• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU PEGANGAN KULIAH PSIKOLOGI EKSPERIMEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BUKU PEGANGAN KULIAH PSIKOLOGI EKSPERIMEN"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh:

Susatyo Yuwono Wiwien Dinar Pratisti

BUKU PEGANGAN KULIAH PSIKOLOGI EKSPERIMEN

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

(2)

PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil ‘alamin.

Segala puji syukur kami haturkan kepada ALLOH SWT yang telah mengijinkan kami menyelesaikan Buku Pegangan Kuliah Psikologi Esperimen ini. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepaka Rasulullah SAW, para sahabatnya, dan para pengikut setianya, sampai akhir jaman.

Buku Pegangan Kuliah ini adalah media belajar yang dimaksudkan untuk memudahkan mahasiswa memahami metode penelitian eksperimen dalam bidang psikologi. Oleh karenanya, buku ini banyak berisi tentang teori dasar dan panduan teknis pelaksanaan penelitian eksperimen.

Buku ini bukanlah media belajar yang berdiri sendiri. Buku ini adalah kelengkapan dari Modul Panduan Praktikum MK Praktikum Psikologi Eksperimen yang lebih berisi tentang teknis pelaksanaan penelitian eksperimen.

Besar harapan kami, buku ini dapat membimbing mahasiswa untuk memahami psikologi eksperimen dengan baik. Lebih besar lagi harapan kami, semoga apa yang dilakukan oleh seluruh civitas akademika fakultas psikologi UMS ini, diridhoi oleh ALLOH SWT. Amin.

Surakarta, 1 Februari 2020

Penulis

(3)

Daftar Isi

Pengantar ... 2

Daftar Isi ... 3

Bab 1 . Sekilas Sejarah Penemuan Metode Eksperimen…... 4

Bab 2 . Sekilas Memahami Eksperimentasi dalam Ilmu Psikologi… ... 7

Bab 3 . Variabel dalam Eksperimentasi ………... 14

Bab 4 . Desain Eksperimen ……… 20

Bab 5 . Analisis Statistik Eksperimen ………..…………... 29

Bab 6 . Alat Indera………... 40

Bab 7 . Persepsi ………. 64

Daftar Pustaka ……… 73

(4)

Bab 1:

Sekilas Sejarah Penemuan Metode Eksperimen

Metode eksperimen telah berjasa dalam mengembangkan ilmu psikologi.

Dari 40 penelitian yang membawa perubahan besar dalam ilmu psikologi (Hock, 1999), 32 diantaranya menggunakan metode eksperimen (Dr. Magda B.Etsem, slide presentasi ‚Sejarah Ekperimen dalam Penelitian Psikologi, 2010). Adapun demikian, psikologi muncul secara gradual (Shaughnessy & Zeichmeister, 1990).

Berikut akan dipaparkan sekilas sejarah perkembangan psikologi eksperimen, sejak pra-Wund, masa Wundt, dan perkembangan saat ini.

Awalnya pengetahuan ditemukan melalui proses merenung. Saat itulah yang disebut dengan masa filsafat. Tokoh-tokoh yang terkenal masa itu adalah Plato (427-347), Aristoteles (384-322), dan Descartes (1596-1650). Ketiganya menggunakan akal dan perenungan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai fenomena alam sekitar. Diantara ketiganya, yang paling menonjol adalah aristoteles. Beliau bahkan dijuluki dengan father of all psychology.

Sumbangan pemikiran filosofis ketiganya adalah (Etsem, 2010); menurut Plato, belajar adalah proses refleksi internal untuk menemukan pengetahuan dalam diri kita. Aristoteles mengatakan, pengetahuan hanya didapatkan melalui pengalaman. Descartes berpendapat bahwa, ada dualisme dalam diri manusia (mind body dualism), yang pertama adalah gerak reflek, dan yang kedua adalah perilaku yang dikontrol oleh pikiran dan kehendak bebas.

(5)

Hasil perenungan para filosof tersebut kemudian memantik keingintahuan beberapa orang setelahnya. Salah seorang diantaranya adalah Galileo. Galileo tertarik dengan perenungan Aristoteles yang menganggap bahwa benda yang berat akan lebih cepat jatuhnya ke bumi, daripada benda yang lebih ringan (Solso, dkk., 1998). Hasil perenungan ini sekilas masuk akal, namun setelah diuji coba, berat atau ringannya sebuah benda tidak mempengaruhi kecepatan jatuh ke bumi.

Kedua benda jatuh dengan kecepatan yang sama. Pada tahap ini, manusia mulai meninggalkan metode filsafat, dan beralih pada usaha-usaha penelitian ilmiah, dimana salah satu ciri pentingnya adalah pengujian hipotesa (perenungan filosofis).

Psikologi sebagai sebuah ilmu ilmiah, dintandai dengan berdirinya laboratorium psikologi pertama di dunia. Laboratoriuum itu dibangun oleh Wilhelm Wundt pada tahun 1879, di Leipzig. Hergenhahn (2000) mengatakan bahwa sebenarnya Wundt telah melakukan kegiatan eksperimentasi jauh sebelum laboratoriumnya dibangun. Pada tahun 1862, Wundt menemukan fakta bahwa manusia membutuhkan waktu 1/10 detik untuk mengalihkan perhatian dari satu objek ke objek lainnya. Penelitian tahun 1862 inilah yang kemudian memunculkan istilah selective attention. Kerja Wundt dalam bidah persepsi ini kemudian dilanjutkan oleh murid-muridnya seperti Hermann Ebbingahus dan Oswald Kulpe. Semuanya tetap menggunakan metode eksperimentasi, walaupun mereka berbeda pendapat dalam beberapa hal dengan Wundt.

(6)

Di jaman modern, perkembangan pesat metode eksperimentasi terjadi pada tahun 1935, dengan tokohnya Ronald Fisher (Ghozali, 2008). Fisher inilah yang mengembangkan ide dasar Analysis of Variance (ANOVA). Fisher juga telah mengembangkan tabel ANOVA untuk dua treatment disain faktorial, dan merupakan cara yang mudah untuk menghitung. Hal itu dilakukan bahkan pada tahun 1923. Pada tahun 1924, Fisher memperkenalkan latin square design.

Perkebangan psikologi dalam beberapa dekade belakangan ini, sangat dipengaruhi oleh metode eksperimental. Dalam bukunya yang berjudul Forty studies that changed psychology, Hock (1999) menuliskan 40 penelitian yang

dianggap paling menginspirasi perkembangan psikologi saat ini. Etsem (2010) mengatakan, bahwa dari 40 penelitian tersebut, 32 penelitian menggunakan metode eksperimentasi. Artinya, metode eksperimen sangat berjasa dalam perkembangan psikologi modern saat ini.

(7)

Bab 2:

Sekilas Memahami Ekperimentasi dalam Ilmu Psikologi

Pengertian dan Karakteristik Penelitian Eksperimen

Psikologi eksperimen adalah salah satu metode (methode of study) dalam ilmu psikologi. Sebagai sebuah metode, psikologi eksperimen tidak lepas dari usaha menemukan secara lebih pasti, penyebab dari sebuah fenomena. Usaha memastikan penyebab dari sebuah fenomena inilah yang kemudian melahirkan teknik eksperimentasi (AP Psychology, 2006, hal 11).

Eksperimentasi sendiri adalah proses menemukan hal baru dari sebuah kondisi yang telah dimanipulasi sebelumnya (Myers, 1987). Paling tidak ada 3 karakteristik eksperimentasi menurut Azwar (2005):

1. Adanya kesetaraan kelompok sebelum perlakuan diberikan

2. Adanya kendali dan manipulasi penuh di fihak eksperimenter untuk mengubah variabel bebas

3. Dilakukan prosedur randomisasi terhadap subjek dan kelompok

Hal penting lainnya dalam eksperimentasi adalah objektifitas (Myers, 1987).

Hasil eksperimen harus bebas dari bias subjektif individu, dalam hal ini adalah eksperimenter. Oleh karenanya, penelitian psikologi eksperimen selalu menghasilkan sebuah pengukuran matematis.

(8)

Psikologi adalah salah satu ilmu yang mengembangkan dirinya dengan metode eksperimen. Titik tekan penelitian psikologi eksperimen adalah perilaku dan proses mental, sesuai dengan dinisinya (Davidoff, 1981). Kedua domain psikologis yang akan dieksperimentasi ini, secara umum dikelompokkan menjadi variable independen (X) dan variable dependen (Y). Variabel independen akan dioperasionalkan sebagai manipulasi, sedangkan variable dependen akan dioperasionalkan menjadi hasil yang diobservasi.

