PERKEMBANGAN GRUP BAND M’CLAROCK DAN PERANAN BAND M’CLAROCK DALAM AKTIVITAS SOSIAL PADA MASYARAKAT KARO
SKRIPSI SARJANA
O L E H
NAMA : TALENTA ERIXON GINTING
NIM : 110707017
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA
PROGRAM STUDI ETNOMUSIKOLOGI MEDAN
2019
PERNYATAAN
Dengan ini saya mengajukan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar sarjana di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain,kecuali yang secara tertulis disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Februari 2019
Talenta Erixon Ginting NIM : 110707017
ABSTRAK
Sebagai salah satu genre musik, musik rock itu sudah berlaku secara universal, dan sangat dikenal oleh masyarakat.
Dalam penulisan skripsi yang berjudul Perkembangan Grup Band M’clarock serta Peranan band M’clarock dalam aktivitas sosial pada masyarakat karo .
Grup band M’clarock resmi dibentuk pada tahun 2007. Pada awalnya grup band ini terdiri atas Petra Jaya Purba (vokalis), Inonk Kaban (gitar), Budi Purba (Drum), dan Edy Rock Depari (bass). Nama “M’clarock” sendiri adalah singkatan dari Masyarakat Classic Rock.
Penelitian ini menggunakan dua (2) teori utama yaitu yang ditawarkan oleh Bruno Nettl dalam bukunya Folk and Traditional Music of the Western Contents untuk mentranskirpisikan musik ke dalam bentuk notasi, teori tentang Etnomusikologi urban untuk memperkuat bahwa musik rock berkembang di kota- kota besar dan kota-kota kecil.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Untuk melaksanakan penelitian, penulis telah melakukan beberapa proses kerja, yaitu : studi kepustakaan, observasi, wawancara, perekaman, dokumentasi kegiatan, transkripsi, dan analisis laboratorium. Penelitian ini berpusat pada latar belakang grup band M’clarock.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas kasih dan Karunia yang diberikan penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“PERKEMBANGAN GRUP BAND M’CLAROCK DAN PERANAN BAND M’CLAROCK DALAM AKTIVITAS SOSIAL PADA MASYARAKAT KARO”
Tugas akhir ini dikerjakan demi memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Seni dari Jurusan Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini bukanlah tujuan akhir dari belajar karena belajar adalah sesuatu yang tidak terbatas.
Terselesaikanya skripsi ini tentunya tak lepas dari dorongan dan uluran tangan berbagai pihak. Oleh Karena itu, penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada yang terhormat Ibu Arifninetrirosa, SST,M.A. Selaku Ketua Program Studi Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara. Penulis juga berterimakasih kepada Sekretaris Program Studi Etnomusikologi Bapak Drs. Bebas Sembiring, M.Si. serta kepada pegawai Program Studi Etnomusikologi Ibu Wawa yang telah banyak membantu penulis dalam hal administrasi.
Terima kasih saya ucapkan kepada Dekan Fakultas Ilmu Budaya Bapak Dr. Budi Agustono , M.S beserta seluruh jajaran di Dekanat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat Bapak Drs.
Perikuten Tarigan, M.Si. Selaku pembimbing satu (1) yang selalu membimbing penulis untuk menyelesaikan tugas akhir ini. Kepada yang terhormat Bapak Drs.
Kumalo Tarigan, M.A. Selaku pembimbing dua (2) yang telah banyak memberikan ide dan kritikan membangun untuk penulis, juga atas waktunya untuk membimbing dan mengajari penulis menyelesaikan tugas akhir ini. Segenap para dosen yang mengajar di Jurusan Etnomusikologi yang turut membantu proses penyelesaian skripsi ini.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh informan Bapak Petra Jaya Purba sebagai Informan Kunci yang telah banyak membantu penulis dalam meluangkan waktunya untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan tugas akhir ini. Lias Damenta Barus yang telah banyak memberikan informasi yang berkaitan dengan tugas akhir ini, juga kepada Tua Edy Rock Depari yang membantu penulis untuk menyelesaikan tugas akhir ini.
Kepada kedua orangtua saya Bapak Mburak Ginting dan Ibunda Ses Nirwana br Tarigan yang selalu mendoakan, memberikan semangat, membantu saya melalui Materi dan Motivasi yang sangat luar biasa, sehingga saya bisa menyelesaikan skripsi ini. Kepada Saudara-saudara yang sangat saya sayangi, Feliana br Ginting dan Florensa br Ginting yang selalu mendoakan dan mendukung saya dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
Terima kasih juga buat Rasta tawaku Laura Clara Herena br Tarigan, Bigthanks kekelengen.
Terimakasih banyak juga buat abang-abang alumni terkhusus buat abang Fransseda Sitepu S.Sn yang membantu saya selama penelitian dan juga memberikan masukan untuk penyempurnaan tulisan ini.
Ucapan terimakasih kepada semua sahabat-sahabat seperjuangan 011 baik yang sudah sarjana maupun yang sedang menyusun dan menyusul, yang menjadi tempat saling berkeluh kesah dan memberikan masukan, gagasan, ide, dorongan, beserta semangat dalam menyelesaikan tulisan ini.
Penulis menyadari tulisan ini masih belum dapat dikatakan sempurna, oleh sebab itu penulis juga masih tetap mengharapkan segala masukan dan saran-saran yang sifatnya membangun dari pembaca sekalian sehingga lebih mengarah kepada kemajuan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang Ilmu Etnomuskologi.
Akhirnya, penulis berharap tulisan ini dapat berguna dan menambah pengetahuan serta informasi baru bagi seluruh pembaca.
Medan, 08 Februari 2019 Penulis
Talenta Erixon Ginting 110707017
DAFTAR ISI
PENGESAHAN……….i
DISETUJUI OLEH ………..ii
PENGESAHAN………iii
PERNYATAAN ………...iv
ABSTRAK……….v
KATA PENGANTAR………..vi
DAFTAR ISI………..ix
BAB I : PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang... 1
Pokok Permasalahan ... 4
1.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 4
1.3.1 Tujuan Penelitian ... 4
1.3.2 Manfaat ... 4
1.4 Konsep dan Teori ... 5
1.4.1 Konsep ... 5
1.4.2 Teori ... 8
1.5 Metode Penelitian... 12
1.5.1 Studi Kepustakaan ... 14
1.5.2 Pengumpulan data di lapangan... 14
1.5.2.1 Observasi ... 14
1.5.2.2 Wawancara ... 15
1.5.2.3 Rekaman ... 16
1.5.3 Kerja Laboratorium ... 17
2.1 Asal Usul Genre Musik Rock ... 18
2.2 Masuknya Musik Rock di Karo Dalam Konteks Indonesia ... 20
2.2.1 Masuknya musik Rock dalam Cikal Bakal Musik Indonesia ... 21
2.2.2 Masuknya Musik Rock di Karo ... 24
BAB III PERKEMBANGAN BAND M’CLAROCK PADA MASYARAKAT KARO ... 28
3.1 Perkembangan Musik Rock pada Masyarakat Karo ... 28
3.2 Lahirnya Grup Band M’clarock pada masyarakat Karo ... 30
3.3 Proses Pengerjaan Lagu dan Strategi Pemasaran Album ... 38
3.3.1 Proses Pengerjaan Lagu Grup Band M’clarock ... 39
3.3.2 Strategi Pemasaran Kaset/CD Album Grup Band M”clarock ... 40
3.4 Tanggapan Masyarakat Terhadap Perkembangan Grup Band M’clarock pada Masyarakat Karo... 46
3.4.1 Faktor yang mempengaruhi Perkembangan Grup Band M’clarock pada masyarakat Karo ... 47
3.4.1.1 Media Massa ... 48
3.4.1.2 Remaja ... 49
3.4.1.3 Studio Musik ... 53
3.4.1.4 Pertunjukkan Musik ... 55
BAB IV PERANAN M’CLAROCK BAND DALAM AKTIVITAS SOSIAL PADA MASYARAKAT KARO ... 59
4.1 Pesta Mejuah juah Tahun 2016 ... 60
4.3 Car Free Day Kabanjahe ... 64
4.4 Sosialisasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Kab.Karo ... 66
4.5 Pesta Tahunan Desa Surbakti ... 67
BAB V PENUTUP ... 69
5.1 Kesimpulan ... 69
5.2 Saran ... 71
DAFTAR PUSTAKA ... 73
DAFTAR INFORMAN ... 76
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Musik rock adalah genre musik populer yang mulai diketahui secara umum pada pertengahan tahun 50-an. Pengertian musik rock adalah singkatan dari nama jenis musik rock „n roll yang pertama kali dilontarkan tahun 1950-an pada publik Amerika Serikat oleh Alan Freed dalam sebuah siaran radio yang menyiarkan acara musik Rhytm and Blues (R&B) secara rutin. Musik Rock pada dasarnya dieksplor dan dikembangkan oleh banyak orang, namun akar dari musik rock yang paling kuat adalah pada musik rhythm dan blues. Selanjutnya Musik Rock juga mengambil gaya dari berbagai musik lainnya, termasuk musik rakyat (folk music), jazz dan juga musik klasik.
