• Tidak ada hasil yang ditemukan

CARITAS KEUSKUPAN SIBOLGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "CARITAS KEUSKUPAN SIBOLGA"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

CARITAS KEUSKUPAN SIBOLGA

Kamu Harus Memberi Mereka Makan

Salam kasih,

Pembaca yang budiman, kami ingin menyapa Anda lewat sajian informasi-informasi karya pelayanan Caritas Keuskupan Sibolga selama tahun 2011 dan informasi itu tertuang dalam Buku Tahunan Caritas Keuskupan Sibolga tahun 2011.

Buku Tahunan ini kami hadirkan agar pembaca bisa merasa lebih dekat, mengenal dan akrab dengan Caritas Keuskupan Sibolga serta karya-karyanya. Bulan Oktober lalu kami baru saja memperingati HUT Caritas Keuskupan Sibolga yang ke-6, harapan ke depan bahwa kami dapat terus berkarya di tengah-tengah umat dan mampu hadir sebagai tetesan air yang penuh kasih serta lilin bercahayakan cinta pada mereka yang paling membutuhkan.

(2)

CKS sebagai Lembaga Sosial Gereja Katolik Keuskupan Sibolga mencoba hadir di tengah masyarakat sederhana di seluruh pelosok wilayah Nias dan Tapanuli sepanjang tahun 2011.

Kehadiran CKS bukanlah kehadiran pasif tetapi kehadiran aktif dan bermanfaat lewat berbagai kegiatan pemberdayaan bagi masyarakat.

Selama tahun 2011 CKS hadir di tengah masyarakat melalui: Program Livelihood di Moro’ö dan Alasa, Program Penyadaran Gender di 17 paroki di Dekanat Nias dan Dekanat Tapanuli, Program CMDRR (pemberdayaan masyarakat untuk menghadapi resiko bencana) di 7 paroki di Dekanat Nias dan Tapanuli, Program Sosial berupa: kursus-kursus ketrampilan untuk kaum muda putus sekolah, bantuan uang sekolah bagi anak-anak yang orang tuanya tidak mampu, dukungan kepada panti-panti asuhan di Gidö, Fodo, ALMA, serta Program Kesehatan di wilayah Gomo dan Amandraya.

Melalui program-program tersebut CKS merasakan kehidupan yang nyata dari masyarakat. CKS mengalami bahwa masih banyak orang yang hidup di bawah standar ekonomi, kesehatan dan pendidikan yang layak. Masih banyak orang yang belum menikmati program pembangunan dari Negara Indonesia tercinta ini. Bahkan banyak keluarga yang mungkin tidak akan pernah menikmati listrik dan jalan raya yang beraspal. Apakah mereka dibiarkan saja untuk hidup apa adanya atau mereka juga perlu hidup yang layak. Lalu siapakah

yang harus bertanggung jawab untuk mereka? Apakah Pemerintah, apakah Gereja, apakah Organisasi-organisasi Sosial? Yang pasti bahwa semua pihak harus bertanggung jawab untuk mereka. Tetapi

kapan……? Dan bagaimana caranya…..?

Buku Tahunan CKS 2011 memberikan gambaran keterlibatannya di tengah masyarakat dan sekaligus memberitakan apa yang sudah dilakukan dan bagaimana hasilnya. CKS hadir di tengah masyarakat untuk memberdayakan mereka rupanya tidak semudah yang dipikirkan. Tantangan yang paling berat adalah situasi geografis, penghayatan akan budaya yang kuat, sikap mental masyarakat yang hanya mau menerima saja.

Berhadapan dengan tantangan seperti ini apa yang harus dilakukan. Memberhentikan kegiatan pember-dayaan? Bekerja asal-asalan dan yang penting program selesai? Tidak…..CKS mencari solusi yang baik dan tepat sesuai dengan situasi masyarakat. CKS masuk dan menyatu dengan situasi hidup mereka, mendengarkan mereka, berpikir bersama, merencanakan bersama dan melakukannya secara bersama. CKS tidak bisa datang dengan rumusan-rumusan program yang baku dan menyuruh masyarakat melakukannya. CKS tampil sebagai agen perubahan yang lebih banyak berbuat dan bukan berbicara.

Buku Tahunan juga mengambarkan keberhasilan-keberhasilan yang dinikmati oleh masyarakat penerima manfaat meskipun tidak sebesar yang dimimpikan.

Selain itu Buku Tahunan CKS 2011 dibuat dengan tujuan mengajak semua pihak bukan hanya untuk membacanya saja dan kagum atau kecewa dengan apa yang sudah dilakukan tetapi hendaknya ikut serta bekerja sama dengan CKS dan atau organisasi lainnya untuk memberdayakan masyarakat demi meningkatkan taraf hidup mereka.

Berjuang demi orang kecil akan membawa bahagia daripada berjuang untuk diri sendiri akan membawa kecemasan dan ketidakpuasan. ΩΩΩΩ

Sambutan

dari Direktur CKS

Berjuang Demi Orang Kecil, Membawa Bahagia

Direktur CKS P. Mikael To, Pr Rasul Paulus berkata: “Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir;

bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap” (1Kor 13:8). Dengan ungkapan ini mau ditekankan bahwa pengetahuan akan Allah perlu hanya ketika kita masih di dunia ini. Kalau kita telah bertemu dengan Allah dari muka ke muka kelak di surga, pengetahuan akan Allah tidak perlu lagi, karena kita sendiri telah mengalami secara langsung. Tetapi sebaliknya kasih orang-orang pilihan kelak di surga sama dengan kasihnya di dunia ini. Oleh karena itu selama di dunia ini kita perlu terus-menerus mengamalkan kasih itu, sehingga kasih itu sungguh nyata dan dapat dialami orang. Dan kasih yang kita amalkan itu tidak sia-sia, karena kasih tidak berkesudahan. Itulah sebabnya Gereja senantiasa berusaha mengamalkan kasih yang telah diterima dari Allah di dalam PuteraNya Yesus Kristus.

Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) adalah salah satu badan bagi Gereja untuk mengamalkan kasih itu kepada masyarakat melalui kegiatan-kegiatannya. CKS selalu berusaha menjawab masalah-masalah sosial yang dihadapi masyarakat, walaupun tidak semua masalah dapat dijawabnya. Kita bangga dan bersyukur bahwa Keuskupan Sibolga memiliki CKS sebagai badan yang dapat memberikan perhatian khusus bagi orang-orang kecil dan menderita yang membutuhkan pertolongan dan pemberdayaan.

CKS telah berdiri sejak tahun 2005. Banyak program telah dilakukan untuk membantu masyarakat yang mengalami musibah di Nias akibat gempa bumi yang dahsyat pada 28 Maret 2005. Selain menjawab kebutuhan masyarakat yang mendesak akibat musibah, sejak berdirinya, Caritas juga membenahi dan memperkuat struktur dirinya dengan bantuan Caritas-caritas internasional, supaya senantiasa dapat menjawab kebutuhan masyarakat.

Sepanjang tahun 2011 CKS telah berusaha melaksanakan program kerjanya sebagaimana dapat kita baca dalam buletin ini. Sesuai dengan nama dan visinya, CKS selalu berusaha menyalurkan kasih Allah kepada sesama melalui kegiatan-kegiatannya. Kita sadar bahwa CKS terbatas, tidak sanggup menjawab semua kebutuhan masyarakat. Tapi kita yakin bahwa apa yang dilakukan oleh CKS sepanjang tahun yang lalu adalah merupakan ungkapan kasih yang nyata. CKS dapat mengungkapkan kasih itu, tentu karena kerjasama banyak pihak: para penderma dan relawan, para pendonor, para staf dan karyawan CKS dan masyarakat bersama tokohnya.

Saya memperhatikan bahwa CKS belum dikenal oleh seluruh umat di Keuskupan Sibolga ini. Pepatah mengatakan: Karena tidak kenal, maka tidak sayang. Oleh karena itu CKS perlu dikenal oleh seluruh umat di keuskupan ini, agar umat semakin mencintai dan mendukungnya. Dukungan umat bagi CKS ini amat penting, karena CKS ini adalah Caritas umat katolik Keuskupan Sibolga. Dukungan umat bagi CKS tidak mesti berupa uang, tetapi juga bisa dengan memberikan waktu dan tenaga untuk mengerjakan sesuatu di CKS, atau membantu CKS melaksanakan pelayanan mereka sesuai dengan bakat, kemampuan dan ritme hidup masing-masing. Bahkan memberikan ide dan pemikiran pun juga merupakan dukungan bagi CKS. Selain dukungan umat, CKS dapat melaksanakan kegiatannya tentu karena ada kerja sama yang baik di antara para stafnya. Oleh karena itu hendaklah staf CKS dan seluruh umat bahu membahu dan kerja sama, seperti dikatakan dalam ungkapan bahasa Nias dan Batak Toba:

Dengan ini saya mengajak seluruh umat bersama staf CKS bahu membahu bersama memberdayakan, agar semakin dapat membantu dan memberdayakan masyarakat, sehingga masyarakat semakin terbebaskan dari belenggu-belenggu dan semakin sejahtera. Ω

SAMBUTAN

dari KAMI untuk ANDA

Kasih Tidak Berkesudahan Oleh : Mgr. Ludovicus Simanullang, OFMCap (Uskup Keuskupan Sibolga)Mgr. Ludovicus Simanullang, OFMCap (Uskup Keuskupan Sibolga)Mgr. Ludovicus Simanullang, OFMCap (Uskup Keuskupan Sibolga)Mgr. Ludovicus Simanullang, OFMCap (Uskup Keuskupan Sibolga)

Marsiamin-aminan songon lampak ni gaol, Martungkol-tungkolan songon suhat di robean, Mangangkat rap tu ginjang,

Manimbung rap tu toru. Aoha noro nilului wahea, aoha noro nilului waoso,

Alisi khöda tafadaya-daya, hulu khöda tafaewolowolo. Sadumba göda böra, sageu göda sökha,

Tafaoma tafalökhalökha,

(3)

Teks mengisahkan tentang Yesus melaksanakan tugasNya mewartakan Kerajaan Allah. Karya pewartaanNya memikat hati orang banyak untuk mendengarkanNya; ”maka datanglah orang berbondong-bondong mengikutiNya kemana pun Ia pergi sehingga Ia tidak mempunyai kesempatan untuk beristirahat”. Orang banyak itu pun lupa bahwa mereka sudah lapar dan letih.