Secara sederhana, kelompok dalam penelitian eksperimen dibagi menjadi dua; kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang dikenai manipulasi, sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok yang tidak dikenai manipulasi. Penggunaan dua kelompo ini bertujuan untuk memastikan bahwa perubahan yang terjadi adalah benar-benar karena adanya manipulasi. Dengan demikian, dapat dipahami bersama bahwa tujuan eksperimentasi dalam ilmu psikologi adalah menyelidiki kemungkinan sebab- akibat dengan cara memanipulasi kelompok eksperimen, dan membandingkannya dengan kelompok kontrol yang tidak diberikan manipulasi (Suryabrata, 1992).

Validitas dalam Penelitian Eksperimen

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, inti dari penelitian eksperimen adalah memastikan hubungan causalantara variabel X dan variabel Y.

(9)

Untuk itulah diperlukan sebuah pendekatan untuk memastikan hal tersebut.

Pendekatan inilah yang biasa disebut validitas.

Kata validitas diambil dari kata validity dalam bahasa inggris. Validitas pada dasarnya adalah sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu penelitian dapat dikatakan valid jika alat ukur penelitian tersebut memberikan hasil pengukuran sesuai dengan tujuan penelitian. Penelitian yang mengahasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan penelitian, maka penelitian itu dikatakan tidak valid. Paling tidak, itulah yang dikatakan Azwar (2007), mengenai validitas pengukuran yang kemudian diadaptasi dalam tulisan ini menjadi validitas penelitian.

Campbell dan Stanley (1966) membagi validitas menjadi 2; validitas internal dan validitas eksternal. Cook dan Campbell (1979) mengartikan validitas internal sebagai keyakinan bahwa hubungan antar kedua variabel adalah benar- benar hubungan sebab-akibat (causal). Hubungan sebab-akibat yang dimaksud adalah benar-benar hasil dari sebuah manipulasi, dan jika tidak ada hubungan antar variabel tersebut, maka tidak akan ada pula sebab-akibat tersebut. Validitas eksternal adalah asumsi bahwa hubungan sebab-akibat dari sebuah pengukuran dapat digeneralisasikan pada subjek, setting, dan waktu yang berbeda.

Untuk memastikan hubungan sebab-akibat, dalam rangka menjaga validitas, maka ada beberapa ancama validitas yang harus dihindari. Ancaman- ancaman tersebut menurut Campbell dan Stanley (1966) adalah:

(10)

1. History

Faktor ini adalah kejadian khusus yang terjadi antara pengukuran pertaam dan kedua. Kejadian khusus ini bukanlah manipulasi dalam eksperimen, sehingga perubahan yang terjadi dapat menipu observasi peneliti. Peneliti mungkin mengira bahwa perubahan yang terjadi semata-mata karena manipulasi, padahal yang terjadi adalah adanya kejadian khusus yang terjadi pada subjek penelitian. Azwar (2005) mengatakan bahwa efek history ini akan sangat mengganggu jika hanya terjadi pada sebagian subjek saja.

2. Maturation

Faktor pengganggu ini adalah proses-proses perubahan yang terjadi pada diri subjek dalam masa tunggu dari satu tahap penelitian ke tahap yang lain. Kadang sebuah penelitian memerlukan waktu yang relatif lama, sehingga perubahan-perubahan dalam diri subjek pun terjadi. Perubahan- perubahan tersebut misalnya subjek menjadi lelah, bosan, lapar, dan bertambahnya usia (Azwar, 2005).

3. Testing

Faktor ini adalah efek pengukuran pertama (pre-test) terhadap skor pengukuran berikutnya (postest). Andaikata pre-test menjadi latihan bagi post-test, maka perubahan yang terjadi bukanlah semata-mata karena efek manipulasi (Azwar, 2005).

(11)

4. instrumentation

Perubahan alat ukur atau petugas yang mengukur skor, akan menghasilkan perubahan pada hasil pengukuran. Jika terjadi proses-proses pergantian tersebut, maka keakinan akan validitas sebuah penelitian akan diragukan.

5. statistical regression

Faktor pengganggu ini terjadi ketika peneliti dengan sengaja memilih sebagian subjek dengan skor yang ekstrim (kutub tinggi dan kutub rendah) untuk dihitung secara statistik. Jika hal ini dilakukan oleh seorang peneliti, maka pada dasarnya tidak lagi diperlukan manipulasi, karena secara statistik tentu akan terjadi perubahan.

6. Selection

Faktor penngganggu ini terjadi bilamana pemilihan subjek yang dikelompokkan dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol keadaannya tidak sama sejak awal. Sehingga tanpa diberi perlakuan pun, secara statistik akan terlihat perbedaannya.

7. experimental mortality

Jika beberapa subjek penelitian tidak dapat berpartisipasi dalam proses eksperimentasi, maka akan berpengaruh pada pengukuran. Apalagi jika batalnya partisipasi subjek penelitian tersebut hanya terjadi pada satu kelompok saja, maka tentunya akan terjadi perbedaan mean jika dilakukan

(12)

pengukuran. Perbedaan mean ini bukan semata-mata karena adanya manipulas, namun juga karena perbandingan jumlah subjek antar kelompok berbeda. Jika subjek relatif banyak, dan perbedaannya tidak bergitu berarti, maka faktor ini dapat diabaikan.

8. multiple factors interaction

Validitas internal akan terancam jika faktor-faktor penggangu yang telah disebutkan sebelumnya saling berinteraksi. Sebagai contoh, faktor history dan maturation terjadi sekaligus pada subjek penelitian. Keadaan ini tentunya lebih mengganggu validitas internal.

Faktor-faktor dari nomer 1-8 adalah faktor-faktor yang mengancam validitas internal sebuah penelitian eksperimen. Berikutnya adalah faktor-faktor yang

mengancam validitas eksternal sebuah penelitian eksperiemen:

9. reactive or interaction effect of testing

Ancaman ini terjadi ketika pre-test meningkatkan atau menurunkan sensitivitas atau respon subjek penelitian, sehingga hasil pengukuran tidak representatif untuk dikenakan pada subjek di luar penelitian.

(13)

10. Interaksi antara bias selection dan experimental variable

Azwar (2005) menjelaskan faktor ini terjadi ketika subjek yang dipilih adalah individu-individu yang unik, sehingga akan sangat sulit untuk menggeneralisasikan hasilnya.

11. Reactive effect of experimental arrangement

Generalisasi akan sulit dilakukan jika respon subjek penelitian saat proses eksperimentasi dianggap tidak akan sama dengan setting alamiah. Hal ini dapat terjadi jika subjek bereaksi tidak alamiah saat eksperientasi karena kehadiran peneliti menyebabkan motivasi subjek berubah, atau merasa curiga dengan proses eksperimentasi.

12. Multiple treatment interference

Beberapa perlakuan yang dikenakan pada subjek yang sama, akan membuat efek perlakuan sebelumnya terbawa pada perlakuan berikutnya.

Hal ini menyebabkan bahwa generalisasi hanya dapat dilakukan pada subjek yang ikut dalam penelitian tersebut, tidak pada subjek di luar itu.

(14)

V1 V2 V3

Bab 3:

Variabel dalam Ekperimentasi

Pembahasan variabel (pengertian, jenis-jenis variabel, operasionalisasi variabel) kali ini seluruhnya berdasarkan apa yang disampaikan oleh Azwar (2005), dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian.

Variabel adalah fenomena-fenomena (sosial-psikologis) yang memiliki variasi (lebih dari 1 ragam) secara kualitatif atau kuantitatif. Fenomena-fenomena itu dapat berupa atribut atau sifat yang melekat pada diri individu. Sebagai contoh, Jenis kelamin adalah variabel karena secara kuantitatif ia dapat bervariasi laki-laki dan perempuan. Usia siswa di kelas adalah variabel karena secara kuantitatif ia dapat bervariasi mulai dari, misalnya 7-12 tahun. Pretasi belajar adalah variabel karena secara kualitas ia dapat bervariasi, misal rendah, sedang, dan tinggi.

Pada kenyataannya, sebuah variabel tidak mungkin hanya dipengaruhi oleh 1 variabel saja. Ia sebenarnya dipengaruhi oleh banyak variabel. Oleh karenanya seorang peneliti perlu mengidentifikasi variabel mana yang akan diteliti (pilih sepasang atau beberapa pasang saja).

(15)

Ada 5 jenis variabel; Variabel dependen, variabel dependen, variabel kontrol, variabel moderator-kovariabel, dan variabel antara.