Menurut Jeff Tinton, dkk (2008:299) musik adalah suatu hal yang mengalir, ia merupakan elemen kebudayaan yang dinamis,dan ia dapat berubah dan beradaptasi terhadap ekspresi dan emosi manusia.Ide atau gagasan tentang musik,organisasi sosial musik, repertoar, serta kebudayaan material musik berbeda dari satu kebudayaan musik ke kebudayaan musik yang lain”. Dapat disimpulkan bahwa musik dapat berkembang dan melahirkan group-group musik yang baru. Seperti halnya yang terjadi pada musik rock yang sudah berjaya di era
adalah rock and roll, yang berasal dari Amerika serikat selama akhir tahun 40-an dan awal 50-an. Genre ini berasal dari musik kulit hitam yang beragam pada waktu itu termasuk rhytm and blues dan musik rohani dengan country dan western. Pada tahun 1951 Dj asal cleveland, ohio Alan Freed mulai memainkan musik rhytm and blues (R&B) untuk para penoton multi ras, dan disebut sebagai yang pertama menggunakan frase “rock and roll” untuk menjelaskan musik ini.
Rekaman album pertama rock and roll yaitu lagu dari Goree Carter yang berjudul
“Rock A while” (1949) dan lagu dari Jimmy Preston yang berjudul “Rock The Joint” (1949).Kemudian musik rock juga berkembang dan melahirkan sub-sub genre baru seperti Pop Rock, Hard Rock, Blues rock, Jazz Fusion rock, Punk Rock, Heavy Metal. Dimana masing masing aliran tersebut memiliki ciri khas antara satu dan yang lainya tanpa menghilangkan ciri khas dari musik rock itu sendiri.
Bunyi khas dari musik rock berasal dari gitar listrik atau gitar akustik, dan penggunaan back beat yang sangat kentara pada rhytm section dengan gitar bass drum, dan keyboard seperti organ, piano, atau sejak tahun 70-an, syntheizer. Di samping gitar atau keyboard, saksofon dan harmonika bergaya blues kadang digunakan sebagai instrumen musik solo. Dalam bentuk murni nya, musik rock
“mempunyai tiga chords, backbeat yang konsisten dan mencolok dan melodi yang menarik”.
Munculnya musik rock ternyata mampu menarik perhatian para penikmat musik rock didunia hingga sampai ke Indonesia. Tentunya dalam hal ini media
massa juga berperan sangat penting terhadap perkembangan musik Rock hingga bisa diterima oleh masyarakat indonesia khususnya.
Sedangkan Musik Rock di Karo dimulai dari munculnya kelompok musik yang beraliran rock pada tahun 1997 yaitu Rockaro yang proses penggarapan nya lebih ke genre rock dan blues. Pada era tahun 90 lahir beberapa grup musik yang beraliran rock yang diantaranya Aidi Maka ( Berastagi ) Hiltom Band ( Kabanjahe ), Lamrose ( Kabanjahe ). Pada era tahun 2000-an lahirlah band M‟clarock (Kabanjahe) yang mengusung genre klasik rock. Grup-grup rock ini yang banyak membuat perkembangan Musik Rock dan membawa Musik Rock dari satu panggung ke panggung lainnya. Meskipun pada tahun-tahun sebelumnya sudah ada beberapa grup band dengan genre pop antara lain The Giant, Ginbers, dan Rudang Grup.
M‟clarock adalah salah satu grup musik yang beraliran rock yang dikenal dalam masyarakat Karo. M‟clarock dipandang sebagai salah satu icon musik rock yang menggunakan Musik Barat tetapi dalam lirik dan struktur lagu menggunakan Bahasa Tradisional yaitu Bahasa Karo. Hal itu merupakan dasar bagi M‟clarock dengan harapan agar masyarakat juga dapat menikmati dan menggandrungi lagu- lagu Karo yang dimana dibalut dengan kemasan aliran klasik rock.
Pada tahun 2007 M‟clarock muncul dengan membawa karya dari para legendaris rock seperti Deep Purple, Led Zepplin, Judas Priest, Whitesnake.
Banyaknya event-event musik rock seperti konser dan festival membuat grup musik ini kerap tampil dan menjadi sorotan bagi anak anak muda. Personil dari M‟CLAROCK juga rutin menjadi dewan Juri di ajang festival Band di
Kabanjahe-Berastagi dan juga menjadi pembicara untuk kegiatan musik terkhusus yang beraliran rock.
Kajian mengenai perkembangan Band M‟clarock sejauh yang diketahui belum ada yang meneliti. Oleh karena itu saya sangat tertarik dalam membahas M‟clarock dari segi perkembangannya sehingga penulis ingin memberi judul tulisan ini dengan “Perkembangan Grup Band M‟clarock dan Peranan Band M‟clarock dalam aktivitas social pada masyarakat Karo”.
1.2 Pokok Permasalahan
Berdasarkan pada uraian latar belakang diatas, maka penulis menentukan dua pokok permasalahan untuk mengkaji keberadaan M‟clarock , yaitu sebagai berikut.
1. Bagaimana perkembangan M‟clarock dalam dinamika seni pada masyarakat Karo ?
2. Bagaimana peranan M‟clarock dalam aktivitas sosial masyarakat Karo
?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan adalah menyangkut untuk apa sesuatu hal tersebut kita teliti, sedangkan membicarakan tentang manfaat adalah apa manfaat dari sesuatu yang
1.3.1 Tujuan Penelitian
Secara umum peneliti bertujuan untuk mengetahui atau mengungkapkan objek yang diteliti, ditemukan suatu kesimpulan yang menjadi pemecahan dari suatu masalah yang diteliti antara lain :
1. Untuk mengetahui perkembangan grup band M‟clarock pada masyarakat Kabupaten Karo
2. Untuk mengetahui peranan grup band M‟clarock dalam aktivitas sosial pada masyarakat Karo
1.3.2 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian terhadap masyarakat luar dalam tulisan ini adalah : 1. Sebagai bahan dokumentasi unuk menambah referensi di jurusan
etnomusikologi, tentang salah satu music popular yang berkembang di Kabupaten Karo.
2. Dapat dijadikan data untuk bahan penulisan selanjutnya tentang musik rock
3. Melalui hasil penelitian ini penulis dan pembaca akan mengetahui apa iu musik rock dan bagaimana perkembangan grup M‟clarock di Kabupaten Karo.
1.4 Konsep dan Teori 1.4.1 Konsep
Menurut Mely G.Tan (1990:21), konsep merupakan defenisi dari apa yang akan kita amati, konsep menentukan antara-antara variabel mana yang kita
inginkan, untuk menentukan hubungan empiris. Untuk itu penulis memberikan beberapa konsep dari beberapa kata yang ada dalam tulisan ini.
Menurut Michael Kennedy(1995:325), rock adalah jenis musik popular asli Amerika (Rock and Roll) yang berkembang pada awal tahun 1950-an dan menyebar di seluruh dunia. Ditampilkan oleh kelompok-kelompok musik yang terdiri dari penyanyi, pemain gitar, dan pemain drum, yang biasanya dikontrol secara elektronik. Musik rock biasanya dipentaskan dipanggung.
Menurut Kamien (2004:108), rock merupakan jenis musik yang muncul pada pertengahan abad ke-20 yang memiliki ciri khas pada melodi vokal yang di ikuti oleh iringan gitar elektrik, bass, dan drum dengan irama yang kuat atau keras. Keyboard juga sering digunakan pada musik rock.
Fenomena kejayaan musik populer baru muncul kembali pada tahun 1970 ketika terjadi Asimilasi antara musik pop, rock, jazz, dan musik lainnya sehingga membentuk aliran-aliran hibrid baru musik seperti
Mengenai perkembangan (sejarah) grup musik Rockaro penulis menggunakan konsep yang ditawarkan oleh Garraghan (1957:3) yaitu : “the term history stands for three related but sharply differentiated concepts; (a) past human events; past actually; (b) the record of the same; (c) processor technique of making record”. Menurutnya istilah sejarah memiliki tiga pengertian yang saling berhubungan yaitu : (1) peristiwa-peristiwa di masa lampau; aktivitas yang telah lalu (2) rekaman masalah yang sama pad butir (1); dan (3) proses atau teknik membuat rekaman.
M. Soeharto (1992:86) menyatakan bahwa seni musik adalah pengungkapan gagasan melalui bunyi, yang unsur dasarnya berupa melodi, irama, dan harmoni dengan unsur pendukung berupa bentuk gagasan, sifat dan warna bunyi. Namun dalam penyajiannya, sering masih berpadu dengan unsur-unsur lain seperti bahasa, gerak atau pun warna.
Menurut Sutton (2000:35), musik popular dapat diartikan sebagai sebuah musik yang dikemas, dipromosikan, dan disebarluaskan sebagai bahan dagangan melalui media massa, dengan maksud utama sebagai bahan alat hiburan.
