centre sebagai tempat belajar yang memiliki ragam kegiatan serta identitas yang berbeda dan tidak terbatas pada kursus keterampilan melainkan juga sebagai tempat belajar dengan unsur pengembangan diri seperti : kepedulian terhadap sesama, belajar mengorganisir kegiatan, berwirausaha dan pembinaan rohani. Hingga akhir Caritas Centre tahap II, kegiatan sosial telah diikuti oleh 292 peserta kursus, dimana setiap gelombangnya mengalami peningkatan jumlah peserta. Hal ini disebabkan tingginya rasa memiliki para peserta Caritas Centre dengan keterlibatan secara langsung untuk merancang dan melaksanakan seluruh kegiatan sosial.
Melihat antusiasme dari peserta akan kegiatan sosial ini, maka kegiatan sosial akan tetap dilaksanakan pada tahap berikutnya dengan metode memilih kegiatan yang dapat diorganisir secara langsung oleh peserta Caritas Centre dan bernuansa kaum muda.
Oleh
:
Mega Mendrova (Manajer Div isi Sosial)Mega Mendrova (Manajer Div isi Sosial) Mega Mendrova (Manajer Div isi Sosial)Mega Mendrova (Manajer Div isi Sosial)Dan pada akhir proyek Caritas Centre tahap II penyerapan dana dari anggaran yang diperkirakan sebelumnya hingga Juni 2012 sebesar 77,90%. Hasil yang cukup memuaskan, karena dalam pelaksanaannya setiap kegiatan tim proyek mengelola dana secara efisien tanpa harus menghabiskan total anggaran.
Memasuki Caritas Centre tahap III, kata penyegaran adalah sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan tahap baru ini. Belajar dari tahap sebelumnya, di tahap ini terjadi proses regenerasi para tutor dan stafnya hingga mengganti sistem belajar mengajar menjadi lebih tepat guna bagi kaum muda. Adapun langkah pertama yang dilakukan di tahap baru ini yakni staff Divisi Sosial yang memiliki kompetensi, belajar menjadi tutor untuk beberapa kursus tertentu : komputer, tataboga,
handycraft+sablon. Selain itu, alumni Caritas Centre direkrut
juga menjadi tutor/asisten tutor. Sedangkan untuk lokasi pelaksanaan Caritas Centre diselenggarakan di kota Gunungsitoli untuk mempermudah mengorganisir kegiatan. Caritas Centre juga menjadi lebih percaya diri menampilkan wajahnya di khalayak ramai dengan mendapatkan legalitas dari pemerintah, dengan harapan alumni Caritas Centre sertifikatnya diakui, diterima pasar dan lebih mudah mendirikan usaha atau pun dapat melanjutkan kursus ke jenjang yang lebih tinggi. Dalam menjaring calon peserta, Caritas Centre mempromosikan diri melalui radio Kota Gunungsitoli agar masyarakat secara umum mendapatkan kesempatan yang sama.
Proses pelaksanaan Caritas Centre tahap III menghasilkan respon yang positif dari masyarakat umum, ini terlihat dari minat pendaftar di Caritas Centre pada Gelombang I sebanyak ±200 orang. Dan setelah proses seleksi, jumlah peserta yang diterima sebanyak 62 orang dari keseluruhan kursus yang ada di Caritas Centre.
Selain mengembangkan keterampilan dan nilai-nilai sosial, peserta juga mendapatkan pengalaman lain misalnya : belajar Pertolongan Pertama Gawat Darurat, belajar mendaur ulang gelas plastik menjadi pohon hias, sosialisasi CBR, sosialisasi kesetaraan gender, belajar membuat kain flanel, menjadi relawan pada saat banjir di Mandrehe serta belajar menggalang dana untuk mendukung kegiatan sosial mereka.
Dari banyaknya pengalaman yang didapat, peserta diajak untuk merancang kegiatan sosial, membentuk kepanitiaan. Dan hasilnya pelaksanaan kegiatan sosial bersama anak-anak di panti asuhan Alma. Seluruh kegiatan di panti asuhan tersebut dilaksanakan oleh peserta kursus seperti : memandikan anak, memasak, menjaga anak dan menghibur anak-anak dengan mengadakan games serta kebaktian bersama. Satu hari yang luar biasa bagi anak-anak panti dan peserta kursus karena bisa saling berbagi kebahagian.
Ke depan Caritas Centre akan tetap melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Karena Caritas Centre yakin dan percaya kaum muda adalah masa depan Indonesia yang harus dibentuk menjadi sebuah pribadi yang memiliki kemampuan dan semakin menghargai nilai-nilai kehidupan. ΩΩΩΩ
Judul Proyek : Caritas Centre for Youth II
Periode Proyek : Mei 2010 - Juni 2012
Lokasi Proyek : Wilayah Keuskupan Sibolga
Sumber Dana : Caritas Italiana
“Sungguh luar biasa kasih yang diberikan oleh Caritas Centre, mulai dari pagi hingga sore hari kami para suster dan kakak-kakak disini tidak diperbolehkan bekerja, semua dikerjakan oleh peserta Caritas Centre. Belum pernah ada yang seperti ini, tidak ada yang bisa kami lakukan bahkan tidak bisa dibalas kepada kalian semua. Terimakasih atas kasih dan perhatiannya. Mudah-mudah ke depan Caritas Centre bisa menjadi kursus yang lebih maju karena berbeda dari kursus lain, berani menampilkan wajah Kristus dalam bentuk yang nyata dalam perbuatan kepada kami. “
Sr. Shinta, ALMA Sr. Shinta, ALMASr. Shinta, ALMA Sr. Shinta, ALMA Suster pengasuh di Panti ALMA
&
C B R
(Community Based Rehabilitation)
Sejak Februari 2012, Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) bersama Wisma Bhakti Luhur ALMA – Nias melaksanakan program Community Based Rehabilitation (CBR) di Pulau Nias dengan dukungan dari Caritas Italiana. CBR adalah sebuah strategi dalam pengembangan masyarakat untuk rehabilitasi, kesamaan, kesempatan, dan integrasi sosial bagi penyandang cacat (WHO).
Sebelumnya, kegiatan CBR ini telah dijalankan oleh para Suster ALMA dengan fokus pada korban tsunami di Sirombu, Kab. Nias Barat. Seiring dengan berjalannya waktu, kegiatan ini berkembang pelaksanaannya di Gidö dan Gunungsitoli. Keberadaan difabel tidak hanya karena dicari dan ditemukan oleh Suster, tetapi juga karena partisipasi keluarga, masyarakat, lektor dan pastor di paroki dan stasi untuk memberitahukan dan mohon penanganan dari Suster ALMA.
