Kenangan di Awal Tahun 2016
Meskipun kunjungan ke Indonesia di tahun 2016 sudah berakhir di pertengahan Feburuari, kenan-gan akan perjalanan unikku waktu itu masih segar dalam ingatanku hari ini. Tujuan istimewa per-jalananku di awal tahun 2016 ialah merayakan ulang tahun emas pernikahan kedua orang tua pada tanggal 23 Januari 2016. Ada banyak hal istimewa yang sempat saya alami dalam menapaki hari hari liburku yang tidak panjang itu. Berikut ini beberapa hal istimewa yang sempat saya ca-tat:
Seorang Gadis Jerman bernama Agnes Ruff, be-rusia 27 tahun, mahasiswi semester terakhir se-buah Universitas di München, mejadi rekan istimewa yang mendampingi perjalanku. Kami mengawali perjalanan ini di Pollenfeld pada hari Senin dinihari, tanggal 18. Januari 2016, menumpangi mobil milik keluarga Ruff, dik-endarai langsung oleh ibu kandung dari Agnes, menuju ke kota München. 2 buah pesawat milik maskapai penerbangan Etihad Airways memba-wa kami sebagai penumpangnya dari kota Mün-chen ke Abudhabi dan dari Abudhabi ke Jakarta.
Setelah 26 jam perjalanan, kami mendarat dengan selamat di Jakarta, disambut hawa panas Jakarta yang lebih tinggi 28 derajat dibandingkan dengan suhu kota München yang kami tinggal-kan. Setelah istirahat sejenak, kami dijemput dan diundang makan malam di sebuah restoran khas Indonesia oleh Ibu Ratna dan rekannya Pak Ardy. Senang sekali bisa berjumpa dengan keduanya dan bisa berbagi ceritra-ceritra menarik.
Hari kedua di Jakarta kami isi dengan mengun-jungi Sr. Lucy di Biara Ursulin Santa Maria Jakarta. Selain itu kami juga sempat berta-masya ke Taman Mini Indonesia Indah. Di sa-na kami berjumpa dengan sepupu saya Stefin yang datang didampingi istrinya Vero. Dari Taman Mini, kami melanjutkan perjalanan ke Bekasi untuk menjumpai ibu Merry S., seorang kawan sebangkuku di masa SMA dulu. Per-temuan singkat dengan Ibu Merry dan kedua putrinya sangat membahagiakan, karena kami su-dah berpisah sejak 26 tahun yang lalu, dan tidak pernah bertemu sesusu-dahnya. Semua kegiatan kami pada hari ini bisa terlaksana dengan lancar berkat kebaikan hati Ibu Ratna, yang merelakan Mobil beserta Sopir pribadinya, Pak Ady, untuk mendampingi kami sepanjang hari. Kami sangat mensyukuri kebaikan yang boleh kami nikmati.
Keesokan harinya, kami meninggallkan Jakarta dengan menumpang pesawat LION AIR menuju ke Maumere. Saat transit di Denpasar, kami berjumpa dengan keponakan saya Assny Sogen, yang baru saja tiba dari Yogyakarta, dengan tujuan yang sama ke Maumere. Penerbangan dari Denpasar ke Maumere memakan waktu kurang lebih 1 jam 45 menit. Di Maumere, kami bertiga dijemput oleh saudara saya Rudi dan putrinya Cemi. Rombongan kami merupakan tamu terakhir yang tiba di Flores untuk menghadiri perayaan syukur 50 Tahun pernikahan orangtua tercinta.
Berjumpa dengan
sahabat lama!
Berjumpa dengan keponakanku Assny Sogen di Bandara Ngurah Rai Denpasar
Bersama Rudy dan Cemi dari
Maumere ke Eputobi
Beberapa hari sebelumnya, saudari bungsuku sudah tiba dari Timika, Irian Jaya, bersama dengan suami dan kedua putra mereka. Perjalanan mereka yang dimulai tanggal 5 Januari 2016 mele-wati laut Arafuru dan kurang lebih sembilan pelabuhan, membutuhkan waktu 7 hari 7 malam, hingga tiba di pelabuhan laut Maumere. Kehadiran kami semua melengkapi harapan orangtua untuk berjumpa kembali dengan semua putra-putri mereka, beserta cucu dan cece mereka pada hari istimewa mereka. Seingat saya, pertemuan bersama seperti ini, terjadi terkahir 16 tahun lalu, ketika saya kembali ke Flores untuk merayakan misa pertamaku.
Saudari Bungsuku bersama suami dan anak-anaknya serta Agnes siap mendampingi Orangtua ke tempat perayaan syukur 50 tahun pernikahan.
Hari istimewa kedua orangtuaku kami rayakan di Gedung OMK Multi Event, Sarotari Larantuka. Lebih dari 300 orang turut mengambil bagian dalam acara ini sebagai tamu keluarga kami. Acara dimulai dengan misa syukur pada pukul 10.00 pagi, dengan tema: „TERIMAKASIH TUHAN,KAU SATUKAN KAMI“ 5 orang imam yang ikut mendampingi saya dalam perayaan ini ialah P. Ignas Dasion, SVD, (Guru dan Perfekt di Seminari Hokeng, mantan guru dan bapak rohani saya), Pater Anton Jemaru SVD (Ekonom Ledalero, teman sejak noviziat di Nenuk, studi di Ledalero dan di St. Augustin, hingga dithabiskan bersama sebagai imam di Jerman tahun 2000), Pater Anton Waget, SVD (Guru bahasa Inggirs di Mataloko, teman SD Sukutukang, Seminari Hokeng, dan Ledalero, mantan murid dari bapak saya saat masih di SD), Romo Londa Diaz, Pr, (Kepala Sekolah SMA Darius Larantuka, teman sekolah di Hokeng dan di Ledalero, mantan Kepala Sekolah Seminari San Dominggo Hokeng) dan terakhir Romo Lorens Riberu, Pr, (Paroki Bama, salah satu penang-gungjawab umum dan bapak rohani kelompok Band Fanfare). Seluruh rangkaian acara syukur ini sangat meriah karena diiringi oleh Chor dan Band Fanfare, St. Sisilia, Larantuka.