1. Variabel Dependen

Adalah variabel yang diukur untuk mengetahui besar efek atau pengaruh dari variabel lain. Besar efek tersebut diamati dari ada-tidaknya, timbul- hilangnya, membesar-mengecilnya, atau berubahnya variasi yang tampak sebagai akibat berubahnya variabel lain. Jika ada penelitian yang berjudul ‚Pengaruh Film Komedi terhadap Kecerdasan‛, maka yang disebut variabel dependen adalah

‚Kecerdasan‛.

2. Variabel Independen

Adalah variabel yang variasinya mempengaruhi variabel lain. Variabel independen sengaja dimanipulasi oleh peneliti agar efeknya terhadap variabel lain dapat diamati atau diukur. Jika ada penelitian yang berjudul ‚Pengaruh Film Komedi terhadap Kecerdasan‛, maka yang disebut dengan variabel independen adalah ‚Film Komedi‛.

3. Variabel Kontrol

Adalah variabel independen yang efeknya terhadap variabel dependen dikendalikan oleh peneliti, sehingga variasinya terkendali (dibuat minimal atau hilang sama sekali). Jika ada penelitian hipotesisnya adalah, ‚ada pengaruh omega 3 terhadap kecerdasan anak-anak usia 6-10 tahun‛, maka variabel kontrolnya adalah ‚usia‛. Hipotesis tersebut menunjukkan bahwa peneliti

(16)

memiliki alasan kuat berdasarkan literatur yang ada, untuk mengatakan bahwa variabel usia berpengaruh terhadap kecerdasan. Oleh karenanya variabel usia ini dikontrol, atau dibatasi hanya pada usia tertentu saja (6-10 tahun).

4. Variabel Moderator & Kovariabel

Variabel moderator adalah variabel bebas bukan utama yang juga diamati oleh peneliti untuk menentukan sejauhmanakah efeknya ikut mempengaruhi pengaruh variabel bebas utama dan variabel tergantung. Variabel berupa variabel kategorikal. Contoh, sebuah penelitian yang hipotesisnya berbunyi, ‚ada pengaruh pelatihan kewirausahaan terhadap motivasi berwirausaha pada laki- laki, namun tidak pada perempuan‛. ‚Jenis kelamin‛ adalah variabel moderator dalam hipotesis tersebut.

Kovariabel pengertiannya sama dengan variabel moderator, hanya saja berbentuk variabel kontinyu. Contoh, sebuah penelitian yang hipotesisnya ‚ada pengaruh metode belajar terhadap hasil tes matematika‛. Peneliti menyadari bahwa hasil tes matematika tidak hanya tergantung pada metode belajar, namun juga tergantung tingkat kecerdasan. Oleh karenanya, peneliti mengikutsertakan variabel kecerdasan dalam analisisnya, misalkan dengan menyertakan hasil tes IQ subjek. Dalam hal ini, IQ adalah kovariabel.

5. Variabel Antara

Adalah suatu faktor yang secara teoretik berpengaruh terhadap fenomena yang diamati akantetapi variabel itu sendiri tidak dapat dilihat, diukur, maupun

(17)

dimanipulasi sehingga efeknya terhadap fenomena yang bersangkutan harus disimpulkan dari efek variabel bebas dan variabel moderator (Tuckman, 1978, dalam Azwar, 2005).

Contoh, misalkan ada penelitian yang hipotesisnya adalah ‚Ada pengaruh Status Sosial Ekonomi (SSE) terhadap prestasi belajar‛. Berdasarkan literatur yang dibacanya, peneliti memahami bahwa SSE mempengaruhi motivasi belajar, dan motivasi belajar inilah yang kemudian diteoretisasikan sebagai variabel yang mempengaruhi prestasi belajar.

Operasionalisasi Variabel

Variabel-variabel penelitian pada dasarnya adalah sebuah atribut yang abstrak. Dalam penelitian eksperimen, output-nya adalah angka-angka hasil pengukuran. Pengukuran hanya dapat dilakukan pada atribut-atribut yang jelas dan tegas. Oleh karena itulah, perlu adanya operasionalisasi variabel-variabel yang abstrak tersebut.

Operasionalisasi variabel adalah proses merumuskan variabel-variabel berdasarkan karakteristik-karakteristik variabel-variabel tersebut yang dapat diamati. Operasionalisasi variabel adalah proses unik, dimana penelitilah yang menentukan karakteristik-karakteristik yang dapat diamati tersebut. Ada

SSE Motivasi belajar

(Variabel Antara) Prestasi belajar

(18)

beberapa cara merumuskan definisi operasional sebuah variabel (Tuckman, 1978 dalam Azwar, 2005):

1. Definisi operasional dapat dirumuskan berdasarkan proses apa yang harus dilakukan agar variabel yang didefinisikan terjadi. Ntoh, variabel ‚lapar‛

didefinisikan secara operasional sebagai keadaan bilamana subjek tidak diberi makan selama 10 jam.

2. Definsi operasional dibuat berdasarkan bagaimana cara kerja variabel yang bersangkutan, yaitu apa yang menjadi sifat dinamiknya. Sifat dinamik manusia

ditunjukkan oleh perilakunya, oleh karenanya operasionalisasi dengan cara ini menggambarkan tipe manusia berdasarkan perilaku nyata dan dapat diamati yang berkaitan dengan dengan tipe atau keadaan orang yang bersangkuta.

Contoh, variabel ‚cerdas‛ didefinisikan secara operasional dengan mampu menjawab lebih dari 75% soal tes kecerdasan umum.

3. Definisi operasioanl dibuat berdasarkan kriteria pengukuran yag diterapkan variabel yang didefinisikan. Dalam hal ini, angka atau skor pada alat ukur

dianggap representasi dari konsep mengenai variabel yang diukur. Contoh, variabel ‚kecerdasan‛ didefinsikan secara operasional sebagai skor tes SPM.

Kondisi Variabel dalam Eksperimen

Seperti yang telah diungkap sebelumnya, tujuan penelitian eksperimen adalah untuk melihat hubungan kausal antara variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen biasa dipahami dengan manipulasi dan variabel

(19)

Variabel Independen

Variabel dependen

Kondisi Eksperimen

Kondisi Kontrol

dependen dipahami sebagai fenomena yang dapat diukur. Penelitian eksperimen juga mensyaratkan adanya kelompok pembanding (kelompok kontrol), agar peneliti dapat melihat perbedaan perubahan akibat manipulasi tersebut.

Ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan dalam penelitian eksperimen sederhana. Kondisi tersebut digambarkan dalam skema sederhana sebagai berikut: Contoh, penelitian yang berjudul ‚Pengaruh film komedi terhadap kecerdasan‛ (Ghozali, 2008), hipotesisnya ‚ada pengaruh film komedi terhadap kecerdasan‛:

Nonton Film Lucu

Nonton Film Netral

Pertisipan menyelesaikan 10 tes logika. Jumlah jawaban yang benar dari setiap partisipan dihitung

(20)

Bab 4:

Desain Eksperimen

Campbell dan Stanley (1966) membagi disain eksperimen menjadi 3 kelompok; pre-eksperimental, eksperimental sebenarnya (true experimental design), dan eksperimental semu (quasi experimental design). Pada kesempatan kali ini, hanya akan disampaikan disain pre-eksperimental dan eskperimental sebenarnya saja. Kedua kelompok disain eksperiemen tersebut adalah yang paling lazim disampaikan pada mahasiswa strata 1 (S1). Sedangkan disain eksperiemntal semu akan disaimpaikan pada mahasiswa strata 2 (S2).

Disain Pre-Eksperimental

Penelitian eksperimen dianggap sebagai penelitian yang memberikan informasi paling mantap jika dilihat dari sisi validitas internal maupun eksternal.

Oleh karena itu, bobot penelitian sering ditentukan dari keduanya. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua penelitian benar-benar memenuhi syarat eksperimentasi yang sebenarnya, sehingga belum dapat dikatakan penelitian eksperimen yang sebenarnya. Penelitian seperti itu sering disebut sebagai penelitian pre-eksperimental (Suryabrata, 1992).

Ada 3 bentuk disain peneltian pre-eksperiemntal (Campbell & Stanley, 1966):

(21)

1. The one shot case study

Disain ini dipakai untuk menguji 1 kelompok dengan satu perlakuan (X) saja, kemudian dilakukan pengkuran (Y). Peneliti yang mengggunkan disian ini kemudia menganggap bahwa hasil pengukuruan adalah karena perlakuan yang diberikan.

Adapun disainnya sebagai berikut:

X - Y

Disain seperti ini tidak memiliki nilai keilmiahan sama sekali, karena peneliti tidak ada kontrol yang dapat dijadikan argumen oleh peneliti bahwa ada aperubahan yang terjadi dalam pengukurannya (Campbell & Stanley, 1966).