Arti kata rock menurut Shadily (1989:489), rock berarti “batu” yaitu suatu benda keras. Dari sini dapat diartikan bahwa rock adalah musik keras. Menurut Mack (1995:35), rock berarti “mengayukan” yang berarti juga “mengayunkan keras sampai membahayakan sesuatu”. Secara sosiologi menurut Mack (1995:35) juga, rock merupakan sebuah jenis musik yang kebanyakan menggunakan vokal dan alat musik elektronik.
Jenis aliran musik sangat beragam terutama pada musik popular. Musik rock, dangdut, alternative, hardcore, hip hop, metal, punk, dan sebagainya, termasuk dalam kategori musik popular. Perkembangan pada musik juga bisa terjadi, hal ini dapat dilihat dari munculnya jenis musik baru seperti punk rock, yaitu gabungan dari musik rock dan punk. Hip Metal, perpaduan dari musik hip hop dan metal. Begitu juga dengan group band M‟clarock yang memadukan musik klasikrock dengan heavy metal yang tetap menggunakan lirik berbahasa tradisional yaitu bahasa Karo.
Struktur adalah seperti bangunan yang memiliki bagian-bagian yang tersusun (wikipedia.com). Dalam musik rock struktur ini mencakup dimensi waktu seperti meter, fungtuasi ritmik, pola ritem, densitas not, dan lain-lainya.
Kemudian musik rock juga dibentuk oleh dimensi ruang yang terdiri dari nada, wilayah nada, frekuensi nada, melodi, formula melodi, kontour, dan lain-lain.
1.4.2 Teori
Berbagi teori dan metode keilmuan serta pendekatan etnomusikologis dengan didukung dengan pendekatan ilmu-ilmu lainya sangatlah diperlukan untuk mengungkapkan permasalahan yang berkaitan dengan musik sebagai produksi dari tingkah laku manusia.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991:154-155), teori merupakan pendapat-pendapat atau aturan-aturan untuk melakukan sesuatu. Teori adalah sebuah set atau konsep atau construct yang berhubungan satu dengan yang lainnya, suatu set dari proporsi yang mengandung suatu pandangan sistematis dari fenomena Moh Nazir(1988:21). Oleh sebab itu penulis menjadikan teori sebagai suatu landasan untuk menjawab semua permasalahan pokok yang ada.
Untuk melihat sejauh mana perkembangan grup musik M‟clarock sebagai salah satu ikon musik popular yang berkembang pada masyarakat karo. Penulis akan menggunakan teori yang ditawarkan oleh Bruno Nettl (1978:171). Bruno Nettl menawarkan dua pola proses kebudayaan, yaitu modernisasi dan westernisasi. Modernisasi adalah suatu proses pengadaptasian yang menonjolkan tampilan dari barat dengan tujuan untuk memperluas, dengan tidak menggantikan
elemen-elemen utama nya. Westernisasi adalah suatu proses pembaratan, dimana budaya barat telah menjadi budaya tempatan atau asli yang menggantikan elemen- elemen budaya tempatan atau asli tersebut. Perkaitan dengan perkembangan M‟clarock di masyarakat Karo, kedua pola proses perubahan kebudayaan inilah yang diadopsi oleh pemusik dan penikmat musik rock pada masyarakat karo.
Pengaruh modernisasi tercermin dari pola pikir mereka yang menyukai musik rock yang secara nyata bukan berasal dari budaya Indonesia, pengaruh westernisasi tercermin dari perwujudan perilaku sosial dan musikal.
Manuel (1998:2) mengatakan bahwa “kata musik populer telah digunakan secara umum dalam tulisan-tulisan berbahasa Inggris untuk mengartikan musik rakyat dari seni musik yang diasosiasikan dengan kaum elit, kata musik populer ini juga bisa dideskripsikan sebagai bentuk dari musik yang berkembang di abad ini yang mempunyai hubungan erat dengan media massa”. Hal ini semakin memperkuat anggapan penulis bahwa salah satu musik populer yaitu musik rock, memang berkembang melalui media massa ketika suatu masyarakat mengalami proses industrialisasi (dimana musisi sebagai produsen, masyarakat sebagai konsumennya dan sebagai medianya adalah media massa). Akibatnya, tercpita produk budaya yang diproduksi oleh produser untuk kemudian dijual di pasar luas dan diproduksi ulang oleh media massa yang akhirnya dikonsumsi oleh konsumen.
Untuk memperkuat teori bahwa musik rock berkembang di kota-kota besar maupun kota-kota kecil dan menjadi bagian dari kajian Etnomusikologi, Bruno Nettl(1992:380,384) mengemukakan tentang fenomena Etnomusikologi Urban,
yang merupakan suatu studi terhadap budaya kaum minoritas dan musik para imigran. Dalam hal ini dapat dianalisis adalah bahwa gejala urbanisasi memunculkan istilah Etnomusikologi Urban dengan melihat bagaimana telah terjadi transformasi kota dalam konteks budaya individu yang melahirkan budaya sentramultikultural di pusat kota tersebut. Dikaitkan dengan sejarah awal musik rock yang berasal dari musik blues di barat, hal inilah yang terjadi hingga akhirnya musik rock dan perkembangan nya terus berkembang luas termasuk ke daerah tanah karo sebagai salah satu wilayah yang berada di Sumatera Utara.
Untuk membahas bahwa grup band M‟clarock sebagai salah satu grup musik populer yang selalu berhubungan dengan pertunjukkan, media massa dan industri rekaman, Bruno Nettl mengatakan dalam Popular Music of The-Non Western World Manuel(1988:2) bahwa musik populer selalu dikaitkan dengan wilayah perkotaan yang diorientasikan kepada penonton, ditampilkan oleh para professional yang menghargai hasil karya musiknya, mempunyai statistika sendiri tentang musik seni dari suatu budaya yang mulai pada abad ke-20, persebaranya meluas melalui media massa, radio, dan industri rekaman. Jadi jelas bahwa konser-konser musik rock dalam hal ini sering diadakan kaset-kaset industri rekaman yang beredar, dan media massa, yang juga ikut berpartisipasi adalah hal- hal yang mempengaruhi perkembangan musik rock.
Selanjutnya untuk membahas bahwa dalam bidang musik populer menganut “sistem bintang” begitu pula yang terjadi pada musik rock, Manuel (1988:3) mengatakan bahwa “musik populer sering menjadi musik hiburan sekuler/duniawi yang diproduksi dan penggunaanya tidak diasosiasikan secara
intrinsik dengan fungsi-fungsi perputaran kehidupan tradisional yang khusus atau memiliki satu “sistem bintang”, dimana media mempromosikan pengaguman terhadap suatu kepribadian yang populer di sekitar gaya hidup para musisi, fashion, ataupun kehidupan pribadi”. Hal ini bertujuan agar antara musisi dan penggemar memilik jarak dan batas, dimana nantinya akan mengakibatkan rasa ingin tahu yang berlebihan dari penggemar terhadap musisi idolanya itu. Akhirnya media massa pun akan sangat berperan untuk mendekatkan penggemar secara terus menerus tentang semua hal yang dirasa glamour dalam berita-berita terbaru dari “bintang” tersebut dan tentu akan membuat para penggemar akan selalu berfantasi akan kehidupan “bintang” nya itu.
Menurut Mauly Purba dan Ben M Pasaribu (2006:8) , mengenai “sistem bintang” pada musik populer terhadap sejarah munculnya musik rock adalah satu cara untuk mencari kebaruan dengan adanya kebiasaan-kebiasaan dalam musik populer yang diabaikan seperti : ada lagu instrumental, tanpa vokal sama sekali;
ada penyayi atau pemain yang dengan sengaja memilih pakaian jelek atau aksesoris dan rambut yang aneh seolah mengancam; ada lagu yang diambil dari musik klasik atau sumber lain yang tidak akrab dengan kebanyakan pendengar musik populer; ada akor atau ritme yang aneh. Tetapi biasanya keanehan- keanehan ini hanya berfungsi sebagai variasi, dan musiknya tetap jalan sebagaimana biasanya. Begitu pula halnya yang terjadi pada musik rock, banyak hal-hal baru dalam musik dan penampilan para pemusik rock yang menjadi faktor penarik bagi yang melihat atau penikmat musiknya dalam hal ini adalah
“penggemar”. Dimana yang sangat berperan penting sebagai media penghubung adalah media massa, yang mendekatkan “penggemar” dan “bintang” nya.
Dari beberapa teori yang dikemukakan diatas, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa penggemar dari musik rock pada masyarakat karo adalah kebanyakan kaum remaja. Hal ini dikarenakan yang menjadi target bagi media massa dalam hal ini musik sebagai hiburan, kaum muda yang selalu merasa keingin tahuan yang sangat besar, yang beranggapan bahwa musik rock memilik banyak hal-hal baru dalam segi musikal maupun dari segi penampilan dan pertunjukkan musiknya. Hal ini tentunya juga menjadi daya tarik bagi para musisi untuk memainkannya.