Pada awalnya difabel yang didampingi hanya 7 orang anak, dan sekarang sudah ada 150an anak yang menjadi peserta CBR ALMA (106 di lapangan – level kecamatan, selebihnya di wisma Bhakti Luhur-ALMA Gunungsitoli).
Saat ini masih banyak daerah yang belum terjangkau.
Meskipun ALMA telah menangani di wilayah
Tuhemberua, Gunungsitoli, Gidö, Binaka, Idanogawo, Bawölato, Moi, Bawalia, masih banyak permintaan yang diajukan supaya ALMA bisa menangani CBR di tempat lain seperti dari wilayah Gomo dan Tögizita. Agar pelayanan ini semakin dapat menjangkau difabel, maka dibuatlah program ini bekerjasama dengan CKS.
Dalam pelaksanaan CBR
kegiatannya tidak hanya bergerak dalam terapi anak tetapi juga pemberdayaan keluarga. Khusus anak yang berusia belasan tahun sampai 25 tahun, tidak hanya diajari membaca dan menulis,
tetapi ALMA mempersiapkan
mereka dalam kemandirian
ekonomi. Difable yang didampingi ALMA terdiri dari anak yang memiliki keterbelakangan mental, tuna grahita, CP, autis, low vision
dan tuna rungu.
Pada prinsipnya ALMA tidak akan melepaskan ‘peserta’ CBR sebelum dipandang mandiri. Bhakti Luhur (BL) melalui ALMA memberikan modal kepada ‘peserta’ untuk memulai usaha (kios dan beternak babi) dimana setelah usaha tersebut berkembang keluarga mengembalikan modal yang sudah diberikan. Saat ini BL sudah memberikan modal kepada 25 anak, dimana ada yang berhasil dan ada juga yang gagal karena salah kelola hingga bangkrut serta adanya pencurian. Dalam pelaksaan kegiatan CBR masih ditemukan beberapa orang tua yang menyembunyikan keberadaan difabel dari lingkungannya sehingga menyulitkan pihak ALMA untuk melakukan pendampingan. Kegiatan CBR dijalankan oleh lima orang petugas lapangan ALMA dan staf lokal yang dibekali kemampuan dan keterampilan khusus untuk menangani difabel. Selain itu peningkatan kapasitas lokal dilakukan melalui kader-kader dari masyarakat setempat.
Adapun permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan proyek CBR adalah : 1. Pada umumnya difabel belum diterima oleh keluarga
2. Difabel pada umumnya ditemukan pada keluarga-keluarga miskin
3. Difabel yang disebabkan rendahnya pelayanan kesehatan dan situasi nutrisi ibu hamil dan balita 4. Pemerintah kurang memperhatikan masalah-masalah difabel
5. Rendahnya jumlah anak difabel usia sekolah yang mengikuti pendidikan di sekolah umum 6. Rendahnya aksesibilitas bagi difabel
7. Belum adanya Peraturan Daerah yang mengatur tentang difabel 8. Belum adanya organisasi difabel di Pulau Nias
Untuk menjawab permasalahan di atas maka disimpulkan untuk melakukan kegiatan CBR sesuai dengan pengalaman dan kapasitas organisasi maka disimpulkan intervensi dengan tujuan agar :
Anak dan orang dewasa difabel mampu berpartisipasi di komunitas secara mandiri di wilayah dekanat Nias Anak dan orang dewasa difabel mampu berpartisipasi di komunitas secara mandiri di wilayah dekanat Nias Anak dan orang dewasa difabel mampu berpartisipasi di komunitas secara mandiri di wilayah dekanat Nias Anak dan orang dewasa difabel mampu berpartisipasi di komunitas secara mandiri di wilayah dekanat Nias Keuskupan Sibolga
Keuskupan Sibolga Keuskupan Sibolga Keuskupan Sibolga
Yang dicapai melalui :
1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pendampingan untuk 116 difabel CBR (melalui staf lokal) 2. Mengurangi kerentanan keluarga difabel dalam hal mata pencaharian dan ketahanan pangan 3. Meningkatkan aksesibilitas difabel
4. Adanya jaringan yang terlibat dan mendukung kegiatan CBR/RBM. ΩΩΩ Ω
Judul Proyek : Community Based Rehabilitat ion (CBR)
Periode Proyek : Januari 2012 - Juli 2014
Lokasi Proyek : Pulau Nias
Donatur
: Caritas Italiana
PKDM
(Promosi Kesehatan Dasar Yang Dimanajemeni Masyarakat)
Sejak dimulainya Proyek PKDM pada awal Juli 2011 hingga Desember 2012, banyak temuan dan pembelajaran yang diperoleh oleh Caritas Keuskupan Sibolga (CKS). Proses pencarian jati diri dalam proyek ini menghasilkan beberapa hal yang harus direvisi. Sehingga pada April 2012, Tim kesehatan bersama manajemen CKS duduk bersama untuk mendiskusikan pembelajaran dan perubahan yang dianggap penting demi tercapainya tujuan utama proyek ini yaitu untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat khususnya ibu dan balita di dua wilayah Paroki yaitu Paroki Amandraya dan Lahusa-Gomo di Kabupaten Nias Selatan.
Salah satu pembelajaran menarik yang menjadi temuan adalah home visit untuk promosi kesehatan. Home visit
adalah istilah kunjungan dari rumah ke rumah masyarakat untuk melakukan promosi kesehatan. Istilah ini sebenarnya lebih tepat bila diartikan pendekatan dan pendampingan personal untuk melakukan promosi kesehatan. Dalam keseharian masyarakat akan semakin sering dikunjungi oleh fasilitator. Anak-anak merasa mendapat teman saat kunjungan dan promosi terjadi. Fasilitator akan mengajak mereka bermain dan mengikuti aktivitas harian ataupun permaian mereka agar mudah diterima. Misalnya, seorang fasilitator akan melakukan promosi mengenai air sehat untuk diminum ataupun tentang kebersihan pribadi saat anak-anak sedang bermain air di sungai.
Orang dewasa khususnya Ibu hamil (BUMIL) dan menyusui akan terus diberikan informasi mengenai perawatan kehamilan dan pemberian ASI eksklusif enam bulan kepada bayi mereka. Khusus BUMIL yang sudah mendekati masa melahirkan (partus) fasilitator akan semakin intensif mendampingi bahkan menjadikan si Ibu tersebut sebagai target untuk keberhasilan praktek pemberian ASI eksklusif enam bulan kepada bayi. Sampai pada masa menyusui si Ibu juga akan terus didampingi. Hingga saat ini sudah ada tiga orang di desa dampingan Divisi Kesehatan CKS yang berhasil mempraktekkan pemberian ASI eksklusif enam bulan. Ini adalah hal menarik karena sebelumnya, tidak ada satu ibupun yang melakukannya. Bahkan awalnya proyek sempat pesimis bila hal tersebut bisa dilakukan. Namun ini membuka harapan baru bahwa praktek tersebut tidak mustahil dilakukan oleh masyarakat desa yang sibuk sekalipun.
