• Tidak ada hasil yang ditemukan

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

HUBUNGAN MASA KERJA, PENGGUNAAN MASKER, DAN KEBIASAAN MEROKOK

TERHADAP FUNGSI PARU PADA PETANI PENGGUNA PESTISIDA DI

PERKEBUNAN WAWO MATANI TOMOHON. Inry R kaunang* Paul A T Kawatu* Budi T. Ratag*

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

ABSTRAK

Penyebab kematian yang berhubungan dengan pekerjaan sebesar 34% adalah penyakit kanker, 25% kecelakaan, 21% penyakit saluran pernapasan, 15% penyakit kardiovaskular, dan 5% disebabkan oleh factor yang lain. Penyakit saluran pernafasan menjadi salah satu penyakit akibat kerja atau penyakit yang timbul akibat hubungan kerja yang disebkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui hubungan masa kerja, penggunaan masker dan kebiasaan merokok dengan fungsi paru pada petani pengguna pestisida di perkebunan Wawo Matani Tomohon. Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Pemeriksaan fungsi paru dilakukan menggunakan alat spirometer dan masa kerja, penggunaan masker, dan kebiasaan merokok dilakukan dengan alat ukur kuesioner. Sampel diambil secara purposive sampling dengan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi dengan total 36 responden. Hasil penelitian masa kerja diperoleh nilai probabilitas (p) yaitu 0,480, dmana p > 0,05, hasil penelitian untuk penggunaan masker menunjukkan diperoleh nilai probabilitas (p) yaitu 0,238 , dimana nilai p > 0,05, hasil penelitian untuk kebiasaan merokok diperoleh nilai probabilitas (p) yaitu 1,000 , dimana nilai p > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara masa kerja, penggunaan masker dan kebiasaan merokok dengan fungsi paru pada petani pengguna pestisida di perkebunan Wawo Matani Tomohon. Saran yaitu perlu diadakan penyuluhan tentang tentang bahaya yang dapat di timbulkan dari penggunaan pestisida, petani harus memperhatikan penggunakan masker untuk melindungi tubuh dari bahaya dan petani yang perokok sebaiknya mengurangi dan menghentikan kebiasaan merokok karena dapat berpengaruh terhadap kesehatan paru – paru.

Kata Kunci : Masa kerja, masker, merokok, paru, pestisida ABSTRAK

34% cause of death that related to work is cancer, 25 % accident, 21 % respiratory disease, 15% cardiovascular disease, and 5% caused by the other factors. The distribution of the respiratory tract is the result of work or illness that arise from working relationship imposed by work or work environment. The purpose of this research is to know the working relationship, the use of the mask and the smoking habit to lung function in farmer of pesticide use in wawo matani tomohon plantation. The type of this research is Analytical Observational with design of cross sectional. Pulmonary function tests were performed using a spirometer tool and the length of service, use of masks, and smoking habits were carried out by means of a questionnaire. Samples were taken by purposive sampling by using inclusion and exclusion criteria with total 36 respondents. The result of working period study found the probability (p) value is 0.480, where the value p> 0,05, the research result for mask usage shows the probability value (p) is 0,238, where the value p> 0,05, The results of the research for smoking habits obtained probability value (p) is 1,000, where the value p> 0.05. This shows that there is no correlation between work period, use of mask and smoking habit with lung function on farmer of pesticide user at wawo plantation Matani Tomohon. The suggestions is, it is important to do the counseling about the hazards that can be generated from the use of pesticides, farmers should pay attention to the use of masks to protect the body from harm and the farmer who smoke should reduce and stop smoking habit because it can affect the health of the lungs.

(2)

2 PENDAHULUAN

Kesehatan merupakan faktor yang sangat penting dalam peningkatan produktivitas tenaga kerja, tenaga kerja dengan kondisi kesehatan yang baik berpotensi untuk meraih produktivitas yang baik, sebaliknya tenaga kerja yang kesehatan terganggu dapat menyebabkan tidak produktif dalam menjalankan pekerjaannya. Pekerjaan sehari-hari pekerja akan terpajan dengan berbagai resiko penyakit akibat kerja (Suma’mur, 2013).