1.5 Metode Penelitian
Menurut Moeliono (2005:649) metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki melalui cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang di tentukan.
Sedangkan penelitian merupakan kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesisi untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum (Moeliono, 2005:732).
Dalam melakukan penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian deskriptif yang bersifat kualitatif. Sesuai dengan apa yang ditawarkan oleh Bogdan dan Taylor (1975:5), yang mengatakan bahwa penelitian kualitatif adalah
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Penulis juga menggunakan metode pengukuran alat-alat, misalnya dengan membuat angket, teknik sampling, table atau wawancara berstruktur (Tan, 1990:251). Angket adalah teknik pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden (Soehartono, 1995:65). Daftar pertanyaan yang penulis buat ada yang bersifat pertanyaan bebas (jawaban terbuka) dan pertanyaan tertutup (jawaban tersedia atau pilihan).
Deskriptif menyangkut data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata dan gambar-gambar. Data tersebut antara lain berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, foto, video, dan dokumen lainya.
Untuk mendukung pada pengumpulan data dalam mengambil segala permasalahan serta untuk mengaplikasikan metode yang bersifat kualitatif, penulis akan berpedoman pada displin ilmu etnomusikologi seperti apa yang telah diungkapkan oleh Nettl (1964:63), bahwa ada dua cara kerja etnomusikologi yaitu kerja lapangan dan kerja laboratorium. Demikian juga yang dikatakan Merriam (1964 :39), dimana data dikumpulkan dari lapangan, oleh penyidik dan akhirnya dianalisis di laboratorium dan hasil dari kedua metode akan dipusatkan ke dalam suatu studi akhir.
1.5.1 Studi Kepustakaan
Untuk mencari teori, konsep, dan juga informasi yang berhubungan dengan tulisan ini, yang dapat dijadikan landasan dalam penelitian penulis terlebih
dahulu melakukan studi kepustakaan untuk menemukan literatur atau sumber bacaan yang dibutuhkan dalam melakukan penelitian lapangan.
Sumber bacaaan yang dilakukan dapat berasal dari penelitian luar maupun peneliti dari Indonesia sendiri. Selain bacaan yang dapat berupa majalah atau Koran, bulletin, buku ilmiah, jurnal, skripsi sarjana, tesis, berita dan lain-lain penulis juga menggunakan artikel-artikel penulis dapat dari beberapa situs internet dan buku-buku yang dianggap cukup relevan dengan topik permasalahan dalam penelitian ini, terutama yang menyangkut pada analisis deskriptif musikal dan kebudayaan. Buku-buku tersebut antara lain adalah, Musik Populer, terbitan Lembaga Pendidikan Musik Nusantara (LPSN) yang ditulis oleh Mauly Purba dan Ben M. Pasaribu, 2006;Recent Dictionary in Ethnomusicology, tulisan Bruno Nettl, 1992;Music Culture of the Pacific, the Near East, and Asia yang ditulisoleh William P. Malm, 1977; serta buku-buku lain yang dianggap relevan dengan topik penelitian ini.
1.5.2 Pengumpulan data di lapangan
1.5.2.1 Observasi
Pengumpulan data dengan cara observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan. Metode observasi menggunakan kerja pancaindera mata sebagai alat bantu utamanya selain pancaindera lainnya seperti telinga, penciuman, mulut dan kulit (Burhan Bungin, 2007:115).
Kerja lapangan berkaitan dengan penulis dapatkan lewat cara observasi langsung ke lapangan, yaitu mengunjungi kediaman personil grup band M‟clarock dan melihat suasana latihan yang dilaksanakan oleh grup band M‟clarock begitu juga dengan saat grup band M‟clarock melakukan pertunjukan. Hal itu dilakukan agar mendapat komunikasi yang baik dengan personil grup band M‟clarock demi mendapatkan infromasi yang lebih baik lagi.
Selama melakukan penelitian, penulis tidak begitu mendapatkan kesulitan yang cukup berarti. Khususnya dalam menyesuaikan diri dengan bahasa serta kebiasaan-kebiasaan yang ada di lingkungan objek yang diteliti. Penulis dapat menyesuaikan diri dengan mudah karena sama sama berkebudayaan Suku Karo dan terlibat dalam band tersebut. Hal tersebut membuat peneliti menjadi lebih mudah untuk mendapatkan informasi.
1.5.2.2 Wawancara
Wawancara menurut Soeharto (1995:67) adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan langsung oleh pewawancara (pengumpul data) kepada responden (informan) dan jawaban-jawaban responden akan dicatat atau direkam dengan alat perekam. Wawancara adalah satu-satunya teknik yang digunakan untuk memperoleh data tentang kejadian yang tidak dapat diamati secara langsung.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan wawancara jenis riwayat secara lisan (Moleong, 1999:137). Wawancara ini dimaksudkan mewawancarai sang informan kunci secara mengalir tanpa adanya draft pertanyaan yang disusun.
Wawancara tidak terkesan kaku melainkan terkesan santai seperti pembicaraan sehari-hari baik pun pertanyaan tersebut belum dibuat hanya sebatas bertanya saja mengenai latar belakang M‟clarock di Karo.
Dalam rangka mewawancarai personil-personil dari grup band M‟clarock penulis menggunakan metode secara langsung, mendalam, terstruktur secara umum, dan kemudian mengembangkannya menurut arah dan jawaban-jawaban yang diberikan oleh informan kunci yaitu personil grup band M‟clarock .
1.5.2.3 Rekaman
Dalam penulisan ini penulis menggunakan beberapa instrumen pendukung antara lain kamera digital merk Canon EOS 600D dan Ipad. Kamera digunakan untuk pengambilan gambar pada saat wawancara dan Ipad digunakan untuk merekam proses wawancara dan saat masa observasi/ penelitian lapangan. Tidak lupa juga membawa catatan untuk mencatat hal-hal yang penting mengenai grup band M‟clarock khususnya latar belakang dari grup musik tersebut.
Bahan-bahan yang berbentuk gambar penulis simpan dalam bentuk fornat visual dan ditransfer ke dalam bentuk jpg, untuk memudahkan mengedit dan menyisipkan gambar ini. Selanjutnya gambar di insert ke dalam kata-kata yang terdapat dalam file yang berformat Microsoft Word.
Data lagu atau musik dibeli dari rekaman komersial, Sebahagiannya juga di download dari akun milik M‟clarock .
1.5.3 Kerja Laboratorium
Informasi dan bahan yang dikumpulkan dan diperoleh dari studi kepustakaan dan hasil penelitian lapangan kemudian diolah, diseleksi, dan disaring dalam kerja laboratorium untuk dijadikan data sesuai dengan objek penelitian untuk penulisan skripsi. Data yang dipergunakan untuk penulisan skripsi ini adalah data-data yang sesuai dengan kriteria displin ilmu etnomusikologi.
1.6 Lokasi Penelitian
Lokasi Penelitian berada di Kota Kabanjahe secara keseluruhan. Untuk meneliti tentang informasi grup band M‟clarock, peneliti memilih meneliti di tempat persinggahan M‟clarock di jalan Katepul Kabanjahe. Dan untuk meneliti pertunjukan dari grup band M‟clarock peneliti melakukan penelitian di Kantor DPRD Kabupaten Karo yang dimana berlangsung acara musik rock yang dipelopori oleh komunitas Kabanjahe Rock Musicians.
BAB II
GENRE MUSIK ROCK 2.1 Asal Usul Musik Rock
Di dalam The Dictionary of Music and Musicians (Sadie 1979:111), perjalanan sejarah perkembangan musik rock di dunia dimulai sejak Perang Dunia II usai, yaitu sejak tahun 1940-an di Amerika. Ketika itu jutaan penduduk dari daerah-daerah terpencil di Amerika melakukan urbanisasi ke kota-kota desa dengan tujuan mencari pekerjaan untuk meneruskan hidup mereka. Mereka yang datang ke kota-kota besar dengan tujuan mencari pekerjaan untuk meneruskan hidup mereka. Mereka yang datang ke kota-kota besar ini terdiri dari berbagai macam suku dengan membawa kebudayaan musik mereka masing-masing. Orang kulit putih dengan musik countrynya dan orang kulit hitam membawa “black music”-nya (rhytm and blues).
Musik mereka terus berkembang dengan ciri khas masing-masing. Kedua aliran musik ini akhirnya melahirkan “bintang-bintang” dengan gaya musik masing-masing. Selanjutnya muncul pula aliran-aliran baru akibat perpaduan dari kedua jenis musik mereka tadi, seperti folk rock, rock and roll, blues country, jazz rock, dan sebagai nya (Chase 1982:619:638). Musik para musisi ini dapat didengarkan di radio-radio, juke-boxes, dan kaset-kaset rekaman mereka yang beradu di pasaran. Musik ternyata telah menjadi bagian hidup para imigran tersebut dalam menjalani hidup-hidup sehari-hari ketika bekerja dan istirahat.