Beberapa keuntungan lain yang dirasakan oleh tim fasilitator melalui home visit adalah masyarakat merasa diperhatikan hidupnya. Menurut mereka bahkan perhatian pemerintah tidak sedemikian kepada masyarakat.
Oleh
:
Royn K. Silaen (Manajer Proyek PKDM)Royn K. Silaen (Manajer Proyek PKDM)Royn K. Silaen (Manajer Proyek PKDM)Royn K. Silaen (Manajer Proyek PKDM)Hal ini tidak hanya memunculkan manfaat dari sekedar kegiatan promosi kesehatan saja, melainkan juga terbangunnya hubungan kekeluargaan antara masyarakat dan fasilitator.
Promosi kesehatan tidak hanya dilakukan oleh fasilitator. Beberapa pengurus ternyata mulai terlibat melalui kegiatan 10 hari Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Pos Gizi (PG). mungkin saat ini mereka baru percaya diri untuk melakukan promosi kesehatan kepada anak-anak. Harapan ke depan adalah mereka dapat melakukan pendekatan home visit atau pendekatan personal ini kepada siapa saja dengan penuh kesadaran dan keyakinan. TRAINING RELAWAN UNTUK KEBERLANJUTAN PROMKES DAN POSYANDU
TRAINING RELAWAN UNTUK KEBERLANJUTAN PROMKES DAN POSYANDU TRAINING RELAWAN UNTUK KEBERLANJUTAN PROMKES DAN POSYANDU TRAINING RELAWAN UNTUK KEBERLANJUTAN PROMKES DAN POSYANDU
Pada tanggal 21-22 November 2012, tim Di-visi Kesehatan CKS menyelenggarakan Training Relawan untuk Promosi Kesehatan (PROMKES) dan Kegiatan POSYANDU di Paroki Amandraya. Training ini bertujuan untuk membekali keterampilan melakukan promosi kesehatan dan keterlibatan dalam kegiatan POSYANDU kepada para relawan dari tiga desa dampingan.
Peserta yang terlibat berasal dari Desa Uluidano Duo-Lahusa, Lölöabölö dan Hilifadölö Amandraya. Terdiri dari 30 peserta dari Amadraya dan 15 lainnya dari Lahusa. Selama proses training para relawan diberi pengetahuan dasar mengenai Promosi Kesehatan dan POSYANDU dan selanjutnya mempraktekkan bagaimana saat melakukan PROMKES dan terlibat di kegiatan POSYANDU, misalnya mempraktekkan bagaimana melakukan pendaftaran di meja 1, pengukuran dan penimbangan di meja 2, pencatatan di meja 3 dan PROMKES di meja 4.
Dalam proses memfasilitasi, tim CKS bekerjasama dengan dua orang tenaga kesehatan dari PUSKESMAS Amadraya (Ibu Bidan Mona Sitorus dan Ka. Pustu Eduard Bu’ulölö) dan 1 orang fasilitator dari Divisi CMDRR CKS (Fedianto Finowa’a). Kepala Puskesmas Amandraya (Bapak Otalui Bago) sebagai perwakilan dari Dinas Kesehatan Nias Selatan turut hadir pada akhir pelatihan. Keterlibatan pihak pemerintah mulai membawa angin segar terhadap kegiatan yang sedang dijalankan oleh proyek PKDM bagi masyarakat di Nias Selatan.
Harapan jangka panjang dari pelatihan ini adalah adanya orang-orang yang secara rela memberikan waktu dan tenaga untuk melanjutkan kegiatan PROMKES dan memastikan kegiatan POSYANDU rutin berjalan mengingat 75 persen tenaga yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan POSYANDU adalah dari unsur masyarakat. Peran dari tenaga medis hanya menyediakan tenaga untuk PROMKES dan tindakan medis (seperti pemberian vaksin, vitamin dan pelayanan kesehatan ringan). Semoga para relawan ini memiliki komitmen untuk setia memberikan waktu dan perhatiannya kepada masyarakat di desa mereka masing-masing dalam melakukan PROMKES dan terus terlibat di kegiatan POSYANDU. ΩΩΩΩ
Judul Proyek : Community Managed Health Promotion Periode Proyek : Juli 2011 - Juni 2013
Lokasi Proyek : Wilayah Paroki Lahusa-Gomo dan Paroki Amandraya Sumber Dana : Caritas Italiana
GENDER
Promotion
Proyek gender kedua merupakan lanjutan dari proyek gender-I. Perbedaannya terletak pada penerima manfaatnya. Pada proyek pertama penerima manfaatnya adalah para pekerja pastoral dan anak asrama yang berada di wilayah dekanat Nias dan Tapanuli. Sedangkan proyek gender kedua, penerima manfaat utama adalah para guru dan anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota Gunungsitoli dan Kabupaten Nias. Di samping itu sasaran lain yang tidak kalah penting adalah kaum muda yang menjadi peserta kursus Caritas Centre.
Pemilihan anak sekolah -yang notabene adalah kaum muda- dikarenakan mereka adalah kelompok rentan -baik sebagai ‘korban’ maupun ‘pelaku’- tetapi di posisi lain mereka adalah kelompok dinamis yang relatif lebih muda untuk diberi pemahaman baru, diberi pengetahuan baru. Sehingga ke depan mereka diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang merubah perspektif budaya statis menjadi perpsektif budaya dinamis. Dengan demikian budaya patriarkhi yang selama ini dianggap menjadi akar persoalan adanya ketidakadilan terhadap jenis kelamin tertentu -dalam hal ini merujuk pada perempuan- dapat diminimalisir dampaknya. Dari perspektif lain, mereka merupakan calon pemimpin masa depan dimana yang akan menduduki posisi-posisi strategis di masyarakat sehingga besar harapannya dengan pembekalan pemahaman gender, ke depan mereka dapat mengambil sebuah keputusan mulai dari ranah domestik hingga publik yang memiliki perpsektif keadilan dan kesetaraan gender.