Para murid sama lelahnya dengan orang banyak yang mengikuti Yesus. Mereka sama laparnya. Mereka ingin agar orang banyak yang lapar dan lelah itu pergi, sehingga mereka dapat beristirahat dan makan apa yang mereka miliki tanpa terganggu.

Yesus memiliki

kepekaan yang lain dan tinggi terhadap situasi orang banyak itu. Meski mereka tidak mengatakan bahwa mereka lapar tetapi Yesus

tidak mau membiarkan

mereka untuk semakin lapar dan letih.

Maka Yesus memberi tugas dan tanggung jawab

kepada para muridNya

untuk memberi makan

kepada para pendengarNya di tempat yang sunyi dan

sulit. Para murid merasa berat untuk melaksanakan tugas itu. ”Tidak mungkin memberi makan kepada orang sebanyak ini apa lagi di tempat yang sunyi”. Tetapi Yesus dengan tegas berkata: ”kamu harus memberi mereka makan”. Para murid semakin ditantang untuk berpikir dan kreatif mencari jalan keluar. Yesus bertanya: ”Ada berapa roti padamu”? Jawab mereka; ”Hanya lima roti dan dua ekor ikan. Apalah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”

Yesus tahu para murid tidak bisa melakukan sesuatu tetapi Ia memaksa mereka dengan tujuan supaya meraka sadar bahwa Tuhan selalu ada dan hadir bersama mereka. Maka Yesus membuat mukjizat perbanyakan roti dan memberi makan kepada orang banyak yang mengikutiNya. Tujuan mukjizat perbanyakan roti adalah supaya murid percaya bahwa Tuhan pasti membantu dan menolong manusia dalam keadaan sulit sekalipun.

Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) selama tahun 2011 bergumul dengan berbagai program dan kegiatan di pelosok kepulauan Nias dan Tapanuli Tengah. Tujuan yang mau dicapai dengan program dan kegiatan-kegiatan adalah mewaujudkan visi dan

Refleksi

Biblis

Kamu Harus Memberi Mereka Makan (Mat 14:13-21) Oleh : P. Mikael To, Pr (Direktur CKS)P. Mikael To, Pr (Direktur CKS)P. Mikael To, Pr (Direktur CKS)P. Mikael To, Pr (Direktur CKS) misi Keuskupan Sibolga pada umumnya dan visi-misi CKS pada khususnya kepada orang kecil dan miskin, ”Setiap orang mendapatkan haknya secara adil Setiap orang mendapatkan haknya secara adil Setiap orang mendapatkan haknya secara adil Setiap orang mendapatkan haknya secara adil (Kesehatan, pendidikan, sandang, pangan, papan dan (Kesehatan, pendidikan, sandang, pangan, papan dan (Kesehatan, pendidikan, sandang, pangan, papan dan (Kesehatan, pendidikan, sandang, pangan, papan dan

hak untuk mendapatkan pekerjaan)

hak untuk mendapatkan pekerjaan)

hak untuk mendapatkan pekerjaan)

hak untuk mendapatkan pekerjaan)”. Untuk

mewujudkan visi dan misi ini CKS berjuang memberdayakan orang/masyarakat kecil, miskin supaya mereka dapat keluar dari keadaan mereka yang susah, sulit dan terbatas.

Seperti Yesus menuntut para murid untuk berbuat sesuatu bagi orang banyak yang lapar dan letih demikian juga CKS dipanggil dan diberi tanggung jawab untuk memberdayakan masyarakat kecil dan miskin di pelosok-pelosok terpencil di Nias dan Tapanuli Keuskupan Sibolga supaya mereka menikmati kesejahteraan hidup yang layak dan pantas.

Keluhan para murid untuk

memberi makan kepada

orang banyak di tempat yang sunyi dan sulit, juga merupakan keluhan staf CKS

dalam memberdayakan

masyarakat kecil dan miskin di pedalaman Nias dan

Tapanuli. Mengapa CKS

selalu memilih untuk melakukan pemberdayaan kepada masyarakat kecil dan miskin di tempat yang jauh dan sulit?

Tugas dan tanggung jawab ini didasarkan pada belas kasih dan cinta Yesus kepada orang banyak yang lapar dan letih. CKS belajar dari mukjizat perbanyak roti bahwa Tuhan selalu hadir dan menyertai setiap orang yang melaksanakan tanggung jawab memberdayakan orang kecil dan miskin, Tuhan pasti menolong dalam keadaan sulit sekalipun. CKS tidak harus memiliki uang dan materi yang berlimpah untuk menolong orang tetapi dengan semangat, cinta dan belaskasih, kerelaan dan kesetiaan serta iman yang teguh kepada Tuhan untuk hadir dan berada bersama dengan orang kecil maka di sana Tuhan pasti menolong meskipun dalam keadaan yang sangat sulit. Caritas bila berjuang dengan kekuatannya sendiri tidak akan mampu untuk hadir dan berada bersama dengan orang kecil dan miskin. Hanya bersama dengan Tuhan maka semuanya akan terlaksana dengan baik dan sukses. Ω

Dalam menjalankan karya pelayanan kepada masyarakat yang paling membutuhkan, Caritas Keuskupan Sibolga berpegang pada visi bahwa dalam daerah yurisdiksi Keuskupan Sibolga, kemiskinan diperangi melalui dalam daerah yurisdiksi Keuskupan Sibolga, kemiskinan diperangi melalui dalam daerah yurisdiksi Keuskupan Sibolga, kemiskinan diperangi melalui dalam daerah yurisdiksi Keuskupan Sibolga, kemiskinan diperangi melalui usaha dari semua pihak dalam segala bentuk dan cara, sehingga hak

usaha dari semua pihak dalam segala bentuk dan cara, sehingga hak usaha dari semua pihak dalam segala bentuk dan cara, sehingga hak

usaha dari semua pihak dalam segala bentuk dan cara, sehingga hak----hak asasi manusia seperti hak untuk hak asasi manusia seperti hak untuk hak asasi manusia seperti hak untuk hak asasi manusia seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak untuk mendapatkan pangan, hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak untuk mendapatkan pangan, hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak untuk mendapatkan pangan, hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak untuk mendapatkan pangan, hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, bisa dijaminkan kepada setiap orang

mendapatkan pelayanan kesehatan, bisa dijaminkan kepada setiap orang mendapatkan pelayanan kesehatan, bisa dijaminkan kepada setiap orang

mendapatkan pelayanan kesehatan, bisa dijaminkan kepada setiap orang. Sedangkan misi yang diemban adalah mengentaskan kemiskinan dan membela keadilanmengentaskan kemiskinan dan membela keadilanmengentaskan kemiskinan dan membela keadilanmengentaskan kemiskinan dan membela keadilan dengan cara-cara sebagai berikut:

1. Mendukung program-program pembangunan berkelanjutan.

2. Menanggapi keadaan darurat dengan komitmen untuk membaharui kecakapan serta struktur setempat.

3. Menyebarkan informasi serta menantang umat Keuskupan Sibolga tentang tanggung jawab mereka untuk bekerja bagi keadilan serta menggalang dukungan dan solidaritas mereka bagi kegiatan-kegiatan Caritas.

4. Menjadi pembela keadilan yang efektif.

5. Meningkatkan pemahaman tentang hal-hal yang menyebabkan kemiskinan dan ketidakadilan.

6. Menarik perhatian dari pemerintah pusat dan daerah serta badan-badan internasional untuk mengadopsi

kebijakan yang mendukung keadilan sosial serta mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Hal ini dilaksanakan baik secara langsung maupun melalui penggalangan komunitas Katolik.