Musik rock yang berkembang di kota-kota besar di Amerika ini akhirnya telah menjadi budaya baru yaitu budaya urban bagi masyarakat kota yang sangat heterogen seperti yang dikatakan Nettl tentang lahirnya budaya sentramultikultural akibat dari transformasi kota di pusat-pusat kota besar.
Menurut Chase (1992:631), pada tahun 1955 ada kelompok musik kulit putih yang mulai diperhitungkan keberadaan nya yaitu Bill Hekey (The comets), juga muncul musisi rock kulit putih seperti T-Bone Walker, Chuck Berry, dan Richard yang akhirnya mampu memberikan pengaruh yang besar terhadap munculnya kelompok-kelompok musisi rock baru yang berasal dari Inggris seperti The Beatles dan Rolling Stones. Pada tahun 1960-an muncul nama-nama baru dalam dunia musik rock, diantara nya Amerika adalah Janis Joplin dengan kelompok Big Brother nya-nya, Jefferson Airplane, The Grateful Dead, The Byrds, The Who, The Doors, Pink Floyd, Bob Dylan, Rod Stewart, Eric Clapton, dan lainya. Pada masa 1970-an ada Kiss, Deep Purple, Black Sabbath, Judas Priest, Sex Pistols, David Bowie, Bruce Springsteen, dan lain sebagainya.
Memasuki Era 1980-an, semakin banyak musisi baru yang muncul dengan berbagai macam sub aliran lagi sebagai pecahan dari aliran musik rock, diantaranya Metallica, The Ramones, The Misfits, The Damned, Motley Crue, Social Distortions, Twisted Sister, Pantera, The Clash, Black Flag, Guns n‟ Roses, U2, Bonjovi, dan sebagai nya. Ketika di era 1990-an semakin banyak lagi sub-sub aliran baru di musik rock seperti metal, hardcore, grunge, grind core, death metal, metal core, progressive metal, dan sebagainya yang melahirkan “bintang-
Slipknot, Misery Index, Dream Theater, dan sebagainya. Dan diawal tahun 2000 muncul band baru seperti Incubus, Linkin Park, System of a Down, Static X, dan lain sebagai nya.
Asal usul dan perkembangan dari musik rock ini tentunya tidak terlepas dari media-media populer yang sangat besar peranan nya dalam menyebar luaskan informasi mengenai musik rock sebagai salah satu musik populer yang sedang berkembang di dunia. Hingga musik rock tersebut dapat diterima dan berkembang pada masyarakat di luar tempat musik rock tersebut berasal.
2.2 Masuknya Musik Rock di Karo Dalam Konteks Indonesia
Memasuki era globalisasi hampir seluruh dunia mengalami pengaruh ekspansi budaya. Indonesia adalah salah satu negara yang menjadi objek pengaruh ekspansi budaya yang berasal dari barat. Hampir seluruh kegiatan hidup manusia sehari-hari di Indonesia telah menerima pengaruh tersebut, tidak terkecuali dalam selera musik
Akibatnya muncul satu trend bahwa ada kecendrungan pada kalangan remaja indonesia lebih menyukai hal-hal yang datang dari luar, termasuk juga selera musik. Seperti yang dikemukakan oleh Manuel (1988:8) diantara nya, benarkah produk-produk musik dianggap sebagai ekspresi yang tumbuh dan mengakar secara murni dan kesadaran estetika, ideologi, maupun aspirasi individu, kelompok etnis, ataupun kelas sosial.
Sebelum penulis menjelaskan tentang masuknya musik rock ke karo, terlebih dahulu penulis akan menjelaskan sedikit sejarah tentang musik rock sebagai pionir musik „keras‟ di Indonesia secara umum.
2.2.1 Masuknya Musik Rock sebagai Cikal Bakal Musik Rock di Indonesia
Masuknya musik rock di Indonesia berawal sekitar tahun 70-an, melalui pengaruh band-band seperti Giant Step, God Bless, Gang Pengangsaan, Gypsy, Super Kid, Rawa Rontek dan masih banyak lainya. Namun, jauh sebelum band- band tersebut booming sudah pernah ada band beraliran jazz rock yang bermarkas di Bandung pada tahun 1967 dan bahkan populer sampai tahun 1980-an, nama band tersebut adalah The Rollies.
Seiring dengan perkembangan musik rock yang sangat pesat, kemudian muncul lah sebuah istilah yang dikenal dengan sebutan underground. Istilah tersebut digunakan oleh sebuah majalah musik untuk mengelompokkan band- band yang memainkan tempo musik keras dengan gaya yang lebih liar dan ekstrim. Semenjak saat itu, mulai ada perusahaan rekaman yang memproduksi karya mereka, dan label rekaman musik rock pertama di Indonesia adalah Logiss Records. Salah satu produk rekaman label ini adalah album milik God Bless berjudul “Semut Hitam” yang dirilis pada tahun 1988, dan terjual sampai 400.000 keping kaset di Seluruh Indonesia.
Berlanjut ke akhir tahun 80, dimana band rock yang lahir dari jaman dimana banyak digelar festival-festival musik rock untuk menjaring band-band
yang berkualitas seperti festival musik rock se-Indonesia yang digagas dan diproduseri oleh Log Zhelebour.
Di dekade ini musik rock Indonesia mulai mencari bentuknya, dimana dulunya tidak bisa melepaskan pengaruh dari band-band luar negeri dalam setiap warna musiknya, maka di era-80an musik yang dihasilkan para musisi lebih beraroma Indonesia.
Walaupun tidak seramai genre musik pop, solois rock Indonesia lebih banyak dibanding band dalam meramalkan dunia rekaman musik Indonesia, mungkin karena lagu yang para solois nyanyikan berirama pop rock yang lebih mudah diterima semua kalangan dibandingkan daripada grup band.
Untuk menyalurkan hasrat para band-band rock yang membawakan lagu- lagu bertema hard rock/heavy metal, maka jalur festival dipilih yang kala itu sedang gencar-gencarnya diselenggarakan promotor baik yang lokal maupun skala nasional.
Banyaknya festival-festival yang digelar baik yang skala lokal maupun nasional telah memberi keuntungan banyak bagi para musisi daerah untuk berkiprah di dunia rekaman. Di era ini musik rock yang berkembang kala itu seiring dengan perkembangan musik rock dunia mainstream yaitu hard rock/heavy metal dan pop rock, sedangkan thrash metal belum terlalu berkembang.
Band-band rock Indonesia yang terkenal pada tahun 80-an antara lain : Elpamas,
band ini telah mempunyai penggemar yang sangat banyak karena mereka telah menghasilkan beberapa album rock yang sukses di pasaran.
Berlanjut ke era 90-an, dimana di awal tahun 90-an banyak sekali band- band rock yang menghasilkan album-album yang sukses secara komersil. Band- band rock mendapat tempat di mata para produser rekaman, dimana hal itu adalah suatu hal yang jarang mereka dapatkan di era tahun sebelumnya. Hal itu tak lepas dari jasa promotor musik Log Zhelebour yang konsisten di jalur musik rock dalam mengeluarkan album. Pada saat grup band Power Metal yang berasal dari kota Surabaya ini, grup band tersebut mengeluarkan album pertama dan sukses di pasaran. Hal ini menunjukan bahwa di Indonesia ada dua warna kubu besar musik rock Indonesia, kubu Surabaya sekitarnya dan kubu Jakarta sekitarnya.
Musik rock yang dibawakan musisi-musisi dari kubu Jakarta dan sekitarnya lebih banyak mendapat pengaruh dari band-band kondang dari Amerika Serikat seperti blues rock, country, hard rock, thrash metal seperti grup band Van Hallen, band-band glam rock seperti Poison, Motley Crue, Guns N‟Roses serta thrash metal seperti Metallica dan Anthrax. Di era ini pula konser band-band rock ternama Indonesia ramai di seluruh Indonesia seiring dengan album-album rekaman yang mereka hasilkan.
Band-band rock ternama yang sukses dengan albumnya pada era ini antara lain : Power Metal, Godbless, Elpamas, Grass Rock, Slank, U‟Camp, Boomerang, Jamrud, Whizzkid, /rif, Power Slaves, Edane, Roxx, Pas Band, Netral. Sedangkan untuk penyanyi-penyanyi solo yang terkenal pada era ini antara lain : Ahmad
Albar, Andy Liany, Anang Hermansyah, Nicky Astria, Mel Shandy, Nike Ardila, Inka Christy, Poppy Mercury.
2.2.2 Masuknya Musik Rock Di Karo
Karo sebagai salah satu wilayah dataran tinggi di Sumatera Utara, juga menerima perkembangan arus modernisasi dalam perkembangan musik, terutama musik rock.