Selain pelatihan terhadap guru dan kaum muda -anak sekolah serta peserta kursus Caritas Centre- proyek gender kedua juga masuk pada ranah advokasi peraturan perundang-undangan. Dalam konteks ini peraturan yang diadvokasi adalah Peraturan Daerah (Perda). Proyek yang berdurasi sekitar dua tahun ini berupaya untuk mendorong pemeritah daerah Kabupaten Nias untuk mengesahkan Perda Pengarusutamaan Gender. Perda ini diharapkan menjadi corong masuk bagi perubahan perspektif berfikir masyarakat melalui program-program pemerintah agar lebih setara dan adil gender. Target jangka panjangnya adalah adanya pengikisan terhadap budaya patriarkhis yang tendensius pada perlakuan diskriminatif terhadap perempuan.
Hal yang juga tidak kalah menarik dari proyek gender kedua ini adalah dimana CKS sendiri sebagai pelaksana proyek juga mencoba instropeksi diri secara intern. Bentuk intropeksi dirinya berupa pengadaan pelatihan gender kepada para staf dan analisis terhadap aturan-aturan CKS, sehingga staf dan aturan serta kebijakan-kebijakan CKS bisa lebih berperspektif gender.
Proyek Gender-II yang akan berakhir sekitar awal 2014 ini masih memiliki banyak agenda kegiatan, khususnya yang terkait dengan pelatihan dasar gender di SMP dan SMA/SMK di Kota Gunungsitoli dan Kabupaten Nias serta terkait dengan advokasi Ranperda PUG di Kabupaten Nias bersama Koalisi Perempuan dan Anak. Artinya perjalan proyek ini masih relatif panjang dalam upaya mensosialisasikan keadilan dan kesetaraan gender bagi siswa/ siswi sekolah penerima manfaat, masyarakat dampingan CKS, masyarakat umum dan bagi CKS sendiri tentunya dengan harapan keadilan dan kesetaraan gender itu dapat terwujud. Semoga. ΩΩΩ Ω
Perjalanan Panjang Keadilan dan Kesetaraan Gender
Oleh
:
R io F. Girsang (Spesialis Gender CKS)R io F. Girsang (Spesialis Gender CKS)R io F. Girsang (Spesialis Gender CKS)R io F. Girsang (Spesialis Gender CKS)Materi Gender Menjadi Muatan Lokal, Mungkinkah?
Cerita berikut adalah kesan dan pesan yang disampaikan salah seorang peserta, Bapak Rorogo Hulu, S.Ag dari
SMPN-1 Ma’u pada acara penutupan Pelatihan Memfasilitasi dan Pembuatan Proposal Untuk Guru di Kabupaten Nias. Berikut petikannya :
“
Bapak ibu yang kami hormati pada kesempatan ini kamimen-gucapkan banyak terimakasih kepada Caritas Keuskupan Sibolga, karena memperhatikan masa depan anak sekolah dengan menyiapkan kami menjadi fasilitator dalam menyampaikan mat eri atau pendidi-kan gender untuk pendidipendidi-kan anak-anak didik di masa depan. Men-genai materi pelajaran gender dasar dan lanjutannya ini (red: pe-latihan fasilitator dan pembuatan proposal), kami b erharap supay a ini bisa kami l anjutkan di sekolah masing-masing. Kami mengusulkan kepada Dinas Pendidikan supaya mata pelajaran gender atau pema-haman gender dijadikan muatan lokal, b aik di tingkat SD,SMP, SMA atau SMK. Tetapi kami bingung bila tidak ada kerjasama dan ijin dari dinas pendidikan, kami segan, itulah ket erbatasan kami. Terutama sekali pada ruang lingkup pendidikan t erutama masyara-kat Kabupaten Nias yang mayoritas belum mengenal bagaimana pendidikan gender secara luas. Kalau kami menantang arus begitu saja, pasti kami tidak sanggup, seakan kami memaksa. Tapi kalau ada dukungan dan ijin dari Dinas Pendidikan, kami sangat berteri-makasih.
Dengan ini juga kalau hal ini dikabulkan oleh Kepala Dinas Pendidikan harapan kami kepada CKS, untuk menyiapkan buku paket pendidikan gender baik tingkat SD, SMP dan SMA/SMK, supaya kami sebagai fasilitator siap melaksanakan dan turut memperjuangkan kesetaraan gender melalui pendidikan sekolah. Bapak ibu yang kami hormati, kami b erharap harapan kami ini bisa di kabulkan untuk meningkat-kan mutu pendidimeningkat-kan khusunya di kabupaten Nias. Terima kasih”.
Itulah kesan dari salah seorang guru yang sepertinya sulit untuk terwujud dan menjadi pertanyaan cukup menantang sekaligus menarik, “materi gender menjadi muatan lokal, mungkinkah?”
Judul Proyek : Promosi Kesetaraan Gender Untuk Guru dan Siswa di Kota Gunungsitoli dan Kabupaten Nias
Periode Proyek : Januari 2012 - Februari 2014
Lokasi Proyek : Kota Gunungsitoli dan Kabupaten Nias Sumber Dana : Caritas Italiana
LIVELIHOOD
Alasa
Community Managed Livelihood Promotion (CMLP) Tahap II di wilayah Paroki St. Bonifasius Alasa, yang mencakup sepuluh dusun di tiga desa (Hilibanua, Orahili dan Sisobahili) di wilayah administratif Kecamatan Namohalu Esiwa Kabupaten Nias Utara, diluncurkan pada bulan Februari 2012 melalui kerangka program livelihood Caritas Keuskupan Sibolga.
Setelah proses perekrutan dan orientasi tim CMLP II yang berjumlah delapan orang pada pertengahan Februari 2012, pada bulan Maret 2012 digelar penyusunan dan validasi Rencana Kerja Tahunan (RKT) di Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM)
dampingan secara paralel dengan kegiatan penguatan kapasitas tim terkait metodologi CMLP dan keterampilan teknis budidaya karet okulasi. Selanjutnya ketujuh KSM ini pada bulan April 2012 melakukan presentasi singkat RK tahunan 2012 pada penutupan pelatihan Kepemimpinan dan Pengembangan Organisasi (KPO). Saat itu mereka mendapat apresiasi membahagiakan dari para pemangku kepentingan, baik dari para pengurus KSM, CKS, maupun dari unsur pemerintahan lokal.
Dalam pelaksanaannya, RKT KSM dampingan CMLP II Alasa dibagi ke dalam RK tiga bulanan. Perencanaan RK tiga bulanan ini dilakukan secara partisipatif, dimana anggota KSM dan pemangku kepentingan internal dapat bersama-sama melihat, merekomendasikan upaya-upaya solusi dari tantangan dan kendala yang dihadapi dan membuat rencana tindak lanjut kegiatan tiga bulan berikutnya. Tercatat sampai pada minggu kedua Desember 2012, tujuh KSM telah melaksanakan monitoring dan perencanaan partisipatif sebanyak tiga kali dengan persentase pelaksanaan RK rata-rata 80%.