Badan dunia International Labour Organization (ILO) mengemukakan penyebab kematian yang berhubungan dengan pekerjaan sebesar 34% adalah penyakit kanker, 25% kecelakaan, 21% penyakit saluran pernapasan, 15% penyakit kardiovaskular, dan 5% disebabkan oleh factor yang lain. Penyakit saluran pernafasan menjadi salah satu penyakit akibat kerja atau penyakit yang timbul akibat hubungan kerja yang disebkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja (Suma’mur 2013). Penyakit saluran pernafasan akibat kerja sesuai dengan hasil riset The Surveilance of Work Related and Occupational Respiratory Disease (SWORD) yang dilakukan di inggris ditemukan 3300 kasus baru penyakit paru yang berhubungan dengan pekerjaan (ILO, 2013). Menurut World Health Organization (WHO) paling tidak ditemukan 20.000 orang meninggal karna dampak dari pestisida (Zuraida, 2012). Indonesia, penyakit atau gangguan paru akibat kerja yang disebabkan oleh paparan bahan kimia diperkirakan cukup banyak. Hasil pemeriksaan kapasitas paru yang dilakukan di Balai HIPERKES dan

Keselamatan Kerja Sulawesi Selatan pada tahun 1999 terhadap 200 tenaga kerja di 8 perusahaan, diperoleh hasil sebesar 45% responden yang mengalami restrictive, 1% responden yang mengalami obstructive, dan 1% responden yang mengalami combination (Fathurrahman, 2014).

Observasi awal yang dilakukan pada petani di perkebunan Wawo Matani Tomohon didapati bahwa masih rendahnya pengetahuan petani tentang bahaya pestisida terhadap kesehatan. Hal tersebut dilihat dari penggunaan masker yang hanya digunakan pada saat melakukan penyemprotan pada jenis pestisida tertentu yang dianggap berbahaya. Selain itu petani memiliki pemahaman bahwa tanaman yang memiliki ukuran kecil memiliki resiko lebih rendah untuk terpapar pestisida dibandingkan dengan tanaman tinggi sehingga petani hanya menggunakan Alat Pelindung diri pada saat menyemprot tanaman yang berukuran tinggi.

Petani di perkebunan Wawo Matani Tomohon sebagian besar telah bekerja sebagai petani dalam jangka waktu yang lama kurang lebih 25 tahun masa kerja. Petani setiap harinya melakukan penyemprotan pestisida setiap pagi dan sore kurang lebih 45 menit – 1 jam/tangki (15 liter) tergantung besarnya area lahan pertanian. Lamanya masa kerja petani berpengaruh pada kesehatan, dimana petani di perkebunan Wawo Matani Tomohon memiliki keluhan terhadap kesehatan seperti sesak nafas, sakit kepala sakit punggung dan pinggang serta sering merasa pusing.

(3)

3 METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Waktu penelitian dilaksanakan pada Juli 2017. Sampel dalam penelitian ini adalah petani di perkebunan Wawo Matani Tomohon yaitu 36 responden yang berjenis kelamin laki-laki. Cara pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan purposive sampling. Purposive sampling berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah di ketahui sebelumnya. Cara pengambilan sampel menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi.

Variable yang diteliti dalam penelitian ini adalah masa kerja, penggunaan masker dan kebiasaan merokok dengan gangguan fungsi paru.

Pengolahan data dilakukan dengan dua cara: univariat yaitu analisis ini menghasilkan distribusi dan persentasi pada setiap variabel bebas. Analisis Bivariat, analisis ini dipakai untuk melihat hubungan antara masa kerja, penggunaan masker dan kebiasaan merokok. Uji statistic yang digunakan adalah uji chi

square dengan bantuan program komputer Statistical Program For Social Science (SPSS). Dasar pengambilan keputusan yang dipakai berdasarkan probabilitas. Nilai confinence atau tingkat kepercayaan = 95% dan significance interval atau tingkat signifikasi = 0,05. Jika probabilitas ˃0,05 maka Ho ditolak, ini berarti kedua variabel ada hubungan. Akan tetapi jika Ho diterima, ini berarti variabel tidak ada hubungan.

Analisis Univariat

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Penggunaan

Masker

Tabel 1. Distribusi Responden

Berdasarkan Masa Kerja

Masa Kerja

N

%

≤22,5 Tahun

18

50

>22,5 Tahun

18

50

Total

36

100

Peneliti menggunakan nilai median dari masa kerja yang didapat yaitu 22,5 tahun. Data yang di dapatkan untuk kategori ≤22,5 Tahun yaitu sebanyak 18 responden (50%), >22,5 Tahun yaitu sebanyak 18 responden (50%).