Adapun kekurangan dan kelebihan rancangan tersebut adalah sebagai berikut (Suryabrata, 1992):

Kelemahan:

a) Tidak adanya kontrol dan tidak anadanya validitas internal. Sifatnya yang cepat dan mudah membuat rancangan ini sering menyesatkan dalam kesimpulannya.

b) Tidak ada dasar komparasinya

c) Tidak adanya kehati-hatian dalam pengumpulan data, sehingga lebih terkesan impresionik, implisit, dan intuitif.

(22)

d) Usaha menggunakan tes-tes terbaku sebagai ganti variabel kontrol tidak dapat banyak menolong, karena variabel-variabel lain yang juga menjadi sumber perbedaan yang timbul cukup banyak.

Keuntungan:

Metode ini mungkin berguna untuk menjajagi masalah-masalah yang dapat diteliti, atau untuk mengembangkan gagasan-gagasan atau alat-alat tertentu, misalnya dalam action research. Rancangan ini tidak dapat mengantarkan kita pada sebuah kesimpulan yang dapat dipertahankan secara ilmiah, karena ada kemungkinan peneliti hanya menggunakan bukti-bukti impresionisme semata untuk dijadikan dasar pijakan.

2. The one group pretest-posttest

Disain ini adalah disain yang paling sering digunakan oleh beberapa peneliti. Disain ini lebih baik daripada disain yang pertama, namun tetap saja banyak sekali ancaman yang dapat mengganggu kesimpulan penelitian.

Y1 - X - Y2

Peneliti yang menggunakan disain ini akan membandingkan perubahan hasil pretest (Y1) dengan hasil postest (Y2) , akibat perlakuan (X).

Kelemahan:

a) Tidak ada jaminan bahwa X adalah satu-satunya faktor --- atau faktor utama yang menyebabkan perubahan Y1-Y2.

(23)

b) Selama perlakuan dilakukan (waktu antara Y1 – Y2), Subjek penelitian dapat terancam faktor history. Munkin saja ada hal-hal yang terjadi pada subjek, apalagi jika rentan waktu antar Y1 dan Y2 relatif lama (misalnya 2 hari).

c) Diberikannya 2 kali pengukuruan, dapat menjadi faktor maturation. Subjek dapat saj amenjadi lebih dewasa, lelah, menurun motivasinya, atau bahkan meningkat motivasinya.

d) Pengalaman terhadap Y1 dapat mengubah motivasi dan sikap subjek. Inilah yang disebut faktor testing.

e) Faktor instrumentation juga dapat mengnggu. Hal ini terjadi jika model Y1 dan Y2 berbeda, sehingga perubahan yang terjadi dapat juga dipengaruhi oleh perubahan metode, bukan karena perlakuakn semata.

f) Hal berikutnya adalah statistical regression. Hal yang tidak dapat dihindari dalam disain ini apabila kelompok-kelompok ekstrim yang dibandingkan dalam Y1 dan Y2.

g) Adanya faktor selection bias and mortality, yaitu apabila subjek yang sama tidak mengikuti Y1 dan Y2. Perbedaan yang ada mungkin disebabkan oleh sifat-sifat yang tak terkontrol yang berkaitan dengan perbedaan itu.

Keuntungan:

Disain ini memungkinakan perbandingan antara Y1 dan Y2 berasal dari subjek yang sama, sehingga memungkinkan adanya kontrol terhadap selection dan mortality.

(24)

3. Static group comparison

Disian ini membandingkan satu kelompok yang diberi perlakuan (X) dengan satu kelompok yang tidak diberi perlakuan. Tujuannya adalah mengukur pengaruh X terhadap subjek.

X - Y1 Y2

Kekurangan:

Kekurangan yang paling menonjol pada disain ini adalah masalah selection. Peneliti tidak dapat memastikan bahwa kedua kelompok memulai

penelitian dengan keadaan yang sama, sehingga perbedaan antar kedua kelompok mungkin juga dipengaruhi oleh kondisi awal kedua kelompok yang memang sudah berbeda.

Kelebihan:

a) Disain ini dapat mengontrol beberapa faktor pengganggu seperti history, maturation, testing, dan instrumentation. Keempatnya dapat dikontrol dengan

baik karena masing-masing kelompok hanya mendapatkan 1 kali perlakuan.

b) Rancangan ini berguna apabila pretest tidak dapat dilakukan, misalnya karena terlalu mahal; juga akan sangat berguna kalau anonimity perlu dipertahankan, atau kalau pretest berinteraksi dengan treatment variable X.

(25)

Disain Eksperimental Sebenarnya (true experimental design)

Ada 3 bentuk disain eksperimental sebenarnya; the pretest-postest control group design, solomon four group design, dan posttest only control group design.

Ketiganya sangat direkomendasikan untuk digunakan dalam penelitian eksperiemen. Alasannya adalah, disain ini relatif tidak mengalami masalah pada validitas internalnya. Untuk validitas eksternal, disain ini memiliki kemungkinan kelemahan, namun dapat juga dikontrol, sehingga tidak mengalami masalah pada validitas eksternal (Campbell & Stanley, 1966).

4. The pretest-postest control group design

Disain ini terdiri dari dua kelompok (eksperimen dan kontrol).

Keduanya dikelompokkan secara acak (random assignment) (R) untuk kemudian diukur 2 kali, pretest dan posttest (Y1 dan Y2). Perlakuan (X) hanya diberikan pada kelompok eksperimen saja.

R Y1 - X - Y2 R Y3 - X - Y4

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar nantinya dapat diantisipasi semaksimal mungkin. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam disain ini adalah:

a) Interaksi antara Y dan X. Rancangan ini tidak dapat mengontrol kemungkinan itu. Misalnya, pretest yang dilakukan malah membuat subjek menerka-nerka perlakuan yang akan diberikan, sehingga ada persiapan sebelum perlakuaan. Sehingga subjek merespon dengan cara yang berbeda.

(26)

Sedikit banyak, hal ini menggenggu validitas eksternal, karena perilaku subjek sudah tidak lagi sesuai dengan asumsi populasi natural-nya.

b) Interaksi antara selection dan X. Dapat juga terjadi, misalnya subjek penelitian secara sukarela datang dari kelompok mahasiswa perguruan tinggi. Faktor tersebut kemungkinan akan mempengaruhi generalisasi pada populasi yang lebih umum.

c) Interaksi faktor lain, misalnya faktor history dan X. Andaikata penelitian dilakuakn pada masa bencana alam, maka subjek akan sulit digeneralisasi karena subjek penelitian tidak dalam keadaan normal.

d) Reactive arrangement. Apabila subjek penelitian bereaksi berbeda ketika mengetahui bahwa mereka sedang berada dalam sebuah eksperimen.

Keadaan tersebut membuat generalisasi tidak dapat dilakukan pada populasi umum karena perilaku subjek sudah tidak lagi sesuai dengan asumsi perilaku normal suatu populasi.

5. Solomon four group design

Solomon four group design ditemukan oleh Solomon (1949) untuk

mengatasi problematika generalisasi, terutama masalah interaksi antara testing dan X. Adapun disain eksperimennya adalah sebagai berikut:

R Y1 - X - Y2 R Y3 Y4 R X - Y5

R Y6

(27)

Rancangan Solomon Four Group Design (SFGD) dapat mengatasi problematika generalisasi pada rancangan pretest-posttest control group design karena rancangan ini menambahkan dua unpretest group. Unpretest group pada baris ketiga adalah kontrol untuk kelompok baris pertama yang dimungkinkan mengalami interaksi testing dan X. Unpretest pada baris keempat adalah kontrol kelompok baris kedua, yang dimungkinkan terkena efek history dan maturation.

6. The posttest only control group design

Disain ini seperti disain pada baris ketiga dan keempat pada disain solomon four group design. Disain ini adalah jawaban sederhana untuk

permasalahan selection, bahwa prosedur random assignment sudah cukup untuk memastikan bahwa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berada dalam keadaan yang sama sebelum dilakukan eksperimentasi.

Adapun disain eksperimennya adalah sebagai berikut:

R X - Y1 R Y2

Bagaimanapun juga, kemungkinan gangguan validitas internal dalam disain ini dapat terjadi. Faktor interaksi selection dan X mungkin terjadi andaikata pemilihan subjek berasal dari kelompok tertentu (misalnya mahasiswa), padahal maksud generalisasinya pada populasi yang lebih besar daripada mahasiswa. Perubahan yang terjadi akibat perlakuan tentunya tidak dapat digeneralisasikan, karena perubahan yang terjadi hanya mewakili populasi kecil subjek penelitian (mahasiswa saja).