Selain itu, tujuh KSM dampingan pada tahun 2012 bersama dengan tim CMLP II Alasa telah menginisiasi pembentukan forum petani karet di tiga desa, yakni Desa Orahili, Desa Hilibanua, dan Desa Sisobahili dengan didukung penuh oleh pemerintahan desa dengan diterbitkannya surat pengesahan kepengurusan dan keanggotaan serta AD/ART masing-masing KSM.
Untuk komponen promosi livelihood dalam RKT KSM telah mencapai hasil-hasil sebagai berikut: 1. Budidaya Karet Okulasi
Lahan Peremajaan Ka ret Okulasi KSM Orahua Lauru-Hilibanua, Agustus 2012
Bedengan Pembibitan Batang Bawah Karet KSM Faomasi Silimabanua, September 2012
2012, Catatan Perjalanan CMLP II Menuju RKT 2013
Oleh
:
Kasih Harefa (Manajer Proyek CMLP II)Kasih Harefa (Manajer Proyek CMLP II)Kasih Harefa (Manajer Proyek CMLP II)Kasih Harefa (Manajer Proyek CMLP II)Sekolah Lapang (SL) karet dilaksanakan sepanjang tahun 2012 untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota KSM dalam budidaya karet. Sebanyak 5.254 batang karet okulasi telah ditanam di lahan seluas 32ha milik anggota KSM dan jumlah masyarakat yang terampil okulasi sejumlah 43 orang. Melalui pencapaian ini, kegiatan pengembangan karet unggul di komunitas dampingan telah memberi dampak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
2. Budidaya Tanaman Muda
Kegiatan budidaya tanaman muda dimulai September 2012 sampai saat ini telah berjalan di 11 kelompok tanaman muda dengan jenis kelompok tanaman muda seperti terung, cabe, dan kacang panjang. Diperkirakan masa panen terjadi antara Februari-Mei 2013 yang hasilnya ditujukan sebagai sumber pemenuhan gizi keluarga sekaligus menjadi sumber penghasilan tambahan.
3. Pencegahan Penyakit dan Perlindungan Terhadap Ternak Babi
Untuk mengendalikan penyebaran dan resiko penyakit ternak babi, diupayakan terbentuk sistem mandiri dengan dua strategi mendasar yakni, melatih dan membekali para kader dengan kemampuan teknis vaksinasi, penyuntikan dan pencegahan penyakit ternak babi, sekaligus juga mendukung rantai pengadaan material dan alat vaksin, vitamin dan obat-obatan dengan harga terjangkau. CMLP II juga menawarkan jasa konsultasi gratis terkait penyakit ternak babi kepada masyarakat pembeli sehingga masyarakat mendapatkan pendampingan intens dimulai dari kios CMLP II Alasa sampai dilapangan melalui para pendamping dan kader terlatih.
Dalam pelaksanaan keseluruhan kegiatan di atas, tentunya tidak lepas dari berbagai kendala, tantangan dan buah-buah pembelajaran yang kemudian selalu dikomunikasikan di antara para pemangku kepentingan yang ada, baik di internal CKS sendiri dan mitra Paroki St. Bonifasius Alasa maupun dengan pemangku kepentingan eksternal lainnya termasuk pihak pemerintah dan lembaga-lembaga yang terlibat di wilayah kerja yang sama sehingga muncul gerakan bersama dari banyak pihak untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah Paroki Alasa.
Dan diharapkan agar tantangan, pembelajaran dan pencapaian kegiatan CMLP II Alasa bersama KSM dampingannya ini akan menjadi bekal perjalanan menuju perencanaan dan pelaksanaan kegiatan RKT 2013 setahun ke depan. Sehingga kehadiran Caritas dan karya pelayanannya di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan menjadi tanda bahwa kehadiran kasih Allah di tengah dunia. ΩΩΩ Ω
Judul Proyek : Livelihood Promotion in Alasa Parish Periode Proyek : Januari 2010 - April 2014
Lokasi Proyek : 14 dusun di Kab. Nias, Paroki Alasa Sumber Dana : Caritas Italiana
Menyiapkan dan membekali siswa-siswi SMK jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Holtikultura (ATPH) agar menjadi generasi yang handal dan berkualitas untuk membangun bangsa khususnya di bidang pertanian adalah tanggung jawab moral baik lembaga pendidikan (sekolah) maupun Dunia Usaha/Dunia Industri dan masyarakat. Menjawab tantangan ini maka Resource Centre (RC) Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) hadir, bekerja sama dengan pihak sekolah untuk memfasilitasi, mendampingi, membina, dan mengarahkan siswa-siswi SMK khususnya jurusan ATPH melalui kegiatan Praktek Kerja Industri (Prakerin).
Mulai tanggal 6 September 2012 hingga 6 Desember 2012, peserta didik dari SMK N 1 Gomo melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Industri (Prakerin) di Resource Centre Desa Siana’a Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat. Peserta didik tersebut berjumlah sembilan orang (empat perempuan dan lima laki-laki). Kegiatan Prakerin ini berlangsung selama tiga bulan. Metode pelaksanaan prakerin ini yaitu teori 30 % dan praktek 70 %. Dengan metode ini diharapkan siswa-siswi mampu mengerti, memahami dan menguasai bidang-bidang kegiatan yang dilakukan selama berada di lokasi Dunia Usaha/Dunia Industri.
Selama praktek di RC, para siswa tersebut melakukan beberapa hal salah satunya adalah pengembangan demoplot tanaman muda. Berkembang, tumbuh, dan menghasilkan, itulah yang selalu diharapkan dari tanaman. Oleh karenanya, salah satu faktor yang mempengaruhi hal itu adalah pengolahan tanah yang baik. Untuk mendapatkan struktur tanah yang gembur maka tanah perlu diolah. Salah satu caranya adalah dengan mencangkul. Struktur tanah yang gembur sangat baik bagi pertumbuhan akar tanaman. Akar dengan leluasa dapat menyerap unsur hara di dalam tanah. Jika akar tumbuh bagus dan sehat maka pertumbuhan tanaman akan cepat, subur dan banyak buah. Konsep yang sangat mendasar dan penting inilah yang harus dipahami dan dikuasai oleh setiap siswa yang Prakerin di RC.
Hal lain yang mereka lakukan adalah pembuatan pupuk organik (kompos), pengembangan demoplit tanaman keras (kakao dan karet okulasi), pembibitan karet okulasi klon PB 260, dan peternakan babi.
