• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indera Pengecap: Lidah

Dalam dokumen BUKU PEGANGAN KULIAH PSIKOLOGI EKSPERIMEN (Halaman 59-74)

Alat Indera

5. Indera Pengecap: Lidah

Organon gustus terdapat terutama di lidah. Sel-sel indra berkelompok

membentuk colliculi gustatorii. Putrik kecap, organon sensorik, untuk pengecapan adalah bulat telur bentuknya dan berukuran 50-70 milimikron. Tiap putik kecap terdiri dari sel-sel reseptor, masing-masing mempunyai sejumlah rambut yang mengakar ke dalam pori pengecap, yaitu lubang pada permukaan epithel putik pengecap (Radiopoetro, 1986).

Reseptor pengecap ada pada lidah (lingua) dan sedikit ada di posterior langit-langit dan tekak. Sel-sel reseptor berkumpul dalam satu putik cecap (papilla) yang terbenam pada lapisan epithel, berbentuk seperti tombol yang disebut gumma gustatoria. Dalam gumma gustatoria terdapat dua macam sel, yaitu sel neuroepithel dan sel-sel penyokong. Pada manusia, putik cecap terletak pada dinding papilla funigformis dan papilla palatal lidah. Reseptor pengecap adalah kemoreseptor yang memberi respon pada zat-zat yang larut dalam cairan mulut yang membasahinya. Zat ini tampaknya menimbulkan potensial reseptor, tetapi bagaimana molekul-molekul dalam larutan saling bereaksi belum diketahui (Radiopoetro, 1986).

Menurut Guyton (1983) ujung-ujung serabut syaraf sensorik yang tidak bermyelin mengitari sel-sel reseptor dengan erat. Tiap putik kecap disyarafi oleh sekitar 50 serabut syaraf dan sebaliknya tiap serabut syaraf menerima input dari

rata-rata 5 putik kecap. Apabila syaraf sensorik, putik kecap yang disyarafi mengalami regenerasi. Sel di sekitarnya menyusun titik kecap yang baru, diduga disebabkan sejenis efek induktif kimia dari serabut yang bergenerasi.

Suatu teori berdasarkan hipotesa bahwa rambut reseptor mempunyai lapisan permukaan polielektrolit. Pengikatan ion-ion pada lapisan ini menyebabkan distorsi pada susunan spasial dari lapisan dengan akibat perubahan pada distribusi kepadatan muatan. Molekul yang menimbulkan pengecapan berkaitan dengan protein yang spesifik pada putik kecap. Ikatan zat pada reseptor lemah sebab biasanya hanya diperlukan sedikit air untuk menghilangkan rasa pengecapan. (Guyton, 1983).

Jalannya impuls pengecapan adalah sebagai berikut : impuls-impuls gustus l dari bagian tymphani, kemudian oleh n. facialis ke n. gustatoris superior impuls diteruskan ke cortex gyrus post centralis pars opercularis dimana terdapat pusat pengecapan. Impuls-impuls gustus yang berasal dari bagian belakang lidah (sebelah belakang sulcus terminalis) dihantarkan oleh n. glosso pharingus ke n.

gustatorius inferior, dari sini impils-impuls diteruskan ke n. ventralis posteromedialis thalami dan akhirnya ke cortex post centrqalis pars opercularis. (Radiopoetro, 1986)

Stimulus untuk reseptor pengecapan adalah zat cair. Zat cair itu mengenai ujung sel penerima yang terdapat pada lidah, yang kemudian diteruskan oleh saraf sensoris ke otak, hingga akhirnya orang dapat menyadari tentang apa yang dikecapnya itu.

Dalam Ganong (1983) disebutkan adanya beberapa modalitas rasa pada

Masing-masing rasa ini mempunyai daerah penerima rasa sendiri-sendiri.

Tetapi seseorang dapat merasakan beratus-ratus jenis rasa yang diduga merupakan kombinasi dari empat rasa primer tersebut.

Lokasi reseptor yang menyangkut empat macam rasa itu adalah sebagai berikut:

Rasa Letak Cara memeriksa

manis ujung lidah dengan gula

asam Sepanjang tepi lidah dengan asam sitrat

pahit Pangkal lidah dengan kina

Asin Dorsal depan dengan garam

Rasa manis disebabkan oleh suatu golongan zat kimia antara lain gula, glikol, alkohol, keton, asam halogen, asam amino, asam sulfonat, dan garam organik dari logam berat dan belium. Rasa asam disebabkan oleh asam yang intensitasnya kira-kira sebanding dengan logaritma konsentrasi ion hidrogen yaitu makin asam suatu asam maka makin kuat rasanya. Ada dua kelas zat yang

memberi rasa pahit, yaitu zat organik rantai panjang dan alkaloida yang terdiri dari banyak obat seperti quirin, kafein, strikin, dan nikotin. Rasa asin timbul karena garam yang berbeda-beda kualitasnya. Kaiton garam berperan dalam rasa asin (Radiopoetro, 1986).

