• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Bahasa

Manusia sebagai makhluk sosial berinteraksi menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi antara satu dengan yang lainnya, baik berkomunikasi secara langsung yakni melalui tatap muka baik secara tidak langsung biasanya menggunakan media digital sebagai perantaranya. Melalui interaksi tersebut seseorang dapat melakukan interaksi untuk mengutarakan pendapatnya.

Penggunaan bahasa yang digunakan juga harus disesuaikan dengan kondisi dan keadaan kedua belah pihak agar mempermudah pemahaman bahasa oleh lawan bicara. Proses komunikasi yang baik akan mendapatkan timbal balik yang baik pula untuk hubungan seseorang baik secara individu maupun kemasyarakatan.

Masyarakat Indonesia mengakui satu bahasa pemersatu yakni bahasa Indonesia untuk mempermudah komunikasi. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh beragamnya bahasa antar daerah di nusantara yang tersebar di seluruh negeri.

Kartomiharjo (dalam Fujiastuti, 2014: t.hl) mengemukakan bahwa untuk mencapai masyarakat bersatu, kuat, dan maju diperlukan peran bahasa sebagai pengikat perbedaan yang ada di maysarakat. Di samping hal tersebut tak lupa pula melestarikan bahasa daerah masing-masing sebagai keunikan yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita. Bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua dalam kehidupan sehari-hari sedangkan untuk bahasa utama masyarakat masih menggunakan bahasa daerahnya masing-masing hal ini tentunya masih berkaitan dengan budaya yang masih kental dianut.

Terdapat perbedaan dan keunikan pada setiap kebudayaan di dunia, hal

tersebut disebabkan oleh keadaan masyarakatnya yang berbeda pula, maka tak

(2)

9 heran apabila timbul perbedaan dalam hal pemakaian bahasa yang digunakan antar masyarakat hal tersebut diungkapkan oleh (Murdock dalam Fujiastuti, 2014:

t.hl)

2.2 Ragam Bahasa

Ragam Bahasa atau Variasi bahasa yang ada memiliki banyak variasi bahasa seperti jargon, argot, cant, Slang. Hal tersebut diungkapkan oleh Chaer &

Agustin, (2010: 52) menurutnya cant adalah slang khusus yang pada umumnya lebih digunakan untuk mengungkapan merengekan, pura-pura, atau dibuat-buat.

jargon merupakan kata-kata yang bersifat teknis yang biasa digunakan pada profesi tertentu. Argot merupakan bahasa rahasia yang biasa digunakan oleh seorang penjahat atau pengemis. Slang sendiri memiliki keunikan tersendiri dan berkembang secara terus menerus. Slang digunakan oleh suatu kelompok secara internal dengan maksud agar tidak banyak orang yang mengetahui maksud dari pembicaraan tersebut.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi berbagai macam ragam bahasa mulai dari faktor wilayah, keadaan sosial. Menurut Nababan (dalam Fujiastuti, 2014) perbedaan letak geografis, sosial masyarakat, tingkat formalitas dan situasi berbahasa, serta zaman yang berbeda mengakibatkan terjadinya ragam bahasa.

2.3 Pengertian Bahasa Slang

Bahasa Slang adalah bahasa tidak resmi. Bahasa ini digunakan untuk

berkomunikasi kaum remaja agar terlihat keren. Widarso (1996:58), menyebutkan

kata slang merupakan kata-kata yang digunakan dan dikenal oleh kelompok

tertentu yang berbeda dari standart kebahasaan pada umumnya disebut dengan

bahasa slang. Artinya, variasi bahasa ini digunakan oleh kelompok tertentu pada

(3)

10 keadaan tertentu untuk menyembunyikan maksud tertentu, akan tetapi bisa saja digunakan oleh kelompok lain dengan kosakata yang sama akan tetapi memiliki makna yang berbeda, ada pula yang berpendapat bahwa bahasa slang ini digunakan agar tidak dapat digunakan dan dimengerti oleh kelompok yang lain.

Prinsip penggunaan bahasa slang yang digunakan oleh suatu kelompok memiliki keunikannya masing-masing karena tidak semua orang bisa memahami setiap kata slang yang digunakan. Bahasa ini sering mengalami perubahan pada kosakata yang digunakan.

Kemunculan Bahasa Slang dipergunakan sebagai bahasa pergaulan, kosakata yang diciptakan dipergunakan cenderung untuk menyembunyikan maksud dari unggahan ataupun untuk menciptakan kejenakaan semata. Kata-kata slang tidak dapat dipergunakan untuk masyarakat umum pada kehidupan sehari- hari akan tetapi dapat digunakan pada segmen tertentu saja dan tidak formal.