Berdasarkan kuesioner hasil menunjukan responden yang tidak pernah menggunakan masker sebanyak 17 orang (47%), pada kategori kadang – kadang menggunakan masker yaitu sebanyak 19 orang (53%) dan tidak didapatkan responden yang sering menggunakan masker.

Penggunaan

Masker

N

%

Tidak pernah

17

47

Kadang –

kadang

19

53

Total

36

100

(4)

4

Tabel 3.Distribusi Responden Berdasarkan

Kebiasaan Merokok

Kebiasaan

Merokok

N

%

Perokok

25

69

Bukan perokok

11

31

Total

36

100

Kebiasaan responden yang merokok lebih banyak dari responden yang tidak merokok yaitu responden yang merokok sebanyak 25 (69%) dan tidak merokok sebanyak 11 (31%). Hasil yang didapatkan sebanyak 4 orang dahulunya pernah merokok dan sudah di kategorikan tidak merokok karena sudah lama berhenti merokok, yaitu 2 responden sudah berhenti merokok selama 2 tahun, 1 responden sudah berhenti merokok selama 3 tahun dan 1 responden sudah berhenti merokok selama 7 tahun.

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Fungsi Paru

Fungsi Paru

N

%

Normal

24

67

Tidak normal

12

33

Total

36

100

Penelitian menggunakan spirometer ditemukan hasil 24 orang (67%) memiliki fungsi paru normal dan 12 orang (33%) memiliki fungsi paru tidak normal. Fungsi paru yang tidak normal terbagi atas 2 yaitu restriksi dan obstruksi. Sebanyak 12 responden mengalami gangguan fungsi paru restriksi, 9 responden mengalami restriksi ringan dan 3 responden mengalami restriksi sedang, untuk gangguan fungsi paru obstruksi, sebanyak 3 orang mengalami obtruksi ringan sedangkan terdapat 3 responden yang mengalami gangguan fungsi paru obtruksi maupun restriksi.

Analisis Bivariat

Tabel 5. Hubungan Masa Kerja dengan Fungsi Paru pada Petani Pengguna Pestisida di Perkebunan Wawo Matani Tomohon

Masa Kerja Fungsi Paru

Tidak Normal Normal Jumlah P

N % n % N %

>22,5 Tahun 5 14 13 36 18 100 0,480

≤22,5 Tahun 7 19 11 31 18 100

Hasil penelitian yang telah dianalisis menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan fungsi paru pada petani pengguna pestisida, dimana nilai probabilitasnya 0,480 yang menunjukkan bahwa p > 0,05. Masa kerja >22,5 tahun ditemukan 13 responden (36%) yang memiliki fungsi paru normal dan hanya 5 responden

(14%) yang memiliki fungsi paru tidak normal dan pada masa kerja <22,5 tahun terdapat 11 responden (31%) yang memiliki fungsi paru normal, terdapat 7 responden (19%) yang memiliki fungsi paru tidak normal.

djojosumarto (2008) gas beracun terhisap ditentukan oleh konsentrasi gas yang berada didalam ruangan maupun diudara.

(5)

5 Sehingga jika responden mencampur pada ruangan terbuka, gas beracun pestisida tidak terperangkap dalam ruangan sehingga dapat mengurangi konsentrasi gas pestisida yang terhirup, pada penelitian ini berdasarkan hasil wawancara didapatkan dari 36 responden sebanyak 26 responden mempunyai kebiasaan mencampur pestisida diruangan terbuka dan sebagian besar responden yaitu sebanyak 29 petani saat penyemprotan memperhatikan arah angin dan kecepatan angin, berdasarkan djojosumarto (2008) saat melakukan penyemprotan harus memperhatikan kecepatan angin ketika angin sedang sangat kencang tidak diperbolehkan untuk menyemprot dan

harus memperhatikan arah angin karena dengan menyeprot pestisida menentang arah angin pestisida bisa membalik dan mengenai diri sendiri. Jadi walaupun masa kerja petani berada pada kategori lama tapi masa kerja tidak berhubungan dengan fungsi paru karena petani sedikit terpapar dengan pestisida.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kandung (2013) yaitu tidak ada hubungan masa kerja dengan kondisi kapasitas fungsi paru, hal ini dapat dikarenakan riwayat responden yang dulu tidak terpapar langsung dengan sumber bahaya yang dapat menyebabkan gangguan fungsi paru.