Diharapkan keberadaan Resource Centre sebagai Rumah Pelatihan dan Pengembangan Pertanian Peternakan Terpadu, dapat membawa manfaat positif bagi seluruh lapisan masyarakat terutama para kaum muda yang sedang mengecap pendidikan di sekolah. Peran serta CKS melalui RC untuk turut serta mendidik generasi penerus bangsa terutama di bidang pertanian ini tidak berhenti sampai di sini, untuk tahun 2013 sudah ada dua sekolah yang akan menitip siswanya ke RC, yakni SMK Negeri 1 Mandrehe dan SMK Negeri 1 Ulu Moro’o. ΩΩΩ Ω
Turut Mendidik Generasi Penerus Bangsa
Oleh:
Yulius Hulu (Manajer RC)Yulius Hulu (Manajer RC)Yulius Hulu (Manajer RC)Yulius Hulu (Manajer RC)RESOURCE
Centre (RC)
KEGI ATAN RESOURCE CENTRE (RC)
KEGI ATAN RESOURCE CENTRE (RC)
KEGI ATAN RESOURCE CENTRE (RC)
KEGI ATAN RESOURCE CENTRE (RC)
Resource Centre (RC) merupakan unit khusus yang dimiliki oleh Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) yang berfungsi sebagai wadah sarana pendidikan/ latihan pertanian terpadu. Awalnya diperuntukkan bagi komunitas kelompok dampingan CKS, namun pada perkembangannya RC membuka diri sebagai tempat belajar dan berlatih bagi berbagai kalangan masyarakat umum.
Beberapa kegiatan yang dilakukan di RC : 1. Pengembangan pertanian
• Tanaman keras (karet, kakao, buah, kayu
produktif)
• Tanaman muda/ palawija (pengembangan
demoplot tanaman muda dengan sistem rotasi, budidaya tanaman palawija dan
tanaman pangan dengan sistem
monokultur dan agroforestry)
• Kebun Produksi
• Pengembangan pupuk organik dan
pembuatan MOL
2. Sarana Pendidikan/ Latihan 3. Kemandirian RC.
Karya pelayanan RC dirasa cukup berdampak bagi masyarakat di Nias Barat. CKS dan Paroki Salib Suci, Nias Barat sepakat untuk tetap meneruskan karya ini. Pada saat ini dukungan dari beberapa keluarga Caritas internasional lambat laun menurun. Maka, agar dapat tetap berkarya, RC perlu menggalang dana sendiri dengan menyediakan jasa pelatihan pertanian dan memproduksi beberapa bibit tanaman/ pohon untuk dijual ke masyarakat, yakni :
• Bibit karet okulasi (klon PB 260) siap tanam
Rp. 10.500/ batang
• Entres Rp. 5.000/ meter
• Mahoni Rp. 3.000/ batang
Selain bibit tanaman/ pohon di atas, RC juga telah memulai pengembangbiakan babi jenis lokal, persilangan, dan duroc (hybrid). Tersedia pula untuk dijual seharga Rp. 40.000/ kilogram berat badan.
Harapan ke depan, RC benar-benar mampu menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia dan alam, RC bisa menjadi contoh bagi masyarakat umum lewat hasil-hasil pengujian dan percobaan. Hingga saat ini, kiprah RC di dunia pertanian bisa dikatakan cukup baik. Selain menjadi salah satu unit di CKS, RC juga mampu menjadi rumah belajar bagi masyarakat, dan masyarakatpun diberi keleluasaan untuk menduplikasikan model-model yang pernah mereka lihat di RC untuk dilakukan di lahan masing-masing. ΩΩΩΩ
Kegiatan
Caritas Keuskupan Sibolga
Sejak awal berdirinya, Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) senantiasa memupuk rasa persaudaraan dan kekompakan, baik itu di komunitas, divisi masing-masing, maupun secara keseluruhan.
Sekali dalam dua bulan, seluruh staf CKS mengikuti perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Direktur CKS, Pastor Mikael To, Pr. Melalui kegiatan rohani secara rutin ini, diharapkan dalam setiap karya staf selalu dilandasi oleh semangat pelayanan yang tinggi dan cinta kasih yang tulus terhadap sesama.
Rabu, 18 Oktober 2012, keluarga besar Caritas Keuskupan Sibolga bersukacita dalam perayaan Hari Ulang Tahun CKS yang ke-7. Kebahagiaan ini dirayakan bersama-sama di Rumah Rekoleksi Simanaere Kecamatan Gunungsitoli Idanoi. Perayaan ekaristi yang dipimpin langsung oleh Direktur CKS, Pastor Mikael To, Pr memberi penyegaran rohani bagi seluruh staf.
Dalam khotbahnya, beliau mengutarakan jati diri CKS sebagai lembaga yang penuh kasih. CKS adalah tempat dimana setiap orang dipanggil untuk melayani dan setiap seluruh staf CKS diharapkan mampu menerjemahkan imannya menjadi sebuah karya nyata, mengedepankan kasih dan menjadi sumber kebahagiaan bagi orang lain.
Nilai-nilai kerelaan, kebersamaan, kepedulian dan tanggung jawab terlihat jelas dari kegiatan ini. Sangat bebas, bahagia, gembira, lepas dan bersemangat. Begitulah kira-kira kesan yang terlihat. Sejenak menghibur diri, memupuk kebersamaan dan cinta kasih sesama staf, tidak ada ketegangan, yang ada hanya sukacita. Semoga karya CKS semakin bersinar dan mampu mewujudkan visi dan misi memberdayakan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang paling membutuhkan.
Semoga roh seperti ini tetap terjaga sampai kapanpun diantara staf CKS, sehingga CKS dapat selalu berkarya memperjuangkan hak-hak orang yang terpinggirkan dan yang membutuhkan perhatian. Ω
Penguatan Tim
Foto : Div. Komunikasi CKS/ Harrys Laia
Foto : Div. Komunikasi CKS/ Harrys Laia
Sep ertinya sudah men jad i trad isi jika sebu ah peray aan ulang tahun selalu ditand ai deng an nyanyian selamat ulang tahun, pen iupan lilin oleh yang berulang tahun, pemotong an kue tar, hingga penyamp aian harapan dan doa bag i yang beru lang tahun. Hal ini seo lah m enjad i atribu t yang wajib ada. Jika tidak ada, rasanya perayaan ulang tahun terkesan hambar bagaikan sayu r tanpa garam.