Musik rock mulai menyebar ke Karo sekitar pada tahun 1990-an. Pada waktu itu, banyak remaja Karo yang mulai menekuni kegemaran baru yaitu bermain musik rock, terinspirasi dari anak-anak muda Jakarta yang juga sedang banyak mengemas grup musiknya beraliran rock. Mereka mulai membentuk kelompok musik rock dan berusaha tampil di berbagai konteks pertunjukkan yang di selenggarakan di wilayah Kabanjahe dan Berastagi. Perkembangan musik rock di Karo pada tahun 1990-an, ditandai banyaknya bermunculan kelompok- kelompok musik rock seperti Rockaro, Hiltom Band dan Lamrose. Di tahun 2007 muncul grup band rock M‟clarock. Kehadiran mereka ternyata telah membangkitkan semangat bermusik di kalangan anak-anak muda di Karo. Bahkan mereka juga telah berhasil mendapatkan penggemar yang membentuk kelompok masing-masing terhadap musisi yang di idolakanya tersebut. Hal ini terbukti ketika diadakan pertunjukkan musik rock pada waktu itu, para penggemar selalu bersikap fanatik dan antusias dengan teriakan-teriakan yang histeris ketika musisi idola mereka tampil. Biasanya juga, ketika para musisi Karo tersebut tampil pada satu pertunjukkan musik rock, mereka selalu membawa suporter dan penggemar.
Berdasarkan observasi dan wawancara dengan beberapa informan, maka penulis mendapat data-data yang berhubungan dengan perkembangan musik rock di Karo. Kelompok musik M‟clarock terbentuk atas ide-ide dari personil band yang memiliki satu pemikiran dan tujuan yang sama dengan maksud membuat satu kelompok musik yang beraliran classicrock, hal ini dikarenakan hampir semua personil M‟clarock menggemari karya Deep Purple, Judas Priest, LedZepplin . Dari kesepakatan bersama M‟clarock tampil dengan warna classicrock dan memulai karir band tersebut sejak tahun 2007. Selain itu M‟clarock berharap agar musik yang mereka kemas dapat diterima dan digemari masyarakat luas dan bisa bermusik sampai hari tua (seperti yang dikatakan Petra Jaya Purba, salah satu informan penulis ). Informasi yang saya dapat dari Edy Rock Depari (salah satu informan penulis) bahwa pada tahun 2007 Petra Jaya Purba (Vokalis grup band M‟clarock), Edy Rock Depari (Bassist grup band M‟clarock), Inonk Kaban (Gitaris grup band M‟clarock) dan Budi Purba (Drummer grup band M‟clarock) resmi membentuk grup musik M‟clarock.
Berawal dari diri masing-masing yang sangat menyukai musik rock sejak masih duduk di bangku sekolahan hingga sampai sekarang saat ini.
Pesatnya informasi tentang musik dari luar negeri cukup memberi pengaruh terhadap band M‟clarock. Sehingga menyebabkan band tersebut memiliki banyak referensi lagu-lagu pamungkas untuk tampil di setiap pertunjukan. Dari panggung ke pangung M‟clarock selalu membawakan karya dari Deep Purple yang berjudul Burn. Lagu Burn selalu menjadi lagu pertama di
suasana penonton dan penggemarnya. Nuansa musik yang berbeda dari band band pendahulu mampu membuat M‟clarock sangat cepat dikenal oleh masyarakat.
Dan mereka tidak hanya menampilkan musik rock, penampilan dari segi kostum juga sangat berperan penting dalam mengemas tampilan M”CLAROCK sendiri.
Menurut sang pemain bass pada band M‟clarock alasan mereka membuat nuansa musik rock pada setiap lagu yang mereka nyanyikan adalah agar musik di Karo menjadi lebih berwarna dan tidak monoton apalagi dengan kehadiran Keyboard tunggal di masa itu.
Personil M‟clarock juga sering dipercayai menjadi Juri di ajang Festival Band di Karo dan juga menjadi Bintang tamu di acara acara pertunjukan musik.
Gambar 2.1 Cover Grup Band M‟clarock
Gambar 2.2 Personil M‟clarock saat menjadi juri di festival band
Perkembangan band M‟clarock ditandai dengan adanya pertunjukan- pertunjukan musik, festival band, dimana pada acara tersebut tersebut tampil pula, band-band yang beraliran rock seperti band Rockaro (berastagi) Zigma (berastagi) Zogality (kabanjahe) dan lain-lain. Walaupun nuansa musik rock yang dipertunjukkan oleh setiap band berbeda-beda.
Salah satu yang menjadi faktor dalam perkembangan musik rock di Tanah Karo adalah studio musik, baik itu studio latihan ataupun studio rekaman. Ada beberapa studio musik di Tanah karo khususnya kota Kabanjahe dan Berastagi yang menjadi tempat berkumpulnya band band di Tanah Karo, diantaranya seperti D‟Bee Studio di Berastagi, D‟Merrel Studio (Berastagi), Studio 5 (Kabanjahe), Paung Studio (Kabanjahe),Sibayak Studio (Kabanjahe), dan Pita Studio (Kabanjahe) dan Studio Deje (Kabanjahe) untuk rekaman.
BAB III
PERKEMBANGAN M’CLAROCK PADA MASYARAKAT KARO
Pada bab ini penulis akan memaparkan pembahasan dari beberapa hal yang menjadi pokok permasalahan yang telah penulis tetapkan di bab I. Pokok permasalahan tersebut antara lain bagaimana Perkembangan Band M‟clarock dalam dinamika seni pada masyarakat Karo.
3.1 Perkembangan Musik Rock pada Masyarakat Karo
Perkembangan musik rock pada masyarakat karo menurut penulis bisa dilihat dari hal-hal yang berhubungan dengan musik rock itu sendiri. Untuk memperkuat anggapan tersebut, penulis menggunakan konsep yang ditawarkan oleh Garraghan (1957:3) menurutnya, istilah sejarah memiliki tiga pengertian yang saling berhubungan yaitu : (1) peristiwa-peristiwa pada masa lampau;
aktivitas yang telah lalu; (2) rekaman masalah yang sama pada butir (1); dan (3) proses atau teknik membuat rekaman.
Dengan berpedoman pada hal-hal diatas, penulis akan mendeksripsikan perkembangan musik rock dimulai dari munculnya kelompok musik rock dengan berbagai latar belakang mereka masing-masing. Yang mana penulis juga akan memaparkan beberapa hal-hal yang penulis anggap masih relevan dengan pokok permasalahan antara lain., siapa yang memainkan musik rock dan apa alasan mereka memainkan musik rock; dimana atau pada momen apa saja musik ini biasa dimainkan; bagaimana proses pengerjaan atau penciptaan lagu pada
eksis di Tanah Karo untuk penulis teliti), sampai pada strategi pemasaran yang dilakukan oleh kelompok musik rock ini dalam memproduksi album mereka.
Musik rock di Karo dimulai dari munculnya kelompok musik yang beraliran rock pada era tahun 90 diantara nya adalah Hiltom Band (Kabanjahe), Lamrose (Kabanjahe). Mereka lah musisi-musisi rock yang banyak membuat perkembangan musik rock pada masyarakat Karo. Di era selanjutnya pada tahun 1997 lahirlah grup musik Alloy band yang sekarang menjadi Rockaro, dan di tahun 2007 lahirlah M‟clarock yang berasal dari Kabanjahe dan proses penggarapan musik nya lebih ke genre klasikrock dan heavy metal.
Penulis memilih grup band M‟clarock sebagai objek dari penelitian yang penulis lakukan. Yang mana menurut anggapan dari beberapa sumber yang penulis wawancarai, grup musik M‟clarock ini adalah grup musik rock yang keberadaannya sudah diakui oleh kaum-kaum seniman karo lainnya dan juga khususnya masyarakat karo itu sendiri. Hal ini dibuktikan dengan M‟clarock yang mulai terkenal pada awal terbentuk hingga sampai sekarang juga M‟clarock masih sangat dikenal luas oleh masyarakat bukan cuman masyarakat Karo melainkan juga masyarakat yang bukan berkultur Karo.
Seperti yang penulis jelaskan, bahwa kelompok musik M‟clarock lahir dengan latar belakangnya masing-masing. Latar belakang yang penulis maksudkan di sini adalah proses dari terbentuknya kelompok musik tersebut. Dari beberapa observasi yang penulis lakukan terhadap beberapa personil band M‟clarock penulis penemukan bahwa, M‟clarock merupakan salah satu band yang
membawa genre musik klasikrock ke dalam tanah karo dengan konsep bahasa tetap menggunakan bahasa tradisional yaitu bahasa Karo tetap untuk struktur musiknya menggunakan Musik Barat.
3.2. Lahirnya Grup Band M’clarock pada masyarakat Karo
Grup band M‟clarock resmi dibentuk pada tahun 2007. Pada awalnya Grup Band ini terdiri atas Petra Jaya Purba (vokalis), Inonk Kaban (gitar), Budi Purba (Drum), dan Edy Rock Depari (bass). Nama “M‟clarock” sendiri adalah singkatan dari Masyarakat Classic Rock.