Tabel 6. Hubungan Penggunaan Masker dengan Fungsi Paru pada Petani Pengguna Pestisida di Perkebunan Wawo Matani Tomohon

Penggunaan Masker

Fungsi Paru

Tidak normal Normal Jumlah P

n % n % N %

Tidak Pernah 4 24 13 76 17 100 0,238

Kadang - kadang 8 42 11 58 19 100

Hasil penelitian yang telah dianalisis menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara penggunaan masker dengan fungsi paru pada petani pengguna pestisida, dimana nilai probabilitasnya 0,429 yang menunjukkan bahwa p > 0,05. Sebanyak 13 orang (36%) tidak menggunakan masker tetapi paru – parunya ada dalam kategori normal dan hanya 4 orang (11%) yang mengalami gangguan fungsi paru. Responden yang kadang – kadang menggunakan masker sebanyak 11 orang (30%) mempunyai paru – paru normal dan 8 orang (23%) memiliki fungsi paru tidak normal. Dari hasil yang

diperoleh responden yang tidak menggunakan masker dengan fungsi paru normal adalah tertingggi yang berjumlah 13 orang (36%) dan responden yang kadang – kadang menggunakan masker dengan fungsi paru normal berjumlah 11 orang (30%). Hal ini di karenakan responden memperhatikan arah angin, pada saat menyemprot dan sebagian petani memiliki kondisi fisik yang baik dan tidak menyemprot pada saat sedang sakit, karena kondisi fisik seseorang juga berpengaruh terhisapnya pestisida, teori menurut djojosumarto (2008). Faktor lain yang dapat berpengaruh yaitu ukuran dari partikel,

(6)

6 menurut T sastrawijaya (2002) dalam himawan (2006) penentuan seberapa jauh penetrasi partikel ke dalam sistem pernapasan ditentukan oleh ukuran partikel.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suriani dkk

(2005) yaitu tidak ada hubungan antara penggunaan APD dengan gangguan fungsi paru p = 1,000, hasil analisis menunjukkan penggunaan APD bukan merupakan faktor resiko unutk terjadinya ganguan fungsi paru.

Tabel 7. Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Fungsi Paru pada Petani Pengguna Pestisida di Perkebunan Wawo Matani Tomohon

Kebiasaan Merokok

Fungsi Paru

Tidak normal Normal Jumlah

n

P

n % n % %

Perokok 8 22 17 47 25 100 1,000

Bukan Perokok 4 11 7 20 11 100

Hasil penelitian yang telah dianalisis menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dengan fungsi paru, dimana nilai probabilitasnya 1,000 yang menunjukkan bahwa p > 0,05. Responden yang memiliki kebiasaan merokok tetapi fungsi parunya normal yaitu sebanyak 17 orang (47%) dan responden yang memiliki kebiasaan merokok yang fungsi parunya tidak normal sebanyak 8 orang (22%). Responden yang bukan perokok yang fungsi parunya normal sebesar 7 orang (20%) dan responden yang bukan perokok yang fungsi parunya tidak normal sebanyak 4 orang (11%), dapat disimpulkan yang tertinggi di dapatkan pada responden yang memiliki kebiasaan merokok tapi fungsi parunya pada kategori normal yaitu sebanyak 17 orang (47%) sedangkan responden yang bukan perokok sebanyak 4 orang (11%) memiliki fungsi paru tidak normal.

Hasil penelitian ini tidak adanya hubungan antara kebiasaan merokok dengan

fungsi paru dikarenakan peneliti tidak mengetahui adanya aspek lain dari kebiasaan perokok misalnya penggunaan filter pada rokok yang dihisap dan dalamnya hisapan rokok. Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Putra, (2012) yaitu dari variabel kebiasaan merokok dengan nilai kapasitas vital paru ditemukan hasil dari uji korelasi rank spearman nilai signifikannya 0,259 yaitu > 0,05 dengan hasil tersebut disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan fungsi paru.

KESIMPULAN

1. Tidak terdapat hubungan antara masa kerja dengan fungsi paru pada petani pengguna pestisida di perkebunan Wawo Matani Tomohon.

2. Tidak terdapat hubungan antara penggunaan masker dengan fungsi patu pada petani pengguna pestisida di perkebunan Wawo Matani Tomohon.