Pihak keluarga dan undangan sama sekali tidak direpotkan dengan urusan persiapan ma-kanan dan minuman serta dekorasi untuk ru-angan resepsi.
Semuanya disiapkan secara sangat baik dan rapih oleh sebuah team Chatering terkenal di Larantuka, dibawah pimpinan bapak Cypria-nus Lamuri. Mereka menyiapkan juga pemusik dan penyanyi-penyanyi handal, yang mengisi
seluruh acara dengan suara emas mereka dan diiringi alunan musik yang serba profesional. Setelah makan siang dan berbagai acara hiburan serta minum sore, perayaan syukur ini ditutup sekitar pukul 17.00.
Para Pastor mendampingi sahabat lama mereka, Ibu Konstansia Tupa Arankoja, aktif di Sekda SIKA, Mantan Camat Maumere!
Bersama P. Ignas, P. Anton Jemaru, Rm. Londa, dan P. Anton Waget
Gedung OMK, Sarotari Larantuka
Atas nama kedua orangtua dan seluruh anggota keluarga, saya menghaturkan limpah terimaka-sih kepada semua pihak yang dengan caranya masing-masing telah membantu mensukseskan perayaan syukur 50 Tahun pernikahan kedua orangtua kami. Terimakasih khusus saya ucapkan kepada para Imam yang hadir, dan terimakasih khusus juga buat Pak Cyprianus Lamuri dan teamnya serta para penanggung jawab di Gedung OMK Multi Event Larantuka. Semoga Tuhan mengganjari semua pengorbananmu dengan berkatNya yang melimpah.
Hari-hari berikutnya di Flores kami isi dengan berbagai kegiatan, antara lain berjalan keliling kampung Eputobi sambil menjumpai begitu banyak wajah baru dan wajah lama, bertatap muka dengan anak-anak sekolah SMA Darius Larantuka, berenang di pantai Lato, mengunjungi keluarga di Konga, berenang di Paga Beach, mengunjungi air terjun di Moni dan tentu ke Danau Kelimutu. Dalam perjalanan pulang dari Kelimutu, kami sempat berkunjung juga ke patung Bun-da Maria segala Bangsa di Nilo. PaBun-da hari ke 8 di Flores, kami akhirnya pamit Bun-dari Keluarga Bun-dan memulai perjalanan kembali ke Eropa.
Bapak Cyprian Lamuri
Tempat persinggahan kami yang pertama setelah meninggalkan Flores ialah Denpasar, Bali. Dengan menggunakan sebuah mobil Avanza, kami mengelilingi Bali selama 4 hari. Karena beren-ang di laut merupakan sebuah hoby yberen-ang sama sama disukai, beberapa kali kami menghabiskan waktu dengan menikmati segarnya air laut pantai Kuta dan pantai Sanur. Tempat wisata terjauh yang sempat kami jangkau ialah kota Singaraja, di pantai utara pulau Bali. Selain itu kami juga mengunjungi Tanah Lot dan banyak tempat indah lain di Bali, termasuk menghadiri perayaan E-karisti di sebuah Gereja Katolik di daerah Kuta. Sistem Navigasi di Bali sudah sangat bagus seper-ti di Jakara dan Eropa, karena itu seper-tidak susah mengendarai mobil dari satu tempat ke tempat yang lain.
Pantai Kuta - Siap hadiri misa di Gereja-Tanah Lot – Singaraja.
Sebelum terbang ke Jerman, kami mampir lagi di Jakarta dan berjumpa dengan Sr. Lucy. Beliau memperkenalkan bagian dalam biara Ursulin beserta komplek sekolah St. Maria mulai dari TK hingga Sekolah Menengah Atas. Pada malam terakhir Agnes di Jakarta, kami diundang makan malam oleh Ibu Ratna dan Pak Ardy di Hotel Borobudur Jakarta. Agnes pamit dari Jakarta tang-gal 3 Februari 2016. Saya sendiri masih memperpanjang liburan saya hingga tangtang-gal 8 Februari 2016. Dalam perjalanan dari Jakarta ke Abudhabi, saya sempat berkenalan dengan Bapak Hen-dro Gunawan dan rombongan peziarah ke Israel. Artis Kondang Ibu Lydia Kandou juga ikut da-lam rombongan ini dan sempat foto bersama dada-lam sebuah Bis di bandara Abudhabi.
Perjalan-an saya kali ini luar biasa. Waktu berPerjalan-angkat didampingi, waktu berlibur didampingi, waktu kembali juga didampingi oleh orang-orang istimewa. Doa orangtuaku pada ha-ri istimewa mereka terdengung kembali di sisi hatiku saat menulis baha-ris-baha-ris ini: Terimakasih Tuhan, Kau satukan kami! Terimakasih Tuhan, Kau pertemukan kami!
Perjamuan malam Terakhir Agnes di Indonesia