(28)

Faktor reactive arrangement dapat juga terjadi. Misalnya subjek penelitian sadar bahwa dirinya sedang dieksperimentasi, dan beritikad unuk merespon dengan cara yang berbeda. Akibatnya, hasil eksperimen tidak dapat digeneralisasi pada populasi, karena perilaku subjek penelitian sudah tidak mewakili perilaku natural populasinya.

(29)

Bab 5:

Analisa Statistik Eksperimen

Analisa statistik yang dimaksud adalah membaca hasil SPSS dari sebuah eksperimentasi. Hasil analisis yang akan dibaca disesuaikan dengan keperluan praktikum mahasiswa Fakultas Psikologi UMS. Oleh karenanya, analisis SPSS yang akan ditampilkan hanya terbatas pada hasil-hasil dari rancangan pretest- posttest only design dan posttest-only control group design. Untuk analisis statistiknya,

akan dibahas model non-parametrik dan parametrik.

Disain eksperimen pretest-posttest only adalah sebagai berikut (Campbell &

Stanley, 1966):

Y1 - X - Y2

Y1 adalah pretest, dan Y2 adalah posttest. X adalah perlakuan yang diberikan kepada subjek penelitian.

Disain eksperimen posttest only control group design adalah sebagai berikut (Campbell & Stanley, 1966):

R X - Y1

R Y2

R adalah random assignment (pengelompokan secara acak). X adalah perlakuan, dan Y adalah observasi (pengukuran).

Untuk mempermudah pembahasan, kita gunakan saja judul penelitian yang sudah dijelaskan sebelumnya, “Pengaruh film drama terhadap altruisme”,

(30)

dengan hipotesis “ada pengaruh film drama terhadap meningkatnya altruisme”.

Misalkan data skala altruisme dengan data sebagai berikut:

1. Pre-test Post-test 2. Kontrol-Eksperimen Group

Subjek Altruisme Pre Altruisme Post Subjek Altruisme Kontrol Subjek Altruisme Eksp

1 31 33 1 31 29 33

2 29 34 2 29 30 34

3 30 33 3 30 31 33

4 29 34 4 29 32 34

5 31 36 5 31 33 36

6 31 35 6 31 34 35

7 33 36 7 33 35 36

8 32 36 8 32 36 36

9 35 35 9 35 37 35

10 35 36 10 35 38 36

11 34 37 11 34 39 37

12 34 37 12 34 40 37

13 34 36 13 34 41 36

14 31 36 14 31 42 36

15 31 38 15 31 43 38

16 33 37 16 33 44 37

17 33 37 17 33 45 37

18 33 38 18 33 46 38

19 32 38 19 32 47 38

20 32 37 20 32 48 37

21 33 39 21 33 49 39

22 32 35 22 32 50 35

23 32 35 23 32 51 35

24 32 35 24 32 52 35

25 30 38 25 30 53 38

26 32 34 26 32 54 34

27 30 34 27 30 55 34

28 32 37 28 32 56 37

Analisis Statistik Parametrik

Analisis Parametrik Untuk pretest-posttest only design

Penggunaan statistik parametrik harus didahului dengan pengujian asumsi normalitas dan homogenitas data. Untuk itu dilakukan proses pendahuluan dengan melalui program EXPLORE dalam menu ANALYZE  DESCRIPTIVE STATISTICS.

Proses input data dan variabel sebagaimana berikut :

(31)

Menghasilkan tampilan data sebagai berikut :

Kemudian dilakukan proses ANALYZE  DESCRIPTIVE STATISTICS  EXPLORE sebagai berikut :

(32)

Kemudian memindahkan variabel tergantung ke Dependent List dan kelompok ke Factor List, dilanjutkan dengan mengatur menu Plots pada isi sebagaimana gambar di bawah:

(33)

Kemudian terakhir melakukan proses eksekusi program dengan meng-klik OK pada kotak EXPLORE sehingga muncul viewer berikut :

Data viewer di atas menunjukkan nilai signifkansi pada normality maupun homogeneity berada di atas p > 0.05, sehingga disimpulkan data sebaran normal dan homogen.

Setelah dipastikan data normal dan homogeny, maka dilanjutkan dengan analisis dengan menggunakan PAIRED SAMPLE T TEST. Sebelum menjalankan program

(34)

ini, kita tulis ulang tabulasi data hasil Pre-test dan Post-test dalam 2 kolom berdampingan. Tampilan sebagai berikut :

Data view sebagai berikut :

Kemudian kita masuk ke ANALYZE  COMPARE MEANS  PAIRED SAMPLE T TEST, sebagaimana tampilan berikut :

(35)

Tampilan setelah masuk di PAIRED SAMPLE T TEST sebagai berikut :

Kemudian kita pindahkan ALTRUISMEPRE ke Variable 1 dan ALTRUISMEPOST ke Variable 2, sebagaimana gambar berikut :

(36)

Kemudian di-klik OK pada kotak Paired Sample T Test dan akan keluar tampilan viewer sebagai berikut :

Data di atas menunjukkan perbandingan mean Pre : Post adalah 32.00 : 35.93, dengan nilai signifikansi p ≤ 0.000.

(37)

Analisis Parametrik Untuk randomized control group only design

Setelah melalui proses pengujian asumsi normalitas dan homogenitas (sebagaimana pada bagian sebelumnya), maka diperoleh kepastian bahwa data kita normal dan homogeny, maka dilanjutkan dengan melakukan analisis dengan menggunakan independent sample test.

Setelah input data kemudian kita lakukan penyesuaian di variabel view menjadi sebagai berikut:

Sehingga tampilan di data view menjadi sebagai berikut :

(38)

Kemudian kita lanjutkan dengan pengujian asumsi normalitas dan homogenitas sebagaimana prosedur di bagian sebelumnya, melalui menu ANALYZE  DESCRIPTIVE STATISTICS  EXPLORE

(39)

Hasil di atas menunjukkan data normal dan homogeny, sehingga bisa dilanjutkan dengan analisis dengan Independent Sample Test.

Hasil menunjukkan sebagai berikut :

(40)

Dari hasil dua analisis di atas menunjukkan adanya perbedaan yang sangat signifikan dari kondisi kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen dengan perbandingan mean yaitu 32.00 : 35.93.

(41)

Analisis Statistik Non Parametrik

Analisis Non Parametrik Untuk pretest-posttest only design

Hipotesis ‘ada pengaruh film komedi terhadap peningkatan kecerdasan’, berikut adalah data tes kecerdasan 20 orang subjek:

Analisis Non Parametrik digunakan apabila data yang diperoleh tidak memenuhi asumsi normalitas dan homogenitas. Subjek yang berjumlah sedikit umumnya memiliki kemungkinan data tidak normal atau tidak homogeny. Namun untuk kepastiannya, sebaiknya tetap dilakukan uji asumsi.

Analisis non-parametrik untuk desain pre-test post-test yaitu analisis Wilcoxon Signed Rank Test. Langkah pertama adalah dengan menekan analyze, non-parametric tests, dan 2 related samples, sehingga tampilan menjadi seperti berikut :

(42)

Maka akan didapatkan hasil seperti berikut:

Cara membaca hasil SPSS:

Untuk mengetahui apakah ada pengaruh film komedi terhadap kecerdasan, maka lihatlah tabel Test Statisticsb. Perhatikan, Asymp. Sig. (2-tailed) perhitungan tersebut adalah 0,000, artinya p<0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh film komedi terhadap kecerdasan.

(43)

Untuk menjadi perhatian, karena hipotesisnya ber-arah, maka perlu ditelisik lebih lanjut, apakah pengaruh film komedi itu meningkatkan kecerdasan atau menurunkan. Guna menjawabnya, maka perhatikanlah tabel Ranks.

Perhatikan kolom Mean Rank. Ada dua angka di sana; 3,00 dan 10,89.

Perhatikanlah angka yang lebih besar (10,89). Angka tersebut adalah positive ranks dengan N=19b (19 pangkat b). Lihatlah keterangan untuk huruf ‚b‛ di bawah tabel ranks. ‚b‛ adalah postes>pretes (hasil postes lebih besar daripada hasil pretes). Ini

menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi adalah sebuah peningkatan,atau dengan kata lain pengaruh film komedi itu meningkatkan kecerdasa. Dengan demikian, hipotesis diterima.