(4)
(5)

DEKANAT TAPANULI

Paroki Padangsidempuan Paroki Tarutung Bolak

Paroki Sibolga Paroki Pangaribuan

Paroki Pandan Paroki Tumbajae

Provinsi Sumatera Utara Provinsi Sumatera Utara Provinsi Sumatera Utara Provinsi Sumatera Utara

CMDRR SOSIAL GENDER GENDER GENDER GENDER GENDER Paroki Pinangsori CMDRR GENDER

DEKANAT NIAS

Kec. Lahewa Ke c. Lah ew a Tim ur Kec. Afulu Kec. Alasa Kec. Tu gala O yo Kec. M oro’o Kec. Man drehe Ba rat Kec . Sirom bu Kec. Lahomi K ec . L olow a’u

Kec. Lolomatua Kec. Gomo

Kec. Lahusa Kec. Amandraya Kec. Telukdalam Kec. Bawolato Kec. Idanogawo Kec. Gido Kec. Gunungsitoli Idanoi Kec. Gunungsitoli Selatan Kec. Gunungsitoli

Kec. Gunungsitoli Utara Kec. Tuhemberua

Kec. Sawo

Kec. Sitölu Ori Kec. Lotu

Kec. Namohalu Esiwa

Kec. Alasa Talumuzoi Kec. Hiliduho

Kec. Ma’u Kec. Lolofitu Moi

Kec. Samolo-molo

Kec. Ulu Gawo Kec. Mandrehe

Kec. Mandrehe Utara Kec. Boto Muzoi

Kec. Hili Serangkai GENDER CMDRR Paroki Lahewa Paroki Tuhemberua LIVELIHOOD CMDRR GENDER Paroki Alasa SOSIAL Paroki Laverna GENDER SOSIAL Paroki St. Maria GENDER SOSIAL Paroki KGB GENDER Paroki Gido GENDER Paroki Idanogawo SAMAERI GENDER LIVELIHOOD

Paroki Nias Barat

KESEHATAN CMDRR GENDER Paroki Lahusa-Gomo GENDER Paroki Togizita KESEHATAN CMDRR GENDER Paroki Amandraya GENDER SOSIAL Paroki Telukdalam (Kota)

GENDER Paroki Telukdalam (Luar Kota)

Wilayah

Pelayanan CKS

(6)

organisasi. Area manajemen bencana mencakup kegiatan prevensi bencana, mitigasi bencana dan kesiapan tanggap darurat (KTD). Sementara itu area pengurangan kerentanan masyarakat meliputi kegiatan yang memungkinkan masyarakat mengalami peningkatan kualitas hidup sehingga daya tahan untuk memulihkan diri dari efek terjadinya ancaman bencana lebih tinggi. Kegiatan di bidang ini diidentifikasi dan ditentukan sendiri oleh masyarakat berdasarkan kebutuhan setempat, berupa peningkatan pertanian, pendidikan kesehatan dasar, air dan sanitasi, peningkatan kapasitas perempuan, akses pada pelayanan publik (jalan, puskesmas, sekolah), dll. Area pengembangan organisasi mencakup kegiatan penguatan kapasitas para pengurus organisasi masyarakat, monitoring dan evaluasi partisipatif.

Kelentingan masyarakat juga akan sangat sulit dicapai apabila proses pelaksanaan rencana kerja masyarakat hanya mengandalkan pendampingan CKS. Dibutuhkan kolaborasi dengan berbagai stakeholder seperti pemerintah, LSM, paroki, lembaga keagamaan dan institusi relevan lainnya. Dukungan intersektoral antar divisi lainnya yang dimiliki CKS juga mutlak diperlukan seperti divisi kesehatan, livelihood, gender dan sosial. Wacana tentang dukungan intersektoral yang dulu menjadi kerinduan besar kini perlahan mulai menampakkan titik cerahnya.

APAKAH KELENTINGAN SUDAH TERCAPAI ? APAKAH KELENTINGAN SUDAH TERCAPAI ? APAKAH KELENTINGAN SUDAH TERCAPAI ? APAKAH KELENTINGAN SUDAH TERCAPAI ?

Proses pendampingan CKS untuk program PRBDM di komunitas kurang lebih sudah berjalan 5 tahun sejak pilot proyek. Ada banyak pembelajaran berharga yang diperoleh. Pertanyaannya apakah selama 5 tahun tersebut kelentingan sudah bisa terlihat di komunitas dampingan? Ini adalah pertanyaan reflektif saat ini. Di awal-awal pendampingan di komunitas, pertanyaan ini pernah menjadi pertanyaan kritis dalam forum diskusi bulanan tim PRBDM CKS. Apakah indikator atau bukti atau penanda yang dapat dijadikan barometer untuk mengukur kebertahanan masyarakat terhadap bencana?

Dalam beberapa referensi, secara umum kelentingan terhadap bencana didefinisikan sebagai kapasitas orang-orang, organisasi dan sistem untuk mencegah atau meminimalisir dampak negatif dari sebuah ancaman. Kelentingan juga dipahami sebagai kapasitas untuk segera memulihkan diri sendiri

ke dalam kondisi normal pasca bencana. Komunitas yang resilien idealnya adalah komunitas yang selalu aktif melakukan analisa risiko, membuat rencana kontigensi jika terjadi bencana, melakukan respon tanggap darurat dengan cara yang tepat & efektif serta terus menerus melakukan refleksi atas dinamika yang terjadi.

Dari defenisi ini, dapatkah CKS mengklaim bahwa komunitas dampingan program PRBDM sudah lenting bencana? Tentu saja sangat sulit untuk menjawab langsung pertanyaan ini. Bisa ya dan bisa tidak. Tergantung dari tingkat kedewasaan, konteks, situasi, pengalaman berhadapan dengan bencana serta dinamika yang terjadi di komunitas tersebut. Yang pastinya kelentingan itu bukan sekedar tujuan akhir yang harus dicapai (one stop goal) tapi juga adalah proses yang terus menerus terjadi.

Setidaknya dalam proses pendampingan PRBDM di komunitas, CKS dengan paroki sebagai mitra utamanya bersama masyarakat lokal telah membangun dasar untuk menjalani proses

pembangunan kelentingan terhadap bencana. Dasar-dasar tersebut di antaranya berupa adanya proses kajian risiko bencana partisipatif, adanya organisasi masyarakat yang konsern dengan upaya PRB, adanya rencana aksi kolektif untuk PRB, adanya kesadaran masyarakat tentang perlunya menyertakan pembangunan sistem kesiapan tanggap darurat dalam rencana aksi, tahu apa yang harus dilakukan saat terjadi darurat bencana, tahu kemana harus lari menyelamatkan diri, tahu siapa yang harus dihubungi saat terjadi bencana, adanya upaya untuk pengurangan kerentanan sosial ekonomi masyarakat serta adanya upaya pengembangan terus menerus organisasi masyarakat. Kiranya dasar yang sudah disusun ini, setapak demi setapak menjadi fondasi kuat yang diatasnya berdiri konstruksi sosial yang mandiri, solider dan berdaya tahan terhadap bencana. Semoga!

Judul Proyek : Community Managed Disaster Risk Reduction (CMDRR II) Periode Proyek : November 2008 - Oktober 2011

Lokasi Proyek : 17 komunitas di 8 paroki di Keuskupan Sibolga

Sumber Dana : Caritas Australia, Caritas Bozen, Caritas Italiana, CRS, Trocaire, SCCF Solidaritas antar anggota masyarakat dalam membangun jalan rabat beton di Hili’anaota

Pengurangan

Resiko Bencana

Ada beragam istilah yang digunakan untuk menamai program pengembangan masyarakat untuk membangun kebertahanan terhadap bencana antara lain manajemen risiko bencana berbasis masyarakat (community based disaster risk management), PRB berbasis masyarakat (community based disaster risk reduction) dan PRB yang

dimanajemeni masyarakat (community managed disaster risk reduction). Metode atau pendekatan program kadang menjadi sebuah ‘dogma’ atau ‘doktrin’ yang tidak jarang menciptakan

fanatisme di kalangan praktisi PRB. Tentu saja ada nilai-nilai mendasar atau ideologi di balik setiap pendekatan tersebut.

Bagaimana dengan Caritas Keuskupan Sibolga (CKS)? Seperti apakah kiblat program PRB yang dijalankan oleh CKS? Pertanyaan ini menjadi sebuah pergumulan panjang bagi CKS di awal transisi dari masa rehabilitasi rekonstruksi pasca gempa Nias menuju fase pemberdayaan masyarakat. Sejalan dengan visi-misinya, pada bulan Agustus 2007, CKS mengawali tahap transisi tersebut dengan menjalankan program pembangunan kapasitas masyarakat mengurangi resiko bencana dengan nama Pengurangan Risiko Bencana yang Dimanajemeni Masyarakat (PRBDM/CMDRR).

PRB & DIMANAJEMENI MASYARAKAT PRB & DIMANAJEMENI MASYARAKAT PRB & DIMANAJEMENI MASYARAKAT PRB & DIMANAJEMENI MASYARAKAT

PRBDM merujuk kepada proses pengurangan risiko bencana yang berfokus pada pengurangan kerentanan masyarakat serta meningkatkan kapasitas mereka. Hal ini berhubungan dengan pelibatan masyarakat lokal dalam proses identifikasi, analisa, monitoring dan evaluasi risiko. PRBDM menempatkan masyarakat di jantung pengambilan keputusan dan pelaksanaan upaya-upaya PRB. PRBDM merupakan perpaduan dari dua pendekatan pemberdayaan yakni: upaya pengurangan kerentanan (vulnerability reduction) & pengurangan resiko bencana (disaster risk reduction). Artinya kapasitas masyarakat untuk resilien atau lenting terhadap efek bencana dapat terbangun bila tingkat kesejahteraan masyarakat memadai atau meningkat (vulnerability improvement).

CKS meyakini bahwa keunikan PRBDM terletak pada metode “Dimanajemeni Masyarakat”. Bukan semata mata menjadikan masyarakat sebagai implementor atau kalau tidak dianggap berlebihan sebagai “buruh” atas program yang dijalankan oleh lembaga pendamping yang mungkin selama ini cenderung banyak terjadi di berbagai tempat. Dibutuhkan keberanian untuk meyakini bahwa masyarakat lokal punya kapasitas dan kearifan lokal untuk mengorganisir diri. Lembaga pendamping berperan sebagai mitra eksternal yang membantu proses pengorganisasian diri.