Seperti yang telah diketahui group band M‟clarock di tahun 2010 Budi Purba selaku drummer mundur karena banyak kesibukan dan digantikan oleh Lias Damenta Barus sebagai Drummer M‟clarock. Di penghujung tahun 2011 posisi gitar yang sebelumnya Inonk Kaban juga digantikan oleh generasi muda yaitu Talenta Erixon Ginting. Personil M‟clarock untuk saat ini adalah Petra Jaya Purba (vokal), Talenta Erixon Ginting (gitar), Edy Rock Depari (bass), Lias Damenta Barus (drum).
Gambar 3.1 Grup Band M‟clarock
Petra Jaya Purba yang dikenal dengan nama Japur yang lahir pada tanggal 15 mei 1966 ini adalah salah satu pendiri band M‟clarock. Awal Japur menjadi seorang vokalis, Japur memang sangat suka bernyanyi bersama teman-teman dan sering ngejam bareng di studio musik dengan teman-teman membawakan berbagai macam lagu-lagu rock di saat melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di salah satu universitas di Yogyakarta.
Sejak kecil Beliau memang pecinta berat seni musik dan juga dunia olahraga yaitu sepakbola. Japur selalu mengikuti tren musik dunia, bahkan waktu musik rock sedang naik daun, yaitu di awal tahun 80 saking gandrungnya Japur pada idolanya , pada zaman kaset yang susah di dapat tidak seperti pada zaman sekarang, hampir setiap malam Beliau berusaha mendengarkan lagu rock di siaran
radio seperti Deep Purple, Led Zeppelin, Judas Priest, Rolling Stones, dan sebagainya.
Di sini Japur mulai menyadari kalau dia memang punya ketertarikan untuk bernyanyi di bidang vokal dan belakangan Beliau berinisiatif membentuk sebuah band yang beraliran rock dan dengan proses yang panjang akhirnya beliau bisa menjadi vokalis di tahun 2007 dan sampai akhirnya Beliau membentuk sebuah band yang bernamakan M”CLAROCK.
Gambar 3.2 Petra Jaya Purba ( Vokalis M‟clarock )
Gambar 3.3 Saat penulis melakukan wawancara dengan personil band M‟clarock
Talenta Erixon Ginting atau yang lebih sering dikenal dengan nama Talent Freeman lahir di Kabanjahe pada tanggal 31 Mei 1992 ini adalah salah satu personil band M‟clarock yang merupakan Gitaris dari band M‟clarock tersebut.
Talent menyukai musik sejak kecil dan mulai belajar gitar sejak kelas 4 SD. Awal mulanya beliau tertarik bermain musik bukan dari gitar melainkan karena gagal menjadi pemain drumband di sekolah dasarnya dikarenakan Sang ibunda tidak mengijinkan untuk ikut drumband dikarenakan jika lama berdiri, kaki Talent langsung naik betis. Ibunda Talent berprofesi sebagai pedagang di pusat pasar Kabanjahe. Disinilah awalnya Talent mengenal gitar, karena tidak diijinkan ikut latihan drumband Talent terus menangis sehingga Bapak Ropo (pedagang Di
tangisan talent, kemudian dia memanggil talent dan dia mengajari talent dasar dasar untuk bisa bermain gitar agar tidak menangis. Setiap pulang sekolah Talent jadi rajin ke toko ibunya berjualan agar bertemu dengan bapak ropo. Di tahun 2007 untuk pertama kalinya bermain band di ajang festival band pelajar dan berhasil mendapatkan juara 2 dan menjadi the best guitar, hampir setiap festival Talent dan bandnya mendapatkan juara dan the best guitar dan Edy rock Depari di saat itu sering menjadi juri festival dan sering melirik Talent akan kepiawaiannya bergitar. Di Tahun penghujung 2011 Talent resmi masuk dalam grup band M‟clarock, di tahun itu Talent juga di terima di Perguruan Tinggi Universitas Sumetera Utara jurusan Etnomusikologi. Disnilah Talent memperdalam ilmu dalam bermusik.
Talent sangat mengidolakan band rock papan atas Dream Theater terutama gitaris dari band rock tersebut yaitu Jhon Petrucci. Untuk band rock dalam negeri Beliau sangat menyukai Slank dan beliau sangat tertarik dengan permainan gitar dari Pay Siburian (BIP) , Eet sjahranie (edane) , Ian Antono (Godbless), Abdee Negara (Slank).
Talent berinisiatif membuat album M‟clarock yang beraliran rock tetapi tetap menggunakan bahasa tradisional Karo, karena Talent sangat terinspirasi dari band band Rock legendaris dunia dan ingin menggunakan jenis musik yang dimainkan secara klasikrock tetapi masih tetap menggunakan bahasa daerah nya sendiri yaitu Bahasa Karo. Hingga pada tahun 2016 M‟clarock mencoba membuat karya album yang pertama.
Gambar 3.3 Talent Erixon Ginting (Gitaris band M‟clarock) saat penulis tampil bersama M‟clarock
Lias Damenta Barus lahir di Kabanjahe pada tanggal 9 Oktober 1987 ini adalah salah satu personil band dari M‟clarock yang merupakan penabuh drum pada grup band tersebut. Mulai menyukai musik di bangku SMP, awalnya beliau dulu tertarik dengan musik disaat di sekolahnya menyelenggarakan pentas seni, dari situ dia mulai mempelajari drum. Lias juga sering tampil dengan berbagai grup, setiap festival band lias juga kerap mendapatkan The Best Drum dan setiap festival band berlangsung Edy Rock juga sering menjadi juri dan selalu melirik Lias. Di tahun 2009 Lias resmi menjadi drummer M‟clarock.
Lias sangat terinspirasi dengan Mike Portnoy , salah satu drummer legendaris yang berada di dalam grup band Dream Theater. Beliau mempelajari musik-musik rock dengan cara mendengarkan radio, kaset, dvd, dan youtube.
Disamping bermain drum, Lias juga gemar melukis dan pernah masuk perguruan tinggi Universitas Medan jurusan Seni Rupa.
Gambar 3.4 Lias Damenta Barus (Drummer band M‟clarock)
Disamping ketiga pemain diatas ada salah satu personil band M‟clarock yang memegang Bass ialah Edy Rock Depari sering di panggil Tua Edy . Lahir di Kabanjahe 22 mei 1965 , seorang pioner pendiri M‟clarock yang sudah menggandrungi bermusik rock di Yogyakarta , dan sempat menjadi anggota
komunitas Yogyakarta Rock Musicians.
Di tahun 2002 kembali ke tanah kelahiran Kabanjahe setelah menyelesaikan studi di salah satu Universitas di Yogyakarta dan menyandang gelar Sarjana Hukum. Kabanjahe salah satu daerah yang menurutnya
setelah menetap di Kabanjahe , beliau kerap di undang menjadi juri di acara acara pertunjukan music seperti Festival Band Amzakur, Festival Pemuda, Festival Band antar sekolah dan sebagainya.
Dalam perkembangan musik rock di Karo , sosok Tua Edy sangat berpengaruh . Tua Edy yang sangat karismatik dan selalu memakai aksesoris gelang serta rantai rantai di celana membuatnya gampang dikenali karena pada umumnya di Karo terkhusus di Kabanjahe seusia beliau sudah sangat jarang yang bergelut di bidang musik.
Edy rock juga kerap menjadi pembicara di kegiatan kegiatan musik, memberi pemahaman akan music rock dan mengubah mindset generasi muda jika musik rock itu ekspresi bukan semata bermusik karena music rock diyakini bisa mengubah peradaban dunia.
Usia beliau yang sudah berumur tidak menggoyahkan semangat bermusiknya
Gambar 3.5 Edy Rock Depari (Bassist band M‟clarock)
3.3 Proses Pengerjaan Lagu dan Strategi Pemasaran Album
Proses pengerjaan lagu dan strategi pemasaran album pada grup musik M‟clarock merupakan hal menarik bagi penulis untuk diteliti. Karena setiap kelompok masih memiliki cara tersendiri dalam proses pengerjaan lagu dan memasarkan album mereka.
Gambar 3.6 Cover Album Perdana M‟clarock yang bertajuk 8+1 pada tahun 2018
3.7 Album Parade Rock Tanah Karo yang pertama kali dan didalamnya M‟clarock mengisi 2 lagu yang berjudul Rawin Jemba dan Tensi
3.3.3.1 Proses Pengerjaan Lagu Grup Band M’clarock
Dari hasil wawancara yang penulis lakukan kepada Edy Rock (bassist band M‟clarock ), ternyata banyak cara yang dilakukan oleh grup band M‟clarock dalam menciptakan sebuah komposisi musik atau lagu. Diantaranya M‟clarock membuat lagu dengan cara ber-jamsession di studio musik, awalnya Talent membuat kerangka kerangka musik dan setelah itu dimainkan di studio latihan, setelah itu baru mencoba menggabungkan semua instrument. Pada Album pertama “8+1” sudah menggunakan teknologi komputer untuk merekam musik suatu nada, part demi part hingga tercipta sebuah kompoisi musik yang sudah jadi.