Analisis Non Parametrik Untuk randomized control group only design

Berikut adalah data tes kecerdasan 20 orang subjek:

(44)

Untuk mempermudah langka-langkah selanjutnya, angka 1.00 dan 2.00 pada kolom kelompok diubah terlebih dahulu menjadi kelompok kontrol (1.00) dan kelompok eksperimen (2.00). Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Klik ‚Variable View‛ pada pojok kiri bawah jendela SPSS

2. Klik kolom ‚Value‛, baris kedua (baris ‚kecerdasan‛), maka akan muncul

‚Value Label‛.

3. Tuliskan angka 1 (satu) pada “value” dan kata ‚kontrol‛ pada “label”.

Langkah ini untuk menandai angka 1 sebagai kelompok kontrol.

4. Lakukan hal yang sama untuk menandai angka 2 sebagai kelompok eksperimen.

Langkah pertama untuk menganalisis data tersebut adalah dengan menekan analyze, non-parametric tests, dan 2 independent samples.

(45)

Maka akan didapatkan hasil seperti ini:

Untuk mengetahui apakah ada pengaruh film komedi terhadap kecerdasan, maka perhatikan tabel ‚ Test Statisticb ‛. Asym. Sig. (2-tailed) nya adalah 0,000 (p<0,05), ini menunjukkan bahwa ada pengaruh film komedi terhadap kecerdasan.

(catatan: karena hipotesis dalam contoh ini adalah hipotesis berarah, maka Asym.

Sig. (2-tailed) harus dibagi 2. Pada kasus ini tidak perlu dibagi 2 karena hasilnya

0,000. Jika dibagi 2 hasilnya tetap 0,000).

Untuk mengetahui perubahan kecerdasan yang terjadi meningkat atau menurun, maka perhatikanlah tabel ‚Ranks‛. Nilai ‚Mean Rank‛ kelompok

(46)

eksperimen (15,50) lebih besar daripada kelompok kontrol (5,50). Ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kecerdasan setelah menonton film komedi. Dengan demikian hipotesis diterima.

(47)

Bab 6:

Alat Indera

Alat indera adalah pencerap stimulasi yang ada pada diri manusia.

Manusia memiliki 5 indera; mata, hidung, telinga, kulit, dan lidah. Dimulai dari indera inilah, manusia mengenal dunianya. Dumilai dari indera ini juga manusia merespon lingkungannya. Indera adalah awal dari persepsi, dan sekaligus menegaskan bahwa indera adalah awal dari perilaku, karena perilaku dimulai dari persepsi.

1. Indera Penglihatan: Mata

Mata adalah organon visus yang berfungsi menerima rangsang cahaya dan menghantarkannya ke otak. Bagian yang bertanggung jawab atas penangkapan cahaya dan sangat peka terhadap cahaya disebut retina. Retina mengandung sel-

(48)

sel conus yang berfungsi untuk penglihatan warna, dan sel bacillus yang berfungsi untuk penglihatan dalam gelap (Guyton & Hall, 1996). Conus terdapat dalam fovea centralis, sedangkan bacillus terdapat pada bagian pinggir dari fovea centralis

(Ronodikoro, 1990).

Pada orang normal terdapat 3 reseptor conus yaitu reseptor untuk warna merah, hijau dan biru. Dengan tiga reseptor ini orang dapat membedakan ratusan warna. Bila sekelompok reseptor conus warna hilang dari mata, orang tersebut tidak akan dapat membedakan beberapa warna dari warna lainnya (Guyton &

Hall, 1996).

Mata manusia dilengkapi dengan sel kerucut dan sel batang. Sel kerucut dan sel batang berfungsi sebagai fotoreseptor yang menerima rangsang berupa cahaya. Bila sel batang dan sel kerucut terangsang akan ditransmisikan sinyal melalui rangkaian sel saraf dalam retina sendiri dan akhirnya ke dalam serat saraf optik dan cortexciribri, tempat dimana ia menghasilkan sensasi penglihatan (Ganong, 1992).

(49)

2. Indera Pendengaran: Telinga

Telinga manusia pada dasarnya merupakan alat indra yang mempunyai fungsi:

1. Menangkap getaran suara informatif dari lingkungan

2. Mengetahui atau menentukan posisi kita dalam lingkungan

Oleh karena itu telinga sering disebut organon stato acusticus atau organon vestibularis (alat keseimbangan dan alat pendengaran). Secara anatomis, telinga

dibedakan atas 3 bagian (Guyton & Hall, 1996):

1. Auris Eksterna

a. Auricula (daun telinga), berfungsi untuk menerima getaran

b. Mectus Agustinus Eksterna, berfungsi untuk meneruskan getaran ke membran tymphani

c. Membran Tymphani (selaput gendang), pembatas telinga luar dan tengah

2. Auris Media

a. Cavum Tymphani

Malleus (martil)

Incus (landasan)

Stapes b. Pharinx c. Tuba Auditiva

(50)

3. Auris Interna

a. Labirin Asseus, di dalamnya terdapat:

Vesribulum

Cochlea

Canalis Semicularis

b. Labirin Membranacause, di dalamnya terdapat:

Ductus Vestibulum

Ductus Semicularis

(51)

Dalam pendengaran yang terpenting adalah sensasi pendengaran yang diterima seseorang, lalu diintegrasikan ke dalam kode impuls saraf yang kemudian diteruskan ke pusat saraf. Kesan pendengaran dapat didasarkan pada:

1. Kualitas suara (frekuensi) 2. Kuantitas suara (amplitudo)

Untuk sampai ke telinga, getaran memerlukan penghantar, yaitu (Ronodikoro, 1990):

1. Transmisi udara (hawa)

Jalannya suara melalui transmisi udara adalah sebagai berikut:

a. Sumber suara

b. Menuju aricula kemudian ke mecius, incus, dan stapes c. Menggetarkan membran tymphani

d. Menggetarkan berturut-turut malleus, incus, dan tymphani e. Menggetarkan perylimphe

f. Getaran perylimphe merambat ke perylimphe di scala tymphani karena adanya helioterma. Getran ini terjaga kelangsungannya karena adanya membran tymphani secundaria pada fenestra retundra yang selalu ikut bergetar.

g. Menggetarkan membrana basalis h. Merangsang sel rambut

(52)

i. Rangsang ini kemudian dibawa ke otak oleh nervous cochlearis. Di sini kita dapat mendengar suara.

2. Transmisi Tulang

Jalannya getaran suara melalui transmisi tulang adalah sebagai berikut:

a. Tulang digetarkan oleh sumber suara

b. Menggerakkan perylymphe yang ada di dalam scala vestibuli

c. Getaran yang merambat ke perilymphe yang ada di dalam scala timphany dan kesinambungan getarannya terjaga karena membrana tymphani d. Menggerakkan membrana basilaris

e. Rangsang dibawa ke otak (pusat pendengaran) oleh nervous cochlearis, di sini kita mulai mendengar

Kepekaan terbesar dari alat pendengaran terhadap suara yang memiliki  2000 getaran per detik. Kecepatan hantaran bunyi oleh hawa adalah 331,3 m/det.

3. Indera Pembau: Hidung

Reseptor pembau adalah kemoreseptor yang dirangsang oleh molekul- molekul larutan dalam hidung. Reseptor pembau merupakan reseptor jauh (tele receptor). Karena lintasan pembau tidak mempunyai hubungan dalam thalamus

dan tidak terdapat daerah proyeksi pada neocorteks penciuman.

Alat pembauan atau organon olfactus terdapat di hidung sebelah atas yang dikenal dengan nama concha superior. Pada concha superior dan bagian yang disebut septumasi terdapat selaput lendir yang berfungsi untuk melembabkan dan

(53)

terdapat bulu-bulu hidung yang berfungsi untuk menyaring kotoran dari udara yang masuk yang masuk hidung.

Stimulus mengenal reseptor yang ada di dalam hidung, kemudian diteruskan oleh saraf sensoris ke otak, dan sebagai responnya orang menyadari bau apa yang diciumnya (Ronodikoro, 1990).

Impuls-impuls bau dihantarkan oleh filum olfactorium yang bersinopsis dengan cabang-cabang dari dendrit sel mitral dan disebut sinopsis glomerolus.

Neurit sel mitral meninggalkan bulbus olfactorius untuk berjalan di dalam area medialis di dalam area septalis. Pusat pembauan ada di incus. neurit-neurit sel mitral mempunyai cabang-cabang yang menuju ke sel glanula dan mengadakan sinopsis di dinopsis axomatis.

Impuls yang datang dari sel mitral dapat diteruskan ke incus tetapi juga dihantarkan kembali ke sel mitral lewat sel glanula. Akibatnya timbul hantaran impuls yang berulang-ulang dan dada larutan susulan sehingga walaupun substansi yang berbau sudah tidak ada, baunya masih tercium. (Ronodikoro, 1990).