Slang sendiri pada dasarnya tidak terkait dengan bidang fonologi maupun

gramatikal akan tetapi bagian dari bidang kosakata saja. Sehingga seringkali

dijumpai bentuknya berubah-ubah dan mengikuti maknanya. Hal ini dikuatkan

dengan dengan berkembangnya kebahasaan yang biasanya dialami oleh kaum

milenial saat ini. Menurut Alwasilah (dalam Firman 2008: 14) pemakaian bahasa

slang dapat memperkaya kosakata kebahasaan dengan memadukan kosakata

terdahulu dengan kosakata yang baru. Sebenarnya bahasa slang yang diamati

peneliti sendiri kata slang digunakan untuk maksud sebagai “kode” untuk

mempersingkat atau menyembunyikan maksudnya agar tidak terlalu mencolok

bagi kaum awam.Ragam bahasa yang yang menjadi fokus penelitian ini adalah

(4)

11 bahasa slang seperti diuraikan diatas karenanya peneliti juga menambahkan pengertian tentang bentuk dan makna yang terdapat pada sebuah kata.

1. Pembentukan bahasa Slang

Proses pembentukan bahasa slang mengalami perubahan melalui proses morfologis. Morfem adalah satuan gramatikal terkecil yang memiliki makna, hal tersebut dilengkapi oleh Soeparno yang menuturkan bahwa morfologi merupakan salah satu bagian dari kebahasaan yang mengkaji bentuk, proses pembentukan kata. Sedangkan pada bagian morfologi satuan gramatikal terkecil disebut dengan morfem(Chaer dalam Nugroho, 2015).

Pembentukan morfologis pada bahasa slang mengalami beberapa perubahan dari morfem menjadi sebuah kata atau bahkan sebaliknya dari kata menjadi morfem berbagai hal memungkinkan dalam hal pembentukan bahasa slang karena yang sifatnya tidak terikat kata-kata formal. Setidaknya ada empat proses morfologis yang dikaji pada kajian ini yaitu, Afiksasi, Reduplikasi, Komposisi, Abreviasi (Chaer dalam Nugroho, 2015).

Afiksasi adalah suatu proses penambahan imbuhan bentuk dasar pada kata ataupun morfem Chaer (dalam Nugroho, 2015) pada proses ini akan menghasilkan sebuah kata, morfem, atau bahkan kalimat yang memiliki makna gramatikal.

Afiksasi dibagi menjadi beberapa bagian afiks seperti prefik (awalan), infik (tengah), sufik (akhir), dan dan konfik (awalan dan akhiran).

Reduplikasi adalah pembentukan kata atau morfem yang mengulangi

bentuk dasar atau sebagian dari bentuk kata atau morfem tersebut (Verhaar dalam

Nugroho, 2015). Chaer (dalam Nugroho, 2015) mengatakan bahwa proses

(5)

12 reduplikasi ini tidak serta merta mengubah identitas leksikal akan tetapi hanya memberi makna secara grmatikal, dan juga bisa membentuk kata baru ataupun berbeda dengan bentuk leksikal sebelumnya. Seperti kata hati-hati, kura-kura.

Komposisi atau disebut juga pemajemukan adalah proses penggabungan dua kata menjadi satu kesatuan untuk menghasilkan sebuah kata bahasa atau frase yang memiliki identitas leksikal bisa berbeda maupun baru sama sekali, (Verhaar dalam Nugroho, 2015). Misalkan, Ciber Army, Alter Ego.

Abreviasi atau yang biasa disebut pemendekan merupakan pengurangan bagian tertentu dari kata atupun gabungan kata, agar mempersingkat sebuah kata atau sebuah frase akantetapi memiliki makna tetap sama dengan makna bentuk utuhnya Chaer (dalam Nugroho, 2015). Bentuk dari adreviasi ini kemudian dibedakan apakah penggalan, akronim ataupun singkatan seperti kata Baznas.

2. Makna Kata

Makna kata dalam bahasa memiliki beberapa kajian seperti makna:

konotatif, denotatif, moral, nilai, amanat, pelajaran, signifikansi; subtansi, takwil pada (Sugiono dalam Suhardi 2015: 52). Pada penelitian ini memfokuskan makna kata pada jenis makna denotatif dan makna konotatif saja. Lebih lanjut Sugiono memaparkan bahwa makna konotatif adalah hasil pemikiran dari seseorang yang sudah mendapat penambahan dan perubahan dari makna sebenarnya. Makna konotatif berawal dari intensi dari perasaan seseorang terhadap apa yang didengar atau apa yang diucapkan yang menghasilkan interpretasi berbeda-beda. Makna denotatif merupakan makna sebenarnya atau makna asli, makna yang bersumber dari makna kata.