Proses pendampingan PRB di masyarakat dengan pendekatan “Dimanajemeni Masyarakat” diyakini CKS memberi ruang yang lebih luas bagi masyarakat lokal untuk lebih terorganisir dan berdaya. Dengan menjadikan masyarakat lokal sebagai “manajer” atas inisiatif PRB yang mereka rencanakan, diharapkan akan menjadi modal menuju kelentingan terhadap bencana.

PENGALAMAN MENJALANKAN PRBDM DI KOMUNITAS. PENGALAMAN MENJALANKAN PRBDM DI KOMUNITAS. PENGALAMAN MENJALANKAN PRBDM DI KOMUNITAS. PENGALAMAN MENJALANKAN PRBDM DI KOMUNITAS.

Berbicara tentang pengalaman menjalankan program PRB di masyarakat tidak sekedar membicarakan isu manajemen bencana tapi juga menyentuh isu-isu yang berhubungan dengan pengurangan akar kerentanan sosial di masyarakat seperti masalah kesehatan, rendahnya sumber penghidupan , keterisoliran dari pusat-pusat pelayanan publik, ketimpangan gender, rendahnya kualitas pendidikan hingga sistem pembangunan yang masih mengadopsi pendekatan top-down. CKS percaya masyarakat yang lenting terhadap bencana sangat sulit dicapai apabila PRB hanya ekslusif pada manajemen bencana tanpa menyentuh area pengurangan sumber-sumber kerentanan sosial. Oleh karena itu dalam proses fasilitasi pembuatan rencana kerja organisasi masyarakat, CKS memfasilitasi ruang bagi masyarakat untuk merumuskan rencana aksi tersebut dalam 3 kategori tematik: manajemen bencana, pengurangan kerentanan dan pengembangan

Membangun Kelentingan Melalui PRBDM

Oleh : Aktifitas Sarumaha*Aktifitas Sarumaha*Aktifitas Sarumaha* Aktifitas Sarumaha*

Kajian Risiko Bencana Partisipatif Rencana aksi PRB partisipatif Monitoring, evaluasi & pembelajaran partispatif Masyarakat Implementasi rencana aksi Kelentingan terhadap bencana

(7)

Membangun masa depan sebaiknya dimulai dengan pendidikan kaum muda. Masa depan cerah bukan hanya dimiliki oleh orang-orang yang mampu memenuhi biaya sekolah setinggi-tingginya, kaum muda yang putus sekolah dan kurang mampu juga punya hak yang sama. Untuk itulah Caritas Centre (CC) hadir bagi kaum muda putus sekolah dan kurang mampu.

CC tidak sekedar kursus yang biasa didapati dimana-mana, penanaman nilai-nilai positif juga sangat ditekankan lewat kegiatan-kegiatan sosial yang dirancang dan diaplikasikan oleh mereka sendiri dengan pendampingan dan arahan dari staf divisi Sosial. Nilai kebersamaankebersamaankebersamaan ditanamkan lewat kegiatan-kegiatan yang kebersamaan dilakukan secara bersama-sama, kepeduliankepeduliankepeduliankepedulian terhadap sesama juga ditingkatkan, mereka mengunjungi teman yang sakit atau kemalangan, mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijual dan hasil penjualan dipakai untuk mendukung kegiatan sosial yang mereka rancang dan disumbang ke anak panti dan pemulung. Peserta kursus tersebut dilatih untuk dapat mandiri. Dana yang mereka dapatkan dari penjualan barang-barang bekas, penjualan kue hasil karya peserta kursus tata boga, penjualan kaos karya peserta kursus sablon dan jasa salon, diolah dengan tetap memegang teguh nilai kejujuran kejujuran kejujuran dan transparansikejujuran transparansitransparansitransparansi.

Harus diakui bahwa tidak mudah menanamkan dan memperjuangkan nilail-nilai kehidupan ini kepada para peserta kursus, tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun perlahan melalui tahapan proses pembelajaran dari setiap kegiatan yang diikuti oleh para peserta kursus nilai-nilai tersebut dapat dimengerti dan mulai ditanamkan dalam diri sendiri sehingga nantinya dapat menyebar di lingkungannya masing-masing. Ω

NILAI YANG DIPERJUANGKAN

NILAI YANG DIPERJUANGKAN

NILAI YANG DIPERJUANGKAN

NILAI YANG DIPERJUANGKAN

Judul Proyek : Caritas Centre tahap II Periode Proyek : Mei 2010 - Juni 2012 Lokasi Proyek : Wilayah Keuskupan Sibolga Sumber Dana : Caritas Italiana

Sejak kecil aku sangat tertarik dengan kecantikan, namun untuk kursus di luar aku tidak memiliki uang karena biaya kursus untuk salon sangat mahal. Saat saya dengar kabar bahwa Caritas Keuskupan Sibolga membuka kursus gratis, saya langsung mendaftar dan syukurlah ternyata saya bisa diterima di kursus salon.

Tak pernah kulupakan pengalaman pertama kali memegang gunting rambut, rasa grogi dan keringat dingin, ternyata sangat berbeda dengan memegang gunting kain! Wajahku pun menjadi korban jerawatan karena mencoba berbagai macam produk kosmetik, tips buat teman yang lain jangan pakai sembarangan produk kosmetik yah! Namun semuanya itu menyenangkan karena kini aku punya teman-teman kompak yang sudah seperti saudara dari Caritas Centre. Sekarang aku pun punya keahlian di bidang kecantikan, bisa membuat orang menjadi cantik, terimakasih Caritas! Ω

Berikut pengalaman yang diceritakan oleh salah satu peserta yang mempunyai mimpi dan mewujudkannya lewat kursus salon di Caritas Centre, Arnika Hia, 20 tahun, tamatan SLTA, anak yatim yang berjuang hidup di kota Gunungsitoli dengan membantu Tantenya menerima jahitan. Arnika Hia dengan ketekunannya berhasil meraih juara satu bidang kursus salon pada kursus CC gelombang III di Caritas Centre.

Caritas Centre (CC) berbagi kebahagiaan dan keceriaan bersama anak-anak pemulung dampingan Ja ringa n Doa Kepulauan Nias (JDKN) di lingkungan Pasar Beringin, Gunungsitoli-Nias.

SOCIAL

Activity

Perlahan namun pasti Caritas Centre (CC) berusaha memperbaiki diri melalui pengalaman-pengalaman yang dilaluinya. Kursus gelombang III telah ditutup dan 71 orang (20 orang laki-laki dan 51 orang perempuan) menerima sertifikat tanda kelulusan.

Sedikit kembali ke belakang, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana merancang kegiatan CC agar memotivasi para peserta untuk setia mengikuti seluruh kegiatan CC. Ada yang mundur di tengah jalan dengan alasan beragam, namun salah satu penyebabnya adalah kurangnya motivasi dari peserta kursus itu sendiri. Maka berdasarkan pengalaman ini, CC lebih selektif dalam penerimaan peserta kursus. Selain itu metode survei lapangan juga diterapkan. Dengan melibatkan alumni gelombang II, bersama-sama staf divisi Sosial turun lapangan mengunjungi tempat tinggal dan lingkungan para calon peserta kursus untuk memastikan apakah mereka memang benar-benar memenuhi kriteria atau tidak. Kriteria di sini maksudnya adalah mereka yang kurang mampu dan memiliki motivasi tinggi untuk belajar dan berubah untuk hidup yang lebih baik. Metode ini terbukti cukup berhasil, dari 74 orang yang mendaftar, hanya tiga orang yang tidak menyelesaikan kursus gelombang III hingga akhir.

Metode yang sama diterapkan pada proses penerimaan peserta kursus gelombang IV, selain survei langsung, CC mengajak para calon peserta untuk mengikuti proses perkenalan, penggalian bakat dan pengenalan nilai-nilai kehidupan. Dari proses ini, calon peserta diberi kesempatan untuk berefleksi apakah masing-masing mampu mengikuti kursus ini hingga akhir (kurang lebih empat bulan ke depan. Hingga saat ini, dari 130 orang pendaftar, 112 orang calon peserta masih setia mengikuti proses seleksi dan pada awal Desember, staf divisi Sosial beserta beberapa alumni gelombang III melakukan survei seperti yang telah dilakukan pada gelombang sebelumnya.

Meskipun tiga gelombang telah berlalu, Caritas Centre masih membuka pintu selebar-lebarnya bagi para alumni untuk saling berbagi pengalaman. Caritas Centre yakin perlahan-lahan kapal yang selama ini bersiar bisa melabuhkan kaum muda Nias menuju masa depan yang lebih indah. Ω

(8)

Benedikta adalah gadis manis yang memiliki banyak prestasi, ia lahir dari ke-luarga yang sederhana. Ketika masih umur 6 tahun, ayahnya meninggal dunia. Sejak saat itu ia dan kedua saudarinya diasuh oleh ibunya yang sehari-harinya bekerja sebagai petani. Namun kesulitan ekonomi yang mereka hadapi tidak mengurangi semangat Benedikta untuk melanjutkan sekolah dan meraih prestasi.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Benedikta selalu meraih juara kelas. Prestasinya semakin meningkat tatkala mendapat dukungan dari Program beasiswa oleh Caritas Keuskupan Sibolga.