Stimulus untuk reseptor pembau adalah yang berupa benda-benda yang menguap atau gas. Tetapi tidak semua gas dapat ditangkap, misalnya O2

(oksigen), CO2 (karbondioksida), CO (karbonmonoksida), dan N2 (nitrogen).

Pembauan dapat diintensifkan bila menghisap hawa dengan keras, pendek

(54)

(dalam) sehingga banyak melalui reseptor. Pada hewan, pembauan sangat penting karena dipakai untuk mendeteksi partner dan musuhnya (Ganong, 1983).

Bau dapat menimbulkan perasaan tidak senang dan senang dan juga refleks-refleks tertentu. Misalnya, bau makanan menimbulkan air liur, bau busuk menimbulkan rasa mual, dan lain-lain.

Saraf penerima rangsang (Ronodikoro, 1990) yaitu :

1. Nervus olfactorius, penerima rangsang terhadap bau yang sehari-hari kita terima.

2. Nervus trigamus, penerima rangsang terhadap bau yang kuat/keras; contoh : kamfer, minyak kayu putih, khloroform, ether, dan lain-lain.

(55)

Menurut Guyton & Hall (1996) sifat-sifat fisika yang akan menyebabkan rangsang pembauan:

1. Zat harus mudah menguap sehingga ia dapat dihirup masuk ke lubang hidung

2. Zat harus dapat sedikit larut dalam air sehingga ia dapat melalui mucus untuk mencapai sel olfaktoria

3. Zat juga harus larut dalam lemak, karena menurut dugaan, rambut-rambut olfaktoria dan ujung luar dari sel-sel olfaktoria terutama tersusun oleh zat- zat lemak

Adanya perbedaan untuk dapat membau/ kepandaian membau tergantung pada:

1. Susunan rongga hidung

Setiap orang mempunyai concha dan septumnasi yang tidak sama bentuknya, hal ini dapat menentukan kualitas pembauan.

2. Variasi fisiologis

Misalnya pada perempuan sebelum dan sesudah menstruasi tidaklah sama kekuatan pembauannya (bertambah), mungkin karena hormon (Sudarmo, 1997).

4. Indera Peraba: Kulit

Menurut Ronodikoro (1990), kulit sebagai organon tactus dibagi 2, yaitu cutis dan subcutis (berlemak). Cutis terdiri dari epidermis dan corium. Di antara

(56)

corium dan epidermis itu bersifat papil (tidak rata), yang menyebabkan epidermis

itu bersifat tidak sama tebal di sana-sini. Ada 2 lapis pada epidermis, yaitu : 1. Stratum corneum, selalu mengelupas dan diganti oleh stratum germanaticum.

2. Stratum germanaticum, selalu tumbuh untuk mengisi stratum corneum tadi.

Di dalam subcutis terdapat banyak lemak, terutama pada orang gemuk dan orang perempuan.

Fungsi kulit menurut Ganong (1983) : 1. Pelindung alat-alat dalam tubuh.

2. Tempat indera perasa dan peraba.

3. Tempat menyimpan kelebihan lemak.

4. Tempat pembuatan vitamin D

Menurut Ganong (1983), ada 5 macam modalitet rasa pada kulit, yaitu : 1. tactil – oleh karena kontak

2. sakit 3. panas

(57)

4. dingin 5. tekanan

Menurut Radiopoetro (1986) terdapat bermacam-macam reseptor, yaitu : 1. Reseptor sakit (Nosi reseptor), dapat dibedakan menjadi:

a. Sakit tajam dan dangkal, akhiran syaraf terdapat diantara sel ephitel.

b. Sakit tumpul dan dalam, akhiran syaraf terdapat di sekitar pembuluh darah.

2. Reseptor panas dan dingin (thermoreceptor), terdiri dari : a. Krause untuk reseptor dingin.

b. Badan ruffini (Corpus cylindricum) untuk merasakan stimulus panas.

c. Badan Golgi-Mazini untuk merasakan stimulus panas.

3. Reseptor rabaan dan tekanan (Tango receptor), terdiri dari :

a. Badan meisner (Corpusculum tractus) untuk merasakan sentuhan/rabaan tajam.

b. Meniscus dari Merchel untuk merasakan tekanan tumpul.

c. Badan Vator-Paccini (Corpusculum lamellosum) untuk merasakan sentuhan atau tekanan tumpul.

Menurut Radiopoetro (1986) ada reseptor yang dapat terstimulasi oleh stimulus mekanis seperti tekanan atau desakan, perabaan, getaran, dan tusukan.

Reseptor tersebut disebut mekanoreseptor, yang terdiri dari : Jasad Paccini, jasad meisner, jasad krause, Meniscus tactus, akhiran syaraf bebas dan akhiran syaraf

(58)

yang melingkari foliculus rambut. Mekanoreseptor diduga adalah akhiran syaraf bebas yang tidak lagi berselubung myelin. Yang terletak diantara sel-sel ephitelium dari epidermis.

Dalam Radiopoetro (1986) disebutkan untuk thermoreceptor adalah perbedaan suhu (panas dan dingin). Bagian-bagiannya adalah Corpusculum bulboideum dan Corpuscullum silindricum. Reseptor dingin terletak 1 mm di bawah

dataran kulit, sedangkan reseptor panas terletak 1-3 mm di bawah pemukaan kulit. Impuls panas dan dingin dihantarkan oleh Tactus spinithalamicus lateralis.

Dari kulit ke pusat somesthesi, jalannya impuls adalah sebagai berikut : impuls-impuls dari reseptor yang ada di kulit dihantarkan oleh serabut-serabut sensibel yang berjalan di dalam n. Spinalis untuk datang di ganglion spinale, dari sini mulai aktif neurit-neurit yang berjalan di dalam Radix posterior. Sebagian dari neurit-neurit itu, yang di sebut neurit pendek, berakhir pada apex (puncak) Cornu posterius, sedangkan neurit-neurit panjang terus terus berjalan ke cranial di dalam Fascicullus posterior medulae spinale dan membentuk Fascicullus gracillis di sebelah

medial dan Fascicullus cuneatus di sebelah lateral. Di apex Cornu posterius muncul neuron-neuron baru yang menyilangi garis tengah pada Commisura tractus spinothalamus lateralis. Tractus ini berjalan ke cranial di sebelah lateral pada cornu anterior dan berakhir pada n. ventralis posterio lateralis, dari sini timbul neuron- neuron baru yang berjalan interna ke pusat somesthesi yang terdapat pada Gyrus postcentralis (Radiopoetro, 1986).

(59)

Dari reseptor yang ada di kulit, impuls-impuls dihantarkan oleh serabut- serabut sensibel yang berjalan di dalam n. optical amiscus, n. maxillare, n.

mandibularis untuk datang di ganglion semilunare, kemudian neurit berakhir di n.

sensibilis superior, sebagian di dalam n. trigeminus. Di dalam nukleus ini dimulailah

neuron-neuron baru yang berjalan di dalam Capsula interna dan berakhir di dalam Gyrus postcentralis. Impuls-impuls yang datang dari kulit bagian atas tubuh datang

di Gyrus postcentralis (Radiopoetro, 1986).

Menurut Radiopoetro (1986) Sensasi yang terjadi apabila reseptor-reseptor dari kulit bekerja bersama-sama, antara lain :

1. Geli : Rasa terhadap reseptor tekanan dengan rangsang subliminal dan terjadi berkali-kali. Hal ini terjadi pada beberapa reseptor secara berturut- turut.

2. Gatal : Rasa terhadap reseptor sakit yang besarnya subliminal

3. Pedih : Rasa terhadap reseptor panas, dingin, dan sakit secara bersama-sama.

5. Indera Pengecap: Lidah

Organon gustus terdapat terutama di lidah. Sel-sel indra berkelompok

membentuk colliculi gustatorii. Putrik kecap, organon sensorik, untuk pengecapan adalah bulat telur bentuknya dan berukuran 50-70 milimikron. Tiap putik kecap terdiri dari sel-sel reseptor, masing-masing mempunyai sejumlah rambut yang mengakar ke dalam pori pengecap, yaitu lubang pada permukaan epithel putik pengecap (Radiopoetro, 1986).

(60)

Reseptor pengecap ada pada lidah (lingua) dan sedikit ada di posterior langit-langit dan tekak. Sel-sel reseptor berkumpul dalam satu putik cecap (papilla) yang terbenam pada lapisan epithel, berbentuk seperti tombol yang disebut gumma gustatoria. Dalam gumma gustatoria terdapat dua macam sel, yaitu sel neuroepithel dan sel-sel penyokong. Pada manusia, putik cecap terletak pada dinding papilla funigformis dan papilla palatal lidah. Reseptor pengecap adalah kemoreseptor yang memberi respon pada zat-zat yang larut dalam cairan mulut yang membasahinya. Zat ini tampaknya menimbulkan potensial reseptor, tetapi bagaimana molekul-molekul dalam larutan saling bereaksi belum diketahui (Radiopoetro, 1986).