Melihat hal tersebut, penulis tertarik untuk mengikuti proses pengerjaan lagu yang
dilakukan oleh grup musik M‟clarock yang mana mereka telah menggunakan teknologi komputerisasi untuk mempermudah proses pengerjaan lagu pada musik mereka.
3.2.2.2 Strategi Pemasaran Kaset/CD Album Grup Band M’clarock
Seperti yang telah kita ketahui, musik rock yang merupakan salah satu musik populer yang berkembang di Karo tentunya tidak terlepas dari kegiatan industri. Mulai dari proses produksi, pendistribusian hingga proses pemasaran suatu produk musik dalam bentuk album kaset atau CD.
Dalam industri musik tanah air, ada dua jalur yang kerap kali menjadi pertimbangan bagi grup-grup musik dalam menentukan langkahnya ke arah industri musik, yaitu jalur indie lable dan major lable.. Yang mana masing- masing jalur memiliki konsep yang berbeda
Tidak di pungkiri memang, citra major lable sangat lah buruk di mata band-band indie lable di Tanah Karo khususnya. Hal ini membuat mereka tidak ingin hanyut dengan arus sentralisasi Ibukota yang sangat di sulit di tembus oleh band-band lokal dari daerah luar ibukota Jakarta. Pernyataan ini penulis dapatkan dari beberapa informan di Kabanjahe dan Berastagi yang penulis jumpai secara langsung.
Dalam memproduksi dan memasarkan sebuah album musik dalam bentuk CD atau kaset, biasanya ada cara-cara tersendiri yang dilakukan oleh grup-grup musik untuk bisa menarik perhatian pasar sehingga kaset atau CD album
mereka dalam beraktivitas. Banyak hal yang bisa mereka buat selain hanya sekedar mempromosikan musik mereka kepada publik. Mereka lebih memanfaatkan potensi-potensi dari sumber daya manusia yang ada di sekelilingnya. Seperti hal nya pada kelompok musik M‟clarock, mereka mampu membentuk sebuah tim produksi yang di dalam nya ada beberapa teman-teman mereka yang memiliki keterampilan dalam bidang musik recording, desain grafis sampai dengan bidang percetakan. Hal ini sangat berguna bagi mereka pada saat memastering, membuat cover album, hingga membuat pernak pernik seperti baju, bendera, stiker, poster yang di dalamnya ada logo dari band mereka yang mereka desain sendiri.
Gambar 3.8 Salah satu poster yang berlogo M‟clarock
Untuk memasarkan produk-produk mereka dalam hal ini CD album dan merchandise nya, grup musik M‟clarock ini biasanya melakukan kerja sama dengan KABANJAHE ROCK MUSICIANS , PASUKAN TANGAN TINGGI
(komunitas penggemar M‟clarock) dan tempat penjualan kaset dan CD yang ada di kota Kabanjahe dan Berastagi. Selain menitipkan jualkan CD-CD lagunya, mereka juga menawarkan kerja sama dalam hal memproduksi baju dan pernak- pernik lainnya, tentunya dengan kesepakatan bisnis yang sudah mereka setujui sebelumnya. Alhasil, mereka bisa menjual kaset dan CD album mereka bersamaan dengan baju band mereka, seperti setiap pembelian buah baju mereka di beri satu bonus CD atau kaset dari album mereka. Selain itu mereka juga menjual CD album mereka secara langsung atau hand to hand. Bahkan mereka juga menitipkan CD album mereka kepada teman-teman mereka yang ingin membantu memasarkan kaset atau CD album mereka tersebut, walaupun ada yang mengambil persenan dari setiap penjualan ada juga yang tidak.
Gambar 3.9 Baju Berlogo M‟clarock
Proses pemasaran album ini tentunya tidak terlepas dari promosi yang sangat gencar mereka lakukan di cafe-cafe Kabanjahe seperti Lok-lok Cafe, dan
juga Pusat Café. Selain itu mereka juga melakukan promosi album di situs-situs internet seperti facebook.com dan youtube.com dan lain sebagai nya. Hal ini memungkinkan agar lagu-lagu mereka bisa dipromosikan sampai sampai ke luar negeri bahkan ke seluruh dunia. Di situs-situs Internet tersebut mereka sering melakukan “tukar jual” album dengan kelompok-kelompok musik dari luar negeri.
Gambar 3.10 M‟clarock saat mempromosikan album mereka yang berjudul 8+1 di Lapangan Samura Kabanjahe
Gambar 3.11 M‟clarock saat mempromosikan album mereka yang berjudul 8+1 di Hotel Grand Ori Berastagi
Gambar 3.12 M‟clarock saat mempromosikan album mereka yang berjudul 8+1 di acara Magnify Medan
Gambar 3.13 Media online sebagai bagian dari promosi album band M‟clarock yang berjudul 8+1
Dari penjabaran di atas, penulis beranggapan bahwa perkembangan Band M‟clarock di Tanah Karo ternyata memberi dampak positif terhadap masyarakat Karo umumnya, khususnya bagi sebagian kaum remaja Tanah Karo. Dimana kelompok musik M‟clarock yang mayoritas adalah kaum muda, mencoba mengoptimalkan kegiatan musik mereka dengan cara yang mandiri dan
“menghasilkan”. Walaupun musik mereka sulit untuk di nikmati masyarakat awam, tetapi mereka mencoba menuangkan ekspresi dan kreativitas mereka kepada hal-hal yang produktif dan inovatif. Sehingga ini menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian kalangan masyarakat umum di Tanah Karo.
3.4 Tanggapan Masyarakat Terhadap Perkembangan Grup Band MCLAROCK pada Masyarakat Karo.
Berdasarkan angket penulis berikan kepada beberapa mahasiswa, pemusik, penikmat musik, dan beberapa masyarakat umum lainya. Penulis menyimpulkan bahwa penikmat musik M‟CLAROCK adalah kaum anak muda. Ada sebagian orang tua yang pernah mendengar Band M‟clarock tetapi kurang mengetahui apa sebenarnya Band M‟clarock tersebut namun ada juga kaum orang tua yang memang sangat mengidolakan Band M‟clarock. Selain itu M‟clarock juga sering di undang oleh Bupati Karo , untuk berdiskusi dan bermain musik Rock dan juga tampil di acara acara kebudayaan di Karo seperti acara Festival Bunga dan Buah
Gambar 3.15 Antusias masyarakat pada saat acara nongkrong bareng M‟clarock
Dari beberapa pendapat masyarakat diatas, penulis beranggapan bahwa hal tersebut bisa dijadikan tolak ukur bagi penulis untuk mengetahui bagaimana perkembangan Band M‟clarock di Tanah Karo.
3.4.1 Faktor yang mempengaruhi Perkembangan Band MCLAROCK pada masyarakat Karo.
Perkembangan Band M‟clarock di Tanah Karo tentu saja dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah oleh media massa sebagai barometer perkembangan Band M‟clarock, remaja Tanah Karo sebagai pelaku, studio musik sebagai tempat dan wadah berkumpul, dan yang terakhir pertunjukkan musik sebagai tempat mengeluarkan eksperesi dari individu-individu penggemar musik dan pemusik rock yang selalu eksis dalam perkembangan band M‟clarock di Tanah Karo.
3.4.1.1 Media Massa
Perlu di ingat bahwa musik rock sebagai salah satu musik populer yang disebarkan melalui media massa, sama halnya dengan musik populer lain nya.
Untuk membahas bahwa band M‟clarock berkembang di Tanah Karo yang selalu dikaitkan dengan media massa. Menurut penulis, musik berkembang melalui media massa ketika suatu masyarakat mengalami proses industrialisasi. Akibat dari proses itu, maka tercipta produk budaya yang diproduksi oleh produser untuk kemudian dijual di pasar luas dan diproduksi ulang oleh media massa yang akhirnya di konsumsi oleh penggemarnya.
Akhirnya, media massa sangat berperan penting untuk mendekatkan penggemar dengan idola nya. Jadi, fungsi media massa adalah untuk mempromosikan ketertarikan penggemar secara terus-menerus tentang semua hal
penggemar nya selalu berfantasi dengan kehidupan idolanya itu. Hal-hal ini yang dianggap dapat mempengaruhi dan mengubah perilaku remaja Indonesia pada umumnya.
Ada beberapa media yang sangat berperan dalam perkembangan Band M‟clarock diantara nya surat kabar, radio, televisi, dan internet.
Gambar 3.16 Salah satu media massa yang berperan dalam perkembangan Grup Band M‟clarock
3.4.1.2 Remaja
Dalam ilmu-ilmu sosial, studi atas remaja pertama kali dilakukan oleh sosiolog Talccot Parsons pada awal 1940-an. Berbeda dengan anggapan umum bahwa remaja adalah kategori yang bersifat alamiah dan dibatasi secara biologis oleh usia, menurut Parsons remaja adalah sebuah konstruksi sosial yang terus