Kelas tujuh semester pertama ia meraih juara III, semester kedua meraih juara II dan di kelas delapan ia meraih juara I. Di luar sekolah ia juga aktif mengikuti berbagai perlombaan dan sering berprestasi, seperti juara II Olimpiade matematika tingkat SMP se-Kota Gunungsitoli, juara I mengarang puisi dan membaca puisi. Ia juga aktif mengikuti kegiatan pramuka sekolah dan kegiatan vokal grup di gereja.

Siswa kelas 9 SMP Negeri 1 Gunungsitoli Idanoi ini, bercita-cita menjadi dokter. “Saya bersyukur kepada Tuhan dan sangat berterimakasih kepada Caritas. Dengan bantuan ini beban ibu saya menjadi ringan untuk menyekolahkan kami anak-anaknya, kebutuhan saya di sekolah terpenuhi, dan yang pasti beasiswa ini menjadi motivasi yang kuat bagi saya untuk selalu meraih prestasi terbaik” jawabnya ketika ditanya bagaimana perasaannya setelah menerima beasiswa. Ω

Kehidupan manusia setiap detik dapat berubah karena ada faktor yang mengharuskan manusia untuk berubah. Perubahan ini juga dapat dirasakan dalam dunia pendidikan. Pendidikan seharusnya wajib dirasakan dan didapatkan oleh seluruh anak Indonesia. Namun, pada kenyataanya hal ini hanya isapan jempol belaka dan masih menjadi mimpi bagi sebagian besar anak Indoinesia. Faktor penyebabnya antara lain, tidak adanya dana, kurangnya tenaga pendidik karena daerah terpencil, kurangnya kesadaran dan minat dari orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Melalui program pemberian beasiswa bagi anak sekolah dari keluarga ekonomi lemah ini, divisi sosial Caritas Keuskupan Sibolga bersama masyarakat ingin memperjuangkan perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakat .

Nilai kepedulian Nilai kepedulianNilai kepedulian

Nilai kepedulian atau solidaritas merupakan salah satu dari sekian nilai yang sedang diperjuangkan CKS dalam pelayanan kepada masyarakat, sudah saatnya keprihatinan semacam ini tumbuh di tengah masyarakat kita, sehingga lama kelamaam semangat kepedulian terhadap sesama menjadi membudaya dalam kehidupan kita. Selain semangat kepedulian, divisi sosial CKS juga berusaha memperjuangkan nilai keadilannilai keadilannilai keadilannilai keadilan yang dapat dilihat dalam program kerjasama dengan panti asuhan seperti pusat rehabilitasi anak cacat Fodo, panti asuhan alma, panti asuhan gido. Anak- anak yang cacat fisik, terbelakang mental harus menjadi perhatian oleh segenap lapisan baik pemerintah maupun masyarakat, alangkah tidak adilnya bila CKS hanya memperhatikan nasib anak- anak dengan fisik normal dan sebaliknya anak-anak difabel diabaikan bahkan tidak dilindungi sama sekali. Kita berupaya nilai keadilan dapat dirasakan oleh semua pihak tanpa membedakan latar belakang kehidupannya. Ω

NILAI YANG DIPERJUANGKAN

NILAI YANG DIPERJUANGKAN

NILAI YANG DIPERJUANGKAN

NILAI YANG DIPERJUANGKAN

Judul Proyek : Scholarship Project for Poor School Children in Nias Periode Proyek : Juni 2009-Mei 2012 (Trocaire)

Juni 2008-Mei 2011 (Caritas Korea) Juli 2009-Juli 2013 (Caritas Hongkong)

SOCIAL

Activity

Kehadiran Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) pasca bencana 2004/2005 lalu sebagai cinta kasih Allah di tengah masyarakat Kepulauan Nias. Berbagai manfaat telah dirasakan sampai saat ini. CKS tidak hanya terfokus pada penanggulangan resiko bencana/ tanggap darurat, melainkan juga pada usaha peningkatan kualitas hidup kaum muda di wilayah Keuskupan Sibolga.

Dukungan CKS di bidang pendidikan telah dibuktikan dengan pembangunan gedung sekolah di Hilizamurugö, pendistribusian buku-buku dan perlengkapan sekolah lainnya, bahkan dukungan pendidikan bagi siswa-siswi yang berasal dari keluarga kurang mampu. Dukungan ini berupa beasiswa selama kurun waktu satu hingga tiga tahun. Penerima manfaat tersebut dipilih dari delapan wilayah paroki di kepulauan Nias dan dua paroki di wilayah Tapanuli mulai dari tingkat SMP, SMU/SMK hingga perguruan tinggi. Sejak tahun 2005 tercatat 1925 siswa/ mahasiswa yang sudah menerima beasiswa dari program yang dinamai General Scholarship yang dilaksanakan oleh CKS. Jumlah ini bisa dikatakan cukup besar dan dipandang telah memberikan nilai positif bagi perkembangan kaum muda di bidang pendidikan.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh Divisi Sosial sebagai divisi yang bertugas untuk menangani program ini, dukungan beasiswa tidak hanya membantu biaya pendidikan namun juga mampu memotivasi para siswa untuk berpacu meraih prestasi akademik di masing-masing sekolah. Tercatat 80% diantara mereka meraih peringkat sepuluh besar. Kesadaran mereka dari hari ke hari kian meningkat. Dari testimoni yang diungkapkan oleh para pastor paroki, pembina asrama, orang tua dan guru-guru di sekolah, para siswa penerima beasiswa tersebut semakin memiliki sikap dan perilaku yang baik.

CKS berharap bahwa program ini dapat berkelanjutan demi meningkatkan kualitas hidup kaum muda di wilayah Keuskupan Sibolga khususnya dalam bidang pendidikan. Ω

BEASISWA

BEASISWA

BEASISWA

BEASISWA

(9)

Pendekatan ‘Dimanajemeni Masyarakat’ atau ’Community Managed (CM)’ yang digunakan untuk Promosi Kesehatan adalah hasil pembelajaran dari program “Nutrition Improvement through Livelihoods” dan proyek “Community Managed Disaster Risk Reduction” (CMDRR). Diharapkan melalui kegiatan PKDM, kapasitas masyarakat untuk berorganisasi dan promosi kesehatan keluarga khususnya ibu dan anak mengalami peningkatan yang signifikan. CKS percaya pendekatan CM akan lebih menguatkan nilai-nilai kemandirian dan solidaritas di masyarakat untuk mengatasi persoalan sosial.

Pada program ini, CKS bermitra dengan dua Paroki, yaitu Paroki Santo Matias Amandraya dan Paroki Roh Kudus Lahusa-Gomo. Di Amandraya, komunitas yang didampingi benar-benar komunitas yang baru di Desa Lölö’abölö dan Desa Hilifadölö. Sedangkan di Gomo, ada dua desa dampingan yaitu desa yang pernah didampingi proyek sebelumnya dengan 18 pos gizi yang sudah dibentuk masyarakat dan satu desa baru yang belum ada pos gizinya. Tiga desa tersebut adalah Desa Ulu Idano Duo di Kecamatan Lahusa, Desa Hilimbowo, Desa Orahua di Kecamatan Gomo. Desa yang baru adalah Desa Dao-dao Zanuwu di Kecamatan Gomo.

Delapan orang (2 dari Paroki Amandraya dan 6 dari Paroki Lahusa-Gomo) Fasilitator Paroki (FP) direkrut, mereka adalah potensi lokal di kedua paroki mitra yang diharapkan dapat memperkuat tim divisi Kesehatan. Fasilitator-fasilitator ini akan mendampingi masyarakat untuk melakukan berbagai kegiatan promosi kesehatan, kegiatan Posyandu, pembuatan kebun gizi dan pendampingan untuk manajemen pos gizi.

Untuk mendukung keberhasilkan program, CKS menjalin hubungan kerjasama dan koordinasi dengan

pihak Puskesmas Lahusa, Gomo dan Amadraya, pihak kecamatan, Dinas Kesehatan dan Dinas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Lahusa, Gomo dan Amandraya, Klinik Amandraya dan para Kepala Desa. Hal

ini bertujuan agar nantinya CKS dapat memfasilitasi masyarakat untuk membangun jaringan dengan pihak-pihak di luar komunitas mereka. Bisa dikatakan ini adalah salah satu strategi keberlanjutan. Artinya, setelah pendampingan proyek selesai, masyarakat tetap memiliki pendukung dalam penyediaan sumber daya dan tenaga. Maka sebagai indikator suksesnya proyek ini adalah apabila setelah proyek PKDM selesai masyarakat mampu mengorganisir dan melanjutkan kegiatan pos gizi dan memobilisasi sumber-sumber daya untuk meningkatkan situasi kesehatannya. Ω

Judul Proyek : Community Managed Health Promotion Periode Proyek : Juli 2011 - Juni 2013

Lokasi Proyek : Paroki Amandraya dan Paroki Lahusa-Gomo Sumber Dana : Caritas Italiana

PKDM

(Promosi Kesehatan Dasar Yang Dimanajemeni Masyarakat)

APA DAN MENGAPA PKDM ? APA DAN MENGAPA PKDM ? APA DAN MENGAPA PKDM ? APA DAN MENGAPA PKDM ?