Menurut Guyton (1983) ujung-ujung serabut syaraf sensorik yang tidak bermyelin mengitari sel-sel reseptor dengan erat. Tiap putik kecap disyarafi oleh sekitar 50 serabut syaraf dan sebaliknya tiap serabut syaraf menerima input dari

(61)

rata-rata 5 putik kecap. Apabila syaraf sensorik, putik kecap yang disyarafi mengalami regenerasi. Sel di sekitarnya menyusun titik kecap yang baru, diduga disebabkan sejenis efek induktif kimia dari serabut yang bergenerasi.

Suatu teori berdasarkan hipotesa bahwa rambut reseptor mempunyai lapisan permukaan polielektrolit. Pengikatan ion-ion pada lapisan ini menyebabkan distorsi pada susunan spasial dari lapisan dengan akibat perubahan pada distribusi kepadatan muatan. Molekul yang menimbulkan pengecapan berkaitan dengan protein yang spesifik pada putik kecap. Ikatan zat pada reseptor lemah sebab biasanya hanya diperlukan sedikit air untuk menghilangkan rasa pengecapan. (Guyton, 1983).

Jalannya impuls pengecapan adalah sebagai berikut : impuls-impuls gustus l dari bagian tymphani, kemudian oleh n. facialis ke n. gustatoris superior impuls diteruskan ke cortex gyrus post centralis pars opercularis dimana terdapat pusat pengecapan. Impuls-impuls gustus yang berasal dari bagian belakang lidah (sebelah belakang sulcus terminalis) dihantarkan oleh n. glosso pharingus ke n.

gustatorius inferior, dari sini impils-impuls diteruskan ke n. ventralis posteromedialis thalami dan akhirnya ke cortex post centrqalis pars opercularis. (Radiopoetro, 1986)

Stimulus untuk reseptor pengecapan adalah zat cair. Zat cair itu mengenai ujung sel penerima yang terdapat pada lidah, yang kemudian diteruskan oleh saraf sensoris ke otak, hingga akhirnya orang dapat menyadari tentang apa yang dikecapnya itu.

(62)

Dalam Ganong (1983) disebutkan adanya beberapa modalitas rasa pada lidah, yaitu :

1. rasa manis 2. rasa asin 3. rasa asam 4. rasa pahit

Masing-masing rasa ini mempunyai daerah penerima rasa sendiri-sendiri.

Tetapi seseorang dapat merasakan beratus-ratus jenis rasa yang diduga merupakan kombinasi dari empat rasa primer tersebut.

Lokasi reseptor yang menyangkut empat macam rasa itu adalah sebagai berikut:

Rasa Letak Cara memeriksa

manis ujung lidah dengan gula

asam Sepanjang tepi lidah dengan asam sitrat

pahit Pangkal lidah dengan kina

Asin Dorsal depan dengan garam

Rasa manis disebabkan oleh suatu golongan zat kimia antara lain gula, glikol, alkohol, keton, asam halogen, asam amino, asam sulfonat, dan garam organik dari logam berat dan belium. Rasa asam disebabkan oleh asam yang intensitasnya kira-kira sebanding dengan logaritma konsentrasi ion hidrogen yaitu makin asam suatu asam maka makin kuat rasanya. Ada dua kelas zat yang

(63)

memberi rasa pahit, yaitu zat organik rantai panjang dan alkaloida yang terdiri dari banyak obat seperti quirin, kafein, strikin, dan nikotin. Rasa asin timbul karena garam yang berbeda-beda kualitasnya. Kaiton garam berperan dalam rasa asin (Radiopoetro, 1986).

(64)

Bab 7:

Persepsi

Pengertian Persepsi

Walgito (2004) mengatakan bahwa persepsi adalah proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diindra, sehingga dimengerti (bermakna), dan merupakan respon yang integrated dari individu.

Chaplin (2002) mengatakan bahwa frase ‚mengerti atau bermakna‛ yang dimaksud adalah ketika individu mengenali objek dan kejadian objektif secara sadar.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Walgito (2004) mengatakan bahwa ada 3 hal yang mempengaruhi persepsi.

Pertama, objek yang dipersepsi. Objek yang dipersepsi adalah segala sesuatu di luar infividu yang menimbulkan stimulus. Kedua, alat indera dan sistem syaraf.

Alat indera dan sistem syaraf harus dalam keadaan normal. Ketiga, perhatian.

Adanya pemusatan perhatian pada objek yang dipersepsi. Salah satu dari ketiganya tidak ada, maka persepsi tidak akan terjadi.

Proses Terjadinya Persepsi

Walgito (2004) menerangkan proses terjadinya persepsi sebagai berikut:

Stimulus pada awalnya mengenai alat indra, ini disebut proses kealaman atau proses fisik. Pada tahap ini, hanya stimulus tertentu saja yang dipersepsi.

Stimulus yang diterima kemudian diteruskan ke otak. Proses ini disebut proses

(65)

• stimulus

Sensasi/ proses fisik

• Indera

Proses fisiologis

• Otak

Proses Psikologis

• Menyadari

proses psikologis

• Respon

proses fisik &

Psikologis

fisiologis. Kemudian otak menyadari apa yang dicerap oleh panca indra tersebut.

Proses dalam otak inilah yang disebut dengan proses psikologis. Puncak persepsi ada pada proses psikologis.

Jika skema proses terjadinya persepsi ini digambarkan, maka gambarnya akan seperti ini:

Proses Kognitif dalam Persepsi

Persepsi manusia pada dasarnya bersifat aktif dan tergantung pada konteks (Atkinson, dkk., 2011). Untuk membuktikannya, mari perhatikan dua gambar berikut. Gambar yang pertama adalah kubus Necker:

(66)

Dalam mempersepsi kuber Necker, kita dapat memposisikan titik berwarna merah di depan atau di belakang, sesuai dengan keinginan kita. Ini membuktikan bahwa persepsi kita bersifat aktif, bukan pasif.

Gambar kedua adalah sebagai berikut:

12 A 13 C

14

Gambar di atas membuktikan bahwa persepsi kita juga dipengaruhi oleh konteks.

Jika dilihat secara vertikal, maka karakter yang ada di tengah mewujud seperti angka 13 (tiga belas). Sedangkan jika dilihat secara horizontal, karakter tersebut mewujud seperti huruf ‚B‛.

Ilusi Persepsi

Ilusi adalah pemaknaan yang salah terhadap sebuah objek, sehingga keadaan yang digambarkan berbeda dengan keadaan yang sebenarnya.

Penghayatan yang salah terjadi karena banyak variabel stimulus yang mempengaruhi stimulus utama, sehingga sel-sel di selaput jala menjadi lelah (Atkinson, dkk., 2011).

Gambar

Gambar  di  atas  sebenarnya  tidak  lengkap,  namun  persepsi  terorganisasi  melengkapi  gambar  tersebut  untuk  dimaknai  menjadi  gambar  seekor  panda

Referensi

Dokumen terkait

Upaya pemerintah dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 adalah dengan menerbitkan buku pegangan guru dan buku pegangan siswa yang digunakan untuk mempermudah

Bahasa Indonesia yang baik dan benar digunakan dengan sangat efisien dalam sebagian kecil penulisan Sikap: Bacaan dibuat. dengan cermat dan teliti, sesuai dengan tenggat

Indonesia yang baik dan benar digunakan dalam sebagian kecil wawancara SIkap: Wawancara dilakukan secara mandiri, baik dan benar serta penuh tanggung jawab atas pemenuhan

[r]

Praktik yang baik telah berkembang di mana semua informasi atau intelijen yang dikirimkan dievaluasi berdasarkan (a) riwayat keandalan sumber sebelumnya, dan (b) sejauh mana

Pada akhirnya, peneliti menambahkan topik ini ke dalam anali- sisnya (Morrow, 2008). Dalam hal ini, teknis analisis data utamanya merupakan tanggu- ng jawab peneliti dewasa

Proses pembelajaran pada PBL meliputi kegiatan seperti pertemuan dengan mahasiswa, belajar mandiri dengan mencari informasi/teori baik dari ahli, buku-buku, jurnal

Pada masa ini dapat disebut masa kritis bagi ibu setelah melahirkan, skitar 50% kematian ibu dapat terjadi dalam 24 jam pertama postpartum akibat perdarahan serta penyakit komplikasi