Bab 7:

Persepsi

Pengertian Persepsi

Walgito (2004) mengatakan bahwa persepsi adalah proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diindra, sehingga dimengerti (bermakna), dan merupakan respon yang integrated dari individu.

Chaplin (2002) mengatakan bahwa frase ‚mengerti atau bermakna‛ yang dimaksud adalah ketika individu mengenali objek dan kejadian objektif secara sadar.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Walgito (2004) mengatakan bahwa ada 3 hal yang mempengaruhi persepsi.

Pertama, objek yang dipersepsi. Objek yang dipersepsi adalah segala sesuatu di luar infividu yang menimbulkan stimulus. Kedua, alat indera dan sistem syaraf.

Alat indera dan sistem syaraf harus dalam keadaan normal. Ketiga, perhatian.

Adanya pemusatan perhatian pada objek yang dipersepsi. Salah satu dari ketiganya tidak ada, maka persepsi tidak akan terjadi.

Proses Terjadinya Persepsi

Walgito (2004) menerangkan proses terjadinya persepsi sebagai berikut:

Stimulus pada awalnya mengenai alat indra, ini disebut proses kealaman atau proses fisik. Pada tahap ini, hanya stimulus tertentu saja yang dipersepsi.

Stimulus yang diterima kemudian diteruskan ke otak. Proses ini disebut proses

• stimulus

fisiologis. Kemudian otak menyadari apa yang dicerap oleh panca indra tersebut.

Proses dalam otak inilah yang disebut dengan proses psikologis. Puncak persepsi ada pada proses psikologis.

Jika skema proses terjadinya persepsi ini digambarkan, maka gambarnya akan seperti ini:

Proses Kognitif dalam Persepsi

Persepsi manusia pada dasarnya bersifat aktif dan tergantung pada konteks (Atkinson, dkk., 2011). Untuk membuktikannya, mari perhatikan dua gambar berikut. Gambar yang pertama adalah kubus Necker:

Dalam mempersepsi kuber Necker, kita dapat memposisikan titik berwarna merah di depan atau di belakang, sesuai dengan keinginan kita. Ini membuktikan bahwa persepsi kita bersifat aktif, bukan pasif.

Gambar kedua adalah sebagai berikut:

12 A 13 C

14

Gambar di atas membuktikan bahwa persepsi kita juga dipengaruhi oleh konteks.

Jika dilihat secara vertikal, maka karakter yang ada di tengah mewujud seperti angka 13 (tiga belas). Sedangkan jika dilihat secara horizontal, karakter tersebut mewujud seperti huruf ‚B‛.

Ilusi Persepsi

Ilusi adalah pemaknaan yang salah terhadap sebuah objek, sehingga keadaan yang digambarkan berbeda dengan keadaan yang sebenarnya.

Penghayatan yang salah terjadi karena banyak variabel stimulus yang mempengaruhi stimulus utama, sehingga sel-sel di selaput jala menjadi lelah (Atkinson, dkk., 2011).

Sebagai contoh, perhatikanlah ilusi yang diciptakan oleh Hermann Ebbinghaus (Hergenhahn, 2000):

Lingkaran A dan B sejatinya adalah lingkaran yang sama besar, namun karena ada stimulus pegganggu di sekitarnya, maka terlihat lingkaran B lebih besar daripada lingkaran A. Lingkaran A menjadi terlihat lebih besar karena stimulus pengganggunya adalah lingkaran-lingkaran kecil yang mengelilingi lingkaran A.

Begitu pun dengan ligkaran B, terlihat lebih besar karena stimulus pengganggunya adalah lingkaran-lingkaran besar yang mengelilingi lingkaran B.

Berikut ini adalah beberapa ilusi yang umum diketahui dalam dunia psikologi:

1. Ilusi Pogendorf

2. Ilusi Hering

3. Ilusi Zoellner

4. Ilusi Muller Layer

Organisasi Persepsi

Teori Gestalt adalah teori yang menjelaskan tentang organisasi persepsi.

Teori Gestalt menjelaskan bahwa persepsi manusia terorganisasi secara keseluruhan dan bermakna (meaningful).

Ada 6 hukum perspsi menurut teori Gestalt (Walgitu, 2004):

1. Hukum Pragnanz

Hukum pragnanz menjelaskan bahwa objek akan diorganisasi dalam persepsi sederhana. Kompleksitas objek tersebut akan disederhanakan menjadi sebuah objek yang dapat dipahami. Sebagai contoh, perhatikan gambar logo olimpiade berikut ini:

Logo olimpiade ini sebenarnya adalah gabungan dari potongan-potongan garis yang rumit, namun ketika dipersepsi, hanya terlihta seperti lingkaran-lingkaran yang lsaling berhubungan. Prinisp Pragnanz ini adalah hukum pokok dari Gestalt.