Maret 2011 lalu, Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) menyelesaikan satu program yang menangani isu kesehatan dengan judul “Nutrition Improvement through Livelihoods in Gomo” melalui Divisi Livelihood. Beberapa kegiatan dilakukan melalui Pos Gizi (PG) seperti pemberian makanan tambahan untuk anak gizi kurang, pembuatan kebun gizi, pembuatan kompos dan pengembangan lele untuk meningkatkan livelihood masyarakat. Beberapa dampak baik terjadi, diantaranya peningkatan status gizi anak, peningkatan pemahaman ibu-ibu tentang gizi dan pengolahan makanan yang baik, dapat mengakses pelayanan kesehatan (pemberian imunisasi untuk Bumil dan anak) dan meningkatnya pengetahuan dalam menanam sayur-sayuran. Namun hasil evaluasi menunjukkan bahwa masyarakat masih belum menunjukkan adanya kapasitas untuk menjalankan fungsi manajerial dalam kegiatan pos gizi yang sudah dibentuk. Dan evaluasi akhir proyek merekomendasikan beberapa hal, yakni :

• memperbanyak pos gizi agar dapat melayani lebih banyak anak

• menghentikan pemberian makanan tambahan terhadap anak yang status gizinya sudah normal

• lebih fokus pada kegiatan peningkatan pendapatan dan sumber pangan yang bersumberdaya lokal

• memasukkan kegiatan yang mencegah penyakit diare dan KB alami dalam komponen kegiatan proyek

Sebagai tindak lanjut, Juli 2011, CKS menjalankan sebuah program yang dinamai ‘Promosi Kesehatan yang Dimanajemeni Masyarakat (PKDM)’. Untuk menangani program ini, dibentuk sebuah divisi yang disebut Divisi Kesehatan. PKDM merupakan perpaduan kegiatan pemberdayaan masyarakat dan promosi kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat khususnya ibu dan anak. Pada program ini dilakukan upaya memfasilitasi proses penyadaran & pembangunan kapasitas masyarakat agar masyarakat dapat melakukan fungsi-fungsi manajemen (pengkajian, perencanaan, pelaksanaan program, monitoring dan evaluasi) untuk pemberdayaan dan promosi Kesehatan.

(10)

Nias Dari Perspektif Kesetaraan Gender

GENDER

Promotion

Divisi Gender CKS telah banyak melakukan kegiatan promosi kesetaraan dan keadilan gender, di seluruh penjuru Pulau Nias, bahkan sampai di Tapanuli Tengah.

Dua kelompok sasaran sudah menerima manfaat sepanjang Divisi Gender menjalankan kegiatan yang berlangsung efektif kurang lebih selama dua setengah tahun. Kelompok tersebut adalah para pekerja pastoral dan kaum muda yang tinggal di asrama di bawah naungan gereja Katolik.

Sentuhan program untuk para pekerja pastoral dilakukan melalui pelatihan-pelatihan dan ajakan kerjasama dalam suatu kegiatan. Dua kali pelatihan dirancang untuk mempersiapan peserta dapat melakukan kegiatan sendiri di paroki. Pelatihan ini diperuntukkan bagi pekerja pastoral perempuan dan laki-laki. Sedangkan satu kali pelatihan kepemimpinan dikhususkan bagi yang perempuan.

Tujuh belas paroki, tiga belas dari Dekanat Nias dan empat dari Dekanat Tapanuli menanggapii undangan pelatihan pertama. Dan hanya dua belas paroki yang konsisten mengikuti pelatihan kedua. Melalui proses ini, dihasilkan 54 pekerja pastoral yang siap untuk melakukan sosialisasi gender di masing-masing paroki. Meskipun tidak semua dari mereka mempunyai kesempatan untuk mengimplementasikan hasil pelatihannya. Dari sebelas paroki yang melakukan implementasi, sekitar 850 orang mendapat pemahaman kesetaraan dan keadilan gender.

Dukungan, kesempatan dan antusiasme dari pastor paroki sangat mempengaruhi konsistensi kepesertaan dan kemungkinan para alumni pelatihan untuk menyelenggarakan sendiri kegiatan gender di paroki. Dan inilah sebabnya kenapa hanya ada sebelas paroki dari 22 paroki yang diundang, melakukan kegiatannya sendiri di paroki. Dan untuk kaum muda usia sekolah, ada dua belas asrama yang mendapat manfaat dari proyek, selain mudika dari beberapa paroki. Tidak kurang dari 450 anak menerima manfaat dari kegiatan yang sudah dilaksanakan.

Dari kegiatan yang dilakukan CKS, anak-anak asrama menjadi memahami apa yang dimaksud dengan kesetaraan dan keadilan gender. Selain juga mampu menganalisis kesenjangan yang terjadi di lingkungannya, dan memahami dampak dari ketidaksetaraan dan keadilan. Di sini, dirasa bahwa sebelum mendapat sentuhan penyadaran, mereka menganggap penomorduaan perempuan adalah hal yang wajar dan normal. Dan pasca penyadaran, mereka, baik perempuan dan laki-laki memahami keberadaan mereka, bahwa mereka setara. Tidak ada hak untuk saling merendahkan dan menista. Mereka punya hak yang sama dalam mengembangkan diri dan berperan dalam masyarakat.

Semoga terwujudnya praktek kesetaraan dan keadilan di wilayah Keuskupan Sibolga dapat menjadi usaha bersama untuk mewujudkan situasi kehidupan yang lebih baik. ΩΩΩΩ

Nias adalah salah satu pulau kecil, bagian dari wilayah Provinsi Sumatera Utara. Pulau dengan luas 5.625Km2 ¹ ini terbagi dalam 4 daerah tingkat II, yaitu Kabupaten Nias Induk, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara dan Kota Gunungsitoli.

Pulau dengan penduduk kurang lebih 700.000 jiwa ² ini tidak kurang dari setengahnya adalah perempuan. Menurut hasil sensus penduduk tahun 2010, di Kota Gunungsitoli, jumlah penduduk perempuan ada sejumlah 63.915 jiwa dan laki-laki 61.651 jiwa, sedangkan di Kabupaten Nias Induk yang penduduknya 131.377 jiwa, terdiri dari 67.320 perempuan dan 64.057 laki-laki.

Meskipun di kedua daerah tingkat II ini perempuan lebih banyak daripada laki-laki, partisipasi perempuan dalam masyarakat baik dalam organisasi pemerintah maupun organisasi masyarakat sipil, masih sangat jauh tertinggal daripada laki-laki. Kondisi ini tidak luput dari imbas kuatnya budaya patriarkhi yang dipegang erat oleh masyarakat Nias.

Ekonomi Ekonomi Ekonomi Ekonomi

Dilihat dari potensi ekonominya, sumber daya alam yang terkandung di bumi Nias sangatlah melimpah. Sayangnya, potensi kekayaan ini belum banyak tergali dan diberdayakan. Sehingga pendapatan per kapita di Kabuapten Nias pada tahun 2010, sebesar Rp 8.251.574,- ᵌ sangat mungkin ditingkatkan.

Pendapatan perkapita yang relatif rendah, dibanding dengan wilayah lain di Sumatera Utara, juga membawa kontribusi pada perempuan dalam mengakses pendidikan. Ketika pendapatan keluarga terbatas, sehingga tidak semua anak dapat disekolahkan, maka anak perempuanlah yang dikorbankan. Dalam hal ini budaya patriarkhi dan keterbatasan dalam bidang ekonomi menempatkan perempuan pada barisan belakang dalam mendapatkan pendidikan.

Pendidikan Pendidikan Pendidikan Pendidikan

Penomorduaan perempuan dalam mengakses pendidikan nampak dalam angka buta huruf, dimana prosentase perempuan usia sekolah dan usia produktif yang buta huruf mencapai 42,40% sementara untuk laki-laki hanya 35,10 %. Prioritas pendidikan pada anak laki-laki-laki-laki juga tergambar dalam data prosentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang belum/tidak pernah sekolah, yang menunjukkan angka 13,75 untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan menembus angka 27,24%.

Mengingat bahwa pendidikan memberikan kemungkinan untuk mengisi kesempatan kerja yang ada, maka dapat dipastikan kaum laki-lakilah yang terbuka kesempatannya dalam mengisi posisi-posisi yang tersedia. Dan karena dari pekerjaanlah orang berpeluang meningkatkan kesejahteraannya, maka kembali lagi perempuan tersingkir dalam upaya meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Kesehatan Kesehatan Kesehatan Kesehatan

Terkait dengan kesejahteraan hidup yang kurang terjamin, maka berimbas pada tingkat kesehatan perempuan yang rendah. Salah satu tolok ukur melihat derajat kesehatan perempuan adalah tingkat kematian ibu melahirkan. Di Kabupaten Nias, kita dapat melihat dimana angkat kematian ibu melahirkan adalah 130,09/ KH. Artinya ada lebih dari 130 ibu meninggal per 100.000 ibu melahirkan. Ini masih jauh dari target nasional yang ditetapkan dalam Milenium Development Goals, dimana diharapkan hanya 103 ibu melahirkan yang meninggal, dari 100.000 ibu yang melahirkan.

Politik Politik Politik Politik

Karena perempuan tidak mendapat peluang yang sama dalam pendidikan dan terlibat dalam organisasi masyarakat sipil, maka dapat dipahami bahwa keterwakilan perempuan di lembaga legistlatifpun sangat minim. Di lima daerah tingkat dua di Nias, keterwakilan perempuan paling tinggi di Kabupaten Nias Selatan. Itupun hanya ada empat perempuan dari total 25 anggota DPRD Tingkat II. Bahkan untuk Kabupaten Nias Induk, tidak ada satupun perempuan menduduki kursi legislatif. Artinya tidak ada “suara” perempuan dalam kebijakan yang dihasilkan.