Trad isi in i terny ata turu t mewarnai acara perayaan hari jadi Caritas Keu skupan Sibolg a (CKS) yang genap b eru sia tu juh tahun pada 18 Ok tober 2012 silam. Salah satu atribut y ang cukup menarik untuk disim ak ad alah rangkaian ucap an selam at, doa dan harapan dari staf, mitra dan para undangan. Ada sek itar 42 pesan harapan untu k
CKS. Pesan-p esan ini terangkum menjadi 5 bag ian besar. Mau tahu apa saja, berikut rangkumannya. CK S semak in berkelanju tan
CK S semak in berkelanju tanCK S semak in berkelanju tan CK S semak in berkelanju tan
Sebany ak 36% berharap CKS akan sem akin b erkelanju tan. P esan h arapan ini b erada p ada u rutan teratas dan b erulang kali muncul sebanyak 15 kali. Hal in i d itu liskan d engan g aya p enyampaian yang b erb eda beda seperti CKS jay a selalu, CKS mak in maju, CK S terus eksis, never say goodby e CK S, nev er say giv e up, d ll. P esan ini m enjad i sebuah harapan kuat terhadap CK S sebag ai sebu ah en titas yang d iharapk an teru s ad a, yang karyanya teru s din antikan o leh banyak orang.
Pasto r M ikael To tetap jadi Direk tur CKS Pasto r M ikael To tetap jadi Direk tur CKSPasto r M ikael To tetap jadi Direk tur CKS Pasto r M ikael To tetap jadi Direk tur CKS
Berikutnya, Pastor Mik ael To d iharapk an tetap m enjadi D irek tur CKS. Dari 42 pesan harapan, sek itar 21% menyoroti kerinduan staf, m itra dan undang an ag ar So sok Pasto r Mik ael To teru s men jabat seb agai D irektu r CKS. Lan tas apa yang membuat Pastor Mikael To beg itu po puler d an disenang i teru tama di k alang an staf CKS? Mungk in p erlu riset kecil k ecilan untuk itu. Ada yang tertarik J
Nilai sp iritual yang semak in nyata dalam tiap karya Nilai sp iritual yang semak in nyata dalam tiap karyaNilai sp iritual yang semak in nyata dalam tiap karya Nilai sp iritual yang semak in nyata dalam tiap karya
Diuru tan k etiga, 17% b erharap agar staf CKS semakin mem ahami d an menyelam i nilai-nilai spiritual Caritas yang adalah perwu judan wajah sosial gereja. Staf CKS dih arapkan tid ak sek edar memb atasi dirinya sebag ai pekerja profesional y ang dib ayar, tapi leb ih dari p ada itu, staf CK S dituntu t mem iliki semang at p elayanan bag i o ran g-orang yang membutuhkan. Hal in i senad a dengan reflek si yang dibawakan oleh Pasto r Mikael To saat misa yang m engutip nats Alk itab dari Yako bus 2-26 “Iman tanpa perbuatan adalah mati”. Perwu judan im an kep ada Kristus d in yatak an melalui tindak an kasih kita terhadap sesama. M ari wu judkan im an dalam tiap karya pelay anan Caritas.
K reatifitas d an inovasi yang tiada hen ti dalam b erk ary a K reatifitas d an inovasi yang tiada hen ti dalam b erk ary aK reatifitas d an inovasi yang tiada hen ti dalam b erk ary a K reatifitas d an inovasi yang tiada hen ti dalam b erk ary a
Dari 42 pesan harapan, sek itar 14% mengg aris bawahi CK S sebag ai sebuah lembaga pemberday aan masyarak at diharapkan semakin k reatif dan inovatif dalam menjawab tantang an dunia p emberday aan yang terus b erg erak dinamis. CKS d iharapkan memiliki ciri khas yang unik dalam tiap karyany a. Inovasi pemb erd ayaan yang kreatif adalah inovasi yang sang gup menjawab p ersoalan ril d i masy arakat yang dampaknya sungguh dirasakan o leh bany ak orang.
Perju angan teru s menerus b ersama k elompo k basis Perju angan teru s menerus b ersama k elompo k basisPerju angan teru s menerus b ersama k elompo k basis Perju angan teru s menerus b ersama k elompo k basis
Terakhir, seb anyak 12% pesan harapan m enek ankan k iprah CKS untuk berjuang bersama k elompo k basis. Man dat CK S adalah menjangkau o rang paling m isk in d i an tara o rang m isk in, p aling rentan di antara orang-o rang ren tan . Pesan harapan ini diungk apkan deng an kalimat- kalimat sep erti: “CKS tetap memihak orang kec il, CKS tetap berjuan g untuk orang kec il, sem akin berk ary a di masyarakat, CK S teru s mendamp ingi masyarakat terp encil, dll”.
Perayaan HU T CK S yang ketujuh telah usai. Semoga harap an dan doa y ang telah d itu liskan pad a selemb ar k ain putih tersebu t tidak lantas men jad i memoar yang k emudian usang seiring b erjalannya wak tu. Kiranya harap an dan doa di atas menghasilkan p erc ikan bunga ap i yang mampu memb akar sem angat kita untuk terus berkarya. Dirgahayu CKS!
Kegiatan
Caritas Keuskupan Sibolga
Caritas Keuskupan Sibolga (CKS), dalam rangka menuju pendewasaan diri dan menemukan jati diri yang sesungguhnya, berusaha membangun organisasi yang kuat dalam berbagai sisi, baik itu dalam pengembangan kapasitas staf maupun secara organisasional sendiri seperti tertuang dalam Strategi CKS.
Sepanjang tahun 2012, sebagian besar staf CKS telah mengikuti berbagai pelatihan peningkatan sumber daya/ kapasitas di dalam divisinya masing-masing yang bermuara pada memampukan para staf dalam mendampingi komunitas dampingan atau penerima manfaat melalui proyek masing-masing. Pelatihan yang dilakukan seperti Pengarusutamaan Gender untuk staf CKS, pelatihan yang berkaitan dengan CBR untuk difabel, teknis pendampingan livelihood (metode CMLP, teknis budidaya karet, tanaman muda, pencegahan penyakit ternak babi), pelatihan yang berkaitan dengan CMDRR (penggunaan material IEC/ siaga bencana), pelatihan yang berkaitan dengan pendampingan Kesehatan (metode CMHP, proses pelaksanaan pos gizi, penggunaan material IEC/ kesehatan). Staf Divisi Sosial juga belajar tentang pembuatan handycraft dari bahan daur ulang di Yogyakarta, serta belajar sablon dan kursus mekanik sepeda motor di Medan.