Berikut ini contoh dari salah satu jenis makna,

(6)

13 (10) Eh ada yang ketahuan, gara-gara dm tersebar luas.

Kalimat pada (10) yakni dm bagian jenis kata dengan makna denotatif. Hal tersebut didapatkan melalui analisis menggunakan

teknik ganti sebagai berikut.

(10a) Eh ada yang ketahuan, gara-gara dm tersebar luas.

(10b) Eh ada yang ketahuan, gara-gara direct massage tersebar luas.

Penerapan teknik ganti pada contoh pernyataan tersebut, didapati bahwa dm dan direct massage memiliki makna yang sama, sebab pada pemakaian kata

pada (10b) dapat menggantikan pernyataan pada (10a). Kata dm sebenarnya merupakan pemendekan untuk direct massage. Jadi, direct massage. Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa kata dm memiliki makna sebenarnya atau denotatif .

Bahasa slang tidak hanya digunakan oleh masyarakat Indonesia akan tetapi

juga digunakan oleh berbagai bahasa banyak Negara seperti halnya di Amerika

bahasa slang digunakan dalam bahasa keseharian untuk menambah keakraban

diantara penggunanya. Berdasarkan pendapat Widarso (1996: t.hl)

mengungkapkan bahwa bahasa slang adalah kata-kata nonstandard yang dikenal

dipakai oleh kalangan tertentu, misalnya kelompok remaja, mahasiswa, orari,

pemain dan pecinta music jazz, dan sebagainya. Misalnya untuk bentuk dari kata

slang berbahasa inggris menurut Widarso (1996: t.hl) girl dapat memiliki kata

slang berupa gal dan tidak berhenti disitu kata girl ini dapat juga berganti dengan

kata slang chick, tidak berhenti disitu terdapat banyak kata slang untuk kata girl

ini tergantung penggunaannya seperti dame, broad, bag.

(7)

14 2.4 Kerangka Berpikir

Tabel kerangka berpikir ini dibuat untuk mempermudah memahami penelitian bagaimana alur pemikiran dari awal hingga akhir dari bab ke dua ini.

Selain itu juga untuk menyamakan persepsi mengenai alur dan juga teori yang digunakan.

Tabel 2.4.1 Kerangka berpikir

“Analisis Ragam Bahasa Slang di Media Sosial Twitter Pada Kalangan Milenial”.

Jenis Makna 1) Denotatif 2) Konotatif

(Suhardi) Analisis Ragam

Bahasa Slang di Media Sosial Twitter Pada Kalangan Milenial

Slang

(Alwasilah, Cher&

Agustine)

Jenis Makna Pembentukan Bahasa Slang

Pembentukan kata 1. Afiksasi,

2. Reduplikasi, 3. Komposisi, 4. Abreviasi.

(Chaer , Verhaar

dalam Nugroho)

Gambar

Tabel  kerangka  berpikir  ini  dibuat  untuk  mempermudah  memahami  penelitian  bagaimana  alur  pemikiran  dari  awal  hingga  akhir  dari  bab  ke  dua  ini

Referensi

Dokumen terkait

Penggunaan utang yang tinggi bila dilihat dari sisi pajak pastikan akan menguntungkan bagi perusahaan karena akan berakibat pada pajak yang harus dibayar oleh

Terkait dengan pemanfaatan perangkap lampu yang telah banyak dilakukan dan merupakan metode yang efisien dalam memerangkap ngengat, maka perlu dilakukan penelitian

Menurut Romeo (2003), Testing Software adalah proses mengoperasikan software dalam suatu kondisi yang dikendalikan, untuk verifikasi apakah telah berlaku

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah reputasi auditor, tenure, disclosure, ukuran perusahaan dan audit report lag mempengaruhi dikeluarkannya opini

Pada tahap analisis, kamus data digunakan sebagai alat komunikasi antara analisis sistem dengan pemakai sistem tentang data yang mengalir dari sistem, yaitu

Interferensi merupakan gejala umum dalam sosiolinguistik yang terjadi sebagai akibat dari kontak bahasa, yaitu penggunaan dua bahasa atau lebih dalam masyarakat tutur yang

Minuman keras adalah minuman yang mengandung alkohol atau beralkohol yang dapat memabukan minuman keras juga dapat menyebabkan orang tidak waras (gila) dan

Berdasarkan ketentuan di atas dapat dipahami bahwa jika seorang suami telah meninggalkan istri selama dua tahun berturut-turut tanpa alasan atau bisa juga