Dengan tidak tersuarakannya kepentingan perempuan dalam membuat kebijakan, maka akses perempuan dalam pendidikan, kesehatan dan yang lain, membutuhkan perjuangan panjang. Dan di belahan bumi manapun, dalam situasi kemiskinan perempuan mempunyai akses yang terkecil untuk mendapatkan makanan, kesehatan, pendidikan pelatihan dan kesempatan bekerja serta kebutuhan-kebutuhan lainnya, seperti digambarkan dalam dalam The Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination Againts Women (CEDAW).

Hal di atas berarti, tanpa usaha yang sungguh-sungguh, dan intervensi dari berbagai pihak, kondisi perempuan di Nias masih akan tertinggal dibanding dengan saudara sekaumnya di belahan nusantara yang lain. ΩΩΩΩ

(11)

Ina Mega panggilan akrabnya, wanita ulet dan pekerja keras ini adalah bendahara KSM Orahua Dusun Lauru-Desa Hilibanua, salah satu KSM yang didampingi oleh proyek Livelihood di paroki Alasa.

Selain giat bekerja di kebun ubi jalar dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, ibu tiga anak ini juga sebagai penggalas getah karet (agen dusun) yang menampung hasil latek dari masyarakat yang ada di dusun Lauru dan sekitarnya. Diantara kesibukan dan aktifitas kesehariannya itu, wanita gesit dan cekatan ini sangat tertarik dengan karet okulasi. Bersama suaminya Sodi’aro Lahagu, beliau aktif merawat kebun bibit karet batang bawah yang ada di lahan demplot-KSM Orahua, bahkan keluarga ini juga telah menanam bibit karet batang bawah sebanyak 1000 batang di lahan pekarangan sekitar rumahnya. Pada saat dilaksanakan pelatihan okulasi karet di KSM Orahua beberapa waktu yang lalu, wanita ini cukup aktif dan menunjukkan kesungguhannya untuk bisa ‘belajar’

melakukan okulasi, setelah pelatihan tersebut beliau terus menerus berlatih untuk bisa terampil dalam okulasi karet.

“Saya tertarik belajar okulasi karet awalnya karena mendengar dari cerita orang-orang di sekitar dusun Lauru yang pernah merantau dan bekerja di perkebunan karet di seberang, kata mereka karet okulasi yang ditanam oleh perusahaan perkebunan dan petani-petani di seberang sana getahnya sangat banyak” tuturnya. Dari 120 batang yang diokulasinya, ada 97 batang yang berhasil hidup. “Saya sedang mengokulasi 300 batang lagi di lahan pembibitan bersama suami saya, batang entres saya dapatkan dari CKS dan lainnya saya beli dari Onobongi. Cukup mahal, sepuluh ribu per meter,” tambahnya. Bendahara KSM Orahua ini berencana mengganti sebagian tanaman karet yang ada di kebun dengan bibit karet okulasi itu.

“Saya akan terus melakukan okulasi, setelah kebutuhan di kebun sendiri tercukupi saya mau jualan bibit okulasi. Saya yakin sekali bibit karet okulasi saya laku keras karena semua orang sedang membicarakan bibit karet okulasi, mereka selalu bertanya-tanya dimana bisa mendapatkan bibit karet okulasi,” jelasnya dengan penuh semangat.

KSM Orahua-Dusun Lauru (Desa Hilibanua), adalah satu dari sebelas KSM yang didampingi oleh Divisi Livelihood CKS, masyarakat yang tergabung dalam KSM ini ada 22 KK, mereka cukup bersemangat melakukan aktifitas di kelompoknya terutama dalam pengembangan bibit karet okulasi, karena hal ini merupakan sesuatu yang baru buat mereka.

Sebelumnya mereka hanya mendengar dari cerita orang yang pernah merantau (Sibolga dan Pekanbaru) untuk bekerja di perusahaan perkebunan karet, bahwa karet okulasi dapat menghasilkan getah yang banyak, sementara apa yang dimaksud karet okulasi karet okulasi karet okulasi dan bagaimana cara karet okulasi bagaimana cara bagaimana cara membuat bibit karet okulasi merupakan hal bagaimana cara yang belum pernah mereka ketahui.

Setelah 24 bulan (Januari 2010–Desember 2011) Divisi Livelihood CKS mendampingi masyarakat di daerah ini, mereka mulai mengenal

mengenal mengenal

mengenal dan tahu bagaimana cara tahu bagaimana cara tahu bagaimana cara tahu bagaimana cara membuat

membuat membuat

membuat bibit karet okulasi. Apalagi kebun sumber mata entries sudah dimiliki oleh sebelas KSM yang didampingi oleh proyek Livelihood di wilayah ini, salah satunya adalah KSM Orahua. Suatu harapan besar bagi mereka untuk dapat meningkatkan kesejahteraannya di masa depan dari hasil produksi tanaman karet sebagai sumber mata pencaharian utama masyarakat di wilayah Paroki Alasa-Namohalu. Ω

Wanita Ulet dan Pekerja Keras Dari Dusun Lauru

Judul Proyek : Livelihood Promotion in Alasa Parish Periode Proyek : Januari 2010 - Desember 2011 Lokasi Proyek : Paroki Alasa, Nias Utara

Sumber Dana : Caritas Austria dan Caritas Italiana

LIVELIHOOD

Alasa

Proyek ini dinamakan Livelihood Promotion in Alasa Parish atau Promosi Livelihood di Paroki Alasa. Pada Desember 2011, proyek ini resmi berakhir setelah berkarya selama 24 bulan untuk memberdayakan 11 Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) untuk pengembangan budidaya karet okulasi dan 2 KSM untuk pengembangan budidaya tanaman kakao. Terdapat 346 KK yang diberdayakan dalam 13 KSM tersebut.

Sebanyak tiga orang FA (field assistant) diterjunkan ke lapangan dan melakukan pendampingan intensif dibantu oleh enam orang FP (focal point). FP terdiri dari masyarakat setempat yang direkomendasikan oleh pastor paroki untuk mendukung para FA di lapangan. Agar mampu melakukan pendampingan terhadap kelompok, para FP selalu dibekali keterampilan tentang teknis pertanian, biasanya dilakukan sekali dalam seminggu.

Proyek ini tampaknya memberi perubahan yang cukup berarti terutama tentang pola pertanian di 13 dusun tersebut. Masing-masing kebun kini sudah lebih terawat dan tertata rapi, begitu juga dengan pemeliharaannya. Tidak seperti dulu yang terlihat semrawut dan terkesan tidak terawat. “Mereka sadar bahwa perawatan dan sanitasi kebun sangat penting. Perawatan dan hal-hal teknis lainnya mereka peroleh dari SL (Sekolah Lapangan) yang

dilakukan oleh FA dan FP. Hasil panen yang mereka peroleh sudah jauh lebih baik ketimbang dulu,” ungkap Rahadi P. Putro, Manajer Proyek ini.

Memang tidak semua berhasil, malah bisa dikatakan ‘hanya’ 20% dari mereka yang mau dan menjadi terampil (bisa melakukan okulasi sendiri). Pola pikir warga berbeda-beda, SL yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu, justru dianggap sebagai kesempatan untuk memperoleh bantuan. Anggapan seperti ini yang membuat frekuensi kehadiran peserta SL tidak konstan, kadang hadir kadang tidak. Inilah kesulitan yang ditemui, namun FA dan FP tidak berhenti begitu saja, toh sudah ada sekitar 15 orang yang mau belajar dan akhirnya berhasil. Ω

PROMOSI LIVELIHOOD DI ALASA

PROMOSI LIVELIHOOD DI ALASA

PROMOSI LIVELIHOOD DI ALASA

PROMOSI LIVELIHOOD DI ALASA

Kegiatan okulasi Lahan batang bawah milik masyarakat

(12)

KEGIATAN RESOURCE CENTRE (RC)

KEGIATAN RESOURCE CENTRE (RC)

KEGIATAN RESOURCE CENTRE (RC)

KEGIATAN RESOURCE CENTRE (RC)

Resource Centre (RC) merupakan unit khusus yang dimiliki oleh Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) yang berfungsi sebagai wadah sarana pendidikan/ latihan pertanian terpadu. Awalnya diperuntukkan bagi komunitas kelompok dampingan CKS, namun pada perkembangannya RC membuka diri sebagai tempat belajar dan berlatih bagi berbagai kalangan masyarakat umum.

Beberapa kegiatan yang dilakukan di RC : 1. Pengembangan pertanian

• Tanaman keras (karet, kakao, buah, kayu produktif)

• Tanaman muda/ palawija (pengembangan demoplot tanaman muda dengan sistem rotasi, budidaya tanaman palawija dan tanaman pangan dengan sistem monokultur dan agroforestry)

• Kebun Produksi

• Pengembangan pupuk organik dan pembuatan MOL

2. Sarana Pendidikan/ Latihan 3. Fundraising CKS.

Dalam karya pelayanannya, CKS masih didukung oleh beberapa keluarga Caritas internasional lainnya. Namun, dukungan itu tentu tidak bisa diharapkan terus mengalir, maka CKS harus mampu mandiri.