(7)

7 3. Tidak terdapat hubungan antara kebiasaan

merokok dengan fungsi paru pada petani pengguna pestisida di perkebunan Wawo Matani Tomohon

SARAN

1. Peneliti selanjutnya menambahkan variabel lain yang belum diteliti dari penelitian ini. 2. Petani harus memperhatikan menggunakan

alat pelindung diri untuk melindungi tubuh dari adanya potensi bahaya dan petani yang perokok sebaiknya mengurangi dan menghentikan kebiasaan merokok karena dapat berpengaruh terhadap kesehatan paru – paru.

3. Perlu dilakukan penyuluhan kepada petani agar lebih mengetahui tentang bahaya yang dapat di timbulkan dari penggunaan pestisida dan tentang pentingnya pemakaian alat pelindung diri dan cara pemakaian alat pelindung diri.

DAFTAR PUSTAKA

Djojosumarto, P. 2008. Pestisida & Apilikasinya. Agromedia Pustaka. Jakarta

Fathurrahman, C. 2014. Faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru pada pekerja yang terpapar potassium permanganate dan phosphoric acid di industri garmen. Jurnal kesehatan masyarakat Vol. 2 No. 1 [Online] (diakses tanggal 28 juli 2017).

Himmawan, L.S, 2006. Pengaruh Pemakaian Alat Pelindung Pernapasan Terhadap

Kapasitas Fungsi Paru Petani Sayuran Pengguna Pestisida Semprot. Fakultas Ilmu Keolahragaan. Universitas Negeri Semarang.

Kandung, R, P, B, 2013. Hubungan Antara Karakteristik Pekerja dan Pemakaian Alat Pelindung Pernpasan (Masker) dengan fungsi paru Pada Pekerja Wanita Bagian Pengampelasan di Industri Mebel (X) Wonogiri. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol. 2 No. 1 [Online] (diakses tanggal 27 Juli 2017) Putra, D. P, 2012. Hubungan Usia, Lama

Kerja, dan Kebiasaan Merokok dengan Fungsi Paru pada Juru parker di Jalan Pandanaran Semarang. Jurnal kedokteran muhammaiyah Vo. 1 No. 3 Tahun 2012 (diakses 27 juli 2017)

Suriani M, Setiani, O, Nurjazuli, 2005. Analisis Faktor Resiko Paparan Debu Kayu Terhadap Gangguan Fungsi Paru Pada Pekerja Industri Pengolahan Kayu PT. Surya Sindoro Sumbing Wood Industri Wonosobo. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol. 4 No. 1 [Online] (diakses 27 juli 2017).

Suma’mur. 2013. Higine Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta; CV. Sagung Seto.

Zuraida. 2012. Faktor yang Berhubungan Dengan Tinkat Keracunan Pestisida Pada Petani di Desa Srimahi Tambun Utara Bekasi. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini sejalan dengan pendapat dari Powers (Tarigan, 1985: 19) yang mengemukakan bahwa salah satu faktor penunjang keberhasilan berbicara seseorang yaitu dengan

Bila Jusoh mengaku bahawa ia sangat berminat untuk memperisterikan Melor, tentulah dirasakan begitu keterlaluan dan bercanggah dengan sifatnya sebagai orang agama. Jusoh

Mikro , (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm.. memenuhi atau menyediakan segala kebutuhan penunjang di sekolah. Jadi pengelolaan ke-tata usahaan adalah proses interaksi antara

pelayanan maksimal, dengan berpedoman pada Tri Brata dan Catur Prasetya dan Komisi Kode Etik Profesi Polri sebagaimana tugas pokok kepolisian yaitu mengayomi

=aluasi yang diharapkan pada pasien dengan post operasi fraktur adalah ' =aluasi yang diharapkan pada pasien dengan post operasi fraktur adalah ' &amp;. yeri dapat berkurang

Lebih lanjut, Jawaher menjelaskan bahwa apabila semua bentuk kerjasama itu dan dilakukan secara intens maka diharapkan anak-anak tunagrahita mampu secara perlahan

Menyajikan dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan distribusi data, nilai rata-rata, median, modus dan sebaran data untuk mengambil kesimpulan membuat keputusan dan membuat

Hipotesis dari penelitian ini adalah pembuatan sistem temu kembali informasi (Information Retrieval) dengan cara menentukan objek layanan kesehatan mana yang lebih relevan