2. Hukum Figure-Ground

Figure adalah bagian yang paling dominan dan merupakan fokus perhatian. Ground adalah yang melatarbelakangi figure. Figure dan

ground dapat bertukar tempat sesuai dengan fokus persepsi kita.

Perubahan tempat keduanya dapat menyebabkan persepsi yang berbeda.

Sebagai contoh, perhatikan gambar berikut:

Jika warna putih yang diletakkan di depan (sebagai figure), maka akan terlihat sebagai dua wajah yang saling berhadapan. Jika warna hitam yang dijadikan figure dan warna putih yang dijadikan ground, maka yang terlihat adalah vas bunga.

3. Hukum kedekatan (law of proximity)

Objek yang berdekatan akan diorganisasi dalam persepsi sebagai satu kesatuan. Perhatikan gambar berikut:

4. Hukum kesamaan (similiarity)

Objek yang sama akan diorganisasikan dalam perspsi sebagai sebuah kesatuan.

Walaupun tingkat kedekatannya sama, akan tetapi objek-objek segitiga akan dipersepsikan sebagai satu kesatuan, sebagaimana objek bulat yang juga dipersepsikan sebagai satu kesatuan.

5. Hukum kontinuitas

Hukum kontunuitas menyatakan bahwa stimulus yang mempunyai kontinuitas satu dengan yang lain, akan terlihat dari ground dan akan dipersepsi sebagai satu kesatuan. Perhatikan gambar berikut:

Gambar di atas tetap dipersepsi sebagai huruf ‚H‛, walaupun menjadi ground dari lengkungan putih dan hitam.

6. Hukum Kelengkapan atau Ketertutupan (law of closure)

Hukum ini menyatakan bahwa ada kecenderungan individu mempersepsi sesuatu yang tidak lengkap menjadi lengkap, sehingga menjadi sesuatu yang bermakna. Sebagai contoh, perhatikanlah gambar berikut:

Gambar di atas sebenarnya tidak lengkap, namun persepsi terorganisasi melengkapi gambar tersebut untuk dimaknai menjadi gambar seekor panda.

Daftar Pustaka

Atkinson, R. L., Atkinson, R. C. & Hilgard, E. R. (2011). Pengantar Psikologi (terjemahan, edisi kedelapan-jilid 1). Jakarta: Erlangga.

Azwar, S. (2005). Metode penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Azwar, S. (2007). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Campbell, D. T. & Stanley, J. C. (1966). Experimental and quasi-experimental designs for research. Chicago: Rand McNally and Company.

Chaplin, J. P. (2002). Kamus lengkap psikologi (terjemahan). Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Cook, T. D. & Campbell, D. T. (1979). Quasi-experimentation: Design & analysis issues for field settings. Chicago: Rand McNally College.

Davidoff, L. L. (1981). Introduction to psychology (2nd Edition). Tokyo: MacGraw-Hill.

Etsem, M. B. (2010). Sejarah eksperimen dalam penelitian psikologi (Slide presentasi, disampaikan pada ‚National Conference on Experimental Psychology‛).

Ganong, W . F. (1992). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC Penerbit buku Kedokteran.

Guyton, A. C. (1994). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC Penerbit Buku Kedokteran.

Hergenhahn. (2000). Introduction to the history of psychology (e-book Edition).

Massachusets: Wadsworth Publishing, Inc.

Hock, R. R. (1999). Forty studies that changed psychology (3rd Edition). New Jersey:

Prentice-Hall, Inc.

Ghozali, I. (2008). Desain penelitian eksperimental. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Myers, A. (1987). Experimental Psychology (2nd Edition). California: Brooks/Cole Publishing Company.

Radiopoetro, R. (1986). Diktat Psikologi Faal I. Yogyakarta : Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.

Ronodikoro, S. (1990). Diktat Antropobiologi. Yogyakarta : (Tidak diterbitkan) Fakultas Psikologi UGM.

Shaughnessy, J. J. & Zechmeister, E. B. 1990. Research Methods in Psychology (2nd Edition). New York: McGraw-Hill, Inc.

Sharpsteen, D. J., Brown, K. H. & Patrick, T. G (as Editors). (2010). AP psychology (7th Edition). New Jersey: Research & Education Association.

Solso, R. L., Johnson, H. H. & Beal, K. B. (1998). Experimental psychology: A case approach (6th Edition). New York: LONGMAN.

Sudarmo, D. H. 1977. Diktat Antropobiologi. Yogyakarta: (tidak diterbitkan) Fakultas Psikologi UGM.

Suryabrata, S. (1992). Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali Press.

Walgito, B. (2004). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta: Penerbit ANDI.

Dalam dokumen BUKU PEGANGAN KULIAH PSIKOLOGI EKSPERIMEN (Halaman 59-74)

Dokumen terkait