Salah satu program CKS agar dapat tetap berkarya adalah mencoba untuk menggalang dana sendiri dan salah satunya adalah lewat RC. Dalam melaksanakan kegiatan pengembangan pertanian, RC juga memproduksi beberapa bibit tanaman/ pohon untuk dijual ke masyarakat, yakni :

• Bibit karet okulasi (klon PB 260) siap tanam Rp. 9.000/ batang

• Stum mata tidur Rp. 5.000/ meter • Entres Rp. 5.000/ meter • Kakao siap tanam Rp. 4.000/ batang • Mahoni Rp. 3.000/ batang

Salah satu tahap yang sedang dilakukan di RC saat ini adalah pengembangan lahan batang bawah agar dapat perlahan-lahan mensuplai stum mata tidur sendiri karena selama ini, untuk mendapatkan stum, RC selalu memesan dari luar. Dalam hal ini, RC juga melakukan strategi kemitraan dengan masyarakat. RC berusaha membawa dampak yang baik dan mendorong masyarakat untuk membangun lahan batang bawah di lahan masing-masing, sehingga dengan begitu, kapasitas dan pendapatan masyarakat dapat meningkat.

Harapan ke depan, RC benar-benar mampu menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia dan alam, RC bisa menjadi contoh bagi masyarakat umum lewat hasil-hasil pengujian dan percobaan. Hingga saat ini, kiprah RC di dunia pertanian bisa dikatakan cukup baik. Selain menjadi salah satu unit di CKS, RC juga mampu menjadi rumah belajar bagi masyarakat, dan masyarakatpun diberi keleluasaan untuk menduplikasikan model-model yang pernah mereka lihat di RC untuk dilakukan di lahan masing-masing. Ω

LIVELIHOOD

Promotion

Di wilayah paroki Nias Barat, Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) berkarya melalui proyek Livelihood Promotion and Consolidation in Moro’o and Tugala Oyo atau Promosi dan Konsolidasi Livelihood di Moro’o dan Tugala Oyo. Proyek ini dijalankan oleh Divisi Livelihood dan berakhir pada bulan Desember 2011 setelah berjalan sejak tahun 2009.

Dalam melakukan kegiatannya, Divisi Livelihood menerapkan metodologi CMLP (Community Managed Livelihood Promotion) atau Promosi Livelihood yang Dimanajemeni Masyarakat. Dalam metode ini, masyarakat/ kelompok merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi kegiatan itu sendiri. Dengan kata lain, masyarakat sendirilah yang menjadi manajer/ pengatur terhadap kegiatan apa yang telah mereka rencanakan dengan pendampingan CKS.

Masyarakat yang mampu memanajemeni kegiatan mereka adalah merupakan suatu cita-cita yang ingin dicapai dalam setiap program CKS termasuk proyek di Divisi Livelihood ini. Beberapa hal yang terjadi sepanjang tahun 2011 yakni :

• Anggota dan pengurus mampu mencari solusi atas kendala yang dialami, ini terlihat dari perencanaan, pengawasan, dan implementasi kegiatan yang mereka lakukan sendiri.

• Untuk peningkatan kualitas budidaya tanaman muda, sedang dilakukan pengolahan lahan yang nantinya akan ditanami beberapa jenis tanaman muda seperti kacang panjang, kacang hijau, bayam, cabe dan pisang. Tujuannya adalah untuk memenuhi sumber gizi keluarga dan meningkatkan sumber pendapatan keluarga. • Rata-rata anggota telah menguasai teknik okulasi dengan baik, sehingga mereka tidak begitu bergantung

pada pihak luar.

• Terdapat kelompok pengrajin ‘bolanafo’ (budaya khas Nias berupa penganyaman sehingga menghasilkan sebuah wadah atau tas yang memiliki beragam corak dan biasanya dipakai dalam acara adat) yang secara rutin memproduksi 10 hingga 20 buah bolanafo per bulannya. Selain itu mereka juga membudidayakan bahan baku bolanafo (daun sinasa) di lahan demoplot ataupun di lahan masing-masing.

• Sebanyak empat OMS (Organisasi Multi Stakeholder) telah menyelesaikan proyek kecil (sarana air bersih, disel, prasarana jalan, jembatan dan stum karet PB 260 dan simpan pinjam. Sedangkan lima OMS lain sedang dalam tahap pengerjaan.

• Untuk upaya perbaikan gizi bagi balita, masyarakat di lima OMS membentuk sendiri beberapa pos gizi. Pos gizi tersebut berfungsi sebagai tempat belajar mengenal kesehatan dasar ibu dan balita dan terbagi dalam tiga kelas, yaitu kelas ibu, anak, dan taman gizi.

U n t u k pendampingan komunitas, staf lapangan dan kader pertanian senantiasa dibekali dengan pelatihan -pelatihan pertanian (budidaya tanaman karet dan tanaman muda), pengembangan organisasi (pembuatan proposal, metodologi CMLP, kesetaraan gender, monev RKT), dan kesehatan dasar (menu seimbang bagi balita, cara pengisian buku KIA, kesehatan ibu dan balita dan jenis-jenis penyakit). Ω

PROMOSI LIVELIHOOD DI MORO’O

PROMOSI LIVELIHOOD DI MORO’O

PROMOSI LIVELIHOOD DI MORO’O

PROMOSI LIVELIHOOD DI MORO’O

Judul Proyek : Livelihood’s Promotion and Consolidation in Moro’o and Tugala Oyo Periode Proyek : Januari 2010 - Desember 2011

Lokasi Proyek : Paroki Nias Barat Sumber Dana : Caritas Austria dan SCCF

(13)

KERANGKA KERJA PENGEMBANGAN ORGANISASI CKS

KERANGKA KERJA PENGEMBANGAN ORGANISASI CKS

KERANGKA KERJA PENGEMBANGAN ORGANISASI CKS

KERANGKA KERJA PENGEMBANGAN ORGANISASI CKS

Caritas Keuskupan Sibolga mengembangkan organisasinya berdasarkan nilai-nilai yang dianut seperti kerelaan, kebersamaan, kepedulian, kejujuran, keadilan, kritis, transparansi dan tanggung jawab, dengan memperhatikan fungsi organisasi yang baik

yaitu prosedur, struktur organisasi,

mekanisme pengambilan keputusan,

personalia, dan pembangunan kapasitas. Kesatuan tim juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pengembangan organisasi yang dilakukan agar nilai-nilai yang dianut dapat diinternalisasi dan fungsi bisa berjalan dengan baik.

Untuk mencapainya dilakukan dengan cara team building, alur komunkasi yang baik, dan kegiatan-kegiatan lain seperti retret tahunan dan misa rutin.

Dengan semakin berkembangnya CKS,

diharapkan pendekatan pelayanan menjadi semakin baik sehingga masyarakat yang bebas, mandiri, dan solider di wilayah Keuskupan Sibolga dapat terwujud.

KESATUAN KESATUAN KESATUAN KESATUAN C K S C K S C K S C K S NILAI NILAINILAI NILAI FUNGSI FUNGSIFUNGSI FUNGSI PENDEKATAN PENDEKATAN PENDEKATAN PENDEKATAN METODE METODEMETODE METODE

Kegiatan

Caritas Keuskupan Sibolga

Sejak awal berdirinya, Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) senantiasa memupuk rasa persaudaraan dan kekompakan, baik itu di komunitas, divisi masing-masing, maupun secara keseluruhan.

Sekali dalam dua bulan, seluruh staf CKS mengikuti perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Direktur CKS, Pastor Mikael To, Pr. Melalui kegiatan rohani secara rutin ini, diharapkan dalam setiap karya staf selalu dilandasi oleh semangat pelayanan yang tinggi dan cinta kasih yang tulus terhadap sesama.

Pada bulan Mei 2011, staf CKS mengadakan team building di Samosir, Tuk Tuk. Kembali semangat persaudaraan dipupuk. Pendampingan oleh Bapak Fidelis Waruwu, seorang dosen Psikolog Universitas Tarumanegara Jakarta, menambah wawasan dan pemahaman staf akan nilai-nilai dan penghargaan terhadap sesama umat manusia.

Tema ‘kembali ke alam’ diangkat ketika staf merayakan HUT Caritas Keuskupan Sibolga yang ke-6. Kali ini CKS merayakannya sedikit lain. Tidak ada acara pemotongan kue, kata-kata sambutan, atau makan makanan pesta, yang ada justru berlumpur-lumpur, babat rumput, bercocok tanam, membersihkan lahan, menyusun polibag, memotong mata entres, menanam bibit mahoni, dan lain sebagainya. Semua ini dilaksanakan di Resource Centre, sebuah pusat pendidikan dan pelatihan (pusdiklat) pertanian yang dimiliki oleh CKS.

Nilai-nilai kerelaan, kebersamaan, kepedulian dan tanggung jawab terlihat jelas dari kegiatan ini. Jika sehari-hari sebagian staf berhadapan dengan komputer, pulpen, kertas, maka kali ini berhadapan dengan cangkul, parang, gerobak dan lumpur. Di momen ini juga staf bisa berkumpul semua, bekerja sama, saling membantu, memberi semangat, bercanda bersama, dan lain sebagainya.

Semoga roh seperti ini tetap terjaga sampai kapanpun diantara staf CKS, sehingga CKS dapat selalu berkarya memperjuangkan hak-hak orang yang terpinggirkan dan yang membutuhkan perhatian. Ω

PENGUATAN TIM

PENGUATAN TIM

PENGUATAN TIM

PENGUATAN TIM

Referensi

Dokumen terkait