Di tingkat lembaga, CKS terus menerus menata sistem organisasi yang lebih baik. Pertemuan rutin manajemen, manajer dan staf, adalah kesempatan untuk membenahi fondasi lembaga. Mulai dari anggaran dasar, kebijakan umum, self assestment, promosi Caritas, nilai-nilai, fungsi, spiritualitas, dan lain sebagainya. Pelatihan yang diberikan untuk seluruh staf CKS adalah Pengarusutamaan Kesetaraan Gender dan Pembahasan SOP tanggap darurat. Ω
Dalam menjalankan karya-karya kemanusiaan, Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) tidak berjalan sendiri. Sebagai lembaga milik Keuskupan Sibolga, CKS selalu berkoordinasi dengan seluruh paroki dan kongregasi yang berkarya di wilayah Keuskupan Sibolga. CKS berusaha membangun persahabatan yang akrab dengan umat di Keuskupan Sibolga agar umat benar-benar merasa memiliki CKS sebagai tanggung jawab bersama.
Selain itu, CKS mempunyai relasi yang baik dengan keluarga Caritas lainnya, baik di tingkat keuskupan, nasional maupun internasional. Saling berbagi informasi, peningkatan kapasitas dan belajar bersama, serta koordinasi yang baik antar keluarga Caritas merupakan salah satu sisi yang selalu dijaga oleh CKS.
Tidak dapat dipungkiri bahwa CKS sendiri masih hijau dan perlu belajar banyak dari keluarga Caritas lain yang sudah jauh lebih mapan. Penemanan oleh caritas-caritas internasional sejak awal berdirinya CKS telah memberikan pengalaman yang luar biasa bagi perkembangan CKS agar ke depan mampu berjalan sendiri. Karya CKS tidak dipersempit hanya bagi umat Katolik saja, melainkan seluruh masyarakat di wilayah
Keuskupan Sibolga. Namun, CKS terlebih dahulu harus membangun hubungan batin dengan umat Katolik Keuskupan Sibolga karena CKS adalah milik keuskupan.
Kerjasama dengan pihak pemerintah juga sebisa mungkin dikedepankan agar CKS bisa membaur dengan semua pihak, setiap divisi CKS telah menjalin relasi dengan lembaga milik pemerintah maupun lembaga swadaya lokal. Sebagai contoh, dalam mendampingi petani di Nias Barat, CKS bekerja sama dengan Lembaga SAMAERI Nias. Selain itu, Resource Center (RC) telah banyak memberikan pelatihan bagi penerima manfaat LEDP-Nias, MAP Internasional, dan pada tahun 2012 juga RC telah bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kab. Nias Barat untuk pengadaan bibit karet unggul bagi kelompok tani binaan pemerintah Kab. Nias Barat.
Selain itu Divisi Gender juga berperan aktif dalam kegiatan jaringan Pengarusutamaan Gender dengan Multi Donor Fund, NITP-UNDP, Pemda Nias, FORNIHA, PKPA dan Yayasan Holi’ana’a. Harapannya, ke depan CKS tidak hanya mendapatkan dukungan dari umat Katolik Keuskupan Sibolga saja, melainkan juga dari seluruh pihak yang mengenal CKS. Ω
Sejak awal berdirinya, Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) selalu berusaha menjadi tuan rumah dan tamu yang baik serta ramah bagi semua orang yang berkunjung ataupun dikunjungi. Sepanjang tahun 2012, selain untuk kepentingan pelatihan, CKS telah melakukan kunjungan/ kegiatan keluar untuk mempererat persaudaraan dengan keluarga caritas di tingkat keuskupan, nasional maupun internasional. Beberapa diantaranya adalah Forum Direktur Caritas-caritas Keuskupan bersama Karina dan Pertemuan Tahunan Karina dengan Caritas-caritas Keuskupan pada Juni 2012, beberapa kali pendampingan program CMLP bekerja sama dengan Karina untuk Caritas Keuskupan Agung Pontianak dan Caritas Keuskupan Ketapang di Kalimantan Barat. Pada kesempatan lain, divisi DRR CKS terlibat dalam berbagi pengalaman implementasi CMDRR di Kupang dan Denpasar serta terlibat dalam learning review DRR-ER Karina. CKS juga mengutus wakilnya dalam learning review Diocesan Accompaniment Karina. Pada November 2012, CKS belajar ke Caritas-PSE Keuskupan Agung Medan dan PANSOS Palembang sehubungan dengan adanya merger Caritas dan PSE Kesukupan Sibolga.
Selain kunjungan ke luar, Caritas Keuskupan Sibolga juga sering mendapat kesempatan untuk menjamu sahabat-sahabat seperti beberapa kali kunjungan monitoring Caritas Italiana dan Caritas Austria, workshop
pembuatan bussiness plan Resource Centre (RC) bersama Yayasan Dharma Bakti ASTRA (YDBA), berbagi pengalaman tentang program Gender CKS dengan CAFOD, kunjungan jurnalis televisi Austria tentang dampak program rekonstruksi di Nias Barat, berbagi pengalaman tentang CKS dan karyanya kepada Romo Adrianus Suyadi, SJ (Direktur KARINA).
Caritas Keuskupan Sibolga selalu membuka diri bagi sahabat-sahabat yang ingin berkunjung dan belajar bersama, bukan sebagai guru melainkan berbagi pengalaman tentang apa yang sudah dilakukan Caritas Keuskupan Sibolga mulai dari masa emergency, rekonstruksi dan rehabilitasi hingga ke masa pemberdayaan. Ω
Kerelaan, salah satu hal yang diperjuangkan Caritas Keuskupan Sibolga Dalam menjalankan karyanya tas mempromosikan kerelaan melalui kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan oleh para peserta Kursus di Cari-tas Centre, seperti : ikut membantu dalam kegiatan keseharian di panti-panti asuhan, berkunjung ke lembaga pemasyarakatan, bekerja bersama untuk memperbaiki tempat kursus, kegiatan bersama dengan relawan yang datang ke Nias seperti para relawan dari Caritas Bergamo, Italia.
Selain itu melalui divisi livelihood, Caritas memiliki cukup banyak relawan yang menjalankan pencegahan penyakit ternak babi (kader vaksinator). Melalui Divisi Kesehatan, nilai kerelawanan dibangun melalui kegiatan pos gizi dengan adanya para kader pos gizi yang sekaligus merupakan kader kesehatan di dusun-dusun. Se-dangkan melalui divisi DRR , CKS juga telah membentuk tim relawan untuk mempromosikan materi kesiap-siagaan bencana di desa-desa dampingan dan bersama relawan Caritas Centre melakukan tanggap darurat ban-jir di Nias Barat pada akhir tahun 2012. ΩΩΩ Ω
Relawan Caritas Cen ter bersama difabel Tanggap Darurat Banjir di Nias Barat